Sejarah Ilmu Keperawatan Dan Perkembangannya

Oleh Jeneri Alfa Sela Mangande

164,9 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Sejarah Ilmu Keperawatan Dan Perkembangannya

Sejarah Ilmu Keperawatan dan Perkembangannya KEPERAWATAN merupakan suatu profesi yang difokuskan pada perawatan individu, keluarga, dan komunitas dalam mencapai, memelihara, dan menyembuhkan kesehatan yang optimal dan berfungsi. Definisi modern mengenai keperawatan didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan dan suatu seni yang memfokuskan pada mempromosikan kualitas hidup yang didefinisikan oleh orang atau keluarga, melalui seluruh pengalaman hidupnya dari kelahiran sampai asuhan pada kematian. Sejarah keperawatan di dunia diawali pada zaman purbakala (Primitive Culture) sampai pada munculnya Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan yang berasal dari Inggris. Perkembangan keperwatan sangat dipengaruhi oleh perkembangan struktur dan kemajuan peradaban manusia. Perkembangan keperawatan diawali pada: 1. Zaman Purbakala (Primitive Culture) Manusia diciptakan memiliki naluri untuk merawat diri sendiri (tercermin pada seorang ibu). Harapan pada awal perkembangan keperawatan adalah perawat harus memiliki naluri keibuan (Mother Instinc). Dari masa Mother Instic kemudian bergeser ke zaman dimana orang masih percaya pada sesuatu tentang adanya kekuatan mistic yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini dikenal dengan nama Animisme. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan karena kekuatan alam/pengaruh gaib seperti batu-batu, pohon-pohon besar dan gunung-gunung tinggi. Kemudian dilanjutkan dengan kepercayaan pada dewa-dewa dimana pada masa itu mereka menganggap bahwa penyakit disebabkan karena kemarahan dewa, sehingga kuil-kuil didirikan sebagai tempat pemujaan dan orang yang sakit meminta kesembuhan di kuil tersebut. Setelah itu perkembangan keperawatan terus berubah dengan adanya Diakones & Philantrop, yaitu suatu kelompok wanita tua dan janda yang membantu pendeta dalam merawat orang sakit, sejak itu mulai berkembanglah ilmu keperawatan. 2. Zaman Keagamaan Perkembangan keperawatan mulai bergeser kearah spiritual dimana seseorang yang sakit dapat disebabkan karena adanya dosa/kutukan Tuhan. Pusat perawatan adalah tempat-tempat ibadah sehingga pada waktu itu pemimpin agama disebut sebagai tabib yang mengobati pasien. Perawat dianggap sebagai budak dan yang hanya membantu dan bekerja atas perintah pemimpin agama. 3. Zaman Masehi Keperawatan dimulai pada saat perkembangan agama Nasrani, dimana pada saat itu banyak terbentuk Diakones yaitu suatu organisasi wanita yang bertujuan untuk mengunjungiorang sakit sedangkan laki-laki diberi tugas dalam memberikan perawatan untuk mengubur bagi yang meninggal. Pada zaman pemerintahan Lord-Constantine, ia mendirikan Xenodhoecim atau hospes yaitu tempat penampungan orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan. Pada zaman ini berdirilah Rumah Sakit di Roma yaitu Monastic Hospital. 4. Pertengahan abad VI Masehi Pada abad ini keperawatan berkembang di Asia Barat Daya yaitu Timur Tengah, seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan keperawatan tidak lepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam. Abad VII Masehi, di Jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti Ilmu Pasti, Kimia, Hygiene dan obat-obatan. Pada masa ini mulai muncul prinsip-prinsip dasar keperawatan kesehatan seperti pentingnya kebersihan diri, kebersihan makanan dan lingkungan. Tokoh keperawatan yang terkenal dari Arab adalah Rufaidah. 5. Permulaan abad XVI Pada masa ini, struktur dan orientasi masyarakat berubah dari agama menjadi kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan dan semangat kolonial. Gereja dan tempat-tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh orde-orde agama untuk merawat orang sakit. Dengan adanya perubahan ini, sebagai dampak negatifnya bagi keperawatan adalah berkurangnya tenaga perawat. Untuk memenuhi kurangnya perawat, bekas wanita tuna susila yang sudah bertobat bekerja sebagai perawat. Dampak positif pada masa ini, dengan adanya perang salib, untuk menolong korban perang dibutuhkan banyak tenaga sukarela sebagai perawat, mereka terdiri dari orde-orde agama, wanita-wanita yang mengikuti suami berperang dan tentara (pria) yang bertugas rangkap sebagai perawat. Sejarah dan Perkembangan Keperawatan di Indonesia Sejarah dan perkembangan keperawatan di Indonesia dimulai pada masa penjajahan Belanda sampai pada masa kemerdekaan. 1. Masa Penjajahan Belanda Perkembangam keperawatan di Indonesia dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi yaitu pada saat penjajahan kolonial Belanda, Inggris dan Jepang. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut Velpeger dengan dibantu Zieken Oppaser sebagai penjaga orang sakit. Pada 1799 didirikan rumah sakit Binen Hospital di Jakarta untuk memelihara kesehatan staf dan tentara Belanda. Usaha pemerintah kolonial Belanda pada masa ini adalah membentuk Dinas Kesehatan Tentara dan Dinas Kesehatan Rakyat. Daendels mendirikan rumah sakit di Jakarta, Surabaya dan Semarang, tetapi tidak diikuti perkembangan profesi keperawatan, karena tujuannya hanya untuk kepentingan tentara Belanda. 2. Masa Penjajahan Inggris (1812 – 1816) Gurbernur Jenderal Inggris ketika VOC berkuasa yaitu Raffles sangat memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya yaitu kesehatan adalah milik manusia, ia melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi antara lain, pencacaran umum, cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa, kesehatan para tahanan. Setelah pemerintahan kolonial kembali ke tangan Belanda, kesehatan penduduk lebih maju. Pada 1819 didirikan RS. Stadverband di Glodok Jakarta dan pada 1919 dipindahkan ke Salemba yaitu RS. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Pada 1816 – 1942 berdiri rumah sakit – rumah sakit hampir bersamaan yaitu RS. PGI Cikini Jakarta, RS. ST Carollus Jakarta, RS. ST. Boromeus di Bandung, RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan itu berdiri pula sekolah-sekolah perawat. 3. Zaman Penjajahan Jepang (1942 – 1945) Pada masa ini perkembangan keperawatan mengalami kemunduran, dan dunia keperawatan di Indonesia mengalami zaman kegelapan. Tugas keperawatan dilakukan oleh orang-orang tidak terdidik, pimpinan rumah sakit diambil alih oleh Jepang, akhirnya terjadi kekurangan obat sehingga timbul wabah. 4. Zaman Kemerdekaan Pada 1949 mulai adanya pembangunan dibidang kesehatan yaitu rumah sakit dan balai pengobatan. Pada 1952 didirikan Sekolah Guru Perawat dan sekolah perawat setimgkat SMP. Pendidikan keperawatan profesional mulai didirikan 1962 yaitu Akper milik Departemen Kesehatan di Jakarta untuk menghasilkan perawat profesional pemula. Pendirian Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) mulai bermunculan, pada 1985 didirikan PSIK ( Program Studi Ilmu Keperawatan ) yang merupakan momentum kebangkitan keperawatan di Indonesia. Pada 1995 PSIK FK UI berubah status menjadi FIK UI. Kemudian muncul PSIK-PSIK baru seperti di Undip, UGM, UNHAS dan lain-lain. TEORI KEPERAWATAN A. Pengertian Teori a. Definisi teori Teori adalah hubungan beberapa konsep atau kerangka konsep atau definisi yang memberikan suatu pandangan sistematis atau gejala-gejala atau fenomena-fenomena dengan menentukan hubungan spesifik antara konsep-konsep tersebut dengan menguraikan, menerangkan, atau mengendalikan suatu fenomena. b. Definisi teori keperawatan Menurut (steven, 1984, dalam buku taylor, c, ddk) teori keperawatan adalah usaha untuk menguraikan dan menjelaskan berbagai fenomena dalam keperawatan. B. Karakteristik Teori Keperawatan 1. Teori keperawatan mengidenifikasi dan di definisikan sebagai hubungan yang spesifik dari konsep keperaan sebagai hubungan antara konsep manusia, konsep sehat sakit keperawaan dan konsep lingkungan. 2. Teori keperawatan haus bersifat ilmiah. Artinya teori keperawatan di gunakan dengan alasan ataurasional yang jelas dan di kembangkan dengan menggunakan cara berpikir yang logis. 3. Teori keperawatan bersifat sederhana dan umum. Artinya teori keperawatan dapat di gunakan pada masalah yang sederhana maupun masalah yang kompleks sesuai dengan situasi praktik keperawatan. 4. Teori keperawatan berperan dalam memperkaya body of knowledge keperawatan yang di lakukan melalui penelitian. 5. Teori keperawatan menjadi pedoman dan berperan dalam memperbaiki praktik keperawatan. C. Tujuan Teori Keperawatan 1. Adanya teori keperawatan diharapkan dapat memberikan alasan-alasan tentang kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan keperawatan, baik bentuk tindakan maupun model praktek keperawatan sehingga permasalahan dapat teratasi. 2. Adanya teori keperawatan membantu para anggota profesi perawat untuk memehami berbagai pengetahuan dalam pemberian asuhan keperawatan kemudian dapat memberikan dasar dalam penyelesaian berbagai masalah keperawatan. 3. Adanya teori keperawatan membantu proses memberikan arahan yang jelas bagi tindakan keperawatan sehingga segala bentuk tindakan dapat dipertimbangkan. 4. Adanya teori keperawatan juga dapat memberikan dasar dari asumsi dan filosofi keperawatan sehingga pengetahuan dan pemahaman dalam tindakan keperawatan dapat terus bertambah dan berkembang. D. Falsafah Keperawatan Definisi Falsafah Keperawatan Falsafah keperawatan adalah dasar pemikiran yang harus dimiliki perawat sebagai kerangka dalam berfikir, pengambilan keputusan dan bertindak yang diberikan pada klien dalam rentang sehat sakit, yang memandang manusia sebagai mahluk yang holistic, yang harus dipenuhi kebutuhan biologi, psikologi, social, cultural dan spiritual melalui upaya asuhan keperawatan yang komprehensif, sistematis, logis, dengan memperhatikan aspek kemanusiaan bahwa setiap klien berhak mendapatkan perawatan tanpa membedakan suku, agama, status social dan ekonomi. Perbedaan falsafah keperawatan dengan falsafah dari disiplin ilmu lainnya Falsafah keperawatan memandang manusia secara holistic sehingga harus dipenuhi kebutuhannya secara utuh/ holistic dan komprehensif juga. Hal ini tidak ditemukan pada falsafah profesi yang lain. Esensi keperawatan memandang bahwa pasien adalah mitra yang selalu aktif dalam pelayanan kesehatan. Contohnya :  Ketika klien sakit fisik maka tidak menutup kemungkinan untuk sakit psikisnya juga, keluarga klien ikut merasakan sakit karena harus menunggui anggota keluarganya yang sakit, sehingga secara ekonomi, peran atau pungsi keluarga, ikut terganggu. Selain itu komunitas tempat keluarga tinggal juga dapat terpengaruhi jika keluarga tersebut memiliki peran yang besar di komunitasnya.  