Tugas Ilmu Sosial Perkembangan Penduduk Papua

Oleh Maail Maail

821,2 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas Ilmu Sosial Perkembangan Penduduk Papua

TUGAS ILMU SOSIAL PERKEMBANGAN PENDUDUK PAPUA Disusun Oleh : Arif Setiawan NIM : 51419027 TEKNIK INFORMATIKA TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS GUNADARMA 2019 KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti. Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehatNya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Universitas Gunadarma dengan berjudul “Perkembangan Penduduk Papua” Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesarbesarnya. Depok, 11 Oktober 2019 Penyusun i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.1.1 Geografi 1 1.2 Rumusan Masalah 2 1.3 Tujuan 2 BAB II PEMBAHASAN 3 2.1 Kependudukan 3 2.2 Pendidikan 5 2.3 Suku 7 2.4 Ekonomi 10 2.5 Kesehatan 11 2.6 Kebudayaan 13 BAB III PENUTUP 18 3.1 Kesimpulan 18 3.2 Saran 18 DAFTAR PUSTAKA 19 ii iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2.1 Georgafi Provinsi Papua adalah provinsi dengan wilayah terluas di Indonesia. Kantor Wilayah Badan Peratahanan Nasional Provinsi Papua menunjukan Provinsi Papua memiliki luas 316.522 km2. Kabupaten Merauke menjadi kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Papua yang menempati 14,98 persen wilayah Provinsi Papua atau seluas 47.406,90 km2. Sebaliknya Kabupaten Supiori menjadi Kabupaten dengan wilayah terkecil di Provinsi Papua dengan luas 634,24 km2 atau menempati 0,20 persen wilayah Provinsi Papua. Kota Jayapura menempati 0,30 persen wilayah Provinsi Papua atau memiliki luas 950,38 km2. Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua menjadi pusat pemerintahan dan perekonomian di Provinsi Papua. Data dari Badan Peratahanan Nasional Provinsi Papua menunjukan Kabupaten Merauke dan Kabupaten Supiori menjadi kabupaten yang memiliki jarak terjauh dengan ibukota Provinsi Papua yaitu 662 km dab 605 km. Sebaliknya, Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Keerom adalah kabupaten dengan jarak terdekat dengan ibukota Provinsi Papua yaitu 27 km dan 71 km. 1.2 Rumusan Masalah Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan perumusan masalah yang diantaranya, yaitu : 1. Bagaimana perkembangan Kependudukan di Papua ? 2. Bagaimana perkembangan Pendidikan di Papua ? 3. Bagaimana perkembangan Suku di Papua ? 4. Bagaimana perkembangan Ekonomi di Papua ? 1 2 5. Bagaimana perkembangan Kesehatan di Papua ? 6. Bagaimana Kebudayaan di Papua ? 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian  Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Perkembangan Penduduk Papua”  Untuk dapat mengetahui deskripsi wilayah Papua, dan mengetahui potensi perkembangan di Papua 2. Manfaat Penelitian a. Penelitian Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memberikan informasi ilmiah mengenai tentang perkemabangan penduduk di Papua. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kependudukan Hasil proyeksi penduduk Provinsi Papua pada tahun 2018 sebesar 3.325.526 orang dengan jumlah penduduk terbanyak terdapat di kota Jayapura sebanyak 297.775 orang dan jumlah penduduk paling sedikit terdapat di Kabupaten Supiori yaitu sebanyak 20.018 orang. Lalu pertumbuhan penduduk tahun 2018 terhadap 2010 sebesar 10.23 persen sedangkan lalu pertumbuhan penduduk tahun 2018 terhadap tahun 2017 adalah sebesar 0.83 persen. Secara lebih lanjut, komposisi laki-laki di Provinsi Papua lebih banyak dibandingkan