Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan Dunia Islam

Oleh Ahmad Choirul Rofiq

644 KB 11 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan Dunia Islam

MENGEMBALIKAN SUPREMASI ILMU PENGETAHUAN DUNIA ISLAM Ahmad Choirul Rofiq* Abstract: A long time ago Muslim people used to achieve their golden ages for many centuries. The glory of civilization was accomplished in every aspect of life. That achievement was obtained because the leaders of Muslim society at that time were very responsible for their people and religion. They optimally created a large number of good environments and encouraged their people to do intellectual activities. Muslim people did not only gain their golden ages but also gave a significant contribution to the West so that the western people could carry out their renaissance and move themselves from the dark ages. Their awakening was attained well after they were successful to transfer knowledge from Muslim world to the west through intensive translation activities during Islamic government in Spain and Sicillia, as well as the crusades periode. Therefore, the Muslim people must revitalize their serious ijtihad activities continually to regain their intellectual supremacy and lead the world civilization again. ‫ وحصلوا‬.‫ وصلت األمة اإلسالمية – يف امتداد تارخيها الطويلة – إىل العصر الذهيب يف جماالت احلياة‬:‫ملخص‬ .‫ واهتم الوالة بأمور األمة ومشاكلها وبدينهم‬.‫على العزة ألن والة األمور حني ذاك مئتمنون ووعوا باملسئولية‬ " ‫ بل أسهم املسلمون كبريا للغرب حتى قدروا على "اإلعادة‬،‫وك ّون هؤالء الوالة ج ّوا مناسبا لألنشطة العلمية‬ ‫ يف عهد‬,‫ حصل الغرب على نهضتها بعد نقل املعارف من املسلمني عن طريق الرتمجة‬.‫واخلروج عن التأخر‬ ‫ وإلعادة هذا العصر الذهيب يف العلوم وأستاذية‬.‫اخلالفة يف إسبانيا وسيسيليا أو كذلك يف معركة الصليب‬ .‫ على املسلمني إعادة روح اإلجتهاد يف مجيع نواحي احلياة ج ّديّا متواصال‬،‫العامل‬ Keywords: Zaman keemasan Islam, ilmu pengetahuan, transformasi, intelektual. PENDAHULUAN Perjalanan sejarah kehidupan manusia menegaskan bahwa peradaban umat manusia senantiasa berputar laksana sebuah roda yang terkadang berada di atas atau di bawah tergantung perputarannya. Hal serupa juga tampak pada perkembangan ilmu pengetahuan, terutama yang ditunjukkan oleh keberhasilan dunia Barat dalam meraih kembali ilmu pengetahuan yang sempat terlepas dari genggaman mereka. * Program Studi PBA Jurusan Tarbiyah STAIN Ponorogo 20 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... Perkembangan ilmu pengetahuan tidak berlangsung secara mendadak, tetapi terjadi secara bertahap dan evolutif. Sejarah ilmu pengetahuan dimulai jauh sebelum zaman pra Yunani kuno ketika manusia masih menggunakan peralatan dari batu dalam kehidupannya. Saat itu, mereka menorehkan gambar-gambar di gua dan mengukir tulang belulang dan bebatuan. Setelah berhasil menemukan besi, tembaga, perak dan perunggu, mereka dapat mengembangkan peradaban tinggi. Di antara peninggalan yang bisa ditemukan adalah peradaban Babilonia (Mesopotamia), Mesir, Cina, dan India. Selanjutnya, perkembangan beralih ke zaman Yunani kuno (ancient Greece. Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan ketika manusia memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide atau pendapatnya. Saat itu, muncul para pemikir dan ilmuwan yang mengoptimalkan daya nalarnya secara kritis, seperti Thales, Anaximander, Anaximenes, Leucippus, Phytagoras, Socrates, Democritus, Hippocrates, Plato, Aristoteles, Theophrastus, Archimedes, Eratosthenes, Ptolemy, dan Galen. Perkembangan berikutnya adalah pada masa pertengahan (middle age) yang ditandai dengan kemunculan para teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Pada masa itu hampir semua ilmuwan adalah teolog sehingga aktivitas keilmuan selalu terkait dengan aktivitas keagamaan atau kegiatan ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada waktu itu ialah ancilla theologia (abdi agama). Saat itu, masyarakat Barat berada pada zaman kegelapan (dark age). Tetapi kondisi sangat berbeda terjadi di dunia Islam yang justru mampu meraih masa keemasan (golden age). Obor kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban berada di tangan kaum Muslimin.1 Selanjutnya, bangsa Barat mengalami zaman Renaissance yang disebut sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Istilah “Renaissance” berarti kelahiran kembali, yakni ketika bangsa Eropa merasa dilahirkan kembali dalam peradaban. Di antara ilmuwan masa itu ialah Nicolaus Copernicus dengan teori Heliosentris yang bertentangan dengan teori Geosentris yang didukung kalangan gereja. Karena takut dikucilkan dari gereja, pendapatnya yang mengatakan bahwa matahari berada di pusat jagad raya itu dipublikasikan pada saat kematiannya.2 Zaman Renaissance merupakan zaman peralihan ketika manusia merindukan kebebasan berpikir seperti masa Yunani kuno dan tatkala manusia ingin mencapai kemajuan berdasarkan hasil usahanya sendiri tanpa campur tangan ilahi. Periode berikutnya adalah periode modern yang ditandai dengan berbagai penemuan ilmiah yang sebelumnya telah dirintis pada zaman 1 Rizal Muntasyir, “Sejarah Perkembangan Ilmu” dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 2003), 63-75 dan David Burnie, “Science” dalam CD Encarta Reference Library, (Washington: Microsoft Corporation, 2005). 2 Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1980), 11-13. Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 21 Renaissance. Perkembangan ilmu pengetahuan sebagian besar terpusat di benua Eropa. Di antara pionir masa modern ini ialah Rene Descartes.3 Pada saat itulah, bangsa Barat benar-benar telah mengokohkan kembali supremasi mereka sebagai pemegang peradaban dunia dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, tampak jelas bahwa selama perjalanan ilmu pengetahuan itu bangsa Barat yang sebelumnya sempat terpuruk pada zaman kegelapan akhirnya dapat bangkit kembali menguasai ilmu pengetahuan hingga saat ini. Kebangkitan Barat tersebut ternyata tidak dapat dilepaskan dari kontribusi signifikan kaum Muslimin yang pernah berhasil mewujudkan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa keemasan. Tulisan sederhana berikut ini berupaya menyajikan ikhtiar alternatif untuk menginspirasi umat Islam dalam rangka menggapai kembali supremasi ilmu pengetahuan dan memegang kendali peradaban dunia yang kini terlepas dari genggaman. ERA KEJAYAAN ISLAM Kegemilangan peradaban Islam terwujud pada masa klasik Islam. Penulisan sejarah Islam biasanya diklasifikasikan dalam periodesasi yang antara lain meliputi periode klasik (30-648 H / 650-1250 M), periode pertengahan (648-1215 H / 1250-1800 M), dan periode modern (mulai 1215 H /1800 H). Periode klasik identik dengan masa kejayaan