Pada pasien yang menderita penyakit stadium terminal yang menurut terapi medis sulit disembuhkan dan tergantung dari alat untuk menopang hidupnya, maka dalam asuhan keperawatan juga masih tetap dapat dijalankan melalui banyak cara, seperti terapi religious, tetap memanusiakan manusia, mengikutsertakan keluarga dalam mempersiapkan kematian dll. Falsafah Keperawatan menurut Pakar keperawatan Roy (Mc Quiston, 1995) • Memandang manusia sebagai makhluk biopsikososial yang merupakan dasar bagi kehidupan yang baik. • Keperawatan merupakan disiplin ilmu yang berorientasi kepada praktik keperawatan berdasarkan ilmu keperawatan yang ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada klien. Jean Watson (Caring) Caring adalah suatu ilmu pengetahuan yang mencakup suatu hal berperikemanusiaan, orientasi ilmu pengetahuan manusia ke proses kepedulian pada manusia, peristiwa, dan pengalaman. Ilmu pengetahuan caring meliputi seni dan umat manusia seperti halnya ilmu pengetahuan. Perilaku caring meliputi mendengarkan penuh perhatian, penghiburan, kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, menyediakan informasi sehingga pasien dapat membuat suatu keputusan Betty Neuman Newman menggunakan pendekatan manusia utuh dengan memasukkan konsep holistik, pendekatan sistem terbuka dan konsep stresor. Sistem klien terdiri dari lima variabel yang beriteraksi: a. fisiologi; struktur tubuh dan fungsi b. psikologi: proses mental dan hubungan c. sosiokultural: kombinasi fungsi sosiol dan kulkural d. perkembangan: proses perkembangan manusai e. spiritual: keyakinan spiritual E. Metaparadigma Keperawatan Metaparadigma juga dapat dikatakan sebagai suatu konsensus yang paling luas dalam disiplin ilmu sehingga pada akhirnya membutuhkan penerimaan oleh berbagai kalangan disiplin ilmu. Menurut istitusi kesehatan Carlos, Metaparadigma adalah seperangkat konsep-konsep global yang mengidentifikasi fenomena tertentu yang menarik bagi suatu disiplin dan global menegaskan proposisi bahwa hubungan antara mereka. Hubungan-hubungan ini diadakan dalam cara abstrak. Meta-paradigma keperawatan adalah tingkat pertama kekhususan dan perawatan perspektif. Fawcett (2000, dikutip oleh Peterson & Bredow), mendefinisikan metaparadigma sebagai konsep dan preposisi global spesifik terhadap disiplin ilmu yang menjelaskan dan menghubungkan dengan konsep-konsep tersebut. Metaparadigma adalah seperangkat konsep-konsep global yang mengidentifikasi fenomena tertentu yang menarik bagi suatu disiplin dan global menegaskan proposisi bahwa hubungan antara mereka. Hubungan-hubungan ini diadakan dalam cara abstrak. Meta-paradigma keperawatan adalah tingkat pertama kekhususan dan perawatan perspektif. Sedangkan paradigma keperawatan memandang segala sesuatu yang terjadi dalam keperawatan/ fenomena dalam keperawatan. Menurut Fawcett (2000), dikutip dalam Peterson, pembagian proposisi metaparadigma secara relasi dan nonrelasi adalah: Hardy (1978) menyatakan paradigma sendiri merupakan hasil justifikasi yang membutuhkan waku panjang untuk diterima terhadap berbagai fenomena, menyajikan cara dalam menyusun persepsi, bagaimana memprediksi dan mempelajari fenomena tersebut lebih lanjut. Sedangkan menurut Kuhn (1996), komponen paradigma meliputi: a. Symbolic generalization: hukum yang disepakati oleh komunitas ilmiah, dan bahasa yang digunakan untuk menjabarkannya. b. Shared commitments to beliefs in particular models. c. Value d. Exemplars Ada perbedaan mendasar antara paradigma dan metaparadigma. Paradigma memberikan parameter dasar dan konsep dasar untuk mengorganisasi suatu disiplin ilmu. Paradigma umumnya bersifat spesifik untuk suatu disiplin, filosofis, dan mampu berubah (Peterson & bredow, 2004). Sedangkan metaparadigma bersifat global, netral filosofi, dan umumnya stabil. Konsep Dasar Keperawatan "Caring" 1. Pengertian Caring Secara Umum Secara bahasa, istilah caring diartikan sebagai tindakan kepedulian. Caring secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, serta suatu perasaaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi. Pengertian caring berbeda dengan care. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan orang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku kepada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia. Sedangkan caring adalah tindakan nyata dari care yang menunjukkan suatu rasa kepedulian. Terdapat beberapa pengertian caring menurut beberapa ahli, antara lain : ³ Florence nightingale (1860) : caring adalah tindakan yang menunjukkan pemanfaatan lingkungan pasien dalam membantu penyembuhan, memberikan lingkungan bersih, ventilasi yang baik dan tenang kepada pasien. ³ Delores gaut (1984) : caring tidak mempunyai pengertian yang tegas, tetapi ada tiga makna dimana ketiganya tidak dapat dipisahkan, yaitu perhatian, bertanggung jawab, dan ikhlas. ³ Crips dan Taylor (2001) : caring merupakan fenomena universal yang mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam hubungannya dengan orang lain. ³ Rubenfild (1999) : caring yaitu memberikan asuhan, tanggunggung jawab, dan ikhlas. ³ Crips dan Taylor (2001) : caring merupakan fenomena universal yang mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku dalam hubungannya dengan orang lain. ³ Rubenfild (1999) : caring yaitu memberikan asuhan, dukungan emosional pada klien, keluarga, dan kerabatnya secara verbal maupun nonverbal. ³ Jean watson (1985) : caring merupakan komitmen moral untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan emosional pada klien, keluarga, dan kerabatnya secara verbal maupun nonverbal. ³ Jean watson (1985) : caring merupakan komitmen moral untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan martabat manusia. Dari beberapa pengertian tersebut, dapat dipersingkat bahwa pengertian caring secara umum adalah suatu tindakan moral atas dasar kemanusiaan, sebagai suatu cerminan perhatian, perasaan empati dan kasih sayang kepada orang lain, dilakukan dengan cara memberikan tindakan nyata kepedulian, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan kondisi kehidupan orang tersebut. Caring merupakan inti dari keperawatan. 