Ekonomi Kreatif Dalam Revolusi Industri 4.0 Sebagai Penguat Ekonomi Bangsa

Oleh Ahmad Farhan Ghifari

1,1 MB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Kreatif Dalam Revolusi Industri 4.0 Sebagai Penguat Ekonomi Bangsa

Ekonomi Kreatif dalam Revolusi Industri 4.0 sebagai Penguat Ekonomi Bangsa Ahmad Farhan Ghifari (13515602) Program Studi Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia 13515602@std.stei.itb.ac.id Abstrak— Peta perjalanan revolusi industri 4.0 telah diresmikan oleh pemerintah pada tahun 2018. Hal tersebut menandakan bahwa semakin terbukanya era industri yang lebih modern dari sebelumnya. Melalui konsep tersebut dapat digunakan sebagai landasan untuk lebih mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia yang memadukan teknologi internet, cloud system, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan cyber physical system. Dengan melihat data yang disajikan dari Badan Ekonomi Kreatif bahwa jumlah usaha/perusahaan ekonomi kreatif yang memanfaatkan e-commerce sebanyak 50,87%, maka hal ini dapat dijadikan sumber energi positif sebagai semangat untuk lebih memajukan ekonomi kreatif agar berdampak positif sebagai salah satu komponen penguat perekonomian bangsa. I Pendahuluan Pada tahun 2018 pemerintah mengumumkan peta perjalanan (roadmap) revolusi industri 4.0 untuk Indonesia (Kusuma, 2018). Hal ini menandakan bahwa Indonesia telah siap memasuki ranah industri yang menerapkan sistem internet yang lebih terpadu. Prof Klaus Schwab, dalam bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution” menjelaskan bahwa revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental (Rosyadi, 2018). Rosyadi (2018) mengatakan bahwa revolusi industri 4.0 memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Perubahan industri telah berubah dari revolusi industri generasi pertama yaitu era dimana mesin uap menjadi hal yang eksis pada zamannya. Airlangga Hartato, Menteri Perindustrian, dalam Detik Finance (2018) mengatakan bahwa revolusi industri kedua dimulai saat otomotif Fort membuat line production pada saat Indonesia masih Hindia-Belanda dan revolusi industri ketiga diawali tahun 90-an dengan dimulainya otomatisasi. Setelah perkembangan zaman kemudian revolusi industri keempat mulai menggantikan revolusi industri ketiga. Peta perjalanan revolusi industri dapat dilihat pada Gambar I.1. 1 Makalah Studium Generale Gambar I.1. Peta perkembangan revolusi industri (Tanaya, 2018) Dari pemaparan pada paragraf sebelumnya mengenai revolusi industri maka dapat dirancang berbagai macam industri yang mendukung revolusi industri 4.0 sebagai salah satu cara untuk menguatkan perekonomian bangsa. Dalam forum Indonesia Digital Business Ecosystem (Indibest Forum) disebutkan bahwa dalam menghadapi revolusi industri 4.0 diperlukan pemahaman serta pemetaan terhadap pasar yang belum terlayani dengan baik oleh pemanfaatan teknologi sehingga dapat dirancang industri yang mendukung industri generasi keempat (Noor, 2018). Untuk dapat memberikan pelayanan terhadap sektor tersebut maka salah satu jawabannya yaitu dengan menjadikan ekonomi kreatif sebagai isu strategis untuk dapat memenangkan persaingan global serta menghasilkan produk maupun layanan dengan kreativitas tinggi guna meningkatkan nilai tambah ekonomi. Konsep ekonomi kreatif masih cukup luas sehingga perlu dilakukan pemetaan terhadap kriteria serta potensinya agar dapat menjadi sarana penguat ekonomi bangsa. Selain itu, masalah yang dihadapi menurut menteri perindustrian yaitu sumber daya manusia yang ada masih belum cukup berpengalaman serta teknologi yang masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara lain (Hartomo, 2018). AHMAD FARHAN GHIFARI – 13515602 – K08 2 Makalah Studium Generale II Data Pada bab pendahuluan telah dipaparkan mengenai revolusi industri dan ekonomi kreatif menjadi jalan untuk menguatkan perekonomian bangsa. Untuk dapat membuat industri ekonomi kreatif maka perlu dipetakan terlebih dahulu agar dapat dipahami bagaimana mewujudkan ekonomi kreatif. Terdapat metodologi yang dilakukan untuk melakukan penelusuran dan perancangan dalam mewujudkan ekonomi kreatif yang mendukung revolusi industri 4.0. Metodologi tersebut dipaparkan pada Subbab II.1. II.1 Metodologi Berikut langkah-langkah yang dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada untuk mewujudkan ekonomi kreatif dalam revolusi industri 4.0 serta merancang solusi untuk permasalahan tersebut. 