Makalah Tafsir Hadis Fiqih Tasawuf Ilmu Kalam

Oleh Armais Mutiah Abdul Hidayat S

187,1 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Tafsir Hadis Fiqih Tasawuf Ilmu Kalam

MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM “TAFSIR, HADIS, FIQIH, TASAWUF, ILMU KALAM, TEKSTUALITAS, SEJARAH ISLAM, PEMIKIRAN MODREN, FILSAFAT ISLAM, DAN PENDIDIKAN ISLAM” Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Metodologi Studi Islam” Dosen pengampu : Dr. H. M. Rozali, MA Disusun Oleh : FINKY MANDA TIARA (0705191047) ARMAIS MUTIAH ABDUL HIDAYAT S (0705192007) PROGRAM STUDI FISIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNILOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN 2021 A. PENDAHULUAN Penelitian (research) adalah upaya sistematis dan objektif untuk mempelajari suatu masalah dan menemukan prinsip-prinsip umum. Selain itu, penelitian juga berarti upaya pengumpulan informasi yang bertujuan untuk menambah pengetahuan. Pengetahuan manusia tumbuh dan berkembang berdasarkan kajian-kajian sehingga terdapat penemuan-penemuan, sehingga ia siap merevisi pengetahuan-pengetahuan masa lalu melalui penemuan-penemuan baru. Penelitian dipandang sebagai kegiatan ilmiah karena menggunakan metode keilmuan. Sedangkan metode ilmiah sendiri adalah usaha untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan kesangsian sistematis. Penelitian agama sendiri menjadikan agama sebagai objek penelitian yang sudah lama diperdebatkan. Harun Nasution menunjukkan pendapat yang menyatakan bahwa agama, karena merupakan wahyu, tidak dapat menjadi sasaran penelitian ilmu sosial, dan kalaupun dapat dilakukan, harus menggunakan metode khusus yang berbeda dengan metode ilmu sosial. Hal yang sama juga dijelaskan oleh Ahmad Syafi’i Mufid dalam Hakim dan Mubarak menjelaskan bahwa agama sebagai objek penelitian pernah menjadi bahan perdebatan, karena agama merupakan sesuatu yang transenden. Agamawan cenderung berkeyakinan bahwa agama memiliki kebenaran mutlak sehingga tidak perlu diteliti. Menurut Harun Nasution, agama mengandung dua kelompok ajaran, yaitu: 1. Ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui rasul-Nya kepada masyarakat manusia. Ajaran dasar yang demikian terdapat dalam kitabkitab suci. Ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab suci itu memerlukan penjelasan tentang arti dan cara pelaksanaannya. Penjelasanpenjelasan para pemuka atau pakar agama membentuk ajaran agama kelompok. 2. Ajaran dasar agama, karena merupakan wahyu dari tuhan, bersifat absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak bisa diubah. 1 Sedangkan penjelasan ahli agama terhadap ajaran dasar agama, karena hanya merupakan penjelasan dan hasil pemikiran, tidak absolut, tidak mutlak benar, dan tidak kekal. Bentuk ajaran agama yang kedua ini bersifat relatif, nisbi, berubah, dan dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman. Para ilmuwan sendiri beranggapan bahwa agama juga merupakan objek kajian atau penelitian, karena agama merupakan bagian dari kehidupan sosial kultural. Jadi, penelitian agama bukanlah meneliti hakikat agama dalam arti wahyu, melainkan meneliti manusia yang menghayati, meyakini, dan memperoleh pengaruh dari agama. Dengan kata lain, penelitian agama bukan meneliti kebenaran teologi atau filosofi tetapi bagaimana agama itu ada dalam kebudayaan dan sistem sosial berdasarkan fakta atau realitas sosial-kultural. Jadi, Ahmad Syafi’i Mufid dalam Mochtar menyatakan bahwa kita tidak mempertentangkan antara penelitian agama dengan penelitian sosial terhadap agama. B. Model Penelitian Agama Islam Menurut Tafsir Kata model berarti contoh, acuan, ragam, atau ragam. Sedangkan penelitian berarti pemeriksaan penyelidikan yang dilakukan dengan berbagai cara secara seksama dengan tujuan mencari kebenaran kebenaran objektif yang disimpulkan melalui data-data yang terkumpul. kemudian kebenaran-kebenaran tersebut digunakan sebagai dasar atau landasan untuk pembaharuan pengembangan atau perbaikan dalam masalah-masalah teoritis dan praktis dalam bidang-bidang pengetahuan yang