Makalah Ilmu Nutrisi Ruminansia Lanjutan.docx

Oleh Resti Rianita

143,2 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Ilmu Nutrisi Ruminansia Lanjutan.docx

MAKALAH ILMU NUTRISI RUMINANSIA LANJUTAN EFEK KEKURANGAN ENERGI PADA RUMINANSIA Oleh: Resti Rianita 1720612011 PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2017 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Produktivitas ternak sebagian besar ditentukan oleh kualitas dan kuantitas pakan yang dikonsumsi. Kualitas pakan mencakup pengertian kandungan berbagai zat gizi, seperti energi, protein, mineral, vitamin serta kandungan zat-zat anti nutrisi seperti tannin, lignin dan senyawa-senyawa sekunder lain. Interaksi antar komponen zat gizi maupun zat anti nutrisi perlu mendapatkan perhatian dalam upaya menyusun formula pakan yang efisien dan memenuhi kebutuhan ternak untuk berproduksi tinggi. Degradasi bahan pakan sumber energi akan mempengaruhi pembentukan asam-asam lemak mudah terbang di dalam rumen yang merupakan sumber energi utama bagi ternak ruminansia. Karbohidrat digunakan sebagai sumber energi bagi ternak. Contoh bahan pakan sumber energi antara lain hijauan seperti rumput gajah, jagung, dedak padi, pollard, onggok, dan molasses. Jika karbohidrat mengalami kekurangan dalam tubuh, maka tubuh akan menggunakan protein dan lemak sebagai sumber energi. Energi karbohidrat digunakan ternak sebanyak 95% sedangkan energi protein hanya 70%, sehingga penggunaan energi karbohidrat lebih efisien dibandingkan protein dan lemak. Ternak membutuhkan energi untuk mempertahankan hidupnya dan berproduksi secara normal (Kartadisastra, 1997). Energi didapatkan dari hasil metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh ternak itu sendiri. Energi sangat penting untuk hidup pokok, produksi dan reproduksi. Kekurangan energi akan menghambat pertumbuhan pada hewan muda dan kehilangan bobot badan pada hewan dewasa (Tillman et al., 1991). Bila energi pakan tidak memenuhi kebutuhan, maka kebutuhan tersebut akan dipenuhi dengan membongkar timbunan lemak tubuh. Jika timbunan lemak tubuh sudah habis maka kebutuhan energi tersebut dipenuhi dengan membongkar protein tubuh (Sutardi, 1981). Ketosis merupakan penyakit perpanjangan dari proses metabolisme normal yang terjadi pada ternak sapi laktasi. Ketosis adalah masalah kekurangan glukosa (gula) dalam darah dan jaringan tubuh. Glukosa berasal dari karbohidrat yang merupakan komponen utama dari pakan sumber hijauan atau serat. Pada masa bunting tua, glukosa digunakan untuk fungsi ideal tubuh dan perkembangan pedet. Selain gangguan metabolis kekurangan energi dapat menyebabkan gangguan reproduksi seperti anestrus. Anestrus dapat terjadi pada ternak yang diberikan pakan kualitas dan kuantitas rendah seperti kekurangan karbohidrat, protein dan lemak sehingga mempengaruhi aktivitas ovarium dapat menekan pertumbuhan folikel dan mendorong terjadinya hipofungsi ovarium disertai anestrus. Faktor nutrisi terutama sumber energi merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan untuk menekan terjadinya gangguan metabolis dan reproduksi seperti ketosis dan anestrus. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas didapatkan sebuah masalah yaitu bagaimana efek kekurangan energi pada ternak ruminansia. 