Nama: Harpiandi Prodi: Teknik Kimia

Oleh Pian 123

167,4 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Nama: Harpiandi Prodi: Teknik Kimia

MAKALAH PENGERTIAN ILMU HADIS, TUJUAN, SERTA KLASIFIKASINYA Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Ulumul Hadits Dosen Pengampu: Muhtarom, M. Ag. Disusun Oleh: 1. Hafizah Mughni (1804046056) 2. Deniar Andaresta Putri (1804046055) 3. Sheka Aditya Putra P (1804046054) JURUSAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI FAKULTAS USHULUDDIN DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2018 PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG Pada masa rasulullah masih hidup, zaman khulafaur rasyidin dan sebagian besar zaman umayyah sehingga akhir abad pertama hijrah, hadis-hadis nabi tersebar melalui mulut kemulut. Ketika itu umat islam belum memiliki inisiatif untuk menghimpun hadis-hadis nabi yang bertebaran. Mereka merasa cukup dengan menyimpan dalam hafalan yang terkenal kuat. Dan memang diakui oleh sejarah bahwa kekuatan hafalan para sahabat dan tabi’in benar-benar sulit tandingannya. Hadis nabi tersebar ke berbagai wilayah yang luas dibawa oleh para sahabat dan tabi’in ke seluruh penjuru dunia. Para sahabatpun mulai berkurang jumlahnya karena meninggal dunia. Sementara itu usaha pemalsuan terhadap hadis-hadis nabi makin bertambah banyak, baik yang dibuat oleh orang-orang zindik dan musush-musuh islam maupun yang datang dari orang islam sendiri. Yang dimaksud dengan pemalsuan hadis ialah menyandarkan sesuatu yang bukan dari nabi saw kemudian dikatakan dari nabi saw. Berbagai motifasi yang dilakukan mereka dalam hal ini, ada kalanya kepentingan politik seperti yang dilakukan sekte-sekte tertentu setelah adanya konflik fisik (fitnah) antara pro ali dan pro muawiyyah karena fanatisme golongan, madzhab, ekonoi, perdagangan dan lain sebagainya pada masa berikutnya atau unsur kejujuran dan daya ingat para perawi hadis yang berbeda. Oleh karena itu para ulama bangkit mengadakan riset hadis-hadis yang beredar dan meletakkan dasar kaidah-kaidah yang ketat bagi seorang yang meriwayatkan hadis yang nantinya ilmu itu disebut ilmu hadis. II. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian ilmu hadis dirayah dan riwayah? 2. Bagaimana sejarah karakteristik pertumbuhan, pembentukan, dan penghimpunan ulumul hadis ? 3. Apa saja cabang-cabang ilmu hadis? PEMBAHASAN A. Pengertian ilmu hadis dirayah dan riwayah Ulumul Hadis adalah istilah ilmu hadis di dalam tradisi ulama hadis. Ulumul hadis terdiri adas dua kata, yaitu ‘ulum dan Al-hadist. Kata ‘ulum dalam bahasa arab merupakan jamak dari kata ‘ilm yang berarti “ilmu-ilmu” sedangkan al-hadist di kalangan Ulama Hadis berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dari perbuatan, perkataan, taqir, atau sifat.” Dengan demikian, gabungan dari dua kata tersebut mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan hadis nabi SAW.” Sedangkan menurut Prof. Dr. T.M Hasbi Ash-Shiddiqy menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan “Ilmu Hadits” itu ialah: “ilmu yang berpautan dengan hadits.” Definisi ini beeliau kemukakan, mengingat ilmu yang bersangkut paut dengan hadits itu banyak macamnya.1 Pada mulanya, ilmu-ilmu hadis memenag merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, yang berbicara tentang Hadist nabi Saw dan para perawinya, seperti ilmu al-Hadist al-Shahih, ilmu al-mursal, ilmu al-asma wa alkuna, dan lain-lain. Penulisan ilmu-limu hadist secara parsial dilakukan, khusunya, oleh para ulama abad ke-3 H. Ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial tersebut disebut dengan ulumul hadist, karena masing-masing membicarakan tentang hadist dan perawinya. Akan tetapi, pada masa berikutnya, ilmu-ilmuyang terpisah itu mulai digabungkan dan dijadikan satu, serta selanjutnya, dipandang sebagai satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Terhadap ilmu yang sudah digabungkan dan menjadi satu kesatuan tersebut tetap dipergunakan nama ulumul hadist, sebagaimana halnya sebelum disatukan. Jadi, penggunaan lafaz jamak ulumul hadist, setelah mengandung makna mufrad atau tunggal, yaitu ilmu hadist, karena telah terjadi makna perubahan makna lafaz tersebut dari maknanya yang pertama “beberapa ilmu yang terpisah” menjadi nama dari suatu disiplin ilmu yang khusus, yang nama lainnya adalah Mushthalah al-Hadist.2 1. Ilmu Hadits Dirayah Yang dimasud dengan ilmu Hadist Dirayah adalah: “ilmu yang mempelajari tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui hal ihwal sanad, matan, cara-cara menerima dan menyampaikan Hadist, sifat-sifat Rawi dan sebagainya”. Dari penjelasan diatas dapat, maka dapat disimpulkan, bahwa yang menjadi objek pembahasan ilmu hadist Dirayah ini ialah keadaan matan, sanad dan rawi hadist. Sedangkan tujuan utama mempelajari Ilmu Hadist Dirayah ini ialah: untuk mengetahui dan menetapkan tentang maqbul (dapat diterima) dan mardudnya (tertolaknya) suatu hadist Nabi saw. 1 2 Drs. M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits, (Bandung: Angkasa, 1991) h.61 Drs. H. Ahmad Izzan, M.Ag, Ulumul Hadist, (Bandunng: Tafakur) h.94 Dengan demikian, ilmu Hadist Dirayah merupakan mizan (neraca) yang harus dipergunakan untuk menghadapi ilmu hadist Riwayah.3 Menurut Prof. Hasbi, bahwa ilmu hadist Dirayah ini, pada zaman Muaqaddimin dinamai dengan “Ulumul Hadits” dan pada masa yang akhir ini dimasyhurkan dengan nama ‘Ilmu Musthalah”4 2. Ilmu Hadits Riwayah Jumhur ulama memberikan batasan tentang definisi Ilmu Hadits Riwayah, “Suatu Ilmu untuk mengetahui sabda-sabda Nabi, perbuatanperbuatan Nabi, taqrir-taqrir Nabi, dan sifat-sifat beliau”. Dengan kata lain, Ilmu Hadits Riwayah ialah ilmu yang membahas segala sesuatu yang datang dari nabi, baik sabdanya, perbuatannya,taqrirnya dan sebagainya. Dalam ilmu ini tidak dibahas tentang kejanggalan-kejanggalan atau cacatnya matan hadits, tidak dibicarakan juga tentang apakah sanadnya bersambung atau tidak, rawinya adil atau tidak. Dengan demikian yang menjadi objek pembahasan dari ilmu Hadits Riwayah ini adalah, pribadi Nabi dari segi sabdanya, perbuatannya, taqrirnya dan sifat-sifatnya. Tujuan uatama mempelajari Ilmu Hadits Riwayah ini ialah untuk mengetahui segala yang berpautan dengan pribadi nabi dalam usaha memahami dan mengamalkan ajaran beliau guna memperoleh kemenangan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat5 B. Sejarah karakteristik pertumbuhan, pembentukan