Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menjawab Tantangan Sekularisme Barat

Oleh Winda Roini

431,5 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menjawab Tantangan Sekularisme Barat

Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menjawab Tantangan Sekularisme Barat Winda Roini Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Mantingan Email: windaroini621@gmail.com Abstrak Sains dalam Islam merupakan substansi utama yang membangun peradaban Islam. Selain itu, karakteristik utama sains Islam yang dilandasi oleh Tuhid dan keimanan merupakan essensi dan nilai- nilai spiritual yang menjadi elemen penting guna membangun perdaban. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sains Islam dihadapkan pada suatu problem dan tantangan besar dari Barat yang menabuh genderang sekular yang berorientasi pada pemisahan ilmu pengetahuan dari agama dan nilai- nilai spiritual kehidupan. Barat, dengan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya merupakan tandingan sekaligus musuh besar bagi Islam. Bangun rancang ilmu dan aspek kehidupan dalam Islam dibangun di atas fondasi framework dan worldview Islam sehingga, sangat memungkinkan adanya titik temu antara agama dan ilmu. Berbeda halnya dengan Barat yang membangun ilmu pengetahuannya yang didasarkan pada akal rasio, sehingga nilai dan hasil yang dilahirkan oleh Barat selalu berniali relatif bahkan fatalnya tidak ditemukan titik kesalahan, apalagi kebenaran karena semua dinilai relatif. Akibatnya ilmu pengetahuan yang dilahirkan merupakan ilmu yang bebas nilai, universal dan tidak dapat disesuaikan dengan agama. Berkenaan dengan berkembangnya sekularisme dan urgennya Islamisasi ilmu pengetahuan, beberapa tokoh seperti Alparslan, Syed Naquib Al-Attas memberikan sumbangan dan pendapatnya terkait dengan Islamisasi ilmu pengetahuan. Dari pemaparan beberapa tokoh ini, maka dapat disimpulakan bahwa Islamisasi ilmu pengetahuan dapat diproyeksikan melalui worldview Islam yang cangkupannya meliputi materi dan spiritual dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagai seorang Muslim selayaknya berpegang teguh kepada trasisi keilmuan Islam dan tidak silau dengan tradisi keilmuan Barat walaupun terlihat lebih indah dan menarik. Keywords: Sekularisme, Ilmu pengetahuan, Islam, Worldview, Barat Pendahuluan Salah satu problem yang klimaks dalam diskursus mengenai ilmu pengetahuan yang tak ada habis- habisnya adalah persoalan sekularisasi dan sekularisme yang merambah diranah ilmu pengetahuan yang berdampak pada kerancuan pola pikir dan kerusakan orientasi hidup yang jelas jauh dari fitrah maunsia sebagai hamba. Beragam solusi yang ditawarkan oleh beberapa tokoh ulama‟ dan ilmuwan untuk menjawab permasalahan ini. Diantaranya memberikan alternatif integrasi ilmu pengetahuan. Namun, hal ini masih dianggap belum cukup, perlu adanya Islamisai ilmu pengetahuan yang benar-benar berlandaskan pada wahyu, tauhi dan iman yang menjadi elemen- elemen dan nila-nilai spiritual yang mengisi seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana yang ditawarkan Alparslan dalam rumusannya untuk memaknai ilmu pengetahuan yang dapat menuntun manuasia pada pencerahan.1 Terkait hal ini, Syed Naquib Al-Attas menggagas Islamisasi dengan menggunakan pendekatan peradaban Islam yang dibangun oleh ilmu pengetahuan yang diproyeksikan oleh farameowrk dan worldview Islam yang menjadi ciri utama dalam proses Islmaisasi ilmu sehinga dapat melahirkan ilmu pengetahuan yang islami yang menjadai tandingan perkembangan ilmu yang dikembangkan oleh Barat yang berusaha memisahkan ilmu pengetahuan dari kehidupan dan aspek- aspek nilai agama dan spiritual.2 Pengertian Sekuler, Sekularisasi, dan Sekularisme Sekularisasi banyak dipahami sebagai paham pemisahan antara agama dari dunia, sedangkan dalam pandangan Barat sendiri mengartikannya dengan pemisahan gereja dari negara. Secara etimologi, sekular berasal dari bahasa Latin saeculum yang berarti masa dan tempat yang artinya merujuk pada masa kini atau peristiwa keduniawian masa kini, sebagaimana Arfan Muammar dalam pemikiran Harvey Cox mengatakan bahwa sekularisasi adalah pembebasan manusia dari agama dan metafisika atau pengalihan dari alam lain kedunia lain. Harvey Cox juga membedakan makna sekularisasi dengan sekularisme. Menurutnya sekularisasi berarti pembebasan diri dari agama dan hala-hal yang berbau metafisik, adapun sekularisme dipahami sebagai sebuah ideologi yang tertutup. Sekularisasi lahir sebagai dampak dari modernisasi pada masa pencerahan. 