Uts Resume Materi Ilmu Fiqih

Oleh Nirwana Putri Awaliah

221 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Uts Resume Materi Ilmu Fiqih

RESUME MATERI ILMU FIQIH Dosen Mata Kuliah: Muhammad Arsyam AM, S.Pd.I, M.Pd (arsyam0505@gmail.com) Disusun Oleh: Nirwana Putri Awaliah (70200120038) (spongebob454454@gmail.com) PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR 2020 i KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr.wb Bismillahirrahmanirrahim Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam. Atas izin dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan resume tepat waktu tanpa kurang suatu apa pun. Tak lupa pula penulis haturkan shalawat serta salam kepada junjungan Rasulullah Muhammad SAW. Semoga syafaatnya mengalir pada kita di hari akhir kelak. Penulisan resume dengan judul “Ilmu Fiqh” ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Fiqh. Disamping itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua yang telah membantu sehingga resume ini selesai. Dengan kerendahan hati, penulis memohon maaf apabila ada kesalahan penulisan. Kami menantikan kritik dan saran yang membangun dari setiap pembaca agar perbaikan dapat dilakukan. Semoga resume ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Wassalamu’alaikum wr.wb Gowa, 27 October 2020 Penyusun ii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ....................................................................................................... i KATA PENGANTAR ..................................................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................................... iii A. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FIQIH .................................................. 1 B. HUBUNGAN ANTARA ILMU FIQIH DAN USHUL FIQH ............................ 2 C. FIQIH DAN SYARIAH .................................................................................... 3 D. KLASIFIKASI ILMU FIQIH DAN SUMBER-SUMBER FIQIH...................... 4 E. KAIDAH-KAIDAH FIQIH ............................................................................... 5 iii A. SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FIQIH Fiqih menurut bahasa bermakna : tahu dan paham, sedangkan menurut istilah, banyak ahli fiqih mendefinisikan berbeda-beda tetapi mempunyai tujuan yang sama salah satunya menurut Ulma Hanafi mendefinisikan fiqih sebagai ilmu yang menerangkan segala hak dan kewajiban yang berhubungan amalan para mukallaf. Ilmu Fiqih muncul pada masa awal berkembang agama islam. Secara esensial, fiqih sudah ada pada masa Nabi Muhammad SAW, walaupun belum menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, Ilmu Fiqih ini mulai berkembang, seiring dengan timbulnya permasalahan-permasalahan yang bermunculan dari zaman ke zaman. Permasalahan semakin berkembang dan tidak semua permasalahan yang ada terdapat di dalam nash, namun membutuhkan sebuah hokum melalui jalan istinbat setiap satu permasalahan memiliki ratusan solusi yang berbeda dari setiap ulama. Periode Rasulullah SAW dimulai sejak diangkatnya Muhammad SAW menjadi Nabi dan Rasul sampai wafat beliau periode ini sangat singkat, hanya 22 tahun beberapa bulan. Akan tetapi, pengaruhnya dari periode ini sangat besar terhadap perkembangan Ilmu Fiqih. Periode Al-Khulafaur Rasyidin bermula dari 11 hijriah dan berakhir pada abad pertama hijriah. Dinamakan dengan masa sahabat karena tasyri’ ahkam dipegang oleh sahabat Rasul. Periode awal pertumbuhan Ilmu Fiqih dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai awal abad ke-2 hijriah. Periode ini merupakan titik awal pertumbuhan Fiqih sebagai salah satu disiplin ilmu dalam islam. Dengan bertebarannya para sahabat ke berbagai daerah