Asumsi Filosofis Ilmu Komunikasi: Bedah Pemikiran Littlejohn

Oleh Daniel Rusyad

213 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Asumsi Filosofis Ilmu Komunikasi: Bedah Pemikiran Littlejohn

ESENSI FILSAFAT ILMU KOMUNIKASI: “PEMIKIRAN STEPHEN W. LITTLEJOHN” Daniel Rusyad Hamdanny "Like a prism, communication theory absorbs insight and reflects it back in colourful and interesting ways." Stephen W. Littlejohn A. Pendahuluan Mengkaji filsafat komunikasi sangat berguna bagi seorang akademisi untuk memahami komunikasi sebagai sebuah disiplin ilmu secara mendalam (radikal), sistematis, metodologis dan komprehensif. Karena ilmu pengetahuan, menurut Littlejohn dikonstruksikan di atas asumsi filosofis yang tumbuh daripadanya konsep-konsep, penjelasan dan prinsip-prinsip. Sedangkan asumsi filosofis adalah pondasi atau keyakinan dasar yang menjadi basis bangunan teori. Paper ini bertujuan untuk menguraikan esensi pemikiran filsafat ilmu komunikasi disertai teori komunikasi yang tumbuh dari asumsi filosofis dimaksud dalam perspektif Stephen W. Littlejohn. B. Biografi Stephen W. Littlejohn Stephen Littlejohn meraih Ph.D Ilmu Komunikasi dari Universitas Utah. Ia adalah konsultan manajemen konflik, mediator, fasilitator, trainer, dan konsultan Public Dialogue Consortium dan co-partner di Domenici Littlejohn, Inc. Stephen merupakan co-author untuk Moral Conflict: When Social Worlds Collide (Sage, 1997) dan telah menulis banyak buku dan artikel lain tentang komunikasi dan konflik. Littlejohn merupakan guru besar komunikasi di Humboldt State University di California dan saat ini menjadi Adjunct Professor Komunikasi dan Jurnalisme di University of New Mexico. Dia telah melakukan penelitian tentang mediasi dan manajemen konflik selama 19 tahun dan telah menjadi mediator aktif selama delapan tahun. Stephen telah menjadi konsultan untuk klien seperti Waco Youth Summit, Alliance for Constructive Communication, City of Cupertino, Columbia Basin College, dan Washington State University C. Memahami Ilmu Komunikasi Memahami Komunikasi sebagai sebuah disiplin ilmu akan ditentukan oleh tiga kriteria, yaitu tingkat observasi atau keabstrakan (abstractness), kesengajaan (intentionality) dan penilaian normatif (normative judgement). Pada kriteria pertama, cakupan observasi atau keabstrakan menghasilkan tiga macam paradigma teoretis komunikasi, yaitu grand theory ilmu komunikasi yang membahas perilaku komunikasi yang general dan dianggap universal, mid range theory yang memiliki tingkat keabstrakan menengah, misalnya teori interaksi-simbolik dan applied theory yang mengkaji prilaku individual secara spesifik. Kriteria kedua, berkaitan dengan intensionalitas atau kesengajaan sebagai bagian dari komunikasi. Kualifikasi ini menghasilkan sekurangnya tiga macam definisi komunikasi dari komunikasi sebagai tindakan satu arah (linear) misalnya teori jarum hipodermik yang paling tradisonal, komunikasi sebagai perilaku interaksional yang saling mempengaruhi, hingga komunikasi transaksional yang mengkonfirmasi pandangan interdependensi antar pelaku komunikasi dan menempatkan komunikasi sebagai upaya aktif untuk bertukar dan membangun kesamaan makna. Kriteria ketiga berkenaan dengan penilaian normatif (normative judgment) yang mensyaratkan suatu pesan bukan hanya diterima, tetapi juga dipahami oleh komunikan atau komunikatee. Ketiga kriteria di atas pada gilirannya menghasilkan puluhan bahkan ratusan teori-teori komunikasi. Littlejohn menyarankan akademisi untuk tidak memandang definisi komunikasi secara restriktif. Suatu definisi (teori) hendaknya dievaluasi dengan basis bagaimana ia dapat membantu peneliti dalam menjawab hal yang sedang ditelitinya. (Littlejohn: 2011. hal 05) D. Tiga Aliran (Scholarship) dalam Ilmu Komunikasi Pada perkembangannya, dalam memandang manusia dan realitas sebagai objek materil, dan perilaku komunikasi sebagai objek formil, terlahir tiga aliran atau mazhab keilmuwan dalam disiplin Ilmu Komunikasi, yaitu mazhab Saintifik, Humanistik dan Saintifik-Sosial. Mazhab saintifik, sebagaimana naturalistik, memandang realitas bersifat objektif. Aliran ini meyakini bahwa ilmu pengetahuan bersifat objektif, dapat distandardisasi dan digeneralisasikan. Bahwa replikasi