perempuan. Persentase penduduk perempuan adalah sebanyak 47,46 persen atau 1,566,189 penduduk. Rasio jenis kelamin di Provinsi Papua pada tahun 2018 sebesar 110,85 yang berarti dari 100 penduduk perempuan, terdapat 111 penduduk laki-laki. Secara rata-rata, kedapatan penduduk di Provinsi Papua adalah sebesar 10,50 km2 yang berarti secara rata-rata untuk setiap satu km2 wilayah terdapat di Provinsi Papua dengan kepadatan penduduk 313,32 penduduk per km2. Sebaliknya Kabupaten Mamberamo Raya menjadi Kabupaten dengan kepadatan penduduk terendah yaitu sebesar delapan penduduk per sepuluh km2. 3 4 Jumlah penduduk di Provinsi Papua (orang), 2010, 2016, dan 2017 Jumlah Penduduk di Provinsi Papua menurut Kabupaten/kota (orang), 2017 5 Rasio Jenis Kelamin Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Papua, 2017 2.2 Pendidikan Tahun 2018, pesentase penduduk usia 7-24 tahun di Provinsi Papua yang maish bersekolah ada sebanyak 64,22 persen sedangkan sisanya sebanyak 16,40 persen dan 21,38 persen adalah penduduk yang tidak/belum pernah sekolah dan tidak sekolah lagi. Pada periode yang sama, Angka Partisipasi Murni (APM) di Provinsi Papua untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) / Madrasah Ibtidiyah (MI)/sederajat adalah sebesar 79,09 persen. Persentase ini semakin menurun pada setiap tingkatan pendidikan sehingga APM tersendah terdapat pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah (MA)/sederajat sebasar 44,31 persen. Pola yang sama terjadi juga untuk angka Partisipasi Kasar (APK) dimana APK SD/MI/sederajat adalah sebesar 94,47 persen dan menurun hingga APK SMA/SMK/MA/sederajat sebesar 65,07 persen. 6 Persentase Penduduk Usia 7-24 Tahun Menurut Kelompok Umur Sekolah dan Partisipasi Sekolah di Provinsi Papua (persen), 2017 Angka Parsisipasi Murni (APM) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) Menurut Janjang Pendidikan di Provinsi Papua, 2017 7 2.3 Suku Menurut sumber yang ada, menyatakan bahwa manusia pertama yang bermigrasi ke Papua lebih dari 45 ribu tahun yang lalu. Saat ini, populasi suku-suku di papua lebih dari 3 juta jiwa. Sebagian dari mereka tinggal di dataran tinggi. Berikut adalah Suku Papua yang banyak diperbincangkan: 1. Suku Asmat Suku Asmat adalah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyaknya suku di Papua. Salah satu hal yang membuat Suku Asmat cukup terkenal adalah hasil ukiran kayu yang sangat khas. 2. Suku Amungme Suku Amungme memiliki 13,000 orang dan tinggal di dataran tinggi papua. Salah satu Suku Papua ini memiliki cara yang sangat unik. Mereka menjalankan pertanian yang berpindah serta melakukan kegiatan dengan berburu dan mengumpul. Suku Amungme sangat terikat dengan tanah leluhur mereka. Mereka menganggap sekitar gunung adalah tempat yang suci. Gunung yang dijadikan penambangan emas oleh PT.Freeport merupakan gunung suci yang sangat di aung-agungkan. Masyarakat Suku Amungme menyebutnya dengan nama Nemang Kawi. Nemang artinya panah dan kawi artinya suci, jadi Nawang Kawi adalah panah yang suci atau dengan makna bebas perang atau perdamaian. Wilayah Suku Amungme disebut Amungsa. 3. Suku Dani Suku Dani adalah salah satu dari sekian banyaknya Suku Papua yang mendiami di daerah pegunungan serta mendiami keseluruhan Kabupaten Jayawijaya. Banyak orang mengenal Suku Dani mendiami suatu wilayah di Lembah Baliem. 