Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Dan Rpp K13

Oleh Andya Agisa

483,2 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Dan Rpp K13

MAKALAH PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DAN RPP K13 Diajukan untuk memenuhi Ujian Akhir Semester Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Dosen : Dr. Acep Supriadi, M.Pd, M.AP. OLEH : ANDYA AGISA [1610112220003] FAKULTAS KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA & KEWARGANEGARAAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN 2018 Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 1 KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah atas segala limpahan karunia Allah SWT. Atas izin-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Tak lupa pula saya kirimkan shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Beserta keluargaNya, para sahabatNya, dan seluruh ummatNya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman. Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi Ujian Akhir Semester matakuliah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang berjudul “Makalah Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Dan RPP Kurikulum 2013”. Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan laporan ini, khususnya kepada bapak Dr. Acep Supriadi, M.Pd, M.AP selaku Dosen mata kuliah Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya memperoleh banyak manfaat setelah menulis makalah ini. Akhirul kalam, saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang saya miliki. Karena itu saya mengharapkan saran dan kritik konstruktif demi perbaikan laporan di masa mendatang. Harapan saya semoga laporan ini bermanfaat dan memenuhi harapan berbagai pihak. Demikian laporan ini saya tulis, semoga bisa memberikan manfaat kepada pembaca. Banjarmasin, Januari 2018 Penulis Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 2 DAFTAR ISI COVER.........................................................................................................................................................1 KATA PENGANTAR..................................................................................................................................2 DAFTAR ISI.................................................................................................................................................3 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang.............................................................................................................................4 B. Rumusan Masalah........................................................................................................................8 C. Tujuan Penelitian.........................................................................................................................9 D. Manfaat Penulisan........................................................................................................................9 BAB 2 PEMBELAJARAN IPS A. Hakikat Pembelajaran IPS.........................................................................................................10 B. Perbedaan Makna Pembelajaran Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)................................................................12 C. Hubungan Pembelajaran Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies)/ Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).......................................................................15 D. Gambaran dan Contoh Pembelajaran IPS Menurut Kurikulum 2013........................................19 BAB 3 KARAKTERISTIK ILMU-ILMU SOSIAL A. Karakteristik Ilmu Politih, Ilmu Hukum, Ilmu Geografi, Ilmu Sejarah, Ilmu Sosantro, dan Ilmu Ekonomi Menurut IPS.................................................25 B. Perbedaan, Persamaan, dan Analisis Ilmu-Ilmu Sosial..............................................................33 BAB 4 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) A. Pengertian dan Tujuan RPP.......................................................................................................52 B. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Pembuatan RPP.........................................................52 C. Kurikulum 2013.........................................................................................................................53 D. RPP IPS Kurikulum 2013..........................................................................................................53 LAMPIRAN................................................................................................................................................54 BAB 5 PENUTUP A. Kesimpulan................................................................................................................................61 B. Saran..........................................................................................................................................62 DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................................63 Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 3 BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pertama kali Social Studies dimasukkan secara resmi ke dalam kurikulum sekolah adalah di Rugby (Inggris) pada tahun 1827, atau sekitar setengah abad setelah Revolusi Industri (abad 18), yang ditandai dengan perubahan penggunaan tenaga manusia menjadi tenaga mesin. Alasan dimasukannya social studies (IPS) ke dalam kurikulum sekolah karena berbagai ekses akibat industrialisasi di berbagai negara di belahan dunia juga terjadi, di antaranya perubahan perilaku manusia akibat berbagai kemajuan dan ketercukupan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong industrialisasi telah menjadikan bangsa semakin maju dan modern, tetapi juga menimbulkan dampak perilaku sosial yang kompleks. Para ahli ilmu sosial dan pendidikan mengantisipasi berbagai kemungkinan ekses negatif yang mungkin timbul di masyarakat akibat dampak kemajuan tersebut. Sehingga untuk mengatasi berbagai masalah sosial di lingkungan masyarakat tidak hanya dibutuhkan kemajuan ilmu dan pengetahuan secara disipliner, tetapi juga dapat dilakukan melalui pendekatan program pendidikan formal di tingkat sekolah. Program pendidikan antar disiplin (interdiscipline) di tingkat sekolah merupakan salah satu pendekatan yang dianggap lebih efektif dalam rangka membentuk perilaku sosial siswa ke arah yang diharapkan. Bahkan program pendidikan ini di samping sebagai bentuk internalisasi dan transformasi pengetahuan juga dapat digunakan sebagai upaya mempersiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi berbagai tantangan dan problematika yang makin komplek di masa datang. Oleh karenanya latar belakang perlu dimasukkannya Social studies dalam kurikulum sekolah di beberapa negara lain juga memiliki sejarah dan alasan yang berbeda-beda. Amerika Serikat berbeda dengan di Inggris karena situasi dan kondisi yang menyebabkannya juga berbeda. Penduduk Amerika Serikat terdiri dari berbagai macam ras di antaranya ras Indian yang merupakan penduduk asli, ras kulit putih yang datang dari Eropa dan ras Negro yang didatangkan dari Afrika untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan negara tersebut. Memandang perlunya pendidikan IPS bagi setiap warga negara Apresiasi terhadap social studies (pendidikan IPS) terus bertambah dari berbagai negara, terutama di Amerika, Inggris, dan berbagai negara di Eropa, dan baru berkembang ke berbagai negara di Australia dan Asia termasuk Indonesia. Latar belakang dimasukkannya bidang studi IPS ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia juga hampir sama dengan di beberapa negara lain, di antaranya situasi kacau dan pertentangan politik bangsa, kondisi keragaman budaya bangsa (multikultur) yang sangat rentan terjadinya konflik. Sehingga, sebagai akibat konflik dan situasi nasional bangsa yang tidak stabil, terlebih adanya pemberontakan G30S/PKI dan berbagai masalah nasional lainnya di pandang perlu memasukan program pendidikan sebagai propaganda dan penanaman nilai-nilai sosial budaya masyarakat, berbangsa dan bernegara ke dalam kurikulum sekolah. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 4 Oleh karenanya, dalam beberapa pertemuan ilmiah dibahas Istilah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) sebagai program pendidikan tingkat sekolah di Indonesia, dan pertama kali muncul dalam Seminar Nasional tentang Civic Education tahun 1972 di Tawangmangu Solo Jawa Tengah. Dalam laporan seminar tersebut, muncul 3 istilah dan digunakan secara bertukar pakai, yaitu : 1. Pengetahuan Sosial 2. Studi Sosial 3. Ilmu Pengetahuan Sosial Konsep IPS untuk pertama kalinya masuk ke dunia persekolahan di Indonesia pada tahun 1972-1973 yang diujicobakan dalam Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PSSP) IKIP Bandung. Kemudian secara resmi dalam kurikulum 1975 program pendidikan tentang masalah sosial dipandang tidak cukup diajarkan melalui pelajaran sejarah dan geografi saja, maka dilakukan reduksi mata pelajaran di tingkat SD-SMA untuk beberapa mata pelajaran ilmu sosial yang serumpun digabung ke dalam mata pelajaran IPS. Oleh karena itu, pemberlakuan istilah IPS (social studies) dalam kurikulum 1975 tersebut, dapat dikatakan sebagai kelahiran IPS secara resmi di Indonesia. Sejak pemerintahan Orde Baru keadaan tenang, pemerintah melancarkan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Pada masa Repelita I (1969-1974) Tim Peneliti Nasional di bidang pendidikan menemukan lima masalah nasional dalam bidang pendidikan. Kelima masalah tersebut antara lain: 1. Kuantitas, berkenaan dengan perluasan dan pemerataan kesempatan belajar. 2. Kualitas, menyangkut peningkatan mutu lulusan. 3. Relevansi, berkaitan dengan kesesuaian sistem pendidikan dengan kebutuhan pembangunan. 4. Efektifitas sistem pendidikan dan efisiensi penggunaan sumber daya dan dana. 5. Pembinaan generasi muda dalam rangka menyiapkan tenaga produktif bagi kepentingan pembangunan nasional. Oleh karena itu, upaya pembangunan sektor pendidikan oleh pemerintah menjadi prioritas. Program pembangunan pendidikan bidang sosial semakin ditingkatkan untuk mengatasi dan menanamkan kewarganegaraan serta cinta tanah air Indonesia. Upaya memasukan materi ilmu-ilmu sosial dan humaniora ke dalam kurikulum sekolah di Indonesia disajikan dalam mata pelajaran dan bidang studi/ jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) secara resmi pada kurikulum 1975. Kurikulum ini merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat. Kurikulum pendidikan 1975 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut : a. Berorientasi pada tujuan. b. Menganut pendekatan integratif. c. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 5 d. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). e. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon dan latihan. Konsep pendidikan IPS tersebut lalu memberi inspirasi terhadap kurikulum 1975 yang menampilkan empat profil, yaitu : 1) Pendidikan Moral Pancasila menggantikan Kewargaan Negara sebagai bentuk pendidikan IPS khusus. 2) Pendidikan IPS terpadu untuk SD. 3) Pendidikan IPS terkonfederasi untuk SMP yang menempatkan IPS sebagai konsep peyung untuk sejarah, geografi dan ekonomi koperasi. 4) Pendidikan IPS terisah-pisah yang mencakup mata pelajaran sejarah, ekonomi dan geografi untuk SMA, atau sejarah dan geografi untuk SPG, dan IPS (ekonomi dan sejarah) untuk SMEA /SMK. Konsep pendidikan IPS seperti itu tetap dipertahankan dalam Kurikulum 1984 yang secara konseptual merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975 khususnya dalam aktualisasi materi, seperti masuknya Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) sebagai materi pokok PMP. DalamKurikulum 1984, PPKn merupakan mata pelajaran sosial khusus yang wajib diikuti semua siswa di SD, SMP dan SMU. Sedangkan mata pelajaran IPS diwujudkan dalam : 1) Pendidikan IPS terpadu di SD kelas I-VI. 2) Pendidikan IPS terkonfederasi di SLTP yang mencakup geografi, sejarah dan ekonomi koperasi. 3) Pendidikan IPS terpisah di SMU yang meliputi Sejarah Nasional dan Sejarah Umum di kelas I-II; Ekonomi dan Geografi di kelas I-II; Sejarah Budaya di kelas III program IPS. Dimensi konseptual mengenai pendidikan IPS telah berulang kali dibahas dalam rangkaian pertemuan ilmiah, yakni pertemuan HISPISI pertama di Bandung tahun 1989, Forum Komunikasi Pimpinan HIPS di Yogyakarta tahun 1991, di Padang tahun 1992, di Ujung Pandang tahun 1993, Konvensi Pendidikan kedua di Medan tahun 1992. Salah satu materi yang selalu menjadi agenda pembahasan ialah mengenai konsep PIPS. Dalam pertemuan Ujung Pandang, M. Numan Soemantri, pakar dan ketua HISPISI menegaskan adanya dua versi PIPS sebagaimana dirumuskan dalam pertemuan di Yogyakarta, yaitu : a) Versi PIPS untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. PIPS adalah penyederhanaan, adaptasi dari disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora, serta kegiatan dasar manusia yang duorganisir dan disajikan secara ilmiah dan pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan. b) Versi PIPS untuk Jurusan Pendidikan IPS-IKIP. PIPS adalah seleksi dari disiplin Ilmu-ilmu Sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang diorganisir dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. PIPS untuk tingkat perguruan tinggi pendidikan Guru IPS (eks IKIP, FKIP, STKIP), direkonseptualisasikan sebagai pendidikan disiplin ilmu, sehingga menjadi Pendidikan Disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial, seperti pendidikan Geografi, Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Kewarganegaraan, Pendidikan sosiologi, Pendidikan Sejarah dsb). Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 6 Bentuk keseriusan ahli pendidikan dan ahli ilmu-ilmu sosial khususnya mereka yang memiliki komitmen terhadap social studies atau pendidikan IPS sebagai program pendidikan di tingkat sekolah, maka mereka berusaha untuk memasukkan ilmu-ilmu sosial ke dalam kurikulum sekolah lebih jelas lagi. Namun karena tidak mungkin semua disiplin ilmu sosial diajarkan di tingkat sekolah, maka kurikulum ilmu sosial itu disajikan secara terintegrasi atau interdisipliner ke dalam kurikulum IPS (social studies). Jadi untuk program pendidikan ilmu-ilmu sosial di tingkat pendidikan dasar dan menengah harus sudah mulai di ajarkan. Program pendidikan dasar di SD dan SMP penyajiannya secara terpadu penuh, sementara itu untuk pembelajaran IPS di tingkat SMA/MA dan SMEA penyajiannya bisa dilakukan secara terpisah antar cabang ilmu-ilmu sosial, tetapi tetap memperhatikan keterhubungannya antara ilmu sosial yang satu dengan ilmu sosial lainnya, terutama dalam rumpun jurusan IPS di SMA dan juga di SMEA. Sementara itu, pada tingkat perguruan tinggi pendidikan ilmu-ilmu sosial disajikan secara terpisah atau fakultatif, seperti FE, FH, FISIP dsb. Namun untuk pendidikan IPS di FKIP/IKIP/STKIP yang mempersiapkan calon guru atau mendidik calon guru di tingkat sekolah, maka pendidikan IPS di berikan secara interdisipliner dan juga secara disipliner. Secara interdisipliner karena ilmu yang diperoleh nantinya untuk program pembelajaran untuk usia anak sekolah, dan secara disipliner karena sebagai guru juga harus menguasai ilmu yang diajarkan. Bertitik tolak dari pemikiran mengenai kedudukan konseptual Pendidikan IPS, dapat diidentifikasi sekolah objek telaah dari sistem pendidikan IPS, yaitu : 1) Karakteristik potensi dan perilaku belajar siswa SD, SLTP dan SMU. 2) Karakteristik potensi dan perilaku belajar mahasiswa FPIPS-IKIP atau JPIPS-STKIP/FKIP. 3) Kurikulum dan bahan belajar IPS SD, SLTP dan SMU. 4) Disiplin ilmu-ilmu sosial, humaniora dan disiplin lain yang relevan. 5) Teori, prinsip, strategi, media serta evaluasi pembelajaran IPS. 6) Masalah-masalah sosial, ilmu pengetahuan dan teknilogi yang berdampak sosial. 7) Norma agama yang melandasi dan memperkuat profesionalisme. Kurikulum 1994 dilaksanakan secara bertahap mulai ajaran 1994-1995 merupakan pembenahan atas pelaksanaan kurikulum 1984 setelah memperhatikan tuntutan perkembangan dan keadaan masyarakat saat itu, khususnya yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, kebutuhan pembangunan dan gencarnya arus globalisasi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum 1984 itu sendiri. Upaya pembaharuan kurikulum pendidikan nampak saat diadakannya serangkaian Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dari tahun 1986 sampai 1989. Pembenahan kurikulum ini juga didorong oleh amanat GBHN 1988 yang intinya; 1) perlunya diteruskan upaya peningkatan mutu pendidikan di berbagai jenis dan jenjang pendidikan, 2) perlunya persiapan perluasan wajib belajar pendidikan dasar dari enam tahun menjadi sembilan tahun, dan 3) perlunya segera dilahirkan undang-undang yang mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada tahun 2004, pemerintah melakukan perubahan kurikulum kembali yang dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Namun pengembangan kurikulum IPS diusulkan menjadi Pengetahuan Sosial Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 7 untuk merespon secara positif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran Pengetahuan Sosial dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Di samping itu, khusus dalam kurikulum SD, IPS pernah diusulkan digabung dengan Pendidikan kewarganegaraan yaitu menjadi pendidikan kewrganegaraan dan pengetahuan sosial (PKnPS), namun akhirnya kurikulum disempurnakan ke dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006, antara IPS dan PKn dipisahkan kembali. Hal ini memperhatikan berbagai masukan dan kritik ahli pendidikan serta kepentingan pendidikan nasional dan politik bangsa yaitu perlunya pendidikan kewarganegaraan bangsa, maka antara IPS dan PKn meskipun tujuan dan kajiannya adalah sama yaitu membentuk warganegara yang baik, maka PKn tetap diajarkan sebagai mata pelajaran di sekolah secara terpisah dengan IPS. Jadi wajarlah kalau mata pelajaran PKn hanya ada di Indonesia, sementara di negara lain disebut Civic education. IPS (social studies) dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan di Indonesia terus melakukan beberapa tinjauan dan kritik terutama untuk perbaikan IPS sebagai program pendidikan ilmu sosial di tingkat sekolah melalui seminar dan lokakarya serta pertemuan ilmiah bidang IPS lainnya, terutama oleh kelompok pakar HISPISI (Himpunan sarjana pendidikan ilmu sosial Indonesia) dalam kongresnya di beberapa tempat di Indonesia. Mempelajari Konsep dasar IPS berisi tentang konsep, hakikat, dan karakteristik pendidikan IPS. Dengan mempelajari materi Konsep dasar IPS ini, diharapkan dapat menjelaskan konsep-konsep IPS yang berpengaruh terhadap kehidupan masa kini dan masa yang akan datang secara kritis dan kreatif. Pembahasan materi ini menerapkan pendekatan antar disiplin yang mengintegrasikan ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Adapun media yang digunakan adalah bahan ajar cetak dan non cetak (web). Sebagai guru/calon guru hendaknya menguasai materi IPS sebagai program pendidikan. Untuk membantu menguasai materi tersebut maka dalam Konsep Pendidikan IPS, disajikan pembahasan hal-hal pokok dan latihan sebagai berikut : 1. konsep pendidikan IPS 2. hakikat pendidikan IPS 3. karakteristik pendidikan IPS B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa itu hakikat pembelajaran IPS? 2. Apa perbedaan makna pembelajaran IPS (social studies) dengan Ilmu Ilmu Sosial/IIS (social science)? 