Contoh Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove.docx

Oleh Cut Meurah Nurul Akla

147,7 KB 8 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Contoh Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove.docx

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Langsa terletak pada koordinat 04º24’35,68” - 04º 33’47,3” LU dan 97º53’14,59”-98º04’42,16” BT dengan ketinggian antara 0–25 m di atas permukaan laut dan luas 262,41 km² (BPS, 2014). Salah satu potensi yang dimiliki oleh Kota Langsa terdapat di bidang kelautan dan perikanan serta wisata. Kegiatan kelautan dan perikanan di Kota Langsa berpusat di Kuala Langsa yang didukung dengan adanya pelabuhan, TPI, dan tambak seluas 2.374 Ha. Kota Langsa menjadikan hutan mangrove di Kuala Langsa sebagai objek ekowisata dengan luas 20,8 Ha (Huda, 2000). Kuala Langsa merupakan wilayah perairan di Kota Langsa yang terletak pada koordinat 04º31’25” LU dan 98º10’9” BT. 1.2. Rumusan Masalah Kuala Langsa merupakan muara kota langsa, Aceh dengan luas hutan mangrove 8000 Ha, jika dari 8000 Ha akan ada wilayah yang dikonversi sebesar 5 Ha untuk dijadikan pelabuhan. 1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Valuasi ekonomi ekosistem mangrove Valuasi ekonomi adalah suatu upaya untuk memberikan nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan terlepas dari apakah nilai pasar tersedia atau tidak (Fauzi, 2010). 2.2. Tujuan valuasi ekonomi ekosistem mangrove Tujuan valuasi ekonomi adalah untuk memberikan gambaran nilai ekonomi yang dimiliki SDAL. nilai ekonomi keseluruhan fungsi dan manfaat SDAL tersebut mencerminkan rasionalisasi untuk pengelolaan SDAL yang benar dan bahwa SDAL mempunyai nilai ekonomi. namun demikian, ada sejumlah nilai yang secara moneter tidak akan dapat diwujudkan karena jumlahnya terlalu besar terutama saat fungsi dan manfaat SDAL ini menghilang. Pendekatan valuasi SDAL ini setidaknya untuk memahami secara ekonomi dalam penetapan harga yang dipandang terlalu rendah, property right yang belum sempurna, ataupun mengukur jasa lingkungan (Baderan, 2013). 2.3. Pendekatan valuasi ekonomi ekonomi ekosistem mangrove Menurut Barbier et. al., (1997) dalam Irmadi (2004), ada tiga jenis pendekatan penilaian sebuah ekosistem alam yaitu impact analysis, partial analysis dan total valuation. Pendekatan impact analysis dilakukan apabila nilai ekonomi ekosistem dilihat dari dampak yang mungkin timbul sebagai akibat dari aktivitas tertentu, misalnya akibat reklamasi pantai terhadap ekosistem pesisir. Pendekatan partial analysis dilakukan dengan menetapkan dua atau lebih alternatif pilihan pemanfaatan ekosistem. Sementara itu, pendekatan total valuation dilakukan untuk menduga total kontribusi ekonomi dari sebuah ekosistem tertentu kepada masyarakat. Pendekatan yang digunakan pada valuasi ekonomi hutan mangrove pada bahasan ini adalah impact analysis. 2 BAB III METODOLOGI 3.1. Tahapan valuasi ekonomi ekosistem mangrove Adapun dijelaskan oleh kementrian lingkungan hidup (2007) tahapan valuasi ekonomi SDAL ini terbagi menjadi 9 tahapan, diantaranya; 1. PENENTUAN VALUASI EKONOMI 2. PENENTUAN TUJUAN 3. IDENTIFIKASI MASALAH 4. IDENTIFIKASI JENIS DAN SEBARAN SDAL 5. IDENTIFIKASI FUNGSI DAN MANFAAT SDAL 6. PENENTUAN METODE VALUASI 7. DATA KUANTIFIKASI 8. PENGHITUNGAN NILAI VALUASI EKONOMI 9. ANALISIS 3.2. Cara melakukan valuasi ekonomi ekosistem mangrove Salah satu cara untuk melakukan valuasi ekonomi adalah dengan menghitung Nilai Ekonomi Total (NET). Nilai Ekonomi Total adalah nilai-nilai ekonomi yang terkandung dalam suatu sumberdaya alam, baik nilai guna maupun nilai fungsional yang harus diperhitungkan dalam menyusun kebijakan pengelolaannya sehingga alokasi dan alternatif penggunaannya dapat ditentukan secara benar dan mengenai sasaran. NET dapat dipecah-pecah ke dalam beberapa komponen. Sebagai ilustrasi misalnya dalam konteks penentuan alternatif penggunaan lahan dari ekosistem terumbu karang. 