Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

Oleh Della Fadilah Febriaanti

100,3 KB 6 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

KONSEP ILMU MENURUT AL-QUR’AN Della Fadilah Febriaanti Program Studi Islam Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Dellafadilahfeb123@gmail.com ABSTRAK Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat dan kelestarian atau keseimbangan alam. Demi kepentingan manusia tersebut maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Sedangkan universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai parokial seperti ras, ideologi atau agama. Sehingga dalam Islam dilarang keras menyembunyikan ilmu, artinya ilmu itu harus disebarkan untuk bisa dimanfaatkan. Melaui iqra`bismi Rabbika, digariskan bahwa titik tolak atau motivasi pencarian ilmu, demikian juga tujuan akhirnya, haruslah karena Allah. Kata kunci: Paradigma dan konsep ilmu menurut al-qur‟an BAB I PENDAHULUAN Agama Islam merupakan agama yang sangat memuliakan ilmu. Alquran dan hadis menjadi bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat mengapresiasi ilmu dan para penuntut ilmu. Islam mengangkat derajat para penuntut ilmu, dan menuntut ilmu merupakan bagian dari jihad di jalan Allah (Al Rasyidin & Ja‟far, 2020). Ada tiga tanggapan ilmuwan Muslim terhadap sains modern. Yang kemudian masing-masing pendapat itu akan menentukan bagaimana pandangan mereka pula terhadap ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Ziauddin Sardar mencatat–sebagaimana dikutip M. Damhuri–ada tiga kelompok yang memandang ilmu pengetahuan modern kini. Pertama, kelompok Muslim apologetik: kelompok ini menganggap ilmu pengetahuan modern bersifat netral dan universal. Mereka berusaha melegitimasi hasil-hasil penemuan ilmu pengetahuan dengan mencari ayat-ayatnya yang sesuai dengan teori dalam sains tersebut. Karena hanya sebagai bentuk apologia saja maka pandangan kelompok ini hanya sebagai penyembuh luka bagi umat Islam secara psikologis bahwa, umat Islam tidak ketinggalan zaman. Kedua, kelompok yang mengakui ilmu pengetahuan Barat, tetapi berusaha mempelajari sejarah dan filsafat ilmuan agar dapat menyaring elemen-elemen yang “tidak islami”. Ketiga, kelompok yang percaya dengan adanya ilmu pengetahuan Islam dan berusaha membangun islamisasi di seluruh elemen ilmu pengetahuan tersebut. Dalam sejarah penafsiran, manusia mencoba mengerti kandungan al-Qur`an. Manusia dari berbagai sudut pandang, dari berbagai titik tolak, demi mencapai tujuan-tujuan tertentu; namun dapatlah dikatakan upaya itu tidak akan pernah selesai. Apalagi kalau disadari al-Qur`an selalu terbuka untuk penafsiran-penafsiran dan pemahaman baru yang sangat dinamik. Di antaranya tentang paradigma dan konsep ilmu pengetahuan dalam perspektif al-Qur‟an. Al-Qur`an bukanlah buku, namun penuh dengan isyarat tentang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, penulis akan mencoba menguraikan bagaimana paradigma dan konsep ilmu pengetahuan dalam perspektif al-Qur`an. Untuk menghindari terjadinya pengertian ganda tentang terminologi yang dipergunakan dalam tulisan ini maka perlu pembatasan beberapa istilah. Adapun yang dimaksud dengan al-Qur`an di sini adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh para ahli, di antaranya Muhammad Abduh. Ia mendefinisikan al-Qur`an sebagai kalam mulia yang diturunkan olehAllah kepada nabi yang paling sempurna (Muhammad Saw), ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber yang mulia yang esensinya tidak dimengerti kecuali bagi orang yang berjiwa suci dan berakal cerdas. BAB II PEMBAHASAN Term Kata Ilmu dalam al-Qur`an Sekali lagi, al-Qur`an bukanlah buku, tetapi isyarat-isyarat tentang ilmu banyak termaktub dalam ayat-ayat suci al-Qur`an, baik mengenai istilah yang menunjuk kata ilmu, objek-objek yang menjadi kajian ilmu, bagaimana cara memperoleh ilmu, atau bagaimana pemanfaatan dan pengembangan ilmu. Apalagi kalau kita lihat definisi al-Qur`an yang dikemukakan Muhammad Abduh di atas, bahwa alQur`an ajarannya mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Dalam