Ilmu Jarh Wa Ta'dil

Oleh Tara Pratiwi

2,3 MB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Ilmu Jarh Wa Ta'dil

ILMU JARH WA TA’DIL DISUSUN OLEH KELOMPOK XI: HANI UMAINA SIREGAR 0304182107 NABILAH AZMI 0304182077 TARA PRATIWI 0304182096 DOSEN PENGAMPU: Dr. H. M. ROZALI, MA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA MEDAN TA 2018-2019 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Ilmu Jarh wa Ta’dil” dengan tepat sesuai waktu yang telah ditentukan. Penulis juga berterimakasih kepada Bapak Dr. H. M. Razali, MA selaku dosen mata kuliah Al-Hadis yang telah memberikan kepercayaannya kepada penulis dalam penyusunan makalah ini. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya mempelajari hadis dan ilmu hadis. Tidak ada gading yang tidak retak, begitu juga dengan makalah ini. Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Karena itu, penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan makalah selanjutnya. Semoga apa yang ada di dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi teman sekalian. Akhir kata, penulis memohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan. Terima kasih. Medan, 25 Juni 2019 Penulis, Kelompok XI i DAFTAR ISI Kata Pengantar ............................................................................................................ i Daftar Isi...................................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1 A. Latar Belakang .................................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 1 C. Tujuan ............................................................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................. 3 A. Pengertian Ilmu Jarh wa Ta’dil .......................................................................... 3 B. Perkembangan Ilmu Jarh wa Ta’dil .................................................................... 4 C. Kegunaan Ilmu Jarh wa Ta’dil ........................................................................... 6 D. Syarat Seorang Kritiku ...................................................................................... 7 E. Kitab-Kitab yang Membahas Jarh wa Ta’dil ...................................................... 7 F. Urgensi Ilmu Jarh wa Ta’dil dalam Studi Hadis ................................................. 8 G. Contoh Aplikasi Ilmu Jarh wa Ta’dil ................................................................. 9 BAB III PENUTUP ................................................................................................... 12 A. Simpulan ......................................................................................................... 12 B. Saran ............................................................................................................... 12 Daftar Pustaka ...............................................................................................................13 ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tidak semua hadis itu bersifat terpuji perawinya dan tidak semua hadis-hadis itu bersifat dhaif perawinya, oleh karena itu para periwayat mulai dari generasi sahabat sampai dengan generasi mukharrijul hadis tidak bisa kita jumpai secara fisik karena mereka telah meninggal dunia. Untuk mengenali keadaan mereka, baik kelebihan maupun kekurangan mereka dalam periwayatan, maka diperlukanlah informasi dari berbagai kitab yang ditulis oleh ulama ahli kritik para periwayat hadis. Kritik para periwayat hadis itu tidak hanya berkenaan dengan hal-hal yang terpuji saja tetapi juga mengenai hal-hal yang tercela. Hal-hal dapat dikemukakan untuk dijadikan pertimbangan dalam hubungannya dengan tepat atau tidak diterimanya riwayat hadis yang mereka riwayatkan. Untuk itulah lebih jelasnya di sini penulis akan membahas tentang “Ilmu Jarh wa Ta’dil”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, rumusan masalah yang dapat diambil adalah: 1. Apakah pengertian dari Ilmu Jarh wa Ta’dil? 2. Bagaimana urgensi Ilmu Jarh wa Ta’dil dalam Studi Hadis? 