8 Dimana tempat itu terkenal dengan petani yang terampil dan sudah menggunakan perkakas seperti kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan kayu galian yang terkenal kuat dan berat. Suku Dani masih banyak mengenakan koteka atau penutup kemaluan pria. Sedangkan untuk wanita mengenakan pakaian wah yang terbuat dari rumput atau serat. Mereka tinggalnya di rumah honai. Upacara besar serta keagamaan dan perang masih dilaksanakan Suku Dani. Suku ini pertama kali diketahui di Lembah Baliem sekitar ratusan tahun yang lalu. 4. Suku Korowai Suku Korowai ini mendiami area luas di dataran rendah di selatan pegunungan Jayawijaya. Daerah itu membentuk rawa, hutan mangrove dan lahan basah. Suku Korowai memiliki kepercayaan bahwa mereka adalah salah satunya manusia di bumi. Suku Korowai juga salah satu Suku Papua yang tidak mengenakan koteka. Banyak orang mengenal Suku Korowai dikenal sebagai pemburu-pengumpul yang tinggal dirumah pohon. 5. Suku Muyu Suku Muyu Adalah salah satu suku asli papua yang hidup dan berkembang di Kabupaten Boven Digoel. Nenek moyang Suku Muyu dulunya tinggal di daerah sekitar sungai muyu yang terletak di sebelah timur laut Merauke. Uniknya lagi, beberapa anthropologist menyebut Suku Muyu adalah Primitive Capitalists. Suku Muyu dianggap sebagai suku pedalaman yang pintar. Mereka menduduki posisi penting dalam struktur birokrasi Boven Digoel. Dari 1800 pegawai negeri sipil, sekitar 45% nya adalah dari Suku Muyu. 9 Suku Muyu terkenal hemat, pekerja keras dan sangat menghargai pendidikan. Mereka menyebut dirinya sendiri dengan istilah Kati. Maknanya adalah manusia yang sesungguhnya. 6. Suku Bauzi Oleh lembaga misi dan bahasa Amerika Serikat, suku Bauzi maasuk daftar 14 suku yang terasing. Sebagai suku yang menempati kawasan terisolir, sebagian lelaki suku bauzi mengenakan cawat yang berupa selembar dan atau kulit pohon yang telah dikeringkan lalu diikat dengan tali pada ujung alat kelamin. Sedangkan para wanita mengenakan selembar daun atau kulit kayu yang dikeringkan dan di tali di pinggang mereka untuk menutupi auratnya Pada acara pesta adat atau penyambutan tamu, para lelaki dewasa mengenakan hiasan kepala dari bulu kasuari dan mengoles tubuh mereka dengan sagu. Sebagian besar suku ini masih hidup dengan taraf berburu dan meramu serta semi nomaden. 7. Suku Huli Suku Huli juga salah satu suku terbesar Suku Papua. Mereka melukis wajah mereka dengan warna kuning, merah dan putih. Mereka terkenal dengan tradisi mereka yang membuat wig dari rambut mereka sendiri. Alat seperti kapak dengan cakar juga tak ketinggalan melengkapi mereka agar menambah kesan menakutkan. Kesimpulannya, banyak sekali suku yang mendiami pulau papua ini. Sebagian dari mereka memiliki keunikan tersendiri daripada suku lainnya. 10 Sebagai warga Indonesia kita harus bangga dengan pulau Papua yang menyimpan kekayaan alam Indonesia serta wilayahnya yang indah bak surga dunia. Kita juga harus bangga dan menghormati saudara kita yang ada di pedalaman dan di daerah yang terisolir. 2.4 Ekonomi Pada bulan september 2018 Garis Kemiskinan (GK) di Provinsi Papua mengalami peningkatan menjadi Rp. 518.811 / kapita/bulan yang artinya jika seorang individu memiliki pendapatan selama sebulan dibawah Rp. 518.111 maka dikategorikan sebagai penduduk miskin. Persentase penduduk miskin di Provinsi Papua pada bulan september 2018 mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan maret 2018 sebesar 0,31 persen. Namun jika dibandingkan dengan kondisi lima tahun terakhir yaitu bulan maret 2014, persentase penduduk miskin di Provinsi Papua mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu sebesar, 2,31 persen. Pada tahun 2018, capaian Indeks Pembangun Manusia (IPM) Provinsi Papua mencapai 60,06. Pencapaian pembangun manusia pada tingkat Kabupaten Nduga merupakan Kabupaten dengan IPM terendah di Provinsi Papua nilai sebesar 29,42. Dilihat menurut komponen pembentuk IPM, nilai setiap komponen pembentuk IPM, nilai setiap komponen Kabupaten Nduga yaitu Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir sebesar 54,82 tahun yang berarti tiap bayi yang baru lahir memiliki peluang untuk hidup hingga usia 54,82 tahun. Angka harapan Lama Sekolah (HLS) sebesar 2,95 tahun yang berarti anak-anak usia 7 tahun di Kabupaten Nduga memiliki peluang untuk bersekolah selama 2,95 tahun atau hanya sampai kelas 3 SD. Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS) sebesar 0,71 tahun yang berarti penduduk Kabupaten Nduga usia 25 tahun ke atas secara rata-rata menempuh pendidikan 0,85 tahun atau tidak tamat kelas 1 SD dan angka pengeluaran per kapita disesuaikan (harga konstan 2012) Rp. 4,13 juta per tahun. 11 Sebaliknya kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua tercatat memiliki pembangunan manusia tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya di Provinsi Papua. Pada tahun 2018, IPM kota Jayapura mencapai 79,58. Untuk dimensi pengetahuan dan dimensi standar hidup layak, kota Jayapura juga menempati posisi pertama dimana nilai untuk masing-masing indikatornya adalah HLS sebesar 14,99 tahun, RLS sebesar 11,30 tahun, dan pengeluaran per kapita disesuaikan (harga konstan 2012) mencapai Rp. 14.92 juta per tahun terkecuali untuk dimensi umur panjang dan hidup sehat, posisi pertama ditempati oleh Kabupaten Mimika dengan nilah UHH saat lahir mencapai 72,06 tahun. Garis Kemiskinan di Provinsi Papua, 2013-2017 2.5 Kesehatan Fasilitas Kesehatan di Provinsi Papua pada tahun 2018 didominasi oleh Puskesmas Pembantu sebanyak 1 146 unit sedangkan jumlah rumah sakit di Provinsi Papua ada sebanyak 41 unit. Jumlah rumah sakit terbanyak ditemukan di Kota Jayapura sebanyak 7 unit. Tenaga kesahatan di Provinsi 12 Papua pada tahun 2016 didominasi oleh tenaga keperawatan sebanyak 5.744 orang. Sebanyak 41.52 persen perempuan penah kawin berumur 15-49 tahun yang melahirkan anak lahir hidup dibantu proses kelahirannya oleh bidan. Berdasarkan data dinas Kesehatan Provinsi Papua menunjukan jumlah Ibu hamil di Provinsi Papua pada tahun 2016 ada sebanyak 78.157 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebanyak 65,66 persen ibu hamil melakukan kunjungan K1 namun persentase ini menurun di kungjungan K4 menjadi 38,06 persen. Sebanyak 7,34 persen ibu hamil dinyatakan kurang Energi Kronis (KEK) dan 26,88 persen mendaptkan asupan zat besi. Pada tahun 2017, imunisasi BCG menjadi imunisasi yang paling banyak didapatkan oleh balita di Provinsi Papua yaitu sebanyak 88,17 persen. Sebaliknya sebanyak 62,62 persen balita yang mendapat imunisasi campak/morbili yang merupakan persentase terendah diantara imunisasi lainnya. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Provinsi Papua pada tahun 2018 ada sebanyak 104 347 pasangan. Secara lebih lanjut, jumlah peserta Keluarga Berencana (KB) aktif ada sebanyak 171 611 orang dimana sebagian besar peserta KB menggunakan alat suntikan yaitu sebanyak 97 988 orang. Sebaliknya Metode Operasi Pria (MOP) menjadi metode KB yang paling sedikit dilakukan oleh peserta KB yaitu sebanyak 421 orang. 13 Persentase Perempuan Pernah Kawin Berumur 15-49 Tahun Yang Melahirkan Anak Lahir Hidup (ALH) Menurut Penolong Proses Kelahiran. 