Krisis Ekonomi Yunani

Oleh Risa Aulia

317,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Krisis Ekonomi Yunani

MAKALAH EKONOMI INTERNASIONAL II “ KRISIS EKONOMI YUNANI “ DOSEN PENGAMPU: ALI WARDANA S.P ., M.Si. DISUSUN OLEH : KELOMPOK 8 Anggraini Lambradi (1810311320019) Fitria Izati (1810311220033) Laras Febrianingrum (1810311120029) Risa Aulia (1810311120016) UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS EKONOMI & BISNIS PROGRAM STUDI ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN BANJARMASIN 2020 KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kami panjatkan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, serta inayahNya kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini guna memenuh tugas kelompok dari Bapak ALI WARDANA S.P ., M.Si. . Dalam mata kuliah Ekonomi Internasional II dengan judul : “Krisis Ekonomi Yunani”. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang “Krisis Ekonomi Yunani” ini memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca. DAFTAR ISI JUDUL ............................................................................................................ KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 1.3 Tujuan ........................................................................................... BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 2.1 Krisis Ekonomi Yunani.................................................................... 2.2 Upaya Pemerintah Uni Eropa Dalam Menanggulangi Krisis Ekonomi............................................................................................... 2.3 Evolusi Manusia............................................................................. BAB III PENUTUP ........................................................................................ 3.1 Kesimpulan................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Yunani merupakan satu diantara negara anggota Uni Eropa yang mengalami dampak paling buruk dari krisis Finansial Global yang terjadi pada tahun 2008 silam, bahkan dampaknya masih dialami oleh Yunani hingga sekarang, baik kepada Pemerintah dan terkhusus kepada rakyat. Bangkrutnya ekonomi Yunani pun pada akhirnya juga berdampak ke dimensi perpolitikannya, dengan Perdana Menteri waktu itu, George Papandreou kemudian mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri Yunani. Beliau kemudian digantikan oleh Pemerintah dari Pemerintahan Kesatuan Nasional dan Rezim Troika (Bank Sentral Eropa, Komisi Eropa dan International Monetary Fund). Costas Douzinas dan Joanna Bourkesebagai professor dari University of London, berpendapat bahwasannya tekanan dari Uni Eropa dan segenap elitnya, terkhusus pada kebijakan penghematan dan pemangkasan subsidi (austerity policy)terhadap Yunani justru merusaktatanan politik dandemokrasi disana. Hal ini dapat dilihat dari akibat dari implementasi memorandum tersebut, berupa kontraksi ekonomi sebesar20 persen hanya dalam 4 tahun saja, Selain itu, tingkat penggangguran meningkat berkali-kali lipat hingga mencapai 22 persen, dengan kaum muda yang menganggur mencapai angka fantastis,yakni 54 persen. Indeks kemiskinan naik menjadi 24 poin, disertai dengan pemangkasan gaji dan tunjangan pension untuk pegawai negeri sipil sebesar persen. Selain itu, kompensasi untuk pengangguran 50 (unemployment benefit)juga dipotong hingga 32persen, dan penghapusan hak negosisasi kolektif untuk para pekerja. Dampak lain dari krisis ekonomi yang paling terasa adalah krisis kemanusiaan. The Guardianmenceritakanbahwasannya masyarakat kelas menengahYunani bahkan terpaksa mengantri di dapur umum untuk mendapat jatah makanan, tingkat tunawisma dan penyakit kejiwaan yang meningkat secara tajam, serta kesulitan akses untuk fasilitas kesehatan yang dahsyat. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah Uni Eropa dalam menanggulangi krisis ekonomi yang terjadi di Yunani pada tahun 2008-2015? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis mengenai apa saja upaya yang dilakukan oleh Uni Eropa dalam menangani krisis ekonomi Yunani pada saat krisis finansial melanda negara tersebut. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Krisis Ekonomi Yunani Di dalam bab ini akan membahas tentang awal mula krisis Yunani pada tahun 2008, tindakan pemerintah untuk menyelesaikan krisis ekonomi, permasalahan lain yang timbul pada saat krisis ekonomi Yunani dan diakhiri dengan kondisi Yunani pasca krisis ekonomi pada tahun 2015 hingga kini. A. Awal terjadi krisis ekonomi di Yunani Kondisi domestik Pra krisis Yunani diawali dengan peningkatan yang signifikan terhadap kekayaan pribadi, dimana bank domestik memberikan pinjaman-pinjaman yang sangat besar kepada sektor pribadi (rumah tangga).Sektor rumah tangga merupakan salah satu aktor yang berperan aktif sebagai pendorong investasi dalam negeri di Yunani. Memenuhi permintaan dari dalam negeri yang besar dan melihat adanya peluang dari bank internasional untuk membantu perbankan domestik maka peminjaman dana pun dilakukan. Peminjaman dana hutang kepada kreditor eksternal tidak hanya dilakukan oleh bank saja tetapi perusahaanperusahaan dan pemerintah mengambil kredit dengan jumlah yang sangat besar untuk melakukan pembangunan dalam negeri dan belanja negara, tetapi hasil dari kredit tersebut tidak menghasilkan pembangunan yang signifikan maupun yang sustainable yang hasilnya dapat menambah keuangan negara. Inilah salah satu dari semua kesalahan struktural pemerintahan negara Yunani yang menjatuhkannya ke dalam krisis pembayaran hutang. Investasi baru muncul cukup naik pada tahun 2012. Aset produksi tetap Yunani berupa produksi mesin, perkapalan, dan hunian paling banyak inilah yang menjadi pemasukan negara. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti Suku Bunga, birokrasi, kualitas SDM, regulasi sampai situasi politik.Penanaman modal sangat penting karena memiliki multiplier effect bagi pembangunan nasional. Seperti membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan society of spend atau disebut consumption. Penanaman modal asing yang rendah dikarenakan adanya aturan birokrasi yang terlalu rumit dalam melakukan penanaman modal asing dan tingkat korupsi tinggi yang telah menjadi kebiasaan orang Yunani, hal ini bisa dilihat dari laporan ekonomi Yunani, sehingga sulit untuk memproyeksikan prospek investasi ke depannya. Kesulitan lain juga dihadapkan oleh para investor asing, yang mana sifat pasar Yunani yang oligopolistik, artinya sulit bagi para investor baru yang akan masuk. Ditambah angka konsumsi Yunani yang cenderung rendah. Faktor lain yang mengantarkan Yunani menuju kebangkrutan yaitu Yunani merupakan negara yang sering terkena imbas dari ketidakstabilan perekonomian global yang dimulai dari negara-negara di sekitarnya. Krisis ekonomi yang berdampak pada Yunani tidak hanya terjadi