bersangkutan. Adapun tafsir berasal dari bahasa Arab, fassara, yufassiru, tafsiran yang berarti penjelasan pemahaman dan perincian. Selain itu tafsir berarti Al Idlah wa Al Tabyin, yaitu penjelasan dan keterangan titik pendapat lain mengatakan bahwa kata tafsir sejajar dengan timbangan ( wazan ). Kata-kata tafil diambil dari kata Al Fasr yang berarti al-bayan atau penjelasan dan Al Kasyf yang berarti membuka atau menyingkap dan dapat pula diambil dari kata Al Tafsarah. Pengertian tafsir sebagaimana dikemukakan pakar Al-Qur’an tampil dalam formulasi yang berbeda-beda namun esensinya sama. Al Jurnani, misalnya mengatakan bahwa tafsir ialah menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an dari 2 berbagai segi nya baik konteks historis maupun sebab Al Nuzulnya, dengan menggunakan ungkapan atau keterangan yang dapat menunjuk kepada makna yang dikehendaki secara terang dan jelas. Imam Al Zarqani mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan Al-Qur’an baik dari segi pemahaman makna atau arti sesuai dikehendaki Allah menurut kadar kesanggupan manusia . Abu Hayan, sebagaimana dikutip Al Suyuthi, mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang didalamnya terdapat pembahasan mengenai cara mengucapkan lafal-lafal Al-Qur’an disertai makna serta hukum-hukum yang terkandung didalamnya. Az Zarkasyi mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang fungsinya untuk mengetahui kandungan kitabullah (Al-Qur’an), dengan cara mengambil penjelasan maknanya, hukum serta hikmah yang terkandung didalamnya. Dari beberapa definisi di atas kita menemukan tiga ciri utama tafsir : 1. Di lihat dari segi objek pembahasannya adalah kitab Allah (Al-Qur’an) yang di dalamnya terkandung firman Allah Swt yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril. 2. Dari segi tujuannya adalah untuk menjelaskan, menerangkan, menyingkap kandungan Al-Qur’an sehingga dapat di jumpai hikmah, hukum, ketetapan, dan ajaran yang terkandung di dalamnya. 3. Dari segi sifat dan kedudukannya adalah hasil penalaran, kajian, dan ijtihad para mufassir yang didasarkan pada kesanggupan dan kemampuan yang dimilikinya, sehigga suatau saat dapat di tinjau kembali. Dengan demikian, secara singkat dapat di ambil suatu pengertian bahwa yang dimaksud dengan model penelitian tafsir adalah suatu contoh, ragam, acuan, atau macam dari penyelidikan secara seksama terhadap penafsiran AL-Qur’an yang pernah dilakukan generasi terdahulu untuk diketahui secara pasti tentang berbagai hal yang terkait dengannya. Objek pembahasan tafsir, yaitu Al-Qur’an merupakan sumber ajaran islam. Maka menurut, Quraish Shihab pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, melalui penafsiran-penafsirannya, mempunyai peranan sangat besar bagi maju 3 mundurnyaumat, sekaligus dapat mencerminkan perkembangan serta corak pemikiran mereka.  Model-Model Penelitian Tafsir 1. Model Quraish Shihab Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh H.M. Quraish Shihab lebih banyak bersifat eksploratif, deskriptif, analitis, dan perbandingan. Model penelitian ini berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir baik yang bersifat primer, yakni yang di tulis oleh ulama tafsir yang bersangkutan, maupun ulama lain. Data-data yang di hasilkan dari berbagai literatur , kemudian dideskripsikan secara lengkap serta dianalisis dengan menggunakan pendekatan kategorisasi dan perbandingan. Hasil penetian H.M. Quraish Shihab terhadap Tafsir Al Manar Muhammad Abduh, misalnya menyatakan bahwa Syaikh Muhammad Abduh (1849-1909) adalah salah seorang ahli tafsir yang banyak mengandalkan akal, menganut prinsip tidak menafsirkan ayat-ayat yang kandungannya tidak terjangkau oleh pikiran manusia, tidak pula ayat-ayat yang samar atau tidak terperinci dalam Al-Qur’an. Dengan tidak memfokuskan pada tokoh tertentu, Quraish Shihab telah meneliti hampir seluruh karya tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu. Dari penelitian tersebut dihasilkan kesimpulan yang berkenaan dengan tafsir. Antara lain tentang: 1. Periodesasi pertumbuhan dan perkembangan. 