dan penghimpunan ulumul hadis Pertumbuhan ilmu hadits selalu mengiringi pertumbuhan hadits itu sendiri. Pertumbuhan secara etimologi diartikan hal keadaan tumbuh, diperkembangan. Sedangkan pembentukan dapat diartikan proses, cara, perbuatan membentuk. Dan penghimpunan diartikan sebagai proses,cara, pembuatan menghimpun. Jadi, pertumbuhan ilmu hadis diartikan sebagai perkembangan ilmu hadits mulai dari perintisannya dari tumbuh hingga perkembangnya hingga masa sekarang. Sedangkan pembentukan dan penghimpunan ilmu hadis adalah usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdayaguna terhadap ilmu-ilmu hadits mulai cikal bakalnya hingga hadits bisa menjadi sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, sitematis, luas dan lengkap bahasannya. ilmu hadis secara garis besar dibagi menjadi dua disiplin limu yaitu ilmu hadis riwayah dan ilmu hadis diroyah7 6 3 Drs. M. Syuhudi Ismail,Pengantar Ilmu Hadits, (Bandung: Angkasa, 1991) h.63 Prof. Dr. T. M. Hasbi As-Shiddieqy, Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976) h.15 5 Drs. M. Syuhudi Ismail, Pengantar Ilmu Hadits, (Bandung: Angkasa, 1991) h.62 6 Abdul Majid Khon,Ulum Hadis, (Jakarta:Amzah,2009) h. 78 7 Abdul Majid Khon, Op, Cit., h.69., TM. Hasby As Siddiqieqy, sejarah dan pengantar Ilmu Hadits,h. 128 4 Pembedaan di sini perlu dilakukan karena bahwasanya munculnya disiplin ilmu hadis dirayah tidaklah sama waktu dan pencetusnya. Ilmu Hadis Riwayah, yang selanjutnya disingkat IHR, dipelopori oleh Muhammad bin Syihab Az Zuhry (51 – 124 H). Ia adalah orang pertama yang menghimpun hadits Nabi SAW atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Umar II, memerintah tahun 99 – 102 H/717 – 720 M )8 Sedangkan Ilmu Hadist Diroyah(IHD)/Ilmu Mustholah Hadits/Ilmu Ushul Hadits/Ushul al-Riwayah dipelopori oleh Al Qadli Abu Muhammad Al Hasan bin Abdurrahman bin Khalad Ar Ramahurzuri (w.360 H). Pada dasarnya pertumbuhan, pembentukan, dan penghimpunan ilmu hadis dari masa ke masa banyak di pengaruhi kondisi sosial dan politik pada masanya. Secara jelas sejarah telah mengungkap hal tersebut. Pada zaman Nabi SAW di rasa kurang begitu mendesak/perlu adanya ilmu hadits. Pada zaman sahabat juga sama. Baru pada zaman tabi`in, dengan adanya persoalan politik, maka secara otomatis penghimpunan ilmu hadits perlu dilakukan sebagai bentuk penyelamatan hadits itu sendiri. Begitu juga masa sesudahnya, penghimpunan hadits juga banyak dipengaruhi kondisi sosial budaya dan politik serta kebutuhan umat islam sendiri akan ilmu hadits. Menurut sementara ulama ilmu hadits, pertumbuhan ilmu hadits dibagi menjadi 5 masa/periode dengan karakteristik yang menyertainya. 9Kelima periode itu adalah periode Rasulullah SAW, periode Sahabat, periode Tabi’in, periode Tabi’ Tabi’in, dan periode setelah Tabi’ tabi’in (abad 4 H). No Masa 1. Masa Nabi 2. Masa Sahabat 3. Masa Tabi`in 4. Masa Tabi` Tabi`in 8 Karakter Telah ada dasar-dasar ilmu hadis. Indikator QS. Al-Hujurat (49: 6 dan Al-Baqarah (2): 282 Timbul secara lisan secara eksplisit. Periwayatan harus disertai saksi, bersumpah dan, dan sanad. Telah timbul secara tertulis tetapi Ilmu hadis bergabung belum terpisah dengan ilmu lain. dengan fikih dan ushul fikih, seperti al-umm dan ar risalah Ilmu hadis telah timbul secara Telah muncul kitabterpisah dari ilmu-ilmu lain tetapi kitab ilmu hadis belum menyatu. seperti at-tarikh dan al-i`lal karya Muslim, kitabalasma` wa al kuna Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, lihat juga: Abdul Majid Khon, Op, Cit., h.70 Abdul Majid Khon,Ulum Hadis, (Jakarta:Amzah,2009) h. 78-83. 