semenjak masa Al-Khulafaur Rasyidin (terutama sejak Utsman Bin Affan menduduki jabatan khalifah). Munculnya berbagai fatwa dan ijtihad hokum yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat didaerah tersebut. Periode keemasan dimulai dari awal abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 hijriah. Dalam periode peradaban islam pertama. Ciri khas yang yang menonjol pada periode ini adalah semangat ijtihad yang tinggi dikalangan ulama, sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu pengetahuan perkembangan pemikiran ini tidak saja dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan umum lainnya. Periode Tahrir, Takhrij, dan Tarjih dalam mashab Fiqih dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 hijriah Tahrir, Takhrij, dan Tarjih adalah upaya tiap-tiap mashab mengomentari, menjelaskan, dan mengulas pendapat imam mashab. Periode ini hampir tidak ada mujtahid sehingga muncul fanatic buta. Periode kemunduran Fiqih dimulai pertengahan abad ke-7 hijriah sampai munculnya majalah Al-Ahkam al’Addiyah (hokum perdata kerajaan Turki Usmani) pada 26 Sya’ban 1293 H. 1 B. HUBUNGAN ANTARA ILMU FIQIH DAN USHUL FIQIH Ilmu Fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hokum-hukum syara’ yang di ambil dari tafshilia. Sedangkan Ushul Fiqih adalah terdiri dari kata Ushul dan Fiqh, Ushul merupakan jamak dari Ashl, yang artinya dasar atau pokok. Tujuan Fiqh dan Ushul Fiqh: 1. Mengetahui dan memahai prinsip-prinsip, kaidah-kaidah dan tatcara pelaksanaan hokum Islam baik yang menyangkut aspek ibadah maupun muamalah untuk dijadikan pedoman hidup. 2. Melaksanaan dan mengamalkan ketentuan hokum Islam dengan benar dan bsik, sebagai perwujudan dan ketaatan dalam menjalankan ajaran Agama Islam baik dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, dengan dirinya sendiri, sesame makhluk dan dengan lingkungan sekitar 3. Dengan Ushul Fiqh kita dpat mengetahui cara berdalil yang benar, dimana banyak kaum muslimin sekarang yang berdalil dengan cara yang salah. 4. Ketika pada jaman sekarang timbul perkara-perkara yang tidak ada dalam masa Nabi, terkadang kita bingung, apa hokum melaksanakan demikian dan demikian, namun ketika kita mempelajari ushul fiqih kita akan tahu dan dapat berijtihad terhadap suatu hokum yang belum disebutkan di dalam al-qur’an dan hadits. 5. Dengan ushul fiqh kita akan mengetahui kemudahan, kelapangan dan sisi-sisi keindahan dari agama Islam. Hubungan antara ushul fiqh dan fiqh yaitu ushul fiqh sebagai ilmu, fungsi kerjanya merupakan alat untuk mendapatkan rumusan hokum fiqh, yang dihasilkan dari dalil-dalil syariat. Ilmu fiqh berkembang karena berkembangnya ilmu ushul fiqh. Ilmu fiqh akan bertambah maju manakala ilmu ushul fiqh mengalami kemajuan karena ilmu ushul fiqh adalah semacam ilmu atau alat yang menjelaskan metode dan sistem penetapan hokum berdasarkan dalil-dalil aqli maupun naqli. Sedangkan ilmu ushul fiqh adalah ilmu alat-alat yang menyediakan bermacam-macam ketentuan dan kaidah sehingga diperoleh ketetapan hokum syara’ yang harus diamalkan manusia. Contoh penerapan ilmu fiqh dan ushul fiqh 1. Pertentangan dua dalil (secara zhahir), contoh kerja ushul fiqh dalam hal ini terlihat pada penyelesaian ta’arudh (pertentangan) dua dalil hadits, seperti hadits Ibnu Abbas, dengan hadits riba fadhl riwayat Bukhari-Muslim. Menurut Ibnu Abbas, tidak ada riba fadhal, sedangkan menurut hadits Bbukhari Muslim ada riba fadhal, sedangkan menurut hadits Bukhari Muslim ada riba fadhal. Hadits riwayat Ibnu Abbas “sesungguhnya riba itu hanya ada pada nasiah” 2. Kerja ushul fiqh: pada metode Sadd Zari’ah, larangan terhadap bay’ al-‘inah, didasarkan pada dalil sad zari’ah, yaitu untuk menutupi jalan riba. Bay’ alinah hanya