2. Persepsi Klien Tentang Caring Penelitian tentang persepsi klien penting karena pelayanan kesehatan merupakan fokus terbesar dari tingkat kepuasan klien. Jika klien merasakan penyelenggaraan pelayanan kesaehatan bersikap sensitif, simpatik, merasa kasihan, dan tertarik terhadap mereka sebagai individu, mereka biasanya menjadi teman sekerja yang aktif dalam merencanakan perawatan ( Attree, 2001 ). Klien dalam penelitian ini menunjukkan bahwa mereka semakin puas saat perawat melakukan caring. Biasanya klien dan perawat melakukan persepsi yang berbeda tentang caring ( Mayer, 1987; Wolf, Miller, dan Devine, 2003 ). Untuk alasan tersebut, fokuskan pada membangun suatu hubungan yang membuat perawat mengetahui apa yang penting bagi klien. Contoh, perawat mempunyai klien yang takut untuk dipasang kateter intravena, perawat tersebut adalah perawat yang belum terampil dalam memasukkan kateter intravena. Perawat tersebut memutuskan bahwa klien akan lebih diuntungkan jika dibantu oleh perawat yang sudah terampil daripada memberikan penjelasan prosedur untuk mengurangi kecemasan. Dengan mengetahui siapa klien, dapat membantu perawat dalam memilih pendekatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien. Etika Pelayanan Watson ( 1988 ) menyarankan agar caring sebagai suatu sikap moral yang ideal, memberikan sikap pendirian terhadap pihak yang melakukan intervensi seperti perawat. Sikap pendirian ini perlu untuk menjamin bahwa perawat bekerja sesuai standar etika untuk tujuan dan motivasi yang baik. Kata etika merujuk pada kebiasaan yang benar dan yang salah. Dalam setiap pertemuan dengan klien, perawat harus mengetahui kebiasaan apa yang sesuai secara etika. Etika keperawatan bersikap unik, sehingga perawat tidak boleh membuat keputusan hanya berdasarkan prinsip intelektual atau analisis. Etika keperawatan berfokus pada hubungan antara individu dengan karakter dan sikap perawat terhadap orang lain. Etika keperawatan menempatkan perawat sebagai penolong klien, memecahkan dilema etis dengan cara menghadirkan hubungan dan memberikan prioritas kepada klien dengan kepribadian khusus. Nurse Caring Behavior A. Persepsi klien wanita ( Riemen, 1986 ) ¥ Berespon terhadap keunikan klien ¥ Memahami dan mendukung perhatian klien ¥ Hadir secara fisik ¥ Memiliki sikap dan menunjukkan prilaku yang membuat klien merasa dihargai sebagai manusia ¥ Kembali ke klien dengan sukarela tanpa diminta ¥ Menunjukkan perhatian yang memberi kenyamanan dan merelaksasi klien ¥ Bersuara halus dan lembut ¥ Memberi perasaan nyaman B. Persepsi klien pria ( Riemen, 1986 ) ¥ Hadir secara fisik sehingga klien merasa dihargai ¥ Kembali ke klien dengan sukarela tanpa diminta ¥ Membuat klien merasa nyaman, relaks, dan aman ¥ Hadir untuk memberi kenyamanan dan memenuhi kebutuhan klien sebelum diminta ¥ Menggunakan suara dan sikap yang baik, halus, lembut dan menyenangkan C. Persepsi klien kanker dan keluarga ( Mayer, 1986 ) ¥ Mengetahui bagaimana memberikan injeksi dan mengelola peralatan ¥ Bersikap ceria ¥ Mendorong klien untuk menghubungi perawat bila klien mempunyai masalah ¥ Mengutamakan atau mendahulukan kepentingan klien ¥ Mengantisipasi pengalaman pertama adalah yang terberat D. Persepsi klien dewasa yang dirawat ( Brown, 1986 ) o Kehadirannya menentramkan hati o Memberikan informasi o Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan profesional o Mampu menangani nyeri atau rasa sakit o Memberi waktu yang lebih banyak dari yang dibutuhkan o Mempromosikan otonomi o Mengenali kualitas dan kebutuhan individual o Selalu mengawasi klien E. Persepsi dari keluarga o Jujur o Memberikan penjelasan dengan jelas o Selalu menginformasikan keluarga o Mencoba untuk membuat klien nyaman o Menunjukkan minat dalam menjawab pertanyaan o Memberikan perawatan emergensi bila perlu o Menjawab pertanyaan anggota keluarga secara jujur, terbuka dan ikhlas o Mengijinkan klien melakukan sesuatu untuk dirinya sebisa mungkin o Mengajarkan keluarga cara memelihara kondisi fisik yang lebih nyaman 3. Teori Caring Menurut Watson Dr.Jean Watson pencetus The Human Caring dikembangkan pada tahun 1975 – 1979.Menurut watson ada tujuh asumsi yang mendasari konsep caring.ketujuh asumsi tersebut adalah a. Caring akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktikkan secara interpersonal b. Caring yang efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga c. Caring merupakan respon yang di terima klien tidak saat itu saja,tapi dapat memengaruhi keadaan klien selanjutnya d. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung perkembangan klien e. Caring terdiri dari faktor kuratif yang berasal dari kepuasan dalam membantu memnuhi kebutuhan klien f. Caring lebih kompleks dari pada curing,karena praktek caring memadukan antara pengetahuan biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam meningkatkan derajat kesehatan klien g. Caring merupakan inti dari keperawatan (Julia,1995) Watson menekankan sikap caring ini harus tercemin sepuluh faktor kuratif yang berasal dari perpaduan nilai nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar. ¥ Pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistik ¥ Memeberikan kepercayaan harapan dengan cara memfasilitasi dan meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik ¥ Menumbuhkan kesensitifan terhadap klien ¥ Membangun hubungan saling percaya ¥ Peningkatan pembelajaran dan pengajaran interpersonal ¥ Menciptakan lingkungan fisik,mental,sosialkultural dan spritual yang mendukung ¥ Menggunakan metode penyelesaian keputusan(proses keperawatan) ¥ Memberi bimbingan yang memuasakan klien ¥ Menerima perasaan positif dan negatif dari klien ¥ Mengizinkan terjadinya tekanan yang bersifat fenolmenologis agar pertumbuhan diri dan kematangan jiwa klien dapat dicapai 4. Perilaku Caring dalam Praktik Keperawatan Caring bukanlah sesuatu yang dapat diajarkan, tetapi merupakan hasil dari kebudayaan, nilai-nilai, pengalaman, dan dari hubungan dengan orang lain. Sikap keperawatan yang berhubungan dengancaring adalah kehadiran, sentuhan kasih sayang, mendengarkan, memahami klien, caring dalam spiritual, dan perawatan