al-Qur`an banyak sekali disebut pengungkapan kata ilmu dengan berbagai bentuk kata jadiannya. Kata-kata tersebut dan frekuensinya sebagai berikut: `ilm (105 kali), `alima (35 kali), ya`lamu (215 kali), i`lam (31 kali), yu`lamu (1 kali), `aliim (35 kali), `alim (18 kali), ma`lum (13 kali), `alamin (73 kali), `alam (3 kali), a`lam (49 kali), `alim atau ulama` (163 kali), `allam (4 kali), `allama (12 kali), yu`allimu (16 kali), `ulima (3 kali), mu`allam (1 kali), dan ta`allama (2 kali). Dari kata jadian tersebut timbul berbagai pengertian: mengetahui, pengetahuan, orang yang berpengetahuan, yang tahu, terpelajar, paling mengetahui segala sesuatu, lebih tahu, sangat mengetahui, cerdik,mengajar, belajar, orang yang diajari dan mempelajari. Untuk menemukan pengertian tentang ilmu dalam al-Qur`an, tidak cukup hanya dengan mencari kata-kata yang berasal dari kata i-l-m karena kata “tahu” itu tidak hanya diwakili oleh kata tersebut. Minimal, ada beberapa kata yang mengandung pengertian “tahu”, seperti: `arafa, dara, khabara, sya`ara, ya`isa, ankara, basirah, dan hakim. Kata ilmu digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan.`Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan, misalnya kata `alam (bendera), `ulmat (bibir sumbing), `a`laam (gunung-gunung), `alamat (alamat) dan sebagainya. Pandangan al-Qur`an tentang Ilmu Pengetahuan Dalam al-Qur`an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia dipandang lebih unggul ketimbang makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya. Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan al-Qur`an pada surat al-Baqarah, 31-32: “Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Yang dimaksud dengan nama-nama pada ayat di atas adalah sifat, ciri dan hukum sesuatu. Ini berarti manusia berpotensi mengetahui rahasia alam raya. Manusia menurut al-Qur`an, memiliki potensi untuk menyiduk ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu, bertebaran ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula al- Qur`an menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang berpengetahuan. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadalah: 11). Pandangan al-Qur`an tentang ilmu dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad dalam surat Al „Alaq : 1-5: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Ia telahmenciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Ia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Wahyu pertama tersebut tidak menjelaskan apa yang harus dibaca karena al-Qur`an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Pengulangan membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau dalam bahasa lain, membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan, tetapi hal itu mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang dibaca masih itu-itu juga. Kata iqra` dalam ayat tersebut akar katanya berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Jadi, iqra` berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Dalam wahyu pertama ini mengisyaratkan perintah untuk mengkaji ilmu. Kajian-kajian tersebut meliputi tiga aspek, yaitu mengenai objekobjek yang menjadi kajian ilmu, bagaimana cara memperoleh ilmu dan bagaimana pemanfaatan dan pengembangan ilmu menurut pandangan al-Qur`an. Objek Ilmu Pengetahuan dalam Pandangan al-Qur`an Dalam pandangan al-Qur`an, objek ilmu ialah segala ciptaan Allah, sekaligus ayat-ayat-Nya. Ciptaan Allah ini meliputi alam materi dan non materi. Dengan demikian, objek ilmu meliputi yang materi dan non materi, fenomena dan non fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak. Al-Qur`an memberikan bermacam-macam nama kepada alam yang menjadi objek kajian ilmu, di antaranya adalah: 1. alamin, yang berarti alam semesta. Bentuk ini diungkapkan sebanyak 73 kali yang tersebar di berbagai ayat, antara lain pada (QS, Al-Fatihah : 2), (QS, Al-Baqarah: 47, 122, 131, 251), (QS, Al-Imran: 33, 42, 92, 97, 108), (QS, Al-Maidah: 20, 27, 115), (QS, 6: 45, 71, 86, 90, 162), dan seterusnya. 