Kel 5 Ilmu Pend Konsep Tujuan Pendidikan

Oleh Fatricia Putri Lm

208,5 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Kel 5 Ilmu Pend Konsep Tujuan Pendidikan

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN “Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas "Mata Kuliah Ilmu Pendidikan” DOSEN MATA KULIAH ILMU PENDIDIKAN AHMAD ZAENURI M, Pd DISUSUN OLEH : KELOMPOK 5 : - FATRICIA PUTRI LAADJI - FISKA PADJA -ANDRI ANTUKE - FAHRUL MUKSIN BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG A. DESKRIPSI PENDIDIKAN DIINDONESIA Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatikan seperti yang kita ketahui indeks pegembangan manusia semakin meurun ,kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke 12 dari 12 negara di Asia, yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan,baik pendidikan formal maupun informal pendidikan memang menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia indonesia untuk pembangunan bangsa. Globalisasi sebagai proses merujuk kepada penyatuan kepada seluruh warga dunia terutama dinegara Indonesia menjadi sebuah kelompok masyarakat global. Namun,kenyataanya kemajuan IPTEK yang disertai dengan semakin kencangnya arus globalisasi dunia mmebawa dampak tersendiri bagi dunia pendidikan,pengaruh globalisasi terhadap pendidikan sendiri,tanpa kita sadari adalah teknologi saat ini yang semakin tinggi yang menjadikan beberapa anak anak disekolah malas untuk belajar,peran orang tua juga sangat penting bagi pendidikan,Globalisasi pendidikan akan menciptakan manusia yang berstandar Internasional dalam bidang pendidikan jika mereka bisa menyeimbangi antara teknologi saat ini dan belajar,dengan globalisasi pula kita mampu setara dengan negara lain adanya perubahan struktur dan sistem pendidikan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan karena ilmu pengetahuan dalam pendidikan sangat pesat. Pentingnya wawasan perspektif Global dalam pengelolaan pendidikan dalam menghadapi globalisasi adanya persiapan yang kuat akan menjadi sesuatu yang menakutkan dan akan berubah menjadi sesuatu yang negatif,Cara untuk mempersiapkan diri menghadapi globalisasi ini adalah dengan cara meningkatakan kesadaran dan memperluas wawasan ,cara yang paling efektif adalaah melalui pendidikan di indonesia. Dalam pendidikan kita harus mampu menerapkan belajar efektif menggunakan metode pembelajaran, kurikulum yang berlaku disekolah, dan masih banyak lagi yanh mendukung Konsep tujuan pendidikan di indonesia. BAB II PEMBAHASAAN PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DIINDONESIA Definisi Problematika Pendidikan adalah berasal dari Problematika dan Pendidikan kata problematika memiliki makna persoalan masalah dan mempunyai analisis dan pemecahan masalah serta kesimpulan sehingga bisa diartikan sebagai tujuan pemecahan masalah yang bisa menjadikan bangsa di indonesia mempunyai jalan keluar dari masalah yang terjadi pada pendidikan,Sedangkan makna pendidikan adalah usaha untuk mewujudkan suasana belajar mengajar secara aktif sehingga tercipta masyarakat dengan kecerdasan dan juga nilai moral yang baik dalam sebuah pendidikan dapat terlaksana, Pengaruh problematika adalah pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi serta industrialisasi dunia pasar kapitalis yang menyebabkan krisis kemanusiaan berkepanjangan kemiskinan baik secara material maupun spiritual ini telah menghinggapi manusia modern contoh Globalisasi saat ini yang meliputi suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah,pada hakikatnya adalah suatu proses gagasan yang dimunculkan didalam masyarakat globalisasi pendidikan. Globalisasi juga meliputi ruang dan waktu,tanpa kita sadari seiring berjalannya waktu perkembangan Globalisasi Pendidikan semakin pesat diindonesia kecanggihan teknologi diera Modern mampu membawa Globalisasi Pendidikan kepada hal yang baru. Oleh karena itu Globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya,terutama dalam bidang Pendidikan. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan,yaitu : 1.Rendahnya sarana fisik 2.Rendahnya kualitas guru. 3.Rendahnya kesejahteraan guru 4.Rendahnya prestasi siswa 5.Mahalnya biaya pendidikan. 1.) Rendahnya sarana fisik Untuk saran fisik misalnya bangunan yang tidak layak banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang mempunyai gedung yang rusak,gedung yang tak terpakai,penggunaan media belajar rendah buku perpustakan yang tidak lengkap,pemakaian teknologi informasi yang tidak memadai. 2.) Rendahnya kualitas guru Kita lebih membutuhkan guru yang berkualitas dibandingkan kuantitas,kelayakan mengajar tentu berkaitan dengan pendidikan, Bukan itu saja sebagian guru diindonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.Data depdiknas (1998) menunjukkan sekitar 1,2 juta guru SD 13,8% yang berpendidikan D2. Tetapi menurut saya itu tidak jadi masalah sebenarnya jika guru itu bisa membuktikan kualitasnya kinerjanya bagus, kenapa tidak? Pemerintah yang harus membantu biaya lanjutan pendidikan guru tersebut atau disebut beasiswa guru agar kelaakan mengajar sudah dinyatakan sah mengajar. 3.) Rendahnya kesejahteraan guru Guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan diindonesia,idealnya seorang guru PNS akan menerima gaji per bulan Rp 1,5juta dan guru bantu 450rbu dan guru honorer 650rbu,dalam hal ini apakah pemerintah tidak befikir mereka melakukan pekerjaan sampingan,sebab rendahnya kesejahteraan guru. Tetapi menurut saya, masalah kesejahteraan guru tetap akan dipertimbangkan kembali oleh pemerintah kitalah generasi penerus yang berjuang untuk menjadiguru yang mempunyai jasa walau sedikit upah yang akan didapatkan. Jika itu sesuai dengan kualitas saya sebagai guru maka tidak masalah,tetapi dipermasalahkan adalah jika guru yang mmepunyai kualitas bagus dan kinerja yang baik bagaimana mereka menghargai guru itu dengan upah rendah jadi itu tidak sebanding dengan hasil yang mereka dapatkan. 4.) Rendahnya Prestasi siswa Kesenjangan Digital hasil penelitian terbaru mencatat hampir dikalangan remaja pengguna internet 30 juta, data tersebut merupakan hasil penelitian berjudul “Keamanan penggunaan media digital pada anak ank dan remaja diindonesia” yang dilakukan oleh lembaga PBB,anak anak UNICEF,bersama para mitra,dan termasuk kementerian komunikasi dan informatika. (Universitas Harvard),AS. Kesenjagan digital yang kuat masih ada anak anak yang tinggal diwilayah perkotaan (lebih sejahtera) dibandingkan dengan anak anak yang tinggal didaerah pedesaan (dan kurang sejahtera). Solusinya pemerintah harus mampu menyeimbangi antara perkotaan dan pedesaan agar mereka juga mampu serata dengan globalisasi saat ini. 5.) Mahalnya Biaya Pendidikan Pendidikan yang bermutu itu mahal,jadi jika diukur dengan materi saja apakah seimbang?? Kata ini sering dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya pendidikan dari SD sampai Perguruan tinggi, membuat masyarakat miskin tidak mampu membiayai,peran pemerintah sepertipada Undang Undang No 20 tahun 2003 sistem pendidikan nasional pendidikan diselenggarakan secara demokratis berkeadilan,menjunjung hak asasi manusia,nilai keagmaan,nilai kultural, dan mengembangkan kreativitas peserta dengan membaca,menulis,dan berhitung. 