Teori Kerjasama Dalam Ekonomi Islam

Oleh Sofian Ansori

125 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Teori Kerjasama Dalam Ekonomi Islam

TEORI KERJASAMA DALAM EKONOMI ISLAM A. Kerjasama 1. Pengertian Kerjasama Dalam Islam (Syirkah) Secara harfiah, dalam Islam makna syirkah (kerjasama) berarti al-ikhtilath (penggabungan atau percampuran). Percampuran di sini memiliki pengertian pada seseorang yang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain, sehingga tidak mungkin untuk dibedakan.1 Menurut istilah, syirkah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam hal permodalan, keterampilan, atau kepercayaan dalam usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan kesepakatan bersama. 2 Dalam bisnis syariah, kerjasama (syirkah) adalah kerjasama dua orang atau lebih yang sepakat menggabungkan dua atau lebih kekuatan (aset modal, keahlian dan tenaga) untuk digunakan sebagai modal usaha, misalnya perdagangan, agroindustri, atau lainnya dengan tujuan mencari keuntungan.3 Adapun pengertian syirkah menurut para fukaha adalah sebagai berikut: a. Menurut ulama Hanafiyah, syirkah adalah akad antara dua orang yang berserikat pada pokok harta (modal) dan keuntungan. b. Menurut ulama Malikiyah, syirkah adalah izin untuk bertindak secara hukum bagi dua orang yang bekerjasama terhadap harta mereka. c. Menurut Hasby Ash-Shiddiqie, syirkah adalah akad yang berlaku antara dua orang atau lebih untuk saling tolong menolong dalam bekerja pada suatu usaha dan membagi keuntungannya.4 d. Menurut ulama Syafiiyah, syirkah adalah tetapnya hak atas suatu barang bagi dua orang atau lebih secara bersamasama.5 e. Menurut ulama Hambali, syirkah adalah berlakunya hak atas sesuatu bagi dua pihak atau lebih dengan tujuan persekutuan.6 Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik pemahaman bahwa syirkah adalah kerjasama antara dua orang atau lebih dalam berusaha yang keuntungan dan kerugian ditanggung bersama.7 Kerjasama dalam 1 Qamarul Huda, Fiqh Muamalah, Yogyakarta: Teras, Cet. 1, 2011, h. 99 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. 1, 2012, h. 218. 3 Ali Hasan, Manajemen Bisnis Syariah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet. 1, 2009, h. 241. 4 Abdul Rahman Ghazaly, et al, Fiqh Muamalah, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. 1, 2010, h. 127 5 Rozalinda, Fiqh Ekonomi Syariah, Jakarta: Rajawali, Cet. 1, 2016, h. 200 6 Mohammad Nadzir, Fiqh Muamalah Klasik, Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, Cet. 1, 2015, h. 118. 7 Qamarul Huda, Fiqh Muamalah, Yogyakarta: Teras, Cet. 1, 2011,h. 101 2 Islam merupakan sesuatu bentuk sikap saling tolong menolong terhadap sesama yang disuruh dalam agama Islam selama kerjasama itu tidak dalam bentuk dosa dan permusuhan. 8 Kerjasama yang dimaksud disini adalah kerjasama dalam bentuk bagi hasil, yaitu kerjasama dalam berusaha untuk mendapatkan keuntungan. Oleh karena itu, kerjasama ini terlebih dahulu harus terjadi dalam suatu akad atau perjanjian baik secara formal yaitu dengan ijab dan qabul maupun dengan cara lain yang menunjukkan bahwa kedua belah pihak telah melakukan kerjasama tersebut secara rela sama rela. Untuk sahnya kerjasama, kedua belah pihak harus memenuhi syarat untuk melakukan akad atau perjanjian kerjasama yaitu dewasa dalam arti mempunyai kemampuan untuk bertindak dan sehat akalnya, serta atas dasar kehendak sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun.9 Dalam menjalankan roda bisnis, Islam melarang pemilik modal menentukan imbalan dalam batas tertentu atas uang yang diputar. Cara seperti ini tidak adil, karena pemilik modal tidak ikut menanggung risiko tetapi dia hanya mendapatkan hasil. Cara semacam ini tidak dibenarkan karena di dalamnya termasuk roh ribawi yang merusak keadilan dan semangat kerjasama. Padahal dalam dunia usaha ada kemungkinan tidak untung atau bahkan bisa rugi. Jadi apabila seseorang telah merelakan uangnya untuk syirkah (investasi dalam usaha bersama) dengan orang