Ujian Akhir Semester Ilmu Fiqh

Oleh Nirwana Putri Awaliah

271,6 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Ujian Akhir Semester Ilmu Fiqh

TUGAS INDIVIDU UJIAN AKHIR SEMESTER ILMU FIQH Dosen Mata Kuliah: Muhammad Arsyam AM, S.Pd.I, M.Pd (arsyam0505@gmail.com) Disusun Oleh: Nirwana Putri Awaliah (70200120038) (spongebob454454@gmail.com) PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2020 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr.wb Bismillahirrahmanirrahim Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam. Atas izin dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan resume tepat waktu tanpa kurang suatu apa pun. Tak lupa pula penulis haturkan shalawat serta salam kepada junjungan Rasulullah Muhammad SAW. Semoga syafaatnya mengalir pada kita di hari akhir kelak. Penulisan resume dengan judul “Ilmu Fiqh” ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Fiqh. Disamping itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang telah membantu sehingga resume ini selesai. Dengan kerendahan hati, penulis memohon maaf apabila ada kesalahan penulisan. Kami menantikan kritik dan saran yang membangun dari setiap pembaca agar perbaikan dapat dilakukan. Semoga resume ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Wassalamu’alaikum wr.wb Gowa, 05 November 2020 Penyusun SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) TAHUN AKADEMIK 2020/2021 1. Jelaskan sejarah perkembangan ilmu fiqh berdasarkan periodisasinya?! = Terdapat perbedaan periodisasi fiqh dikalangan ulama fiqih kontemporer. Muhammad Khudari Bek (ahli fiqih dari Mesir) membagiperiodisasi fiqih kedalam enam periode. Menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa, periode ke-enam yang dikemukakan Muhammad Khudari Bek tersebut sebenarnya bisa dibagi dalam dua periode, karena dalam setiap periodenya terdapat ciri tersendiri. Periodisasi menurut az-Zarqa adalah sebagai berikut:  Periode Risalah Periode ini dimulai sejak kerasulan Muhammad SAW., sampai wafatnya Nabi SAW., (11 H/632 M). pada periode ini kekuasaan penentuan hukum sepenuhnya berada ditangan Rasulullah SAW. Sumber hukum ketika itu adalah al-qur’an dan sunnah Nabi SAW. Periode awal ini juga dapat dibagi menjadi periode Makkah dan periode Madinah. Pada periode Makkah, risalah Nabi SAW., lebih banyak tertuju pada masalah aqidah. Ayat hukum yang turun pada periode ini tidak banyak jumlahnya, dan itu pun masih dalam rangkaian mewujudkan revolusi aqidah untuk mengubah sistem kepercayaan masyarakat jahiliyah menuju penghambaan kepada Allah SWT., semata. Pada periode Madinah, ayat-ayat tentang hukum turun secara bertahap. Pada masa ini seluruh persoalan hukum diturunkan Allah SWT., baik yang menyangkut masalah ibadah maupun muamalah. Oleh karenanya, periode Madinah ini disebut juga ulama fiqh sebagai periode revolusi sosial dan politik.  Periode al-Khulafaur Rasyidin Periode ini dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW., sampai Mu’awiyah bin Abu Sufyan memegang tampuk pemerintahan Islam pada tahun 41 H/661 M. sumber fiqh pada periode ini, disamping Al-qur’an dan sunnah Nabi SAW., juga ditandai denngan munculnya berbagai ijtihad para sahabat. Ijtihad ini dilakukan ketika persoalan yang akan ditentukan hukumnya tidak dijumpai secara jelas dalam nash. Pada periode ini, untuk pertama kali para fuqaha berbenturan dengan budaya, moral, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam suatu masyarakat majemuk. Hal ini terjadi karena daerah-daerah yang ditaklukkan islam sudah sangat luas dan masing-masing memiliki budaya, tradisi, situasi dan kondisi yang menantang para fuqaha dari kalangan sahabat untuk memberikan hukum dalam persoalan-persoalan baru tersebut. Dalam menyelesaikan persoalanpersoalan tersebut, para sahabat pertama kali merujuk pada al-qur’an, mereka mencari jawaban dala sunnah Nabi SAW. Namun, jika dalam sunnah Rasulullah SAW., tidak dijumpai pula jawabannya, mereka melakukan ijtihad.  