Uas Ekonomi Media Pak Guntur

Oleh Hadi Nugroho

169,4 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Uas Ekonomi Media Pak Guntur

Ujian Akhir Semester Ekonomi Media Dosen : Dr. Guntur F. Prisanto SE, SH, MHum. MH Disusun oleh : Valens Antonioni Luhulima (2015.20.0005) Pasca Sarjana Strategic Communication 2015 SEKOLAH TINGGI ILMU KOMUNIKASI INTERSTUDI Jakarta, 2015 Bab 1 Pendahuluan A. Pengertian media massa Pada era globalisasi informasi dapat diperoleh darimana saja, kemajuan teknologi memungkinkan orang untuk dapat mengakses informasi hanya dalam hitungan menit bahkan detik. Informasi dari belahan dunia manapun dapat diperoleh dalam waktu yang relatif singkat. Media massa sendiri memiliki arti sebagai media atau medium yang menyampaikan pesannya kepada massa (mass) atau khalayak ramai. Media Massa memiliki peranan penting dalam masyarakat dalam era globalisasi,media bukan hanya mengambil keuntungan dari segi bisnis tetapi media memiliki fungsi sebagai medium yang menyampaikan berita,hibuan,informasi,dll. “ilmuan komunikasi,Wilbur Scramm,menyebut media massa sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan control sosial.Akan tetapi,kecenderungan dewasa ini memperlihatkan media telah menjadi industri atau institusi ekonomi”(Usman Ks, 2009 : 5). Karena berhubungan dengan massa atau khalayak ramai maka berbisnis di media massa sangat menguntungkan dan merupakan pasar yang mengiurkan bagi para pengusaha atau pemilik modal. Mereka saling bersaing dalam meraih keuntungan bahkan sampai kadang-kadang mengesampingkan kualitas,tetapi satu hal yang pasti para pemilik media massa harus peka terhadap selera pasar/selera khalayak ramai yang selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman. Yang termasuk dalam media massa adalah : Surat Kabar, Majalah, Radio, Televisi, dan Film ini yang dikenal secara umum sebagai lima besar media massa (The Big Five Of Mass Media),dan termasuk media online atau internet. Media-media inilah yang mengambil peran penting dalam informasi massa. Perusahaan media penyiaran berkembang pesat di Indonesia,ada beberapa macam media penyiaran, yaitu : Media cetak seperti koran atau majalah dan media elektronik seperti radio dan televisi. .B. Pengertian Televisi Dan Perkembangannya Televisi sendiri adalah sebuah alat media telekomunikasi yang berfungsi mengirimkan gambar atau pesan dan juga suara,gambar yang diterima pun bisa hitam putih dan pada jaman sekarang berupa gambar berwarna. Kata televisi sendiri merupakan gabungan 2 kata yaitu “tele”yang berasal dari Bahasa Yunani yaitu jauh dan kata “visio” dari Bahasa latin yang berarti penglihatan atau vision. Kotak televisi pertama kali dijual pada tahun 1920 dan berkembangan sampai sekarang. Perkembangan teknologi membuat Tv semakin berkembangan. Sekarang kita bisa menikmati berbagai macam program seperti : program olahraga, program music, religi, infotaiment, berita, dll. Untuk saluran tv juga bermacam-macam perkembangannya di Indonesia dari jaman dahulu kita hanya bisa menikmati TVRI sebagai satu-satunya tv nasional yang dapat kita nikmati,sampai sekarang banyaknya televisi swasta siaran gratis yang salurannya ditangkap melalui antenna UHF/VHF(terestial).Undang-undang yang mengatur siaran tv yang ditangkap melalui UHF/VHF diatur dalam Undang-undang penyiaran no 32 tahun 2002 tentang penyiaran. (dikutip dari id.m.wikipedia.org/wiki/daftar_stasiun_televisi_di_Indonesia) Contoh beberapa stasiun televisi di Indonesia : Mnc group (Rcti,Global Tv,Mnc tv), Indosiar,Trans group (Trans 7, Trans tv), Kompas tv, Metro tv,net tv dll. Ada juga jaringan tv berbayar yaitu saluran televisi yang salurannya hanya bisa ditangkap dengan alat penerima tertentu (receiver/decoder),memakai kabel satelit ataupun terestial,contohnya : Indovision, K vision, First Media dan lain-lain. Untuk tipe televise siaran ada 3 macam,”ada tiga tipe televisi siaran,yaitu televisi swasta atau televisi televisi komersial,televisi public dan televisi