lain, maka dia harus berani menanggung segala risiko karena syirkah tersebut.10 Syariat Islam memperbolehkan kerjasama atau bisnis yang bersih dari interaksi riba atau harta haram dalam keuntungan dan kerugian. Salah satu pihak bisa mendapatkan setengah, sepertiga, seperempat atau kurang dari itu, sedangkan sisanya untuk yang lain. Jadi masing-masing pihak akan mendapatkan bagian apabila usahanya untung, dan sama-sama menanggung kerugian apabila usahanya tidak berhasil. Oleh karena itu, kejujuran dalam mengelola dan keadilan berbagi hasil menjadi syarat mutlak dalam syirkah.11 a. Dasar Hukum Syirkah Kerjasama (syirkah) dalam Islam dilakukan berdasarkan Al-Qur’an, sunnah, dan ijma ulama.12 Berikut ini adalah ayat dan hadits yang dijadikan sebagai dasar hukum melaksanakan syirkah. 8 Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, Cet. 3, 2010, h. 239. 9 Ibid, h. 242 10 Hasan, Manajemen..., h. 241 11 Ibid, h. 242. 12 Lukman Hakim, Pinsip-Pinsip Ekonomi Islam, Jakarta: Erlangga, 2012, h. 106. 1) Artinya: "Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orangorang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan hanya sedikitlah mereka yang begitu." Dan Dawud menduga bahwa Kami mengujinya, maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat." (QS. Shad (38): 24).13 Ayat di atas menjelaskan bahwa diantara orang-orang yang bersyirkah atau bersekutu banyak yang bertindak zalim kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, tetapi yang demikian sangat sedikit jumlahnya. Oleh karena itu, kehatihatian dan kewaspadaan tetap diperlukan sebelum melakukan syirkah, sekalipun itu dengan orang yang berlebel Islam.14 2) Hadits Artinya: “Dari Abu Hurairah ia menghubungkan hadits tersebut kepada Nabi, ia berkata: Sesungguhnya Allah berfirman: Aku (Allah) adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah seorang diantaranya tidak mengkhianati yang lain. Apabila salah satunya mengkhianati yang lainnya, maka aku keluar dari dua orang itu”. (HR. Abu Daud). Maksud dari hadits di atas adalah bahwa Allah SWT akan menjaga dan menolong dua orang yang bersekutu, dan menurunkan berkah pada pandangan mereka. Apabila salah seorang yang bersekutu itu ada yang mengkhianati temannya, maka Allah SWT akan menghilangkan pertolongan dan keberkahan tersebut.15 3) Ijma Ijma mengatakan bahwa mayoritas ulama sepakat tentang keberadaan syirkah ini, meskipun dalam wilayah yang lebih rinci mereka berbeda pendapat tentang keabsahan boleh hukum syirkah tertentu. Misalnya sebagian ulama hanya membolehkan jenis syirkah tertentu dan tidak membolehkan jenis syirkah yang lain.16 Akan tetapi, berdasarkan hukum yang diruaikan di 13 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahannya, Jakarta: PT. Panca Cemerlang, 2010, h. 454. 14 Hasan, Manajemen..., h. 243 15 Mardani, Fiqh..., h. 222. Huda, Fiqh..., h. 102 16 atas, secara tegas dapat dikatakan bahwa kegiatan syirkah dalam usaha diperbolehkan dalam Islam, karena dasar hukumnya telah jelas dan tegas.17 b. Rukun Syirkah Rukun syirkah merupakan sesuatu yang harus ada ketika syirkah itu berlangsung. Adapun rukun syirkah adalah sebagai berikut: 1) shighat, yaitu ungkapan yang keluar dari masingmasing dua pihak yang bertransaksi yang menunjukkan kehendak untuk melaksanakannya. Shighat terdiri dari ijab (ungkapan penawaran melakukan perserikatan) dan qabul (ungkapan penerimaan perserikatan) yang sah dengan semua hal yang menunjukkan maksud syirkah baik berupa perbuatan maupun ucapan.18 Istilah ijab dan qabul sering disebut dengan serah terima. Contoh lafal ijab kabul, seseorang berkata kepada partnernya “aku bersyirkah untuk urusan ini” kemudian partnernya menjawab “telah aku terima”.19 Syarat yang berkaitan dengan shighat akad yaitu proses syirkah harus diketahui oleh pihak-pihak yang berakad, baik ungkapan akad tersebut disampaikan dengan ucapan atau tulisan.20 2) Dua pihak yang berakad („aqidhain), syirkah tidak sah kecuali dengan adanya kedua belah pihak ini. Disyaratkan bagi keduanya adanya kelayakan melakukan transaksi (ahliyah al„aqad, yaitu baligh, berakal, pandai, dan tidak dicekal untuk membelanjakan harta). 