Ilmu Lingkungan Ternak "peternakan Unila"

Oleh Tri Doni Saputra

153 KB 7 tayangan 1 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Ilmu Lingkungan Ternak "peternakan Unila"

ILT Ternak DAFTAR ISI Halaman Pengesahan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 Kata Penghantar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3 BAB I : PENDAHULUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4 a. Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4-6 b. Tujuan Dan Kegunaan Praktikum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7-9 BAB II : TINJAUAN PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9-20 1. Pengaruh Lingkungan Terhadap Ternak . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9-15. 2. Pengaruh lingkungan terhadap Fisiologis/Status faali ternak . . . . . . . . . . 16-21 BAB III : MATERI DAN METODE . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 22-39 A. Materi Praktikum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .22-39 B. Metode praktikum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .22-39 BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .40-56 A. Hasil . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 40-50 B. Pembahasan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .51-56 BAB V : PENUTUP . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 57-61 A. Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . .62 B. Saran . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . .63 BAB VI : DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .64-68 BAB 1 : PENDAHULUAN A. Latar belakang Ternak sapi adalah homeoterm yaitu hewan yang selalu berupaya mempertahankan temperature tubuhnya pada kisaran yang normal. Apabila sapi diekkspose pada temperature 45°C selama 5 jam sehari dalam 21 hari terus menerus maka mulai hari ke 10 sapi tersebut sudah dapat menyesuaikan diri dengan temperature lingkungan sekitarnya tersebut. Pada dasarnya factor utama yang mempengaruhi produktivitas (produksi dan reprodiksi) ternak dicerminkan oleh penampilannya (performance), sedangkan penampilan ternak merupakan manifestasi pengaruh Genetik (G) dan Lingkungan (L) ternak secara bersama-sama. Penampilan ternak pada setiap waktu adalah perpaduan dari sifat genetic dengan lingkungan yang diterimanya. Ternak dengan sifat genetik baik tidak akan mengekspresikan potensi genetiknya tanpa didukung oleh lingkungan yang menunjang. Bahkan telah diketahui bahwa dalam membentuk penampilan, lingkungan memiliki persentase lebih tinggi dibandingkan dengan genetik,yaitu 70% lingkungan dan 30% genetik. Faktor lingkungan yang langsung berpengaruh pada kehidupan ternak adalah iklim. Iklim merupakan faktor penentu ciri khas dan pola hidup dari suatu ternak, selain berpengaruh langsung terhadap ternak juga berpengaruh tidak langsung, melalui pengaruhnya terhadap faktor lingkungan yang lain. Misalnya, ternak pada daerah tropik tidak sama dengan ternak yang berada di daerah subtropis. McDowell,(1980) dan Sastry dkk., (1982). Crowder dan Chheda (1982) menyatakan bahwa di daerah tropik unsur utama pembentukan iklim adalah kelembaban, suhu udara, penyinaran, serta angin. Wiliamson dan Payne (1968), menyatakan bahawa Iklim adalah kombinasi dari suhu udara, kelembaban, presipitasi, angin, penyinaran, tekanan udara dan ionisasi. Selanjutnya oleh Sastry dkk. (1982) menyatakan bahwa suhu udara, kelembaban dan penyinaran berpengaruh besar terhadap pertanian