Makalah Alazhar Ilmu Pendidikan Islam.docx

Oleh Denny. Pfc C O P Y Center

164,4 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Makalah Alazhar Ilmu Pendidikan Islam.docx

MAKALAH ILMU PENDIDIKAN ISLAM “ Sumber Biaya Pendidikan “ Disusun Oleh : NAMA : SADINIARTI NPM / SMT : PROGRAM STUDI : PAUD MATA KULYAH : FILSAFAT UMUM DOSEN PENGAMPUH : RENI MARLENA, MA YAYASAN PERMATA NUSANTARA INSTITUT AGAMA ISLAM AL-AZHAR LUBUKLINGGAU TAHUN AJARAN 2018. 2 KATA PENGANTAR Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Sumber Biaya Pendidikan “ ini dengan baik. Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas terstruktur yang diberikan Dosen pengajar mata kuliah, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Al – Azhar Lubuklinggau. Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, saran dan kritik yang membangun perbaikan makalah ini sangat penulis harapkan dari pembaca, guna memperbaiki dan meningkatkan pembuatan makalah atau tugas yang lainnya pada waktu mendatang. Kiranya yang Maha Kuasa tetap menyertai kita sekalian, dengan harapan pula agar karya ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya. .............................................. Penyusun SADINIARTI DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan masalah Tujuan Masalah BAB II PEMBAHASAN Kritisisme Riwayat Hidup Immanuel Kant 2.3 Tujuan Filsafat Immanuel Kant.........................................................................................7 2.4 Macam-macam Kritik menurut Immanuel Kant...............................................................7 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan......................................................................................................................13 DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................14 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Dalam berbagai level kehidupan, pendidikan memainkan peran yang sangat strategis. Pendidikan memberi banyak peluang untuk meningkatkan mutu kehidupan. Dengan pendidikan yang baik, potensi kemanusiaan yang begitu kaya pada diri seseorang dapat terus dikembangkan. Pada tingkat sosial, pendidikan dapat mengantarkan seseorang pada pencapaian dan strata sosial yang lebih baik. Secara akumulatif, pendidikan dapat membuat suatu masyarakat lebih beradab. Dengan demikian, pendidikan, dalam pengertian yang luas, berperan sangat penting dalam proses transformasi individu dan masyarakat. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang diharapkan ini, tidak mungkin terjadi secara alamiah dalam arti tanpa usaha dan pengorbanan. Mutu dari keluaran yang diharapkan banyak dipengaruhi oleh besarnya usaha dan pengorbanan yang diberikan. Semakin tinggi tuntutan mutu, akan berdampak pada jenis dan pengorbanan yang harus direlakan. Pengorbanan yang diterjemahkan menjadi biaya merupakan faktor yang tidak mungkin diabaikan dalam proses pendidikan. Oleh karena itu dapat diperkirakan bagaimana sulitnya seseorang yang tidak memiliki kemampuan ekonomis untuk akses pada pendidikan yang bermutu. Hal ini tidak berarti bahwa hanya orang kaya yang akan memperoleh pendidikan, disini letak peranan pemerintah untuk membangkitkan peran masyarakat dalam arti luas untuk ikut ambil bagian dalam proses pendidikan, untuk itu dituntut keterbukaan dari pemerintah dalam hal pengelolaan biaya yang disediakan melalui APBN setiap tahun, hanya dengan keterbukaan, yang didukung oleh kemampuan pemerintah untuk meyakinkan masyarakat bahwa pengelolaan anggaran pendidikan sudah bebas dari korupsi, kolusi, partisipasi masyarakat akan tumbuh. Partisipasi ini sangat penting kecuali pemerintah menyediakan biaya yang diperlukan untuk seluruh proses pendidikan. Dalam perkembangan dunia pendidikan dewasa ini dengan mudah dapat dikatakan bahwa