Konsep Ilmu Menurut Hadist

Oleh Nur Hayati

383,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Konsep Ilmu Menurut Hadist

KONSEP ILMU MENURUT HADIST DAN PENERAPAN TERHADAP PEMBELAJARAN DALAM PANDANGAN ISLAM Nurhayati Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Nurhayati272002@gmail.com Abstrak Dalam pandangan islam ilmu yang merupakan dasar bagi manusia mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Sumber ilmu pengetahuan yang berasal dari hadist Nabi Muhammad SAW telah menjadikan kita menjadi manusia yang mempunyai tujuan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan juga bernegara. Hadist yang menjadi ajaran bagi umat islam dalam menjalankan kehidupan yang sejalan dengan tuntunan agama islam dan mengedepankan akhlak mulia sangat penting diterapkan dikehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, disini akan diuraikan bagaimana konsep ilmu pengetahuan menurut hadist dan juga penerapannya dalam proses pembelajaran menurut pandangan islam. Tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk menjelaskan secara menyeluruh konsep ilmu menurut hadist dan juga penerapannya dalam proses pembelajaran menurut pandangan islam. Peneliti mengambil pendapat dari beberapa sumber dan juga meneliti dibeberapa tempat tentang penerapan konsep ilmu hadist tersebut dalam penanaman akhlak mulia sejak dini kepada anak-anak. Hal ini sangat penting mengingat diera globalisasi sekarang ini, anak muda sangat rentan terpengaruh dunia luar. Kata kunci : Konsep Ilmu, Hadist, Proses Belajar, Pandangan Islam 1 PENDAHULUAN Agama Islam merupakan agama yang sangat memuliakan ilmu. Alquran dan hadis menjadi bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat mengapresiasi ilmu dan para penuntut ilmu. Islam mengangkat derajat para penuntut ilmu, dan menuntut ilmu merupakan bagian dari jihad di jalan Allah (Al Rasyidin & Ja’far, 2020). Hadits dalam ruang perkembangan ilmu-ilmu keislaman merupakan kajian yang tidak pernah berhenti untuk dibicarakan. Hadits dianggap sebagai sumber hukum dan ajaran Islam kedua setelah al-Quran. PEMBAHASAN M.Ajaj Khathibi, menyebut hadits sebagai fungsi bayan li al-Quran. Hadits dalam pandangan ulama didefinisikan sebagai sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw., (ma udhif ila al-nabi) baik ucapan, perbuatan, dan taqrir-nya. Terma popular lainnya adalah khabar, sunnah, dan atsar. Para ulama ada yang membedakan antara khabar dengan hadits, juga ada menganggapnya sama; khabar adalah hadits. Begitu pula dengan terma sunnah, ada ulama yang membedakan sunnah dengan hadits. Di samping itu, ada pula yang memandang sama antara hadits dengan sunnah.2 Identifikasi mengenai persamaan dan perbedaan definisi antara hadits, sunnah, atsar, dan khabar, telah banyak dijumpai dalam konsepsi-konsepsi ilmu musthalahat hadits. Ulumul hadits adalah istilah ilmu hadis di dalam tradisi ulama hadits. Arabnya ‘Ulum al-hadits terdiri dari atas dua kata, yaitu ‫ علوم‬dan ‫الحديث‬. Kata ‘ulum dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari ‘ilm, jadi berarti “ilmu-ilmu”; sedangkan al-hadits di kalangan ulama hadis berarti “segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi dari perbuatan, perkataan, taqir, atau sifat.” Hal ini sejalan dengan pengertian hadits yang dikemukakan dalam buku Musthalahul hadits yang berarti segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi , baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan), atau 2 sifat (Musthalahul Hadits, November 2008: 15). Dengan demikian, gabungan kata ‘ulumul-hadits mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang memepelajari atau berkaitan Hadis Nabi.” Musthalahul hadits adalah sebuah disiplin ilmu untuk mengetahui keadaan seorang rawi dan keabsahan riwayat yang ia bawa, apakah dapat diterima atau ditolak. (Mahmud At-Thahhan, Taysir Mushthalah Al-Hadits, (Beirut: Dar Al-qur’an Al-Karim, 1979, h.15). Jika dihubungkan dengan pengertian mustalahul hadits berarti definisi ulumul hadis secara khusus adalah ilmu yang membahas tentang pokok-pokok dan kaidahkaidah yang digunakan untuk mengetahui keadaan-keadaan sanad dan matan suatu hadis dari segi diterima dan ditolak. Pokok Bahasan ulumul hadits sebagai berikut : 1. Hadits, Khabar, Atsar, dan Hadits Qudsi Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir (persetujuan), atau sifat. 