1.3 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui efek kekurangan energi pada ternak ruminansia. II ISI DAN PEMBAHASAN 2.1 Penggunan Energi Energi merupakan indikator utama dalam menentukan kebutuhan pakan ruminansia. Energi dapat berasal dari berbagai sumber bahan organik pakan, termasuk serat, karbohidrat, lemak dan protein. Potensi masing-masing sumber bahan organik tersebut sebagai penyedia energi bervariasi sesuai dengan tingkat degradabilitas dan fermentabilitasnya. Komponen serat yang menjadi sumber energi utama pada ternak ruminansia memerlukan aktivitas mikroba agar dapat didegradasi menjadi monomer atau polimer dari senyawa dasar penyusunnya, yaitu hexose dan pentose. Proses degradasi dan fermentasi serat melibatkan berbagai aktivitas, antara lain mekanis, ensimatis dan metabolis yang merupakan pengaruh interaksi antara mikroba dengan faktor-faktor lingkungan di dalam rumen. Degradasi bahan pakan sumber energi akan mempengaruhi pembentukan asam-asam lemak mudah terbang di dalam rumen yang merupakan sumber energi utama bagi ternak ruminansia. Pengaturan konsumsi energi berkaitan dengan sistem saraf (neuro system) yang melibatkan central nervous system (CNS) dan mengontrol tingkat konsumsi energi yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan ternak. Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu teori kebutuhan pakan menyatakan bahwa ternak akan berhenti makan apabila kebutuhan energi sudah tercukupi. Mekanisme berhenti makan dan memulai makan ini ditentukan oleh sinyalsinyal (impuls) saraf yang sampai ke CNS dan akan mengatur sekresi hormon-hormon berkaitan dengan metabolisme energi di dalam jaringan tubuh ternak serta tindak lanjut berikutnya. Disamping mekanisme saraf tersebut, konsumsi pakan (energi) juga dipengaruhi oleh kapasitas saluran cerna, terutama kompartemen retikulo-rumen. Ternak akan berhenti makan apabila kapasitas retikulo-rumen untuk menampung massa digesta sudah mencapai batas maksimal. Kebutuhan energi dipengaruhi oleh kondisi ternak serta faktor lingkungan. Pada daerah tropis, kebutuhan energi akan lebih tinggi dibandingkan di daerah subtropis, karena kualitas pakan yang pada umumnya relatif lebih rendah. Pakan berkualitas rendah menyebabkan heat increment yang lebih tinggi, dan mengakibatkan efisiensi pakan yang lebih rendah. Heat increment adalah energi yang dikeluarkan ternak untuk proses pencernaan pakan di dalam saluran cerna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan energi untuk hidup pokok (maintenance) ternak di daerah tropis sekitar 30% lebih tinggi dibandingkan di daerah subtropis. Ukuran tubuh (body size) ternak juga mempengaruhi kebutuhan energi. Ternak dengan ukuran tubuh yang lebih besar memerlukan energi untuk maintenance lebih tinggi dibandingkan ternak dengan ukuran tubuh lebih kecil. Perkiraan kebutuhan energi termetabolis untuk hidup pokok (MEm) pada kambing prasapih, periode pertumbuhan tipe pedaging, periode pertumbuhan tipe perah, periode pertumbuhan tipe lokal maupun dewasa berturut-turut adalah 485, 489, 580, 489 dan 462 kJ/kg bobot badan metabolik, sedangkan kebutuhan energi untuk produksi (MEg) adalah 13,4, 23,1, 23,1, 19,8 dan 28,5 kJ/g pertambahan bobot hidup harian (PBHH) (Luo et al., 2004). Perbedaan kemampuan mikroba rumen dalam mencerna pakan turut menentukan efisiensi pemanfaatan energi yang ada di dalam pakan. Sebagai contoh, ternak kerbau mempunyai mikroba rumen dengan kemampuan mencerna pakan berserat yang lebih tinggi dibandingkan domba atau sapi. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya ragam mikroba yang berlainan antar spesies ternak. Pakan berkualitas rendah dengan nilai kecernaan rendah cenderung menghasilkan gas metana yang lebih tinggi. Hal ini juga menunjukkan bahwa sebagian energi yang terkandung di dalam pakan akan terbuang sebagai energi gas metana yang jumlahnya dapat bervariasi dari 2 – 15% dari energi yang ada di dalam pakan (Haryanto dan Thalib, 2009). Pemberian pakan jerami gandum (wheat straw) yang diproses menggunakan 1,5 kg urea/100 kg bahan kering menyebabkan domba jantan muda berada pada kondisi kekurangan energi (negative energy balance). Hal ini disebabkan oleh kecernaan bahan kering yang lebih rendah dibandingkan pada pemberian jerami gandum yang diproses menggunakan 4 kg urea/100 kg bahan kering dan disimpan selama 21 hari, atau diproses dengan 3 kg urea + 3 kg Ca(OH)2 dan disimpan selama 21 hari. Produksi metana per kg bahan organik tercerna lebih rendah apabila pakan yang diberikan adalah jerami gandum yang diproses dan disimpan, dibandingkan tanpa penyimpanan (Sahoo et al., 2000). Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi pemanfaatan energi pakan yang lebih tinggi oleh ternak berhubungan dengan kualitas pakan yang lebih baik. 2.2 Ketosis Ketosis adalah kelainan fisiologis yang biasanya terjadi pada sapi perah beberapa minggu post partum. Tanda-tanda ketosis antara lain anorexia, atony rumen, konstipasi, turunnya produksi susu dan penurunan berat badan. Meningkatnya konsentrasi badan-badan keton dalam darah disebut ketonemia (hiperketonemia) dan meningkatnya konsentrasi badanbadan keton dalam urin disebut ketonuria. Keadaan keseluruhari ini disebut juga ketosis (Harper, 1979). Ketosis merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di sapi perah. Ketosis adalah kelainan yang umumnya mengganggu sapi perah pada minggu-minggu pertama sesudah melahirkan. Ketosis pada sapi perah di duga akibat ransum ternak yang kekurangan karbohidrat atau absorsi karbohidrat yang terganggu. Di literatur lainnya, disebutkan ketosis terjadi akibat kekurangan glukosa di dalam darah dan tubuh. Ketosis merupakan suatu kekacauan metabolisme yang dapat ditimbulkan oleh tingginya lemak dan rendahnya karbohidrat dalam ransum. Ketosis dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu primary ketosis dan secondary ketosis. Ketosis primer adalah kelainan metabolik yang terjadi bila tidak terdapat kondisi patologis pada sapi tersebut. Ketosis sekunder biasanya diikuti kelainan seperti demam, mastitis atau placenta yang diretensi. 2.2.1 Penyebab Ketosis Pada masa kebuntingan tua kebutuhan akan glukosa meningkat karena glukosa pada masa itu sangat dibutuhkan untuk perkembangan pedet dan persiapan kelahiran. Sedangkan pada masa awal laktasi glukosa dibutuhkan sekali untuk pembentukan Laktosa (gula susu) dan lemak, sehingga jika asupan karbohidrat dari pakan kurang maka secara fisiologis tubuh akan berusaha mencukupinya dengan cara glukoneogenesis yang biasanya dengan membongkar asam lemak dalam hati. Efek samping dari pembongkaran asam lemak di hati untuk di dapatkan hasil akhir glukosa akan meningkatkan juga hasil samping yang disebut benda-benda keton (acetone, acetoacetate, β-hydroxybutyrate (BHB)) dalam darah. Ketosis dapat bersifat primer, seperti pada sapi yang mempunyai produksi susu tinggi dengan pemberian karbohidrat dalam pakan yang kurang. Tetapi ketosis juga bisa bersifat skunder, yaitu akibat gangguan penyakit tertentu yang menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme karbohidrat meskipun karbohidrat dalam pakan yang diberikan cukup. Kejadian ketosis yang