Ekonomi Regional Teori Dan Aplikasi Bab 4 "teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah"

Oleh Febrianti Ayu

918,6 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Regional Teori Dan Aplikasi Bab 4 "teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah"

EKONOMI REGIONAL TEORI DAN APLIKASI BAB 4 “Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah” Robinson Tarigan (2005) Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Regional 1 Dosen Pengampu : Umayatu Suiroh Suharto, S.E., M.Si Disusun Oleh : Kelompok 6 1. Febrianti Ayu Lestari – 5553170029 (5) 2. Enggus Setiawan – 5553170073 (26) 3. Furqonudin – 5553170075 (27) Kelas 4B JURUSAN ILMU EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA 2019 B ab 4 T EORI PERTUMBUHAN EKONOMI WILAYAH A. PENDAHULUAN Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi. Perhitungan Pendapatan Wilayah pada awalnya dibuat dalam harga berlaku. Namun agar dapat melihat pertambahan dari satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya, harus dinyatakan dalam nilai riel, artinya dinyatakan dalam harga konstan. Biasanya BPS dalam menerbitkan laporan pendapatan regional tersedia angka dalam harga berlaku dan harga konstan. Pendapatan wilayah menggambarkan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi di daerah tersebut (tanah, modal, tenaga kerja, dan teknologi), yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di wilayah tersebut juga oleh seberapa besar terjadi transfer payment yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah. Menurut (Boediono, 1985, p. 1) : "Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang." Jadi, persentase pertambahan output itu haruslah lebih tinggi dari persentase pertambahan jumlah penduduk dan ada kecenderungan dalam jangka panjang bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut. Menurut Boediono ada ahli ekonomi yang membuat definisi yang lebih ketat, yaitu bahwa pertumbuhan itu haruslah "bersumber dari proses intem perekonomian tersebut". Ketentuan yang terakhir ini sangat penting diperhatikan dalam ekonomi wilayah, karena bisa saja suatu wilayah mengalami pertumbuhan tetapi pertumbuhan itu tercipta karena banyaknya bantuan/suntikan dana dari pemerintah pusat dan pertumbuhan itu terhenti apabila suntikan dana itu dihentikan. Dalam kondisi 46 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi seperti ini, sulit dikatakan ekonomi wilavah itu bertumbuh. Adalah wajar suatu wilayah terbelakang mendapat suntikan dana dalam proporsi yang lebih besar dibandingkan wilayah lainnya, akan tetapi setelah suatu jangka waktu tertentu, wilayah itu mestilah tetap bisa bertumbuh walaupun tidak lagi mendapat alokasi yang berlebihan. Teori yang membicarakan pertumbuhan regional ini dimulai dari teori yang dikutip dari ekonomi makroekonomi pembangunan dengan mengubah batas wilayah dan disesuaikan dengan lingkungan operasionalnya, dilanjutkan dengan teori yang dikembangkan asli dalam ekonomi regional. Apabila dalam ekonomi makro dan ekonomi pembangunan, istilah ekspor atau impor adalah perdagangan dengan luar negeri maka dalam ekonomi regional hal itu berarti perdagangan dengan luar wilayah (termasuk perdagangan dengan luar negeri). Teori pertumbuhan yang dikutip dari ekonomi makro adalah berlaku untuk ekonomi nasional yang dengan sendirinya juga berlaku untuk wilayah yang bersangkutan. Jadi, tidak mungkin mengabaikan teori tersebut, walaupun yang dibahas adalah satu wilayah tertentu. Namun demikian, dalam penerapannya harus dikaitkan dengan ruang lingkup wilayah operasinya, misalnya daerah tidak memiliki wewenang untuk membuat kebijakan fiskal dan moneter, Wilayah bersifat lebih terbuka dalam pergerakan orang dan barang. Dalam teori yang dikembangkan asli dalam ekonomi regional, antara lain akan dibahas pengklasifikasian pendapatan dari satu daerah dan faktor-faktor apa yang menunjang peningkatan pendapatan daerah tersebut. Demikian pula dibahas akibat hubungan antara dua daerah atau lebih dan kaitannya dengan pemerataan pendapatan dan kebijakan yang menunjang pemerataan pendapatan antardaerah. Teori pertumbuhan yang menyangkut ekonomi nasional cukup banyak, di sini hanya dikutip beberapa teori yang langsung terkait dengan kebijakan yang dapat ditempuh oleh pemerintah daerah. Teori yang akan dibahas adalah teori ekonomi klasik, teori Harrod-Domar, teori Solow-Swan, dan teori jalur cepat (Turnpike). Sedangkan teori yang langsung terkait dengan ekonomi regional akan dibahas teori basis-ekspor dan model interregional. Dua teori yang disebut terakhir dikembangkan asli dalam ekonomi regional. Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 47 B. TEORI EKONOMI KLASIK Orang yang pertama membahas pertumbuhan ekonomi secara sistematis sehingga dijuluki sebagai nabi ekonomi adalah Adam Smith (1723-1790) yang membahas masalah ekonomi dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations (1776). Inti ajaran Smith adalah agar masyarakat diberi kebebasan seluas-luasnya dalam menentukan kegiatan ekonomi apa yang dirasanya terbaik untuk dilakukan. Menurut Smith sistem ekonomi pasar bebas akan menciptakan efisiensi, membawa ekonomi kepada kondisi full employment dan menjamin pertumbuhan ekonomi sampai tercapai posisi stasioner (stationary state). Posisi stasioner terjadi apabila sumber daya alam telah seluruhnya termanfaatkan. Kalaupun ada pengangguran, hal itu bersifat sementara. Pemerintah tidak perlu terlalu dalam mencampuri urusan perekonomian. Tugas pemerintah adalah menciptakan kondisi dan menyediakan fasilitas yang mendorong pihak swasta berperan optimal dalam perekonomian. Pemerintah tidak perlu terjun langsung dalam kegiatan produksi dan jasa. Peranan pemerintah adalah menjamin keamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat serta membuat "aturan main" yang memberi kepastian hukum dan keadilan bagi para pelaku ekonomi. pemerintah berkewajiban menyediakan prasarana sehingga aktivitas lancar. Pengusaha perlu mendapat keuntungan yang memadai (tidak keuntungan minimum) agar dapat mengakumulasi modal dan memo baru, sehingga dapat menyerap tenaga kerja baru. Terhadap pemikiran Smith, perlu dicatat pendapat Joseph Schumpeter (1911 dalam bahasa Jer dalam bahasa Inggris), yang mengatakan bahwa posisi stasione terjadi karena manusia akan terus melakukan inovasi. Sebagai akibat depresi ekonomi dunia tahun 1929-1932, pandangan Smith kemudian dikoreksi oleh John Maynard Keynes (1936) dengan mengatakan bahwa untuk menjamin pertumbuhan yang stabil pemerintah perlu menerapkan ke fiskal (perpajakan dan perbelanjaan pemerintah), kebijakan moneter (tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar), dan pengawasan langsung. Ahli ekonomi setelah itu ada yang mendukung dan memperluas pandangan Smith dan ada 48 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi yang mendukung dan memperluas pandangan Keynes. Kedua kelompok ini tetap mengandalkan mekanisme pasar. Perbedaannya adalah ada yang menginginkan peran pemerintah yang cukup besar tetapi ada pula yang menginginkan peran pemerintah haruslah sekecil mungkin. Walaupun berbeda, kedua kelompok umumnya sependapat bahwa salah satu tugas negara adalah menciptakan distribusi pendapatan yang tidak terlalu pincang (ada kaitan dengan tingkat saving dan konsumsi) sehingga pertumbuhan ekonomi bisa mantap dan berkelanjutan. Belakangan disadari bahwa pemerintah perlu turun tangan untuk menyediakan jasa yang melayani kepentingan orang banyak ketika swasta tidak berminat menanganinya apabila tidak diberi hak khusus. Misalnya pembangkit tenaga listrik, telepon, dan air minum. Swasta mungkin berminat menyediakan fasilitas ini apabila diberi hak monopoli dan karena hal itu mungkin tidak diterima oleh masyarakat, penanganannya diambil alih oleh pemerintah. Atau, kalaupun itu dikelola oleh swasta harus diawasi oleh pemerintah. Hal lain yang dianggap wajar pemerintah turun tangan adalah mengatur stok pangan agar tercipta harga yang stabil. Dalam kerangka ekonomi wilayah, ada pandangan Smith yang tidak bisa diterapkan sepenuhnya, misalnya tentang lokasi dari kegiatan ekonomi tersebut. Sesuai dengan tata ruang yang berlaku maka lokasi dari berbagai kegiatan sudah diatur dan kegiatan yang akan dilaksanakan harus memilih di antara lokasi yang diperkenankan. Terlepas dari kekurangan yang terdapat dalam teori Smith, pandangannya masih banyak yang relevan untuk diterapkan dalam perencanaan pertumbuhan ekonomi wilayah. Untuk itu, hal yang perlu dilakukan pemerintah daerah adalah memberi kebebasan kepada setiap orang badan untuk berusaha (pada lokasi yang diperkenankan), tidak mengeluarkan peraturan yang menghambat pergerakan orang dan barang, tidak membuat tarif pajak daerah yang lebih tinggi dari daerah lain sehingga pengusaha enggan berusaha di daerah tersebut; menjaga keamanan dan ketertiban sehingga relatif aman untuk berusaha; menyediakan berbagai dan prasarana sehingga pengusaha dapat beroperasi dengan efisien serta membuat prosedur penanaman modal yang rumit; berusaha menciptakan iklim yang kondusif sehingga investor tertarik menanamkan Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 49 modalnya di wilayah tersebut. Walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit, teori Smith akan tumbuh subur pada kondisi pasar sempurna. Kondisi pasar sempurna untuk semua transaksi memang sulit diwujudkan, namun pemda harus berusaha untuk membuat kondisi pasan mengarah ke kondisi pasar sempurna. Pemda tidak memberi hak monopoli (penjual tunggal) atau monopsoni (pembeli tunggal) kepada pihak swasta atas dasar lisensi, serta informasi tentang pasar disebarluaskan kepada masyarakat. C. TEORI HARROD-DOMAR DALAM SISTEM REGIONAL Teori ini dikembangkan hampir pada waktu bersamaan oleh Roy F. Harrod (1948) di Inggris dan Evsey D. Domar (1957) di Amerika Serikat. Di antara mereka menggunakan proses perhitungan yang berbeda tetapi memberikan hasil yang sama, sehingga keduanya dianggap mengemukakan ide yang sama dan disebut teori Harrod-Domar. Teori ini melengkapi teori Keynes, di mana Keynes melihatnya dalam jangka pendek (kondisi statis) sedangkan HarrodDomar melihatnya dalam jangka panjang (kondisi dinamis). Teori HarrodDomar didasarkan pada asumsi: 1. perekonomian bersifat tertutup, 2. hasrat menabung (MPS = s) adalah konstan, 3. proses produksi memiliki koefisien yang tetap (constant return to scale), serta 4. tingkat pertumbuhan angkatan kerja (n) adalah konstan dan sama dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Atas dasar asumsi-asumsi khusus tersebut, Harrod-Domar membuat analisis dan menyimpulkan bahwa pertumbuhan jangka panjang yang mantap (seluruh kenaikan produksi dapat diserap oleh pasar) hanya bisa tercapai apabila terpenuhi syarat-syarat keseimbangan sebagai berikut. 50 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi g = k = n, Di mana: g = Growth (tingkat pertumbuhan output) k = Capital (tingkat pertumbuhan modal) n = Tingkat pertumbuhan angkatan kerja Agar terdapat keseimbangan maka antara tabungan (S) dan investasi (1) harus terdapat kaitan yang saling menyeimbangkan, padahal peran k untuk menghasilkan tambahan produksi ditentukan oleh v (capital output ratio = Rasio modal output). Apabila tabungan dan investasi adalah sama (I = S), maka: I K S S Y S/Y S = K = Y = K = K/Y = V Agar pertumbuhan tersebut mantap, harus dipenuhi syarat g = n = s/v. Hal ini lebih mudah dimengerti dengan menggunakan contoh. Misalnya, perekonomian berada dalam kapasitas penuh dengan total pendapatan (Y) = 1.000 triliun rupiah. Hasrat menabung (s) = 20%. Karena I = S maka tingkat investasi adalah 20% x 1.000 triliun rupiah = 200 triliun rupiah. Misalnya rasio modal output adalah 5:1 (diperlukan modal Rp5,00 agar terdapat kenaikan produksi sebesar Rp1,00 per tahun) atau produktivitas modal = 0,20. Besarnya kenaikan output adalah I/v = 200 / 5 = 40 triliun rupiah. Dengan demikian, laju pertumbuhan ekonomi adalah g = 40 triliun 1.000 triliun = 4%. Akan tetapi, hal ini hanya tercapai apabila laju pertumbuhan tenaga kerja juga 4%. Contoh di atas dapat dilihat dari sisi lain. Misalnya, kita menginginkan pertumbuhan ekonomi 5% atau ada kenaikan output sebesar 1.000 triliun rupiah x 0,05 = 50 triliun rupiah. Hal ini berarti investasi haruslah sebesar 50 triliun rupiah x (v) = 50 triliun rupiah x 5 = 250 triliun rupiah. Artinya, tingkat tabungan harus dinaikkan dari 0,20 menjadi 0,25 atau kekurangannya harus dipinjam dari luar. Karena s, v, dan n bersifat independen maka dalam perekonomian tertutup, sulit tercapai kondisi pertumbuhan mantap. Harrod-Domar mendasarkan Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 51 teorinya berdasarkan mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah. Akan tetapi, kesimpulannya menunjukkan bahwa pemerintah perlu merencanakan besarnya investasi agar terdapat keseimbangan dalam sisi penawaran dan sisi permintaan barang. Untuk perekonomian daerah, Harry W. Richardson (terjemahan Sihotang, 1977) mengatakan kekakuan di atas diperlunak oleh kenyataan bahwa perekonomian daerah bersifat terbuka. Artinya, faktor-faktor produksi/hasil produksi yang berlebihan dapat diekspor dan yang kurang dapat diimpor. Impor dan tabungan adalah kebocoran-kebocoran dalam menyedot output daerah. Sedangkan ekspor dan investasi dapat membantu menyedot output kapasitas penuh dari faktor-faktor produksi yang ada di daerah tersebut. Kelebihan tabungan yang tidak terinvestasikan secara lokal dapat disalurkan ke daerah-daerah lain yang tercermin dalam surplus ekspor. Apabila pertumbuhan tenaga kerja melebihi dari apa yang dapat diserap oleh kesempatan kerja lokal maka migrasi neto dapat menyeimbangkan n dan g. Jadi, dalam perekonomian terbuka, persyaratannya menjadi sedikit longgar. Syarat statistik bagi perekonomian terbuka : S + M = I + X dapat dirumuskan menjadi : (s + m) Y = I + X, atau : I Y =s+m– X Y Kita mengetahui bahwa ekspor suatu daerah i dapat dirumuskan sebagai impor daerah-daerah lain. n Xi = ∑ j=1 n Mji = ∑ j=1 Mji Yj Ekspor daerah i = total impor daerah-daerah j dari daerah i = nilai m (marginal propensity to import) daerah-daerah j dari daerah I dikalikan dengan tingkat pendapatn masing-masing daerah j. 52 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Dengan demikian, Richardson (dalam Sihotang, 1977: 34) merumuskan permasaan pertumbuhan suatu wilayah adalah : gi = si + mi − ∑mji Yj /Yi vi Catatan : I Y I Y =s+m– X Y S s.v Y v = = dimana g = s v g i . vi = si + mi − (∑mji Yj )/Yi gi = si + mi − (∑mji Yj)/Yi vi Berdasarkan rumus di atas maka agar suatu daerah tumbuh cepat atau g. tinggi, dikehendaki agar: s (tingkat tabungan) = tinggi, m (impor = tinggi, ekspor = kecil, v (capital output ratio/COR) = kecil, artinya dengan modal yang kecil dapat meningkatkan outpul yang sama besarnya. Yang termasuk dalam ekspor dan impor adalah barang konsumsi dan barang modal. Dalam model ini, kelebihan atau kekurangan tabungan dan dengan tenaga kerja dapat dinetralisir oleh arus Leller atau arus masuk dari setiap faktor di atas. Pertumbuhan yang mantap tergantung pada apakah arus modal dan tenaga keria interregional bersifat menyeimbangkan atau tidak. Pada model ini arus modal dan tenaga kerja searah karena pertumbuhan membutuhkan keduanya secara seimbang. Dalam praktiknya, daerah yang pertumbuhannya tinggi (daerah yang telah maju) akan menarik moda dan tenaga kerja dari daerah lain yang pertumbuhannya rendah dan hal ini membuat pertumbuhan antardaerah menjadi pincang. Artinya, daerah yang maju kian maju dan yang terbelakang akan makin ketinggalan. Jadi, pertumbuhan antardaerah akan mengarah kepada heterogenous (makin pincang). Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 53 Teori Harrod-Domar sangat perlu diperhatikan bagi wilayah yang masih terbelakang dan terpencil atau hubungan keluarnya sangat sulit. Dalam kondisi seperti ini, biasanya barang modal sangat langka sehingga sulit melakukan konversi antara barang modal dengan tenaga kerja (lihat teori Neoklasik). Untuk wilayah seperti itu, bagi sektor yang hasil produksinya tidak layak atau kurang menguntungkan untuk diekspor (karena hiava angkut tinggi atau produk tidak tahan lama) maka peningkatan produksi secara berlebihan mengakibatkan produk tidak terserap oleh pasar lokal dan tingkat harga turun drastis sehingga merugikan produsen. Oleh karena itu, lebih baik mengatur pertumbuhan berbagai sektor secara seimbang. Dengan demikian, pertambahan produksi di satu sektor dapat diserap oleh sektor lain yang tumbuh secara seimbang. D. TEORI PERTUMBUHAN NEOKLASIK Teori pertumbuhan neoklasik dikembangkan oleh Robert M. Solow (1970) dari Amerika Serikat dan T.W. Swan (1956) dari Australia. Model SolowSwan menggunakan unsur pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi, dan besarnya output yang saling berinteraksi. Perbedaan utama dengan model Harrod-Domar adalah dimasukkannya unsur kemajuan teknologi dalam modelnya. Selain itu, Solow-Swan menggunakan model fungsi produksi yang memungkinkan adanya substitusi antara kapital (K) dan tenaga kerja (L). Dengan demikian, syarat-syarat adanya pertumbuhan yang mantap dalam model Solow-Swan kurang restriktif disebabkan kemungkinan subsitusi antara modal dan tenaga kerja. Hal ini berarti adanya fleksibilitas dalam rasio modal-output dan rasio modal-tenaga kerja. Teori-Solow-Swan melihat bahwa dalam banyak hal mekanisme pasar dapat menciptakan keseimbangan sehingga pemerintah tidak perlu terlalu banyak mencampuri/memengaruhi pasar. Campur tangan pemerintah hanya sebatas kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Hal ini membuat teori mereka dan pandangan para ahli lainnya yang sejalan dengan pemikiran mereka dinamakan 54 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi teori Neoklasik. Tingkat pertumbuhan berasal dari tiga sumber, yaitu akumulasi modal, bertambahnya penawaran tenaga kerja, dan peningkatan teknologi. Teknologi ini terlihat dari peningkatan skill atau kemajuan teknik sehingga produktivitas per kapita meningkat. Dalam model tersebut, masalah teknologi dianggap fungsi dari waktu. Oleh sebab itu, fungsi produksinya berbentuk : Yi = Fi (K,L,t) Dalam kerangka ekonomi wilayah, Richardson (dalam Sihotang, 1997: 39) kemudian menderivasikan rumus di atas menjadi sebagai berikut. Yi = a i k i + (1 − a i ) ni + T dimana : Yi = Besarnya output ki = Tingkat pertumbuhan modal ni = Tingkat pertumbuhan tenaga kerja Ti = Kemajuan teknologi a = Bagian yang dihasilkan oleh faktor modal (1-a) = Bagian yang dihasilkan oleh faktor di luar modal Agar faktor produksi selalu berada pada kapasitas penuh perlu mekanisme yang menyamakan investasi dengan tabungan (dalam kondisi full employment). Dengan demikian, pertumbuhan mantap membutuhkan syarat bahwa : MPKi = a i Yi =p Ki MPKi = Marginal productivity of capital Jika p sudah tertentu dan a tetap konstan maka Y dan K harus tumbuh dengan tingkat yang sama. Syarat keseimbangan bagi keseluruhan system adalah ∑ i = 1 Ii = ∑ i = 1 Si Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 55 (walaupun di suatu region tabungan bisa saja tidak sama dengan investasi) Suatu daerah akan mengimpor modal jika tingkat pertumbuhan modalnya lebih kecil dari rasio tabungan domestik terhadap modal. Dalam pasar sempurna marginal productivity of labour (MPL) adalah fungsi langsung tapi bersifat terbalik dari marginal productivity of capital (MPK). Hal ini bisa dilihat dari nilai rasio modal tenaga kerja (K/L). Apabila tiap daerah dimisalkan menghasilkan output yang homogen dan fungsi produksi yang identik maka di daerah yang K/L-nya tinggi terdapat upah riil yang tinggi dan MPK yang rendah. Adapun di daerah yang K/L-nya rendah terdapat upah riil yang rendah tetapi MPK yang tinggi. Sebagai akibatnya modal akan mengalir dari daerah yang upahnya tinggi ke daerah yang upahnya rendah karena akan memberikan balas jasa (untuk modal) yang lebih tinggi. Sebaliknya, tenaga kerja akan mengalir dari daerah upah rendah ke daerah upah tinggi. Mekanisme di atas pada akhirnya menciptakan balas jasa faktor-faktor produksi di semua daerah sama. Dengan demikian, perekonomian regional/pendapatan per kapita regional akan mengalami proses konvergensi (makin sama). Teori Neoklasik sebagai penerus dari teori klasik menganjurkan agar kondisi selalu diarahkan untuk menuju pasar sempurna. Dalam keadaan pasar sempurna nerekonomian bisa tumbuh maksimal. Sama seperti dalam model ekono kebijakan yang perlu ditempuh adalah meniadakan hambatan dalam perdagangan termasuk perpindahan orang, barang, dan modal. Harus dijamin kelancaran arus barang, modal, tenaga kerja dan perlunya penyebarluasan informasi pasar. Harus diusahakan terciptanya prasarana perhubungan yang baik dan terjaminnya keamanan, ketertiban, dan kestabilan politik. Demikian pula model Neoklasik sangat memerhatikan faktor kemajuan teknik, yang dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Mutu SDM adalah menyangkut keahlian dan moral, dan moral sangat dipengaruhi oleh aturan main yang berlaku Hal khusus yang perlu dicatat bahwa model Neoklasik mengasumsikan I = S. Hal ini berarti kebiasaan 56 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi masyarakat yang suka menyimpan uang kontan dalam jumlah besar di rumah (bukan di bank) tanpa tujuan khusus, dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini perlu disosialisasikan kepada masyarakat. Paham Neoklasik melihat peran kemajuan teknologi/inovasi sangat besar dalam memacu pertumbuhan wilayah. Oleh sebab itu, pemerintah perlu mendorong terciptanya kreativitas dalam kehidupan masyarakat, agar produktivitas per tenaga kerja terus meningkat. Analisis lanjutan dari paham Neoklasik menunjukkan bahwa untuk terciptanya suatu pertumbuhan yang mantap (steady growth), diperlukan suatu tingkat s (saving) yang pas dan seluruh keuntungan pengusaha diinvestasikan kembali (di wilayah tersebut). Terhadap teori Neoklasik perlu dibuat catatan khusus tentang praktik yang ditempuh negara-negara sedang berkembang. Banyak pemerintah negara berkembang, misalnya Macan Asia (Jepang, Korea, dan Taiwan) mendorong konglomerat berperan dalam perekonomian sehingga membuat pasar menjadi tidak sempurna. Hal ini dapat dilihat dari dua sisi: a) sejalan dengan teori ekonomi klasik, pengusaha perlu mendapat keuntungan yang memadai karena dengan keuntungan itulah mereka bisa melakukan investasi baru dan menyerap tenaga kerja tambahan; b) kondisi pasar dunia umumnya dikuasai oleh konglomerat dunia yang bertindak seperti mafia, Konglomerat dunia tidak berhubungan dengan pengusaha kecil lokal, karena menurut mereka hal itu tidak efisien. Jadi, agar dapat menembus pasar dunia, harus ada konglomerat yang dapat menembus pasar/menjalin hubungan dengan konglomerat di luar negeri. E. TEORI PERTUMBUHAN JALUR CEPAT YANG DISINERGIKAN Teori Pertumbuhan Jalur Cepat (Tumpike) diperkenalkan oleh Samuelson (1955). Setiap negara/wilayah perlu melihat sektor/komoditi apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 57 potensi alam maupun karena sektor itu memiliki competitive advantage untuk dikembangkan Artinya, dengan kebutunan modal yang sama sektor tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam waktu yang relatif singkat dan volume sumbangan untuk perekonomian juga cukup besar. Agar pasarnya teriamin, produk tersebut harus dapat menembus dan mampu bersaing pada pasar luar negeri. Perkembangan sektor tersebut akan mendorong sektor lain turut berkembang sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh Mensinergikan sektor-sektor adalah membuat sektor-sektor saling terkait dan saling mendukung. Misalnya, usaha perkebunan yang dibuat bersinergi dengan usaha peternakan. Rumput/limbah perkebunan dapat dijadikan makanan ternak sedangkan teletong kotoran temak bisa dijadikan pupuk untuk tanaman perkebunan. Contoh lain adalah usaha pengangkutan dan usaha perbengkelan. Dengan demikian. pertumbuhan sektor yang satu mendorong pertumbuhan sektor yang lain, begitu juga sebaliknya. Menggabungkan kebijakan jalur cepat (turnpike), dan mensinergikannya dengan sektor lain yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat. Selain itu, perlu diperhatikan pandangan beberapa ahli ekonomi (Schumpeter dan lain-lain) yang mengatakan bahwa kemajuan ekonomi sangat ditentukan oleh jiwa usaha (enterpreneurship) dalam masyarakat. Jiwa usaha berarti pemilik modal mampu melihat peluang dan berani mengambil risiko membuka usaha baru maupun memperluas usaha yang telah ada. Dengan pembukaan usaha baru dan perluasan usaha tersedia lapangan kerja tambahan untuk menyerap angkatan kerja yang bertambah setiap tahunnya. Angkatan kerja yang tidak tertampung dapat menciptakan instabilitas keamanan sehingga investor tidak berminat melakukan investasi dan ekonomi menjadi mandek. Perekonomian yang mandek! membuat makin banyak pencari kerja tidak tertampung sehingga instabilitas bertambah parah. Apabila jaminan keamanan berusaha sudah tidak ada, investor yang sudah ada pun akan merelokasi 58 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi usahanya. Apabila hal ini terjadi akan terjadi depresi ekonomi dan kemakmuran menjadi menurun. F. TEORI BASIS EKSPOR RICHARDSON Teori basis ekspor murni dikembangkan dalam kerangka ilmu ekonomi regional. Penganjur pertama teori ini adalah liebout. Teori ini membagi kegiatan produksi jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas: pekerjaan basis (dasar) dan pekerjaan service (pelayanan), untuk menghindari kesalahpahaman disebut saja sektor nonbasis. Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat exogenous artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan sekaligus berfungsi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya. Itulah sebabnya dikatakan basis, sedangkan pekerjaan service (nonbasis) adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhannya tergantung kepada kondisi umum perekonomian wilayah tersebut. Artinya, sektor ini bersifat endogenous (tidak bebas tumbuh). Pertumbuhannya tergantung kepada kondisi perekonomian wilayah secara keseluruhan Perbedaan pandangan antara Richardson dan Tiebout dalam teori basis adalah Tiebout melihatnya dari sisi produksi sedangkan Richardson melihatnya dari sisi pengeluaran Walaupun teori basis ekspor (export base theory) adalah yang paling sederhana dalam membicarakan unsur-unsur pendapatan daerah, tetapi dapa memberikan kerangka teoretis bagi banyak studi empiris tentang multiplier regional, Jadi, teori ini memberikan landasan yang kuat bagi studi pendapatan regiona walaupun dalam kenyataannya perlu dilengkapi dengan kebijakan lain agar bisa digunakan sebagai pengatur pembangunan wilayah yang komprehensif. Pada mulanya teori basis ekspor hanya memasukkan ekspor murnik dalam pengertian ekspor. Akan tetapi, kemudian orang membuat definisi ekspor yang lebih luas. Ekspor tidak hanya mencakup barang/jasa yang dijual ke luar daerah tetapi termasuk juga di dalamnya barang atau jasa yang dibeli orang dari luar Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 59 daerah walaupun transaksi itu sendiri terjadi di daerah tersebut. Kegiatan lokal yang melayani pariwisata adalah pekerjaan basis karena mendatangkan uang dari luar daerah. Demikian pula kegiatan lokal di perkotaan seperti restoran, bengkel, usaha grosir, dan swalayan yang melayani orang dari luar daerah adalah pekerjaan basis. Asrama militer biasanya juga dikategorikan sebagai pekerjaan basis karena mereka dibayar oleh pemerintah pusat. Jadi pada pokoknya, kegiatan yang hasilnya dijual ke luar daerah atau mendatangkan uang dari luar daerah adalah kegiatan basis sedangkan kegiatan service (nonbasis) adalah kegiatan yang melayani kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri, baik pembeli maupun sumber uangnya berasal dari daerah itu sendiri. Teori basis ekspor membuat asumsi pokok bahwa ekspor adalah satusatunya unsur eksogen (independen) dalam pengeluaran. Artinya, semua unsur pengeluaran lain terikat (dependen) terhadap pendapatan. Secara tidak langsung hal ini berarti di luar pertambahan alamiah, hanya peningkatan ekspor saja yang dapat mendorong peningkatan pendapatan daerah karena sektorsektor lain terikat peningkatannya oleh peningkatan pendapatan daerah. Sektor lain hanya meningkat apabila pendapatan daerah secara keseluruhan meningkat. Jadi, satu-satunya yang bisa meningkat secara bebas adalah ekspor. Ekspor tidak terikat di dalam siklus pendapatan daerah. Asumsi kedua ialah bahwa fungsi pengeluaran dan fungsi impor bertolak dari titik nol sehingga tidak akan berpotongan (intercept). Harry W. Richardson dalam bukunya Elements of Regional Economics (terjemahan Paul Sihotang, 1977: 7) memberi uraian sebagai berikut. Berkenaan dengan daerah i dapat dituliskan : Yi = (Ei − Mi ) + Xi …………………………….. (1) Pendapatan = pengeluaran untuk barang/jasa domestik + ekspor, dimana : Ei = ei Yi …………………………….. (2) Mi = mi Yi …………………………….. (3) Xi = ̅ X (eksogen) …………………………….. (4) 60 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Dimana : ei = Marginal propensity to expenditure (hasrat membelanjakan uang) mi = Marginal propensity to import (hasrat membeli barang impor) maka : Yi = ei Yi − mi Yi + Xi , dengan demikian : Yi = ̅̅̅ Xi 1−ei +mi …………………………….. (5) Jika fungsi no. (5) diubah susunannya maka : Yi Xi Yi Xi = 1 1−ei +mi …………………………….. (6) adalah rasio pendapatan terhadap ekspor yang disebut multiplier basis diberi symbol K. K= 1 1−ei +mi …………………………….. (7) Jadi, pendapatan regional adalah kelipatan dari ekspor, jika hasrat membelanjakan secara local (e – m) adalah lebih kecil daripada satu. Hasil yang diperoleh adalah multiplier basis rata-rata sedangkan untuk peramalan diperlukan perubahannya, yaitu ∆Yi ∆̅̅̅ Xi Apabila multiplier basis secara rata-rata sama dengan perubahannya maka hasil K tersebut dapat digunakan sebagai alat peramalan. Misalnya, apabila K = 2 dan tahun depan kita mengharapkan dapat meningkatkan ekspor sebesar Rp1.000.000,00 maka besarnya tambahan pendapatan masyarakat untuk tahun depan adalah 2 x Rp1.000.000,00 = Rp2.000.000,00. Model teori basis ini sangat sederhana sehingga mempunyai kelemahan. Kelemahan teori basis antara lain adalah sebagai berikut 1. Menurut Richardson, besarnya basis ekspor adalah fungsi terbalik dari besarnya suatu daerah. Artinya, makin besar suatu daerah, ekspornya semakin kecil apabila dibandingkan dengan total pendapatan, demikian pula Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 61 impornya. Hal ini membuat daerah yang besar cenderung memiliki K yang tinggi karena rasio pendapatan ekspor adalah rendah, tetapi m juga rendah dan ini cenderung menaikkan K. Sebaliknya, daerah yang kecil maka rasio pendapatan ekspor adalah tinggi, tetapi m juga tinggi dan ini cenderung menurunkan K. Jadi, K bisa berubah apabila luas daerah analisis diubah. Dengan demikian, K sulit dijadikan pegangan tunggal dalam peramalan apabila luas daerah berubah dari satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya. 2. Ekspor jelas bukan satu-satunya faktor yang bisa meningkatkan pendapatan daerah. Ada banyak unsur lain yang dapat meningkatkan pendapatan daerah seperti bantuan dari pemerintah pusat, investasi dari luar, dan peningkatan produktivitas masyarakat. 