Negara. Televisi swasta terdiri atas dua jenis,yaitu televisi swasta independent dan televisi swasta berjaringan”(Usman Ks,2009:84). Sementara untuk jenis televisi berlangganan terdiri dari televisi kabel contoh : First Media,IndosatM2(IM2),televisi satelit contohnya Indovision,Aora Tv,dan televisi IPTV atau televisi berlangganan yang berbasis internet contoh: tvod,svod dan lain-lain. Bisnis media dalam hal ini televisi merupakan bisnis yang menjanjikan,oleh sebab itu banyak stasiun-stasiun televisi yang berkompetisi dan bersaing untuk memperebutkan penonton/audience dan Iklan, persaingan ini yang kadang menyebabkan stasiun tv kadang menyebabkan penurunan dari kinerja ekonomi dan bahkan tak menutup kemungkinan adanya akuisi statiun tv yang kinerja ekonominya lebih baik contohnya: Tv 7 yang akhirnya diambil oleh Trans Tv dan berubah nama menjadi Trans 7. BAB II Faktor dan Elemen-Elemen dalam Perusahaan Media (TV) Banyak faktor-faktor maupun elemen-elemen dalam perusahaan media, dalam hal ini media yang kita teliti adalah televisi. Elemen-elemen ini sangatlah penting dan dapat mempengaruhi sustainability dan profitability bagi perusahaanya,elemen-elemen tersebut adalah : 1. Rating dan Share Struktur pasar industri televisi adalah oligopoli, oligopoli itu sendiri umumnya menawarkan program yang seragam.”Oligopoli adalah struktur pasar ketika terdapat lebih dari satu produsen suatu produk,dan produk yang ditawarkan umumnya seragam”(Usman Ks,2009:85). Misalnya apabila acara dangdut di salah satu televisi banyak dimintai maka umumnya televisi lain akan memproduksi acara dangdut juga demi meraih minat pemirsa, Rating sendiri artinya adalah suatu cara untuk mengukur sukses tidaknya suatu acara televisi, Rating juga yang menentukan keberlangsungan suatu acara. Rating acara adalah persentase penonton program TV tertentu terhadap populasi pada saat tertentu. Rating tidak mengukur kualitas, melainkan hanya mengukur kuantitas keluar-masuk penonton dengan unit waktu tertentu. Sementara share ituadalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel. Rating program tidak mencerminkan atau menjamin kualitas dari suatu program. Rating adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Yang diukur melalui rating ini kuantitas dan bukan kualitas suatu acara.berikut adalah cara menghitung rating: Rating = Jumlah penonton program A x 100 % Populasi Sementara untuk mengukur jumlah besarnya share yaitu: Share = Program Rating x 100 % Total Rating Singkat kata, beda rating dan share yakni, angka rating menghitung jumlah penonton TV pada sebuah acara, sedang share menghitung persentase penonton TV di antara stasiun TV lain. Misal, jika ada 3 stasiun TV dengan populasi 10 ribu dan TV1 mempunyai angka penonton 2 ribu, TV2 seribu, dan TV3 seribu, maka rating TV1 20% dan share-nya 50%; TV2 rating 10%, share 25%; TV3 rating 10% dan share 25%. (dikutip dari http://allaboutduniatv.blogspot.com/2011/12/apaitu-rating-dan-share.html). Sementara lembaga yang menghitung adalah departemen Ac Nielsen. Nielsen Audience Measurement Indonesia telah menyediakan informasi dan pelayanan untuk TV/Koran/Majalah/Radio ke para pemilik media dan industri periklanan sejak 1976 dan pelayanan TAM sejak tahun 1991.Peningkatan Share dan Rating akan mendongkrak penonton suatu program yang akan mendongkrak televisi itu sendiri.”kelak,secara teoritis,jika jumlah penonton suatu televisi siaran terbilang besar yang diukur dengan rating dan share,stasiun televisi yang bersangkutan akan kebanjiran iklan”(Usman Ks, 2009:86). Jadi kesimpulannya adalah rating dan share sangat penting untuk keberlangsungan suatu program dan tv itu sendiri dan juga menghasilkan keuntungan bagi perusahaan media itu sendiri dengan banyaknya penonton dan otomatis akan banyak perusahaan yang memasang iklan pada televisi tersebut. Contohnya: Sebelum acara dahsyat terkena masalah, rating acara tersebut sangatlah tinggi maka dengan sendirinya Trans tv mendapatkan banyak keuntungan