3. Apa saja contoh aplikasi Ilmu Jarh wa Ta’dil? 1 2 C. Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dalam penulisa makalah ini adalah: 1. Untuk mengetahui pengertian dari Ilmu Jarh wa Ta’dil. 2. Untuk mengetahui urgensi Ilmu Jarh wa Ta’dil dalam Studi Hadis. 3. Untuk mengetahui contoh aplikasi Ilmu Jarh wa Ta’dil. BAB II ILMU JARH WA TA’DIL A. Pengertian Ilmu Jarh wa Ta’dil Ilmu al-Jarh, yang secara bahasa berarti ‘luka, cela, atau cacat’, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kecacatan para perawi, seperti pada keadilan dan kedhabitannya. Para ahli hadis mendefinisikan al-Jarh dengan: ‫الطعن في راوي الحديث بما يسلب او يخل بعدالته او ضابط‬ “Kecacatan pada perawi Hadis disebabkan oleh sesuatu yang dapat merusak keadilan atau kedhabitan perawi”. Sedang at-Ta’dil, yang secara bahasa berarti at-tasywiyah (menyamakan), menurut istilah berarti: ‫عكسه هو تز كية الراوي والحكم عليه بانه عدل او ضابط‬ “Lawan dari al-Jarh, yaitu pembersihan atau pensucian perawi dan ketetapan, bahwa ia adil dan dhabit”. Ulama lain mendefinisikan al-Jarh dan at-ta’dil dalam satu definisi, yaitu: ‫علم يبحث عن الر واة من حيث ماورد في شانهم مما يسنيهم اويز كيهم بالفاظ‬ ‫مخصو صة‬ “Ilmu yang membahas tentang para perawi Hadis dari segi yang dapat menunjukkan keadaan mereka, baik yang dapat mencacatkan atau membersihkan mereka, dengan ungkapan atau lafaz tertentu”. Contoh ungkapan tertentu untuk mengetahui para perawi, antara lain: fulan orang yang paling dipercaya ‫الناس‬ ‫فالن او ثق‬ 3 4 fulan kuat hafalannya‫بط‬ ‫فالن ضا‬ fulan Hujjah‫حجة‬ ‫فالن‬ Sedang contoh untuk mengetahui kecacatan para perawi, antara lain: fulan orang yang paling berdusta‫الناس‬ ‫فالن اكذب‬ si fulan tertuduh dusta‫بالكذب‬ ‫فالن متهم‬ fulan bukan Hujjah‫حجة‬ ‫فالن ال‬ Ilmu jarh wa ta’dil ini dipergunakan untuk menetapkan apakah periwayatan seorang perawi itu bisa diterima atau harus ditolak sama sekali. Apabila seorang rawi “dijarh” oleh para ahli sebagai rawi yang cacat, maka peiwayatannya harus ditolak. Sebaliknya, bila dipuji maka hadisnya bisa diterima selama syarat-syarat yang lain dipenuhi. Kecacatan rawi itu bisa ditelusuri melalui perbuatan-perbuatan yang dilakukannya, biasanya dikategorikan ke dalam lingkup perbuatan: bid’ah, yakni melakukan tindakan tercela atau di luar ketentuan syariah; mukhalafah, yakni berbeda dengan periwayatan dari rawi yang lebih tsiqqah; ghalath, yakni banyak melakukan kekeliruan dalam meriwayatkan hadis; jahalat alhal, yakni tidak diketahui identitasnya secara jelas dan lengkap; dan da’wat al-inqitha’, yakni diduga penyandaran (sanad)-nya tidak bersambung. B. Perkembangan Ilmu Jarh wa Ta’dil Ilmu ini tumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan dalam Islam, karena untuk mengetahui hadis-hadis yang shahih perlu mengetahui keadaan rawinya, secara yang memungkinkan ahli ilmu menetapkan kebenaran rawi atau kedustaannya hingga dapatlah membedakan antara yang diterima dengan yang ditolak. Awal mula pertumbuhan ilmu ini adalah seperti yang dinukil oleh Rasulullah SAW. Lalu menjadi banyak dari para sahabat, tabi’in, dan orang setelah mereka, karena takut terjadi seperti apa yang diperingatkan oleh Rasulullah. 