Makalah Tentang Ilmu Keperilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

Oleh Nurul Huda

248,5 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Tentang Ilmu Keperilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

MAKALAH TENTANG ILMU KEPERILAKUAN DALAM PERSPEKTIF AKUNTANSI Dosen Pengampu : WIRMIE EKA PUTRA, S.E., M.Si. Disusun oleh : NURUL HUDA ( C1C018187 ) AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS JAMBI 2020 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Ilmu Keperilakuan Dalam Perspektif Akuntansi”. Penyusunan makalah ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Akuntansi Keprilakuan yang diampu oleh Bapak Wirmie Eka Putra, S.E., M.Si.. Kami berharap makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan . Serta pembaca dapat mengetahui tentang Akuntansi Keperilakuan kami menyadari banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini. karena itu, saya sangat mengharapkan kritikan dan saran dari para pembaca. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu proses pembuatan makalah ini. Demikian apa yang bisa kami sampaikan, semoga pembaca dapat mengambil manfaat dari makalah ini. Jambi, September 2020 Penulis 2 DAFTAR ISI COVER........................................................................................................................................ 1 KATA PENGANTAR ............................................................................................................... 2 DAFTAR ISI................................................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN............................................................................................................4 A. Latar Belakang................................................................................................................4 B. Rumusan Masalah...........................................................................................................5 C. Tujuan..............................................................................................................................5 BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................6 A. Mempertimbangkan Aspek Keperilakuan pada akuntansi........................................6 B. Dimensi AKuntansi Keperilakuan.................................................................................8 C. Lingkup dan Sasaran Hasil Ilmu Keperilakuan..........................................................9 D. Persamaan dan Perbedaan Ilmu Keperilakuan dan Akuntansi Keperilakuan......10 E. Persepektif Berdasarkan Perilaku Manusia: Psikologi, Sosiologi, dan Psikologi sosial................................................................................................................................11 F. Beberapa Hal Penting dala Perilaku Organisasi........................................................12 BAB III PENUTUP...................................................................................................................18  Kesimpulan....................................................................................................................18  Saran ..............................................................................................................................18 DAFTAR PUSAKA...................................................................................................................19 3 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penignkatan ekonomi pada suatu organisasi dapat digunakan untuk menjadi dasar dalam memilih informasi yang relevan terhadap pengambilan keputusan. Keterampilan matematis sekarang ini telah berperan dalam menganalisis permasalahan keuangan yangkompleks. Begitu pula dengan kemajuan dalam teknologi computer akuntansi yang memungkinkan informasi dapat tersedia dengan cepat. Tetapi, seberapa canggih pun prosedur akuntansi yang ada, informasi yang dapat disediakan pada dasarnya bukanlah tujuan akhir. Kesempurnaan teknis tidak pernah mampu mencegah orang untuk mengetahui bahwa tujuan