sekali saja pada tahun 2008 ini. Yunani pernah mengalami krisis ekonomi sebelumnya di tahun 1931, yang diawali dari negara Austria yang kemudian berimbas kepada negara-negara di sekitar Uni Eropa. Sikap tidak bijaksana dan tidak berhati-hatinya Yunani dalam mengelola keuangan negara menjadikan Yunani sering mengalami kegoyahan perekonomian negara. Jika dilihat dari model sistem nilai tukar tetap yang dianut oleh Yunani sebagai negara kecil dan berkembang, jika di lihat realitasnya bahwa negara yang sering mengalami defisit, maka negara tersebut akan mengandalkan tabungan devisa negaranya untuk membiayai pembangunan nasionalnya. Hal tersebut dibuktikan pada tahun 1974 ketika transisi kepemimpinan masa Junta Militer ke sosialis. Dimana kebijakan pemerintah Asset Non-Finansial Akhir Tahun 2012 besaran menggunakan devisa Negara dan melakukan peminjaman dana kepada Bank Dunia untuk membiayai belanja negara, sehingga sejak itu Yunani telah mengalami defisit yang sangat parah. Hingga mulai tahun 1993 nilai hutang Yunani telah melampaui GDP-nya, bahkan saat ini hutang Yunani telah memiliki beban utang yang sangat besar, mencapai 177% dari GDP. Strategi Yunani sebagai cara untuk menutupi defisit negaranya pada awal tahun 2001 Yunani bergabung ke dalam Eurozone(EZ). Pada hakikatnya Yunani tidak dapat bergabung ke dalam EZ karena untuk bergabung adanya beberapa kriteria yang telah ditetapkan oleh EZ yang bertujuan untuk menghindari instabilitas negara EZ, yaitu : Angka Inflasi tidak mencapai 1,5% dari tiga negara-negara yang memiliki angka inflasi terendah di EZ. Calon negara EZ mengikuti aturan mekanisme nilai tukar mata uang di bawah pantauan Sistem Moneter Eropa selama 2 tahun. Tingkat suku bunga jangka panjang nominal tidak boleh lebih dari 2% lebih tinggi daripada di tiga negara-negara yang memiliki angka inflasi terendah di EZ. Dibidang keuangan pemerintah total defisit yang diperbolehkan maksimal 3% dari GDP negara dan utang negara dengan GDP tidak diperbolehkan lebih dari 60% pada akhir tahun fiskal. Jika dilihat, Yunani memiliki standar upah yang rendah dan pendapatan negara yang cenderung kecil, namun lagi-lagi kecurangan dan sikap tidak bijaksana pemerintah Yunani mengantarkannya ke dalam sistem integrasi EZ dengan cara manipulasi, sehingga Yunani pun dapat menikmati suku bunga yang diberikan oleh EZ sama seperti negara-negara anggota lainnya. Setelah di telaah oleh EZ ternyata Yunani memanipulasi hutang dan GDP Yunani yang mencengangkan. Jika dilihat dari grafik 2.1 saja terlihat sangat jelas pengeluaran pemerintah jauh lebih besar dibandingkan pendapatannya. Tahun 2013 merupakan titik dimana Yunani mengeluarkan uangnya sangat besar untuk pemulihan ekonominya. Grafik 2.1 Laporan anggaran Yunani pun mengalami revisi yang sangat besar dan jauh dari perkiraan EZ. Defisit pemerintah untuk tahun 2003, yang pada awalnya dilaporkan sebesar 1,7% dari GDP, berada pada 4,6% dari GDP setelah pemberitahuan bulan September 2004. Defisit yang diberitahukan kepada Komisi untuk tahun 2000, 2001 dan 2002 juga direvisi naik Gambar 2.1 Pendapatan dan Pengeluaran Pemerintah Yunni Tahun 2002-2016 lebih dari 2 poin persentase GDP. Yunani telah berulang mengalami defisit, dimana pengeluaran negara lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Semakin diperburuk ketika Yunani sebagai tuan rumah di Summer Olympic tahun 2004, dengan merekrut banyak pekerja dan pembangunan