Tiga Landasan Pokok Ilmu Pengetahuan

Oleh Allesandro A . E . Pinangkaan

144,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Tiga Landasan Pokok Ilmu Pengetahuan

Tiga Landasan Pokok dalam Ilmu Pengetahuan1 Allesandro A.E. Pinangkaan, S.Fil NPM. 19804022 Dalam studi filsafat ilmu, dipaparkan tiga landasan pokok yang menjadi dasar semua jenis ilmu, yaitu Landasan Ontologis, Landasan Epistemologis, dan Landasan Aksiologis. Tiga landasan inilah yang secara filosofis membangun sebuah ilmu. Tulisan ini tidak bermaksud menguraikan tiga landasan ini secara panjang lebar, melainkan mendeskripsikan beberapa unsur fundamental dan umum. Pada bagian akhir dari tulisan ini diangkat sebuah problematika ilmiah yang dapat ditelisik dari tiga landasan ilmu pengetahuan ini. 1. Landasan Ontologi Kata “ontologi” berasal dari Bahasa Yunani onto yang berarti “mengada”2 dan logos, yang dalam arti ini dapat disebut sebagai ilmu atau studi tertentu. Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang esse (ada).3 Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi objek penelaahan ilmu. Secara amat mendasar, sesungguhnya studi yang berhubungan dengan landasan ontologis berkaitan erat dengan “metafisika”, yaitu ilmu yang membahas tentang dasar dari segala sesuatu. Dilihat dari landasan ontologi, maka ilmu akan berlainan dengan bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. Ilmu yang mengkaji problem-problem yang telah diketahui atau yang ingin diketahui yang tidak terselesaikan dalam pengetahuan sehari-hari. Masalah yang dihadapi adalah masalah nyata. Ilmu menjelaskan berbagai fenomena yang memungkinkan manusia melakukan tindakan untuk menguasai fenomena tersebut berdasarkan penjelasan yang ada. Sebagaimana diungkapkan oleh Rene Descartes, ilmu dimulai dari kesangsian bukan dimulai dari kepastian. Hal ini berbeda dengan agama yang dimulai kepastian. Ilmu memulai 1 Ditulis sebagai bagian dari tugas Mata Kuliah Filsafat Ilmu, pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Manado (Semester I, 2019). Kata “mengada” diterjemahkan dari being (Lat: esse), untuk membedakannya dengan “pengada” (Lat. essentia). Istilah-istilah semacam ini dipopulerkan oleh Prof. Dr. Drijarkara, dan diteruskan dalam studi filsafat masa kini oleh beberapa penulis, misalnya Prof. Dr. Kees Bertens dan Prof. Dr. Johanis Ohoitimur. 2 Jujun Suriasumantri, “Tentang Hakikat Ilmu: Sebuah Pengantar Redaksi,” Ilmu dalam Perspektif, diedit oleh Jujun Suriasumantri (Jakarta: Gramedia, 1982), hlm. 5. 3 2 dari kesangsian akan objek yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Selanjutnya dalam filsafat empirisme, objek pengenalan ilmu mencakup kejadian-kejadian atau seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh pengalaman manusia.4 Atas dasar inilah diperlukan proses verifikasi, yaitu dengan memberikan pembuktian terhadap keraguan-keraguan tersebut secara ilmiah. Jadi ontologi ilmu adalah ciri-ciri yang esensial dari objek ilmu yang berlaku umum, artinya dapat berlaku juga bagi cabang-cabang ilmu yang lain. Ilmu berdasar beberapa asumsi dasar untuk mendapatkan pengetahuan tentang fenomena yang menampak. Asumsi dasar ialah anggapan yang merupakan dasar dan titik tolak bagi kegiatan setiap cabang ilmu pengetahuan. Menurut Endang Saifudin,5 ada dua macam sumbernya: Pertama, mengambil dari postulat, yaitu kebenaran-kebenaran apriori, yaitu dalil yang dianggap benar walaupun kebenarannya tidak dapat dibuktikan, kebenaran yang sudah diterima sebelumnya secara mutlak. Kedua, mengambil dari teori sarjana atau ahli yang lain terdahulu, yang kebenarannya disangsikan lagi oleh masyarakat, terutama oleh si penyelidik itu sendiri. 