Tinjauan Teori Ekonomi Makro Mentahan

Oleh Info Pedia

127,3 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tinjauan Teori Ekonomi Makro Mentahan

Konsumsi adalah komponen terbesar pengeluaran agregat (Dernsburg, 1994:71). Konsumsi merupakan pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pembelanjaan. Pembelanjaan masyarakat atas makan, pakaian, dan barangbarang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. Pengeluaran rumah tangga untuk memenuhi kebutuhannya disebut konsumsi rumah tangga (Deliarnov, 1995:72). Dan barang-barang yang di produksi untuk digunakan oleh JURNAL TABULARASA PPS UNIMED Vol.11 No.2, Agustus 2014 Analisis Faktor … (Hotmaria Sitanggang, 145:164) 148 masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dinamakan barang konsumsi Pengaruh PDRB Terhadap Konsumsi Pendapatan merupakan faktor terpenting dan penentu utama (main determinant) dari konsumsi (Nanga, 2005:123). Teori yang dikemukakan oleh Keynes dinamakan absolute income hypothesis atau hipotesis pendapatan mutlak didasarkan atas hukum psikologis yang mendasar tentang konsumsi yang menyatakan apabila pendapatan mengalami kenaikan maka konsumsi juga akan JURNAL TABULARASA PPS UNIMED Vol.11 No.2, Agustus 2014 Analisis Faktor … (Hotmaria Sitanggang, 145:164) 151 mengalami kenaikan (Nanga, 2005:109). Ciri-ciri penting dari konsumsi rumah tangga dalam teori pendapatan mutlak tersebut yaitu bahwa faktor terpenting yang menentukan besarnya pengeluaran rumah tangga baik perorangan maupun keseluruhan adalah pendapatan (Herlambang, 2001:211). Fungsi konsumsi menunjukkan terdapat hubungan positif antara tingkat disposible income dalam perekonomian dengan jumlah belanja konsumsi dimana faktor lain yang mempengaruhi konsumsi diasumsikan konstan (Mc earchern, 2000:174). Kajian ekonomi juga telah menunjukkan bahwa pendapatan merupakan penentu utama dari konsumsi (Samuelson, 2004:128). Berdasarkan latar belakang dan uraian teoritis yang telah dipaparkan diatas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah : Produk Domestik Regional Bruto, dan Jumlah Penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Konsumsi, sedangkan Suku Bunga Deposito dan Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap konsumsi di Provinsi Sumatera Utara, cateris paribus. 2. Pembahasan 1. Pengaruh Konsumsi, Investasi, Pengeluaran Pemerintah, dan Net Ekspor Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol. I, No. 02 187 Hipotesis alternatif pada persamaan pertama dalam penelitian ini terbukti diterima. Dengan demikian, konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan net ekspor berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Secara parsial, konsumsi memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Terdapatnya pengaruh yang signifikan dan positif antara konsumsi terhadap pertumbuhan ekonomi mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia ditentukan oleh konsumsi. Apabila konsumsi mengalami peningkatan maka pertumbuhan ekonomi juga akan mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan terjadinya peningkatan konsumsi berarti telah terjadi peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa. Terjadinya peningkatan permintaan terhadap barang dan jasa akan memaksa perekonomian untuk meningkatkan produksi barang dan jasa. Peningkatan produksi barang dan jasa akan menyebabkan peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila konsumsi mengalami penurunan maka pertumbuhan ekonomi juga akan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh terjadinya penurunan konsumsi berarti telah terjadinya penurunan permintaan terhadap barang dan jasa. Penurunan ini akan mengakibatkan perekonomian menurunkan produksi barang dan jasa. Penurunan produksi barang dan jasa akan menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini sesuai dengan teori Keynes dalam Mankiw (2006) juga menjelaskan konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan disposibel saat ini. Kemudian, investasi secara parsial juga memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kenaikan investasi akan memicu kenaikan pertumbuhan ekonomi karena kenaikan investasi mengindikasikan telah terjadinya kenaikan penanaman modal atau pembentukan modal. Kenaikan penanaman modal atau pembentukan modal akan berakibat terhadap peningkatan produksi barang dan jasa di dalam perekonomian. Peningkatan produksi barang dan jasa ini akan menyebabkan peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila terjadi penurunan investasi maka PDB juga akan mengalami penurunan karena penurunan investasi mengindikasikan telah terjadinya penurunan penanaman modal Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol. I, No. 02 188 atau pembentukan modal. Penurunan penanaman modal atau pembentukan modal ini akan mengakibatkan perekonomian menurunkan produksi barang dan jasa. Penurunan produksi barang dan jasa akan menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini sesuai dengan teori Samuelson dan Nourdhous (2004), investasi merupakan suatu hal penting dalam membangun ekonomi karena dibutuhkan sebagai faktor penunjang di dalam peningkatan proses produksi. Selanjutnya, secara parsial pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Terjadinya peningkatan pengeluaran pemerintah misalnya untuk penyediaan atau perbaikan infrastruktur maka proses produksi barang dan jasa akan semakin lancar. Hal ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan produksi barang dan jasa. Peningkatan produksi barang dan jasa ini akan menyebabkan peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi. Begitu sebaliknya, apabila pengeluaran pemerintah mengalami penurunan sehingga masalah infrastruktur tidak dapat diatasi akan mengakibatkan proses produksi barang dan jasa menjadi terhalang. Hal ini akan berdampak terhadap penurunan produksi barang dan jasa. Penurunan produksi barang dan jasa akan menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini sesuai dengan teori Mankiw (2006) dan Fisher (2008) yang berarti pengeluaran pemerintah merupakan fungsi dari pertumbuhan ekonomi. Begitu juga dengan net ekspor, net ekspor pun memiliki pengaruh yang signifikan dan positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Apabila ekspor mengalami peningkatan maka produksi barang dan jasa juga akan mengalami peningkatan karena net ekspor yang meningkat mengindikasikan permintaan terhadap barang dan jasa di luar negeri lebih besar dari pada permintaan barang luar negeri di dalam negeri. Oleh karena itu, perekonomian akan meningkatkan jumlah produksi barang jasa. Peningkatan produksi barang dan jasa ini akan menyebabkan peningkatan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, apabila net ekspor mengalami penurunan dikarenakan terjadinya penurunan permintaan terhadap barang dan jasa di luar negeri sehingga impor lebih besar dari pada ekspor dan hal ini akan mengakibatkan penurunan produksi barang dan jasa. Penurunan produksi barang dan jasa ini menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini sejalan dengan Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol. I, No. 02 189 Mankiw (2006) yang menyatakan bahwa ekspor netto sangat berpengaruh bagi perekonomian di Indonesia. Dimana net ekspor dapat menjadi pendorong bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hasil penelitian ini sesuai dengan model makroekonomi yang dikembangkan oleh Keynes (Mankiw:2006). Dimana Y = C + I + G + X–M. Terjadinya kenaikan pada konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, net ekspor akan menyebabkan kenaikan produksi barang dan jasa. Kenaikan produksi barang dan jasa akan menyebabkan peningkatan terhadap PDB. PDB yang meningkat akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi. Begitu sebaliknya, terjadinya penurunan pada konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, serta net ekspor