Ilmu Politik; Observasi Dan Penelitian Pilkada 2015

Oleh Jawad Mughofar Kh

1,6 MB 9 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ilmu Politik; Observasi Dan Penelitian Pilkada 2015

OBSERVASI DAN PENELITIAN PILKADA 2015 Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Ilmu Politik Dosen Pengampu: Dr. Setia Gumilar, S.Ag., M.Si. dan Dani Wardani, S.Hum., M.Pd. . Oleh: Jawad Mughofar KH 1145010071 JURUSAN SEJARAH DAN PERADABAN ISLAM FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG 2015 KATA PENGANTAR Bismillaahirrahmaanirrohiim, Puji syukur Kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa atas petunjuk, rahmat, dan hidayah-Nya peulis dapat menyelesaikan tugas ini tanpa ada halangan apapun sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Laporan ini di susun dalam rangka memenuhi tugas mandiri pada mata kuliah Ilmu Politik. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, semoga laporan ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca. Aamiin. Bandung, 13 Desember 2015 Jawad Mughofar KH i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR .................................................................................... i DAFTAR ISI ................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................... 1 B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2 C. Tujuan Penelitian ........................................................................... 2 D. Manfaat Penelitian ......................................................................... 2 BAB II METODOLOGI A. Metode Penelitian........................................................................... 3 B. Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 3 C. Ruang Lingkup Penelitian .............................................................. 3 BAB III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Proses pelaksanaan Pilkada di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung ..................................................... 4 B. Pendapat, Aspirasi dan harapan warga masyarakat tentang Pilkada di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung ......................................................................................... 8 BAB IV PENUTUP A. Simpulan ........................................................................................ 10 B. Saran ............................................................................................... 10 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mata kuliah ilmu politik telah memberikan pelbagai pemahaman tentang perpolitikan yang masih terbilang kurang dikarenakan terbatasnya materi, waktu dan ruang. Untuk itu diperlukan penambahan dengan melakukan observasi secara langsung dalam menguatkan pemahaman tersebut, yaitu salah satunya dengan turun langsung ke lapangan untuk mengkaji tentang perpolitikan di Indonesia, khusunya yang berkaitan dengan Pemilihan Umum (Pemilu). Indonesia merupakan salah satu negara demokrasi karena pemerintahannya dipimpin oleh banyak orang, diabdikan untuk kepentingan bersama bagi banyak orang (May Rudi, 2003:87). Pilkada yang di laksanakan serentak pada tanggal 9 Desember 2015 ini merupakan bukti konkrit akan terlaksananya suatu sistem demokrasi, dimana rakyat dapat memilih secara langsung siapa tokoh pemimpin yang akan memimpinnya kelak pada periode selanjutnya dengan berbagai macam harapan menuju kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pilkada langsung yang diebut sebagai prakek politik demokratis dan rekruitmen politik yang terbuka dalam pemilihan eksekutif daerah menurut Axel Hadenius jika memiliki “makna”, akan menuju tiga kriteria yaitu keterbukaan, ketepatan dan keefektifan