Islam, periode pertengahan cenderung didominasi kemunduran Islam, sedangkan periode modern ditandai dengan kebangkitan Islam.4 Pembatasan angka tahun dalam periodesasi tersebut tampaknya bukan merupakan harga mati yang sudah baku, namun ia merupakan angka perkiraan semata. Misalnya saja, penetapan batas masa klasik antara tahun 30-648 H/ 650-1250 M. Seandainya masa klasik dimulai pada 30 H/ 650 M, prestasi umat Islam sebelum tahun itu belum tercakup. Sebagaimana diketahui, tahun 30 H/ 650 M berada pada masa pemerintahan Khalifah ‘Usman ibn ‘Affan. Secara berurutan, masa kepemimpinan Khulafa’ Rasyidun yang melanjutkan kepemimpinan Rasulullah di Madinah antara 1-11 H/ 622-632 M ialah sebagai berikut. Abu Bakar al-Siddiq memerintah antara 11-13 H/ 632-634 M, ‘Umar ibn al-Khattab antara 13-23 H/ 634-644 M, ‘Usman ibn ‘Affan antara 23-35 H / 644-656 M, dan ‘Ali ibn Abi Talib antara 35-40 H / 656-661 M.5 Pemerintahan 3 Muntasyir, “Sejarah Perkembangan Ilmu” dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu”, 76-80. 4 Keterangan detail tentang periodesasi sejarah Islam itu dapat dibaca dalam Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, vol. 1 (Jakarta: UI Press, 1978), 56-89. 5 Clifford Edmund Bosworth, The Islamic Dynasties (Edinburg: Edinburg University Press, 1980), 3. 22 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... mereka meneruskan pemerintahan Rasulullah yang telah berhasil menegakkan risalah tauhid di semenanjung Arab dan menerapkan pemerintahan Islam. Prestasi luar biasa yang diteladankan Nabi adalah penyusunan Dustur al-Madinah (Piagam Madinah atau Konstitusi Madinah). Piagam yang dapat dikatakan ”terlalu modern untuk ukuran zamannya” tersebut memberikan teladan tentang pemerintahan yang dijiwai keadilan dan toleransi bagi pola hubungan bermasyarakat yang pluralistik.6 Kepemimpinan Abu Bakar berlangsung setelah Rasulullah wafat (12 Rabi’ul Awwal 11 H / 8 Juni 632 M). Meskipun pemerintahannya sangat singkat tetapi jasa penting Abu Bakar bagi umat Islam telah diberikan, di antaranya adalah mewujudkan stabilitas pemerintahan dengan memadamkan pemberontakanpemberontakan, melakukan rintisan perluasan wilayah Islam, dan pembukuan al-Quran.7 Atas jasanya dalam mengembalikan stabilitas pemerintahan Islam dan menyelamatkan Islam dari kehancuran, Abu Bakar disebut sebagai “Penyelamat Islam”.8 Adapun pemerintahan ‘Umar ditandai dengan pesatnya ekspansi dan penataan administrasi pemerintahan. Ekspansi antara lain dilancarkan ke Syria, Palestina, Irak, dan Mesir. Pada saat inilah kekaisaran Persia berhasil ditaklukkan. Dalam masalah administrasi dan menajemen negara, ‘Umar membagi wilayah Islam menjadi beberapa propinsi, kemudian membentuk beberapa departemen (diwan), menetapkan sistem pembayaran gaji dan pajak, mengoptimalkan baitul mal, dan menciptakan kalender hijriah.9 Berikutnya dilanjutkan pemerintahan ‘Usman. Kepemimpinan ‘Usman periode enam tahun Pertama masih mengikuti pola kekhilafahan ‘Abu Bakr dan ‘Umar. Tetapi enam tahun Kedua, ‘Usman yang sudah uzur tidak mampu mengendalikan pengaruh kuat kerabatnya. Tidak hanya itu, konflik internal berlatar belakang ‘asabiyyah (kesukuan) juga menyeruak ke permukaan. Akibatnya, pemerintahannya berakhir dengan terbunuhnya ‘Usman tahun 35 H (656 M).10 Meskipun demikian, pemerintahan ‘Usman berhasil menaklukan 6 Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis (Jakarta: Gema Insani, 2005), 219-220 dan Nourouzzaman Shiddiqi, Jeram-jeram Peradaban Muslim (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), 93-94. 7 Ahmad Al Usairy, Sejarah Umat Islam: Sejak Zaman Nabi Adam hingga Abad XX, terj. Samson Rahman (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003), 145-150 dan Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Slamet Riyadi (Jakarta: Serambi, 2005), 175-176. 8 Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos, 1997), 47-48. 9 Salim al-Bahnasawi, al-Khilafah wa al-Khulafa> ar-Rasyidun bayna al-Syura wa alDimuqratiyyah (Kairo: al-Zahra’, 1991), 161, 170-191, Moh. Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam (Malang: UMM Press, 2004), 47-49, dan Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Bogor: Kencana, 2003), 23-29, dan Hitti, History, 219. 10 Muhammad Diya’ al-Din al-Rays, al-Nazariyyat al-Siyasiyyah al-Islamiyyah (Kairo: Maktabah Dar al-Turas, 1976), 182 dan J. Suyuthi Pulungan, Fiqh Siyasah: Ajaran, Sejarah, dan Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 23 Tripoli, Siprus, Farghanah, Kabul, Juran, Balkh, Herat, dan Armenia. Di antara kebijakan ‘Usman ialah pembentukan armada laut yang dipergunakan Pertama kali ketika menghadapi Romawi dalam perang Zat al-Sawari di Siprus.11 Di samping itu, ‘Usman juga berhasil melakukan penyalinan dan pembakuan al-Quran demi menghindari perselisihan umat dikarenakan perbedaan cara membaca al-Quran.12 Adapun ’Ali yang mewarisi kepemimpinan dalam suasana huru hara politik ternyata tidak dapat berbuat banyak untuk mengendalikan pemerintahan. Kekacauan semakin membara dengan pecahnya perang Jamal tahun 36 H (656 M), perang Siffin tahun 37 H (657 M), dan perang Nahrawan tahun 37 H (657 M) yang banyak menelan korban jiwa, dan bahkan beliau sendiri turut menjadi korban perselisihan internal umat Islam setelah dibunuh ‘Abd al-Rahman ibn Muljam tahun 40 H (661 M).13 Konflik internal umat Islam tersebut antara lain disebabkan provokasi ‘Abd Allah ibn Saba’. Hampir semua sejarawan sepakat bahwa Ibn Saba’ dan pengikut-pengikutnya mempunyai peranan signifikan dalam terjadinya perpecahan umat Islam. Meskipun demikian, ada pula para penulis yang meragukan atau menyangkal keberadaan Ibn Saba’. Di antaranya ialah ‘Ali Husayn al-Wardi, Murtada al-‘Askari, ‘Abd Allah al-Fayyad, dan Taha Husayn.14 Kalangan orientalis yang menyangkal keberadaan Ibn Saba’ antara lain adalah Bernard Lewis, J. Wellhausen, Friedlaender, dan Caetani Leone. Adapun para orientalis yang mengakui keberadaan Ibn Saba’ di antaranya ialah Reinold Allen Nicholson, Ignaz Goldziher,15 Gerlof van Vloten, Roneldson, dan William Temple Muir.16 Ibn Saba’ adalah seorang Yahudi dari Yaman yang memeluk agama Islam pada masa pemerintahan ‘Usman ibn ‘Affan. Ia kemudian berusaha menyesatkan umat Islam sambil berkeliling ke berbagai tempat, misalnya Hijaz, Bashrah, Kufah, Syam, dan Mesir.17 Sebagian umat Islam ternyata terhasut oleh propaganda Ibn Saba’ meskipun sebenarnya ‘Usma>n sudah memperingatkan umat Islam dengan mengirimkan surat peringatan kepada para gubernurnya. Pemikiran (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), 143-150. 11 Al-Bahnasawi, al-Khilafah, 226-233 dan Al Usairy, Sejarah, 58-59. 