Teknologi Batik Kamus Batik Pendidikan Teknik Busana Pendidikan Teknik Boga, Busana, Dan Rias Fakult...

Oleh Anggi Nirmala

1,8 MB 12 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Teknologi Batik Kamus Batik Pendidikan Teknik Busana Pendidikan Teknik Boga, Busana, Dan Rias Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

TEKNOLOGI BATIK KAMUS BATIK Dibimbing oleh : Dra. Kapti Asiatun M.Pd. Disusun oleh : Nati Anggita Nirmala Jati (18513244012) Kelas D PENDIDIKAN TEKNIK BUSANA PENDIDIKAN TEKNIK BOGA, BUSANA, dan RIAS FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN A. DEFINISI BATIK Batik adalah kain yang dilukis menggunakan canting dan cairan lilin malam sehingga membentuk lukisan-lukisan bernilai seni tinggi diatas kain mori. Batik berasal dari kata amba dan tik yang merupakan bahasa jawa, yang artinya adalah menulis titik. Dari sini bisa dimengerti jika yang dimaksud itu adalah batik tulis yang dilukis dengan canting. Tapi sebenarnya batik dibuat dengan bermacammacam metode, tidak hanya dengan canting saja. Ambatik mengacu kepada teknik melukis titik-titik yang serba rumit. Batik itu diartikan sebagai seni membuat titik, atau menitik. Dengan kata lain, batik itu adalah sebuah metode pembuatan kain. Mengapa titik? Alat yang digunakan untuk membuat motif batik adalah canting. Garis dan motif yang dihasilkan oleh canting selalu terdiri dari sebuah titik. Batik berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), batik merujuk kepada sebuah kata benda. Yang dimaksud disini adalah kain batik atau baju batik yang sudah selesai dilukis. Walaupun yang dimaksud secara definisi adalah batik tulis yang menggunakan canting, namun metode pembuatan batik sendiri ada beberapa, seperti cap, cetak, dan printing. Ada juga batik yang dibuat menggunakan kuas, namanya batik lukis, tapi cukup jarang ditemukan. Bila kita telusuri secara makna, batik itu adalah sebuah teknik untuk mempertahankan warna diatas kain dengan menggunakan malam atau lilin. B. MAKSUD DAN TUJUAN 1. Menjelaskan definisi batik 2. Mengenal lebih banyak macam – macam batik dari berbagai daerah dan nusantara 3. Mengetahui macam – macam batik serta filosofi dan penggunaannya BAB II PEMBAHASAN NO NAMA BATIK dan GAMBAR 1. Motif Batik Truntum PENJELASAN  Zat Pewarna: Soga Alam  Kegunaan : Dipakai saat pernikahan  Ciri Khas : Kerokan  Makna Filosofi : Truntum artinya menuntun, diharapkan orang tua bisa menuntun calon pengantin. 2. Motif Batik Tambal ( Jogja )  Daerah: Jogja  Digunakan : Sebagai Kain Panjang  Unsur Motif : Ceplok, Parang, Meru dll  Ciri Khas : Kerokan  Makna Filosofi : Ada kepercayaan bila orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, sakitnya cepat sembuh, karena tambal artinya menambah semangat baru 3. Motif Batik Pamiluto (Jogja)  Kegunaan : Kain panjang saat pertunangan  Unsur Motif : Parang, Ceplok, Truntum dan lainnya  Filosofi : Pamiluto berasal dari kata “pulut”, berarti perekat, dalam bahasa Jawa bisa artinya kepilut [tertarik]. 4. Motif Bledak Sidoluhur  Kegunaan : Upacara Mitoni ( Upacara Masa 7 Bulan bagi Pengantin Putri saat hamil pertama kali)  Filosofi : Yang menggunakan selalu dalam keadaan gembira. 5. Motif Sido Wirasat  Daerah: Jogja  Nama motif : Sido Wirasat  Daerah : Jawa  Dikenakan : Orang tua temanten putri  Makna : Makna motif ini, supaya dikabulkan segala keinginannya, mencapai kedudukan yg tinggi, mandiri, terpenuhi segala materi, juga permohonan petunjuk dari Tuhan saat mendapat kegelapan agar cepat diberi jalan yang terang. 