5.) Realitas Pendidikan Setiap orang yang akan meraih Pendidikan pasti mempunyai cita cita setiap pendidik yang mendidik bagi orang lain atau diri sendiri mempunyai tujuan untuk mencapai cita cita,Pendidik yang ada diindonesia hampir 60% mempunyai cita cita menjadi guru,dokter,polisi dan sebagainya. Namun,jika kita lihat masih tersisa 40% anak anak diindonesia tidak sekolah tingginya angka putus sekolah ini karena faktor biaya yang tidak memadai,hingga anak anak diindonesia berhenti sekolah. Meskipun begitu pendidikan dasar 9 tahun di indonesoa dinilai sukses ,akan tetapi jumlah anak usia wajib belajar yang hanya sampai sekolah dasar (SD) cukup besar. Faktor ekonomi menjadi penghambat utama mereka untuk melanjutkan sekolah,padahal dalam komitmen tujuan pembangunan Bidang Pendidikan,setiap Negara harus memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam pendidikan. Targetnya,tersedia pendidikan dasar dan menengah secara universal yang inklusif ,setara ,dan berkualitas. Lantas upaya apa yang mesti dilakukan oleh pemerintah? B. Tujuan Konsep Pendidikan. 1. Pengertian Pendidikan Kehidupan suatu bangsa erat sekali kaitannya dengan tingkat pendidikan. Pendidikan bukan hanya sekedar mengawetkan budaya dan meneruskannya dari generasi ke generasi, akan tetapi juga diharapkan dapat mengubah dan mengembangkan pengetahuan. Pendidikan bukan hanya menyampaikan keterampilan yang sudah dikenal, tetapi harus dapat meramalkan berbagai jenis keterampilan dan kemahiran yang akan datang, dan sekaligus menemukan cara yang tepat dan cepat supaya dapat dikuasai oleh anak didik. Pendidikan merupakan usaha yang sengaja secara sadar dan terencana untuk membantu meningkatkan perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai warga negara/masyarakat, dengan memilih isi (materi), strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai. Dilihat dari sudut perkembangan yang dialami oleh anak, maka usaha yang sengaja dan terencana tersebut ditujukan untuk membantu anak dalam menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang dialaminya dalam setiap periode perkembangan. Dengan kata lain, pendidikan dipandang mempunyai peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak. Branata (1988) mengungkapkan bahwa Pendidikan ialah usaha yang sengaja diadakan, baik langsung maupun secara tidak langsung, untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan. Pendapat diatas seajalan dengan pendapat Purwanto (1987 :11) yang menyatakan bahwa Pendidikan adalah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat. C. Makna Tujuan Pendidikan Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.[1] Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.Sebuah hak atas pendidikan telah diakui oleh beberapa pemerintah. Pada tingkat global, Pasal 13 Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mengakui hak setiap orang atas pendidikan.[2] Meskipun pendidikan adalah wajib di sebagian besar tempat sampai usia tertentu, bentuk pendidikan dengan hadir di sekolah sering tidak dilakukan, dan sebagian kecil orang tua memilih untuk pendidikan home-schooling, e-learning atau yang serupa untuk anak-anak mereka. D. Perbandingan Tujuan. Sebagai suatu ilmu perbandingan pendidikan tidaklah hanya membahas masalah masalah sistem pendidikan dan pengajaran yang ada pada suatu negara, juga tidak hanya tentang pemikiran kependidikan yang ada dalam suatu dalam masyarakat dalam suatu negara atau tentang teoriteori kependidikan yang di amalkan oleh suatu masyarakat sebagai suatu landasan pembahasan tentang sistem pendidikannya. Bukanlah ilmu perbandingan pendidikan bila hanya menitik beratkan pembahasan pada perbandingan antara teori-teori kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat. Oleh karena itu pembatasan pengertian ilmu perbandingan pendidikan harus bersifat komprehensif sebagai berikut; 1.)Ilmu perbandingan pendidikan adalah studi tentang sistem pendidikan dan pengajaran beserta problematika-problematikanya dalam negra-negara yang berbeda. Masing-masing sistem dan problematika tersebut diusut sampai kepada sebab-sebab sebenarnya yang berada dibalik sistem dan problematikanya. 