Critical Book Report Ilmu Sosial Budaya Dasar

Oleh Natasyah Fardillah

523,2 KB 10 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Critical Book Report Ilmu Sosial Budaya Dasar

CRITICAL BOOK REVIEW MK. ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR PRODI S1 PGSD Skor Nilai : “TEORI-TEORI KEBUDAYAAN DARI TEORI HINGGA APLIKASI” (Dr.H.Sulasman, M.Hum dan Setia Gumilar, M.Si.. 2013) NAMA MAHASISWA : NATASYAH FARDILLAH NIM : 1161111065 DOSEN PENGAMPU : Drs. MUHAMMAD ARIF, M.Pd MATA KULIAH : ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MEDAN MEDAN, MEI 2019 ii KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT. Berkat rahmat dan anugerahNya, Penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Critical Book Review tentang Budaya Sebagai Sistem Tanda guna memenuhi tugas matakuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. Penulis berterimakasih kepada Bapak dosen yang sudah memberikan bimbingan serta arahan dalam penulisan makalah. Makalah Critical Book Review tersusun atas, Pendahuluan, Ringkasan Buku, Pembahasan, Penutup, Daftar Pustaka dan Lampiran. Makalah ini diharapkan dapat menambah referensi dan membantu mahasiswa yang memepalajari matakuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar bdalam memahami tentang Budaya Sebagai Sistem Tanda. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Untuk itu, Penulis minta maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari Pembaca guna memperbaiki penulisan makalah berikutnya. Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi Pembaca. Medan, Mei 2019 Penulis iii Daftar Isi Kata Pengantar.....................................................................................................................ii Daftar Isi..............................................................................................................................iii BAB I. PENDAHULUAN..................................................................................................1 A. Latar Belakang Penulisan..................................................................................1 B. Tujuan Penulisan...............................................................................................1 C. Manfaat Penulisan.............................................................................................2 D. Identitas Buku....................................................................................................2 BAB II. RINGKASAN ISI BUKU......................................................................................3 A. Ringkasan Isi Buku............................................................................................3 BAB III. PEMBAHASAN..................................................................................................10 A. Pembahasan Isi Buku.........................................................................................10 B. Kelebihan dan Kekurangan Buku......................................................................12 BAB IV. PENUTUP............................................................................................................14 A. Kesimpulan........................................................................................................14 B. Saran..................................................................................................................14 DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................16 LAMPIRAN iv BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penulisan Ilmu sosial budaya dasar adalah suatu