1 Alparslan Acykgenc, “ Lahirnya Tradisi keilmuan dalam Islam,” dalam jurnal Islamia, Vol. 3, No.4, 2008, hal. 32-34 2 Menurut Syamsuddin Arif dalam bukunya “Diabolisme Pemikiran”, pernyataan ini menunjukkan kelemahan paradigma sekularisasi yang terkesan deterministik. Kalau sudah modern pasti akan sekular, kalau sekuler tentu modern, agar modern mesti sekular, kalau tidak sekuler tidak bisa modern, dan seterusnya. Padahal masyarakat jelas sangat dinamis dan karenanya amat sulit untuk dipatok arah maupun coraknya. Oleh karena itu, sekularisasi bukanlah prasyarat mutlak kemodernan dan kemajuan. Masyarakat tidak mesti menjadi sekuler untuk menjadi modern. Karena banyak juga masyarakat modern yang tetap religius, baik secara individual maupun konstitusional, seperti Libya dan Malaysia. Sebaliknya, tidak sedikit negara yang telah menyatakan diri sekuler, namun hingga kini masih saja belum tergolong sebagai negara maju, contohnya Marokko dan Turki. Lihat: Syamsuddin Arif, Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani, 2008), hal. 100 Sedangkan sekularisme merupakan fokus pada materi duniawi lebih dari hal spiritual.3 Adapun secara terminologi sekularisme diartikan sebagai paham yang memisahkan manusia dari agama dan metafisik yang mengatur akal seseorang atau dapat diartikan sebagai pembebasan diri dari ketergantungan terhadap agama.4 Sejarah dan Perkembangan Sekularisme Harvey cox dalam bukunya The Secular City mencatat bahwa sekularisasi tidak akan hanya berkembang di Barat, tetapi juga akan merambah keseluruh penjuru dunia. Ia juga menyatakan bahwa sekularisasi bermula sejak para missionary dan revolutionary yang sejak lama berakar dan berkembang dan sekarang mulai menuai hasil dan buahnya. Selain itu, ia juga mengakui bahwa sekularisasi merupakan proses liberalisasi yang diawali dengan westernisasi.5 Westernisasi membawa dampak besar terhadap cara pandangan hidup yang “universal”.6 Cara pandangan hidup yang universal juga berakibat pada cara berpikir yang sekuler. Akibatnya, terjadi pemisahan antara keilmuan, nilai, kultur dan tradisi dari keyakinan termasuk kepercayaan Tuhan atau hal-hal yang berbau metafisik.7 Sekalipun Westernisasi menghasilkan ilmu pengetahuan, namun, hal ini pulalah yang kemudian melahirkan pandangan dan pemikiran yang rancu, relatif desakralisasi, nihilisme bahkan yang lebih penting adalah kerusakan nilai spiritual kehidupan manusia hingga atheisme.8 Para ahli sejarah secara umum sepakat bahwa Eropa Barat secara total mengalami sekularisasi sejak 250 tahun terakhir. Setelah melalui beberapa penelitian diketahui bahwa beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya sekularisasi secara global diantaranya adalah pergolakan pikiran dan gagasan yang 3 M. Arfan Muammar, Majukah Islam Dengan Menjadi Sekuler?, (Ponorogo: CIOS-ISID Gontor, 2015), hal. 3 4 Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam da sekularisme, terj. Khalif Muammar, (Bandung: PIMPIN, 2010), hal. 19 5 Harvey Cox, The Secular city, (New york:The Macmillan Company, 2013), hal. 102 Mujahid Imaduddin, “Dampak Liberalisasi pemikiran Islam terhadap Kehidupan Soisial”, dalam jurnal Kalimah, Vol 15, No 1, hal. 94 7 Adian Husaini, Mengapa Barat Menjadi Sekuler-Liberal?, ((Ponorogo: CIOS-ISID Gontor, 2015), hal. 43 8 Baca lebih lanjut Hamid fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan Bersama Misionaris Orientalis dan Kolonialis, (Ponorogo: CIOS-ISID Gontor, 2008), hal. 18-19 6 saling bertentangan dan saling mempertahankan. Kedua, penerapan metode historis-kritis terhadap bible yang berakibat pada penapsiran bebas. Selain itu, ada yang berpendapat bahwa sekularisasi hanyalah bentuk dari gejala sosial sehingga berdampak pada perebutan pengaruh dan persaingan dalam ranah sosial. Faktor dan aspek sekularisasi ini beridampak pada dikotomi dan pemisahan antara hukum kekuasaan negara dari agama baik Islam maupun agama lain seperti kristen. Kholili Hasib berpendapat9 bahwa sekularisasi berdampak serius terhadap ilmu yang menuhankan rasional atau akal manusia dan menafikan Tuhan dan realita kebenaran yang juga berakibat pada fitrah hakiki manusia. hasilnya tidak penah ada titik temu antara ilmu dengan agama. Akibatnya, manusia bersikap skeptis atau ragu dan menjadikan nilai yang absolut menjadi relatif dan kabur. Bagi Islam paradigma sekuler merupakan virus yang merusak pemikiran dan cara berfikir muslim. Hasib kholili dalam pemikiran Thomas S Kuhn, menyatakan bahwa cara pandang, paradigma dan keyakinan seseorang sangat berpengaruh dalam menentukan pemikiran, sistem dan hypotesa seseorang. Hasib Kholili mengambil contoh dari konsep Darwin mengenai asal-usul kehidupan yang mnyatakan bahwa manusia dan alam tercipta dengan sendirinya yang artinya, ini merupakan sebuah konsekuensi terhdap pemisahan atau sekularisasi pemikiran. Selain itu dikotomi ilmu juga merupakan konsekuensi dari sekuler yang menarik kesimpulan pada penyempitan ruang lingkup ilmu agama dan ilmu yang bebas nilai. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada korelasi antara ilmu dengan syariah, fikih dan lingkup agama yang lainnya.10 Pengertian Sains dalam Islam Kata sains berasal dari bahasa Inggris “science”. Kata sence sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu “scio”, “scire” yang berati sebuah pengetahuan yang dapat diartikan sebagai aktivitaas sitematis yang membangun dan mengatur pengetahuan dalam bentuk prediksi mengenai alam semesta. Sains atau ilmu 9 Syamsudin Arif, Islam dan Diabolisme pemikiran Islam, (Jakarta: INSIST, 2017), hal. 64 10 Kholili Hasib, “konsep Al-Attas Tentang Adab (Tawaran paradigma pendidikan)”, dalam jurnal Islamia, Vol 9, No 1, 2014, hal. 56-58 dalam bahasa Arab disebut juga dengan „ilm, „alama yang artinya pengetahuan atau mengetahui sesuatu dengan penuh keyakinan yang mana pengetahuan ini tidaklah lain besrasal dari Allah SWT yang kemudian merasuk kedalam jiwa. Ilmu juga merupakan identitas berharga utama manusia sebagai puncak kesempurnaan akal seseorang yang membedakannya dari makhhluk Allah lainnya. Sedangkan pengetahuan merupakan bagian dari pada ilmu yang wilayah cangkupannya lebih sempit dari pada ilmu atau sains. 11 Selain itu jika dibandingkan dengan pengetahuan, ilmu jauh lebih tersitem atau teratur sesuai dengan batas-batasnya dan tujuannya yang lahir dari pengalaman indrawi yang menjadi sempurna jika diterapkan dalam kehidupan, bersifat baru dan memperbaharui sehingga akan selalu berkembang dan hidup.12 Prof. Dr. Alparslan,13 melalui analisanya mengenai ilmu dan tradisi keilmuan yang harus disertai dengan sederet penelitian yang terus-menerus yang kemudian dipahami dan membentuk disiplin ilmu yang menunjukkan ilmu tersebut merupakan suatu kesadaran ilmiah. Dengan demikian Alparslan menyimpulkan dua hal, pertama bahwa ilmu adalah konvensional dan universal yang dihasilkan melalui dua cara, yaitu cara dan perilaku komunitas ilmiah,14 dan dari karakteristik epistemologi akal manusia. Jadi, proses ilmiah (scientific process) adalah sederet tahapan yang kemudian melahirkan ilmu. Kedua, sebagaimana ilmu terlahir melalui proses ilmiah berikut tahapan-tahapannya, ilmu tidak bebas dari nilai-nilai bahkan sangat berkaitan erat dengan dengan nilai sehingga dapat memberi dan menuntun manusia pada pencerahan dan menjauhkannya dari segala bentuk pemikiran dan perbuatan yang tidak sesuai dengan agama.15 11 Ibrahim Musthafa, Majma‟ Al-Lughah Al-„Arabiyyah bi Al-Qahira, Al-Majma‟ AlWashiit,(Istambul: Daar Al-Da‟wah, 1990), 624 12 S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern,(Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, 1986) , hal. 1 13 Ketua Departement of Philoshopy, Fatih University , Istanbul, TURKEY. 14 Kegiatan penelitian terhadap suatu subjek yang dilakukan secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang atau dapat juga disebut sebagai ulama dalam peradaban Islam. 15 Proses ilmiah dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu: Pertama, tahap masalah dengan cara pengkajian terhadap masalah secara terpisah dalam kurun waktu tertentu. Kedua, tahap disipliner yang pada tahap ini ditentukannya masalah dan metode umum dengan kesepakatan konvensional para ilmuan dan akhirnya menghasilkan suatu tradisi. Ketiga, tahap penamaan kegiatan yang menunjukkan bahwa perkembangan ilmiah dan ilmu-ilmu islam lahir dan berkembang dari islamic-worldview yang berdasarkan oleh wahyu. Baca lebih lanjut Alparslan Acykgenc, “ Lahirnya Tradisi keilmuan dalam Islam,” dalam jurnal Islamia, Vol. 3, No.4, 2008, hal. 32-34 Ilmu islami dapat dimaknai menjadi tiga makna sesuai dengan pokok bahasan dan kaitannya masing-masing. Pertama, berkaitan dengan pokok bahasan disiplin akademik formal yang membahas sejarah peradaban islam dan hubungannya dengan perdaban lama dan setelahnya. Disini, ilmi dimaknai sebagai sejarah peradaban. Kedua, berkaitan dengan pokok bahasan dari subdisiplin dalam filsafat Islam yang bertitik tumpu pada aspek konseptual, empiris dan praktis yang berperan dalam menjelaskan terminologi kontemporer dan objektif atas prinsip metodologis dan filosofis yang telah mengembangkan ilmu dan sain dalam peradaban Islam. Ketiga, berkaitan dengan pokok bahasan disiplin-disiplin yang merumuskan-ulang konsep sains islam yang akan diterapkan pada ilmu dan teknologi kontemporer. Jadi, dari tiga makna sains islam sebagaimana yang dipaparkan oleh Adi Setia,16 memiliki keterkaitan erat antata satu dan yang lainnya sehinga, ketika ketiga makna sains islam ini dipadu- padankan dan diterapkan pada proyek riset ilmiah, maka akan diperoleh suatu bangunan teknologi dan sains islami yang baru dan secara kontemporer relevan dan menjadi manifestasi sistem nilai yang disisi lain juga berkaitan dengan sains dan teknologi Barat.17 Selain itu, pendapat Alparslan mengenai ilmu juga didukung oleh Adi Setia dalam tulisannya “Pengertian Sains Islam”, Ia mengatakan bahwa tantang paling besar dalam sains terletak pada makna ilmu atau sains Islam yang ketiga yatu perumusan kembali sains Islam yang bertujuan untuk pelaksanaan dan pengamalan nilai adab dan ilmu Islam karena saat ini, sains Barat modern sekularlah yang lebih mendominasi sehingga, ilmu yang bernilai etika dan metafisik diabaikan.18 Dari penjelasan diatas, dapat ditarik keismpulan bahwa ilmu pada hakikatnya baik ilmu fisik maupun ilmu non-fisik tidak pernah terlepas dari Disini, tampak jelas bahwa ilmu dalam islam menunjukkan kebenaran dan dipahami dengan absolut karena didasari oleh islamic worldview dan dilandasi oleh wahyu, sehingga dapat menuntun manusia menjadi manusia yang menjunjung tinggi nilai dan moralnya dalam bersikap. 