seperti kamuflase saja dalam menghalalkan jual beli hutang, padahal sebenarnya ia bentuk riba. 2 C. FIQIH DAN SYARIAH Fiqih adalah suatu bidang ilmu dalam syariat islam yang secara khusus membahas pesoalan hokum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi bermasyarakat, maupun kehidupan manusia dengan Tuhannya. Sedangkan syariah merupakan aturan atau undang-undang yang diturunkan oleh Allah SWT untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, mengatur hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Fungsi dari fiqih itu sendiri adalah untuk memahamkan kepada kita sebagai umat muslim agar dapat memahami, mengerti dan melaksanakan pokok-pokok hokum islam dan tata cara pelaksanaannya agar dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari. Selain itu, fiqih dalam kehidupan umat muslim bertujuan untuk memberikan pengarahan agar kita selalu berada pada jalan yang lurus dan benar yaitu hidup sesuai dengan syariat islam yang bersumber dari al-qur’an dan as-sunnah. Fungsi syariah adalah sebagai jalan atau jembatan untuk semua manusia dalam berpijak dan berpedoman. Tujuan syariah yaitu:  Memelihara agama, agama islam harus dibela dari ancaman orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang hendak merusak akidah, ibadah dan akhlak umat.  Memelihara jiwa, agama islam sangat menghargai jiwa seseorang , maka dari itu diberlakukan hokum qishas yang merupakan bentuk hokum pembalsan nyawa dibalas nyawa.  Memelihara akal, akal dibutuhkan untuk memikirkan ayat al-qur’an dan karunia (sunnatullah) menuju manusia kamil.  Memelihara harta, dengan syariat islam maka pemilik harta akan merasa lebih aman, karena islam mengenal hokum had yaitu potong tangan dan atau kaki. Sumber-sumber fiqih: o Al-qur’an, merupakan petunujuk dan pedoman bagi umat muslim dan menjadi sumber pertama bagi hokum-hukum islam. o As-sunnah, merupakan semua yang bersumber dari Nabi berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan. o Ijma’, merupakankesepakatan seluruh ulama mujtahid yang dilakukan setelah zaman Nabi Muhammad SAW dalam rangka untuk mendapatkan solusi dari suatu masalah yang berhubungan dengan agama. o Qiyas, merupakan sumber hokum islam yang dikatakan sebagai sebuah analogi. Sumber-sumber syariah:  Al-qur’an sebagai kitab suci umat islam yang diturnkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril untuk disampaikan kepada seluruh umat muslim hingga akhir zaman.  Al-haditsyang memuat segala ucapan, ketetapan maupun perbuatan Rasulullah SAW.  Ijtihad adalah sebuah usaha para ulama, untuk menetapkan al-qur’an dan alhadits. 3 D. KLASIFIKASI ILMU FIQIH DAN SUMBER-SUMBER FIQIH Fiqih adalah ilmu yang membahas tentang hokum-hukum sya’iyyah ‘amaliyyah yang diambil dari dalil-dalil terperinci (tafshili) dengan cara istidal yaitu mengambil dalil untuk menetapkan hokum dari sumbernya. Klasifikasi ilmu fiqih: 1. Ibadah, artinya pengabdian dan penyembahan seorang muslim terhadap Allah SWT., yang dilakukan dengan merendahkan diri dengan niat yang ikhlas. Dalam al-qur’an Allah SWR berfirman: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat/51:56) 2. Muamalat, ialah peraturan agama untuk menjaga hak milik manusia dalam tukar menukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat. Dan Allah SWT., berfirman: “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan, dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. AlBaqarah/2:280) 3. Munakahat, ialah undang-undang perkawinan atau akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang lai-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.dan Allah SWT., berfirman: “Maka kawinlah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinlah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS. An-Nisaa/4:3) 4. Jinayat, ialah perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan dapat menimbulkan hukuman demi menjaga harta, jiwa serta hak asai manusia. 