Tugas Pengganti Praktikum Ilmu Kesuburan Dan Pemupukan

Oleh Qurrota Ayunin Diananda

326,1 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Pengganti Praktikum Ilmu Kesuburan Dan Pemupukan

ACARA I UNSUR FOSFOR PADA TANAMAN Pendahuluan Tanaman dalam pertumbuhannya memerlukan nutrisi atau hara yang diserap oleh tanaman dari tanah. Tanah yang baik bagi pertumbuhan, adalah tanah yang memiliki produktivitas tinggi. Tanah yang memiliki produktivitas tinggi merupakan tanah dengan tingkat kesuburan tertentu dan menguntungkan, serta dapat menghasilkan bagi sebuah produk tanaman. Tanaman dalam pertumbuhannya membutuhkan unsur-unsur hara esensial yang terdiri atas unsur hara makro seperti N, P, K, Ca, Mg, dan S, serta unsur hara mikro seperti Cu, Cl, Mn, Zn, Mo, B, dan Fe. Unsur-unsur hara makro dan mikro tersebut, harus selalu terpenuhi secara cukup bagi tanaman, agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan maksimal, sehingga tanaman tersebut memiliki produksi yang tinggi untuk dimanfaatkan. Defisiensi unsur hara atau tidak tersedianya unsur hara yang cukup bagi tanaman, akan menyebabkan tanaman tumbuh dengan tidak optimal. Tanaman yang tidak mendapatkan cukup hara, akan mengalami gejala-gejala defisiensi hara. Gejala defisiensi hara pada tanaman bermacam-macam, tergantung unsur hara apa yang mengalami kekurangan. Salah satu unsur hara makro yang penting pada saat pertumbuhan awal ialah unsur hara P atau fosfor. Fosfor merupakan unsur hara yang dapat merangsang pertumbuhan akar dan daun tanaman. Fosfor merupakan salah satu unsur hara yang tidak dapat ditemukan dalam bentuk gas. Fosfor alami biasanya banyak terdapat dalam tanah, akibat hasil pelapukan dan proses yang terjadi di dalam tanah. Gejala defisiensi tanaman yang kekurangan P akan mengakibatkan munculnya warna keunguan pada daun. Pertumbuhan menjadi lambat dan kerdil, pertumbuhan daun kecil, kerdil, dan mengakibatkan daun gugur. Fungsi Forsfor bagi Tanaman Fosfor (P) merupakan unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar (hara makro). Jumlah fosfor dalam tanaman lebih kecil dibanding dengan nitrogen dan kalium, tetapi fosfor memiliki peran yang sangat penting untuk tanaman. Unsur fosfor dalam tanaman berfungsi dalam pembentukan sel dan meningkatkan kualitas hasil tanaman. Unsur Fosfor berperan dalam menyimpan dan memindahkan energi untuk sintesis karbohidrat, protein, dan proses fotosintesis. Unsur P memegang peranan yang sangat penting terutama dalam proses penyimpanan dan transportasi energi, yaitu sebagai penyusun ADP (adenosin difosfat) dan ATP (adenosin trifosfat) yang sangat penting dalam mengatur seluruh metabolisme tanaman. Energi yang diperoleh dari proses fotosintesis dan metabolisme karbohidrat disimpan dalam bentuk senyawa fosfat, selanjutnya digunakan untuk pertumbuhan dan reproduksi. Unsur P ini juga sangat penting dalam pembentukan biji dan pertumbuhan akar, sehingga salah satu tanda dari cukup tidaknya pasokan fosfat dapat dilihat dari pertumbuhan akar tanaman. Pupuk P juga merupakan pembatas utama produktivitas pada tanah masam, sehingga penggunaan pupuk yang dapat meningkatkan pupuk P dan menurunkan kemasaman tanah sangat diperlukan. Hara P dapat merangsang pertumbuhan awal bibit tanaman. Fosfor merangsang pembentukan bunga, buah, dan biji. Bahkan mampu memepercepat pemasakan buah dan membuat biji menjadi lebih bernas. Apabila pertumbuhan vegetatif baik, fotosintat yang dihasilkan semakin banyak, hal ini menyebabkan kemampuan tanaman untuk membentuk organ-organ generatif semakin meningkat. Memberikan pemupukan SP-36 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif (jumlah cabang, jumlah daun, dan berat kering organ tanaman). Secara teoritis super fosfat (SP36) yang diberikan pada awal tanam diserap akar secara bertahap dan ditranslokasikan ke daun-daun muda, namun jika P dalam media