16 Adi Setia adalah Asisten Prpfesor Sejarah dan Filsafat Sains, Departemen Studi Umum, Universitas Islam antar- bangsa Malaysia. 17 Adi Setia, “Tiga Makna Sians Islam: Menuju Pengoprasionalan Islamisasi Saina”, dalam jurnal Islamia, Vol 3, No 4, 2008, hal. 52-54 18 Adi Setia, Islamic Science Paradigma, fakta, dan Agenda- Pengertian Sains Islam, (Jakarta: INSIST, 2016), hal. 49 sumbernya yaitu wahyu dan kebenaran dari Allah yang menciptakan segalanya sehingga ilmu yang dihasilkan bernilai mutlak. Ketika suatu ilmu hanya bersandar dan bersumberkan pada akal manusia tanpa adanya bimbingan dari wahyu maka, ilmu tersebut akan membawa kerusakan dan kekacauan sebagaimana yang terjadi pada Barat yang membangun ilmunya atas dasar kebebasan akal tanpa adanya keimanan, berbatas pada rasional, empiris dan positivis maka, ilmu yang dihasilkanpun akan bernilai relatif dan melahirkan kerusakan pikiran manusia. Lebih jelasnya lagi perbedaan antara sains Islam dan sains Barat yang terletak pada essensinya. Bingkai atau yang disebut framework dan worldview Islam yang fundamental yang melibatkat Tuhan dalam pemikiran manusia dalam memahami ilmu, alam, etika dan agama merupakan essensi yang valid dan tidak dapat dipisahkan. Dan jelas bahwa sains Barat merupakan tantangan besar sains Islam.19 jadi, penjelasan-penjelasan diatas cukup untuk menyatakan perbedan definisi dan konsep ilmu dalam islam dengan ilmu dalam Barat.20 Sejarah dan Perkembangan Ilmu Bermula dari turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad yaitu suat Al-„Alaq ayat 1-5 yang diawali dengan kata “Bacalah!” sebagai perintah untuk membaca. Dari ayat tersebut, jelas bahwa kita sebagai manusia yang memiliki akal untuk berpikir di wajibkan untuk menuntut ilmu maka, setelah turunnya wahyu dan perintah tersebut Rasulullah pun kemudian menganjurkan dan memerintahkan para sahabat, istri, hingga budak-budaknya untuk belajar membaca dan menulis. Pada saat itu, budak-budakpun dibebaskan apabila telah mengajarkan sepuluh orang muslim untuk membaca dan menulis. Hal ini dilakukan untuk penyabaran agama Islam dan dakwah, sehingga tidak ada lagi pembodohan dan monopoli diantara manusia yang dengan demikian keilmuan menjadi semakin berkembang bahkan tidak hanya pada ilmu agama tetapi juga ilmu bahasa, kedoteran, teknologi, ketatanegaraan filsafat dan ilmu-ilmu lainnya. Selain membaca dan menulis, Rasulullah juga memerintahkan para sahabat untuk mempelajari bahasa-bahasa asing sehingga banyak buku-buku asing yang 19 Hamid Fahmy Zarkasyi, “Makna Sains dalam Islam”, dalam jurnal Islamia, Vol 3, No 4, 2008, hal. 7 20 Achmad Reza Hutama al-Faruqi, “Konsep Ilmu dalam Islam”, dalam jurnal kalimah, Vol 13, No 2, 2015, hal. 228 diterjemahkan pada masa Khulafaurrasyidin, inilah titik awal langkah Munculnya Ilmu atau science dalam peradaban islam.21 Tradisi keilmuan yang dibangun pada zaman Rasullah merupakan fondasi utama yang melahirkan ilmu-ilmu baru dan para ulama‟-ulama‟ intelek baru selain itu ilmu yang telah dibangun, kemudian dikembangkan sehingga menjadi pusat perabadan dunia yang gemilang. Menurut Syamsuddin Arif, ia menyatakan bahwa tidak dapat dipungkiri bahwa awal perkembangan ilmu di dunia Islam bermula dari ekspansi Islam yang juga merupakan dakwah dalam menyebarkan Islam keseluruh jazirah Arabia dari selatan hingga utara pada 632 M. Selama ekspansi tersebut, terjadilah konversi dan interaksi antara ilmu dan tradisi budaya setempat dengan Islam. Hal ini merupakan proses alami islamisasi dimana nilainilai Islam masuk dan diserap oleh masyarakat negeri yang ditahklukkan oleh Islam dengan cara mepelajari dan memahami tradisi kebudayaan daerah setempat, sedangkan bentuk budaya atau tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran dan aqidah Islam dimurnikan dan dihilangan.22 Dengan adanya ekspansi yang dilakukan oleh Islam pada 632 M, maka ilmu pengetahuanpun berada ditangan Islam dan terus berkembang dengan pesatnya, selain itu bahasa Arab juga muncul sebagai bahasa ilmu pengetahuan internasional sekitar abad ke-5 yang mencapai puncaknya pada masa kekhalifahan pada abad ke 16 khsusnya diwilayah Timur. Diantara contoh kegemilangan Islam denga ilmunya dapat kita lihat Cordoba yang pernah menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan Islam dan dunia. Islam memasuki Cordoba pada masa Dinasti Umayyah pada 711 M hingga Dinsati Abbasiyyah, ilu pengetahuan bekembang pesat karena