Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

Oleh Masyitah Addina

66,8 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

KONSEP ILMU MENURUT AL-QUR’AN Masyitah Addina Harahap Universitas Islam Negeri Sumatra Utara Masyitahharahappiaud2@gmail.com ABSTRAK Islam adalah agama yang mengajarkan rakyatnya untuk selalu belajar dan agama yang memposisikan ilmu pengetahuan dalam posisi yang mulia. Sebagai tanda keutamaan sains dalam Islam adalah sifat sains sebagai satu sifat wajib Allah SWT. Oleh karena itu, semua nabi dan rasul dikirim untuk mengajarkan pengetahuan kepada umatnya. Sains adalah pengetahuan penting bahwa orang perlu menjawab semua masalah kehidupan. Berbicara tentang pengetahuan, dalam Al Qur’an tersebar kata sains dengan semua jenis turunannya. Manusia memiliki potensi untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya dengan izin Allah. Oleh karena itu, ayat-ayat yang tersebar memerintahkan manusia untuk mengambil berbagai cara untuk mewujudkannya. Berulang kali al-Qur’an menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang yang berpengetahuan. Menurut pandangan Al-Qur’an - seperti yang dinyatakan oleh wahyu pertama - sains terdiri dari dua jenis. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa usaha manusia, disebut ‘ilm ladunni, sebagaimana diinformasikan oleh Al-Qur’an. Dengan ilmu maka semua masalah akan terpecahkan. Dengan pengetahuan orang akan dapat berperilaku lebih baik, orang akan dapat mentoleransi dengan orang lain meskipun prinsip yang berbeda. Dengan memiliki pengetahuan, kehidupan dunia yang sejahtera serta yang lebih bahagia akhirat akan terwujud. Namun seiring berjalannya waktu, hegemoni dan kolonialisme menyebabkan umat Islam cenderung meniru dan mengadopsi konsep ilmu pengetahuan Barat secara buta. Sikap ini tentu saja Kecenderungan menyebabkan kebingungan (confusition) yang berlanjut pada hilangnya identitas. Maka, upaya menggali dan mengembangkan konsep ilmu dalam alQur‘an dapat dijadikan landasan bagi upaya merumuskan kerangka integrasi ilmu pengetahuan yang genuine. Kata Kunci: ilmu, islam,pengetahuan dan metode keilmuan. PENDAHULUAN Agama Islam merupakan agama yang sangat memuliakan ilmu. Alquran dan hadis menjadi bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat mengapresiasi ilmu dan para penuntut ilmu. Islam mengangkat derajat para penuntut ilmu, dan menuntut ilmu merupakan bagian dari jihad di jalan Allah (Al Rasyidin & Jafar, 2020). Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk selalu belajar. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menggunakan akal pikiran yang sudah dikaruniakan Allah kepada manusia. Allah menciptakan manusia dari tidak tahu apa-apa. Islam juga agama yang memposisikan ilmu dalam posisi mulia. Sebagai tanda keutamaan ilmu dalam Islam adalah sifat ilmu yang menjadi salah satu sifat wajib Allah SWT. Bagaimana kalau di dunia ini tidak ada ilmu? Bayangkan saja, pasti akan kacau dan gelap gulita. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang berfikir. Manusia dianugerahi akal dan pikiran yang menjadikan dia lebih unggul dari makhluk lain dan dipercaya sebagai khalifah fil ardhi. Ilmu yang ada membuat manusia lebih baik. Dengan ilmu manusia dapat mengarahkan perilakunya, dengan perasaannya manusia mendapatkan kesenangan. Kombinasi keduanya membuat hidup manusia lebih terarah, masuk akal dan bermanfaat. Tidak dapat disangkal bahwa ilmu sangat berperan dalam kehidupan manusia, maka bekali diri kita dengan ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya. Pembahasan mengenai hal ini ditempuh dengan menggunakan metode tafsir tematik. Sebagai langkah awal, dilakukanlah inventarisasi ayatayat yang membahas tentang ilmu di dalam al-Qur’an. Dengan mengumpulkan dan mendefinisikan ayat-ayat tentang ilmu,dan juga turunannya, maka diharapkan akan bisa ditarik korelasi antara perspektif al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Selain itu, perlu kiranya bertolak pada hadis-hadis Nabi Saw agar mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang ilmu dan keutamaan bagi orang-orang yang berilmu.lmu dan derivasinya muncul berulang kali dalam al-Quran dan menempati posisi kedua setelah kata tauhid. Dalam shahih Bukhari, bab ilmu (kitab al-‘ilm) disandingkan dengan bab iman (Kitab al-iman). Hal ini menunjukkan betapa konsep ter- penting dan komprehensif yang terkandung dalam alQur‘an dan as-Sunnah adalah ilmu (‘ilm) setelah iman. Berangkat dari pemikiran ini, makalah ini mencoba men- deskripsikan konsep ilmu dalam Islam sesuai dengan al-Qur‘an dan as-Sunnah. Berikut akan dikemukakan defenisi ilmu, ilmu dan kaitannya dengan pandangan hidup (worldview), sumber, metode, klasifikasi dan tujuan memperoleh ilmu dalam Islam. SEPUTAR AYAT-AYAT TENTANG ILMU Ayat-ayat tentang ilmu banyak sekali, ditemukan tersebar di beberapa surah, seperti: Q.S al-Baqarah(2) : 145, 247, 255; Q.S Ali Imran(3): 61; Q.S al-Nisa(4): 162, 166; Q.S alAn’am(6): 100; Q.S Hud (11):14; Q.S Yusuf (12): 22; Q.S ar-Rad(13): 43; Q.S al-Isra’ (17): 60; Q.S al-Kahfi (18): 65; 66, 91; Q.S Taha (20): 110; Q.S al-Anbiya (21): 7, 74, 79; Q.S alHajj (22): 54; Q.S Asy-Syu’ara (26): 21; Q.S al—Naml (27): 40, 84; .Q.S al-Qasas (28): 78; Q.S al-Ankabut (29): 43; Q.S Sad (38): 45. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu, terdapat dalam Q.S al-Mujadilah (58): 11. Untuk itu kita diperintahkan untuk mempelajari ilmu agama (Q.S at-Taubah (9): 122), mempelajari alam dan isinya dengan akal dan ilmu [Q.S. Ali Imran(3): 190, 191; Q.S. Yunus (10): 5,6; Q.S ar-Rad(13) 3,4; Q.S. al-Nahl (16): 11, 16; Q.S. al-Isra’(17): 12; Q.S. Fatir(35): 27, 28]. Allah juga memerintahkan mempelajari kota yang dihancurkan, tentunya mempelajari dengan ilmu agar mendapatkan ibrah- Nya (Q.S. al-Hajj (22): 44, 45), mempelajari sejarah bangsa-bangsa tentu dengan ilmu (Q.S. Yusuf (12): 111; Q.S. ar-Rum (30): 9; Q.S. Fatir(35): 44), bahkan ada pula ilmu gaib (Q.S. al-Qalam(68): 47). Dengan mempelajari hal-hal tersebut, maka manusia dapat menguasai alam dengan ilmu (Q.S. al-Anbiya’ (21): 79, 82; Q.S. al-Jatsiyah (45): 12, 13). Selain itu, term ilmu sangat sering disinggung oleh al-Qur’an. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai ilmu pengetahuan diantaranya adalah: Q.S al-Anbiya (21): 30, 31, 33; Q.S al- Mukminun(23): 12, 13, 14; Q.S az-Zumar (39): 6. Menulis dan membaca adalah kunci dari ilmu pengetahuan (Q.S al-‘Alaq (96): 1, 2, 3, 4, 5, 6), sehingga dapat dipelajari ilmu pengetahuan itu sendiri (Q.S. al-Hijr (19): 43; Q.S. Taha (20): 114; Q.S. al-Hajj (22): 3, 8; Q.S. ar-Rum (30): 29, 56; Q.S Luqman (31): 20; Q.S. al-Jatsiyah (45): 17, 24; Q.S. Muhammad (47): 15). Manusia memang tiada apa-apanya, karena ilmu Allah luas tak terhingga (Q.S al-Kahfi (18): 109; Q.S. Luqman (31): 27). Maka dari itu, hanya orang-orang yang berakal yang dapat memiliki ilmu (Q.S. al-Baqarah (2): 269; Q.S. az-Zumar (39): 9). Oleh karena itu, sebagai manusia hendaknya senantiasa berdoa agar ditambahkan ilmu, sebagaimana dalam Q.S Taha (20):114. Nabi Muhammad sendiri diutus untuk mengajarkan ilmu bagi manusia, sebagaimana terdapat dalam Q.S al-Baqarah (2): 151, oleh karena itu, seperti Nabi Sulaiman juga dikaruniai ilmu dari Allah agar dapat berlaku adil secara hukum, dalam Q.S al-Anbiya’ (21): 79. DEFINISI ILMU Secara etimologis, kata ‘ilmu berasal dari bahasa Arab al-‘ilm yang berarti mengetahui hakekat sesuatu dengan sebenar-benarnya. Badr al-Din al-‘Aini mendefinisikan, bahwa ilmu secara bahasa merupakan bentuk masdar dari pecahan kata kerja ‘alima yang berarti tahu; meskipun demikian, tambahnya, kata ilmu berbeda dengan kata ma’rifah. Kata ma’rifah memiliki makna yang lebih sempit dan spesifik, sementara ilmu mempunyai makna yang lebih umum. Dalam Mufradat Alfaz al-Qur’annya, ilmu didefinisikan sebagai “Persepsi akan realitas sesuatu” (al-ilmuidrak al-shay’ bi- haqiqatihi) Ini berarti bahwa hanya memahami kualitas (misalnya bentuk, ukuran, berat, volume, warna, dan properti lainnya) dari suatu hal bukan merupakan ilmu. Definisi ini didasari pandangan filosofis bahwa setiap substansi terdiri dari esensi dan eksistensi. Esensi adalah sesuatu yang menjadikan sesuatu itu, sesuatu itu akan tetap dan sama sebelum, selama, maupun setelah perubahan. Arti- nya, ilmu adalah semua yang berkenaan dengan realitas abadi itu. Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, ilmu ditafsiri dengan sebuah sifat yang mana jika dimiliki oleh seseorang, maka menjadi jelaslah apa yang terlintas di dalam pengertiannya. Ilmu sendiri berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima-ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggris ilmu dipadankan dengan kata science, pengetahuan dengan knowledge. Dalam bahasa Indonesia kata science umumnya diartikan Ilmu tapi sering diartikan dengan Ilmu Pengetahuan, meski secara konseptual mengacu pada makna yang sama. Al-Sharif Al-Jurjani (w. 816/1413) dalam at-Ta’rifatnya men- definisikan ilmu sebagai sampainya pikiran pada makna dari suatu objek. Definisi al-Jurjani dan definisi yang dikemukakan Ibnu Sina dan al-Abhari selanjutnya dipadukan oleh Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam monografnya yang berjudul The Concept of Education in Islam. Menurut al-Attas, definisi terbaik atas ilmu adalah ‘sampainya makna dalam jiwa serta sampainya jiwa pada makna ilmu adalah tentang makna. Objek apapun, fakta maupun suatu peristiwa dikatakan diketahui seseorang jika bermakna baginya.23 Dengan demikian, dalam proses kognisi, pikiran tidak sekedar penerima pasif, tetapi ia aktif dalam arti mempersiapkan diri untuk menerima apa yang ia ingin terima (mengolah dan menyeleksi makna yang diterima secara sadar). ILMU DALAM PANDANGAN AL-QUR’AN Jika dasar ajaran