2. Khabar semakna dengan hadits, sehingga memiliki definisi yang sama dengan hadits. Pendapat lain menyatakan bahwa khabar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi dan juga kepada selain beliau. Dengan demikian, definisi khabar lbih umum dan memiliki cakupan yang lebih luas daripada hadits. 3. Atsar adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada seorang shahabat atau tabi’in. terkadang atsar juga didefinisikan dengan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi . Namun penyebutannya harus diberi taqyid (catatan) bahwa hal itu berasal dari beliau seperti ucapan, 4. Hadits qudsi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Nabi dari Allah. Hadits qudsi disebut juga dengan hadits rabbani atau hadits ilahi. Contohnya adalah sabda beliau yang diriwayatkan dari Rabb-nya ta’ala bahwa Dia berfirman, 3 َ َ‫أَنَا ِعد‬ ‫ل ذَك َْرته‬ َ ‫ظ ِن‬ ‫ فَإِ ْن ذَك ََرنِي فِي َم إ‬،‫ فَإِ ْن ذَك ََرنِي فِي نَ ْف ِس ِه ذَك َْرته فِي ن َ ْفسِي‬،‫ع ْبدِي بِي َو أَن َا َمعَه إِذَا ذَكَرن ِْي‬ ‫ل َخي إْر مِ ْنه ْم‬ ‫فِي َم إ‬ “Aku menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku beersamanya ketika dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di kumpulan orang banyak, Aku mengingatnya di kumpulan orang banyak yang lebih baik dari mereka.” Kedudukan Hadits Qudsi Antara Al-Qur’an dan Hadits Nabawi (Perbedaan ketiganya dapat diketahui dari penisbatan lafadz dan makna). Lafadz dan makna AlQur’an Al-Karim dinisbatkan kepada Allah . Sedangkan hadits nabawi, lafadz dan maknanya dinisbatkan kepada Nabi. Adapun hadits qudsi, hanya maknanya saja yang dinisbatkan kepada Allah Ta’ala, bukan lafadznya. Oleh karena itulah, membaca hadits qudsi tidak terhitung sebagai ibadah, tidak dapat digunakan sebagai bacaan dalam shalat, tidak ada tantangan dari Allah kepada orangorang kafir untuk menandinginya dan tidak dinukil secara mutawatir sebagaimana AlQur’an. Sehingga Hadits qudsi ada yang berderajat shahih, dla’if, bahkan maudlu’ (palsu). Perkembangan masyarakat terus bergulir dengan cepat dan problematika kehidupan terus bertambah. Problematika kehidupan manusia yang dihubungkan dengan agama memerlukan sebuah penyelesaian yang melibatkan proses refleksi terhadap ajaranajaran agama. Dalam ruang dan wacana seperti ini, posisi hadits tetap dijadikan sebagai sebuah sumber hukum dalam rangka penyelesaian problematika yang dihadapi, disamping al-Quran dan pemikiran-pemikiran ulama klasik. Jika pendidikan Islam dipandang sebagai sebuah wilayah kajian ilmu-ilmu keislaman atau bagian dari ilmu keislaman, posisi hadits tidak dapat diabaikan. Hadits dalam eskalasi konsep pendidikan Islam menempatkan posisi sebagai sumber ajaran dan inspirasi bagi pengembangan asumsi juga teoritisasi pendidikan Islam. 4 M. Amin Abdullah (2006: 191-192) mempunyai pandangan, bahwa semua ilmu yang disusun, dikonsep, ditulis secara sistematis, kemudian dikomunikasikan, diajarkan dan disebarluaskan baik lewat lisan maupun tulisan adalah ilmu Islam. Ilmu Islam adalah bangunan keilmuan biasa, karena ia disusun dan dirumuskan oleh ilmuan agama, ulama, fuqaha, mutakallimin, mutasawwifin, mufassirin, muhadditsin, dan cerdik pandai pada era yang lalu untuk menjawab tantangan kemanusiaan dan keagamaan saat itu, seperti halnya ilmu-ilmu yang lain. Ilmu Islam memilikisumber yang jika digali secara ilmiah, semuanya akan