12 Subhi Salih, Mabahis fi ’Ulum al-Quran (Beirut: Dar al-’Ilm li al-Malayin, 1977), 79-83 dan Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zarqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Quran, vol. 1 (Mesir: ‘Isa al-Babi al-Halabi, tt.), 260 dan 400-402. 13 Lebih detail baca Abu al-Hasan ‘Ali ibn al-Asir, al-Kamil fi al-Tarikh, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006), 81-259. 14 Nayif Mahmud Ma‘ruf, al-Khawarij fi al-‘Asr al-Umawi (Beirut: Dar al-Tali‘ah, 1994), 42. 15 Sa‘di Mahdi al-Hasyimi, Ibn Saba> Haqiqah la Khayal (Madinah: Maktabah al-Dar, 1985), 7-9. 16 Ma‘ruf, al-Khawarij, 47-48. 17 Abu Ja‘far Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Tarikh al-Tabari: Tarikh al-Umam wa al-Muluk, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), 647. 24 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... Akibatnya, kekisruhan politik terjadi. Mereka inilah yang berada di belakang tragedi pembunuhan ‘Usman, memicu terjadinya perang Jamal dan ikut serta di dalam pasukan Ali dalam perang S{iffi>n.18 Pada masa Khalifah ‘Ali, Ibn Saba’ diasingkan ke Madain. Ibn Saba’ masih berada di Madain pada saat terjadinya pembunuhan terhadap ‘Ali>. Hukuman pengasingan itu dijatuhkan karena tatkala ‘Ali hendak menghukum mati Ibn Saba’, para pengikut Ibn Saba’ segera menghalang-halangi hukuman mati itu.19 Perkembangan Islam masa klasik berikutnya diteruskan oleh Dinasti Umawiyyah setelah al-Hasan menyerahkan kekuasaannya kepada Mu‘awiyah ibn Abi Sufyan pada tahun 41 H (661 M).20 Pemerintahan Umawiyyah yang berlangsung hingga tahun 132 (750 M) berhasil menyebarkan Islam ke Afrika Utara, Andalusia (Spanyol), India, Asia Tengah, dan perbatasan Cina. Pada masa ini pula dilakukan reformasi administrasi pemerintahan dengan membentuk departemen-departeman, arabisasi yang mewajibkan pemakaian bahasa Arab sebagai bahasa resmi pemerintahan, penyempurnaan tulisan bahasa Arab, dan bahkan dimulai percetakan mata uang sendiri. Dalam aspek keilmuan, pemerintahan Umawiyyah telah memulai pembukuan hadis, seperti yang dilakukan Ibn Syihab al-Zuhri dan juga merintis penerjemahan karya-karya berbahasa asing ke dalam bahasa Arab, sebagaimana dilakukan oleh Khalid ibn Yazid ibn Mu‘awiyah.21 Kemajuan dunia Islam semakin berkembang ketika Dinasti ‘Abbasiyyah berkuasa setelah keberhasilan revolusi menggulingkan Dinasti Umawiyyah tahun 132 H (750 M).22 Kemajuan itu terwujud berkat perhatian pemerintah yang besar terhadap ilmu pengetahuan, berbeda dengan Umawiyyah yang cenderung pada perluasan wilayah. Di antara sarana kemajuan itu ialah Bayt al-Hikmah yang merupakan institusi ilmu pengetahuan Pertama berbentuk akademi atau universitas yang dikenal di dunia Islam. Perintisan lembaga ini sebenarnya telah dipelopori oleh Abu Ja’far al-Mansur (136-158 H/754-775 M) yang menginstruksikan penerjemahan buku-buku kedokteran, astronomi, arsitektur, dan budaya ke bahasa Arab, serta penulisan buku-buku hadis, sejarah, dan sastra. Semua karya tersebut kemudian dihimpun dalam perpustakaan pribadinya yang menjadi cikal bakal Bayt al-Hikmah. Muhammad al-Mahdi, penggantinya, (158-168 H/775-785 M) ternyata kurang memberikan perhatian Al-Bahnasawi, al-Khilafah, 262-264, 287-292 dan Ma‘ruf, al-Khawarij, 56-59. Al-Ha>syimi>, Ibn Saba’, 64. 20 Ibn al-Asi>r, al-Ka>mil, 271. 21 Hitti, History, 268-274, 303, dan 319-320. 22 R. Stephen Humphreys, Islamic History: A Framework for Inquiry (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1991), 104 dan 109. 18 19 Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 25 kepada perpustakaan itu disebabkan konsentrasinya pada penumpasan gerakan penyimpangan keagamaan pada masa pemerintahannya. Kemudian Harun al-Rasyid (169-193 H/ 786-809 M) yang sangat mencintai ilmu menggiatkan penerjemahan ke dalam bahasa Arab. Koleksi karya terjemahan maupun orisinal bertambah banyak sehingga dibangunlah Bayt alHikmah dengan dukungan dan fasilitas yang lebih banyak. Al-Rasyid bahkan ketika mengirimkan ekspedisi militernya juga menugaskan pasukannya supaya membawa manuskrip Yunani ke Baghdad untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Al-Ma’mu>n, penerusnya (197-217 H/ 813-833 M) yang juga cinta ilmu semakin mengembangkan Bayt al-H{ikmah. Ia secara rutin menyelenggarakan forum diskusi ilmiah yang diikuti para cendekiawan dari berbagai agama dan bermacam-macam bidang keilmuan. Perburuan dan penghimpunan karyakarya ilmiah dari berbagai penjuru terus digalakkan dengan pengiriman delegasi penerjemah ke Asia Kecil, Bizantium, Siprus, dan Syria. Pemimpin lembaga dijabat Sahl ibn Harun, seorang berdarah Persia, yang dibantu para cendekiawan dari beragam keilmuan. Untuk merangsang percepatan kegiatan tersebut, al-Ma’mûn membayar penerjemahan tersebut dengan emas seberat buku yang diterjemahkan itu. Dalam rangka melengkapi gedung penelitian untuk ilmu pengetahuan, astrolabe untuk astronomi, dan perpustakaan besar, ia menghabiskan lebih dari 200.000 dinar.23 Selanjutnya al-Mu’tas}im (217-227 H/833-842 M) yang memindahkan ibukota ke Samarra menjadikan Bayt al-H{ikmah kurang berkembang. Kondisi serupa juga terjadi pada pemerintahan al-Wasiq (227-232 H/ 842-847 M). Perubahan terjadi masa pemerintahan al-Mutawakkil (232-246 H/ 847-861 M). Meskipun al-Mutawakkil terkenal sebagai khalifah bertemperamen keras yang sangat fanatik kepada agama Islam ortodoks dan sebaliknya bersikap kurang simpatik kepada penganut agama lain, serta bukan seorang cendekiawan (scholar) sebagaimana al-Ma’mun, ternyata al-Mutawakkil mampu memposisikan dirinya sebagai pelindung (patron) ilmu pengetahuan yang baik. Dia membuka kembali Bayt al-Hikmah, mengangkat H{unayn ibn Ishaq sebagai pemimpin lembaga dan memberikan fasilitas terhadap gerakan penerjemahan. Bahkan, karya-karya terjemahan terbaik berhasil diwujudkan pada masa pemerintahannya.24 23 Sa‘i>d al-Diyu>hji>, Bayt al-H{ikmah (Mosul: Da>r al-Kutub, 1972), 31-34 dan Khidr Ah} mad ‘At}a>’ Alla>h, Bayt al-H{ikmah fi> ‘As}r al-‘Abba>siyyi>n (Kairo: Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, tt.), 28-34, 42, 45, 199 dan 203. 