rangkaian pengetahuan mengenai aspek-aspek yang paling mendasar dan menonjol yang ada dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki budaya dan permasalahan-permasalahan yang bersifat ada. Aspek lain dari pengantar ilmu sosial budaya dasar merupakan pengenalan teori-teori ilmu sosial dan kebuduyaan sehingga diekspwktasikan seseorang dapat memiliki wawasan keilmuan yang bersifat multidipsliner yang bersangkutan dengan keagaman, kesetaraan, dan manusia di dalam kehidupan bersosialisasi. Secara umum, ilmu sosial budaya dasar bertujuan untuk mengembangkan kepribadian manusia sebagai makhluk sosial (zoon politicon) dan sebagai makhluk budaya (homo humanus), sehingga mampu menghadapi secara kritis dan berwawasan luas masalah yang mengenai sosial budaya dan permasalahan lingkungan sosial budaya, serta dapat menyelesaikan dengan baik, tujuan umum ilmu sosial budaya dasar ada beberapa yaitu yang pertama pengembangan kepribadian manusia sebagai makhluk berbudaya, yang kedua kemampuan seseorang menanggapi secara kritis dan berwawasan luas terhadap permasalahan sosial budaya, dan yang terakhir ketiga adalah kemampuan di dalam menyelesaikan secara baik, bijaksana dan obyektif permasalahan-permasalahan di dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga secara umum kita harus memahami konsep-konsep dasar mengenai manusia sebagai makhluk berbudaya memiliki daya kritis, wawasan yang luas terhadap permasalahan lingkungan sosial budaya. Manusia sebagai makhluk sosial (zoon politicon) artinya, manusia sebagai individu tidak akan mampu hidup sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan individu manusia lainnya. Manusia harus hidup bermasyarakat saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dalam kelompoknya guna memperjuangkan dan memenuhi kepentingannya. B. Rumusan Masalah Dari penjelasan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana materi budaya sebagai sitem tanda dalam buku Teori-Teori Kebudayaan dari Teori Hingga Aplikasi oleh Sulasman dan Gumilar? 1 2. Bagaimana kekurangan dan kelebihan dalam buku Teori-Teori Kebudayaan dari Teori Hingga Aplikasi oleh Sulasman dan Gumilar? C. Tujuan Penulisan Tujuan dari makalah ini adalah : 1. Untuk mengetahui tentang materi budaya sebagai sitem tanda dalam buku TeoriTeori Kebudayaan dari Teori Hingga Aplikasi oleh Sulasman dan Gumilar. 2. Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam buku Teori-Teori Kebudayaan dari Teori Hingga Aplikasi oleh Sulasman dan Gumilar. D. Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari makalah ini adalah : 1. Untuk memberikan wawasan kepada mahasiwa mengenai budaya sebagai sitem tanda dalam kehidupan sehari-hari. 2. Agar mahasiswa memiliki pemahaman dan kemampuan untuk menerapkan budaya sebagai sitem tanda dalam kehidupan bermasyarakat. 3. Untuk memenuhi tugas matakuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar. E. Identitas Buku Judul : Teori-Teori Kebudayaan dari Teori Hingga Aplikasi Edisi :- Pengarang : Dr.H.Sulasman, M.Hum dan Setia Gumilar, M.Si. Penerbit : CV.Pustaka Setia Kota Terbit : Bandung Tahun Terbit : 2013 ISBN : 978-979-076-369-2 2 3 BAB II. RINGKASAN ISI BUKU A. Ringkasan Isi Buku Budaya Sebagai Sistem Tanda A. Teori Strukturalisme dan Semiotik dalam Kajian Kebudayaan 1. Tanda Peirice mendefinisikan tanda sebagai suatu hal yang mewakili (stand for) sesuatu yang disebut oleh (called its object) yang dengan cara tertentu menghasilkan tanda lain (its interpretant). “Tanda” adalah sesuatu yang hidup dan dihidupi (cultivated). Tanda hadir dalam proses interpretasi (semiosis) yang