3 Berdasarkan hukum biaya dan manfaat (a benefit-cost rule), keputusan untuk mengembangkan suatu ekosistem terumbu karang dapat dibenarkan apabila manfaat bersih dari pengembangan ekosistem tersebut lebih besar dari manfaat bersih konservasi. Jadi dalam hal ini manfaat konservasi diukur dengan NET dari ekosistem terumbu karang tersebut. NET ini juga dapat diinterpretasikan sebagai NET dari perubahan kualitas lingkungan hidup (Irmadi, 2004). 3.3. NET (Nilai Ekonomi Total) NET dapat ditulis dalam persamaan matematis sebagai berikut (Bateman et al., 1995 ): NET = NILAI PEMANFAATAN + NILAI BUKAN PEMANFAATAN Keterangan :  RUMUS NILAI PEMANFAATAN : Nilai manfaat langsung + nilai pemanfaatan tidak langsung + nilai pilihan  RUMUS NILAI BUKAN PEMANFAATAN : Nilai warisan + nilai keberadaan Dimana:  NET = Nilai Ekonomi Total  Nilai Pemanfaatan = Yaitu suatu cara penilaian atau upaya kuantifikasi barang dan jasa sumberdaya alam dan lingkungan ke nilai uang (monetize), terlepas ada atau tidaknya nilai pasar terhadap barang dan jasa tersebut.  Nilai Bukan Pemanfaatan = Nilai yang diperoleh dari suatu sumberdaya yang bukan dari pemanfaatan terhadap sumberdaya tersebut.  Nilai manfaat Langsung = Yaitu output (barang dan jasa) yang terkandung dalam suatu sumberdaya yang secara langsung dapat dimanfaatkan. 4  Nilai manfaat Tidak Langsung = Yaitu barang dan jasa yang ada karena keberadaan suatu sumberdaya yang tidak secara langsung dapat diambil dari sumberdaya alam tersebut.  Nilai Pilihan = Niali pilihan ini biasanya diinterpretasikan sebagai nilai keanekaragaman dari suatu ekosistem (Biodiversity)  Nilai Keberadaan = Yaitu nilai keberadaan suatu sumberdaya alam yang terlepas dari manfaat yang dapat diambil daripadanya. Nilai ini lebih berkaitan dengan nilai relijius yang melihat adanya hak hidup pada setiap komponen sumberdaya alam.  Nilai Warisan = Nilai yang berkaitan dengan perlindungan atau pengawetan (preservation) suatu sumberdaya agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang sehingga mereka dapat mengambil manfaat daripadanya sebagai manfaat yang telah diambil oleh generasi sebelumnya. 3.4. Metode Estimasi (Lawenussa, 2012) Nilai pemanfaatan Pemanfaatan langsung : estimasi harga dan potensi hutan mangrove Pemanfaatan tidak langsung : - fungsi biofilter = diestimasi melalui perkiraan kerugian yang diakibatkan oleh sampah - fungsi biologis = diestimasi melalui pendekatan produktivitas - fungsi fisik = diestimasi melalui pendekatan replacement cost - penyerap karbon dan penghasil oksigen = diestimasi melalui pendekatan ganti-rugi Pemanfaatan pilihan : estimasi benefit transfer Nilai bukan pemanfaatan Nilai warisan :- Nilai keberadaan : teknik CVM 5 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Nilai pemanfaatan 4.1.1. Nilai pemanfaatan langsung No Jenis pemanfaatan Jumlah/Ha (n) Ha Harga (Rp) kayu bangunan 15 500.000 (batang) 2 kayu bakar/ranting 225 3.500 (ikat) 5 3 bibit bakau (bibit) 2000 35.000 4 kepiting (kg) 150 35.000 5 kerang (kg) 120 35.000 TOTAL PEMANFAATAN LANGSUNG/5 Ha/Tahun n Total harga (manfaat) (Rp) 1 37.500.000 3.937.500 350.000.000 26.250.000 21.000.000 Rp. 438.687.500,- 4.1.2. Nilai