Naskah (revisi) Artikel Ilmu Perpustakaan

Oleh Joko Iwan

139,3 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Naskah (revisi) Artikel Ilmu Perpustakaan

Naskah Artikel Ilmu Perpustakaan “Asumsi dan Kenyataan Terhadap Perpustakaan dari Segi Image Bangunannya Serta Suasana di Dalamnya” Untuk Matakuliah Penerbitan Grafis dan Elektronik Oleh: Joko Nur Sulistyawan NIM: 1550307111007 Perpustakaan, mendengar kata tersebut, pasti yang pertamakali terlintas didalam pikiran orang awam adalah sebuah gedung / ruangan yang penuh buku yang ditata secara rapi didalam rak-rak buku. Perpustakaan juga identik dengan tempat nan sunyi dan ketat. Sunyi karena ada larangan pasti jika diperpustakan dilarang berisik / gaduh dengan alasan mengganggu konsentrasi membaca dari pengunjung lainnya. Ketat karena banyaknya larangan-larangan dan peraturan-peraturan selama berada di perpustakaan. Hal-hal dari itulah yang pada akhirnya menjadi sebuah asumsi bagi masyarakat awam yang akhirnya membuat mereka enggan berkunjung ke perpustakaan. Apalagi terdapat beberapa perpustakaan yang menggunakan gedung-gedung lama yang menimbulkan kesan “angker” terhadap image perpustakaan saat ini karena kesan sunyi dan sepi yang ditimbulkan oleh faktor-faktor itulah banyak orang-orang sering menjadikan perpustakaan sebagai sasaran lokasi “urban legend” yang populer. Hal ini karena suasana dalam gedung yang sangat sunyi terutama pada saat malam telah tiba. Suasana yang sunyi tersebut akan semakin mencekam disaat kita tengah berdiam diri di perpustakaan pada malam hari. Seperti sebuah kisah yang sering kita dengar seperti pada saat kita sedang berkonsentrasi membaca buku di perpustakaan malam-malam untuk menyelesaikan tugas, tiba-tiba didepan kita duduk seorang gadis cantik yang juga tengah membaca buku. Lalu kamu mengajak berbicara dengan gadis tersebut, lalu kalian pun hanyut dalam obrolan satu sama lain. Lalu pada suatu momen kalian tanpa sengaja menjatuhkan pulpen kalian. Pada saat kalian mencoba kebawah meja untuk mengambil pulpen kalian yang jatuh. Lalu tanpa kalian sengaja melihat bahwa dia tidak punya tubuh bagian bawah alias tak terlihat. Sesudah itu, karena sadar kalian pun bergegas pulang. Lalu dia bertanya “Mau pulang karena sudah malam atau sudah tahu?” tentu saja kalian setelah itupun akan lari terbirit-birit untuk segera pulang. Tak hanya hantu itu saja, masih banyak hantu yang suka menebarkan “teror” di perpustakaan seperti salah satunya ialah hantu muka rata. Namun kenyataannya semua itu hanya sebatas rumor semata karena disebabkan oleh suasana perpustakaan yang sunyi dan suram. Hal ini ditambah pula dengan pelayanan kurang ramah yang berasal dari petugas perpustakaan yang selalu membentak pada pengunjung yang berisik didalam ruang perpustakaan. Terkadang di film-film, seorang petugas perpustakaan sering digambarkan sebagai wanita tua bertubuh tambun berkacamata dan selalu berwajah cemberut. Salah satunya dapat dilihat pada film animasi 3D berjudul Monster University. Dalam film tersebut terdapat sebuah scene yang menggambarkan sebuah adegan pada saat sebuah acara lomba dimana peserta harus mendapatkan beberapa bendera di ruang perpustakaan tanpa diketahui oleh petugas perpustakaan yang dikenal sangat galak setiap ada pengunjung membuat suara dan pergerakan di ruang perpustakaan tersebut baik sengaja ataupun tidak. Selain itu pula masyarakat kita ini lebih menonjolkan pengembangan literasi lisan daripada literasi baca. Oleh sebab itulah terkadang masyarakat kita sulit untuk diajak untuk membaca sejenak. Daripada membaca mereka lebih senang “cangkruk” di warung kopi sambil mengobrol satu sama lain. Melalui itulah justru kegiatan literatur masyarakat terjadi. Literasi lisan telah menjadi budaya di dalam masyarakat Indonesia, cerita rakyat misalnya. Cerita rakyat pada