pada umumnya dan peternakan pada khususnya. Williamson dan Payne,(1968) McDowell dan Wilson (1980), Menyatakan bahwa Setiap hewan mempunyai kisaran suhu lingkungan yang paling sesuai untuk kehidupan yang nyaman yang disebut comfort zone atau thermoneutral. Djoko Sarwono, (1985), menyatakan bahwa sapi FH maupun PFH memerlukan persyaratan iklim dengan ketinggian tempat ± 1000 m dari permukaan laut, suhu berkisar antara 15° - 21°C dan kelembaban udaranya di atas 55-70 %, Selanjutnya Hafez, (1968) menyatakan Zona termonetral suhu nyaman untuk sapi Eropa berkisar 17 – 21oC, 13 – 18oC (McDowell, 1972), 4 – 25oC (Yousef, 1985), 5 – 25oC (Jones & Stallings, 1999). Untuk sapi perah FH, penampilan produksi terbaik akan dicapai pada suhu lingkungan 18,3oC dengan kelembaban 55%.Sapi perah FH akan mengalami stres ringan (72 ≤ THI ≤79), stres sedang (80 ≤ THI ≤89) dan stres berat ( 90 ≤ THI ≤ 97) (Wierema,1990). Bila suhu lingkungan berada di atas atau di bawah suhu nyaman (comfort zone) untuk mempertahankan suhu tubuhnya ternak akan mengurangi atau meningkatkan laju metabolisme. Webster dan Wilson, (1980) menyatakan bahwa bila suhu lingkungan berada di atas suhu nyaman (comfort zone) maka ternak akan mengalami cekaman panas, daya tahan ternak terhadap panas menurun, ternak akan banyak mengeluarkan keringat dan akumulasi dari kondisi tersebut suhu tubuh ternak akan tinggi. Untuk mempertahankan suhu tubuhnya ternak akan mengurangi laju metabolisme dan mengadakan penyesuaian melalui perubahan aktivitas fisiologis seperti suhu kulit dan suhu rektal meningkat, berkeringat, meningkatkan respirasi dan denyut jantung. Wierama, (1990) Williamson dan payne (1968) menyatakan bahwa suhu udara antara 24 – 34°C, dan kelembaban udara tinggi yaitu antara 60-90%, dapat menyebabkan proses penguapan dari tubuh sapi FH terhambat sehingga sapi mengalami cekaman panas, selanjutnya pada sapi tropik yang dipelihara pada suhu lingkungan di atas 27oC mekanisme pengaturan panas aktif dan laju pernapasan dan penguapan meningkat. Widoretno, (1983). Daya tahan panas (BC) seekor ternak dapat diketahui melalui penggunaan rumus Benezra (1952), berdasarkan hasil pengukuran suhu rektal dan rata-rata pernafasan pada pagi dan siang hari. Williamson dan Payne (1986) serta Tafal (1981) menyatakan bahwa pada suhu lingkungan tinggi terjadi proses fisiologis dalam tubuh ternak untuk mengurangi dampak lingkungan melalui meningkatnya frekuansi bernapas dan pengeluaran keringat. Mc Dowell, (1972 ) menyatakan bahwa Pengeluaran keringat terjadi bila suhu lingkungan telah mencapai 25 0C. Tingginya suhu dan kelembaban akan menyebabkan stress pada ternak sehingga suhu tubuh, respirasi, dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan menurun, akhirnya menyebabkan produktivitas ternak rendah. Mengingat bahwa lingkungan berperan dan berpengaruh serta mempunyai efek besar terhadap ternak, oleh sebab itu maka ilmu lingkungan ternak sangat perlu dipelajari, diketahui, dimengerti dan dipahami dengan baik, karna berpengaruh besar terhadap pertanian pada umumnya dan peternakan pada khususnya, serta mahasiswa juga dapat mengetahui secara langsung dari praktikum bukan hana dari materi yang diberikan oleh dosen. Oleh karena itu,untuk dapat memahami ilmu lingkungan ternak yang diperoleh melalui teori-teori dan aplikasinya bisa kita terapkan di lapangan secara langsung, maka perlu dilakukan praktikum ilmu lingkungan ternak. BAB 1I : TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengaruh Lingkungan Terhadap Ternak Salah satu factor lingkungan adalah iklim, selain juga berpengaruh langsung terhadap ternak juga berpengaruh tidak langsung melalui pengaruhnya terhadap factor lingkungan yang lain, seperti pakan dan kesehatan, sehingga iklim tidak dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Iklim adalah kombinasi dari suhu udara, kelembaban, kecepatan angin, penyinaran, tekanan udara dan ionisasi (Williamson dan Payne, 1968; Mc Dowell, 1980 dan Sastry dkk., 1982). Crowder dan Chheda (1982), mengatakan bahwa di daerah tropik unsur utama pembentukan iklim adalah kelembaban, suhu udara, penyinaran, serta angin. Selanjutnya oleh Sastry dkk (1982), dikatakan bahwa suhu udara, kelembaban dan penyinaran berpengaruh besar terhadap pertanian pada umumnya dan peternakan pada khususnya. Produktivitas ternak dicerminkan oleh penampilannya (performance), sedangkan penampilan ternak merupakan manifestasi pengaruh Genetik (G) dan Lingkungan (L) ternak secara bersama-sama. Penampilan ternak pada setiap waktu adalah perpaduan dari sifat genetic dengan lingkungan yang diterimanya. Ternak dengan sifat genetik baik tidak akan mengekspresikan potensi genetiknya tanpa didukung oleh lingkungan yang menunjang. Bahkan telah diketahui bahwa dalam membentuk penampilan, lingkungan berpengaruh lebih besar dari pada sifat genetik ternak. 1. Temperatur Lingkungan Ternak Ternak merupakan hewan yang selalu berupaya mempertahankan temperatur tubuhnya pada kisaran yang normal. Mount (1979), menyatakan apabila sapi diekspose pada temperatur 45°C selama 5 jam sehari dalam 21 hari terus-menerus maka mulai hari ke 10 sapi tersebut sudah dapat menyesuaikan diri dengan temperatur panas sehingga temperatur tubuhnya akan sama seperti sebelum diekspose pada panas. Proses mempertahankan temperatur tubuh tersebut tidak berjalan secara langsung tetapi melalui proses yang bertahap. Salah satu factor lingkungan adalah iklim, selain juga berpengaruh langsung terhadap ternak juga berpengaruh tidak langsung melalui pengaruhnya terhadap factor lingkungan yang lain, seperti pakan dan kesehatan, sehingga iklim tidak dapat dikuasai sepenuhnya oleh manusia. Iklim yang cocok untuk daerah perternakan adalah pada klimat semi-arit dengan kondisi musim yang extrim, dengan curah hujan rendah secara relatif dan musim kering yang panjang meskipun curah hujan keseluruhan berkisar antara 254-508 ml. Suhu didaerah tropik dan sub tropik memungkinkan tanaman tumbuh sepanjang tahun. Crowder dan Chheda (1982) mengatakan bahwa semakin jauh dari khatulistiwa fluktuasi suhu antara musim yang berbeda semakin besar. 2. Kelembaban Lingkungan Mcdowell Dkk. (1972) sehubungan dengan hal di atas berpendapat bahwa pengetahuan mengenai elemen-elemen iklim serta pengaruhnya terhadap ternak merupakan modal vital untuk berhasilnya usaha peternakan. Campbell (1969) dan Lawrench (1980) mengatakan bahwa dalam pemeliharaan ternak elemen iklim yang perlu diperhatikan adalah suhu udara, kelembaban relatif, kecepatan angin dan curah hujan. Iklim di indonesia adalah Super Humid atau panas basah yaitu klimat yang di tandai dengan panas yang konstan, hujan dan kelembaban yang terus menerus (Umarar., dkk. 1991). Temperatur udara berkisar antara 21.11°C – 37.77°C dengan kelembaban relatif 55 – 100 % (Wright, 1964 dikutip Lubis, 1956., dikutip Umar Ar, dkk 1991). Rata-rata temperatur sepanjang tahun berkisar antara 