mengalir, dan makna diperoleh dari proses dan relasi. Dengan kata lain, tanda adalah (1) sesuatu yang bisa diapresiasi, (2) sesuatu yang mengacu pada hal lain, dan (3) sesuatu yang dapat diinterpretasi. Dalam pandangan Peirc, suatu representasi tidak akan menjelma menjadi sebuah “tanda” jika tidak didukung oleh latar (ground). Dalam pandangan Peirce, ada tiga latar (ground) yang memungkinkan suatu representasi atau fenomena tanda, yaitu : a. Qualisign; yaitu sesuatu dapat menjadi tanda karena sifat potensialnya menjadi tanda. b. Sinsign; yaitu kehadiran tanda yang terbentuk karena suatu konfrontasi dengan kenyataan eksternal, yaitu sesuatu yang aktual telah membentuk tanda tersebut. c. Legisign; sesuatu menjadi tanda karena aturan yang berlaku umum, tradisi, sebuah konvebsi, atau kode. Berdasarkan keberadaan (eksistensinya), qualisign berada pada tataran firstness (ketermampatan), sinsign pada secondness (keduaan), dan legisign pada thirdness. 2. Tanda dan Objek Objek atau disebut juga acuan adalah menandakan unsur kenyataan yang ditunjukkan oleh tanda. Acuan dapat berupa sesuatu yang ada; sesuatu yang kita anggap pernah ada atau akan ada; mungkin dapat dibayangkan, tetapi mungkin juga tidak dapat di bayangkan. Berdasarkan sifat penghubungan tanda dan acuannya, dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : 4 a. Ikon; yaitu tanda yang menggambarkan berdasarkan pada persamaan atau keserupaan dengan sesuatu yang dikenal (bersifat formal). b. Indeks;yaitu tanda-tandayang meunjuk (merujuk) berkaitan langsung dengan, atau merupakan bagian dari acuan (bersifat natural). c. Simbol;yaitu tanda yang ditentukan oleh peraturan atau kesepakatan yang berlaku umum, atau tidak ada kaitannya dengan acuan (bersifat arbiter). 3. Tanda danm I nterpretan Interpretan bukanlah orang yang menginterpretasikan atau menunjukpada penerima tanda, melainkan proses interpretasi setelah tanda dihubungkan dengan acuan, sehingga dari tanda yang orisisnil berkembang suatu tanda baru. Interpretan pertama kali dicetuskan Peirce pada tahun 1906 dalam pandangan yang sangat fenomenalogis (emotional interpretant, energic interpretant, dan logic interpretant). Kemudian, ia mengubahnya menjadi kategori metafisik (immediate, dynamical, and final interpretant). Dalam proses interpretasi terdapat tiga kategori keterhubungan yang menghasilkan : a. Rheme adalah tanda yang dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan acuan. b. Dicisign (proporsi) adalah tanda dari suatu eksistensi yang aktual (disebut pula oleh Peirce sebagai tanda informatif atau informational sign). c. Argument; dalam konteks filsafat, adalah suatu set pernyataan yang meruapakan hasil penggabungan satu- dua premis sebagai bukti atau untuk membuktikan pernytaan lain. B. Gambar “Cap Tangan” di Gua Prasejarah : kajian Seimotika 1. Latar belakang Kajian Gambar “cap tangan” merupakan hasil kebudayaan manusia masan lalu yang berasal dari masa prasejarah. Gambar “cap tangan” ini merupakan salah satu bentuk gambar yang dilukis di dinding-dinding gua atau ceruk dari masa mesolitik. Dalam kajian kebudayaan, gambar “cap tangan” ini dapat digolongkan dalam kebudayaan materi. Konsep kebudayaan yang bersifat materialistik mendefinisikan kebudayaan sebagai sistem yang merupakan hasil adaptasi lingkungan alam 5 atau sistem yang berfungsi mempertahankan kehidupan masyarakat pendukung kebudayaan. Sementara itu, konsep kebudayaan idealistik memandang bahwa semua fenomena eksternal sebagai manifestasi dari suatu sistem internal. Titik berat perhatian menurut konsep materialistik adalah aspek perilaku dan benda, sedangkan menurut konsep idealistik, titik beratnya adalah aspek kognitif dan emotif. Gambar-gambar di dinding gua umumnya, dan gambar “cap tangan khususnya dianggap sebagai media komunikasi yang didalamnya mengandung sistem tanda. Tanda (sign) diartikan sebagai sesuatu yang tampil untuk hal lain atau aliquid stat pro aliquo. 