Tugas 1 Profil Ekonomi Indonesia

Oleh Alda Riyuka Kenzie

131,1 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tugas 1 Profil Ekonomi Indonesia

TUGAS 1 TUGAS I Profil Ekonomi Indonesia 1. Profil Ekonomi Indonesia Pada umumnya profil ekonomi Indonesia dinilai cukup positif. Diantara negaranegara berkembang Indonesia-lah yang dianggap sebagai salah satu negara yang potensial. Dinilai sebagai negara yang memiliki daya tahan (reselience) yang tinggi. Yang telah mampu untuk menanggapi berbagai tantangan ekonomi dengan baik. Indonesia termasuk 10 emerging countries yang dianggap “me-ngetop”. Yang telah mencapai kemajuan yang solid bersama negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan China) Waupun Indonesia telah mengalami berbagai situasi suram. Terutama dalam menghadapi krisis Keuangan Asia 1997-98 dan krisis Dunia sekarang ini. Diwaktu yang lampau Indonesia pernah diramalkan akan collapse. Dibawah ini disampaikan profil Ekonomi Indonesia yang digambarkan dalam bentuk angka-angka yang penting. GDP GDP growth GDP per capita GDP by sector Inflation (CPI) Population below poverty line Gini index Labour force Labour force by occupation Unemployment Main industries US$1.2 trillion (2010) 6% (2010) US$4,300 (2010); US$4,100 (2009) agriculture (16.5%), industry (46.4%), services (37.1%) 5.1% (2010) 13.3% (2010) 34.3 (2008) 120 million (2010) 40% (2010) 3.2% (2010) petroleum and natural gas, textiles, apparel, footwear, mining, cement, chemical fertilizers, plywood, rubber, food, tourism Indonesia terpilih sebagai anggota G20 yang terdiri dari negara-negara maju dan negara-berkembang. Yang terpilih dari Asia hanya 5 negara yaitu: China, Jepang, India, Korea Selatan dan Indonesia. Sistem ekonomi Indonesia tercatat sebagai Sistem Ekonomi Pasar (market economy). Tetapi fihak pemerintah tetap mengambil peranan yang penting; yang memiliki 164 perusahaan negara; fihak pemerintahan yang dapat mengatur Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 perkembangan harga untuk berbagai produk pokok (basic goods); termasuk dalam bidang energi; harga beras; dan tarif ke-listrikan. NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 PDB 20 Negara Terbesar di Dunia Jumlah (US$ Negara Miliar) Amerika 14.119 Serikat Jepang 5.069 China 4.985 Jerman 3.330 Prancis 2.649 Inggris 2,174 Italia 2.112 Brazil 1.573 Spanyol 1.460 Kanada 1.336 India 1.310 Rusia 1.231 Australia 924,8 Meksiko 874,8 Korea Selatan 832,5 Belanda 792,1 Turki 614,6 Indonesia 540,3 Swiss 491,9 Belgia 471,2 Dari 20 negara terbesar di dunia, Indonesia dewasa ini mendapatkan ranking ke 18 . Diukur dari besarnya PDB. Tetapi sudah mulai diramalkan bahwa Indonesia akan termasuk The Big Ten. Menurut berita dari Davos, Swiss pada Forum WEF Indonesia sudah dimasukkan dalam “Trillion dollar Club” sehingga wakil Indonesia, Menteri Perdagangan Gita Wiryawan, mendapat sambutan dan posisi yang terhormat. pertumbuhan, mengagumkan prestasi dengan Dalam hal laju Indonesia sangat kecepatan diatas 6%. Menurut berita-berita yang tidak resmi, Indonesia menempati tempat kedua didunia dalam kecepatan pertumbuhan ekonomi. Dalam soal inflasi Indonesia hingga sekarang termasuk negara-negara yang dapat mengendalikannya. Dalam hal rasio kemiskinan (13%) dan pengangguran (3%), yang merupakan kelemahan Indonesia, nampaknya tidak terlalu dipersoalkan. Mungkin karena banyak negara juga menghadapi situasi yang serupa. Yang menyentuh negara berkembang maupun beberapa negara yang sudah maju. Yang dianggap penting untuk Indonesia ialah untuk menjaga tren kemajuannya. Yang menunjukan garis yang membaik dan positif. Strategi demikian perlu diterapkan pada segi-segi yang masih lemah; termasuk dalam bidang pendidikan dan kesehatan, bidang birokrasi, infrastruktur, rule of law dsb. 2. Persepsi Luar Negeri Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Dengan adanya krisis keuangan dunia dewasa ini tidak mudah untuk menentukan profil atau untuk mengadakan penilaian tentang negara manapun didunia. Wlaupun demikian ada baiknya untuk mengetahui bagaimana kiranya profil Indonesia dilihat dari persepsi dunia internasional. Disadari bahwa pendapat luar negeri tentang Indonesia bermacam-macam coraknya. Ada yang hanya melihat Indonesia dari segi yang sempit. Dengan meneropong segi kelemahannya: a.l. mengenai pelanggaran ham (hak azazi manusia); besar pemakaian narkoba; menjalarnya virus korupsi; masalah rule of law dsb, Sehingga profil Indonesia tercoreng dengan hal-hal yang bercorak negatif. Tetapi kiranya