Take Home Exam Filsafat Ilmu Dr Joni

Oleh Agung Satria Wardhana

130,2 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Take Home Exam Filsafat Ilmu Dr Joni

PASCASARJANA S2 ILMU KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA UJIAN AKHIR SEMESTER SEMESTER GASAL 2017/2018 MATA KULIAH : FILSAFAT ILMU PROGRAM STUDI : ILMU KESEHATAN GIGI DOSEN : Dr. JONI HARYANTO, M.Si. NAMA MAHASISWA : drg. AGUNG SATRIA WARDHANA NIM : 021724153005 PRODI : S-2 ILMU KESEHATAN GIGI FAKULTAS : FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI Take Home Exam 1. Buat kajian ontologi ilmu yang anda tekuni sekarang! 2. Bagaimana schematic and reasoning epistemiology keilmuan yang telah dipilih dan menjadi program studi yang anda tekuni sekarang? 3. Bagaimana axiology dari keilmuan yang anda pilih? 4. Bagaimana kebenaran yang hakiki dari sebuah keilmuan yang anda pilih? 5. Apa sebenarnya objek filsafat ilmu dan seperti apa karkteristik mahasiswa yang diinginkan para philosopher? 6. Bagaimana fenomena segitiga bermuda menurut kemampuan anda berfilsafat? 7. Uraikan mengapa yunani mengembangkan kebenaran dari mitos, cina dari konfuse, dan india dari kitab weda? Kajian Ontologi, Epistemologi dan Axiology Ilmu Kesehatan Gigi Ilmu dan filsafat merupakan dua hal yang selalu beriringan dan saling berkaitan. Filsafat dan ilmu mempunyai titik singgung dalam mencari kebenaran. Ilmu kesehatan gigi, terutama bidang Ilmu Material dan Teknologi Kedokteran Gigi, merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan. Ilmu ini merupakan sebuah produk dari kegiatan berpikir manusia, yang mengolah suatu masalah dalam benak manusia, kemudian mencari jawaban atas masalah-masalah kesehatan gigi tersebut, dan pada akhirnya mencari kebenaran tentang jawaban-jawaban tersebut. Ilmu Kesehatan Gigi juga tidak terlepas dari landasan ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi mengkaji tentang apa yang akan diketahui berkaitan dngan teori tentang “ada“ atau bagaimana hakikat obyek yang ditelaah sehingga membuahkan pengetahuan. Epistemologi mengkaji bagaimana proses memperoleh pengetahuan. Dan aksiologi mengkaji nilai yang berkaitan dengan manfaat dari pengetahuan yang telah diperoleh. Ketiga hal tersebut menuntun manusia untuk mengerti apa hakikat ilmu itu. Tanpa hakikat ilmu yang sebenarnya, maka manusia tidak akan dapat menghargai ilmu sebagaimana mestinya. 1. Kajian Ontologi Ilmu Kesehatan Gigi Dalam ilmu kesehatan gigi, hal yang paling mendasar untuk dipelajari adalah tentang bahan dan teknologi. “Bahan” pada hakikatnya sudah ada sebelum ilmu pengetahuan bersinggungan dengannya. Bahan ini disediakan oleh alam, mulai dari mineral, logam, gas, tumbuhan, hewan, air dan sebagainya sudah tersedia pada alam. Selanjutnya munculah permasalahan-permasalahan dalam dunia manusia, dalam hal ini masalah pada gigi dan mulut manusia. Masalah-masalah tersebut mengganggu kehidupan bahkan menurunkan tingkat kesehatan dan kualitas hidup manusia. Masalah kesehatan tersebut membutuhkan solusi untuk menanggulanginya. Manusia mulai berpikir untuk memanfaatkan bahan yang tersedia di alam untuk mengatasi masalah tersebut, atau bahkan menciptakan suatu bahan yang tidak disediakan langsung oleh alam. Dari masalah kesehatan dan ketersediaan bahan inilah muncul ilmu tentang Bahan dan Teknologi Kedokteran Gigi, yang bertujuan untuk mengatasi masalah kesehatan gigi dan mulut manusia. 