Periode Awal Pertumbuhan Fiqih Periode awal pertumbuhan Ilmu Fiqih dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai awal abad ke-2 hijriah. Periode ini merupakan titik awal pertumbuhan Fiqih sebagai salah satu disiplin ilmu dalam islam. Dengan bertebarannya para sahabat ke berbagai daerah semenjak masa Al-Khulafaur Rasyidin (terutama sejak Utsman Bin Affan menduduki jabatan khalifah). Munculnya berbagai    fatwa dan ijtihad hokum yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat didaerah tersebut. Periode keemasan Dimulai dari awal abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 hijriah. Dalam periode peradaban islam pertama. Ciri khas yang yang menonjol pada periode ini adalah semangat ijtihad yang tinggi dikalangan ulama, sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu pengetahuan perkembangan pemikiran ini tidak saja dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan umum lainnya. Dinasti Abbasiyah (132 H/750 M.-656 H/1258 M) yang naik kepanggung pemerintahan menggantikan Dinasti Umayyah memiliki tradisi keilmuwan yang kuat, sehingga perhatian para penguasa Abbasiyah terhadap berbagai bidang ilmu sangat besar. Pada awal periode keemasan ini, pertentangan antara ahlulhadits dan ahlirra’yi sangat tajam, sehingga menimbulkan semangat berijtihad bagi masing-masing aliran. Semangat para fuqaha melakukan ijtihad dalam periode ini juga mengawali munculnya mazhab-mazhab fiqih, yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali. Periode keemasan ini juga ditandai dengan dimulainya penyusunan kitab fiqih dan ushul fiqih. Diantara kitab fiqih yang paling awal disusun pada periode ini adalah al-muwaththa’ oleh Imam Malik, al-Umm oleh Imam asySyafi’I dan Zahir ar-Riwayah dan an-Nawadir oleh Imam asy Syaibani. Periode Tahrir, Takhrij, dan Tarjih dalam Mazhab Fiqih Dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 hijriah Tahrir, Takhrij, dan Tarjih adalah upaya tiap-tiap mashab mengomentari, menjelaskan, dan mengulas pendapat imam mereka. Periode ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqih. Ulama fiqihlebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka masing-masing, sehingga mujtahid muztaqill (mujtahid mandiri) tidak ada lagi. Periode kemunduran Fiqih Dimulai pertengahan abad ke-7 hijriah sampai munculnya majalah AlAhkam al’Addiyah (hokum perdata kerajaan Turki Usmani) pada 26 Sya’ban 1293 H. perkembangan fiqih pad aperiode ini merupakan lanjutan dari perkembangan fiqih yang semakin menurun pada periode sebelumnya. Periode ini dalm sejarah perkembangan fiqih dikenal juga dengan periode taqlid secara membagi buta. Pada masa ini, ulama fiqih lebih banyak memberikan penjelasan terhadap kandungan kitab fiqih yang telah disusun dalm mazhab masing-masing. Penjelasan yang dibuat bisa berbentuk mukhtasar (ringkasan) dari buku-buku yang muktabar (terpandang) dalam mazhab atau hasyiah dan takrir (memperluas dan mempertegas pengertian lafal yang di kandung buku mazhab), tanpa menguraikan tujuan ilmiah dari kerja hasyiah dan takrir tersebut. 2. Jelaskan dan berikan contoh klasifikasi ilmu fiqih dan sumber fiqih berdasarkan alQur’an? = Klasifikasi ilmu fiqih: 1. Ibadah, artinya pengabdian dan penyembahan seorang muslim terhadap Allah SWT., yang dilakukan dengan merendahkan diri dengan niat yang ikhlas. Dalam al-qur’an Allah SWR berfirman: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat/51:56) 2. Muamalat, ialah peraturan agama untuk menjaga hak milik manusia dalam tukar menukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat. Dan Allah SWT., berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan, dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. AlBaqarah/2:280) 3. Munakahat, ialah undang-undang perkawinan atau akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang lai-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.dan Allah SWT., berfirman: “Maka kawinlah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinlah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS. An-Nisaa/4:3) 4. Jinayat, ialah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan dapat menimbulkan hukuman demi menjaga harta, jiwa serta hak asai manusia. Dan Allah SWT berfirman: ”Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsunga) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.