bersifat skunder dapat terjadi akibat kasus Displasia Abomasum, Metritis, Peritonitis, Mastitis atau penyakit-penyakit yang lain menyebabkan penurunan nafsu makan dalam waktu yang lama. 2.2.2. Gejala pada Sapi yang mengalami Ketosis Manifestasi klinis ketosis dapat dibedakan menjadi ketosis nervosa dan ketosis digesti. Pada awal kejadian akan sering terlihat adanya gejala syaraf seperti depresi, eksitasi, dan tampak liar, jika kondisi semakin buruk maka sapi akan semakin lesu dan tidak tanggap terhadap rangsangan suara maupun mekanis. Gangguan ini juga terjadi pada syaraf otonom yang dapat mengakibatkan gangguan pencernaan yang terlihat berupa hipersalivasi, kerja rumen yang meningkat atau menurun, peningkatan dan pengurangan frekuensi pengeluaran tinja. Gejala-gejala ini mirip dengan kejadian indigesti. Gejala lainnya yang terlihat adalah sapi mengalami penurunan nafsu makan, penurunan prosuksi susu, dan bau yang khas pada napas yang terjadi pada beberapa hewan. Bau khas pada napas ini adalah bau aseton. Bau aseton ini terkadang juga terdapat pada susu dan urin. Hal ini terjadi karena abnormalitas akumulasi badan keton di dalam darah dan jaringan. Sapi juga mengalami hipersalivasi, menjilat-jilat suatu abjek barkali-kali, otot bahu dan pinggang tampak gemetar. Sapi yang mengalami ketosis, tidak makan dalam waktu yang panjang akan mengalami kerusakan hati yang permanen dan mengalami ketosis kronik. 2.2.3 Penanggulangan dan Pencegahan Ketosis pada Sapi Perah Suatu cara untuk mengetahui kondisi ketosis yang terdapat pada sapi perah yaitu dengan cara mengukur tingkat glukosa darah dan tingkat kadar badan-badan keton dalam darah. Test kualitatif yaitu menggunakan Rothera test, dengan menduga badan keton dalam urin. Tetapi bila test urin positif belumlah dapat dikatakan akurat. Perlu dilakukan dilakukan test badan keton dalam susu yaitu dengan Ketotest Denco (Schultz, 1970). Fox (1970) menganjurkan pengobatan ketosis dengan menggunakan propylene glicol. Untuk mencegah terjadinya ketosis pada sapi perah yaitu dengan mengontrol makanan dan management yang baik. Caranya yaitu :  Tidak memberikan bahan yang mengandung lemak yang berlebihan pada saat setelah melahirkan.  Meningkatkan pemberian konsentrat setelah melahirkan  Memberikan hijauan yang berkualitas baik minimal 1/3 dari total bahan kering ransum.  Jangan mengubah secara tiba-tiba susunan ransum.  Menghindari pemberian hay dan silase yang tinggi asam butiratnya.  Memonitor kondisi keotik setiap minggu dengan mengetes susu, memberi makan propylene glikol untuk sapi-sapi yang mudah kena ketosis.  Menyeleksi sapi-sapi yang sehat dan mempunyai nafsu makan yang baik.  Menyediakan batas maksimum konsumsi energi dan menghindari ternak dari stress (Schultz, 1970). 2.3 Anestrus Kekurangan nutrisi, terutama untuk jangka waktu yang lama, maka akan mempengaruhi sistem reproduksi, efisiensi reproduksi menjadi rendah, dan akhirnya produktivitasnya rendah. Kekurangan nutrisi akan mempengaruhi fungsi hipofisis anterior sehingga produksi dan sekresi hormon FSH dan LH rendah karena tidak cukupnya ATP, akibatnya ovarium mengalami hipofungsi. Pada kasus respon ovulasi terhadap nutrisi, kedua elemen mekanisme dapat beroperasi. Melalui pengaruh ini terhadap feedback hormon mengontrol sekresi gonadotrophin, mungkin nutrisi, dilain pihak, perubahan level dan durasi memulai folikel gonadotrophin-dependent terhadap FSH. Pada pihak lain, sejak pengaruh nutrisi terhadap sirkulasi FSH