2032 – 3048 mm atau 80 – 120 inchi (Soedomo, 1984). Pengaruh iklim pada ternak di daerah ini sangat mencolok (Umar Ar., dkk, 1991). Kelembaban udara dari suatu lingkungan kehidupan ternak merupakan salah satu unsur iklim. Dimana kelembaban lingkungan mempengaruhi kesehatan ternak. Kelembaban yang terlalu tinggi akan mempertinggi kejadian penyakit saluran pernapasan yang pada gilirannya memakai biaya perawatan kesehatan yang tinggi pada usaha produksi ternak. Kelembaban udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi (Anonym, 2009). Pengaruh Suhu dan Kelembaban Udara Terhadap Sapi Perah FH. Suhu dan kelembaban udara adalah dua faktor iklim yang mempengaruhi produksi sapi perah, karena dapat menyebabkan perubahan keseimbangan panas dalam tubuh ternak, keseimbangan air, keseimbangan energy dan keseimbangan tingkah laku ternak (Hafez, 1968; Esmay, 1978). McDowell (1974) menyatakan bahwa untuk kehidupan dan produksinya, ternak memerlukan suhu lingkungan yang optimum, Bligh dan Johnson (1985) membagi beberapa wilayah suhu lingkungan berdasarkan perubahan produksi panas hewan, sehingga didapatkan batasan suhu yang nyaman bagi ternak, yaitu antara batas suhu kritis minimum dengan maksimum ( 90< THI< 97) (Wierema,1990). 3. Confort Zone/suhu nyaman Dalam suhu comfort tidak terjadi perubahan proses fisiologis dalam tubuh ternak (McDowell 1980), mekanisme pengaturan panas tidak giat bekerja (Williamson dan Payne,1968) dan ternak dapat hidup efisien pada tingkat laju metabolisme minimal (Webster dan Wilson, 1980). Setiap hewan mempunyai kisaran suhu lingkungan yang paling sesuai yang disebut comfort zone (Williamson dan Payne,1968; McDowell dan Wilson (1980) Comfort Zone bagi ternak tropik berkisar antara 10 – 27oC (Williamson dan Payne,1968 : McDowell, 1980 ; Taffal, 1981). Sastry dkk. (1982), mengatakan bahwa perubahan frekuensi respirasi dan frekuensi denyut nadi/jantung merupakan upaya awal ternak untuk mempertahankan suhu tubuhnya. Foley et al. (1972) menyatakan bahwa keadaan lingkungan yang ideal untuk sapi perah adalah pada temperatur antara 30°F - 60°F dan dengan kelembaban rendah. Zona termonetral suhu nyaman untuk sapi Eropa berkisar 17 – 21oC (Hafez, 1968); 13 – 18oC (McDowell, 1972); 4 – 25oC, (Yousef, 1985), 5 – 25oC (Jones & Stallings, 1999). Untuk sapi perah FH, penampilan produksi terbaik akan dicapai pada suhu lingkungan 18,3oC dengan kelembaban 55%. THI<72 Webster dan Wilson (1980) mengatakan bahwa bila suhu lingkungan berada di atas atau di bawah comfort zone untuk mempertahankan suhu tubuhnya ternak akan mengurangi atau meningkatkan laju metabolisme. Williamson dan payne (1968) menjelaskan, pada sapi tropik yang dipelihara pada suhu lingkungan di atas 27oC mekanisme pengaturan panas aktif dan laju pernapasan dan penguapan meningkat. Sastry dkk (1982) mengatakan bahwa suhu yang tinggi mengakibatkan meningkatnya suhu rektal, menurunnya intake pakan, meningkatnya konsumsi air, menurunya konsumsi susu serta menurunnya laju pertumbuhan. Williamson dan Payne (1968) menjelaskan rendahnya pertumbuhan dari sapi yang dipelihara di lingkungan suhu yang tinggi adalah karena suhu tinggi mengurangi selera makan sehingga akan mengurangi lama makan dan intake. McDowell (1980) mengatakan bahwa berkurangnya intake adalah upaya untuk mengurangi laju metabolisme. Foley et al. (1972) menyatakan bahwa keadaan lingkungan yang ideal untuk sapi perah adalah pada temperatur antara 30°F - 60°F dan dengan kelembaban rendah. Zona termonetral suhu nyaman untuk sapi Eropa berkisar 17 – 21oC (Hafez, 1968); 13 – 18oC (McDowell, 1972); 4 – 25oC, (Yousef, 1985), 5 – 25oC (Jones & Stallings, 1999). Untuk sapi perah FH, penampilan produksi terbaik akan dicapai pada suhu lingkungan 18,3oC dengan kelembaban 55%. THI<72 Gambar 1. Diagram produksi panas sapi perah pada beberapa suhu lingkungan (Comfort zone). 