2. Kerangka Teoritis Seimotik adalah suatu ilmu atau metode analissi untuk mengkaji tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang dapat berupa pengalaman, pikiran, gagasan, atau perasaan. Tanda untuk seimotik adalah sesuatu yang mengacu atau menggantikan sesuatu yang lan, dan “yang sesuatu” itu secara potensial mencakupi semua unsur dari realitas. 3. Gambar Gua dan Gambar “cap tangan” Gambar gua atau ceruk dapat dikaitkan bersoifat universal karena terdapat hampir di seluruh dunia, seperti Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Salah satu jenis manusia purba yang mengawali kehidupan di gua atau ceruk adalah manusia Neanderthal yang lahir di Eropa sekitar 100.000 tahun yang lalu. Gambar gua ini kemudian berkembang pada kira-kira 40.000 tahun yang lalu dengan munculna manusia Cro-magnon, juga di Eropa. Jenis manusia ini dianggap sebagai manusia seniman yang pertama di dunia sebab memiliki kemampuan untuk mencurahkan rasa seninya melalui gambar, goresan, dan pahatan yang diterapkan di dinding gua atau ceruk. Di Indonesia, hasil budaya berupa gambar gua dijumpai di sulawesi selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Irian. Gambar gua tertua di Indonesia ditemukan di Sulawesi Selatan. Salah satu bentuk atau objek gambar yang paling banyak dijumpai adalah “cap tangan”. Gambar “cap tangan” umumnya dibuat dengan cara merentangkan jari=jari tangan di dinding gua atau ceruk, kemudian jari ditaburi atau disemprot dengan cat. Gambar semacam ini merupakan bentuk gambar yang umum ditemukan, kecuali di Pulau Muna. 6 Di gua Burung, van Heekeren menemukan cap-cap tangan yang terletak kira-kira 8 meter di atas permukaan tanah. Anehnya, semua cap tangan itu merupakan cap tangan kiri. Di gua jari, van Heekeren dan Frassen menemukan banyak cap gambar cap tangan warna merah; dengan lima jari dan empat jari (satu diantaranya tanpa ibu jari), sedangkan di leang PattaE Kere ditemukan gambar-gambar babi-rusa distiklir dengan cap-cap tangan. Di Maluku, didnding karang gua di Pulau Seram, J Roder menemukan gambar cap tangan warna merah dengan gambar burung dan perahu berwarna putih. Gambar cap tangan ini ditemukan juga kepulauan Kei pada dinding karang yang berada 2,5-4 meter di atas muka laut. Sementara itu, WJ.Cator menemukan banyak sekali cap tangan (juga terdapat cap kaki) yang ditaburi cat merah di daerah Kokas (Teluk Berau-Irian). Gambar “cap tangan” misalnya, yang tertera di dinding gua atau ceruk dianggap sebagai representasi dari sesuatu.ground dan referent dari tanda itu lebih mudah dipahami. Untuk mengatasi keteratasan itu, penelusutran ground dan referent, misalnya dicoba didekati melalui analogi, seperti etnografi. Dalam studi prsejarah, gambar-gambar di dinding gua atau seruk sering dikatakan berkaitan dengan aspek religi atau seni. Berikut ini akan diuraikan proses seismosis yang terjadi dalam pemaknaan tanda gambar di dinding gua atau ceruk. a. Proses seismosi “gambar cap tangan” “Gambar cap tangan” sebagai identitas kelompok”. Hal ini dikaitkan dengan mitologi masyarakat di Irian, bahwa cap-cap tangan yang ada di dinding gua atau ceruk merupakan bekas jejak tangan nenek moyang meraka yang datang ke sana dengan meraba-raba. Jumlah cap