5 Jarh dan ta’dil dalam ilmu hadis menjadi berkembang di kalangan sahabat, tabi’in, dan para ulama setelahnya hingga saat ini karena takut pada apa yang diperingatkan Rasulullah SAW: ُ ‫سيَ ُك‬ ‫َاس يُ َح ِدثُونَ ُك ْم َما لَ ْم تَ ْس َمعُوا أَ ْنت ُ ْم َو َال آبَا ُؤ ُك ْم فَإِيَّا ُك ْم‬ ِ ‫ون فِي‬ ٌ ‫آخ ِر أ ُ َّمتِي أُن‬ َ ‫َو ِإيَّا ُه ْم‬ Artinya: “Akan ada pada umatku yang terakhir nanti orang-orang yang menceritakan hadis kepada kalian apa yang belum pernah kalian dan juga bapak-bapak kalian mendengar sebelumnya. Maka waspadalah terhadap mereka dan waspadailah mereka”. (HR. Muslim) Dari Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dia berkata, ُ ‫الر ُج ِل َال َي ُك‬ ُ ‫ي َو‬ ‫ون ثَ ْبتًا ِفي‬ ُ َ‫ش ْع َبةَ َو َما ِل ًكا َوابْن‬ َّ ‫ع َي ْينَةَ َع ْن‬ ُ ُ‫سأ َ ْلت‬ َ َّ ‫س ْف َيانَ الثَّ ْو ِر‬ ‫ْس ِبثَبْت‬ ِ ‫ْال َحدِي‬ َّ ‫ث فَ َيأْتِينِي‬ َ ‫الر ُج ُل فَ َيسْأَلُنِي َع ْنهُ قَالُوا أَ ْخبِ ْر َع ْنهُ أَنَّهُ لَي‬ Artinya: “Aku telah bertanya kepada Sufyan Ats-Tsaury, Syu’bah, dan Malik, serta Sufyan bin ‘Uyainah tentang seseorang yang tidak teguh dalam hadis. Lalu seseorang datang kepdaku dan bertanya tentang dia, mereka berkata, “Kabarkanlah tentang dirinya bahwa hadisnya tidaklah kuat (dalam periwayatan hadis)”. (HR. Muslim) Dari Abu Ishaq Al-Fazary dia berkata, “Tulislah dari Baqiyyah apa yang telah ia riwayatkan dari orang-orang yang dikenal, dan jangan engkau tulis darinya apa yang telah ia riwayatkan dari orang-orang yang tidak dikenal, dan janganlah kamu menulis dari Isma’il bin ‘Iyasy apa yang telah ia riwayatkan dari orang-orang yang dikenal maupun dari selain mereka. (- Baqiyyah bin Al-Walid banyak melakukan tadlis dari para dlu’afaa) Diketahuinya hadis-hadis yang shahih dan yang lemah hanyalah dengan penelitian para ulama yang berpengalaman yang dikaruniai oleh Allah SWT kemampuan untuk mengenali keadaan para perawi. Dikatakan kepada Ibnul-Mubarak: “(Bagaimana dengan) hadis-hadis yang dipalsukan ini?. Dia berkata, “Para ulama yang berpengalaman yang akan mengahadapinya”. Maka penyampaian hadis yang periwayatannya itu adalah sama dengan penyampaian untuk agama. Oleh karenanya kewajiban syar’i menuntut akan pentingnya meneliti keadaan para perawi dan keadilan mereka, yaitu seorang yang amanah, alim terhadap agama, 6 bertaqwa, hafal dan teliti pada hadis, tidak sering lalai dan tidak peragu. Melalaikan itu semua (jarh wa ta’dil) akan menyebabkan kedustaan kepada Rasullullah SAW. C. Kegunaan Ilmu Jarh wa Ta’dil Ilmu jarh wa ta’dil sangat berguna untuk menentukan kualitas perawi dan nilai hadisnya. Membahas sanad terlebih dahulu harus mempelajari kaidah-kaidah ilmu jarh wa ta’dil yang telah banyak dipakai para ahli, mengetahui syarat-syarat perawi yang dapat diterima, cara menetapkan keadilan dan kedhabitan perawi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan bahasan ini. Seseorang tidak akan dapat memperoleh biografi, jika mereka tidak terlebih dahulu mengetahui kaidah-kaidah jarh dan ta’dil, maksud dan derajat (tingkatan) istilah yang dipergunakan dalam ilmu ini, dari tingkatan ta’dil yang tertinggi sampai pada tingkatan jarh yang terendah. Jelasnya ilmu jarh wa ta’dil ini dipergunakan untuk menetapkan apakah periwayatan seorang perawi itu bisa diterima atau harus ditolak sama sekali. Apabila seorang perawi “dijarh” oleh para ahli sebagai rawi yang cacat, maka periwayatannya harus ditolak. Sebaliknya, bila dipuji maka hadisnya bisa diterima selama syarat-syarat yang lain dipenuhi. Adapun informasi jarh dan ta’dilnya seorang rawi bisa diketahui melalui dua jalan, yaitu: 1. Popularitas para perawi di kalangan para ahli ilmu bahwa mereka dikenal sebagai orang yang adil, atau rawi yang mempunyai ‘aib. Bagi yang sudah terkenal di kalangan ahli ilmu tentang keadilannya, maka mereka tidak perlu lagi diperbincangkan keadilannya, begitu juga dengan perawi yang terkenal dengan kefasikan atau dustanya maka tidak perlu lagi dipersoalkan. 