Tafsir Ayat Dan Hadits Ekonomi

Oleh Septi Vivia Nur Baiti

292,5 KB 6 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tafsir Ayat Dan Hadits Ekonomi

Hadits-hadits Tentang Hutang Piutang Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir Ayat dan Hadits Ekonomi Dosen Pengampu: Dede Rodin, M.Ag. Oleh: 1. Ragil Riswanto (1605036021) 2. Septi Vivia Nur Baiti (1605036022) 3. Cholida Nur Khasanah (1605036024) Program Studi S.1 Perbankan Syariah FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2017 BAB I PENDAHULUAN Allah SWT berkehendak bahwa manusia harus hidup bermasyarakat dan saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya. Sebagaimana makhluk sosial, manusia menerima dan memberikan andil dalam kehidupan orang lain, saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai kemajuan dalam hidupnya. Untuk mencapai kemajuan dan tujuan hidup, diperlukan kerja sama yang baik antara sesama manusia.1 Mayoritas manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang, Sebab diantara mereka ada yang membutuhkan dan ada pula yang dibutuhkan. Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah SWT tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman. Dalam ajaran Islam, hutang-piutang adalah muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya.2 1 Hamzah Ya’qub, Kode Etik Dagang Menurut Islam (Pola Pembinaan Hidup dalam Berekonomi), Bandung: cv. Diponegoro, 1992, hlm. 13-14. 2 http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:kp7NsWD4x-MJ:repositori.uin-alauddin.ac.id/ 850/1/Jumadil%2520Musa.pdf+&cd=9&hl=id&ct=clnk&gl=id (diakses pada 14 Oktober 2017) Page | 2 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Hutang Piutang Kata hutang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “uang yang dipinjam orang lain; kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima.” Sedangkan piutang berarti “uang yang dipinjamkan kepada orang lain (dapat ditagih dari orang lain). Maka hutang piutang atau pinjaman adalah transaksi antara dua pihak yang satu menyerahkan uangnya kepada yang lain secara sukarela untuk dikembalikan lagi kepadanya oleh pihak kedua dengan hal yang serupa. 3 Pengertian hutang piutang sama dengan perjanjian pinjam meminjam yang dijumpai dalam ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Perdata pasal 1754 yang berbunyi “ pinjam meminjam adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah barang-barang tertentu dan habis karena pemakaian, dengan syarat bahwa yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah yang sama dari macam keadaan yang sama pula. Dalam al-Quran, hutang piutang diistilahkan dengan kata qardh dan dayn. Kata qardh terdapat pada QS. al-Baqarah: 245, al-Maidah: 12, al-Hadid: 11 dan 18, al-Tagabun: 17, dan al-Muzzammil: 20. B. Hadits-hadits Tentang Hutang Piutang 1. Fadhilah Memberi Pinjaman4 Memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan termasuk akhlak mulia dan terpuji, karena berarti menolong melepaskan kesusahan orang lain. Islam mengajarkan prinsip tolong menolong dalam kebaikan, yang dalilnya tercermin dalam beragai ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabawi. Rasulullah