jasa akuntansi organisasi bukan hanya sekedar teknik yang didasarakn pada efektivitas dari segala prosedur akuntansi, melainkan bergantung pada bagaimana perilaku orang-orang didalam perusahaan, baik sebagai pemakai maupun pelaksana. Pengembangan Sistem memerlukan suatu perencanaan dan pengimplementasian yang hati-hati, untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan. Suatu keberhasilan implementasi sistem tidak hanya ditentukan pada penguasaan teknis belaka, namun banyak penelitian menunjukkan bahwa factor perilaku dari individu pengguna sistem sangat menentukan kesuksesan implementasi (Bodnar dan Hopwood, 1995). Faktor perilakuan yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi faktor organisasional (pelatihan, kejelasan tujuan, dan dukungan atasan ) serta adanya konflik kognitif dan afektif yang juga berpengaruh dalam implementasi sistem yang berkaitan dengan masalah individu personal. Peraturan perundang-undangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah menunjukkan reformasi pengelolaan keuangan negara. Chenhall (2004) dalam siti Rahmawati dan Rahmawati (2010) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa faktor-faktor perilaku selama implementasi akan meningkatkan kegunaan sistem ABCM pada perusahaan. Konflik Afektif berhubungan negative dengan kegunaan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah.Penelitian ini mendukung dari penelitian menurut Chenhall (2004) dalam siti nurlaela dan rahmawati (2010) dimana faktor konflik afektif berhubungan dengan kegunaan sistem ABCM. 4 Hubungan tidak langsung antara faktor organisasional dengan sistem yang dimediasi dengan konflik kognetif ada perbedaan yang sangat kecil. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penulisan ini adalah “ Bagaimanakah Ilmu Keperilakuan Dalam Perspektif Akuntansi. C. TUJUAN Adapun yang menjadi tujuan masalah adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui dimensi akuntansi keprilakuan; 2. Untuk mengetahui lingkup dan sasaran hasil dari akuntansi keprilakuan; 3. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara ilmu keprilakuan danakuntansi keprilakuan. 5 BAB II PEMBAHASAN A. MEMPERTIMBANGKAN ASPEK KEPERILAKUAN PADA AKUNTANSI Berdasarkan pengalaman, banyak manajer dan akuntan telah memperoleh suatu pemahaman yang lebih dari sekadar aspek manusia dalam tugas mereka. Bagaimanapun harus diakui bahwa banyak system akuntansi masih dihadapkan pada berbagai kesulitan manusia yang tidak terhitung, bahkan penggunaan dan penerimaan seluruh system akuntansi terkadang dapat menjadi meragukan. Para manajer terbiasa bebas untuk memanipulasi laporan informasi system akuntansi. Pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan dilakukan atas dasar sudut pandang hasil laporan mereka dan bukan atas dasar kontribusi mereka yang lebih luas terhadap efektivitas organisasi. Sebagian prosedur saat ini juga dapat menimbulkan pembatasan yang tidak diinginkan terhadap inisiatif manajerial. Prosedur dapat menjadi tujuan akhir itu sendiri jika semata-mata dibandingkan dengan teknik organisasi yang lebih luas. Dalam organisasi, semua anggota mempunyai peran yang harus dimainkan dalam mencapai tujuan organisasi. Peran tersebut bergantung pada seberapa besar porsi tanggung jawab dan rasa tanggung jawab anggota terhadap pencapaian tujuan. Rasa tanggung jawab tersebut pada sebagian organisasi dihargai dalam bentuk penghargaan tertentu. Dalam organisasi, masing-masing mempunyai tujuan dan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Keselarasan tersebut akan dapat lebih diwujudkan manakala individu memahami dan patuh pada ketetapan-ketetapan yang ada di dalam anggaran.  Akuntansi adalah tentang manusia Berdasarkan pemikiran perilaku, manusia dan factor social secara jelas didesain dalam aspek-aspek oprasional utama dari seluruh system akuntansi. Dari pengalaman dan praktik banyak manajer dan akuntan telah memperoleh pemahaman yang lebih dari sekedar aspek manusia dalam tugas mereka. Bagaimanapun harus diakui bahwa banyak system akuntansi masih dihadapkan pada berbagai kesulitan manusia yang tidak terhitung, bahkan penggunaan dan penerimaan seluruh sistem akuntansi terkadang dapat menjadi meragukan. 