banyaknya ahli-ahli fikih, alim-ulama, filsuf yang datang dan mengembangkan ilmunya di cordoba. Tidak hanya ilmu pengetahuan tetapi kesenian, sastra bahkan musik juga berkembang hingga pada puncaknya dimasa pemerintahan Abdul Rhman Nasir dan Al-Hakkam. Dari kota ini pulalah lahir 21 S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern, (Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, 1986), hal. 9 22 Pendapat ini dIkutipl dari pemikiran Sayyed Hosein Nasr dalam ceramah umumnya mengenai “Islam and Modern Science” oleh Syamsuddin Arif, Islamic Science Paradigma, fakta, dan Agenda- Pengertian Sains Islam, (Jakarta: INSIST, 2016), hal. 84 para ilmuwan muslim ternama seperti Ibnu Hazm dan Ibnu Rusydi juga sebagai filosofyang berjasa mengintegrasikan Islam dengan Yunani.23 Namun, setelah abad ke 16, Islam mulai memasuki masa kemunduran ilmu pengetahuan pada masa kesultanan Turki yang ketika itu merupakan superpower teknologi dibidang militer yang murni dilahirkan dan dikembanngkan Islam. Beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran ilmu pengetahuan islam diantaranya: pertama, faktor alam yang kering dan ebencana alam sehingga pemerintahan pusat melemah dan irigasi terabaikan sehingga menyebabkan kekacauan pertumpahan darah. Kedua, serangan dari luar yaitu peristiwa perang Salib yang sengaja menyerang dan menghancurkan Islam untuk memperluas wilayah Barat. Selain itu, juga datang invasi mongol yang membinasakan muslim. Ketiga, hilangnya perdagangan internasional dan kemunculnya kekuatan Barat yang dipacu oleh keruntuhan Granada pada tahun 1492. Ke-empat, koloniasi dan intervensi militer barat untuk menghalangi modernisasi Islam dan pengembangan ekonomi.24 Sains merupakan salah-satu substansi penting dalam membangun peradaban Islam yang selalu berjalan dan bersandingan dengan keimanan dan darinya pulalah lahir berbagai macam nilai dan konsep-konsep Islam dan peetunjuk tindakan manusia hingga membentuk suatu karya peradaban yang mampu menandingi dan mengalahkan peradaban Barat yang hanya berkutat pada akal manusia yang terbatas..25 Islamiasasi Sains Sebagai Solusi Doktrin Sekularisasi dan Sekularisme Ilmu pengetahuan merupakan nilai yang akan selalu berkembang dari masa kemasa, begitu pula dengan ilmu dalam Islam yang menjadi inti peradabannya dunia sekaligus musuh besar bagi peradaban Barat. Menurut Adian 23 Bahrul Ulum, “Cordoba, Kota Ilmu pada Masa Islam”. Dalam jurnal Islamia, Vol 9, No 1, 2014, hal. 108-110 24 Diterjemahkan oleh Ahmad Y. Al-Hasan dalam artikel yang berjudul Factort Behind the Decline of Islamic Science After the Sixteenth Century, dalam buku Islam and Challenge of Modernity, Historical and Contemporrary Texts. Ahmad Y. Al-Hasan, “ faktor-faktor Dibalik Kemunduran Ilmu Pengetahuan Islam Seteah Abad Ke- 16. Dalam jurnal Islamia, Vol 3, No 4, 2008, hal. 67-75 25 Hamid Fahmy Zarkasyi, Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya, (Gontor: Centre for Islamic Occidental Studies UNIDA, Cet. II, 2015), p. 10. Husaini, Peradaban Islam dengan ilmunya mampu berkembang dengan prinsip validnya, yaitu Tauhid dan mampu mentransfer ilmu yang dikembangkan oleh peradaban lain sekaligus menghilangkan sisi-sisi kekafirannya sehingga ilmu yang diterima merupakan ilmu yang absolute karena didasarkan pada islamic worldview dan dilandasi oleh wahyu. Sebaliknya, Barat modern mengembangkan ilmunya dengan memisahkan ilmu pengetahuan dari Tuhan dan agama atau menjadikan ilmu tersebut sekular karena Tuhan dan agama dalam pandangan nya hanya sebatas teoritis. Sebagaiman sebuah gagasan yang sangat terkenal yang diusung oleh Friedrick Nietzsche yang dikutip oleh Adnin Armas dalam bukunya Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu yang menyatakan bahwa antara agama dan ilmu pengetahuan tidak terdapat keterkaitan dan kesesuaian sama sekali.26 Problem sekularisme yang semakin merajalela merupakan dampak dan pengaruh atas problema teologi Kristen terhadap pemikiran Barat dimana banyak dogma-dogma gereja yang bertentangan dengan sains, sehingga mengakibatkan stagnasi ilmu pengetahuan. Dengan demikian, cara pandang Barat dan trauma agama berakibat pada pemisahan, karena agama dianggap tidak dapat disesuaikan dengan sains. Alhasil, tidak herak jika ilmu pengetahuan yang dilahir dari pemikiran Barat menghasilkan ilmu sekular dan perlunya sekularisasi.27 Pendapat lain mengenai perkembangan sains Barat modern juga didikung oleh Naquib Al-Attas dalam tulisannya “The Dewesternization of Knowladge” menyimpulkan bahwa, pemikiran dan ilmu pengetahuan yang dibangun oleh Barat tidaklah lain hanya menghasilkan kerusakan dan kekacauan pemikiran serta pemahaman yang selalu bernilai relatif, tidak absolute dan hanya bertolak ukur pada pandangan dan akal manusia.28 Maka, dapat disimpulkan bahwa dari kedua pemikiran tokoh diatas sepakat bahwa sumber kekacauan dan kerusakan Barat adalah ilmu