akan menyebabkan penurunan produksi barang dan jasa. Penurunan produksi barang dan jasa akan menyebabkan penurunan terhadap PDB. PDB yang menurun akan menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi. 2. Pengaruh Suku Bunga, Inflasi, dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Investasi di Indonesia Hipotesis alternatif pada persamaan kedua dalam penelitian ini semua diterima. Dimana suku bunga, inflasi dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap investasi di Indonesia. Jadi secara parsial, suku bunga dan pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap investasi di Indonesia. Apabila inflasi, mengalami peningkatan maka investasi di Indonesia akan mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan inflasi yang meningkat mengindikasikan adanya ketidakstabilan harga. Ketidakstabilan (return on investment), karena suku bunga adalah biaya yang harus dikeluarkan dalam berinvestasi. Sedangkan sebaliknya, apabila inflasi mengalami penurunan mengindikasikan bahwa harga-harga dapat dikendalikan dengan baik atau terciptanya kestabilan harag. Kondisi ini akan berdampak terhadap penurunan suku bunga sehingga akan meningkatkan pengembalian investasi. Oleh karena itu, penurunan inflasi akan meningkatkan investasi. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori ekspansi permintaan agregat kasus klasik (Dornbusch:2008) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang negatif Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol. I, No. 02 190 antara inflasi dengan investasi yang artinya kenaikan inflasi akan menurunkan investasi. Sedangkan pada teori ekspansi permintaan agregat kasus klasik, menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara inflasi dengan investasi yang mengartikan kenaikan inflasi akan mendorong aggregate demand. Dimana salah satu komponennya adalah investasi. Sementara itu, suku bunga secara parsial berpengaruh signifikan dan negatif terhadap investasi di Indonesia. Terdapatnya pengaruh yang signifikan dan negatif antara suku bunga terhadap investasi mengindikasikan bahwa investasi di Indonesia ditentukan oleh suku bunga. Terjadinya peningkatan suku bunga maka investasi akan mengalami penurunan. Begitu sebaliknya, apabila suku bunga mengalami penurunan maka investasi akan mengalami peningkatan karena biaya dari investasi mengalami penurunan. Hal ini sejalan dengan teori Case dan Fair (2007) menyatakan bahwa ada hubungan terbalik antara investasi yang direncanakan dengan tingkat bunga. Disamping itu, secara parsial pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan dan positif terhadap investasi di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwasanya investasi dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi. Keadaan ini disebabkan karena terjadinya kenaikan peertumbuhan ekonomi akan berdampak pada kenaikan investasi karena pertumbuhan ekonomi yang meningkat mengartikan bahwa perekonomian di dalam negara tersebut telah tumbuh dan berekspansi sehingga hal ini merupakan suatu peluang yang baik melakukan investasi. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori akselator (Nanga: 2005) yang menyatakan bahwa terjadinya peningkatan output (PDB) akan meningkatkan investasi. Peningkatan PDB mengakibatkan terjadinya peningkatan pada investasi, karena output yang meningkat menunjukkan adanya gairah dalam perekonomian sehingga investasi akan lebih baik. 3. Pengaruh Pendapatan Disposibel, Konsumsi Sebelumnya, dan Suku Bunga Terhadap Konsumsi di Indonesia Hipotesis alternatif pada persamaan ketiga dalam penelitian ini terbukti diterima. Dengan demikian pendapatan disposibel, konsumsi sebelumnya, dan suku bunga berpengaruh signifikan terhadap konsumsi di Indonesia. Secara parsial, Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol. I, No. 02 191 pendapatan disposibel berpengaruh positif dan signifikan tehadap konsumsi di Indonesia. Adanya pengaruh positif