4. Suhu dan Kelembababan Keritis Terhadap Ternak Webster dan Wilson (1980) mengatakan bahwa bila suhu lingkungan berada di atas atau di bawah comfort zone (Tabel...) maka ternak akan mengalami cekaman panas, daya tahan ternak terhadap panas menurun, ternak akan banyak mengeluarkan keringat dan akumulasi dari kondisi tersebut suhu tubuh ternak akan tinggi. Untuk mempertahankan suhu tubuhnya ternak akan mengurangi atau meningkatkan laju metabolisme dan mengadakan penyesuaian melalui perubahan aktivitas fisiologis seperti suhu kulit dan suhu rektal meningkat, berkeringat, meningkatkan respirasi dan denyut jantung. Apabila sapi perah berada pada suhu dan kelembaban tinggi yang dinyatakan dengan THI > 72 juga akan menyebabkan stress panas. Tabel 1. perbandingan suhu kritis pada ternak. TERNAK SUHU KRITIS (°C) Batas Atas Batas Bawah Sapi jantan yang dicukur Sapi perah kondisi buruk Sapi Jersey kondisi baik Sapi Sahiwal 5. Cekaman Panas Untuk sapi perah FH, penampilan produksi terbaik akan dicapai pada suhu lingkungan 18,3ºC dengan kelembaban 55%. Bila melebihi suhu tersebut, ternak akan melakukan penyesuaian secara fisiologis dan secara tingkah laku (behaviour). Secara fisiologis ternak atau sapi FH yang mengalami cekaman panas akan berakibat pada: penurunan nafsu makan, peningkatan konsumsi minum, penurunan metabolisme dan peningkatan katabolisme, peningkatan pelepasan panas melalui penguapan,penurunan konsentrasi hormon dalam darah, peningkatan temperatur tubuh, respirasi dan denyut jantung (McDowell, 1972), dan perubahan tingkah laku (Ingram & Dauncey, 1985) dan meningkatnya intensitas berteduh sapi (Combs, 1996). Antara suhu dan kelembaban udara mempunyai hubungan, hubungan besaran suhu dan kelembaban udara atau biasa disebut “Temperature Humidity Index (THI)” yang dapat mempengaruhi tingkat stres sapi perah dapat dilihat pada Tabel 2. Sapi perah FH akan nyaman pada nilai THI di bawah 72. Jika nilai THI melebihi 72, maka sapi perah FH akan mengalami stres ringan (72 < THI < 79), stres sedang (80 < THI <89) dan stres berat ( 90 < THI < 97) (Wierema, 1990). Tabel 2. Indeks suhu dan kelembaban relatif untuk sapi perah 6. Daya Tahan panas pada ternak (BC) Daya tahan panas merupakan kemampuan hewan untuk mengatasi akibat yang ditimbulkan oleh pengaruh kondisi panas (Lee, 1953). Kesanggupan ini adalah aktivitas hewan akibat ditempatkan di daerah panas, seperti yang dikemukakan oleh Mc Dowell (1972), bahwa dalam lingkungan panas hewan akan memperlihatkan reaksi yang ditandai dengan peningkatan kegiatan proses-proses fisiologis tertentu, guna meningkatkan pembuangan panas. Lubis (1959) mengemukakan, bahwa hewan yang suhu tubuh dan frekuensi pernafasannya mudah naik di tempat panas menunjukkan rendahnya daya tahan panas. Lebih lanjut produksinya dapat menurun jika dipindahkan dan dipelihara di tempat yang iklimnya jauh lebih panas, sekalipun produksi di daerah asalnya tinggi. Penerapan ternak di daerah yang iklimnya sesuai akan menunjang dihasilkannya produksi secara optimal. Salah satu unsur