(QS. Al.Baqarah/2:179) Sumber-sumber fiqih: 1. Al-qur’an, merupakan kitab yang diturunkan Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita dari sumber-sumber yang terpercaya. 2. As-sunnah, yaitu perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan dasar hokum islam. 3. Al-Ijma’, ialah kesepakatan para mujtahid atau ulama umat Nabi Muhammad SAW dalam suatu masa setelah beliau wafat atas suatu hhukum tertentu. 4. Al-Qiyas, ialah persamaan hokum sesuatu yang tidak ada dalilnya dikarenakan hampir bersamaan atau karena ada persamaan hokum. 3. Berikan penjelasan tentang bagaimana hakikat karakteristik fikih islam?! = Hakikat karakteristik fiqih terbagi 6 yakni: 1. Fiqih Islam itu Dasarnya Adalah Wahyu Ilahi. Keistimewaan fiqh islam dibanding undang-undang adalah bahwa fiqh islam bersumber pada wahyu Allah yang tersurat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. 2. Fiqih Islam bersifat komperensif Mencakup Seluruh Aspek Kebutuhan Hidup. Fiqh islam bersifat komprehensif, yakni mencakup seluruh tuntutan kehidupan manusia. Fiqh islam mempunyai kelebihan dibanding sistem undang-undang yang lain karena ia mencakup tiga aspek hubungan, yaitu hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan maasyarakatnya. 3. Fiqh Islam itu Berbicara Tentang Halal-Haram. Salah satu perbedaan antara fiqh islam dengan undang-undang hukum positif adalah bahwa dalam fiqh islam selalu ada pemikiran mengenai halal-haram terhadap setiap tindakan muamalah, tidak hanya persoalan-persoalan yang bersifat duniawi tapi juga yang bersifat ukhrawi. 4. Fiqh Islam terkait dengan Masalah Akhlak/Moral. Fiqh islam terpengaruh dengan undang-undang moral (qawaid al-akhlaq) bahkan ia menyempurnakannya dan juga ingin menjaga keutamaan, idealitas dan tegaknya moralitas. 5. Hukuman Bagi Pelanggar Hukum Dunia dan Akhirat. Fiqh islam berbeda dengan undang-undang konvensional buatan manusia (al-qanun al-wad’iyyi) yang hanya menetapkan hukuman didunia saja bagi orang yang melanggarnya, karena fiqh islam memberikan sanksi hukuman bagi yang melanggar pada dua hal, yaitu hukuman dunia, baik berupa hukuman hudud yang sudah ditentukan maupun ta’zir yang tidak ditentukan terhadap perbuatan manusia yang bersifat zahir, dan hukuman akhirat atas perbuatan hati yang tidak tampak oleh manusia. 6. Adanya Orientasi Kolektivitas dalam Fiqih Islam. Artinya, dalam fiqh islam itu selalu menjaga kemaslahatan individu dan sosial secara bersama-sama, tanpa harus melanggar hak orang lain. 4. Jelaskan pengertian dan pembagian hukum syara serta kemukakan salah satu ayat alqur’an secara lengkap?! = Secara etimologi hukum syara adalah kata majemuk yang tersusun dari kata “hukum” yang berarti memutuskan, menetapkan atau menyelesaikan, dan kata “syara” yang berarti jalan, jalan yang dilalui manusia dalam menuju kepada Allah. Hukum syara adalah seruan / firman dari Allah yang terkait dengan perbuatanperbuatan para mukallaf, baik berupa tuntutan, pemberian pilihan atau penetapan sesuatu sebagai pengatur hukum. Macam-macam hukum Syara’:  Hukum Taklifi ialah suatu ketentuan yang menuntut mukallaf melakukan atau meninggalkan perbuatan atau berbentuk pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan. Hukum taklifi ini terbagi kepada lima bagian, yaitu salah satunya Ijab (mewajibkan), yaitu ayat atau hadits dalam bentuk perintah yang mengharuskan untuk melakukan suatu perbuatan. Misalnya ayat yang memerintahkan untuk melakukan sholat yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 43 berikut ini: “Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orangorang yang ruku’”  Hukum Wadh’I merupakan perintah Allah yang berbentuk ketentuan yang ditetapkan Allah, tidak langsung mengatur perbuatan mukallaf, tetapi berkaitan dengan perbuatan mukallaf itu, dengan kata lain Hukum Wadh’I adalah hukum yang menjadikan sesuatu sebagai sebab bagi adanya sesuatu yang lain atau sebagai syarat bagi sesuatu yang lain. 5. Berikan penjelasan serta berikan contoh tentang masalah fikih kontemporer?! = Masalah fiqh kontempporer adalah suatu bidang kajian