2. As Samawat wa Al Ardl, yang artinya langit dan bumi. Bentuk as samawat diungkapkan sebanyak 99 kali, sedangkan bentuk al-ardl diungkapkan sebanyak 450 kali (al Baqi, 1980 : 236); (3) Kull syai`in, yang artinya segala sesuatu, diungkapkan sebanyak 202 kali yang tersebar di berbagai ayat, antara lain dalam QS, Al-Baqarah: 20, 29, 106, 109, 113, 148, 155, 178, 231, 255, dan seterusnya (al Baqi, 1980: 244); (4) Makhluq (kholq), yang artunya yang diciptakan, atau ciptaan, antara lain dalam (QS, Al-Mu‟minun:14), (QS, 37: 125).Sedangkan mengenai adanya alam non materi sebagaimana ditegaskan dalam QS. al Haaqah ayat 38-39: “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat.” Dengan demikian, objek kajian ilmu menurut pandangan al-Qur`an luas sekali, tidak sempit seperti pandangan sains modern yang cenderung berkutat pada alam materi yang bisa diuji oleh panca indra manusia. Objek ilmu menurut mereka hanya mencakup sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas, dan pengalihan antarbudaya. Inilah yang membedakan pandangan antara sains modern dan al-Qur`an mengenai objek ilmu. Oleh karena itu, sebagian ilmuwan Muslim–khususnya kaum sufi, melalui ayat-ayat al-Qur`an– memperkenalkan ilmu yang mereka sebut al hadlarat al Ilahiyah al khams (lima kehadiran Ilahi) untuk menggambarkan hierarki keseluruhan realitas wujud. Kelima hal tersebut adalah: 1). Alam nasut (alam materi), 2). Alam malakut (alam kejiwaan), 3). Alam jabarut (alam ruh), 4). Alam lahut (sifat-sifat Ilahiyah), 5). Alam hahut (wujud zat Ilahi). Cara Memeroleh Ilmu dalam Pandangan al-Qur`an Cara memperoleh ilmu dalam pandangan al-Qur`an sebagaimana diisyaratkan dalam wahyu pertama, surat al Alaq 4-5: “Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Ia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” Ayat itu mengisyaratkan bahwa, ada dua cara memperoleh ilmu: Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui oleh manusia lain sebelumnya, dan Allah mengajar manusia tanpa pena yang belum diketahuinya. Cara pertama, adalah mengajar dengan alat, atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua, mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber yaitu Allah Swt. Ilmu yang diperoleh manusia atas dasar usaha manusia disebut ilmu kasbi. Allah Swt telah membekali manusia sarana-sarana yang dapat digunakan untuk usaha mencari ilmu ini, yaitu panca indra, akal dan hati. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur`an surat an Nahl ayat 78: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan ia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” Ada dua aliran pengetahuan, dalam hubungannya dengan di atas. Pertama, adalah idealisme atau lebih populer dengan sebutan rasionalisme; suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran akal, idea, kategori, form, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di sini peran panca indra dinomorduakan. Menurut aliran ini, pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Panca indra berfungsi hanya untuk menangkap objek sehingga diperoleh data-data dari alam nyata dan akallah yang mengolah data-data tersebut sehingga terbentuk pengetahuan. Kedua, adalah realisme atau empirisme yang lebih menekankan peran ilmu pengetahuan. Di sini peran akal dinomorduakan. Menurut aliran ini, pengetahuan yang benar diperoleh melaui pengalaman panca indra terhadap objekobjek yang nyata. Adapun metode yang disodorkan al-Qur`an dalam memeroleh ilmu kasbi ini, di antaranya adalah sebagaimana tersirat dalam QS 2: 31: “Dan ia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” Setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam ayat tersebut; Adam diajari tentang namanama benda menunjukkan proses belajar menghafal, dilanjutkan dengan proses mengingat dengan menyebutkan kembali nama-nama tersebut. Metode ini telah dibuktikan oleh para ahli terutama di bidang ilmu jiwa melalui beberapa uji coba sehingga ditemukan bahwa proses terjadinya ilmu pengetahuan melalui tahapan kognisi-afeksi-psikomotorik. Selanjutnya al-Qur`an menekankan perlunya pengamatan langsung pada objek. Hal ini antara lain dapat dilihat ayat