masalah pembiayaan menjadi masalah yang cukup pelik untuk dipikirkan oleh para pengelola pendidikan. Karena masalah pembiayaan pendidikan akan menyangkut masalah tenaga pendidik, proses pembelajaran, sarana prasarana, pemasaran dan aspek lain yang terkait dengan masalah keuangan. Fungsi pembiayaan tidak mungkin dipisahkan dari fungsi lainnya dalam pengelolaan sekolah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pembiayaan menjadi masalah sentral dalam pengelolaan kegiatan pendidikan. Ketidakmampuan suatu lembaga untuk menyediakan biaya, akan menghambat proses belajar mengajar. Hambatan pada proses belajar mengajar dengan sendirinya menghilangkan kepercayaan masyarakat pada suatu lembaga. Namun bukan berarti bahwa apabila tersedia biaya yang berlebihan akan menjamin bahwa pengelolaan sekolah akan lebih baik. Dalam memahami permasalahan pembiayaan pendidikan di Indonesia, kita perlu memahami permasalahan apa saja yang timbul serta alternatif penyelesaiannya. Pemahaman tentang pembahasan ini juga akan membawa kita pada bagaimana praktik pelaksanaan pembiayaan pendidikan beserta permasalahan-permasalahan yang timbul dalam pelaksaaannya. B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini penulis akan membicara sedikit banyak tentang Pembiayaan Pendidikan Islam, dan hal-hal yang menyangkut dengan pembiayaan pendidikan Islam. C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisannya yaitu untuk mengetahui Pembiayaan Pendidikan Islam, dan halhal yang menyangkut dengan pembiayaan pendidikan Islam. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Pembiayaan Pendidikan. Pembiayaan pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai ongkos yang harus tersedia dan diperlukan dalam menyelenggarakan pendidikan dalam rangka mencapai visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategisnya. Pembiayaan pendidikan tersebut diperlukan untuk pengadaan gedung, infrastruktur dan peralatan belajar mengajar, gaji guru, gaji karyawan dan sebagainya. Timbulnya pembicaraan pembiayaan pendidikan itu antara lain terjadi seiring dengan terjadinya pergeseran dari kegiatan belajar mengajar yang semula dilakukan secara invidual dan sambilan dalam situasi ilmu pengetahuan yang belum berkembang, menjadi kegiatan belajar mengajar yang dilakukan secara khusus dan profesional dalam situasi ilmu pengetahuan sudah mulai berkembang. Dalam situasi yang terakhir ini, proses belajar mengajar tidak dapat lagi dilakukan secara sambilan dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada seperti masjid atau bagian tertentu dari rumah guru, melainkan sudah memerlukan tempat yang khusus, sarana prasarana, infrastruktur, guru dan lainnya yang secara khusus diadakan untuk kegiatan belajar dan mengajar. Dalam situasi yang demikian itulah, maka pembiayaan pendidikan merupakan bagian yang harus diadakan secara khusus. Di dunia Islam, khususnya pada zaman klasik (abad ke-7 hingga 13 M), kesadaran untuk mengeluarkan biaya yang besar untuk kegiatan pendidikan sesungguhnya sudah pula terjadi. Namun berbeda motif dan tujuannya dengan motif dan tujuan yang dilakukan negara-negara maju sebagaimana tersebut di atas. Di zaman klasik atau kejayaan Islam, motif dan tujuan pengeluaran biaya pendidikan yang besar bukan untuk mencari keuntungan yang bersifat material atau komersial, melainkan semata-mata untuk memajukan umat manusia, dengan cara memajukan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradabannya. B. Dasar dan Sumber Biaya Pendidikan Islam Sumber dana dapat diperoleh melalui : 1. Wakaf Wakaf adalah sumbangan dalam pengertian umum merupakan hadiah yang diberikan untuk memenuhi banyak kebutuhan spiritual dan temporal kaum muslimin. Dana-dana yang diperoleh dari sumbangan tersebut digunakan untuk membangun dan merawat tempat ibadah, mendirikan sekolah dan rumah sakit, menafkahi para ulama dan da’i, mempersiapkan kebutuhan kaum muslimin dan memasok senjata bagi para pejuang yang berperang di jalan Allah. 