yang membicarakan perihal persoalan-persoalan hukum islam ijtihadiyah yang secara nyata muncul pada dewasa ini dengan menerapkan metode istinbat hukum dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan kemaslahatan manusia dunia-akhirat. Contoh masalah fiqih kontemporer misalnya “Apakah memakai cadar itu bid’ah?” Jawabannya: pada kenyataannya, mengidentifikasi cadar sebagai bid’ah yang datang dari luar serta sama sekali bukan berasal dari agama dan bukan dari islam, bahkan menyimpulkan bahwa cadar masuk kekalangan umat islam pada zaman kemunduran yang parah, tidaklah ilmiah dan tidak tepat sasaran. Identifikasi seperti ini hanyalah bentuk perluasan yang merusak inti persoalan dan hanya menyesatkan usaha untuk mencari kejelasan yang sebenarnya. Satu hal yang tidaj disangkal oleh siapapun yang mengetahui sumber-sumber ilmu dan pendapat ulama, bahwa masalah tersebut merupakan maslah khilafiyah. Artinya, persoalan apakah boleh membuka wajah atau wajib menutupnya. Demikian pula dengan hukum kedua telapak tangan adalah masalah yang masih diperselisihkan. Mereka berpendapat dan menafsirkan firman Allah: “…Dan janganlah merreka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang tampak daripadanya…” (QS.an-Nur:31) Mereka meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, dia berkata bahwa yang dimaksud dengan “kecuali apa yang biasa tampak daripadanya” ialah pakaian dan jilbab, yakni pakaian luar yang tidak mungkin disembunyikan. Mereka juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa beliau menafsirkan “apa yang bisa tampak” itu dengan celak dan cincin. Penafsiran yang hampir sama lagi diriwayatkan dari Anas bin Malik. Dan penafsian yang hampir sama lagi diriwayatkan dari Aisyah. Selain itu, kadang-kadang Ibnu Abbas menyamakan dengan celak dan cincin, terhadap pemerah kuku, gelang, anting-anting, atau kalung. Ada pula yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan perhiasan disini ialah tempatnya. Ibnu Abbas berkata, “(yang dimaksud ialah) bagian wajah dan telapak tangan.” Dan penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Atha’ dan lain-lain. Sebagian ulama lagi menganggap bahwa sebagian dari lengan termasuk “apa yang biasa tampak” itu. Ibnu Athiyah menafsirkannya dengan apa yang tampak secara darurat, misalnya karena dihembus angin atau lainnya. Mereka juga berbeda pendapat dalam menafsirkan firman Allah: “Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka, mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, ‘yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AlAhzab:59). KESIMPULAN 1. Periodisasi ilmu fiqh ada enam yaitu periode risalah, periode al-khulafaur rasyidin, periode awal pertumbuhan fiqih, periode keemasan, periode tahrir, takhrij, dan tarjih dalam mazhab fiqih serta periode kemunduran fiqih. 2. Ada beberapa klasifikasi ilmu fiqih yaitu ibadah, muamalat, munakahat, dan jinayat. 3. Karakteristik fiqih islam ialah fikih isla itu dasarnya adalah wahyu ilahi; fiqh islam bersifat komprenshif mencakup seluruh aspek kehidupan hidup; fiqih islam itu berbicara tentang halal-haramm; fiqih islam terkait dengan masalah akhlak/moral; hukuman bagi pelanggar hukum dunia dan akhirat; adanya orientasi kolektivitas dalam fiqh islam. 4. Hukum syara adalah seruan / firman dari Allah yang terkait dengan perbuatanperbuatan para mukallaf. 5. Fiqh kontemporer adalah hasil ijtihad terhadap masalah hukum islam yang terjadi pada masa kekinian, dengan menggali sumber hukum islam berupa al-qur’an dan sunnah dan jurisprudensi ulama terdahulu serta mengintegrasikan iptek dalam menyimpulkan hasil ijtihad yang bespirit pada kemaslahatan umat manusia didunia dan akhirat. SARAN Alhamdulillah akhirnya penyusun dapat menyelesaikan tugas ujian akhir ini, segala koreksi dan saran demi kesempurnaan tugas ini penyusun harapkan sebagai bentuk kepedulian bagi yang ingin menambahkan khazanah, kekeliruan dan sebagai bahan untuk memperbaiki apa yang telah disusunnya. Sehingga mudah-mudahan untuk waktu kedepannya penyusun bisa lebih baik.

Judul: Ujian Akhir Semester Ilmu Fiqh

Oleh: Nirwana Putri Awaliah


Ikuti kami