tumbuh tidak tersedia maka P yang tersimpan dalam daun-daun tua akan ditranslokasikan ke daun-daun muda, sehingga dapat berdampak munculnya gejala defisiensi pada daun tersebut. Tersedianya hara fosfat maka dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji, atau gabah serta dapat meningkatkan produksi biji-bijian. Pada tanaman kacangan fosfor memiliki fungsi spesifik dalam proses simbiosi bakteri Rhizobium dengan tanaman sehingga dapat menambah hasil fiksasi nitrogen oleh bakteri Rhizobium. Pemupukan P dapat menambah jumlah, ukuran dan berat kering bintil akar tanaman kacangan demikian pula dengan pertumbuhan dan hasil tanaman. Cara Masuknya Fosfor ke dalam Tanaman Fosfor dalam tanah terdiri dari fosfor organik dan forsfor anorganik, dan keduanya penting bagi tanaman. Penyerapan P oleh tanaman umumnya melalui proses difusi, tetapi jika kandungan P dalam tanah cukup tinggi, maka proses aliran massa dapat berperan dalam transportasi tersebut. Proses difusi berlangsung akibat adanya perbedaan tegangan antara tanaman dan tanah karena perbedaan konsentrasi unsur hara. Pada tanah bertekstur halus difusi akan berlangsung lebih cepat daripada tanah yang bertekstur kasar. Faktor terpenting yang mempengaruhi tersedianya P bagi tanaman adalah pH tanah. Fosfor paling mudah diserah oleh tanaman pada pH sekitar netral (6-7). Penyerapan unsur fosfor anorganik dipengaruhi oleh besi, aluminium, mangan, jumlah dan tingkat dekomposisi bahan organik serta kegiatan jasad mikro. Tanaman menyerap P dalam bentuk ortofosfat primer (H2PO4-) dan sebagian kecil dalam bentuk ortofosfet sekunder (HPO4-). Fosfor penting dalam transfer energi sebagai bahan ATP. Penyusun beberapa protein, koenzim, asam nukleat dan substrat metabolisme. Tersedianya fosfor juga dipengaruhi oleh serasi yaitu perombakan fosfor oleh mikroorganisme tanah, bahan organik, temperatur, dan unsur-unsur lain. Proses masuknya fosfor ke dalam tanah berawal dari sebagian besar pelapukan batuan mineral alami dan sisanya berasal dari pelapukan bahan organik yang masuk ke dalam tanah. Selain itu, fosfor juga berasal dari tanaman yang mengandung unsur fosfor, kemudian tanaman tersebut dimakan oleh binatang. Setelah tanaman dan binatang itu mati, dekomposer akan melalukan penguraian sehingga unsur fosfor masuk ke dalam tanah dan nantinya unsur fosfor tersebut akan digunakan kembali oleh tanaman. Fosfor ini akan digunakan dalam proses transfer energi dalam tanaman seperti proses fotosintesis, fotofosforilasi, respirasi dan metabolisme karbohidrat. Gejala Defisiensi Fosfor dalam Tanaman Tanaman dalam kelangsungan hidupnya memerlukan nutrisi atau nutrisi makanan yang seimbang sesuai dengan kebutuhannya. Nutrisi atau makanan bagi tanaman yang disebut dengan unsur hara secara garis besar dibedakan menjadi dua jenis yaitu unsur hara makro dan unsur hara mikro. Salah satu unsur hara yang termasuk dalam unsur hara makro yaitu fosfor (P) yang berperan penting dalam proses metabolisme tanaman. Fosfor merupakan komponen penting asam nukleat karena menjadi bagian esensial untuk semua sel hidup, sangat penting untuk perkembangan akar, pertumbuhan awal akar tanaman, luas daun, dan mempercepat panen. Kekurangan maupun kelebihan unsur hara pada tanaman mengakibatkan tanaman tumbuh abnormal. Kekurangan P tanaman dapat diamati secara visual yaitu daun-daun yang tua akan berwarna keunguan atau kemerahan. Gejala lain dari kekurangan P adalah nekrosis (kematian jaringan) pada pinggir atau helai dan tangkai daun, diikuti melemahnya batang dan akar tanaman. Kekurangan P pada tanaman akan mengakibatkan berbagai hambatan metabolisme diantaranya dalam proses sintesis protein yang menyebabkan terjadinya akumulasi karbohidrat dan ikatan nitrogen. Gejala awal tanaman kekurangan P terlihat pada daun paling bawah atau daun dua warna, daun hijau gelap, ukuran daun mengecil dan pertumbuhan