pemilu. Keterbukaan disini maksudnya bahwa akses Pilkada ini harus terbuka bagi seluruh warga artinya hak pilih bersifar universal, semua warga dijamin memiliki hak pilih tanpa diskriminasi. Ketetapan bertujuan pada pendaftaran dan identifikasi pemilih, kampanye, prosedur dalam pemilu, semua calon harus mempunyai akses yang sama kepada media Negara dan swasta berdasarkan standar hukum yang sama, aparat negara harus netral secara politis pada saat menyelenggarakan Pilkada apalagi jika salah satu yang menjadi calon adalah incumbent, hal ini menyebabkan penyalahgunaan terhadap Pilkada itu sendiri, dan menimbulkan berbagai pelanggaran dalam Pilkada baik secara langsung maupun tidak, yang dilakukan secara sadar ataupun tidak. Pilkada langsung tidak dengan sendirinya menjamin peningkatan kualitas demokrasi itu 1 2 sendiri. Demokrasi pada tingkat lokal membutuhkan berbagai persyaratan. Dalam perspektif ini efektifitas sistem Pilkada langsung ditentukan oleh faktor-faktor pra kondisi demokrasi yang ada di daerah itu sendiri yang mencakup kualitas pemilih, dewan, sistem rekruitmen dewan, fungsi partai, kebebasan dan konsistensi pers dan keberdayaan masyarakat madani. (A. Ubaidillah, dkk. 2006:205-209). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut: a. Bagaimana proses pelaksanaan Pilkada di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung? b. Bagaiamana pendapat, aspirasi dan harapan warga masyarakat tentang Pilkada di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan diatas, tujuan penyusunan laporan ini adalah untuk: a. Mengetahui bagaimana proses pelaksaan Pilkada di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung. b. Mengetahui bagaimana pendapat, aspirasi dan harapan warga masyarakat tentang Pilkada di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung. D. Manfaar Penelitian Manfaat dari penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu: a. Manfaat teoritis: Yaitu untuk memberikan informasi serta dapat menjadi masukan yang cukup penting tentang bagaiaman proses pelaksanaan Pilkada. b. Manfaat Praktis Yaitu untuk memenuhi tugas mandiri pada mata kuliah Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, BAB II METODOLOGI A. Metode Penelitian Berikut metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Observasi Dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan yang menyangkut tentang masalah-masalah atau hal ihwal yang terjadi pada proses Pilkada. b. Studi Literatur Teknik penelitian yang menggunakan sumber kepustakaan untuk mendapatkan landasan teori / konsep pemilu terhadap masalah yang diteliti. c. Studi Dokumentasi Dilakukan dengan mengumpulkan menganilisi dokumen-dokumen, catatancatatan, hasil wawancara yang penting dengan tujuan untuk membantu memecahakan permasalah dalam penelitian. B. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: a. Wawancara yang dilakukan secara mendalam terhadap warga sekitar sebagai langkah utama untuk dalam mengumpulkan data atau informasi. b. Observasi langsung kepada warga sekitar untuk mengungkap data-data yang diperlukan. Dalam hal ini memungkinkan peneliti dapat merekam langsung perilaku-perilaku politik atau sikap politik pemilih sebagaimana adanya. c. Analisis, yaitu melalui pengumpulan data-data primer yang sudah terkumpul secara sistematis guna mempertajam hasil laporan. Seperti menganalisis kembali hasil wawancara dari berbagai sumber. C. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini berada di wilayah Kampung Sekeawi Desa Sukamenak Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung yang lebih spesifiknya yaitu di TPS 12 di daerah tersebut yang langsung di ikuti oleh 2 RT yaitu: RT 1 dan 2. 