2. Landasan Epistemologis Kata “epistemologi” lahir dari kata Bahasa Yunani, episteme, yang berarti pengetahuan, pengertian, dan keyakinan. Secara umum, epistemologi dapat berarti sebuah studi tentang pengetahuan, pengertian, dan keyakinan tentang sesuatu hal. Dalam kaitannya sebagai sebuah landasan ilmu pengetahuan, secara mendalam epistemologi membahas segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi adalah suatu teori pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apa pun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan, sah disebut keilmuan. Kata-kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Hakikat keilmuan Bdk. Suriasumantri, “Tentang Hakikat Ilmu,” Ilmu dalam Perspektif, hlm. 5. Uraian lebih mendalam tentang perkembangan pemikiran yang diungkapkan sejak masa rasionalisme Descartes sampai empirisme – terutama Edmund Husserl – tidak perlu dibahas di sini. Hanya, tulisan ini hendak mengangkat bahwa sejak Descartes, metode kesangsian amat mendasar untuk menelusuri landasan ontologis dari suatu pengetahuan. Lih. Johanis Ohoitimur, Pengantar Berfilsafat (Jakarta: Yayasan Gapura, 1997), hlm.73-76. 4 Terkutip dalam Iriani, “Landasan Ontologi, Epistemologis, dan Aksiologis Filsafat Ilmu,” http://irianirianiii.blogspot.com/2013/03/landasan-ontologi-epistemologis-dan.html (diunduh pada 19 Oktober 2019). 5 3 ditentukan oleh cara berpikir yang dilakukan menurut syarat keilmuan yaitu bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran di atas segala-segalanya.6 Tentang hal ini, Immanuel Kant (1724-1804), menggambarkan suatu metode keilmuan yang bersumber dari pengalaman indrawi manusia, serentak juga dari faktor-faktor penting tertentu yang telah ada dalam rasio manusia. Kant yakin bahwa dalam diri (rasio) manusia sudah ada kategori-kategori, bentuk, atau forma (bdk. pemikiran Plato tentang idea), yang memungkinkan manusia menangkap benda-benda sebagaimana adanya. Kategori-kategori tersebut pertama-tama menyangkut ruang dan waktu: bahwa pengalaman-pengalaman indrawi senantiasa berada di dalam konteks ruang dan waktu. Menurut Kant, konsep ruang dan waktu merupakan sebuah kategori bawaan dalam rasionalitas manusia. Selain ruang dan waktu, terdapat juga konsep sebab dan akibat. Atas dasar ini, lahirlah dua unsur yang turut melahirkan pengetahuan. Pertama, kondisi eksternal manusia menyangkut benda-benda yang tidak bisa diketahui sebelum ditangkap dengan pancaindra manusia. Inilah “objek material” dari pengetahuan. Kedua, kondisi internal dalam diri manusia, menyangkut pelbagai kategori: ruang dan waktu, serta hukum sebab-akibat. Inilah objek sebagaimana ditangkap secara apriori dengan rasio manusia, sebagai yang terjadi dalam ruang dan waktu dan dalam kaitan dengan sebab-akibat tertentu. Inilah “objek formal” dari ilmu pengetahuan.7 Dalam uraiannya, Paul Moser menegaskan bahwa klaim ontologis menyangkut sesuatu yang sedang bereksistensi, sedangkan klaim epistemologis menyangkut apa yang, atau dapat, diketahui—atau setidaknya dipercayai/diyakini. Moser merujuk pada pemikiran Bertrand Russell (1872-1970) dan G.E. Moore (1873-1958), yang menentang idealisme tidak hanya dengan klaim ontologis bahwa ada fakta-fakta pemikiran yang independen, tetapi juga dengan klaim epistemologis bahwa mereka tahu bahwa ada fakta-fakta semacam itu.8 Dengan demikian ditegaskan bahwa landasan ontologis berkaitan dengan landasan epistemologis. Apa yang dipercaya/diyakini dalam suatu pengetahuan perlu dibuktikan dengan pengalamanpengalaman konkret. Dalam hal ini proses-proses deduksi, induksi, dan verifikasi amat berperan penting. Suriasumantri, “Hakikat Ilmu Pengetahuan,” Ilmu dalam Perspektif, hlm. 9. 6 7 Bdk. A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 58-60. Paul Moser, “Epistemology” in Routledge Study of Philosophy, vol. 10, Ed. John V. Canfield (London and New York: Routldege, 2005), hlm. 133-134. 8 4 3. Landasan Aksiologis Secara etimologis, term “aksiologis” diturunkan dari Bahasa Yunani, axios yang berarti kelayakan, kepantasan, kegunaan. Menurut Jean-Marie de la Trinité, aksiologi adalah studi tentang sifat yang layak dipahami sebagai nilai, khususnya untuk etika dan estetika, yang merupakan realitas berbasis nilai.9 Dasar aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Pertanyaan dasar yang menjadi titik tolak landasan aksiologis ialah: Apakah kegunaan ilmu itu bagi kita? Dalam kenyataannya, hingga sekarang ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam mengendalikan kekuatan-kekuatan alam dan mengatasi problematika moral maupun sosial. Maka perlulah landasan moral yang kuat bagi seorang ilmuwan untuk menentukan sikap dalam menilai apa yang baik dan yang buruk dari pengetahuan yang