6. Motif Wahyu Tumurun  Daerah : Jogjakarta  Jenis Batik : Batik Kraton dari daerah Putra Mangkunegaran  Filosofi : Pola mahkota terbang yang menjadi motif utama menyimbolkan kemuliaan. Filosofinya menggambarkan pengharapan agar para pemakainya mendapat petunjuk, berkah, rahmat, dan anugerah yang berlimpah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengharapan untuk mencapai keberhasilan dalam meraih cita – cita, kedudukan ataupun pangkat. 7. Motif Cakar Ayam  Daerah : Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta. Hal ini disebabkan kedua daerah tersebut, dulu merupakan ibu kota bekas kerajaan yang hingga saat ini tetap menjadi sentral akan kebudayaan seni dan sastra Jawa. Bagi rakyat Jawa, kraton tidak hanya diresapi sebagai pusat politik dan budaya, melainkan juga sebagai pusat keramat kerajaan.  Kegunaan : Upacara Mitoni, Untuk Orang Tua Pengantin pada saat Upacara Tarub, siraman.  Filosofi : Cakar ayam melambangkan agar setelah berumah tangga sampai keturunannya nanti dapat mencari nafkah sendiri atau hidup mandiri. 8. Motif Cuwiri  Zat pewarna : Soga Alam  Daerah : Surakarta dan Yogyakarta  Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi  Filosofi : Cuwiri artinya bersifat kecilkecil, diharapkan pemakai kelihatan pantas/ harmonis. 9. Motif Grageh Waluh  Daerah : Yogyakarta  Kegunaan : Harian (bebas)  Filosofi : Orang yang memakai akan selalu mempunyai cita-cita atau tujuan tentang sesuatu. 10. Motif Grompol  Kegunaan : Dipakai oleh Ibu mempelai puteri pada saat siraman  Filosofi : Grompol, berarti berkumpul atau bersatu, dengan memakai kain ini diharapkan berkumpulnya segala sesuatu yang baik-baik, seperti rezeki, keturunan, kebahagiaan hidup, dll. 11. Motif Kasatrian  Kegunaan : Dipakai pengiring waktu upacara kirab pengantin  Filosofi : Si pemakai agar kelihatan gagah dan memiliki sifat ksatria. 12. Motif Kawung Picis  Kegunaan : Dikenakan di kalangan kerajaan  Filosofi : Motif ini melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-usulnya, juga melambangkan empat penjuru dan melambangkan bahwa hati nurani sebagai pusat pengendali nafsu-nafsu yang ada pada diri manusia sehingga ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia. 13. Motif Mega Mendung  Filosofi: Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas atau dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). 14. Motif Bango Tulak ( Bangun Tulak)  Daerah: Cirebon  Filosofi: Bango-tulak diambil dari nama seekor burung yang mempunyai warna hitam dan putih yaitu tulak. Warna hitam diartikan sebagai lambang kekal (Jawa: langgeng), sedang warna putih sebagai lambang hidup (sinar kehidupan), dengan demikian hitam-putih melambangkan hidup kekal. 15. Motif Garuda  Daerah : Yogyakarta  Filosofi: Kata gurda berasal dari kata garuda, yaitu nama sejenis burung besar yang menurut pandangan hidup orang Jawa khususnya Yogyakarta mempunyai kedudukan yang sangat penting. Menurut orang Yogyakarta burung ini dianggap sebagai binatang yang suci. 16. Motif Meru  Daerah: Yogyakarta  Filosofi: Meru berasal dari kata Mahameru, yaitu nama sebuah gunung yang dianggap sakral karena menjadi tempat tinggal atau singgasana bagi Tri Murti yaitu Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Siwa. Sebagai simbol harapan agar mendapatkan berkah dari Tri Murti. 17. Motif Parang curigo Ceplok kepet  Kegunaan : Berbusana, menghadiri pesta  Filosofi : Curigo = keris, kepet = isis  Si pemakai memiliki kecerdasan, kewibawaan serta ketenangan. 