penentu iklim adalah suhu lingkungan. Bagi sapi potong yang mempunyai suhu tubuh optimum 38,33 oC, suhu lingkungan 25 oC dapat menyebabkan peningkatan rata-rata pernafasan, suhu rektal dan pengeluaran keringat, yang semuanya merupakan manifestasi tubuh untuk mempertahankan diri dari cekaman panas (Widoretno, 1983). Daya tahan panas seekor hewan dipengaruhi oleh kelembaban, gerakan udara, radiasi, system reproduksi, umur, keadaan bulu, kebiasaan berteduh, musim, aktifitas dan factor individu (Lee, 1953). Dalam kondisi yang sangat panas, hewan akan mempertahankan suhu tubuhnya antara lain melalui penguapan air dari dalam tubuh. Salah satu caranya adalah pengeluaran keringat. Makin banyak keringat yang dikeluarkan, hewan makin tidak tahan terhadap cekaman panas atau dapat dikatakan bahwa daya tahan panasnya rendah ( Guyton, 1976 ). 7. Sekresi Keringat Keringat merupakan substansi yang dikeluarkan oleh tubuh melalui penguapan dari permukaan kulit, guna menurunkan suhu tubuh yang terlalu tinggi (Mc Dowell, 1972). Dikemukakan pula, bahwa jumlah kelenjar keringat sapi lebih kurang 3,08 buah / cm2 permukaan kulit. Pengeluaran keringat terjadi bila suhu lingkungan telah mencapai 25 0C. Pada permukaan kulit akan terbentuk titik-titik keringat. Menurut Houpt ( 1970 ), tingkat kehilangan panas per satuan luas permukaan kulit melalui penguapan ataupun konveksi tergantung dari : tekanan uap di permukaan kulit dan di udara, kemampuan udara lingkungan dan rambut menahan penguapan, pergerakan serta suhu udara lingkungan. Berapapun suhu lingkungan, pengupan air selalu terjadi, yakni : - pengeluaran keringat yang tidak dapat dilihat atau “ Insensible Water Loss “ yang terjadi pada suhu rendah dan - kehilangan air secara terus menerus melalui epidermis atau “ Transepidermal Water Loss “. Dipermukaan kulit kedua cairan ini bercampur dan tidak dapat dipisahkan. Kemampuan udara lingkungan menguapkan air dari permukaan kulit sangat tergantung pada kelembabannya. Jika kelembaban udara rendah, penguapan akan cepat terjadi. Sebaliknya pada tingkat kelembaban yang tinggi penguapan lambat berlangsung, bahkan tidak terjadi ( Mc. Dowell, 1972 ). Mekanisme pengeluaran keringat yang disebabkan oleh suhu lingkungan tinggi dapat diikuti pada skema berikut : Dari gambar 2 terlihat adanya beberapa jalur mekanisme pengeluaran keringat, Gambar : 2. Skema mekanisme pengeluaran keringat yang disebabkan oleh suhu lingkungan tinggi. 2. Pengaruh lingkungan terhadap Fisiologis/Status faali ternak. Fisiologis ternak merupakan cerminan aktivitas fisiologis organ-organ bagian dalam (faal) yang menentukan kehidupan ternak yang pada gilirannya menentukan produktivitas dan reproduktivitasnya. Pada suhu lingkungan tinggi terjadi proses fisiologis dalam tubuh ternak untuk mengurangi dampak lingkungan melalui meningkatnya frekuansi bernapas dan pengeluaran keringat (Williamson dan Payne,1986) dan Tafal (1981). Kondisi fisiologi ternak dapat digunakan untuk mengetahui kesehatan seekor ternak, kondisi fisiologis yang digunakan untuk mengetahui indikasi ternak sehat adalah suhu tubuh, frekuensi denyut nadi dan frekuensi respirasi (Subroto, 1985). Secara berurutan respon ternak terhadap suhu tinggi sebagai berikut: a. suhu kulit meningkat Webster dan Wilson(1980), Oleh McDowell (1980) mengakatakan bahwa untuk mengantisipasi hal ini, aliran darah diperbesar untuk membantu meningkatkan pengeluaran panas melalui konduksi dan radiasi. Untuk