SAW bersabda: ‫ب يَ ْو ِم‬ ِ ‫س هَّللا ُ َع ْنهُ ُك ْربَةً ِم ْن ُك َر‬ ِ ‫س َع ْن ُمْؤ ِم ٍن ُك ْربَةً ِم ْن ُك َر‬ َ َّ‫ب الدُّ ْنيَا نَف‬ َ َّ‫َم ْن نَف‬ ‫ست ََر ُم ْس ِل ًما‬ َّ َ‫س َر َعلَى ُم ْعس ٍِر ي‬ َّ َ‫ْال ِقيَا َم ِة َو َم ْن ي‬ ِ ‫س َر هَّللا ُ َعلَ ْي ِه فِى الدُّ ْنيَا َو‬ َ ‫اآلخ َرةِ َو َم ْن‬ ‫ع ْو ِن َأ ِخي ِه‬ ِ ‫ست ََرهُ هَّللا ُ فِى الدُّ ْنيَا َو‬ َ ‫اآلخ َرةِ َوهَّللا ُ فِى َع ْو ِن ْالعَ ْب ِد َما َكانَ ْالعَ ْبدُ فِى‬ َ Artinya: 3 Dede Rodin, Tafsir Ayat Ekonomi, Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015, hlm. 85-86. Hamzah Ya’qub, Kode Etik Dagang Menurut Islam (Pola Pembinaan Hidup dalam Berekonomi), Bandung: cv. Diponegoro, 1992, hlm. 214. 4 Page | 3 “Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699) Salah satu di antara bentuk pertolongan melepaskan kesusahan dan kesulitan seseorang ialah memberikan pinjaman kepada sesama muslim yang terdesak karena kebutuhan hidup sehari-hari atau karena suatu kadaan darurat yang bersifat insidentil, misalnya membutuhkan pinjaman uang untuk mengobati keluarganya yang sakit.5 Selain hadits yang bersifat umum di atas, ditemukan pula sejumlah petunjuk Rasulullah SAW yang menghimbau umatnya agara suka memberikan pinjaman kepada sesama muslim yang memerlukannya. Ibnu Mas’ud memberitakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ً ‫صدَقَ ِت َها َم َّرة‬ ً ‫ض ُم ْس ِل ًما قَ ْر‬ ُ ‫َما ِم ْن ُم ْس ِل ٍم يُ ْق ِر‬ َ ‫ضا َم َّرتَي ِْن ِإالَّ َكانَ َك‬ Artinya: “Tiada seorang Muslim pun yang memberikan pinjaman kepada Muslim (lainnya) dua kali, melainkan nilainya seperti shadaqah sekali.” (H.R. Ibnu Majah) Diungkapkan oleh Umamah, bahwa Nabi SAW bersabda: ‫ض‬ َّ ‫ب ْال َجنَّ ِة َم ْكت ُ ْوبًا اَل‬ ُ ‫ َو ْالقَ ْر‬.‫صدَقَةُ بِعَ ْش ِر َأ ْمثَا ِل َها‬ ِ ‫ي بِ ْي َعلٰى بَا‬ َ ‫َرَأيْتُ لَ ْيلَةً ُأس ِْر‬ ‫صدَقَ ِة ؟ قَا َل َأِل َّن‬ َّ ‫ض ُل ِمنَ ال‬ ِ ‫اجب ِْر ْي ُل َما بَا ُل ْالقَ ْر‬ َ ‫ض َأ ْف‬ ِ َ‫ فَقُ ْلتُ ي‬. ‫بِث َ َمانِيَةَ َعش ََر‬ ‫ (رواه ابن‬.‫ض ِإاَّل ِم ْن َحا َج ٍة‬ َّ ‫ال‬ ُ ‫ض اَل يَ ْست َ ْق ِر‬ ُ ‫ َو ْال ُم ْست َ ْق ِر‬. ُ‫ساِئ َل يَ ْسَأ ُل َو ِع ْندَه‬ )‫ماجه‬ Artinya: “Aku melihat ketika sedang melaksanakan isro’ pada pintu syurga tertulis sodaqoh itu pahalanya sepuluh hasanah sedangkan memberi hutangan 5 Ibid., hlm. 215-216. Page | 4 pahalanya 18 hasanah maka saya berkata kepada Jibril “Kenapa memberi hutangan lebih utama dari sodaqoh? maka Jibril menjawab “Karena biasanya orang yang minta minta itu dia masih mempunyai sesuatu untuk menutupi kebutuhannya adapun orang yang berhutang dia tidak berhutang kecuali karena sangat membutuhkannya.” (HR. Ibnu Majah) Dengan dalil-dalil tersebut nyatalah keutamaan memberikan pinjaman kepada sesama muslim yang memerlukannya. 