Profil Ilmu Politik Dari Sudut Pandang Al

Oleh Yeni Yuliana

156 KB 7 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Profil Ilmu Politik Dari Sudut Pandang Al

MAKALAH PROFIL ILMU POLITIK DARI SUDUT PANDANG AL-FARABI NAMA : YENI YULIANA NO.BP : 2010003530007 KELAS : 1M12 UNIVERSITAS EKASAKTI 2020/2021 i KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr wb Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat beriringan salam kita hadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah membawa umatnya ke alam yang berilmu pengetahuan seperti saat sekarang ini. Dengan adanya makalah ini saya berharap kita semua dapat lebih mengetahui tentang materi Teori Ilmu Politik Dari Sudut Pandang Al-Farabi, Semoga dengan makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas lagi kepada kita semua. Dalam penulisan makalah ini mungkin masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu saya berharap pembaca dapat memberikan kritikan dan saran yang membangun. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca. Wasalamu’alaikum Wr Wb Singkut, November 2020 Penyusun ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...........……………………………………………………..ii DAFTAR ISI.........................……………………………………………………..iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...........……………………………………………………..1 B. Rumusan Masalah........................................................................................1 BAB II PEMBAHASAN A. Ilmu Politik Menurut Sudut Pandang Al Farabi..........................................2 B. Dinamika Pemikiran Politik Alfarabi..........................................................4 C. Hubungan Masyarakat dan Negara Menurut Pandang Al-Farabi................8 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan......…………………………………………………………..10 DAFTAR PUSTAKA iii iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul Allah telah memberikan contoh dalam memimpin negara. Nabi Muhammad mampu memimpin Madinah yang penduduknya terdiri dari berbagai kabilah. Namun, Nabi Muhammad mampu menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah dalam sebuah piagam tertulis pertama di dunia, yaitu Piagam Madinah (Sahîfah al-Madinah). Al-Farabi merupakan filosof politik islam, Komunitas intelektual muslim abad pertengahan, dan pada periode modern, menganggap al-Farabi sebagai pemikir besar setelah Aristoteles. Menurut Al-Farabi, manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan bisa dan tidak mungkin hidup sendiri-sendiri, untuk itu manusia harus hidup bermasyarakat dan saling membantu. Sifat dasar manusia hidup bermasyarakat dan bernegara mendorong manusia hidup bersosial dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam mencapai tujuan hidup, yakni kebahagiaan. Karena masyarakat yang terbaik adalah masyarakat yang hidup bekerjasama dan saling membantu untuk mencapai kebahagiaan. Al-Farabi mengistilahkannya dengan al-Madinah al-Fadilah. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pemikiran sudut pandang ilmu politik mernurut AlFarabi? 1 BAB II PEMBAHASAN A. Ilmu Politik Menurut Sudut Pandang Al Farabi Alfarabi termasuk salah satu filsuf yang sangat memperhatikan masalah-masalah sosial. Hal itu terlihat dari berbagai karyanya tulisnya. Di antara banyak karyanya, dia menulis dua buku yang khusus membahas persoalan sosial dan politik, yaitu Alsiyasah Almadaniyah dan Ara’ ahl Madinah Alfadhilah. Selain itu, ada pula ringkasan tentang Undang- undang (nawamis) Plato yang ditulis tangan, dan masih tersimpan baik di perpustakaan Leiden.1 Manusia, sebagaimana dinyatakan oleh Alfarabi dalam Alsiyasah Almadaniyah, secara natural tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan (pokok)-nya sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia juga tidak dapat hidup normal kecuali dengan cara berkumpul, berinteraksi, dan meleburkan diri dalam sebuah komunitas. Komunitas manusia itu ada yang besar, sedang, dan kecil. Komunitas besar terdiri dari berbagai umat dengan