tangan yang banyak menunjukkan nenek moyang itu tidak sendirian, dan arahnya yang tidak teratur karena mereka tidak dapat melihat. b. Proses semiosis “cap tangan utuh dengan lima jari” Dengan tanda yang sama seperti pada proses seismosis terakhir, tetapi menggunakan acuan yang berbeda. Proses ini mengacu pada simbol “tangan perempuan (istri)”. Menurut kepercayaan masyarakat Irian, apabila sebuah keluarga mendapat musibah berupa kematian suami, sang istri sebagai tanda berkabung memotong salah satu jarinya dan membuat cap tangannya di dinding tempat tinggalnya. Dengan demikian, interpretan 7 pada proses ini adalah “gambar cap tangan sebagai tanda berkabung/dukacita”. Sesuai dengan harapan Peirce, model yang diajukannya bertujuan mempermudah dalam proses bernalar dan dalam rangka menafsirkan atau memaknai sesuatu. Kesulitan itu tertama disebablan (1) manusia pendukung kebudayaan itu tidak ada lagi, (2) tidak ada catatan yang ditinggalkan yang mebjelaskan”karya” yang dihasilkan itu, dan (3) keterbatasan informasi atau pengetahan yang dimiliki dalam menafsirkan atau memaknainya. C. Kebudayaan sebagai Sebuah Tanda dalam Film Perfume : the Story of A Murderer 1. Latar Belakang Dalam kajian budaya, identitas menjadi penting keberadaannya. Hal ini dikarenakan bahwa maju mundurnya sebuah budaya ditentukan oleh keberadaan identitas seseorang atau sekelompok orang. Identitas adalah kesadaran terhadap diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuard dan Sundeen,1991:378). Kehadiran media budaya ini, menurut Irmayanti M.Budianto (dalam Tommy Christomy,2004) dapat dipahami dari dua aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Salah satu media budaya yang akan menjadi fokus kajian dalam bab ini, yaitu produk Film “perfume” dibuat sutradara Tom Tykwer berdasarkan sebuah novel karya Patrick Suskind berjudul (Das Parfum (Pengiun Books, 1985). 2. Kerangfka Teoritis Eksistensialisme memandang manusia kebebasan untuk memilih, dan hanya ia yang bertanggung jawab terhadap eksistensinya. Lebih lanjut, dalam prespektif metafisika dapat dinyatakan, identitas berarti setiap yang bereksistensi sungguh-sungguh terhadap dirinya sendiri sehingga dapat dibedakan dari yang laib. Orang tidak dapat memahami eksistensinya kalau tidak mengenali identitas sesuatu dalam dirinya sendiri. 3. Analisis a. Pembentukan Identitas dan Eksistensi Manusia 8 Menurut Jean Paul-Sartre, Eksistensialisme dipahami melalui aksi dan tindakan. Tanpa keduanya, sulit menengaskan eksistensi seseorang. Aksi dan tindakan adalah milik individu, bukan hadiah apalagi paksaan dari di luar darinya. Wacana eksistensialisme Sartre bisa dianalisis dalam kasus Grenouille. Identitas tidak cukup terbangun jika bersandar kemampuan pribadi. Ia harus ditopang dengan dunia dan media di luar dirinya. Eksitensialisme Grenouille berwala dari pergolakan eksistensialisme kaum strukturalis, semisal Sartre, hingga mengalami pengujian definisi dalam pemikiran postrukturalisme/posmedernisme dan berujung pada pilihannya memilih efek yang cenderung menerpa eksistensinya. Yang pasti, ia melakukan itu dengan penuh kesadaran. Jika demikian, Grenouille adalah seorang eksistensiaalis sejati pada era posmodren. b. Pembentukan dan Pemerolehan Pengetahuan Secara sugestif, adegan-adegan pada awal film menunjukkan kepekaan Grenouilli terhadap bebaun. Ia membangun pengetahuannya (kognisinya) terhadap dunia di sekililingnya. Eksplorasi bau-bauan itu menunjukkan bahwa ia mengenali dunia sekelilingnya lebih emngandalkan indriawi pengelihatan. Indra penciuman Grenoulli yang tajam dan sensitif