2.)Ilmu perbandingan pendidikan dapat juga diartikan sebagai studi tentang sistem pendidikan dan pengajaran dinegara yang berada serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. 3.) Ilmu perbandingan pendidikan juga diartikan sebagai studi tentang teori-teori kependidikan dan pengajaran serta bagaimana pengalaman atau penerapannya dinegara-negara yang berbeda itu dengan memperbandingkan antara teori-teori tersebut sehingga diketahui persamaan dan perbedaabnya serta mengembalikan kepada latar belakang sumber yang mempengaruhinya. E. Pendidikn Diindonesia Pasca kemerdekaan sampai sekarang. Diindonesia Perkembangan kemerdekaan belum merdeka mengapa? Bukannya negara kita sudah tidak dijajah? bukannya negara kita sudah merdeka pada beberapa tahun yang lalu,bukannya bendera merah putih sudah dikibarkan pada tanggal 17 Augustus 1945 ?? Lalu apa yang membuat indonesia belum merdeka. 1.Pendidikan masa orde lama Secara umum pendidikan orde lama sebagai wujud interpretasi pasca kemerdekaan di bawah kendali kekuasaan Soekarno cukup memberikan ruang bebas terhadap pendidikan. Pemerintahan yang berasaskan sosialisme menjadi rujukan dasar bagaimana pendidikan akan dibentuk dan dijalankan demi pembangunan dan kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang. Pada prinsipnya konsep sosialisme dalam pendidikan memberikan dasar bahwa pendidikan merupakan hak semua kelompok masyarakat tanpa memandang kelas sosial. Pada masa ini Indonesia mampu mengekspor guru ke negara tetangga, dan banyak generasi muda yang disekolahkan di luar negeri dengan tujuan agar mereka kelak dapat kembali ke tanah air untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapat. Tidak ada halangan ekonomis yang merintangi seseorang untuk belajar di sekolah, karena diskriminasi dianggap sebagai tindakan kolonialisme. Pada saat inilah merupakan suatu era di mana setiap orang merasa bahwa dirinya sejajar dengan yang lain, serta setiap orang memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Orde lama berusaha membangun masyarakat sipil yang kuat, yang berdiri di atas demokrasi, kesamaan hak dan kewajiban antara sesama warga negara, termasuk dalam bidang pendidikan. Sesungguhnya, inilah amanat UUD 1945 yang menyebutkan salah satu cita-cita pembangunan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Banyak pemikir-pemikir yang lahir pada masa itu, sebab ruang kebebasan betul-betul dibuka dan tidak ada yang mendikte peserta didik. Tidak ada nuansa kepentingan politik sektoral tertentu untuk menjadikan pendidikan sebagai alat negara maupun kaum dominan pemerintah. Seokarno pernah berkata: “…sungguh alangkah hebatnya kalau tiap-tiap guru di perguruan taman siswa itu satu persatu adalah Rasul Kebangunan! Hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan dapat ‘menurunkan’ kebangunan ke dalam jiwa sang anak,” Dari perkataan Soekarno itu sangatlah jelas bahwa pemerintahan orde lama menaruh perhatian serius yang sangat tinggi untuk memajukan bangsanya melalui pendidikan. Di bawah menteri pendidikan Ki Hadjar Dewantara dikembangkan pendidikan dengan sistem “among” berdasarkan asas-asas kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanuasiaan yang dikenal sebagai “Panca Dharma Taman Siswa” dan semboyan “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” pada 1950 diundangkan pertama kali peraturan pendidikan nasional yaitu UU No. 4/1950 yang kemudian disempurnakan (jo) menjadi UU No. 12/1954 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah. Pada 1961 diundangkan UU No. 22/1961 tentang Pendidikan Tinggi, dilanjutkan dengan UU No.14/1965 tentang Majelis Pendidikan Nasional, dan UU No. 19/1965 tentang Pokok-Pokok Sitem Pendidikan Nasional Pancasila. Pada masa akhir pendidikan Presiden Soekarno, 90 % bangsa Indonesia berpendidikan SD. 2. Pendidikan masa Orde Baru Pendidikan Pada Masa Orde Baru Orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998, dan dapat dikatakan sebagai era pembangunan nasional. Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar, terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Pendidikan Dasar. Namun, yang disayangkan adalah pengaplikasian inpres ini hanya berlangsung dari segi kuantitas tanpa diimbangi dengan perkembangan kualitas. Yang terpenting pada masa ini adalah menciptakan lulusan terdidik sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas pengajaran dan hasil didikan. Pelaksanaan pendidikan pada masa orde baru ternyata banyak menemukan kendala, karena pendidikan orde baru mengusung ideologi “keseragaman” sehingga memampatkan kemajuan dalam bidang pendidikan. EBTANAS, UMPTN, menjadi seleksi penyeragaman intelektualitas peserta didik. Pada pendidikan orde baru kesetaran dalam pendidikan tidak dapat diciptakan karena unsur dominatif dan submisif masih sangat kental dalam pola pendidikan orde baru. Pada masa ini, peserta didik diberikan beban materi pelajaran yang banyak dan berat tanpa memperhatikan keterbatasan alokasi kepentingan dengan faktor-faktor kurikulum yang lain untuk menjadi peka terhadap lingkungan. Beberapa hal negatif lain yang tercipta pada masa ini adalah: 1. Produk-produk pendidikan diarahkan untuk menjadi pekerja. Sehingga, berimplikasi pada hilangnya eksistensi manusia yang hidup dengan akal pikirannya (tidak memanusiakan manusia). 2. Lahirnya kaum terdidik yang tumpul akan kepekaan sosial, dan banyaknya anak muda yang berpikiran positivistik 3. Hilangnya kebebasan berpendapat. Pemerintah orde baru yang dipimpin oleh Soeharto megedepankan motto “membangun manusia Indonesia seutuhnya dan Masyarakat Indonesia”. Pada masa ini seluruh bentuk pendidikan ditujukkan untuk memenuhi hasrat penguasa, terutama untuk pembangunan nasional. Siswa sebagai peserta didik, dididik untuk menjadi manusia “pekerja” yang kelak akan berperan sebagai alat penguasa dalam menentukan arah kebijakan negara. Pendidikan bukan ditujukan untuk mempertahankan eksistensi manusia, namun untuk mengeksploitasi intelektualitas mereka demi hasrat kepentingan penguasa. Ada pun yang mempengaruhi Pendidikan : √Globalisasi . √Ekonomi. √Hukum. Globalisasi Sesuatu perkembangan yang pesat saat ini dimana teknologi lebih mendominasi dan ada yang berdampak negatif dan postif. Dampak negatif Globalisasi : 1.Semakin mudahnya nilai-nilai barat masuk ke Indonesia baik melalui internet, media televisi, maupun media cetak yang banyak ditiru oleh masyarakat. 2.Semakin lunturnya semangat gotong-royong, solidaritas, kepedulian, dan 3.kesetiakawanan sosial sehingga dalam keadaan tertentu/ darurat, misalnya sakit,kecelakaan, atau musibah hanya ditangani oleh segelintir orang. 4. Maraknya penyelundupan barang ke Indonesia. 5. Perusahaan dalam negeri lebih tertarik bermitra dengan perusahaan dari luar, Akibatnya kondisi industri dalam negeri sulit berkembang. 6.Terjadi kerusakan lingkungan dan polusi limbah industri Menghambat pertumbuhan sektor industri. 7. Terjadinya sikap mementingkan diri sendiri (individualisme) 8. Adanya sikap sekularisme yang lebih mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan nilai-nilai agama. 9. Timbulnya sikap bergaya hidup mewah dan boros karena status seseorang di dalam masyarakat diukur berdasarkan kekayaannya. 10. Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu negara Dampak Positif Positif : 1.Meningkatkan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, disiplin, mempunyai jiwa kemandirian, rasional, sportif, dan lain sebagainya. 