2. Zakat Pendidikan termasuk ke dalam kepentingan sosial, sudah sepantasnya zakat dapat dijadikan sumber dana pendidikan. Dana zakat harus dikelola secara profesional dan transparan agar sebagiannya dapat dipergunakan untuk membiayai lembaga pendidikan islam. 3. Shodaqoh Shodaqoh atau disebut juga shodaqoh sunnah, merupakan anjuran agama yang sangat besar nilainya. Orang yang bersedekah pada jalan Allah akan mendapat ganjaran dari Allah tujuh ratus kali nilainya dari harta yang disedekahkan, bahkan melebihi dari itu. Dari penjelasan di atas maka sedekah pula dapat dijadikan sumber pembiayaan pendidikan seperti untuk gaji pengajar, beasiswa maupun untuk sarana dan prasarana pendidikan islam. 4. Hibah Hibah adalah pengeluaran harta semasa hidup atas dasar kasih sayang untuk kepentingan seseorang atau untuk badan sosial, keagamaan dan ilmiyah. Melihat pengertian hibbah, jelas bahwa hibbah ini termasuk salah satu sumber pembiayaan dalam pendidikan.[4] C. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Dana Pendidikan dalam Islam Terdapat sejumlah prinsip yang menjadi pegangan dalam pengelolaan dana pendidikan dalam Islam. Prinsip ini sebagai berikut : 1. Prinsip keikhlasan. Prinsip ini antara lain terlihat pada dana yang berasal dari wakaf sebagaimana tersebt di atas. 2. Prinsip tanggung jawab kepada Tuhan. Prinsip ini antara lain terlihat pada dana yang berasal dari para wali murid. Mereka mengeluarkan dana atas dasar kewajiban mendidik anak yang diperintahkan oleh Tuhan, dengan cara membiayai pendidikan anak tersebut. 3. Prinsip suka rela. Prinsip ini antara lain terlihat pada dana yang berasal dari bantuan hibah perorangan yang tergolong mampu dan menyukai kemajuan Islam. 4. Prinsip halal. Prinsip ini terlihat pada seluruh dana yang digunakan untuk pendidikan yang berasal dari dana yang halal dan sah menurut hukum Islam. 5. Prinsip kecukupan. Prinsip ini antara lain terlihat pada dana yang dikeluarkan oleh pemerintah dari kas negara. 6. Prinsip berkelanjutan. Prinsip ini antara lain terlihat pada dana yang berasal dari wakaf yang menegaskan bahwa sumber (pokok) dana tersebut tidak boleh hilang atau dialihkan kepada orang lain, yang menyebabkan hilangnya hasil dari dana pokok tersebut. 7. Prinsip keseimbangan dan proporsional. Prinsip ini antara lain terlihat dari pengalokasian dana untuk seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan, seperti dana untuk membangun infrastruktur, sarana prasarana, peralatan belajar mengajar, gaji guru, beasiswa para pelajar dan sebagainya.[5] D. Sumber Dana Lainnya yang Halal dan Tidak Mengikat Bagi lembaga pendidikan Islam di Indonesia, seperti pesantren dan madrasah selain sumber diatas bisa pula memperoleh dana yang berasal dari sumber lainnya baik sumber intern maupun sumber ekstern. 1. Sumber Dana Intern Sumber dana lembaga pendidikan Islam dapat diperoleh dari : a. Membentuk Badan Usaha atau Koperasi b. Upaya lain yang dapat menjadi sumber dana bagi lembaga pendidikan Islam ialah adanya Badan Usaha dalam bentuk UKM (Usaha Kecil dan Menengah), Koperasi dan BMT (Baitulmal Watamwil). Badan Usaha tersebut tentunya disesuaikan dengan kondisi dimana lembaga Pendidikan itu berada. c. Membentuk Lembaga Amil Zakat, Infaq, Sadaqah, dan Wakaf. d. Membentuk Badan Kerjasama antara Lembaga Pendidikan Islam/Yayasan dengan Orangtua Murid. 