2. Corak-corak penafsiran. 3. Macam-macam metode penafsiran Al-Qur’an. 4. Syarat-syarat dalam menafsirkan Al-Qur’an. 5. Hubungan tafsir modernisasi. 1 1 Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. Metologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), cet. XVIII, h. 209 – 215. 4 C. Model Penelitian Agama Islam Menurut Hadist Al-Qur’an dan hadits adalah sumber dari berbagai sumber yang utama dalam segala aspek kehidupan masyarakat muslim. Selain itu, setiap ummat muslim wajib baginya dalam mengimani dan mengkajinya dalam rangka memahami dan mempraktikkan apa yang telah dipelajari sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt. Mengingat bahwasanya Al-Qur’an dan hadits menggunakan bahasa arab, maka perlu bagi para pengkaji atau peneliti studi Al-Qur’an dan hadits memperhatikan beberapa aspek baik dari kompetensi dirinya sendiri maupun aspek yang menjadi alat untuk menelitinya. Aspek tersebut berada dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yaitu ‘ulum AlQur’an dan ‘ulum Al-Hadits. Adapun konten dari kedua keilmuan tersebut seperti definisi Al-Qur’an dan Hadits, asbab Al Nuzul dan asbab Al Wurud, nasakh wa Al Mansukh dalam Al-Qur’an dan hadits, ayat amr dan nahi, ayat ahkam dan mutasyabih, pun juga menjadi disiplin keilmuan dalam Al-Qur’an yang berdiri sendiri adalah ilmu qira’at Al-Qur’an. Sedangkan dalam ilmu hadits mempelajari tentang ta’rif Al-Hadits dalam redaksi dan periwayatan seperti sanad, matan dan rawi, rijal Al-Hadits, kualitas hadits seperti sahih, hasan dan dhaif. Sampai saat ini, model-model penelitian yang dibawa oleh beberapa tokoh Al-Qur’an dan hadits selalu mengerucut pada penelitian kualitatif yang berbentuk kajian kepustakaan (library research). Sehingga dalam penyajian analisisnya berbentuk deskriptif kualitatif. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa metode kajian studinya sebagaimana Al-Qur’an menggunakan studi penafsiran riwayah dan dirayah.Sedangkan hadits lebih menggunakan eksploratif dan komparatif (dalam Al-Qur’an masuk pada ranah dirayah). Sehingga dalam perwujudannya tidak jarang peneliti atau orang yang sedang melakukan kajian studinya selalu membuktikan kebenaran Al-Qur’an dari masa ke masa dengan deskripsi dari hasil eksplorasi berbagai literatur baik dari kitab-kitab tafsir maupun syarh hadits itu sendiri. Serta apabila metode studi AlQur’an diadopsi pada studi pendidikan (tarbawi) maka akan memberikan kontribusi atau sumbangsih yang kuat terhadap pondasi pendidikan Islam dari berbagai sudut pandang mufassiriin. Teriring riwayat Abdurrahman Al Diba’i 5 dalam kitab maulidnya memberikan motivasi tersendiri bagi pembaca agar selalu menjadikan role of model Rasulullah Saw dalam aktivitas sehari-hari, yaitu perilakunya bersumber daripada Al-Qur’an itu sendir. Sehingga dalam kajian historinya, manusia yang berada pada zaman Rasulullah hingga sesudahnya adalah ummat yang mencoba merujuk cara hidupnya dan keilmuannya dengan metode mentauladaninya. Kesulitan dalam mentauladani apabila hanya berbekal pada cerita saja. Sehingga perlu ada sebuah catatan sebagai pedoman dalam merujuknya. Menjadi catatan tersendiri bagi penulis maupun pembaca apabila mendapati sebuah kesulitan atau kerancuan dalam bidang akademis tersendiri. Maka rujukan utama dari semua pembahasan dan atau bahkan menjadi landasan utama dalam menganalisa, studi komparasi, hingga studi pengembangan adalah Al-Qur’an dan Hadits sendirilah menjadi pijakan utamanya2. D. Model Penelitian Agama Islam Menurut Ilmu Fikih 1. Definisi dan Karakteristik Hukum Islam Pengertian Hukum Islam hingga saat ini masih rancu dengan pengertian syari’ah. Untuk itu, dalam pengertian hukum Islam di sini dimaksudkan didalamnya pengertian syari’ah. Dalam kaitan ini dijumpai pendapat yang mengatakan bahwa hukum Islam atau fiqih adalah sekelompok dengan syari’at yaitu ilmu yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia yang diambil dari nash Al-Qur’an atau As-Sunnah3. Bila ada nash dari Al-Qur’an atau As-Sunnah yang berhubungan dengan amal perbuatan tersebut, atau yang diambil dari sumber-sumber lain bila tidak ada nash dari Al-Qur’an atau As-Sunnah, dibentuklah suatu ilmu yang disebut dengan ilmu Fiqih. Dengan demikian, yang disebut dengan ilmu fiqih adalah sekelompok hukum tentang amal perbuatan manusia yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci. 2 Imam Bawani, Metodologi Penelitian Pendidikan Islam, (Sidoarjo, Khazanah Ilmu Sidoarjo, 2015), h. 176. 