keluarga. a. Kehadiran Kehadiran adalah suatu pertemuan antara seseorang dengan seseorang lainnya yang merupakan sarana untuk mendekatkan diri dan menyampaikan manfaat caring. Menurut Fredriksson (1999), kehadiran berarti “ada di” dan “ada dengan”. “Ada di” berarti kehadiran tidak hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga komunikasi dan pengertian. Sedangkan “ada dengan” berarti perawata selalu bersedia dan ada untuk klien (Pederson, 1993). Kehadiran seorang perawat membantu menenangkan rasa cemas dan takut klien karena situasi tertekan. b. Sentuhan Sentuhan merupakan salah satu pendekatan yang menenangkan dimana perawat dapat mendekatkan diri dengan klien untuk memberikan perhatian dan dukungan. Ada dua jenis sentuhan, yaitu sentuhan kontak dan sentuhan non-kontak. Sentuhan kontak merupakan sentuhan langsung kullit dengan kulit. Sedangkan sentuhan non-kontak merupakan kontak mata. Kedua jenis sentuhan ini digambarkn dalam tiga kategori : 1) Sentuhan Berorientasi-tugas Saat melaksanakan tugas dan prosedur, perawat menggunakan sentuhan ini. Perlakuan yang ramah dan cekatan ketika melaksanakan prosedur akan memberikan rasa aman kepada klien. Prosedur dilakukan secara hati-hati dan atas pertimbangan kebutuhan klien. 2) Sentuhan Pelayanan (Caring) Yang termasuk dalam sentuhan caring adalah memegang tangan klien, memijat punggung klien, menempatkan klien dengan hati-hati, atau terlibat dalam pembicaraan (komunikasi non-verbal). Sentuhan ini dapat mempengaruhi keamanan dan kenyamanan klien, meningkatkan harga diri, dan memperbaiki orientasi tentang kanyataan (Boyek dan Watson, 1994). 3) Sentuhan Perlindungan Sentuhan ini merupakan suatu bentuk sentuhan yang digunakan untuk melindungi perawat dan/atau klien (fredriksson, 1999). Contoh dari sentuhan perlindungan adalah mencegah terjadinya kecelakaan dengan cara menjaga dan mengingatkan klien agar tidak terjatuh. Sentuhan dapat menimbulkan berbagai pesan, oleh karena itu harus digunakan secara bijaksana. c. Mendengarkan Untuk lebih mengerti dan memahami kebutuhan klien, mendengarkan merupakan kunci, sebab hal ini menunjukkan perhatian penuh dan ketertarikan perawat. Mendengarkan membantu perawat dalam memahami dan mengerti maksud klien dan membantu menolong klien mencari cara untuk mendapatkan kedamaian. d. Memahami klien Salah satu proses caring menurut Swanson (1991) adalah memahami klien. Memahami klien sebagai inti suatu proses digunakan perawat dalam membuat keputusan klinis. Memahami klien merupakan pemahaman perawat terhadap klien sebagai acuan melakukan intervensi berikutnya (Radwin,1995). Pemahaman klien merupakan gerbang penentu pelayanan sehingga, antara klien dan perawat terjalin suatu hubungan yang baik dan saling memahami. e. Caring Dalam Spiritual Kepercayaan dan harapan individu mempunyai pengaruh terhadap kesehatan fisik seseorang. Spiritual menawarkan rasa keterikatan yang baik, baik melalui hubungan intrapersonal atau hubungan dengan dirinya sendiri, interpersonal atau hubungan dengan orang lain dan lingkungan, serta transpersonal atau hubungan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi. Hubungan caring terjalin dengan baik apabila antara perawat dan klien dapat memahami satu sama lain sehingga keduanya bisa menjalin hubungan yang baik dengan melakukan hal seperti, mengerahkan harapan bagi klien dan perawat; mendapatkan pengertian tentang gejala, penyakit, atau perasaan yang diterima klien; membantu klien dalam menggunakan sumber daya sosial, emosional, atau spiritual; memahami bahwa hubungan caring menghubungkan manusia dengan manusia, roh dengan roh. f. Perawatan Keluarga Keluarga merupakan sumber daya penting. Keberhasilan intervensi keperawatan sering bergantung pada keinginan keluarga untuk berbagi informasi dengan perawat untuk menyampaikan terapi yang dianjurkan. Menjamin kesehatan klien dan membantu keluarga untuk aktif dalam proses penyembuhan klien merupakan tugas penting anggota keluarga. Menunjukkan perawatan keluarga dan perhatian pada klien membuat suatu keterbukaan yang kemudian dapat membentuk hubungan yang baik dengan anggota keluarga klien. 5. Perbedaan Caring dan Curing Keperawatan sebagai suatu profesi dan berdasarkan pengakuan masyarakat adalah ilmu kesehatan tentang asuhan atau pelayanan keperawatan atau The Health Science of Caring (Lindberg,1990:40). Secara bahasa, caring dapat diartikan sebagai tindakan kepedulian dan curing dapat diartikan sebagai tindakan pengobatan. Namun, secara istilah caring dapat diartikan memberikan bantuan kepada individu atau sebagai advokasi pada individu yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Sedangkan curing adalah upaya kesehatan dari kegiatan dokter dalam prakteknya untuk mengobati klien. Dalam penerapannya, konsep caring dan curing mempunyai beberapa perbedaan, diantaranya: 1. Caring merupakan tugas primer perawat dan curing adalah tugas sekunder. Maksudnya seorang perawat lebih melakukan tindakan kepedulian terhadap klien daripada memberikan tindakan medis. Oleh karena itu, caring lebih identik dengan perawat. 2. Curing merupakan tugas primer seorang dokter dan caring adalah tugas sekunder. Maksudnya seorang dokter lebih melibatkan tindakan medis tanpa melakukan tindakan caring yang berarti. Oleh karena itu, curing lebih identik dengan dokter. 3. Dalam pelayanan kesehatan klien yang dilakukan perawat, ¾ nya adalah caring dan ¼ nya adalahcuring. 4. Caring bersifat lebih “Healthogenic” daripada curing. Maksudnya caring lebih menekankan pada peningkatan kesehatan daripada pengobatan. Di dalam praktiknya, caring mengintegrasikan pengetahuan biofisik dan pengetahuan perilaku manusia untuk meningkatkan derajat kesehatan dan untuk menyediakan pelayanan bagi mereka yang sakit. 