berbagai karakteristik, namun dapat menjadi satu kesatuan, karena adanya sikap saling pengertian, sehingga muncul tradisi tolong menolong. Komunitas sedang, hanya terdiri dari satu umat. Sementara komunitas kecil adalah penduduk kota. Ketiga komunitas ini merupakan komunitas yang sempurna. Kota adalah bentuk komunitas pertama yang sempurna. Adapun lainnya adalah yang tinggal di desa, komplek, dan rumah. Komunitas ini adalah komunitas kurang sempurna. Tetapi yang paling kurang sempurna ada 1 Ibrahim Madkur, fi Alfalsafah Alislamiyah: Manhaj wa Thatbiquh, III. (Mesir: Dar Alma’arif, n.d.), 74 2 di dalam keluarga: yaitu suatu komunitas yang hanya menjadi bagian dari komplek. Sedangkan komplek adalah bagian dari kampung. Meskipun demikian, komunitas yang kurang sempurna itu, menurut Alfarabi memiliki peradaban tersendiri. Secara hirarkis, komunitas kampung dan desa tunduk (pada peraturan) dan berada di bawah (kepemimpinan) pemerintahan kota. Kota adalah persekutuan (yang telah memiliki peradaban) yang merupakan bagian dari umat (manusia). Kota itu tersebar dalam berbagai tempat(wilayah). Uraian Alfarabi tentang masalah sosial tersebut mengikuti uraiannya Plato, ditambah dengan improvisasi analogis suatu doktrin (ajaran Islam) untuk menyatakan keterkaitan dan kesalingketergantungan seseorang dengan yang lain. Misalnya, suatu komunitas adalah laksana tubuh manusia yang apabila salah satu anggota tubuh itu sakit, maka anggota yang lain juga ikut merasakannya. Hal ini berarti bahwa apabila ada salah satu dari anggota komunitas itu menderita, maka penderitaan itu dirasakan pula oleh anggota lain dari komunitas itu. Demikian pula apabila anggota komunitas itu senang, maka kesenangan itu dirasakan juga oleh anggota lain dalam komunitas itu. Tiap-tiap anggota badan itu bekerja sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing, demikian pula anggota komunitas. Mereka bekerja menurut kesanggupan dan keahliannya masing-masing dengan arahan seorang pimpinan sebagai sumber inspirasi (dinamisator)nya, sebagaimana hati (jantung) yang menjadi dinamisator bagi seluruh anggota tubuh. Tugas pimpinan dalam menyelenggarakan kepemimpinannya, 3 menurut Alfarabi– sebagaimana diungkapkan oleh Ibahim Madkur bukan hanya sebatas tugas politis tetapi juga tugas etis (akhlak)2. B. Dinamika Pemikiran Politik Alfarabi 1. Intelektualitas Al-Farabi Karena riwayat hidup dan mata pencahariannya tidak banyak diketahui orang, al- Farabi dianggap sebagai tokoh dan filosof unik. Namun karya-karyanya banyak mencuri perhatian, al-Farabi dikenal sebagai filosof muslim yang sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menambah ilmu pengetahuan dan menambah pengalaman.3 Namun riwayat al-Farabi banyak ditemukan dalam karyanya yang berjudul kitab Ara‟ Ahl al-Madina al Fadilah. Di dalamnya disebutkan bahwa al-Farabi hidup antara tahun 259- 329 H / 870-850 M. Ibn. Abi Ushaibia‟ah dalam bukunya Uyun alAnba‟ mengatakan bahwa nama lengkap al-farabi Abu Nasr Ibn Muhammad Ibn Awzalagh Ibn Tarkhan. Di Indonesia para penulis filsafat islam menyebutnya dengan nama al-Farabi saja dan tidak pernah mempersoalkan nama lengkap filosof ini. Maka jika disebut nama al-farabi dalam Karya-karya filsafat islam , yang dimaksud adalah Abu nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Awzalagh al-Farabi. Dunia barat mengenal al-Farabi dengan sebutan al-Pharabius. 2 Ibrahim Madkur, fi Alfalsafah Alislamiyah: Manhaj wa Thatbiquh.74-75 Imam Sukardi, Pemikiran Politik Al-Farabi, Diskursus Kepemimpinan Negara, (disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), hlm. 94. 