9 5. Masa setelah Tabi` Berdiri sendiri sebagai ilmu hadis. Tabi`in (abad ke 4 H) dan kitab at-tawarikh karya At-Tirmidzi Ilmu hadis pertama al-muhaddits alfashilbaynaar rawiwa alwa`IkaryaArRamahurmuzi. C. Cabang-cabang ilmu hadis 1. Ilmu dan kaidah hadis tentang rawi dan sanad. a. Ilmu Rijal Al-Hadist Adalah ilmu yang membahas para perawi hadist baik dari sahabat, tabii’in, maupun angkatan-angkatan sesudahnya.10 Yaitu ilmu yang mempelajari tentang tokoh atau orang yang membawa hadis, semenjak dari nabi sampai dengan periwayat terakhir (penulis kitab hadis). Hal yang terpenting di dalam Ilmu rijal al-hadis adalah sejarah kehidupan para tokoh tersebut, meliputi masa kelahiran dan wafat mereka, negeri asal, negeri mana saja tokoh-tokoh itu mengembara dan dalam jangka berapa lama, kepada siapa saja mereka memperoleh hadis dan kepada siapa saja mereka menyampaikan hadis. Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak ragamnya ada yang hanya menerangkang riwayat-riwayat ringkas dari para sahabat saja, ada yang menerangkan riwayat umum para perawi, ada yang menerangkan perawi-perawi yang dipercayai saja, ada yang menerangkan riwayat-riwayat para perawi yang lemah-lemah atau para mudallis atau para pembuat hadist maudhu. b. Ilmu Jarh Wa At-Ta’dil. Adalah ilmu tentang hal ihwal para rawi dalam hal mencatat keaibannya dan menguji keadilannya. Ta’dil artinya menganggap adil seorang rawi yakni memui rawi dengan sifat-sifat yang membawa maqbulnya riwayat. Adapun al jahr atu tajrih artinya mencacatkan, yakni menuturkan sebab-sebab keaiban rawi. Ilmu ini berkaitan dengan hal-hal seperti bid’ah (i’tikad berlawanan dengan dasar syariat), mukhalafah ( perlawanan sifat adil dan dhabith), gholath (kesalahan), jahalahal-hal (tidak diketahui identitasnya), da’wa al-inqitha’ (mendakwa terputusnya sanad). Kaidah tajrih ada dua macam: a) Naqd khariji yaitu kritik eksternal, yakni tentang cara dan sahnya riwayat dan tentang kepastian rawi. b) Naqd dakhili yaitu kritik internal, yakni tentang makna hadis dan syarat keshahihannya. 10 Prof. Dr. Tengku Muhammad Hasbi ash-shidieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang: Pusaka Rizki Putra, 2009), cet. 3, hlm.113 Adapun syarat-syarat pentajrih dan penta’dil adalah berilmu, taqwa, wara’, jujur, menjauhi fanatik golongan, mengetahui sebab-sebab ta’dil dan tajrih (mufassar). 2. Ilmu dan kaidah tentang matan. a. Ilmu Gharib al-hadist. Adalah ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan hadist yang sukar di ketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum. Yang dibahas oleh ilmu ini adalah lafadz yang musykil dan susunan kalimat sukar dipahami, tujuannya untuk menghindarkan penafsiran menduga-duga. Pada masa tabi’in dan abad pertama hijriyah bahasa arab yang tinggi mulai tidak dipahami oleh umum hanya diketahui secara terbatas. Maka orang yang ahli mengumpulkan kata-kata yang tidak dapat dipahami oleh umum tersebut dan kata-kata yang kurang terpakai dalam pergaulan sehari-hari. Adapun beberapa upaya para ulama muhaditsin untuk menafsirkan keghariban matan hadis, antara lain: 1) Mencari dan menelaah hadist yang sanadnya berlainan dengan yang bermatan gharib. 