konsentrasi tetap samar, hal ini juga telah dinyatakan bahwab nutrisi (glukosa, asam-asam amino) dan nutrisi yang berhubungan dengan metabolit (insulin, growth hormon, IGFs dan IGFs binding protein) yang secara tak langsung berpengaruh pada respon ovulasi terhadap nutrisi, mungkin berlangsung pada level ovarium menurunkan jumlah kebutuhan FSH untuk mendukung folikel-folikel gonadotrophindependent (Downing and Scaramuzzi, 1991). Dengan memperhatikan mekanisme feedback hormon ovarium, oestradiol-17β mungkin bermain peran penting pada perantara, kemudian disebut “nutritional effects” yang meningkatkan sekresi feses pada domba dengan pakan baik mengarah untuk mengurangi sirkulasi konsentrasi plasma (Adam et al., 2004) dan berhubung penurunan pada oestradiol feed back yang diharapkan akan meningkatkan laju ovulasi (Payne et al., 1991). Downing et al., (1995) berpendapat aksi ovarium langsung hingga meningkatkan keberadaan glucosa. Berhubung keberlangsungan insulin meningkat pada plasma juga telah diteliti ketika laju ovulasi meningkat baik infusi glucosa (Downing et al., 1995) selama 5 hari pada akhir tahap luteal dari siklus esterus. Menggunakan model ovarium auto-transplanted, Downing (1994) menunjukan bahwa ketika infusi glukosa atau insulin sendiri, berpengaruh terhadap sekresi steroid ovarium, infusi kombinasinya menurunkan sekresi baik androstenedione maupun oestradiol pada respon terhadap GnRH menstimulasi LH, keterlibatan perubahan feedback steroid pada respon ovulasi. Pengaruh lainnya pada saat ovulasi, transport sperma, fertilisasi, pembelahan sel, perkembangan embrio, dan fetus. Kekurangan nutrisi yang terjadi pada masa pubertas hingga partus pertama akan mengakibatkan birahi tenang, kelainan ovulasi, gagal konsepsi, serta kematian embrio dan fetus. Pada ovarium, feed intake rendah yang menunda pubertas adalah disertai penurunan perkembangan folikel ovarium, pada sapi betina adalah folikel dominan lebih kecil. Hal ini terjadi meski sekresi gonadotropin tercukupi. Hubungan antara nutrisi, laju pertumbuhan dan umur pubertas pada jantan mirip dengan pada betina. Sepintas, jantan dibesarkan pada nutrisi rendah berlawanan dengan nutrisi tinggi yang mencapai pubertas pada usia lebih tua dan bobot badan lebih ringan danpada musim pemkembangbiakan seperti domba, kambing dan rusa, kekurangan nutrisi dapat menunda pubertas selama setahun penuh. Pada domba dewasa, 6-7 minggu menunda dalam respon pada jumlah spermatozoa pada pakan, refleksi waktu tesebut untuk perkembangan sperical spermatids pada germinal epithelium untuk pematangan spermatozoa pada distal cauda epidydimis. 2.3.1 Penanggulangan dan Pencegahan Anestrus Penggunaan PMSG pada kasus anestrus juga telah banyak dilaporkan dapat menginduksi timbulnya estrus (Putro, 1991 ; Hafez, 2000). PMSG dapat mengaktivitas FSH yang tinggi dan sedikit aktivitas LH sehingga mampu memicu perkembangan folikel dan terjadinya estrus (Hafez, 2000). Gabungan hormon estrogen dengan progesteron juga pernah dicoba pada sapi perah yang mengalami anestrus postpartum, namun kurang berhasil dibandingkan hormon gonadotropin, dan penanganan yang paling efektif pada kasus hipofungsi ovaria adalah pemberian FSH yang diikuti dengan pemeberian LH (Sworh et al., 1982). Penanganan dan terapi anestrus lainnya: a. Perbaikan manajemen pakan ternak b. Pemberian obat-obatan berupa antiobiotik dan anthelmetik pada penyakit yang disebabkan oleh cacing dan virus. c. Pada kasus corpus luteum persisten, sista