tanaman menjadi lambat. Gejala lanjut seperti jumlah bunga menurun, ukuran buah kecil, tanaman akan tumbuh kerdil, pada tanaman muda daun akan berwarna hijau tua keunguan, terkadang tampak pula warna hijau kekuning-kuningan karena kekurangan fosfor cenderung menghambat penyerapan unsur hara nitrogen. Warna kekuningan akan lebih dulu dijumpai pada daun tua karena sifat fosfor yang mobil dalam tanah sehingga dalam keadaan kekurangan unsur hrara fosfor dengan cepat ditranslokasikan ke bagian tanaman yang lebih muda. Pada tanaman buah-buahan pucuk daun akan berwarna browns atau ungu. Kekurangan P umumnya terjadi pada tanah masam atau pada tanah alkalis, dimana tanah masam umumnya mengandung besi (Fe) dan alumunium (Al) tinggi sedangkan tanah alkalis mengandung Ca tinggi yang menyebabkan unsur P tidak tersedia bagi tanaman akibat terfiksasi. Daftar Pustaka Apriliani, S., M. I. Bahua, dan Nurmi. 2013. Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Tanah (Arachis Hypohaea L.) pada Pemberian Pupuk Fosfor (P). KIM Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian. 1 (1) : 1-19. Apriliani, S., M. I. Bahua, Nurmi. 2013. Pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah (arachis hypohaea l.) pada pemberian pupuk fosfor (P). KIM Ilmu Pertanian. 1 (1) : 1 – 19. Fahmi, A., Syamsudin., S. N. H. Utami dan B. Radjagukguk. 2010. Pengaruh Interaksi hara Nitrogen dan Fosfor terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung ( Zea Mays L) pada Tanah Regosol dan Latosol. Berita Biologi. 10 (3) : 297 – 304. Irianto, R.S.B. 2009. Inokulasi ganda Glomus sp. dan Pisolithus arrhizus meningkatkan pertumbuhan bibit Eucalyptus pellita F. Muell. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 4 (2) : 159 – 167. Raja, B.S.L., B. S. J. Damanik, dan Jonis Ginting. 2013. Respons pertumbuhan dan produksi kacang tanah terhadap bahan organik tithonia diversifolia dan pupuk sp-36. Jurnal Online agroekoteknologi. 1 (3) : 725 – 731. Saribun, D. S. 2008. Pengaruh Pupuk Majemuk NPK pada Berbagai Dosis terhadap pH, P-Potensial dan P-Tersedia serta Hasil Caysin (Brassica juncea) pada Fluventic Eutrudepts Jatinangor. Universitas Padjajaran, Jatinangor. Skripsi. Saribun, D. S. 2008. Pengaruh Pupuk Majemuk NPK pada Berbagai Dosis Terhadap pH, P –Potensial dan P-Tersedia serta Hasil Caysin (Brassica juncea) pada Fluventic Eutrudepts Jatinangor. Universitas Padjajaran. Skripsi. Subhan, N. Nurtika, dan N. Gumadi. 2009. Respons Tanaman Tomat terhadap Penggunaan Pupuk Majemuk NPK 15-15-15 pada Tanah Latosol pada Musim Kemarau. Jurnal Hortikultura. 19 (1) : 40-48. Supartha, I.N.Y., G. Wijana, dan G.M. Adnyana. 2012. Aplikasi Jenis Pupuk Organik pada Tanaman Padi Sistem Pertanian Organik. Agroekoteknologi Tropika. 1 (2) : 98 – 106. Syahfitri, M. M. 2008. Analisa Unsur Hara Fosfor (P) pada Daun Kelapa Sawit secara Spektrofotometri di Pusat Penenlitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Karya Ilmiah. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Sumatera Utara. Medan. Taufiq, A. 2014. Identifikasi Masalah Keharaan Tanaman Kedelai. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Malang. Zuchri, A. 2009. Pemupukan SP36 Pada Lahan Regosol Bereaksi Masam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Kacang Tanah. Agrovigor 2 (1) : 31 – 34. ACARA II BAHAN ORGANIK Pendahuluan Bahan organik tanah adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks dan dinamis yang bersumber dari sisa tanaman atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika dan kimia. Bahan organik di dalam tanah adalah hasil dekomposisi organisme hidup yang tersusun dari campuran polisakarida, lignin, protein, dan bahan organik yang berasal dari batuan dan mineral. Bahan organik selalu mengalami penguraian sebagai aktivitas mikroba tanah. Proses penguraian ini menghasilkan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman serta senyawa lainnya yang keseluruhan prosesnya dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Bahan organik dalam tanah terstabilkan oleh berbagai proses yang kompleks dan menghalangi dekomposisi termasuk kualitas senyawa organik, kondisi tanah dan kondisi mikroorganisme. Kandungan bahan organik dipengaruhi oleh arus akumulasi bahan asli dan arus dekomposisi dan humifikasi yang sangat tergantung kondisi lingkungan. Bahan organik biasanya berwarna coklat dan bersifat koloid yang dikenal dengan humus. Humus terdiri dari bahan organik halus yang berasal dari hancuran bahan organik kasar serta senyawa-senyawa baru yang dibentuk dari hancuran bahan organik tersebut melalui suatu kegiatan mikroorganisme di dalam tanah. Tanah yang mengandung banyak humus atau mengandung banyak bahan organik adalah tanah-tanah lapisan atas atau tanah-tanah topsoil. Peranan bahan organik bagi tanah berkaitan dengan perubahan sifat-sifat tanah,yaitu sifat fisik, biologis, dan kimia tanah. Disamping itu, bahan organik juga berperan sebagai salah satu faktor penciri dalam klasifikasi tanah. Kandungan bahan organik dalam tanah mencerminkan kualitas tanah secara langsung maupun tidak langsung. Peran Bahan Orgalnik Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, maka kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga akan menurun. Bahan organik berperan terhadap kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan organik tanah merupakan salah satu bahan pembentuk agregat tanah, yang mempunyai peran sebagai bahan perekat antar partikel tanah untuk bersatu menjadi agregat tanah. Kandungan bahan organik yang cukup di dalam tanah dapat memperbaiki kondisi tanah agar tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan dalam pengolahan tanah. Berkaitan dengan pengolahan tanah, penambahan bahan organik akan meningkatkan kemampuannya untuk diolah pada lengas yang rendah. Pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik tanah yang lain adalah terhadap peningkatan porositas tanah. Penambahan bahan organik pada tanah kasar (berpasir) akan meningkatkan pori meso dan menurunkan pori makro, dengan demikian akan meningkatkan kemampuan menahan air. Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain terhadap kapasitas tukar kation (KTK), kapasitas tukar anion, pH tanah, daya sangga tanah dan terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik yang belum masak atau bahan organik yang masih mengalami proses dekomposisi, biasanya akan menyebabkan penurunan pH tanah, karena selama proses dekomposisi akan melepaskan asam-asam organik yang menyebabkan menurunnya pH tanah. Namun apabila diberikan pada tanah yang masam dengan kandungan Al tertukar tinggi, akan menyebabkan peningkatan pH tanah, karena asam-asam organik hasil dekomposisi akan mengikat Al membentuk senyawa kompleks, sehingga Al tidak terhidrolisis lagi. Peningkatan pH tanah juga akan terjadi apabila bahan organik yang kita tambahkan telah terdekomposisi lanjut (matang), karena bahan organik yang kita tambahkan telah termineralisasi dan akan melepaskan mineralnya berupa kation-kation basa. Peranan bahan oganik terhadap ketersediaan hara dalam tanah tidak terlepas dengan proses mineralisasi yang merupakan tahap akhir dari proses perombakan bahan organik. Dalam proses mineralisasi akan dilepas mineral-mineral hara tanaman dengan lengkap (N, P, K, Ca, Mg dan S serta hara mikro). Pengaruh positif yang lain dari penambahan bahan organik adalah pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman. Terdapat senyawa yang mempunyai pengaruh terhadap aktivitas biologis yang ditemukan di dalam tanah yaitu senyawa perangsang tumbuh (auxin) dan vitamin. Senyawa ini berasal dari eksudat tanaman, pupuk kandang, kompos, sisa tanaman dan juga berasal dari hasil aktivitas mikrobia dalam tanah. Di samping itu, diindikasikan