3 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), h. 298. 6 Yang dimaksud dengan amal perbuatan manusia adalah segala amal perbuatan orang mukallaf yang berhubungan dengan bidang ibadat, muamalat, kepidanaan dan sebagainya, bukan yang berhubungan dengan akidah (kepercayaan). Sebab yang terakhir ini termasuk dalam pembahasan ilmu Kalam. Adapun yang dimaksud dengan dalil-dalil yang terperinci adalah satuan-satuan dalil yang masing-masing menunjuk kepada suatu hukum tertentu.4 Berdasarkan batasan tersebut diatas, sebenarnya dapat dibedakan antara syari’ah dan hukum Islam atau Fiqih. Perbedaan tersebut terlihat pada dasar atau dalil yang digunakannya. Jika syari’at didasarkan pada Nash Al-Qur’an atau AsSunnah secara langsung, tanpa memerlukan penalran, sedangkan hukum Islam didasarkan pada dalil-dalil yang dibangun oleh para ulama’ melalui penalaran atau ijtihad dengan tetap berpegang pada semangat yang terdapat dalam syari’at. Dengan demikian, jika syari’at bersifat permanen, kekal dan abadi, fiqih atau hukum Islam bersifat temporer, dan dapat berubah5. Sejalan dengan uraian tersebut, Zaki Yamani membagi syariat Islam dalam dua pengertian. Pertama, pengertian dalam bidang yang luas dan kedua, pengertian dalam bidang yang sempit.Pengertian dalam bidang yang luas meliputi semua hukum yang telah disusun dengan teratur oleh para ahli fiqih dalam pendapat-pendapat fiqihnya mengenai persoalan dimasa mereka, atau yang mereka perkirakan akan terjadi kemudian, dengan mengambil dalil-dalil yang langsung dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Adapun pengertian dalam bidang sempit, syari’at Islam itu terbatas pada hukum-hukum yang berdalil pasti dan tegas, yang tertera dalam Al-Qur’an, Hadist yang sah, atau yang ditetapkan dengan Ijma’6. E. Model Penelitian Agama Islam Menurut Ilmu Tasawuf 4 Mukhtar Yahya dan Fathurrahman, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1986), h.15. 5 Abuddin Nata, Op Cit, hal. 298-299. 6 Ahmad Zaki Yamani, Syari’at Islam Yang Kekal dan Persoalan Masa Kini, (Terj), K.M.S. Agustijik, dari judul aslinya Asy-Syariatul Khalidah wa Musykilatul ‘Asri, (Jakarta: Lembaga Studi Ilmu-Ilmu Kemasyarakatan Yayasan Bhineka Tunggal Ika, 1978), hal. 13-14. 7 Tasawuf adalah cabang dari ilmu agama yang dalam konteksnya apabila kita ingin memahami model penelitian tasawuf, kita juga harus memahami aspek agama terlabih dahulu sehingga akhirnya muncul beberapa konsep ilmu itu sendiri. Adapun penelitian agama, medanya mencakup tiga lapangan, yakni pertama, memahami dan mengkaji kitab-kitab yang merupakan sumber baku dari suatu agama, dan merupakan sumber statikanya. Kedua, mengkaji hasil-hasil ijtihad para ulama yang merupakan sumber dinamika dalam pengembangan ajaran suatu agama. Medan kedua ini melahirkan ilmu-ilmu agama(dalamkitab-kitab kuning) yang bersifat normatif dan deduktif.7 Adapun mengenai tujuan, penelitian agama adalah untuk mengembangkan pemahaman dan membudayakan pengalaman agama sesuai dengan tingkat perkembangan peradaban umat manusia. Dengan demikian, penelitian agama tujuanya tidak sama dengan penelitian ilmiah dalam bidang social ataupun islamologi. F. Model Penelitian Agama Islam Menurut Ilmu Kalam Ilmu kalam atau teologi menurut pengertian secara harfiyah berasal dari kata “Teo” yang artinya Tuhan, dan “Logi” yang artinya ilmu. Sedangkan menurut pengertian secara global adalah ilmu yang membahas tentang masalah ketuhanan serta berbagai masalah yang berkaitan dengan tuhan berdasarkan dalildalil yang meyakinkanengetahuan. Secara ontologis, teologi adalah pengetahuan yang membahas eksistensi Tuhan, sifat-sifat Tuhan, kaitan dengan alam semesta, termasuk terjadinya alam, perbuatan manusia, keadilan dan kekuasaan Tuhan, pengutusan Rasul, yang meliputi penyampaian wahyu dan berita-berita gaib yang dibawanya, seperti hari akhirat, surga, neraka, peran akal manusia menghadapi itu semua, dan lain-lain yang bersangkutan. 