mengantisipasi suhu lingkungan yang tinggi, aliran darah diperbesar untuk membantu meningkatkan pengeluaran panas melalui konduksi dan radiasi seingga suhu kulit menigkat. Webster dan Wilson(1980). Oleh McDowell (1980). Menurut Sarwono (1983) untuk menghasilkan pertumbuhan yang optimal maka lingkungan harus mampu mendukung pertumbuhan ternak. Menurut Pane (1986) pada umur tahun ke atas pertumbuhan ternak relatif merata. b. Berkeringat Apabila peningkatan aliran darah tidak berhasil mengurangi stres, maka pusat pengaturan panas memacu kelenjar keringat untuk mengekskresikan keringat. Pengeluaran keringat akan membantu pengeluaran panas melalui penguapan. (McDowell, 1980). Webster dan Wilson (1980) mengatakan bahwa pada ternak, kecuali ayam, ”berkeringat” merupakan cara terpenting dan terutama dalam mekanisme pengaturan panas tubuh. Semakin banyak berkeringat yang dikeluarkan oleh ternak, ternak tersebut semakin tidak tahan terhadap cekaman panas atau dapat dikatakan bahwa daya tahan panasnya rendah ( Guyton, 1976). Mc.Dowell (1972) menjelaskan, bahwa ternak yang ditempatkan dilapangan yang terbuka akan menerima radiasi sinar matahari secara langsung, radiasi sinar yang dipantulakan awan dan radiasi sinar yang dipantulkan oleh obyek lain yang berada disekililingnya. Intensitas radiasi sinar matahari yang diterima ternak berbeda pada waktu dan tempat berbeda. c. Peningkatan frekuansi respirasi. Sistem respirasi disebut juga sistem pulmoner karena yang dimaksud hanyalah struktur yang terlihat dalam pertukaran gas atau sistem external. Respirasi pada unggas digunakan juga sebagai media untuk pembuangan panas. Respirasi bergantung pada pergerakan udara ke dan dari paru-paru (Frandson,1992). Paru-paru yang normal akan menghasilkan bunyi yang disebut Murmur Vesikuler, paru-paru yang tidak normal dapat menimbulkan suara keras yang disebut rales atau tidak menimbulkan suara sama sekali bergantung pada kondisinya. Respirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu respon fisiologis akibat berubahan temperatur lingkungan, temperatur lingkungan, suhu tubuh, ukuran tubuh dan keadaan bunting (Smith, 1988). Apabila penguapan melalui pengeluaran keringat belum memperbaiki suhu tubuh, hewan akan meningkatkan penguapan air dari saluran pernapasan dan rongga mulut dengan meningkatkan laju pernapasan (Webster dan Wilson, 1980 dan McDowell, 1980). Respirasi adalah proses pertukaran gas sebagai suatu rangkaian kegiatan fisik dan kimia dalam tubuh organisme dalam lingkungan sekitarnya. Oksigen diambil dari udara sebagai bahan yang dibutuhkan jaringan tubuh dalam proses metabolisme. Dalam respirasi terpenting adalah mengambil oksigen, melepaskan karbondioksida serta transportasinya ke dan dari jaringan pernapasan (Tenney, 1977 dan Bone 1977). Frekuensi respirasi bervariasi tergantung antara lain dari besar badan, umur, aktivitas tubuh, kelelahan dan penuh tidaknya rumen (Tenney, 1970; Jeffrey, 1975; White, 1977 dan Bone, 1982). Lebih lanjut French (1980) dan Copland (1983) menyatakan bahwa meningkatnya frekuensi respirasi menunjukkan meningkatnya mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fisiologik dalam tubuh hewan. Pada keadaan normal frekuensi respirasi ternak sapi berkisar antara 24-42 kali/menit (Soerono et al, 1974), 27 – 40 kali/menit ( Mangkoewidjojo, 1988) dengan frekuensi denyut nadi antara 54-84 kali/menit (Soerono et al, 1974), 40-58 kali/menit (Mangkoewidjojo, 1988) serta temperatur