3 BAB III HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Proses Pelaksanaan Pilkada Di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung Pelaksanaan Pilkada di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung secara keseluruhan telah berjalan lancar. Bahkan dalam sesi wawancara dengan Pak Agus Salam dan Pak Dedi selaku LINMAS setempat, mengungkapkan bahwa setiap Pemilu di TPS ini tidak pernah terjadi kendala apapun. Hal ini sebagai hasil kerjasama dengan semua pihak yang terkait dan mempunyai kompetensi. Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka mensukseskan Pilkada pada waktu itu (09/12), bahkan ketika perhitungan suara, Ketua PANWASCAM (Panitia Pengawas Kecamatan) Margahyu yaitu Arman Noor Fahny turun langsung kelapangan untuk melihat secara langsung beserta anggotanya yang tersebar di semua TPS di Kecamatan Margahayu yang menurut beliau telah di bentuk dari 6 bulan lalu sebelum pelaksanaan, berdasarkan UU No. 8 Pasal 27 tahun 2015 tentang Pilkada Serentak. Semua ini dilakukan dalam rangka menyamakan persepsi dalam mengusung pemilu yang demokratis, aman dan lancar. Penulis dalam hal ini menemukan data dan fakta sebagi berikut: 1. Tanggal pelaksanaan Pilkada: 09 Desember 2015 2. TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung ini diikuti oleh dua RT yaitu RT 01 dan 02 yang ada di RW 04. 3. Lokasi TPS berada di pinggir jalan, tepatnya di depan halaman rumah kosong tak berpenghuni yang sedikit kotor dan sering kali terkena banjir. Terbukti adanya genangan air ketika turun hujan di saat perhitungan suara. 4. Warga sekitar sebagian besar kurang menggunakan hak pilihnya serta kurang antusias dalam menghadapi Pilkada, dilihat dari TPS sendiri yang selalu kosong dan hanya sesekali warga berdatangan. 4 5 5. Di wilayah sekitar TPS 12 sebagian besar terdapat masyarakat atau penduduk yang merantau dari mahasiswa yang yang kuliah diluar kota hingga mereka yang bekerja di luar kota yang tidak setiap waktu dapat kembali ke rumah, sebagian kecil dari mereka ada yang menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halamannya demi menggunakan hak suaranya. 6. Tercatat sebanyak 633 DPT (Daftar Pemilih Tetap) dengan banyak pemilih laki-laki berjumlah 318 dan wanita sebanyak 313 serta terdapat pemilih tambahan yang menggunakan KTP yaitu sebanyak 2 orang, 7. Di TPS 12 ini pengguna hak pilih yang menggunakan haknya tersebut tercatat sebanyak 134 pemilih laki-laki, 181 pemilih perempuan dan 2 pemilih tambahan, dengan jumlah total 317. 8. Dari 317 suara yang masuk, terdapat 6 suara yang di anggap tidak sah dengan berbagai macam pertimbangan seperti mencoblos 3 kandidat sekaligus. 9. Terdapat banyak golongan putih (golput) yang mencoreng citra pesta demokrasi di TPS 12 serta di tambah adanya money politic yang terjadi di RW sebelah yang menjadi buah bibir warga sekitar. Ini semua terindikasi dari tutur bicara masyarakat sekitar yang secara langsung justru berbincang-bincang dengan terang-terangan mengenai kedua hal ini. 10. Warga sekitar yang telah menggunakan hak pilihnya justru terangterangan mengungkapkan tentang pilihan kandidatnya, yang seharusnya menjadi suatu kerahasiaan. 11. Terdapat stigma negatif tentang perpolitikan di Indonesia yang menyebabkan warga sekitar mencapai titik jenuh yang imbasnya pada Pilkada kali ini, di tambah dengan tidak adanya perubahan atau pun kebijakan yang merata dari waktu ke waktu. Berdasarkan data di atas membuat penulis sendiri khususnya tahu dan mengerti tentang bagaimana proses pelaksanaan Pilkada. Mungkin apa yang terjadi di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung 6 ini tidak akan jauh berbeda dengan kegiatan di TPS lain baik itu satu kampung, desa atau bahkan kecamatan. Kegiatan Pilkada di TPS 12 