2.Kemajuan teknologi menyebabkan kehidupan sosial ekonomi lebih produktif, efektif, dan efisien sehingga membuat produksi dalam negeri mampu bersaing di pasar internasional. 3.Tingkat Kehidupan yang lebih Baik. 4.Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik. 5.Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri. 6.Kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi yang memudahkan kehidupan manusia. 7.Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi). 8.Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. 9.Berkembangnya turisme dan pariwisata. 10. Meningkatkan pembangunan negara. Tujuan Pendidikan untuk mencerdaskan bahwa agar mampu bersaing dengan negara lain, agar negara Indonesia tidak dibodohi oleh negara yang mengambil keutungan kita, agar kita bisa menciptakan generasi yang berintegritas berkualitas hingga mampu membuat negara ini akan semakin maju Membahas tentang diatas membuat perang pemikiran semakin meningkat,inilah zaman dimana kita harus mampu bertahan atau disingkirkan. Jika kita tidak menyiapkan kualitas generasi selanjutnya lebih berkembang dan lebih maju pemikirannya dari pada kita maka akan sia sia. Saya jamin jika pendidikan tidak berkualitas diindonesia maka generasi selanjutnya tidak akan bertahan. Ekonomi -Kita hanya perlu membuka mata, bahwa kitalah solusi dari pengaruh negara Indonesia belum merdeka! Pasti kalian akan bertanya mengapa anda menyebutkan solusinya adalah kita? Inilah Indonesia dimana sumber daya alam yang kaya dan negara Indonesia disebut negara agraris mengapa? Karena memproduksi garam lebih pesat dari pada negara lain. Lalu mengapa masih mengekspor? Jawabannya simpel kita mempunyai hutang pada negara lain jadi dengan cara kita mengekspor maka ada perjanjian salah satu oknum untuk membersihkan hutang negara ini, Tapi ternyata sampai sekarang kita hanya mampu membayar bunganya,dan kita hanya tunduk patuh pada mereka. Hukum Sampai saat ini masih banyak hukum yang tidak terwujudkan hingga pemerintah tidak tegas dalam hal ini Tetapi tujuan saya menyembutkan ke empat saya hanya akan memaparkan Tentang Pendidikan diindonesia atau kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan minat akan menghasilkan prestasi yang kurang menyenangkan. Dapat dikatakan bahwa dengan terpenuhinya minat seseorang akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan batin yang dapat menimbulkan motivasi. S.C. Utami Munandar (1985:11) menyatakan bahwa minat dapat juga menjadi kekuatan motivasi. Prestasi seseorang selalu dipengaruhi macam dan intensitas minatnya. Minat menimbulkan kepuasan. Seorang anak cenderung untuk mengulang-ulang tindakan-tindakan yang didasari oleh minat dan minat ini dapat bertahan selama hidupnya. Dengan demikian, minat belajar merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan belajar siswa. Disamping itu minat belajar juga dapat mendukung dan mempengaruhi proses belajar mengajar di sekolah. Namun dalam prakteknya tidak sedikit guru Seni Budaya (Kesenian) menemukan kendala di dalam kelas, karena kurangnya minat siswa dalam pembelajaran Seni Budaya khususnya seni rupa. Jika hal ini terjadi, maka proses belajar mengajar pun akan mengalami hambatan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berdasarkan pengalaman penulis, pada saat pembelajaran berlangsung siswa kurang bergairah dalam mengikuti pelajaran. Hanya sebagian kecil saja siswa yang bisa memahami dan mengerjakan tugas dengan semangat. Sebagian besar siswa mengerjakan tugas yang diberikan dengan perasaan terpaksa atau takut. Hal ini menyebabkan tugas yang diberikan hasilnya kurang memuaskan sehingga terkesan asal jadi. Jika