ia kelola secara ilmiah tersebut. Dalam pada itu, perlu dipertimbangkan bagaimana suatu ilmu pengetahuan memberikan dampak bagi kehidupan dunia (life-world) secara intelektual maupun secara sosial-praktis.10 Memang dunia ilmu pengetahuan berkutat soal fakta-fakta ilmiah, sedangkan life-world mencakup pengalaman subjektif-praktis manusia ketika ia lahir, hidup dan mati: pengalaman cinta dan kebencian, harapan dan putus asa, penderitaan dan kegembiraan, kebodohan dan kebijaksanaan. Dunia ilmu pengetahuan merupakan dunia yang objektif, universal, rasional, sedangkan life-world adalah dunia sehari-hari yang subjektif, praktis, dan situasional. Ilmu pengetahuan menawarkan cara kerja rasional dengan prinsip-prinsip ilmiah. Sementara itu, life-world tidak terlepas dari tradisi, moralitas, dan segala macam kepercayaan dan praktiknya. Keraf dan Dua mengungkapkan rumusan-rumusan pertanyaan yang bagus dalam kaitannya dengan hal ini: Persoalan kita ... adalah: apa dampak ilmu pengetahuan terhadap life-world atau tradisi pemikiran dan tindakan kita. Apakah dengan munculnya ilmu pengetahuan, manusia modern dengan sendirinya akan menggunakan simbolsimbol ilmu pengetahuan menggantikan simbol-simbol yang sudah lama berakar kuat dalam tradisi kita? Jika demikian, bagaimana dampak semacam itu bisa dijelaskan? Persoalan ini dapat dipertajam lagi. Ilmu pengetahuan merupakan produk dari kebudayaan enlightenment, pencerahan. Maka pertanyaan kita adalah apakah ilmu pengetahuan dengan sendirinya Bdk. Jean-Marie de la Trinité, “What do ontology, epistemology, and axiology mean?” https://www.quora.com/What-do-ontology-epistemology-and-axiology-mean (diunduh 21 Oktober 2019). 9 10 Istilah semacam ini diungkapkan oleh Keraf dan Dua dalam membahas secara implisit mengenai dasar aksiologis ilmu pengetahuan. Bdk. Keraf dan Dua, Ilmu Pengetahuan, hlm. 132ss. 5 menghasilkan enlightened thinking and action dari manusia modern sekarang ini?11 Ungkapan di atas menuntun para ilmuwan untuk menjadi bijak dalam membawa ilmu pengetahuan pada kehidupan dunia. Bagaimana ilmu pengetahuan memberikan manfaat yang berguna bagi kehidupan dunia zaman ini dalam menyelesaikan/mengatasi ragam problematika yang dihadapinya. 4. Sebuah Bahan Diskusi Di akhir tulisan pendek ini, sebagai bahan studi dan diskusi patutlah diangkat sebuah problematika sederhana yang dapat ditinjau dari tiga landasan ilmiah ini. Misalnya, “Korelasi Larangan Penggunaan Alat-alat Elektronik Pribadi dan Manajemen Fasilitas Sekolah terhadap Pendidikan Karakter Peserta Bina dalam Era Industri 4.0 di SMA Seminari Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen.” Secara ontologis, pertanyaan ini relevan: “apa yang ingin diketahui melalui studi ini?” Jawaban atas pertanyaan ini perlu ditelusuri dari objek empiris: apa yang ada – problematika yang ada. Di sini, ada beberapa problem yang perlu ditelusuri: (1) Adanya larangan penggunaan alat-alat elektronik, (2) Manajemen Fasilitas Sekolah, (3) Pendidikan Karakter Peserta Bina di Era Industri 4.0. Problematika ini dibatasi dalam konteks lingkungan SMA Seminari Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen, yang merupakan sekolah khusus untuk pendidikan dan pembinaan calon-calon imam Katolik. Perlu diverifikasi: (1) Apakah larangan penggunaan alat-alat elektronik pribadi masih berlaku di sekolah ini? (2) Apakah larangan penggunaan alat-alat elektronik pribadi diseimbangkan dengan ketersediaan alat-alat teknologi yang cukup untuk studi? (3) Apakah tersedia komputer yang cukup dengan jumlah siswa? (4) Apakah tersedia alat komunikasi elektronik yang cukup untuk keperluan siswa? (5) Apakah penggunaan alat-alat elektronik secara pribadi menyebabkan degradasi moral bagi siswa? (6) Apakah larangan penggunaan alat elektronik pribadi membawa dampak positif bagi siswa, terutama dalam meningkatkan prestasi belajar? Deretan pertanyaan-pertanyaan lain dapat didiskusikan dengan latar-belakang metode kesangsian. Tentu ragam pertanyaan di atas berangkat dari asumsi-asumsi yang ada, misalnya: Penggunaan alat elektronik pribadi membuat siswa terpusat pada dirinya sendiri dunianya sendiri, membawa ekses bagi moralitasnya, serta menurunkan prestasi belajar. 