melahirkan ilmu Islam, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Qur’an dan sunnah merupakan sumber ilmu-ilmu Islam yang di dalamnya ditemukan unsur-unsur yang dapat dikembangkan untuk membentuk keberagamaan, konsep, bahkan teori yang dapat difungsikan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi umat. Mengingat sifatnya sebagai unsur esensial, maka di dalam al-Qur’an dan sunnah beberapa ilmu sosial maupun ilmu alam hanya ditemukan unsur-unsur dasar baik dalam bentuk konsep besar atau teori besar (grand concept or grand theory). Memposisikan al-Qur’an dan sunnah sebagai grand concept or grand theory mengandung arti bahwa keduanya berkedudukan sebagai sumber ajaran, baik sebagai sumber teologis maupun etis. Sebagai sumber, al-Qur’an dan sunnah berisi konsep dasar yang melalui suatu proses sangat potensial pengembangan dan pemberdayaan ilmu-ilmu Islam. Al-Qur’an sesungguhnya menyediakan kemungkinan yang sangat besar untuk dijadikan sebagai cara berfikir atau metode memperoleh ilmu yang dinamakan paradigma al-Qur’an. Paradigma al-Qur’an untuk perumusan teori adalah pandangan untuk munjadikan postulat normatif agama (alQur’an dan as-Sunnah) menjadi teori untuk mendapatkan ilmu. Seperti diketahui, ilmu didapatkan melalui konstruksi pengalaman sehari-hari secara terorganisir dan sistematik. Oleh sebab itu, norma agama sebagai pengalaman manusia juga logis dapat dikonstruksikan menjadi metode memperoleh ilmu. Pengembangan eksperimeneksperimen ilmu pengetahuan yang berdasar pada paradigma al-Qur’an jelas akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. Kegiatan itu mungkin akan 5 menjadi tambahan baru bagi munculnya ilmu-ilmu alternative. Jelaslah bahwa premispremis normative al-Qur’an dapat dirumuskan menjadi teori-teori empiris dan rasional. Sebab proses semacam ini pula yang ditempuh dalam perkembangan ilmu-ilmu modern yang kita kenal sekarang ini. Berangkat dari ide-ide normatif, perumusan ilmu-ilmu dibentuk sampai kepada tingkat yang empiris. A. POSISI HADIST DALAM KERANGKA PENGEMBANGAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM Hadist menempati posisi kedus setelah al- Qur’an sebagai sumber hukum, terutama dalam rangka istinbath al- ahkam demikian kata Abu Zahrah, lebih lanjut, ketegasan mengenai eksistensi hadist begitu juga Al- Qur’an. Pengetahuan mengenai posisi hadist dalam Islam, tidak bisa dilepaskan dari pemahaman mengenai tugas-tugas yang dibebankan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam Al- Qur’an kita memperoleh beberapa keterangan bahwa Nabi SAW. Mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut: 1. Menjelaskan kitab Allah (al-Quran) Tugas ini berdasarkan firman Allah, ”Dan Kami turunkan kepadamu al- Dzikr (alQur’an) agar kamu menerangkan kepada manusia tentang apa yang diturunkan kepada mereka. (QS. Al-Nahl: 44). Penjelasan Nabi Saw., terhadap al- Quran dapat berupa perkataan beliau, dan dapat pula berupa perbuatan beliau. Dua hal ini merupakan bagian terbesar dari apa yang disebut sebagai hadits nabawi.5 Penolakan terhadap hadits sebenarnya merupakan penolakan terhadap al-Quran, karena hadits yang berfungsi sebagai penjelas sudah dilegitimasi oleh al-Quran. Bahkan hadits merupakan konsekuensi logis dari alQuran. Pada kajian yang cukup mendalam, al-Ashfahany menyebutkan beberapa makna penjelas (al-bayan), apalagi yang ditelitinya adalah ayat al-Quran Mengenai fungsi hadits sebagai bayan al-Quran,al-Syafi’r.a mengemukakan beberapa bentuk bayan, yaitu sebagai 6 berikut : a. Bayan tafshili, menjelaskan ayat-ayat yang mujmal yang sangat ringkas penjelasannya. b. Bayan takhshish, menentukan sesuatu dari umum ayat. c. Bayan ta’yin, menentukan mana yang dimaksud dari dua atau tiga perkara yang mungkin dimaksud d. Bayan tasyri’, menetapkan hukum yang tidak didapati dalam al-Quran. e. Bayan nasakh, menentukan mana yang