dan signifikan ini antara pendapatan disposibel dan konsumsi mengartikan bahwa konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan disposibel. Kondisi ini disebabkan terjadinya kenaikan daya beli. Daya beli yang semakin tinggi akan berdampak terhadap peningkatan konsumsi. Sebaliknya, penurunan pendapatan disposibel akan mengakibatkan penurunan terhadap konsumsi sebab daya beli akan semakin berkurang. Di samping itu, penelitian ini sesuai dengan teori Keynes (Mankiw: 2003) yang menyatakan bahwasanya konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan disposibel. Kemudian, konsumsi periode sebelumnya berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi di Indonesia. Terdapatnya pengaruh yang signifikan antara konsumsi periode sebelumnya dengan konsumsi menandakan bahwa konsumsi dipengaruhi oleh konsumsi sebelumnya. Dimana, apabila konsumsi periode sebelumnya mengalami peningkatan karena adanya suatu harapan dalam mengkonsumsi apabila konsumsi periode sebelumnya mengalami peningkatan. Sebaliknya, apabila konsumsi periode sebelumnya mengalami penurunan maka konsumsi periode selanjutnya juga akan mengalami penurunan karena adanya suatu pesimisme dalam mengalami mengkonsumsi apabila konsumsi periode sebelumnya mengalami penurunan. Penelitian ini sesuai denga teori Dornbusch (2008) konsumsi hampir dapat diprediksi dengan sempurna dari konsumsi periode sebelumnya ditambah penerimaan tambahan untuk pertumbuhannya, jika dilihat dari konsumsi suatu periode dipengaruhi oleh konsumsi sebelumnya. Di samping itu, suku bunga berpengaruh signifikan terhadap konsumsi di Indonesia. Terdapatnya pengaruh yang signifikan antara suku bunga terhadap konsumsi mengartikan bahwasanya konsumsi dipengaruhi oleh suku bunga. Hal ini dikarenakan suku bunga memberikan pengaruh kepada masyarakat yang berpenghasilan tinggi. Masyarakat yang berpenghasilan tinggi tentunya mempunyai tabungan dan deposito yang cukup dilembaga perbankan. Terjadinya peningkatan suku bunga tentunya akan berpengaruh terhadap konsumsi mereka karena mereka ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar berupa kenaikan suku bunga daripada Jurnal Kajian Ekonomi, Januari 2013, Vol. I, No. 02 192 mereka harus mengkonsumsinya. Sedangkan masyarakat berpenghasilan rendah, tentunya mempunyai sedikit tabungan dan bahkan tidak mempunyai tabungan. Oleh karena itu, peningkatan suku bunga tentunya tidak akan mempengaruhi pola konsumsi mereka. Hal ini sesuai dengan teori Fisher (2008) menyatakan bahwa kenaikan tingkat suku bunga dapat menyebabkan kenaikan atau pun penurunan konsumsi. A. Landasan Teori Konsep konsumsi, yang merupakan konsep yang di Indonesiakan dari bahasa Inggris ”Consumtion”. Konsumsi adalah pembelanjaan atas barangbarang dan jasajasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pembelanjaan tersebut. Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan barangbarang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. Barangbarang yang di produksi untuk digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi.(Dumairy, 1996) Fungsi konsumsi adalah suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan di antara tingkat konsumsi rumah tangga dalam perekonomian dengan pendapatan nasional (pendapatan disposebel) perekonomian tersebut. Fungsi konsumsi dapat dinyatakan dalam persamaan : Fungsi konsumsi ialah : C = a + bY Dimana a adalah konsumsi rumah tangga ketika pendapatan nasional adalah 0, b adalah kecondongan konsumsi marginal, C adalah tingkat konsumsi dan Y adalah tingkat pendapatan nasional. Ada dua konsep untuk mengetahui sifat hubungan antara pendapatan disposebel dengan konsumsi dan pendapatan diposebel dengan tabunga kosep kecondongan mengkonsumsi dan kecondongan menabung. Kecondongan mengkonsumsi dapat dibedakan menjadi dua yaitu kecondongan mengkonsumsi marginal dan kecondongan mengkonsumsi ratarata. Kencondongan mengkonsumsi marginal dapat dinyatakan