6 Pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan dilakukan atas dasar sudut pandang hasil laporan mereka dan bukan atas dasar kontribusi mereka yang lebih luas terhadap efektivitas organisasi. Sebagian prosedur saat ini juga dapat menimbulkan pembatasan yang tidak di inginkan terhadap inisiatif manajerial. Prosedur dapat menjadi tujuan akhir itu sendiri jika semata-mata dibandingkan dengan teknik organisasi yang lebih luas. Dalam pandangan ini, pengertian yang lebih mendalam dan berharga dapat diperoleh dari pemahaman atas perilaku dan ilmu-ilmu social. Akan tetapi, terdapat banyak teori psikologi, sosiologi, politik, serta organisasi yang bersifat sementara dan banyak bidang penting yang dapat ditemukan kadang kala bertentangan. Walaupun demikian, teori-teori tersebut menawarkan hal-hal penting bagi perluasan pandangan, paling tidak dalam bagian dari proses yang berhubungan dengan pola sistematis akuntansi secara lebih luas atas perilaku manusia. Dengan menganalisis secara sistematishubungan antara system akuntansi, bentuk pengendalian, sikap manusia, dan keputusan, serta tingkatan social dan perilaku, akuntan, dapat memusatkan perhatiannya keluar, sehingga hal tersebut tidak menjadi dasar bagi munculnya konflik dan pertentangan dari banyaknya permasalahan akuntansi, tetapi juga tidak menyebabkan potensi organisasi dan akuntansi social itu sendiri diragukan.  Akuntansi adalah tindakan Dalam organisasi, semua anggota mempunyai peran yang harus dimainkan dalam mencapai tujuan organisasi. Peran tersebut bergantung pada seberapa besar porsi tanggung jawab dan rasa tanggung jawab anggota terhadap. Rasa tanggung jawab tersebut pada sebagian organisasi dihargai dalam bentuk penghargaan tertentu. Dalam organisasi, masingmasing mempunyai tujuan dan bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Kesadaran dapat terwujud manakala mematuhi ketetapan dalam anggaran. Pencapaian tujuan dalam bentuk kuantitatif juga merupakan salah satu bentuk tanggung jawab anggota organisasi dalam memenuhi keinginan untuk mencapai tujuan dan sasaran informasi. Keselarasan tersebut akan dapat lebih diwujudkan manakala individu memahami dan patuh pada ketetapan-ketetapan yang ada di dalam anggaran. Bagaimana pemahaman dan kepatuhan tersebut dapat muncul menjadi sesuatu yang sangat penting. Jawaban atas 7 pertanyaan tersebut oleh sebagian akuntan diyakini berada pada aspek akuntansi, sehingga akuntansi dapat menjadi salah satu kunci penentunya. Lewat akuntansi, berbagai realisasi dalam anggaran dapat diwujudkan dan secara terus-menerus berdampak pada pola tindakan individu yang ada dala organisasi tersebut. B. DIMENSI AKUNTANSI KEPERILAKUAN Akuntansi, biasanya hanya terpusat pada pelaporan informasi keuangan. Pada beberapa dekade terakhir, pada manajer dan akuntan professional mulai mengetahui kebutuhan akan tambahan informasi ekonomi yang dihasilkan oleh system akuntansi. Oleh karena itu, informasi ekonomi dapat ditambah dengan tidak hanya melaporkan data-data keuangan saja, tetapi juga data-data nonkeuangan yang terkait dengan proses pengambilan keputusan. Berdasarkan kondisi ini, adalah wajar jika akuntansi terkait dengan informasi yang dihasilkan oleh system akuntansi. 1. Lingkup Akuntansi Keperilakuan Akuntansi keperilakuan berada dibalik akuntansi tradisional yang berarti mengumpulkan, mengukur, mencatat dan melaporkan informasi keuangan. Dengan demikian, dimensi akuntansi berkaitan dengan perilaku manusia dan juga dengan desaian, konstruksi, serta penggunaan suatu system informasi akuntansi yang efisien. Akuntansi keperilakuan dengan mempertimbangkan hubungan antara perilaku manusia dengan sistem akuntansi mencerminkan dimensi sosial dan budaya manusia dalam suatu organisasi. Secara umum, lingkup dari akuntansi keperilakuan dapat dibagi menjadi tiga bidang besar. a. Pengaruh perilaku manusia berdasarkan desain, konstruksi, dan penggunaan system akuntansi. Bidang