24 De Lacy O’Leary, How Greek Science Passed to the Arabs dalam www.aina.org. 26 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... Gerakan penerjemahan semacam ini terus berlangsung secara intensif sampai dengan tahun 286 H/ 900 M25. Meskipun demikian, ada pula yang mengatakan sampai dengan tahun 338 H/ 950 M.26 Selama periode panjang penerjemahan ini, ilmu pengetahuan muslim, terutama bidang kedokteran, walaupun mempunyai lingkup yang luas dan memiliki substansi yang dalam, tetapi dibangun di atas ilmu pengetahuan Yunani, pemikiran Persia dan India, serta dikembangkan melalui eksperimen-eksperimen. Gerakan ini mampu menghasilkan karya-karya yang hebat dalam ilmu pengetahuan, namun secara keseluruhan kurang memiliki orisinalitas. Meskipun demikian, semenjak abad 4 H/ 10 M, Islam mulai lebih banyak mengandalkan kepada sumber dayanya sendiri dan “mengembangkan dari dalam” sampai abad 6 H/ 12 M. Ilmu-ilmu ini selanjutnya berpindah secara cepat ke tangan sarjana-sarjana muslim, terutama dari kalangan orang-orang Persia.27 Eksistensi Bayt al-Hikmah bertahan hingga kedatangan bangsa Mongol yang membawa kehancuran kota Baghdad dan seluruh isinya tahun 656 H/ 1258 M.28 Akademi Bayt al-Hikmah telah berperan menjadikan Baghdad sebagai kiblat ilmu pengetahuan dunia pada masa ketika masyarakat Barat masih berada dalam abad-abad kegelapan. Peran dan kontribusi umat Islam saat itu sangat mengagumkan dan benar-benar diakui oleh para sejarawan ternama, seperti John William Draper, Guizot, John Davenport, Stanley Lane-Poole, M.P.E. Berthelot, E.J. Homyard, Max Meyerhof, George Sarton, dan Philip K. Hitti.29 Selain Bayt al-Hikmah, terdapat pula lembaga Nizamiyyah yang didirikan pada tahun 457-459 H/ 1065-1067 M oleh Nizam al-Mulk, perdana menteri Dinasti Saljuq. Lembaga ini mempunyai manajemen yang bagus karena dikelola secara baik, didukung dana besar, difasilitasi perpustakaan lengkap dengan koleksi sekitar 6000 judul, asrama, serta mengikuti kurikulum pelajaran yang mencakup ilmu agama dan umum. Nizamiyyah didirikan di Baghdad, Balkh, Nishabur, Harat, Isfahan, Bashrah, Merw, Amul, dan Mosul. Beberapa detil organisasi Nizamiyyah ditiru oleh bangsa Eropa untuk membangun universitas- 25 ‘Ata’ Allah, Bayt al-Hikmah, 42 dan Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education (Colorado: University of Colorado Press, 1964), 22. 26 Najib Saliba, Christians and Jews Under Islam dalam www.freemuslims.org. 27 Nakosteen, History, 22. 28 ’Ata’ Allah, Bayt al-H{ikmah, 41 dan 192. 29 Muhammad Abdur Rahman Khan, Sumbangan Umat Islam terhadap Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan, terj. Adang Affandi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996), 84. Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 27 universitas mereka. Eksistensi lembaga ini berakhir sekitar abad 9 H (15 M) yang hancur akibat konflik peperangan.30 Sementara itu, di Andalusia pada masa Dinasti Umawiyyah II dijumpai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan. Universitas Cordova yang didirikan ‘Abd al-Rahman III (299-349 H/ 912-961 M) semakin dikembangkan oleh al-H{akam II, penerusnya (349-365 H/ 961-976 M). Al-Hakam mengundang para profesor dari Masyriq (kawasan Timur Islam) dan menyediakan anggaran khusus untuk gaji mereka. Perpustakaan besar dibangun untuk melengkapi fasilitasnya. Buku-buku dibeli atau disalin dari Iskandariah, Damaskus, dan Baghdad. Kecintaan al-Hakam pada buku ditunjukkan ketika ia mengirimkan 1000 dinar kepada al-Isfahani yang menulis al-Aghani di Irak.31 Adapun di Mesir, Dinasti Fatimiyyah juga mempunyai kontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Di antara lembaga pendidikan yang dibangun ialah al-Azhar tahun 361 H/ 972 M pada masa pemerintahan al-Mu‘izz (340-364 H / 952-975 M) dan kemudian dijadikan universitas oleh al-‘Aziz (364385 H/ 975-996 M), serta Dar al-Hikmah atau Dar al-‘Ilm tahun 395 H/ 1005 M pada masa pemerintahan al-Hakim (385-411 H/ 996-1021 M).32 Berkat besarnya perhatian pemerintah Islam terhadap ilmu pengetahuan, wajar jika pada masa kejayaan Islam ini banyak dijumpai sarjana muslim dalam berbagai bidang keilmuan. Pada masa ‘Abbasiyyah, dalam ilmu kedokteran terdapat Yuhanna ibn Masawayh, Hunayn ibn Ishaq, Jibril ibn Bakhtisyu‘, ‘Ali ibn Sahl Rabban, Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya al-Razi, ‘Ali ibn al-‘Abbas, Abu ‘Ali al-Husayn ibn Sina, ‘Ali ibn Isa, Ibn Jazlah, Ibn Butlan, dan Ya‘qub ibn Akhi Khizam. Dalam ilmu kimia dan farmasi terdapat Jabir ibn Hayyan. Dalam filsafat terdapat Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi, Abu Nasr Muhammad al-Farabi, Ibn Sina, dan kelompok Ikhwan al-Safa’. Dalam astronomi terdapat Yahya ibn Abi Mansur, Ibrahim al-Fazari, ‘Ali ibn ‘Isa al-Asturlabi, anak-anak Ibn Syakir (Muhammad, Ahmad dan al-Hasan), Abu al-‘Abbas Ahmad al-Farghani, ‘Abd al-Rahman al-Sufi, Ahmad al-Saghani, Abu Ja’far al-Khazin, Muhammmad ibn Jabir al-Battani, Abu al-Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni, ‘Umar alKhayyam, dan Abu Ma‘syar. Dalam matematika terdapat Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, Habasy al-Hasib, dan Abu Bakr Muhammad al-Karaji. Dalam zoologi terdapat Abu ‘Usman ‘Amr ibn Bahr al-Jahiz, al-Qazwini, dan al-Damiri. 30 Ahmad Shalaby, History of Muslim Education (Beirut: Dar al-Kashshaf, 1954), 58, 82, 143, Hitti, History, 276, dan Ediwarman, “Madrasah Nizhamiyah: Pengaruhnya terhadap Perkembangan Pendidikan Islam dan Aktivitas Ortodoksi Sunni” dalam Samsul Nizar (ed.), Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia (Jakarta: Kencana, 2009), 158-168. 31 Hitti, History, 674-676. 32 Ibid., 790 dan 801. 28 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... Dalam ilmu tentang mineral dan batu-batuan terdapat ‘Utarid ibn Muhammad al-Hasib dan Syihab al-Din al-Tifasyi. Dalam geografi terdapat Yaqut ibn ‘Abd Allah al-Hamawi, al-Khwarizmi, Ibn Khurdadzbih, Ibn Wadih al-Ya‘qubi, Ibn al-Faqih al-Hamadzani, al-Istakhri, Ibn Hawqal, Abu Zayd al-Balkhi, al-Hasan ibn Ahmad al-Hamdani, dan al-Maqdisi. Dalam historiografi terdapat Ibn Ishaq, Musa ibn ‘Uqbah, al-Waqidi, Hisyam al-Kalbi, Ibn ‘Abd al-Hakam, Ahmad ibn Yahya al-Balazuri, Muhammad ibn Muslim al-Dinawari, Ahmad ibn Dawud alDinawari, Muhammad ibn Jarir al-T}abari, Abu al-Hasan ‘Ali al-Mas’udi, dan ‘Izz al-Din ibn al-Asir. Dalam hadis terdapat Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, Muslim ibn al-Hajjaj, Abu Dawud, al-Tirmizi, Ibn Majah, dan al-Nasa’i. Dalam fiqh terdapat al-Nu‘man ibn Sabit Abu Hanifah, Malik ibn Anas, Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, dan Ahmad ibn Hanbal. Dalam sastra terdapat Abu al-Faraj, al-Isfahani, al-Jahizh, Ibn Durayd, Badi’ al-Zaman al-Hamazani, al-Sa’alibi, al-Hariri, Basyar ibn Burd, Abu Nuwas, Abu Atahiyah, Abu Tammam, dan alBuhturi. Dalam musik terdapat al-Farabi. Dalam teologi terdapat al-Nazzam, Mu’ammar ibn ‘Abbad al-Sulami, Abu Musa al-Asy’ari, Abu ‘Ali Muhammad al-Jubba’i, dan Abu Hamid al-Ghazali. Dalam Tasawuf terdapat Abu Sulayman al-Darani, Ma’ruf al-Karkhi, Zu al-Nun al-Misri, Bayazid al-Bistami, al-Hallaj, al-Ghazali, ‘Abd al-Qadir al-Jaylani, Ah}mad al-Rifa’i, Junayd al-Baghdadi, Ibn Farid, al-Qusyayri, al-Suhrawardi, ‘Ali al-Syazili, dan Ahmad al-Badawi.33 Seorang teolog yang belum disebutkan Hitti adalah Muhammad bin Mahmud Abu Mansur al-Maturidi, padahal ia lebih awal