berikut: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah ia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” (QS. 5: 31). Lebih lanjut, ilmu yang diperoleh manusia tanpa usaha aktif disebut ilmu ladunni. Wahyu, ilham, intuisi, firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya, atau apa yang diduga kebetulan yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, semuanya merupakan bentuk-bentuk pengajaran Allah yang tanpa qalam yang ditegaskan oleh wahyu pertama tersebut. Adanya ilmu ladunni ini sebagaimana termaktub dalam al-Qur`an: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. al Kahfi: 65). Pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif al-Qur`an Setidaknya ada beberapa ayat al-Qur‟an yang mengisyaratkan tentang metodologi dalam menelaah ilmu pengetahuan: 1. Observasi (Pengamatan) Al-Qur`an dalam berbagai ayatnya senantiasa mendesak manusia untuk mengadakan observasi terhadap ciptaan-Nya. Di antaranya, sebagaimana dalam QS Al `Araf: 185: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka? Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman sesudah al-Qur‟an itu?” Dalam ayat tersebut, al-Qur`an mengemukakan tema ayat yang bersifat sinkronis, artinya berupa pandangan tentang eksistensi langit, bumi, manusia dan sebagainya.18 Berikutnya adalah Surat Yusuf: 105 dan surat Ali `Imran: 191: “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya.“ (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Tema kedua ayat di atas bersifat diakronis, artinya berupa pandangan tentang proses penciptaan dan peristiwa-peristiwa pada masa lalu maupun yang akan datang. Bila dicermati lebih mendalam, tiada satupun ciptaan Allah yang tidak mengandung maksud dan tujuan. Mulai dari penciptaan makhluk yang sangat sederhana, hingga penciptaan bintang-bintang di ruang angkasa. Untuk mengungkap rahasia itu semua, diperlukan pemikiran yang mendalam. Dalam pengembangan ilmu pengetahuan, observasi dan meniru mekanisme kerja merupakan hal yang lazim. Misalnya, meniru konsep fungsi sayap dari ekor burung dalam pembuatan pesawat terbang, capung dalam design helikopter, ikan paus dalam pembuatan kapal selam dan lain sebagainya. Dalam metode observasi, meniru dan eksperimentasi semata-mata dalam pengembangan sains dan teknologi dirasa belum cukup. Untuk itu perlu adanya kemampuan imajinasi yang kuat, analisis dan sintesa,terutama dalam hal-hal yang tidak mungkin melalui observasi saja. 2. Eksplorasi (Pemaparan) Pada bagian ini, ilmu astronomi menempati posisi penting karena ia adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan gerakan, penyebaran dan sifat benda-benda samawi.20 Di antara ayat yang mewakili al-Qur`an dalam pembahasan ini adalah surat Yunus: 6, dan surat Yasin: 37-40: “Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang- orang yang bertakwa.” “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. 38. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. 39. Dan telah kami tetapkan bagi bulan manzilahmanzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi Matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” Kedua ayat tersebut memaparkan fenomena sesuai dengan hukum alam (sunnatullah) yang berlaku, atau masih dalam tahap pemaparan (description). Bila fenomena berupa pergantian siang dan malam akan diangkat sebagai suatu metode ilmu pengetahuan maka seseorang harus menempuh prosedur sebagaimana yang ditempuh dalam ilmu pengetahuan. 3. Eksperimen (Percobaan) Eksperimen merupakan kelanjutan dari metode-metode sebelumnya (observasi dan eksplorasi). Dengan metode ini telah muncul berbagai cabang ilmu di antaranya geologi. Geologi mempelajari gerak bumi, lapisan-lapisannya, serta hubungan dan perubahannya. Dalam hal ini, al-Qur`an memberikan dorongan kuat untuk melakukan penelitian tentang adanya kebenaran di balik fenomena fisik dari alam semesta. Pada gilirannya, hal ini akan membawa penemuan-penemuan baru di dalam ilmu pengetahuan mengenai sejarah alam, termasuk geologi, yang mempelajari tentang terjadinya perubahan bentuk secara besar-besaran pada lapisan atas bumi, strukturnya, perubahan cuaca, fosil, batu-batu karang dan sebagainya.21 Ayat berikut ini dapat dijadikan penanda untuk menggali dan mengembangkan ilmu: “Bukankah kami Telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS, An Naba: 6-7). “Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakkan padanya gununggunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata.” (QS, Qaaf: 7). 