2-analisa Ekonomi

Oleh Elconan Dangtetif

167,3 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip 2-analisa Ekonomi

ANALISIS KELAYAKAN AGRIBISNIS (ANALISIS EKONOMI) Tujuan Instruksional Umum: a. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian analisis ekonomi dalam agribisnis. b. Mahasiswa mampu menjelaskan manfaat dan pertimbangan dilakukannya analisis ekonomi. c. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan dan persamaan antara analisis financial dan analisis ekonomi. d. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian harga bayangan (shadow price) dan penyebab terjadinya harga bayangan. e. Mahasiswa mampu melakukan analisis ekonomi. PUSTAKA 1. Djamin, Zulkarnain. 1984. Perencanaan dan Analisa Proyek (edisi satu). Jakarta : LPFE UI. 2. Gittinger, J.P. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian (edisi kedua). Jakarta : UI Press. 3. Gray, C., dkk. 1993. Pengantar Evaluasi Proyek (edisi kedua). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 4. Husnan, Suad dan Sumarsono. 1994. Studi Kelayakan Proyek. Yogyakarta : UPP AMP YKPN. 5. Pudjosumarto, Muljadi. 1985. Evaluasi Proyek. Yogyakarta : Liberty. 6. Soetriono. 2011. Analisis Finansial dan Ekonomi. http:irtuss.blogspot.com (Diakses : 7 Maret 2011). 7. Sofyan, Iban. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Yogyakarta : Graha Ilmu. 8. Umar, Husen. 2003. Studi Kelayakan Bisnis (edisi kedua). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. 1 1.1 PENGERTIAN ANALISIS EKONOMI  Analisis ekonomi merupakan analisis proyek ditinjau dari sudut pandang ekonomi nasional, yaitu dengan memperhatikan manfaat dan pengorbanan (biaya) yang ditanggung oleh semua pihak dalam perekonomian.  Yang diperhatikan dalam analisa ekonomi adalah hasil total atau produktivitas suatu proyek untuk masyarakat atau perekonomian secara keseluruhan.  Hasil dari analisis ekonomi disebut the social return atau the economic return.  Analisis ekonomi terutama penting dilakukan untuk proyek-proyek berskala besar, (yang seringkali menimbulkan perubahan dalam penambahan penawaran dan permintaan akan produk-produk tertentu), karena dampak yang ditimbulkan pada ekonomi nasional cukup berarti. 1.2 MANFAAT DAN PERTIMBANGAN DILAKUKAN ANALISIS EKONOMI Manfaat dilakukan analisa kelayakan proyek secara ekonomi, antara lain untuk mengetahui : a. Apakah proyek tersebut berkontribusi atau membebani perekonomian nasional. Mungkin terjadi suatu proyek menguntungkan dari sudut pandang perusahaan, tetapi membebani perekonomian nasional. Misalnya, pemerintah memproteksi suatu proyek tertentu agar produknya bisa berfungsi sebagai substitusi impor. b. Apakah menimbulkan masalah eksternalitas atau dampak fisik yang mempengaruhi masyarakat. Ketika proyek dilaksanakan, proyek bisa menimbulkan dampak eksternal yang menguntungkan (memacu kegiatan ekonomi masyarakat) atau merugikan (pencemaran lingkungan). c. Apakah ada hal-hal yang perlu diperhatikan, terutama menyangkut unsur biaya dan penerimaan proyek. Perlakuan terhadap beberapa jenis biaya ini, jika tidak diantisipasi dari awal dapat menyebabkan kesalahan dalam menetapkan nilai yang akan dijadikan dasar penilaian kelayakan usaha. Misalnya perlakuan terhadap pajak, subsidi, harga tenaga kerja, tanah, dll. Analisis ekonomi dilakukan dengan pertimbangan : a. Ketidaksempurnaan pasar, termasuk di dalamnya distorsi yang timbul karena peraturan pemerintah. Misalnya : pengendalian harga, pengendalian suku bunga, proteksi, monopoli, dll. b. Adanya pajak dan subsidi. Pajak berarti pendistribusian sebagian kekayaan konsumen/perusahaan kepada pemerintah. Pajak akan mengurangi keuntungan proyek dari sudut pandang perusahaan, tetapi akan meningkatkan kekayaan pemerintah. c. Berlakunya konsep surplus konsumen dan surplus produsen. Konsep surplus konsumen berkaitan erat dengan konsep “consumers willingness to pay” yang berguna untuk menghitung harga yang relevan pada analisis ekonomi. 