3. Dalam studi atas suatu wilayah maka multiplier basis yang diperoleh adalah rata-ratanya dan bukan perubahannya. Menggunakan multiplier basis ratarata untuk proyeksi seringkali menghasilkan hasil yang keliru apabila ada tendensi perubahan nilai multiplier dari tahun ke tahun. 4. Beberapa pakar berpendapat bahwa apabila pengganda basis digunakan sebagai alat proyeksi maka masalah time-lag (masa tenggang) harus diperhatikan. Masa tenggang berarti penggandaan tidak berlangsung secara cepat, yaitu dibutuhkan waktu antara terjadinya kenaikan ekspor (sektor basis) dengan respons sektor nonbasis. Ada pakar yang mengatakan hal ini dapat diatasi dengan menghitung pengganda basis dengan menggunakan data time-series selama tiga sampai lima tahun. 5. Ada studi lainnya yang menunjukkan bahwa ada wilayah yang tetap berkembang pesat walaupun ekspor wilayah relatif kecil. Pada umumnya hal ini hanya dapat terjadi di wilayah yang terdapat banyak ragam kegiatan dan satu kegiatan saling membutuhkan terhadap produk dari kegiatan lainnya. Jadi, dalam hal ini tercipta suatu pasar yang tertutup tetapi dinamis. Suatu pasar tertutup dapat bersifat dinamis/berkembang apabila syarat- 62 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi syarat keseimbangan seperti yang dituntut dalam Teori Harrod-Domar dapat terpenuhi. G. MODEL PERTUMBUHAN INTERREGIONAL (PERLUASAN DARI TEORI BASIS) Model ini adalah perluasan dari teori basis ekspor, yaitu dengan menambah faktor-faktor yang bersifat eksogen. Selain itu, model basis ekspor hanya membahas daerah itu sendiri tanpa memerhatikan dampak dari daerah tetangga. Model ini memasukkan dampak dari daerah tetangga, itulah sebabnya maka dinamakan model interregional. Dalam model ini diasumsikan bahwa selain ekspor pengeluaran pemerintah dan investasi juga bersifat eksogen dan daerah itu terikat kepada suatu sistem yang terdiri dari beberapa daerah yang berhubungan erat. Richardson (dalam Sihotang, 1977; 9) dengan memanipulasi rumus pendapatan yang dikemukakan pertama kali oleh Keynes, merumuskan model interregional ini sebagai berikut. Pendapatan Daerah adalah …………………….. (8) Yi = Ci + Ii + Gi + Xi − Mi Pendapatan = Konsumsi + Investasi + Pengeluaran Pemerintah + Ekspor – Impor Di mana : Ci = a i + ci Yid Yid = Disposable income Ci = Marginal propensity to consume Ii = Ii …………………….. (10) Gi = Gi …………………….. (11) Xi = ∑j=1 Mji = ∑j=1 Mji Yj ………..……..(12) Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah …………………….. (9) 63 Di mana : Di mana : Di mana : Mi = ∑ mij Yid …………………….. (13) Yid = Yi − Ti …………………….. (14) Ti = t i Yi …………………….. (15) t = Tingkat pajak marginal Ai = a i + Ii +Gi …………………….. (16) Ai = Pengeluaran otonom total Jika persamaan-persamaan (9) – (16) dimasukkan ke dalam persamaan no. (8) dan ditata kembali dalam rumus pendapatan daerah (Richardson dalam Sihotang, 1997: 9) : Yi = Ai +Mji Yj(1−t) ……………………..(17) 1−(ci − mij) (1−ti ) Arti dari rumus ini adalah pendapatan daerah i terdiri dari penjumlahan pengeluaran otonom ditambah dengan ekspor dikali multiplier regional. Multiplier Regional adalah K= 1 1 − (ci −  mij) (1 − t i ) Model no. (17) dapat disederhanakan menjadi: Yi = A + K i Xi Pendapatan regional = pengeluaran otonom ditambah ekspor kali multiplier. Model ini berbeda dari model basis ekspor terdahulu. Dalam model interregional, perubahan pendapatan regional dapat berasal dari beberapa sumber, dan tidak lagi semata-mata dari perubahan ekspor. Sumber-sumber perubahan pendapatan regional meliputi: 1. perubahan pengeluaran otonom regional (misalnya investasi dan pengeluaran pemerintah); 64 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi 2. perubahan tingkat pendapatan suatu daerah atau beberapa daerah lain yang berada dalam suatu sistem yang akan terlihat dari perubahan ekspor dari daerah i; 3. perubahan salah satu di antara parameter-parameter model (hasrat konsumsi marginal, koefisien perdagangan interregional, atau tingkat pajak marginal). Richardson berpendapat bahwa suatu hal yang sangat berguna dari model ini adalah bahwa umumnya C ≠ C. Keadaan ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan nasional. Jika kapasitas regional bukan merupakan pembatas, kenaikan pendapatan regional akan maksimum jika pengeluaranpengeluaran pemerintah dipusatkan pada daerah-daerah di mana C paling tinggi (biasanya daerah yang paling terbelakang). Suatu injeksi investasi di daerah i tidak hanya menaikkan pendapatan (menaikkan Ai ) di daerah yang bersangkutan, tetapi juga menyebarkan kekuatan pendorong kepada daerahdaerah sekitarnya yang saling berhubungan melalui kenaikan impor. Dalam model di atas terlihat bahwa ekspor tidaklah betul-betul bebas karena ekspor adalah penjumlahan impor daerahdaerah tetangga dari daerah kita. Hal ini berarti bahwa peningkatan perekonomian di daerah tetangga dapat dimanfaatkan. Mengenai impor daerah-daerah tetangga, faktor yang sangat menentukan adalah tingkat pendapatan dari daerah-daerah tetangga. Namun demikian, ada faktor lain yang bisa memengaruhi impor daerah tetangga tersebut, yaitu masalah neraca pembayaran antardaerah. Sebagaimana suatu negara, daerah-daerah pun dapat mengalami kesulitan dalam neraca pembayaran. Memang hal ini jarang dipublikasikan karena dianggap tidak begitu penting sedangkan pencatatannya cukup rumit. Lagi pula mekanisme penyesuaian neraca pembayaran antardaerah bekerja lebih efektif apabila dibandingkan dengan antarnegara. Hal ini karena terdapatnya kebebasan perpindahan orang dan barang antardaerah. Misalnya pada mulanya terdapat keseimbangan dalam neraca pembayaran daerah. Kemudian ada satu daerah yang memperoleh injeksi investasi. Akibatnya, impor daerah tersebut meningkat (impor terdorong - induced Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 65 import). Apabila injeksi investasi mampu menaikkan ekspor daerah itu dan daerah lain juga meningkat impornya karena kenaikan pendapatan dan semua terjadi dalam proporsi yang tepat, keseimbangan neraca pembayaran antardaerah dalam volume yang lebih besar dapat tercipta kembali. Hal ini dapat diperjelas dalam diagram berikut dengan asumsi hanya ada tiga daerah i, j, dan k. Injeksi investasi di daerah i Impor daerah i Ekspor daerah j meningkat meningkat Ekspor daerah k meningkat Impor daerah j meningkat Ekspor daerah i meningkat Impor daerah k meningkat Akan tetapi, seringkali proporsi perubahan impor masing-masing daerah tidak tepat sama, sehingga bisa menimbulkan masalah neraca pembayaran. Masalah neraca pembayaran (NP) yang tidak seimbang apabila tidak bersifat kronis masih bisa diatasi dengan berbagai mekanisme penyesuaian, misalnya: 1. Surplus impor dapat bertahan jika serentak dengan itu investasi domestic lebih besar dari tabungan lokal. Artinya, ada dana investasi yang mengalir dari luar untuk membiayai surplus impor tersebut; 2. ketidakseimbangan sementara dalam NP suatu daerah dapat diatasi dengan arus dana jangka pendek (umpamanya melalui transfer di antara cabangcabang bank); 3. ketidakseimbangan yang berkelanjutan dapat disesuaikan apabila ada pengusaha dari daerah surplus ekspor bersedia menanamkan modalnya ke daerah surplus impor. Hal ini bisa terjadi jika penanaman modal itu cukup menarik dan kenaikan impor disebabkan oleh kenaikan pendapatan daerah 66 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi tersebut. Penanaman modal jangka panjang ke suatu daerah berarti mengalirkan modal ke daerah tersebut; 4. ketidakseimbangan dalam volume barang-barang yang diangkut seringkali menciptakan penyesuaian sendiri (otomatis karena perusahaan pengangkutan bersedia mengurangi ongkos angkut pada salah satu jalur agar terdapat cukup barang yang dapat diangkut untuk pergi dan pulang. Persoalan-persoalan yang bersifat kronis biasanya timbul di suatu daerah yang mengalami kemerosotan ekspor karena dalam keadaan seperti ini modal malah cenderung mengalir keluar dan pihak luar enggan untuk berinvestasi ke daerah tersebut. Dari uraian di atas dapat dibuat dua skenario tentang pertumbuhan antardaerah. Skenario: a. Surplus impor karena peningkatan pendapatan  investasi masuk  tenaga kerja masuk  impor meningkat  mendorong ekspor daerah sekitarnya  impor daerah sekitarnya meningkat  ekspor daerah i meningkat  pemerataan pembangunan. b. Surplus impor karena produksi merosot  investasi keluar  migran tenaga kerja keluar  impor daerah luar meningkat  ekspor daerah i meningkat  menjadi sadle-point untuk daerah i tetapi dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah  pembangunan antardaerah makin pincang. Masalah kunci untuk daerah i adalah pada saat impor daerah sekitarnya meningkat, seberapa jauh kebutuhan impor dapat dipenuhi daerah i. Apabila ekspor daerah i hanya meningkat sedikit, daerah akan tertinggal. Sebaliknya, apabila ekspor daerah i naik cukup tinggi maka pendapatan daerah i akan meningkat mengejar daerah sekitarnya. Dalam model pertumbuhan interregional terlihat bahwa kemampuan untuk meningkatkan ekspor sangat berpengaruh dalam menjamin kelangsungan pertumbuhan suatu daerah dan menciptakan pemerataan pertumbuhan antardaerah. Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 67 H. KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGAN WILAYAH Dari berbagai teori/model yang telah diuraikan terdahulu akan dicoba untuk menyimpulkan langkah-langkah/kebijakan yang perlu ditempuh oleh seorang kepala daerah/perencana pembangunan daerah untuk dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di daerahnya, yang secara umum berarti meningkatkan perekonomian daerah tersebut. Langkah-langkah itu dapat dirumuskan sebagai berikut. 1. Sejalan dengan teori basis ekspor, perlu didorong pertumbuhan dari sektorsektor yang hasil produksinya dapat dijual ke luar daerah atau mendatangkan uang dari luar daerah, terutama ekspor ke luar negeri. Sebetulnya usaha untuk menjual suatu produk ke luar daerah tidak mudah. Apabila daerah lain juga menghasilkan produk yang sama, daerah itu harus mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik atau minimal sama tetapi dengan harga pokok yang lebih rendah (efisien). Hal sama juga berlaku untuk pemberian jasa yang bisa mendatangkan pelanggan/uang dari luar daerah, misalnya pariwisata. Sebagai akibat krisis ekonomi, banyak masyarakat golongan bawah yang terpaksa dibantu oleh pemerintah. Ada bantuan yang bersifat materi (diberi jatah beras dengan harga subsidi), tetapi ada juga dalam bentuk penyediaan lapangan kerja (sementara) dan bantuan modal kepada pengusaha kecil dan menengah (UKM). Sesuai dengan teori basis bagi bantuan penyediaan lapangan kerja (sementara), dan bantuan modal UKM, harus diarahkan ke sektor basis (ekspor) dan bukan ke sektor pelayanan (service). Apabila bantuan itu digunakan untuk sektor pelayanan, dampak penggandanya bersifat jangka pendek dan tidak membuat volume kegiatan ekonomi bertambah secara permanen. Unit usaha yang dibantu memang berkembang, tetapi dengan korban unit usaha sejenis lainnya yang tidak dibantu. Hal ini teriadi karena total daya beli masyarakat terhadap barang dan jasa tidak bertambah. Hal ini juga terjadi apabila banyak masyarakat yang berusaha di sektor pelayanan (dagang kecil-kecilan/jasa) karena sulitnya mencari 68 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi lapangan kerja di sektor riil. Apabila jumlah usaha bertambah tetapi daya beli total tidak naik, pendapatan rata-rata per unit usaha menjadi menurun. Apabila bantuan itu ditujukan ke sektor basis, akan tercipta efek pengganda. Hal itu karena unit usaha basis yang dibantu dan beberapa unit usaha pelayanan akan berkembang, tetapi tidak ada unit usaha yang dirugikan (menurun volume kegiatannya). Memang tidak mudah menciptakan lapangan kerja di sektor basis, tetapi masih mungkin apabila direncanakan secara matang melalui kerja sama berbagai pihak. Misalnya di suatu daerah pemerintah merencanakan memberi pekerjaan kepada 500 penganggur selama 30 hari. Pada saat yang sama, pemerintah juga memberi bantuan modal kepada 30 UKM masing-masing 30 juta rupiah. UKM yang dibantu diseleksi hanya yang bergerak di sektor basis atau dapat mengalihkan usahanya ke sektor basis. Kegiatan sektor basis misalnya: berbagai usaha kerajinan atau kegiatan sektor pertanian/agribisnis yang produknya laku dijual ke luar negeri. Selama ini para penganggur hanya diarahkan pada kegiatan yang sifatnya kepentingan umum seperti pembersihan parit/selokan, pembabatan rumput jalan, atau pembersihan sampah perkotaan. Kegiatan ini memang bermanfaat, tetapi bersifat sementara dan belum tentu efisien dari sudut biaya dan efektif dari sudut hasil kerja. Ada baiknya penganggur itu diarahkan untuk bekerja pada UKM yang bergerak di sektor basis. Pemerintah dapat memberikan bantuan modal lunak kepada UKM dan UKM berkewajiban merekrut penganggur (yang didaftar pemerintah). Upah para pekerja baru ini, 50% ditanggung pemerintah dan 50% ditanggung UKM yang bersangkutan. Dengan demikian, penganggur itu dapat dipekerjakan selama 2 bulan (2 kali lipat dari rencana pemerintah semula). Dengan adanya tenaga kerja yang upahnya disubsidi diharapkan UKM dapat berproduksi dengan biaya yang lebih murah sehingga lebih mampu memasarkan produknya ke luar negeri. Apabila UKM berkembang, UKM diharapkan akan mempekerjakan tenaga penganggur secara kontinu walaupun tidak ada lagi subsidi upah dari pemerintah. Apabila hal ini terjadi Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 69 akan tercipta lapangan kerja secara permanen, UKM itu turut berkembang dan dampak penggandanya berkelanjutan. 2. Sejalan dengan teori Harrod-Domar, harus diperhatikan produk-produk yang hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan lokal. Sebaiknya produk ini juga diusahakan agar bisa diekspor, misalnya dengan peningkatan mutu, perbaikan jalur pemasaran, atau penyediaan volume dalam jumlah ekonomis untuk dipasarkan ke luar daerah. Akan tetapi, apabila usaha untuk menembus pasar ekspor masih belum memungkinkan, peningkatan produksi untuk komoditi itu tidak perlu didorong melebihi kebutuhan lokal karena akan menurunkan harga dan merugikan produsen. Bisa jadi bahan baku menjadi mahal, seperti pakan itik pada saat dikembangkan ternak itik, dengan dana IDT (inpres desa tertinggal) atau bantuan kredit pada pengrajin sepatu yang akhirnya macet karena produksi meningkat tetapi pasar tidak berkembang. Ada baiknya beberapa sektor didorong secara bersamaan secara sedikit-sedikit. Apabila semua sektor berkembang secara seimbang, kenaikan produksi akan dapat diserap sektor lainnya. 3. Sejalan dengan teori ekonomi klasik atau Neoklasik, harus diusahakan prasarana dan sarana perhubungan yang baik dan lancar, mempermudah arus keluar masuk orang dan barang, serta perbaikan arus komunikasi dan penyebarluasan informasi. Diusahakan untuk memenuhi asumsi dasar yang terdapat pada teori Neoklasik yaitu pasar yang sempurna, baik untuk pasar barang maupun pasar tenaga kerja. Memang adanya pasar yang benar-benar sempurna akan sulit dicapai, tetapi langkah-langkah ke arah itu harus diusahakan. Kondisi yang lebih mendekati pasar sempurna akan berfungsi membuat faktor-faktor produksi dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Sebaiknya dihindari adanya peraturan yang menghambat perpindahan barang dan orang dan dihindari adanya pengusaha yang diberi wewenang untuk berperan secara monopolistik. Teori Neoklasik menekankan perlunya peran pemerintah menjaga keamanan dan aturan main di antara pelaku ekonomi. Faktor keamanan usaha sangat berperan dalam pertumbuhan ekonomi daerah. 70 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Kondisi usaha yang tidak aman akan membuat biaya usaha menjadi lebih tinggi dan banyak orang membatasi luas usahanya sampai kepada batas yang bisa diawasi atau dikendalikan langsung olehnya, misalnya untuk menghindari pencurian. 