2. Menghindari Kebiasaan Berhutang6 Dalam kegiatan perdagangan dan jual beli, adakalanya tidak dilakukan dengan pembayaran tunai, melainkan secara hutang. Berhutang karena darurat untuk menutupi suatu hajat yang mendesak tentulah dapat dimaklumi. Tetapi, bila sifat dan sikap berhutang ini dibiasakan, maka buruklah akibatnya. Adapun akibat-akibat buruk yang dapat dtimbulkan dari sikap suka berhutang antara lain: a. Menggoncangkan pikiran, mengganggu ketenangan dan ketenteraman jiwa. Rasulullah SAW memperingatkan: ُ‫ضى َع ْنه‬ َ ‫س ْال ُمْؤ ِم ِن ُمعَلَّقَةٌ ِبدَ ْي ِن ِه َحتَّى يُ ْق‬ ُ ‫نَ ْف‬ Artinya: “Jiwa orang mukmin bergantung pada hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Ibnu Majah II/806 no.2413, dan At-Tirmidzi III/389 no.1078. dan dishahih-kan oleh syaikh Al-Albani) b. Merugikan nama baik keluarga, karena terganggu oleh tagihan-tagihan hutang c. Hutang yang besar dapat menghambat usaha orang lain. Pihak yang memberi hutang dapat mengalami kemacetan usaha, karena kapitalnya mandeg di tangan orang yang berhutang d. Pada puncaknya, hutang besar yang tak sanggup dibayar dapat mendorong seseorang berbuat kejahatan, misalnya korupsi, mencuri, menipu, bunuh diri dan sebagainya. Demikian juga dapat menimbulkan pertentangan dan putusnya hubungan baik yang telah dijalin antara kedua belah pihak. Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang berhutang, antara lain: 6 Ibid., hlm. 211-212. Page | 5 a. Keadaan darurat, karena kesulitan hidup sehingga terpaksa berhutang atau meminjam dari orang lain b. Kecenderungan untuk menikmati kemewahan. Melihat orang-orang lain memiliki barang-barang mewah, maka hati pun tergoda untuk ikut memilikinya. karena tidak punya uang maka dipaksakan juga untuk membeli dengan cara hutang c. Akibat kalah judi lalu seseorang berusaha keras menebus kekalahannya dengan meminjam uang untuk meneruskan perjudiannya dengan harapan menang Memperhatikan akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh kebiasaan berhutang dan faktor-faktor pendorongnya, maka tepatlah petunjuk Allah dalam al-Quran, supaya berlaku hemat dan jangan memboroskan harta benda: Firman Allah: َ ‫ش ْي‬ َّ ‫ين َو َكانَ ال‬ َّ ‫ وِإ َّن ْال ُمبَذِّ ِرينَ َكانُوا ِإ ْخ َوانَ ال‬... ُ ‫ط‬ ‫ِيرا‬ ِ َ‫شي‬ ً ُ‫ان ِل َربِّ ِه َكف‬ ً ‫) َوال تُبَذِّ ْر ت َ ْبذ‬-( ‫ورا‬ ِ ‫اط‬ Artinya: “... dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros (26) Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (27).” (QS al-Isra’: 26-27) Demikian juga petunjuk agama yang menghendaki agar setiap Muslim bekerja keras untuk menutupi kebutuhan hidup, dan jangan terbiasa menutupi kebutuhan dengan jalan berhutang. Dalam hubungan ini, Rasulullah SAW telah memberikan bimbingan agar terhindar dari tekanan hutang dengan bedoa: َ‫ك ِمن‬š َ šِ‫ع ْوذُب‬ ُ ‫ ِل َوَأ‬š‫س‬ ُ ‫ع ْوذُبِ َك ِمنَ ْال َه ِّم َو ْال َح ْز ِن َوَأ‬ ُ ‫اَللّٰ ُه َّم ِإنِّى َأ‬ َ ‫ع ْوذُبِ َك ِمنَ ْالعَجْ ِز َو ْال َك‬ .‫الر َجا ِل‬ ُ ‫ْال ُجب ِْن َو ْالب ُْخ ِل َوَأ‬ ِّ ‫ع ْوذُبِ َك ِم ْن َغلَبَ ِة الدَّي ِْن َوقَ ْه ِر‬ :Artinya Ya Allah aku berlindung kepa-Mu dari kegundahan dan kesedihan dan aku “ berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain.” (HR. Abu Dawud) Page | 6 3. Penulisan Hutang-piutang7 Al-Qur’an mengisyaratkan apabila dilakukan muamalah secara hutang, maka hendaklah dituliskan: ... ‫س ًّمى فَا ْكتُبُوهُ َو ْليَ ْكتُبْ بَ ْينَ ُك ْم َكاتِبٌ بِ ْالعَدْل‬ َ ‫يَا َأيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ِإذَا تَدَايَ ْنت ُ ْم بِدَي ٍْن ِإلَى َأ َج ٍل ُم‬ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya...” (Q.S. alBaqarah: 282) Hikmah perintah ini ialah untuk kebaikan kedua belah pihak, karena tulisan itu dapat menjadi bukti (bayyinah) yang mengingatkan salah satu pihak yang terkadang lupa atau khilaf. 