dalam al-Qur’an dikupas, maka terdapat banyak sekali ayat-ayat tentang keilmuan. Kata ilmu sendiri dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam alQur’an. Kata ini digunakan dalam arti proses pencarian pengetahuan dan objek pengetahuan. ‘Ilm dari segi bahasa berarti kejelasan, karena itu segala yang terbentuk dari akar katanya mempunyai ciri kejelasan. Perhatikan misalnya kata ‘alam (bendera), ‘ulmat (bibir sumbing), ‘a’lam’ (gununggunung),‘alamat (alamat), dan sebagainya. Ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu, sekalipun demikian, kata ini berbeda dengan ‘arafa (mengetahui), a’rif (yang mengetahui), dan ma’rifah (pengetahuan). Allah SWT tidak dinamakan a’rif, tetapi ‘alim yang berkata kerja ya’lam (Dia mengetahui), dan biasanya Al-Qur’an menggunakannya untuk Allah dalam hal-hal yang diketahui-Nya walaupun gaib, tersembunyi ataupun dirahasiakan. Dalam pandangan al-Qur’an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan. Ini tercermin dari kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan al-Qur’an pada Q.S Al-Baqarah(2): 31 dan 32, Dan Dia mengajarkan kepada Adam, nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!” Mereka menjawab, “Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Manusia, menurut al-Qur’an memiliki potensi untuk meraih ilmu dan mengembangkannya dengan seizin Allah. Karena itu, bertebaran ayat yang memerintahkan manusia menempuh berbagai cara untuk mewujudkan hal tersebut. Berkali-kali pula AlQur’an menunjukkan betapa tinggi kedudukan orang-orang yang berpengetahuan. Menurut pandangan Al-Qur’an – seperti diisyaratkan wahyu pertama – ilmu terdiri dari dua macam. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, disebut dengan ‘ilm ladunni. Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, disebut juga dengan ‘ilm kasbi. Ayat-ayat mengenai ‘ilm kasbi jauh lebih banyak daripada yang berbicara tentang ‘ilm ladunni. Pembagian ini didasarkan atas pandangan al-Qur’an yang mengungkapkan adanya hal-hal yang ada tetapi tidak diketahui melalui upaya manusia sendiri. Ada wujud yang tidak tampak, sebagaimana ditegaskan berkalikali oleh al-Qur’an. Dengan demikian, objek ilmu meliputi materi dan non-materi, fenomena dan non-fenomena, bahkan ada wujud yang jangankan dilihat, diketahui oleh manusia pun tidak. Dari sini jelas pula bahwa pengetahuan manusia amatlah terbatas, karena itu wajar sekali Allah menegaskan bahwasanya pengetahuan yang kita punyai adalah sangat sedikit dibandingkan dengan segala hal yang Allah sudah tunjukkan. ILMU DAN PANDANGAN HIDUP (WORLDVIEW) Setiap masyarakat dalam kehidupannya senantiasa dipenuhi oleh nilai-nilai, aturanaturan, dan sistem kepercayaan yang mampu membentuk pola berfikir dan berperilaku para anggotanya. Dalam kehidupan sosial, biasanya seperangkat nilai, aturan, dan kepercaya- an itu akan teralirkan dari satu generasi ke generasi melalui suatu proses sosialisasi yang pada akhirnya membentuk suatu tradisi di tengah masyarakat. Itu sebabnya, sebagai suatu konsep sosio-logis, tradisi biasa diartikan meliputi worldview yang terkait dengan nilai- nilai, aturanaturan, sistem kepercayaan, dan pola berfikir masyarakat dalam keseluruhan tata cara hidupnya. Masyarakat muslim adalah suatu kelompok