perlu dicatat bahwa dalam bidang ekonomi khususnya, citra Indonesia agak lebih aman. Tidak terlampau tergoda dengan isu-isu ekonomi yang bernada negatif. Walaupun dalam bidang ekonomipun juga terdapat berbagai kelemahannya. Terutama dalam perkembangan dan penglolaan ekonomi intern. Yang sering menunjukkan tren yang erratic – tak menentu . Tidak mengherankan jika sering terdengar keluhan “nothing is certain in Indonesia”. Yang datangnya terutama dari para investor dan para peminat bisnis dari luar negeri. Dalam bidang bisnis ansich memang masih banyak kelemahanya. Tetapi lain halnya pada taraf yang lebih resmi dan pada taraf pemerintahan yang selalu datang dengan persepi yang matang dan positif. Ketika krisis subprime mortgage mendera dunia, banyak perusahaan kolaps, namun ketika saya googling mengenai keadaan ekonomi Indonesia justru banyak hal yang menarik yang saya temukan. Berbeda dengan sikap pesimis dari dalam negeri, berbagai sikap optimisme justru terus berdatangan dari pengamat luar. Salah satunya adalah Morgan Stanley adalah salah satu bank investasi terkemuka di Amerika Serikat yang saya kutip dari situs berita MSN bahwa meskipun Morgan Stanley didera krisis keuangan beberapa waktu yang lalu sehingga harus ditolong oleh Pemerintah AS, kemampuan Morgan Stanley dalam melakukan analisis tidaklah surut. Itulah sebabnya apa yang dikatakan perusahaan tersebut tentang suatu negara senantiasa menarik perhatian para investor. Kredibilitasnya mirip dengan Goldman Sach yang telah Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 berhasil melambungkan negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) menjadi suatu kelompok elite negara berkembang saat ini. Dengan latar belakang tersebut, apa yang dikemukakan Morgan Stanley dalam publikasinya yang membahas Indonesia tanggal 12 Juni 2009 lalu memicu perhatian yang besar. Dalam publikasi yang berjudul Adding another I to the BRIC story? itu, Indonesia mulai dikategorikan setara dengan negaranegara BRIC. Publikasi itu melihat kemiripan Indonesia dengan India sebagai suatu perekonomian yang berbasis penduduk yang besar. Itulah sebabnya Morgan Stanley menyatakan perlu menambah cerita tentang Indonesia, di samping India, dalam akronim BRIC tersebut. Pernyataan dari Morgan Stanley tersebut tentu didasarkan pada berbagai fakta yang berkembang. Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dikategorikan berupa jumlah penduduk yang besar dan sumber daya alam yang melimpah. Namun dalam beberapa tahun terakhir sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berasal dari biaya modal yang semakin murah. Sumber pertumbuhan yang lain berupa reformasi kebijakan yang pada akhirnya akan lebih memberikan kesempatan kepada dunia usaha untuk berkembang lebih baik. Terlebih lagi dengan tetap positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa krisis global ini, perhatian dari berbagai investor di seluruh dunia tertuju kepada Indonesia. Sampai dengan 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia digambarkan dalam grafik mereka mulai melampaui Brasil (yang memang relatif rendah selama bertahun-tahun) dan Rusia sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di antara Rusia dan India (dan China). Grafik tersebut akan menjadi lebih menarik lagi jika memasukkan data terakhir tahun 2009 di mana Brasil bahkan mengalami pertumbuhan negatif. Persepsi dan Prospek Perekonomian Indonesia Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Publikasi Morgan Stanley tentang Indonesia tersebut pada akhirnya memperkuat persepsi yang sudah berkembang sampai hari ini tentang prospek perekonomian Indonesia.Persepsi tersebut antara lain terbangun oleh studi yang dilakukan Goldman Sach (N-11: Not just an acronym) pada 2007 yang menempatkan Indonesia dalam kedudukan yang sangat terhormat di antara negara-negara berpenduduk besar yang memiliki prospek ekonomi besar dan tergabung dalam N-11 (Next Eleven) tersebut. Persepsi tersebut semakin diperkuat oleh studi Pricewaterhouse Coopers (The World in 2050 yang diperdalam dengan Banking in 2050) yang kembali menempatkan Indonesia dalam jajaran perekonomian elite di percaturan perekonomian global. Dengan berkembangnya persepsi semacam itu, minat para investor untuk melakukan investasi di Indonesia menjadi semakin berkembang. Selain bank-bank Inggris yang secara berturutturut melakukan akuisisi di Indonesia beberapa waktu terakhir,perbankan Indonesia memperoleh perhatian investor yang semakin besar dari seluruh penjuru dunia. Sampai