4. Segera Membereskan Hutang8 Apabila telah diikat perjanjian hutang untuk jangka waktu tertentu, maka wajiblah janji itu ditepati dan pihak yang berhutang perlu membereskan hutangnya menurut perjanjian itu. Menepati janji adalah wajib, dan setiap orang bertanggung jawab akan janji-janjinya. Allah firmankan dalam al-Quran: ً‫ُئوال‬ َ ‫ َوَأ ْوفُوا ِب ْالعَ ْه ِد ِإ َّن ا ْلعَ ْه َد ك‬... ْ ‫َان َم‬ ْ ‫س‬ Artinya: “... Dan penuhilah janji, sesungguhnya pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra`: 34) janji itu pasti dimintai Mengingkari janji dan menunda-nunda pembayaran hutang akan menimbulkan kesulitan-kesuliat serius di kemudian hari, baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu barang siapa berhutang, hendaklah segera membereskannya, supaya dapat hidup lebih tenang. Rasulullah SAW bersabda: ُ ‫ى دَ ْينَهُ َما لَ ْم يَ ُك ْن فِي َما يَ ْك َرهُ هَّللا‬ ِ ‫ِإ َّن هَّللا َ َم َع الدَّاِئ ِن َحتَّى يَ ْق‬ َ ‫ض‬ Artinya: “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama 7 8 Ibid., hlm. 216. Ibid., hlm. 222. Page | 7 hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400) 5. Buruknya Menunda-nunda Pembayaran Hutang9 Perbuatan yang sengaja mengulur-ulur waktu tidak membayar hutang padahal ia mampu, termasuk akhlak yang tercela dan dipandang sebagai perbuatan dhalim. Rasulullah SAW bersabda: ْ ‫سو َل هَّللا ِ صلى هللا عليه وسلم قَال َم‬ ‫ط ُل‬ ُ ‫َع ْن َأ ِبى ُه َري َْرة َ رضى هللا عنه َأ َّن َر‬ ُ ‫ى‬ ‫ى فَ ْليَتْبَ ْع‬ ّ ٍ ‫ فَِإذَا ُأتْ ِب َع َأ َحدُ ُك ْم َعلَى َم ِل‬، ‫ظ ْل ٌم‬ ّ ِ ِ‫ْالغَن‬ Artinya: “Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Memperlambat pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zhalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah beralih (diterima pengalihan tersebut)”. (HR. Bukhari dalam Shahihnya IV/585 no.2287, dan Muslim dalam Shahihnya V/471 no.3978) Orang yang mengambil pinjaman dengan sengaja tidak berniat membayarnya, maka perbuatan ini lebih dhalim lagi dan dipandang sabagai penipuan. Rasulullah SAW telah memperingatkan: ‫ارقًا‬ َ َ ‫ى هَّللا‬ ِ ‫س‬ َ ‫َأيُّ َما َر ُج ٍل يَدَي َُّن دَ ْينًا َو ُه َو ُمجْ ِم ٌع َأ ْن الَ ي َُو ِفّيَهُ ِإيَّاهُ لَ ِق‬ Artinya: “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410) Dalam hadits lain disebutkan: َ‫ى صلى هللا عليه وسلم قَا َل َم ْن َأ َخذ‬ ّ ِ ‫َع ْن َأبِى ُه َري َْرة َ رضى هللا عنه َع ِن النَّ ِب‬ ُ ‫ َو َم ْن َأ َخذَ ي ُِريدُ ِإتْالَفَ َها َأتْلَفَهُ هَّللا‬، ُ‫اس ي ُِريدُ َأدَا َءهَا َأدَّى هَّللا ُ َع ْنه‬ ِ َّ‫َأ ْم َوا َل الن‬ Artinya: 9 Ibid., hlm 223-224. Page | 8 Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membayarnya (mengembalikannya), maka Allah akan tunaikan untuknya. Dan barang siapa mengambilnya untuk menghabiskannya (tidak melunasinya) maka Allah akan membinasakannya”. (HR. Bukhari, II/841 bab man akhodza amwala an-naasi yuridu ada’aha, no. 2257) 6. Bersungguh-sungguh dalam Upaya Pembayaran