ini telah dipersiapkan sematang mungkin oleh para Panitia. Sekalipun berlokasi di pinggir jalan, tepatnya di depan halaman rumah kosong tak berpenghuni yang sedikit kotor dan sering kali terkena banjir. Pak Ade selaku Panitia menjelaskan bahwa, Pemilihan lokasi ini adalah hasil dari musyawarah, dikarenakan tidak adanya tempat lain. Ketika ada tempat yang layak, namun berdekatan dengan masjid membuat hal tersebut tidak bisa menjadi pilihan. Di tambah lokasi tersebut hampir berdekatan dengan TPS lain yaitu TPS 13. Selain permasalahan tempat, Pak Ade ketika di wawancara mengenai kebutuhan dan kelengkapan logistik dari KPU, menegaskan bahwa tidak ada kekurangan apapun dari hal tersebut. Sebagai warga negara yang baik tentunya setiap warga negara berhak menggunakan hak pilih mereka sebagai bentuk kedaulatan rakyat. Mengacu pada realita di TPS 12, berdasarkan data dan faktanya telah tercatat sebanyak 633 DPT terdiri dari pemilih laki-laki berjumlah 318 dan wanita sebanyak 313 serta terdapat pemilih tambahan yang menggunakan KTP yaitu sebanyak 2 orang, namun hanya ada 317 DPT yang menggunakan hak pilihnya yang terdiri dari 134 pemilih laki-laki, 181 pemilih perempuan dan 2 pemilih tambahan. Dari ke 317 suara yang masuk terdapat 6 suara yang di anggap tidak sah dengan berbagai macam pertimbangan seperti mencoblos 3 kandidat sekaligus. Dengan demikian, tercatat hanya sekitar 50% suara yang masuk. Menurut Arman Noor Fahny dari setiap TPS minimal suara yang masuk harus mencapai kisaran 60%. Hal ini membuat fenomena golput (golongan puth) ini masih selalu mengiringi pesta demokrasi di Indonesia. Padahal semua pandangan menyebutkan bahwa golput itu harus dihindari demi terciptanya demokrasi yang stabil dan berkualitas. Dari hasil wawancara dengan warga sekitar, penulis membagi 3 faktor yang menyebabkan terjadinya golput, antara lain: 1. Sikap Apatisme, yaitu suatu sikap ketidakpedulian dari warga sekitar merupakan hal negatif yang belum bisa dipisahkan. Sikap apatisme ini biasanya timbul pada kalangan pemuda. Mereka biasanya tak pernah 7 mau ambil pusing dengan perpolitikan ataupun dengan demokrasi yang sedang di bangun di Indonesia. Ditambah dengan kondisi Indonesia yang semakin carut marut serta berbagai macam kasus seperti korupsi, pencatutan nama presiden, kisruh antara Eksekutif dengan Legislatif membuat mereka semakin benci dengan perpolitikan di Indonesia. Menyebabkan timbulnya sikap apatisme yang tentunya akan meningkatkan angka golput. Ibu Rosinah yang kesehariannya menjaga toko kecil di depan rumahnya, mengatakan bahwa warga di Desa Sukamenak ini telah mecapai titik jenuh. Dikarenakan tidak adanya perubahan dari waktu ke waktu. Sekalipun Ibu Rosinah menggunakan hak pilihnya tapi menurut beliau itu hanya sebagai pengisi kekosongan saja. Hal serupa di lakukan oleh Ibu Imas, Ibu Ikah dan Ibu Lina yang pada waktu itu sedang berkumpul bersama. 2. Kesalahan Teknis, memang terkadang sering terjadi dari berbagai hal. Seperti pada kasus ini yaitu mengenai penetapan Daftar Pemilih Tetap. Jumlah DPT lebih banyak daripada jumlah yang memang menjadi DPT di wilayah tersebut. Biasanya disebabkan oleh adanya dua KTP yang dimiliki oleh kaum urban atau perantauan. Di Kampung Sekeawi ini menurut Ibu Rosinah, terdapat banyak orang-orang perantauan terutama dari Medan dan Jawa. Hal ini menyebabkan kaum urban tersebut terdaftar di dua tempat yang berbeda. Padahal orang tersebut hanya akan menggunakan salah satunya saja atau bahkan tidak sama sekali. Hal ini membuat angka golpu semakin meninggi. Sekalipun pemerintah telah melakukan revolusi KTP dengan diberlakukannya KTP Elektronik yang bertujuannya untuk mengantisipasi hal tersebut. 