Skeptisme Ekonomi Global, Bawa Manfaat?

Oleh Bocut Amarina

88,7 KB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Skeptisme Ekonomi Global, Bawa Manfaat?

Bocut A. M./071211232005 SKEPTISME EKONOMI GLOBAL, BAWA MANFAAT? Kehidupan manusia saat ini memasuki lembaran baru. Bukanlah dalam pengertian benar- benar baru namun lebih kepada penerusan dari masa lalu yang sekiranya kurang membawa prinsip manusia modern. Dalam proses manusia memenuhi kebutuhannya sebagai manusia yang modern, peradaban kini telah menemui era binar yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Pemenuhan kebutuhan ini berawal dari sifat dasar manusia yang tidak pernah puas, termasuk dalam usaha konsumtif dan tingkat kemewahannya. Alat pemuas kebutuhan manusia yang sebagian besar didapatkan dari sumber daya alam pun menemui kendala, yaitu sumber daya yang akan habis sedangkan kepuasan manusia tidak akan ada akhirnya, selalu mencari yang baru dan sebanyak- banyaknya. Ekonomi sendiri adalah segala perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran (Sutarto dkk 2008, 159). Keinginan manusia dan ketersediaan sumber daya berbanding terbalik sehingga manusia akan berusaha mendapatkan kebutuhannya dengan cara apapun. Termasuk dengan perdagangan secara internasional karena komoditi yang dihasilkan tiap negara berbeda- beda. Produksi negara yang berbeda tadi kemudian dipandang oleh negara lain sebagai peluang besar untuk memajukan rakyatnya. Berkembang semakin ekspansif dan terbentuklah perdagangan global dan membentuk jaringan perekonomian yang kuat. Arah dan nasib perekonomian yang mengglobal ini dipandang positif oleh para spekulan untuk memasarkan tidak hanya barang namun juga uang. Manfaat uang yang dulunya hanya sebagai alat pembayaran, kini telah diperjualbelikan oleh pemilik saham (Susanto 2013). Setelah minggu lalu mendapatkan survey kecil seputar ekonomi global yaitu terjun ke ekonomi mikro berupa pasar modern, didapati produk luar negeri yang ternyata tidak sejajar dengan produk dalam negeri dan masih dalam satu lemari yang sama. Semakin terbukanya pasar internasional untuk masuk ke peredaran barang negara berkembang disokong oleh pihak pemerintah sendiri agar dapat menikmati kenyamanan globalisasi. Skup globalisasi yang ekspansif sekaligus impulsif menuntut negara untuk terlibat langsung didalamnya (Susanto 2013). Perdagangan bebas yang sudah masuk ke pasar Indonesia menuju kepada ekonomi global sehingga pemerintah dan masyarakat dituntut untuk bekerja sama agar Indonesia tetap merasakan globalisasi sekaligus memajukan produksi dalam negeri yang dapat diglobalkan dan bangsa ini pun mendapat untung untuk pemasukan negara. Ditambah lagi dengan rencana ASEAN Community 2015 yang semakin membuka selebar- lebarnya lingkup perekonomian sehingga membentuk masyarakat ASEAN dengan tingkat kesejahteraan tinggi dalam suatu dinamika ekonomi regional dan global (Puja 2013). Muncul masalah baru ketika perekonomian dunia berhadapan dengan kaum-kaum penelitinya. Diantaranya ada kaum yang mendukung ekonomi global dan ada kaum yang skeptis menatap penyebaran ekonomi internasional. Pertama kaum skeptis menganggap bahwa sistem perkonomian saat ini merupakan hal yang baru dan signifikan sebab fakta menunjukkan tidak ada sesuatu yang preseden historikal (Held&McGrew 2003, 40). Dengan begitu, skeptis tidak yakin dengan adanya hal baru ini dapat memakmurkan atau justru sebaliknya. Skeptis tidak hanya melihat dari sisi sifat ekonomi global namun juga aktor- aktor yang termasuk di dalamnya. Seperti yang kita ketahui bersama, skup ekonomi zaman sekarang ini semakin dipegang oleh sebagian kecil pemegang kuasa saja tetapi menurut pandangan skeptis, peningkatan organisasi internasional berbasis bisnis membawa perekonomian dunia integrasi sekaligus segregasi global (Held&McGrew 2003, 41). Berbanding jauh dengan kaum ekonomi globalis yang mendukung sepenuhnya perkembangan masyarakat dunia terhadap integrasi sekaligus percepatan kemakmuran negara- negara pesertanya. Misalnya dalam organisasi internasional, NATO atau European Union yang membuka kesempatan seluas- luasnya bagi negara anggota untuk melebarkan bisnis produk negeri ke negara lain dalam satu organisasi yang sama tanpa tarif tinggi. Dengan pandangan optimis seperti itu, kaum ekonomi globalis akan terus menggencarkan perekonomian satu atap alias menjadi skup yang lebih kecil. Mereka juga membantah pandangan kaum skeptis bahwa intensitas integritas dalam dan lintas wilayah dapat meningkat (Held&McGrew 2003, 50). Bila masuk dalam ranah Indonesia yang tergabung dalam ASEAN, hubungan antar negara Asia Tenggara, dilihat oleh ekonomi globalis, sebagai langkah benar menuju Asia Tenggara kompak. Program yang dicanangkan ASEAN tentang perekonomian ke arah global sebisa mungkin ditanggapi positif oleh rakyat Indonesia. Meskipun bayangan tentang perkembangan produksi Indonesia yang akan terhambat oleh masuknya komoditi, barang dan jasa negara lain akan ada dalam nasib pasar kedepannya. Tinggal bagaimana pihak pemerintah, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, mengatur regulasi untuk melindungi komoditi unggulan bangsa ini namun tetap bersanding dengan ekonomi global secara seimbang. Akhirnya, kita dan negara- negara lain dapat mencapai tujuan akhir yakni untuk membentuk ASEAN yang berkarakteristik masyarakat aman, stabil dan sejahtera (Puja 2013). Garis besarnya, masyarakat dunia secara adil memanfaatkan perekonomian global semaksimal mungkin untuk kemakmuran bersama. REFERENSI: Held, David dan Anthony McGrew. 2003. “A Global Economy?” dalam Globalization/AntiGlobalization. Oxford: Blackwell Publishing Ltd., pp. 38-57 Puja, I G. A. Wesaka. “Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015: Masa Depan Kerja Sama ASEAN dengan Mitra Wicara dan Manfaatnya bagi Indonesia.” Presentasi Kuliah Tamu Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Surabaya, 14 Maret 2013. Sutarto, dkk. 2008. IPS untuk SMA. Surabaya: Jepe Press Media Utama. Susanto, Joko. “What is Globalization?.” Presentasi kuliah Pengantar Globalisasi Universitas Airlangga, Surabaya, 21 Maret 2013.

Judul: Skeptisme Ekonomi Global, Bawa Manfaat?

Oleh: Bocut Amarina


Ikuti kami