2 1.3 PERBEDAAN DAN PERSAMAAN ANALISIS FINANSIAL DAN EKONOMI Berikut ini adalah perbedaan dan persamaan antara analisis ekonomi dan financial. No Uraian 1. Orientasi 2. Harga PERBEDAAN Analisis Finansial Motif keuntungan (private return) Harga Pasar (Market Price) PERSAMAAN Analisis Ekonomi Pertumbuhan ekonomi (economic return) Harga Bayangan (Shadow Price) Perhitungan dengan criteria discounted. Kriteria discounted untuk mengetahui berapakah nilai saat ini dari manfaat (benefit) serta biaya-biaya (cost) selama umur ekonomis proyek (in the future), diukur dengan nilai uang sekarang (present value).  Analisis ekonomi menggunakan perhitungan dengan dasar harga-harga financial.  Harga-harga financial tersebut disesuaikan dengan kebutuhan, guna menggambarkan nilai proyek bagi masyarakat secara keseluruhan, baik dari sisi input maupun output proyek tersebut.  Ketika harga pasar setiap barang atau jasa diubah untuk lebih bisa menggambarkan biaya opportunitas (nilai dari barang dan jasa yang dikorbankan untuk alternative penggunaan yang terbaik) terhadap masyarakat, maka nilai (harga) yang baru tersebut disebut harga bayangan (shadow price).  Pudjo Sumarto (1991) menyatakan bahwa harga bayangan merupakan suatu harga yang nilainya tidak sama dengan harga pasar, tetapi harga barang tersebut dianggap mencerminkan nilai sosial sesungguhnya dari suatu barang dan jasa.  Gray et al. (1993) menyatakan bahwa harga bayangan dari suatu produk atau faktor produksi merupakan social opportunity cost, yaitu nilai tertinggi suatu produk atau faktor produksi dalam penggunaan alternatif terbaik. Timbulnya harga bayangan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Perubahan-perubahan dalam perekonomian yang terlalu cepat, sehingga mekanisme pasar tidak dapat mengikutinya. Mengakibatkan harga ketidakseimbangan yang terjadi tidak mencerminkan biaya atau manfaat atau hasil yang sebenarnya. 2. Proyek-proyek yang terlalu besar atau invisible, menyebabkan perubahan dalam harga pasar input dan output, sehingga tidak diperoleh satu harga pasar yang dapat dipakai untuk mengukur nilainya. 3. Unsur-unsur monopolistis di dalam pasar, adanya pajak dan subsidi, akhirnya menyebabkan harga pasar menyimpang dari ukuran sebenarnya, baik untuk biaya atau hasil sosialnya. 4. Berbagai macam input dan output dalam proyek, sehingga dengan sebab-sebab teknis, administrative atau pun social tidak dapat dijual atau dibeli dengan cara biasa. 3 1.4 CARA MENENTUKAN NILAI-NILAI EKONOMI Ketika melakukan analisis ekonomi, maka seluruh biaya dan manfaat suatu proyek perlu dinilai kembali, agar setiap unsur biaya dan manfaat proyek tersebut dapat mencerminkan nilai yang sebenarnya. Gittinger (1986), membagi menjadi 3 langkah dalam menyesuaikan harga financial menjadi harga ekonomi, yaitu : (1) penyesuaian pembayaran transfer langsung, (2) penyesuaian untuk penyimpangan harga pada barang yang diperdagangkan, dan (3) penyesuaian untuk penyimpangan harga pada barang yang tidak diperdagangkan. (1) PENYESUAIAN PEMBAYARAN TRANSFER LANGSUNG Transfer langsung bisa berupa transfer payment (pemindahan pembayaran), yaitu biaya (pajak) dan manfaat (subsidi) bagi masyarakat. Transfer langsung juga bisa merupakan transaksi kredit dan v jasa pinjaman. Dalam analisis ekonomi, pajak dan subsidi merupakan pemindahan pembayaran (transfer payment) dari pihak satu ke pihak lain (masyarakat/usaha dan pemerintah), sehingga nilai pajak dan subsidi ini tidak diperhitungkan dalam analisa ekonomi. Transaksi kredit (pinjaman) menurut analisa ekonomi hanya pemindahan pengawasan sumber modal dari pemberi pinjaman ke peminjam, sehingga tidak mepengaruhi pendapatan nasional. Contoh : a. Harga input produksi : Rp 1.000 per kg. Pajak 10 % : Rp 100 per kg.  Analisis finansial : biaya produksi sebesar Rp 1.100 per kg.  