Landasan Ilmu Nutrisi 7: Vitamin

Oleh Muhammad Ali Ardi

117,3 KB 8 tayangan 1 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Landasan Ilmu Nutrisi 7: Vitamin

7. Vitamin 7.1 Klasifikasi Vitamin 7.2. Vitamin yang Larut dalam Lemak vs Vitamin yang Laru dalam Air 7.3. Vitamin yang ada dalam Alam 7.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan Vitamin 7.5. Suplemen Vitamin 7.6. Stabilitas Vitamin 7.7. Keracunan Vitamin Sebelum abad ke 20, ahli nutrisi pada awalnya menganggap bahwa hanya karbohidrat, lemak, protein dan beberapa mineral yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh ternak, tetapi kemudian ada senyawa organik lain yang terlihat di dalam ransum dan dibutuhkan juga untuk keehatan. Pada tahun 1906, F.G. Hopkin menyebut senyawa yang ada dalam ransum tersebut adalah “factor pelengkap makanan” dan tahun 1911 C. Funk memperkenalkan kata “Vitamin”. 7.1 Definisi Vitamin Vitamin adalah senyawa organik yang merupakan: a) komponen yang ada dalam makanan tetapi berbeda dari karbohidrat, protein, lemak dan air; b) terdapat didalam makanan dengan jumlah sedikit; c) sangat penting untuk pertumbuhan, hidup pokok dan kesehatan ternak; d) jika tidak ada dalam makanan atau penyerapan dan penggunaan yang rendah mengakibatkan penyakit atau sindrom defisiensi yang khas; serta e) tidak bisa disintesis oleh hewan dan harus ada dalam makanan. Definisi tersebut diatas ada beberapa kecualian, yaitu vitamin D bisa disintesis pada permukaan kulit oleh adanya sinar ultraviolet. Asam nikotinat bisa disintesis dari asam amino triptopan, tetapi kucing dan ikan kurang efisiensi dalam mengkonversi metabolik ini atau pada ternak yang kekurangan triptopan. Sebagian hewan mampu mensintesis asam askorbat bila di dalam tubuhnya adan enzim L-gulonolactone axidase kecuali guinea pig dan manusia tidak bisa mensinetsis vitamin C. Sebagian besar hewan mempunyai kapasitas metabolik untuk mensintesis kholin, walaupun beberapa hewan seperti anak ayam dan Tikus tidak sanggup menggunakan kapasitas ini bila didalam makanannya kekurangan senyawa donor methil. Bab-7: Vitamin VII-1 7.2 Klasifikasi Vitamin Berdasarkan kelarutannya vitamin dibagi menjadi vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut dalam air. Tabel 7.1. Klasifikasi Vitamin Vitamin A Vitamin E Thiamin Niasin Biotin Folat Vitamin B Vitamin yang larut dalam lemak Vitamin D Vitamin K Vitamin yang larut dalam air Riboflavin Vitamin B6 Asam Pantothenat Vitamin B12 7.3 Vitamin Larut dalam Lemak vs Vitamin Larut dalam Air Komposisi Kimia Vitamin larut dalam lemak hanya mengandung carbon, hydrogen dan oksigen, tetapi vitamin yang larut dalam air mengandung carbon, hydrogen dan oksigen di tambah ada yang mengandung nitrogen, sulfur atau cobalt. Kejadian Vitamin umumnya berasal dari jaringan tanaman kecuali vitamin C dan D yang terdapat dalam jaringan hewan hanya jika hewan mengkonsumsi makanan yang mengandung mikroorganisme yang mensintesisnya. Vitamin yang larut dalam lemak terdapat dalam jaringan tanaman dalam bentuk provitamin (precursor vitamin) yang bisa diubah menjadi vitamin di dalam tubuh. Vitamin yang larut dalam air tidak ada dalam bentuk provitamin. Triptopan bisa diubah menjadi niasin, tetapi triptopan tidak disebut sebagi provitamin. Kegiatan Fisiologis Vitamin B larut dalam air sebagian besar terlibat di dalam transfer energi, karena vitamin ini ada disetiap jaringan hidup, tersedia dan dibutuhkan. Vitamin larut dalam lemak dibutuhkan di dalam pengaturan metabolisme. Penyerapan Vitamin yang larut dalam lemak diabsorbsi dari saluran pencernaan bila ada lemak. Banyak faktor yang meningkatkan penyerapan lemak, seperti ukuran partikel atau adanya empedu akan meningkatkan vitamin yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam air penyerapannya sederhana, seiring dengan penyerapan air dari saluran pencernaan masuk ke dalam aliran darah. Penyimpanan Bab-7: Vitamin VII-2 Vitamin yang larut dalam lemak dan dalam air berbeda dalam penyimpanannya di dalam tubuh. Vitamin larut dalam lemak bisa disimpan pada deposit lemak. Penyimpanan meningkat dengan meningkatnya konsumsi vitamin larut dalam lemak. Vitamin larut dalam air tidk disimpan, karena setiap sel hidup mengandung semua vitamin B. Gejala defisiensi tidak terlihat segera tetapi mengikuti kekurangannya dalam makanan. Ekskresi Vitamin larut lemak diekskresikan di dalam feses. Vitamin larut dalam iar juga dosekresekan dalam feses (kadang-kadang ada dari sintesis mikroba) tetapi jalur ekskresinya terutama melalui urine. 