luteum, dan sista corpora luteum dapat diobati dengan menggunakan PGF2α. d. Penggunaan estradiol sintetik pada kasus silent heat dan subestrus. e. Untuk subestrus dapat dideteksi dengan menggunakan pejantan teaser pda betina estrus, sehingga saat itu juga dapat di IB. f. Pemberian LH sintetik pada kasus sista ovari. g. Pada kasus kematian fetus, dapat dipacu dengan oksitosin untuk memacu kontraksi myometrium untuk pengeluaran fetus. h. Pada masa laktasi untuk mengurangi kasus anestrus dapat disuntikkan FSH, LH, dan GnRH. IV KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan diatas adalah kekurangan energi akan menghambat pertumbuhan pada hewan muda dan kehilangan bobot badan pada hewan dewasa. Bila asupan karbohidrat dari pakan kurang maka secara fisiologis tubuh akan berusaha mencukupinya dengan cara glukoneogenesis yang biasanya dengan membongkar asam lemak dalam hati. Efek samping dari pembongkaran asam lemak di hati untuk di dapatkan hasil akhir glukosa akan meningkatkan juga hasil samping yang disebut bendabenda keton (acetone, acetoacetate, β-hydroxybutyrate (BHB)) dalam darah yang disebut dengan ketosis. Selain dapat menyebabkan gangguan metabolisme kekurangan energi dapat menyebabkan gangguan reproduksi salah satu anestrus. Cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan ketosis dan anestrus adalah dengan pendekatan manajemen pakan serta perlu adanya sinkronisasi sumber energy dan protein dalam pemberian pakan. DAFTAR PUSTAKA Adams, N.R. Abordi, J.A., Briegel, J.R. and Sanders, M.R., 1994. Effect of diet on the Clearance of estradiol-17β in the ewe. Biol. Reprod., 51: 668-674. Downing, J.A. and Scaramuzzi, R.J., 1991. Nutrient effect on ovulation rate, ovarian function and the secretion of gonadotrophin and metabolic hormones in sheep. J. Reprod. Fertil., Suppl., 43: 209-227. Downing, J.A., 1994. Interactions of nutrition and ovulation rate in ewes. Ph.D. Thesis, Macquarie University, Australia. Fox F.H. 1970. Clinical Diagnosis and Treatment of Ketosis. J. Dairy Sci. 54 no 6 : 974-979. Function and the secretion of gonadotrophin and metabolic hormones in sheep. J. Harper H.A., V.W. Roowell and P. A. Mayer. 1979. Terjemahan Muliawan, Biokimia Ed ke 17. Lange Medical Publ. Los Altos. California. USA. Penerbit Buku Kedokteran E.G.C. Jakarta. HARYANTO, B. Dan A. THALIB. 2009. Emisi metana dari fermentasi enterik: kontribusinya secara nasional dan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada ternak. Wartazoa. 19(4): 157 – 165. LUO, J., A.L. GOETSCH, T. SAHLU, I.V. NSAHLAI, Z.B. JOHNSON, J.E. MOORE, M.L. GALYEAN, F.N. OWENS and C.L. FERRELL. 2004. Prediction of metabolizable energy requirements for maintenance and gain of preweaning, growing and mature goats. Small Rum. Res. 53(3): 231 – 252. Macquarie University, Australia Reprod. Fertil., Suppl., 43: 209-227. SAHOO, B. M. L. SARASWAT, N. HAQUE and M. Y. KHAN. 2000. Energy balance and methane production in sheep fed chemically treated wheat straw. Small Rum. Res. 35(1): 13 – 19. Schultz L.H. 1970. Management and Nutritional Aspects of Ketosis .J. Dairy Sci. 54 no 6 ;962.971. Sutardi, T. 1981. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid I Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. TILLMAN, A.D., H. HARTADI, S. REKSOHADIPRODJO, S. PRAWIROKUSUMO, dan S. LEBDOSOEKOJO. 1991 Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Judul: Makalah Ilmu Nutrisi Ruminansia Lanjutan.docx

Oleh: Resti Rianita

Ikuti kami