3 4 Ayahnya adalah seorang jenderal pasukan militer Turki yang bersal dari Persia yang kawin dengan seorang wanita Turki. Al-farabi juga pernah menjabat sebagai seorang hakim, karena ia hidup dan besar dilingkungan keluarga yang taat beragama, sejak masa mudanya ia belajar ilmu-ilmu islam seperti Fiqih, hadist, tafsir dan lain-lain. Ia juga mahir dalam bahasa persia dan setelah tinggal di baghdad ia belajar bahasa Arab secara Intensif. Dan ia juga menguasai sekitar 70 Bahasa, tetapi ia kurang pandai dalam berbahasa yunani. Al-Farabi juga menulis sebuah buku khusus yang membahas tentang kaidahkaidah musik, Ia juga pernah menjadi seorang ahli musik termasyur. Walaupun ia dikenal dengan bermacam keahlian tetapi ia dikenal sebagai ilmuan dan keahlianya yang menonjol dalam bidang filsafat. Al-Farabi telah menulis komentar-komentar dan panfrasepanfrase tentang logika Aristoteles secara lengkap, komentarnya terhadap Analitica Posteriora, Analitica Priora, isagoge, Tipiea, Sophistica, De Interpretitione, dan De categoriae, dipandang sebagai karya al-Farabi yang istimewa dibidang logika. Karena dalam pandangan al-Farabi, logika berbeda dengan Ilmu-ilmu linguistik. Dan selama hidupnya al-Farabi telah mengabdikan dirinya dalam dunia ilmu pengetahuan dan filsafat. Kontribusi al-Farabi yang sangat besar dalam bidang fisika, metafisika, ilmu politik dan logika, menjadikannya tokoh yang paling penting menempati posisi terkemuka diantara para filosof muslim lainnya. Al-Farabi banyak mendapat pujian dari para historigrafer atas penjelasannya yang mengagumkan 5 tentang filsafat Plato dan Aristoteles tentang perincian ilmu-ilmu Ihsa al-Ulumnya. 2. Karakteristik Filsafat Politik Al-Farabi a. Kondisi Sosial dan Politik Al-Farabi lahir pada masa pemerintahan al-Mu‟tamid (256-257 H / 870-892 M) dimana pada masa itu kondisi sosial politik dinasti Abbasyah kacau. Pemberontakan yang terus berlanjut pada saat itu mengakibatkan Dinasti Abbasyah hancur pada (656 H / 1258 M). Ditengah-tengah pergolakan politik dalam pemerintahan Abbasyah itu muncul isu-isu bahwa al-Musa ingin membinasakan kekuasaan Turki. b. Filsafat Politik Al-Farabi Di antara ilmu-ilmu India yang besar pergaulannya kepada intelektual islam adalah ilmu hitung, astronomi, ilmu kedokteran dan matematika. Pengaruh persia dalam dunia islam adalah ilmu bumi, logika, filsafat, astronomi ilmu ukur, kedokteran, sastra dan seni. Pengaruh terbesar yang diterima umat islam dalam bidang ilmu dan filsafat, menurut ahmad amin, adalah dari yunani. Hal yang penting dipahami bahwa keilmuan dan peradaban tidak muncul secara instan, ia pasti dipengaruhi oleh apa yang ada sebelumnya. Dalam sejarah, cara terjadinya kontak antara umat islam dan filsafat yunani melalui daerah Suriah, Mesopotamia, Persia dan 6 Mesir. Filsafat kenabian al-Farabi erat kaintannya antara Nabi dan filosof dalam kesanggupannya untuk mengadakan komunikasi dengan „aql „fa‟al. Motif lahirnya filsafat al-Farabi ini disebabkan adanya pengingkaran terhadap eksistensi kenabian secara filosofis oleh Ahmad Ibnu Ishaq Al- Ruwandi. Pengaruh filsafat Yunani, dalam hal ini Plato dan Aristoteles, terlihat jelas dalam pemikiran politik al-farabi. Terlihat dalam pemikiran Plato tentang Negara. Menurut Nurcholish Madjid alFarabi mengambil dan mempelajari ramuan asing ini tentunya karena paham ketuhannya memberikan kesan tauhid.4 c. Posisi Filsafat Politik Al-Farabi dalam Pemikiran Politik Islam Respons terhadap karya-karya al-Farabi sebagian kalangan yang menganggap al- farabi menciplak pemikiran karya filosof Yunani. Dari anggapan itu dapat dijelaskan tidak mungkin ilmu itu berdiri sendiri dan tidak berkaitan satu sama lain. Dan wajar apabila alFarabi banyak menggunakan istilah-istilah dari para filosof Yunani dalam berbagai karyanya. Perdebatan anatara agama dan neagara ini memunculkan tiga paradigma yaitu, Integralistik, simbolik dan sekularistik. Al-Farabi sudah menempatkan posisi agama dalam negara sebagai penjaga etika dan moralitas. Ia mensyaratkan pemimpin ideal al-Madinah al-Fadilah itu adalah seorang Nabi atau filosof. 4 Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1948), hlm. 24. 