2. Berdasarkan pujian atau pen-tajrih-an dari rawi lain yang adil. Bila seorang rawi yang adil menta’dilkan seorang rawi yang lain yang belum dikenal keadilannya, maka telah dianggap cukup dan rawi tersebut bisa menyandang gelar adil dan periwayatannya bisa diterima. Begitu juga rawi yang di-tajrih. Bila seorang rawi yang adil telah mentajrihnya maka periwayatannya menjadi tidak bisa diterima. 7 Sementara orang yang melakukan ta’dil dan tajrih harus memenuhi syarat sebagai berikut: berilmu pengetahuan, taqwa, wara’, jujur, menjauhi sifat fanatik terhadap golongan dan mengetahui ruang lingkup ilmu jarh dan ta’dil ini. D. Syarat Seorang Kritikus Mengingat perjalanan (pekerjaan) melakukan jarh dan ta’dil ini merupakan pekerjaan yang rawan, karena menyangkut nama baik dan kehormatan para perawi yang akan menentukan diterima atau ditolaknya suatu hadis, maka ulama yang menetapkan kriteria tertentu bagi seorang yang melakukan jarh dan ta’dil. Adapun syarat-syarat yang diperlukan, yakni: 1. Haruslah orang tersebut ‘alim (berilmu pengetahuan), 2. Bertaqwa, 3. Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat-syubhat, dosadosa kecil, dan makruhat-makruhat), 4. Jujur, 5. Belum pernah dijarh, 6. Menjauhi fanatik golongan, 7. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta’dilkan dan untuk men-tajrihkan. Apabila persyaratan-persyaratan ini tidak terpenuhi maka periwayatan tidak diterima. E. Kitab-Kitab yang Membahas Tentang Jarh wa Ta’dil Penyusunan karya dalam ilmu jarh wa ta’dil telah berkembang sekitar abad ketiga dan keempat, dan komentar orang-orang yang berbicara mengenai para tokoh secara jarh dan ta’dil sudah dikumpulkan. Dan jika permulaan penyusunan dalam ilmu ini dinisbatkan kepada Yahya bin Ma’in, Ali bin Al-Madini, dan Ahmad bin Hanbal; maka penyusunan secara meluas terjadi sesudah itu, dalam karya-karya yang mencakup perkataan para generasi awal tersebut. Macam-macam kitab Jarh wa Ta’dil banyak sekali, diantaranya: 8 1. Kitab yang hanya menjelaskan ketsiqahan perawi. 2. Buku yang hanya menjelaskan kelemahan dan kecacatan perawi. 3. Buku yang menjelaskan ketsiqahan dan kelemahan rawi, dari aspek lain, sebagian kitab tentang jarh wa ta’dil umumnya menceritakan para perawi hadis mengesampingkan penilaian terhadap tokoh-tokoh buku. Sebagian besar metode yang dipakai oleh para pengarang adalah mengurutkan nama perawi sesuai dengan huruf kamus (mu’jam). Dan berikut ini karya-karya mereka yang sampai kepada mereka: 1. Ma’rifat ar-Rijal, karya Yahya Ibni Ma’in (wafat tahun 233 H). Berada di Darul kutub Adh-Dhahiriyah. 2. Adl-Dlu’afaa’ul-Kabiir dan Adl-Dlu’afaa’ush-Shaghiir, karya Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari (wafat tahun 256 H), dicetak di India tahun 320 H. Karya beliau yang lain: At-Tarikh Al-Kabiir, Al-Ausath, dan AshShaghiir. 3. Al-Jarbu wa at Ta’dil, karya Abdur Rahman bin Abi Hatim Ar-Razy. 4. Al-Tsiqat, karya Ibnu Hatim bin Hibban al-Busty. Naskah aslinya di Darul kutub al-Mishriyyah. 