7 Penelitian ilmukalam di bagi kedalam dua bagian: 1. Penelitian Pemula 7 Nataabuddin.metodelogi studi islam.( Jakarta:Rajawali press. 1998 ), h. 70 – 139. 8 Penelitian pemula adalah penelitian dasar, yang bersifat membangun ilmu kalam menjadi suatu disiplin ilmu dengan merujuk pada Al-Qur’an dan Hadist serta berbagai pendapat tentang kalam yang dikemukakan oleh berbagai aliran teologi. Penelitian pemula yang di lakukan oleh para tokoh Islam bersifat eksploratif dengan menggunakan pendekatan doktriner dan substansi ajaran. Berikut beberapa referensi penelitian pemula: a. Model Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al Maturidy Al Samarqandy b. Model Al Imam Abi Al Hasan bin Isma’il Al Asy’ari c. Model ‘Abu Al Jabbar bin Ahmad d. Model Thahawiyah e. Model Al Imam Al Haramain Al Juwainy f. Model Al Ghazali g. Model Al Amidy h. Model Al Syahrastani i. Model Al Bazdawi 2. Penelitian Lanjutan Penelitian lanjutan merupakan pengembangan dari penelitian pemula, yang bersifat mendeskripsikan tentang adanya kajian ilmu berdasarkan bahan-bahan rujukan yang di hasilkan oleh penelitian model pertama. Model penelitian lanjutan adalah sebagai berikut: a. Model Abu Zahrah b. Model Ali Mushthafa Al Ghurabi c. Model Abd Al Lathif Muhammad Al ‘Asyr d. Model Ahmad Mahmud Shubhi e. Model Ali Sami Al Nasyr dan Amar Jam’iy Al Thaliby f. Model Harun Nasution 9 G. Model Penelitian Tekstualitas Tekstual dapat diartikan mengacu pada teks. Metodologi tekstual menekankan pada signifikansi teks-teks sebagai kajian Islam dengan merujuk pada sumber-sumber suci dalam Islam, terutama Al-Qur’an dan Hadist. Pemahaman hukum mengacu apa adanya yang terteradalam Al-Qur’an atau Hadist tidak memandang latar belakang sosial dan kultur masyarakat dan faktor yang melatar belakangi permasalahan yang terjadi.8 Pendekatan tekstual dalam mengkaji Al-Qur’an menjadikan lafal-lafal AlQur’an sebagai obyek. Pendekatan ini menekankan analisisnya pada sisi kebahasaan dalam memahami Al-Qur’an. Secara praktis, pendekatan ini di lakukan dengan memberikan perhatian pada ketelitian redaksi dan teks ayat-ayat Al-Qur’an. Pendekatan ini banyak di pergunakan oleh ulama-ulama salaf dalam menafsiri Al-Qur’an dengan cara menukil Hadist atau pendapat ulama yang berkaitan dengan makna lafal yang sedang di kaji. Secara sederhana pendekatan ini dapat di asosiasikan dengan tafsir bi al-ma’tsur. Nash yang dihadapi di tafsirkan sendiri dengan nash baik Al-Qur’an ataupun Hadist. Penafsiran tekstual mengarah pada pemahaman teks semata, tanpa mengaitkannya dengan situasi lahirnya teks, maupun tanpa mengaitkan-nya dengan sosiokultural yang menyertainya. Kesan yang di timbulkannya mengarah pada pemahaman yang sempit dan kaku, sehingga sulit untuk diterapkan pada era modern ini dan sulit pula untuk diterima, misalnya asas perkawinan. H. Model Penelitian Sejarah Islam Sejarah Islam merupakan salah satu bidang studi Islam yang banyak menarik perhatian para sarjana Muslim maupun non Muslim. Bagi umat Islam, mempelajari sejarah Islam selain akan memberikan kebanggaan juga sekaligus peringatan agar berhati-hati. Sementara itu, bagi para peneliti Barat, mempelajari sejarah Islam selain ditujukan untuk pengembangan ilmu, juga terkadang dimaksud untuk mencari-cari kelemahan dan kekurangan umat Islam agar dapat 8 Dr. H. M. Rozali, MA, Metodologi Studi Islam, cet.1 (Medan: Azhar Center, 2019) ,h.189. 