hari ini masih saja terdengar minat yang serius dari investor maupun bankir asing untuk melakukan akuisisi perbankan di Indonesia. Demikian juga di berbagai sektor ekonomi lain,minat tersebut mirip dengan apa yang timbul setelah maraknya perhatian orang pada negara-negara BRIC.Perkembangan inilah yang akhirnya akan melahirkan self fulfilling prophecy karena minat investor tersebut akhirnya akan mampu merealisasi prediksi Morgan Stanley tentang prospek pertumbuhan Indonesia di tahun 2011 dan sesudahnya. Dalam studi Morgan Stanley tersebut, PDB Indonesia yang dalam tahun 2008 dinyatakan sebesar USD509 miliar diprediksi akan mencapai antara USD700 sampai USD800 miliar pada 2013. Prediksi ini mendasarkan diri pada pertumbuhan ekonomi riil sebesar antara 6″7 persen mulai tahun 2011 ke atas.Sebagaimana prediksi dari Goldman Sach yang meleset cukup jauh hanya dalam waktu dua tahun (Goldman Sach memprediksi PDB Indonesia 2010 sebesar USD419 miliar dalam studi N-11: Not just an acronym, padahal pada 2008 sudah mencapai USD509 miliar), bukan tidak mungkin prediksi Morgan Stanley juga akan meleset. Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Hal ini terutama berkaitan dengan deviasi yang cukup besar antara pertumbuhan PDB riil dengan PDB nominal yang dikonversikan dalam mata uang dolar AS.Sebagai contoh, dalam tahun 2008, PDB nominal Indonesia tumbuh dengan 25,4 persen,sementara PDB riil tumbuh dengan 6,1 persen. Bahkan setelah dikonversi dengan kurs yang sedikit melemah, pertumbuhan PDB Indonesia dalam dolar menunjukkan angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDB riil. Dengan melihat perkembangan tersebut, PDB nominal yang diprediksi Morgan Stanley sebesar USD700-800 miliar tahun 2013 memiliki kemungkinan akan terlampaui. Ini berarti bahwa PDB nominal Indonesia memiliki kemungkinan akan mencapai antara USD800-1.000 tahun 2013 sehingga memungkinkan Indonesia untuk mencapai pendapatan per kapita sekitar USD5.000 pada saat kita semua memasuki era ASEAN Economic Community tahun 2015.Tingkat pendapatan yang sedemikian akan menempatkan kekuatan ekonomi Indonesia sekitar delapan kali dari kekuatan ekonomi Malaysia saat ini. Prospek semacam itu akan menjadi lebih cepat terealisasi dengan dukungan perbankan yang lebih besar. Publikasi dari Morgan Stanley tersebut juga memperlihatkan tingkat penetrasi perbankan di Indonesia yang diukur dengan rasio kredit perbankan terhadap PDB termasuk sangat rendah dibandingkan dengan negaranegara BRIC dan dengan negaranegara di kawasan Asia Tenggara. Optimisme terhadap perekonomian Indonesia sudah berkembang secara luas di luar negeri. Rasanya kita pantas berharap bahwa optimisme yang sama juga akan semakin berkembang di negara kita sehingga pada ujungnya kesejahteraan masyarakat dapat terus berkembang. 3. Hari depan Ekonomi Indonesia Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Banyak fihak yang merasa bahwa momentumnya telah tiba bagi Indonesia untuk maju kedepan dan mengambil posisi yang positif didunia. Agar Indonesia aktif dalam memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang. “ Indonesia’s time to shine “ adalah headline surat kabar Jakarta Globe pada edisi tgl 12 Desember. Ini juga merupakan suatu seruan yang positif bagi Indonesia. Disertai oleh sebuah tulisan dari Charlotte Greenfield yang berjudul “Indonesia tipped to be part of Global Powerhouse Shift”. Diakuinya bahwa Indonesia beserta negara-negara bekembang lainnya akan merupakan pemain politik dan ekonomi yang dominan pada tahun 2030. Menurut perkiraan dari bank-bank internasional sekarangpun 50% dari kemajuan ekonomi dunia dan 40% dari jumlah investasi global ada ditangan negara-negara berkembang. Terutama yang terletak di Asia Timur. Pola ini akan semakin menaik. Memang sudah agak lama diperkirakan bahwa pusat ekonomi dunia akan bergeser dari Barat ke Timur. Tidak mengherankan jika disampingnya China dan India, Indonesia juga akan dapat menjelma sebagai Global Powerhouse. Hal ini bergantung pada kemampuan dan tekad Indonesia sendiri. Telah dimaklumi umum bahwa Indonesia masih harus menyelesaikan berbagai masalah yang berat. Antara lainnya mengenai lemahnya bidang infrastruktur, masalah kepastian pangan (food security), besarnya korupsi , rendahnya kwalitas sdm dikalangan birokrasi dan terutama rendahnya daya-saing Indonesia . 