2.6 Kebudayaan Ada banyak budaya khas Papua yang menarik. Disamping tradisi dari bahasa yang berbeda antara suku yang tinggal di daerah pegununggan dan yang tinggal di daerah pesisir pantai, penduduk papua memiliki upacara adat, pakaian, dan rumah tradisional yang merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang selama ribuan tahun yang terus dijaga hingga saat ini, diantaranya sebagai berikut : 1. Bakar Batu Biasanya Bakar Batu ini diadakan ketika menyambut tamu penting atau pesta pernikahan. Bakar Batu juga dilaksanakan ketika menutup musim panen sebagai bentuk rasa bersyukur kepada sang pencipta atas hasil panen yang melimpah. Dinamakan Bakar Batu karena di dalam 14 perayaan ini, suku-suku di Papua memasak makanan yang menjadi hidangan pesta dengan cara membakarnya dengan batu panas. Biasanya dimulai dengan menyalakan api secara tradisional, yaitu menggesek rotan ke atas kayu hingga memercikan api. Api tersebut akan digunakan untuk membakar batu hingga tersebut cukup panas. Batu ini yang kemudian disusun sedemikian rupa di dalam lubang yang telah disediakan lalu ditumpuk di atasnya bahan makanan seperti ubi dan babi yang akan ditutup oleh batu-batu panas dan ditutpi oleh rumput-rumputan agar panas tetap berada di dalam dan mebakar makanan hingga matang. Tiap suku memiliki sebutan tersendiri yang merujuk pada upacara adat ini. Seperti halnya masyarakat paniai yang menggunakan kata mogo gapii atau warga di Wamena yang menyebutnya dengan sebutan kit oba isago. Namun istilah yang paling umum digunakan barepan. 2. Potong Jari Yakuza bukanlah bukanlah satu-satunya masyarakat dunia yang memiliki tradisi potong jari. Namun berbeda dengan Yakuza yang memotong jari ketika mereka gagal dalam melaksanakan misi, masyarakat Papua melakukan tradisi ini ketika kehilangan anggota keluarga. Aturan adat mewajibkan keluarga yang kehilangan untuk memotong jarinya karena untuk beberapa suku di Papua, mereka menggap jari sebagai representasi anggota keluarga. Ketika seseorang kehilangan satu anggota keluarga mereka maka secara otomatis mereka juga kehilangan satu jarinya. Jika dilihat dari perspektif modern, tentu tradisi potong jari adalah tradisi yang sangat ekstrim dan tidak seharusnya masih dilakukan. Oleh karena perubahan zaman juga, tradisi ini mulai ditinggalkan dan semakin dilupakan oleh suku-suku di Papua. 15 3. Kayu Ukir Tidak banyak yang tahu jika ukiran kayu Indonesia yang mendunia bukan hanya berasal dari kota Jepara tapi juga dari daerah timur nusantara, lebih tepatnya suku Asmat yang mendiami teluk Flamingo. Selama ribuan tahun, pemahat kayu dipandang sebagai profesi yang terhormat di kalangan suku Asmat. Ukiran kayu rumit yang dipahat secara alat-alat tradisional menjadi ciri khas yang menarik minat wisatawan dunia. Peralatan yang digunakan pun masih sangat sederhana, seperti kapak yang terbuat dari batu, tulang binatang dan kulit terang. Nilai estetika yang tinggi menjadikan kerajinan ini dijual dengan harga yang sangat tinggi. Tidka hanya dari segi estetis, ukiran kayu asmat memiliki empat fungsi kultur, diantaranya:  Pewujudan arwah nenek moyang;  Ungkapan perasaan senang atau sedih;  Simbol-simbol religi seperti manusia, hewan, tumbuhan dan berbagai objek laik;  Simbol keindahan dan kearifan lokal. 