menjadi pintu gerbang dalam proses membangun dirinya di tengah komunitas sosialnya sejak kecil di rumah penampungan yang kumuh, hidup bersama tukang kulit Grimalis, hingga dewasa di rumah Baldini yang kaya kan wewangian. c. Ketamakan Memburu Bebaun Perkenalan Grenouille dengan begitu banyak bebauan (manusia) membangun prespektif tentang identitas diri. Hal itu diperlihatkan melalui keterpesonaannya terhadap bau tubuh seorang gadis penjual jeruk. Kekuatan keharuman gadis yang itu merupakan takdir yang diberi yang diberi kepadanya sebagai sebuah kelebihan. Kelebihan itu dijadikan modal untuk mengubah kehidupannya. Prespektif yang ditawarkan film (juga novelnya) melalui sosok Grenouille adalah bahwa identitas dan eksistensi manusia ditandai dengan bau tubuh, bukan pada ikon nama atau latar belakang budaya dan etnik. Hal yang paling dekat dengan manusia adalah baunya. d. Aspek Moralitas Grenouille 9 Secara eksplisit tokoh Grenouille berada dalam situasi bebas nilai, yaitu pada saat di interogasi tentang alasan ia membnuh para perumpuan. Ia menjawab nada datar bahwa ia membutuhkan (tubuh) perempuan itu. Pertanyaan tersebut sekaligus mengimplikasikan bahwa tindak kriminal yang dilakukannya bukan sebagai kejahatan kemanusiaan. Hal itu seolah mendapat legitimasi ketika Bishop meneriakkan Grnoille- yang siap dieksekusi adalah “malaikat”. e. Eksplorasi Emosi Cinta Kasih Emosi cinta kasih dalam film ini digambarkan ketiga Grenouille akan dihukum di tengah kota. Ia mengoleskan parfum hasil olahannya dan semua orang yang hadir mencium wewangian itu yang membangun sebuah perasaan yang sama secara kolektif. Grenouille menyiramkan parfumnya ke sekujur tubuh dan dengan segera orang berkerumun mengelilingi api unggun menandatanginya dan menimbunyya. Mereka merasakan kegembiran yang hebat di luar cinta. Sekejap kemudian, ketika kerumunan itu membubarkab diri, kita tidak lagi melihat sosok Grenouille. 10 BAB III. PEMBAHASAN A. Pembahasan Isi Buku Pembahasan isi buku Teori-teori kebudayan dari teori hingga aplikasi Teori Strukturalisme dan Semiotik dalam Kajian Kebudayaan yang pertama adalah Tanda yang didefinisikan oleh Peirice sebagai suatu hal yang mewakili (stand for) sesuatu yang disebut oleh (called its object) yang dengan cara tertentu menghasilkan tanda lain (its interpretant). Selanjutnya adalah Tanda dan Objek. Objek atau disebut juga acuan adalah menandakan unsur kenyataan yang ditunjukkan oleh tanda. Acuan dapat berupa sesuatu yang ada; sesuatu yang kita anggap pernah ada atau akan ada; mungkin dapat dibayangkan, tetapi mungkin juga tidak dapat di bayangkan. Tanda dan Interpretan Gambar “Cap Tangan” di Gua Prasejarah : kajian Seimotika. Latar belakang Kajian adalah Gambar “cap tangan” merupakan hasil kebudayaan manusia masa lalu yang berasal dari masa prasejarah. Gambar “cap tangan” ini merupakan salah satu bentuk gambar yang dilukis di dinding-dinding gua atau ceruk dari masa mesolitik. Dalam kajian kebudayaan, gambar “cap tangan” ini dapat digolongkan dalam kebudayaan materi. Kerangka Teoritis Seimotik adalah suatu ilmu atau metode analissi untuk mengkaji tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang dapat berupa pengalaman, pikiran, gagasan, atau perasaan. Gambar Gua dan Gambar “cap tangan” Gambar gua atau ceruk dapat dikaitkan bersoifat universal karena terdapat hampir di seluruh dunia, seperti Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Di Indonesia, hasil budaya berupa gambar gua dijumpai di sulawesi selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Irian. Gambar gua tertua di Indonesia