10 dijajah dan sebagainya. Disadari atau tidak, selama ini informasi mengenai sejarah Islam banyak berasal dari penelitian para sarjana Barat. Dari kurangnya penelitian sejarah yang dilakukan oleh umat Islam menimbulkan banyak masalah-masalah sosial kemasyarakatan dan produk-produk hukum yang dipelajari di berbagai lembaga pendidikan, dengan tidak disertai pengetahuan sejarah yang cukup. Dengan demikian, sering berbagai masalah sosial dan hukum serta pemikiran Islam lainnya dipahami lepas dari konteksnya. Menyadari berbagai persoalan diatas, maka di berbagai lembaga pendidikan Islam yang ada hingga sekarang, bidang studi sejarah Islam dipelajari. Untuk itu, pada bagian ini kami mencoba mambahas mengenai pengertian sejarah, gambaran umum peta sejarah Islam serta berbagai penelitian sejarah yang pernah dilakukan para peneliti Islam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta mengatakan sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi. Sedangkan dalam pengertian yang lebih komprehensif suatu peristiwa sejarah perlu juga dilihat siapa yang melakukan peristiwa tersebut, di mana, kapan, dan mengapa peristiwa tersebut terjadi. Seluruh aspek tersebut selanjutnya, disusun secara sistematik dan menggambarkan hubungan yang erat antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.9 I. Model Penelitian Pemikiran Modren Secara umum masyakarat modern adalah masyarakat yang proaktif, individual, dan kompetitif. Masyarakat modern dewasa ini yang ditandai dengan munculnya pasca industri (postindustrial society). Dalam bidang revolusi informasi, sebagaimana dikemukakan Donald Michael, juga terjadi ironi besara. Semakin banyak informasi dan semakin banyak pengetahuan mestinya makin besara kemampuan melakukan pengendalian umum. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, semakin banyak informasi telah menyebabkan semakin disadari bahwa segala sesuatunya tidak terkendali. Karena itu dengan ekstrim Ziauddin 9 Sinforan,https://sinforan.blogspot.com/2012/02/model-penelitian-sejarah-islam.html, Di akses tanggal 12 februari 2012. 11 Sardar (1988), menyatakan bahwa abad informasi ternyata sama sekali bukan rahmat. Di masyarakat Barat, ia telah menimbulkan sejumlah besar persoalan, yang tidak ada pemecahannya kecuali cara pemecahan yang tumpul. Di lingkungan masyarakat kita sendiri misalnya, telah terjadi swastanisasi televisi, masyarakat mulai merasakan ekses negatifnya.10 Dampak dari semua kemajuan masyarakat modern, kini dirasakan demikian fundamental sifatnya.Ini dapat ditemui dari beberapa konsep yang diajukan oleh kalangan agamawan, ahli filsafat dan ilmuan sosial untuk menjelaskan persoalan yang dialami oleh masyarakat. Misalnya, konsep keterasingan (alienation) dari Marx dan Erich Fromm, dan konsep anomie dari Durkheim. Baik alienation maupun anomie mengacu kepada suatu keadaan dimana manusia secara personal sudah kehilangan keseimbangan diri dan ketidak berdayaan eksistensial akibat dari benturan struktural yang diciptakan sendiri. Dalam menghadapi peradaban modern, yang perlu diselesaikan adalah persoalan persoalan umum internal pendidikan Islam yaitu:  Persoalan dikotomik,  Tujuan dan fungsi lembaga pendidikan Islam,  Persoalan kurikulum atau materi. Ketiga persoalan ini saling interdependensi antara satu dengan lainnya. Pertama, Persolan dikotomik pendidikan Islam, yang merupakan persoalan lama yang belum terselesaikan sampai sekarang. Pendidikan Islam harus menuju pada integritas antara ilmu agama dan ilmu umum untuk tidak melahirkan jurang pemisah antara ilmu agama dan ilmu bukan agama. Karena, dalam pandangan seorang Muslim, ilmu pengetahuan adalah satu yaitu yang berasal dari Allah SWT.11 J. Model Penelitian Filsafat Islam 10 Anwar Jasin, Keranka Dasar Pembaharuan Pendidikan Islam (Tinjauan Filosofis,1985). 11 Op.cit Anwar Jasin. 12 Di bawah ini kita sajikan berbagai model penelitian filsafat Islam yang dilakukan paraahli dengan tujuan untuk dijadikan bahan perbandingan bagi pengembangan filsafat Islam selanjutnya. a. Model M. Amin Abdullah Disertasinya beliau diangkat dalam bukunya berjudul “The Idea of Universality Ethical Norm In Ghazali and Kant. Penelitian ini mengambil metode penelitian kepustakaan yang bercorak deskriptif, yaitu penelitian yang mengambil bahan-bahan kajiannya pada berbagai sumber baik yang ditulis oleh tokoh yang diteliti itu sendiri (sumber primer), maupun sumber yang ditulis oleh orang lain mengenai tokoh yang ditelitinya