5. Ats-Tsiqaat, karya Abul-Hasan Ahmad bin Abdillah bin Shalih Al-‘Ijly (wafat tahun 261 H), manuskrip. 6. Mizan al-I’tidal, karya Imam Syamuddin Muhammad adz-Dzahaby. 7. Lisan al-Mizan, karya al-Hafidz Ibnu hajar al-Asqalany, dicetak di India tahun 1329-1331 H. 8. Tahdib al-Tahdib, karya Ibnu Hajar. 9. Al-Kamal fi Asma ar-Rijal, karya Abdul Ghani Mudadisy. F. Urgensi Ilmu Jarh wa Ta’dil dalam Studi Hadis Para ulama hadis memberikan perhatian khusus terhadap ilmu jarh wa ta’dil karena dengannya dapat menjaga kemurnian hadis Nabi yang memiliki posisi sentral dalam agama Islam. Ilmu jarh wa ta’dil adalah ilmu yang mengemukakan sisi-sisi tercela dan terpuji dari perawi hadis, namun demikian tidak bertujuan untuk menyebarkan 9 kekurangan sesorang atau berbuah ghibah kepadanya. Para ulama kritikus hadis hanya pada tataran memberikan penjelasan dan informasi tentang keadaan pribadi perawi hadis, demi kehati-hatian dalam meriwayatkan hadis, khususnya yang berkaitan dengan syariat agama. Al-qur’an dan hadis telah memberikan gambaran yang jelas tentang jarh wa ta’dil, Adapun yang berkaitan dengan jarh, Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 6: ‫صيبُوا قَ ْو ًما بِ َج َهالَة‬ ِ ُ ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا إِ ْن َجا َء ُك ْم فَا ِس ٌق بِنَبَإ فَتَبَيَّنُوا أَ ْن ت‬ َ‫ص ِب ُحوا َعلَ ٰى َما فَ َع ْلت ُ ْم نَاد ِِمين‬ ْ ُ ‫فَت‬ Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. Yang berkaitan dengan ta’dil, firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Fath ayat 18: َّ ‫ت ال‬ َّ ‫ي‬ ‫ش َج َرةِ فَعَ ِل َم َما فِي قُلُو ِب ِه ْم‬ َ ْ‫َّللاُ َع ِن ْال ُمؤْ ِمنِينَ ِإ ْذ يُبَا ِيعُون ََك تَح‬ ِ ‫لَقَ ْد َر‬ َ ‫ض‬ ‫س ِكينَةَ َعلَ ْي ِه ْم َوأَثَابَ ُه ْم فَتْ ًحا قَ ِريبًا‬ َّ ‫فَأ َ ْنزَ َل ال‬ Artinya: “Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang yang dekat”, G. Contoh Aplikasi Jarh wa Ta’dil 1. Jarh (Celaan) Disebutkannya (keadaan) seorang rawi dengan satu pernyataan yang mengharuskan untuk menolak riwayatnya. Dengan menetapkan sifat penolakan atau menafikan (meniadakan) sifat untuk diterima haditsnya. Semisal dikatakan, dia adalah: pembohong (‫كذاب‬ ), fasiq (‫ ) فاسق‬lemah (‫) ضعيف‬, tidak tsiqah ( ‫) ليس بثقة‬, tidak dianggap (‫ ) ال يعتبر‬atau tidak ditulis haditsnya ( ‫) ال بكتب حديثه‬. Jarh terbagi 2, yaitu: 10 a. Mutlaq: jika disebut seorang rawi dengan jarh (celaan) tanpa batasan, maka dia menjadi cacat di setiap keadaan. b. Muqoyyad: disebutkannya seorang rawi dengan jarh, namun jarh tersebut dikaitkan dengan hal tertentu (ada pemberian catatan), semisal berkaitan dengan guru tertentu atau sekelompok orang tertentu atau semacamnya, maka jarh tersebut menjadi cacat pada rawi tersebut jika dikaitkan dengan hal tersebut dan tidak berlaku untuk yang lainnya. Contoh: Perkataan ibnu Hajar dalam Taqribu Tahdzib tentang Zaid ibn Habab (rawi ini dipakai Imam Muslim). Ibnu Hajar mengatakan “Dia adalah orang yang jujur (1). Namun, riwayatriwayatnya adalah keliru jika dia dapatkan dari gurunya yang bernama Sufyan Atsauri. Namun, dia tidak dha’if untuk guru yang lain.” Contoh lain: Perkataan penulis kitab Al Kholashoh tentang Isma’il ibn ‘Iyas, “orang ini ditsiqahkan Imam Ahmad, Ibnu Ma’in dan Bukhori khusus untuk riwayat dari orang Syam, akan tetapi para ulama mendha’ifkan Ismail jika gurunya adalah orang Hijaz.” Jadi, dia dha’if dalam hadits yang diambil dari orang-orang Hijaz namun tidak dha’if jika gurunya dari penduduk Syam (2). Tingkatan jarh yang paling keras adalah yang menyebutkan dengan puncaknya dalam celaan. Misalnya: “orang yang paling pendusta” (‫) أكذب الناس‬, “sendi kedustaan”(‫)ركن الكذب‬. Kemudian apa yang menunjukkan berlebih-lebihan, akan tetapi tidak sampai seperti yang pertama. Misalnya: tukang bohong ( ‫) كذاب‬, pembuat hadits palsu ( ‫) وضاع‬, pembohong (‫)دجال‬ Jarh yang paling ringan: lembek haditsnya (‫) لين‬, lemah hafalannya ( ‫ئ الحفظ‬ ُ ‫ ) سي‬atau orang tersebut ada pembicaraan pada dirinya (‫) فيه مقال‬. 