Hutang10 Orang yang memikul beban hutang wajib terus berusaha membereskan sangkutan-sangkutan hutangnya hingga tuntas. Apabila dia mengalami kesempitan sehingga terus merasa lemah membayar hutangnya, maka adalah suatu fadhilah untuk terus bersungguh-sungguh membayar hutangnya. Rasulullah SAW bersadba: ‫سلَّ َم قَا َل َم ْن‬ ِ ‫َع ْن َأبِي ُه َري َْرة َ َر‬ َ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫ي‬ ّ ِ‫ي هَّللا ُ َع ْنهُ َع ْن النَّب‬ َ ‫ض‬ ُ ‫اس ي ُِريدُ َأدَا َءهَا َأدَّى هَّللا ُ َع ْنهُ َو َم ْن َأ َخذَ ي ُِريدُ ِإتْاَل فَ َها َأتْلَفَهُ هَّللا‬ ِ َّ‫َأ َخذَ َأ ْم َوا َل الن‬ Artinya: “Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mengambil harta manusia (berhutang) disertai maksud akan membayarnya maka Allah akan membayarkannya untuknya, sebaliknya siapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya (merugikannya) maka Allah akan merusak orang itu”. (HR. Bukhari) ٍ َ‫سدَ َو ُه َو بَ ِرى ٌء ِم ْن ثَال‬ ‫ث دَ َخ َل ْال َجنَّةَ ِمنَ ْال ِكب ِْر َو ْالغُلُو ِل‬ ُّ َ‫ارق‬ َ ‫الرو ُح ْال َج‬ َ َ‫َم ْن ف‬ ‫َوالدَّي ِْن‬ Artinya: “Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal maka ia masuk surga. Tiga hal itu adalah sombong, ghulul (khianat) dan hutang” (HR. Ibnu Majah) Mendambakan pemberesan hutang itu tentunya dengan berusaha sekuat tenaga. Di samping itu, jika merasa ditimpa hutang-hutang yang sulit dibayar, hendaknya memohon pertolongan Allah SWT, sebagaimana bimbingan Rasulullah SAW. 10 Ibid., hlm. 224. Page | 9 7. Tasamuh (Toleransi) dalam Pembayaran Hutang11 Salah satu di antara akhlak yang mulia adalah berlaku tasamuh (longgar) atau lapang dada dalam pembayaran hutang. Sikap ini merupakan kebalikan dari sikap menunda-nunda, memperketat dan menahan hak orang (mathal) yang termasuk dalam rangkaian akhlah tercela. Orang yang suka berlapang dada dan toleransi ketika membayar hutang, dicintai oleh Allah SWT sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: ‫ضا ًء‬ َ َ‫سنُ ُك ْم ق‬ َ ْ‫ار ُك ْم َأح‬ َ َ‫ِإ َّن ِخي‬ Artinya: “Sesungguhnya yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.”(HR. Bukhari no. 2393) Rasulullah SAW sendiri telah memberikan contoh tentang toleransi beliau ketika membayar hutang seperti dalam hadits berikut: ‫ى صلى هللا عليه‬ ّ ِ ‫َع ْن َأ ِبى ُه َري َْرة َ رضى هللا عنه قَا َل َكانَ ِل َر ُج ٍل َعلَى النَّ ِب‬ ُ ‫ضاهُ فَقَا َل صلى هللا عليه وسلم « َأ ْع‬ . » ُ‫طوه‬ َ ‫وسلم ِس ٌّن ِمنَ اِإل ِب ِل فَ َجا َءهُ يَتَقَا‬ ُ ‫ فَقَا َل « َأ ْع‬. ‫ فَلَ ْم يَ ِجدُوا لَهُ ِإالَّ ِسنًّا فَ ْوقَ َها‬، ُ‫طلَبُوا ِسنَّه‬ َ َ‫ف‬ ، ‫ فَقَا َل َأ ْوفَ ْيتَنِى‬. » ُ‫طوه‬ ‫ضا ًء‬ َ َ‫سنُ ُك ْم ق‬ َ ْ‫ار ُك ْم َأح‬ َ َ‫ى صلى هللا عليه وسلم ِإ َّن ِخي‬ ُّ ‫ قَا َل النَّ ِب‬. ‫َوفَّى هَّللا ُ بِ َك‬ Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Nabi mempunyai hutang kepada seseorang, (yaitu) seekor unta dengan usia tertentu. Orang itupun datang menagihnya. (Maka) beliaupun berkata, “Berikan kepadanya” kemudian mereka mencari yang seusia dengan untanya, akan tetapi mereka tidak menemukan kecuali yang lebih berumur dari untanya. Nabi (pun) berkata: “Berikan kepadanya”, Dia pun menjawab, “Engkau telah menunaikannya dengan lebih. Semoga