infrastruktur besar-besaran sehingga mengalami defisit GDP 3%. Pengeluaran belanja negara yang tidak dapat di kontrol sebaik mungkin disertai dengan menurunnya angka ekspor barang dan didukung tingginya angka korupsi sebagai penyebab defisit yang terjadi pada tahun 2007 hingga 2009.4 Sebelum mencapai pada puncak defisit tertinggi tahun 2009 sekitar 16%, Yunani sudah mengalami krisis ekonomi pada tahun 2008 dan memiliki beban hutang 262 miliar Euro. Kasus krisis Yunani merupakan krisis ekonomi atas ketidakmampuannya melakukan pembayaran hutang dengan angka ekstrem yang sangat jauh dari nilai hutang negara-negara lain di kawasan EZ, sehingga menimbulkan gaya dorongan dari luar untuk terlibat dan memanfaatkan kondisi fiskal Yunani, Pertumbuhan GDP Yunani di Antara Negara di Kawasan Eurozone dan Amerika untuk mencari keuntungan dengan konsekuensi yang sangat besar. Meskipun terjadi peningkatan hutang publik yang tinggi, kekayaan pemerintah tetap positif sampai 2013 karena pertumbuhan aset publik yang terus berlanjut, yaitu aset tetap (kebanyakan infrastruktur publik) sebelum krisis dan ekuitas perusahaan domestik pada awal krisis. Permasalahan krisis ini tentunya perlu jalan keluar tanpa menyalahkan siapa yang memimpin suatu negara tersebut dan dari golongan politik mana, karena hal ini tidak dapat menyelesaikan masalah keuangan yang berlarut-larut menggerogoti negara. Tidak juga menyalahkan pengeluaran pemerintah yang sangat besar dibandingkan pendapatannya tetapi usaha pemerintah yang tidak mampu meningkatkan pendapatan negaranya dengan memanfaatkan talangan dana yang di berikan. B. Permasalahan Lain Sepanjang Masa Krisis Sibuknya pemerintah mengurusi urusan ekonomi makro, menghindari pemerintah untuk menangani permasalahan yang timbul dari kebijakan-kebijakan penghematan yang diambil. Berbagai lembaga kemasyarakatan dari seluruh dunia baik swasta maupun publik ikut turun tangan untuk membantu para gelandangan akibat krisis ekonomi yang terjadi agar permasalahan selama krisis ini tidak meluas. Dari krisis ekonomi ketidakadilan dirasakan oleh pekerja rendahan seperti kaum buruh yang mana adanya pengurangan tenaga buruh besar-besaran pada awal krisis tahun 2010 hingga puncak krisis. Pengurangan tenaga buruh disertai tidak di dukungnya dengan lapangan pekerjaan yang memadai sehingga secara nyata kebijakan tersebut membuat jurang baru bagi Yunani dengan naiknya angka pengangguran dan pemotongan dana sosial untuk pensiunan. Sektor konstruksi kehilangan banyak pekerja dibandingkan sektor-sektor lain. Dan 532.125 anak muda kehilangan pekerjaannya. Sektor konstruksi adalah sektor yang paling banyak kehilangan banyak pekerjanya. Melihat di sektor ini juga kebanyakan yang bekerja adalah para imigran yang kemungkinan tidak memiliki pendidikan tinggi dan tidak memiliki keahlian khusus yang di PHK. Terkait itu pun, sektor konstruksi merupakan salah satu penyumbang pendapatan negara yang besar di dalam pembangunan infrastruktur. Sehingga ketika banyak pekerja yang di pecat maka berkuranglah tenaga kerja untuk menjalankan pembangunan infrastruktur maupun membantu pemulihan krisis, dari perhitungan National Confederation of Greek Commerce (ESEE) diprediksi penurunan jumlah lapangan kerja komersial sebanyak 160.000 posisi sepanjang tahun 2012 dan selangkah lagi Yunani berada di lingkaran kemiskinan mutlak.9 Perekonomian. Yunani pada dasarnya bukanlah negara miskin di kawasan Eropa, tetapi