7.4 Vitamin yang ada di Alam Vitamin ditemukan pada konsentrasi yang sangat bervariasi dalam bahan makanan, tetapi tidak ada satupun bahan makanan yang mengandung semua vitamin dalam jumlah yang optimal untuk ternak (Tabel 7.2). Tabel 7.2. Komposisi Vitamin pada beberapa bahan makanan Vitamin Ketersediaan (%) Bahan Makanan Riboflavin 0 Corn/soybean meal Niacine 0 0-30 100 10-15 60 38-45 58-65 20-40 60 0 100 10-20 75-100 86 <50 Wheat, sorghum Corn Soybean meal Cereal grains Oilseeds Corn Soybean meal Grains Barley, wheat, sorghum Barley, wheat Soybean meal Sorghum Corn Meat and bone Barley, wheat, sorghum Pyridoxine Pantothenat acid Biotin Sumber NRC, 1994 Kontribusi vitamin yang ada pada semua bahan makanan harus diperhitungkan, jika kekurangan di dalam makanan harus disuplementasi dengan sumber vitamin sintetis yang mempunyai potensi tinggi. Sebagian besar vitamin diperoleh dari makanan asal tanaman. Hewan mendapatkan vitamin bila mengkonsumsi makanan tersebut. Hewan yang mempunyai mikroorganisme didalam tubuhnya bisa mensintesis vitamin larut dalam air. Provitamin A (β-caroten) dan menaquinone (vitamin K2) bisa disintesis oleh mikroorganisme. Vitamin B12 hanya bisa disintesis oleh mikroorganisme tertentu tidak bisa disintesis oleh tanaman atau hewan. Bab-7: Vitamin VII-3 Konsentrasi vitamin pada sebagian besar hasil panen sangat dipengaruhi oleh lokasi penanaman seperti tipe tanah, pupuk yang digunakan, varietas tanaman, umur panen dan kondisi pengeringan dan penyimpanan. Demikian juga infeksi jamur pada jagung dan cereal lainnya umumnya menyebabkan rendahnya kadar vitamin larut dalam lemak, karena jamur selalu memanfaatkan bagian lembaga biji yang terdapat sebagian besar vitamin larut lemak. Beberapa vitamin tidak stabil selama proses pemanasan khusunya vitamin A, D3, E, K, C dan tiamin. Selama penyimpanan makanan/bahan makanan dapat menurunkan ketersediaan semua vtamin. 7.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan Vitamin Terjadinya defisiensi vitamin umumnya disebabkan oleh kekurangan zat makanan yang dikonsumsi. Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi ketersedian vitamin di dalam tubuh yaitu: Ketersediaan Tidak semua vitamin yang terkandung di dalam makanan dalam bentuk mudah diserap (Tabel 7.2). Seperti niasin pada sebagian besar cereal berikatan dengan protein dan tidak bisa diserap diseluruh dinding usus. Vitamin yang larut dalam lemak tidak bisa diserap bila terdapat kondisi di dalam tubuh yang menghalangi pencernaan dan penyerapan lemak Vitamin B12 membutuhkan intrinsic factor untuk absorpsinya yang diproduksi di dalam tubuh. Antivitamin Antivitamin disebut juga vitamin antagonis atau pseudovitamin yaitu senyawa yang tidak berfungsi sebagai vitamin, tetapi secara kimia berhubungan dengan aktivitas biologi vitamin. Antivitamin menyebabkan defisiensi vitamin jika tubuh tidak mampu membedakan keduanya, sebagai contoh:  Avidin yang terdapat pada telur mentah. Satu molekul avidin mengikat 3 molekul biotin.  Thiaminase ditemukan pada tepung ikan tidak dimasak menghambar penyerapan tiamin  L-amino-D-prolin yang terdapat pada flaxseed membentuk komplek stabil dengan pyridoksin. Provitamin Provitamin adalah senyawa yang tidak termasuk vitamin tetapi dapat diubah menjadi vitamin. Seperti β-caroten bisa diubah menjadi vitamin A pada dinding usus, 7-dehydro cholesterol dapat diubah menjadi vitamin D3 oleh sinar ultraviolet. Iradiasi pada tanaman dapat mengubah ergosterol menghasilkan vitamin D2. Asam amino triptopan bisa diubah menadi niasin walaupun reaksi ini tidak efisien (60 mg triptopan menghasilkan 1 mg niasin) tetapi asam amino ini tidak disebut provitamin. Mikroorganisme dalam Saluran Pencernaan Bab-7: Vitamin VII-4 Bakteri flora di saluran pencernaan (seperti rumen pada ruminansia) mampu mensintesis sejumlah vitamin tertentu termasuk sebagian besar vitamin B komplek dan juga vitamin K. Tidak semua mikroorganisme di dalam tubuh dapat mensintesis vitamin, ada yang mengambil zat makanan dan ada yang menyebabkan penyakit sehingga penyerapan vitamin terganggu dan diekskresikan dalam feses. 