bahkan banyak iklan yang rela memasang harga mahal untuk bisa memasang iklan pada jam tersebut. Semakin acara tersebut mengangkat share dan rating maka acara tersebut dapat jam siar yang durasinya kadang diperpanjang,walau kualitas dari acara tersebut menurut banyak orang tidak bermutu. Sayangnya acara tersebut dihentikan karena adanya masalah yang sebelumnya ditegur keras oleh KPI. 2. Selera Konsumen Apabila kita berbicara mengenai televisi itu sendiri maka tidak akan lepas dari pemirsa atau audience. Pemirsa atau audience ini adalah unsur terpenting dari televisi,merekalah yang akan menonton dan akan menilai tayangan itu sendiri.Selera konsumen itu bermacam-macam dan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman,selera konsumen juga dipengaruhi oleh pendidikan,tingkat ekonomi,status sosial dan umur.penting bagi suatu stasiun tv untuk mengetahui selera pasar dan pola piker dalam masyarakat agar produk yang mereka tawarkan dalam hal ini program televisi dapat laku dan televisinya akan ditonton oleh banyak orang dan dengan sendirinya mengangkat rating,share dan mendatangkan banyak iklan.Kadang keinginan televisi untuk memahami dan membaca selera pasar membuat mereka kadang mengesampingkan kualitas suatu tayangan televisi dan semata hanya mengejar rating,acara yang mereka buat kadang hanya bertujuan agar acara tv mereka disenangi khalayak sehingga perusahaannya menjadi berkembang dan mendatangkan banyak keuntungan lewat iklan yang akan berani bayar mahal karena televisi mereka diminati khalayak. 3. Pemilik Media Seperti dibahas diatas kita dapat melihat bahwa bisnis media elektronik, dalam hal ini televisi merupakan bisnis yang menjanjikan dan menggiurkan bagi sebagian pengusaha. Penonton tv juga menempati urutan teratas dibandingkan media-media laiinya.”Data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa sejak tahun 1980-an, lebih banyak orang Indonesia yang menyaksikan televisi secara rutin dibandingkan membaca koran,majalah atau mendengar radio”(Usman Ks,2009:86-87). Ini membuktikan mengapa persaingan dalam kepemilikan televisi swasta di Indonesia meningkat. Berikut adalah beberapa nama pemilik televisi swasta di Indonesia: 1. Chairul Tanjung : Trans TV dan Trans 7 2. Harry Tanoesodibjo : RCTI,Global TV dan MNCTV 3. Eddy kurnadi Sariaatmadja : SCTV dan Indosiar 4. Aburizal Bakrie : ANTV dan Tvone 5. Surya Palloh : MetroTV 6. Wisnutama : Net Tv Berikut contoh logo-logo stasiun tv di Indonesia : Dalam industri media sebenarnya ada tipe kepemilikan media,yaitu: monopoli,oligopoly,dan kompetisi monopolistic,dalam kompetisi monopolistic banyak media yang memproduksi produk sejenis. Untuk di Indonesia itu sendiri kepemilikan media lebih bersifat monopolistic.”Kepemilikan stasiun televisi di Indonesia lebih cenderung bersifat kompetisi monopolistic dalam hal content yang diproduksi” (Usman Ks,2009:24). Sebenarnya tidak semua industri mampu menghadapi persaingan. Bagi yang tidak mampu bersaing biasanya bangkrut atau diakuisisi oleh media lain. Kepemilikan media ini cenderung memiliki sifat konglomerasi yang memiliki baik sisi positif dan negative.Konglomerasi menyebabkan berkurangnya kompetisi atau persaingan media sebagai contoh misalnya sekarang Mnc terdiri dari Rcti,Global tv dan Mnc,Trans corp yang terdiri dari Trans tv dan Trans 7,Surya citra Media yaitu Sctv dan Indosiar,Bakrie group terdiri dari Antv dan TvOne dan Surya Paloh dengan Metro Tv. Walaupun konglomerasi ini memiliki dampak negative seperti memicu konglomerasi,menyebabkan keseragaman content atau isi materi program, melemahkan fungsi control jurnalistik karena terkait kepentingan kepemilikan dan yang keempat menurunya kualitas content media.Tetapi kepemilikan yang berujung ke konglomerasi kepemilikan ini juga dapat membuat perusahaan media menjadi kuat dan bertahan dari terpaan karena dengan mereka merger maka persaingan pun menjadi berkurang dan mereka juga secara tidak langsung mengontrol jurnalis karena ada kepentingan kepemilikan. Konglomerasi kepemilikan ini juga membuat keuangan menjadi lebih kuat dan tentunya akan mendatangkan keuntungan atau profitability perusahaanya karena para pemilik media ini menguasai pasar. 