daripada al-Asy’ari. Al-Maturidi dilahirkan 22 tahun sebelum al-Asy’ari. Ini berdasarkan informasi yang menerangkan bahwa al-Asy’ari dilahirkan pada 260 H (873 M), meskipun menurut keterangan lain pada 270 H (883 M). Jika tahun 260 H (873 M) dipilih, maka al-Asy’ari mulai memberikan kontribusinya terhadap penegakan aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah pada 300 H (912 M) karena ia meninggalkan gurunya, Abu ‘Ali Muh{ammad al-Jubba’i dan menyampaikan keluar dari Mu’tazilah pada usia 40 tahun. Selanjutnya, al-Maturidi, yang semenjak dilahirkan pada 238 H (852 M) diketahui tidak pernah keluar dari Sunni, berperan dalam penegakan Sunni sebelum tahun 300 H (912 M). Ini seandainya al-Maturidi menuntut ilmu selama kurang lebih 30-40 tahun.34 Ibid., 454-511, 543-555, dan 764. Abu al-Khayr Muhammad Ayyub ‘Ali, ‘Aqidat al-Islam wa al-Imam al-Maturidi (Bangladesh: al-Mu’assasah al-Islamiyyah, 1983), 265, Jalal Muhammad ‘Abd al-Hamid Musa, Nasy’at al-Asy’ariyyah wa Tatawwuruha (Beirut: Dar al-Kutub al-Lubnani, 1975), 165-168, dan Abu Bakr bin Ah}mad bin Muhammad bin Muh}ammad bin Qadi Syuhbah, Tabaqat al-Syafi’iyyah, vol. 2 (Beirut: ‘Alam al-Kutub, 1986), 113. 33 34 Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 29 Kaum Muslimin di maghrib atau kawasan Islam di Barat juga tidak ketinggalan dibandingkan masyarakat yang di masyriq (timur). Di Andalusia, Maroko, dan Mesir terdapat sarjana-sarjana Muslim pula. Di Andalusia, dalam kesusastraan terdapat al-Qali, Muhammad ibn al-Hasan al-Zubaydi, Ibn ‘Abd Rabbihi, ‘Ali ibn Hazm, Abu al-Walid ibn Zaydun, Walladah, Ibn ‘Ammar, Abu Ishaq ibn Khafajah, Muhammad ibn Hani’, Abu Bakr ibn Quzman, Abu al-‘Abbas al-Tutili, Ibrahim ibn Sahl, dan Muhammad ibn Yusuf Abu Hayyan. Dalam historiografi terdapat Abu Bakr ibn ‘Umar ibn al-Qutiyah, Abu Marwan Hayyan ibn Khalaf, Abu al-Walid ‘Abd Allah ibn Muhammad ibn al-Faradi, Abu al-Qasim Khalaf ibn ‘Abd al-Malik ibn Basykuwal, Abu Ja’far Ahmad al-Dabbi, Abu al-Qasim Sa’id al-Andalusi, Ahmad ibn Yahya, dan Ibn Abi Usaybah alQifti. Dalam geografi terdapat Abu ‘Abd Allah ibn ‘Abd al-Aziz al-Bakri, al-Idrisi, Abu al-Husayn Muhammad ibn Ahmad ibn Jubayr, Abu Hamid Muhammad al-Mazini, dan Abu ‘Ubaydah Muslim al-Balansi. Dalam astronomi terdapat Abu al-Qasim Maslamah al-Majriti, Abu Ishaq Ibrahim ibn Yahya al-Zarqali, Abu al-H{akam ‘Amr al-Karmani, Jabir ibn Aflah, dan Nur al-Din Abu Ishaq al-Bitruji. Dalam ilmu botani terdapat Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad alGhafiqi, Abu Zakariyya Yahya ibn Muhammad ibn al-‘Awwam, dan ‘Abd Allah ibn Ahmad ibn al-Baytar. Dalam kedokteran terdapat Abu al-Qasim Khalaf ibn ‘Abbas al-Zahrawi, Abu Marwan ‘Abd al-Malik ibn Abi al-‘Ala’ ibn Zuhr, Abu Bakr ibn Muhammad, ‘Ubayd Allah ibn al-Muzaffar al-Bahili. Dalam filsafat terdapat Abu Bakr Muhammad ibn Yah}ya ibn Bajjah, Abu Bakr Muhammad ibn ‘Abd al-Malik ibn Tufayl, Abu al-Walid Muhammad ibn Rusyd, dan Abu ‘Imran Musa ibn Maymun. Dalam tasawwuf terdapat Abu Bakr Muhammad ibn ‘Ali Muhyi al-Din ibn ‘Arabi, dan Abu Muhammad ‘Abd al-Haqq ibn Sab’in. Dalam musik terdapat Ziryab, Abu al-Qasim ‘Abbas ibn Firnas, Ibn Bajjah, dan Ibn Sab’in. Adapun di Mesir, dalam astronomi terdapat ‘Ali ibn Yunus. Dalam ilmu fisika dan optik terdapat Abu ‘Ali al-Hasan ibn al-Haysam.35 REVITALISASI IJTIHAD Pada saat dunia Islam mengalami kemajuan pesat, kondisi dunia Barat sebaliknya. Tetapi karena orang-orang Barat cerdik memanfaatkan situasi dan kesempatan yang ada. Akhirnya, mereka mampu mentransfer ilmu pengetahuan yang dimiliki masyarakat Muslim. Kesempatan itu memang sangat besar karena pemerintahan Islam terkenal sebagai pemerintah yang sangat toleran terhadap para penganut agama selain Islam. Sikap toleran itulah yang diteladankan oleh Rasulullah selama beliau memimpin umat Islam. Pemimpin-pemimpin berikutnya 35 Hitti, History, 712-749, 763-764, dan 802. 30 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... juga sangat toleran. Misalnya, Khalifah ‘Umar ibn al-Khattab ketika menguasai Baitul Maqdis,36 atau penguasa lainnya, baik di kawasan Islam sebelah timur maupun barat. Kaum Muslimin memandang terhadap penganut agama lain, terutama Kristen (Nasrani) dan Yahudi, sebagai ahl al-zimmah (orang-orang yang mendapatkan jaminan perlindungan dari negara Islam)37 atau kadang juga dinilai sebagai penganut agama samawi (yang ajarannya diturunkan dari langit) dan ahl al-kitab (orang-orang yang mempunyai kitab suci).38 Bangsa Barat yang melihat kesempatan emas selama berinteraksi dengan umat Islam memanfaatkannya secara maksimal untuk mengalihkan ilmu pengetahuan. Adapun jalur-jalur yang menjadi jembatan untuk transformasi ilmu pengetahuan tersebut antara lain melalui Andalusia (Spanyol), Sisilia (Italia), dan perang Salib. Pada abad 2 H/ 8 M Spanyol berhasil dikuasai Islam setelah pasukan Muslimin mendapatkan bantuan para uskup Sevilla yang tidak tega membiarkan kebodohan dan ketertindasan terjadi. Setelah penaklukan, kaum Muslimin menciptakan stabilitas di sana disertai pembangunan sepenuhnya sehingga peradaban di Andalusia menyamai peradaban yang terdapat di dunia Timur Islam. Penaklukan dimulai ketika pasukan Muslim dipimpin Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad pada 92 H/ 711 M. Kekuasaan politik Islam dapat bertahan sampai tahun 897 H/ 1492 M. Selama kurun waktu tersebut orangorang non-Muslim tetap diberikan kebebasan untuk memeluk agamanya (Kristen atau Yahudi). Gerakan penerjemahan karya-karya sarjana Muslim pun digiatkan. Sungguh, penaklukan Islam merupakan revolusi luar biasa yang memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi bangsa Eropa selama masa kegelapan. Sisilia dikuasai Islam secara mantap tahun 289-483 H/ 902-1091 M. Gerakan budaya dan pembangunan di segala bidang yang diperlihatkan umat Islam menjadikan penguasa Kristen menyadari keunggulan Islam, misalnya Roger I, Roger II, dan Frederick II. Mereka sangat mendukung penerjemahan karya-karya berbahasa Arab. 39 Peralihan peradaban dari Islam ke Barat dimulai ketika orang-orang Kristen dan Yahudi bertindak sebagai perantara dan penerjemah. Abad 6 H/ 12 menunjukkan adanya program penerjemahan besar-besaran terhadap karyakarya berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Rute berikutnya melalui Italia, tempat terjadinya kontak dengan Tunisia. Perlu diketahui, bahwa sekolah Al-Tabari, Tarikh, vol. 2, 449 dan Ibn al-Asir, al-Kamil, vol. 2, 347. Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam al-Siyasi, wa al-Dini, wa al-Saqafi, wa al-Ijtima‘i, vol. 2 (Kairo: Maktabat al-Nahdah al-Misriyah, 1976), 397. 38 Husayn al-‘Udat, al-‘Arab al-Nasara: ‘Ard Tarikhi (Damaskus: al-Ahali, 1992), 64. 