18. Motif Parang Kusumo  Kegunaan : Berbusana pria dan wanita  Filosofi : Parang Kusumo = Bangsawan  Mangkoro = Mahkota  Pemakai mendapatkan kedudukan, keluhuran dan dijauhkan dari marabahaya. 19. Motif Kawung  Zat Pewarna: Naphtol  Kegunaan : Sebagai Kain Panjang  Unsur Motif : Geometris  Makna Filosofi : Biasa dipakai raja dan keluarganya sebagai lambang keperkasaan 20. Motif Sidoluhur  Daerah: Yogyakarta  Daerah : Kraton Surakarta  Jenis Batik : Batik Kraton  Dikenakan : Temanten Putri (malam pengantin) 21. Motif Sidoasih  Makna : Dua jiwa menjadi satu  Daerah : Kraton Surakarta  Jenis Batik : Batik Kraton  Dikenakan : Temanten Putri (malam pengantin) 22. Motif Bondet  Makna : Dua jiwa menjadi satu  Daerah : Kraton Surakarta  Jenis Batik : Batik Kraton  Dikenakan : Temanten Putri (malam pengantin) 23. Motif Sekar jagad  Makna : Dua jiwa menjadi satu  Jenis Batik : Batik Petani  Dikenakan : Orang Tua Temanten 24. 25. 26. Motif Sidomulyo Motif Semen Rante Batik Sidomukti  Makna : Hatinya gembira semarak  Daerah : Banyumas  Jenis Batik : Batik pengaruh Kraton  Dikenakan : Temanten Pria atau putri  Makna : Bahagia, rejeki melimpah  Daerah : Surakarta  Jenis Batik : Batik Petani  Dikenakan : Utusan  Makna : Panah mengena dan diikat  Daerah : Surakarta  Jenis Batik : Batik Petani  Dikenakan : Temanten Putra/Putri (Resepsi /Pahargan) 27. Bledak Sidoluhur Latar Putih  Makna : Bahagia, berkecukupan  Kegunaan : Upacara Mitoni ( Upacara Masa 7 Bulan bagi Pengantin Putri saat hamil pertama kali)  Filosofi : Yang menggunakan batik dengan motif ini selalu dalam keadaan gembira. 28. Cakar Ayam  Kegunaan : Upacara Mitoni, Untuk Orang Tua Pengantin pada saat Upacara Tarub, siraman.  Filosofi : Cakar ayam melambangkan agar setelah berumah tangga sampai keturunannya nanti dapat mencari nafkah sendiri (mandiri). 29. Cuwiri  Kegunaan : Mitoni, menggendong bayi  Filosofi : Cuwiri = bersifat kecil- kecil, Pemakai kelihatan pantas/ harmonis. 30. Grageh Waluh  Kegunaan : Harian (bebas)  Filosofi : Orang yang memakai akan selalu mempunyai cita-cita atau tujuan tentang sesuatu. 31. Grompol  Kegunaan : Dipakai oleh Ibu mempelai puteri pada saat siraman  Filosofi : Grompol, berarti berkumpul atau bersatu, dengan memakai kain batik motif grompol ini diharapkan berkumpulnya segala sesuatu yang baik-baik, seperti rezeki, keturunan, kebahagiaan hidup, dll. 32. Harjuno Manah  Kegunaan : Upacara Pisowanan / Menghadap Raja bagi kalangan Kraton  Filosofi : Orang yang memakai motif batik Harjuno Manah apabila mempunyai keinginan akan dapat tercapai. 33. Jalu Mampang  Kegunaan : Untuk menghadiri Upacara Pernikahan  Filosofi : Memberikan dorongan semangat kehidupan serta memberikan restu bagi pengantin. 34. Jawah Liris Seling Sawat Gurdo 35.  Kegunaan : Berbusana  Filosofi  Kegunaan : Dipakai pengiring waktu : Jawah liris=gerimis upacara kirab pengantin Kasatrian  Filosofi : Si pemakai agar kelihatan gagah dan memiliki sifat ksatria. 36. Kawung Picis  Kegunaan : Dikenakan di kalangan kerajaan  Filosofi : Motif ini melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal-usulnya, juga melambangkan empat penjuru (pemimpin harus dapat berperan sebagai pengendali kea rah perbuatan baik). Juga melambangkan bahwa hati nurani sebagai pusat pengendali nafsunafsu yang ada pada diri manusia sehingga ada keseimbangan dalam perilaku kehidupan manusia. 37. Kembang Temu Latar Putih  Kegunaan : Bepergian, pesta  Filosofi : Kembang temu = temuwa. Orang yang memakai memiliki sikap dewasa (temuwa). 38. Klitik  Kegunaan : Busana Daerah  Filosofi : Orang yang memakai menunjukkan kewibawaan. 