3. Bagaimana hubungan diantara dua kelimuan tersebut IPS (social studies) dengan Ilmu Ilmu Sosial/IIS (social science)? 4. Apa gambaran dan contoh dari pembelajaran IPS menurut Kurikulum 2013? 5. Apa karakteristik dan perbedaan dari suatu Ilmu Politik, Hukum, Geografi, Sejarah, Sosantro, dan Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 8 Ekonomi menurut Ilmu Pengetahuan Sosial? 6. Bagaimana RPP IPS K13 berdasarkan ilmu-ilmu tersebut? C. TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan penulis dalam penulisan makalah ini ialah - Tujuan Umum : Sebagai media pembelajaran - Tujuan Khusus :  Agar mahasiswa mengetahui hakikat pembelajaran IPS.  Agar mahasiswa mengetahui perbedaan makna pembelajaran IPS (social studies) dengan Ilmu Ilmu Sosial/IIS (social science).  Agar mahasiswa mengetahui hubungan diantara dua kelimuan tersebut IPS (social studies) dengan Ilmu Ilmu Sosial/IIS (social science).  Agar mahasiswa mengetahui gambaran dan contoh dari pembelajaran IPS menurut Kurikulum 2013.  Agar mahasiswa mengetahui karakteristik dan perbedaan dari suatu Ilmu Politik, Hukum, Geografi, Sejarah, Sosantro, dan Ekonomi menurut Ilmu Pengetahuan Sosial.  Agar mahasiswa mengetahui RPP IPS K13 berdasarkan ilmu-ilmu tersebut. D. MANFAAT PENULISAN - Sarana membaca dan Media pembelajaran. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 9 BAB 2 PEMBELAJARAN IPS A. HAKIKAT PEMBELAJARAN IPS Istilah “Ilmu Pengetahuan Sosial”, disingkat IPS, merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi identik dengan istilah “social studies” Sapriya (2009: 19). Istilah IPS di sekolah dasar merupakan nama mata pelajaran yang berdiri sendiri sebagai integrasi dari sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan Sapriya (2009: 20). Materi IPS untuk jenjang sekolah dasar tidak terlihat aspek disiplin ilmu karena lebih dipentingkan adalah dimensi pedagogik dan psikologis serta karakteristik kemampuan berpikir peserta didik yang bersifat holistik Sapriya (2009: 20). IPS adalah suatu bahan kajian terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi diorganisasikan dari konsep-konsep ketrampilan-ketrampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, dan Ekonomi (Puskur, 2001: 9). Fakih Samlawi & Bunyamin Maftuh (1999: 1) menyatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang memadukan konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu sosial disusun melalui pendidikan dan psikologis serta kelayakan dan kebermaknaannya bagi siswa dan kehidupannya. Adanya mata pelajaran IPS di Sekolah Dasar para siswa diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan wawasan tentang konsep-konsep dasar ilmu sosial dan humaniora, memiliki kepekaan dan kesadaran terhadap masalah sosial di lingkungannya, serta memiliki ketrampilan mengkaji dan memecahkan masalahmasalah sosial tersebut. Pembelajaran IPS lebih menekankan pada aspek “pendidikan ” dari pada transfer konsep karena dalam pembelajaran IPS siswa diharapkan memperoleh pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral dan ketrampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya. IPS juga membahas hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat dan dihadapkan pada berbagai permasalahan di lingkungan sekitarnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS sebagai proses belajar yang mengintegrasikan konsep-konsep terpilih dari berbagai ilmu-ilmu sosial dan humaniora siswa agar berlangsung secara optimal. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar yang meliputi guru dan siswa yang saling bertukar informasi. Pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing. Kajian tentang masyarakat dalam IPS dapat dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, yaitu lingkungan sekitar sekolah atau siswa dan siswi atau dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 10 negara lain, baik yang ada di masa sekarang maupun di masa lampau. Dengan demikian siswa dan siswi yang mempelajari IPS dapat menghayati masa sekarang dengan dibekali pengetahuan tentang masa lampau umat manusia. Dalam kegiatan belajar mengajar IPS membahas manusia dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial pada masa lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan yang dekat maupun lingkungan yang jauh dari siswa dan siswi. Oleh karena itu, guru IPS harus sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana bidang studi IPS itu. Secara mendasar, pembelajaran IPS berkaitan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkaitan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya, memamfaatkan sumberdaya yang ada dipermukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai anggota masyarakat. IPS yang juga dikenal dengan nama social studies adalah kajian mengenai manusia dengan segala aspeknya dalam sistem kehidupan bermasyarakat. IPS mengkaji bagaimana hubungan manusia dengan sesamanya di lingkungan sendiri, dengan tetangga yang dekat sampai jauh. IPS juga mengkaji bagaimana manusia bergerak dan memenuhi kebutuhanhidupnya. Dengan demikian, IPS mengkaji tentang keseluruhan kegiatan manusia. Kompleksitas kehidupan yang akan dihadapi siswa nantinya bukan hanya akibat tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi saja, melainkan juga kompleksitas kemajemukan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, IPS mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan manusia dan juga tindakan-tindakan empatik yang melahirkan pengetahuan tersebut. Sebutan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai mata pelajaran dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di negara kita IPS memiliki kekhasan dibandingkan dengan mata pelajaran lain sebagai pendidikan disiplin ilmu, yakni kajian yang bersifat terpadu (integrated), interdisipliner, multidimensional. Karakteristik ini terlihat dari perkembangan IPS sebagai mata pelajaran di sekolah yang cakupan materinya semakin meluas. Dinamika cakupan semacam itu dapat dipahami mengingat semakin kompleks dan rumitnya permasalahan sosial yang memerlukan kajian secara terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, teknologi, humaniora, lingkungan, bahkan sistem kepercayaan. Dengan cara demikian pula diharapkan pendidikan IPS terhindar dari sifat ketinggalan zaman, di samping keberadaannya yang diharapkan tetap koheren dengan perkembangan sosial yang terjadi. Pusat Kurikulum mendefinisikan Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai integrasi dari berbagai cabang ilmuilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan suatu pendekatan interdisipliner dariaspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan budaya (Pusat Kurikulum, 2006: 5). IPS merupakan seperangkat fakta, peristiwa, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan perilaku dan tindakan manusia untuk membangun dirinya, masyarakat, bangsa, dan lingkungannya berdasarkan Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 11 pengalaman masalalu yang bisa dimaknai untuk masa kini, dan antisipasi masa akan datang. Peristiwa fakta, konsep dan generalisasiyang berkaitan dengan isu sosial merupakan beberapa hal yang menjadi kajian IPS. Urutan kajian itu menunjukan urutan dari bentuk yang paling kongkrit, yaitu dari peristiwa menuju ketingkatan yang abstrak, yaitu konsep peranan peristiwa dan fakta dalam membangun konsep dan generalisasi. Senada dengan hal itu menurut Sapriya pengetahuan IPS hendaknya mencakup fakta, konsep, dan generalisasi. Fakta yang digunakan a terjadi dalam kehidupan siswa, sesuai usia siswa, dan tahapan berfikir siswa. Untuk konsep dasar IPS terutama diambil dari disiplin ilmu-ilmu sosial, yang terkait dengan isu-isu sosial dan tema-tema yang diambil secara multidisiplin. Contoh konsep, multikultural, lingkungan, urbanisasi, perdamaian, dan globalisasi. Sedangkan generalisasi yang merupakan ungkapan pernyataan dari dua atau lebih konsep yang saling terkait digunakan proses pengorganisir dan memaknai fakta dan cara hidup bermasyarakat. B. PERBEDAAN MAKNA PEMBELAJARAN ILMU SOSIAL (SOCIAL SCIENCES), STUDI SOSIAL (SOCIAL STUDIES), DAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) Sampai saat ini, IPS merupakan suatu program pendidikan dan bukan subdisiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu sosial (social science), maupun ilmu pendidikan (Sumantri. 2001:89). Social Scence Education Council (SSEC) dan National Council for Social Studies (NCSS), menyebut IPS sebagai “Social Science Education” dan “Social Studies”. Nama IPS dalam Pendidikan Dasar dan Menengah di Indonesia muncul bersamaan dengan diberlakukannya kurikulum SD, SMP dan SMA tahun 1975. Dilihat dari sisi ini, maka IPS sebagai bidang studi masih “baru“. Disebut demikian karena cara pandang yang dianutnya memang dianggap baru, walaupun bahan yang dikaji bukanlah hal yang baru. Dengan kata lain, IPS mengikuti cara pandang yang bersifat terpadu dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, sosiologi, dan sebagainya. Perpaduan ini dimungkinkan karena mata pelajaran tersebut memiliki obyek material kajian yang sama yaitu manusia. Dalam bidang pengetahuan sosial, kita mengenal banyak istilah yang kadang-kadang dapat mengacaukan pemahaman. Istilah tersebut meliputi Ilmu Sosial (Social Sciences), Studi Sosial (Social Studies) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Untuk memperjelas penggunaan istilah tersebut secara tepat, berikut ini akan dijelaskan dari masing-masing istilah. 1) Ilmu Sosial (Social Science) Achmad Sanusi memberikan batasan tentang Ilmu Sosial (Saidihardjo,1996.h.2) adalah sebagai berikut: “Ilmu Sosial terdiri disiplindisiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertarap akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi, makin lanjut makin ilmiah”. Sedangkan menurut Gross (Kosasih Djahiri,1981.h.1), Ilmu Sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 12 sebagai makluk sosial secara ilmiah, memusatkan pada Manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk. Selanjutnya Nursid Sumaatmadja, menyatakan bahwa Ilmu Sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu Ilmu Sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Tingkah laku manusia dalam masyarakat itu banyak sekali aspeknya seperti aspek ekonomi, aspek sikap, aspek mental, aspek budaya, aspek hubungan sosial, dan sebagainya. Studi khusus tentang aspekaspek tingkah laku manusia inilah yang menghasilkan Ilmu Sosial seperti ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya. Jadi setiap bidang keilmuan itu mempelajari salah satu aspek tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat, ekonomi mempelajari aspek kebutuhan materi, antropologi mempelajari aspek budaya, sosiologi mempelajari aspek hubungan sosial, psikologi mempelajari aspek kejiwaan, demikian pula bidang keilmuan yang lain. Sedangkan yang menjadi obyek materialnya sama yaitu manusia sebagai anggota masyarakat. 2) Studi Sosial (Social Studies) Berbeda dengan Ilmu Sosial, Studi Sosial bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajiannya, Studi Sosial menggunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk Ilmu Sosial. Tentang Studi Sosial ini, Achmad Sanusi (1971:18) memberi penjelasan sebagai berikut : Sudi Sosial tidak selalu bertaraf akademis-universitas, bahkan merupakan bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak pendidikan dasar. Selanjutnya dapat berfungsi sebagai pengantar bagi lanjutan atau jenjang berikutnya kepada disiplin Ilmu Sosial. Studi Sosial bersifat interdisipliner dengan menetapkan pilihan masalahmasalah tertentu berdasarkan suatu rangka referensi dan meninjaunya dari beberapa sudut sambil mencari logika dari hubungan-hubungan yang ada satu dengan lainnya. Kerangka kerja Studi Sosial dalam mengkaji atau mempelajari gejala dan masalah sosial di masyarakat tidak menekankan pada bidang teoritis, melainkan lebih kepada bidang praktis, tidak terlalu bersifat akademis-teoritis, melainkan merupakan pengetahuan praktis yang dapat diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pendekatan Studi Sosial bersifat interdisipliner atau multidisipliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan. Hal tersebut mengandung arti bahwa Studi Sosial dalam meninjau suatu gejala sosial atau masalah sosial dilihat dari berbagai dimensi (sudut, segi, aspek) kehidupan. Sedangkan Ilmu Sosial pendekatannya bersifat disipliner dari bidang ilmunya masing-masing. Jadi dapat dikatakan bahwa Studi Sosial itu lebih memperlihatkan bentuknya sebagai gabungan Ilmu Sosial. Tugas Studi Sosial sebagai suatu bidang studi mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke tingkat Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 13 pendidikan yang lebih tinggi, yaitu membina warga masyarakat yang mampu menyerasikan kehidupannya berdasarkan kekuatan-kekuatan fisik dan sosial serta mampu memecahkan masalahmasalah sosial yang dihadapinya. Jadi materi dan metode penyajiannya harus sesuai dengan misi yang diembannya. 3) Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Bagi sekelompok kecil ahli pendidikan di Indonesia, istilah IPS telah digunakan dalam kurikulum 1975. Bagi kelompok ini, nama tersebut telah diungkapkan dalam berbagai pertemuan ilmiah. Namanama yang dipergunakan dalam kesempatan itu bermacam-macam antara lain ada yang memakai istilah Studi Sosial yang dekat dengan istilah aslinya, ada pula yang menyebutnya dengan Ilmu-ilmu Sosial dan ada yang menamakannya Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun sejak tahun 1976 nama IPS menjadi nama baku. Harus diakui bahwa ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah “Social Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai nama sebuah komite yaitu “Committee of Social Studies” yang didirikan pada tahun 1913. Tujuan dari pendirian lembaga itu adalah sebagai wadah himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmuilmu Sosial di tingkat sekolah dan ahli-ahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat sama. Nama komite itulah yang kemudian digunakan sebagai nama kurikulum yang mereka hasilkan. Meskipun demikian nama “Social Studies” menjadi semakin terkenal pada tahun l960-an, ketika pemerintah mulai memberikan dana untuk mengembangkan kurikulum tersebut. Pada waktu Indonesia memperkenalkan konsep IPS, pengertian dan tujuannya tidaklah persis sama dengan social studies yang ada di Amerika Serikat. Harus diingat bahwa kondisi masyarakat Indonesia berbeda dengan kondisi masyarakat Amerika Serikat. Ini mengisyaratkan adanya penyesuaianpenyesuaian tertentu. Sebenarnya keadaan ini sangat baik, karena setiap ide yang datang dari luar, dapat kita terima bila sesuai dengan kondisi masyarakat kita. Definisi IPS menurut National Council for Social Studies (NCSS), mendifisikan IPS sebagai berikut: social studies is the integrated study of the science and humanities to promote civic competence. Whitin the school program, socisl studies provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology, religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities, mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the public good as citizen of a culturally diverse, democratic society in an interdependent world. Pada dasarnya Mulyono Tj. (1980:8) memberi batasan IPS adalah merupakan suatu pendekatan interdsipliner (Inter-disciplinary Approach) dari pelajaran Ilmu-ilmu Sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang Ilmu-ilmu Sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh Saidiharjo (1996:4) Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 14 bahwa IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti: geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, politik. Mata pelajaran tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama, sehingga dipadukan menjadi satu bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dengan demikian jelas bahwa IPS adalah fusi dari disiplindisiplin Ilmu-ilmu Sosial. Pengertian fusi disini adalah bahwa IPS merupakan bidang studi utuh yang tidak terpisah-pisah dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Artinya bahwa bidang studi IPS tidak lagi mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara terpisah, melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara terpadu. Dalam kepustakaan kurikulum pendekatan terpadu tersebut dinamakan pendekatan “broadfielt”. Dengan pendekatan tersebut batas disiplin ilmu menjadi lebur, artinya terjadi sintesis antara beberapa disiplin ilmu. Dengan demikian sebenarnya IPS itu berinduk kepada Ilmu-ilmu Sosial, dengan pengertian bahwa teori, konsep, prinsip yang diterapkan pada IPS adalah teori, konsep, dan prinsip yang ada dan berlaku pada Ilmu-ilmu Sosial. Ilmu Sosial dipergunakan untuk melakukan pendekatan, analisis, dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang dilaksanakan pada pengajaran IPS. Adapun kesimpulan yang dapat diambil ialah perbedaan Social Science dengan Social Studies. Perbedaan penting antara Social Science dengan Social Studies terletak pada tujuan masing-masing. Ilmu social bertujuan memajukan dan megembangkan konsep dan generalisasi melalui penelitian ilmiah, dengan melakukan hipotesis untuk menghasilkan teori atau teknologi baru. Sementara itu, tujuan ilmu pengetahuan social bersifat pendidikan, bukan penemuan teori ilmu social. Orientasi utama study ini adalah keberhasilannya mendidik dsn membuat siswa mampu mengerjakan ilmu pengetahuan social, berupa terciptanya tujuan instruksional. Dari uraian tersebut ilmu pengetahuan social menggunakan bagian-bagian ilmu-ilmu social guna kepentingan pengajaran. Untuk itu, berbagi konsep dan generalisasi ilmu social harus disederhanakan agar lebih mudah dipahami murid-murid yang umumnya belum matang untuk membelajari ilmu-ilmu tersebut. Hal ini menempatkan keberadaan IPS secara metedologis dan keilmuan dapat dikatakan belum setara dengan ilmu social. C. HUBUNGAN ANTARA ILMU SOSIAL (SOCIAL SCIENCES) DENGAN STUDI SOSIAL (SOCIAL STUDIES)/ILMU PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) Antara Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies) dengan Ilmu-Ilmu Sosial (Social Sciences) mempunyai hubungan yang sangat erat, karena keduanya sama-sama mempelajari dan mengkaji hubungan timbal balik antar manusia (human relationships). IPS merupakan pengetahuan terapan yang dilaksanakan dalam kegiatan instuksional di sekolah-sekolah guna mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran tertentu, antara lain untuk mengembangkan kepekaan peserta didik terhadap kehidupan sosial di sekitarnya, kemudian kedua-duanya juga merupakan bahan studi untuk kepentingan program pendidikan atau pengajaran dan keduanya mempunyai materi yang terdiri dari kenyataan sosial dan pengetahuan sosial. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 15 Menurut Edgar B Wesley (Mukminan dkk. 2002: 17), hubungan antara social studies dengan social sciences terletak pada sasarannya yakni sama menjadikan manusia sebagai sasaran atau obyek kajiannya, manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya membahas masalah yang timbul akibat hubungan (interrelationship) manusia. Dengan kata lain, keduanya mempelajari masyarakat manusia. Adapun perbedaan antara ilmu-ilmu sosial dengan ilmu pengetahuan sosial terletak pada tujuan masingmasing. Ilmu sosial bertujuan memajukan dan mengembangkan konsep dan generalisasi melalui penelitian ilmiah, dengan melakukan hipotesis untuk menghasilkan teori atau teknologi baru. Sementara itu, tujuan ilmu pengetahuan sosial bersifat pendidikan, bukan penemuan teori ilmu sosial. Orientasi utama studi ini adalah keberhasilannya mendidik dan membuat siswa mampu mengerjakan ilmu pengetahuan sosial, berupa tercapainya tujuan intruksional. Dari uraian tersebut, ilmu pengetahuan sosial menggunakan bagian-bagian ilmu sosial guna kepentingan pengajaran. Untuk itu, berbagai konsep dan generalisasi ilmu sosial harus disederhanakan agar lebih mudah dipahami peserta didik-peserta didik yang umumnya belum matang untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Hal ini menempatkan keberadaan IPS secara metodologis dan keilmuan dapat dikatakan belum setara dengan ilmu-ilmu sosial. Adapun hubungan Studi Sosial dengan Ilmu-Ilmu Sosial lainnya ialah, 1) IPS mengambil bahan-bahan dari ilmu sosial. 2) Tidak ada keharusan bahwa semua ilmu sosial perlu diturunkan dalam setiap pokok bahasan IPS, tapi disesuaikan dengan tujuan pengajaran dan perkembangan peserta didik. 3) Jenjang pendidikan juga ikut menentukan jumlah dan bagian isi ilmu sosial yang akan diramu menjadi program IPS. 4) Kesamaannya IPS dapat disusun dengan mengaitkan atau menggabungkan berbagai unsur ilmu sosial sehingga menjadi menarik. Kemudian dapat dicontohkan sebagai berikut. - Keterkaitan IPS dengan Sosiologi Ilmu sosial dinamakan demikian karena ilmu tersebut mengambil masyarakat atau kehidupan bersama sebagai objek yang dipelajarinya. ilmu sosial belum mempunyai kaedah-kaedah dan dalil-dalil tetap yang diterima oleh bagian terbesar masyarakat karena ilmu tersebut belum lama berkembang, sedangkan yang menjadi objeknya adalah masyarakat manusia yang selalu berubah-ubah. Karena sifat masyarakat yang selalu berubah-ubah karena hingga kini belum dapat diselidiki dan dianalisis secara tuntas hubungan antara unsur-unsur di dalam masyarakat secara lebih mendalam. IPS di sini banyak mengambil sumber atau dalil-dalil dari Sosiologi. - Keterkaitan IPS dengan Politik Ilmu politik merupakan salah satu dari kelompok besar ilmu sosial dan erat sekali hubungannya dengan disiplin ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, antropologi, ilmu hukum, ekonomi, dan geografi. Semua ilmu sosial mempunyai objek yang sama, yaitu manusia sebagai individu maupun anggota kelompok (group). Dengan hal tersebut sangat membuktikan bahwa politik juga mempunyai hubungan erat dengan IPS yang sasaran yang diselidiki manusia dalam kehidupan masyarakat.· Perbedaan IPS dengan ilmu sosial:Terletak pada tujuannya yaitu IPS ini tujuannya lebih cenderung mengarah ke pendidikan (bersifat pendidikan) dan IPS di sini bukan untuk mencari sebuah teori namun mengambil teori dari ilmu sosial dan IPS ini juga merupakangeneralisasi dari ilmu sosial yang lain. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 16 Persamaan IPS dengan ilmu sosial: Persamaannya yakni mengenai objek yang dikaji, yakni manusia didalam lingkungan sosialnya. Kaitan antara IPS dan Ilmu-ilmu Sosial. Di atas telah disinggung mengenai definisi IPS dan ilmu sosial dari situ dapat kita simpulkan bahwa IPS sebenarnya adalah ilmu-ilmu sosial yang disiapkan untuk keperluan pendidikan disekolah dasar dan menengah, dengan kata lain ilmu-ilmu sosial adalah induk atau dasar dari Ilmu Pendidikan Sosial (IPS). Hubungan IPS dan ilmu-ilmu sosial dapat dipahami dengan lebih jelas berdasarkan konsep dasar dan generalisasi IPS yang dikembangkan oleh Mulyono T.J. yang telah dimodifikasi dan diperluas dalam Mukminan dkk. (2002: 62-77) sebagai berikut: 1) Antropologi Antropas sendiri itu berarti manusia. Secara singkat antopologi berarti suatu studi tentang manusia dengan pekerjaannya (Anthropology is the study of man and his works). Pekerjaan manusia disini termasuk segala hasil pemikiannya atau hasil akal budinya, secara singkat diangkum dalam istilah kebudayaan. Adapun hubungannya dengan IPS ialah IPS mengambil materi antropologi yang terkait dengan kajian hasil budidaya manusia dalam menjaga eksistensinya dan usaha meningkatkan kehidupan, baik aspek lahiriah maupun batiniah. 2) Ekonomi Ekonomi adalah tindakan manusia yang ditunjukan untuk mencari kemakmurannya. Tindakan manusia yang ditunjukan untuk mencapai kemakmuannya disebut tindakan ekonomi. Alasan yang mendorong manusia melakukan tindakan ekonomi disebut motif ekonomi yaitu berusaha mencapai hasil yang sebenar-benarnya. Adapun hubungannya dengan IPS adalah IPS mengambil materi ilmu ekonomi terkait dengan usaha manusia untuk mencapai kemakmuran, dan gejala-gejala serta hubungan yang timbul dari usaha tersebut. 3) Geogafi Manusia baik sebagai individu, maupun sebagai kelompok, tidak hanya melakukan intereaksi dengan sesamanya, melainkan juga melakukan intereraksi dengan alam lingkungannya. Hartshorne R. (1960) mengatakan bahwa geografi diartikan sebagai studi yang mencoba mengemukakan deskipsi ilmiah tentang bumi sebagai dunia kehidupan manusia. Geografi diartikan pula sebagai ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan deskripsi dan penjelasan tentang pola-pola lokasi gejala yang statis atau yang bergerak di permukaan bumi. Adapun hubungannya dengan IPS adalah IPS mengambil materi dari geografi yang terkait dengan ruang bumi, garis lintang, bujur, arah, jarak, lokasi ruang, kondisi alam, tata lingkungan, sumber daya alam, serta interaksi antar bangsa dan manusia dengan lingkungan. 4) Sejarah Istilah sejarah berasal dari kata Arab “sujaratun” yang artinya pohon. Pengertian pohon disini semula dimaksud sebagai “pohon silsilah”. Sebenarnya “silsilah” hanya salah satu aspek kecil saja dari pengertian sejaah yang sebenarnya. Dalam pengertian dasar, istilah sejarah adalah tejemahan dari bahasa Inggris “history” yang asal mulanya dari kata Yunani “Historia” yang artinya “suatu inkuiri” (suatu hasil penelitian). Sejarah termasuk salah satu dari ilmu-ilmu sosial. Sejarah menempati kedudukan yang khas, Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 17 fokus kajian sejarah adalah manusia (individu atau kelompok masyarakat) yang hidup disuatu tempat (spasiai) tetentu pada suatu waktu (temporal) tertentu. Faktor waktu inilah yang paling membedakan sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. 5) Ilmu Politik Definisi ilmu politik menurut Roger F. Soltau mengatakan bahwa ilmu politik mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan tersebut ; hubungan antara negara dengan warga negaranya serta dengan negara-negara lain. Kan W. Deutseh menyebutkan bahwa politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum. David Easton mengemukakan bahwa ilmu politik adalah kajian mengenai terbentuknya kebijaksanaan umum. Selanjutnya Harold Laswell mengatakan bahwa politik adalah masalah siapa mendapat apa, kapan dan dimana. Adapun hubungannya dengan IPS adalah IPS mengambil materi ilmu politik yang membahas usaha manusia mengorganisasikan kekuasaan dalam mengatur manusia dalam mengatur dan menyelenggarakan kepentingan rakyat dan bangsa. 6) Psikologi Sosial Psikologi sosial adalah suatu studi ilmiah tentang proses mental manusia sebagai makhluk sosial. Objek studi psikologi sosial adalah tingkah-laku manusia di masyarakat sebagai ungkapan proses mental, kejiwaan yang meliputi kemauan, minat, eaksi emosional, kecerdasan dan seterusnya, termasuk pembentukan kepibadiannya. Kalau sosiologi lebih memperhatikan peranan seseorang dalam kehidupannya di masyarakat sebagai hasil adanya interaksi sosial, sedangkan perhatian psikologi sosial lebih terarah pada tingkahlakunya yang merupakan ungkapan perpaduan proses kejiwaan dengan rangsangan dari lingkunganya sebagai makhluk sosial. Hubungan IPS dan psikologi sosial IPS mengambil materi dari psikologi sosial yang mempelajari perilaku individu, kelompok, dan masyarakat yang dipengaruhi oleh situasi sosial, pengetahuan, pemikiran, tanggapan, dan spekulasi. 7) Sosiologi Sosiologi berasal dari kata Latin “socius” dan kata Yunani “Logos”. Socius berarti teman dan logos berarti kata atau berbicara. Jadi sosiologi berarti berbicara mengenai teman, yang dalam perkembangannya berarti ilmu mengenai masyarakat. Sebagai ilmu sosial, keterkaitan IPS dengan ilmu sosial adalah IPS mengambil materi sosiologi yang mempelajari masyarakat secara keseluruhan dan hubungan antara individu dan masyarakat tersebut. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 18 D. GAMBARAN DAN CONTOH PEMBELAJARAN IPS MENURUT KURIKULUM 2013 1) Kurikulum 2013 Kurikulum merupakan pedoman yang cukup mendasar dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan. Disadari atau tidak bahwa berhasil tidaknya suatu pendidikan, sukses tidaknya dalam mencapai suatu tujuan pendidikan sedikit banyak bergantung pada kurikulumnya. Kurikulum adalah seperangkat rencana pengaturan mengenai isi dan bahan pelalajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelanggaraan kegiatan belajar mengajar (Hamalik, 2011:18) Kurikulum sebagai salah satu komponen dalam proses belajar mengajar menjadi instrument penting untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Kurikulum dikembangkan secara dinamis untuk menjawab tantangan dan mengikuti perkembangan yang ada. Wamendik memaparkan pengembangan kurikulum harus dilakukan dengan alasan adanya tantangan masa depan, kompetensi masa depan, presepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan padagogik dan fenomena negatif yang mengemuka (Kemendikbud 2013). Kurikulum 2013 mengembangkan pengalaman belajar yang memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diperlukan bagi kehidupan masa kini dan masa depan. Apabila kurikulumnya didesain dengan baik, sistematis, komprehensif, dan integral dengan semua kebutuhan pengembangan dan pembelajaran peserta didik untuk mempersiapkan dirinya dalam menghadapi kehidupannya di masa datang, maka tujuan yang diharapkan tentu akan terwujud. Pada realitasnya penyelenggaraan pendidikan cenderung kognitif, mengutamakan kecerdasan intelektual, dan kurangnya pendidikan karakter dan kepribadian. Kurikulum 2013 di susun dengan maksud antara lain untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan dalam berpikir reflektif dalam penyelesaian masalah sosial di masyarakat. Kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir dari pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis. Pola pembelajaran yang semula berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, yang semula satu arah, menjadi pembelajaran interaktif. Dalam kurikulum 2013terdapat empat perubahan penting dibanding kurikulum sebelumnya. Perubahan tersebut meliputi Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Proses, Standar Isi, dan Standar penilaian. - Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Standar Kompetensi Lulusan dalam kurikulum 2013 menghendaki lulusan yang memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhalak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalm berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Ada tiga dimensi di dalam Standar Kompetensi Lulusan, meliputi: Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 19 1) Dimensi sikap Pembentukan sikap yang demikian tentu saja tidak mungkin hanya dilakukan oleh seorang guru di sekolah, kerena peserta didik justru mempunyai waktu lebih banyak di luar sekolah. 2) Dimensi pengetahuan Untuk dimensi pengetahuan lulusan diharapkanmemiliki pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian yang tampak mata. 3) Dimensi Ketrampilan Permasalah akan muncul ketika input yang diperoleh sekolah adalah peserta didik yang kemampuannya dibawah rata-rata serta lingkungan sosial masyarakat sekitarnya yang sama sekali tidak mendukung. Mereka akan lebuh senang bermain dari pada harus berfikirtentang maslah yang seharusnya mereka pecahkan. Tugas-tugas yang diberikan guru kepada mereka bisa jadi tidak akan tersentuh, apalagi diselesaikan. - Standar Proses Kurikulum 2013 menuntut guru agar memiliki kreativitas dalam melakukan proses pembelajaran, kerena perubahan-perubahan yang dikehendaki oleh kurikulum 2013 terutama menyangkut penyempurnaan pola pikir (mindset), yang semula berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswadan melibatkan mereka dengan menghubungkan kurikulum dengan kehidupan nyata para siswa. Pola pikir yang semula masih pasif menjadi aktif-menyelidiki, yang semula menggunakan alat tunggal (papan tulis), menjadi menggunakan alat multimedia. - Standar Isi Untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), standar isi mata pelajaran dirasa lebih cocok apabila menggunakan tema yang terpadu dari berbagai disiplin ilmu dalam rumpun IPS (Sejarah, Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi), tidak seperti sebelumnya yang terpisah-terpisah sesuai disiplin ilmu yang ada. - Standar Penilaian Standar Penilaian dalam kurikulum 2013 lebih baik dibanding standar penilaian sebelumnya, nilai dari rintangan skore 1 hingga 100 menjadi rintangan skore nilai 1 hingga 4. Kemudian karakteristik Kurikulum 2013 ialah sebagai berikut. a. Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) satuan pendidikan dan kelas, dirinci lebih lanjut dalam Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran. b. Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan ketrampilan (kognitif dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 20 c. Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK. d. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar di jenjang pendidikan menengah diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah berimbang antara sikap dan kemampuan intelektual (kemampuan kognitif tinggi). e. Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements) Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti. f. Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal) diikat oleh kompetensi inti. 2) Pembelajaran IPS Terpadu Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah pembelajaran terintegrasi terhadap ilmuilmu sosial dan hiumanitas dalam pendidik kompetensi warga negara. Sejalan dengan program sekolah (pendidikan), IPS berkoordinasi serta secara sistematik ditarik dari berbagai disiplin ilmu sosial, seperti antropologi, sosiologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, psikologi, ilmu politik, filsafat, agama, dan sosiologi, dan juga memperhatikan humaniora, matematika, dan ilmu pengetahuan alam (Kasmadi, 2007:1). Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi social. 3) Pembelajaran IPS dalam Kurikulum 2013 UU No. 20 Tahun 2013 tentang sistem pendidikan nasional, di jelaskan bahwa IPS merupakn bahan kajian yg wajib dimuat dalam kurikulum pendidikan dasar dan menegah yang antara lain mencangkup ilmu geografi, sejarah, ekonomi dan sosiologi yang dimaksudkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis peserta didik terhadap kondisi sosial masyarakat. Perubahan pada struktur pembelajaran IPS pada kurikulum 2013 membutuhka penyesuaian dan berbagai kendala bagi guru mata pelajaran IPS. Penilitian yang dilakukan oleh Pujatama (2014) Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 21 menunjukan bahwa secara umum implementasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran IPS di SMPSMP di wilayah Kota Semarang masih mengalami beberapa kendala dan menyesuaikan dengan kondisi riil di lapangan. Kendala lain yang dihadapi guru IPS dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 adalah terbatasnya waktu dan kurangnya sosiaisasi dan pelatihan kurikulum 2013. Perubahan dalam struktur pembelajaran IPS pada kurikulum 2013 juga menjadi tantangan tersendiri bagi guru mata pelajaran IPS. Proses pada pembelajaran IPS pada kurikulum 2013 menuntut adanya keterpaduan antara disiplin ilmu yaitu geografi, sosiologi, ekonomi dan sejarah. Hilangnya mata pelajaran TIK pada struktur pelajaran di SMP yang diintegrasikan disemua mata pelajaran meyebabkan guru harus mampu menguasai menguasai teknologi untuk di impementasikan dalam pembelajaran. Guru harus mampu meyesuaikan segala perubahan yang ada. Dalam kurikulum 2013, mata pelajaran IPS tercantum dalam struktur Kurikulum 2013 untuk SD/MI dan SMP/MTs. Di SMA dan SMK tidak ada mata pelajaran IPS tetapi mata pelajaran yang terkait dengan disiplin-disiplin ilmu yang secara tradisional dikelompokkan ke dalam kelompok Ilmu-ilmu Sosial. Manfaat IPS bagi peserta didik dapat dilihat dalam empat hal yaitu: a. Tujuan IPS Tujuan pendidikan IPS adalah “untuk menghasilkan warga negara yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang masyarakat dan bangsanya, religius, jujur, demokratif, kreatif, kritis, analitis, senang membaca, memiliki kemampuan belajar, rasa ingin tahu, peduli dengan lingkungan sosial dan fisik, berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan sosial dan budaya, serta berkomunikasi serta produktif.” Pengetahuan dan pemahaman tentang masyarakat adalah pengetahuan penting yang memberikan wawasan kepada peserta didik mengenai siapa dirinya, masyarakatnya, bangsanya, dan perkembangan kehidupan kebangsaan di masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang. Sikap religius, jujur, demokratis adalah sikap yang diperlukan oleh seorang warganegara di masa kini maupun masa depan. Kebiasaan senang membaca, kemampuan belajar, rasa ingin tahu merupakan kualitas yang diperlukan untuk belajar seumur hidup. Kepedulian terhadap lingkungan sosial dan fisik memberikan kesempatan kepada siswa mata pelajaran IPS untuk selalu sadar dan berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya. Kualitas lain yang tidak kalah pentingnya adalah kemampuan berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan sosial dan budaya. Komunikasi adalah kemempuan penting untuk kehidupan abad ke-21 (Dyer, 2006). Kemampuan komunikasi mendasariinteraksi sosial yang tak dapat dihindari, semakin baik kemampuan berkomunikasisemakin baik interaksi yang terjadi. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 22 b. Konten Pendidikan IPS Konten Pendidikan merupakan aspek penting untuk memberikan kemampuan yang diinginkan dalam tujuan pendidikan IPS. Konten pendidikan IPS dalam Kurikulum 2013 meliputi : (1) Pengetahuan : tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya, bangsa, dan umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan lingkunganya. (2) Keterampilan : berfikir logis dan kritis, membaca, belajar (learning skills, inquiry), meecahkan masalah, berkomunikasi dan bekerjasama dalam kehidupan bermasyarakatberbangsa. (3) Nilai : nilai- nilai kejujuran, kerja keras, sosial, budaya, kebangsaan, cinta damai, dan kemanusiaan serta kepribadian yang didasarkan pada nilai-nilai tersebut. (4) Sikap : rasa ingin tahu, mandiri,menghargai prestasi, kompetitif, kreatif dan inovatif, dan bertanggungjawab. Konten tersebut dikemas dlam bentuk Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar IPS SMP dikemas secara integratif dengan menggunakan aspek geografis sebagai elemen pengikat. c. Pembelajaran IPS Ketercapaian tujuan mata pelajaran IPS didukung oleh proses pembelajaran yang dirancang dalam Kurikulum 2013 dan berlaku juga untuk IPS. Ada dua hal dalam pembelajaran IPS yaitu pendekatan pengembangan materi ajar yang selau dikaitkan dengan lingkungan masyarakat di satuan pendidikan dan model pembelajaran yang dikenal dengan istilah pendekatan saintifik. Dalam pendidikan saintifik dikenal ada lima langkah peristiwa pembelajaran, keliam langkah tersebut adalah: - Mengamati (observasing) - Menanya (questioning/asking) - Mengumpulkan informasi (eksperimenting/exploring) - Mengasosiasikan/mengolah informasi (analyzing/associating) - Mengkomunikasikan (communicating) Untuk pembelajaran IPS, kelima langkah pembelajaran ini terkait dengan sumber utama (primary sources) IPS yaitu masyarakat dan lingkungan hidupnya. Dengan proses pembelajaran yang demikian maka penerapan apa yang mereka pelajari di masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai sumber belajar. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 23 d. Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar untuk IPS adalah penilaian hasil belajar otentik dan mengurangi tes dengan jawaban yang bersifat discreate (hanya memiliki satu jawaban benar). Hakiki IPS adalah penggunaan data, pengorganisasian data, pemaknaan data, dan mengkomunikasikan hasil menjadi primadona untuk penilaian hasil belajar otentik. Dengan penilaian hasil belajar otentik ini maka kemampuan berpikir, nilai dan sikap serta penerapannya dalam kehidupan nyata menyebabkan kualitas peserta didik yang belajar IPS berbeda secara signifikan dari apa yang telah menjadi praktek pembelajaran IPS yang banyak dilakukan di masa kini dan masa lalu Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Dalam Seminar Nasional dengan tema “Pendidikan IPS dan Implementasi Kurikulum 2013 untuk Mewujudkan Generasi Emas”, Sardiman, AM., M.Pd menyampaikan tentang mengapa perlu pembaharuan dan apa urgensi pengembangan kurikulum 2013, yaitu bahwa kurikulum Indonesia belum pernah berubah. Artinya ending-nya tetap rapot. Hal ini berarti bahwa perilaku guru dari mulai adanya kurikulum tahun 1947 hingga kurikulum 2006 sama. Itulah yang menjadi salah satu alasan adanya pengembangan kurikulum. Sardiman menambahkan, adanya persepsi masyarakat bahwa kurikulum pendidikan saat ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, selain itu beban siswa untuk mata pelajaran terlalu berat namun kurang bermuatan karakter. Sardiman menyampaikan tentang tema pengembangan kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif melalui penguatan sikap, ketrampilan dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam kurikulum 2013 posisi guru tidak hanya sebagai pengajar dan pendidik seperti yang telah kita kenal bersama, namun di kurikulum ini posisi guru juga sebagai fasilitator, leader, motivator, dan sebagai ‘pelayan dan diver-nya’ peserta didik. Pada kesempatan yang sama, Hamid Hasan menyatakan bahwa konten pendidikan IPS dalam kurikulum 2013, meliputi: (a) Pengetahuan tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya, bangsa, dan umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan lingkungannya. (b) Ketrampilan berpikir logis dan kritis, membaca, belajar (learning skills, inquiry), memecahkan masalah, berkomunikasi dan bekerjasama dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa. (c) Nilai-nilai kejujuran, kerja keras. Sosial, budaya, kebangsaan, cinta damai dan kemanusiaan serta kepribadian yang didasarkan pada nilai-nilai tersebut. (d) Sikap: Rasa ingin tahu, manidri, menghargai prestasi, kompetitif, kreatif dan inovatif serta bertanggung jawab. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 24 BAB 3 KARAKTERISTIK ILMU-ILMU SOSIAL A. KARAKTERISTIK ILMU POLITIK, ILMU HUKUM, ILMU GEOGRAFI, ILMU SEJARAH, ILMU SOSIOLOGI ANTROPOLOGI, DAN ILMU EKONOMI MENURUT ILMU PENGETAHUAN SOSIAL 1) Karakteristik Ilmu Politik Hakikat politik adalah Power atau kekuasaan. dan dengan begitu politik adalah serangkaian peristiwa yang hubungannya satu sama lain didasarkan atas kekuasaan. Politik adalah “Perjuangan untuk memperoleh kekuasaan” atau “teknik menjalankan kekuasaan-kekuasaan” atau “masalahmasalah pelaksanaan dan pengawasan kekuasaan”, atau “pembentukan dan penggunaan kekuasaan”.Tetapi tidak semua kekuasaan adalah kekuasaan politik. Hakikat ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari mengenai proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. Ilmu politik adalah cabang ilmu sosial yang membahas teori dan praktik politik serta deskripsi dan analisis sistem politik dan perilaku politik. Ilmu ini berorientasi akademis, teori, dan riset.Ilmu politik sering dikaitkan dengan berbagai kegiatan kenegaraan dan hubungan-hubungan Negara dengan warga negaranya serta dengan Negara lain. Oleh karna itu dalam makalah ini kami akan membahas tentang sifat dan arti politik menurut para ahli ilmu politik, sejarah lahir dan berkembangnya ilmu politik, serta tujuan dan fungsi dari ilmu politik itu sendiri. Menurut Brendan O’Leary (2000), Ilmu politik merupakan disiplin akademis, yang dikhususkan pada penggambaran, penjelasan, analisis, dan penelitian yang sistematis mengenai politik dan kekuasaan. Sebetulnya ilmu politik tergantung dari dimensi mana ia melihatnya. Bagi kaum institusionalis atau institusional approach seperti Roger F.Soltau (1961:4), yang mengatakan bahwa ilmu politik adalah kajian tentang Negara, tujuan-tujuan Negara, dan Lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan tersebut. Hubungan antar Negara dengan warga negaranya serta dengan Negara-negara lain. Kelompok ahli ilmu politik yang menggunakan pendekatan. Pembagian (distribution approach) yang dikemukakan Harold Laswel maupun David Easton. Laswel (1950:128) mengemukakan bahwa “politik adalah masalah siapa mendapat apa, kapan dan bagaimana”. Menurut Easton (1965) “sistem politik adalah keseluruhan dari interaksi yang mengatur pembagian nilai secara autoritatif (berdasar wewenang) untuk dan atas nama masyarkat”. Menurut Robert Dhal (1970:4) bahwa ilmu politik membahas tentang hubungan manusia yang kokoh dan melibatkan secara cukup mencolok, kendali, pengaruh, kekuasaan, dan kewenangan. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 25 2) Karakteristik Ilmu Hukum Ilmu Hukum memiliki karakter yang khas (sui generis) yang sifatnya normatif, praktis dan preskriptif, menjadikan metode kajian ilmu hukum akan berkaitan dengan apa yang seyogianya atau apa yang seharusnya, sehingga metode dan prosedur penelitian dalam ilmu-ilmu alamiah dan ilmu sosial tidak dapat diterapkan untuk ilmu hukum. Hal ini menjadikan Ilmuan hukum harus menegaskan: dengan cara apa ia membangun teorinya, menyajikan langkah-langkahnya agar pihak lain dapat mengontrol teorinya dan mempertanggungjawabkan mengapa memilih cara yang demikian. Ilmu hukum menempati kedudukan istimewa dalam klasifikasi ilmu karena mempunyai sifat yang normatif dan mempunyai pengaruh langsung terhadap kehidupan manusia dan masyarakat yang terbawa oleh sifat dan problematikanya. Keadaan yang berpengaruh langsung terhadap kehidupan manusia dan masyarakat mengakibatkan sebagian ahli hukum Indonesia berupaya mengempiriskan ilmu hukum melalui kajian-kajian sosiologik, bahkan upaya tersebut sampai kepada menerapkan metode-metode penelitian sosial ke dalam kajian hukum (normatif). Menerapkan (memaksakan) metode penelitian sosial terhadap penelitian hukum, menimbulkan kejanggalan-kejanggalan (dalam arti telah terjadi kekeliruan), misalnya: menggunakan kata bagaimana, seberapa jauh, seberapa efektif (dan lain-lain yang menggambarkan pada kajian ilmu sosial/gejala sosial) dalam perumusan masalah; menggunakan kata: sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, populasi dan sampling. Penggunaan kata-kata tersebut menunjukkan kepada studi-studi sosial tentang hukum, hukum sebagai gejala sosial, dan induk ilmunya yaitu ilmu sosial bukan ilmu hukum. Seharusnya, pengkajian ilmu hukum tersebut beranjak dari hakikat keilmuan ilmu hukum. Mempelajari hukum bertitik anjak dari memahami kondisi instrinsik aturan-aturan hukum. Kondisi intrinsik aturan-aturan hukum tersebut dipelajari tentang gagasan-gagasan hukum yang bersifat mendasar, universal umum, dan teoritis serta landasan pemikiran yang mendasarinya. Landasan pemikiran tersebut terkait dengan berbagai konsep mengenai kebenaran, pemahaman dan makna, serta nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Dengan demikian, tugas ilmu hukum (jurisprudence) yaitu menemukan prinsip-prinsip umum yang menjelaskan bangunan dunia hukum. Ilmu hukum tidak dapat di klassifikasikan ke dalam ilmu sosial yang bidang kajiannya kebenaran empiris, sebab ilmu sosial tidak memberi ruang bagi menciptakan konsep hukum, ia (ilmu sosial) hanya berkaitan dengan implementasi konsep hukum dan selalu hanya memberikan perhatiaannya kepada kepatuhan individu terhadap atauran hukum. Demikian juga dengan ilmu hukum tidak dapat diklassifikasikan ke dalam ilmu humaniora, sebab ilmu humaniora tidak memberikan tempat untuk mempelajari hukum sebagai aturan tingkah laku sosial, hukum hanya dipelajari dalam kaitannya dengan etika dan moralitas. Tugas ilmu hukum membahas hukum dari semua aspek. Ilmu sosial maupun ilmu humaniora hanya memandang hukum dari sudut pandang keilmuannya, sehingga tidak tepat untuk mengkalssifikasikan ilmu hukum sebagi ilmu sosial atau ilmu humaniora. Ilmu hukum sebagai ilmu yang bersifat sui Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 26 generis yakni tidak ada bentuk ilmu lain yang dapat dibandingkan dengan ilmu hukum. Ilmu hukum hanya satu untuk jenisnya sendiri. Ilmu hukum hukum tidak mencari fakta historis dan hubungan-hubungan sosial sebagaimana yang terdapat dalam penelitian sosial. Ilmu hukum berurusan dengan preskripsi-preskripsi hukum, putusanputusan yang bersifat hukum, dan materi-materi yang diolah dari kebiasaan-kebiasaan. Oleh Paul Scholten, ilmu hukum bagi legislator terkait dengan hukum in abstracto, dan bagi hakim memberikan pedoman dalam menangani perkara dan menetapkan fakta-fakta yang kabur. Dengan demikian, ilmu hukum mempunyai karakter preskriptif dan sekaligus sebagai ilmu terapan. 3) Karakteristik Ilmu Sejarah Istilah sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu syajaratun yang berarti pohon. Menurut bahasa Arab, sejarah sama artinya dengan sebuah pohon yang terus berkembang dari tingkat yang sangat sederhana ke tingkat yang lebih maju atau kompleks. Itulah sebabnya sejarah diumpamakan sebagai pohon yang terus berkembang dari akar sampai ranting yang terkecil. Dalam bahasa Inggris, kata "sejarah" adalah History yang berarti masa lampau umat manusia, dari bahasa Yunani Historia yang artinya orang pandai. Dalam bahasa Belanda, kata "sejarah" adalah Geschiedenis yang berarti terjadi. Adapun dalam bahasa Jerman, kata "sejarah" adalah geschicte yang berarti sesuatu yang telah terjadi. Kedua kata itu dapat memberikan arti yang sesungguhnya tentang sejarah, yaitu sesuatu yang telah terjadi pada waktu lampau dalam kehidupan umat manusia. Dengan demikian, sejarah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan bahkan kehidupan manusia sesuai dengan perkembangan kehidupan manusia dari tingkat yang sederhana ke tingkat yang lebihh maju atau modern. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajarisegala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan manusia. Adapun karakteristik dari ilmu sejarah ialah Unik, artinya peristiwa sejarah hanya terjadi sekali, dan tidak mungkin terulang peristiwa yang sama untuk kedua kalinya. Penting, artinya peristiwa sejarah yang ditulis adalah peristiwa-peristiwa yang dianggap penting yang mempengaruhi perubahan dan perkembangan manusia Abadi, artinya peristiwa sejarah tidak berubah-ubah dan akan selalu dikenang sepanjang masa. - PERIODISASI Periodisasi adalah pembabakan waktu yang digunakan untuk berbagai peristiwa. Periodisasi yang dibuat para ahli tentang suatu peristiwa yang sama dapat berbeda-beda bentuknya dikarenakan alasan pribadi atau subyektif. - KRONOLOGI Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 27 Kronologi adalah penentuan urutan waktu terjadinya suatu peristiwa sejarah. Kronologi berdasarkan hari kejadian atau tahun terjadinya peristiwa sejarah. Manfaat kronologi adalah: a. dapat membantu menghindarkan terjadinya kerancuan dalam pembabakan waktu sejarah. b. dapat merekonstruksi peristiwa sejarah dimasa lalu berdasarkan urutan waktu dengan tepat. c. dapat menghubungkan dan membandingkan kejadian sejarah di tempat lain dalam waktu yang sama. - KRONIK Kronik adalah catatan tentang waktu terjadinya suatu peristiwa sejarah. - HISTORIOGRAFY (Penulisan Sejarah) Historiogray adalah proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibavca orang lain. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisan nya. Sejarawan harus menyadari dan berusaha agar orang lain dapat mengerti pokokpokok pemikiran yang diajukan. 4) Karakteristik Ilmu Geografi Ilmu geografi selama ini lebih dikenal sebagai ilmu pengetahuan untuk mengidentifikasi suatu obyek yang ada di permukaan bumi. Obyek bisa berupa: kota,gunung,laut,danau dlsb. Tentu hal itu tidak salah, hanya tidak mencerminkan seluruh cakupan imu geografi. Apalagi kalau berbicara mengenai obyek terebut ada cabang ilmu pengetahuan lainnya. Misalnya: kota dengan perencanaannya termasuk dalam planologi, mengenai gunung ilmu vulkanogi,oseanografi tentang laut, limnologi tentang danau dan lain sebagainaya. Lalu dimana letak ilmu geografi? Ilmu geografi pada dasarnya mempelajari obyek material yang berkaitan dengan unsur pembentuk bumi yaitu: atmosfer, litosfer, hidrosfer, dan biosfer. Disamping 4 unsur tersebut interaksi manusia dan 4 unsur pembentuk bumi yang disebut antrophosfer juga menjadi obyek material ilmu geografi. Kelima unsur tersebut dinamakangeosfer. Kekhasan yang menjadi jatidiri ilmu geografi terletak pada pendekatan dalam mempelajari, menganalisis dan mensitesis interaksi 5 unsur tersebut secara utuh menyeluruh dalam ruang di umi ini. Oleh karena itu ciri utama pendekatan ilmu geografi adalah: kewilayahan(region complexs), kelingkungan(environmental) dalam relasinya yang bersifat keruangan (spatial). Alat atau media untuk menunjang pendekatan tersebut pada umumnya peta dan berbagai analisis kualitatif dan kuantitaf. Peta yang memenuhi persyaratan teknis dapat memvisualisasikan suatu unit wilayah geografi mendekati kenyataan sebagaimana adanya di lapangan (real world). Sesuai Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 28 perkembangan IPTEK pendekatan ilmu geografi tersebut saat ini banyak dibantu dengan penginderaan jauh (INDERAJA), sistem informasi geografi (SIG), kartografi digital dan lain sebagainaya. Posisi satuan wilayah geografi seperti: kota,negara,benua tidak terlepas dalam berinteraksi dengan satuan wilayah geografi di sekitarnya. Interaksi antar unsur pembentuk baik di dalam satuan wilayah geografi maupun antar wilayah geografi selalu terjadi, atau bersifat dinamis. Oleh karena itu tidaklah betul kalau ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa faktor geografis bersifat statis. Kedinamisan itulah yang menyebabkan suatu wlayah geografis berdasarkan tinjauan geopolitik,geoekonomi dan geostrategi mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hasil interaksi membentuk unit-unit wilayah geografi yang khas atau dengan kata lain mempunyaikarakteristik geografi tertentu. Karakteristik geografi inilah yang sebetulnya perlu dimanfaatkan sebagai keunggulan kompetitif masing-masing satuan wilayah geografi. Jika kita mengadakan pemetaan karakteristk geografi masing-masing wilayah Indonesia pada hakekatnya juga mengidentifikasi keunggulan kompetitif masing-masing wilayah. Kesesuaian pemilihan kebijakan, program dan kegiatan pembangunan dengan karakteristik geografinya akan memaximalkan hasil pembangunan karena sesuai dengan daya dukung lingkungan dan kecocokan sumber daya manusia yang ada di wilayah tersebut serta sekaligus meminimalisir kerusakan lingkungan hidup. Pembangunan di berbagai wilayah Indonesia selama ini belum mempertimbangkan karakteristik geografi secara komprehensif. Akibatnya banyak program dan kegiatan pembangunan wilayah gagal meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan disisi lainnya faktanya tidak sesuai aspirasi masyarakat setempat. Sudah saatnya pendekatan geografi dengan mengidentifikasi karakteristik geografi masingmasing wilayah menjadi prasyarat dalam merencanakan serta menentukan program pembangunan wilayah, agar keterpurukan bangsa Indonesia selama ini tidak berlarut-larut. 5) Karakteristik Ilmu Sosiologi Sosiologi tidak memiliki konsep maupun teori yang tetap dan pasti karena objek kajiannya adalah masyarakat yang bersifat dinamis dan majemuk. Pada dasarnya ilmuilmu sosial memang tidak memiliki konsep dan teori yang tetap dan pasti. Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu alam yang memiliki rumus, dalil, konsep, dan teori yang relatif lebih pasti. Misalnya, dalam mengkaji masalah perilaku menyimpang atau kenakalan remaja akan terdapat beberapa pendapat sesuai dengan sudut pandang yang dipergunakan oleh sosiolog yang bersangkutan. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kategoris, yakni terbatas dalam hal mengkaji sesuatu yang telah terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian sosiologi tidak memiliki kemampuan untuk membuat suatu prediksi terhadap sesuatu yang belum terjadi. Sosiologi bukan merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang segala sesuatu yang seharusnya terjadi. Misalnya, keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia memang merupakan suatu yang secara turun temurun diwarisi dari nenek moyang bangsa Indonesia. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 29 Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum, yakni memusatkan perhatiannya terhadap gejala-gejala sosial yang bersifat universal. Sebagai konsekuensi dari poin (3) di atas, maka sosiologi merupakan ilmu murni (pure science) yang bersifat teoritis. Sebagai ilmu murni (pure science), sosiologi membatasi diri dari percoalan-persoalan yang bersifat penilaian. Artinya, teori-teori sosiologi tidak dipergunakan untuk menilai atau menjelaskan segi-segi moral dari suatu fenomena sosial. Sosiologi sebatas mendeskripsikan fenokena sosial berdasarkan hukum sebab akibat (kausalitas). Sosiologi berasifat teoritis, bahwa fenomena kehidupan masyarakat sebagai objek sosiologi dikaji secara ilmiah, konseptual, dan teoritis. 