1. Pengumpulan Sumber Referensi Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil dari sumber beberapa laman berita terpercaya serta dari data pemerintah diantara yaitu detik dot com, laman bekraf, laman kementerian perindustrian, laman kementrian komunikasi dan informatika. Pengambilan data perlu dilakukan dari jurnal penelitian terkait. Dalam hal ini terdapat jurnal yang dijadikan sebagai referensi untuk melakukan analisis ekonomi kreatif dan revolusi industri 4.0. Data yang diambil yaitu yang berkaitan dengan revolusi industri dan ekonomi kreatif. Selain itu, data-data berupa jenis ekonomi kreatif termasuk dalam target pengambilan data. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apa saja yang dapat menjadi potensi perdagangan, bisnis, atau industri yang dapat dikategorikan sebagai ekonomi kreatif sehingga dapat membantu dalam mewujudkan Indonesia dengan industri generasi keempat. 2. Analisis Sumber Referensi Analisis data diperlukan setelah data terkumpul. Data yang terkumpul dibedakan menjadi kelompok sosial serta jenis-jenis kegiatan ekonomi kreatif. Kemudian dilakukan analisis mana saja yang masih menjadi masalah atau apa saja masalah yang terdapat dalam praktek di lapangan. Selain itu, pendalaman terhadap peluang dan tantangan perlu dilakukan dalam AHMAD FARHAN GHIFARI – 13515602 – K08 3 Makalah Studium Generale analisis permasalahan. Sehingga hasilnya akan didapat pengetahuan yang luas mengenai apa yang terjadi di lapangan. 3. Penarikan Kesimpulan dan Pencarian Solusi Setelah dilakukan pengumpulan data serta analisis permasalahan, kemudian dilakukan penarikan kesimpulan serta pencarian solusi untuk mengatasi masalah yang didapatkan dari hasil analisis data. II.2 Data dan Analisis Istilah ekonomi kreatif mulai dikenal sejak munculnya buku “The Creative Economy: How People Make Money from Ideas” oleh John Howkins (Bekraf, 2017). Bekraf menyebutkan bahwa Howkins mengartikan ekonomi kreatif sebagai penciptaan nilai sebagai hasil dari ide. Sementara Bekraf mengartikan ekonomi kreatif yaitu ekonomi yang berlandaskan pada kreativitas dan inovasi. Kreativitas serta inovasi tersebut yang dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia pada pasar domestik maupun pasar internasional. Di Indonesia badan yang mengatur dan mengembangkan ekonomi kreatif yaitu Badan Ekonomi Kreatif atau disingkat Bekraf. Menurut Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2015 tugas dari Bekraf yaitu mengelola 16 subsektor ekonomi kreatif di Indonesia (Bekraf, 2018). Subsektor ekonomi kreatif tersebut memiliki berbagai karakteristik tersendiri serta dimungkinkan masih ada permasalahan pada sektor tersebut. Subsektor tersebut yaitu arsitektur, desain produk, fashion, desain interior, desain komunikasi visual, aplikasi dan pengembangan permainan, televisi dan radio, seni rupa, periklanan, penerbitan, musik, kuliner, kriya, fotografi, film, animasi, dan video, dan yang terakhir yaitu seni pertunjukan. Setiap daerah di Indonesia memiliki jenis usaha ekonomi kreatif yang sangat bervariatif. Menurut data dari Bekraf (2018), ditemukan sebanyak 8.203.826 usaha perusahaan ekonomi kreatif di Indonesia. Potensi usaha/perusahaan ekonomi mayoritas berada di Pulau Jawa yaitu sebanyak 65,37% (Bekraf, 2018). Selanjutnya persentase kedua terbesar yaitu berada pada Pulau Sumatera dengan persentase 17,94%, diikuti oleh Pulau Sulawesi, Maluku, & Papua yaitu sebanyak 6,52%, Bali & Nusa Tenggara 5,21% dan