Allah membalas dengan setimpal”. Maka Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dalam pengembalian (hutang)”. (HR. Bukhari, II/843, bab Husnul Qadha’ no. 2263.) Kelonggaran dan toleransi beliau itu berkali-kali ditunjukkan, seperti dicertakan bahwa Jabir pernah datang kepada Nabi SAW untuk menagih 11 Ibid., hlm. 226-227. Page | 10 hutang. Nabi membayar hutangnya, bahkan Nabi tambah (lebihkan) pembayaran itu. Hadits dan keterangan-keterangan tersebut menunjukkan betapa tinggi ajaran Rasulullah SAW berkenaan dengan fadhilah berlaku tasamuh dalam pembayaran hutang. 8. Tasamuh dalam Penagihan Hutang12 Dalam hadits-hadits terdahulu selain diterangkan fadhilah tasamuh dalam pembayaran hutang juga sudah diterangkan fadhilah tasamuh dalam penagihan hutang. Karena itu, diharapkan pihak yang berhutang supaya berlaku longgar (bermurah hati) dan tidak melakukan pemaksaan ketika melakukan penagihan. Orang yang berlaku longgar dikasihi Allah sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah: ُ‫ض ْع َع ْنه‬ َ َ‫َم ْن َأ َحبَّ َأ ْن ي ُِظلَّهُ هَّللا ُ َع َّز َو َج َّل ِفى ِظ ِلّ ِه فَ ْليُ ْن ِظ ِر ْال ُم ْعس َِر َأ ْو ِلي‬ Artinya: “Barang siapa ingin mendapatkan naungan Allah ‘azza wa jalla, hendaklah dia memberi tenggang waktu bagi orang yang mendapat kesulitan untuk melunasi hutang atau bahkan dia membebaskan utangnya tadi.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shohih) Dalam riwayat lain dijelaskan: ٍ‫ُخ ْذ َحقَّ َك ِفى َعفَافٍ َوافٍ َأ ْو َغي ِْر َواف‬ Artinya: “Ambillah hakmu dengan cara yang baik pada orang yang mau menunaikannya ataupun enggan menunaikannya.” (HR. Ibnu Majah no. 1966. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih) ‫ض‬ َ ‫قَا َل ُحذَ ْيفَةُ َو‬ َ ‫س ِم ْعتُهُ يَقُو ُل ِإ َّن َر ُجالً َكانَ فِي َم ْن َكانَ قَ ْبلَ ُك ْم َأت َاهُ ْال َملَكُ ِليَ ْق ِب‬ ُ ‫ قِي َل لَهُ ا ْن‬، ‫ت ِم ْن َخي ٍْر قَا َل َما َأ ْعلَ ُم‬ ‫ قَا َل َما َأ ْعلَ ُم‬. ‫ظ ْر‬ َ ‫ُرو َحهُ فَ ِقي َل لَهُ ه َْل َع ِم ْل‬ ‫ َوَأت َ َج َاو ُز‬، ‫ فَُأ ْن ِظ ُر ْال ُمو ِس َر‬، ‫ازي ِه ْم‬ َ ِ ‫اس فِى الدُّ ْنيَا َوُأ َج‬ َ َّ‫ش ْيًئا َغي َْر َأ ِنّى ُك ْنتُ ُأبَايِ ُع الن‬ َ‫ فََأ ْد َخلَهُ هَّللا ُ ْال َجنَّة‬. ‫َع ِن ْال ُم ْعس ِِر‬ Artinya: 12 Ibid., hlm. 228. Page | 11 Dari sahabat Hudzaifah, beliau pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Ada seorang laki-laki yang hidup di zaman sebelum kalian. Lalu datanglah seorang malaikat maut yang akan mencabut rohnya. Dikatakan kepadanya (oleh malaikat maut): “Apakah engkau telah berbuat kebaikan?” Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak mengetahuinya.” Malaikat maut berkata: “ Telitilah kembali apakah engkau telah berbuat kebaikan.” Dia menjawab: “Aku tidak mengetahui sesuatu pun amalan baik yang telah aku lakukan selain bahwa dahulu aku suka berjual beli barang dengan manusia ketika di dunia dan aku selalu mencukupi kebutuhan mereka. Aku memberi keluasan dalam pembayaran hutang bagi orang yang memiliki kemampuan dan aku membebaskan tanggungan orang yang kesulitan.” Maka Allah (dengan sebab itu) memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Bukhari III/1272 no.3266) 9. Mati Meninggalkan