5. Tujuan caring adalah membantu pelaksanaan rencana pengobatan/terapi dan membantu klien beradaptasi dengan masalah kesehatan, mandiri memenuhi kebutuhan dasarnya, mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan dan meningkatkan fungsi tubuh sedangkan tujuan curing adalah menentukan dan menyingkirkan penyebab penyakit atau mengubah problem penyakit dan penanganannya. 6. Diagnosa dalam konsep curing dilakukan dengan mengungkapkan penyakit yang diderita sedangkan diagnosa dalam konsep caring dilakukan dengan identifikasi masalah dan penyebab berdasarkan kebutuhan dan respon klien. Pengertian Transcultural Nursing Transcultural Nursing adalah suatu keilmuwan budaya pada proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002). Konsep Transcultural Nursing Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis yang difokuskan pada prilaku individu atau kelompok, serta proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat dan perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar belakang budaya. (Leininger, 2002). Konsep Utama Transcultural Nursing: Care : perawat memberikan bimbingan dukungan kepada klien à untuk meningkatkan kondisi klien Caring : tindakan mendukung, berbentuk aksi atau tindakan Culture : perawat mempelajari, saling share/berbagi pemahaman tentang kepercayaan dan budaya klien Cultural care : kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, norma/ kepercayaan Nilai kultur : keputusan/kelayakan untuk bertindak Perbedaan kultur : berupa variasi-variasi pola nilai yang ada di masyarakat mengenai keperawatan Cultural care university : hal-hal umum dalam sistem nilai, norma dan budaya Etnosentris : keyakinan ide, nilai, norma, kepercayaan lebih tinggi dari yang lain Cultural Imposion : kecenderungan tenaga kesehatan memaksakan kepercayaan kepada klien Peran dan Fungsi Transkultural Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting bagi perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat ( Pasien ) . Misalnya kebiasaan hidup sehari – hari , seperti tidur , makan , kebersihan diri , pekerjaan , pergaulan social , praktik kesehatan , pendidikan anak ekspresi perasaan , hubungan kekeluargaaan , peranan masing – masing orang menurut umur . Kultur juga terbagi dalam sub – kultur . Subkultur adalah kelompok pada suatu kultur yang tidak seluruhnya mengaanut pandangan keompok kultur yang lebih besar atau memberi makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga saling berkaitan dengan kebiasaan cultural. Nilai – nilai budaya Timur , menyebabkan sulitnya wanita yang hamil mendapat pelayanan dari dokter pria . Dalam beberapa setting , lebih mudah menerima pelayanan kesehatan pre-natal dari dokter wanita dan bidan . Hal ini menunjukkan bahwa budaya Timur masih kental dengan hal – hal yang dianggap tabu. Dalam tahun – tahun terakhir ini , makin ditekankan pentingknya pengaruh kultur terhadap pelayanan perawatan . Perawatan Transkultural merupakan bidang yang relative baru ; ia berfokus pada studi perbandingan nilai – nilai dan praktik budaya tentang kesehatan dan hubungannya dengan perawatannya . Leininger ( 1991 ) mengatakan bahwa transcultural nursing merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai – nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda ras , yang mempengaruhi pada seseorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada pasien. Perawatan transkultural adalah berkaitan dengan praktik budaya yang ditujukan untuk pemujaan dan pengobatan rakyat (tradisional) . Caring practices adalah kegiatan perlindungan dan bantuan yang berkaitan dengan kesehatan. Menurut Dr. Madelini Leininger , studi praktik pelayanan kesehatan transkultural adalah berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan kesehatannya . Dengan mengidentifikasi praktik kesehatan dalam berbagai budaya ( kultur ) , baik di masa lampau maupun zaman sekarang akan terkumpul persamaan – persamaan . Lininger berpendapat , kombinasi pengetahuan tentang pola praktik transkultural dengan kemajuan teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang banyak dan berbagai kultur. 2.5 contoh-contoh aplikasi traskultural nursing pada beberapa masalah kesehatan A. Aplikasi transkultural pada masalah penyakit kronik Penyakit kronik adalah penyakit yang timbul bukan secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari sesuatu penyakit hingga akhirnya menyebabkan penyakit itu sendiri. (Kalbe medical portal) Penyakit kronik ditandai banyak penyebab. Contoh penyakit kronis adalah diabetes, penyakit jantung, asma, hipertensi dan masih banyak lainnya. Ada hubungan antara penyakit kronis dengan depresi. Depresi adalah kondisi kronis yang mempengaruhi pikiran seseorang, perasaan dan perilaku sehingga sulit untuk mengatasi peristiwa kehidupan sehari-hari. (Andres Otero-Forero, Queensland Transcultural Mental Health Centre). Seseorang yang menderita depresi memiliki kemungkinan lebih tinggi menderita penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung atau asma. Penyebab depresi itu sendiri kompleks, terkait dengan lingkungan interaksi seseorang maupun kepribadiaannya sendiri. Beberapa faktor penyebab umum adalah: • Faktor herediter • Trauma • Isolasi atau kesepian • Pengangguran • konflik Keluarga • Kesulitan penyelesaian • Stres • Nyeri Berbagai jenis depresi memerlukan cara yang berbeda dalam jenis pengobatannya. Untuk depresi ringan, dapat dianjurkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Dalam kasus depresi parah, dianjurkan untuk mengkonsumsi obat dan psikoterapi. Salah satu pendekatan yang muncul menjadi lebih umum untuk segala bentuk depresi adalah manajemen diri. Manajemen diri mengacu pada strategi orang menggunakan untuk