yang mereka bangun sendiri karena ilmu tersebut didasarkan pada suatu ketidak pastian yang tidak melibatkan Tuhan dan agama dalam sistem berpikir dan ditambah lagi 26 Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu, (Ponorogo: CIOS- ISID Gontor, 2015), hal. 6 27 Adian Husaini, Mengapa Barat ..., hal. 43 28 Tulisan ini dikutip oleh Adian Husaini dari Naquib Al-Attas untuk mendukung dan menjelaskan mnegenai bahaya ilmu sekular. Adian Husaini, “Hutang Barat pada Islam” dalam jurnal Islamia, Vol 5, No 1, 2009, hal. 115-116 dengan menempatkan akal manusia sebagai pengatur segalanya, sehingga justru membawa kerusakan nilai spiritual kehidupan bukan cahaya yang menjadi petunjuk kehidupan.29 Dari sekian problem yang beranak-pinak dari kekacauan pemikiran hingga menuju kepercayaan, jawaban yang sekiranya tepat untuk menjadi solusi dari problem sekularisasi dan sekularisme adalah Islamisasi sains30 yang merupakan proses pengklasifikasian antara ilmu pengetahuan yang Islami dan yang tidak Islami. Menurut pandangan Al-Attas yang dikutip oleh Muhammad Imdad, AlAttas mendefinisikan Islamisasi sebagai “the liberation of man first from magical, animistic, mythological, national-cultural tradion opposed to Islam, and then from secular control over his reason and his language”. Dalam definisi ini, AlAttas mengerucutkan faktor Deislamisasi yang terdiri dari tradisi nasional-kultural dan dan sekular dengan batasan “opposed to Islam”. Selain itu, Muhammad Imdad juga mengutip dari Alparslan yang mendifinisikan Islamisasi sebagai ide atau doktrin yang dikembangakan dari worldview Islam dalam ragam penafsiran dan konteksnya. Dengan demikian, Islmisasi merupakan proses dan upaya Islam yang sejak awal mencangkup pemikiran, mekanisme, kultural dan seluruh aspek kehidupan dan disertai dengan penyeleksian yang berdasarkan pada Islam. 31 Mencermati perkembangan sekularisme baik diranah pemikiran ataupun ilmu pengetahuan, sekularisme membawa paham yang memisahkan aspek-aspek dunia dari aspek-aspek akhirat atau hal-hal yang tidak dapat dirasionalkan. Islam yang berdiri tegak dengan ilmu pengetahuan dan Tauhid dan Sunnah sebagai substansi peradabannya menggagas sebuah proyek yang dikenal dengan Islamisasi Ilmu pengetahuan yang dibangun melalui framework dan worldview Islam. Menurut Al-Attas mengenai Islamic worldview yang dikutip oleh Abdelaziz Berghout dalam bukunya Introduction to the Islamic Worldview mengatakan bahwa cara pandang Islam selalu mengarah dan berkiblat pada al-dunya wa alakhirah sehingga, antara urusan dunia tidak pernah terpisahkan dari urusan 29 . Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan..., hal 3 Muhammad Mumtaz Ali, Issue in Islamization of Human Knowladge; Civilization Building Discourse of Contemporary Muslim Thinkers, (Malaysia: IIUM Pres, 2014), hal. 19 31 Dikutip dari Muhammad Naquib Al-Attas dan Alparsalan oleh Muhammad Imdad, “Menjajaki Kemungkinan Islamisasi Sosiologi Pengetahuan”. Dalam jurnal Kalimah, Vol 13, No 2, 2015, hal. 241 30 akhirat sama halanya dengan ilmu pengetahuan dan agama. Sebagaimana Islamic worldview yang didefinisikan oleh Al-Attas: “According to the perspectives of Islam worldview is: teh vision of reality and truth that appears before our mind‟s eye revealing what existence is all about; for it is the world of existence in its totality that Islam is projecting ...The Islamic view of reality and truth, which is a: methapysical survey of the visible and invisible worlds including the perspective of life as a whole, is not a worldview that is formed merely by phenomena into artificial coherence. Nor is it one that is formed gradually through a historical process of philosophical speculation and scientific discovery, which must of necessity be left vague ad open-ended for uture change and alteration in line with paradigms that change in correspondence with changing circumtances. It is not a worldview that undergoes adialectical process of transformation repeated through the ages, form thesis to anti-thesis then 32 synthesis”. Sejalan dengan pemikiran Al-Attas yang menyatakan bahwa sekularisasi dan sekularisme ilmu pengetahuan ayang merupakan hasil kebingungan dan skeptisme Barat33 maka, solusi dan jalan keluar dari kebingungan ini dapat ditempuh melalui Islamisasi ilmu pengetahuan yang berdampingan dengan Islamic worldview, Muhammad Mumtaz Ali dalam bukunya Issue in Islamization of Human Knowladge; Civilization Building Discourse of Contemporary Muslim Thinkers menyatakan bahwa kunci utama Islamisasi ilmu pengetahuan yang hadir dizaman modern ini harus diletakkan dengan kunci utamanya yang dibangun bersamaan dengan worldview Islam karena problem utama yang dihadapkan sekular pada ilmu pengetahuan yang menyatakan bahwa ilmu adalah netral, bebas nilai, universal, tidak ada warna ideologi, agama dan unsur subjektif pada seluruh cabang ilmu pengtahuan. Maka, disini