itu (sumber sekunder). Bahan-bahan tersebut selanjutnya diteliti keotentikannya, dalam hal ini masalahetik, dibandingkan antara satu sumber dengan sumber lainnya, di deskripsikan (diuraikan menurut logika berpikir tertentu), dianalisis dan disimpulkan. b. Model Otto Horrassowitz, Majid Fakhry dan Harun Nasution Model penelitian Otto Horrassowitz termasuk penelitian kualitatif. Sumbernya kajian pustaka. Metodenya deskriptis analitis, sedangkan pendekatannya historis dan tokoh. Yaitu bahwa apa yang disajikan berdasarkan data-data yang ditulis ulama terdahulu, sedangkan titik kajiannya adalah tokoh. Selain menggunakan campuran Majid Fakhry juga menggunakan pendekatan historisdan juga menggunakan pendekatan kawasan, bahkan pendekatan subtansi. Dan Harun Nasution juga melakukan penelitian filsafat dengan menggunakan pendekatan tokoh dan pendekatan historis. Bentuk penelitiannya deskriptif dengan menggunakan bahan-bahan bacaan baik cara mengenai tokoh tersebut, penelitiannya bersifat kualitatif. c. Model Ahmad Fuad Al Ahwani Metode penelitian yang ditempuh Ahmad Fuad Al Ahwani adalah penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan bahan-bahan kepustakaan. Sifat dan coraknya adalah penelitian deskriptif kualitatif, 13 sedangkan pendekatannya adalah pendekatanyang bersifat campuran, yaitu pendekatan historis, pendekatan kawasan, dan tokoh. Apa yang dikemukakan para peneliti terhadap pemikiran filsafat Islam tersebut nampak selalu menyajikan tokoh yang dari satu sisi ada tokoh yang bersamaan di teliti, dan ada pula tokoh yang tidak diangkat oleh peneliti yang satu, namun oleh peneliti lainnya diangkat. Kita tidak tahu persis mengapa hal ini terjadi. Apakah karena keterbatasan sumber rujukan yang dimiliki masing-masing atau karena maksud lainnya yang disebabkan karena peneliti tersebut kurang tertarik atau tidak sejalan dengan tokoh filosof yang ditelitinya.12 K. Model Penelitian Pendidikan Islam Adapun kajian atau tepatnya penelitian terhadap Ilmu Pendidikan yang bersifat empiris dinilai masih belum banyak dilakukan para pakar Islam. Dari penelitian Ilmu Pendidikan Islam (sains yang empiris) itu akan muncul teori yang selanjutnya disesuaikandengan ajaran Islam. Teori-teori pendidikan Islam untuk pendidikan di masyarakat juga banyak variasinya yang dapat diteliti. Misalnya penelitian tentang teori pendidikan di pesantren biasa, teori pendidikan untuk di pesantren kilat, di majelis ta’lim, khutbah, kursus-kursus dan sebagainya. Selanjutnya, untuk lebih jelasnya mengenai model penelitian pendidikan Islam ini akan di kemukakan beberapa contoh sebagai berikut : a. Model Penelitian tentang Problema Guru Prosedur yang dilakukan dalam penelitian tersebut dilakukan dengan cara pengumpulan data yang dilakukan oleh bagian Himpunan Pendidikan Nasional Penelitian melalui survei pendapat umum guru pada musim semi tahun 1968 di kalangan guru-gurusekolah negeri yang dijadikan sampel secara nasional. Dengan demikian, penelitian tersebut dari segi metodenya termasuk penelitian survei, yaitu penelitian yang sepenuhnya di dasarkan pada data yang dijumpai di lapangan, tanpa di dahului oleh kerangka 12 A. Mukti Ali, Metode Memahami Agama Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1991). 14 teori, asumsi atau hipotesis. Penelitian tersebut menggunakan data lapangan yang di kumpulkan melalui instrument pengumpulan data, yaitu koesioner yang di sampelnya mewakili tingkat nasionl, dan objek yang diteliti adalah problema yang dihadapi guru. Adapun aspek yang berada pada ranking kedua adalah hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek yang lebih khusus tentang kegiatan sekolah antara lain; bantuan yang kurang memadai dari guru-guru khusus, tidak adanya bantuan dari masyarakat terhadap sekolah, pengelompokan murid yang kurang efektif ke dalam kelas-kelas, rapat-rapat guruyang tidak efektif, bahan-bahan pengajaran yang tidak mencukupi, serta program testing dan bimbinganpenyuluhan yang kurang efektif. b. Model Penelitian tentang Lembaga Pendidikan Islam Model penelitian yang di lakukan