dari akuntansi keperilakuan ini mempunyai kaitan dengan sikap dan filosofi manajemen yang memengaruhi sifat dasar pengendalian akuntansi yang berfungsi dalam organisasi. b. Pengaruh system akuntansi terhadap perilaku manusia. Bidang dari akuntansi keperilakuan ini berkenaan dengan bagaimana system akauntansi memengaruhi motivasi, produktivitas, pengambilan keputusan , kepuasan kerja, serta kerja sama. 8 c. Metode untuk memprediksi dan strategi untuk mengubah perilaku manusia. Bidang ketiga dari akuntansi keperilakuan ini mempunyai hubungan dengan cara system akuntansi digunakan sehingga memengaruhi perilaku. 2. Akuntansi Keperilakuan : Perluasan Logis dari Peran Akuntansi Tradisional Pengambilan keputusan dengan menggunakan laporan akuntansi akan dapat menjadi lebih baik jika laporan tersebut banyak mengandung informasi yang relevan. Akuntan mengakui adannya fakta ini melalui prinsip akuntansi yang dikenal dengan pengungkapan penuh (full disclosure). Prinsip ini memerlukan penjelasan yang tidak hanya berfungsi sebagai pengganti dan penambah informasi guna mendukung laporan data keuangan perusahaan, tetapi juga sebagai laporan yang menjelaskan kritik terhadap kejadian-kejadian nonkeuangan. Informasi tambahan ini dilaporkan baik dalam suatu kerangka laporan keuangan maupun dalam catatan atas laporan keuangan perusahaan. Beberapa ahli membantah pernyataan bahwa informasi pada dimensi perilaku organisasi adalah adalah tidak berguna bagi pengambil keputusan internal dan eksternal. Kekuatan para akuntan telah diakui bahwa mereka memiliki pengalaman selama berabad-abad, dimana mereka menjadi terbiasa dengan kebutuhan informasi dari pemakai eksternal dan para manajer internal, proses keputusan bisnis yang dibuat, dan berbagai data keuangan yang dilaporkan yang terkait dengan berbagai jenis situasi keputusan. Oleh karena itu, para akuntan yang berkualitas akan memilih gejala keperilakuan untuk melakukan penyelidikan, karena mereka mengetahui bahwa data keperilakuan sangat berarti untuk melengkapi data keuangan. Lebih lanjut lagi, para akuntan menjadi satu-satunya kelompok yang secara logis mampu mengikutsertakan informasi keperilakuan ke dalam laporan keuangan bisnis yang ada. C. LINGKUP DAN SASARAN HASIL ILMU KEPERILAKUAN Akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) adalah cabang akuntansi yang mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan sistem akuntansi (Siegel, G. et all. 1989) Istilah ilmu keprilakuan adalah penemuan yang relative baru. Ilmu keprilakuan mencangkup biang riset manapun yang mempelajrinya baik melalui metode obsevasi maupun esperimentasi, perilaku manusia dalam lingkunan fisik maupun manual Ilmu 9 keperilakuan adalah bagian dari ilmu social manusia. Ilmu sosial meliputi disiplin ilmu antropologi, sosiologi, ekonomi, sejarah, politik, psikologi. Pada masa lalu, para akuntan semata-mata focus pada pengukuran pendapatan dan biaya yang mempelajari pencapaian kinerja perusahaan di masa lalu guna memprediksi masa depan. Mereka mengabaikan fakta bahwa kinerja masa lalu adalah hasil masa lalu dari perilaku manusia dan kinerja masa lalu itu sendiri merupakan suatu factor yang akan mempengaruhi perilaku di masa depan. Mereka melewatkan fakta bahwa arti pengendalian secara penuh dari suatu organisasi harus diawali dengan memotivasi dan mengendalikan perilaku, tujuan, serta cita-cita individu yang saling berhubungan dalam organisasi. D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ILMU KEPERILAKUAN DAN AKUNTANSI KEPERLIAKUAN Ilmu keperilakuan mempunyai kaitan dengan penjelasan dan prediksi keperilakuan manusia. Akuntansi keperilakuan menghubungkan antara keperilakuan manusia dengan akuntansi. Ilmu keperilakuan merupakan bagian dari ilmu sosial, sedangkan akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntasi dan pengetahuan keperilakuan. Namun ilmu keperilakuan dan akuntansi keperilakuan sama-sama menggunakan prinsip sosiologi dan psikologi untuk menilai dan memecahkan permasalahan organisasi. Ilmu keprilakuan merupakan bagian dari ilmu social, akuntansi keperilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntansi dan pengetahuan keprilakuan. Akuntansi keprilakuan diterapkan dengan praktis menggunakan riset ilmu keprilakuan untuk menunjukkan dan memperediksi perilaku manusia. Beberapa perbedaan antara Akuntansi Keperilakuan dan Ilmu Keperilakuan Perbedaan Akuntansi Keperilakuan Keutamaan Area keahlian akuntansi Ilmu Keperilakuan : Keutamaan ilmu social : tidak pengetahuan dasar dari ilmu ada pengetahuan akuntansi social Kemampuan, mendesain dan Bukan merupakan elemen Elemen kunci dalam pelatihan melaksanakan perencanaan 10 proyek keprilakuan utama dalam pelatihan Pengetahuan dan Elemen pemahaman terhadap kunci dalam Bukan elemn utama dalam pelatihan pelatihan Professional Ilmiah Praktik Teoritis dan praktek pekerjaan organisasi bisnis secara umum dan system akuntansi secara khusus Orientasi Pendekatan masalah Melayani klien, menasehati Ilmu lanjutan dan pemecahan Fungsi manajemen Kepentingan dalam ilmu keperilakuan E. PERSPEKTIF masalah Terbatas terhadap akuntansi Terbatas terkait bidang yang terhadap luas dalam disiplin ilmu keperilakuan BERDASARKAN PERILAKU MANUSIA : PSIKOLOGI, SOSIOLOGI, DAN PSIKOLOGI SOSIAL Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha untuk mengukur, menjelaskan, dan terkadang untukmengubah perilaku manusia. Para psikologi memperhatikan, mempelajari, dan berupaya untuk memahami perilaku individual. Sedangkan sosiologi mempelajari orang-orang dalam hubungannya sesame manusia. Secara spesifik, sosiologi telah memberikan kontribusi yang besar pada perilaku organisasi melalui studi mereka terhadap perilaku kelompok dalam organisasi, terutama organisasi yang formal dan relative rumit. Psikologi social adalah suatu bidang kajian didalam psikologi, tetapi memadukan konsep-konsep baik dari psikologi maupun sosiologi. Psikologi social memfokuskan pada pengaruh satu-satu tehadap orang lain. 11 Menurut Robbins (2003), Ketiga hal tersebut, yaitu psikologi, sosiologi dan psikologi sosial menjadi kontribusi utama dari ilmu keperilakuan. Ketiganya melakukan pencarian untuk menguraikan dan menjelaskan perilaku manusia, walaupun secara keseluruhan mereka memiliki perspektif yang berbeda mengenai kondisi manusia. terutama merasa tertarik dengan bagaimana cara individu bertindak. Fokusnya didasarkan pada tindakan orang-orang ketika mereka bereaksi terhadap stimuli dalam lingkungan mereka, dan perilaku manusia dijelaskan dalam kaitannya dengan ciri, arah dan motivasi individu. Keutamaan psikologi didasarkan pada seseorang sebagai suatu organisasi. Kita sering berpikir bahwa yang namanya dunia psikologi adalah dunia yang berkaitan dengan persoalan perasaan, motivasi, kepribadian, dan yang sejenisnya. Dan kalau berpikir tentang sosiologi, secara umum cenderung memikirkan persoalan kemasyarakatan. Kajian utama psikologi adalah pada persoalan kepribadian, mental, perilaku, dan dimensi-dimensi lain yang ada dalam diri manusia sebagai individu. Sosiologi lebih mengabdikan kajiannya pada budaya dan struktur sosial yang keduanya mempengaruhi interaksi, perilaku, dan kepribadian. Kedua bidang ilmu tersebut bertemu di daerah yang dinamakan psikologi sosial. Dengan demikian para psikolog berwenang merambah bidang ini, demikian pula para sosiolog. Namun karena perbedaan latar belakang maka para psikolog akan menekankan pengaruh situasi sosial terhadap proses dasar psikologikal - persepsi, kognisi, emosi, dan sejenisnya. Sedangkan para sosiolog akan lebih menekankan pada bagaimana budaya dan struktur sosial mempengaruhi perilaku dan interaksi para individu dalam konteks sosial, dan lalu bagaimana pola perilaku dan interaksi tadi mengubah budaya dan struktur sosial. Jadi psikologi akan cenderung memusatkan pada atribut dinamis dari seseorang; sedangkan sosiologi akan mengkonsentrasikan pada atribut dan dinamika seseorang, perilaku, interaksi, struktur sosial, dan budaya, sebagai faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya F. BEBERAPA HAL PENTING DALAM PERILAKU ORGANISASI Ada beberapa teori perilaku organisasional yang mencerminkan inti yang ditangani oleh teori-teori, yaitu : 12 1. Teori Peran Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapanharapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. 