Disposisi Filsafat Dan Ilmu Pengetahuan

Oleh Herdito Sandi Pratama

340,5 KB 10 tayangan 2 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Disposisi Filsafat Dan Ilmu Pengetahuan

DISPOSISI FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN 1 Dr. Herdito Sandi Pratama (herditosandi@gmail.com) Membicarakan filsafat dan ilmu pengetahuan seolah menempatkan dua subjek itu di luar alat analisis yang digunakan; padahal, alat yang tengah digunakan itu adalah filsafat itu sendiri. Seolah-olah, filsafat tengah membicarakan filsafat. Tentu ini refleksi atas praktik refleksi. Bagaimana ini mungkin? Jalan pikirannya akan tampak dalam uraian tulisan ini. Kemajuan praktis ilmu pengetahuan sudah sampai pada tahap yang melampaui imajinasi kita terdahulu mengenai suatu bidang penjelasan terhadap kenyataan. Kita sudah memiliki pengetahuan sistematis mengenai genome, demonstrasi fisika sudah mencakup dari level partikel hingga kosmos, dan neurologi mampu menerangkan mekanisme kognitif dan kesadaran. Ilmu pengetahuan tumbuh semakin disipliner dalam taksonomi yang mulanya merupakan totalitas domain kerja filsafat. Akhirnya, kita mengenal filsafat sebagai mother-ofsciences (induk segala ilmu pengetahuan); keterangan ini tentu saja post-factum, tidak dirumuskan oleh para filsuf pertama lantaran mereka belum membayangkan kemunculan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, frasa mother-of-sciences berfungsi secara historis, menerangkan kedudukan filsafat sebagai disiplin proto-ilmiah yang mendahului kemunculan dan kerja ilmu pengetahuan. Secara tradisional filsafat berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan besar kita mengenai realitas (the big questions), menyangkut hakikat dan struktur realitas, dasar pengetahuan kita terhadapnya, dan kedudukan kita dalam kategori nilai. Ini melahirkan fungsi pedagogis dari sistematika filsafat (ontologi, epistemologi, dan aksiologi).2 Dua pandangan umum terhadap filsafat dapat dilihat pada perdebatan mengenai fungsi filsafat. Pertama, esensi filsafat adalah praktikal; philosophos (mencintai kebijaksanaan) pada dasarnya adalah suatu kegiatan, berdimensi praktis. Dalam hal ini filsafat adalah vital enterprise yang terobsesi untuk menyelami ‘pertanyaan besar’ (the big questions).3 Kedua, filsafat adalah disiplin yang karakter distingtifnya tidak terletak pada objek kajiannya, melainkan pada metode atau gaya penyelidikannya. Dengan kata lain, filsafat tidak lagi memiliki subject-matter definitif. Ia bekerja di lapis kedua (second-order discipline) yang objek studinya tidak lagi “realitas” melainkan ‘capaian epistemik’ (epistemic achievement) terbaik kita terhadap realitas. Filsafat tidak menyelidiki realitas secara langsung, melainkan refleksi atas ‘kegiatan pengetahuan terbaik’ kita terhadap realitas, yaitu ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan berurusan langsung dengan realitas, oleh karena itu menjadi disiplin lapis pertama (first-order discipline); sementara filsafat bekerja merefleksikan cara kerja (metode), proposisi (temuan, eksplanasi, teori), dan presuposisi ilmiah. Terhadap kedua pandangan tersebut, saya mengajukan tesis bahwa keduanya tidak bisa dilepaskan satu sama lain dalam proyek penyelidikan filsafat. Pertanyaan besar yang menjadi ciri filsafat awal sebetulnya sangat bergantung pada capaian epistemik kita. Ketika fisika dan astronomi belum matang, maka pertanyaan besar kita berupa kosmologi (hakikat semesta) dan 1 Pernah disampaikan dalam diskusi dan launching “Depok Circle”, berjudul “Aku Berdiskusi, maka Aku Ada”, yang diselenggarakan oleh Komafil dan Departemen Filsafat, di Gd.4 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, pada 25 Maret 2014. 