39 Lathifah Ibrahim Khadhar, Ketika Barat Memfitnah Islam (Jakarta: Gema Insani, 2005), 29-33. 36 37 Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 31 medis tertua di Eropa bertempat di Salerno dan kemudian disaingi Montpellier, Perancis, yang juga dekat dengan sumber-sumber Arab dan Yahudi.40 Bahasa Arab yang menjadi media utama pemikiran ilmiah diajarkan secara sistematis di beberapa universitas dan sekolah Eropa, terutama di Toledo (Spanyol), Napoli, Bologna (Italia), Narbonne, dan Paris (Perancis).41 Oleh karena itu, tidak heran apabila ada ungkapan “Jika orang Yunani adalah bapak metode ilmiah, orang Islam adalah bapak angkatnya.”42 Pengaruh perang Salib juga tidak dapat dilupakan dalam proses transfer ilmu pengetahuan. Perang Salib diawali ketika Paus Urbanus II memenuhi permintaan Kaisar Alexius Comnenus berpidato untuk menyerang umat Islam tanggal 26 Dzul Qa’dah 488/ 26 Nopember 1095 di Clermont, Perancis. Perang Salib berakhir pada Jumadal Awwal 690/ Mei 1291. Meskipun tampaknya perang berlangsung lama, namun perlu dicatat bahwa durasi waktu damai ternyata lebih panjang daripada waktu perang sehingga hal ini menciptakan hubungan persahabatan di antara dua pihak.43 Sayangnya, interaksi tersebut lebih banyak menguntungkan Barat yang meliputi aspek seni, perdagangan, industri, dan keilmuan. Proses peralihan ilmu di antaranya diperlihatkan oleh penerjemah bernama Adelard dari Bath yang mengunjungi Antiokia dan Tarsus pada awal abad 6 H / 12 M. Sekitar seabad berikutnya Leonardo Fibonacci juga mengunjungi Mesir dan Suriah. Di samping itu, pada periode inilah bangsa Barat mengenal kincir air yang dikembangkan oleh Qaysar ibn Musafir Ta’asif dan peralatan kompas untuk pelayaran. 44 Demikianlah keberhasilan bangsa Barat dalam pengalihan ilmu pengetahuan dari dunia Islam sehingga sampai hari ini mereka mampu berdiri di puncak peradaban setelah berada lama dalam masa kegelapan. Supaya era supremasi intelektual Islam tidak hanya sekedar nostalgia dan umat Islam tidak terlalu lama tenggelam dalam keterpurukan, lantas apa yang semestinya dilakukan. Inilah manfaat menelaah kajian sejarah masa lalu. Sejarah adalah guru kehidupan 40 Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu: Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, terj. Saut Pasaribu (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 19-21. 41 Khan, Sumbangan, 86. 42 Koento Wibisono Siswomihardjo, “Ilmu Pengetahuan: Sebuah Sketsa Umum mengenai Kelahiran dan Perkembangannya sebagai Pengantar untuk memahami Filsafat Ilmu” dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2003), 4. 43 Hitti, History, 811-813, 821, dan 840. 44 Ibid., 842, 847, 854, dan 857. 32 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... (historia magistra vitae)45 karena sejarah mampu menyediakan garis-garis pedoman yang sangat berfaedah (worthwhile guidelines) bagi masa depan.46 Perlu ditegaskan bahwa mengembalikan kejayaan peradaban Islam merupakan kewajiban kaum Muslimin. Secara kuantitatif, jumlah negara yang dipimpin oleh penguasa Muslim dan mempunyai penduduk mayoritas beragama Islam sangat signifikan. Oleh karena itu, diperlukan penyadaran kembali mengenai tanggung jawab mereka terhadap eksistensi umat dan agama Islam ini. Di samping itu, gerakan ijtihad secara menyeluruh hendaknya terus direvitalisasi. Memang aktivitas ijtihad biasanya dipahami sebagai penggunaan pemikiran secara sungguh-sungguh untuk menganalisa dan menetapkan suatu hukum Islam. Tetapi dalam konteks ini, seharusnya ijtihad dimaknai sebagai upaya serius dari setiap lapisan masyarakat Muslim, mulai dari kalangan rakyat dan terlebih lagi para pejabatnya, dalam rangka menemukan solusi permasalahan-permasalahan yang mendera umat Islam. Jadi, ruang lingkup ijtihad jauh lebih luas dan mencakup berbagai aspek kehidupan umat Islam. Dalam bidang keilmuan, masyarakat Muslim seyogyanya memahami bahwa ilmu pengetahuan itu senantiasa mengalami perkembangan dan tidak stagnan, termasuk di dalamnya ilmu-ilmu keislaman. Umat Islam hendaknya menyadari dan harus dapat membedakan antara Islam normatif (normative Islam) dan Islam historis (historical Islam).47 Islam normatif merupakan ajaran-ajaran Islam yang bersifat dogmatis yang dalam hal ini diwakili oleh al-Qur’an dan hadis Nabi, sedangkan Islam historis terwujud ketika doktrin normatif ajaran Islam berinteraksi dengan masyarakat Islam dan kemudian menjadi konstruksi pemikiran yang terdapat dalam ilmu-ilmu keislaman. Di sinilah, terasa keselarasan pandangan Fazlur Rahman dengan teori-teori perkembangan ilmu di dunia Barat, seperti Sir Karl Raimund Popper, Thomas Samuel Kuhn, dan Imre Lakatos. Popper mengemukakan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat melalui conjectures (dugaan) yang merupakan solusi tentatif terhadap suatu persoalan, dan kemudian dikontrol dengan criticism (analisa kritis) yang berupa refutations (upaya penyanggahan) secara tajam. Baginya, ilmu adalah suatu revolusi secara permanen (revolution in permanence), dan jantung aktivitas keilmuan (heart of scientific enterprise) adalah criticism. Selanjutnya, Popper mengajukan kriteria mengenai sifat ilmiah pengetahuan dengan mensyaratkan adanya 45 Dudung Abdurahman, Metodologi Penelitian Sejarah, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), 16. 46 Donald V. Gawronski, History: Meaning and Method, (Illinois: Scott, Foresman, and Company, 1969), 5. 47 Fazlur Rahman, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition (Chicago: The University of Chicago Press, 1982), 141. Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 33 kemungkinannya untuk bisa disalahkan (falsifiability), bisa disangkal (refutability), dan bisa diuji (testability). 48 Kuhn berpendapat bahwa scientific revolution (revolusi ilmu) ditandai dengan adanya pergantian paradigma (paradigm shifts) melalui proses dari [1] pra-ilmu (prescience) ketika tidak memiliki paradigma sentral, [2] ilmu biasa (normal science) ketika ilmuwan mencoba mengembangkan paradigma sentral melalui pemecahan teka-teki (puzzle solving), [3] keganjilan (anomalies) ketika ilmuwan mengalami kegagalan untuk menyesuaikan paradigma, [4] kegentingan (crisis) ketika paradigma benar-benar pada puncak anomali, dan [5] ilmu revolusioner (revolutionary science) ketika paradigma baru muncul.49 Adapun Imre Lakatos dengan gagasannya The Methodology of Scientific Research Programmes berupaya untuk menjembatani konflik antara Popper dan Kuhn, sekaligus sebagai perbaikan dari gagasan paradigma yang diusulkan Kuhn dan perluasan dari teori falsifikasi yang dikemukakan Popper. Program riset Lakatos melibatkan dua unsur utama, yaitu [1] negative heuristic: hard core, yakni persoalan inti yang tidak bisa