awalnya diceritakan melalui mulut ke mulut, biasanya diceritakan oleh orang tua kepada anak untuk diambil hikmahnya atau sekedar pengantar tidur semata. Karena diceritakan dari mulut ke mulut serta seringkali cerita tersebut dibumbui dengan unsur magis dan fenomena irasional bagi ilmu pengetahuan itu sendiri, sehingga terkadang menciptakan banyak versi dari cerita rakyat tersebut. Seperti contohnya kisah Bawang Merah dan Bawang Putih yang memiliki dua versi ceritanya masing-masing yaitu seperti versi pertama cerita si Bawang Putih dibantu oleh seekor ikan mas saat sedang mencuci baju di tepi sungai, lalu versi kedua dari cerita ini adalah si Bawang Putih ditolong oleh seorang nenek tua yang memberikannya semangka emas saat mengejar pakaian yang hanyut di sungai saat sedang mencuci baju. Namun inti kedua dari cerita Bawang Merah dan Bawang Putih tetaplah sama, yaitu seorang gadis yang dianiaya oleh ibu tiri dan saudara tirinya yang mana dia akhirnya dibantu oleh orang lain atas kebaikannya lalu melalui itu ia pun akhirnya terbebas dari kejahatan ibu tiri dan saudara tirinya. Kedua versi menceritakan satu buah cerita, yaitu Bawang Merah dan Bawang Putih namun keduanya mengambil jalan pemecahan masalah yang berbeda. Namun dari kedua versi cerita tersebut, versi pertamalah yang paling populer dan sering diceritakan ulang. Hal ini karean cerita rakyat sendiri adalah cerita yang dibuat oleh penulis anonim alias tidak diketahui pengarang cerita ini siapa. Sehingga cerita Bawang Merah dan Bawang Putih pun secara resmi merupakan cerita milik rakyat itu sendiri. Rakyat bebas untuk mengubah isi cerita tanpa mengubah makna utama dari inti cerita tersebut. Aliran informasi yang sering terjadi di masyarakat Indonesia adalah melalui percakapan sehari-hari. Melalui informasi lisanlah mereka sering melakukan pertukaran informasi satu sama lain. Namun metode ini memiliki kelemahan, yaitu perbedaan penutur akan merubah intisari dari sebuah informasi yang disampaikan. Seperti halnya ketika penutur aslinya menyampaikan sebuah informasi kepada seseorang yang bisa kita sebut si A, lalu setelah si A selesai mendapatkan informasi dari si penutur aslinya, lalu kemudian si A pun menyampaikan informasi yang sama kepada si B. Apa yang ditangkap dari si A tentang isi informasi yang disampaikan pada si B akan berbeda dengan yang disampaikan oleh penutur aslinya. Oleh karena itulah mengapa informasi yang disampaikan melalui lisan sering dianggap “kabar burung” karena sumber informasi ini kurang dapat dipercaya kecuali informasi lisan tersebut didapat dari penutur utamanya sebagai sumber utamanya langsung. Untuk sumber informasi lisan masih belum dapat dipastikan kebenarannya tersebut bila yang menyampaikan adalah penutur kedua. Oleh karena itulah untuk bahan penelitian diperlukan untuk langsung ke sumber informasi atau catatan-catatan informasi lainnya yang dapat dipertanggunjawabkan kebenaran isi sumber tersebut. Karena masyarakat Indonesia lebih senang mendapatkan informasi melalui percakapan lisan ketimbang membaca buku, maka kebanyakan masyarakat merasa enggan untuk membaca isi keseluruhan informasi tersebut. Kebanyakan masyarakat Indonesia saat membaca berita baik yang online ataupun tidak, mereka hanya membaca judul beritanya saja tanpa membaca keseluruhan isi berita secara detail dengan alasan keterbatasan waktu. Hal inilah yang menyebabkan maraknya penyebaran informasi hoaks seperti saat ini. Masyarakat hanya membaca judul beritanya atau membacanya sekilas tanpa membaca secara cermat isi dari berita tersebut. Dengan menggunakan judul yang bombastis, mereka dapat menggiring pembaca sehingga pembaca akan merasa “terpelatuk” dan langsung menyebarkannya ke jejaring sosial tanpa memeriksa kebenaran isi berita tersebut. Oleh sebab itulah perlu perbaikan pada perpustakaan