Analisis ekonomi : biaya produksi sebesar Rp 1.000 per kg. Pajak merupakan pemindahan pembayaran dari usaha ke pemerintah. b. Harga input produksi : Rp 1.000 per kg. Subsidi 10 % : Rp 100 per kg.  Analisis finansial : biaya produksi sebesar Rp 900 per kg.  Analisis ekonomi : biaya produksi sebesar Rp 1.000 per kg. Subsidi merupakan pemindahan pembayaran dari pemerintah ke usaha. (2) TRADEABLE GOODS (BARANG YANG DIPERDAGANGKAN) Tradeable goods merupakan barang yang digunakan sebagai input atau output yang diperdagangkan dalam perdagangan internasional (berkaitan dengan ekspor dan impor). Tradeable goods dikelompokkan menjadi : a. Barang dan jasa yand diekspor. Nilai ekonominya adalah harga ekspor fob (free on board). b. Barang dan jasa yand diimpor. Nilai ekonominya adalah harga impor cif (cost, insurance and freight). c. Barang substitusi ekspor, yaitu barang yang digunakan untuk input produksi suatu usaha, yang mana tanpa adanya usaha ini, barang tersebut diekspor. Nilai ekonominya adalah harga ekspor fob. 4 d. Barang substitusi impor, yaitu barang yang dihasilkan oleh suatu usaha domestic untuk menggantikan barang impor. Nilai ekonominya adalah harga impor cif. FOB adalah harga perbatasan (border price) untuk barang-barang yang diekspor, yang mencakup harga dan semua biaya (ongkos pengepakan, bongkar muat, biaya angkut dari gudang ke pelabuhan) hingga barang tersebut dimuat di atas kapal, diukur dalam US$ per satuan. CIF adalah harga perbatasan (border price) untuk barang-barang yang diimpor, yang mencakup harga dan semua biaya (ongkos pengepakan, bongkar muat, biaya angkut dari gudang ke pelabuhan) hingga barang tersebut dimuat di atas kapal, diukur dalam US$ per satuan. Menurut Djamin (2003), harga perbatasan (border price) yang relevan untuk input dan output yang diimpor adalah harga impor CIF lepas dari pelabuhan, dikurangi segala jenis bea masuk, pajak impor dan sebagainya. Sedangkan untuk input dan output yang diekspor maka harga perbatasan (border price) yang relevan adalah harga FOB pada titik masuk pelabuhan ekspor. HARGA PARITAS UNTUK TRADEABLE GOODS Harga paritas muncul karena adanya perdagangan luar negeri yang melibatkan mata uang asing dan mata uang sendiri. Harga yang dipakai adalah harga CIF dan FOB. Contoh Penentuan Harga Paritas di Pedagang Besar dan Di Lokasi Proyek (tingkat Petani) pada Analisis Finansial 1. Harga Paritas Ekspor. N Uraian o 1Harga FOB (US$/ton) 318,0 2Ex. Rate (Rp/US$) 9.549,6 3Harga FOB (Rp/kg) 3.036,8 4Transportation and handling (Rp/kg) : a. Port - Province 30,0 b. Province - Kabupaten 35,0 c. Handling 27,6 5Value before processing (Rp/kg) 2.944,2 6Processing convertion factor (%) 100% 7Export parity at wholesaler (Rp/kg) 2.944,2 8Distribution cost to farm (Rp/kg) 20,0 9Eksport parity value at farm (Rp/kg) 2.924,2 2. Harga Paritas Impor Nigeria adalah negara pengimpor jagung.Proyek dilaksanakan agar Nigeria mampu memproduksi jagung dan tidak mengimpor. Maka harga maksimum yang diharapkan diterima petani di lokasi proyek adalah N 90. Harga ini merupakan harga yang tidak dibebani dengan pajak, subsidi, atau larangan impor. 5 NILAI TUKAR MATA UANG Terdapat dua nilai tukar, yaitu nilai tukar resmi (official exchange rate = OER) dan nilai tukar riil atau pasar (shadow exchange rate = SER). . Harga bayangan untuk nilai tukar mata uang (SER) adalah nilai tukar resmi yang ditentukan oleh lembaga pemerintah (OER) dibagi dengan factor konversi (Standard Convertion Factor). OER SER= SCF Jika pasar dianggap telah mencerminkan opportunity cost nilai tukar mata uang, maka SCF = 1 (SER=OER). M+ X SCF= ( M +Tm )+( X −Tx) Keterangan :  SER : nilai tukar bayangan (shadow exchange rate)  OER : nilai tukar resmi (official exchange rate)  SCF : factor konversi standar (standard convertion factor)  M : nilai impor (Rp)  X : nilai ekspor (Rp)  Tm: pajak impor (Rp)  Tx : pajak ekspor (Rp) Premi Devisa  Premi devisa adalah biaya yang ditambahkan pada alat perdagangan luar negeri.  