Hutang13 Orang yang mati dalam keadaan berhutang, maka hendaklah keluarga si mayat berusaha membereskannya. Karena apabila tidak dilunasi hutangnya, niscaya si mayat akan mengalami kesulitan-kesulitan di akhirat. Rasulullah SAW bersabda: َّ ‫يُ ْغفَ ُر ِلل‬ َ‫ب ِإالَّ الدَّيْن‬ ٍ ‫ش ِهي ِد ُك ُّل ذَ ْن‬ Artinya: “Orang yang mati syahid maka akan diampuni dosanya kecuali orang yang memiliki hutang.” (HR. Muslim) Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW mengenai saudaranya yang meninggal dunia dalam keadaan berhutang. Nabi berkata: ”Dia tertahan karena hutangnya, maka lunaskanlah!” Dalam pada itu diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah memperingatkan: ”Sekiranya seorang terbunuh di jalan Allah kemudian hidup kembali, kemudian terbunuh lagi di jalan Allah kemudian hidup lagi kemudian terbunuh lagi di jalan Allah orang itu tidak mauk surga hingga beres hutangnya.” Nabi SAW bersabda: 13 Ibid., hlm. 229-230. Page | 12 ٍ َ‫سدَ َو ُه َو بَ ِرى ٌء ِم ْن ثَال‬ ‫ث دَ َخ َل ْال َجنَّةَ ِمنَ ْال ِكب ِْر َو ْالغُلُو ِل‬ ُّ َ‫ارق‬ َ ‫الرو ُح ْال َج‬ َ َ‫َم ْن ف‬ ‫َوالدَّي ِْن‬ Artinya: “Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya masuk surga: (pertama) bebas dari sombong, (kedua) dari khianat, dan (ketiga) dari tanggungan hutang.” (HR. Ibnu Majah II/806 no: 2412, dan At-Tirmidzi IV/138 no: 1573. Dan di-shahih-kan oleh syaikh AlAlbani). ‫َار َوالَ د ِْر َه ٌم‬ َ ‫َم ْن َم‬ ٌ ‫ْس ث َ َّم دِين‬ ٌ ‫ات َو َعلَ ْي ِه دِين‬ ِ ُ‫َار َأ ْو د ِْر َه ٌم ق‬ َ ‫ى ِم ْن َح‬ َ ‫سنَا ِت ِه لَي‬ َ ‫ض‬ Artinya: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414) Nabi SAW tidak mau menshalatkan mayit laki-laki yang mati meninggalkan hutang sebanyak dua dinar, tapi Nabi memerintahkan agar jenazah itu dishalatkan oleh sahabat. Ketika seorang sahabat (Abu Qatadah alAnshari) menyatakan kesediaan membayar hutang si mayit, maka Nabi SAW menshalatkannya. Page | 13 BAB III SIMPULAN Makna al-Qardh secara bahasa ialah al-Qath’u yang berarti memotong. Sedangkan secara istilah makna al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikan (pada suatu hari) sesuai dengan padanannya. Hukum utang piutang pada asalnya diperbolehkan dalam syariat Islam. Bahkan orang yang memberikan hutang atau piutang kepada orang lain yang sangat membutuhkan adalah hal yang disukai dan dianjurkan, karena di dalamnya terdapat pahala yang besar. Akan tetapi Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia masih mampu membeli dengan tunai ata tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi, karena hutang dapat menimbulkan berbagai efek negatif di dunia dan di akhirat kelak. Page | 14 .DAFTAR PUSTAKA Buku: Rodi, Dede, Tafsir Ayat Ekonomi, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015) Ya’qub, Hamzah, Kode Etik Dagang Menurut Islam (Pola Pembinan Hidup dalam Berekonomi), (Bandung: cv. Diponegoro, 1992) Internet: http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:kp7NsWD4x-MJ:repositori.uinalauddin.ac.id/850/1/Jumadil%2520Musa.pdf+&cd=9&hl=id&ct=clnk&gl=id (diakses pada 14 Oktober 2017) Page | 15

Judul: Tafsir Ayat Dan Hadits Ekonomi

Oleh: Septi Vivia Nur Baiti


Ikuti kami