4. Posisi Indonesia Selain dari pandangan Bank Dunia, ADB (Asian Dvelopment Bank) dsb laporan institut McKinsey setebal 100 halaman mencerminkan pandangan yang umumnya sangat positif. Diprediksi bahwa ekonomi Indonesia akan dapat naik dari posisi ke 16 ke posisi ke posisi ke-7 diekonomi dunia pada tahun 2030. Segi positif yang sangat disoroti oleh McKinsey (konsultan yang ternama) ialah kebangkitan Kelas Menengah yang luar biasa cepatnya. Bangkitnya Kelas Menengah yang besar jumlahnya memicu peningkatan konsumsi. Faktor konsumsi adalah salah satu faktor penggerak penting untuk mempercepat pembangunan. Disampingnya faktor investasi dan faktor perdagangan, Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 terutama eskpor. Ke-3 faktor tersebut mempunyai hubungan yang kait-mengait. Faktor konsumsi dewasa ini meruapakn faktor yang menentukan. Digambarkan bahwa perusahaan swasta berpeluang untuk mendapatkan bisnis senilai $ 1,8 triliun lebih. Dibeberapa sektor yang juga dapat tumbuh dengan pesat. Seperti bidang jasa-jasa yang sudah merupakan bidang terbesar kedua di BPD Indonesia, faktor konsumsi yang merupakan daya pemicu yang penting dalam peningkatan ekonomi, sumber daya alam yang masih berlimpah, bidang pertanian yang merupakan sektor ke-3 dalam BPD dan bidang perikanan yang pontensial yang belum digarap secara efisien. Disamping bidang-bidang itu mungkin dapat ditambahkan: bidang industri kreatif dan inovatif yang masih perlu dikembangkan. Dan bidang industri yang bersifat nilai tambah dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia. 5. Tantangan yang dihadapi Indonesia Tidak perlu diragukan lagi bahwa profil ekonomi Indonesia yang disoroti diluar negeri adalah positif. Walaupun disadari bahwa kelemahan yang ada masih banyak sekali. Tetapi Indonesia mempunyai kesempatan untuk menaikkan derajatnya dari posisi ke 18 diekonomi global ke posisi “10 Besar”. Dengan mengalahkan bebagai negara besar yang sudah maju. Ini merupakan tantangan yang luar biasa bagi Indonesia. Tentunya ini merupakan proses jangka-panjang; proses setapak demi setepak yang harus dilaksanakan secara konsisten dengan semangat juang yang tinggi. Terutama dari kaum penerus. Dalam kaitan ini perlu diwaspadai adanya batu-batu penghalang yang dapat menggagalkan harapan-harapan yang indah untuk hari depan Indonesia. Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan,dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi suatu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas territorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadup arus modal,barang dan jasa,dan ini sangat mendukung KAPITALISME yang nantinya akan membunuh perekonomian bangsa itu sendiri. Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Globalisasia perekonomian di satu pihak akan membuka peluang produk dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk produk global ke dalam pasar domestic,yang secara tidak langsung dan disadari akan menumbuhkan rasa konsumtif di tengah masyarakat,yang terhegemoni akan produk barat. Globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang mutakhir, yang tadinya berupa penajajahn fisik menjadi penggelontoran barang,modal,dan tenaga kerja asing ke dalam negeri.yang dirasakan saat ini adalah bahwa BANGSA INDONESIA TELAH MENJADI BANGSA KULI DI TANAH AIRNYA SENDIRI, atau lebih parahnya lagi BANGSA INDONSIA TELAH MENJADI GELANDANGAN DI TANAH AIRNYA SENDIRI,apa bedanya buruh yang kerja di swasta dengan kita seorang enginner yang kerja di perusahaan asing?ya,yang membedakan adalah kita kaum BURUH “INTELEKTUAL”.sebagai kaum intelektual seharusnya kita mendorong pemerintah untuk melakukan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing yang ada di Indonesia,meskipun itu hal yang sulit dicapai ,karena kita masih disetir oleh barat, dan berbagai ketakutan yang akan mengancam seperti embargo dan lain lain,tapi kita percaya suatu saat pasti BISA melakukannya,dan kita dapat merasakan kekayaan alam kita untuk dinikmati bangsa kita sendiri. Dalam menghadapi persoalan Globalisasi ekonomi ini kita memiliki tantangan yaitu bagaimana mewujudkan asas kekeluargaan,kebersamaan,dan gotong royong dalam kemandirian ekonomi Indonesia, dan apa yang seharusnya pemerintah lakukan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi Indonesia?. pertama, perlunya pemerintah yang prorakyat. kedua,pentingnya kebijakan protektif bagi industry dalam negeri.ketiga,harus mengembangkan local ekonomi, keempat, perubahan alokasi anggaran ke sector rakyat,pasar domestic, dan fasilitas public.kelima,perluasan pengembangan usaha bersama(koperasi).keeanam,membuat pasar kebutuhan dan permintaan nasional.ketujuh,penguasaan industry pengelolaan