4. Koteka Mungkin ini adalah karya budaya Papua yang paling dikenal luas oleh masyarakat dunia, Koteka adalah pakaian tradisional masyarakat Papua yang digunakan sebagai penutup kemaluan lelaki dewasa beberapa suku di Papua. Namun begitu, tidak semua suku di Papua memakai koteka. Koteka hanya digunakan oleh beberapa suku yang dikenal di pegunungan, sementara untuk penduduk yang tinggal di daerah pesisir pantai lebih memilih moge sebagai pilihan berbusana. Sejenis cawat berbentuk rumbai-rumbai. Koteka dikenakan oleh anak lelaki yang telah menginjak umur 5 tahun. Bukan hanya sebagai pakaian, koteka juga sebuah perlambangan strata sosial masyarakat papua. Semakin tinggi status jabatan seseorang maka 16 dia berhak untuk mengenakan koteka dengan ukuran yang lebih besar. Untuk para raja atau kepala suku, koteka yang mereka kenakan khusus merupakan dari pendahulu mereka sebelumnya. 5. Pakaian Adat Wanita Ada banyak jenis pakaian tradisional wanita yang bisa ditemukan di Papua, hampir tiap suku memiliki baju adatnya masing-masing. Meski begitu, kebanyakan pakaian ini terbuat dari bahan yang sama: diambil dari serat-serat tumbuhan yang dikeringkan yang kemudian dirangkai menjadi semacam rok untuk menutupi tubuh bagian bawah. Ornamen-ornamen yang digunakan di pakaian juga relatif tidak begitu rumit, hanya bentuk-bentuk seperti bulatan dan kotak yang tersusun secara geometris. Biasanya ditambahkan beberapa hiasan kepala sebagai asesoris yang terbuat dari bulu-bulu binatang seperti burung candrawasih. Meski tidak banyak namun beberapa suku di Papua juga dikenal dengan kerajinan kain tenunnya. Warna-warna yang digunakan tidak begitu variatif hanya coklat, merah, hitam atau kuning karena masih menggunakan pewarna alami dari getah tumbuhan. 6. Rumah Tradisional Honai Arsitektur rumah tradisional Honai didesain khusus untuk cuaca pegunungan Papua yang dingin. Ruangan rumah dibuah tidak terlalu besar dengan tinggi rumah mencapai 2-2,5 meter dengan sebuah pintu dan tanpa jendela. Seluruh dinding rumah dibangu dari potongan kayu dengan atap yang disusun dari jerami keting tebal. Ditengah rumah terdapat tungku perapian yang biasa digunakan untuk memasak atau sekedar menghangatkan suhu ruangan. Honai sendiri dibagi menjadi 3 jeni :  Honai, rumah yang diperuntukan untuk kaum pria  Ebei, rumah yang diperuntukan untuk kaum wanita  Wamai, rumah yang dijadikan kandang babi. 17 Honai memiliki fungsi lebih dari sekedar tempat tinggal. Honai digunakan masyarakat Papua sebagai tempat, berkumpul mendidik anakanak sebagai generasi penerus dan pada zaman dahulu juga digunakan sebagai tempat mengatur jika terjadi perang antar suku. BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Papua adalah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur wilayah Papua milik Indonesia. Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini. Provinsi Papua sebelumnya bernama Irian Jaya yang mencakup seluruh wilayah Papua Bagian barat. Sejak tahun 2003, dibagi menjadi dua provinsi dengan bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya memakai nama Papua Barat. Papua memiliki luas 808.105 km persegi dan merupakan pulau terbesar kedua di dunia dan terbesar pertama di Indonesia. 3.2 Saran Makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan maupun referensi pengetahuan mengenai pembelajaran Perkembangan Penduduk Papua. Namun, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan, karena melihat masih banyak hal-hal yang belum bisa dikaji lebih mendalam dalam makalah ini. 18 DAFTAR PUSTAKA Provinsi%20Papua%20Dalam%20Angka%202019.pdf 19

Judul: Tugas Ilmu Sosial Perkembangan Penduduk Papua

Oleh: Maail Maail


Ikuti kami