di-naskhih-kan dan mana yang dimansukh-kan dari ayat-ayat yang kelihatan berlawanan 2. Memberikan teladan Tugas ini didasarkan pada firman Allah Swt.,”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (al-Ahzab:21). Nabi bertugas memberikan suri teladan kepada umatnya, sementara umatnya wajib mencontoh dan meniru teladan itu. Suri teladan yang diberikan oleh Rasulullah Saw., itu berupa perkataan, perbuatan, bahkan juga berupa sifat-sifat atau karakter beliau. Dan semua ini merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai Hadits Nabawi. Berdasarkan ayat tadi, seorang muslim tidak mungkin memperoleh ridha Allah tanpa mencontoh perilaku Nabi SAW. Karena perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. itu hadits, maka seorang muslim tidak akan diridhai Allah apabila ia tidak mencontoh hadits dalam perilaku hidupnya. 3. Rasulullah SAW wajib ditaati Tuntutan untuk mentaati Rasulullah adalah firman Allah, ”Wahai orang- orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. (QS al-Anfal:20). Dalam konteks kehidupan sekarang, taat kepada Allah berarti taat kepada ajaran- ajaran yang termaktub dalam al-Quran, sementara taat kepada rasul berarti taat pada apa yang termaktub dalam kitab-kitab hadits. Karenanya, tidak mungkin seorang muslim memisahkan apa yang berasal dari Nabi Saw., dari apa yang datang dari al- Quran. Karena memisahkan hadits 7 dari al-Quran sama artinya dengan memisahkan al-Quran dari kehidupan manusia. 4. Menetapkan hukum Dalam hal-hal tertentu yang tidak ada keterangannya dalam al-Quran, Nabi dianugrahi otoritas untuk menetapkan hukum secara independen. QS. Al-A’raf ayat 157, telah memberikan otoritas kepada Nabi, ”Rasul menghalalkan bagi mereka segala hal yang baik, dan mengharamkan bagi mereka segala sesuatu yang buruk”. Menolak hukum-hukum yang telah ditetapkan secara independen oleh Nabi sebenarnya merupakan penolakan terhadap ayat al-Quran yang memberikan otoritas kepada Nabi Saw. Paparan di atas lebih menekankan pada ekplanasi posisi dan fungsi hadits yang dihubungkan dengan ilmu-ilmu keislaman. Jika pendidikan islam dipandang sebagai salah satu cabang ilmu keislaman, dan dianggap sebagai sebuah body of knowledge atau disiplin ilmu tertentu, pengembangan dirinya tidak bisa dilepaskan dari interdependence dengan hadits-hadits yang terkodifikasikan dengan rapi sampai dengan sekarang. Kalau dalam hukum islam, hadits ditempatkan sebagai min mashadir al- ahkam. Begitu pula dengan studi mengenai pendidikan Islam, hadits dipandang sebagai sumber rujukan utama di samping al-Quran dan pemikiran-pemikiran para ulama mengenai pendidikan. Dalam kajian hukum Islam, pengidentifikasian, pemilahan, penelusuran, dan penelitian mengenai hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum, biasa disebut sebagai hadits ahkam. Kitab al-Muwaththa’ karya Imam Malik ibn Anas, selain dipandang sebagai kitab mutun hadits, kitab ini dipandang pula sebagai hadits-hadits yang berhubungan dengan hukum Islam. Dalam kajian pendidikan, penelusuran hadits yang berhubungan dengan pendidikan disebut dengan hadits tarbawi. Buku yang terkodifikasikan mengenai hadits tarbawi ini relatif lebih jarang dibandingkan dengan kodifikasi hadits-hadits hukum. Al- Zantany, pada abad kontemporer init turut memperhatikan penelusuran dan tahlil wa dirasat mengenai hadits-hadits yang berkenaan dengan pendidikan. Belian 8 menyusunnya dalam sebuah buku, Usus al-Tarbiyah al-Islamiyyah fi al-Sunnah al- Nabawiyyah. B. HADITS SEBAGAI SUMBER TUJUAN PENDIDIKAN Karena pandangan hidup orang Muslim adalah berdasarkan pada al-Quran dan Hadits, maka sumber tujuan pendidikan Islam berasal dari keduanya. Achmadi menyatakan, hal ini secara teologis dibenarkan karena kedua sumber tersebut mengandung kebenaran mutlak yang bersifat transendental, universal, dan abadi, sehingga diyakini oleh pemeluknya akan