terutama pada aura bangunan perpustakaan tersebut. Selain penambahan fasilitas pendukung seperti WIFI serta meja dan kursi sebagai tempat membaca buku, juga perlu penerapan pada pelapangan ruang serta sirkulasi cahaya matahari yang cukup untuk penerangan ruang di siang hari. Selain itu mengikuti perkembangan zaman yang mulai mengarah ke era digitalisasi informasi yang marak saat ini. Perlunya penyediaan akses internet yang cepat serta pelayanan perpustakaan yang mengutamakan kenyamanan pengunjung sebagai prioritas perpustakaan. Salah satu kenyamanan perpustakaan yang terdengar sepele namun sangat membantu pengguna perpustakaan adalah ketersediaan tangga untuk mengakses koleksi buku perpustakaan yang terletak dirak teratas yang mana sangat sulit oleh beberapa penguna perpustakaan. Kebanyakan perpustakaan di Indonesia telah menggunakan rak-rak buku yang sudah sesuai dengan standar tinggi rata-rata orang Indonesia. Namun, meski begitu perlu adanya tangga untuk memudahkan pengguna dalam mengakses buku yang terletak di rak teratas. Selain itu perlu pula penyediaan fasilitas pendukung untuk penyandang disabilitas, meskipun saat ini penyediaan fasilitas penyandang disabilitas tidak banyak disediakan oleh banyak perpustakaan diseluruh Indonesia. Hal ini terkadang banyak terjadi karena masalah anggaran yang diterima oleh perpustakaan tersebut bisa dibilang minim. Kebanyakan penggunaan anggaran tersebut telah banyak dipakai untuk mengembangkan IT ( Information Technology) guna pengembangan teknologi informasi Online bagi pengguna perpustakaan. Hal ini karena kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini lebih suka mengakses informasi melalui media online baik itu laman resmi maupun tidak. Padahal seperti yang kita ketahui banyak informasi-informasi yang beredar di internet adalah informasi-informasi yang sumbernya kebanyakan tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh pelakunya. Banyak informasi sesat yang beredar di internet yang dibuat untuk membuat resah masyarakat serta tujuan-tujuan lainnya seperti menyebarkan virus komputer. Informasiinformasi yang seperti itu sering secara populer disebut informasi hoax. Informasi hoax sering dipakai oleh pihak tertentu untuk membodohi serta menyebabkan kekacauan publik demi keuntungan pribadi pihak-pihak tak bertanggungjawab. Salah satu ciri dari informasi hoax adalah judulnya sering bersifat clickbait, yaitu sebuah istilah yang menggambarkan sebuah judul yang sangat menarik sehingga pengguna internet akaan tertarik untuk menge-klik laman web tersebut untuk membaca lebih lanjut. Namun setelah diklik ternyata hanyalah laman orang jualan produk online, bukan situs berita seperti pada umumnya. Karena terkadang informasi hoax terkadang dibuat untuk menggiring pengguna internet untuk mengunjungi website blognya untuk menambah pundipundi uangnya dari pengunjung blognya. Dan informasi hoax saat ini lebih banyak digunakan untuk menjatuhkan lawan politik serta memprovokasi massa untuk menciptakan keributan di ranah publik. Tentu saja hal ini dapat menimbulkan perpecahan bangsa yang terbentuk sudah sejak lama sejak sumpah pemuda didengungkan hampir satu abad yang lalu pada 28 Oktober1928 silam. Terhitung sudah 90 tahun sejak sumpah pemuda didengungkan oleh sejumlah perkumpulan pemuda dari berbagai daerah-daerah di seluruh Indonesia berkumpul di satu tempat untuk mengikrarkan bahwa mereka satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air. Begitu pula saat menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, para pendiri bangsa telah menciptakan ideologi pancasila yang diharapkan dapat diterima oleh semua suku dan agama yang ada di Indonesia ini. Pancasila sendiri merupakan buah pemikiran dari banyak tokoh kemerdekaan yang terlibat pada perumusan ideologi serta dasar negara pada saat