2. Kajian Epistemologi Ilmu Kesehatan Gigi Dari aspek epistemologi, Ilmu Bahan dan Teknologi Kedokteran Gigi mengacu kepada epistemologi materialis. Maksudnya adalah segala ilmu pengetahuan yang dikaji dalam bidang ilmu ini bersumber dari material atau bahan, yang kemudian dijabarkan sifatnya secara lengkap dan terperinci, dilakukan uji coba dan pada akhirnya diaplikasikan langsung pada rongga mulut manusia. Dalam kajian epistemologi Ilmu Bahan, tidak hanya dipelajari tentang pengertian, apa saja sifat bahan atau material tertentu, dan lainnya. Tetapi juga akan dipelajari bagaimana asalusul material tersebut, interaksi material tersebut dengan banyak aspek lain, hingga pembuktian validitas ilmu material ini ditinjau dari bagaimana pengetahuan ini didapatkan. Dalam ilmu ini, kajian epistemologi menggunakan beberapa metode, yaitu metode empirisme, metode rasionalisme, metode fenomenalisme dan metode dialektis. Seluruh metode ini saling terkait satu sama lain. Metode empirisme merupakan metode pembuktian pengetahuan berdasarkan bukti nyata atau pengalaman yang sudah dialami. Tentu metode ini memiliki tingkat tertinggi dalam pembuktian pengetahuan. Dari bukti empiris yang ada, peneliti dapat melakukan metode rasionalisme untuk menilai apa yang kurang, apa yang harus diperbaiki untuk mendapatkan hasil yang lebih baik bagi manusia. Tentunya hasil rasionalisme ini harus diuji juga sehingga didapatkan evidence data atau bukti empiris yang baru. Terkadang dengan mengamati dan menganalisa apa yang terjadi pada lingkungan, dapat memberikan pengetahuan baru, matode ini termasuk dalam metode fenomenalisme. Dari segala fenomena yang terjadi, dilakukannya pembuktian ilmu pengetahuan lagi untuk mendapatkan data yeng lebih valid. Metode terakhir yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan atau membuktikan pengetahuan yang ada adalah dengan metode dialektis. Metode ini dilakukan dengan cara dialog dengan pakar atau yang lebih mengerti tentang konsep pengetahuan tentang ilmu bahan, kemudian segalanya dibahas dalam koridor intelegensia dan rasionalisme dan logika yang tinggi untuk mencari pembuktian ataupun pengetahuan yang baru. 3. Kajian Aksiologi Ilmu Kesehatan Gigi Dalam aspek aksiologi, ilmu bahan kedokteran gigi memegang peranan penting bagi perkembangan ilmu kedokteran gigi seutuhnya. Perkembangan pengetahuan ilmu bahan menjadi kunci bagi cabang ilmu kedokteran gigi lainnya, seperti ilmu konservasi, ilmu bedah mulut, ilmu prostodonsia dan lain sebagainya. Ilmu bahan mengupas segala sifat fisik, kimia maupun biologi suatu bahan, setelah sifat-sifat diketahui akan dibuktikan juga biokompatibilitas oada makhluk hidup dan pada akhirnya akan digunakan secara luas kepada manusia secara umum untuk menanggulangi masalah kesehatan. Tanpa ada pengetahuan tentang ilmu bahan, tidak akan ada perkembangan yang signifikan terhadap ilmu kedokteran gigi. Bahan-bahan yang telah dikaji pengetahuan di dalamnya, akan menjadi subjek baru bagi ilmu kedokteran gigi, dan akan menjadi pemicu munculnya pengembangan baru ke depannya, baik memunculkan masalah baru, ataupun penyempurnaan bahan tersebut menjadi lebih baik. 4. Bagaimana kebenaran yang hakiki dari sebuah keilmuan yang anda pilih? Kebenaran dalam ilmu bahan kedokteran gigi sebagian besar adalah kebenaran ilmiah. Kebenaran ini diperoleh dari penelitian dan kesimpulan dari kajian mendalam tentang teori dan dayaguna bahan-bahan tersebut. Dari berbagai ujicoba dan penelitian ini akan mengarah kepada suatu sikap, bahwa kebenaran ilmiah yang didapatkan ini adalah kebenaran yang sesungguhnya, bahwa kebenaran ilmiah ini merupakan kebenaran yang hakiki. Kebenaran yang sudah terbukti secara ilmiah ini diyakini sebagai kebenaran hakiki, misalnya bahan penambal gigi yang terbaik saat ini adalah bahan resin komposit yang secara sifat dan estetika unggul dari bahan lainnya. Namun diyakini juga kebenaran ini tidak bersifat selamanya. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan riset, sangat mungkin kebenaran ilmiah ini akan tergusur oleh kebenaran yang nanti akan terungkap. Bahkan, hasil penelitian selanjutnya bisa jadi menjadi kontradiksi dan mementahkan kebenaran hasil penelitian sebelumnya. Kebenaran hakiki merupakan kebenaran yang hanya bersumber dari Tuhan, yang diyakini oleh semua orang tanpa perdebatan, dan tidak akan terbantahkan bahkan untuk selamanya. Kebenaran yang hakiki tidak akan tersentuh oleh pengetahuan manusia, manusia hanya bisa meyakini kebenaran hakiki tersebut. 5. Apa sebenarnya objek filsafat ilmu dan seperti apa karakteristik mahasiswa yang diinginkan para philosopher? Objek filsafat ilmu terdiri dari objek material dan objek formal. Objek material adalah objek yang dijadikan sasaran penyelidikan oleh suatu ilmu, atau objek yang dipelajari oleh suatu ilmu itu. Objek material filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum. Objek formal adalah sudut pandang darimana sang subjek menelaah objek materialnya. Setiap ilmu pasti berbeda dalam objek formalnya. Objek formal filsafat ilmu adalah hakikat (esensi) ilmu pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem mendasar ilmu pengetahuan, seperti apa hakikat ilmu itu sesungguhnya? Bagaimana cara memperoleh kebenaran ilmiah? Apa fungsi ilmu pengetahuan itu bagi manusia? Problem inilah yang dibicarakan dalam landasan pengembangan ilmu pengetahuan. Yakni landasan ontologis, epistemologias dan aksiologis. Landasan ontologis pengembangan ilmu, artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki oleh seorang ilmuan. Landasan epistemologis pengembangan ilmu, artinya titik tolak penelaahan ilmu pengetahuan didasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran. Landasan aksiologis pengembangan ilmu merupakan sikap etis yang harus dikembangkan oleh seorang ilmuan, terutama dalam kaitannya dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Karakteristik mahasiswa yang diharapkan dalam ilmu filsafat: 1. Mahasiswa yang selalu lapar dengan mempertanyakan keadaan dan fenomena yang melingkupi suatu pengetahuan 2. Mahasiswa yang mampu berfikir secara kritis dan sistematis. Runut menggali informasi yang diperlukan dan tetap mengedepankan nalar dan logika. 3. Mahasiswa “radikal” dan mampu mempertahankan keyakinannya dengan teguh. 4. Mahasiwa mampu menilai segala sesuatunya dari berbagai perspektif. Tidak hanya melalui satu sudut pandang. 5. Mahasiswa yang memiliki pemikiran luas, tidak akan mempercayai suatu pendapat/pengetahuan dari suatu media begitu saja sebelum melihat atau merasakan sendiri, dan mahasiswa akan mencari sumber lain mengenai pengetahuan tersebut, menganalisanya, menghitung dan menyimpulkannya berdasarkan nalar dan logikanya. 6. Bagaimana fenomena segitiga bermuda menurut kemampuan anda berfilsafat? Fenomena segitiga Bermuda merupakan misteri klasik yang sampai saat ini belum terpecahkan. Banyak opini dan teori yang dikemukakan oleh peneliti, namun masih belum menjadi kebenaran yang diakui masyarakat luas. Faktanya Segitiga Bermuda adalah suatu area lautan di Samudra Atlantik seluas 1,5 juta mil² atau 4 juta km² yang membentuk garis Segitiga antara Kepulauan Bermuda di wilayah teritorial Britania Raya sebagai titik di sebelah Utara, Puerto Rico pada daerah teritorial Amerika sebagai titik di sebelah Selatan, dan Miami, negara bagian Florida, Amerika Serikat sebagai titik di sebelah barat. Fakta selanjutnya adalah telah terjadi kasus kecelakaan, baik tenggelam atau “hilang”, beberapa moda transportasi di daerah tersebut, baik transportasi udara ataupun laut. Dari sini muncullah pemikiran-pemikiran individu dalam melakukan analisa sebab akibat terjadinya kecelakaan di area Segitiga Bermuda. Penelitian pun dilakukan dari berbagai aspek, antara lain, aspek geografis, aspek agamis, aspek fenomena fisika alam hingga aspek metafisik. Sebagai seorang