3) Objek syirkah (ma‟qud „alaih), yaitu modal pokok yang biasanya berupa harta maupun pekerjaan. Modal pokok syirkah harus ada dan diserahkan secara tunai bukan dalam bentuk utang atau benda yang tidak diketahui, karena tidak dapat dijalankan sebagaimana yang menjadi tujuan syirkah, yaitu mendapat keuntungan. Keuntungan dibagi antara anggota syarikat sesuai dengan kesepakatan.21 Syarat yang berkaitan dengan modal yaitu: a) Modal yang dibayarkan oleh pihak yang berakad harus sama jenis dan nilainya, misalnya jika mereka menentukan modalnya dari emas, maka nilai emas tersebut harus sama. Hakim, Pinsip..., h. 106. Mardani, Fiqh..., h. 218. 19 Ghazaly, et al, Fiqh..., h. 129. 20 Huda, Fiqh..., h. 104 21 Mardani, Fiqh..., h. 218 17 18 b) Modal ditasharrufkan untuk keperluan yang sama, demikian juga jumlahnya harus sama. c) Modal harus bersifat tunai atau kontan, tidak boleh dihutang.22 c. Syarat – Syarat Syirkah Syarat syirkah merupakan sesuatu hal penting yang harus ada sebelum dilaksanakan syirkah. Apabila syarat tidak terwujud, maka transaksi syirkah batal. Adapun yang menjadi syarat syirkah adalah sebagai berikut: 1) Dua pihak yang melakukan transaksi harus mempunyai kecakapan atau keahlian (ahliyah) untuk mewakilkan dan menerima perwakilan. Demikin ini dapat terwujud apabila seseorang berstatus merdeka, baligh, dan pandai. Hal ini karena masing-masing dari dua pihak itu posisinya sebagai mitra jika ditinjau dari segi adilnya, sehingga ia menjadi wakil mitranya dalam membelanjakan harta. 2) Modal syirkah diketahui. 3) Modal syirkah ada pada saat transaksi. 4) Besarnya keuntungan diketahui dengan penjumlahan yang berlaku, seperti setengah, seperempat, dan lain sebagainya.23 d. Berakhirnya Syirkah Syirkah akan berakhir atau batal apabila terjadi hal-hal sebagai berikut : 1) Salah satu pihak membatalkannya, meskipun tanpa persetujuan pihak yang lainnya, karena syirkah adalah akad yang terjadi atas rela sama rela dari kedua belah pihak yang tidak ada keharusan untuk dilaksanakan apabila salah satu pihak tidak menginginkannya lagi. Maka hal ini menunjukkan pencabutan kerelaan syirkah oleh salah satu pihak. 2) Salah satu pihak kehilangan kecakapan untuk bertasharruf (keahlian dalam mengelola harta), baik karena gila atau sebab yang lainnya. 3) Salah satu pihak meninggal dunia, tetapi jika yang bersyirkah lebih dari dua orang, maka yang batal hanya yang meninggal dunia saja. Syirkah berjalan terus bagi anggota-anggota yang masih hidup, apabia ahli waris yang meninggal menghendaki 22 23 Huda, Fiqh..., h. 104 Mardani, Fiqh..., h. 219 turut serta dalam syirkah tersebut, maka dilakukan perjanjian baru bagi ahli waris yang bersangkutan. 4) Salah satu pihak berada di bawah pengampunan, baik karena boros yang terjadi pada waktu perjanjian syirkah tengah berjalan maupun sebab yang lainnya. 5) Modal para anggota syirkah lenyap sebelum dibelanjakan atas nama syirkah. Apabila modal tersebut lenyap sebelum terjadi percampuran harta yang tidak bisa dipisahkan lagi, maka yang menanggung risiko adalah pemiliknya sendiri. Tetapi apabila modal lenyap setelah terjadi percampuran harta, maka hal ini menjadi risiko bersama.24 2. Macam – Macam Kerjasama (Syirkah) Syirkah dibagi menjadi dua jenis yaitu sebagai berikut : a) Syirkah Amlak (sukarela), adalah kerjasama antara dua orang atau lebih yang memiliki benda tanpa melalui akad syirkah. Syirkah ini terbagi menjadi 2 yaitu : 1) Syirkah Ikhtiariyah, adalah syirkah yang timbul dari perbuatan dua orang yang berakad. Misalnya, dua orang dibelikan sesuatu atau dihibahkan suatu benda, dan mereka menerimanya, maka jadilah keduanya berserikat memiliki benda tersebut. 