pemanfaatan tidak langsung  Fungsi sebagai biofilter diestimasi melalui perkiraan kerugian yang diakibatkan oleh sampah contoh sampah yang akan di filtrasi oleh mangrove misalnya sampah plastik. Jika tidak ada mangrove, sampah plastik bisa sampai ke lautan, menyebabkan kematian bagi hewan yang memakannya seperti penyu yang menganggap sampah plastik adalah ubur-ubur. Sampah plastik dapat terurai sempurna setelah 1000 tahun di lautan, dan jika sudah terurai, ancaman akan semakin parah, plastik berubah menjadi nano plastik yang dianggap oleh ikan sebagai plankton, kemudian terakumulasi di tubuh ikan, sampai pada top predator dan manusia. Jika sudah terakumulasi didalam tubuh manusia, nano plastik dapat menyebabkan kanker. Harga jasa pembersihan sampah plastik dengan menyewa penyelam di laut setiap sebulan sekali misalnya Rp. 3.000.000,-, maka pembersihan sampah plastik dalam setahun memakan biaya sebesar: 6 Rp. 3.000.000,- × 12 = Rp. 36.000.000,Jika sudah menjadi nano plastik atau nano debris, maka kerugiannya adalah ikan di perairan kuala langsa tidak dapat dikonsumsi lagi, hasil penangkapan ikan di Kuala Langsa perhari adalah 40 Ton dengan harga Rp. 20.000.000,-/ton, 40 ton adalah Rp800.000.000,-/ton/Hari. Maka, kerugian yang didapatkan jika tidak bisa mengkonsumsi ikan di perairan kuala langsa dalam setahun, sebanding dengan harga: Rp. 800.000.000,-/ton/Hari × 365 hari = Rp. 292.000.000.000,Jika sudah terakumulasi didalam tubuh manusia, maka pengobatan untuk 1 orang pasien kanker adalah Rp.100.000.000/bulan. Maka setahun Rp. 1.200.000.000,-/orang. Jika di Kota Langsa yang terkena penyakit kanker akibat nano debris ada 10 orang, maka kerugian selama setahun sebanding dengan harga: Rp. 1.200.000.000,- × 10 = Rp. 10.200.000.000,Maka, sebagai fungsi biofilter, harga dari hutan mangrove Kuala Langsa dengan luas 8000 Ha adalah sebagai berikut: Rp. 36.000.000,- + Rp. 292.000.000.000,- + 10.200.000.000,- = Rp. 302.236.000.000, Fungsi biologis Sebagai nursery, feeding, spawning ground pendekatan produktivitas Contoh produksi perikanan adalah Rp. 23.097.576,-/Ha/Tahun. Jika hutan mangrove yang dikonversi sebanyak 5 Ha, maka nilainya: Rp. 23.097.576,-/Ha/Tahun × 5 Ha = Rp. 115.487.880,- 7  Fungsi fisik Sebagai penahan abrasi dan hempasan angin laut diestimasi melalui replacement cost dengan pembuatan break water Biaya pembuatan break water ukuran 1 m × 11 m × 2,5 m dengan daya tahan 10 tahun adalah Rp. 4.153.880,- Jika panjang hutan mangrove di Kuala Langsa yang akan di konversi adalah 1797,2 m, maka break water dengan daya tahan 10 Tahun adalah : Rp. 4.153.880,- × 1797,2 m = Rp7.465.353.136,Sedangkan pertahun adalah: Rp 7.465 .353.136,00 = Rp. 622.112.761,12  Penyerap karbon dan penghasil oksigen 1 Ha mangrove dapat meyerap karbon sebanyak 110 kg/Hari, maka 5 Ha mangrove dapat menyerap karbon sebanyak 550 kg/hari, maka dalam setahun dapat menyerap karbon sebanyak 6.600 kg/tahun. 1 mangrove menghasilkan oksigen 1,2 kg, dalam 1 Ha terdapat pohon mangrove 91 pohon, maka 1 Ha mangrove dapat menghasilkan oksigen sebanyak 109,2 kg oksigen/hari, 5 Ha mangrove dapat menghasilkan oksigen sebanyak 545 kg/hari, maka dalam setahun oksigen yang dapat diproduksi oleh 5 Ha hutan mangrove adalah 2.725 kg/tahun. Solusi dalam hal penyerap karbon penghasil oksigen adalah dengan cara menanam pohon lain di kawasan lain sebanyak 5 Ha, dengan perkiraan harga tanah 5 Ha yang harus di beli adalah Rp. 7.500.000.000,- dan dengan bibit pohon seharga Rp. 350.000.000,-. Maka pengeluaran dalam hal ini adalah Rp. 7.850.000.000,- 8 nilai