ditemukan di Sulawesi Selatan. Salah satu bentuk atau objek gambar yang paling banyak dijumpai adalah “cap tangan”. Gambar “cap tangan” umumnya dibuat dengan cara merentangkan jari-jari tangan di dinding gua atau ceruk, kemudian jari ditaburi atau disemprot dengan cat. Gambar semacam ini merupakan bentuk gambar yang umum ditemukan, kecuali di Pulau Muna. Proses seismosi “gambar cap tangan”. Hal ini dikaitkan dengan mitologi masyarakat di Irian, bahwa cap-cap tangan yang ada di dinding gua atau ceruk merupakan bekas jejak tangan nenek moyang meraka yang datang ke sana dengan meraba-raba. Proses semiosis “cap tangan utuh dengan lima jari” 11 Dengan tanda yang sama seperti pada proses seismosis terakhir, tetapi menggunakan acuan yang berbeda. Proses ini mengacu pada simbol “tangan perempuan (istri)”. Menurut kepercayaan masyarakat Irian, apabila sebuah keluarga mendapat musibah berupa kematian suami, sang istri sebagai tanda berkabung memotong salah satu jarinya dan membuat cap tangannya di dinding tempat tinggalnya. Dengan demikian, interpretan pada proses ini adalah “gambar cap tangan sebagai tanda berkabung/dukacita”. Kebudayaan sebagai Sebuah Tanda dalam Film Perfume : the Story of A Murderer. Dalam kajian budaya, identitas menjadi penting keberadaannya. Hal ini dikarenakan bahwa maju mundurnya sebuah budaya ditentukan oleh keberadaan identitas seseorang atau sekelompok orang. Identitas adalah kesadaran terhadap diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian, yang merupakan sintesis dari semua aspek konsep diri sebagai suatu kesatuan yang utuh (Stuard dan Sundeen,1991:378). Kerangfka Teoritis Eksistensialisme memandang manusia kebebasan untuk memilih, dan hanya ia yang bertanggung jawab terhadap eksistensinya. Lebih lanjut, dalam prespektif metafisika dapat dinyatakan, identitas berarti setiap yang bereksistensi sungguh-sungguh terhadap dirinya sendiri sehingga dapat dibedakan dari yang laib. Orang tidak dapat memahami eksistensinya kalau tidak mengenali identitas sesuatu dalam dirinya sendiri. Eksitensialisme Grenouille berawal dari pergolakan eksistensialisme kaum strukturalis, semisal Sartre, hingga mengalami pengujian definisi dalam pemikiran postrukturalisme/posmedernisme dan berujung pada pilihannya memilih efek yang cenderung menerpa eksistensinya. Yang pasti, ia melakukan itu dengan penuh kesadaran. Pembentukan dan Pemerolehan Pengetahuan Secara sugestif, adeganadegan pada awal film menunjukkan kepekaan Grenouilli terhadap bebaun. Ia membangun pengetahuannya (kognisinya) terhadap dunia di sekililingnya. Eksplorasi bau-bauan itu menunjukkan bahwa ia mengenali dunia sekelilingnya lebih emngandalkan indriawi pengelihatan. Ketamakan Memburu Bebaun. Perkenalan Grenouille dengan begitu banyak bebauan (manusia) membangun prespektif tentang identitas diri. Hal itu diperlihatkan melalui keterpesonaannya terhadap bau tubuh seorang gadis penjual jeruk. Kekuatan keharuman gadis yang itu merupakan takdir yang diberi yang diberi kepadanya sebagai sebuah kelebihan. Kelebihan itu dijadikan modal untuk mengubah 12 kehidupannya. Aspek Moralitas Grenouille Secara eksplisit tokoh Grenouille berada dalam situasi bebas nilai, yaitu pada saat di interogasi tentang alasan ia membnuh para perumpuan. Ia menjawab nada datar bahwa ia membutuhkan (tubuh) perempuan itu. Pertanyaan tersebut sekaligus mengimplikasikan bahwa tindak kriminal yang dilakukannya bukan sebagai kejahatan kemanusiaan. Hal itu seolah mendapat legitimasi ketika Bishop meneriakkan Grnoille- yang siap dieksekusi adalah “malaikat”. Eksplorasi Emosi Cinta