Pulau Kalimantan sebesar 4,95%. Berikut data mengenai persebaran pelaku usaha ekonomi kreatif berdasarkan provinsi dapat dapat dilihat pada Grafik II.2.1. AHMAD FARHAN GHIFARI – 13515602 – K08 4 Makalah Studium Generale Grafik II.2.1. Persentase Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif Menurut Provinsi (Bekraf, 2018) Usaha / Perusahaan Ekonomi Kreatif (%) Papua Barat Kalimantan Utara Maluku Utara Sulawesi Barat Papua Maluku Kep. Bangka Belitung Gorontalo Bengkulu Kepulauan Riau Kalimantan Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Jambi Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Timur Nusa Tenggara Barat Aceh Kalimantan Selatan Sumatera Selatan Riau DI Yogyakarta Lampung Sulawesi Selatan Bali Sumatera Barat Banten Sumatera Utara DKI Jakarta Jawa Tengah Jawa Timur Jawa Barat 0.16 0.17 0.23 0.3 0.31 0.39 0.41 0.43 0.53 0.66 0.72 0.73 0.76 0.91 1.03 1.06 1.1 1.13 1.75 1.82 1.83 2.3 1.96 2.1 2.18 2.3 2.4 2.57 3.65 4.89 5.88 17.19 18.23 18.33 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 Usaha / Perusahaan Ekonomi Kreatif (%) Pada Grafik II.2.1 dapat dilihat bahwa daerah yang paling banyak terdapat ekonomi kreatif yaitu daerah pulau Jawa. Sementara untuk wilayah lain yang memiliki persentase paling kecil keberadaan ekonomi kreatif yaitu daerah Kalimantan Utara dan Papua Barat. Selanjutnya terdapat data mengenai usaha/perusahaan ekonomi kreatif yang telah memanfaatkan internet dalam bisnisnya. Data tersebut dapat dilihat pada Gambar II.1. AHMAD FARHAN GHIFARI – 13515602 – K08 5 Makalah Studium Generale Gambar II.1. Persentase Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif menurut Pulau dan Pemanfaatan Media Internet (Bekraf, 2018) Era industri generasi keempat erat kaitannya dengan pemanfaatan internet. Bisnis toko online sebagai pembawa perubahan dalam bertransaksi yang pada awalnya konsumen harus datang langsung ke gerai toko hingga pada saat ini cukup mengakses internet melalui smartphone nya untuk dapat berbelanja. Persentase usaha/perusahaan ekonomi kreatif yang menerapkan ecommerce dan yang tidak dapat dilihat pada Gambar II.2. Persentase Penerapan E-Commerce Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif (2016) 50.87% 49.13% Tidak menerapkan ecommerce Menerapkan ecommerce Gambar II.2. Persentase Penerapan E-Commerce Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif Tahun 2016 (Bekraf, 2018) Persentase yang terdapat pada Gambar II.2 membuktikan bahwa usaha/perusahaan ekonomi kreatif lebih banyak menggunakan e-commerce sebagai alat bantu usahanya. Masing-masing kota memiliki persentase dalam penggunaan toko online. Berikut terdapat data mengenai 20 kota dengan persentase pemanfaatan e-commerce terbesar. Data tersebut dapat dilihat pada Grafik II.2.2. AHMAD FARHAN GHIFARI – 13515602 – K08 6 Makalah Studium Generale Grafik II.2.2. Persentase Penerapan E-Commerce Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif pada 20 Kota Terbesar yang Menerapkan E-Commerce pada Tahun 2016 (Bekraf, 2018) Persentase Penerapan E-commerce Usaha/ Perusahaan Ekonomi Kreatif pada 20 Kota Terbesar yang Menerapkan (2016) 10 8 6 4 2 0 8.84 7.05 6.29 4.87 4.08 3.75 3.48 3.3 3.27 3.2 3.01 2.71 2.32 2.3 2.24 2.05 1.93 1.74 1.71 1.64 Persentase Penerapan E-commerce Usaha/ Perusahaan Ekonomi Kreatif pada 20 Kota Terbesar yang Menerapkan (2016) Dari segi pendapatan, ekonomi kreatif dapat dibedakan menjadi usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar. Pengelompokan ini didasari oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008. Persentase usaha/perusahaan ekonomi kreatif berdasarkan pendapatan dapat dilihat pada Gambar II.3. Persentase Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif Indonesia Menurut Pendapatan pada Tahun 2016 2,5 Milyar < pendapatan ≤ 50 Milyar (Usaha Menengah) 0.46% > 50 Milyar (Usaha Besar) 0.04% ≤ 300 Juta (Usaha Mikro) 300 Juta < pendapatan ≤ 2,5 Milyar (Usaha Kecil) 300 Juta < pendapatan ≤ 2,5 Milyar (Usaha Kecil) 6.94% 2,5 Milyar < pendapatan ≤ 50 Milyar (Usaha Menengah) > 50 Milyar (Usaha Besar) ≤ 300 Juta (Usaha Mikro) 92.56% Gambar II.3. Persentase Usaha/Perusahaan Ekonomi Kreatif Indonesia Menurut Pendapatan pada Tahun 2016 (Bekraf, 2018) AHMAD FARHAN GHIFARI – 13515602 – K08 7 Makalah Studium Generale Dapat dilihat pada Gambar II.3 usaha mikro menempati persentase tertinggi diantara jenis usaha berdasarkan pendapatan yang lain. Hal ini merupakan salah satu potensi bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih cukup kuat. Menurut Bekraf (2018), secara angka jumlah jenis usaha mikro berdasarkan hasil survey yaitu sebanyak 7.593.720, usaha kecil sebanyak 568.972, usaha menengah sebanyak 37.562, dan usaha besar sebanyak 3.608. Peluang yang ada pada revolusi industri 4.0 dapat diraih oleh siapapun yang ingin maju (Rosyadi, 2018). Disamping itu, Rosyadi (2018) mengatakan bahwa ada tantangan yang harus dihadapi dibalik sebuah peluang yang ada. Diantaranya yaitu manusia akan lebih bersaing dengan mesin dalam melakukan pekerjaan. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam mengembangkan teknologi dapat membuat setiap lini pekerjaan lebih mudah dan cepat bila dilakukan dengan menggunakan teknologi. Hal ini dapat berdampak semakin banyaknya pengangguran apabila sumber daya manusia tidak dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni. II.3 Kesimpulan Dengan adanya paparan data diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1. Pelaku usaha/perusahaan ekonomi kreatif terbanyak pada tiga provinsi di Indonesia yaitu berada di pulau Jawa. 2. Dalam revolusi industri 4.0, penggunaan internet telah cukup banyak dimanfaatkan untuk sarana bisnis dalam ekonomi kreatif terutama di kota besar seperti Bandung dan Surabaya sebagai dua kota terbesar pelaku ekonomi kreatif yang memanfaatkan e-commerce. 3. Jumlah pelaku usaha/perusahaan ekonomi kreatif yang tergolong usaha mikro jumlahnya paling banyak diantara jenis usaha berdasarkan pendapatan yang lain. 4. Langkah untuk mendukung revolusi industri 4.0 dapat dilakukan oleh siapapun yang memiliki keinginan dalam mengembangkan ekonomi kreatif agar dapat sesuai dengan konsep industri generasi keempat. 5. Dengan melihat total usaha/perusahaan ekonomi kreatif yang dibedakan dalam kelompok berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ekonomi kreatif dapat lebih dikembangkan lagi untuk sebagai salah satu komponen penguat perekonomian bangsa. AHMAD FARHAN GHIFARI – 13515602 – K08 8 Makalah Studium Generale Referensi Bekraf. (2017). Apa itu Ekonomi Kreatif. Retrieved from Indonesia Kreatif: http://indonesiakreatif.bekraf.go.id/ikpro/programs/apa-itu-ekonomi-kreatif/ Bekraf. (2018). Profil Usaha/Perusahaan 16 Subsektor Ekonomi Kreatif Berdasarkan Sensus Ekonomi 2016. Badan Pusat Statistik (BPS). Hartomo, G. (2018, March 20). Revolusi Industri 4.0, Menperin Beberkan Masalah Teknologi dan SDM. Retrieved from Okezone Finance: https://economy.okezone.com/read/2018/03/20/320/1875246/revolusi-industri-4-0menperin-beberkan-masalah-teknologi-dan-sdm Kusuma, H. (2018, April 4). Jokowi Resmikan Roadmap Industri 4.0. Retrieved from Detik Finance: https://finance.detik.com/industri/d-3952444/jokowi-resmikan-roadmapindustri-40 Noor, A. R. (2018, Mei 23). Revolusi Industri 4.0 di Era Digital, Indonesia Siap? Retrieved from Detik Inet: https://inet.detik.com/business/d-4033692/revolusi-industri-40-di-era-digitalindonesia-siap Rosyadi, S. (2018). Revolusi Industri 4.0 : Peluang dan Tantangan bagi Alumni Universitas Terbuka. Tanaya, I. (2018, April 18). Revolusi Industri 4.0, Ancaman atau Berkah? . Retrieved from Kompasiana: https://www.kompasiana.com/www.inatanaya.com/5ad6f349ab12ae1f2d68f1b2/revolusiindustri-4-0-ancaman-atau-berkah?page=all AHMAD FARHAN GHIFARI – 13515602 – K08 9

Judul: Ekonomi Kreatif Dalam Revolusi Industri 4.0 Sebagai Penguat Ekonomi Bangsa

Oleh: Ahmad Farhan Ghifari

Ikuti kami