sebagai MPC (berasal dari istilah inggrisnya Marginal Propensity to Consume), dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara pertambahan konsumsi (ΔC) yang dilakukan dengan pertambahan pendapatan disposebel (ΔYd) yang diperoleh. Nilai MPC dapat dihitung dengan menggunakan formula : Kencondongan mengkonsumsi ratarata dinyatakan dengan APC (Average Propensity to Consume), dapat didefinisikan sebagai perbandingan di antara tingkat pengeluaran konsumsi (C) dengan tingkat pendapatan disposebel pada ketika konsumen tersebut dilakukan (Yd). Nilai APC dapat dihitung dengan menggunakan formula : 6. Konsep Konsumsi Dalam ilmu makroekonomi (Samuelson, 1995:123) konsumsi adalah jumlah seluruh pengeluaran perorangan atau negara untuk barangbarang konsumsi selama suatu periode tertentu. Konsumsi berarti perbelanjaan yang dilakukan oleh rumah tangga ke atas barangbarang akhir dan jasajasa dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan perbelanjaan tersebut. Pengertian konsumsi dibedakan menjadi dua yaitu konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah, golongan dari konsumsi rumah tangga yaitu apabila suatu rumah tangga membeli peralatan rumah seperti meja makan dan tempat tidur. Sedangkan yang termasuk golongan dari konsumsi pemerintah, apabila pemerintah membeli kertas, alatalat tulis dan peralatan kantor (Sukirno, 2000:337). Menurut Partadireja dalam Andrianni dalam Dian (2007) konsumsi dapat diartikan sebagai bagian pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk membiayai pembelian aneka jasa dan kebutuhan lainnya. Dalam kenyataan, besarnya konsumsi berubahubah sesuai dengan naik turunnya pendapatan keluarga. Hal ini dapat diartikan bahwa konsumsi selalu berhubungan dengan tingkat pendapatan, apabila tingkat pendapatan meningkat maka konsumsi akan meningkat, sebaliknya apabila pendapatan menurun maka konsumsi akan menurun. Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu faktor komponen terbesar dalam GNP karena memiliki kontribusi sekitar 6075 persen dari pendapatan nasional melebihi sumbangan komponenkomponen lain yang menyusun GNP yaitu investasi, pengeluaran pemerintah dan eksporimpor (Sukirno, 2000:338). Selain itu konsumsi juga memiliki peranan penting untuk menganalisis ekonomi dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Dalam analisis jangka panjang, konsumsi memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi yaitu dapat menentukan tingkat tabungan. Model pertumbuhan Solow menunjukan bahwa tingkat tabungan (saving rate) adalah penentu utama the steadystate capital stock dan kemakmuran perekonomian. Peranan konsumsi dalam jangka pendek yaitu mengenai permintaan agregat, karena pangsa konsumsi terhadap GNP sangat besar sehingga fluktuasi pada konsumsi menjadi penyebab utama terjadinya resesi dan shocks pada ekonomi seperti dalam model ISLM dan nilai MPC adalah penentu pelipat kebijakan fiskal (Herlambang, 2001:210). 2. Teori Konsumsi 7. Teori Konsumsi John Maynard Keynes Dalam teorinya Keynes mengandalkan analisis statistik, dan juga membuat dugaandugaan tentang konsumsi berdasarkan introspeksi dan observasi casual. Pertama dan terpenting Keynes menduga bahwa, kecenderungan mengkonsumsi marginal (marginal propensity to consume) jumlah yang dikonsumsi dalam setiap tambahan pendapatan adalah antara nol dan satu. Kecenderungan mengkonsumsi marginal adalah krusial bagi rekomendasi kebijakan Keynes untuk menurunkan pengangguran yang kian meluas. Kekuatan kibijakan fiskal, untuk mempengaruhi perekonomian seperti ditunjukkan oleh pengganda kebijakan fiskal muncul dari umpan balik antara pendapatan dan konsumsi. Kedua, Keynes menyatakan bahwa rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang disebut kecenderungan mengkonsumsi ratarata (avarage prospensity to consume), turun ketika pendapatan naik. Ia percaya bahwa tabungan adalah kemewahan, sehingga ia barharap orang kaya menabung dalam proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan mereka ketimbang si miskin. Ketiga, keynes berpendapat bahwa pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki peranan penting. Keynes menyatakan bahwa pengaruh tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori. Kesimpulannya bahwa pengaruh jangka pendek dari tingkat bunga terhadap pengeluaran individu dari pendapatannya bersifat sekunder dan relatif tidak penting.Berdasarkan tiga dugaan ini,fungsi konsumsi keynes sering ditulis sebagai (N.G Mankiw, 2003 : 425426) C = Ĉ + cY, C > 0, 0 < c < 1 Keterangan : C = konsumsi Y = pendapatan disposebel Ĉ = konstanta c = kecenderungan mengkonsumsi marginal Secara singkat di bawah ini beberapa catatan mengenai fungsi konsumsi Keynes : 1. Variabel nyata adalah bahwa fungsi konsumsi Keynes menunjukkan hubungan antara pendapatan nasional dengan pengeluaran konsumsi yang keduanya dinyatakan dengan menggunakan tingkat harga konstan. 2. Pendapatan yang terjadi disebutkan bahwa pendapatan nasional yang menentukan besar kecilnya pengeluaran konsumsi adalah pendapatan nasional yang terjadi atau current national income. 3. Pendapatan absolute disebutkan bahwa fungsi konsumsi Keynes variabel pendapatan nasionalnya perlu diinterpretasikan sebagai pendapatan nasional absolut, yang dapat dilawankan dengan pendapatan relatif, pendapatan permanen dan sebagainya. 4. Bentuk fungsi konsumsi menggunakan fungsi konsumsi dengan bentuk garis lurus. Keynes berpendapat bahwa fungsi konsumsi berbentuk lengkung. (Soediyono Reksoprayitno dalam brilian, 2008: 21) Gambar 2 . 1 Fungsi Konsumsi Keynes C Yd = C C0 A O 450 Yd Dari gambar 1.1 menunjukan mengenai ciriciri atau kesimpulan dari fungsi konsumsi rumah tangga. Kurva C0 yang semakin menanjak menunjukan semakin tinggi pendapatan akan menyebabkan konsumsi yang lebih tinggi. Pertambahan konsumsi yang lebih kecil dari pertambahan pendapatan (nilai MPC positif tetapi kurang dari 1) ditunjukan oleh kecondongan kurva C yang tidak melebihi 45 derajat dan mengakibatkan fungsi C selalu memotong garis Yd = C. Konsumsi otonomi atau konsumsi yang tidak ditentukan oleh pendapatan disposebel karena memiliki tabungan atau kekayaan, ditunjukan oleh nilai a pada sumber tegak. Faktorfaktor yang Mempengaruhi Konsumsi Tingkat pendapatan bukanlah satusatunya faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat, terdapat beberapa faktor lain diluar pendapatan yang juga menentukan jumlah pengeluaran yang digunakan untuk konsumsi masyarakat. Sobri dalam Andrianni dalam Dian (2007) mengemukakan beberapa faktor yang juga berpengaruh terhadap pengeluaran konsumsi masyarakat antara lain: 4. Distribusi Penghasilan Tambahan penghasilan mempunyai arti yang berbeda bagi beberapa orang berdasarkan status sosialnya. Bagi orang yang berpendapatan tinggi, tambahan penghasilan akan lebih banyak digunakan untuk menambah tabungannya, sedangkan bagi beberapa orang dengan penghasilan yang rendah maka tambahan pengahsilan tersebut akan digunakan untuk menambah konsumsi. 5. Jumlah Penduduk Besarnya jumlah penduduk akan berpengaruh pada pengeluaran konsumsi masyarakat. Suatu perekonomian yang penduduknya relatif banyak, pengeluarannya untuk konsumsi akan lebih besar, sebaliknya perekonomian yang memiliki penduduk relatif sedikit maka pengeluarannya untuk konsumsi lebih sedikit. 6. Banyaknya Kekayaan Masyarakat yang berwujud (Asset Liquid) Banyaknya alat liquid yang tersedia juga merupakan faktor lain yang mempengaruhi konsumsi, misalnya: tabungan, uang tunai, obligasi dan alinlain. Semua alat liquid trsebut dapat segera diuangkan untuk menambah konsumsi. 7. Banyaknya Barangbarang tahan lama dalam masyarakat Barangbarang konsumsi tahan lama seperti rumah, mobil, televisi dan lainlain yang dimiliki oleh masyarakat dapat menambah pengeluaran konsumsi karena semakin banyak pendapatan yang dikeluarkan untuk barang kebutuhan konsumsi namun juga dapat mengurangi pengeluaran konsumsi karena di masa yang akan datang dapat menambah penghasilan. 