7 C. Hubungan Masyarakat dan Negara Menurut Pandang Al-Farabi a. Kebebasan dalam Bentuk Kehidupan Bernegara Adapun yang dimaksud dengan kebebasan adalah kebebasan atau kemerdekaan masyarakatdalam menentukan nasibnya, memilih sistem dan pemimpin-pemimpinnya, kemerdekaan pribadi dalam ikut mengajukan pendapat bersama orang lain. Serta ikut berkontribusi di dalam ketetapan-ketetapan masyarakat sambil memanfaatkan kebebasannya dalam mengajukan pendapat dan mendiskusikannya untuk memperoleh kata mufakat. b. Relasi Masyarakat dan Pemimpin Peran serta masyarakat dalam kehidupan bernegara sangat penting. Peran itu hanya bisa terwujud kalau ada komunikasi baik antara masyarakat dan pemimpin. Negara harus bisa memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkontribusi. Bagi al-Farabi negara tak ubahnya bagaikan susunan tubuh manusia yang sehat dan sempurna. Setiap anggota tubuh memiliki fungsi dan kemampuan dan kesanggupannya. Demikian pula dengan negara, masing-masing rakyatnya mempunyai tugas dan kecakapan yang berbeda-beda. AlFarabi dalam filsafatnya lebih menekankan pemberdayaan manusia dalam satu negara sesuai dengan spesialisasi dan kemampuan masing-masing. Al- Farabi membuat prioritas tentang perlunya pemahaman dalam satu agama. Ia juga menyatakan bahwa keutamaan berfikir dan keutamaan akhlak merupakan keutamaan yang semua agama mengakuinya sebagai hal yang sangat penting. 8 c. Komparasi Pemikiran Al-Farabi dengan Demokrasi Gagasan demokrasi Yunani Kuno berakhir pada abad pertengahan, masyarakat abad pertengahan dicirikan oleh struktur masyarakat yang feodal, kehidupan spiritual dikuasai oleh paus dan pejabat agama. Sedangkan kehidupan politik ditandai oleh perebutan kekuasaan diantara bangsawan. Sehingga demokrasi tidak muncul pada abad pertengahan ini.14 5Pada abad pertengahan alFarabi memunculkan teori-teori bernegara, diantaranya adalah kebebasan bagimasyarakat, menyelesaikan persoalan dilakukan dengan cara musyawarah dan adanya pembagian kekuasaan. 5 F. Budi Hardiman, Filsafat Modren, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2007), hlm. 81-82 9 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemikiran politik Alfarabi menganut teori organik. Yaitu teori tertua dalam istilah sifat dasar negara. Dalam teori ini negara adalah sebuah organisme. Ia memiliki organ-organ nutrisi, sirkulasi, koordinasi, dan reproduksi. Sistem penyokong negara terdiri dari para petani yang membajak sawah, dan pekerja tambang, dan para buruh. Sedangkan sistem penyalur negara terdiri dari pedagang, banker, pekerja stasiun kereta api, dan pelaut. Sistem regulatori negara diperbuat dari sistem pemerintahan yang mengatur aktifitas setiap individu. Dalam uraian teori organik itu, Alfarabi membawa Islam sebagai pisau analisa dengan menguraikan kerja organ vital (hati/Alqalb) sebagai pimpinan utama dari organ-organ lain yang menjadi pusat dari segala kehendak manusia. Dalam konsep kepemimpinan negara ideal Alfarabi, pimpinan negara utama adalah seorang filusuf yang memiliki sifat kenabian, dengan ahlak sebagai barometer kepemimpinannya. Karena dia dapat berhubungan dengan akal ke sepuluh. Teori ini dimaksudkan sebagai modifikasi dari teori Plato yang memajukan raja filsuf (king of philosopher) sebagai pimpinan utama di negara idealnya. 10 DAFTAR PUSTAKA Abu Nashr al-Farabi, Ârâ‟ Ahl al-Madînah al-Fâdlilah, (Beirut: Daar alMasyriq, 2000), Cet. 2. bddillah, Masykuri. Demokrasi di Persimpangan Makna. 2nd ed. Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 2004. Abu Nashr, Alfarabi. Ara’ Ahl Madinah Alfadhilah. Beirut: Maktabah Alhilal, 1995. Hakim, Atang Abdul,. Filsafat Umum Dari Metologi sampai Teofilosofi, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008. Budiardjo, Miriam,. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001. Sukardi, Imam,. Pemikiran Politik Al-Farabi, Diskursus Kepemimpinan Negara, disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008. Utama, 2001. Sukardi, Imam,. Pemikiran Politik Al-Farabi, Diskursus Kepemimpinan Negara, disertasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008. Amien, Miska Muhammad,. Epistemologi Filsafat, Jakarta:UIP, 2006. 11

Judul: Profil Ilmu Politik Dari Sudut Pandang Al

Oleh: Yeni Yuliana


Ikuti kami