berurusan dengan kondisi mereka. Dimana seseorang melibatkan tindakan, sikap atau tujuan dalam mengambil atau membuat keputusan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan. Pengobatan terhadap penyakit kronik yang telah dilakukan di masyarakat saat ini amat beragam. Tidak dapat dipungkiri bahwa sistem pengobatan tradisional juga merupakan sub unsur kebudayaan masyarakat sederhana yang telah dijadikan sebagai salah satu cara pengobatan. Pengobatan inilah yang juga menjadi aplikasi dari transkultural dalam mengobati suatu penyakit kronik. Pengobatan tradisional ini dilakukan berdasarkan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. Beberapa contohnya adalah sebagai berikut: 1. Masyarakat negeri Pangean lebih memilih menggunakan ramuan dukun untuk menyembuhkan penyakit TBC, yaitu daun waru yang diremas dan airnya dimasak sebanyak setengah gelas. 2. Masyarakat di Papua percaya bahwa penyakit malaria dapat disembuhkan dengan cara minta ampun kepada penguasa hutan lalu memetik daun untuk dibuat ramuan untuk diminum dan dioleskan ke seluruh tubuh. 3. Masyarakat Jawa memakan pisang emas bersamaan dengan kutu kepala (Jawa: tuma) tiga kali sehari untuk pengobatan penyakit kuning. Pengobatan tradisional yang sering dipakai berupa pemanfaatan bahan-bahan herbal. Herba sambiloto menjadi sebuah contoh yang khasiatnya dipercaya oleh masyarakat dapat mengobati penyakitpenyakit kronik, seperti hepatitis, radang paru (pneumonia), radang saluran nafas (bronchitis), radang ginjal (pielonefritis), radang telinga tengah (OMA), radang usus buntu, kencing nanah (gonore), kencing manis (diabetes melitus). Daun lidah budaya dan tanaman pare juga dijadikan sebagai pengobatan herbal. Tumbuhan tersebut berkhasiat menyebuhkan diabetes melitus. Tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun masih ada negara yang meyakini bahwa pengobatan medis bukan satu-satunya cara mengobati penyakit kronik. Misalnya, di Afrika, penduduk Afrika masih memiliki keyakinan tradisional tentang kesehatan dan penyakit. Mereka menganggap bahwa obat-obatan tradisional sudah cukup untuk mengganti produk yag akan dibeli, bahkan mereka menggunakan dukun sebagai penyembuh tradisional. Hal seperti ini juga terjadi di Amerika, Eropa, dan Asia. 2. Aplikasi transkultural pada gangguan nyeri Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang actual atau potensial. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan. Selanjutnya, definisi nyeri menurut keperawatan adalah apapun yang menyakitkan tubuh yang dikatakan individu yang mengalaminya, yang ada kapanpun individu mengatakannya. Peraturan utama dalam merawat pasien nyeri adalah bahwa semua nyeri adalah nyata, meskipun penyebabnya belum diketahui. Keberadaan nyeri adalah berdasarkan hanya pada laporan pasien bahwa nyeri itu ada. Aplikasi transkultural pada gangguan nyeri baik yang dilakukan oleh pasien berdasarkan apa yang dipercaya olehnya atau yang dilakukan oleh perawat setelah melakukan pengkajian tentang latar belakang budaya pasien adalah sebagai berikut: a. Dengan membatasi gerak dan istirahat. Seorang pasien yang mengalami nyeri diharuskan untuk tidak banyak bergerak karena jika banyak bergerak dapat memperparah dan menyebabkan nyeri berlangsung lama. Menurut pandangan umat Islam, seseorang yang menderita nyeri untuk mengurangi tau meredakannya dengan posisi istirahat atau tidur yang benar yaitu badan lurus dan dimiringkan ke sebelah kanan. Hal ini menurut sunah rasul. Dengan posisi tersebut diharapkan dapat meredakan nyeri karena peredaran darah yang lancer akibat jantung yang tidak tertindih badan sehingga dapat bekerja maksimal. b. Mengkonsumsi obat-obatan tradisional. Beberapa orang mempercayai bahwa ada beberapa obat tradisional yang dapat meredakan nyeri bahkan lebih manjur dari obat yang diberikan oleh dokter. Misalnya, obat urut dan tulang ‘Dapol Siburuk’ dari burung siburuk yang digunakan oleh masyarakat Batak. c. Dengan dipijat atau semacamnya. Kebanyakan orang mempercayai dengan dipijat atau semacamnya dapat meredakan nyeri dengan waktu yang singkat. Namun, harus diperhatikan bahwa apabila salah memijat akan menyebabkan bertambah nyeri atau hal-hal lain yang merugikan penderita. Dalam budaya Jawa ada yang disebut dukun pijat yang sering didatangi orang banyak apabila mengalami keluhan nyeri misalnya kaki terkilir. Dalam menerapkan transkultural pada gangguan nyeri harus tetap mempertahankan baik buruknya bagi si pasien. Semua aplikasi transkultural sebaiknya dikonsultasikan kepada pihak medis agar tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan. 3.Aplikasi transkultural pada gangguan kesehatan mental Berbagai tingkahlaku luar biasa yang dianggap oleh psikiater barat sebagai penyakit jiwa ditemukan secara luas pada berbagai masyarakat non-barat. Adanya variasi yang luas dari kelompok sindroma dan nama-nama untuk menyebutkannya dalam berbagai masyarakat dunia, Barat maupun non-Barat, telah mendorong para ilmuwan mengenai tingkahlaku untuk menyatakan bahwa penyakit jiwa adalah suatu ‘mitos’, suatu fenomena sosiologis, suatu hasil dari angota-anggota masyarakat yang ‘beres’ yang merasa bahwa mereka membutuhkan sarana untuk menjelaskan, memberi sanksi dan mengendalikan tingkahlaku sesama mereka yang menyimpang atau yang berbahaya, tingkahlaku yang kadang-kadang hanya berbeda dengan tingkahlaku mereka sendiri. Penyakit jiwa tidak hanya merupakan ‘mitos’, juga bukan sematasemata suatu masalah sosial belaka. Memang benar-benar ada gangguan dalam pikiran, perasaan dan tingkahlaku yang membutuhkan pengaturan pengobatan.