4. Penalaran dan Intuisi Penalaran terhadap proses kejadian manusia melahirkan ilmu kedokteran dan dengan intuisi manusia mengenal ilmu jiwa. Secara fisik manusia dipelajari melalui ilmu kedokteran. Isyarat mengenai hal itu tercantum dalam surat di bawah ini: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.” (QS. Al `Alaq: 1-3). “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang dipancarkan, 7. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (QS. At Thariq: 5-7). Di samping unsur jasmani yang menjadi pangkal tolak keberadaan manusia, unsur jiwa juga tidak luput dari perhatian al-Qur`an. Allahberfirman: “Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”(QS. Adz Dzariyat: 21). “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), 8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. 9.Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. DanSesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. As Syams: 7-10). Di dalam al-Qur`an di samping metode yang bersifat empirik, masih ada proses pengembangan ilmu dengan metode ilham yang hanya diberikan pada beberapa orang saja22 yang dipilih Allah tanpa membedakan dari suku bangsa manapun. Itu artinya, bahwa Allah memberikan ilmu kepada siapa saja yang memiliki kehendak dan dikehendaki-Nya. Dengan asumsi bahwa penemuan ilmu pengetahuan dengan metode apa pun merupakan rahmat dari Allah melalui orangorang yang terpilih karena pada hakikatnya semua ilmu itu tidak laindari-Nya semata. Allah berfirman: “Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. 62: 4). Pada dasarnya, betapa pun hebatnya penemuan ilmu pengetahuan secanggih apa pun, manusia tetap tidak dapat menciptakan sesuatu. Dengan kata lain manusia hanya mengubah bentuk, warna atau wujud dari sesuatu yang sudah ada. Manusia bisa membuat robot, komputer dan lain sebagainya, namun materinya sudah lebih dulu diciptakan oleh Allah. Manusia tidak akan pernah dapat menciptakan makhluk hidup sekecil apapun. Manusia hanya dapat merekayasa gen, tetapi gen itu telah diciptakan Allah sebelumnya. Oleh karena itu, harus ada kesadaran teologis untuk selalu memohon tambahan ilmu kepada Allah Swt. Konsepsi al-Qur’an Mengenai Ilmu Pengetahuan Kewajiban pertama yang Allah perintahkan kepada manusia adalah mempelajari ilmu. Allah ta‟ala berfirman: “Maka ketahuilah (dapatkanlah ilmu), bahwa sesungguhnya tidak ada ilah yang berhak disembah secara hak melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, lailaki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu” (Muhammad: 19). 1. Konsep Islam Mengenai Kesehatan Syariat Islam datang membawa semua prinsip-prinsip kedokteran. Dalam al-Qur‟an dan hadis-hadis rasul terdapat penjelasan mengenai banyak penyakit kejiwaan dan badan sekaligus menjelaskan terapinya yang bersifat material dan moral. Allah ta‟ala berfirman: “Dan Kami turunkan dari al-Qur‟an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (Al Isra‟ : 82). Rasulullah bersabda: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan Allah turunkan pula obatnya. Diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak ditangkap oleh orang yang tidak mengetahuinya.” 2. Konsep Islam Mengenai Interaksi Antarmanusia Allah memerintahkan seorang Muslim untuk menjadi manusia yang saleh dan berupaya untuk menyelamatkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam.24 Ia memerintahkan supaya ikatan yang menyambungkan antara seorang Muslim dengan lainnya hanyalah ikatan iman kepada-Nya. Sehingga ia akan mencintai hamba-hamba Allah yang saleh lagi taat kepada Tuhan dan rasul sekalipun mereka itu orang terjauh, kafir dan orang-orang yang membangkang. Inilah ikatan yang menghimpun antara dua pihak dan menyatukan antara dua sisi dimana amat berbeda dengan ikatan keturunan, tanah air dan kepentingankepentingan materialistik karena semua itu akan cepat memudar. Dalam kaitannya dengan hal ini Allah berfirman: “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anakanak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Al Mujadilah:22). “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (Al Hujurat: 13). 