kini kemiskinan Yunani sekarang merupakan yang tertinggi ketiga di Uni Eropa, setelah Bulgaria dan Rumania. Tidak terpenuhinya kebutuhan sehari-hari seperti makan, banyak dari masyarakat miskin ramai-ramainya berkunjung ke gereja bukan untuk beribadah saja tetapi juga untuk mendapatkan makanan di gereja-gereja. Angka kemiskinan yang meningkat membuat banyak gelandangan kekurangan makanan, sudah ada 11.000 keluarga yang tercatat di gereja yang rutin untuk mengambil makanan, jumlah ini meningkat dari yang hanya 2.500 pada 2012 menjadi 5.900 jiwa pada 2014 dan sekitar 5 ribu dari jumlah tersebut adalah anakanak. Kemiskinan yang terjadi karena telah kehilangan pekerjaan, yang membuat tingkat pengeluaran kepala keluarga turun 6,2% di tahun 2015 yang secara otomatis membuat perekonomian domestik menjadi lesu akibat angka konsumsi masyarakat anjlok sekitar 4,2%. Sangat disayangkan ketika kebanyakan dari pengangguran berada di usia yang sangat muda dan produktif. tingkat pengangguran di Yunani sepanjang masa krisis ekonomi tahun 2008 terus meningkat sangat tajam hingga tahun 2013. Angka pengangguran tertinggi yang pernah dicapai Yunani yaitu hampir 28% dan angka pengangguran terendah yang pernah dirasakan yaitu pada tahun 2008 yang tidak mencapai titik 10%. Sedangkan, pengangguran Yunani yang berada usia di bawah 25 tahun naik secara signifikan setelah Spanyol yang sama-sama terkena dampak krisis ekonomi. Kemerosotan prospek kerja umur 15-25tahun selama masa krisis merupakan angka terburuk di antara negara-negara Gambar 2.6 Rata-Rata Penangguran Yunani di Uni Eropa. Adanya aturan jam kerja part time untuk umur tersebut tampaknya gagal mengurangi pengangguran. Selain anak-anak muda di usia produktif yang mengalami imbas dari krisis ekonomi Yunani, para intelektual yang merupakan orang-orang dengan gelar sarjana yang berpendidikan tinggi pun menjadi seorang pengangguran dan gelandangan. Adanya sistem menunggu antrean di dalam pengangkatan kerja dan terbatasnya lapangan pekerjaan sepanjang masa krisis tampaknya menjadi dilema bagi sistem ketenagakerjaan Yunani. Tingginya tingkat pengangguran berkaitan erat dengan terus naiknya angka kemiskinan dan tunawisma akibat tidak mampu membayar angsuran hunian. Selama krisis, tempat tinggal telah merosot nilainya, sementara angka rata-rata tetap relatif sederhana. Apalagi setelah Memorandum ketiga di tahun 2015, dampakny©a menghancurkan ekonomi Yunani yang terluka. Misalnya, biaya Pengangguran pada Usia Dini di Bawah 25 Tahun barang telah naik sekali lagi karena PPN naik dalam segala hal dan gelandangan pun menghiasi jalanan yang ada di Yunani. Kenaikan jumlah tunawisma sejak tahun 2009 hingga tahun 2016. Situasi keseluruhan semakin memburuk setelah penghapusan subsidi perumahan utama sebelumnya (Perumahan Pekerja Organisasi OEK) pada tahun 2012, khususnya di Athena. Para tunawisma kini hanya hidup dijalankan dan tinggal berpindah-pindah. Para tunawisma menggadaikan rumahnya untuk bertahan hidup karena tidak mampu untuk menarik uang di bank, melakukan peminjaman uang dan tidak mampu melakukan pembayaran pajak yang semakin tinggi. Ekonomi yang runtuh membuat pemerintah juga melakukan pemangkasan dana sosial. resesi ekonomi yang berkepanjangan membuat kesehatan fisik dan mentalitas pun meningkat, depresi akan kehidupan yang tidak menentu dan tidak adanya pendapatan yang cukup membuat sebagian orangorang di Yunani kehilangan akal