2. Struktur Sosial Para sosiolog yakin bahwa struktur sosial terdiri atas jalinan interaksi antar manusia dengan cara yang relatif stabil. Kita mewarisi struktur sosial dalam satu pola perilaku yang diturunkan oleh satu generasi ke generasi berikutnya, melalui proses sosialisasi. Disebabkan oleh struktur sosial, kita mengalami kehidupan sosial yang telah terpolakan. James menguraikan pentingnya dampak struktur sosial atas "diri" (self) - perasaan kita terhadap diri kita sendiri. Masyarakat mempengaruhi diri (self). 3. Budaya Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuiakan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain. Menurut Hofstede (1980,1991), ada empat domensi budaya nasional sebagai berikut : a) Jarak kekuasaan (power distance), yaitu sejauh mana orang percaya bahwa kekuasaan dan status didistribusikan secara tidak merata dan bagaimana orang menerima distribusi kekuasaan yang tidak merata tersebut sebagai cara yang tepat untuk mengorganisasikan system social. 13 b) Penghindaran ketidakpastian (uncertain avoidance), yaitu sejauh mana orang merasa terancam dengan keadaan yang tidak tentu (tidak pasti) atau tidak diketahui. c) Maskulinitas dan feminisitas (masculinity and femininity) Maskulinitas adalah suatu situasi yang ditandai dengan adanya nilai-nilai yang dominan dalam masyarakat, yang lebih menekankan dan mementingkan uang, harta benda, atau materi. Feminisitas adalah suatu situasi yang menjelaskan nilai-nilai yang dominan dalam masyarakat, yang lebih menekankan pada pentingnya hubungan antar-manusia, kepedulian pada orang lain, dan ketentraman hidup d) Individualism dan kolektivitas (individualism and collectivism) Individualism adalah situasi yang menjelaskan orang-orang dalam suatu masyarakat, yang cenderung untuk memerhatikan dirinya sendiri dan keluarga dekatnya saja Kolektivisme adalah siatuasi yang menjelaskan orang-orang dalam masyarakat, yang cenderung untuk merasa memiliki ikatan yang kuat dalam satu kelompok yang berbeda dengan kelompok lainnya. 4. Komitmen Organisasi Komitmen organisasi adalah sebagai suatu keadaan dimana seseorang karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut. Menurut Robbins (2003), didefinisikan bahwa keterlibatan pekerjaaan yang tinggi berarti memihak pada pekerjaan tertentu seseorang individu, sementara komitmen organisasional yang tinggi berarti memihak organisasi yang merekrut individu tersebut. Dalam organisasi sekolah guru merupakan tenaga profesional yang berhadapan langsung dengan siswa, maka guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik mampu menjalankan kebijakan-kebijakan dengan tujuan-tujuan tertentu dan mempunyai komimen yang kuat terhadap sekolah tempat dia bekerja. Seseorang individu yang memiliki komitmen tinggi kemungkinan akan melihat dirinya sebagai anggota sejati organisasi. 14 5. Konflik Peran Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. 6. Konflik Kepentingan Konflik kepentingan adalah suatu keadaan sewaktu seseorang pada posisi yang memerlukan kepercayaan, seperti pengacara, politikus, eksekutif atau direktur suatu perusahaan, memiliki kepentingan profesional dan pribadi yang bersinggungan. Persinggungan kepentingan ini dapat menyulitkan orang tersebut untuk menjalankan tugasnya. Suatu konflik kepentingan dapat timbul bahkan jika hal tersebut tidak menimbulkan tindakan yang tidak etis atau tidak pantas. Suatu konflik kepentingan dapat mengurangi kepercayaan terhadap seseorang atau suatu profesi. Menurut prinsip manajemen yang dikemukakan oleh Henry Fayol (1914), kepentingan pribadi atau kelompok harus tunduk kepada kepentingan organisasi secara keseluruhan. Maka sudah sangat dipahami bila dalam praktek bisnis, demi kepentingan orang yang lebih banyak atau organisasi, manajemen harus memutuskan hubungan kerja dengan seorang atau beberapa orang karyawan, walaupun karyawan tersebut