2) Memperhatikan penjelasan dari sahabat yang meriwayatkan hadist atau sahabat lain yang tidak meriwayatkannya. 3) Memperhatikan penjelasan dari rawi selain sahabat. b. Ilmu asbab wurud al-hadist dan tawarikh al-mutun. Asbab adalah jama’ dari kata masdar sabab yang dalam bahada berarti sama dengan kata an-nabl artinya tali atau berarti saluran, maksudnya ialah segala sesuatu yang menghubungkan dengan benda lain sedang dalam istilah ialah segala sesuatu yang mengantarka pada tujuan. Atau dapat di definisikan sebagai suatu jalan menuju terbentuknya suatu hukum itu sendiri. Sedangkan kata “wurud” artinya sampai, muncul atau mengalir seperti ucapan yang berarti ”air yang memancar atau air yang mengalir”. Jadi asbabul wurud al-hadist ialah sesuatu yang membatasi arti dari suatu hadist baik yang berkaitan dengan arti umum atau khusus, muqayyad, atau muthlaq, dinasakh atau seterusnya. Dengan demikian ilmu asbabul wurud al-hadist menurut istilah adalah suatu ilmu yang membahas masalah sebab-sebab nabi saw menyampaikan sabdanya pada saat beliau menuturkannya. Sedang tata cara untuk mengetahui sebabsebab lahirnya hadist hanya bisa diketahui dengan periwayatan. c. Ilmu nasikh wa al-mansukh. Ta’rif ilmu nasikh wa al-mansukh adalah ilmu-ilmu yang membahas hadishadis yang bertentangan dan tidak mungkin diambil jalan tengah. Hukum hadis yang satu menghapus (menasikh) dan hukum hadis yang lain (mansukh). Yang datang dahulu disebut mansukh dan yang muncul belakangan dinamakan nasikh. Nasikh inilah yang berlaku selanjutnya. 3. Ilmu dan kaidah tentang sanad dan matan.11 a. Ilmu ‘ilal al-hadist 11 ibid, hlm.118- 119. Adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi, tidak nyata yang dapat merusakkan hadits. Jadi Ilmu Ilal Al-Hadist adalah ilmu yang membahas tentang suatu illat yang dapat mencacatkan kesahihan hadist. Ilmu Fan al-Mubhamat Adalah ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut di dalam atan atau di dalam sanad. b. Ilmu At-Tashif Wa At-Tahrif Ilmu Tashhif wa al-Tahrif adalah: “Ilmu yang menerangkan Hadis-hadis yang sudah diubah titiknya (musahhaf) dan bentuknya (muharraf)”. Diantara kitab ilmu ini adalah kitab: al-Tashhif wa al-Tahrif, susunan al-Daruquthni (358 H) dan Abu Ahmad al-Askari (283 H). PENUTUP Kesimpulan Ilmu Hadits adalah ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Nabi SAW. Perintis pertama Ilmu Hadits adalah Al Qadi Abu Muhammad ArRamahurmuzy. Pada mulanya, Ilmu Hadits merupakan beberapa ilmu yang masing-masing berdiri sendiri, ilmu-ilmu yang terpisah dan bersifat parsial tersebut disebut dengan Ulumul Hadits, karena masing-masing membicarakan tentang hadits dan para perawinya. Akan tetapi pada masa berikutnya ilmu-ilmu itu digabungkan dan dijadikan satu serta tetap menggunakan nama Ulumul Hadits.

Judul: Nama: Harpiandi Prodi: Teknik Kimia

Oleh: Pian 123


Ikuti kami