atas suatu observasi akan menghasilkan output yang identik. Konsep inti dalam pandangan saintifik adalah the discovered world, bahwa tugas dari pengetahuan adalah menjelaskan fenomena objektif dunia seakurat mungkin, Dalam rangka observasi tersebut, peneliti menggunakan pengukuran kuantitatif dan statistika sebagai untuk menguji keterhubungan antara variabel. Pendekatan demikian mensyaratkan bahwa ilmu pengetahuan bersifat bebas nilai. Aliran berikutnya, Humanistik merupakan antitesa terhadap mazhab saintifik. Bagi humanist, ilmu pengetahuan bersifat subjektif dan sarat dengan nilai. Perilaku komunikasi, bagi mazhab ini bersifat dinamis dan tidak dapat diprediksi. Demikian karena sarjana humanist dengan sarjana saintist memiliki pandangan diametral terhadap manusia. (1) Bahwa manusia, menurut humanist bukan sekadar sejumlah komponen biologis; manusia harus dipahami secara utuh. (2) Manusia hanya dapat dimengerti dalam konteks kehidupan yang unik, tidak sama dengan aspekaspek alam lainnya. (3) Manusia memiliki kesadaran diri dan mampu mengenali diri di hadapan orang lain (4) Manusia memiliki kehendak untuk memilih dan (5) Manusia memiliki motivasi untuk meraih makna diri dan nilai. Asumsi demikian menjadikan humanist menekankan perspektif individual manusia yang unik. Jika saintis berfokus pada the discoverer world, maka humanitist berfokus pada the discovering person. Aliran humanistik tidak tertarik menghadirkan konsensus atau teori yang general, humanist lebih berminat untuk menciptakan respons subjektif atau interpretasi alternatif terhadap suatu realitas. Adapun aliran ketiga, Saintifik Sosial berpandangan bahwa ilmu pengetahuan merupakan konstruk sosial, dengan kata lain suatu realitas merupakan hasil dari konstruksi manusia secara sosial. E. Teori-teori Komunikasi Teori merupakan serangkaian konsep, penjelasan dan prinsip-prinsip yang menggambarkan beberapa aspek dari pengalaman manusia (any organized set of concept, explanation and principles that depict some aspect of human experience) (Chaffee: 1996). Adapun Littlejohn memandang teori sebagai proposisi yang bersatu atau koheren yang memberikan gambaran konsisten secara filosofis tetang suatu subjek (a unified, or coherent body of propositions that provide a philosophically consistent picture of a subject). Definisi terakhir mensyaratkan satu kesatuan utuh antara asumsi filosofis, konsep dan penjelasan serta prinsip-prinsip dalam memandang sebuah realitas komunikasi. Teori, menurut James Anderson mengandung seperangkat instruksi untuk membaca dunia dan bertindak di dalamnya (theory contains set of instruction for reading the world and acting in it). Littlejohn: 19 Teori juga dapat dipandang sebagai sebuah abstraksi, yaitu upaya mereduksir pengalaman manusia menjadi serangkaian kategori yang berfokus pada hal-hal tertentu dengan mengabaikan yang lainnya. Ia juga dipahami sebagai konstruksi, yaitu teori sebagai rekaan manusia. Teori tidak merepresentasikan realitas, namun merupakan rekaman konseptualisasi peneliti mengenai realitas. Karena merupakan sebuah konstruksi, maka akademisi hendaknya berfokus pada kegunaan suatu teori, alih-alih berkonsentrasi pada kebenaran (truthfulness) sebuah teori. F. Dimensi-dimensi Teori Teori komunikasi, sebagaimana teori ilmu sosial lainnya memiliki empat dimensi yang bersifat komplementer, yaitu asumsi filosofis, konsep-konsep, penjelasan dan prinsip-prinsip. Asumsi filosofis merupakan keyakinan-keyakinan dasar yang menjadi pondasi dari sebuah terori (basic beliefs that underlie the theory). Asumsi filosofis merupakan langkah awal untuk memahami teori. Ia merupakan akar dan landasan untuk memahami bagaimana suatu teori dikonstruksikan serta memosisikan dirinya terhadap teori lainnya. Dimensi kedua adalah konsep (concept) yang merupakan termin-termin dan definisi yang menjadi fokus observasi. Konsep dapat diibaratkan seperti bata-bata yang dibangun diatas asumsi filosofis sebagai pondasinya. Lalu dimensi ketiga adalah penjelasan (explanation) yang dapat dipahami sebagai identifikasi pola atau keterhubungan antar variable. Teori-teori yang dibangun di atas asumsi filsafat objektivisme, naturalistik atau empirisme, kemudian disebut teori-teori nomothetic berhenti