Al-Attas menegaskan bahwa perlu adanya Islamisasi ilmu pengetahuan karena pada hakikatnya ilmu pengetahuan sama sekali tidak dapat dipisahkan dari agama, begitu juga sebaliknya. Ilmu tidak bebas nilai, tetapi bahkan sangat sarat dengan nilai apalagi nilai ideologis karena ilmu jelas tidak dapat berdiri tanpa adanya worldview.34 32 Dikutip oleh Abdlaziz Berghout, Introductin to the Islamic Worldview, (Malaysia: IIUM Press, 2014), hal. 18 33 Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan ..., hal 10 34 Muhammad Mumtaz Ali, Issue in Islamization of Human Knowladge ..., hal. 19 Bagaimanapun juga, pentingnya Islamisasi ilmu pengetahuan sebagimana Adnin Armas mengungkapakan bahwa Islamisasi merupakan identitas Islam sebagai agama dan peradaban. Namun, sangat disayangkan karena beberapa kalangan cendekiawan muslim justru kontra dan menolak proses islamisasi ilmu pengtahuan ini. Diantara cendikiawan muslim yang kontra terhadap Islamisasi ilmu pengetahuan ialah Fazlur Rahman, ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa diislamkan karena tidak ada yang salah pada ilmu pengetahuan yang salah hanya penggunaannya. Maka, dari pemikiran Fazlur Rahman ini nampak jelas bahwa pemikirannya terpengaruh oleh sekular. 35 Kembali lagi pada definisi Syed Muhammad Naquib Al-Attas mengenai wordlview sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud, sebab worldview Islam memancarkan wujud yang total, maka dari itu worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru‟yatu al-Islâm li al-Wujud).36 Selain itu, worldview adalah fondasi utama yang membangaun ilmu pengetahuan yang kemudian membentuk suatu peradaban. Sebagaimana definisi worldview, Al-Attas menyimpulkan bahwa ilmu pengetahuan Barat juga dibangun atas dasar worldview, akan tetapi worldview atau cara padang hidup Barat tersebut dibangun bukan berdasarkan pada wahyu, akan tetapi dibangun atas visi intelektual dan psikologis budaya Barat dan perbedaan yang mendasar mengenai wahyu dan Realitas Akhir.37 Di sisi lain, untuk menjawab persoalan sekularisasi, Islam berperan penting dalam Islamisasi ilmu pengetahuan dan berbagai aspek lainnya yang dilandaskan pada wahyu seperti mengosongkan ilmu pengetahuan dari unsurunsur animisme, tahayyul, dan khurafat, kemudian menggantikannya dengan nilai-nilai ruhani. Kemudian menggantikan sistem kekuasaan Raja sebagai Tuhan dengan sistem khilafah.38 35 Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan..., hal. 18 S.M.N. Al-Attas dalam Prolegomena to The Methaphysics of Islam An Exposition of Fundamental Element of the Worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), p. 2. 37 Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan..., hal. 12 38 Penisbatan ini merupakan bukti atau tanda eksistensi Allah SWT. Lihat: Abdul Hamid Rajih Al-Kurdi, Nadzariyyah al-Ma‟rifah baina al-Qur‟an wa al-Falsafah, (Riyadh: Maktab 36 Islamisasi sains menurut Isma‟il Raji Al- Faruqi merupakan sebuah kebutuhan untuk menjaga komitmen dalam Islam. Disamping itu, Al-Faruqi juga bermaksud memformulasikan kembali seluruh pemikiran mengenai ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada worldvieew Islam dengan mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan, pemikiran dan metodologi pemikiran Islam. Hal ini dilakukan untuk menjaga dan menghindari kondisi intelektual framework yang stagnan.39 Praktek Islamisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan serta bangunan framework dan worldview kehidupan dapat kita lihat dari penanaman nilai Islami di beberapa pondok pesantren yang menanamkan ilmunya sekaligus mengintegrasikannya pada teknologi yang tak lepas dari nilai dasar keimanan dan tauhid sebagai landasan worldview sehingga, pola pikir dan ilmu pengetahuan yang menjadi substansi yang dihasilkanpun tidak terpengaruh dan tidak akan dapat diubah oleh sekularisme juga tidak akan ada dikotomis antara ilmu dan agama. Beberapa contoh aplikasi dan implikasi worldview Islam dalam kehidupan juga nampak pada tafaqquh fi al-ddiin untuk menjadi sorang ulma yang intelek yang mencangkup seluruh aspek kehidupan dan ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan contoh sekaligus bukti yang sekiranya dapat menjawab dan menjadi solusi tantangan sekularisasi pemikiran dan ilmu pengetahua.40 Maka, Implementasi Islamisasi ilmu pengetahuan dapat dimulai dari framework dan worldview Islam yang memproyeksikan cara pandang hidupnya pada nilai dan dan seluruh aspek kehidupan termasuk ilmu pengetahuan. Setelah proyeksi disorotkan pada ilmu pengetahuan dan aspek kehidupan, langkah selanjutnya adalah memasukkan elemen- elemen dan konsep kunci Islam kedalam ilmu pengetahuan dan aspek kehidupan yang sudah steril dari unsur-unsur Barat dan sekuler, dengan begitu ilmu pengetahuan akan berfungsi sesuai dengan fitrah dan tujuannya yang benar.41 Muayyad wa al-Ma‟had al-„Ali li al-Fikri al-Islamiy, al-Mamlakah al-„Arabiyyah as-Su‟udiyah, tt), h. 33. 