4. Sejalan dengan model interregional perlu diusahakan masuknya dana investasi dari pemerintah pusat atau luar negeri sebanyak-banyaknya ke daerah kita. Hal ini antara lain dapat ditempuh dengan menawarkan program-program yang bisa dibiayai atau menarik untuk dibiayai. Diusahakan agar banyak kegiatan yang dibiayai pemerintah pusat atau luar negeri yang berdomisili di daerah itu. Selain memancing dana-dana pemerintah maka investasi swasta juga harus dirayu baik investasi pengusaha lokal, pengusaha luar daerah atau pengusaha luar negeri. 5. Daerah tetangga yang berkembang tidak perlu dicemburui, tetapi sebaiknya didorong dan dimanfaatkan dengan melihat berbagai kemungkinan untuk menambah ekspor barang atau jasa dari daerah kita ke daerah tersebut. 6. Masyarakat didorong untuk mengonsumsi produk lokal dan industri didorong untuk lebih banyak memakai komponen lokal (tetapi dengan tidak mengorbankan mutu agar mudah memasuki pasar ekspor). Sejalan dengan itu, selain industri yang berorientasi ekspor, industri yang bersifat substitusi impor juga didorong pembangunannya. Perlu diingat bahwa peningkatan produksi hanya bisa berlanjut apabila ada pasar yang menyerap kenaikan produksi, Pasar ini berupa: 1. ekspor, 2. peningkatan konsumsi lokal, dan 3. penurunan impor apabila jenis produksi bersifat import substitution. Konsumsi lokal terbagi atas: 1. konsumsi akhir (konsumsi rumah tangga), 2. konsumsi pemerintah, dan 3. dipakai untuk investasi. Konsumsi pemerintah berkaitan dengan belanja pemerintah yang sumbernya adalah pajak yang dikutip dari masyarakat, yang berarti Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 71 peningkatannya berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk membayar pajak. Bagian yang dipakai untuk investasi berkaitan dengan keinginan pengusaha melakukan investasi. Hal ini kembali berkaitan dengan ada tidaknya perluasan pasar dan salah satu faktornya adalah kenaikan konsumsi masyarakat. Hal ini berarti bahwa masyarakat yang terlalu irit dan selalu ingin membatasi konsumsinya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Masyarakat harus rela meningkatkan konsumsinya sejalan dengan meningkatnya pendapatan. 7. Dari rumus multiplier, diketahui bahwa tingkat pajak akan mempengaruhi besarnya multiplier regional. Tingkat pajak yang tinggi akan menurunkan multiplier regional. Akan tetapi, di lain sisi diketahui bahwa pajak akhirnya akan menjadi pengeluaran pemerintah dan makin besar pengeluaran pemerintah akan mendorong peningkatan pendapatan regional. Pajak yang dipungut dari masyarakat terbagi atas pajak yang dipungut pemerintah pusat, pajak yang dipungut pemerintah provinsi, dan pajak yang dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota. Untuk pajak yang dipungut dan ditentukan pemerintah atasan, baik jenis maupun besarnya tarif, pemerintah daerah bawahan tidak memiliki wewenang apa pun atas pajak tersebut. Pemda kabupaten/kota bersama DPRD setempat memang memiliki wewenang untuk menetapkan tingkat tarif pungutan daerah (pajak dan retribusi) dengan meminta persetujuan pemerintah di atasnya (gubernur). Tarif pungutan daerah sebaiknya tidak melebihi tarif yang berlaku di daerah tetangga apalagi hal itu bisa membuat investor menjadi segan berinvestasi. Pemerintah daerah lebih baik mendorong bertambahnya potensi objek pungutan dan menagih dengan tarif sedang dari objek pajak yang makin besar daripada menetapkan tarif tinggi dengan objek pajak yang tetap kecil. Begitu pun penetapan tingginya tingkat pajak daerah sangat berkaitan dengan kondisi keuangan pemda yang bersangkutan, yaitu perbandingan antara penerimaan dengan pengeluaran minimal yang masih memungkinkan membuat roda pemerintahan berjalan secara wajar. Pemerintah daerah yang 72 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi suka membuat kutipan baru/tambahan atau menetapkan kenaikan tarif secara tidak wajar akan membuat investor takut masuk ke daerah tersebut. 8. Pemilihan jalur cepat dan mensinergikan perekonomian wilayah Pemerintah daerah perlu menentukan sektor dan komoditi apa saja yang diperkirakan bisa tumbuh cepat di wilayah tersebut. Sektor dan komoditi itu haruslah basis atau punya prospek untuk dipasarkan ke luar wilayah atau diekspor di masa yang akan datang dan dapat dikembangkan secara besarbesaran atau volume produksinya memenuhi syarat untuk diekspor. Sektor ini perlu didorong, dikembangkan, dan disinergikan dengan sektorsektor lain yang terkait. Beberapa sektor (kegiatan) dikatakan bersinergi apabila pertumbuhan salah satu sektor akan mendorong sektor lain untuk tumbuh, sedemikian rupa sehingga terdapat dampak pengganda yang cukup berarti. Langkah ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah. 9. Pentingnya menarik investor untuk menanamkan modalnya di wilayah kita. Pertumbuhan ekonomi bersumber dari tiga hal, yaitu investasi, perbaikan metode kerja, dan peningkatan kerajinan atau jam kerja. Kegiatan investasi dapat berupa investasi untuk kegiatan baru ataupun perluasan dari usaha yang telah ada. Hal ini sekaligus akan menambah lapangan kerja. Perbaikan metode kerja adalah usaha-usaha yang membuat faktor-faktor produksi yang sama atau bernilai sama, mampu meningkatkan produksi dengan cara inovasi. Kegiatan ini tidak sekaligus menambah lapangan kerja, tetapi kebutuhan tenaga kerja akan meningkat pada putaran berikutnya. Peningkatan kerajinan/jam kerja akan menaikkan produksi tanpa menambah biaya. Kegiatan ini baru akan menambah lapangan kerja pada putaran berikutnya. Pilihan b dan c umumnya tidak banyak terjadi di Indonesia sehingga pilihan yang cepat menambah lapangan kerja hanyalah lewat kegiatan investasi terutama di sektor basis. Setelah diberlakukannya undang-undang otonomi daerah, minat investor asing menanamkan modalnya secara langsung pada sektor riil di Indonesia sangat rendah. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, termasuk yang diuraikan pada butir 11. Pada butir ini akan disoroti tentang wewenang Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 73 pemerintah daerah dalam menetapkan berbagai jenis pungutan beserta tarifnya dan kaitannya dengan kekhawatiran investor. Setelah diberlakukannya otonomi daerah, daerah memiliki kewenangan yang penuh dalam menetapkan tarif bagi pajak dan retribusi yang menjadi kewenangannya. Penetapan tarif hanya didasarkan atas keputusan kepala daerah bersama dengan DPRD dengan persetujuan gubernur. Hal ini berarti pemerintah daerah dapat saja menetapkan tarif yang tinggi atas pungutannya asal disetujui oleh DPRD dan kemudian disetujui gubernur. Dalam rangka otonomi daerah dan era reformasi, sulit bagi gubernur untuk menolak keinginan pemda apabila keinginan itu masih dalam koridor ketentuan yang ada. Hal ini menciptakan keraguan bagi para investor karena mereka bisa saja terjebak setelah perusahaan beroperasi, pemda menciptakan pungutan baru atau tarif dari pungutan yang ada dinaikkan secara drastis. Misalnya, ada perusahaan yang banyak membutuhkan air permukaan air bawah tanah dalam proses produksinya. Pada waktu penjajakan, tarif air cukup murah dan berdasarkan hitungan pengusaha mereka masih bisa untung. Akan tetapi setelah beroperasi, tidak ada jaminan bahwa pemda tidak menaikkan tarif air secara drastis. Hal ini menjadi kekhawatiran pengusaha, dan ada baiknya kekhawatiran ini dihindari. Adalah kewajiban pemda untuk meningkatkan PAD-nya terutama lewat pertumbuhan ekonomi/ berkembangnya berbagai kegiatan ekonomi di daerah tersebut. Tarif pungutan yang rendah perlu segera dinaikkan dan bagi pungutan baru yang memungkinkan dan belum diperdakan segera diperdakan. Setelah itu pemda bersama DPRD membuat suatu ketentuan tentang pembatasan pungutan baru dan ketentuan perubahan/kenaikan tarif di masa yang akan datang dan diperdakan. Pada perda pembatasan ini dibuat ketentuan bahwa pungutan baru akan dibatasi dan kalaupun ada hanya pada bidang tertentu yang disebutkan dengan jelas. Demikian pula kenaikan tarif per tahun tidak akan melebihi persentase tertentu atau misalnya kenaikan dikaitkan dengan tingkat inflasi. Dengan demikian, diharapkan investor baru tidak ragu untuk menanamkan modalnya di daerah tersebut karena dari sejak awal mereka sudah dapat 74 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi memperkirakan beban pungutan daerah yang akan mereka tanggung. Setelah era reformasi sering terjadi tuntutan masyarakat setempat untuk menutup suatu usaha yang sebetulnya sudah lama berdiri dan telah lama mendapat izin. Tuntutan itu misalnya karena polusi/limbah yang ditimbulkan oleh perusahaan. Apabila pemda serta-merta memenuhi tuntutan masyarakat tersebut dan tidak memberi jalan keluar terlebih dahulu atau memberi kompensasi bagi perusahaan yang disuruh tutup, hal ini akan membuat investor baru akan takut berlokasi di daerah tersebut. Bagi perusahaan yang telah mendapat izin, perusahaan harus diberi kesempatan untuk membenahi dirinya agar segala ketentuan yang menyangkut andal perusahaan dapat dipenuhinya. Seandainya tuntutan masyarakat tetap sulit dibendung padahal perusahaan telah memenuhi ketentuan andal, perusahaan dibantu untuk melakukan relokasi atau apabila harus ditutup perusahaan harus mendapatkan kompensasi yang wajar. Uraian ini juga mengingatkan pejabat yang mengeluarkan izin agar berhati-hati dalam mengeluarkan izin untuk lokasi yang memang tidak sesuai untuk kegiatan yang dimintakan izinnya. Adalah tidak wajar apabila perusahaan disuruh tutup karena lokasinya tidak sesuai tetapi pejabat yang mengeluarkan izin itu tidak dikenakan sanksi sama sekali. 10. Sebetulnya apa yang diuraikan hingga saat ini adalah yang berkaitan dengan rencana pengembangan fisik dan struktur perekonomian. Perlu diingat bahwa pengembangan perekonomian, baik nasional maupun regional banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengambil peran dalam gerak perekonomian. Sejalan dengan itu langkah-langkah untuk memperbaiki mutu SDM perlu terus digalakkan. Mutu SDM dapat dibagi dalam dua aspek, yaitu aspek keahlian/keterampilan dan aspek moral/mental. Aspek keahlian/ keterampilan dapat ditingkatkan melalui pendidikan/pelatihan tetapi aspek moral/ mental sangat terkait dengan lingkungan. Aspek moral/mental sebetulnya lebih menentukan dalam menjamin pertumbuhan ekonomi, tetapi usaha perbaikannya tidak mudah karena menyangkut motivasi dan nilai. Menciptakan rasa keadilan, adanya Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 75 kepastian hukum, dan tegasnya penegakan hukum merupakan salah satu cara untuk meningkatkan moral masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa sistem indoktrinasi (P4) atau ceramah yang ditujukan untuk memperbaiki moral pegawai negeri, hampir tidak memberi dampak sama sekali. Dalam sebuah organisasi, metode penentuan imbalan dan hukuman yang adil serta transparan dapat meningkatkan disiplin dan moral kerja para anggotanya. Berikut ini dikaji salah satu aspek moral/mental yang sering melanda daerah terbelakang ataupun daerah pertanian, yaitu masalah ketidakdisiplinan dalam penggunaan waktu. Di pedesaan ataupun di daerah pertanian sering terjadi apa yang saya namakan "akumulasi pengangguran"1. Akumulasi pengangguran ini dimulai dengan adanya orang-orang yang sedang menganggur dalam arti kata tidak memiliki sesuatu untuk dikerjakan atau yang ingin ia kerjakan pada waktu itu. Seringkali orang seperti ini, karena tidak tahu bagaimana mengisi waktu kosong, akan mencari teman untuk mengobrol. Orang Indonesia karena sifatnya yang ramah-tamah dan ketimuran akan sulit menampik apabila ada orang lain yang datang mengajak bicara/mengobrol, walaupun pada saat itu ia sedang bekerja. Apabila hal ini terjadi maka selain si "penganggur” tadi tidak produktif maka ia akan membuat lawan bicaranya juga menjadi tidak produktif. Walaupun waktu yang terbuang untuk satu pembicaraan tidak banyak tetapi frekuensi kejadian di desa bisa cukup besar. Hal ini bisa membuat waktu kerja yang terbuang cukup besar. Waktu kerja yang terbuang percurna, selain merugikan orang yang terlibat langsung, juga akan merugikan perekonomian secara keseluruhan, karena pengaruh multiplier effect yang bekerja ke bawah. Apabila ada satu sektor primer, misalnya pertanian yang produksinya menurun atau tidak mencapai hasil yang sebagaimana 1 Ide akumulasi pengangguran ini berasal dari hasil diskusi dengan Ir. Drs. Amri Batubara, Kepada Unit Penambang Timah Singkep pada waktu itu (sekitar tahun 1977) yang menjelaskan bahwa kapal keruk yang menggunakan jumlah karyawan yang pas lebih tinggi produksinya dari kapal keruk lain yang menggunakan karyawan lebih banyak (ada karyawan cadangan) padahal kapasistas kedua kapal keruk adalah sama. 76 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi mestinya, ini akan membuat sektor sekunder (pengolahan hasil pertanian) dan sektor tertier (pengangkutan dan perdagangan hasil pertanian) juga menurun atau tidak optimal. Itulah sebabnya hal ini saya namakan "akumulasi pengangguran". Sebetulnya akumulasi pengangguran ini tidak hanya terjadi di pedesaan/ pertanian tetapi juga dapat terjadi di kantorkantor, terutama kantor pemerintah. Jadi, suatu langkah/tindakan untuk memberi kesibukan bagi orang yang tidak punya kerjaan (nganggur) akan memiliki nilai pengganda ekonomi yang cukup tinggi. 