2. Sumber Dana Ekstern Sumber Dana Ekstern dapat diusahakan dengan cara : a. Membentuk donatur tetap b. Mengupayakan bantuan Pemerintah c. Bantuan luar negeri E. Pentingnya Peralatan dalam Meningkatkan Mutu Sekolah Dalam pengertian yang luas, peralatan pendidikan adalah semua yang digunakan guru dan murid dalam proses pendidikan. Ini mencakup perangkat keras dan perangkat lunak. Perangkat keras misalnya gedung sekolah dan alat laboratorium; perangkat lunak umpamanya kurikulum, metode, dan administrasi pendidikan. Orang Islam Indonesia sekarang ini sudah mengetahui perlunya tersedia alat-alat pendidikan untuk membangun sekolah yang bermutu. Akan tetapi, itu bukan berarti pengetahuan mereka itu cukup teliti, juga belum berarti bahwa teori-teori tentang itu sudah benar-benar dikuasai mereka. Alat-alat pendidikan yang mendasar, seperti tempat belajar dan alat-alat belajar yang sederhana memang sudah dikenal mereka. Akan tetapi, untuk yang ini pun kita masih menyaksikan begitu sederhananya pikiran orang Islam Indonesia. Kita masih menyaksikan adanya pembanguna sarana belajar yang kelihatannya kurang direncanakan dengan baik. Mungkin saja sebabnya adalah belum dikuasainya teori-teori baru tentang itu. Kendala yang sudah jelas, dan sering sekali dikemukakan, ialah kekurangan biaya. Gedung sekolah yang mempunyai ruang-ruang belajar yang memenuhi syarat, jelas lebih memberikan kemungkinan kepada siswa untuk belajar lebih enak dibandingkan dengan ruang belajar yang sempit, udara yang kurang lancar sirkulasinya, cahaya yang kurang memenuhi syarat. Dalam menghadapi masalah ini, satu saran perlu diberikan yaitu rencanakanlah pembangunan gedung dengan hati-hati, dan buatlah rencana menyeluruh. Dengan perencanaan yang menyeluruh dan teliti, penghematan dana dapat dilakukan. Dengan kata lain, penghamburan dana secara mubazir dapat saja terjadi karena keliru dalam membuat rencana pembangunan peralatan. F. Pendapatan Guru Madrasah dan Ulama yang Mengajar di Masjid Suatu hal yang perlu didasari bahwa pengajar di masjid adalah ulama-ulama yang sudah terkenal keilmuan mereka serta sudah teruji dihadapan syeikh dan termasyhur kesalihannya di tengah-tengah masyarakat. Adapun sumber-sumber penghasilan mereka bermacam-macam dan sangat etrgantung pada pribadi ulama itu sendiri. Sumber-sumber tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Kekayaan sendiri 2. Hasil karya tulis 3. Sumbangan dan hadiah dermawan.[10] BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. Pembiayaan pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai ongkos yang harus tersedia dan diperlukan dalam menyelenggarakan pendidikan dalam rangka mencapai visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategisnya. 2. Pembiayaan pendidikan tersebut diperlukan untuk pengadaan gedung, infrastruktur dan peralatan belajar mengajar, gaji guru, gaji karyawan dan sebagainya. B. Saran Kami yakin dalam penyusunan makalah ini belum begitu sempurna karena kami dalam tahap belajar, maka dari itu kami berharap bagi kawan-kawan semua bisa memberi saran dan usul serta kritikan yang baik dan membangun sehingga makalah ini menjadi sederhana dan bermanfaat dan apabila ada kesalahan dan kejanggalan kami mohon maaf karena kami hanyalah hamba yang memiliki ilmu dan kemampuan yang terbatas. DAFTAR PUSTAKA Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana, 2010. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002. Usman Husein, Sejarah Pendidikan Islam, Yogyakarta: Ar-Raniry Press, 2008. [1] Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), hal. 219. [2] Ibid [3] [4] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hal.293-298 [5] Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam.............hal.229-230 [6] Ramayulis, [7] Ibid, hal 220-221 Ilmu Pendidikan Islam......hal.298-300 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hal. 90. [8] Ibid, hal92 [9] Ibid, hal 93 [10] Usman Husein, Sejarah Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Ar-Raniry Press, 2008), hal. 81-83.

Judul: Makalah Alazhar Ilmu Pendidikan Islam.docx

Oleh: Denny. Pfc C O P Y Center

Ikuti kami