Institusionalisme Dalam Ekonomi Politik Internasional

Oleh Putri Larasati

110,4 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Institusionalisme Dalam Ekonomi Politik Internasional

Summary Ekonomi Politik Internasional (4)  Putri Larasati (HI 4 C/11141130000043) Perspektif dalam Ekonomi Politik Internasional 4: Institusionalisme & New Institusionalisme Pada era 1920-an, muncul perspektif ekonomi politik internasional yang menentang perspektif klasik dan neoklasik yang sebelumnya dominan digunakan. Perspektif yang baru muncul itu sering disebut dengan perspektif institusionalisme. Perspektif institusionalisme pada awalnya lahir di Amerika, kemudian dikembangkan di Jerman. Para tokoh perspektif institusional yang paling terkenal adalah Thorstein Velben (1857-1929) dan John Kenneth Galbraith (1908-2006).1 Dalam bukunya yang berjudul “The Theory of the Leisure Class”, Thorstein Velben memandang ekonomi neoklasik sebagai sistem yang destruktif dan sia-sia. Perspektif institusionalisme yang Velben bawa melihat sistem ekonomi neoklasik sebagai sistem yang sangat ahistoris dan hanya mengurusi urusan ekonomi semata tanpa memperdulikan aspekaspek lain, misalnya budaya. Aktor kapitalis yang Velben sebut sebagai “captains of industry” dan “captains of finance” hanya ingin memperkaya dirinya sendiri. Sedangkan individu yang digambarkan sebagai aktor rasional oleh perspektif neoklasik, oleh Velben justru dianggap akan melakukan hal yang irasional, seperti conspicuous consumption. Conspicuous consumption direpresentasikan dengan tindakan individu yang selalu ingin terlihat kaya bahkan hingga melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Individu seperti ilmuwan dan engineer dimanfaatkan oleh pihak kapitalis untuk dapat menghasilkan produk sebanyak-banyaknya demi memperkaya pihak kapitalis. Padahal ilmuwan dan engineer merupakan roda penggerak yang tak hanya bisa mengubah kondisi perekonomian, tapi juga perubahan sosial. Jika menurut Thorstein Velben teknologilah yang menjadi penggerak perubahan sosial, Karl Polanyi dalam bukunya “The Great Transformation” justru lebih menitikberatkan pada ide mendasar dari pasar itu sendiri. Polanyi berpendapat bahwa pasar menciptakan sesuatu yang disebut dengan “fictional commodity” atau bisa diartikan sebagai komoditas fiksi. Kapitalis membuat segalanya menjadi komoditas, termasuk manusia. Ketika sesuatu dijadikan komoditas, berarti sesuatu tersebut dapat diperjual-belikan. Dalam kaitannya dengan kegiatan ekonomi, manusia diperjual-belikan sebagai budak atau pekerja yang rentan dieksploitasi. Polanyi menegaskan bahwa pasar bebas dengan segala komoditas fiksinya ialah perusak sistem budaya dan politik.2 Kemudian munculah pemikiran John Kenneth Galbraith yang mencetuskan tentang model baru sistem ekonomi internasional yang termasuk ke dalam perspektif institusionalisme. Model perekonomian tersebut dinamakan dengan Multi-centric Organizational Model. Asumsi dasar dari perspektif institusionalisme berdasarkan Multi1 2 Raymond Miller, International Political Economy: Contrasting World Views, 2008. Ibid. centric Organizational Model yang pertama yaitu aktor utama dalam ekonomi politik internasional adalah organisasi. Organisasilah yang menentukan keputusan dalam perhelatan ekonomi politik internasional, bukan lagi individu seperti yang diyakini oleh model pasar. Asumsi dasar institusionalisme yang selanjutnya yaitu pilihan-pilihan didapatkan dari pengembangan kekuatan organisasi. Ekonomi politik internasional lebih cocok menggunakan “negotiated outcomes” dalam hal pilihan ketimbang hanya penawaran dan permintaan. Selain itu, uang dapat merepresentasikan kekuatan. Semakin banyak uang yang dimiliki, maka semakin besarnya kesempatan untuk mengontrol alokasi kekayaan baik secara formal maupun informal. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kekayaan dan kekuatan adalah hal yang sentral dalam kegiatan ekonomi politik internasional. Perspektif institusionalisme juga berasumsi bahwa persaingan kekuatan dapat membentuk karakter interaksi. Setiap negara memiliki kecenderungan yang berbeda dalam interaksi ekonomi politik internasionalnya. Hal tersebut akan membentuk pola interaksi yang kompleks yang bisa dibilang merupakan persaingan kekuatan. Kekuatan institusi dapat mengontrol akses ekonomi politik internasional. Semakin besar kekuatan sebuah institusi, semakin besar akses untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam ekonomi politik internasional. Aktor penggerak utama yang berada di balik institusi dan/atau organisasi ialah negara. Sangat jelas bahwa asumsi dasar tersebut bertolak belakang dengan apa yang dipercayai oleh model pasar. Implikasi kebijakan dari perspektif institusionalisme yang dilakukan oleh para aktornya yaitu mengiklankan produknya secara meluas dan besar-besaran, mempraktikkan administrasi harga, mempersiapkan ongkos untuk tenaga kerja, memborong produk rival, memperoleh hak paten, mendapatkan kontrak dari pemerintah, mencari-cari keuntungan dari hukum dan peraturan pemerintah, melakukan manipulasi media, dan lain sebagainya. Berbagai kebijakan yang dilakukan institusi atau organisasi tersebut akan memiliki dampak, seperti ketidakadilan, persaingan harga dengan pasar, simbiosis mutualisme antara perusahaan dengan pemerintah, terancamnya sistem demokrasi, sumber daya alam tereksploitasi, dan tujuan sosial adalah memproduksi dan mengonsumsi sebanyakbanyaknya.3 Dalam perkembangannya, perspektif institusionalisme berkembang secara berkala dan memunculkan bentuk baru yaitu neo-institusionalisme. Perbedaan mendasar institusionalisme dengan neo-institusionalisme adalah fokus utamanya. Institusionalisme berfokus pada asumsi-asumsi ekonomi untuk mewujudkan adanya organisasi dan institusi, sedangkan neoinstitusionalisme menekankan pada pentingnya peranan agen dalam sistem ekonomi politik internasional, koordinasi dalam aktivitas ekonomi, dan struktur institusi.4 3 Vedi R. Hadiz, “Desentralisasi dan Demokrasi di Indonesia: Sebuah Kritik terhadap Perspektif NeoInstitusionalis”, dalam Dinamika Kekuasaan: Ekonomi Politik Indonesia Pasca Soeharto, Jakarta: LP3ES, 2005. 4 Richard W. Scott, Institutions and Organizations, Thousand Oaks, CA: Sage, 2001.

Judul: Institusionalisme Dalam Ekonomi Politik Internasional

Oleh: Putri Larasati


Ikuti kami