akademisi, tentunya kajian fenomena segitiga bermuda harus ditegakkan berdasarkan bukti, logika, nalar dan ilmu pengetahuan. Secara pribadi pun, saya tidak akan menyalahkan teori metafisik atau tahayul yang tidak berdasarkan fakta dan sains. Allohu’alam. Menurut pandangan saya, teori yang paling bisa diterima adalah teori geografis dan fenomena fisika alam. Salah satu teori yang pernah dikemukakan adalah Teori Methane. Laut merupakan penghasil gas methana terbesar, dan lokasi segitiga Bermuda merupakan salah satu sumber besar penghasil gas methana. Gas methana merupakan gas yang sangat kuat dan mudah terbakar. Konsentrasi gas yang tinggi menyebabkan gas sangat mudah bereaksi dengan zat lain. Teori ini menyimpulkan, dengan adanya reaksi dengan kapal atau pesawat yang melintas, area methana ini menimbulkan ledakan yang akan menyebabkan kecelakaan fatal pada area tersebut. Teori lain yang berdasarkan sains adalah teori geografis yang disertai dengan human error. Secara geografis, daerah Segitiga Bermuda merupakan daerah dengan aliran badai yang cukup besar. Perbedaan tekanan, suhu dan iklim pada sisi lautan yang berbeda menyebabkan aliran badai menjadi ekstrem dan tak terprediksi. Terdapat laporan mengenai gelombang laut hingga setinggi 30 meter, dan juga pernah dilaporkan terjadinya pusaran angin di atas air yang sangat besar. Dengan cuaca dan geografi ekstrim, ditambah lagi dengan human error, sulitnya kemudi transportasi, lapangan pandang terganggu dan muatan kapal yang berlebihan, akan memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan laut ataupun udara. Hingga saat ini belum ada teori yang benar-benar memuaskan dan dapat diterima sebagai suatu kebenaran bagi seluruh manusia. Semuanya kembali kepada hakikat manusia untuk meyakini teori yang mana, dan dapat diterapkan kepada kelompoknya untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi di masa yang akan datang. 7. Uraikan mengapa yunani mengembangkan kebenaran dari mitos, cina dari konfuse, dan india dari kitab weda? A. Kepercayaan Mitologi Yunani Bangsa Yunani mengembangkan kebenaran melalui mitologi. Mitologi memiliki keterikatan yang sangat erat dengan masyarakat Yunani. Dalam kesehariannya, masyarakat Yunani masih berpegang pada mazhab Mitologi. Orang Yunani juga beranggapan bahwa mitologi merupakan bagian dari sejarah hidup mereka. Aspekaspek mitologi juga digunakan dalam menjelaskan fenomena hidup mereka, seperti cuaca, keberagaman budaya, permusuhan dan hubungan sosial. Menurut HansonHeath, akulturasi masyarakat Yunani bersumber dari ajaran dan pengetahuan mendalam dari epos Homeros, bahkan ajaran Homeros dianggap sebagai “pendidikan Yunani” dan karya sastranya dianggap sebagai “Buku ajar”. Sejak berkembangnya aliran filsafat, sejarah, prosa dan rasionalisme, terjadi gerakan peniadaan unsur-unsur supranatural dan mitologi. Pada peradaban romawi kuno, mitologi Yunani mulai mengalami kemunduran dan menjadi sesuatu yang dianggap skeptis. Baru pada abad ke 18-19, ilmu mitologi Yunani kembali dikembangkan dan melalui pendekatan komparatif, psikorasioanalitik dan penyelidikan asal-usul. Masyarakat Yunani masih memegang teguh mitologi kuno sebagai bagian dari kehidupan dan historika mereka. Dalam kaitannya dengan dunia modern, mitologi Yunani dapat dijelaskan dan berhubungan dengan fenomena-fenomena kehidupan dan personifikasinya. Misalnya Dewa alam (Zeus, Apollo, Poseidon, dll) merupakan personifikasi dan ada hubungannya dengan fenomena alam (Hujan, badai, dll). B. Konfusisme Bangsa Cina Konfusius merupakan seorang Guru Agung yang sangat berpengaruh dari dataran Tiongkok. Ia lahir pada tahun 551 SM pada masa pemerintahan raja Ling dari Dinasti Zhou, dengan nama kecil Khung Chiu. Ajaran Konfusius mengedepankan