asam organik dengan berat molekul rendah, terutama bikarbonat adalah hasil dekomposisi bahan organik, dalam konsentrasi rendah dapat mempunyai sifat seperti senyawa perangsang tumbuh, sehingga berpengaruh positif terhadap pertumbuhan tanaman. Bahan organik memiliki peranan dalam merangsang granulasi, menurunkan plastisitas dan kohesi tanah, memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah, dan meningkatkan daya tanah dalam menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembaban dan temperatur tanah menjadi lebih stabil. Bahan atau pupuk organik dapat berperan dalam pengikatan butiran primer menjadi butiran sekunder tanah dalam pembentukan agregat yang mantap. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap porositas, penyimpanan dan penyediaan air, aerasi tanah, dan suhu tanah. Semua peran tersebut dapat berlangsung setelah bahan organik mengalami perombakan oleh aktivitas organisme tanah. Tanpa adanya aktivitas organisme tanah bahan organik tersebut akan tetap utuh (tidak terurai) di dalam tanah dan dapat mengganggu sistem produksi tanaman Sumber Bahan Organik Bahan organik merupakan bagian dari tanah yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah, dan terus-menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor kimia, fisika, dan biologi. Semua sumber bahan organik mengandung air, bahan mineral (abu), dan senyawa organik. Sumber utama bahan organik tanah dapat berasal dari sisa hasil proses fotosintesis bagian atas tanaman seperti daun, duri, serta sisa tanaman lainnya termasuk gulma, rerumputan, limbah pasca panen, dan sebagainya. Sumber bahan organik yang umum dimanfaatkan biasanya berasal dari pertanian contohnya limbah residu tanaman, limbah residu ternak, pupuk hijau, tanaman air, dan mikroorganisme penambat nitrogen. Limbah padat dan limbah cair industri juga dapat menjadi sumber bahan organik, seperti serbuk gergaji kayu, ampas tebu, limbah pengolahan minyak sawit, dan sebagainya, serta limbah rumah tangga, seperti sampah rumah tangga, sampah kota, dan sebagainya. Bahan organik tanah merupakan komponen penting penentu kesuburan tanah, terutama di daerah tropis dengan suhu dan curah hujan yang tinggi seperti Indonesia. Jumlah bahan organik tanah yang baik dan diperlukan untuk pertumbuhan tanaman dan memperbaiki atau menjaga sifat tanah, jumlahnya sekitar 2 – 5 %. Pemenuhan kebutuhan bahan organik tanah, dapat dipenuhi dengan penambahan pupuk organik sebagai sumber bahan organik tanah. Pupuk organik mengandung sumber nutrien yang sifatnya alamiah (natural), dan bahan utamanya berasal dari meterial organik, baik dari tumbuhan atau hewan yang telah melalui proses tertentu, sehingga dapat menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman dengan kandungan unsur hara yang terukur. Kualitas bahan organik atau nutrisi yang terdapat dalam pupuk organik, sangat dipengaruhi oleh sumber bahan baku, formulasi, dan teknologi produksi pupuk, ada yang harus melalui proses pengomposan dan ada yang secara langsung. Contoh sumber bahan organik untuk pupuk organik adalah tulang ikan, biji kapuk, bulu ayam, kompos, kotoran ayam, kotoran angsa, guano, kotoran ternak atau pupuk kandang, hijauan, dan sebagainya. Daftar Pustaka Hanafiah, K.A. 2007. Dasar – Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Indriani, Y. H. 2007. Membuat Kompos Kilat. Penebar Swadaya, Jakarta. Lestari, A.P. 2009. Pengembangan Pertanian Berkelanjutan melalui Subtitusi Pupuk Anorganik dengan Pupuk Organik. Jurnal agronomi 13 (1) : 38 – 44. Muharam dan A. Syaifudin. 2006. Pengaruh Berbagai Pembenah Tanah Terhadap Pertumbuhan Dan Populasi Tanaman Padi Sawah (Oryza sativa, L) Varietas Dendang Di Tanah Salin Sawah Bukaan Baru. Jurnal Agrotek Indonesia 1 (2) : 141 – 150. Pirngadi, K. 2009. Peran Bahan Organik dalam Peningkatan Produksi Padi Berkelanjutan Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian. 2 (1) : 48 - 64. Simanungkalit, R.D.M., D.A. Suriadikarta, R. Saraswati, D. Setyorini dan W. Hartatik. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati (Organic Fertilizer and Biofertilizer).Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, Bogor. Subowo, G. 2010. Strategi Efisiensi Penggunaan Bahan Organik untuk Kesuburan dan Produktivitas Tanah melalui Pemberdayaan Sumberdaya Hayati Tanah. Jurnal sumberdaya lahan 4 (1) : 13 – 25. Sutanto, R. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep dan Kenyataannya. Kanisius, Yogyakarta. Suwahyono, U. 2011. Petunjuk Praktis Penggunaan Pupuk Organik secara Efektif dan Efisien. Penebar Swadaya, Jakarta. Tangketasik, A., N. M. Wikartini, N. N. Soniari, I. W. Narka. 2012. Kadar Bahan Organik Tanah pada Tanah Sawah dan Tegalan di Bali serta Hubungannya dengan Tekstur Tanah. Jurnal Agrotrop. 2 (2) : 101 - 107. ACARA III ANALISIS KESUBURAN TANAH Pendahuluan Tanah adalah bagian yang terdapat pada kerak bumi yang tersusun atas mineral dan bahan organik. Tanah sangat mendukung terhadap kehidupan tanaman yang menyediakan hara dan air di bumi. Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara. Tanah secara kimiawi berfungsi sebagai penyuplai hara atau nutrisi senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomassa dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan. Kesuburan Tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan, pada lingkungan tempat tanah itu berada. Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, yaitu bahan induk, iklim, relief, organisme, atau waktu. Agar tanaman dapat tumbuh dengan baik, diperlukan unsur hara dan air yang cukup dan seimbang. Unsur hara yang berlebihan sangat merugikan, karena bukan saja merupakan kondisi yang mubazir, tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan tanaman akibat terhambatnya ketersediaan unsur hara yang lain atau bahkan dapat menyebabkan terjadinya keracunan tanaman. Parameter yang digunakan dalam penilaian kesuburan tanah adalah kapasitas tukar kation, kejenuhan basa, P-total, K-total, C-Organik dan parameter lainnya. pH H2O Berdasarkan data yang diperoleh, tanah di Kulon Progo memiliki pH 6,7. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa pH tanah di Kulon Progo sebesar 6,7. pH tersebut menunjukkan bahwa tanah Kulon Progo memiliki pH netral. Hal ini sesuai dengan pendapat Balai Penelitian Tanah yang menyatakan bahwa pH H2O yang tergolong dalam pH netral adalah pH pada kisaran 6,6 – 7,5. pH dapat mempengaruhi konsentrasi kandungan unsur hara mikro dan makro yang ada di dalam tanah. pH tanah yang tinggi, dapat menyebabkan berkurangnya atau unsur hara yang tersedia bagi tanaman sedikit, dan pH tanah yang terlalu rendah dapat menyebabkan tanaman keracunan dikarenakan unsur hara yang berlebih. Tekstur Tanah Berdasarkan data yang diperoleh, tanah di Kulon Progo bertekstur pasir. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa Kulon Progo memiliki tanah yang bertekstur pasir. Tanah bertekstur pasir merupakan tanah marginal yang memiliki produktivitas tanah rendah, mengandung bahan organik yang rendah dan kesuburannya juga rendah. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di Kulon Progo tidak baik digunakan sebagai lahan pertanian. Tekstur tanah pasir memiliki daya jerap air yang rendah, sehingga tanaman sulit menyerap air yang ada di tanah, karena air tidak cukup tersedia bagi tanaman. Fraksi pasir umumnya didominasi mineral kuarsa yang sangat tahan terhadap pelapukan sehingga unsur hara tidak dapat terbebaskan, menyebabkan tanah bertekstur pasir tidak subur. Kadar C (%) Berdasarkan data yang diperoleh, kadar C pada tanah Kulon Progo adalah 0,23 %. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa kadar C di tanah Kulon Progo adalah sebesar 0,23%. Kadar C tersebut termasuk dalam kategori yang sangat rendah. Hal ini sesuai pendapat Balai Penelitian Tanah yang menyatakan bahwa kadar C (%) dibawah 1% termasuk dalam kategori yang sangat rendah sedangkan kadar C sedang adalah kisaran 2 – 3 %. Kadar C yang rendah, dapat menunjukkan bahwa kadar bahan organik pada tanah juga rendah, karena C merupakan penyusun bahan organik tanah. Kadar C dalam tanah akan meningkat jika ditambahkan dengan kompos. Selain kompos, kadar C dalam tanah juga dipengaruhi oleh tekstur tanah. Semakin liat tekstur tanah, kadar C akan semakin tinggi. Kadar C pada tanah Kulon Progo tergolong rendah juga karena disebabkan oleh tekstur tanahnya yang berpasir. Total N (%) Berdasarkan data yang diperoleh, kadar total N pada tanah Kulon Progo adalah 0,02 %. Hal ini sesuai dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa Kulon Progo memiliki kadar N total sebesar 0,02 %. Kadar N total tersebut termasuk sangat rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Balai Penelitian Tanah yang menyatakan bahwa kadar N total dibawah 1 % tergolong sangat rendah. Unsur hara N mudah diserap oleh tanaman, namun rendahnya N di dalam tanah dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, salah satunya tidak adanya aktifitas mikroorganisme. Rendahnya kadar N atau kehilangan nitrogen di dalam tanah dapat terjadi melalui denitrifikasi, volatisasi, pengangkutan hasil panen atau pencucian dan erosi permukaan tanah yang akibatnya dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Rasio C/N Berdasarkan data yang diperoleh, rasio C/N pada tanah Kulon Progo tidak teridentifikasi. Penelitian lain menunjukkan bahwa rasio C/N pada tanah di daerah Kulon Progo sebesar 21,87. Kadar tersebut menurut Badan Penelitian Tanah tergolong tinggi karena rasio C/N yang berkisar 16 – 25 termasuk tinggi. Rasio C/N merupakan parameter yang menentukan laju mineralisasi. Rasio C/N yang terlalu tinggi akan menyebabkan proses pengomposan tanah semakin lambat. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di Kulon Progo tidak cocok untuk digunakan sebagai lahan budidaya tanaman. Rasio C/N yang terlalu tinggi dapat menyebabkan konsentrasi unsur hara N di dalam tanah berkurang karena aktivitas mikroorganisme tanah cenderung menghabiskan nitrogen untuk pertumbuhannya. P2O5 HCl 25% dan P-tersedia dalam tanah (P-bray) Berdasarkan data yang diperoleh, kadar P2O5 HCl 25% pada tanah Kulon Progo adalah 16,67 mg/100 g tanah. P2O5 dalam tanah menunjukkan P potensial yang ada dalam tanah. Kadar tersebut tergolong rendah karena menurut Badan Penelitian Tanah kisaran P2O5 HCl 25% yang rendah adalah 16 – 20 mg/100 g tanah. Hal ini juga sesuai dengan penelitian lain yang menunjukkan bahwa kandungan P2O5 HCl 25% dibawah 20 mg/100 g tanah tergolong rendah. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa tanah pada Kulon Progo tidak memiliki Ptersedia (P-Bray), hal ini menandakan bahwa tidak ada fosfor yang dapat diserap oleh tanaman. P-tersedia yang tidak terdapat di dalam tanah disebabkan oleh P potensialnya yang rendah. Tanah yang mempunyai P potensial yang rendah tidak dapat menyediakan fosfor yang akan digunakan untuk tanaman. K2O HCL 25% Berdasarkan data yang diperoleh, nilai K2O HCl 25% pada tanah Kulon Progo tidak teridentifikasi. Nilai K2O menunjukkan kandungan K potensial yang ada di dalam tanah. Kadar kalium total pada tanah umumnya lebih dari 1%. Kalium dalam tanah dapat ditemukan dalam bentuk K2O. Kandungan K dalam K2O bermanfaat untuk mempercepat pertumbuhan, karena unsur K aktif dalam proses fotosintesis dan mempercepat perbanyakan jaringan meristematis. Selain itu, kalium juga dapat berperan dalam meningkatkan daya tahan tanaman terhadap penyakit yang mungkin akan menyerang. KTK (Kapasitas Tukar Kation) Berdasarkan data yang diperoleh, KTK pada tanah Kulon Progo ialah 21 cmol+/kg. Menurut Balai Penelitian Tanah, kadar tersebut terdapat