39 Muhammada Mumtaz Ali, Issue in Islamization of Human Knowladge ..., hal. 116 40 Ahmad Suharto, Ayat- Ayat Perjuangan, (Mantingn: YPPWP Guru Muslich, 2015), hal. 2 41 Muhammad Imdad, Menjajaki Kemungkinan Islamisasi..., hal. 242 Penutup Melalui pemaparan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ilmu bukan sekedar pengetahuan tetapi merupakan kumpulan dari pengetahuan yang telah melalui prosedur sistematik dan proses ilmiah yang kemudian diuji dengan seperangkat metode sehingga diakui sebagai sebuah ilmu. Suatu ilmu juga diwarnai oleh framework dan worldview seseorang yang dengan kata lain karakter seseorang berpengaruh terhadap suatu ilmu dan keilmuannya. Ilmu pengetahuan yang dibangun oleh Barat merupakan bangun rancang tanpa landasan wahyu dan agama sehingga ilmu yang dilahirkan bernilai relatif. Substansi agama dan Tauhid dalam Islam merupakakn asas yang membedakan ilmu Islam dari ilmu Barat. Dengan perkembangan dan kemajuan ilmu Islam, Barat tidak hanya tinggal diam dan mulai melancarkan sekularisasi dan sekularisme di berbagai ranah dan aspek kehidupan. Maka, Islamisasi ilmu pengetahuan dianggap perlu sebagai jawaban sekaligus solusi sekularisasi dan sekularisme. Dengan demikian, hendaknya sebagai seorang Muslim lazimnya berpegangteguh dan turut mendukung tradisi keilmuan Islam dan proses Islamisasi ilmu pengetahuan karena nyatanya ilmu yang tidak islami itu juga ada dan hendaknya memaknai ilmu pengetahuan dan segala aspek kehidupan yang hakikatnya tidak pernah terpisah dari landasan agama dan keimanan. Daftar Pustaka Acykgenc, Alparslan. 2008 “ Lahirnya Tradisi keilmuan dalam Islam”. dalam jurnal Islamia. Vol. 3. No.4 Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 2010. Islam da sekularisme. terj. Khalif Muammar. Bandung: PIMPIN Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 1995. dalam Prolegomena to The Methaphysics of Islam An Exposition of Fundamental Element of the Worldview of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC Al-Faruqi, Achmad Reza Hutama. 2015. “Konsep Ilmu dalam Islam”. dalam jurnal kalimah. Vol 13. No 2. Arif, Syamsuddin. 2016. Islamic Science Paradigma, fakta, dan AgendaPengertian Sains Islam. Jakarta: INSIST ______________. 2017. Islam dan Diabolisme pemikiran Islam. Jakarta: INSIST ______________. 2008. Orientalisme dan Diabolisme Pemikir. Jakarta: Gema Insani. Armas, Adnin. 2015. Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu. Ponorogo: CIOSISID Gontor Berghout, Abdlaziz. 2014. Introductin to the Islamic Worldview. Malaysia: IIUM Press. Cox, Harvey. 2013. The Secular city. New york:The Macmillan Company Hamid Rajih Al-Kurdi, Abdul. T.T Nadzariyyah al-Ma‟rifah baina al-Qur‟an wa al-Falsafah. Riyadh: Maktab Muayyad wa al-Ma‟had al-„Ali li al-Fikri alIslamiy, al-Mamlakah al-„Arabiyyah as-Su‟udiyah Husaini, Adian. 2015. Mengapa Barat Menjadi Sekuler-Liberal?. Ponorogo: CIOS-ISID Gontor _____________. 2009. “Hutang Barat pada Islam” dalam jurnal Islamia. Vol 5. No Imaduddin, Mujahid. 2015. “Dampak Liberalisasi pemikiran Islam terhadap Kehidupan Soisial”. dalam jurnal Kalimah. Vol 15. No 2 Imdad, Muhammad. 2015. “Menjajaki Kemungkinan Islamisasi Sosiologi Pengetahuan”. Dalam jurnal Kalimah. Vol 13. No 2 Kholili. Hasib. 2014. “konsep Al-Attas Tentang Adab (Tawaran paradigma pendidikan)”. dalam jurnal Islamia. Vol 9. No 1 Muammar, M. Arfan. 2015. Majukah Islam Dengan Menjadi Sekuler?. Ponorogo: CIOS-ISID Gontor Mumtaz Ali, Muhammad. 2014. Issue in Islamization of Human Knowladge; Civilization Building Discourse of Contemporary Muslim Thinkers. Malaysia: IIUM Pres, Musthafa, Ibrahim. 1990. Majma‟ Al-Lughah Al-„Arabiyyah bi Al-Qahira, AlMajma‟ Al-Washiit. Istambul: Daar Al-Da‟wah Poeradisastra, S.I, 1986. Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern. Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat Setia, Adi. 2008. “Tiga Makna Sians Islam: Menuju Pengoprasionalan Islamisasi Saina”. dalam jurnal Islamia. Vol 3. No 4 ________. 2016. Islamic Science Paradigma, fakta, dan Agenda- Pengertian Sains Islam. Jakarta: INSIST Suharto, Ahmad. 2015. Ayat- Ayat Perjuangan. Mantingn: YPPWP Guru Muslich Ulum, Bahrul. 2014. “Cordoba, Kota Ilmu pada Masa Islam”. Dalam jurnal Islamia. Vol 9. No 1 Y. Al-Hasan, Ahmad. 2008. “faktor-faktor Dibalik Kemunduran Ilmu Pengetahuan Islam Seteah Abad Ke- 16”. Dalam jurnal Islamia. Vol 3. No 4 Zarkasyi, Hamid fahmy. 2008. Liberalisasi Pemikiran Islam (Gerakan Bersama Misionaris Orientalis dan Kolonialis. Ponorogo: CIOS-ISID Gontor ____________________. 2008. “Makna Sains dalam Islam”. dalam jurnal Islamia. Vol 3. No 4 _____________________. 2015. Peradaban Islam: Makna dan Strategi Pembangunannya. Gontor: Centre for Islamic Occidental Studies UNIDA. Cet. II

Judul: Islamisasi Ilmu Pengetahuan Menjawab Tantangan Sekularisme Barat

Oleh: Winda Roini


Ikuti kami