4. Regulasi (UU Penyiaran,Komisi Penyiaran Indonesia,Lembaga Sensor Film) Seperti kita baca diatas bisnis media elektronik terlebih tv merupakan bisnis yang menjanjikan,persaingan antara televisi yang satu dengan yang lainnya pun cukup kuat yang berujung kepada konglomerasi media yang bertujuan untuk bertahan di kompetisi yang keras ini dan sebisa mungkin mendatangkan keuntungan bagi perusahaanya. Oleh sebab itu perlu adanya regulasi atau peraturan yang mengatur agar materi dan isi siaran tetap berbobot dan sesuai dengan moral,dan juga mengatur kepemilikan agar jangan terjadi monopoli yang nantinya akan membunuh usaha-usaha kecil.Apabila amerika memiliki FCC atau The Federal communication commission atau lembaga pemerintah yang mengatur bisnis pertelevisian maka Indonesia memiliki KPI(Komisi Penyiaran Indonesia). Posisi KPI dalam kehidupan kenegaraan berikutnya secara tegas diatur oleh UU Penyiaran sebagai lembaga negara independen yang mengatur hal-hal mengenai penyiaran (UU Penyiaran, pasal 7 ayat 2). Inilah yang membuat KPI sebagai lembaga kuasi negara atau dalam istilah lain juga biasa dikenal dengan auxilarry state institution.sebenarnya KPI sama dengan lembaga Negara laiinnya sebagai contoh KPK,tetapi memang kekuasaanya dibatasi KPK hanya bisa menegur dan mengadukan kepada DPR atau DPRD ketika ada aturan yang dilanggar. Dalam rangka menjalankan fungsinya sebagai lembaga yang berwenang KPI memiliki kewajiban atau tugas untuk menyusun dan mengawasi berbagai peraturan penyiaran yang menghubungkan antara lembaga penyiaran, pemerintah dan masyarakat. Pengaturan ini mencakup semua proses kegiatan penyiaran, mulai dari tahap pendirian, operasionalisasi, pertanggungjawaban dan juga evaluasi program agar berbobot dan tidak hanya mengejar keuntungan sementara dan tidak mementingkan kualitas program. Sementara LSF atau lembaga sensor film adalah sebuah lembaga yang bertugas untuk menyensor segala jenis film baik itu di bioskop maupun di televisi.LSF biasanya memberi surat tanda lulus. Jadi, semua tayangan yang tidak masuk siaran jurnalistik (pemberitaan) atau bukan merupakan siaran langsung, wajib disensor LSF.Contohnya adalah siaran iklan, sinetron atau film misalnya, wajib disensor LSF terlebih dahulu baru layak untuk disiarkan ataupun diberi label rated apakah tayangan itu tayangan untuk kalangan dewasa,anak-anak atau dengan pengawasan. Intinya kewenangan sensor di tv adalah sepenuhnya wewenang LSF sedangkan kpi hanya mengawasi dan menerima laporan dari masyarakat apabila ada program acara yang tidak sesuai ataupun melanggar aturan penyiaran. KPI sendiri menerbitkan regulasi berupa Pedoman Perilaku Penyiaran dan standar program siaran. Undang-undang yang dimiliki Indonesia yang mengatur tentang penyiaran adalah Undang-Undang No. 32 Tahun 2002. Kemudian ada juga Peraturan pemerintah yaitu no 49,50,51 dan 52 pada tahun 2005 yang kemudian menjadi ketentuan pelaksana Undang-undang penyiaran, Peraturan ini mengatur tentang kepemilikan media agar tidak terjadi konflik kepentingan atau monopoli,mengatur tentang saham dan modal. Dengan regulasi ini maka para pemilik media akan selalu berusaha agar memperhatikan kualitas acara yang akan menaikkan nilai perusahaan itu sendiri yang akan meningkatkan income perusahaan dan menghasilkan profit bagi perusahannya itu sendiri. 5. Pemasang Iklan Televisi adalah benda elektronik yang sudah menjadi perangkat biasa di masyarakat,televisi juga dinikmati oleh banyak orang dari kelas sosial yang berbeda,umur yang berbeda. Pada era modern televisi bukan lagi barang mewah atau barang mahal yang susah di dapatkan. Hampir semua lapisan masyarakat sudah mengenal dan memiliki televisi. Mereka menonton tv untuk sekedar menghilangkan penat dari aktifitas sehari-hari dan juga untuk memperoleh informasi.semakin banyak pemirsa yang menonton acara tv maka stasiun yang menyiarkan program tersebut umumnya akan kebanjiran iklan.”Secara teoritis,makin besar jumlah penonton suatu stasiun TV makin banyak iklan yang masuk ke TV tersebut.”