2) Syirkah Jabariyah (paksaan), yaitu syirkah yang timbul dari dua orang atau lebih tanpa perbuatan keduanya. Misalnya, dua orang atau lebih menerima harta warisan, maka para ahli waris berserikat memiliki harta warisan secara otomatis tanpa usaha atau akad.25 b) Syirkah Uqud, adalah ungkapan terhadap akad yang terjadi antara dua orang atau lebih untuk berserikat terhadap harta dan keuntungan. Syirkah ini terbagi menjadi 5 yaitu :26 1) Syirkah Inan, adalah kerjasama antara dua orang atau lebih yang sepakat untuk menjalankan bisnis melalui modal yang mereka miliki dengan ketentuan bagi hasil yang disepakati diawal. Apabila bisnis ini mendapat keuntungan, mereka berbagi hasil sesuai dengan nisbah yang disepakati. Akan tetapi apabila bisnis tersebut mengalami kerugian, tiap-tiap pihak menanggung kerugian bukan berdasarkan nisbah, tetapi berdasarkan porsi kepemilikan modalnya. Dalam syirkah ini porsi kepemilikan saham atau modalnya tidak sama. Bentuk Huda, Fiqh..., h. 109 Rozalinda, Fiqh..., h. 194.. 26 Ibid. h. 195 24 25 syirkah ini pada saat sekarang dapat dilihat pada firma, PT, CV dan koperasi. Masing-masing anggota memasukkan modal atau saham ke dalam perusahaan yang bersangkutan, kemudian dikelola bersama atau oleh salah satu pihak saja dan keuntungan dibagi berdasarkan jumlah saham masing-masing. 27 Adapun syarat dari syirkah inan antara lain sebagai berikut: a) Modal merupakan harta tunai, bukan utang dan tidak pula barang yang tidak ada di tempat. Modal merupakan sarana untuk melakukan transaksi, sedangkan transaksi tidak mungkin dilakukan apabila modalnya berbentuk utang atau tidak ada. b) Modal harus berupa uang seperti dinar, dirham, atau rupiah, bukan berupa barang seperti benda bergerak dan tak bergerak.28 2) Syirkah Mufawadlah, adalah kerjasama antara dua orang atau lebih yang sepakat untuk melakukan suatu bisnis atau usaha dengan persyaratan sebagai berikut: a) Modalnya harus sama. Apabila diantara anggota perserikatan ada yang modalnya lebih besar, maka syirkah itu tidak sah. b) Mempunyai kesamaan wewenang dalam bertindak yang ada kaitannya dengan hukum. Dengan demikian, seseorang yang belum dewasa atau baligh tidak sah dalam anggota perikatan. c) Mempunyai kesamaan dalam hal agama. Dengan demikian, tidak sah berserikat antara orang Muslim dengan non Muslim. d) Masing-masing anggota mempunyai hak untuk bertindak atas nama syirkah (kerjasama).29 3) Syirkah Abdan, adalah kerjasama antara dua orang atu lebih yang sepakat untuk melakukan bisnis atau usaha melalui tenaga yang mereka miliki dengan nisbah bagi hasil yang disepakati diawal. Keuntungan dibagi berdasarkan nisbah, dan kerugian ditanggung bersama secara merata. Misalnya, dua orang akuntan membuka kantor akuntan publik dan secara bersama mereka meminjam uang dari bank.30 Hakim, Pinsip..., h. 107 Rozalinda, Fiqh..., h. 196 29 Mardani, Fiqh..., h. 223 30 Hakim, Pinsip..., h 107 27 28 4) Syirkah Wujuh, adalah kerjasama antara dua orang atau lebih tanpa ada modal. Maksudnya, dua orang atau lebih bekerjasama untuk membeli sesuatu tanpa modal, hanya berdasarkan kepada kepercayaan atas dasar keuntungan yang diperoleh dibagi antara sesama mereka.31 Bentuk perserikatan ini banyak dilakukan oleh para pedagang dengan cara mengambil barang dari grosir atau supplier secara konsinyasi dagang. Kerjasama dagang ini hanya berdasarkan pada rasa kepercayaan, yaitu apabila barang terjual, dua orang yang berserikat tersebut akan membayar harga barang kepada pemilik barang atas dasar keuntungan yang diperoleh dibagi dengan anggota perserikatan.32 5) Syirkah Mudlarabah, adalah kerjasama antara pemilik modal dan seorang pekerja untuk mengelola uang dari pemilik modal dalam suatu usaha tertentu.33 Dalam syirkah ini, salah satu pihak menjadi pemodal dan pihak lain menjadi operator atau pekerja. Keuntungan dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama, kerugian berupa uang ditanggung pemodal dan kerugian berupa tenaga ditanggung operator atau pekerja.34 31 32 33 34 Mardani, Fiqh..., h. 224 Rozalinda, Fiqh..., h. 199 Ghazaly, et al. Fiqh..., h. 134. Hakim, Pinsip..., h. 107.

Judul: Teori Kerjasama Dalam Ekonomi Islam

Oleh: Sofian Ansori


Ikuti kami