mereka ditanya, alasannya mereka tidak mempunyai bakat di bidang seni atau tidak punya bakat menggambar. Dengan kondisi seperti ini, guru perlu mencari upaya bagaimana menumbuhkan minat belajar siswa terutama dalam pembelajaran Seni Rupa. 1. Konsep Minat Belajar Pengertian Minat sering dihubungkan dengan keinginan atau ketertarikan terhadap sesuatu yang datang dari dalam diri seseorang tanpa ada paksaan dari luar. The Liang Gie (1994:28) mengungkapkan bahwa minat berarti sibuk, tertarik, atau terlibat sepenuhnya dengan suatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Menurut Slameto (dalam Djaali 2006:121) minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Sedangkan menurut Crow and Crow (dalam Djaali 2006:121) mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Pengertian belajar ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang belajar, pada umumnya mereka memberikan penekanan pada unsur perubahan dan pengalaman. Menurut Witherington (dalam Sukmadinata 2007:155) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan. Crow and Crow (dalam Sukmadinata 2007:155) mengemukakan bahwa belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Sedangkan menurut Hilgar (1962:252) menjelaskan bahwa belajar adalah suatu proses di mana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap sesuatu situasi. Berdasarkan penekanan unsur pengalaman tentang definisi belajar dikemukakan para ahli, antara lain menurut Di Vesta and Thompson (1970:112) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Gage and Berliner (1970:256) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang muncul karena pengalaman. Sedangkan menurut Hilgard (1983:630), mengemukakan bahwa belajar dapat dirumuskan sebagai perubahan perilaku yang brelatif permanen yang terjadi karena pengalaman. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar : Minat belajar peserta didik sangat menentukan keberhasilannya dalam proses belajar. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut bersumber pada dirinya dan luar dirinya atau lingkungannya antara lain sebagai berikut : Faktor (Eksternal)dalam diri siswa, yang terdiri dari : 1.Aspek jasmaniah, mencakup kondisi fisik atau kesehatan jasmani dari individu siswa. Kondisi fisik yang prima sangat mendukung keberhasilan belajar dan dapat mempengaruhi minat belajar. Namun jika terjadi gangguan kesehatan pada fisik terutama indera penglihatan dan pendengaran, otomatis dapat menyebabkan berkurangnya minat belajar pada dirinya. (Kumpulan Tugas Sekolahku) 2.Aspek Psikologis (kejiwaan), menurut Sardiman (1994:44) faktor psikologis meliputi perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat,dan motif. Pada pembahasan berikut tidak semua faktor psikologis yang dibahas, tetapi hanya sebagian saja yang sangat berhubungan dengan minat belajar. Faktor(Internal) dari luar siswa, meliputi: 1.Keluarga, meliputi hubungan antar keluarga, suasana lingkungan rumah, dan keadaan ekonomi keluarga.q 2.Sekolah, meliputi metode mengajar, kurikulum, sarana dan prasarana belajar, sumber-sumber belajar, media pembelajaran, hubungan siswa dengan temannya, guru-gurunya dan staf sekolahserta berbagai kegiatan kokurikuler. 3.Lingkungan masyarakat, meliputi hubungan dengan teman bergaul, kegiatan dalam masyarakat, dan lingkungan tempat tinggal. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa faktor-faktor dari diri siswa dan dar luar siswa saling berkaitan dalam menumbuhkan minat belajar. Jika faktor-faktor tersebut tidak mendukung mengakibatkan kurang atau hilangnya minat belajar siswa. Kurang atau hilangnya minat belajar siswa disebabkan oleh banyak hal yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Menurut JT. Loekmono (1985:97), faktor-faktor yang menyebabkan kurang atau hilangnya minat belajar sisbwa adalah sebagai berikut : 3. Faktor-faktor yang dapat menumbuhkan minat belajar Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subyek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada. Menurut Tanner and Tanner (1975) menyarankan agar para pengajar berusaha membentuk minat-minat baru pada siswa. Hal ini bisa dicapai melalui jalan memberi informasi pada siswa tentang bahan yang akan dismpaikan dengan menghubungkan bahan pelajaran yang lalu, kemudian diuraikan kegunaannya di masa yang akan datang. Roijakters (1980) berpendapat bahwa hal ini biasa dicapai dengan cara menghubungkan bahan pelajaran dengan berita-berita yang sensasional, yang sudah diketahui siswa. Harry Kitson (dalam The Liang gie 1995:130) mengemukakan bahwa ada dua kaidah tentang minat (the laws of interest), yang berbunyi : "Untuk menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, usahakan memperoleh keterangan tentang hal itu Untuk menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, lakukan kegiatan yang menyangkut hal itu". Minat belajar akan tumbuh apabila kita berusaha mencari berbagai keterangan selengkap mungkin mengenai mata pelajaran itu, umpamanya arti penting atau pesonanya dan segi-segi lainnya yang mungkin menarik. Keterangan itu dapat diperoleh dari buku pegangan. ensiklopedi, guru dan siswa senior yang tertarik atau berminat pada mata pelajaran itu. Disamping itu perlu dilakukan kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran itu, misalanya pada mata pelajaran seni rupa usahakan mengikuti apa yang harus dilakukan apakah dengan menggambar atau melukis. Dengan langkah-langkah itu minat siswa terhadap mata pelajaran itu akan tumbuh. 4.Langkah- langkah penerapan Pembelajaran Aktif Individual 1. Teknik Pembelajaran kertas satu menit (one minute paper) Teknik pembelajaran ini merupakan teknik yang sangat efektif untuk mengukur kemajuan pembelajaran para mahasiswa/siswa. Dosen/guru mengeluarkan satu kertas dan mahasiswa/siswa memberikan satu pertanyaan dan mereka menjawab pertanyaan dalam satu menit. 2. Setiap siswa dapat jadi guru (Eveyone is a Teacher). Pembelajaran ini mitip dengan pembelajaran kolaboratif,esensi dari teknik pembelajaraan ini siswa secara individual,setiap mahasiswa/siswa mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan seorang Dosen/guru dan dapat menjelaskan kembali didepan kelas dengan bahasa yang baik dan benar. 3. Teknik pembelajaran pertanyaan kuis/tes (Quiz/test questions) Teknik ini memungkinkan sebagai guru untuk “Memaksa” siswa untuk membaca kemudian setelah membaca diringkas lagi dalam hal ini guru/dosen mengajukan pertanyaan serangkaian kuis bacaan. Penutup Minat belajar merupakan salah satu komponen yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Untuk menumbuhkan minat belajar pada diri siswa, terlebih dahulu kita harus memperhatikan apa yang menjadi latar belakang yang menyebabkan berkurang atau bahkan hilangnya minat belajar. Setelah itu baru kita mengambil langkah-langkah apa yang harus kita lakukan untuk menumbuhkan minat belajar pada diri siswa. Dengan demikian upaya untuk menumbuhkan minat belajar sesuai dengan sasarannya. Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat kita tarik beberapa kesimpulan yang berkaitan dengan upaya menumbuhkan minat belajar pada peserta didik. Pertama, pahami dan kenali terlebih dahulu kondisi fisik dan psikologis siswa. Kedua, gunakan teknik dan metode yang bervariasi dalam penyajian materi pembelajaran. Ketiga, penggunaan media pembelajaran hendaknya dapat merangsang siswa untuk tertarik ikuti serta dalam pembelajaran. Keempat,

Judul: Kel 5 Ilmu Pend Konsep Tujuan Pendidikan

Oleh: Fatricia Putri Lm


Ikuti kami