mungkin telah selama puluhan tahun ikut serta dalam mengembangkan dan membesarkan perusahaan. Karena menganut pandangan bahwa urusan pribadi harus dipisahkan dari bisnis serta bahwa kepentingan perusahaan harus lebih didahulukan daripada pribadi, maka banyak eksekutif yang sukses 15 dalam memimpin danmengatur perusahaan, tetapi gagal dalam memimpin dan mengatur keluarga. Banyak bukti riset yang menunjukkan bahwa konflik kepentingan pekerja dan keluarga sangat merugikan karyawan dan perusahaan. Konflik kerja dan keluarga cenderung berpengaruh negatif terhadap kinerja karyawan. Hasil-hasil riset tersebut merekomendasikan perlunya manajemen perusahaan untuk mengambil kebijakan yang menginterpretasikan kepentingan pekerjaan dengan kepentingan pribadi. 7. Pemberdayaan Karyawan Perberdayaan karyawan berarti penciptaan sebuah lingkungan di mana karyawan memiliki wewenang yang lebih untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dengan konsekuensi mereka bertanggungjawab atas hasil penciptaan sebuah lingkungan karyawan dimana karyawan memiliki wewenang yang lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dengan konsekuensi mereka bertanggungjawab atas hasil pekerjaan tersebut. Mas’ud (2002) menuliskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mendorong organisasi dalam melaksanakan pemberdayan. Beberapa di antaranya adalah tuntutan pelanggan yang semakin tinggi terhadap kualitas produk maupun layanan, jaminan keamanan, perlindungan konsumen, persaingan dalam efisiensi dan inovasi produk, penggunaan teknologi baru yang canggih, peraturan pemerintah dan lain sebagainya. Apabila organisasi melaksanakan pemberdayaan karyawan, maka berarti bahwa karyawan tersebut diperlakukan sesuai denga teori Y, artinya pimpinan organisasi tersebut menganut paham atau cara pandang bahwa karyawan di perusahaan tersebut adalah karyawan yang mempunyai kaeakteristik yang pada umumnya positif. Akan tetapi dalam kenyataannya, terdapat banyak pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan pemberdayaan dan bagaimana cara untuk melakukan pemberdayaan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya defenisi atau pengertian yang diberikan oleh para ahli di berbagai literatur. Namun, terdapat kesamaan dalam hal maksud dilakukannya pemberdayaan dalam organisasi, yaitu antara lain untuk : 1. Meningkatkan motivasi guna mengurangi kesalahan dan mendorong karyawan untuk bertanggung jawab terhadap tindakannya. 16 2. Meningkatkan dan mengembangkan kreativitas dan inovasi. 3. Mendorong peningkatan kualitas produk dan jasa. 4. Meningkatkan kepuasan pelanggan dengan mendekatkan karyawan terhadap pelanggan, sehingga karyawan dapat melayani dengan lebih baik. 5. Meningkatkan kesetiaan pada saat yang sama mengurangi tingkat kemangkiran. 6. Mendorong kerja sama yang lebih baik dengan sesama rekan kerja dalam meningkatkan pengawasan dan produktivitas. 7. Mengurangi tugas pengawasan (pengendalian) dari manajemen menengah dalam pekerjaan operasional sehari-hari, sehingga para manajer lebih mempunyai waktu dan perhatian terhadap masalah-masalah yang lebih besar. 8. Menyiapkan karyawan untuk berkembang dan menghadapi perubahan dan tuntutan persaingan. 9. Meningkatkan daya saing bisnis. 17 BAB III PENUTUP  KESIMPULAN Ilmu pengetahuan keperilakuan mempunyai kaitan dengan menjelaskan dan memperediksi mengenai keprilakuan manusia. Akuntansi keprilakuan menghubungkan antara keprilakuan manusia dan akuntansi. Ilmu keprilakuan merupakan bagian dari ilmu social. Akuntansi ilmu keprilakuan merupakan bagian dari ilmu akuntansi dan pengetahuan keprilakuan. Akuntansi keprilakuan praktis digunakan dan diterapkan dengan menggunakan riset ilmu keprilakuan untuk menjelaskan dan memperediksi perilaku manusia.  SARAN Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita semua tentang auditing. Khususnya tentang audit terhadap siklus pendapatan. 18 DAFTAR PUSTAKA Buku Akuntansi Keperilakuan Arfan Ikhsan – Muhammad Ishak 19

Judul: Makalah Tentang Ilmu Keperilakuan Dalam Perspektif Akuntansi

Oleh: Nurul Huda


Ikuti kami