7.6. Suplemen Vitamin Semua vitamin bisa diproduksi komersial dalam bentuk murni. Sebagian besar merupakan produk kimia sintetis tetapi beberapa diisolasi dari sumber alami (seperti vitamin A dari hati ikan, vitamin D3 dari minyak hati atau iradiasi yeast, vitamin E dari bungkil kedele atau minyak jagung dan vitamin K dari tepung ikan). Ada beberapa vitamin yang diproduksi secara mikrobiologi, seperti tiamin, riboflavin, folat, pyridoksin, biotin, asam pantotenat dan vitamin B12. Individu yang sehat bisa mencukupi semua zat makanan termasuk vitamin dari makanan yang seimbang baik berdasarkan variasi makanan dan kualitas bagus. Dalam keadan tertentu, ternak membutuhkan penggunaan suplemen vitamin seperti pada kondisi bunting, menyusui, stress, dll. Premik vitamin merupakan bentuk suplemen vitamin yang terdiri dari campuran vitamin dengan konsentrasi yang tinggi. Premik vitamin digunakan sebesar 0,5 – 10 %. Selain vitamin terdapat antioksidan sintetis (Ethoxyquin, BHT) didalam premik yang berguna untuk meningkatkan stabilitas vitamin selama penyimpanan. Pada beberapa kasus, trace mineral dimasukkan ke dalam premik vitamin-mineral. Unggas dan anak babi sangat banyak membutuhkan berbagai macam suplemen vitamin diikuti oleh pedet (calve) dan hogs sedangkan sapi dewasa sangat sedikit membutuhkan suplemen vitamin. Unggas terutama ayam ras sangat banyak membutuhkan suplemen vitamin karena kondisi ayam yang mudah stres dan dalam pemeliharaannya sangat ditekankan untuk meningkatkan pertumbuhan atau produksi setinggi-tingginya dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Di pasaran bentuk suplemen vitamin ada yang dicampur dalam makanan (premik) dan umumnya penggunaannya dilarutkan dalam air minum. 7.7. Stabilitas Vitamin Penggunaan vitamin sebagai suplemen makanan dan sebagai pharmaceutical sangat perlu dipertimbangkan stabilitasnya. Pada umumnya, vitamin larut dalam lemak lebih tidak stabil terhadap oksidasi. Vitamin ini harus dilindungi dari panas, oksigen, ion metal dan sinar ultraviolet. Vitamin A dan E lebih stabil dalam bentuk ester, karena vitamin yang terdapat di dalam makanan tidak stabil dan jumlahnya sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh kondisi produksi dan pengolahan. Vitamin larut air cenderung lebih stabil kecuali riboflavin, vitamin B6 dan vitamin B12 yang bisa dipecah oleh sinar ultraviolet, sedangkan tiamin sensitive dari kondisi alkali. Bab-7: Vitamin VII-5 7.8. Keracunan Vitamin Vitamin bisa menjadi racun bila makanan mengandung vitamin dengan dosis tinggi. Umumnya vitamin larut dalam lemak kemungkinan besar tinggi keracunannya sebab terlihat pengaruhnya pada level 3- 30 kali normal. Vitamin B tingkat keracunannya lebih rendah yaitu terlihat pengaruhnya pada 100 kali normal. Pada situasi tertentu, keracunan ada hubungannya dengan bentuk vitamin seperti kholin, pyridoksin dan tiamin yang berikatan dengan chlorida. Daftar Pustaka Leeson, S. and J.D. Summers. 2001. University Books, Canada. Nutrition of the Chicken. 4 th Edition. NRC, 1994. Nutrient Requirements of Poultry. 9th Edition. National Academy Press, Washington, D.C. Lloyd, L.E., B.E. McDonald and E.W. Crampton. 1978. Fundamental of Nutrition. 2nd Edition. W.H. Freeman and Company. San Francisco. Combs, G.F.JR.1992. The Vitamins Fundamental Aspects in Nutrition and Health. Academic Press, Inc. San Diego. Ward, N.E. 1995. Commercial Vitamin Supplementation for Poultry. Technical Bulletin American Soybean Association. Vol. 17 : 9. Bab-7: Vitamin VII-6

Judul: Landasan Ilmu Nutrisi 7: Vitamin

Oleh: Muhammad Ali Ardi


Ikuti kami