di sini. Adapun teori-teori yang tumbuh dari asumsi konstruktivisme atau subjektivisme, selanjutnya disebut teori-teori praktikal, memiliki dimensi keempat yaitu Prinsipprinsip (principles) yang dapat dipahami sebagai petunjuk yang membantu untuk menafsirkan peristiwa, membuat penilaian atas sesuatu yang terjadi dan menjadi acuan untuk bertindak pada situasi tertentu. G. Asumsi Filosofis Asumsi filosofis merupakan langkah awal untuk memahami teori. Ia menyediakan fondasi untuk memahami bagaimana suatu teori memosisikan dirinya terhadap teori lainnya. Asumsi filosofis merupakan serangkaian jawaban atas tiga pertanyaan besar mengenai pengetahuan (epistemologi), hakikat atau eksistensi sesuatu (ontologi) dan pertanyaan mengenai nilai (aksiologi).  Epistemologi Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji pengetahuan manusia. Bagaimana manusia mengetahui sesuatu dan apa yang manusia klaim sebagai pengetahuan. Secara sederhana, Littlejohn menguraikan bahwa asumsi epistemologis berkisar pada dialektika atas lima pertanyaan dasar seperti “apakah pengetahuan ada sebelum pengalaman?” Pertanyaan ini melahirkan konsep innate potential bahwa pengetahuan sudah terlahir sebelum adanya pengalaman, sebagaimana kapasitas bahasa yang inheren dalam diri seseorang. Pandangan demikian kontras dengan pandangan bahwa pengetahuan lahir dari pengalaman inderawi manusia (sensory experience). Bahwa pengetahuan merupakan hasil dari pengalaman (empirisasi) itu sendiri. “Apakah pengetahuan bersifat absolut atau relatif?” terlahir gagasan the discovered world, bahwa alam bersifat menunggu untuk diteliti dan ditemukan sebagaimana adanya. Lawannya adalah paham the discovering humans yang melihat pengetahuan bersifat nisbi, relatif yang didasari pada gagasan respon subjektif dari individu. “Bagaimana munculnya ilmu pengetahuan?” melahirkan berbagai aliran filsafat yang oleh Littlejohn digolongkan ke dalam rasionalisme, empirisme, konstruktivisme dan konstruktivisme sosial. “Apakah pengetahuan paling baik dipahami secara parsial atau keseluruhan?” memunculkan pendekatan sistem dan parsial sebagaimana tradisi sibernetika pada berbagai disiplin ilmu. “Sejauh mana pengetahuan itu bersifat eksplisit?” melahirkan gagasan kesadaran manusia sebagai eksistensi pengetahuan, b erhdapan dengan hidden atau tacit knowledge, bahwa pengetahuan merupakan entitas diluar manusia.  Ontologi Ontologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat atau eksistensi sesuatu. Asumsi ontologis lahir dari serangkaian jawaban atas empat pertanyaan dasar berikut, “Sejauh mana manusia bebas menentukan pilihan?” Pertanyaan tersebut membuka jalan lahirnya pandangan determinisme, bahwa manusia bersifat pasif terhadap lingkungan atau faktor luar yang memiliki kuasa atas dirinya, sehingga perilaku manusia pada dasarnya dapat diprediksi. Lawan dari pandangan demikian adalah pragmatisme yang berkeyakinan sebaliknya, bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak sehingga perilakunya tak dapat diprediksi. “Apakah perilaku manusia paling baik dipahami sebagai suatu keadaan sementara (temporary state) ataukan sifat (strait)?” Sebangun dengan pertanyaan pertama, jawaban atas pertanyaan kedua memandang perilaku sebagai konstan atau dinamis. “Apakah pengalaman manusia terutama berssifat individual atau sosial?” Memunculkan konsep kejiwaan seseorang (human psyche) atau kelompok sosial sebagai pengaruh terbesar bagi manusia. “Sejauh mana komunikasi bersifat kontekstual?” Membuka wacana bahwa perilaku komunikasi misalnya, diatur oleh prinsip-prinsip universal yang bersifat general dan faktor-faktor situasional yang bersifat spesifik, episodik dan individual.  