5. Dan Allah SWT berfirman: ”Dan dalam qishas itu ada (jaminan kelangsunga) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.(QS. Al.Baqarah/2:179) Sumber-sumber fiqih: 1. Al-qur’an, merupakan kitab yang diturunkan Nabi Muhammad SAW yang sampai kepada kita dari sumber-sumber yang terpercaya. 2. As-sunnah, yaitu perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi Muhammad SAW yang dapat dijadikan dasar hokum islam. 3. Al-Ijma’, ialah kesepakatan para mujtahid atau ulama umat Nabi Muhammad SAW dalam suatu masa setelah beliau wafat atas suatu hhukum tertentu. 4. Al-Qiyas, ialah persamaan hokum sesuatu yang tidak ada dalilnya dikarenakan hamper bersamaan atau karena ada persamaan hokum. 4 E. KAIDAH-KAIDAH FIQIH Istilah kaidah-kaidah fiqh adalah terjemahan bahasa arab al-qawa’id al-fiqhiyah. Al-qawa’id merupakan bentuk plural (jamak) dari kata al-qa’idah yang secara kebahasaan berarti dasar, aturan atau patokan umum. Sedangkan kata al-fiqhiyah berasal dari kata al-fiqh yang berarti paham atau pemahaman yang mendalam (alfahm al-amiq) yang dibubuhi ya’an-nisbah utnuk menunjukkan penjenisan atau pembangsaan atau penngkategorian. Dengan demikian, secara kebahasaan, kaidah-kaidah fiqh adalah dasar-dasar, aturan-aturan atau patokan-patokan yang bersifat umum mengenai jenis-jenis atau masalah yang masuk dalam kategori fiqh. Hubungan kaidah fiqh dengan ilmu lain: 1. Hubungan qawa’id fiqhiyah dengan qawa’id ushuliyyah Kaidah ushuliyyah memuat pedoman penggalian hokum dari sumber aslinya baik al-qur,an maupun as-sunah dengana menggunakan pendekatan secara kebahsaan. Sedangkan kaidah fiqhiyyah merupakan petunjuk operasional dalam menginstinbatkan hokum islam, dengan melihat kepada hikmah dan rahasia-rahasia tasyri’. Namun, kedua kaidah tersebut merupakan patokan dalm menginstinbatkan suatu hokum, satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan, sebab keduanya saling membutuhkan, dalam sasarannya menetapkan hukum islam terhadap mukallaf. 2. Hubungan qawa’id al-fiqhiyyah dengan ushul fiqh dan fiqh Ilmu fiqh mempunyai hubungan erat dengan qawa’id al-fiqhiyyah karena kaidah al-fiqhiyyah merupakan kunci berfikir dalam pengembangan dan seleksi hokum fiqh. Dapat dikatakan bahwa ushul fiqh sebagai pengantar dari fiqh, memberikan alat atau sarana kepada fiqh dalam merumuskan, menemukan penilaian-penilaian syariat dan peraturan-peraturannya dengan cepat. Sebuah hokum fiqh tidak dapat dikeluarkan dari dalil/ sumbernya (nash alqur’an dan sunnah) tanpa melalu ushul fiqh. Ini sejalan dengan pengertian harfiah ushul fiqh, yaitu dasar-dasar (landasan) fiqh. Dengan demikian, ushul fiqh adalah sebuah ilmu yang mengkaji dalil atau sumber hokum dan metode penggalian (istinbat) hokum dari dalil atau sumbernyaa. Metode penggalian hokum dari sumbernya tersebut harus ditempuh oleh yang berkompeten. Macam-macam kaidah fiqih:  Segi fungsi/peran. Dari segi fungsi, kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sentral dan marginal.  Segi mustasnayat (pengecualian). Ditinjau dari segi pengecualiannya, kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua yaitu kaidah yang tidak memiliki pengecualian, dan kaidah yang mempunyai pengeculian.  Segi kualitas. Dibedakan menjadi beberapa macam yaitu pertama kaidah kunci, ialah seluruh kaidah fiqh pada dasarnya, dapat dikembalikan kepada satu kaidah; kedua yaitu kaidah asasi, ialah kaidah fiqh yang tingkat keshahihannya diakui oleh seluruh aliran hokum islam. 5

Judul: Uts Resume Materi Ilmu Fiqih

Oleh: Nirwana Putri Awaliah

Ikuti kami