(Edgerton 1969 : 70). Nampaknya, sejumlah besar penyakit jiwa non-barat lebih dijelaskan secara personalistik daripada naturalistik. Sebagaimana halnya dengan generalisasi, selalu ada hal-hal yang tidak dapat dimasukkan secara tepat ke dalam skema besar tersebut. Kepercayaan yang tersebar luas bahwa pengalaman-pengalaman emosional yang kuat seperti iri, takut, sedih, malu, dapat mengakibatkan penyakit, tidaklah tepat untuk diletakkan di dalam salah satu dari dua kategori besar tersebut. Mungkin dapat dikatakan bahwa tergantung situasi dan kondisi, kepercayaan-kepercayaan tersebut boleh dikatakan cocok untuk dikelompokkan ke dalam salah satu kategori. Misalnya, susto, penyakit yang disebabkan oleh ketakutan, tersebar luas di Amerika Latin dan merupakan angan-angan. Seseorang mungkin menjadi takut karena bertemu dengan hantu, roh, setan, atau karena hal-hal yang sepele, seperti jatuh di air sehingga takut akan mati tenggelam. Apabila agen-nya berniat jahat, etiologinya sudah tentu bersifat personalistik. Namun, kejadian-kejadian tersebut sering merupakan suatu kebetulan atau kecelakaan belaka bukan karena tindakan yang disengaja. Dalam ketakutan akan kematian karena tenggelam, tidak terdapat agen-agen apa pun. Kepercayaan-kepercayaan yang sudah dijelaskan di atas menimbulkan pemikiran-pemikiran untuk melakukan berbagai pengobatan jika sudah terkena agen. Kebanyakan pengobatan yang dilakukan yaitu mendatangi dukun-dukun atau tabib-tabib yang sudah dipercaya penuh. Terlebih lagi untuk pengobatan gangguan mental, hampir seluruh masyarakat desa mendatangi dukun-dukun karena mereka percaya bahwa masalah gangguan jiwa/mental disebabkan oleh gangguan ruh jahat. Dukun-dukun biasanya melakukan pengobatan dengan cara mengambil dedaunan yang dianggap sakral, lalu menyapukannya ke seluruh tubuh pasien. Ada juga yang melakukan pengobatan dengan cara menyuruh pihak keluarga pasien untuk membawa sesajen seperti, berbagai macam bunga atau binatang ternak.  Para ahli antropologi menaruh perhatian pada ciri-ciri psikologis shaman. Shaman adalah seorang yang tidak stabil dan sering mengalami delusi, dan mungkin ia adalah seorang wadam atau homoseksual.namun apabila ketidakstabilan jiwanya secara budaya diarahkan pada bentukbentuk konstruktif, maka individu tersebut dibedakan dari orang-orang lain yang mungkin menunjukkan tingkahlaku serupa, namun digolongkan sebagai abnormal oleh para warga masyarakatnya dan merupakan subyek dari upacara-upacara penyembuhan. Dalam pengobatan, shaman biasanya berada dalam keadaan kesurupan (tidak sadar), dimana mereka berhubungan dengan roh pembinanya untuk mendiagnosis penyakit. para penganut paham kebudayaan relativisme yang ekstrim menggunakan contoh shamanisme sebagai hambatan utama dalam arguentasi mereka bahwa apa yang disebut penyakit jiwa adalah sesuatu yang bersifat kebudayaan. Dalam banyak masyarakat non-Barat, orang yang menunjukkan tingkahlaku abnormal tetapi tidak bersifat galak maka sering diberi kebebasan gerak dalam masyarakat mereka, kebutuhan mereka dipenuhi oleh anggota keluarga mereka. Namun, jika mereka mengganggu, mereka akan dibawa ke sutu temapt di semak-semak untuk ikuci di kamrnya. Sebuah pintu khusus (2 x 2 kaki) dibuat dalam rumah, cukup untuk meyodorkan makanan saja bagi mereka dan sebuah pintu keluar untuk keluar masuk komunitinya. Usaha-usaha untuk membandingkan tipe-tipe gangguan jiwa secara lintas-budaya umumnya tidak berhasil, sebagian disebabkan oleh kesulitan-kesulitan pada tahapan penelitian untuk membongkar apa yang diperkirakan sebagai gejala primer dari gejala sekunder. Misalnya, gejala-gejala primer yaitu yang menjadi dasar bagi depresi. Muncul lebih dulu dan merupakan inti dari gangguan. Gejala-gejala sekunder dilihat sebagai reaksi individu terhadap penyakitya ; gejala-gejala tersebut berkembang karena ia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tingkahlakunya yang berubah (Murphy, Wittkower, dan Chance 1970 : 476). C. Kasus Transkultural terhadap Diabetes 1. Tinjauan Kasus Nilai Gula Darah Normal Kebanyakan manusia bervariasi sekitar 82-110 mg/dl pada keadaan sebelum makan. Setelah makan akan naik sekitar 140 mg/dl. The American Diabetes Association merekomendasikan kadar glukosa pasca- makan <180 mg/dl dan pra-makan pada kadar 90-130 mg/ dl. Pada laki-laki dewasa sehat denagn berat 75 kg dan volume 5 liter darah, glukosa levelnya 110 mg/dl. Pada penderita diabetes, kadar glukosa saat puasa >126 mg/ dl dan saat normal >200 mg/ dl. a. Masalah yang ditemukan pada kasus tersebut, diantaranya : v Laki-laki usia 50 tahun, v Pingsan saat rapat di kantornya, v Kadar gula darahnya mencapai 450mg/dl, v Dua tahun didiagnosis menderita Diabetes Mellitus tipe II, v Kegemukan, dan v Kesulitan mengatur makanannya karena kebiasaan budaya Jawanya makan makanan yang manis. b.Analisis kasus Ditinjau dari keadaan fisik : - Kegemukan - Kadar gula darah di atas normal Ditinjau dari pola hidup : - Kurang aktivitas fisik - Banyak mengkonsumsi makanan mengandung gula c. Peran perawat o Memberi interferensi berupa konsultasi, penyuluhan komunitas dan pasien,bantuan dalam menjaga pola makan dan melakukan implementasi independent dari dokter berupa pemberian obat dan aturan pemakaian. o Memberikan pelayanan kesehatan selama medikasi di rumah sakit dan menjaga kondisi kesehatan pasien agar tidak menurun bahkan meningkatkan kondisi kesehatannya. d. Peran dari segi transkultural o Memberi pendidikan kesehatan komunitas menyangkut deskripsi DM, diet dan bahayanya o Mengkaji jenis makanan yang biasa dikonsumsi komunitas tersebut o Menghimbau pola makan yang sesuai untuk diet DM dan juga dapat diterima pada budaya pasien→dapat berupa mengganti gula yang ditolerir oleh penderita DM atau mengurangi konsumsi gula yang biasa digunakan.

Judul: Sejarah Ilmu Keperawatan Dan Perkembangannya

Oleh: Jeneri Alfa Sela Mangande

Ikuti kami