Definisi Usahatani Dan Ilmu Usahatani Menurut Soekartawi

Oleh Sinar Cora

10 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Definisi Usahatani Dan Ilmu Usahatani Menurut Soekartawi

Definisi Usahatani dan Ilmu UsahataniMenurut Soekartawi (1995) bahwa ilmu usahatani
adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang ada
secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu
tertentu.Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki
sebaik-baiknya, dan dapat dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut
mengeluarkan output yang melebihi input.Menurut Adiwilaga (1982), ilmu usahatani adalah
ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan orang melakukan
pertanian dan permasalahan yang ditinjau secara khusus dari kedudukan pengusahanya
sendiri atau Ilmu usahatani yaitu menyelidiki cara-cara seorang petani sebagai pengusaha
dalam menyusun, mengatur dan menjalankan perusahaan itu.Sebaliknya menurut Mosher
(1968), Usahatani merupakan pertanian rakyat dari perkataan farm dalam bahasa Inggris. Dr.
Mosher memberikan definisi farm sebagai suatu tempat atau sebagian dari permukaan bumi
di mana pertanian diselenggarakan oleh seorang petani tertentu, apakah ia seorang pemilik,
penyakap atau manajer yang digaji. Atau usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber
alam yang terdapat pada tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tanah
dan air, perbaikan- perbaikan yang dilakukan atas tanah itu, sinar matahari, bangunanbangunan yang didirikan di atas tanah itu dan sebagainya .Sedangkan menurut Kadarsan
(1993), Usahatani adalah suatu tempat dimana seseorang atau sekumpulan orang berusaha
mengelola unsur-unsur produksi seperti alam, tenaga kerja, modal dan ketrampilan dengan
tujuan berproduksi untuk menghasilkan sesuatu di lapangan pertanian.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Usaha Tani Kopi Arabika Desa Suntenjaya Desa Suntenjaya terletak pada
ketinggian 1000 sampai 1200 m dpl, curah hujan 1500 sampai 2200 mm/tahun dan
kemiringan lereng 5% sampai 40%. Pada ketinggian lokasi dan kemiringan lereng sudah
sesuai dengan syarat tumbuh kopi arabika yang membutuhkan ketinggian tempat 700 Jurnal
Sosioteknologi | Vol. 16, No 3, Desember 2017328 sampai 2000 m dpl. Curah hujan juga
sudah sesuai dengan syarat tumbuh kopi arabika yang membutuhkan curah hujan 1500
sampai 2500 mm/tahun. Curah hujan dapat memengaruhi cepat atau lambatnya proses
pembungaan kopi arabika. Salah satu syarat tumbuh lain untuk perkebunan kopi arabika
adalah adanya pohon naungan. Lahan kopi arabika petani di wilayah Suntenjaya merupakan
lahan Perum Perhutani KPH Bandung Utara, dan terdapat pohon pinus yang telah berumur
lebih dari 20 tahun (gambar 1).
Perkebunan kopi arabika di wilayah Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang,
Kabupaten Bandung Barat dilaksanakan melalui program Pengelolaan Hutan Bersama
Masyarakat (PHBM) dalam wilayah Perhutani KPH Bandung Utara. Program ini mencakup
petani budi daya kopi di Desa Suntenjaya yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani
Arjuna. Dalam melaksanakan usaha perkebunan kopi arabika ini, petani menghimpun diri
dalam wadah Gapoktan Arjuna dan berdomisili di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang,
Kabupaten Bandung Barat.
Pola penanaman kopi arabika yang dilakukan petani adalah dengan metode
agroforestri dengan tanaman pinus. Pola penanaman antara tanaman pinus Perum Gambar 1
Kondisi Perkebunan Kopi Arabika Di Daerah Penelitian Perhutani dengan tanaman kopi
arabika Desa Suntenjaya diberi jarak tanam 2,5 x 2.5 m sesuai dengan pedoman yang
dianjurkan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.
Latar belakang
Kopi merupakan komoditas perkebunan yang memegang peranan penting dalam
perekonomian Indonesia. Indonesia kini merupakan salah satu negara produsen kopi terbesar
dunia setelah Brazil dan Vietnam dengan sumbangan devisa yang cukup besar. Menurut data
International Coffee Organization (ICO), pada 2015 Indonesia memperoleh devisa sebesar
US$1.20 miliar. Devisa sebesar itu diperoleh dari ekspor biji kopi robusta dan arabika
sebanyak 446.279 ton meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 368.817 ton.
Volume ekspor kopi Indonesia rata-rata berkisar 430.000 ton/ tahun meliputi kopi robusta
85% dan arabika 15% (Indonesia Investment, 2015).