adalah pengamatan (observasi). Dari hasil penelitian tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa sipeneliti bersifat deskriptif, namun sipeneliti memiliki alat analisis yang ia bangun dari berbagai teori di bidang sejarah. Dengan demikian data-data yang ia dapati dari hasil penelitiannya itu terasa memiliki makna dan dapat menjelaskan berbagai keadaan yang sesungguhnya terjadi di dunia pesantren. c. Model Penelitian Kultur Pendidikan Islam Penelitian yang mengambil objek kajian tentang kultur pendidikan Islam khususnya yang ada di pesantren, antara lain di lakukan oleh Mastuhu dan Zamakhsyari Dhofir. Untuk mengenal model penelitian yang di lakukan oleh kedua peneliti ini dapat di kemukakan sebagai berikut. d. Model Penelitian Mastuhu Dari segi metodenya, penelitian ini menggunakan pendekatan grounded research yang mendasarkan analisisnya pada data dan fakta yang ditemui di lapangan, jadi bukan melalui ide-ide yang ditetapkan sebelumnya. Metode ini dinilai dapat menolong peneliti untuk menjadi 15 warga dari komunitas objek studi dengan tetap menjaga jarak sebagai peneliti dan jasa sosiologi yang menolong penelitian untuk menjadi orang asing di kalangan komunitas sendiri. Hal ini selain karena adanya kejelasan latar belakang, tujuan, ruang lingkup dan batasan teoretis, juga karena di dukung oleh metode dan pendekatan yang jelas pula, yang antara satu bagian dengan bagian lainnya menunjukkan adanya keterkaitan substansial. Hal ini menunjukkan bahwa kesungguhan dalam penelitian. Oleh karenanya, model penelitian tersebut dapat di jadikan model penelitian yang mungkin akan kita lakukan. e. Model Penelitian Zamakhsyari Dhofier Model penelitian Zamakhsyari Dhofier masih di sekitar pesantren, yaitu model penelitiannya di lakukan oleh beliau tergolong penelitian lapangan dengan menggunakan metode survei, pengamatan, wawancara, dan studi dokumentasi. Pembahasannya bersifat deskriptif, sedangkan analisisnya menggunakan pendekatan sosiologis.13 13 Didin Soefudin Buchori, Metodologi Studi Islam (Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005). 16 L. PENUTUP Dari pembahasan makalah diatas, maka dapat di simpulkan bahwa. Tafsir adalah ilmu yang didalamnya terdapat pembahasan mengenai cara mengucapkan lafal-lafal Al-Qur’an disertai makna serta hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Kemudian Agama Islam menurut Hadist juga sama dengan halnya Al-Qur’an yang dimana terdapat menggunakan bahasa Arab, maka perlu bagi para pengkaji atau peneliti studi Al-Qur’an dan Hadits memperhatikan beberapa aspek baik dari kompetensi dirinya sendiri maupun aspek yang menjadi alat untuk menelitinya. Aspek tersebut berada dalam suatu di siplin ilmu tertentu, yaitu ‘ulum Al-Qur’an dan ‘ulum AlHadits. Ilmu Fikih, ilmu-ilmu ini bertambah dan berkembang sesuai dengan evolusi kemajuan masyarakat. Sedangkan pada dahulu penerapan Ilmu Keislaman pada zaman awal di laksanakan di masjid-masjid. Mahmud Yunus menjelaskan bahwa pusat studi Islam Klasik adalah Mekkah dan Madinah (Hijaz), Basrah dan Kufah (Irak), Damaskus dan Palestina (Syam) dan Fistat (Mesir) 17 Daftar Pustaka Abuddin, Nata. Metodelogi Studi Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1988 Abuddin, Nata. Metodologi Studi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012. Bawani, Imam. Metodologi Penelitian Pendidikan Islam, Sidoarjo: Khazana Ilmu Sidoarjo, 2015. Buchori, Soefudin, Didin. Metodologi Studi Islam, Bogor: Granada Sarana Pustaka, 2005. Mukhtar, Yahya. dan Fathur Rahman, Dasar-dasar Pembinaan Hukum Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1986. Mukti, A Ali. Metode Memahami Agama Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1991. Rozali, Muhammad. Metodologi Studi Islam, Medan: Azhar Center, 2019. Sinforan. 2012. https://sinforan.blogspot.com/2012/02/model-penelitian-sejarahislam.html. Wijaksana, Tato. Metodologi Studi Islam Tentang Model-model Penelitian Agama. Jakarta: Internet, 2014. 18

Judul: Makalah Tafsir Hadis Fiqih Tasawuf Ilmu Kalam

Oleh: Armais Mutiah Abdul Hidayat S


Ikuti kami