barang mentah hasil SDA Indonesia Krisis ekonomi masih menghantui AS dan Eropa. Dunia masih menunggu apakah ada cara untuk mengatasi krisis yang melanda AS dan Eropa? Namun yang pasti, cepat Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 atau lambat AS tidak akan lagi menjadi yang Nomor Satu di dunia. Eropa juga masih dalam kondisi mengenaskan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana masa depan ekonomi Indonesia? Kondisi perekonomian dunia saat ini masih didominasi AS. Tetapi AS sedang dalam tekanan yang sangat berat. Hutangnya mencapai 100% PDB. Secara pergerakan, perekonomian AS memang masih terus bergerak. Tetapi sangat lambat dengan pengangguran yang tinggi. Jadi dalam waktu dekat, perekonomian AS masih yang terbesar. Karena ekonomi China masih 1/3 ukurannya dari AS. Namun yang pasti saat ini, AS tidak lagi menjadi yang nomer satu dalam perekonomiannya. Bagaimana dengan perekonomian Eropa? Ternyata lebih mengenaskan lagi. Terjadi krisis utang publik di negara-negara Uni Eropa, seperti Yunani, Irlandia, Portugal, Spanyol dan Italia. Rasio utang negara-negara ini melebihi PDBnya. Akhirnya karena perekonomian Eropa sudah bersatu, maka masalah utang ini sangat tergantung pada Jerman dan Prancis. Dua negara ini, cukup kewalahan. Jadi bisa dikatakan masa depan perekonomian Eropa cukup kelam, kecuali Jerman, Prancis dan Turki yang ekonominya mulai menggeliat setelah dipimpin oleh PM Recep Tayip Edrogan. Memang tidak bisa kita pungkiri antara ekonomi dan politik memang saling terkait. Ketika sebuah negara tidak lagi memiliki kekuatan ideologi, maka negara-negara besar seperti Daulah Utsmaniyah (di masa akhir kekhilafahan) di Turki, Romawi, Spanyol dan Inggris terancam mengalami penurunan kejayaan hingga keruntuhan. Hal ini juga karena negara-negara tersebut sudah memiliki ketergantungan kepada negara-negara lain. Artinya sejarah menunjukkan bahwa negara-negara tadi memiliki utang yang cukup besar. Dalam hal ini AS harus belajar dari sejarah, bahwa masa depannya akan sangat suram. Sistem perekonomian Kapitalisme tidak akan mampu menyelamatkannya. Selama ini Inggris dan AS menggunakan pola kapitalisme keuangan non riil. Produk-produk perdagangannya tidak jelas dan spekulatif. Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Inilah sebenarnya yang memukul perekonomian dunia. Indonesia harus mempelajari betul bagaimana posisinya saat ini dalam percaturan politik internasional. Saat ini pergeseran kekuatan perekonomian menuju Asia. China memegang posisi yang terdepan. Hanya China akan menjadi yang terbesar di dunia kalau AS tidak terlalu anjlok. Tetapi kalau perekonomian AS mengalami krisis berkepanjangan,maka perekonomian dunia, termasuk China akan menderita juga. Ini karena sistem perekonomian KapitalismeLiberal masih menjadi satu jaringan yang membelit dunia. Kemudian salah satu ciri perekonomian yang akan tampil ke depan adalah perekonomian dengan jumlah penduduk yang besar seperti China, India, Brazil dan Indonesia. Menurut para pakar Ekonomi Negara-negara tersebut akan mejadi pememimpin ekonomi dunia, Indonesia yang memiliki jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa akan menjadi The 7 Largest Economic in the World. Sehingga kalau melihat analisa perekonomian dunia, maka perekonomian negara maju seperti AS dan Eropa akan melemah, dan akan berkembang perekonomian dengan jumlah penduduk yang sangat besar terutama di Asia. Di sinilah sebenarnya Indonesia harus mempelajari peta kekuatannya. Memang perekonomian Indonesia tidak terlepas dari kepastian perekonomian AS dan Eropa. Tetapi, berbeda dengan China, perekonomian Indonesia lebih bersifat domestik. Ekspornya hanya sekitar 28% dari PDB. Inilah yang sebenarnya juga menyelamatkan Indonesia sehingga tidak terseret krisis terlalu jauh. Sebenarnya kondisi Indonesia akan tetap stabil dan mungkin akan semakin bertumbuh apabila lebih memfokuskan pada perekonomian dalam negeri. Justru ancaman akan muncul dengan adanya perekonmoian Global dimulai dengan perjanjian Asean Free Trade Area (AFTA) yang akan dimulai tahun 2015. Ini memungkinkan Negara-negera yang memiliki produk yang lebih unggul akan mengeruk pasar domestic Indonesia sehingga pengusaha-pengusaha local akan kalah persaingan. Untuk itu Indoneisa harus memepersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul, SDM yang lebih kompeten guna mengolah potensi sumber daya alam Indonesia yang begitu melimpah, jangan sampai kita menjadi budak di negeri sendiri. Caranya adalah Bagaimana pemerintah