3. Konsep Islam Mengenai Kerjasama dan Gotong Royong Sosial Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk kerjasama dan saling tolong-menolong, baik dalam hal moral maupun material sebagaimana telah dijelaskan pada bab zakat dan sedekah. Ia mengharamkan seorang Muslim menyakiti sesama manusia sekecil apapun. Allah mewajibkan orang Mukmin mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri dan membenci bagi saudaranya apa yang dia benci untuk dirinya. Allah ta‟ala berfirman: “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”(Al Maidah: 2). “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu.” (Al Hujurat: 10). “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma‟ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah maka Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (An Nisa: 114). BAB III PENUTUP Kesimpulan Al-Qur`an bukanlah buku ilmu pengetahuan, tetapi isyarat-isyarat tentang ilmu pengetahuan banyak ditemukan dalam ayat-ayat al-Qur`an, baik mengenai term-term yang menunjuk kata ilmu, objek-objek yang menjadi kajian ilmu, metode-metode yang digunakan dalam perolehan ilmu dan bagaimana pemanfaatan dan pengembangannya. Dalam pandangan al-Qur`an, objek ilmu pengetahuan ialah segala ciptaan Allah,yang sekaligus merupakan ayat-ayat-Nya, meliputi alam materi dan alam non materi, fenomena dan non fenomena. Ada dua cara memperoleh ilmu pengetahuan: Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui oleh manusia lain sebelumnya, dan Allah mengajar manusia tanpa pena yang belum diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar dengan alat, atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua, mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Ilmu yang diperoleh manusia atas dasar usaha manusia disebut ilmu kasbi. Ilmu yang diperoleh manusia tanpa usaha manusia disebut ilmu ladunni. Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber: Allah Swt. Adapun pandangan al-Qur`an mengenai pemanfaatan ilmu pengetahuan, melaui iqra` bismi Rabbika, digariskan bahwa titik tolak pencarian ilmu pengetahuan, pemanfaatan, pengembangan, demikian juga tujuan akhirnya, haruslah karena Allah. Jadi, semboyan “ilmu untuk ilmu” tidak dikenal dalam Islam. Apa pun ilmunya, materi pembahasannya harus bismi Rabbika, atau dengan kata lain harus bernilai Rabbani. Sehingga ilmu pengetahuan yang dalam kenyataannya dewasa ini mengikuti pendapat sebagian ahli “bebas nilai”, harus diberi nilai Rabbani oleh ilmuwan Muslim. Saran Semoga jurnal ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan menambah wawasan bagi para pembaca maupun penulis. DAFTAR PUSTAKA Ja‟far, J. (2020). Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam. Medan: Perdana Publishing. Bagus, Lorens., Kamus Filsafat, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002. Muhaimin et.al, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, Jakarta: Prenada Media,2005. Muhammad Fuad, Abd. Al Baqi, Al Mu`jam al Mufahras li Alfaz al-Qur`an al Karim, Beirut: Dar Al Fikri li al Thaba`ah wa al Nasyr wa al Tauzi,1980. Raharjo, M. Dawam, Ensiklopedi al-Qur`an, Ulumul Qur`an, No. 4, Vol. 1, 1990. Rahman, Afzalur, Al-Qur`an Sumber Ilmu Pengetahuan, terj. H.M. Arifin, Jakarta: Bina Aksara, 1989. Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Qur`an, Bandung: Mizan, 2006. Syafi`ie, Imam, Konsep Ilmu Pengetahuan dalam al-Qur`an, Yogyakarta: UII Press, 2000. Suharno, Berpikir Islami, Al Jami`ah, Dirasah Islamiyah, Yogyakarta: t.p., 1990. Suriasumantri, Jujun S, Ilmu dalam Pesrpektif, Sebuah Pengantar, Jakarta: Gramedia, 1985

Judul: Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

Oleh: Della Fadilah Febriaanti


Ikuti kami