8. Sikap masyarakat terhadap kehematan Perilaku dan kebiasaan seseorang sangat mempengaruhi pengeluaran konsumsi misalnya kebiasaan berhemat. Sikap masyarakat terhadap penghematan akan mengurangi pengeluaran konsumsi, seseorang lebih memilih untuk menyimpan uang dalam bentuk tabungan dan asuransi daripada membelanjakannya. Menurut Suparmoko (1998:7981) terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi konsumsi selain dari pendapatan, meliputi: 1 Selera Konsumsi masingmasing individu berbeda meskipun individu tersebut mempunyai umur dan pendapatan yang sama, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan selera pada tiap individu. 2. Faktor sosial ekonomi Faktor sosial ekonomi misalnya umur, pendidikan, dan keadaan keluarga juga mempunyai pengaruh terhadap pengaluaran konsumsi. Pendapatan akan tinggi pada kelompok umur muda dan mencapai puncaknya pada umur pertengahan dan akhirnya turun pada umur tua. 3. Kekayaan Kekayaan secara eksplisit maupun implisit sering dimasukan dalam fungsi agregat sebagai faktor yang menentukan konsumsi. Seperti dalam pendapatan permanen yang dikemukakan oleh Friedman, Albert Ando dan Franco Modigliani menyatakan bahwa hasil bersih dari suatu kekayaan merupakan faktor penting dalam menetukan konsumsi. Beberapa ahli ekonomi yang lain memasukan aktiva lancar sebagai komponen kekayaan sehingga aktiva lancar memainkan peranan yang penting pula dalam menentukan konsumsi. 4. Keuntungan atau kerugian kapital Keuntungan kapital yaitu dengan naiknya hasil bersih dari kapital akan mendorong tambahnya konsumsi, selebihnya dengan adanya kerugian kapital akan mengurangi konsumsi. 5. Tingkat bunga Ahliahli ekonomi klasik menganggap bahwa konsumsi merupakan fungsi dari tingkat bunga. Khususnya mereka percaya bahwa tingkat bunga mendorong tabungan dan mengurangi konsumsi. 6. Tingat harga Sejauh ini dianggap konsumsi riil merupakan fungsi dari pendapatan riil. Oleh karena itu naiknya pendapatan nominal yang disertai dengan naiknya tingkat harga dengan proposi yang sama tidak akan merubah konsumsi riil. Faktorfaktor yang mempengaruhi pengeluaran konsumsi yang disebutkan dalam Sukirno (1995:105106) adalah sebagai berikut: 1. Kekayaan Kekayaan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap konsumsi otonomi. Seseorang yang miskin hanya menggunakan pendapatannya untuk mencukupi kebutuhan seharihari tanpa memikirkan keinginan memiliki barang mewah. Sedangkan orang kaya kelebihan pendapatan yang dimilikinya akan dibelanjakan untuk barang mewah. 2. Ekspektasi Ekspektasi mengenai keadaan di masa datang mempengaruhi konsumsi rumah tangga. Keyakinan di masa datang akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi akan mendorong rumah tangga meningkatkan konsumsinya di masa kini. Keadaan ekonomi yang diharapkan dan inflasi yang diharapkan menjadi pendorong meningkatkan konsumsi. 3. Jumlah penduduk Negara yang memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit akan berpengaruh peda pengeluaran konsumsi yang sedikit pula. Sebaliknya, negara dengan penduduk banyak maka pengeluaran untuk konsumsinya pu banyak juga. 4. Suku bunga Suku bunga merupakan salah satu faktor yang juga mempengaruhi perubahan konsumsi. Apabila suku bunga naik maka tabungan juga naik meskipun pendapatan tidak berubah. 5. Tingkat harga Pada tingkat harga yang tinggi maka seseorang akan lebih mengurangi proporsi pengeluaran untuk konsumsinya dan sebaliknya, pada tingkat harga yang rendah konsumen akan memenuhi kepuasan dengan mengkonsumsi sesuai anggaran yang dimiliki. 