lebih serius menangani perekonomian dalam negeri agar semakin tumbuh. Kuncinya adalah pembangunan sektor riil. Dan yang Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 terutama, berarti pemerintah harus membenahi infrastruktur dalam negeri. Karena inilah yang menjadi hambatan perekonomian dalam negeri. Bisa dibayangkan, dengan kondisi jalan yang selalu rusak, bagaimana sektor pertanian, perdagangan dan perindustrian bisa berjalan baik. Anggaran perbaikan jalan dan jembatan sebenarnya ada. Tetapi masalahnya tata kelola anggaran itu yang bermasalah. Terlalu banyak yang dikorupsi yang terjadi di negeri ini. Kasus Korupsi seakan sudah menggurita di ranah system Ekonomi dan perpolitikan Indonesia. Korupsi merupkan kelamahan terbesar Indonesia. Ini di sebabkan karena system Demokrasi yang yang menjarat negeri ini. System Demokrasi memungkinkan para politisi melakukan korupsi karena bisa kita sadari bahwa system Demokrasi membutuhkan kost yang begitu tinggi. Untuk mencapai Indonesia emas dan menjadi salah satu negera dengan perekonomian terkuat di dunia, tentunya pemerintah harus memeberantas para koruptor yang sudah merasuk pada sistemik pemerintahan Indonesia itu sendiri. Perompakan Birokrasi adalah jalan yang bisa di tempuh atau yang lebih ekstrem lagi adalah dengan merubah system Demokrasi ke dalam system Ekonomi Islam / Sistem Syariah yang lebih memeiliki moralitas dan ketegasan, serta system yang tidak memerlukan kost yang begitu tinggi. Jangan sampai peluang yang dimiliki Indonesia ini menjadi sia-sia, dan kita hanya menjadi bangsa yang diburu dan dimanfaatkan kepentingan-keptentingan asing yang mengeruk kekayaan negeri ini. Dan jangan sampai pula masyarakat Indonesia menjadi budak-budak meraka para pemiliki modal. Karena dengan adanya perekonomian global tentunya akan memudahkan para pelaku asing bermain dengan bebas di bumi Indonesia. Dan jangan sampai pula Amerika yang perekonomiannya sudah hamper hancur memanfaatkan kelemahan Indonesia sebagai alat mereka dalam mengendalikan dunia. Tantangan Indonesia menghadapi ASEAN ECONOMIC COMMUNITY Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Dalam era globalisasi ini memang tidak bisa dihindari adanya persaingan (kompetisi) antar bangsa. Karena prinsipnya globalisasi telah membuat dunia terintegrasi dalam satu kawasan perdagangan karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan teknologi informasi. Persaingan yang makin terbuka tersebut membutuhkan kemampuan adaptasi dan kemampuan daya saing dari masing-masing negara. Sebagaimana ditulis oleh ekonom ternama, mantan penasehat Presiden Bill Clinton, Joseph Stiglitz, dalam buku Making Globalization Work, bahwa pada masa ini tak ada satupun negara yang bisa menghindarkan diri dari globalisasi. Mau tidak mau setiap negara akan masuk dalam pusaran dinamika dunia, baik dinamika budaya, politik, keamanan, termasuk dalam pusaran ekonomi global. Dalam konteks globalisasi ekonomi tersebut, ASIA diramalkan akan menjadi kekuatan ekonomi baru, sebagaimana yang ditulis oleh John Naisbitt dalam bukunya Megatrends ASIA. Asia akan tumbuh menjadi emerging market yang disokong oleh oleh India, China, dan Asia Tenggara (dimana Indonesia akan menjadi prime mover¬). Hal didukung oleh faktor luas wilayah terbesar di dunia yakni 30 % dari luas wilayah daratan dunia (sekitar 44 juta KM2), jumlah penduduk terbesar yakni 4 miliar manusia dari total penduduk dunia 6,5 miliar. Dari sisi pertumbuhan miliarder, ASIA juga yang paling tertinggi di dunia dimana menurut Survei yang dilakukan lembaga riset “Citigroup Inc.” menyatakan dalam laporan berjudul The Wealth Report 2012, jumlah miliarder di Asia mencapai 18 ribu orang. Sedangkan di Amerika Serikat dan Eropa masing-masing 17 ribu dan 14 ribu orang. Dengan kecenderungan tersebut, maka kawasan Ekonomi ASEAN memiliki nilai strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Asia. Dimana saat ini kekuatan ekonomi ASEAN menyumbang PDB 3,36 triliun USSD pada tahun 2012, rata-rata laju pertumbuhan ekonomi 5,6 persen dimana Indonesia sendiri tumbuh 6,3 persen, serta jumlah penduduk 608 juta jiwa yang merupakan potensi pasar dan tenaga kerja yang besar. Karena itu, ASEAN Economi Community (AEC) merupakan salah satu peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia dalam menghadapi abad ekonomi Asia ini. Melalui AEC, akan terjadi integrasi sektor ekonomi yang meliputi Free Trade Area, penghilangan tarif Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 perdagangan antar negara ASEAN, pasar