dan melakukan bunuh diri akibat kemiskinan dan pengangguran. Berdasarkan data dari Organisasi Klimaks yang berbasis di Athena, mengatakan jumlah bunuh diri yang resmi dilaporkan terus naik dari 328 kasus tahun 2007 menjadi 477 tahun 2011 dan angka bunuh diri terus meningkat tahun 2012 dan 2013.13 Mayoritas yang melakukan bunuh diri adalah pria dibandingkan perempuan. Di sektor pendidikan Yunani mengalami kemunduran yang sangat signifikan, anggaran pengalokasian pendidikan turun 8,1% pada tahun 2014, dimana pengalokasian dana tidak hanya semata-mata diperuntukkan untuk pendidikan tersier saja, tetapi adanya perbaikan infrastruktur, pembelanjaan peralatan dan dana penelitian. Jumlah anggaran ini pun telah berkurang 30% sejak terjadinya krisis. Dampak dari krisis semakin sulit diselesaikan terutama di bidang pendidikan dan penelitian yang mana menyangkut harkat dari sebagian para intelektual Yunani. Dari pemotongan anggaran ini muncul lah efek untuk pendidikan dan penelitian Yunani seperti : Pengurangan signifikan dalam pendanaan yang mempengaruhi penelitian universitas, tunjangan lulusan, investasi dan infrastruktur. Krisis berkepanjangan menyebabkan efek-efek ini membatasi pendanaan dan penelitian pascasarjana, dan menghambat investasi. Pemecatan secara berkala tenaga pengajar dan staf administrasi membuat kinerja aktivitas universitas menjadi lebih buruk. Penambahan jam kerja mengajar dan mengurangi penelitian akademis yang mana berusaha memaksimalkan tenaga kerja yang tersisa membuat pendidikan dan penelitian di Yunani mengalami kemunduran. Tidak adanya evaluasi dini dan standarisasi praktik juga menjadikan Yunani kalah di dalam persaingan pendidikan. Alhasil dari aturan tersebut Yunani kekurangan 1.164 guru di SMP dan SMA. Federasi Guru dari Yunani (DOE) dan Federasi Yunani Guru Sekolah Pendidikan Menengah (OLME) menyatakan jumlah guru telah menurun 33,92% sejak tahun 2009 yaitu sekitar 185.917 guru dipekerjakan, dibandingkan dengan 134.413 pada tahun 2016.14 Terbelenggu di dalam permasalahan pada masa krisis tidak akan menyelesaikan masalah. Kekurangan-kekurangan yang ada mengharuskan pola pikir dan inisiatif harus ditingkatkan, melihat Yunani merupakan negara yang menghasilkan para filsuf terkenal didunia yang menjadikan pendidikan dunia sempat berkiblat ke Yunani dan warisan budaya yang unik menjadi keunggulan Yunani. 2.2 Upaya Pemerintah Uni Eropa Dalam Menanggulangi Krisis Ekonomi Pada 2 Mei 2010, Uni Eropa pun membentuk Troika yang terdiri dari Europe Commision, Europe Central Bank, dan IMF untuk memberikan dana bailout sebagai cara pemerintah Yunani untuk membayar utang dan memenuhi kebutuhannya. Uni Eropa memberikan talangan dana dengan perjanjian pinjaman sebagai berikut : a) Yunani menerapkan kebijakan penghematan yang sistemis b) Yunani diwajibkan memprivatisasi aset kenegaraannya c) Yunani juga didesak untuk mereformasi struktur politiknya. Namun, anggaran yang di berikan oleh Uni Eropa tidak dipergunakan dengan semestinya. Boros di dalam pengeluaran negara seperti, lebih banyak melakukan impor dibandingkan ekspor, terus menggemborkan pembangunan infrastruktur yang tidak memiliki nilai produktivitasnya jangka waktu lama, Bank negara pun memberikan pinjaman keuangan terhadap para pebisnis yang tidak jelas akan memberikan profit apa terhadap negara, dan adanya keistimewaan yang diberikan oleh pekerja publik dalam pengupahan dan jarangnya pemecatan.8 