pada kisaran 17-24, yang menunjukkan bahwa nilai KTK tanah tersebut tergolong sedang. KTK merupakan jumlah kapasitas tukar kation yang dapat diserap atau yang dapat dipertukarkan pada kompleks absorbs tanah. Semakin tinggi KTK, kemampuan tanah untuk menjerat dan menyediakan unsur hara semakin meningkat. KTK dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan-bahan organik, karena dapat merubah tekstur tanah dan menyediakan unsure hara yang cukup bagi tanaman. Tanah yang memiliki tekstur pasir memiliki KTK yang rendah dan memiliki sedikit cadangan kalium untuk ditukar. Susunan Kation (Ca, Mg, K, dan Na) Berdasarkan data yang diperoleh, kandungan Ca pada tanah Kulon Progo sebesar 0,63 cmol+/kg, dan termasuk dalam kriteria tanah dengan Ca yang sangat rendah yaitu kurang dari 2 cmol+/kg. Kandungan Mg pada tanah Kulon Progo sebesar 0,18 cmol+/kg, termasuk dalam kisaran dibawah 0,3 cmol+/kg yang menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki kandungan Mg yang sangat rendah. Kandungan K pada tanah Kulon Progo sebesar 0,03 cmol+/kg, termasuk dalam kategori tanah dengan K yang sangat rendah, karena termasuk di dalak kriteria kandungan K tanah kurang dari 0,1 cmol+/kg. Kandungan Na pada tanah Kulon Progo sebesar 0,29 cmol+/kg, termasuk dalam kisaran yang rendah, karena termasuk dalam kategori 0,1-0,3 cmol+/kg. Unsur K, Ca, Na, dan Mg merupakan unsur alkali tanah yang merupakan unsur hara yang penting bagi tanah, keberadaan unsur ini selain untuk memenuhi kebutuhan tanaman, juga dapat mempengaruhi keberadaan unsure hara lainnya terutama unsur hara mikro. Unsur K berperan dalam meningkatkan toleransi terhadap kondisi kering karena mampu mengontrol stomata daun dan mengendalikan transpirasi. Unsur Ca berperan merangsang pembentukan akar, mengeraskan batang, dan merangsang pembentukan biji. Unsur Na dapat meningkatkan turgor sel dan berperan dalam sifat fisik tanah yaitu kemantapan struktur. Unsur Mg merupakan salah satu elemen atau unsur pembentuk klorofil, yang banyak terlibat dalam proses fotosintesis di daun. Daftar Pustaka Ariawan, I.M.R., A.R. Thaha, dan S.W. Prahastuti. 2016. Pemetaan status hara kalium pada tanah sawah di Kecamatan Balinggi Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Agrotekbis 4 (1) : 50 – 66. Balai Penelitian Tanah. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air dan Pupuk. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Bogor. Hardjowigeno, H. 2010. Ilmu tanah. Akademika Pressindo, Jakarta. Hermawan, B. 2005. Penetapan status fosfor dan rekomendasi pemupukan spesifik pada lokasi tanaman padi. Jurnal Penelitian UNIB 11 (1) : 1 – 8. Ismayana, A., N. S. Indrasti, dan N. Erica. 2014. Pengaruh rasio c/n awal dan laju aerasi pada proses co-composting blotong dan abu ketel. Jurnal Bumi Lestari 14 (1) : 39 – 45. Nariratih, I., M. M. B. Damanik, dan G. Sitanggang. 2013. Ketersediaan Nitrogen pada Tiga Jenis Tanah Akibat Pemberian Tiga Bahan Organik dan Serapannya pada Tanaman Jagung. Jurnal Online Agroekoteknologi 1 (3) : 479 – 488. Rajiman, P. Yudono, E. Sulistyaningsih, dan E. Hanudin. 2008. Pengaruh pembenah tanah terhadap sifat fisika tanah dan hasil bawang merah pada lahan pasir pantai bugel kabupaten Kulon Progo. Jurnal Agrin 12 (1) : 67 – 77. Supriyadi, S. 2007. Kesuburan tanah di lahan kering Madura. Jurnal Embryo 4 (2) : 124 – 131. Supriyadi, S. 2009. Status Unsur-unsur Basa (Ca2+ , Mg2+, K+, dan Na+) di Lahan Kering Madura. Jurnal Agrovigor 2 (1) : 35 – 41. Yuwono, N. W. 2009. Membangun kesuburan tanah di lahan marginal. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 9 (2) : 137 – 141. Zannah, A., G. Budiyanto, dan Mulyono. 2013. Pemanfaatan bahan organik dalam perbaikan beberapa sifat tanah pasir pantai selatan Kulon Progo.

Judul: Tugas Pengganti Praktikum Ilmu Kesuburan Dan Pemupukan

Oleh: Qurrota Ayunin Diananda


Ikuti kami