sifat-sifat luhur manusia secara ideal dalam kehidupan individu maupun masyarakat. Pengaruh ajaran Konfusius sangat besar terutama pada wilayah Asia Timur. Ajaran ini ditanamkan dengan sangat kuat, hingga berakar pada jiwa dan pemikiran masyarakat Cina. Dalam individu, ajaran-ajaran Konfusius tidak akan pernah luntur dan tergantikan oleh perkembangan pengetahuan dan teknologi. Hal ini dikarenakan ajar konfusius yang mengedepankan cinta kasih, sopan santun, saling menghargai, toleransi dan keramah tamahan akan selalu relevan dengan perkembangan jaman seperti apapun. Hal inilah yang membuat masyarakat Cina tetap dapat memegang teguh ajaran Konfusisme dalam kehidupan sehari-hari mereka, secara personal. Dalam kaitannya dengan sistem ekonomi dan tata negara, ajaran konfusisme tidak lagi relevan. Cina saat ini menjadi negara kapitalis dengan sistem ekonomi yang kuat dan tata negara komunis yang kokoh. Jika dilihat dari kondisi tersebut, penerapan ajaran konfusisme justru terlihat kontradiktif dengan Cina modern, justru akan melemahkan sistem yang sudah tertata saat ini. Namun demikian, dalam personalitas manusia, ajaran konfusisme bisa diterapkan dengan baik dan menciptakan lingkungan sosial yang baik. C. Pengembangan Kebenaran dari kitab Weda Kitab Weda (Veda, Vid yang berarti pengetahuan) merupakan tuntunan hidup bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Apabila dikaji secara mendalam, menurut ajaran agama Hindu, kitab Weda bersumber dari wahyu Tuhan yang relevan sepanjang zaman. Ajaran suci Veda berisi tentang aturan tingkah laku manusia berupa anjuran untuk berbuat baik, larangan untuk melakukan kejahatan, ganjaran bagi mereka yang melakukan perbuatan baik, dan hukuman bagi mereka yang melakukan kejahatan. Dari kandungan ajaran kitab Weda tersebut, mulai dikembangkan aturan-aturan berkehidupan baik secara sosial, politik, ekonomi, rohani dan individu. Seperti halnya ajaran agama lain, para penganut kitab Weda, terutama mayoritas masyarakat India, dengan segala kesuciannya, meyakini Kitab Weda sebagai penuntun kehidupan di dunia dan menjadikan segala isi dalam kitab tersebut panutan dan sumber segala perilaku manusia. 6. Sumber Belajar: 1. Bak, Mu-Hyun; Newcomb, Martin; Friesner, Richard A.; Lippard, Stephen J. (2003). "Mechanistic Studies on the Hydroxylation of Methane by Methane Monooxygenase". Chemical Reviews. 103 (6): 2385–419. doi:10.1021/cr950244f 2. Khalil, M. A. K. (1999). "Non-Co2 Greenhouse Gases in the Atmosphere". Annual Review of Energy and the Environment. 24: 645–661. doi:10.1146/annurev.energy.24.1.645 3. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. (Cet. X; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990), h. 33. 4. Rodric Firth. Encyclopedia Internasional. (Philippines: Gloria Incorperation, 19720, h. 105. 5. Harry Hamersma. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. (Yogyakarta: kanisius, 1992), h. 15. 6. Tim Penulis Rosdakarya. Kamus Filsafat. (Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 30. 7. Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), h. 69. 8. Jujun Suariasumantri, Ilmu dalam Perspektif Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu, (Cet. IX; Jakarta: Gramedia, 1991), h., 5. 9. Ma’ruf, Fenomena Segitiga Bermuda Menurut Pandangan Filsafat dan Sains. Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 1 No. 2. 2018 10. Sami bin Abdullah al-Maghlouth. Atlas Agama-Agama, (Jakarta Timur : Almahira, 2011) h. 539-541 11. Hartati, Dewi. Konfusianisme Dalam Kebudayaan Cina Modern. Paradigma. Jurnal Kajian Budaya 12. Netra, Anak Agung Gde Oka. Tuntunan Dasar Agama Hindu. Departemen Agama RI. 1995.

Judul: Take Home Exam Filsafat Ilmu Dr Joni

Oleh: Agung Satria Wardhana


Ikuti kami