Atas keistimewaan yang diberikan pemerintah terhadap pekerja publik, banyak anak muda Yunani berlomba-lomba untuk bekerja di sektor publik untuk mendapatkan gaji yang naik 100%. Tidak jarang enggannya pemecatan ini disebabkan karena adanya nepotisme yang sering terjadi di kalangan pemerintahan. Pemerintah Yunani tidak kehilangan akal untuk mendapatkan tambahan dana bailout dan adanya pengurangan hutang. Kebijakan pemotongan gaji bagi sektor publik dan pemungutan pajak pun dilakukan dengan di harapan kebijakan tersebut dapat menambah anggaran negara sebesar 30 miliar Euro selama tiga tahun dan kemungkinan dapat mengurangi defisit anggaran negara sampai 3% dari pendapatan GDP. Sehingga pemerintah Uni Eropa pun pada 27 Oktober 2011 menyetujui dana bailout. Dan adanya keringanan yang diberikan oleh investor untuk mempermudah Yunani membayar hutang-hutangnya dengan pemotongan nilai aset sebesar 50%. Keputusan pemotongan gaji dan tingginya angka pajak pun menuai banyak protes dari berbagai pihak. Penolakan dengan berdemonstrasi dan pemogokan masal pun dilakukan untuk meminta adanya referendum. Penyelesaian krisis ekonomi yang tidak usai juga menuntut beberapa negara angkat bicara untuk Yunani keluar dari EZ yang ditakutkan akan mengganggu kestabilan negara di sekitarnya. Di tengah kekacauan yang melanda pada tahun 2015 pergantian kepemimpinan perdana menteri dilakukan, terpilihnya Alexis Tsipras yang berasal dari partai Syriza tampaknya tidak terlalu memperlihatkan hasil yang signifikan terhadap kondisi perekonomian Yunani ditambah masa kepemimpinannya yang sangat singkat, hanya sekitar 7 bulan. Penentangan dari kubunya di partai Syriza tentang dana bailout yang diambil membuat ia mundur dari jabatannya. Selama masa jabatannya Alexis Tsipras telah melakukan kontrol modal, penawaran obligasi, dan berusaha menstabilkan politik sebagai cara pemulihan ekonomi dan membuat negara Yunani menjadi lebih mandiri. Selama kekosongan kepemimpinan pada masa krisis, Mahkamah Agung Vassiliki Thanou yang menggantikan jabatan sementara ini, hingga pemilihan berikutnya dimana kini, Perdana Menteri Alexis Tsipras digantikan oleh seorang Perdana Menteri perempuan pertama di Yunani. Negosiasi terus dilakukan pemerintah Yunani untuk mendapatkan aliran dana bailout lagi dan meminta bantuan kepada kreditor untuk adanya keringanan negara biru ini dalam membayar hutang-hutang yang ada, mulai dari pemotongan suku bunga dan pemotongan aset investor yang harus di bayar. Kegagalan pemerintah memanfaatkan dana bailout di dalam mengatasi permasalahan kemunduran ekonomi, membuat banyak permasalahan negara kian kompleks di sektor ekonomi dan sosial. Sikap labil pemerintah dan populis yang menandakan tidak dipenuhinya konsekuensi dari perjanjian Troika malah menghambat pertumbuhan. Selain itu, maraknya penghindaran pajak yang dilakukan oleh kaum elite malah seakan memperlambat dan menampakkan menolaknya reformasi. Penanggulangan ekonomi yang dimaksudkan menjadi penghancur negara yang berakibat juga terhadap adanya kesenjangan sosial, pengurangan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Keadaan Yunani sebelum krisis tidak lebih baik dari Irlandia, Italia dan Spanyol. Rasio pinjaman selalu tinggi dan defisit lebih buruk. Sangat mungkin keadaannya lebih buruk dari pada data yang disajikan oleh pemerintah. Seperti kemudian terungkap bahwa pada saat bergabung dengan sistem mata uang Euro