2 Apa yang dikenal sebagai sistematika filsafat (ontologi, epistemologi, dan aksiologi) tidak terpilah secara ketat, melainkan beririsan. Pentingnya membagi filsafat ke dalam tiga subsistem tersebut adalah atas dasar pertimbangan teknis-pedagogis, memudahkan penyelidikan dan pengajaran filsafat. 3 Anthony O’Hear (ed.). 2009. Conceptions of Philosophy (London: Cambridge University Press), hal. 12 kosmogoni (asal-muasal semesta). Dengan demikian, filsafat didudukkan dalam posisi historisnya. Filsafat adalah spekulasi yang tujuannya meningkatkan kondisi kemanusiaan kita.4 Capaian epistemik kita adalah ilmu pengetahuan. Dengan berkembangnya metode, yang memungkinkan tumbuhnya disiplin ilmiah, apakah filsafat tidak lagi memiliki fungsi? Apa visi filsafat di era ilmiah? Ilmuwan seperti Stephen Hawking telah memvonis kematian filsafat lantaran pertanyaan-pertanyaan dasar filsafat mengenai semesta sudah bisa diterangkan oleh fisika; setidaknya fisika mampu memberikan skema jawaban.5 Ada beberapa poin yang dapat dipertimbangkan: Pertama, ketika informasi tumbuh secara eksponensial, pengetahuan sistematis kita hanya tumbuh secara linier. Ilmu pengetahuan, sebagai pengetahuan sistematis, hanyalah satu bagian kecil dari totalitas pemahaman terhadap realitas. Teori terbaik dari disiplin ilmu pengetahuan terbaik hanyalah satu bentuk ‘pengetahuan aktual’ (actual knowledge), bukan ‘pengetahuan mungkin’ (possible knowledge) yang terbaik. Kedua, pengetahuan berciri erotetic propagation. Setiap penelitian dan penyelidikan ilmiah akan berlanjut tanpa henti. Sebab, setiap terjawabnya pertanyaan tertentu, secara inheren, akan menghasilkan sebuah presuposisi baru. Presuposisi ini akan membuat klaim-klaim ilmiah sekuat apapun menjadi bersifat open question. Pada gilirannya akan menyerang tubuh ilmu-ilmu itu sendiri.6 Setiap penyelidikan ilmiah menghasilkan atau mengumpankan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa diserap ke dalam tubuh ilmu pengetahuan.7 Setiap disiplin ilmiah memiliki presuposisi yang tidak selalu bisa diproblematisir secara eksplisit. Sekedar mencontohkan, fisika memiliki presuposisi bahwa realitas fisikal itu ada, biologi meyakini bios, sosiologi meyakini socius, psikologi meyakini psyche, dan antropologi meyakini budaya. Ketika presuposisi fundamental itu diproblematisir, maka bangunan di atasnya pun goyah. Ketiga, filsafat adalah wilayah spekulasi yang melampaui domain empiris ilmu pengetahuan.8 Sebelum munculnya ilmu pengetahuan, spekulasi filsafat terhadap realitas memang memiliki iklim yang sama dengan teologi. Perbedaannya, filsafat tidak memiliki komitmen dogmatis apapun.9 Sementara ilmu pengetahuan dibatasi oleh prosedur metodisnya: objek formal dan objek material. Spekulasi filsafat selalu mengiringi aktivitas ilmiah. Implikasi filosofis dapat dicetuskan dalam setiap proses ilmiah. Di antaranya menyangkut soal nilai (etika, estetika, logika). Preskripsi tentu bukan bagian dari domain ilmiah. Namun, setiap kegiatan ilmiah mengumpankan problem filosofis, khususnya nilai. Esensi filsafat adalah aktivitas praktikal, dengan Socrates sebagai model. Filsafat tidak berurusan dengan eksplanasi, melainkan meta-eksplanasi.10 Dalam rangka itu, pertanyaan (bukan sekedar bertanya, tetapi mempertanyakan) adalah instrumen distingtif untuk menghasilkan problem dan tantangan. Tanpa pertanyaan dan diskusi, filsafat hanya akan menjadi dogma. Padahal, filsafat adalah adogmatisme. Jika pendidikan filsafat hanya berurusan 4 Ibid., 14. Lihat Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow. 2010. The Grand Design (New York: Bantam Books), hal. 1. Fisikawan lain, Freeman Dyson, juga menyatakan bahwa filsafat insignifikan dalam kehidupan kontemporer. 