itu. Putrinya, Megawati Soekarnoputri mengatakan melalui sambutannya didalam buku Investasi Hati Eka Wiryastutike yang ditulis oleh Prasetyo dan Aprilia. H (2016) bahwa beliau mengatakan jika ideologi pancasila digali dari akar kebudayaan Indonesia yang sangat beragam. Salah satu saripati dari nilai ideologi pancasila yang menjiwai tiap gerak dan langkah adalah gotong royong. Menurut beliau gotong royong adalah roh kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang memiliki makna hakiki. Baginya gotong royong adalah solusi dari segala permasalahan yang ada. Didalam ideologi pancasila tidak ada ego SARA yang mementingkan keuntungan semata bagi kelompoknya. Perpustakaan saat ini ada untuk menanggulangi ataupun meminimalisir dampak dari informasi hoaks yang marak saat ini. Di dalam perpustakaan informasi yang ada akan disaring dengan menggunakan pencarian sumbernya secara kredibel dan terpercaya. Sutarno. NS ( 2006) mengatakan bahwa perpustakaan sebagai pusat sumber pembelajaran, perpustakaan memiliki peran untuk mengembangkan dan menghimpun data-data informasi yang berdatangan ke dalam perpustakaan. Padahal dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 pasal 4 telah disebutkan bahwa perpustakaan memiliki tujuan berdiri guna memberikan pelayanan kepada pengguna perpustakaan, meningkatkan budaya gemar membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Lalu pada Undang-Undang yang sama juga dijelaskan pula fungsi utama perpustakaan pada pasal 3 UU Nomor 43 Tahun 2007 disebutkan bahwa fungsi dari perpustakaan adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Lalu pada pasal 2 juga disebutkan bahwa dasar dari penyelenggaraan perpustakaan adalah berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan. Dari paparan diatas dapat kita ambil inti sari bahwa perpustakaan secara umum menurut undang-undang telah memiliki dasar , fungsi, dan tujuan dari diselenggarakannya lembaga perpustakaan secara jelas. Salah satunya adalah tujuan dari terselenggaranya perpustakaan menurut undang-undang yaitu meningkatkan kecerdasandan keberdayaan bangsa. Hal ini sejalan dengan amanat yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) alinea ke-4 yaitu “.....ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa”. Hal ini merupakan bentuk dari penyelarasan tujuan lembaga perpustakaan dengan tujuan negara yang mana telah sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945 yang telah disebutkan diatas. Oleh sebab itulah, sudah seharusnya perpustakaan perlu memberikan pelayanan prima kepada para pengguna perpustakaan yang datang berkunjung. Seyogyanya seperti kita adalah tuan rumahnya dan pengguna adalah tamu yang datang berkunjung untuk mencari informasi sehingga kita harus mampu memberikan pelayanan terbaik yang dapat kita berikan kepada pegguna perpustakaan serta memberikan fasilitas yang dapat menambah kenyamanan mereka. Untuk dapat menarik minat baca pengunjung, informasi yang dimiliki oleh perpustakaan perlu dikemas secara baik dan menarik serta lebih variatif untuk dibaca oleh pengunjung. Selain itu perpustakaan telah memasang Wifi di dalam kawasan perpustakaan agar pengunjung dapat secara leluasa mengakses internet untuk mencari informasi diperlukan. Selain itu telah disediakan kantin jika ingin makan ataupun minum serta ruang diskusi yang disediakan apabila ingin berdiskusi tentang suatu hal. Serta perpustakaan pun telah menyediakan kursi serta meja yang nyaman sebagai tempat membaca. Daftar Pustaka DPR-RI.2007. UU Nomor 43 Tahun 2007.Jakarta. NS, Sutarno. 2006. Manajemen Perpustakaan : Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta:Sagung Seto. Prasetyo, & Hariani,Aprilia.2016.Investasi Hati Eka Wiryastuti.Jakarta: Pusat Kajian Keuangan Negara.

Judul: Naskah (revisi) Artikel Ilmu Perpustakaan

Oleh: Joko Iwan

Ikuti kami