Premi devisa diperlukan karena : (1) adanya kebijakan perdagangan (tariff, subsidi pada barang yang diekspor dan diimpor), dan (2) pembayaran premi lebih besar pada barang yang diperdagangkan daripada tidak diperdagangkan.  Jika tidak menggunakan premi devisa, maka harga impor akan terlihat lebih murah dari barang lokal, sehingga merangsang investasi yang berlebihan pada proyek yang menggunakan barang impor.  Contoh : Jika pemerintah mengimpor alat pemotong rumput, maka jika tidak ada pembebanan premi devisa terhadap harga impor, akan terlihat alat pemotong rumput impor lebih murah dibandingkan dengan menggunakan tenaga kerja lokal.  Terdapat 2 cara untuk menentukan harga barang dengan premi devisa : a. Menggunakan devisa bayangan. Hal ini menyebabkan harga barang yang diperdagangkan lebih mahal senilai premi devisanya. b. Menggunakan SCF. Hal ini menyebabkan menurunnya harga domestic dari barang yang tidak diperdagangkan.  Hubungan Premi Devisa (PD) dengan OER, SER dan SCF : 1 SER=OER X ( 1+ PD ) SCF= ( 1+ PD ) OER OER SER= SCF = SCF SER 6 (3). NON-TRADEABLE GOODS (BARANG YANG TIDAK DIPERDAGANGKAN) Suatu barang tidak diperdagangkan apabila : a. Harga impornya (harga CIF) lebih besar dari biaya produksi domestik. b. Harga ekspornya (harga FOB) lebih kecil dari biaya produksi domestik. c. Terdapat kebijakan pemerintah untuk tidak mengekspor/mengimpor. d. Bentuk, jenis dan kualitas produk tidak memenuhi syarat ekspor. e. Terdapat hambatan memasuki pasar internasional (kendala transportasi domestik, konstruksi, listrik, air, tanah, dll.) Klasifikasi non-tradeable goods antara lain : a. Tanah. Penentuan harga tanah tergantung dari :  Marginal value of product (MVP) atau nilai produk marginal  Faktor permintaan  Lokasi  Spekulasi  Prestise Cara menghitung opportunity cost tanah dengan melihat dari :  Nilai sewa. Untuk tanah yang tidak menghasilkan maka harga bayangannya dapat berupa nilai sewa dari tanah tersebut.  Harga pembelian  Benefit atau production forgone (kemampuan tanah untuk menghasilkan sesuatu yang hilang akibat dari adanya usaha/proyek). Contoh : Sebidang karet sebesar terkena dihitung tahun dari yaitu dari karet tahun (t= Tahun MVP (Rp Juta) DF NPV 1 3 10% 0,909 (Rp Juta) 2,727 2 3 0,826 2,478 3 3 0,751 2,253 4 3 0,683 2,049 5 3 0,621 1,863 6 3 0,564 1,692 7 3 0,513 1,539 8 3 0,467 1,401 9 3 0,424 1,272 10 3 0,385 1,155 Jumlah 18,43 tanah yang sebelumnya telah menghasilkan dengan nilai MVP Rp 3 juta akan proyek jalan. Opportunity cost sampai waktu 10 output forgone, present value selama waktu 10 10), r=10%. 7 10 3 juta =18,43 juta t t=1 ( 1+0,1 ) Jadi nilai saat ini dari kebun karet yang digunakan sebagai jalan sebesar Rp 18,43 juta. (PV = Rp 18,43 juta = opportunity cost = output forgone). PV =∑ b. Tenaga kerja. Menurut Djamin (1993), harga bayangan tenaga kerja ditentukan berdasarkan jumlah dari production forgone (nilai tenaga kerja tersebut jika dia tidak bekerja pada proyek), biaya pengangkutan tenaga kerja dari daerah tempat asalnya ke lokasi proyek, biaya makan dan pakaian. Jika suatu usaha/proyek memperkerjakan tenaga kerja, maka terdapat tiga kemungkinan asal tenaga kerja tersebut :  Menggunakan tenaga kerja dari sector lain. Harga bayangan tenaga kerja sebesar berapa besar sector lain tersebut bersedia membayar untuk tenaga kerja tersebut.  Mempekerjakan tenaga kerja yang menganggur. Harga bayangan tenaga kerja lebih rendah dari upah yang dibayarkan oleh proyek tersebut.  Menggunakan tenaga kerja dari luar negeri. Harga bayangan tenaga kerja adalah upah yang diinginkan oleh tenaga kerja luar negeri ditambah dengan premium dalam bentuk devisa yang dikirimkan ke negara asal tenaga kerja tersebut (wage remittance). 8

Judul: 2-analisa Ekonomi

Oleh: Elconan Dangtetif

Ikuti kami