masyarakat yang dikenal memiliki akarakar tradisi yang kokoh, karena Islam yang mereka peluk menjadi bagian dari mata rantai sistem kepercayaan universal yang telah ada -mungkin- ratusan abad sebelumnya, sejak masa Nabi Adam. Pandangan ini didasarkan pada penegasan berbagai surat di dalam al-Qur ’an, bahwa para nabi dan rasul terdahulu mewariskan paham Ketuhanan Yang Maha Esa (tawhid) kepada umatnya masing-masing sebagaimana Nabi Muhammad mengajarkannya pada umat Islam. Kokohnya akar tradisi ini juga dikarenakan al-Qur ’an secara tegas memerintahkan orang-orang Islam agar menjadikan tawhid sebagai titik temu ‘kalimah sawa’ dan pandangan hidup bersama di antara sesama agama samawi. Dengan kata lain, Tuhan menegaskan kepada umat Islam agar terus menghidupkan tauhid itu sebagai akar-akar tradisinya, yang menjadi sumber nilai, aturan, norma, dan landasan kepercayaan hidup di berbagai fase sejarah dan dalam sistuasi sosio-kultural apapun. SUMBER ILMU DAN METODE MEMPEROLEH ILMU Sumber ilmu adalah bahasan fundamental dalam bahasan epistemology. Dari mana kita mendapatkan pengetahuan? Adakah suatu sumber ilmu? Dalam hal ini, tidak sedikit ditemukan ayat- ayat dalam al-Quran yang mengisyaratkan bahwa realitas (tampak maupun tidak) bisa menjadi sumber ilmu. Walau dalam kedudukan- nya, realitas sebagai sumber ilmu berada setelah Allah dan wahyu. Dalam surat al-ghasiyah misalnya, terdapat isyarat bahwa realitas fisik, jika diteliti akan menyampaikan informasi yang bisa dikembang- kan jadi sebuah ilmu bagi penelitinya. Atau dengan kata lain, ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa dalam proses pencapaian ilmu dibutuhkan proses penalaran yang melibatkan rasio. Senada dengan hal ini, Imam al-Bazdawiy menyatakan (cara manusia mengetahui sesuatu itu) ada tiga; Perspektif indera, reportase (khabar) dan Pembuktian (akal/rasio). Al-Attas menyatakan ilmu dapat diperoleh melalui empat jalan. (1), Panca indera yang sehat (sound senses). Panca indera kemudian dibagi menjadi dua, yakni eksternal dan internal. (2), Khabar yang benar dan otoritatif (authoritative true reports). Di sini, khabar tersebut di bagi menjadi dua, yakni mutlak (absolute authority) yang meliputi otoritas ketuhanan yang berasal dari Al-Qur’an dan otoritas kenabian yang berasal dari Rasulullah. Sedangkan yang nisbi (relative authority) meliputi kesepakatan ulama dan khabar dari orang terpercaya secara umum. (3) Akal yang sehat (sound reason). (4), Ilham (intuition). Dengan demikian ilmu dari Allah yang sampai pada manusia melalui empat jalan di atas, ditanggapi oleh akal sebagai realitas ruhani dalam kalbu manusia sekaligus yang mengendalikan proses kognitif manusia. Melalui kalbu, jiwa rasional (an-nafsu an-natiqah) bisa membedakan antara kebenaran (al-haq) dari kesalahan (al- bathil). Akal dalam arti kata ratio atau reason tidak berlawanan dengan intuisi (wijdan). Artinya, dalam hal ini, akal dan intuisi saling berkaitan dan bersatu melalui intelek (intellect). KEUTAMAAN ILMU Islam juga agama yang memposisikan ilmu dalam posisi mulia. Sebagai tanda keutamaan ilmu dalam Islam adalah sifat ilmu adalah salah satu sifat wajib Allah SWT. Banyak ayat yang menjelaskan tentang ilmu, seperti Q.S. al-An’am (6): 3; Allah telah memberi anugerah ilmu kepada Rasul-Nya, Q.S. an-Nisaa (4): 133. Selain itu ilmu membuat seseorang jadi mulia, baik di hadapan manusia juga di hadapan Allah, seperti firman Allah Q.S. al-Mujaadilah (58): 11. Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan keutamaan ilmu dalam Islam. Dalam Durratun Nasihin, diterangkan bahwa ilmu itu lebih utama daripada amal, ditilik dari lima segi yaitu: 1. Ilmu tanpa amal tetap ada sedangkan amal tanpa ilmu tidak akan terlaksana. 2. Ilmu tanpa amal tetap bermanfaat, sedangkan amal tanpa ilmu tidak akan bermanfaat. 3. Amal bersifat tetap/pasif, sedangkan ilmu bersifat aktif bersinar bagai lampu. 4. Ilmu adalah perkataan para nabi49, 5. Ilmu adalah sifat Allah Ta’ala, sedangkan amal adalah sifat para hamba, sifat Allah Ta’ala lebih utama daripada sifat para hamba.(Tafsiirut Taisiiri). Sebagaimana telah disinggung di muka, kemuliaan seseorang yang mencari ilmu adalah karena ia mau bersyukur terhadap apa yang Allah berikan kepadanya, maka Allah memberikan keutamaan-keutamaan, diantaranya adalah: a. Mendapatkan kemuliaan. b. Mendapatkan kemuliaan derajat. c. Pemutus perkara sebagaimana Rasulullah. d. Menjadi tempat bertanya Nabi Muhammad (orang berilmu tertentu). e. Mendapatkan martabat tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya (Warasatul Anbiya’). f. Orang yang berilmu adalah orang yang mengetahui kebenaran Tuhan dan hatinya tunduk g. Ilmuwan/peneliti yang bisa menentukan peninggalan masa lalu h. Orang yang berilmu dan mengerti adalah orang yang mengerti bahasa. Dengan adanya ilmu yang dimiliki maka mampu berkomunikasi dengan baik dan benar. i. Orang yang berilmu mendapat balasan yang baik.59 j. Pengakuan/keyakinan orang-orang yang berilmu bahwa iman dan amal shaleh adalah jalan kebaikan. PENUTUP Dari uraian diatas, dapat kita simpulkan betapa Islam sebagai peradaban sangat menaruh perhatian besar pada ilmu. Baik pemaknaan, sumber dan klasifikasinya diwarnai oleh pandangan akan hadirnya Tuhan dalam setiap proses kehidupan manusia. Ilmu sebagaimana diuraikan diatas merupakan system pemaknaan akan realitas dan kebenaran, bersumber pada wahyu yang didukung oleh rasio dan intuisi. Olah rasio tersebut meliputi nalar (nadzar) dan alur fikir (fikr). Dengan proses tersebut akal akan dapat berartikulasi, menyusun proposisi, menyatakan pendapat, berargumentasi, membuat analogi, membuat keputusan, serta menarik kesimpulan. Sebagai instrumen penuntun manusia, ilmu memungkinkan manusia untuk mengetahui (‘ilm), mengenal (ma‘rifah), memilih (ikhtiyar), memilah (tafriq), membedakan (tamyiz), menilai dan menentukan (hukm) atas segala sesuatu. Wa Allah al-Hadi Ila al- Shawab. Islam adalah agama ilmu, dengan merujuk pada ayat pertama yang turun (Q.S. al-‘Alaq (96): 1-5; Q.S al-Baqarah (2): 30-33, dan masih banyak lagi). Ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra’ haruslah dengan bismirabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam. Falsafah dasar yang terkandung dalam term iqra’ dalam alQur’an memerintahkan setiap orang Islam agar beriman secara total tanpa ada ruang sekecil apapun keraguan bahwa ia harus membaca, sebagai respon terhadap perintah membaca ‘iqra’ (bacalah). Kebenaran perintah membaca didasarkan pada iman. Implikasi lebih lanjut, bagi yang mau membaca berarti beriman, dan bagi yang tidak membaca berarti tidak beriman. Begitu pentingnya membaca, memahami, meneliti, dan menghayati realitas wujud ini maka peranan akal pikiran dan hati menjadi kekuatan potensial yang melebihi kekuatan makhluk ciptaan Allah yang lain, bahkan ketika manusia memikirkan dirinya yang menjadi teka-teki bagi pencarian eksistensi wujud kemanusiaan, terus-menerus dilakukan para ulama dan filsuf. Tidak bisa dikatakan ada pertentangan antara agama Islam pada satu pihak dan ilmu pengetahuan, penggunaan kekuatan akal, pada sisi yang lain. Agama Islam mendorong manusia menggunakan ra’yu-nya dalam menghampiri kebenaran. (Q.S. al-Baqarah (2): 269; Q.S. Ali Imran (3): 7-8, 18; Q.S. al-Isra’(17): 36, 107, dan masih banyak lagi). Islam mengakui bahwa akal adalah merupakan salah satu alat atau sarana yang sangat penting bagi manusia. Di samping sebagai alat untuk pengembangan Ilmu Pengetahuan yang amat dihajatkan oleh manusia dalam kehidupannya, akal juga merupakan salah satu sebab adanya taklif atau agama yang dibebankan kepada manusia. Bahkan akal merupakan sumber hukum ketiga yaitu diistilahkan Ijtihad. Perlu ditegaskan bahwa meskipun akal mempunyai kedudukan dan posisi sangat penting, tapi dalam Islam bukanlah akal ansich merupakan faktor utama yang menjadikan manusia makhluk termulia dan terbaik.61 Karena bagaimanapun akal tidak dapat dijadikan sebagai faktor penentu dan dilepaskan bebas dalam menetapkan kebenaran tanpa bimbingan dari unur-unsur lain yang dianugerahkan kepada manusia seperti rasa, keyakinan (iman) dan syariat (wahyu). DAFTAR PUSTAKA Al Rasyidin & Jafar, J. (2020). Filsafat Ilmu dalam Tradisi Islam. Medan: Perdana Publishing. Abd al-Rahman Badawi, Mu’allafat al-Ghazali (Kuwait: Wakalat al- Matbu‘at, 1977). Abdul Hamid Rajih al-Kurdi, Nazariah al-ma‘rifah bain al-Qur‘an wa al-Falsafah, Riyadh, Makrabah Muayyad wa al-Ma‘had al- ‘Ali li al-Fikr al-Islami, al-Mamlakah al‘Arabiyah al-Su‘udiyah Abi ‘Abdillah al-Bukhari. Sahih Bukhari. Hadits ke 77 Al-Isfahani, Mufradat Alfaz al-Qur’an, ed. Safwan ‘A. Dawudi (Damascus: Dar al-Qalam, 1412/1992) Dr Syamsuddin Arif, Defining and Mapping Knowledge In Islam, dalam makalah yang disampaikan pada seminar Pascasarjana di ISID Imam al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1420/1999), Jilid I Yasien Mohammed, The Path to Virtue (Kuala Lumpur: ISTAC, 2006). Anshari, Endang Saifudin. Wawasan Islam, Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma Dan Sistem Islam. Jakarta: Gema Insani. 2004. As’ad, Aliy. terjemahan Ta’limul Muta’allim Thariqal Ta’alimmu. Kudus: Menara Kudus. 1978. Asyarie Sukmadjaya dan Rosy Yusuf. Indeks Al-Qur’an. Bandung: Pustaka. 2006. Baiquni, Achmad. Al-qur’an: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta: Bentang Intervisi Utama pt. 1994. Lutfiah, Zeni dkk. Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Karakter Berbasis Agama Islam. Surakarta: Yuma Pustaka dan UPT MKU UNS. 2011. Rahmat, Jalaludin. Islam Alternatif. Bandung: Mizan. l988. Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an: Fungsidan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan. 2013.

Judul: Konsep Ilmu Menurut Al-qur'an

Oleh: Masyitah Addina


Ikuti kami