6. Tersedia tidaknya dana pensiun yang mencukupi. Program dana pensiun sudah dijalankan di berbagai negara. Apabila pendapatan dari pensiun besar jumlahnya, para pekerja tidak terdorong untuk melakukan tabungan yang banyak pada masa bekerja dan ini menaikkan tingkat konsumsi. Sebaliknya apabila pendapatan pensiun sebagai jaminan hidup dihari tua sangat tidak mencukupi, masyarakat cenderung akan menabung lebih banyak ketika mereka bekerja. Tabel 2.1 Expected Sign Masing – masing Variabel : Variabel Koefisien Expected Sign Dasar / Konsep Teori Pendapatan Riil X1 Positif Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh keynes, yaitu pengeluaran konsumsi masyarakat ditentukan oleh tingkat pendapatan siap pakai (disposable income) masyarakat yang bersangkutan. Bilamana pendapatan naik, maka konsumsi pun akan naik walaupun tidak sebanyak dengan kenaikan pendapatan Inflasi X2 Negatif Sesuai dengan teori, yang menyatakan bahwa Inflasi memiliki hubungan yang kuat, dimana jika hargaharga barang dan jasa naik dan terjadi inflasi, maka akan menyebabkan turunnya nilai riil dari pendapatan sehingga melemahkan daya beli masyarakat terutama terhadap produksi dalam negeri sehingga dapat berdampak pada menurunnya konsumsi masyarakat. Suku Bunga Riil X3 Negatif sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat bunga, semakin besar pula jumlah uang yang ditabung sehingga semakin kecil uang yang dibelanjakan untuk konsumsi Hubungan Konsumsi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Konsumsi merupakan indikator utama perhitungan terhadap agregat output yang dihasilkan suatu negara. Di mana konsumsi merupakan penyumbang terbesar di dalam perhitungan pendapatan nasional bagi suatu negara atau daerah. Konsumsi pada umumnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu masyarakat, swasta dan pemerintah di mana konsumsi masyarakat merupakan penyumbang terbesar konsumsi keseluruhan tersebut. Melalui persamaan keseimbangan perekonomian terbuka dapat dilihat hubungan antara konsumsi dengan pertumbuhan ekonomi melalui agregat pendapatan nasional bersifat positif. Di mana peningkatan agregat konsumsi masyarakat akan ikut menambah pendapatan nasional yang akan berdampak langsung terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi suatu negara atau daerah tersebut. FUNGSI KONSUMSI (C) Teori Konsumsi Keynes baru muncul pada saat masa Great Depression tahun 19291930. Seperti yang telah dijelaskan diatas, teori ini menentang teori lama, yaitu teori ekonomi klasik. Teori ekonomi klasik menganut paham yang dicetuskan oleh J.B. Say, “Supply creates its own demand”, Penawaran menciptakan permintaannya sendiri. Keynes menolak pendapat yang membuat pemerintah yang sebenarnya bisa membenahi dan menghentikan depresi, tidak berbuat apaapa karena teori ini. Teori Konsumsi Keynes menyatakan bahwa Pengeluaran seseorang untuk konsumsi dan tabungan dipengaruhi oleh pendapatannya. Semakin besar pendapatan seseorang maka akan semakin banyak tingkat konsumsinya pula, dan tingkat tabungannya pun akan semakin bertambah. dan sebaliknya apabila tingkat pendapatan seseorang semakin kecil, maka seluruh pendapatannya digunakan untuk konsumsi sehingga tingkat tabungannya nol. Fungsi konsumsi adalah suatu fungsi yang menggambarkan hubungan antara tingkat konsumsi rumah tangga dengan pendapatan nasional dalam perekonomian. Teori Konsumsi Keynes terkenal dengan teori konsumsi dengan Hipotesis Pendapatan Absolut (Absolute Income Hypothesis) yang pada intinya menjelaskan bahwa konsumsi seseorang dan atau masyarakat secara absolut ditentukan oleh tingkat pendapatan, kalau ada faktor lain yang juga menentukan, maka menurut Keynes semuanya tidak terlalu berpengaruh. Teori Konsumsi Keynes didasarkan pada 3 postulat, yaitu: 1. Konsumsi meningkat apabila pendapatan meningkat, akan tetapi besarnya peningkatan konsumsi tidak akan sebesar peningkatan pendapatan, oleh karenanya adanya batasan dari Keynes sendiri yaitu bahwa kecenderungan mengkonsumsi marginal = MPC (Marginal Propensity to Consume) adalah antara nol dan satu, dan pula besarnya perubahan konsumsi selalu diatas 50% dari besarnya perubahan pendapatan (0,5

Judul: Tinjauan Teori Ekonomi Makro Mentahan

Oleh: Info Pedia


Ikuti kami