6 Nicholas Rescher. 2007. Intepreting Philosophy (New Jersey: Transaction Books Rutgers University), hal. 80-83. 7 O’Hear. 2009. Op.cit., 175. 8 Ibid., 15. 9 Ibid., 19. 10 Eksplanasi adalah salah satu dari lima tujuan ilmu pengetahuan: tipologi, eksplanasi, prediksi, pemahaman, dan kontrol. Lihat Paul Davidson Reynolds. 1971. A Primer in Theory Construction (California: Bobbs-Merrill), hal. 2-13. 5 dengan mempelajari fakta sejarah, teks, serta instruksi pengajar, maka filsafat berubah menjadi dogma.11 Oleh karena itu, sejatinya filsafat bukanlah set pengetahuan, melainkan aktivitas kognitif. Tanpa pemahaman ini, kita sulit membedakan filsafat dengan khotbah. Dua orang filsuf besar berbeda pendapat mengenai problem filsafat. Menurut Karl Popper, problem filsafat yang genuine itu riil, ada, eksis. Sementara, bagi Ludwig Wittgensein, semua problem filsafat pada dasarnya adalah problem bahasa.12 Ketika kita mampu mengklarifikasi bahasa kita, maka problem (“filosofis”) itu lenyap. Wittgenstein membayangkan sejarah filsafat dipenuhi perdebatan dengan mediasi bahasa yang tidak jelas (unclear), akibatnya ketika pertanyaan yang ‘keliru’ dijawab, muncullah teori-teori filsafat. Ini tentu bisa dibaca terbalik: bahkan pertanyaan yang keliru sekalipun memiliki fungsi historisnya. Bertanya adalah intrinsik dalam kegiatan filsafat. Tidak ada kegiatan filsafat yang betul-betul terisolir; bahkan para filsuf yang menyendiri-pun (Descartes, Wittgenstein, dan lainnya) menghadirkan devil advocate virtual; menghadirkan ‘rekan’ imajiner yang fungsinya menguji argumentasi sang filsuf.13 Dengan intrinsiknya bertanya, maka filsafat adalah disiplin par excellence; tidak memiliki subject-matter tertentu dan karenanya mencakup domain yang luas; termasuk membahas dirinya sendiri. Dengan visi filsafat yang sudah saya uraikan, tentu ada konsekuensi yang bisa diperdebatkan. Di antaranya adalah bahwa filsafat sebagai bidang berdimensi praktikal (bukan expertise) membuat filsafat bisa muncul dari manapun. Filsafat dalam pengertian ini bisa muncul dari dalam dan luar departemen filsafat.14 Filsafat dan ilmu pengetahuan saling membuka jendela, berdialog, dan menerima umpan balik. DAFTAR ACUAN O’Hear, Anthony (ed.). 2009. Conceptions of Philosophy (London: Cambridge University Press), Hawking, Stephen dan Leonard Mlodinow. 2010. The Grand Design (New York: Bantam Books), Rescher, Nicholas. 2007. Intepreting Philosophy (New Jersey: Transaction Books Rutgers University) Reynolds, Paul Davidson. 1971. A Primer in Theory Construction (California: Bobbs-Merrill) Popper, Karl. 2005. Unended Quest (New York: Routledge) Williamson, Timothy. 2007. The Philosophy of Philosophy (New York: Blackwell Publishing) Artikel/Majalah Nigel Warburton. “Talk with Me” Aeon Magazine, edisi 23 September 2013. 11 Nigel Warburton. “Talk with Me” dalam Aeon Magazine, edisi 23 September 2013. Perdebatan ini terjadi ketika Popper diundang oleh Secretary of the Moral Sciences Club di Universitas Cambridge. Popper membahas papernya berjudul “Philosophical Puzzle”. Kemudian, Wittgenstein dengan sinis menyerang paper Popper dengan bertanya, “Apakah betul ada problem filsafat yang genuine?” Lihat kisahnya dalam Karl Popper. 2005. Unended Quest (New York: Routledge), hal. 138-144. 13 Warburton. 2013. Op.cit. Menurut saya, rekan imajiner tidak mesti dipersonifikasi, thought experiment pun masuk dalam kategori ini. 14 Timothy Williamson. 2007. The Philosophy of Philosophy (New York: Blackwell Publishing), hal. 1-8. 12

Judul: Disposisi Filsafat Dan Ilmu Pengetahuan

Oleh: Herdito Sandi Pratama


Ikuti kami