keseluruhan pemanfaatan tidak langsung adalah : No Nilai pemanfaatan tidak langsung 1 2 3 4 sebagai biofilter fungsi biologis fungsi fisik penyerap karbon dan penghasil oksigen Total Harga Rp.302.236.000.000 ,Rp. 115.487.880,Rp. 622.112.761,Rp. 7.850.000.000,Rp. 310.823.600.641,- 4.1.3. Nilai Pilihan Nilai pilihan di ekosistem mangrove kuala langsa dengan manfaat biodiversity. Nilai mata uang rupiah perdolar adalah Rp. 13.000,-. Menghitung nilai biodiversity dari mangrove menggunakan benefit transfer. Diasumsikan nilai pilihan = nilai keanekaragaman hayati hutan mangrove kuala langsa US$×15 Ha/Tahun. Maka nilai pilihannya adalah 15 Ha × Rp. 13.000 = Rp.195.000,-. Maka, nilai manfaat pilihan per 5 Ha per tahun adalah Rp. 195.000 × 5 = Rp. 975.000,-/tahun Nilai pemanfaatan pada 5 Ha hutan mangrove selama 1 tahun adalah: No Nilai Harga 1 pemanfaatan langsung Rp. 438.687.500,2 pemanfaatan tidak langsung Rp. 310.823.600.641,3 Pilihan Rp. 975.000,Total Rp. 311.263.263.141,- 4.2. Nilai Bukan Pemanfaatan 4.2.1. Nilai Warisan Tidak ada nilai warisan di hutan mangrove kuala langsa 4.2.2. Nilai Keberadaan Menggunakan teknik CVM dengan valuasi pada survey keinginan masyarakat untuk membayar jika ekosistem mangrove terjaga meskipun masyarakat tidak akan memanfaatkan ataupun mengunjunginya. Sehingga didapatkan nilai manfaat keberadaan yang diperoleh 9 sebesar Rp. 8.500.000,-/Ha/tahun, jika 5 Ha, maka nilai manfaat keberadaannya adalah = Rp. 42.500.000,Nilai bukan pemanfaatan pada hutan mangrove Kuala Langsa adalah = Rp. 42.500.000,Maka, nilai valuasi ekonomi hutan mangrove kuala langsa yang akan dikonversi sebanyak 5 Ha adalah : Nilai Valuasi Ekonomi = Nilai pemanfaatan + Nilai bukan pemanfaatan = Rp. 311.263.263.141,-+ Rp. 42.500.000,- = Rp. 311.305.763.141,- 311.305 .763.141 = Rp. 62.261.152.628,-/Ha 5  Nilai valuasi ekonomi per Ha =  Nilai valuasi ekonomi sisa hutan mangrove setelah dikonversi = 8000 Ha-55 Ha = 7945 × Rp. 62.261.152.628,-/Ha = Rp. 494.664.875.629.000,-  Harga pembangunan pelabuhan = Rp. 1.200.000.000.000,- 10 BAB IV KESIMPULAN 1. Nilai valuasi ekonomi hutan mangrove Kuala Langsa/Ha/Tahun adalah Rp. 62.261.152.628,-/Ha 2. Nilai valuasi ekonomi hutan mangrove Kuala Langsa/5 Ha/Tahun adalah Rp. 311.305.763.141,3. Konversi lahan di Kuala Langsa menjadi pelabuhan tidak memberikan dampak negatif bagi lingkungan, karena yang dikonversi hanya 0,9% dari total luas hutan mangrove di Kuala Langsa 11 DAFTAR PUSTAKA Baderan, D.W. 2013. Model Valuasi Ekonomi Sebagai Dasar Untuk Rehabilitasi Kerusakan Hutan Mangrove di Wilayah Pesisir Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Disertasi. Fakultas Geografi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Batemen, Ian J., Julii S. Brained, Andrew A. Lovett. 1995. Modelling woodland recreation demand using geographical information system : a benefit transfer study. CSERGE Working paper GEC 95-06, CSERGE. University of east anglia, Norwich. Fauzi, akhmad. 2010. Ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan: teori dan aplikasi. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama. Irmadi. 2004. Konsep Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam.http://bungdanon.blogspot.com/konsepvaluasiekonomisumbedayaalam. Diakses 2 April 2017. Kementerian lingkungan hidup. 2007. Tentang valuasi ekonomi. Jakarta. Lawelussa, Irha. 2012. Valuasi ekonomi ekosistem http://valuasi.ekonomi.ekosistem.mangrove. Diakses pada 2 April 2017. 12 mangrove.

Judul: Contoh Valuasi Ekonomi Hutan Mangrove.docx

Oleh: Cut Meurah Nurul Akla


Ikuti kami