dikembangkan, dan [2] positive heuristic: protective belt, yakni persoalan yang dikembangkan dari persoalan inti dan sebagai sabuk pelindungnya. Dua unsur utama di atas selanjutnya dilengkapi dengan serangkaian teori-teori (a series of theories) yang menjamin bahwa teori-teori tersebut saling berkaitan karena teori yang belakangan senantiasa menyempurnakan teori sebelumnya.50 Dengan menilik sifat yang melekat pada Islam normatif dan Islam historis, tampak bahwa Islam normatif menyerupai hard core / negative heuristic yang tidak bisa disangkal maupun difalsifikasi. Adapun Islam historis mempunyai persamaan dengan protective belt/ positive heuristic yang bisa disangkal, dikoreksi atau disempurnakan lebih lanjut. Bahka, dalam sejarah agama-agama monotheis, kita menyaksikan bukti penyempurnaan ajaran yang diperlihatkan Tuhan. Contohnya, ketika Tuhan mengutus Muhammad sebagai rasul-Nya, Kitab Injil digeser oleh kitab al-Qur’an, meskipun prinsip ajaran tauhid (pengesaan Tuhan) tetap dipertahankan, atau ketika arah peribadatan dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka’bah di Masjidil Haram. Selain itu, kita menyaksikan dalam bidang fiqh ketika al-Syafi’i mengeluarkan pendapat barunya yang terkenal 48 Karl R. Popper, Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge (London: Routledge and Kegan Paul, 1972), vii dan “Normal Science and Its Dangers” dalam Imre Lakatos dan Alan Musgrave (ed.), Criticism and the Growth of Knowledge (Cambridge: Cambridge University Press, 1984), 55. 49 Thomas Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: The University of Chicago Press, 1970), 44 dan www.en.wikipedia.org. 50 Imre Lakatos, “Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes” dalam Imre Lakatos dan Alan Musgrave (ed.), Criticism and the Growth of Knowledge (Cambridge: Cambridge University Press, 1984), 133-137, John Losee, A Historical Introduction to the Philosophy of Science (Oxford: Oxford University Press, 2001), 202-204, dan M. Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), 45-46. 34 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... dengan al-qawl al-jadid setelah sebelumnya menyampaikan pendapat lamanya yang disebut dengan al-qawl al-qadim. Jadi, pada dasarnya praktik perubahan atau pergeseran pemikiran adalah merupakan sesuatu yang wajar dan lumrah karena sifatnya yang tidak kebal dari kesalahan. Hal inilah mungkin yang disadari sepenuhnya oleh para penulis Muslim ketika mengakhiri tulisannya selalu dengan ungkapan wa Allah a’lam bi al-sawab. Di samping itu, perlu dipahami bahwa bangunan pengetahuan yang tercakup ke dalam Islam historis semula dirintis dan diformulasikan oleh masyarakat yang hidup pada masa tertentu, dan dipengaruhi oleh masalah-masalah dan tantangan-tantangan yang sangat valid bagi konteks waktunya saat itu. Berdasarkan kenyataan bahwa problem dan tantangan itu berbeda dari masa ke masa, maka secara natural konstruksi pengetahuan menjadi selalu terbuka untuk diuji ulang, diteliti, direformulasi, dan direkonstruksi oleh para ilmuwan dan peneliti pada setiap kurun waktu.51 Setelah umat Islam menyadari sepenuhnya bahwa ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif dan senantiasa mengalami perkembangan, kaum Muslimin harus melakukan ijtihad secara sungguh-sungguh melalui riset, penelitian, dan kajian terus menerus di segala bidang sehingga ilmu pengetahuan tersebut tidak kadaluwarsa dan selalu up to date. Umat Islam seharusnya responsif terhadap semua perubahan zaman yang telah, sedang, atau akan terjadi. Masyarakat Muslim hendaknya cerdas dalam memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dan bahkan menciptakan peluang-peluang baru demi kesuksesan umat dan agama Islam. Meskipun demikian, kesadaran semata tidak pernah akan terwujud jika para pemimpin masyarakat Muslim yang berada di struktur tertinggi tidak mencurahkan perhatiannya kepada kepentingan umat dan agama Islam. Perlu ditegaskan lagi bahwa potensi umat Islam sebenarnya sangat besar. Banyak negara Muslim yang mempunyai sumber daya alam berlimpah. Namun, apakah kekayaan yang diperoleh dari eksplorasi alam tersebut sudah dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan umat Islam? Apakah para pemimpinnya telah mengutamakan kepentingan umat daripada kepentingan pribadinya dan menciptakan suasana kondusif bagi rakyatnya untuk melakukan inovasi dan penemuan baru? Kemajuan finansial negara-negara Islam yang sangat makmur seharusnya dipergunakan untuk mendukung pelaksanaan riset dan penelitian ilmiah supaya menghasilkan penemuan-penemuan mutakhir yang dapat dipergunakan untuk kejayaan umat. Umat Islam sangat merindukan tipe-tipe pemimpin semisal al-Ma’mun (khalifah ‘Abbasiyah) dan Muhammad II (Sultan Turki ‘Usmani) yang mendukung penuh setiap ikhtiar untuk kejayaan umat. 51 Abdullah, Islamic Studies, 53-54. Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 35 Dalam lingkup internasional, negara-negara Muslim yang telah terhimpun dalam organisasi OKI semestinya mengedepankan kepentingan umat, menggalang kerjasama secara optimal demi kesuksesan umat, dan memperkuat ikatan persatuan dalam melawan segala sesuatu yang membahayakan umat. Mereka juga harus berani menentang agresi negara-negara non-Muslim yang sengaja menghalang-halangi umat untuk mewujudkan kemajuan seluruh masyarakat Muslim. Saat ini negara-negara Barat non-Muslim yang dimotori Amerika serikat dan didalangi bangsa Yahudi memang mampu menyetir organisasi PBB. Menghadapi kenyataan tersebut, negara-negara Muslim seharusnya berani melakukan perlawanan, mengesampingkan kepentingan internal negara masingmasing, dan hendaknya saling bahu membahu dalam menghadapinya secara bersama-sama. Umat Islam tidak perlu lagi bermimpi untuk mendirikan khilafah Islamiyah seperti sebelum keruntuhan imperium Turki ‘Usmani seandainya umat Islam di seluruh negara Muslim di dunia ini telah dapat bersatu dan bekerja sama secara baik. Dicantumkan dalam buku hadis bahwa Rasulullah bersabda: ‫َل ُت ْف َت َح َّن ْال ُق ْس َط ْن ِط ِين َّي ُة َف َل ِن ْع َم َأال ِم ُير َأ� ِم ُير َها َو َل ِن ْع َم ْال َج ْي ُش َذ ِل َك ْال َج ْي ُش‬ Artinya: Kota Constantinople pasti akan ditaklukkan, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin pasukan itu dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan tersebut. (Musnad Ah}mad ibn H{anbal). Perjalanan sejarah Islam telah menunjukkan bahwa prediksi Rasulullah di dalam hadis tersebut tidak akan terwujud apabila umat Islam hanya berpangku tangan saja dan tidak bekerja keras untuk merealisasikannya. Upaya penaklukan Constantinople semenjak Dinasti Umawiyyah tidak mendapatkan hasil apapun, kecuali banyaknya orang Islam yang gugur. Kesuksesan dapat terwujud tahun 