Aksiologi Aksiologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji tentang nilai (value). Asumsi aksiologis merupakan dialektika atas jawaban pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut, “Apakah teori bersifat bebas nilai?” Konsep yang muncul dari pertanyaan tersebut diantaranya kenetralan pengetahuan (science neutrality), bahwa ilmuwan berupaya mendeskripsikan suatu realitas secara objektif apa adanya. Pandangan lainnya berpandangan bahwa teori merupakan sarat nilai (value-laden) setidaknya mengandung value dan preferensi ilmuwan yang mencetuskan teori tersebut. “Sejauhmana proses penyelidikan itu sendiri mempengaruhi apa yang dilihat?” Perbedaan muncul berbasis objek yang dikaji. Distorsi dan interferensi pada kajian perilaku manusia merupakan hal yang tak terhindarkan dalam pandangan bahwa manusia merupakan makhluk yang berakal budi. “Haruskan keilmuwan itu dirancang untuk menggapai perubahan? Atau sekadar untuk menghasilkan ilmu?” Paham tradisionalis memandang bahwa ilmuwan tidaklah bertanggungjawab atas penggunaan ilmu pengetahuan, sebagaimana ilmu itu dapat digunakan secara baik atau buruk. Berbeda dengan paham instrumentalis bahwa sejatinya ilmu pengetahuan itu bersifat instrumental, maka ilmuwan memilki tanggung jawab moral agar ilmu dapat mengarahkan masyarakat pada perubahan yang lebih baik (Littlejohn: 2011. hlm 33). H. Nomothetic vs Practical Theories Dialektika atas pertanyaan-pertanyaan epistemologis, ontologis dan aksiologis sebagaimana diuraikan pada sub-pembahasan sebelumnya, melahirkan dua kategori yang Littlejohn sebut sebagai teori-teori Nomothetic (Nomothetic Theories) disingkat NT dan teori-teori Praktikal (Practical Theories) disingkat PT. Seacara epistemologis, NT bermazhab empirisme dan rasionalisme dengan asumsi ontologis bahwa realitas di luar manusia serta berpandangan bahwa ilmu pengetahuan bersifat bebas nilai. Adapun PT secara epistemologis bermazhab konstruktivisme dengan asumsi ontologis bahwa realitas diciptakan oleh manusia serta berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan sarat dengan nilai. Di antara konsep inti yang dapat dijumpai pada NT adalah definisi operasional, validitas dan realibilitas dengan penjelasan yang basisnya adalah relasi sebab dan akibat disertai covering law yang dapat memprediksi peristiwa yang akan datang. Adapun konsep inti dari PT diantaranya aksi dan interpretasi dinamis manusia pada situasi-situasi yang berbeda. Penjelasan dalam PT berorientasi pada tujuan, bahwa komunikator dibimbing untuk mencapai tujuan masa depan dengan mengikuti nilai dan norma sosial tertentu. Pembeda yang paling prinsipil antara NT dan PT dalam perspektif Littlejohn adalah keberadaan Prinsip-prinsip (Principles) yang hanya dimiliki oleh PT. Prinsip-prinsip tersebut merupakan petunjuk yang membantu untuk menafsirkan peristiwa, membuat penilaian atas sesuatu yang terjadi dan menjadi acuan untuk bertindak pada situasi tertentu. Princip-prinsip pada PT terdiri dari tiga tingkatan, (1) Level Teknis dimana strategi spesifik atau alternatif aksi tersedia bagi komunikator. (2) Level Problematika mengurai suatu permaslahan atau kendala yang mungkin ditemukan. (3) Level Filosofis mencakup Prinsip-prinsip Umum, Ideal dan Nilai-nilai yang dapat digunakan oleh komunikator. I. Penutup Definisi Littlejohn mengenai teori sebagai “Proposisi yang integratif dan koheren yang memberikan gambaran konsisten secara filosofis tetang suatu subjek” (a unified, or coherent body of propositions that provide a philosophically consistent picture of a subject) sangat membantu pengkaji komunikasi untuk melihat disiplin ilmu komunikasi secara mendalam dan komprehensif. Dimulai dari asumsi filosofis sebagai pondasi, dilanjutkan konsep-konsep sebagai batu-bata pembangun (blockig blocks), yang direkatkan oleh penjelasan (explanation) sebagai gambaran atas keterhubungan dinamis antara realitas dan disempurnakan dengan prinsip-prinsip sebagai pedoman untuk refleksi dan aksi. Dengan memahami secara utuh konstruk tersebut, pengkaji dapat mengerti bagaimana posisi teori-teori komunikasi sebagai rekaman konseptual pencetusnya dalam memandang suatu realitas. Daftar Pustaka  Cavallaro, Dani. 2001. Critical and Cultural Theory: Teori Kritis dan Teori Budaya. Yogyakarta: Penerbit Niagara  Chandler, Daniel. Semiotics: The Basics. Second Edition. 2007. New York: Routledge, Taylor & Francis Group  Littlejohn, Stephen, Karen Foss. 2011 Theories of Human Communication. Illinois:Waveland  Locke, John. 1999. An Essay Concerning Human Understanding. Pensylvania: Pensylvania State University  Mulyana, Deddy. 2007. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Rosdakarya

Judul: Asumsi Filosofis Ilmu Komunikasi: Bedah Pemikiran Littlejohn

Oleh: Daniel Rusyad


Ikuti kami