tenaga kerja dan modal yang bebas serta kemudahan arus keluar masuk prosedur kepabeanan antar negara ASEAN. Pertanyaannya adalah bagaimana Indonesia menghadapi AEC 2015 jika dilihat dari sisi potensi ekonomi dan tantangan yang menghadang? Jika dilihat dari sisi potensi ekonomi, Indonesia merupakan salah satu emerging country yang saat ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi ASEAN. Dimana rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,3 persen jika dibandingkan dengan Malaysia 5,4 persen, Thailand 5 persen, Singapura 1,2 persen, Filipina 6,6 persen, dan Vietnam 5,7. Dari sisi jumlah penduduk, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar yakni 247 juta jiwa sebagai pasar potensial dan tenaga kerja. Prospek Indonesia sebagai negara dengan perekonomian nomor 16 di dunia, nomor 4 di Asia setelah China, Jepang dan India, serta terbesar di Asia Tenggara, semakin menjanjikan karena didukung oleh melimpahnya sumber daya alam, pertumbuhan konsumsi swasta dan iklim investasi yang makin kondusif. Karena itu, Indonesia diprediksi bersama negara-negara BRIC akan mendominasi PDB dunia dengan share lebih dari 50% pada tahun 2025 dimana PDB perkapita kita diperkirakan akan mencapai sekitar US$ 15.000. Sedangkan menurut Buku Megachange 50 yang diterbitkan oleh majalah The Economist Tahun 2012, Indonesia diramalkan akan menjadi salah satu negara maju dengan pendapatan sekitar US $ 24.000 pada tahun 2050. McKinsey Global Institute juga memprediksi Indonesia akan masuk dalam 7(tujuh) besar kekuatan ekonomi dunia pada 2030 mengalahkan Jerman dan Inggris. Hal ini disebabkan dari sisi kependudukan, akan tumbuh kelas menengah Indonesia dari 45 juta orang pada tahun 2010 menjadi 135 juta orang di tahun 2030, atau tumbuh sekitar 90 juta, dimana pertambahan kelas menengah akan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi. Namun hal itu tidak mudah. Kita menghadapi banyak tantangan untuk mewujudkannya. Tantangan pertama yang nyata dan akan segera datang adalah diberlakukannya Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, sebuah konsep integrasi dimana ASEAN akan menjadi satu pasar besar sekaligus satu basis produksi. Konsep Komunitas ASEAN sebenarnya didesain untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan antar negara ASEAN. Dengan integrasi ekonomi dalam satu wadah, diharapkan Negara-negara ASEAN akan mempunyai daya Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 saing yang lebih tinggi dan mampu menghadapi regionalisme lain di dunia seperti Uni Eropa, Masyarakat Ekonomi Amerika Latin dan sebagainya. Indonesia sendiri sebagai negara ASEAN saat ini sebenarnya punya pertumbuhan ekonomi makro yang relatif baik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia berjalan secara stabil dan cukup menjanjikan, meskipun sebenarnya masih bisa terus dipacu. Pendapatan per kapita Indonesia juga telah mencapai US$ 3.710 pada tahun 2012. Hal ini membuat Indonesia masuk ke dalam kategori negara berpendapatan menengah, dimana tuntutan transformasi pertumbuhan ekonominya dari semula bergantung pada sumber daya alam dan alokasi tenaga kerja murah (resources and low cost-driven growth) menjadi tuntutan untuk menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dengan memanfaatkan modal fisik dan sumber daya manusia terampil (productivitydriven growth), agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak stagnan dan terhindar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Secara faktual hal itu memang belum tampak dalam kenyataan. Kita masih bertumpu pada sektor primer sebagai salah satu motor pertumbuhan. Di lain pihak, daya dukung institusi, sosial dan politik belum mampu menompang kekuatan daya saing. Menurut Global Competitiveness Index yang dikeluarkan oleh World Economic Forum 2012-2013, ranking daya saing berada kita pada posisi 50 dari 144 negara, turun dari posisi 46 pada tahun 2011. Untuk kawasan ASEAN Indonesia hanya menempati urutan ke-5 di bawah Singapura (2), Malaysia (25), Brunei (28) dan Thailand (38). Ada banyak determinan pendorong produktivitas, yang oleh WEF dikelompokkan ke dalam 12 pilar daya saing, yaitu: institusi, infrastruktur, makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pasar keuangan, kesiapan teknologi, besaran pasar, dan inovasi. Memperhatikan daya saing yang masih rendah tersebut kita harus berbenah dalam segala hal baik dari sisi regulasi dimana aturan hukum harus tegas, pemerintahan harus bersih, keadilan ekonomi harus diciptakan termasuk juga pemerataan, perlunya stabilitas politik, keamanan dan ketertiban sosial, inovasi teknologi, dan ketersediaan inftrastruktur yang memadai. Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Komunitas ASEAN 2015 mempunya desain yang serupa dengan globalisasi yang dicirikan dengan pasar bebas. Komunitas ASEAN 2015 membuat pertukaran tenaga kerja, modal dan perdagangan berlangsung terbuka antar negara ASEAN. Dengan karakter seperti itu, persaingan tidak lagi semata-mata dalam konteks antar negara, tetapi juga antar daerah (region) dan bahkan antar individu. Persaingan antar daerah atau antar kota itu mulai tergambar dari pengukuran GLOBAL CITIES INDEX MENURUT AT KEARNEY TAHUN 2012. Global Cities Index adalah indikator untuk mengukur tingkat daya saing antar kota dengan variabel seperti seperti aktivitas bisnis, SDM, pertukaran informasi, pengalaman budaya dan sumebrdaya politik. Hasil dari survey tersebut antara lain tergambar sebagai berikut: Singapura peringkat 11 dengan angka (3.20), Beijing 14 (3.05), Bangkok 43 (1.93), New Delhi 48 (1.57), Kuala Lumpur 49(1.55),Manila 51 (1.49), dan Jakarta 54 (1.30) dari 66 kota yang disurvey Sebenarnya, dengan sistem otonomi dan desentralisasi, setiap daerah memiliki kesempatan untuk untuk tumbuh dan berkembang secara lebih competitive pasca penerapan ASEAN Economic Community 2015. Hal ini karena setiap daerah telah diberikan ruang dan peluang untuk berkembang sesuai dengan keunikan dan comparative advantage yang dimilikinya. Menurut hemat saya, dengan era Komunitas Ekonomi ASEAN ini, kota-kota yang ada di kawasan ASEAN akan tumbuh menjadi kekuatan dengan keuggulan comparative advantage masing-masing. Seperti, misalnya, Singapura tumbuh sebagai pusat keuangan, Johor sebagai pusat manufacturing, Bangkok sebagai terminal industri agribisnis, Phuket sebagai pusat wisata, dan sebagainya. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah diperlukan daya saing yang besar dari pemerintah daerah Sumatera Barat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Menurut Survey Bank Indonesia yang dituangkan dalam buku Daya Saing Daerah: Konsep dan Pengukurannya di Indoesia (2011), daya saing Sumatera Barat ada di peringkat ke-6 untuk Pulau Sumatera dan 16 untuk seluruh Indonesia. Dimana daya saing tersebut diukur dari kemampuan ekonomi (posisi 16), daya saing infrastruktur (ranking 14), daya saing iklim investasi (ranking 17), kualitas Sumber Daya Manuasia (ranking 13). Abdul Rajib C1C009094 TUGAS 1 Untuk konteks Sumatera, daya saing tertinggi ada di Sumatera Utara (peringkat ke-8 skala nasional), Riau posisi kedua (peringkat ke-10 secara nasional), Lampung posisi ketig (peringkat 13 secara nasional), Jambi peringkat empat (peringkat 13 secara nasional), Sumatera Selatan peringkat lima (ranking 14 secara nasional). Sementara peringkat teratas Indonesia ditempati DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Selain itu, perlu juga diberikan perhatian kepad sektor pariwisata. Dimana destinasi pariwisata Sumbar terhitung cukup lengkap mulai dari wisata pesisir, dataran tinggi hingga wisata religi dan sejarah. Permasalahan yang kita hadapi sekarang adalah bagaimana meningkatkan infrastruktur dan promosi pariwisata agar menjadi salah satu tujuan pariwisata. Jika sektor pariwisata bisa dikembangkan maka akan memberikan multiplier effect berupa tumbuhnya perhotelan dan jasa. Kita harus memberikan perhatian kepada sektor pariwisata karena saat ini tourism telah mengalami perkembangan dalam berbagai segi maupun metode. Saat ini Singapura dikenal sebagai tujuan wisata utama di Asia Tenggara bahkan Asia dan dunia. Hal ini karena mereka punya kreatifitas untuk mengelola sektor-sektor pariwisatanya dengan maksimal mulai dari wisata belanja hingga wisata medis. Demikian juga dengan negara-negara bagian di Malaysia juga yang mulai menggarap dengan serius potensi-potensi wisatanya yang serupa dengan Singapura. Oleh karena itu, untuk mengelola karakter potensi ekonomi tersebut sehingga mampu dikonversikan menjadi nilai tambah maka diperlukan: Pertama, kesamaan dan kesatuan tekad dari seluruh pemerintah daerah di Sumatera Barat. Tanpa adanya kesamaan tekad di dalam era desentralisasi ini kita akan makin sibuk bekerja sendiri tanpa koordinasi. Padahal koordinasi dalam lingkup provinsi diperlukan untuk menjahit berbagai potensi masing-masing daerah sehingga menjadi satu kesatuan yang kokoh dan sinergis. Abdul Rajib C1C009094

Judul: Tugas 1 Profil Ekonomi Indonesia

Oleh: Alda Riyuka Kenzie


Ikuti kami