Kopi yang dihasilkan di Jawa Barat dikenal dengan nama kopi Arabica Java Preanger
yang sudah terkenal ke seantero dunia sejak abad 18. Kopi tersebut memiliki rasa yang khas,
gurih, lembut, bulat dan tidak membosankan. Dengan demikian, kopi tersebut selalu dicari
oleh para penikmat kopi dunia. Luas areal potensial untuk budi daya kopi Indikasi Geografis
Kopi Arabika Java Preanger secara keseluruhan sekitar 326.166,46 hektar terdiri dari lahan
budi daya rakyat adalah 162.220,76 hektar dan hutan lindung seluas 163.945,70 hektar.
Selama ini, kopi Arabika ditanam oleh para petani terutama masyarakat petani sekitar hutan
yang diizinkan oleh Perhutani dalam sistem Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat
(PHBM), namun ada juga yang ditanam pada areal milik PLN dan banyak yang ditanam di
lahan milik petani itu sendiri. Potensi pasar domestik dan ekspor, sangat menjanjikan. Namun
demikian, harga di tingkat petani sangat variatif dan fluktuatif, petani belum menikmati
keuntungan yang optimum, karena sistem perdagangan kopi belum menguntungkan petani
(Masyarakat Perlindungan Indikasi Geogras, 2012).
Kabupaten Bandung Barat mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan
komoditas kopi arabika yang saat ini sudah dibudi dayakan salah satunya di kawasan Gunung
Manglayang, Kecamatan Lembang. Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang merupakan salah
satu daerah penghasil kopi arabika di Kabupaten Bandung Barat yang berada di pegunungan
Manglayang Barat. Saat ini petani melakukan usaha budi daya kopi arabika di atas lahan
milik Perum Perhutani KPH Bandung Utara secara agroforestri dengan tanaman hutan yaitu
pinus. Walaupun daerah ini memiliki kesesuaian lahan dan mikroklimat untuk budi daya
kopi, namun sebagian besar petani kopi masih menghadapi beberapa kendala seperti
kurangnya akses kelompok tani terhadap informasi teknologi budi daya dan pascapanen kopi,
keterbatasan modal, rendahnya inovasi untuk pengemasan produk dan jaringan pemasaran;
terbatasnya jumlah petani yang memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah kopi
secara benar dan tepat sesuai standar operasional prosedur.
Permasalahan–permasalahan yang dihadapi oleh petani kopi di Desa Suntenjaya
memerlukan strategi pemecahan masalah yang tepat untuk pengembangan kopi di desa
penelitian. Oleh sebab itu, menarik untuk diteliti mengenai bagaimana strategi pengembangan
usaha tani kopi arabika di Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Pembahasan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Usaha Tani Kopi Arabika Desa Suntenjaya Desa Suntenjaya terletak pada
ketinggian 1000 sampai 1200 m dpl, curah hujan 1500 sampai 2200 mm/tahun dan
kemiringan lereng 5% sampai 40%. Pada ketinggian lokasi dan kemiringan lereng sudah
sesuai dengan syarat tumbuh kopi arabika yang membutuhkan ketinggian tempat 700 Jurnal
Sosioteknologi | Vol. 16, No 3, Desember 2017328 sampai 2000 m dpl. Curah hujan juga
sudah sesuai dengan syarat tumbuh kopi arabika yang membutuhkan curah hujan 1500
sampai 2500 mm/tahun. Curah hujan dapat memengaruhi cepat atau lambatnya proses
pembungaan kopi arabika. Salah satu syarat tumbuh lain untuk perkebunan kopi arabika
adalah adanya pohon naungan. Lahan kopi arabika petani di wilayah Suntenjaya merupakan
lahan Perum Perhutani KPH Bandung Utara, dan terdapat pohon pinus yang telah berumur
lebih dari 20 tahun (gambar 1).
Perkebunan kopi arabika di wilayah Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang,
Kabupaten Bandung Barat dilaksanakan melalui program Pengelolaan Hutan Bersama
Masyarakat (PHBM) dalam wilayah Perhutani KPH Bandung Utara. Program ini mencakup
petani budi daya kopi di Desa Suntenjaya yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani
Arjuna. Dalam melaksanakan usaha perkebunan kopi arabika ini, petani menghimpun diri
dalam wadah Gapoktan Arjuna dan berdomisili di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang,
Kabupaten Bandung Barat.
Pola penanaman kopi arabika yang dilakukan petani adalah dengan metode
agroforestri dengan tanaman pinus. Pola penanaman antara tanaman pinus Perum Gambar 1
Kondisi Perkebunan Kopi Arabika Di Daerah Penelitian Perhutani dengan tanaman kopi
arabika Desa Suntenjaya diberi jarak tanam 2,5 x 2.5 m sesuai dengan pedoman yang
dianjurkan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat.
Analisis usaha tani kopi
Buah kopi arabika biasanya dipanen satu kali dalam satu tahun (panen raya sekitar
Mei sampai dengan Agustus). Dalam satu kali musim panen, responden di Desa Suntenjaya
menghasilkan buah kopi (cherry/gelondongan) antara 1500 kg-1700 kg per hektar dengan
rata-rata produktivitas sebesar 1572.5 kg per hektar per tahun. Produktivitas tersebut
tergolong produktivitas sedang, karena menurut Ketua Gapoktan Arjuna, bahwa produktivitas
potensial dapat mencapai 3000 kg buah kopi segar per hektar ( rata-rata 2 kg/pohon x 1500
pohon per hektar). Pendapatan petani per hektar dapat dilihat pada Tabel 1.

Buah kopi arabika yang dipanen diolah dengan pengolahan proses basah, buah kopi
hasil panen disortasi terlebih dahulu untuk memilah antara kopi yang sudah matang sempurna
dengan buah kopi yang belum matang, kemudian dikeringkan sampai didapat gabah kering
kopi arabika dengan penyusutan sebesar 65% sehingga tiap 100 kg buah kopi (gelondongan),
menghasilkan sekitar 35 Kg gabah kering kopi arabika. Harga kopi arabika di tingkat petani
untuk buah cherry kopi arabika adalah Rp6500-Rp7000 per kg, sedangkan harga gabah kopi
arabika kering adalah Rp23.000- Rp24.000 per kg. Pada umumnya responden (80%) menjual
kopi dalam bentuk gabah dan sisanya dalam bentuk cherry. Kopi arabika memiliki nilai
ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan jenis kopi robusta karena harga kopi arabika lebih
tinggi dibandingkan kopi robusta. Namun, tingkat produktivitas kopi arabika di Indonesia
tergolong lebih rendah dibandingkan tingkat produktivitas robusta (Siahaan 2008).
Tabel 1

Judul: Definisi Usahatani Dan Ilmu Usahatani Menurut Soekartawi

Oleh: Sinar Cora


Ikuti kami