3. Pandangan Subjektif terhadap Calon Pemimpin, hal ini yang sering dilakukan oleh masyarakat terhadap para calon pemimpin mereka. Biasanya mereka melihat dari Track Record (Rekam Jejak). Masyarakat cenderung menilai berdasarkan kata hati mereka baik itu secara penampilan, cara kerja atau yang lainnya. Padahal, belum tentu yang mereka lihat itu terbukti nyata pada kehidupan yang sebenarnya. Oleh 8 karena itu banyak kandidat lain yang mereka abaikan tanpa menilai terlebih dahulu bagaimana visi serta misinya. Terlebih ditambahnya dari segi kampanye dari para kandidat yang tidak merata. Seperti yang tuturkan oleh Ibu Rosinah yang hanya mengenal satu kandidat saja. Dikarenakan kandidat tersebut melakukan kampanye di Desa Sukamenak. Sementara kandidat lain malah di abaikan. Tiga poin penyebab terjadinya golput seharusnya dapat menjadi evaluasi serta menjadi cerminan nyata untuk demokrasi di Indonesia. Ironisnya hal tersebut dari waktu ke waktu selalu saja terulang tanpa adanya perubahan, sekalipun ada masih saja belum maksimal. Hal itu yang mungkin membuat Dosen Ilmu Politk Dr. Setia Gumilar, S.Ag., M.Si. dan Dani Wardani, S.Hum., M.Pd. memberikan tugas mandiri agar mahasiswanya turun kelapangan untuk mengetahui secara nyata tentang demokrasi di Indonesia yang untuk kedepannya Mahasiswa Jurusan Sejarah dan Perdaban Islam ini, bisa mempelajari dari setiap kejadian, belajar dari sejarah. Agar tidak terulang dan jatuh di lubang yang sama. B. Pendapat, Aspirasi Dan Harapan Warga Masyarakat Tentang Pilkada 20115 Di TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung. Terdapat beberapa poin penting yang menjadi aspirasi serta harapan dari warga sekitar ketika sedang berlangsungnya Pilkada 09 Desember 2015, hal ini mereka ungkapkan ketika sedang diwawancarai, di antaranya seperti di bidang eknomi, menurut Ibu Rosinah yang pernah mengalami bagaimana kehidupan di Orde Baru berpendapat bahwa perekonomian yang memihak kepada rakyat terjadi pada waktu itu, dimana setiap pangan terbilang sangat murah. Dari segi kebijakan, Pak Agus Salim dan Pak Dedi Linmas setempat, berharap akan adanya kebijakan yang merata. Di Desa Sukamenak ini sering terjadi banjir, harapan mereka pemerintah bisa memperbaiki setiap permasalah yang ada dan merata di semua wilayah. Tidak terfokus akan satu tempat saja. Mereka pun berharap agar harga sembako menjadi murah serta adanya lapangan pekerjaan. 9 Sekalipun dari waktu ke waktu menurut masayarakat sekitar tidak adanya perubahan secara signifikan, tetapi mereka masih berharap akan adanya perubahan tersebut. Tidak penting siapa yang terpilih nantinya yang penting hasilnya, selalu untuk melihat yang dibawah dengan membuktikan janji-janji yang telah di ungkapkan dan tidak hanya omong kosong saja serta dapat memimpin dengan tegas. BAB IV PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia khususnya di Desa Sukamenak belum berjalan sebagaimana mestinya. Masyarakat secara umum belum menyadari betul apa itu arti dari Pemilu di suatu negara demokrasi. Dilihat dari masih banyaknya yang belum mengerti akan pentingnya suara yang mereka berikan, serta adanya ego tinggi tanpa mementingkan kedaulatan rakyat yang melibatkannya dalam membentuk pemerintahan di Indonesia. Hal tersebut mungkin disebabkan karena kurangnya pendidikan politik didalam masyarakat. Masih terdapat banyak masyarakat yang apatis terhadap pemilu, masih banyak pula aliran golongan putih. Sehingga sangat diperlukan pendidikan politik bagi masyarakat, guna untuk memberikan pemahaman serta untuk menjadikan negara Indonesia ini sebagai negara yang Demokratis. Pemerintahan di Indonesia umumnya dan khususnya di Kampung Sekeawi Desa Sukamenak, sekalipun dari waktu ke waktu menurut masyarakat sekitar tidak