11. Setan adalah sumber kemiskinan Demikianlah bunyi terjemahan dari salah satu ayat dalam kitab suci suatu agama. Ternyata ayat ini dapat menjelaskan banyak hal mengapa suatu negara/ wilayah sulit bertumbuh, ekonominya kalah bersaing, sebagian besar masyarakatnya tetap miskin dan banyak terdapat pengangguran. Penulis merbuat penafsiran atas ayat ini sebagai berikut. Manusia bersekutu dengan setan melalui dua cara. Cara perteina, inanusia secara resmi meminta bantuan setan (lewat dukun atau orang pandai), misalnya agar orang tersebut memiliki "kharisma" dalam pergaulan, usaha, atau mendapatkan / mempertahankan jabatan. Cara kedua, manusia itu tidak pernah secara resmi meminta bantuan setan, tetapi dari cara berpikir dan tindak-tanduknya melakukan pekerjaan yang disenangi setan. Cara berpikir dan tindak-tanduk yang disenangi setan antara lain malas, ingin mengambil yang bukan haknya, rakus, diskriminatif, iri atas keberhasilan orang lain, berpendirian keras dan mau menang sendiri, kurang toleransi, lain di mulut lain di hati, senang melanggar aturan yang telah disepakati, tega merugikan orang lain, tidak ingin membantu orang lain yang kesusahan, mencuri, merampok, melakukan pungutan liar, korupsi, KKN, berbohong, dan kejahatan lainnya adalah mengikuti keinginan setan. Yang dapat dianalisis langsung adalah tindak-tanduk yang terlihat, sedangkan yang meminta bantuan setan untuk mendapatkan "kharisma" tidak dapat dianalisis kecuali sekadar menduga bahwa mereka ini terdorong untuk mengikuti ajaran setan. Hal umum yang dapat dilihat adalah apabila sifat-sifat yang dianjurkan setan banyak terdapat Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 77 dalam masyarakat/pemimpinnya, investor akan takut menanamkan modalnya di wilayah tersebut. Hal ini membuat lapangan kerja baru tidak terbuka dan angkatan kerja baru akan sulit mendapatkan pekerjaan dan bertambahnya pengangguran. Dikhawatirkan angkatan kerja yang menganggur justru akan menambah kejahatan dan kejahatan yang meningkat membuat investor makin takut masuk ke wilayah tersebut. Apabila hal ini terjadi, tercipta lingkaran setan yang membuat wilayah itu, makin sulit maju dan akan tetap miskin. Berikut ini akan diberikan contoh bagaimana setan menciptakan kemiskinan. Sebagai contoh terdapat fakta bahwa Sumatra Utara dan juga beberapa provinsi lain di Indonesia terpaksa mengimpor daging lembu (atau lembu hidup) untuk memenuhi kebutuhan daging konsumsi. Sumatra Utara sendiri sangat cocok untuk pengembangan peternakan lembu. Masih terdapat banyak lahan kosong dan banyak perkebunan tanaman keras yang rumputnya dapat digunakan untuk makanan ternak. Rumput tumbuh sepanjang tahun, berbeda dengan di negara-negara Eropa, Amerika, dan Australia yang rumputnya mati pada musim dingin, dan diperlukan waktu untuk dapat tumbuh kembali. Upah tenaga kerja pun cukup murah. Usaha peternakan lembu jarang diserang penyakit menular, cukup menguntungkan dengan internal rate of return (IRR) yang cukup tinggi dan dapat dikategorikan sebagai cepat menghasilkan (apabila dibandingkan dengan usaha pertanian lainnya). Usaha peternakan lembu dapat dikembangkan pengusaha kecil dan menengah, tidak hanya oleh pengusaha besar. Peternakan lembu dapat dibuat bersinergi dengan usaha pertanian lainnya sehingga saling menguntungkan. Berdasarkan faktor pendukung yang cukup kondusif tersebut maka timbul pertanyaan mengapa Indonesia justru menjadi pengimpor daging lembu dan bukan pengekspornya. Permasalahannya adalah tingginya tingkat pencurian atas ternak lembu. Hal ini membuat banyak petani tidak berani memelihara lembu, karena selain menghadapi risiko kehilangan lembu bahkan keselamatan diri pun bisa ikut terancam. Hal ini juga berlaku untuk produksi komoditi lain, apabila 78 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi keamanan tidak terjamin maka orang cenderung tidak melakukan investasi. Apabila tidak terjadi peningkatan produksi/nilai tambah sektor riil, tidak akan terjadi efek pengganda dan ekonomi pun tidak mampu menyediakan lapangan kerja tambahan untuk angkatan kerja baru. Sebetulnya faktor keamanan berusaha ini lebih parah melanda usaha kecil dan menengah karena mereka tidak memiliki anggaran yang cukup untuk membiayai sistem keamanan untuk usahanya. Perusahaan besar mampu membiayai sistem keamanan usahanya, namun tetap membutuhkan biaya tinggi (highcost economy). Apabila biaya keamanan ini cukup tinggi maka perusahaan itu akan kalah bersaing di pasar global. Tindakan korupsi dan pungutan liar (pungli) menciptakan hal yang sama. Misalnya pemerintah memiliki anggaran 100 milyar rupiah untuk membangun sebuah jalan baru. Karena ada unsur KKN dan di lapangan harus menyediakan banyak uang keamanan (adanya pungli) maka panjang jalan yang dapat dibangun dengan dana yang sama menjadi berkurang. Misalnya tanpa KKN dan pungli, dana itu dapat digunakan untuk membangun jalan 10 km. Akan tetapi karena KKN dan pungli, dara itu hanya bisa n.embangun 5 km. Dengan demikian, lahan di kanan kiri jalan yang bisa ditingkatkan pemanfaatannya oleh masyarakat berkurang sepanjang 5 km. Artinya, lapangan kerja riil tidak bertambah sebagaimana mestinya dan efek pengganda juga tidak bertambah secara penuh, pajak yang bisa dipungut pemerintah juga tidak bertambah sebagaimana mestinya. Hal ini membuat perekonomian tidak mampu menyediakan lapangan kerja tambahan yang cukup untuk menampung angkatan kerja baru yang bertambah setiap tahun. Dalam kasus masyarakat yang tidak berani berinvestasi karena keamanan tidak terjamin, masyarakat tidak dapat sepenuhnya menggantungkan diri pada tindakan pemerintah/aparat keamanan. Pemerintah tidak akan mampu menyediakan anggaran yang cukup untuk mengamankan seluruh wilayah yang begitu luas. Masyarakat harus menciptakan sistem keamanan di lingkungannya sendiri bekerja sama dengan aparat keamanan. Supaya Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 79 masyarakat mau mengorbankan waktunya untuk sistem keamanan desa/ lingkungan tersebut, masyarakat juga harus mendapat manfaat. Jadi misalnya di suatu desa, masyarakat didorong (bagi yang tidak mampu kalau mungkin dibantu) untuk sama-sama memiliki usaha yang bernilai ekonomi tinggi yang perlu dilindungi (dijaga keamanannya). Bentuk usaha tersebut haruslah bernilai ekonomi tinggi dan cepat menghasilkan, misalnya ternak lembu, kambing. ayam, dan bebek. Dengan demikian, masyarakat tidak merasa rugi mengorbankan sedikit waktu/dana untuk secara bersama-sama menciptakan sistem keamanan lingkungan tersebut. Bagi sebuah desa yang jalan keluar masuk desa hanya satu (tidak banyak), dapat dibuat pos penjagaan dan setiap orang yang membawa ternak ke luar desa, harus menunjukkan surat kepemilikan yang ditandatangani kepala desa/dusun. Apabila sistem keamanan lingkungan ini terlaksana dengan baik, manfaatnya bagi masyarakat jauh lebih besar dibanding dengan pengorbanan mereka. Mengenai tindakan pejabat yang korup/KKN, pemerintah perlu menerapkan peraturan yang mudah menjebak pejabat yang korup. Salah satu cara mempercepat pemberantasan korupsi adalah menetapkan ketentuan bahwa yang bisa dituntut hanya yang menerima suap/sogok, sedangkan yang memberi suap/sogok tidak dapat dituntut. Kalau perlu yang membuat pengaduan dan dapat membuktikannya di pengadilan bahwa orang yang diadukannya telah menerima suap diberi hadiah. Hal ini mungkin bertentangan dengan kaidah hukum atau rasa keadilan hukum. Akan tetapi, melihat luasnya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, diperlukan tindakan khusus/darurat yang mungkin tidak tepat dilakukan dalam kondisi normal. Fakta menunjukkan bahwa sangat sedikit kasus dugaan korupsi bisa dibuktikan di pengadilan karena kedua belah pihak (pemberi suap dan penerima suap) saling bekerja sama untuk membuktikan bahwa suap itu tidak ada. Dengan demikian, jerih payah aparat penegak hukum menjadi sia-sia. Apabila dibuat ketentuan bahwa hanya penerima suap yang dapat dihukum, pemberi suap akan bersedia menjadi saksi untuk membuktikan bahwa suap itu memang ada. Dalam 80 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi banyak hal pemberi suap sebetulnya dirugikan. Hal itu dilakukan karena terpaksa dan ironisnya harus ditutup-tutupi, karena jika ketahuan juga akan terkena hukuman. Dalam kondisi tidak normal, tidak ada salahnya menerapkan prinsip Deng Xiao Ping yang berbunyi: "Saya tidak perduli kucing itu putih atau hitam, yang penting kucing itu dapat menangkap tikus." Dalam kondisi tidak normal, dibutuhkan metode penanggulangan yang memberikan hasil dan tidak perlu terlalu terikat dengan prinsip hukum yang baku tetapi terbukti tidak berhasil. Mengenai pemberantasan pungli/premanisme, pemerintah dan aparat penegak hukum dalam tahap awal perlu melakukan sosialisasi atas dampak pungli tersebut. Pada tahap berikutnya, pemerintah perlu mengajak masyarakat agar secara bersama-sama menegakkan hukum dan menumpas semua perbuatan yang melanggar hukum terutama pungli/premanisme. Masyarakat tidak boleh apatis melihat ada pelanggaran hukum yang terjadi di depan matanya. Masyarakat yang apatis akan membuat pungli/kejahatan merajalela. Pungli yang merajalela akan membuat pengusaha enggan melakukan investasi. Akibatnya, lapangan kerja tidak bertambah, perekonomian tidak berkembang, angkatan kerja baru tidak mendapatkan lapangan kerja. Sebagian mereka akan berusaha di sektor nonformal (buka warung, dagang kecil-kecilan, tukang pangkas, salon, tukang jahit, atau tukang becak). Apabila perekonomian tidak berkembang, pertambahan pekerja nonformal akan mengurangi pendapatan rata-rata dari usaha yang sama karena daya beli total tidak bertambah. Daya beli total baru meningkat apabila kegiatan yang haru bergerak di sektor basis. Di lain sisi, sulit bergerak di sektor basis apabila modalnya kecil-kecilan. Hal ini menjelaskan bahwa pungli pada akhirnya akan merugikan seluruh masyarakat. Pemerintah harus bertindak jujur dan transparan agar bisa dipercaya oleh rakyat sehingga rakyat siap bahu-membahu dengan pemerintah untuk mengatasi kejahatan. Hal ini semua adalah demi kepentingan seluruh masyarakat dan generasi yang akan datang. Apabila generasi yang ada saat ini tetap miskin maka besar Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 81 kemungkinan generasi berikutnya juga masih miskin karena berlakunya hukum lingkaran setan. Permasalahan ekonomi di Indonesia saat ini juga sangat unik. Sumber alam tersedia secara melimpah ruah. Alam pun sangat ramah untuk mengembangkan berbagai kegiatan ekonomi. Masih banyak kegiatan ekonomi yang dapat dikembangkan baik di subsektor pertanian, subsektor perkebunan, subsector peternakan, subsektor perikanan baik perikanan darat terlebih-lebih perikanan laut dan komplementernya subsektor agroindustri dan industri rumah tangga. Di pulau Jawa sendiri walaupun kegiatan yang mengandalkan lahan sudah sangat terbatas tetapi kegiatan di bidang home-industry masih terbuka luas yang pemasarannya ditujukan untuk ekspor. Di lain sisi, terdapat cukup banyak tenaga pengangguran bahkan dengan latar belakang pendidikan tinggi. Pengganggur ini sangat berkeinginan mendapatkan lapangan pekerjaan, bahkan banyak yang rela digaji di bawah standard tingkat pendidikannya. Pemodal juga cukup banyak dan tentunya modal ini ingin ia putarkan atau investasikan agar mendapat hasil atau imbalan. Pertanyaannya adalah mengapa ketiga faktor produksi ini tidak bisa bertemu untuk menyatukan langkah agar kegiatan produktif benar-benar tercipta dan semua pihak mendapat imbalan. Permasalahannya adalah tidak adanya unsur kepercayaan. Pemodal tidak percaya kepada orang lain karena khawatir orang yang diberi tugas atau amanah tidak akan bekerja secara bersungguhsungguh dan jujur karena belum tentu diberi imbalan yang wajar bahkan tetap ada risiko untuk dipecat. Kalau dipecat akan sulit mendapat pekerjaan baru. Jadi perlu menyiapkan bumper artinya apabila dipecat pun sudah ada dana untuk bertahan hidup. Hal ini membuat penerima amanah harus menyiapkan pendapatan sampingan yang sering kali merugikan pemilik modal. Apabila pemilik modal tidak dapat menemukan orang yang dia percayai dapat memegang amanah, dia akan membatasi usahanya sepanjang dia dapat melakukan pengawasan secara langsung. Dengan demikian, banyak kesempatan investasi tidak dilaksanakan dan terbuang percuma. Efek pengganda pun tidak berkembang sebagaimana mestinya. 82 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Masyarakat Indonesia memiliki kepribadian yang unik. Ada pakar psikolog yang mengatakan orang Indonesia itu memiliki kepribadian ganda, artinya mudah berubah. Dalam lingkungan masyarakat yang teratur, disiplin, dan jujur, dia akan menjadi disiplin dan jujur. Akan tetapi, bila berada dalam lingkungan masyarakat pencuri, dia enggan berbeda sikap dengan lingkungannya dan bahkan ikut jadi pencuri. Kepribadian orang Indonesia mudah berubah. Kepribadian orang Indonesia yang bekerja di luar negeri dalam lingkungan masyarakat yang teratur dan berdisiplin telah banyak mendapat pujian. Dia bekerja secara disiplin dengan semangat kerja yang tinggi serta bersikap jujur. Akan tetapi apabila dia kembali ke Indonesia dan bekerja pada lingkungan yang banyak melakukan penyelewengan, dia akan ikut-ikutan. Banyak lulusan universitas sewaktu mulamula mendapat pekerjaan baik di pemerintahan maupun di perusahaan swasta memiliki semangat yang tinggi untuk mengabdi dan melakukan perbaikan. Namun apabila dalam lingkungan kerjanya banyak terjadi penyelewengan, dia enggan berbeda sikap dengan kelompoknya. Akhirnya, dia akan ikut-ikutan bahkan bisa lebih rakus. Peristiwa penjarahan bulan Mei tahun 1998 di beberapa kota besar di Indonesia menjelang lengsernya Presiden Soeharto merupakan bukti bahwa sikap masyarakat gampang berubah. Masyarakat yang ikut melakukan perusakan, pembakaran, pembongkaran, dan penjarahan, sebahagian besar adalah masyarakat yang baik-baik dalam kehidupannya sehari-hari. Namun begitu melihat ada orang yang melakukan penjarahan dan tidak ada yang menghalangi, di pun ikut serta melakukan penjarahan. Kepribadian yang unik lainnya adalah gampang melihat kesalahan yang dibuat orang lain tetapi sulit melihat kesalahan yang dibuatnya sendiri. Sewaktu penulis banyak bekerja sama dengan Pemda, apabila ada berita kasus korupsi di surat kabar, pejabat Pemda itu akan melakukan kritik habishabisan dengan mengatakan hal itulah yang membuat negara ini tidak bisa maju. Namun dia sendiri tidak pernah mengoreksi apa yang diperbuatnya. Mudah berubahnya sikap masyarkat ini merupakan salah satu faktor mengapa banyak investor luar negeri ragu-ragu menanamkan modalnya dalam sektor riil di Indonesia. Masyarakat yang saat ini mengelu- Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 83 elukan menyambut kehadiran investasinya bisa saja satu saat di masa depan menjadi orang yang ikut serta merusak bangunan perusahaannya. Apa yang digambarkan di atas menunjukkan bahwa Pemerintah harus sungguh-sungguh menegakkan hukum, memberantas korupsi, dan menjalankan disiplin. Apabila tidak, sikap masyarakat sulit di antisipasi. Korupsi akan benar-benar menjadi kebudayaan, investor ragu menanamkan modalnya, sehingga kemakmuran bagi seluruh rakyat akan hanya sebatas impian. I. STRATEGI PENGEMBANGAN SEKTOR-SEKTOR PRODUKSI Sebagaimana telah diuraikan terdahulu, salah satu tugas seorang perencana wilayah adalah menentukan kegiatan yang perlu dilaksanakan dan di mana lokasinya. Untuk sementara pembahasan dibatasi untuk kegiatan sektor produksi karena kegiatan ini lebih mudah dianalisis. Setiap kegiatan produksi akan membutuhkan input berupa lahan, tenaga kerja, modal, dan teknologi. Sebagai imbalannya akan tercipta nilai tambah yang dapat dinikmati oleh faktor-faktor produksi yang terlibat atau terkait dengan kegiatan tersebut. Sektor terkait tetapi bukan faktor produksi, misalnya pemerintah menarik pajak dari kegiatan tersebut. Akan tetapi, dampak dari suatu kegiatan produksi bukanlah hanya yang disebutkan di atas. Setiap kegiatan produksi umumnya memiliki backward linkage (daya menarik) dan forward linkage (daya mendorong). Misalnya pengembangan sebuah perkebunan kelapa sawit seluas 1.000 ha, akan memiliki banyak dampak terhadap perekonomian/kehidupan masyarakat di sekitarnya. Pada masa pembersihan lahan/ penanaman, dibutuhkan banyak tenaga kerja lepas, bibit, pupuk, penyewaan alat, dan sebagainya. Hal tersebut akan mendorong tumbuhnya kegiatan transportasi untuk mengangkut orang, bahan, dan alat dan juga akan meningkatkan volume perdagangan termasuk pedagang makanan/kebutuhan sehari-hari yang berlokasi di sekitar tempat proyek. Hal 84 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi ini juga akan terjadi pada masa pemeliharaan, walaupun intensitasnya lebih rendah dibanding dengan pada waktu pembersihan lahan/penanaman. Setelah kebun kelapa sawit itu berproduksi maka intensitas kegiatan kembali meningkat, misalnya diperlukan tambahan tenaga kerja untuk memetik buah dan tambahan transportasi untuk mengangkut buah. Intensitas pemupukan juga meningkat hal mana berarti kebutuhan pupuk juga meningkat. Hal ini jelas meningkatkan kegiatan di sektor pengangkutan dan perdagangan bahkan kemungkinan tumbuhnya kegiatan jasa seperti tukang pangkas, tukang jahit pakaian, perbengkelan, dan lain-lain. Dampak berantai ini disebut multiplier effect (dampak pengganda). Pada sisi lain buah sawit yang dihasilkan akan mendorong tumbuhnya industri pengolahan buah sawit atau paling tidak industri yang sudah ada, kegiatannya akan meningkat. Peningkatan kegiatan pabrik pengolah buah sawit ini kembali lagi mendorong tumbuhnya berbagai kegiatan pendukung lainnya. Kalau hasil olahan industri pengolah sawit berupa CPO langsung diekspor, akan meningkatkan kegiatan ekspor yang juga memiliki dampak pengganda. Kalau CPO itu diolah lagi pada pabrik pembuatan minyak goreng, kegiatan pada pabrik yang