Ekonomi Dalam Islam

Oleh Sintia Jumitera

113,6 KB 6 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Dalam Islam

Nama : Sintia Jumitera/ VB NIM : 1208010090 EKONOMI DALAM ISLAM Tujuan Ekonomi Islam sama dengan Tujuan Syariat islam yaitu merealisasikan tujuan manusia untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat (falah), serta kehidupan yang baik dan terhormat (al-hayah al-tayyibah). Secara terperinci tujuan ekonomi Islam yaitu (1) kesejahteraan ekonomi sebagai tujuan terpenting mencakup kesejahteraan individu, masyarakat dan negara; (2) tercukupinya kebutuhan dasar manusia baik kebutuhan primer, sekunder, tersier secara adil; (3) penggunaan sumber daya secara optimal, efisien, efektif, hemat, tidak mubazir; (4) kesamaan hak dan peluang. Sistem ekonomi Islam sangat berbeda dengan sistem ekonomi konvensional baik yang berbasis kapitalis maupun sosialis, bahkan dalam beberapa hal sistem ekonomi Islam merupakan pertentangan dan berada antara keduanya. Dalam pengertiaannya Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam. Dengan menjunjung Mahzab Ekonomi bertujuan meletakkan sesuatu kebijakan bagi pengaturan kehidupan ekonomi atas dasar yang adil. Prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam menurut Umer Chapra yaitu pertama Tauhid, sebagai fondasi keimanan islam yang bermakna bahwa segalanya dialam semesta diciptakan dengan sengaja dan pasti memiliki tujuan yang menunjukkan makna eksistensinya termasuk manusia. Kedua, Khalifah yang ditunjuk adalah manusia yang dibekali perangkat jasmani dan rohani untuk berperan secra efektif. Ketiga, Leadilan sebagai misi utama islam dalam mewujudkan kemaslahatan umat. Dalam aktivitas penerapannya ekonomi Islam disetiap transaksi perdagangannya dijauhkan dari unsur-unsur spekulatif, riba, gharar, majhul, dharar(bahaya) mengandung penipuan dan sejenisnya yang menggolongkan sebagai aktivitas nonriil. Dalam konsepnya Islam meletakkan antarkedua pihak saling menguntungkan, memperoleh manfaat rill dan memberikan kompensasi riil dengan transaksi bersifat jelas, transparan dan bermanfaat. Konsep Ekonomi dalam Islam memiliki tiga konser dasar. Pertama hukum Islam, manusia sebagai makhluk biologis memenuhi kebutuhannya namun bukan dijadikan sebagai tujuan akhir hidupnya, namun harusnya meletakkan kebutuhan itu pada kemampuan mental dan fisik serta merubahnya menjadi kebutuhan akan menyembah Allah SWT sang Pencipta. Kedua, Beriman kepada keesaan Allah SWT sebagai suatu tindakan menghindari dari sikap politeisme yang menghalalkan segala cara hanya demi mencapai materi yang berakibat merusak dasar dan sendi Islam serta keimanan sebahai seorang umat beragama. Ketiga, berpendapat dalam situasi apapun karena kehidupan ekonomi menyangkut segala bidang, pendapat dapat membantu dan mengingatkan dalam tindakan yang diambil. Ekonomi islam memiliki beberapa tatanan, diantaraanya a. Zakat, sebagai tanggungjawab setiap muslim dan negara dalam hal kekayaan dan bila harta sudah mencapai jumlah tertentu selama periode waktu yang sudah berjalan. Zakat dalam pelaksanaan ekonomi memiliki 2 tujuan, secara individu membantu mensucikan diri (Q.S At-Taubah 103)                    103. ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan[659] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. [658] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda.[659] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka. Tujuan individu lainnya yaitu menahan hawa nafsu, mempererat hubungan sosial dan meningkatkan perasaan tauhid bahwa tiada Tuhan selain Allah untuk disembah melalui pemahaman lebih dalam terhadap Al-Qur’an dan Hadist bermurah hati dengan mendermakan kekayaannya. Tujuan kedua yaitu secara sosial menerangkan pertukaran barang agar dapat mengatur pendapatan negara dan biaya serta menstabilkan kegiatan ekonomi seperti produksi, peredaraan uang dan pembagian kekayaan. b. Riba pelarangan riba akan menjamin aliran investasi menjadi optimal, implementasi zakat akan meningkatkan permintaan agregat dan mendorong harta mengalir ke investasi, sementara pelarangan maisir,gharar dan hal-hal yang bathil akan memastikan investasi mengalir ke sektor riil untuk tujuan produktif, yang akhirnya akan meningkatkan penawaran agregat. dilarangnya riba karena mengandung unsur eksploitasi terhadap kaum fakir miskin,bukan faktor bunganya. Eksploitasi ini dilakukan melalui bentuk pinjaman yang berusaha mengambil keuntungan dari nilai pinjaman tersebut yang mengakibatkan kesengsaraan kelompok lain. implikasi pelarangan riba pada sektor riil, menurut Ascarya (2007: 19) antara lain: (1) Mengoptimalkan aliran investasi tersalur lancar ke sektor riil. (2) Mencegah penumpukan harta pada sekelompok orang, ketika hal tersebut berpotensi mengeksploitasi perekonomian (eksploitasi pelaku ekonomi atas pelaku yang lain; eksploitasi sistem atas pelaku ekonomi); (3)Mencegah timbulnya gangguan-ganguan dalam sektor riil, seperti inflasi dan penurunan produktivitas ekonomi makro; (4)Mendorong terciptanya aktivitas ekonomi yang adil, stabil dan sustainablemelalui mekanisme bagi hasil (profit-loss sharing) yang produktif. c. Konsep Uang Perbedaan lain mengenai konsep uang antara ekonomi Islam dan ekonomikonvensional adalah dalam ekonomi Islam, uang adalah sesuatu yang bersifat flow concept dan capital adalah sesuatu yang bersifat stock concept. Flow Concept yaitu perputaran uang untuk produksi akan dapat menimbulkan kemakmuran ekonomi dan kesehatan masyarakat. Tapi jika uang ditahan (menimbun uang), maka dapat menyebabkan tersendatnya roda perekonomian sehingga dapat menimbulkan krisis ekonomi. Untuk itu, uang perlu digunakan untuk investasi di sektor riil. Jika uang hanya disimpan, maka bukan saja tidak mendapatkan return, tetapi juga dikenakan zakat. Keunggulan Sistem Ekonomi Islam dibandingkan Ekonomi Konvensional yaitu, pertama jaminan keberhasilan dalam nilai kehidupan yaitu terletak pada hubunganya dengan Allah Maha Pencipta dan berbakti kepada sesama manusia dalam mencapai tingkat spiritual atau rohani paling tinggi, buka semata-mata penumpukan kekayaan. Kedua, memiliki batasan dalam kebebasan berpikir dan berbuat sebagai anggota masyarakat dimana materi tidak lebih berkuasa. Ketiga, tidak ada perbudakan oleh materi, menurut Islam materi adalah unsur memenuhi kepentingan manusia. REFERENSI Abu Saud, Mahmud. 1991. GBEI : Garis-Garis Besar Ekonomi Islam. Yogyakarta : Gema Insan Press. Al-Maliki, Abdurrahman. 2001. Politik Ekonomi Islam . terjemahan Ibnu Sholah. Banggil : Al-Izzah Hamid, H.M. Arifin. 2007. Hukum Ekonomi Islam (Ekonomi Syariah) Di Indonesia. Bogor : Ghalia Indonesia Zain, Samih Athif. 1988. Syariah Islam Dalam Perbincangan Ekonomi, Politik dan Sosoal Sebagai Studi Perbandingan. Terjemahan Mudzakir As., Hussaini. Bandung

Judul: Ekonomi Dalam Islam

Oleh: Sintia Jumitera


Ikuti kami