6) Karakteristik Ilmu Antropologi Sejak lama manusia, terutama para ahli ilmu sosial dan para filsuf, mempertanyakan ”sebenarnya siapa manusia itu, dari mana manusia itu berasal, dan mengapa berperilaku seperti yang mereka lakukan”. Pertanyaan tersebut terus berkumandang sampai metode ilmiah ditemukan dan menjadi salah satu cara dalam menemukan sesuatu. Antropologi yang menjadi salah satu ilmu yang terkait dengan itu berusaha juga untuk menjawab pertanyaan di atas. Sebelumnya, masyarakat memperoleh jawaban atas pertanyaan di atas dari mite (myth) dan cerita rakyat (folklore) yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mite atau legenda merupakan unsur sastra yang masih dipercayai kebenarannya oleh para pendukung sastra tersebut. Mereka percaya saja pada apa yang diceritakan secara turun-temurun oleh orang tua atau nenek kakek mereka. Setiap suku bangsa memiliki kepercayaan sendiri atas siapa sebenarnya manusia itu, dari mana mereka berasal, dan mengapa mereka berperilaku seperti yang mereka lakukan. Orang yang tinggal di pegunungan biasanya beranggapan bahwa nenek moyang mereka berasal dari puncak gunung (bagian atas) yang memang sulit dijangkau oleh manusia biasa. Sedangkan bagi orangorang yang tinggal di sekitar laut seperti para nelayan biasanya beranggapan bahwa nenek moyang mereka berasal dari laut yang paling dalam. Antropologi sebagai sebuah ilmu, sudah sekitar 200 tahun yang lalu berupaya mencari jawaban atas pertanyaan di atas. Antropologi kemudian dikenal sebagai ilmu yang mempelajari makhluk manusia (humankind) di mana pun dan kapan pun. Para antropolog mempelajari homo sapiens, sebagai spesies paling awal, sebagai nenek moyang, dan sesuatu (makhluk) yang memiliki hubungan terdekat dengan makhluk manusia, untuk mengetahui kemungkinan siapa nenek moyang manusia itu, dan bagaimana mereka hidup (Haviland, 1991). Perhatian utama dari para antropolog adalah merupakan upaya mereka mempelajari manusia secara hati-hati dan sistematis. Beberapa orang menempatkan antropologi sebagai ilmu sosial atau ilmu perilaku. Akan tetapi di lain pihak beberapa orang mempertanyakan sejauh mana kajian antropologi dapat diakui sebagai ilmu pengetahuan (science). Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 30 Apa sesungguhnya arti di balik kata ilmu pengetahuan atauscience itu? Ilmu pengetahuan adalah suatu metode atau cara yang bersifat berpengaruh dan tepercaya guna memahami fenomena di dunia ini. Ilmu pengetahuan berupaya mencari penjelasan mengenai berbagai fenomena yang dapat teramati (observed) untuk menemukan prinsip-prinsip atau hukum-hukum yang berlaku universal atas fenomena tersebut (Haviland, 1999). Ada dua ciri mendasar dari ilmu pengetahuan, yaitu imajinasi (imagination) dan skeptisisme (skepticism). Imajinasi berhubungan dengan kemampuan berpikir untuk mengarahkan kita keluar dari ketidakbenaran, yaitu dengan cara mengusulkan hal-hal baru untuk menggantikan hal-hal yang lama atau ketidakbenaran itu. Skeptisisme adalah pemikiran yang membimbing kita untuk dapat membedakan antara sebuah fakta (fact) dan khayalan (fancy). Sebuah kebenaran yang dihasilkan melalui sebuah khayalan bukanlah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membangun kebenaran berdasarkan pengkajian empiris melalui uji hipotesis, yang kemudian menghasilkan sebuah teori. Sebuah kebenaran atau teori dalam ilmu pengetahuan bukanlah kebenaran absolut tetapi hanya sebagai sebuah pilihan kebenaran yang paling diakui tentang sebuah fenomena. Tanpa metode ilmiah suatu ilmu pengetahuan bukanlah ilmu, melainkan hanya suatu himpunan pengetahuan saja tentang berbagai fenomena baik alam ataupun masyarakat karena tidak berusaha untuk mencari kaidah hubungan antara satu gejala dengan gejala lainnya. Keseluruhan pengetahuan dapat diperoleh oleh para ahli di bidangnya masing-masing melalui tiga tahap yaitu, (1) tahap pengumpulan data, (2) tahap penentuan ciri-ciri umum dan sistem, serta (3) tahap verifikasi. Untuk bidang antropologi sosial atau budaya, tahap pengumpulan data merupakan peristiwa penting dalam upaya memperoleh informasi tentang peristiwa atau gejala masyarakat dan kebudayaan. Sebagai ilmu sosial yang relatif baru, antropologi juga mengikuti kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang telah berkembang, terutama pendekatan yang berkembang dalam ilmu sosial. Berawal dari filsafat, beberapa kajian yang lebih spesifik akhirnya memisahkan diri dan memproklamirkan diri sebagai ilmu baru. Bahkan spesifikasi kajian dari masing-masing ilmu tadi dianggap telah membelenggu diri untuk tidak menerima hasil pengkajian dari ilmu lain. Kondisi ini kemudian disadari merupakan gejala yang tidak baik, karena sangat tidak bermanfaat untuk memahami hakikat objek (masyarakat) yang sesungguhnya. Hakikat objek, perilaku sosial atau masyarakat hanya dapat dipahami secara menyeluruh dengan kajian berbagai bidang ilmu. J. Gillin mencoba menyatukan kembali beberapa pendekatan melalui beberapa ahli seperti ahli antropologi, sosiologi dan psikologi untuk membicarakan kemungkinan kerja sama antara ketiga bidang ilmu tersebut. Hasil pembicaraan tersebut menghasilkan sebuah buku yang cukup penting berjudul “For A Secience of Social Man” yang terbit pada tahun 1955 yang di redaksi oleh Gillin sendiri. Pertemuan lain juga diprakarsai oleh beberapa ahli psikologi yang berhasil mengumpulkan para ahli psikologi, psikiatri, biologi, sosiologi, antropologi, anatomi, dan zoologi untuk mengembangkan metodeUjian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 31 metode yang mampu mengintegrasikan hasil kajian dari masing-masing ilmu tersebut. Hasil pembicaraan tersebut juga berhasil dibukukan dan diterbitkan pada tahun 1956 dalam judul “Toward A Unified Theory of Human Behavior”. 7) Karakteristik Ilmu Ekonomi Keberadaan ilmu ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu sangat diperlukan karena manusia selalu dihadapkan untuk membuat pilihan dalam kehidupannya. Oleh karena itu dalam pembelajaran ilmu ekonomi harus memudahkan siswa untuk mampu membuat pilihan-pilihan secara rasional dan membuat siswa dapat menggunakan konsep-konsep dalam ilmu ekonomi untuk menganalisis persoalan-persoalan ekonomi personal dan kemasyarakatan. Metode pemecahan masalah yang digunakan dalam pembelajaran ekonomi diturunkan dari metode dari metode ilmiah, yang menekankan pada analisis atas dasar logika dapat diterapkan dalam pembelajaran ilmu ekonomi. Lima langkah pendekatan pemecahan masalah terdiri dari: 1. Mendifinisikan masalah 2. Menginventarisasi pilihan kebijakan atau keputusan yang mungkin dapat dilakukan. 3. Menetapkan kriteria atau tujuan dari alternatif yang harus dicapai. 4. Menganalisis konsekuensi dari setiap pilihan kebijakan atau keputusan, dengan menggunakan konsep-konsep ekonomi yang relevan dan menilai tiap pilihan sesuai dengan tujuan. 5. Memutuskan alternatif yang terbaik dan relatif penting sesuai dengan hasil evaluasi mengenaian tujuan-tujuan yang berbeda. Adapun isi atau konsep dasar ilmu ekonomi dapat dikelompokkan menjadi konsep-konsep pokok sebagai berikut: 1. Konsep-konsep ekonomi fundamental 2. Konsep-konsep mikro ekonomi 3. Konsep-konsep makro ekonomi 4. Konsep-konsep ekonomi internasional 5. Konsep-konsep metode pengukuran dan 6. Tujuan-tujuan sosial yang luas. Sesuai dengan isi ilmu ekonomi tersebut, dapat dikemukakan karakteristik ilmu ekonomi sebagai berikut: 1. Ilmu ekonomi berangkat dari fakta atau gejala ekonomi yang nyata Kenyataan menunjukkan bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas sedangkan sumber-sumber ekonomi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan jumlahnya terbatas/langkah. Tidak terbatasnya kebutuhan manusia dan kelangkaan sumber ekonomi tersebut dapat dijumpai dimana-mana. Ilmu ekonomi mampu menjelaskan gejala-gejala tersebut sebab ilmu ekonomi dibangun dari dunia nyata. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 32 2. Ilmu ekonomi mengembangkan teori-teori untuk menjelaskan fakta secara rasional. Agar manusia mampu membaca dan menjelaskan gejala-gejala ekonomi secara sistematis, maka disusunlah konsep dan teori ekonomi menjadi bangunan ilmu ekonomi. Selain mempunyai persyaratan sistematis, ilmu ekonomi juga memenuhi persyaratan keilmuan yang lain yaitu obyektif dan mempunyai tujuan yang jelas. 3. Umumnya, analisis yang digunakan dalam ilmu ekonomi adalah metode pemecahan masalah. Metode pemecahan masalah cocok digunakan dalam analisis ekonomi sebab obyek dalam ilmu ekonomi adalah permasalahan dasar ekonomi. Permasalahan dasar tersebut yaitu barang apa yang harus diproduksi, bagaimana cara memproduksi dan untuk siapa barang diproduksi. Ketiga permasalahn dasar tersebut pada intinya berangkat dari adanya kelangkaan sumber-sumber ekonomi. 4. Inti dari ilmu ekonomi adalah memilih alternatif yang terbaik. Untuk mencapai kemakmuran manusia mempunyai banyak pilihan kegiatan. Namun, dari sekian banyak pilihan kegiatan tersebut dapat dianalisis secara ekonomi sehingga dapat ditentukan alternatif pilihan mana yang paling optimal baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Ilmu ekonomi dapat digunakan untuk menentukan alternatif pilihan kegiatan ekonomi yang terbaik. 5. Lahirnya ilmu ekonomi karena adanya kelangkaan sumber pemuas kebutuhan manusia Apabila sumber ekonomi keberadaannya melimpah (tidak langkah), maka ilmu ekonomi tidak diperlukan lagi bagi kehidupan manusia. Demikian juga kalau penggunaan sumber ekonomi sudah tertentu (tidak dapat digunakan secara alternatif), ilmu ekonomi juga tidak diperlukan lagi. B. PERBEDAAN, PERSAMAAN DAN ANALISIS ILMU-ILMU SOSIAL 1. Perbedaan Ilmu-Ilmu Sosial (a) Ilmu Politik 1) Pendekatan Ilmu Politik Dalam kajian ini pendekatran terbagi menjadi dua : a. Pendekatan kualitatif Pendekatan yang menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data langsung, yang bersifat deskriptif,analtik, menekankan proses, bersifat induktif, dan menurut W.R. Torbert sering disebut sebagai Collaborative Inquiri(Torbert,1981). b. Pendekatan kuantitatif Pendekatan ini melalui tes, menguji, dan menstandarisasi daftar observasi maupun wawancara terbuka dan tertutup, menggunakan metode statistic untuk meneliti data dan meyimpulkan sebagai hasil penelitian. Dengan kata laian penelitian kuantitatif mencoba hal-hal yang objektif yang artinya mereka ingin kembangkan suatu pemahaman dunia sebagaimna adanya diluar sana. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 33 2) Metode Ilmu Politik Semakin tepat kita menggunakan metode maka akan semakin baik dalam mengahampiri kenyataan politik. Hal ini sependapat dengan Iswara (1974) yang mengemukakan bahwa metode dan teknik menjernihkan substansi memisahkan khayalan dari kenyataan. Semakin intensif metode yang digunakan semakin dekat ilmu itu dengan kebenaran, semakin diperkecil peranan khayalan dan harapan yang tidak berlandaskan dengan kenyataan. Metode ilmu politik terbagi menjadi dua : a. Metode induksi Serangkaian strategi ataupun prosedur penarikan kesimpulan umum yang didasarkan pada proses pemikiran yang bersifat khusus atas dasar fakta teoritis yang khusus ke yang umum. Biasanya metode ini digunkan dalam penelitian kualitatif. Menurut Iswara (1974) yang termasuk ke dalam metode induksi adalah metode deskriptif, yang memberikan gambaran-gambaran terhadapa kenyataan yang akurat. Hal ini berbeda dengan metode analisis, yang menekankan pada penelaahan secara mendalam terhadap masalah-masalah politik yang disusun secara sistematis dengan memperlihatkan hubungan fakta yang satu dengan yang lainnya. Metode evaluative, merupakan serangkaian penentuan terhadap fakta-fakta yang dikumpulkan dengan dasar pada norma-norma ataupun ide-ide yang abstrak. Kemudian yang dimaksud dengan metode klasifikasi, adalah metode yang menggolongkan atau mengelompokkan objek-objeknya secar teratur yang menunjukkan hubungan timbalbalik. Sedangkan metode perbandingan adalah membandingkan antara persamaan dan perbedaan atas dua objek dengan maksud untuk memperdalam pengetahuan tentang objek-objek kajian politik tersebut. b. Metode deduksi Adalah serangkaian strategi prosedur khusus dengan menggunakan penarikan kesimpulan dari keadaan yang bersifat umum ke yang khusus, dan biasanya metode ini digunakan dalam pendektan kuantitaif. Menurut Iswara (1974) banyak metode-metode lain yang digunakan dlam kajian ilmu politik ialah sebagai berikut. Metode filosofi, metode ini digunakan untuk meneliti masalah politik langsung yang berhubungan dengan kehidupan politik yang diteliti secara abstrak, akademis, dan teoritis. Metode yuridis atau legalistis, merupakan penekanan prosedur penelitiannya terhadap azas-azas legal secara yuridis. Sebagai contoh penelitisn terhadap negar yang memandang bawa Negara sebgai sebuah korporasi dalam hokum public atau bisa juga dalam Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 34 penelitian ini bertolak pada kesadaran hokum bahwa pada dasarnya Negara merupakan pribadi hukum, maupun badan hokum. Metode historis, penelitian ilmu politik didasarkan pada kenyataan-kenyataan sejarah yang artinya peneltian ini memmberikan penekanan terhadap segi-segi latarbelakang, pertumbuhan dan perkembangan, hukum-hukum, sebab akibat, yang merupakan ciri khas dalam ilmu sejarah. Metode ekonomis, dalam penelitian ini ilmu politik disangkutpautkan secara melekat dengan aspek ekonomi baik melalui pendekatan marxime maupun non marxime. Metode sosiologis, yang memandang bahwa lembaga-lembaga politik dianalogikan sebagai fenomena-fenomena social maupun organisme social. Metode psikologis, yang dalam kajian nya menggunkan banyak dalil-dalil psikologi sebagai acuan. Aspek politik yang sering dilihat berdasarkan perspektif motif-motif, kepribadian pemimpin maupun pihak-pihak yang menentangnya, termasuk factor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa politik. Metode observasi, pengamatan disini diartikan dengan sistematis, teratur, terencana, berdasarkan pedoman-pedoman tertentu, serta tidak cukup dilakukan sekaali atau duakali saja melainkan secara continue atau berulang-ulang kemudian ditarik kesimpulan. Metode analisis, metode yang menggunakan serangkaian tindakan untuk menelaah sesuatu hal secara mendalam dan terperinci untuk mengetahui cirri dari masing-masing bagian, hubungan satu sama lain serta peranannya dalam totalitas yang dimaksud. Metode deskripsi, metode yang memberikan gambaran politik terhadap kondisi realitasnya secara akurat dengan pencatatan-pencatatan terhadap berbagai masalah yang sedang dikaji. Metode klasifikasi, metode yang mengelompokkan ataupun menggolongkan ubjek kajian secara teratur yang memiliki hubungan timbalbalik. Oleh karena itu, opengelompokkan ini biasanya didasarkan pada persamaan dan perbedaan terhadap jenis/bentuk maupun kualitasnya. Terdapat aturan-aturan pokok yang menmudahkan untuk mengkelompokkannya menurut Ciarke(Isaak 1975) yaitu : - Penggolongan harus masuk akal - Harus ada pengelompokkan yang cukup untuk semua data - Harus tidak ada pengelompokkan yang overlapping - Harus hanya ada satu basis penggolongan Metode pengukuran, metode yang mengidentifikasi besar kecilnya objek yang diteliti baik menggunakan alat khusus ataupun tidak. Metode ini digunakan terhadap isi surat kabar, siaran radio, ataupun menghitung secara cermat perkataan-perkataan yang sering Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 35 diucapkan oleh pemimpin [politik yang diteliti. Melalui perhitungan yang cermat dapat diketahui kecenderungan politik dalam masyarakat, pergeseran ideology, strategi propaganda yang dilakukan oleh suatu kelompok ekstrim. Metode perbandingan, metode yang dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan dan persamaan dari dua peristiwa politik, Negara, kelompok, atau lebih. Metode ini banyak digunakan khususnya untuk membandingkan diantara berbagai macam pemerintahan dan Negara. Oleh karena itu, dewasa ini muncul istilah “Comparative Politics” yang menujukkan adanya perbndingan serangkaian proses dan system politik antar Negara. 3) Tujuan Dan Fungsi Ilmu Politik Ada tiga tujuan dalam mempelajari ilmu poltik : Pertama, perspektif intelektual : sebenarnya tujuan politik adalah tindakan politik. Untuk mencapai itu diperlukan pembelajaran untuk memperbesar kepekaan sehingga ia dapat bertindak. Agar dapat bertindak dengan baik secara politik, orang perlu mempelajari azas dan seni politik, nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat. Dengan demikian orang belajar, bagaimana kekuasaan dapat dijinakkan dan diabadikan kepada tujuan manusi yang positif. Metode pembelajaran nya pun sudah mengenal metode yag bersifat kritis. Tujuannya untuk menelaah kesalah-kesalahan dan berusaha untuk mengurangi ketidaktahuan. Walapun ajaran kritis tersebut pada prinsipnya bersifat intelektual, tetapi dapat menimbulkan hal-hal yang bersifat praktis. Jadi perspektif intelektual dalam politik adalah perspektif yang mempergunakan diri sendiri sebagai titik tolak. Sebab perspektif itu bertolak dan dibangun berdasarkan apa yang dianggap salah oleh individu, maka pemikiran individu itu yang akan memperbaikinya. Kedua, perspektif politik : pandangan intelektual mengenai politik tidak banyak berbeda dengan pandangan politisi. Bedanya terletak jika politisi bersifat segera, sedangkan intelektual dapat menjadi politisi jika ia mampu memasukkan masalah politik dalam pelayanan suatu kepentingan ataupun tujuan. Sebagai contoh sebuah kasus dengan adanya system pemiliha langsung di Indonesia, banyak intelektual yang bersedia menjadi calon legislative dan eksekutif pusat dan daerah. Dengan kampanye yang bergaya orator mendadak, dalam waktu singkat mereka mempersiapkan dan menggunakan strategi dari yang teoritik menjadi suatu kerangka kerja yang bersifat praktik. Sedangkan kaum intelektual menaruh perhatian dalam tiga dimensi yaitu, hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Ketiga, perspektif ilmu politik : dalam hal ini politik dipandang sebagai ilmu. Jika para politisi memandang politik sebagai pusat kekuasaan public, maka kaum intelektual memandang politik sebagai perluasan pusat moral dari diri. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 36 Tentu saja ilmuwan politik professional memandang politik sebagai suatu system, sebagai perubahan-perubahan terorganisir yang saling berinteraksi yang meliputi pemerintah, partai politik, kelompok kepentingan, kebijaksanaan termasuk individu-individu. Menurut Leo Straus (1959) dan Sheldon Wolin (1960) mengemukakan bahwa tugas untuk ilmu politik adalah untuk mendapat kearifan tentang sifat-sifat manusia dan politik. Kemudian muncul pendapat serupa yang lebih mutakhir, adalah Robert Flower dan Jeprey Orenstein (1985) yang mengemukakan bahwa ilmu politik terutama teori-teori politik melibatkan refleksi konsep-konsep politik dasar, analisis pandangan-pandangan alternative tentang manusia dan politik serta pengejaran kebenaran normative tentang sifat-sifat rezim terbaik. Ditinjau dari sisi ini maka filosofi politik adalah kegiatan yang kreatif dan kritis dimana setiap generasi bisa berpartisipasi dalam tradisi berkelanjutan yang menyatukan masa kini dan masa lalu (Losco dan Williams, 2003 :2). Politik tetap merupakan sesuatu yang manusia lakukan. Bukannya sesuatu yang mereka miliki. Atau lihat, atau bicarakan, atau pikirkan. Mereka yang akan melakukan sesuatu dengan nya harus lebih dari sekedar berfilosofi dan filosofi yang secara politik mudah dipahami harus mengambil tindakan politik sepenuhnya dari politik sebagai sebuah sikap. (Liberal Philosophy in Democratic Times: 1988). (b) Ilmu Hukum 1) Pendekatan Ilmu Hukum Max weber memberikan tipologi tiga pendekatan umum yang telah digunakan untuk studi hukum dan masyarakat. Tipologi ini berguna untuk menganalisis studi hukum yang memungkinkan kita untuk melihat bagaimana perhatian yang berbeda tentang peran hukum dalam masyarakat menghasilkan kerangka kerja yang berbeda yang mengangkat isu-isu yang berbeda dan pertanyaan. Kerangka kerja ini mengkonstruksi hukum dan pranata hukum berbeda-beda bagi tujuan studi hukum mereka. Adapun ketiga pendekatan itu adalah: (1) pendekatan moral hukum. (2) pendekatan dari sudut ilmu hukum, dan (3) pendekatan sosiologis hukum. Masing-masing dari tiga pendekatan ini memiliki fokus yang berbeda pada hubungan antara hukum dan masyarakat dan juga berbeda cara yang digunakan dala, mempelajari hukum). Juga dapat dikatakan bahwa secara garis besar ada 3 pendekatan ilmu hukum, yaitu: a. Ius constituendum: the law as what ougt to be, atau filsafat hukum. b. Ius constitutum: the law as what it is in the book(s) atau hukum positif. c. ius operatum: the law as what it is in society atau sosiologi hukum dan kajian empiris lainnya. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 37 Menghadapi era globalisasi dunia, pakar hukum modern telah meninggalkan tiga pedekatan hukum klasik yang cenderung ekstrem sempit hanya menggunakan salah satu jenis pendekatan, apakah itu Normatif (Positivistik), Empiris (Sosiolagis, Antropologis, psikologis, dan seterusnya), dan atau pendekatan nilai dan moral (Filsufis). Berikut ini penjelasan tentang pendekatan-pendekatan tersebut. a. Pendekatan Normatif (Positivistik) Pendekatan Normatif atau pendekatan ‘ Jurisprudntial ‘ memfokuskan kajiannya dengan memandang hukum sebagai suatu sistem yang utuh mencakupi seperangkat asasasas hukum, norma-norma hukum, dan aturan-aturan hukum baik itu tertulis maupun tidak tertulis. Sebagaimana telah diketahui bahwa unsur-unsur hukum adalah asas-asas hukum, norma-norma hukum, dan aturan-aturan hukum. Dimana dari sebuah asas akan melahirkan norma-norma hukum, dan dari norma tersebut kemudian melahirkan aturanaturan. Contohnya : asas pengakuan hak milik individu, melahirkan norma dilarang mengganggu hak milik seseorang, yang kemudian melahirkan aturan – aturan hukum antara lain Pasal 362 KUH Pidana. Penting juga diketahui bahwa satu asas bisa saja melahirkan beberapa norma, dan dari satu norma bisa melahirkan beberapa aturan – aturan hukum. b. Pendekatan Empiris (Legal Empirical) Pendekatan empiris atau legal empirical memfokuskan kajiannya dengan memandang hukum sebagai seperangkat perilaku (behavior), seperangkan tindakan (action), dan seperangkat realitas (reality). Pendekatan ini masih dibedakan ke dalam beberapa kajiankajian. Berikut kajian-kajian pendekan ini. Sosiologi hukum; Antropologi hukum; Psikologi hukum; Hukum dan ekonomi; Hukum dan pembangunan; Hukum dan struktur social; Kajian hukum kritis. c. Pendekatan Filsufis Pendekatan ini memfekuskan kajiannya dengan memandang hukum sebagai seperangkat nilai-nilai moral serta ide-ide yang abstrak, diantaranya kajian tentang moral keadilan. Pendekatan filsufis ini dipelajari dalam mata kuliah Filsafat hukum, logika hukum, dan teori hukum. 2) Metode Ilmu Hukum a. Metode Idealis; bertitik tolak dari pandangan bahwa hukum sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu dalam masyarakat b. Metode Normatif Analitis; metode yang melihat hukum sebagai aturan yang abstrak. Metode ini melihat hukum sebagai lembaga otonom dan dapat dibicarakan sebagai subjek tersendiri terlepas dari hal-hal lain yang berkaitan dengan peraturan-peraturan. Bersifat Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 38 abstrak artinya kata-kata yang digunakan di dalam setiap kalimat tidak mudah dipahami dan untuk dapat mengetahuinya perlu peraturan-peraturan hukum itu diwujudkan. Perwujudan ini dapat berupa perbuatan-perbuatan atau tulisan. Apabila ditulis, maka sangat penting adalah pilihan dan susunan kata-kata. c. Metode Sosiologis; metode yang bertitik tolak dari pandangan bahwa hukum sebagai alat untuk mengatur masyarakat. d. Metode Historis; metode yang mempelajari hukum dengan melihat sejarah hukumnya. e. Metode sistematis; metode yang melihat hukum sebagai suatu sistem f. Metode Komparatif; metode yang mempelajari hukum dengan membandingkan tata hukum dalam berbagai sistem hukum dan perbandingan hukum di berbagai negara. 3) Tujuan Dan Fungsi Ilmu Hukum Keadaan hukum suatu masyarakat akan dipengaruhi oleh perkembangan dan perubahan secara terus-menrus di semua bidang kehidupan. Soerjono Soekamto berkata bahwa proses hukum berlangsung di dalam suatu jaringan atau sistem sosial yang dinamakan masyarakat, artinya hukum hanya dapat dimengerti dengan jalan memahami sistem sosial terlebih dahulu Menurut Sarjoni Soekanto, terdapat dua bidang kajian yang meletakkan fungsi ilmu hukum di dalamnya yaitu pertama terhadap bidang-bidang kehidupan masyarakat yang sifatnya netral, hukum berfungsi sebagai sarana untuk melakukan perubahan masyarakat. Kedua terhadap bidang masyarakat yang bersifat peka atau sensitive, ilmu hukum berfungsi sebagai sarana untuk melakukan pengendalian sosial. Tujuan Pengantar Imu Hukum adalah menjelaskan tentang keadaan, inti dan maksud tujuan dari bagian-bagian penting dari hukum, serta pertalian antara berbagai bagian tersebut dengan ilmu pengetahuan hukum. Adapun kegunaannya adalah untuk dapat memahami bagian-bagian atau jenis-jenis ilmu hukum lainnya. (c) Ilmu Sejarah 1) Pendekatan Ilmu Sejarah Pendekatan sejarah menjelaskan dari segi mana kajian sejarah hendak dilakukan, dimensi mana yang diperhatikan, unsur-unsur mana yang diungkapkannya, dan lain sebagainya. Deskripsi dan rekonstruksi yang diperoleh akan banyak ditentukan oleh jenis pendekatan yang dipergunakan. Oleh sebab itu ilmu sejarah tidak segan-segan melintasi serta menggunakan berbagai bidang disiplin atau ilmu untuk menunjang studi dan penelitiannya, yang di dalam ilmu sejarah sudah sejak awal telah dikenalnya dan disebut sebagai Ilmu-ilmu Bantu Sejarah (sciences auxiliary to history). a. Pendekatan Manusia Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 39 Penelitian sejarah selalu berarti penelitian tentang sejarah manusia. Fungsi dan tugas penelitian sejarah ialah untuk merekonstruksi sejarah masa lampau manusia (the human past) sebagaimana adanya (as it was).Harus disadari sepenuhnya bahwa betapapun cermatnya suatu penelitian sejarah, dengan tugas rekonstruksi semacam itu seorang sejarawan akan masih tetap menghadapi sejumlah problem yang tidak mudah. Dengan memberikan aksentuasi "sejarah manusia" untuk mengingatkan bahwa penelitian dan rekonstruksi sejarah hendaknya lebih berperspektif pada konsep manusia seutuhnya. Manusia adalah makhluk rohani dan jasmani. Rohani dengan manifestasinya dalam bentuk akal, rasa, dan kehendak, yang menjadi sumber eksistensi kemanusiaannya, namun eksistensi hanya nyata dalam realitas di dalam alam jasmani. Perkembangan rohani manusia menjadi nampak dalam wadah agama, kebudayaan, peradaban, ilmu pengetahuan, seni dan teknologi. Manusia juga beraspek individu sekaligus sosial, unik (partikular) sekaligus umum (general). Keduanya sekaligus merupakan keutuhan (integritas), kesatuan (entitas), dan keseluruhan (totalitas). Rekonstruksi sejarah pun hendaknya utuh dan menyeluruh. b. Pendekatan Ilmu-Ilmu Sosial Melalui pendekatan ilmu-ilmu sosial dimungkinkan ilmu sejarah memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai makna-makna peristiwa sejarah. Thomas C. Cochran, misalnya, telah menerapkan konsep peranan sosial (social role) dalam melaksanakan eksplorasi dan eksplanasi mengenai berbagai sikap, motivasi serta peranan toko. c. Pendekatan Psikologi dan Psikoanalisis Dengan menggunakan pendekatan psikologi dan psikoanalis studi sejarah tidak saja sekedar mampu mengungkap gejala-gejala di permukaan saja, namun lebih jauh mampu menembus memasuki ke dalam kehidupan kejiwaan, sehingga dapat dengan lebih baik untuk memahami perilaku manusia dan masyarakatnya di masa lampau. Terobosan pertama yang paling terkenal dalam menerapkan psikologi dalam (depth psychology) pada studi ilmu sejarah dilakukan oleh Erik H. Erikson. Ternyata konsepkonsep mengenai krisis identitas di masa remaja dapat digunakan untuk mengeksplanasi perilaku tokoh-tokoh sejarah terkemuka. Mengenai mengapa Martin Luther tampil sebagai reformator, Mahatma Gandhi menjadi seorang pemimpin gerakan anti kekerasan (non violence) di India, dan Adolf Hitler tanmpil sebagai seorang yang anti Semitis, serta Sukarno sebagai orang anti kolonialisme dan imperialisme, dapat dilacak kembali melalui analisis kehidupan tokoh-tokoh tersebut di masa remaja mereka. Dengan demikian pendekatan psycho history yang dirintis oleh Erik H Erikson telah membuka suatu dimensi baru dalam studi sejarah. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 40 Pendekatan psycho history juga dapat dikembangkan menjadi konsep psikologi sosial (sociopsychological) untuk menjelaskan perilaku sekelompok anggota masyarakat. Tentu saja permasalahannya menjadi semakin kompleks. Richard Hostadter, misalnya, dalam karya tulisannya The Age of Reform (1955) berupaya menjelaskan bangkitnya gerakangerakan sosial pada Abad XIX dan XX di Amerika. Menurunnya status dan prestise masyarakat kelas menengah di Amerika pada peralihan menuju Abad XX mendorong tampilnya pemimpin-pemimpin gerakan progresif. Mereka bergerak dan melakukan perlawanan terhadap orang-orang industrialis kaya baru dan boss-boss mereka yang cenderung korup (Allan J.Lichtman, 1978 : 138). d. Pendekatan Kuantitatif Pendekatan kuantitatif adalah upaya untuk mendeskripsikan gejala-gejala alam dan sosial dengan menggunakan angka-angka. Quantum, quantitas dalam bahasa Latin berarti jumlah. Oleh sebab menggunakan angka-angka, maka pendekatan kuantitatif mempersyaratkan adanya pengukuran (measurement) terhadap tingkatan ciri-ciri tertentu dari suatu gejala yang diamati. Pengamatan kuantitatif berupaya menemukan cirri-ciri tersebut, untuk kemudian diukur berdasarkan kriteria-kriteria pengukuran yang telah ditentukan. Hasil pengukuran itu berupa angka-angka yang menggambarkan kuantitas atau derajat kualitas dari kenyataan dan eksistensi gejala alam yang diukurnya. Data-data angka hasil pengukuran dari gejala-gejala alam yang diamati itulah yang kemudian dianalisis, dicari derajat kuantitas, atau kualitasnya, dipelajari hubungannya antara gejala yang satu dengan lainnya, dikaji pengaruhnya terhadap suatu gejala, hubungan sebaakibatnya, pendek kata dianalisis sesuai dengan tujuan penelti. Pendekatan kuantitatif dalam penelitian dan penulisan sejarah menghasilkan apa yang disebut sejarah kuantitatif (quantitative history). Sejarah kuantitatif pertama-tama dikenal di Perancis sekitar tahun 1930-an, yang mulai berkembang pada tahun 1949 dan 1950-an. Studi Crane Brinton (1930) mengenai keanggotaan partai Yakobin dalam revolusi Prancis, analisis Donald Greer (1935) tentang korban-korban masa Pemerintahan Teror pada dasarnya merupakan usaha-usaha kuantifikasi penulisan sejarah sosial (Harry Ritter, 1986 : 351-0352). Menjelang tahun 1960-an sejarah kuantitatif mulai merembes ke Amerika Serikat dengan pertama-tama mengambil bentuk sejarah ekonometrik (econometric history) yang dirintis oleh sejarawan Lee Benson (1957, 1961) yang penulisannya diilhami dan didasari pada penerapan orientasi statistic dari-dari teori behaviorisme dsalam ilmu-ilmu sosialpolitik. Beberapa penelitian mulai memperluas penggunaan analisis statistic, tidak saja dalam sejarah-sejarah ekonomu, politik dan sosial, melainkan juga dalam sejarash-sejarah cultural dan intelektual dengan menggunakan metode seperti halnya content analysis. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 41 Sejak saat itu karya-karya sejarah mulai dihiasi dengan gambar-gambar grafik, chart, table, persentase, bahkan kadang-kadang memasukkan komputasi statistic Kai-Kuadrat dan regresi. Metode sejarah hingga sekarang lebih cenderung menggunakan pendekatan kualitatif. Harus diakui pendekatan kualitatif mengandung banyak kelemahan. Kelemahankelemahan itu adalah bersumber pada tiadanya kriteria yang jelas dalam penyusunan instrumentasi yang digunakan untuk mengukur kebenaran data dan fakta, serta tiadanya kaidah-kaidah umum, apalagi khusus, dalam metode dan teknik menganalisis hubungan antar berbagai peristiwa sejarah, hingga dengan demikian dalam menganlisis hubungannya, lebih banyak ditentukan oleh intuisi dan imaginasi peneliti yang kadar kebenarannya tidak dapat diuji secarsa empirik. Generalisasi sejarah tak pernah mendasarkan diri pada infeerensi dari hubungan antara besarnya sampel dengan jumlah populasi. Penggunaan pendekatan kuantitatif dalam metode sejarah dapat memperkecil kelemahan-kelemahan tersebut di satu pihak, dan dapat memperbesar bobot ilmiahnya dalam analisis peristiwa-peristiwa sejsarah di lain pihak. Penalaran berdasarkan tata-fikir dan prosedur statistik setidak-tidaknya dapat mengendalikan (mengontrol) analisis dan interpretasi berdasarkan pada pendapat-pendapat pribadi. Lebih jauh tata-fikir dan prosedur statistik dalam metode sejarah dapat membantu metodologi sejarah dalam mengefektifkan tugas-tugas ilmiahnya, ialah untuk memberikan penjelasan (eksplanasi), meramalkan (prediksi), dan mengendalikan (kontrol) terhadap gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa sejarah. Dalam melakukan generalisasi, dengan demikian, sejarawan harus menjadi lebih berhati-hati dan dalam menganalisis hubungan kausal yang kompleks dan rumit dari berbagai peristiwa kiranya tidak mungkin lagi dapat diselesaikan dengan baik tanpa bantuan pendekatan kuantitatif. Pendek kata penggunaan pendekatan kuantitatif dapat mempertajam wawasan metode sejarah. 2) Metode Ilmu Sejarah Metode sejarah dapat diartikan sebagai cara atau prosedur yang sistematis dalam merekonstruksi masa lampau.Terdapat empat langkah metode sejarah yang wajib hukumnya dilaksanakan oleh sejarawan dalam menulis karya sejarah. Empat langkah tersebut ialah : a. Heuristik Heuristik artinya mencari dan mengumpulkan sumber-sumber sejarah yang terkait dengan topik penelitian. Atau juga dapat di artikan sebagai kegiatan berupa penghimpunan jejak-jejak masa lampau, yakni peninggalan sejarah atau sumber apa saja yang dapat dijadikan informasi dalam pengeritian studi sejarah. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 42 b. Kritik Hasil pengerjaan studi sejarah yang akademis atau kritis memerlukan fakta-fakta yang telah teruji. Oleh karena itu, data-data yang diperoleh melalui tahapan heuristik terlebih dahulu harus dikritik atau disaring sehingga diperoleh fakta-fakta yang sobjektif mungkin. Kritik tersebut berupa kritik tentang otentitasnya (kritik ekstern) maupun kredibilitas isinya (kritik intern), dilakukan ketika dan sesudah pengumpulan data berlangsung.Sumber sejarah yang telah dikritik menjadi data sejarah. c. Interpretasi Interpretasi adalah proses pemaknaan fakta sejarah. Dalam interpretasi, terdapat dua poin penting, yaitu sintesis (menyatukan) dan analisis (menguraikan). Fakta-fakta sejarah dapat diuraikan dan disatukan sehingga mempunyai makna yang berkaitan satu dengan lainnya. d. Historiografi Tahap kelima ini adalah tahap terakhir metode sejarah. Setelah sumber dikumpulkan kemudian dikritik (seleksi) menjadi data dan kemudian dimaknai menjadi fakta, langkah terakhir adalah menyusun semuanya menjadi satu tulisan utuh berbentuk narasi kronologis. Imajinasi sejarawan bermain disini, tetapi tetap terbatas pada fakta-fakta sejarah yang ada. Semuanya ditulis berdasarkan urut-urutan waktu. 3) Tujuan Dan Fungsi Ilmu Sejarah a. Fungsi Rekreatif Sejarah dituliskan sesuai fakta yang tersaji dan disusun dengan menggunakan kronologi serta gaya bahasa yang membuatnya dapat dinikmati sebagai sebuah karya seni. Peristiwa sejarah yang disusun secara naratif serta mengandung hal-hal yang memiliki karakteristik romantis serta nilai-nilai keindahan akan menimbulkan perasaan senang bagi siapapun yang membacanya. Oleh sebab itu, sejarah dapat dikategorikan sebagai sarana ‘rekreasi’ bagi manusia untuk kembali menjelajah masa lalu. b. Fungsi Inspiratif Fungsi inspiratif yang terkandung dalam sebuah sejarah dapat terwujud melalui peristiwa tertentu yang memberikan dampak bagi siapapun yang terlibat di dalamnya, baik pelaku, maupun orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut. Sejarah juga dapat menjadi sarana pendidikan moral bagi manusia yang hidup di masa kini sebab ada banyak hal dan pelajaran yang dapat dipetik dari berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau. c. Fungsi Instruktif Sejarah juga dapat berperan sebagai media penyampaian pengetahuan pada subjek pembelajar. Siapapun yang menyaksikan atau membaca sebuah peristiwa sejarah akan Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 43 mendapatkan gambaran mengenai kehidupan masa lalu dan dapat menarik pelajaran dari peristiwa tersebut untuk diaplikasikan ke dalam kehidupannya. d. Fungsi Edukatif Sejarah dapat menjadi pelajaran bagi setiap orang agar dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi. Seseorang yang mengerti dan menghargai sejarah akan mampu untuk bertindak dengan bijak dan berpikir secara rasional. (d) Ilmu Geografi 1) Pendekatan Ilmu Geografi Secara umum, pendekatan geografi adalah cara pandang atau metode analisa yang digunakan untuk memahami suatu fenomena yang terjadi di sekitar lapisan bumi (fenomena geosfer), baik itu yang berupa interaksi antar komponen abiotik, antar komponen abiotik, maupun antara komponen biotik dan abiotik. Pendekatan geografi sendiri dilakukan terhadap 3 hal utama, yaitu pendekatan keruangan, pendekatan ekologi, dan pendekatan studi wilayah. a. Pendekatan Keruangan (Spacial Analysis) Pendekatan keruangan atau spacial analysis adalah pendekatan yang dilakukan untuk mengkaji kesamaan atau perbedaan suatu fenomena geosfer melalui cara pandang keruangan. Pada pendekatan ini, yang menjadi fokus pengamatan adalah persebaran kegunaan ruang dan manfaat yang akan didapatkan dari ruang yang disediakan. Dalam prakteknya, pendekatan keruangan sering digunakan untuk perencanaan pembukaan daerah pemukiman baru. Manfaat yang diharapkan dari daerah pemukiman baru harus benar-benar dioptimalkan dengan memperhatikan segala aspek geosfer yang berkorelasi terhadap ruang tersebut, baik itu dari aspek hidrologi (ketersediaan air tanah), pedologi (kondisi dan sifat tanah), maupun dari aspek klimatologi (iklim dan cuacanya). Korelasi ini dibutuhkan agar manusia yang bermukim di daerah tersebut dapat beradaptasi dengan baik dan bisa memperoleh lebih banyak manfaat daripada dampak dan mudorotnya. b. Pendekatan Ekologi (Ecological Analysis) Pendekatan ekologi atau ecological analysis adalah pendekatan yang dilakukan untuk mengkaji suatu fenomena geosfer dengan memperhatikan interaksi antara organisme dengan lingkungan yang ditinggalinya. Selain itu, pendekatan geografi ini juga berfokus pada perilaku organisme dan perubahan fenomena lingkungan yang terjadi secara mandiri tanpa keterkaitan. Pendekatan ekologi dapat dianalisis melalui penerapan konsep 5W + 1H. Contoh sederhananya adalah fenomena banjir yang terjadi di Bandung. Fenomena ini dapat diidentifikasi melalui beberapa tahapan pendekatan ekologi yang hasilnya kemudian dapat dianalisa untuk menemukan solusi dan alternatif pemecahan masalah. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 44 Identifikasi kondisi fisik. Identifikasi ini dilakukan untuk menemukan berbagai kondisi fisik lingkungan yang mendorong terjadinya fenomena banjir, seperti topografi, jenis tanah, curah hujan tahunan, dan vegetasi di lokasi itu. Identifikasi sikap dan perilaku masyarakat. Identifkasi ini dilakukan untu menemukan berbagai sikap dan perilaku masyarakat dalam mengelola alam di lokasi tersebut, misalnya alih fungsi lahan pertanian, penggundulan hutan, kebiasaan membuang sampah sembarangan, mendirikan pemukiman di bantaran sungai, dan lain-lain. Analisa Interaksi. Dari identifikasi fisik dan sikap, selanjutnya hubungan antara keduanya dianalisa untuk menemukan alternatif pemecahan masalah. c. Pendekatan Studi Wilayah (Regional Complex Analysis) Pendekatan studi wilayah atau regional complex analysis adalah pendekatan yang dilakukan dengan mengkaji perbedaan dan kesamaan satu wilayah dengan wilayah lainnya dari segi ekologi maupun keruangannya. Bisa dikatakan bahwa jenis pendekatan geografi ini merupakan gabungan dari pendekatan keruangan dan pendekatan ekologi. Hasil pendekatan studi wilayah kemudian tertuang menjadi peta dan dipelajari melalui disiplin ilmu kartografi. 2) Metode Ilmu Geografi a. Studi lapangan Pengamatan secara langsung di lapangan berguna untuk mengetahui dan memahami permukaan bumi serta kegiatan manusia. Metode ini dilakukan dengan terjun langsung mengamati objek dilapangan. Dengan melakukan studi lapangan ini akan mengetahui karakteristik khusus permukaan bumi. b. Wawancara (interview) Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada responden tentang halhal yang perlu diketahui harus menjawab dengan jelas atas semua pertanyaan. Metode ini dipilih bila hal-hal yang ingin diketahui tidak dapat diperoleh dengan metode pengamatan. Contohnya : alasan penduduk tetap tinggal dalam wilayah rawan bencana banjir. c. Pemataan Metode ini dilakukan dengan menyeleksi berbagai informasi di daerah yang akan dipetakan. Seleksi menghasilkan informasi objek terpilih yang diperlukan saja sehingga dapat menggambarkan tempat, pola, dan karakteristik unsur geografi dalam peta. d. Kuantitatif Metode ini merupakan metode penelitian geografi yang menggunakan perhitungan matematika dan statistika. Pengujian hasil penelitian yang berupa angka-angka dilakukan dengan bantuan komputer. Dengan menggunakan metode ini, peneliti dapat Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 45 menyederhanakan informasi yang rumit dan hasil penelitian disajikan dalam bentuk yang sederhana. e. Penggunaan sarana ilmiah Metode penggunaan sarana ilmiah dalam penelitian geografi, misalnya dalam penginderaan jauh. Penginderaan jauh dapat membantu untuk mengidentifikasi dan mempelajari permukaan bumi yang sulit dijangkau dengan studi lapangan. 3) Tujuan Dan Fungsi Ilmu Geografi Adapun tujuan dan fungsi geografi yang menjadi dasar pembelajaran geografi ada tiga macam, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sebagai pengetahuan, geografi bertujuan mengembangkan konsep dasar geografi yang berkaitan dengan pola keruangan dan prosesnya; mengembangkan pengetahuan, peluang dan keterbatasan sumber daya alam untuk dimanfaatkan; mengembangkan konsep dasar geografi yang terkait dengan lingkungan sekitar dan wilayah negara atau dunia. Sebagai keterampilan, geografi bertujuan mengembangkan keterampilan mengamati lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan binaan; mengembangkan keterampilan mengumpulkan, mencatat data dan informasi yang berkaitan dengan aspek keruangan; mengembangkan keterampilan analisis, sintesis, kecenderungan, dan hasil-hasil dari interaksi berbagai gejala geografis. Sebagai sikap, geografi bertujuan menumbuhkan kesadaran terhadap perubahan fenomena geografi yang terjadi di lingkungan sekitar; mengembangkan sikap melindungi dan tanggung jawab terhadap kualitas lingkungan hidup; mengembangkan kepekaan terhadap permasalahan dalam pemanfaatan sumber daya; mengembangkan sikap toleransi terhadap perbedaan sosial dan budaya; mewujudkan rasa cinta tanah air dan persatuan bangsa. (e) Ilmu Sosiologi 1) Pendekatan Ilmu Sosiologi a. Pendekatan Komparatif Pendekatan dengan komparatif, pandangan yaitu yang luas, pendekatan tidak hanya yang melihat manusia yang terisolasi masyarakat atau hanya dalam tradisi sosial tertentu saja. b. Pendekatan Holistik Pendekatan bahwa unit-unit Sosiologi holistik, masyarakat yang itu bersifat mencoba Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial yaitu suatu dapat diselidiki fungsional, mencakup 46 atau keseluruhan pendekatan berdasar sebagai keseluruhan, sebagai sistem-sistem tertentu. sebagai ruang lingkup dari pendapat segala sesuatu yang berhubungan dengan kemanusiaan sampai kepada generalisasi-generalisasi. 2) Metode Ilmu Sosiologi a. Metode Kualitatif Metode kualitatif penelitian yang analisis datanya mengutamakan tentang penjabaran data yang diperoleh. Metode ini dipakai apabila data hasil penelitian tidak dapat diukur dengan angka atau dengan ukuran lain yang bersifat eksak. Istilah penelitian kualitatif dimaksudkan sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. b. Metode Kuantitatif Metode kuantitatif penelitian yang analisis datanya mengutamakan keterangan berdasarkan angka-angka. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode ini adalah survei dan eksperimen. Gejala yang diteliti diukur dengan skala, indeks, tabel, atau formula-formula tertentu yang cenderung menggunakan uji statistik. 3) Tujuan Dan Fungsi Ilmu Sosiologi Tujuan dan fungsi sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Jadi, objek formalnya tersebut berfungsi sebagai penuntun adaptasi di masyarakat. Mengembangkan pengetahuan yang objektif mengenai gejala-gejala kemasyarakatan yang dapat di manfaat kan secara efektif untuk memecahkan masalah-masalah sosial (problem solving). Contohnya, jika seseorang ingin menjalin hubungan dengan masyarakat lain, selayaknya ia harus mempelajari dahulu sifat dan karakter masyarakat tersebut. Dengan mengetahui sifat dan karakter individu lain, serta kebiasaan di masyarakat, akan memudahkan seseorang untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Bisa digambarkan bahwa objek sosiologi ibarat seseorang yang memancing. Ikan, pancing dan cara-cara memancing sudah diberitahukan sebelumnya. Orang tersebut tinggal menggunakan caracara dan pancing untuk mendapatkan ikannya. Jadi objek sosiologi terdiri atas masyarakat dan nilai-nilai aturan yang sudah ada. (f) Ilmu Antropologi 1) Pendekatan Ilmu Antropologi Studi kebudayaan adalh sentral dalam antropologi. Bidang kajian utama antropologi adalah kebudayaan dan dipelajari melalui pendekatan. Berikut 3 macam pendekat utama yang biasa dipergunakan oleh para ilmuwan antropologi. a. Pendekatan holistic Kebudayaan dipandang secara utuh (holistik). Pendekatan ini digunakan oleh para pakar antropologi apabila mereka sedang mempelajari kebudayaan suatu masyarakat. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 47 Kebudayaan di pandang sebagai suatu keutuhan, setiap unsur di dalamnya mungkin dipahami dalam keadaan terpisah dari keutuhan tersebut. Para pakar antropologi mengumpulkan semua aspek, termasuk sejarah, geografi, ekonomi, teknologi, dan bahasa. Untuk memperoleh generalisasi (simpulan) tentang suatu kompleks kebudayaan seperti perkawinan dalam suatu masyarakat, para pakar antropologi merasa bahwa mereka harus memahami dengan baik semua lembaga (institusi) lain dalam masyarakat yang bersangkutan. b. Pendekatan komparatif Kebudayaan masyarakat pra-aksara. Pendekatan komparatif juga merupakan pendekatan yang unik dalam antropologi untuk mempelajari kebudayaan masyarakat yang belum mengenal baca-tulis (pra-aksara). Para ilmuwan antropologi paling sering mempelajari masyarakat pra-aksara karena 2 alasan utama. Pertama, mereka yakin bahwa setiap generalisasi dan teori harus diuji pada populasi-populasi di sebanyak mungkin daerah kebudayaan sebelum dapat diverifikasi. Kedua, mereka lebih mudah mempelajari keseluruhan kebudayaan masyarakat-masyarakat kecil yang relatif homogen dari pada masyarakat-masyarakat modern yang kompleks. Masyarakat-masyarakat pra-aksara yang hidup di daerah-daerah terpencil merupakan laboratorium bagi para ilmuwan antropologi. c. Pendekatan historic Pengutamaan asal-usul unsur kebudayaan. Pendekatan dan unsur-unsur historik mempunyai arti yang sangat penting dalam antropologi, lebih penting dari pada ilmu lain dalam kelompok ilmu tingkah laku manusia. Para ilmuwan antropologi tertarik pertamatama pada asal-usul historik dari unsur-unsur kebudayaan, dan setelah itu tertarik pada unsur-unsur kebudayaan yang unik dan khusus. 2) Metode Ilmu Antropologi a. Kelangkaan Metode Yang Baku Antropologi adalah ilmu yang relatif masih muda, sehingga belum berhasil mengembangkan metode-metode penelitian yang jelas dan sistematik. Dalam tulisantulisan etnografis dapat dilihat terlalu sedikitnya perhatian para penulis pada metode penelitian. b. Participant observation Jika seorang ilmuwan antropologi sedang melakukan penelitian tentang suatu kebudayaan, maka ia hidup bersama orang-orang pemilik kebudayaan tersebut, memelajari bahasa mereka, ikut aktif ambil bagian dalam kegiatan sehari-hari masyarakat (komunitas) tersebut. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 48 c. Indepth interview (wawancara mendalam) Wawancara mendalam (indepth interview) biasanya dipergunakan bersama-sama (kombinasi) dengan observasi mendalam berperanserta. Wawancara dilakukan secara informal dan non-sistematik. Jika ilmuwan sosiologi memilih secara acak (random) subyek yang diwawancarai, maka ilmuwan antropologi mewawancarai orang-orang yang telah kenal baik dan mempercayainya, atau oran-orang yang ia pandang dapat memberikan informasi yang akurat dan rinci tentang berbagai aspek kebudayaan yang diteliti. d. Upaya memperkecil kesalahan Informasi yang ia peroleh dari berbagai subyek seringkali berbeda-beda atau bahkan saling bertentangan. Para ilmuwan antropologi berusaha meminimalkan kesalahan pada data mereka dengan jalan mengulang-ulang observasi atau wawancara, dan dengan melakukan ’cross-check’ dengan informan lain apabila mereka menemukan informasi yang bertentangan. e. Kecendrungan menggunakan metode tradisional Para ilmuwan antropologi hanya sedikit menggunakan kuesioner tertulis, terutama karena sebagian besar subjek mereka buta aksara. Walaupun para ilmuwan antropologi semakin banyak mempelajari kelompok-kelompok masyarakat modern, tetapi mereka cenderung tetap menggunakan metode-metode antropologi tradisional. 3) Tujuan Dan Fungsi Ilmu Antropologi a. Mendeskripsikan selengkap mungkin tata cara kehidupan kelompok manusia dari berbagai sudut belahan bumi pada setiap periode dan karakter fisik manusia yang hidup pada kelompok itu. b. Memahami manusia sebagai kelompok tertentu secara keseluruhan. c. Untuk menemukan prinsip-prinsip umum tentang gaya hidup manusia serta bagaimana gaya hidup itu terbentuk. (g) Ilmu Ekonomi 1) Pendekatan dan Metode Ilmu Ekonomi Sering disebut sebagai The queen of social sciences, ilmu ekonomi telah mengembangkan serangkaian metode kuantitatif untuk menganalisis fenomena ekonomi. Jan Tinbergenpada masa setelah Perang Dunia II merupakan salah satu pelopor utama ilmu ekonometri, yang mengkombinasikan matematika, statistik, dan teori ekonomi. Kubu lain dari metode kuantitatif dalam ilmu ekonomi adalah model General equilibrium (keseimbangan umum), yang menggunakan konsep aliran uang dalam masyarakat, dari satu agen ekonomi ke agen yang lain. Dua metode kuantitatif ini kemudian berkembang pesat hingga hampir semua Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 49 makalah ekonomi sekarang menggunakan salah satu dari keduanya dalam analisisnya. Di lain pihak, metode kualitatif juga sama berkembangnya terutama didorong oleh keterbatasan metode kuantitatif dalam menjelaskan perilaku agen yang berubah-ubah. 2) Tujuan Dan Fungsi Ilmu Ekonomi a. Mencari pengertian tentang hubungan peristiwa-peristiwa ekonomi baik yang berupa hubungan kausal maupun fungsional; b. Untuk dapat menguasai masalah-masalah ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat misalnya : - Masalah pengangguran di Indonesia masih belum bisa diatasi; - Kondisi infrastruktur ekonomi Indonesia seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang sudah tidak lagi memadai; - Terbatasnya lahan pekerjaan sehingga menaikkan tingkat pengangguran. 2. Persamaan Ilmu-Ilmu Sosial Persamaan dari cabang Ilmu-Ilmu Sosial tersebut ialah, 1) masing-masing cabang ilmu sosial mengambil bahan-bahan dari ilmu sosial. 2) Tidak ada keharusan bahwa semua ilmu sosial perlu diturunkan dalam setiap pokok bahasan IPS, tapi disesuaikan dengan tujuan pengajaran dan perkembangan peserta didik. 3) Jenjang pendidikan juga ikut menentukan jumlah dan bagian isi ilmu sosial yang akan diramu menjadi program IPS. 4) Kesamaannya cabang ilmu-ilmu sosial dapat disusun dengan mengaitkan atau menggabungkan berbagai unsur ilmu sosial sehingga menjadi menarik. Kemudian dapat dicontohkan sebagai berikut. Adapun persamaan IPS dengan cabang-cabang ilmu sosial tersebut: Persamaannya yakni mengenai objek yang dikaji, yakni manusia didalam lingkungan sosialnya. Kaitan antara IPS dan Ilmu-ilmu Sosial. Di atas telah disinggung mengenai definisi IPS dan ilmu sosial dari situ dapat kita simpulkan bahwa IPS sebenarnya adalah ilmu-ilmu sosial yang disiapkan untuk keperluan pendidikan disekolah dasar dan menengah, dengan kata lain ilmu-ilmu sosial adalah induk atau dasar dari Ilmu Pendidikan Sosial (IPS). Hubungan IPS dan ilmu-ilmu sosial dapat dipahami dengan lebih jelas berdasarkan konsep dasar dan generalisasi IPS yang dikembangkan oleh Mulyono T.J. yang telah dimodifikasi dan diperluas dalam Mukminan dkk. (2002: 62-77) sebagai berikut: 3. Analisis Ilmu-Ilmu Sosial a. Ilmu Politik IPS mengambil ilmu politik yang membahas usaha manusia mengorganisasikan kekuasaan dalam mengatur manusia serta menyelenggarakan kepentingan rakyat dan bangsa. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 50 b. Ilmu Hukum IPS mengambil materi ilmu hukum yang berkaitan dengan peraturan-peraturan tingkah laku dalam masyarakat yang ditetapkan oleh pemerintah. c. Ilmu Geografi IPS mengambil materi dari geografi yang terkait dengan bumi, garis lintang, garis bujur, arah, jarak, lokasi ruang, kondisi ruang serta lingkungan, sumber daya alam serta interaksi antar bangsa dan manusia dengan lingkungan. d. Ilmu Sejarah IPS mengambil materi ilmu sejarah yang terkait dengan cara hidup manusia dilihat dari kurun waktu masa lalu. e. Ilmu Sosiologi IPS mengambil materi sosiologi yang mempelajari masyarakat secara umum dan hubungan antar individu serta masyarakat tersebut. f. Ilmu Antropologi IPS mengambil materi antropologi yang terkait dengan kajian hasil budidaya manusia dalam menjaga eksistensinya dan usaha meningkatkan kehidupan baik aspek lahiriyah maupun batiniyah. g. Ilmu Ekonomi IPS mengambil materi ekonomi terkait dengan usaha manusia untuk mencapai kemakmuran dan gejala-gejala serta hubungan yang timbul dari usaha tersebut. Hubungan antara IPS dengan ilmu-ilmu social saling berkaitan. Keduanya berhubungan dengan kebutuhan dasar manusia, kemudian kebutuhan dasar tersebut dapat dicapai dengan kegiatan dasar manusia. Kegiatan dasar menusia meliputi produksi dan konsumsi, pemeliharaan dan perlindungan, konsumsi dan transport, estetika, pemerintahan dan organisasi, dan pendidikan dan rekreasi. Keseluruhannya membentuk ilmu-ilmu social. Dalam ilmu-ilmu social, terurai disiplin ilmu yang meliputi, antropologi, ekonomi, geografi, sejarah, ilmu politik, psikologi social dan hokum. Dan di dalamnya terdapat fakta, konsep, generalisasi yang dikembangkan membentuk ilmu Pengetahuan Sosial(IPS). Jadi IPS merupakan penjabaran dari ilmu-ilmu social yang didalamnya terdapat fakta, konsep dan generalisasi. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 51 BAB 4 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN A. PENGERTIAN DAN TUJUAN RPP Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu indicator atau beberapa indicator untuk satu kali pertemuan atau lebih. RPP merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum mengajar. Persiapan disini dapat diartikan persiapan tertulis maupun persiapan mental, situasi emosional yang ingin dibangun, lingkungan belajar yang produktif, termasuk meyakinkan pembelajar untuk mau terlibat secara penuh. Berdasarkan Permendiknas No 41 tahun 2007 tertanggal 23 November tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, bahwa pengembangan RPP dijabarkan dari Silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kopetensi Dasar (KD). RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan pelajaran di satuan pendidikan. Tujuan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah untuk: a) Mempermudah, memperlancar dan meningkatkan hasil proses belajar mengajar. b) Memberi kesempatan bagi pendidik untuk merancang pembelajaran sesuai denga kebutuhan peserta didik, kemampuan pendidik dan fasilitas yang dimiliki sekolah. c) dengan menyusun rencana pembelajaran secara profesional, sistematis dan berdaya guna, maka guru akan mampu melihat, mengamati, menganalisis, dan memprediksi program pembelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan terencana. B. HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMBUATAN RPP Prinsip-prinsip rencana pembelajaran menurut Permendinas no 41 tahun 2007 tentang standar proses terdiri dari: a) Memperhatikan perbedaan individu peserta didik. b) Bersifat fleksibel c) Mendorong partisipasi aktif peserta didik. d) Mengembangkan budaya membaca dan menulis. e) Disusun untuk setiap kompetensi dasar. f) Memberikan umpan balik dan tindak lanjut RPP. g) Keterkaitan dan keterpaduan. h) Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 52 C. KURIKULUM 2013 Kurikulum 2013 merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan berbasia sains yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan dengan tujuan untuk mempersiapkan lahirnya generasi emas bangsa indonesia, dengan sistem dimana siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Titik beratnya, kurikulum 2013 ini bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa agar lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mempresentasikan apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah meneerima materi pembelajaran. Adapun obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, kurikulum 2013 lebih menekankan pada ketiga aspek, yaitu menghasilkan peserta didik berakhlak mulia (afektif), berketerampilan (psikomotorik), dan berpengetahuan (kognitif) yang berkesinambungan. Sehingga diharapkan agar siswa lebih kreatif, inovatif dan lebih produktif. Dalam kurikulum 2013 juga ada strategi pengembangan pendidikan, salah satunya adalah penambahan jam pelajaran. Rasionalitas penambahan jam pelajaran dapat dijelaskan bahwa perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberitahu menjadi mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output) memerlukan tambahan jam pelajaran. Dengan alokasi waktu per jam pelajaran, SD 35 menit, SMP 40 menit, SMA 45 menit. D. RPP IPS KURIKULUM 2013 TERLAMPIR. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 53 LAMPIRAN RPP KURIKULUM 2013 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Tema Sub Tema : SMP N/S : IPS : Manusia, Tempat dan Lingkungan : Pengertian Ruang dan Interaksi Antarruang : VII/Ganjil : 2017/2018 : 4 JP (2 Pertemuan) Kelas/Semester Tahun Pelajaran Alokasi Waktu A. Kompetensi Inti KI 1 : Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya KI 2 : KI 3 : KI 4 : Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) Kompetensi Dasar (KD) Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) 3.1 Memahami konsep ruang (lokasi, 3.1.1 Menjelaskan pengertian konsep ruang dan distribusi, potensi, iklim, bentuk muka interaksi antar ruang bumi, geologis, flora dan fauna) dan 3.1.2 Menunjukkan lokasi Indonesia pada peta untuk interaksi antarruang di Indonesia serta memahami letak dan luas melalui peta pengaruhnya terhadap kehidupan 3.1.3 Menjelaskan persebaran sumber daya alam dan manusia dalam aspek ekonomi, sosial, kemaritiman di Indonesia. budaya dan pendidikan. 3.1.4 Menjelaskan jumlah, kepadatan, dan persebaran penduduk Indonesia. 3.1.5 Menjelaskan kondisi geologis dan bentuk muka bumi 3.1.6 Menemukan ciri flora dan fauna Asiatis, peralihan, dan Australis 3.1.7 Menjelaskan pengaruh interaksi antar ruang terhadap kehidupan dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan. 4.1 Menyajikan hasil telaah konsep ruang 4.1.1 konsep ruang (lokasi, distribusi, potensi, iklim, bentuk muka bumi, geologis, flora 4.1.2 dan fauna) dan interaksi antarruang di Indonesia serta pengaruhnya terhadap 4.1.3 Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 54 Menggambar peta persebaran fauna di Indonesia Mempresentasikan hasil diskusi tentang bentuk muka bumi Indonesia. Membuat laporan hasil telaah pengaruh kondisi kehidupan manusia dalam aspek ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan. 4.1.4 geologis terhadap kehidupan manusia dalam aspek ekonomi, sosial dan budaya. Membuat laporan hasil observasi jumlah penduduk di daerahnya masing-masing C. Tujuan Pembelajaran Pertemuan Pertama Selama dan setelah mengikuti proses pembelajaran ini peserta didik diharapkan dapat: 1. menjelaskan pengertian konsep ruang; 2. menjelaskan pengertian interaksi antar ruang; Pertemuan Kedua Selama dan setelah mengikuti proses pembelajaran ini peserta didik diharapkan dapat: 1. menyebutkan contoh interaksi keruangan antar wilayah di Indonesia 2. menyebutkan contoh interaksi keruangan yang terjadi di wilayahnya; Fokus nilai-nilai sikap 1. Peduli 2. Jujur berkarya 3. Tanggung jawab 4. Toleran 5. Kerjasama 6. Proaktif 7. kreatif D. Materi Pembelajaran 1. Materi pembelajaran regular a. Fakta  Indonesia terletak antara 950 BT – 1410 BT dan 60 LU - 110 LS. Karena letaknya tersebut, Indonesia termasuk ke dalam wilayah tropis. Wilayah tropis dibatasi oleh lintang 23,50 LU dan 23,50 LS. b. Konsep  Kondisi geografis Indonesia (letak dan luas, iklim, geologi, rupa bumi, tata air, tanah, flora dan fauna) melalui peta rupa bumi  Potensi Sumber Daya Alam (jenis sumber daya, penyebaran di darat dan laut) c. Prinsip  Sumber Daya Manusia - jumlah, sebaran, dan komposisi; - pertumbuhan; - kualitas (pendidikan, kesehatan, kesejahteraan - keragaman etnik (aspek-aspek budaya Interaksi antarruang (distribusi potensi wilayah Indonesia)  Dampak interaksi antarruang (perdagangan, mobilitas penduduk) d. Prosedur  Menggambarpetapersebaran fauna di Indonesia  Mempresentasikanhasil diskusi tentang bentuk mukabumi Indonesia.  Membuat laporanhasil telaah pengaruh kondisi geologis terhadap kehidupan manusia dalam pekekonomi, social dan budaya.  Membuat laporan hasil observasi jumlah penduduk di daerahnya masing-masing 2. Materi pembelajaran remedial  Dinamika Kependudukan Indonesia  Kondisi Alam Indonesia 3. Materi pembelajaran pengayaan  Membuat data statistic penduduk yang ada di lingkungan kalian yang mencakup Nama, usia, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan?  Buatlah perbandingan antara Potensi Sumber Daya Alam dan Kemaritiman Indonesia dengan yang ada di dunia ? Potensi sumber daya alam apakah yang mendominasi di Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 55 Indonesia ? E. Metode Pembelajaran 1. Pendekatan 2. Model Pembelajaran 3. Metode Pembelajaran : Scientific Learning : Discovery Learning (Pembelajaran Penemuan) : Ceramah, Diskusi F. Media Pembelajaran 1. Media LCD projector, 2. Laptop, 3. Bahan Tayang G. Sumber Belajar a. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Buku Siswa Mata Pelajaran IPS. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. b. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Buku Guru Mata Pelajaran IPS. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. c. Modul/bahan ajar, d. Internet, e. Sumber lain yang relevan H. Langkah-langkah Pembelajaran Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 56 1. Pertemuan Ke-1 ( 2 x 40 menit ) I. Penilaian, Pembelajaran Remedial danPendahuluan Pengayaan Kegiatan Guru 1.: Teknik Penilaian Orientasia. Sikap (Spiritual dan Sosial)  Melakukan pembukaan dengan salam pembuka dan berdoa untuk memulai pembelajaran 1. Observasi (jurnal) (PPK: Religius) 2. Penilaian diri  Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin 3. Penilaian  Menyiapkan fisik danantarteman psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran. Waktu 10 menit Apersepsib. Pengetahuan  Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman 1. Ter tertulis peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya, pada kelas VI  Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya. c. Keterampilan  Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan. 1. Kinerja Motivasi 2. Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari. Instrumen Penilaian  Apabila materi/tema/ projek(Terlampir) ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh, maka peserta a. Pertemuan Pertama didik diharapkan dapat menjelaskan tentang: b. Pertemuan Kedua (Terlampir)  Pengertian Ruang dan Interaksi Antarruang 3. Menyampaikan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung Pembelajarantujuan Remedial dan Pengayaan  Mengajukan pertanyaan. a. Remedial Pemberian Acuan  Remidial dapat diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai KKM maupun  Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu. kepada peserta didik yang sudah melampui KKM. Remidial terdiri atas dua bagian :  Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada remedial karena belum mencapai KKM dan remedial karena belum mencapai pertemuan yang berlangsung Kompetensi Dasar  Pembagian kelompok belajar  Guru memberi semangat pengalaman kepada peserta didik yang belum mencapai KKM (Kriteria  Menjelaskan mekanisme pelaksanaan belajar sesuai dengan langkah-langkah Ketuntasan Minimal). Guru akan memberikan tugas bagi peserta didik yang belum pembelajaran. mencapai KKM (Kriterian Ketuntasan Minimal), misalnya sebagai berikut.  Dinamika Kependudukan Indonesia Kegiatan Inti 60  Kondisi Alam Indonesia menit Sintak Model Kegiatan Pembelajaran b. Pengayaan Pembelajara  n Pengayaan diberikan untuk menambah wawasan peserta didik mengenai materi pembelajaran yangdidik dapatdiberi diberikan kepadaatau peserta didik yang telah tuntas mencapai Stimulation Peserta motivasi rangsangan untuk KKM atau mencapai Kompetensi Dasar. (stimullasi/ memusatkan perhatian pada topic  Pengayaan ditagihkan ataudan tidakInteraksi ditagihkan, sesuai kesepakatan dengan peserta pemberian  dapat Pengertian Ruang Antarruang dengan didik. rangsangan) cara :  Direncanakan berdasarkan IPKdengan atau alat)/ materi pembelajaran yang membutuhkan  Melihat (tanpa atau pengembangan lebih luas misalnya Menayangkan gambar/foto tentang  Membuat data statistic penduduk yang ada untuk di lingkungan kalian yang mencakup  Peserta didik diminta mengamati Nama, usia, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan? penayangan gambar yang disajikan oleh guru  Buatlah perbandingan antara Potensi Daya Alam maupun mengamati gambarSumber yang terdapat pada dan Kemaritiman Indonesia dengan di dunia ? dibawah Potensi sumber daya alam apakah yang bukuyang siswaada seperti gambar (Literasi) mendominasi di Indonesia ?  Mengamati  Peserta didik diminta mengamati gambar /foto yang yang terdapat pada buku maupun melalui Januari penayangan video yang……………, disajikan oleh guru 2018 seperti gambar dibawah ini Mengetahui Kepala SMPN/S Guru Mata Pelajaran …………………………………… NIP/NRK. ……………………………………. NIP/NRK.  Berdasarkan hasil pengamatan terhadap gambar, peserta didik diminta untuk mendiskusikan tentang hal-hal yang ingin diketahui.  Membaca (dilakukan di rumah sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung),  Peserta didik diminta membaca materi dari buku Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 57 paket atau buku-buku penunjang lain, dari internet/materi yang berhubungan dengan  Pengertian Ruang dan Interaksi Antarruang  Mendengar BAB 5 PENUTUP A. KESIMPULAN Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya, yang mana di dalamnya berisi tentang kajian manusia dan dunia sekelilingnya. Yang menjadi pokok kajian IPS adalah tentang hubungan antar manusia. Latar telaahnya adalah kehidupan nyata manusia. Dari pengertian IPS dapat dilihat bahwa, materi yang dikaji dalam pembelajarannya adalah tentang kehidupan manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya yang mencakup segala aspek kehidupan. Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sikap kurang bergairah, kurang aktif, kelas kurang berpusat pada siswa, dan kadang-kadang ada yang bercanda dengan sesama teman di kelas, merupakan masalah yang dihadapi khususnya untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Damak buruknya adalah, penguasaan materi dan ketuntasan kurang memuaskan. Kondisi yang seperti ini tentunya sangat tidak diharapkan dalam proses belajar mengajar. Permasalahan lain, pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) misalnya : ketidaksiapan dari guru-guru yang ada disekolahnya untuk membelajarkan IPS secara terpadu, mengingat terbatasnya tenaga guru yang ada; tidak tersedianya fasilita pendukung pembelajaran IPS yang sesuai dengan kebutuhan; dan masih rendahnya hasil pembelajaran IPS di sekolah. Sebenarnya guru telah berusaha menciptakan pembelajaran agar siswa lebih aktif, diantaranya : pengamatan objek langsung, diskusi kelompok, mengerjakan LKS, menggunakan media yang ada di sekolah, dan menggunakan metode tanya jawab. Namun, hasilnya belum memuaskan dan aktivitas siswa belum maksimal. Apabila kondisi yang seperti ini tidak dicarikan alternatif pemecahan masalahnya, maka guru akan tetap saja sebagai sumber informasi satu-satunya di kelas, tidak ada tukar informasi, penguasaan konsep dan hasil belajar IPS siswa tetap rendah, dan pembelajaran IPS jadi membosankan. Menurut Nasution (2000:94), pelajaran akan lebih menarik dan berhsil apabila dihubungkan dengan pengalamanpengalaman dimana anak dapat melihat, meraba, mengucap, berbuat, mencoba, berfikir, dan sebagainya. Pelajaran tidak hanya bersifat intelektual, melainkan juga bersifat emosional. Kegembiraan belajar dapat mempertinggi hasil pelajaran. Berkaitan dengan materi IPS, bahwa kajian yang dibahas di dalamnya tidak terlepas dari kehidupan manusia sehari-hari, maka pengetahuan sosial ini secara alamiah sudah melekat pada diri setiap orang. Akan tetapi IPS ini harus tetap dipelajari dan diajarkan kepada anak didik, mengingat kehidupan masyarakat dengan segala permasalahannya makin berkembang. Untuk menghadapi keadaan demikian, pengetahuan sosial yang diperoleh secara alamiah saja tidak cukup. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 58 Maka disinilah perlunya pendidikan formal, khususnya pendidikan IPS. Adapun fungsi IPS sebagai pendidikan yaitu membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna untuk masa depannya, keterampilan sosial dan intelektual dalam membina perhatian serta kepedulian sosialnya sebagai sumber daya manusia yang bertanggung jawab dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional. B. SARAN IPS sangat erat kaitannya dengan persiapan anak didik untuk berperan aktif atau berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia dan terlibat dalam pergaulan masyarakat dunia (global society). IPS harus dilihat sebagai suatu komponen penting dari keseluruhan pendidikan kepada anak. IPS memerankan peranan yang signifikan dalam mengarahkan dan membimbing anak didik pada nilai-nilai dan perilaku yang demokratis, memahami dirinya dalam konteks kehidupan masa kini, memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat global yang interdependen. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 59 DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Daldjoeni, N. 1992. Dasar-Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Alumni. Majid, A. 2011. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: Rosdakarya. Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Primary School Teacher Development Project) Rusdi, Muhammad dkk. 1983. Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial. Surabaya: Tim IPS FPIS IKIP Surabaya. Samlawi, Fakih dan Bunyamin Maftuh. 1999. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Departemen Winataputra, Udin S. 2005. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Dendi Tri Suarno dan Sukirno. 2015. Program Studi Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. “Pengembangan Media Pembelajaran IPS Dengan Tema Pemanfaatan Dan Pelestarian Sungai Untuk Siswa Kelas VII SMP.” Jurnal Pendidikan IPS, Volume 2, Nomor 2, September 2015. Elfira Miftakhul Jannah. 2017. Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. “Implementasi Kurikurum 2013 Pada Pembelajaran IPS di SMPN 1 Muntilan.” Jurnal, Volume 1, Nomor 1, 2017. Enok Maryani, dan Helius Syamsudin. 2009. “Pengembangan Program Pembelajaran IPS Untuk Meningkatkan Kompetensi Keterampilan Sosial.” Jurnal Penelitian, Volume 9, Nomor 1, April 2009. Fulana Mardina Asih. 2014. Pendidikan Ekonomi IKIP Veteran Semarang. “Implementasi Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran IPS di SMPN 1 BLADO.”. Jurnal Pendidikan Ekonomi IKIP Veteran Semarang, Volume 2, Nomor 1, 2014. Leo Agung S. 2012. Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan PIPS FKIP UNS Surakarta. “Implenetasi Model Pembelajaran IPS Terpadu (Suatu Studi Evaluatif Di SMPN Kota Surakarta) .” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 18, Nomor 2, Juni 2012. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 60 Puput Pujatama. 2014. Program Studi Ilmu Pengetahuan Sosial, Program Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Indonesia. “Implementasi Kurikulum 2013 Pada Mata Pelajaran IPS Di Sekolah Menengah Pertama (Studi Pada Sekolah-sekolah di Kota Semarang)”. Jurnal of Educational Social Studies, volume 3, Nomor 2, ISSN 2252-6390 November 2014. Prof. Dr. Paulus Hadisuprapto, S.H. 2012. Guru Besar Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang “Pendekatan Kajian Ilmu Hukum”. Jurnal Hukum, volume 1, Nomor 2, 2012. Titik Triwulan Tutik. 2012. Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya. “Hakikat Keilmuan Ilmu Hukum Ditinjau Dari Sudut Filsafat Ilmu Dan Teori Ilmu Hukum.” Jurnal Mimbar Hukum, Volume 24, Nomor 3, Oktober 2012. Halaman 377-569. Team Dosen. 2013. Universitas Negeri Medan. “Bahan Perkuliahan Konsep Dasar IPS.” Modul Perkuliahan. https://www.kompasiana.com/www.ilhamakbar.com/definisi-tujuan-dan-ruang-lingkup antropologi_54f79c24a333119d1c8b458a- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://www.ngelmu.id/pengertian-antropologi-bidang-pendekatan-metodologi-konsep-dan-teori antropologi/ - Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://www.guruips.com/2017/02/fungsi-dan-tujuan-sosiologi-manfaat.html - Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. https://www.kompasiana.com/lisnaifahsyaghina/2-metode-dalam sosiologi_54f9774da33311a13d8b545f- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018 http://www.materi-pelajaran.xyz/2016/08/5-metode-penelitian-geografi.html - Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://www.ipsmudah.com/2017/04/3-pendekatan-geografi-keruangan-ekologi-wilayah-contohnya.html Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. https://www.sayanda.com/pengertian-sejarah/- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://www.sejarawan.id/2012/02/pendekatan-penelitian-sejarah.html- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://artikel-az.com/ilmu-hukum/- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://chikal-adhityah.blogspot.co.id/- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://nartocalonlegislator.blogspot.co.id/2013/10/pendekatanhukum-oleh-andi-sunarto.htmlpada tanggal 12 Januari 2018. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 61 Diakses https://customslawyer.wordpress.com/2014/01/31/tiga-pendekatan-metoda-ilmu-hukum/- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://alviprofdr.blogspot.co.id/2013/07/karakteristikilmu-hukum-oleh-alvi.html- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. https://dewirosdyana.wordpress.com/2013/11/10/sifat-dan-arti-politik/- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. https://belajarbersamayulia.weebly.com/karakteristik-sejarah.html- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. https://ekowati52.wordpress.com/- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. https://agroedupolitan.blogspot.co.id/2017/03/karakteristik-kajian-antropologi.html- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://www.guruips.com/2017/02/ciri-ciri-sosiologi-hakikat-dan.html- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. https://www.kompasiana.com/widihastuti.ratna/model-pembelajaran-ips-yang-dikembangkankurikulum-2013_54f6d94aa333114c5c8b4ba6- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://mademoisellezeina.blogspot.co.id/2014/05/pelaksanaan-pembelajaran-ips-pada.html- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://bdkbandung.kemenag.go.id/jurnal/330-pembelajaran-ips-dalam-kurikulum-2013- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://sucianitaeconomiceducation12.blogspot.co.id/2013/06/hubungan-ilmu-sosial-dan-ips.htmlDiakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://gudangartikels.blogspot.co.id/2013/01/hakikat-pembelajaran-ips.html- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. http://haslindafadillah.blogspot.co.id/2010/11/makalah-pendidikan-ips.html- Diakses pada tanggal 12 Januari 2018. Ujian Akhir Semester Ilmu Pengetahuan Sosial 62

Judul: Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Dan Rpp K13

Oleh: Andya Agisa


Ikuti kami