11 Ibid., hlm. 133. 6 Secara epistemologis, problematika ini perlu dieksplorasi dengan metode keilmuan. Perlu ditelusuri pokok demi pokok yang diangkat dalam problematika ilmiah ini: Larangan Penggunaan Alat-alat Elektronik Pribadi [X1], Manajemen Fasilitas Sekolah [X2], dan Pendidikan Karakter Peserta Bina dalam Era Industri 4.0 [Y]. Variabel-variabel tersebut menjadi objek material dari problematika ilmiah ini. Dalam menelaah variabel-variabel ini, kerangka pendekatan yang umum adalah sebuah tinjauan dari perspektif Manajemen Pendidikan. Perspektif inilah yang menandai objek formal dari problematika ini. Antara X1 dan X2 ditelaah korelasi variabelnya. Hal ini menghasilkan sebuah premis tertentu. Secara deduktif, asumsi-asumsi yang ada mempengaruhi proses perumusan premis awal. Tapi data empiris secara induktif memberi input faktual terhadap rumusan premis tersebut. Inilah yang kemudian dikonfrontasikan dengan variabel Y. Dari sanalah ditarik sebuah kesimpulan (inferrens). Kesimpulan tersebut merupakan sebuah “pengetahuan” baru yang dihasilkan dari proses ilmiah ini. Secara aksiologis, perlu diajukan pertanyaan: untuk apa pengetahuan yang diperoleh tersebut? Nada pertanyaan ini bersifat teleologis, yakni mengarah pada tujuan atau manfaat apa yang diberikan olehnya. Barangkali problematika yang ditelisik secara ilmiah ini membawa pengaruh untuk meninjau kembali kebijakan-kebijakan tertentu berkaitan dengan larangan penggunaan alat elektronik pribadi, atau berkaitan dengan manajemen fasilitas sekolah, sehingga hal tersebut dapat sejalan dengan pendidikan karakter yang khusus bagi para peserta bina di SMA Seminari Kakaskasen. Banyak hal lain pula yang dapat didiskusikan dalam ranah ini. Akhirnya, persoalan/problematika ini menjadi sebuah contoh untuk sebuah studi filsafat ilmu pengetahuan yang bertolak dari landasan ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis. Bukan tidak mungkin problematika ini menjadi hal penting yang selanjutnya diangkat sebagai penelitian yang lebih mendalam, mengingat problematika ini bersifat aktual dan faktual. Pada intinya, ketiga landasan pokok ini menjadi titik tolak penelusuran ilmiah dalam beragam persoalan yang aktual. Penutup Pembahasan tiga unsur penting di atas berkenaan dengan studi Filsafat Ilmu secara mendasar. Studi ini secara filosofis dikenal dengan sebutan studi Epistemologi. Dengan demikian, secara umum studi epistemologi dipahami sebagai landasan nalar filosofis, untuk 7 memberikan keteguhan dan kekukuhannya bahwa manusia dapat memperoleh kebenaran dan pengetahuan. Landasan ontologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang objek materi dari ilmu pengetahuan. Objek materi ilmu pengetahuan adalah hal-hal atau benda-benda empiris, yang kemudian ditelaah secara esensial. Landasan epistemologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang proses tersusunnya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan disusun melalui proses yang disebut metode Ilmiah (keilmuan). Landasan aksiologis dari ilmu pengetahuan adalah analisis tentang penerapan hasil-hasil temuan ilmu pengetahuan. Penerapan ilmu pengetahuan dimaksudkan untuk memudahkan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dan keluhuran hidup manusia. Kepustakaan De la Trinité, Jean-Marie. “What do ontology, epistemology, and axiology mean?” https://www.quora.com/What-do-ontology-epistemology-and-axiology-mean (diunduh 21 Oktober 2019). Iriani. “Landasan Ontologi, Epistemologis, dan Aksiologis Filsafat Ilmu,” http://irianirianiii.blogspot.com/2013/03/landasan-ontologi-epistemologis-dan.html (diunduh pada 19 Oktober 2019). Keraf, A. Sonny dan Mikhael Dua. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Kanisius, 2001. Moser, Paul. “Epistemology.” Routledge Study of Philosophy. Vol. 10. Editor: John V. Canfield. London and New York: Routldege, 2005. Ohoitimur, Johanis. Pengantar Berfilsafat. Jakarta: Yayasan Gapura, 1997. Suriasumantri, Jujun. “Tentang Hakikat Ilmu: Sebuah Pengantar Redaksi.” Ilmu dalam Perspektif. Diedit oleh Jujun Suriasumantri. Jakarta: Gramedia, 1982. ***

Judul: Tiga Landasan Pokok Ilmu Pengetahuan

Oleh: Allesandro A . E . Pinangkaan

Ikuti kami