disebut terakhir juga memiliki dampak pengganda. Sebetulnya semua dampak sampingan yang diuraikan di atas telah terangkum dalam sebuah tabel yang disebut tabel input-output (tabel masukankeluaran). Akan tetapi, ada kemungkinan tabel input-output yang ada tidak cukup rinci untuk menguraikan setiap komoditi. Namun demikian, seorang perencana wilayah mestinya mampu melihat komoditi mana yang memiliki daya tarik dan daya dorong yang lebih besar dibandingkan komoditi lainnya. Dengan asumsi kebutuhan lahan, modal, dan tenaga kerja adalah sama, maka komoditi yang diprioritaskan adalah yang memiliki nilai tambah tinggi dan daya tarik/daya dorong yang besar pula. Kalau bisa, hitung nilai tambah dari kegiatan itu sendiri dan perkirakan daya tarik dan daya dorongnya. Kemudian hitung nilai tambah dari sektor yang meningkat kegiatannya sebagai akibat daya tarik dan daya dorong tersebut. Tambahkan semua nilai tambah yang Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 85 diperoleh. Komoditi yang memiliki nilai tambah total tertinggi mendapat kesempatan pertama untuk diprioritaskan tetapi dengan meznerhatikan uraian berikut ini. Butir H dalam bab ini telah menguraikan kebijakan umum dalam pengembangan wilayah. Walaupun kebijakan umum itu telah memberi petunjuk tentang hal-hal yang perlu diperhatikan (diprioritaskan), kebijakan umum belum sampai kepada penentuan kegiatan apa dan di lokasi mana. Untuk sampai mampu menjawab pertanyaan kegiatan apa dan di lokasi mana, kebijakan umum itu perlu dilengkapi dengan keahlian sektoral berupa kegiatan produksi apa saja yang dapat dilakukan dan di lokasi mana kegiatan itu sesuai untuk dikembangkan. Namun seringkali instansi sektoral dapat mengajukan cukup banyak jenis kegiatan di berbagai lokasi yang dapat dikembangkan untuk menunjang kebijakan umum sehingga diperlukan keahlian untuk menyeleksinya. Seorang perencana wilayah harus mampu menyeleksi kegiatan apa dan di lokasi mana yang dipilih untuk dilaksanakan atau diprioritaskan. Dalam hal ini, perencana wilayah dapat menggunakan konsep nilai tambah, yaitu kegiatan apa yang memberikan nilai tambah total tertinggi. Setelah kegiatannya dapat ditentukan. dipilih lokasi yang paling sesuai (memiliki keunggulan komparatif) untuk kegiatan/ produksi tersebut. Nilai tambah sendiri dapat dihitung untuk berbagai variabel pembatas, misalnya nilai tambah dapat dihitung per satuan luas (misalnya per hektar), per satuan tenaga kerja yang dapat diserap atau per satuan modal yang diinvestasikan. Untuk semua faktor pembatas tersebut digunakan satuan waktu yang sama, misalnya nilai tambah per tahun. Dalam hal ini nilai tambah diukur terhadap salah satu faktor produksi yang paling terbatas. Misalnya, apabila lahan adalah yang paling terbatas maka nilai tambah dihitung terhadap per satuan lahan. Apabila tenaga kerja yang terbatas maka dipilih nilai tambah tertinggi per satuan tenaga kerja yang diserap. Sebaliknya apabila modal yang paling terbatas, nilai tambah dihitung per satuan modal yang harus ditanamkan. 86 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Yang akhirnya dipilih adalah yang memberikan nilai tambah tertinggi per satuan faktor pembatas tersebut di atas. Sebagai contoh, misalnya seorang bupati ingin menerapkan kebijakan untuk meningkatkan ekspor sebanyak-banyaknya dari wilayahnya. Dalam hal ini sang bupati meminta instansi sektoral untuk mengajukan produk apa saja yang memiliki potensi ekspor yang masih bisa dikembangkan di wilayah tersebut dan di lokasi mana kegiatan itu paling sesuai untuk dikembangkan. Instansi sektoral akan menjawab tantangan ini dengan mengajukan berbagai usulan, misalnya perluasan perkebunan karet di kecamatan A, perluasan kebun kelapa sawit di kecamatan B, perluasan kebun cokelat di kecamatan C, peternakan kambing di kecamatan D, peternakan ayam buras di kecamatan A, pertambakan udang di kecamatan E, perkebunan pisang barangan di kecamatan B, dan sebagainya. Karena kegiatan yang diusulkan terlalu banyak maka Ketua Bappeda (perencana regional) diminta untuk membuat seleksi, yaitu kegiatan apa yang diprioritaskan. Dalam hal ini Ketua Bappeda harus terlebih dahulu menetapkan faktor produksi apa yang paling terbatas di wilayah tersebut. Seandainya yang paling terbatas adalah modal, setelah setiap kegiatan dihitung nilai tambah totalnya per tahun maka dipilih kegiatan yang memberikan nilai tambah tertinggi per satuan modal yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Akan tetapi, bisa saja sasaran tambahan yang ingin dicapai bukan nilai tambah (kemakmuran), melainkan tersedianya lapangan kerja yang sebanyakbanyaknya karena tingkat pengangguran sangat tinggi padahal modal terbatas. Dalam hal ini, kita mencari kegiatan apa yang memberikan lapangan kerja terbanyak termasuk lapangan kerja yang diciptakan daya tarik dan daya dorong untuk satuan modal yang sama. Dalam kondisi seperti di Pulau Jawa yang lahannya terbatas, tetapi tenaga kerja melimpah ruah maka kegiatan yang diprioritaskan adalah yang mampu menyerap tenaga kerja yang banyak per satuan luas lahan yang sama. Kegiatan ini misalnya seperti industry, usaha kerajinan, kegiatan jasa, dan perdagangan. Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 87 Di lain sisi pada wilayah Indonesia-Timur dimana modal adalah terbatas tetapi lahan cukup luas maka kegiatan yang diprioritaskan adalah nilai tambah tertinggi per satuan modal yang diperlukan. Namun kebijakan di atas tidak boleh terlepas dari visi dan misi pembangunan wilayah yang bersangkutan. Soal-Soal 1. Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi wilayah? 2. Pertumbuhan ekonomi wilayah yang baik adalah karena kekuatan internal. Jelaskan! 3. Apa inti ajaran Adam Smith dalam menciptakan kondisi ekonomi wilayah yang mantap? 4. Apa kelemahan dari teori Adam Smith tersebut? 5. Apa syarat-syarat pertumbuhan mantap menurut teori Harrod-Domar? 6. Untuk kondisi ekonomi wilayah, syarat-syarat tersebut dapat diperlonggar. Apa syarat-syarat pertumbuhan ekonomi wilayah yang mantap menurut Harry W. Richardson? 7. Untuk terciptanya pertumbuhan mantap, kebijakan apa yang perlu diterapkan menurut kaum Neoklasik (Solow-Swan)? 8. Apa inti ajaran teori Pertumbuhan Jalur Cepat? 9. Apa yang dimaksud dengan mensinergikan berbagai kegiatan produksi (sektor-sektor) perekonomian?! 10. Apa inti ajaran teori Basis Ekspor Richardson? 11. Apa beda teori basis antara yang dikemukakan Tiebout dengan yang dikemukakan Richardson? 12. Apa kebijakan yang perlu ditempuh untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi wilayah menurut teori Basis Richardson? 13. Apa kebijakan yang perlu ditempuh untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi wilayah menurut model pertumbuhan interregional Richardson? 88 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi 14. Apakah pertumbuhan ekonomi antarwilayah akan bersifat makin heterogen (makin pincang) atau makin homogen (makin sama)? Dalam kondisi bagaimana pertumbuhan antarwilayah makin pincang dan dalam kondisi bagaimana makin homogen? 15. Hemat pangkal kaya, apakah pepatah ini masih berlaku dalam kebijakan mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah. Jelaskan! 16. Pemerintah daerah harus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). nya. Bagaimana langkah-langkah yang tepat untuk menerapkannya? Apakah menaikkan tarif pajak/retribusi setinggi mungkin adalah langkah yang tepat? Jelaskan! 17. Pertumbuhan ekonomi dapat bersumber dari tiga hal/kebijakan, sebutkan! Dari tiga kebijakan tersebut, mengapa peningkatan investasi merupakan hal utama? 18. Mengapa faktor keamanan, ketertiban, dan kepastian hukum sangat berpengaruh dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi wilayah? 19. Pembangunan wilayah sangat terkait dengan mutu sumber daya manusia (SDM). Segi SDM mana yang lebih penting, keahlian, atau moral? 20. Setan adalah sumber kemiskinan. Berikan bukti-bukti dari pengalaman Anda bahwa hal itu adalah benar? 21. Apa langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam pengembangan sektorsektor produksi? 22. Mana lebih prioritas kegiatan yang memberi nilai tambah yang tinggi atau kegiatan yang memiliki forward linkage dan backward linkage yang besar? 23. Apakah kebijakan yang sama yang diberlakukan untuk seluruh provinsi/kabupaten merupakan kebijakan yang tepat atau salah? Jelaskan! Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 89 EKONOMI REGIONAL TEORI DAN APLIKASI JAWABAN LATIHAN SOAL BAB 4 “Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah” Robinson Tarigan (2005) Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Regional 1 Dosen Pengampu : Umayatu Suiroh Suharto, S.E., M.Si Disusun Oleh : Kelompok 6 1. Febrianti Ayu Lestari – 5553170029 (5) 2. Enggus Setiawan – 5553170073 (26) 3. Furqonudin – 5553170075 (27) Kelas 4B JURUSAN ILMU EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA 2019 1) Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah added value) yang terjadi. Perhitungan Pendapatan Wilayah pada awalnya dibuat dalam harga berlaku. Namun agar dapat melihat pertambahan dari satu kurun waktu ke kurun waktu berikutnya, harus dinyatakan dalam nilai riel, artinya dinyatakan dalam harga konstan. Biasanya BPS dalam menerbitkan laporan pendapatan regional tersedia angka dalam harga berlaku dan harga konstan. Pendapatan wilayah menggambarkan balas jasa bagi faktorfaktor produksi yang beroperasi di daerah tersebut (tanah, modal, tenaga kerja, dan teknologi), yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di wilayah tersebut juga oleh seberapa besar terjadi transfer parment yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar wilayah atau mendapat aliran dana dari luar wilayah. Menurut (Boediono, 1985, p. 1) : "Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang." Jadi, persentase pertambahan output itu haruslah lebih tinggi dari persentase pertambahan jumlah penduduk dan ada kecenderungan dalam jangka panjang bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut. Menurut Boediono ada ahli ekonomi yang membuat definisi yang lebih ketat, yaitu bahwa pertumbuhan itu haruslah "bersumber dari proses intem perekonomian tersebut". Ketentuan yang terakhir ini sangat penting diperhatikan dalam ekonomi wilayah, karena bisa saja suatu wilayah mengalami pertumbuhan tetapi pertumbuhan itu tercipta karena banyaknya bantuan/suntikan dana dari pemerintah pusat dan pertumbuhan itu terhenti apabila suntikan dana itu dihentikan. Dalam kondisi seperti ini, sulit dikatakan ekonomi wilavah itu bertumbuh. Adalah wajar suatu wilayah terbelakang mendapat suntikan dana dalam proporsi yang lebih besar dibandingkan wilayah lainnya, akan tetapi setelah suatu jangka waktu tertentu, wilayah itu mestilah tetap bisa bertumbuh walaupun tidak lagi mendapat alokasi yang berlebihan. Indikator keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah dapat ditunjukkan 90 oleh pertumbuhan ekonomi. Jadi, semakin baik/tinggi Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi pertumbuhan ekonomi disuatu wilayah maka menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan ekonomi di wilayah tersebut. Sumber Referensi : Boediono. (1985). Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta: BPFE. Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 2) Unsur atau kekuatan internal (intraregional) sebagai penentu pertumbuhan ekonomi yang baik terdiri dari sumber daya alam (SDA), sejarah, lokasi, agen perubahan, dan pengambilan keputusan.  Menurut (Soerianegara, 1977) Sumber Daya Alam adalah unsur-unsur lingkungan alam, baik fisik maupun hayati yang diperlukan manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna meningkatkan kesejahteraan hidup.  Menurut Chapman (1969) dalam (Soerianegara, 1977) sumber daya ialah hasil penilaian manusia terhadap unsur-unsur lingkungan hidup yang diperlukannya. Terdapat 3 pengertian penilaian sebagai berikut. 1. Persediaan total (total stock), yaitu jumlah semua unsur lingkungan yang mungkin merupakan sumber daya apabila dapat diperolehnya semuanya. 2. Sumber daya (resources), yaitu suatu bagian dari persediaan total yang dapat diperoleh manusia. 3. Cadangan (reserve), yaitu bagian dari sumber daya yang diketahui dengan pasti dapat diperoleh.  Pengertian sejarah menurut (Poewadarminta, 1986) dibahas dalam buku berjudul Kamus Umum Bahasa Indonesia, dimana arti sejarah dapat diartikan sebagai : Silsilah atau asal-usul. Kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Ilmu, pengetahuan, cerita pelajaran tentang kejadian atau peristiwa yang benar-benar telah terjadi.  Menurut (Basu, 2002, p. 24) Lokasi adalah suatu tempat dimana suatu usaha atau aktivitas usaha dilakukan . Faktor penting dalam pengembangan suatu usaha adalah letak lokasi terhadap daerah perkotaan, cara pencapaia, dan waktu Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 91 tempuh lokasi ke tujuan. Faktor lokasi yang baik adalah relative untuk setiap jenis usaha yang berbeda.  Menurut Rogers, Everett dalam Nasution. Z (2016) agen perubahan (change agent) adalah orang yang bertugas mempengaruhi klien agar mau menerima inovasi sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh agen perubahan (change agency). Semua agen perubahan bertugas membuat jalinan komunikasi antara pengusaha pembaharuan (sumber inovasi) dengan sistem klien (sasaran inovasi). Menurut (Mulyadi & Rivai, 2009, p. 103) agen perubahan merupakan orang-orang baik konsultan maupun manajer yang mempunyai perspektif baru (mampu menciptakan efisiensi, efektivitas, dan kesehatan organisasi) di dalam perubahan atau pengembangan organisasi atau orang-orang yang membawa gagasan baru dan pendapat atau solusi yang membantu anggota organisasi. Jadi, Pertumbuhan ekonomi wilayah yang baik didasarkan pada kekuatan internal yang baik pula. Diantaranya ada kekuatan SDA, Sejarah, Lokasi, Agen Perubahan, dan Pengambil Keputusan. Hubungan internal sangat menentukan dinamika sebuah kota. Ada keterkaitan antara satu sektor dengan sektor lainnya sehingga apabila ada satu sektor yang tumbuh akan mendorong pertumbuhan sektor lainnya, karena saling terkait. Pertumbuhan tidak terlihat pincang, ada sektor yang tumbuh cepat tetapi ada sektor lainnya yang tidak terkena imbas sama sekali. Berbeda halnya dengan sebuah kota yang fungsinya hanya sebagai perantara (transit). Disebut sebagai kota perantara karena kota itu hanya berfungsi mengumpulkan berbagai macam berbagai komoditi dari daerah di belakangnya dan menjual ke kota lain yang lebih besar, selanjutnya membeli berbagai macam kebutuhan masyarakat dari kota lain untuk didistribusikan kedaerah yang ada di belakangnya. Pada daerah perantara tidak terdapat banyak pengolahan ataupun kegiatan yang menciptakan nilai tambah, kecuali kegiatan-kegiatan pensortiran dan pembungkusan, dan tidak melakukan perubahan bentuk dan kegunaan dari barang. 92 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Sumber Refrensi : Basu, S. (2002). Manajemen Pemasaran, Edisi Kedua, Cetakan Kedelapan. Jakarta: Penerbit Liberty. Mulyadi, & Rivai. (2009). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta. Poewadarminta, W. (1986). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Soerianegara, I. (1977). Pengelolaan Sumber Daya Alam bagian I. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. 