856 H (1453 M) pada masa Dinasti Turki ‘Usmani setelah Sultan Muhammad II berhasil memanfaatkan peluang emas yang ada. Saat itu seorang ilmuwan bernama Orban (Urban) menawarkan penemuan meriam berskala besar kepada Kaisar Constantine XI, tetapi kurang mendapatkan sambutan baik dari kaisar. Kemudian Orban menghadap Muhammad II dengan tujuan yang sama. Muhammad II yang merupakan pemimpin visioner segera memberikan dukungan penuh. Penemuan inilah yang akhirnya mempermudah umat Islam untuk menaklukkan Constantinople,52 sebagaimana prediksi Nabi Saw. 52 Lihat www.en.wikipedia.org. 36 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... Kita meyakini bahwa kejayaan peradaban dunia ini tidak akan dipegang oleh suatu bangsa secara monoton selamanya, sebagaimana ditegaskan Allah Swt. di dalam firman-Nya. َ ‫َوتلك ال َّي ُام نداولها َب ْي‬ ‫اس‬ ‫الن‬ ‫ن‬ ِ َّ َُِ َ ُ ‫ِْ َ أ‬ Artinya: Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia.53 (QS. Alu ‘Imran [3]: 140) Tetapi janji Allah untuk memberikan kejayaan tersebut juga tidak akan terpenuhi tanpa usaha keras kita. Allah dalam ayat lain menegaskan: ‫ِإ َّن َّالل َه ال ُي َغ ِّي ُر َما ِب َق ْو ٍم َح َّتى ُي َغ ِّي ُروا َما ِب َأ� ْن ُف ِس ِه ْم‬ Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.54 Oleh karena itu, apabila umat Islam menghendaki kembali kejayaannya, maka harus mampu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dan menciptakan peluang baru dengan inovasi-inovasi kreatif melalui riset secara berkelanjutan tanpa putus asa. Roda peradaban dunia tidak akan berputar kembali dan supremasi intelektual umat Islam tidak dapat diraih lagi seperti yang diidamkan kaum muslimin, kecuali dengan ijtihad yang sungguh-sungguh di segala aspek kehidupan. PENUTUP Berpijak pada uraian di atas, dapat dinyatakan bahwa umat Islam dahulu pernah mencapai zaman keemasan selama berabad-abad dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi kini terbelakang dibandingkan bangsa-bangsa Barat. Kejayaan Islam berhasil diwujudkan karena para pemimpin Muslim saat itu mempunyai perhatian besar pada kepentingan umat dan agama Islam, serta menciptakan situasi kondusif dan mendorong secara maksimal bagi aktivitas-aktivitas intelektual. Tidak hanya itu, umat Islam bahkan mampu memberikan kontribusi besar kepada bangsa Barat sehingga mereka dapat melakukan renaissance dan keluar dari zaman kegelapan. Kebangkitan Barat diperoleh setelah mereka melakukan transfer ilmu pengetahuan melalui kegiatan penerjemahan intensif, baik selama kekuasaan Islam di Spanyol dan Sisilia maupun ketika berlangsung 53 54 QS. An: 140. QS. Al-Ra‘d: 140 Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 37 perang Salib. Dalam rangka menggapai kembali supremasi intelektual dan memimpin peradaban dunia sebagaimana pada masa keemasan, umat Islam harus merevitalisasi ijtihad di segala bidang secara terus menerus karena kesuksesan hanya akan dapat dicapai melalui upaya sungguh-sungguh. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, M. Amin. Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan IntegratifInterkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006. ‘Ali, Abu al-Khayr Muhammad Ayyub. ‘Aqidat al-Islam wa al-Imam al-Maturidi. Bangladesh: al-Mu’assasah al-Islamiyyah, 1983. ‘Ata’ Allah, Khidr Ahmad. Bayt al-Hikmah fi ‘As}r al-‘Abbasiyyin. Kairo: Dar alFikr al-‘Arabi, tt. Bahnasawi, Salim al-. al-Khilafah wa al-Khulafa’ ar-Rasyidun bayna al-Syura wa al-Dimuqratiyyah. Kairo: al-Zahra’, 1991 Burnie, David. “Science” dalam CD Encarta Reference Library. Washington: Microsoft Corporation, 2005. Diyuhji, Sa‘id al-. Bayt al-H{ikmah. Mosul: Dar al-Kutub, 1972. Gawronski, Donald V. History: Meaning and Method. Illinois: Scott, Foresman, and Company, 1969. H{asan, Ibrahim Hasan. Tarikh al-Islam al-Siyasi, wa al-Dini, wa al-Saqafi, wa alIjtima‘i, vol. 2. Kairo: Maktabat al-Nahdah al-Misriyah, 1976. Hasyimi, Sa‘di Mahdi al-. Ibn Saba’ Haqiqah la Khayal. Madinah: Maktabah alDar, 1985. Hitti, Philip K. History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi, 2005. Humphreys, R. Stephen. Islamic History: A Framework for Inquiry. Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1991. Ibn al-Asir, Abu al-H}asan ‘Ali. al-Kamil fi al-Tarikh, vol. 3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006. 38 Ahmad Choirul Rofiq, Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan ... Khadhar, Lathifah Ibrahim. Ketika Barat Memfitnah Islam. Jakarta: Gema Insani, 2005. Khan, Muhammad Abdur Rahman. Sumbangan Umat Islam terhadap Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan, terj. Adang Affandi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1996. Kuhn, Thomas. The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: The University of Chicago Press, 1970. Lakatos, Imre. “Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes” dalam Imre Lakatos dan Alan Musgrave (ed.), Criticism and the Growth of Knowledge. Cambridge: Cambridge University Press, 1984. Losee, John. A Historical Introduction to the Philosophy of Science. Oxford: Oxford University Press, 2001. Ma‘ruf, Nayif Mahmud. al-Khawarij fi al-‘As}r al-Umawi. Beirut: Dar al-Taali>‘ah, 1994. Mufrodi. Ali, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos, 1997. Muntasyir, Rizal. “Sejarah Perkembangan Ilmu” dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty, 2003. Nakosteen, Mehdi. History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 with an Introduction to Medieval Muslim Education. Colorado: University of Colorado Press, 1964. Nasution, Harun. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, vol. 1. Jakarta: UI Press, 1978. Nurhakim, Moh. Sejarah dan Peradaban Islam. Malang: UMM Press, 2004. O’Leary, De Lacy. How Greek Science Passed to the Arabs dalam www.aina.org. Popper, Karl R. Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge. London: Routledge and Kegan Paul, 1972. Rahman, Fazlur. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: The University of Chicago Press, 1982. Ravertz, Jerome R. Filsafat Ilmu: Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, terj. Saut Pasaribu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009. Shalaby, Ahmad. History of Muslim Education. Beirut: Dar al-Kashshaf, 1954. Tabari, Abu Ja‘far Muhammad ibn Jarir al-. Tarikh al-Tabari: Tarikh al-Umam wa al-Muluk, vol. 2. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005. Cendekia Vol. 11 No. 1 Juni 2013 39 Toha, Anis Malik. Tren Pluralisme Agama: Tinjauan Kritis. Jakarta: Gema Insani, 2005. ‘Udat, Husayn al-. al-‘Arab al-Naara: ‘Ard Tarikhi. Damaskus: al-Ahali, 1992.

Judul: Mengembalikan Supremasi Ilmu Pengetahuan Dunia Islam

Oleh: Ahmad Choirul Rofiq


Ikuti kami