39. Latar Putih Cantel Sawat Gurdo  Kegunaan : Busana Daerah  Filosofi : Bila dipakai menjadikan wibawa. 40. Lerek Parang Centung  Kegunaan : Mitoni, dipakai pesta  Filosofi : Parang centung = wis ceta macak, kalau dipakai kelihatan cantik (macak). 41. Lung Kangkung  Kegunaan : Pakaian harian  Filosofi : Lung (Pulung), aslinya dengan memakai kain tersebut akan mendatangkan pulung (rezeki). 42. Nitik  Kegunaan : Busana daerah  Filosofi : Orang yang memakai adalah bijaksana, dapat menilai orang lain 43. Nitik Ketongkeng  Kegunaan : Bebas  Filosofi : Biasanya dipakai oleh orang tua sehingga menjadikan banyak rejeki dan luwes pantes. 44. Nogo Gini  Kegunaan : Upacara temanten Jawa (Gandeng temanten)  Filosofi : Apabila memakai kain tersebut kepada pengantin akan mendapatkan barokah 45. Nogosari  Kegunaan : Untuk upacara mitoni  Filosofi : Nogosari nama sejenis pohon, motif batik ini melambangkan kesuburan dan kemakmuran. 46. Parang Barong  Kegunaan : Dipakai oleh Sultan/Raja.  Filosofi : Bermakna kekuasaan serta kewibawaan seorang Raja. 47. Ceplok Nitik Kembang Randu  Kegunaan : Menghadiri Pesta  Filosofi : Parang Bligo = bentuk bulat berarti kemantapan hati. kembang randu = melambangkan uang si pemakai memiliki kemantapan dalam hidup dan banyak rezeki. 48. Parang Curigo, Ceplok Kepet  Kegunaan : Berbusana, menghadiri pesta  Filosofi : Curigo = keris, kepet = isis,si pemakai memiliki kecerdasan, kewibawaan serta ketenangan. 49. Parang Grompol  Kegunaan : Busana daerah  Filosofi : Orang yang memakai akan mempunyai rezeki yang banyak. 50. Parang Kusumo Ceplok Mangkoro  Kegunaan : Berbusana pria dan wanita  Filosofi : Parang Kusumo = Bangsawan, Mangkoro = Mahkota. Pemakai mendapatkan kedudukan, keluhuran dan dijauhkan dari marabahaya. BAB II PENUTUP A. Kesimpulan Batik adalah kain yang dilukis menggunakan canting dan cairan lilin malam sehingga membentuk lukisan-lukisan bernilai seni tinggi diatas kain mori. Batik berasal dari kata amba dan tik yang merupakan bahasa jawa, yang artinya adalah menulis titik. Walaupun yang dimaksud secara definisi adalah batik tulis yang menggunakan canting, namun metode pembuatan batik sendiri ada beberapa, seperti cap, cetak, dan printing. Ada juga batik yang dibuat menggunakan kuas, namanya batik lukis, tapi cukup jarang ditemukan. B. Saran Batik sering dilupakan sebagai kain khas daerah di Indonesia, seharusnya batik selalu dilestarikan. Tetapi anak muda jaman sekarang terpengaruh oleh budaya – budaya luar, sehingga lupa akan budaya negaranya sendiri. Seharusnya anak – anak muda Indonesia melestarikan budaya Indonesia, contohnya batik sendiri, lebih bagus jikalau malah memperkenalkan batik ke luar Indonesia. DAFTAR PUSTAKA https://meandeachotherblablablah.blogspot.com/2012/03/beberapa-macam-motifbatik-dan.html https://www.brilio.net/wow/12-jenis-batik-di-indonesia-dan-penjelasan-filosofimotifnya-191128q.html# https://moondoggiesmusic.com/macam-macam-motif-batik-indonesia/ https://fitinline.com/article/read/16-motif-batik-yogyakarta-dan-maknanya-yangpenting-anda-ketahui-jangan-sampai-salah-pakai-ya/ https://batikusuka.wordpress.com/2015/01/22/mengenal-motif-batik-serta-filosofinya/ http://mallbassura.id/blog/beberapa-macam-motif-batik-dan-filosofinya https://bukubiruku.com/macam-macam-motif-baik-indonesia/ https://www.kaskus.co.id/thread/508ac5661b7608ad4f000015/13-filosofi-motif-batikjogjakarta-serba-13/

Judul: Teknologi Batik Kamus Batik Pendidikan Teknik Busana Pendidikan Teknik Boga, Busana, Dan Rias Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Oleh: Anggi Nirmala


Ikuti kami