ternyata Yunani tidak mengungkapkan keadaan keuangan yang sebenarnya. Defisit anggaran terhadap PDB lebih besar dari ketentuan batas tertinggi 3%, dan rasio utang terhadap PDB lebih dari 100%, jauh di atas 60% yang disyaratkan. Hal ini dimungkinkan karena adanya bantuan perusahaan keuangan Goldman Sachs kepada pemerintah untuk menyembunyikan keadaan keuangan melalui transaksi credit swap yang rumit. Keadaan ini berlanjut ketika pada tahun 2004 Yunani menjadi tuan rumah acara olimpiade dimana rasio pinjaman dan utang mencapai 6,1% dan 110,6% dari PDB. Setelah krisis keuangan, pada tahun 2009 pemerintahan baru di bawah pimpinan perdana menteri George Papandreu dari partai sosialis keadaan keuangan kembali memburuk dengan deficit menjadi lebih dari 12%, suatu angka yang kemudian dikoreksi menjadi 15,4%. Hal ini membuat kepercayaan masyarakat menjadi turun. Beberapa langkah yang disarankan oleh Komisi Eropa untuk menyehatkan keuangan Yunani adalah pengurangan jumlah pegawai negeri sebanyak 25.000 orang, reformasi pajak dan perubahan skema jamianan pension pegawai negeri. Usul ini telah menimbulkan gejolak sosial dan pemerintah Yunani tidak berani melaksanakan kebijakan tersebut. Reformasi pajak berupa meningkatkan efektivitas pengumpulan pajak sulit dilaksanakan dan selalu gagal.Penghindaran pajak oleh individu dan perusahaan sudah sangat meluas dan sulit untuk dilacak. Setiap orang beralasan untuk tidak membayar pajak dengan alasan bahwa orang lain belum membayar pajak (karena karakter orang Yunani yang memang suka menghindari membayar pajak. BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Krisis utang Yunani merupakan krisis pertama yang terjadi di kawasan Zona Euro yang dipicu karena adanya resesi besar ditambah rentannya perekonomian Yunani yang bergantung pada sektor pariwisata dan perkapalan yang sangat sensitif terhadap perubahan siklus bisnis. Akibatnya, utang negara ini menumpuk dengan cepat, sehingga pada tahun 2010 Yunani mulai mendapat dana pinjaman dari Uni Eropa dan IMF hingga tahun 2015. Namun sayangnya dana pinjaman yang diberikan oleh Uni Eropa, European Central Bank, dan IMF tersebut belum dapat memperbaiki kondisi finansial Yunani sepenuhnya. Hal ini menyebabkan ketidakmampuan Yunani untuk membayar hutangnya pada tenggang waktu yang telah ditentukan dan menyebabkan Yunani menjadi negara maju pertama yang gagal membayar utang dan hanya hidup dari uang pinjaman untuk sementara waktu. Dan untuk menyelesaikan permasalahan krisis utang Yunani ini terdapat beberapa langkah yang diambil oleh Yunani maupun TROIKA, yaitu Yunani dan TROIKA telah melakukan negosiasi sebanyak tiga kali dimana melalui negosiasi tersebut menghasilkan keputusan pemberian bailout oleh TROIKA kepada Yunani dengan jumlah yang berbeda-beda setiap bailout nya. Namun dapat disimpulkan bahwa pemberian bailout oleh TROIKA ini sendiri belum dapat memulihkan kondisi finansial Yunani, meskipun melalui bailout ini dapat menghindarkan Yunani dari predikat negara yang bangkrut dan juga mencegah keluarnya Yunani dari Eropa Union DAFTAR PUSTAKA http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/20870/BAB%20II.pdf?sequence=3&isAllo wed=y https://media.neliti.com/media/publications/33033-ID-kegagalan-yunani-memanfaatkan-bailoutdalam-upaya-mengatasi-krisis-ekonomi-tahun.pdf https://www.academia.edu/30048929/Krisis_Hutang_Yunanii

Judul: Krisis Ekonomi Yunani

Oleh: Risa Aulia

Ikuti kami