selalu sesuai dengan fithrah manusia. Abudin Nata menyebutnya bahwa ajaran Islam yang pada kedua sumber tersebut, memenuhi kebutuhan manusia kapan dan di mana saja (likull zaman wa makan). Jalaludin Rakhmat dalam Islam Alternatif mengemukakan pendapat Gullick dalam bukunya yang terkenal Muhammad The Educator, yang menyatakan bahwa Muhammad adalah benar-benar seorang pendidik yang membimbing manusia menuju kemerdekaan dan kebahagiaan yang lebih besar serta melahirkan ketertiban dan kestabilan yang mendorong perkembangan budaya Islam, suatu revolusi yang dimiliki dalam waktu yang tidak tertandingi dan gairah yang menantang. Jika kita mengkaji lebih jauh mengenai integritas Nabi Muhammad, menurut pandangan al- Nahlawi, kita akan memperoleh kenyataan bahwa ia merupakan seorang pendidik yang memiliki metode pendidikan yang luar biasa, pendidik yang selalu memperhatikan kebutuhan dan karakteristik murid. Pendidikan Islam pada akhirnya diharapkan akan menghasilkan manusia yang dicitacitakan oleh Islam, yang mengacu pada sunnah Nabi yang menggambarkan realitas pendidikan Islam. Dalam formulasi tujuan pendidikan, content dan rumusan tujuan pendidikan hendaknya mengarah pada apa yang dinyatakan di atas. Berkenaan dengan pernyataan di atas, tujuan pendidikan dalam persfektif Islam yang bersumber pada Sunnah 9 hendaknya mampu mengaktualisasikan pendidikan sebagai rahmat li al- alamin; utuh dan lengkap meliputi semua aspek kemanusiaan dan dorongan untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan yang negatif; mengaktualisasikan figur Nabi sebagai teladan bagi subjek pendidikan; dan pada tataran praksis tujuan pendidikan dimanifestasikan dalam aktivitas pendidikan sesuai dengan hasil pemikiran dan konsep yang dikembangkan dengan tetap menjaga rambu-rambu ajaran Islam. Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Syaibani bahwa tujuan pendidikan dalam persfektif berkaitan dengan nilai, maka dari sekian banyak nilai yang terkandung dalam al-Quran dan Hadits, menurut pendapat Abudin Nata, dapat diklasifikasikan ke dalam nilai dasar atau intrinsik dan nilai instrumental. Nilai instrinsik menurut pandangan Abudin Nata adalah nilai yang ada dengan sendirinya, bukan sebagai prasyarat atau alat bagi yang lain. Mengingat banyaknya nilai yang diajarkan oleh Islam, perlu dipilih dan dibakukan nilai mana yang tergolong intrinsik, fundamental, dan memiliki posisi paling tinggi. Nilai tersebut adalah tauhid atau lengkapnya iman tauhid. Nilai ini tidak akan berubah menjadi nilai instrumental karena kedudukannya paling tinggi. Seluruh nilai yang lain menjadi nilai instrumental dalam konteks tauhid. Sebagai contoh, kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemajuan di satu saat merupakan nilai instrinsik, sedangkan kekayaan, ilmu pengetahuan, dan jabatan merupakan nilai instrumental untuk menuju kebahagiaan. Demikian pula etos kerja, taat beribadah, sabar, syukur, dan nilai kebaikan lainnya adalah nilai instrumental untuk menuju tauhid.34 Pendek kata semua nilai selain tauhid, walaupun ia realita kehidupan tampak sebagai nilai intrinsik berubah posisinya menjadi nilai instrumental dihadapkan dengan nilai-nilai tauhid. Ibnu Ruslan dalam Kitab al-Zubab, berkaitan dengan pentingnya dan tingginya nilai tauhid ini, pernah menyatakan bahwa yang pertama diwajibkan bagi seorang muslim adala mengetahui Tuhannya dengan penuh keyakinan.35 Tauhid dalam konteks ini dipahami dalam kerangka yang terpadu antara yang bercorak teosentris dengan 10 anthroposentris, yakni tauhid yang terfokus pada meng-Esakan Allah semata, namun dalam prakteknya berimplikasi pada pola pikir, tutur kata, dan sikap seseorang yang meyakininya. Dengan demikian, tauhid yang dimaksudkan adalah tauhid yang transformatif dan aktual.36 Tauhid yang transformatif dan aktual ini adalah tauhid yang mewarnai seluruh aktivitas manusia