Kasih Emosi cinta kasih dalam film ini digambarkan ketiga Grenouille akan dihukum di tengah kota. Ia mengoleskan parfum hasil olahannya dan semua orang yang hadir mencium wewangian itu yang membangun sebuah perasaan yang sama secara kolektif. Grenouille menyiramkan parfumnya ke sekujur tubuh dan dengan segera orang berkerumun mengelilingi api unggun menandatanginya dan menimbunyya. Mereka merasakan kegembiran yang hebat di luar cinta. Sekejap kemudian, ketika kerumunan itu membubarkab diri, kita tidak lagi melihat sosok Grenouille. B. Kelebihan dan Kekurangan Buku 1. Dilihat dari aspek tampilan buku (face value), buku yang direview mempunyai tampilan buku yang cukup menarik, sampul depan yang menggunakan paduan warna merah muda dan hijau membuat buku menarik untuk bagian tengah sampul terdapat gambar buku yang cukup menarik dan memberikan makna filosofis tersendiri. Selain gambar buku terdapat beberapa gambar yang berhubungan dengan budaya seperti alat musik dan hasil kebudayaan. Dibawah gambar ilustrasi terdapat nama penulis buku. 2. Dari aspek layout dan tata letak, serta tata tulis, buku yang direview bagus dari tata letak dan ukuran font sampai aspek tata tulis. Hanya saja terdapat beberapa spasi dalam penulisan dan banyak kalimat yang diulang pada bebrapa paragraf. Banyak kesalahan dalam penulisan yang terdapat dalam buku seperti kurangnya huruf dan penggunaan kata yang kurang tepat. 3. Dari aspek isi buku, buku yang direviewer memuat konten yang sesuai dengan budaya sebagai sistem tanda. Materi yang disajikan sangat lengkap dan diberikan contoh secara aplikatif dengan penggambaran dari film. Analisis yang digunakan dalam buku dijelaskan dengan baik dan tidak bertele-tele. Selain itu penyajian isi buku sangat jelas dan mampu dipahami oleh pembaca. 13 4. Dari aspek tata bahasa, buku yang direviewer mempunyai tata bahasa yang cukup bagus dan komunikatif. Akan tetapi, ada beberapa kata yang kurang tepat digunakan. Ketidaktepatan penggunaan alat karena banyak penggunaan istilah yang tidak mudah dipahami oleh pembaca dapat digunakan beberapa istilah yang lebih sering digunakan. 14 BAB IV. PENUTUP A. Kesimpulan Di dalam penganalisisan, Beberapa materi disajikan dalam bentuk narasi. Tidak menggunakan pendukung penyajian sehingga terkesan monoton dan membuat pembaca merasa cepat bosan. Kekurangan yang terdapat dalam buku reviewer adalah pengulangan kalimat dalam paragraf. Hal ini menimbulkan kebingunngan pada pembaca sehingga pembaca kurang mengerti maksud dan tujuan penulis. Untuk sistematika penulisan dan penyajian buku reviewer layak disajikan sebagai buku referensi untuk memahami tentang kebudayaan sebagai tanda. Buku reviewer juga memiliki banyak catatan kaki sehingga pengetahuan bertambah dan dapat dikembangkan. Tetapi untuk keseluruhan buku ini layak dijadikan referensi atau bahan dalam matakuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar diriviewer cukup banyak ditemukan kekurangan. . B. Saran Saya menyarankan agar buku yang saya reviewer untuk direvisi kembali isi buku dan menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Karena banyak penulisan yang membuat pembaca bingung untuk memaknainya. Dari segi penyajian buku reviewer sebaiknya lebih menarik lagi dengan memberikan pendukung penyajian seperti gambar dan grafik yang lebih banyak dan tidak semuanya berisakan tulisan. 15 DAFTAR PUSTAKA Sulasman dan Gumilar. 2013. Teori-teori Kebudayaan dari Teori Hingga Aplikasi.Bandung : CV Pustaka Setia. 16 17

Judul: Critical Book Report Ilmu Sosial Budaya Dasar

Oleh: Natasyah Fardillah


Ikuti kami