3) Orang yang pertama membahas pertumbuhan ekonomi secara sistematis sehingga dijuluki sebagai nabi ekonomi adalah Adam Smith (1723-1790) yang membahas masalah ekonomi dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of The Wealth of Nations (1776). Inti ajaran Smith adalah agar masyarakat diberi kebebasan seluas-luasnya dalam menentukan kegiatan ekonomi apa yang dirasanya terbaik untuk dilakukan. Menurut Smith sistem ekonomi pasar bebas akan menciptakan efisiensi, membawa ekonomi kepada kondisi full employment dan menjamin pertumbuhan ekonomi sampai tercapai posisi stasioner (stationary state). Posisi stasioner terjadi apabila sumber daya alam telah seluruhnya termanfaatkan. Kalaupun ada pengangguran, hal itu bersifat sementara. Pemerintah tidak perlu terlalu dalam mencampuri urusan perekonomian. Tugas pemerintah adalah menciptakan kondisi dan menyediakan fasilitas yang mendorong pihak swasta berperan optimal dalam perekonomian. Pemerintah tidak perlu terjun langsung dalam kegiatan produksi dan jasa. Peranan pemerintah adalah menjamin keamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat serta membuat "aturan main" yang memberi kepastian hukum dan keadilan bagi para pelaku ekonomi. pemerintah berkewajiban menyediakan prasarana sehingga aktivitas lancar. Pengusaha perlu mendapat keuntungan yang memadai (tidak keuntungan minimum) agar dapat mengakumulasi modal dan memo baru, sehingga dapat menyerap tenaga kerja baru. Terhadap pemikiran Smith, perlu dicatat pendapat Joseph Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 93 Schumpeter (1911 dalam bahasa Jer dalam bahasa Inggris), yang mengatakan bahwa posisi stasione terjadi karena manusia akan terus melakukan inovasi. Terlepas dari kekurangan yang terdapat dalam teori Smith, pandangannya masih banyak yang relevan untuk diterapkan dalam perencanaan pertumbuhan ekonomi wilayah. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 4) Sebagai akibat depresi ekonomi dunia tahun 1929-1932, pandangan Smith kemudian dikoreksi oleh John Maynard Keynes (1936) dengan mengatakan bahwa untuk menjamin pertumbuhan yang stabil pemerintah perlu menerapkan ke fiskal (perpajakan dan perbelanjaan pemerintah), kebijakan moneterne bunga dan jumlah uang beredar), dan pengawasan langsung. Ahli ekonomi setelan itu ada yang mendukung dan memperluas pandangan Smith dan ada yang mendukung dan memperluas pandangan Keynes. Kedua kelompok ini tetap mengandalkan mekanisme pasar. Perbedaannya adalah ada yang menginginkan peran pemerintah yang cukup besar tetapi ada pula yang menginginkan peran pemerintah haruslah sekecil mungkin. Walaupun berbeda, kedua kelompok umumnya sependapat bahwa salah satu tugas negara adalah menciptakan distribusi pendapatan yang tidak terlalu pincang ada kaitan dengan tingkat saving dan konsumsi) sehingga pertumbuhan ekonomi bisa mantap dan berkelanjutan. Belakangan disadari bahwa pemerintah perlu turun tangan untuk menyediakan jasa yang melayani kepentingan orang banyak ketika swasta tidak berminat menanganinya apabila tidak diberi hak khusus. Misalnya pembangkit tenaga listrik, telepon, dan air minum. Swasta mungkin berminat menyediakan fasilitas ini apabila diberi hak monopoli dan karena hal itu mungkin tidak diterima oleh masyarakat, penanganannya diambil alih oleh pemerintah. Atau, kalaupun itu dikelola oleh swasta harus diawasi oleh pemerintah. Hal lain yang dianggap wajar pemerintah turun tangan adalah mengatur stok pangan agar tercipta harga yang stabil. Dalam kerangka 94 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi ekonomi wilayah, ada pandangan Smith yang tidak bisa diterapkan sepenuhnya, misalnya tentang lokasi dari kegiatan ekonomi tersebut. Sesuai dengan tata ruang yang berlaku maka lokasi dari berbagai kegiatan sudah diatur dan kegiatan yang akan dilaksanakan harus memilih di antara lokasi yang diperkenankan. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 5) Teori Harrod-Domar didasarkan pada asumsi: 1. perekonomian bersifat tertutup, 2. hasrat menabung (MPS = s) adalah konstan, 3. proses produksi memiliki koefisien yang tetap (constant return to scale), 4. tingkat pertumbuhan angkatan kerja (n) adalah konstan dan sama dengan tingkat pertumbuhan penduduk. Atas dasar asumsi-asumsi khusus tersebut, Harrod-Domar membuat analisis dan menyimpulkan bahwa pertumbuhan jangka panjang yang mantap (seluruh kenaikan produksi dapat diserap oleh pasar) hanya bisa tercapai apabila terpenuhi syarat-syarat keseimbangan sebagai berikut. g = k = n, Di mana: g = Growth (tingkat pertumbuhan output) k = Capital (tingkat pertumbuhan modal) n = Tingkat pertumbuhan angkatan kerja Agar terdapat keseimbangan maka antara tabungan (S) dan investasi (1) harus terdapat kaitan yang saling menyeimbangkan, padahal peran k untuk menghasilkan tambahan produksi ditentukan oleh v (capital output ratio = Rasio modal output) Apabila tabungan dan investasi adalah sama (I = S), maka: Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 95 I K S S Y S/Y K Y K K/Y = = = = = S V Agar pertumbuhan tersebut mantap, harus dipenuhi syarat g=n=s/v. Hal ini lebih mudah dimengerti dengan menggunakan contoh. Misalnya, perekonomian berada dalam kapasitas penuh dengan total pendapatan (Y) = 1.000 triliun rupiah. Hasrat menabung (s) = 20%. Karena I = S maka tingkat investasi adalah 20% x 1.000 triliun rupiah = 200 triliun rupiah. Misalnya rasio modaloutput adalah 5:1 (diperlukan modal Rp5,00 agar terdapat kenaikan produksi sebesar Rp1,00 per tahun) atau produktivitas modal=0,20. Besarnya kenaikan output adalah I/v = 200/5 = 40 triliun rupiah. Dengan demikian, laju pertumbuhan 40 triliun ekonomi adalah g = 40 triliun 1.000 triliun = 4%. Akan tetapi, hal ini hanya tercapai apabila laju pertumbuhan tenaga kerja juga 4%. Contoh di atas dapat dilihat dari sisi lain. Misalnya, kita menginginkan pertumbuhan ekonomi 5% atau ada kenaikan outpur sebesar 1.000 triliun rupiah x 0,05 = 50 triliun rupiah. Hal ini berarti investasi haruslah sebesar 50 triliun rupiah x (v) = 50 triliun rupiah x 5 = 250 triliun rupiah. Artinya, tingkat tabungan harus dinaikkan dari 0,20 menjadi 0,25 atau kekurangannya harus dipinjam dari luar. Karena s, v, dan n bersifat independen maka dalam perekonomian tertutup, sulit tercapai kondisi pertumbuhan mantap. Harrod-Domar mendasarkan teorinya berdasarkan mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah. Akan tetapi, kesimpulannya menunjukkan bahwa pemerintah perlu merencanakan besarnya investasi agar terdapat keseimbangan dalam sisi penawaran dan sisi permintaan barang Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 6) Untuk perekonomian daerah, Harry W. Richardson (terjemahan Sihotang, 1977) mengatakan kekakuan di atas diperlunak oleh kenyataan bahwa perekonomian daerah bersifat terbuka. Artinya, faktor-faktor produksi/hasil produksi yang berlebihan dapat diekspor dan yang kurang dapat diimpor. 96 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Impor dan tabungan adalah kebocoran-kebocoran dalam menyedot output daerah. Sedangkan ekspor dan investasi dapat membantu menyedot output kapasitas penuh dari faktor-faktor produksi yang ada di daerah tersebut. Kelebihan tabungan yang tidak terinvestasikan secara lokal dapat disalurkan ke daerah-daerah lain yang tercermin dalam surplus ekspor. Apabila pertumbuhan tenaga kerja melebihi dari apa yang dapat diserap oleh kesempatan kerja lokal maka migrasi neto dapat menyeimbangkan n dan g. Jadi, dalam perekonomian terbuka, persyaratannya menjadi sedikit longgar. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 7) Teori pertumbuhan neoklasik dikembangkan oleh Robert M. Solow (1970) dari Amerika Serikat dan T.W. Swan (1956) dari Australia. Model Solow-Swan menggunakan unsur pertumbuhan penduduk, akumulasi kapital, kemajuan teknologi, dan besarnya output yang saling berinteraksi. Perbedaan utama dengan model Harrod-Domar adalah dimasukkannya unsur kemajuan teknologi dalam modelnya. Selain itu, Solow-Swan menggunakan model fungsi produksi yang memungkinkan adanya substitusi antara kapital (K) dan tenaga kerja (L). Dengan demikian, syarat-syarat adanya pertumbuhan yang mantap dalam model Solow-Swan kurang restriktif disebabkan kemungkinan subsitusi antara modal dan tenaga kerja. Hal ini berarti adanya fleksibilitas dalam rasio modal-output dan rasio modal-tenaga keria. Teori-Solow-Swan melihat bahwa dalam banyak hal mekanisme pasar dapat menciptakan keseimbangan sehingga pemerintah tidak perlu terlalu banyak mencampuri/memengaruhi pasar. Campur tangan pemerintah hanya sebatas kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Hal ini membuat teori mereka dan pandangan para ahli lainnya yang sejalan dengan pemikiran mereka dinamakan teori Neoklasik. Tingkat pertumbuhan berasal dari tiga sumber, yaitu akumulasi modal, bertambahnya penawaran tenaga kerja, dan peningkatan teknologi. Teknologi ini terlihat dari peningkatan skill atau kemajuan teknik Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 97 sehingga produktivitas per kapita meningkat. Dalam model tersebut, masalah teknologi dianggap fungsi dari waktu. Oleh sebab itu, fungsi produksinya berbentuk: Yi = fi (K,L,t). Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 8) Teori Pertumbuhan Jalur Cepat (Tumpike) diperkenalkan oleh Samuelson (1955). Setiap negara/wilayah perlu melihat sektor/komoditi apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat, baik karena potensi alam maupun karena sektor itu memiliki competitive advantage untuk dikembangkan. Artinya, dengan kebutunan modal yang sama sektor tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam waktu yang relatif singkat dan volume sumbangan untuk perekonomian juga cukup besar. Agar pasarnya terjamin, produk tersebut harus dapat menembus dan mampu bersaing pada pasar luar negeri. Perkembangan sektor tersebut akan mendorong sektor lain turut berkembang sehingga perekonomian secara keseluruhan akan tumbuh. Selain itu mensinergikan sektor-sektor, perlu diperhatikan pandangan beberapa ahli ekonomi (Schumpeter dan lain-lain) yang mengatakan bahwa kemajuan ekonomi sangat ditentukan oleh jiwa usaha (enterpreneurship) dalam masyarakat. Jiwa usaha berarti pemilik modal mampu melihat peluang dan berani mengambil risiko membuka usaha baru maupun memperluas usaha yang telah ada. Dengan pembukaan usaha baru dan perluasan usaha tersedia lapangan kerja tambahan untuk menyerap angkatan kerja yang bertambah setiap tahunnya. Angkatan kerja yang tidak tertampung dapat menciptakan instabilitas keamanan sehingga investor tidak berminat melakukan investasi dan ekonomi menjadi mandek. Perekonomian yang mandek membuat makin banyak pencari kerja tidak tertampung sehingga instabilitas bertambah parah. Apabila jaminan keamanan berusaha sudah tidak ada, investor yang sudah ada 98 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi pun akan merelokasi usahanya. Apabila hal ini terjadi akan terjadi depresi ekonomi dan kemakmuran menjadi menurun. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 9) Mensinergikan berbagai kegiatan produksi atau sektor-sektor perekonomian adalah membuat sektor-sektor saling terkait dan saling mendukung. Misalnya, usaha perkebunan yang dibuat bersinergi dengan usaha peternakan. Rumput/limbah perkebunan dapat dijadikan makanan ternak sedangkan teletong kotoran temak bisa dijadikan pupuk untuk tanaman perkebunan. Contoh lain adalah usaha pengangkutan dan usaha perbengkelan. Dengan demikian. pertumbuhan sektor yang satu mendorong pertumbuhan sektor yang lain, begitu juga sebaliknya. Menggabungkan kebijakan jalur cepat turnpike), dan mensinergikannya dengan sektor lain yang terkait akan mampu membuat perekonomian tumbuh cepat. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 10) Teori basis ekspor murni dikembangkan dalam kerangka ilmu ekonomi regional. Penganjur pertama teori ini adalah liebout. Teori ini membagi kegiatan produksi jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas: pekerjaan basis (dasar) dan pekerjaan service (pelayanan), untuk menghindari kesalahpahaman disebut saja sektor nonbasis. Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat exogenous artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan sekaligus berfungsi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya. Itulah sebabnya dikatakan basis, sedangkan pekerjaan service (nonbasis) adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhannya tergantung kepada kondisi umum perekonomian wilayah terebut. Artinya, sektor ini bersifat endogenous Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 99 (tidak bebas tumbuh). Pertumbuhannya tergantung kepada kondisi perekonomian wilayah secara keseluruhan. Perbedaan pandangan antara Richardson dan Tiebout dalam teori basis adalah Tiebout melihatnya dari sisi produksi sedangkan Richardson melihatnya dari sisi pengeluaran. Walaupun teori basis ekspor (export base theory) adalah yang paling sederhana dalam membicarakan unsur-unsur pendapatan daerah, tetapi dapa memberikan kerangka teoretis bagi banyak studi empiris tentang multiplier regional, Jadi, teori ini memberikan landasan yang kuat bagi studi pendapatan regiona walaupun dalam kenyataannya perlu dilengkapi dengan kebijakan lain agar bisa digunakan sebagai pengatur pembangunan wilayah yang komprehensil. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 11) Perbedaan pandangan antara Richardson dan Tiebout dalam teori basis adalah Tiebout melihat pertumbuhan ekonomi tersebut dari sisi produksi sedangkan Richardson melihatnya dari sisi pengeluaran. Menurut teori Tiebout Teori ini membagi kegiatan produksi jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satu wilayah atas: pekerjaan basis (dasar) dan pekerjaan service (pelayanan), untuk menghindari kesalahpahaman disebut saja sektor nonbasis. Kegiatan basis adalah kegiatan yang bersifat exogenous artinya tidak terikat pada kondisi internal perekonomian wilayah dan sekaligus berfungsi mendorong tumbuhnya jenis pekerjaan lainnya. Itulah sebabnya dikatakan basis, sedangkan pekerjaan service (nonbasis) adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhannya tergantung kepada kondisi umum perekonomian wilayah terebut. Artinya, sektor ini bersifat endogenous (tidak bebas tumbuh). Pertumbuhannya tergantung kepada kondisi perekonomian wilayah secara keseluruhan. 100 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Menurut sisi pengeluaran Richardson, Teori basis ekspor membuat asumsi pokok bahwa ekspor adalah satu-satunya unsur eksogen (independen) dalam pengeluaran. Artinya, semua unsur pengeluaran lain terikat (dependen) terhadap pendapatan. Secara tidak langsung hal ini berarti di luar pertambahan alamiah, hanya peningkatan ekspor saja yang dapat mendorong peningkatan pendapatan daerah karena sektor-sektor lain terikat peningkatannya oleh peningkatan pendapatan daerah. Sektor lain hanya meningkat apabila pendapatan daerah secara keseluruhan meningkat. Jadi, satu-satunya yang bisa meningkat secara bebas adalah ekspor. Ekspor tidak terikat di dalam siklus pendapatan daerah. Asumsi kedua ialah bahwa fungsi pengeluaran dan fungsi impor bertolak dari titik nol sehingga tidak akan berpotongan (intercept). Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 12) Teori basis ekspor (export base theory) adalah yang paling sederhana dalam membicarakan unsur-unsur pendapatan daerah, tetapi dapat memberikan kerangka teoretis bagi banyak studi empiris tentang multiplier regional, Jadi, teori ini memberikan landasan yang kuat bagi studi pendapatan regional walaupun dalam kenyataannya perlu dilengkapi dengan kebijakan lain agar bisa digunakan sebagai pengatur pembangunan wilayah yang komprehensil. Yaitu dimana pada mulanya teori basis ekspor hanya memasukkan ekspor murnik dalam pengertian ekspor. Akan tetapi, kemudian orang membuat definisi ekspor yang lebih luas. Ekspor tidak hanya mencakup barang/jasa yang dijual ke luar daerah tetapi termasuk juga di dalamnya barang atau jasa yang dibeli orang dari luar daerah walaupun transaksi itu sendiri terjadi di daerah tersebut. Jadi pada pokoknya, kegiatan yang hasilnya dijual ke luar daerah atau mendatangkan uang dari luar daerah adalah kegiatan basis sedangkan kegiatan service (nonbasis) adalah kegiatan yang melayani kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri, baik pembeli maupun sumber uangnya berasal dari daerah itu sendiri. Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 101 Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 13) Model pertumbuhan interregional Richardson ini adalah perluasan dari teori basis ekspor, yaitu dengan menambah faktor-faktor yang bersifat eksogen. Selain itu, model basis ekspor hanya membahas daerah itu sendiri tanpa memerhatikan dampak dari daerah tetangga. Model ini memasukkan dampak dari daerah tetangga, itulah sebabnya maka dinamakan model interregional. Dalam model ini diasumsikan bahwa selain ekspor pengeluaran pemerintah dan investasi juga bersifat eksogen dan daerah itu terikat kepada suatu sistem yang terdiri dari beberapa daerah yang berhubungan erat. Perlu diusahakan masukknya dana investasi dari pemerintah pusat atau luar negeri sebanyakbanyaknya ke daerah kita. Hal ini dapat ditempuh dengan menawarkan program-program yang bisa dibiayai atau menarik untuk dibiayai. Diusahakan agar banyak kegiatan yang dibiayai pemerintah pusat atau luar negri yang berdomisili di wilayah itu. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 14) Dalam model ini (teori Harrod-Domar), kelebihan atau kekurangan tabungan dan tenaga kerja dapat dinetralisir oleh arus keluar atau arus masuk dari setiap faktor diatas. Pertumbuhan yang mantap tergantung pada apakah arus modal dan tenaga kerja interregional bersifat menyeimbangkan atau tidak. Pada model ini arus modal dan tenaga kerja searah karena pertumbuhan membutuhkan keduanya secara seimbang. Dalam prakteknya, daerah yang pertumbuhannya tinggi (daerah yang telah maju) akan menarik modal dan tenaga kerja dari daerah lain yang pertumbuhannya rendah dan hal inilah yang membuat pertumbuhan antar daerah menjadi pincang. Artinya, daerah yang maju akan semakin maju dan yang terbelakang akan semakin ketinggalan. 102 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Sehingga pertumbuhan antar daerah mengarah pada heterogenous (makin pincang). Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 15) Dilansir dari laman (Finance, 2013), Pemerintah tidak lagi meminta masyarakatnya hemat. Saat ini pemerintah meminta masyarakat Indonesia untuk bergiat belanja dan menggunakan uangnya. Menteri Keuangan sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Chatib Basri meminta masyarakat Indonesia giat belanja untuk mendorong ekonomi Indonesia lebih maju dengan berbagai cara. Dengan membuat orang terus bisa berbelanja, maka ekonomi suatu negara tetap aman. Salah satu alasan suatu negara, termasuk Indonesia lolos dari krisis ekonomi saat ini adalah orang-orang masih bisa belanja. Jadi pepatah bukan lagi hemat pangkal kaya tetapi belanja pangkal kaya. karena akan mendorong ekonomi agar ekonomi tetap tumbuh melalui banyak belanja barang, contohnya pertumbuhan ekonomi Indonesua itu 55% berasal dari konsumsi, jika konsumsi hanya naik 0,5% saja, itu dampaknya besar bagi pertumbuhan ekonomi, baik itu disuatu wilayah maupun suatu negara. Sumber Referensi : Finance, D. (2013). Chatib Basri: Dulu Hemat Pangkal Kaya, Sekarang Belanja Pangkal Kaya. Jakarta: Detikcom. 16) Diketahui bahwa pajak akhirnya akan menjadi pengeluaran pemerintah dan makin besar pengeluaran pemerintah akan mendorong peningkatan pendapatan regional. Pajak yang dipungut dari masyarakat terbagi atas pajak yang dipungut pemerintah pusat, pajak yang dipungut pemerintah provinsi, dan pajak yang dipungut oleh pemerintah kabupaten/kota. Untuk pajak yang dipungut dan ditentukan pemerintah atasan, baik jenis maupun besarnya tarif, pemerintah daerah bawahan tidak memiliki wewenang apa pun atas pajak tersebut. Pemda Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 103 kabupaten/kota bersama DPRD setempat memang memiliki wewenang untuk menetapkan tingkat tarif pungutan daerah (pajak dan retribusi) dengan meminta persetujuan pemerintah di atasnya (gubernur). Namun, Tarif pungutan daerah sebaiknya tidak melebihi tarif yang berlaku di daerah tetangga apalagi hal itu bisa membuat investor menjadi segan berinvestasi. Pemerintah daerah lebih baik mendorong bertambahnya potensi objek pungutan dan menagih dengan tarif sedang dari objek pajak yang makin besar daripada menetapkan tarif tinggi dengan objek pajak yang tetap kecil. Begitu pun penetapan tingginya tingkat pajak daerah sangat berkaitan dengan kondisi keuangan pemda yang bersangkutan, yaitu perbandingan antara penerimaan dengan pengeluaran minimal yang masih memungkinkan membuat roda pemerintahan berjalan secara wajar. Pemerintah daerah yang suka membuat kutipan baru/tambahan atau menetapkan kenaikan tarif secara tidak wajar akan membuat investor takut masuk ke daerah tersebut. Jadi, pemerintah daerah dapat saja menetapkan tarif yang tinggi atas pungutannya asal disetujui oleh DPRD dan kemudian disetujui gubernur. Dengan konsekuensi diatas. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 17) Pertumbuhan ekonomi bersumber dari tiga hal, yaitu investasi, perbaikan metode kerja, dan peningkatan kerajinan atau jam kerja. Kegiatan investasi dapat berupa investasi untuk kegiatan baru ataupun perluasan dari usaha yang telah ada. Hal ini sekaligus akan menambah lapangan kerja. Perbaikan metode kerja adalah usaha-usaha yang membuat faktor-faktor produksi yang sama atau bernilai sama, mampu meningkatkan produksi dengan cara inovasi. Kegiatan ini tidak sekaligus menambah lapangan kerja, tetapi kebutuhan tenaga kerja akan meningkat pada putaran berikutnya. Peningkatan kerajinan/jam kerja akan menaikkan produksi tanpa menambah biaya. Kegiatan ini baru akan menambah lapangan kerja pada putaran berikutnya. Pilihan b dan c umumnya 104 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi tidak banyak terjadi di Indonesia sehingga pilihan yang cepat menambah lapangan kerja hanyalah lewat kegiatan investasi terutama di sektor basis. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 18) Tugas pemerintah adalah menciptakan kondisi dan menyediakan fasilitas yang mendorong pihak swasta berperan optimal dalam perekonomian, seperti: (1) menjamin keamanan dan ketertiban dalam kehidupan masyarakat (2) membuat peraturan-peratuaran yang memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi para pelaku ekonomi, (3) menyediakan sarana dan prasarana sehingga aktivitas swasta menjadi lancar. Pengusaha perlu mendapatkan keuntungan besar agar dapat mengakumulasi modal dan membuat investasi baru sehingga dapat menyerap tenaga kerja baru. Faktor keamanan usaha sangat berperan dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Kondisi usaha yang tidak aman akan membuat biaya usaha menjadi lebih tinggi dan banyak orang membatasi luas usahanya sampai kepada batas yang bisa diawasi atau dikendalikan langsung olehnya, misalnya untuk menghindari pencurian. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 19) Pengembangan perekonomian, baik nasional maupun regional banyak ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengambil peran dalam gerak perekonomian. Sejalan dengan itu langkah-langkah untuk memperbaiki mutu SDM perlu terus digalakkan. Mutu SDM dapat dibagi dalam dua aspek, yaitu aspek keahlian/keterampilan dan aspek moral/mental. Aspek keahlian/ keterampilan dapat ditingkatkan melalui pendidikan/pelatihan tetapi aspek moral/ mental sangat terkait dengan lingkungan. Aspek moral/mental sebetulnya lebih menentukan dalam menjamin pertumbuhan ekonomi, tetapi Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 105 usaha perbaikannya tidak mudah karena menyangkut motivasi dan nilai. Menciptakan rasa keadilan, adanya kepastian hukum, dan tegasnya penegakan hukum merupakan salah satu cara untuk meningkatkan moral masyarakat. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 20) Salah satu ayat dalam kitab suci umat beragama menjelaskan banyak hal mengapa suatu negara/ wilayah sulit bertumbuh, ekonominya kalah bersaing, sebagian besar masyarakatnya tetap miskin dan banyak terdapat pengangguran. Yaitu, manusia bersekutu dengan setan. Melalui dua cara. Cara pertama manusia secara resmi meminta bantuan setan (lewat dukun atau orang pandai). Cara kedua, manusia itu tidak pernah secara resmi meminta bantuan setan, tetapi dari cara berpikir dan tindak-tanduknya melakukan pekerjaan yang disenangi setan. Hal tersebut banyak terjadi di negara tempat saya tinggal, bahkan di lingkungan sekitar. Dimana setan dijadikan tempat untuk meminta bantuan dalam memperkaya diri, bukan dengan usaha. Selain itu, bukan hanya mempraktekan secara langsung dalam hal permohonan, tetapi juga meniru perilaku setan dalam kehidupannya. Seperti korupsi, curang, tidak jujur yang semua itu hanya akan semakin memperburuk keadaan dalam kemiskinan. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 21) Salah satu tugas seorang perencana wilayah adalah menentukan kegiatan yang perlu dilaksanakan dan di mana lokasinya. Untuk sementara pembahasan dibatasi untuk kegiatan sektor produksi karena kegiatan ini lebih mudah dianalisis. Setiap kegiatan produksi akan membutuhkan input berupa lahan, tenaga kerja, modal, dan teknologi. Sebagai imbalannya akan tercipta nilai tambah yang dapat dinikmati oleh faktor-faktor produksi yang terlibat atau terkait dengan kegiatan tersebut. Sektor terkait tetapi bukan faktor produksi, 106 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi misalnya pemerintah menarik pajak dari kegiatan tersebut. Akan tetapi, dampak dari suatu kegiatan produksi bukanlah hanya yang disebutkan di atas. Setiap kegiatan produksi umumnya memiliki backward linkage (daya menarik) dan forward linkage (daya mendorong). Misalnya pengembangan sebuah perkebunan kelapa sawit seluas 1.000 ha, akan memiliki banyak dampak terhadap perekonomian/kehidupan masyarakat di sekitarnya. Pada masa pembersihan lahan/ penanaman, dibutuhkan banyak tenaga kerja lepas, bibit, pupuk, penyewaan alat, dan sebagainya. Hal tersebut akan mendorong tumbuhnya kegiatan transportasi untuk mengangkut orang, bahan, dan alat dan juga akan meningkatkan volume perdagangan termasuk pedagang makanan/kebutuhan sehari-hari yang berlokasi di sekitar tempat proyek. Hal ini juga akan terjadi pada masa pemeliharaan, walaupun intensitasnya lebih rendah dibanding dengan pada waktu pembersihan lahan/penanaman. Setelah kebun kelapa sawit itu berproduksi maka intensitas kegiatan kembali meningkat, misalnya diperlukan tambahan tenaga kerja untuk memetik buah dan tambahan transportasi untuk mengangkut buah. Intensitas pemupukan juga meningkat hal mana berarti kebutuhan pupuk juga meningkat. Hal ini jelas meningkatkan kegiatan di sektor pengangkutan dan perdagangan bahkan kemungkinan tumbuhnya kegiatan jasa seperti tukang pangkas, tukang jahit pakaian, perbengkelan, dan lain-lain. Dampak berantai ini disebut multiplier effect (dampak pengganda). Pada sisi lain buah sawit yang dihasilkan akan mendorong tumbuhnya industri pengolahan buah sawit atau paling tidak industri yang sudah ada, kegiatannya akan meningkat. Peningkatan kegiatan pabrik pengolah buah sawit ini kembali lagi mendorong tumbuhnya berbagai kegiatan pendukung lainnya. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 107 22) Untuk menjawab pertanyaan kegiatan apa dan di lokasi mana, kebijakan umum itu perlu dilengkapi dengan keahlian sektoral berupa kegiatan produksi apa saja yang dapat dilakukan dan di lokasi mana kegiatan itu sesuai untuk dikembangkan. Namun seringkali instansi sektoral dapat mengajukan cukup banyak jenis kegiatan di berbagai lokasi yang dapat dikembangkan untuk menunjang kebijakan umum sehingga diperlukan keahlian untuk menyeleksinya. Seorang perencana wilayah harus mampu menyeleksi kegiatan apa dan di lokasi mana yang dipilih untuk dilaksanakan atau diprioritaskan. Dalam hal ini, perencana wilayah dapat menggunakan konsep nilai tambah, yaitu kegiatan apa yang memberikan nilai tambah total tertinggi. Setelah kegiatannya dapat ditentukan. dipilih lokasi yang paling sesuai (memiliki keunggulan komparatif) untuk kegiatan/ produksi tersebut. Nilai tambah sendiri dapat dihitung untuk berbagai variabel pembatas, misalnya nilai tambah dapat dihitung per satuan luas (misalnya per hektar), per satuan tenaga kerja yang dapat diserap atau per satuan modal yang diinvestasikan. Untuk semua faktor pembatas tersebut digunakan satuan waktu yang sama, misalnya nilai tambah per tahun. Dalam hal ini nilai tambah diukur terhadap salah satu faktor produksi yang paling terbatas. Misalnya, apabila lahan adalah yang paling terbatas maka nilai tambah dihitung terhadap per satuan lahan. Apabila tenaga kerja yang terbatas maka dipilih nilai tambah tertinggi per satuan tenaga kerja yang diserap. Sebaliknya apabila modal yang paling terbatas, nilai tambah dihitung per satuan modal yang harus ditanamkan. Yang akhirnya dipilih adalah yang memberikan nilai tambah tertinggi per satuan faktor pembatas tersebut di atas. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. 108 Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi 23) Kebijakan yang diberlakukan untuk setiap wilayah yang berbeda tidak bisa sama, sebagai contoh misalnya seorang bupati ingin menerapkan kebijakan untuk meningkatkan ekspor sebanyak-banyaknya dari wilayahnya. Dalam hal ini sang bupati meminta instansi sektoral untuk mengajukan produk apa saja yang memiliki potensi ekspor yang masih bisa dikembangkan di wilayah tersebut dan di lokasi mana kegiatan itu paling sesuai untuk dikembangkan. Instansi sektoral akan menjawab tantangan ini dengan mengajukan berbagai usulan. Karena kegiatan yang diusulkan terlalu banyak maka Ketua Bappeda (perencana regional) diminta untuk membuat seleksi, yaitu kegiatan apa yang diprioritaskan. Dalam hal ini Ketua Bappeda harus terlebih dahulu menetapkan faktor produksi apa yang paling terbatas di wilayah tersebut. Seandainya yang paling terbatas adalah modal, setelah setiap kegiatan dihitung nilai tambah totalnya per tahun maka dipilih kegiatan yang memberikan nilai tambah tertinggi per satuan modal yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Akan tetapi, bisa saja sasaran tambahan yang ingin dicapai bukan nilai tambah (kemakmuran), melainkan tersedianya lapangan kerja yang sebanyakbanyaknya karena tingkat pengangguran sangat tinggi padahal modal terbatas. Dalam hal ini, kita mencari kegiatan apa yang memberikan lapangan kerja terbanyak termasuk lapangan kerja yang diciptakan daya tarik dan daya dorong untuk satuan modal yang sama. Dalam kondisi seperti di pulau jawa yang lahannya terbatas, tetapi tenaga kerja melimpah ruah maka kegiatan yang diprioritaskan adalah yang mampu menyerap tenaga kerja yang banyak per satuan luas lahan yang sama. Disisi lain pada wilayah Indonesia-Timur dimana modal adalah terbatas tetapi lahan cukup luas maka kegiatan yang diprioritaskan adalah nilai tambah tertinggi per satuan modal yang diperlukan, namun kebijakan diatas tidak boleh terlepas dari visi dan misi pembangunan wilayah yang bersangkutan. Sumber Referensi : Tarigan, R. (2005). Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara. Bab 4 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah 109

Judul: Ekonomi Regional Teori Dan Aplikasi Bab 4 "teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah"

Oleh: Febrianti Ayu


Ikuti kami