dan tampak dalam kenyataan. Berkaitan dengan konteks tujuan pendidikan, tujuan pendidikan dalam persfektif Islam harus dilandasi oleh nilai tauhid sebagai nilai pokok dalam pengembangan pendidikan; melandasi nilainilai lain yang bersentuhan dengan sisi teosentris dan anthroposentris. Berdasarkan pemikiran di atas, jika dikaitkan dengan konsep tujuan pendidikan, Hadits merupakan sumber perumusan tujuan pendidikan. Hadits merupakan referensi untuk mengembangkan tujuan pendidikan Islam yang sesuai dengan cita-cita Islam. Dalam kajian epistemologis, keduanya merupakan kerangka normatif dan teoritis juga menjadi sumber nilai kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya, yang telah memperkenalkan dan mengajarkan manusia untuk menjalani kehidupan yang dianugerahkan oleh Allah SWT dengan baik. 11 KESIMPULAN Berdasarkan pemaparan di atas, konsep ilmu dalam hadist adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang pedoman yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang didalamnya terkandung berbagai anjuran yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ilmu hadits yaitu Musthalahul hadits adalah sebuah disiplin ilmu untuk mengetahui keadaan seorang rawi dan keabsahan riwayat yang ia bawa, apakah dapat diterima atau ditolak. (Mahmud At-Thahhan, Taysir Mushthalah Al-Hadits, (Beirut: Dar Al-qur’an AlKarim, 1979, h.15). Jika dihubungkan dengan pengertian mustalahul hadits berarti definisi ulumul hadis secara khusus adalah ilmu yang membahas tentang pokok-pokok dan kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengetahui keadaan-keadaan sanad dan matan suatu hadis dari segi diterima dan ditolak. Hadits menempati posisi kedua setelah al-Quran sebagai sumber hukum, terutama dalam rangka istinbath al-ahkam, demikian kata Abu Zahrah. Ketegasan mengenai eksistensi hadits begitu juga al-Quran, Pengetahuan mengenai posisi hadits dalam Islam, tidak bisa dilepaskan dari pemahaman mengenai tugas-tugas yang dibebankan kepada Nabi Muhammad SAW. konsep tujuan pendidikan, Hadits merupakan referensi untuk mengembangkan tujuan pendidikan Islam yang sesuai dengan cita-cita Islam. Dalam kajian epistemologis, keduanya merupakan kerangka normatif dan teoritis juga menjadi sumber nilai kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya, yang telah memperkenalkan dan mengajarkan manusia untuk menjalani kehidupan yang dianugerahkan oleh Allah SWT dengan baik. 12 DAFTAR PUSTAKA Ja’far, J. (2020). Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam. Medan: Perdana Publishing. Abd al-Barr, Ibn. t.t. Jami’ Bayan al-Ilm Wa Fadhlih. Beirut: Dar al-Fikr Abdullah, Abdurrahman Shalih.2005. Teori Pendidikan berdasarkan Al- Qur’an. Jakarta: Rineka Cipta Al-Bukhari. t.t al-Jami’ al-Shahih li al-Bukhari. Beirut: Dar al-Fikr Al-Fairuz Zabadi.t.t. Ushul al-Lughah.Beirut : Dar al-Fikr Al-Khathibi, M. Ajaj.1978. Ushul al-Hadits.Beirut : Dar al-Fikr Al-Mas’udi.t.t. Minhat al-Mugits fi Ilm Musthalat al-Hadits.Jakarta: Sa’adiyah Putra AlMuttaqi. t.t Muntakhab Kanz al-Amal. Beirut: Dar al-Fikr Al- Nahlawu.1987. Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam. Bandung Diponegoro. Al-Syafi’i.t.t. al- Risalah.Beirut: Dar al-Fikr Al-Syathiby,t.t. al-Muwafaqat.Beirut : Dar al-Fik r Al-Tirmidzi.t.t. Sunan al-Tirmidzi.Beirut: Dar al-Fikr Amstrong, Karen.1990.Muhammad The Prophet.London: Harvard University Gazalba, Sidi.1987. Sistematika Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang Ibrahim, Abbas ibn.t.t Qawaid al-Tarjamah fi al-Lughah.Mesir: Majma’ Buhuts aIslamiyyah Ihsan, Fuad.2000. Filsafat Pendidikan Islam.Bandung: Rosda Karya Langgulung, Hasan.1988. Manusia dan Pendidikan.Jakarta : Bulan Bintang Ma’arif, Syafi’i 1985. Al- Qur’an realitas sosial dan limbo sejarah: Sebuah Refleksi Bandung: Pustaka. 13

Judul: Konsep Ilmu Menurut Hadist

Oleh: Nur Hayati


Ikuti kami