(Usman Ks, 2009:88).Di Indonesia televisi juga dinilai adalah media paling tepat bagi pemasang iklan untuk menyampaikan pesan dan menjual produknya.”Di Indonesia,menurut Krishna Sen dan David T.Hill,televisi telah menjadi medium paling ekspansif.Oleh karena itu,produsen dan distributor barang-barang konsumsi memandang televisi sebagai media yang paling efektif dalam menjangkau khalayak”(Usman Ks 2009 : 89). Tarif iklan juga bermacam-macam bergantung pada beberapa faktor seperti sifat televisi,waktu program ditayangkan apakah di waktu-waktu prime time atau non prime time. Rating program juga menentukan harga pemasangan iklan apabila iklan dipasanng mensponsori acara yang ratingnya tinggi maka harga pemasangannya akan lebih mahal,makin besar nama atau mapannya suatu stasiun televisi juga menjadi faktor makin besarnya tarif iklan.Para pemasang iklan tinggal menyesuaikan saja target market dari produk yang mereka tawarkan seperti contohnya: Iklan utramilk,iklan choki-choki,Taro yang dipasang pada Minggu atau sabtu pagi yang penontonya biasa didominasi oleh anak-anak,atau contohnya Iklan Rinso dan Mama Lemon yang dipasang pada siang hari yang pemirsanya didominasi Ibu-ibu. Sebenarnya antara pemasang iklan dan Televisi sebagai media memiliki hubungan bisnis yang saling menguntungkan, Pengiklan menganggap bahwa televisi adalah media yang lebih efektif dibanding media laiinya seperti Koran atau Radio sementara tv sangat bergantung pada iklan sebagai penghasilan.”Banyak media yang tidak bisa hidup tanpa iklan. Televisi siaran di Indonesia,misalnya,sepenuhnya dibiayai iklan”(Usman Ks,2009:144). Jadi dengan keberhasilan televisi mengaet banyak Iklan akan membuat stasiun tv meraup keuntungan dan menjadi perusahaan yang lebih besar. BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Perusahaan media elektronik terutama Televisi merupakan bisnis yang sangat menguntungkan di Indonesia,mengingat televisi merupakan perusahaan media massa yang paling diminati dibandingkan media-media laiinya,mungkin karena Tv dapat mengirimkan pesan melalui Gambar dan suara kepada khalayak luas. Jadi pesan yang diterima oleh khalayak lebih jelas jika dibandingkan oleh media lainnya. Karena bisnis ini merupakan bisnis yang sangat menggiurkan bagi para pebisnis maka perlu ada regulasi yang mengatur untuk mencegah terjadinya persaingan yang menggiring kepada konglomerasi media yang akan merugikan industri atau pebisnispebisnis kecil. Regulasi ini juga mengatur agar perusahaan media dalam hal ini para stasiun-stasiun Tv dapat menjaga tayangan yang ditampilkan jangan semata-mata mengejar keuntungan dan mengesampinkan kualitas atau moral yang terkandung pada program acaranya. Lewat KPI dan LSF maka Televisi dan pemasang Iklan yang akan memasang iklan di tv dituntut untuk selalu memperhatikan norma-norma dan menyajikan tontonan,siaran dan iklan yang berkualitas dan tidak melanggar peraturan yang telah diatur dalam UU. Semoga dengan semakin majunya teknologi,televisi juga ikut menghasilkan tayangan yang bermutu dan berkualitas masyarakatnya/konsumenya yang mendidik dibanding hanya masyarakat memikirkan dan membentuk keuntungan perilaku semata dan keberlangsungan perusahaannya.Pemerintah juga harus memberikan sanksi tegas atau merevisi regulasi yang sekarang berlaku dengan KPI dan LSF sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam mengawal regulasi yang mengatur tentang penyiaran. DAFTAR PUSTAKA : Usman Ks.,Ekonomi Media Pengantar Konsep Dan Aplikasi,Bogor: Ghalia Indonesia,2009 Noor.,Ekonomi Media,Jakata:Pt Raja Grafindo Persada,2010 SUMBER LAIN : id.m.wikipedia.org/wiki/daftar_stasiun_televisi_di_Indonesia

Judul: Uas Ekonomi Media Pak Guntur

Oleh: Hadi Nugroho


Ikuti kami