adanya perubahan secara signifikan, tetapi mereka masih berharap akan adanya perubahan tersebut. Tidak penting siapa yang terpilih nantinya yang penting hasilnya, selalu untuk melihat yang dibawah dengan membuktikan janji-janji yang telah di ungkapkan dan tidak hanya omong kosong saja serta dapat memimpin dengan tegas. Bagaimanapun juga masyarakat indonesia dimanapun itu, tentunya selalu berharap untuk mendapatkan yang terbaik. B. Saran Pemilu pada esensinya adalah untuk mewujudkan kedaulatan rakyat untuk menghasilkan pemimpin yang ideal. Pemilu pada hakikatnya memiliki integritas dalam proses penyelenggaraan, tidak hanya dilihat dari hasil perhitungan saja tetapi dari prosesnya. Semakin berintegritas prosesnya maka semakin berintegritas pula tingkat kualitas demokrasinya. Integritas suatu proses pemilihan umum akan bergantung kepada 4 unsur, diantaranya: 10 11 1. Penyelenggara pemilu dalam hal ini adalah KPU yang perlu lebih ditingkatkan lagi Intensitas sosialisasi untuk membantu pemahaman masyarakat Indonesia. 2. Penegakan hukum dalam hal ini adalah Panwas, Polisi, dan Kejaksaan, yang harus ditingkatkan dan dipertahankan pengawasan terhadap pelaksanakan Pilkada agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 3. Peraturan-peraturan sebagai dasar acuan pelaksanaan pemilu kadar dan acuan penegakan hukumnya, yang jangan sampai hanya sebagai teori. 4. Peserta pemilu itu sendiri dalam hal ini adalah kita masyarakat Indonesia, agar data menggunakan hak pilihnya sebagaimana mestinya, untuk mengurangi bahkan menghapus aliran golongan putih agar demokrasi di Indonesia dapat terwujud. DAFTAR PUSTAKA Ubaidillah, A dkk. 2006. Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Ade. Interview. 2015. ”Persiapan Panitia serta Peranannya”. Jl. Sukamenak No, 148 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung. Budiarjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Fahny, Arman Noor. Interview. 2015. “Peran Panitia Pengawas”. Jl. Sukamenak No, 148 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung. Isjwara, F, 1999. Pengantar Ilmu Politik. Bandung: Putra Abardin. Rudy, May. 2003. Pengantar Ilmu Politik: Wawasan Pemikiran dan Kegunaannya. Bandung: Refika Aditama. Rosinah dkk. Interview. 2015. “Pendapat, Aspirasi dan Harapan Warga Desa Sukmenak”. Jl. Sukamenak No, 148 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung. Salam, Agus dan Dedi. Intervies. 2015. “Proses Pemilu di TPS 12”. Jl. Sukamenak No, 148 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung. LAMPIRAN-LAMPIRAN Gambar 1: Lokasi TPS 12 Kp. Sekeawi Ds. Sukamenak Kec. Maragahyu Kab. Bandung. Terlihat Pak Agus Salam sedang bertugas. Gambar 2: Suasana di TPS 12, terdapat sebagian warga sedang menunggu giliran Gambar 3: Proses pemilihan di TPS 12, sebagian warga yang sedang menggunakan hak pilihnya. Gambar 4: Panitia TPS 12 setelah melakukan pemilihan. Terlihat sedang memasukan kertas suara kedalam kotak suara. Gambar 5: Proses wawancara dengan warga di sekitar TPS 12. Gambar 6:Persiapan perhitungan suara. Gambar 7: Proses perhitungan suara, terdapat semua panitia sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Gambar 8: Pak Ade, panitia di TPS 12 sedang melakukan pengecekan kertas suara. Gambar 9: Suasana TPS 12 ketika hujan tuun, keadaan menjadi sedikit kacau. Gambar 10: Kondisi TPS 12 ketika hujan turun, terdapat banyak genangan air. Gambar 12: Wawancara dengan Ketua PANWASCAM (Panitia Pengawas Kecamatan) Margahayu, Arman Noor Fahny. Gambar 13 & 14: Hasil akhir perhitungan suara. Data yang di tulis oleh Saksi (kiri) dan Data yang di tulis oleh panitia (kanan).

Judul: Ilmu Politik; Observasi Dan Penelitian Pilkada 2015

Oleh: Jawad Mughofar Kh


Ikuti kami