2. Ta’dil (Penilaian Baik) Disebutkannya (keadaan) seorang rawi dengan perkataan yang menyebabkan wajib diterimanya riwayat darinya, bisa berupa sifat diterimanya riwayat atau menafikan sifat ditolaknya riwayat. Misalnya, dikatakan: dia “tsiqah (terpercaya)” (‫) هو ثقة‬, “tidak mengapa dengannya” (‫ ) ال بأس به‬atau “tidak ditolak hadits darinya” (‫) ال يرد حديثه‬. Ta’dil terbagi menjadi 2, yaitu: a. Mutlaq: disebutkannya seorang rawi dengan ta’dil tanpa persyaratan. Maka, rawi tersebut tsiqah dalam setiap kondisi. 11 b. Muqayyad: disebutkannya seorang rawi dengan ta’dil. Namun, ta’dil tersebut dikaitkan dengan hal tertentu (ada pemberian catatan), baik dari guru tertentu atau sekelompok orang tertentu atau sejenisnya. Maka, ta’dil ini adalah penilaian tsiqah tentang orang ini pada keadaan tertentu tersebut dan tidak pada keadaan sekaliannya. Contoh: Dikatakan “Dia ini tsiqah bila membawakan hadits dari Az zuhri atau hadits yang dia dapatkan berasal dari orang Hijaz.” Maka, rawi ini tidak tsiqah dalam riwayat yang dia bawakan dari orang lain yang dia tidak ditsiqahkan. Tingkatan Ta’dil yang paling tinggi adalah yang menunjukkan puncaknya dalam ta’dil. Semacam: “manusia yang paling terpercaya” ( ‫) اوثق الناس‬, “padanya terdapat puncak ketekunan” ( ‫ )فيه الثبت‬,( ‫)إليه المنتهى‬ Tingkatan yang paling rendah adalah kata-kata pujian yang paling dekat dengan jarh yang paling ringan. Semisal dikatakan “dia adalah orang yang sholeh” ( ‫) صالح‬, “dia adalah dekat” (‫) مقارب‬, “diriwayatkan haditsnya” (‫ ) يروى حديثه‬atau kata-kata semisal. BAB III PENUTUP A. Simpulan Ilmu jarh wa ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang para perawi Hadis dari segi yang dapat menunjukkan keadaan mereka, baik yang dapat mencacatkan atau membersihkan mereka, dengan ungkapan atau lafaz tertentu. Ilmu ini tumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya periwayatan dalam Islam, karena untuk mengetahui hadis-hadis yang shahih perlu mengetahui keadaan rawinya, secara yang memungkinkan ahli ilmu menetapkan kebenaran rawi atau kedustaannya hingga dapatlah membedakan antara yang diterima dengan yang ditolak. Jelasnya ilmu jarh wa ta’dil ini dipergunakan untuk menetapkan apakah periwayatan seorang perawi itu bisa diterima atau harus ditolak sama sekali. B. Saran Ilmu jarh wa ta’dil adalah ilmu yang sangat penting bagi para pelajar ataupun mahasiswa ilmu hadis, karena ilmu ini merupakan timbangan bagi para rawi hadis. Rawi yang berat timbangannya diterima riwayatnya dan rawi yang ringan timbangannya ditolak riwayatannya. Dengan ilmu ini kita bisa mengetahui periwayat yang dapat diterima hadisnya, serta dapat membedakan dengan periwayat yang tidak dapat diterima hadisnya. Oleh karena itu para ulama hadis memperhatikan ilmu ini dengan penuh perhatiannya dan mencurahkan segala pikirannya untuk menguasainya. 12 DAFTAR PUSTAKA Suparta, Munzier. 2016. Ilmu Hadis. Jakarta: Rajawali Pers. http://labs.pusatkajianhadis.com/tematik/uad-14/urgensi-ilmu-jarh-wa-tadil/ https://osf.io>downloadPDF ILMU JARH WA TA’DIL-OSF http://quran-id.com 13

Judul: Ilmu Jarh Wa Ta'dil

Oleh: Tara Pratiwi


Ikuti kami