rektal antara 37,6-39,00C (Soerono et al, 1974) 38,5-40,50C (Huitema, 1986), 38,039,00C ( Mangkoewidjojo, 1988). Pada sapi, kerbau, kambing dan domba peningkatan frekuensi respirasi merupakan salah satu mekanisme pengaturan suhu tubuh (McDowell dkk, 1972). Kecepatan respirasi meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu lingkungan. Lebih lanjut French (1980) dan Copland (1983) menyatakan bahwa meningkatnya frekuensi respirasi menunjukkan meningkatnya mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fisiologik dalam tubuh hewan. Kelembaban udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi (Hafez, 1968). Table 3 Frekuensi Respirasi sapi FH Parameter Sumber Pernapasan (kali per menit) Suhu Lingkungan (0C) Netral Cekaman 1 48.0 87.0 2 31.0 75.0 Sumber: 1. Kibler (1962). Sapi FH dengan suhu netral 21.6oC dan suhu cekaman 32.2oC. 2. Purwanto (1993). Sapi FH dengan suhu netral 15oC dan suhu cekaman 30oC d. Peningkatan denyut jantung Akoso (1996) menyatakan denyut nadi sapi normal sekitar 50-60 kali per menit. Hal ini berhubungan dengan faktor bahwa semakin kecil ukuran hewan, laju metabolisme per unit berat badannya semakin tinggi (Dukes, 1995). Hewan yang sakit atau stres akan meningkat denyut jantungnya untuk sementara waktu (Subroto, 1985). (Webster dan Wilson, 1980). Hal ini berhubungan dengan peningkatan respirasi yang karena meningkatnya aktivitas otot pada organ respirasi membutuhkan suplai O2 lebih banyak yang harus dipenuhi melalui peningkatan aliran darah melalui peningkatan denyut jantung. Adanya peningkatan frekuensi denyut jantung saat suhu lingkungan naik menunjukkan bahwa pada dasarnya penghilangan panas tubuh diatur oleh system cardiovaskuler. Peningkatan aktivitas ini mempermudah pengeluaran panas tubuh ke permukaan kulit ( Preeman,, 1971 ). Bila terjadi cekaman panas akibat temperature lingkungan yang cukup tinggi maka frekuensi pulsus ternak akan meningkat (Esmay, 1969), hal ini berhubungan dengan peningkatan frekuensi respirasi yang menyebabkan meningkatnya aktivitas otot-otot respirasi sehingga mempercepat pemompaan darah kepermukaan tubuh dan selanjutnya akan terjadi pelepasan panas tubuh. Sirkulasi darah berfungsi membantu peredaran nutrient untuk metabolisme sel tubuh, pertukaran O2 dan CO2 di paru-paru, berperan dalam proses pembuangan panas melalui radiasi dan konveksi pada permukaan tubuh dan lain sebagainya. Smith(1970) mengatakan bahwa jumlah aliran darah pada bagian tubuh tergantung dari kebutuhan masing-masing bagian tubuh. White (9177) menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan organ tubuh seperti makanan dan oksigen dibutuhkan adanya sirkulasi darah yang memadai, karena darah merupakan media pengangkut terpenting dalam darah. Gerakan darah dari jantung terjadi oleh karena adanya detakan jantung. Detakan ini disebut denyut nadi atau pulsus (Smetzer dkk, 1970). Frekuensi denyut nadi dapat dideteksi melalui denyut jantung yang dirambatkan pada dinding rongga dada atau pada pembuluh nadinya (Smetzer dkk, 1970 dan Bone, 1982) Tabel 4. Denyut jantung sapi FH Parameter Denyut jantung (kali per menit) Sumber Suhu Lingkungan (0C) Netral Cekaman 1 77.0 79.0 2 64.0 67.0 Sumber : 1) Kibler (1962). Sapi FH dengan suhu netral 21.6oC dan suhu cekaman 32.2oC. 2) Purwanto (1993). Sapi FH dengan suhu netral 15oC dan suhu cekaman 30oC. e. Suhu Rektal Menurut Sugeng (1998), suhu tubuh normal untuk anak sapi adalah 39,50C-400C, sedangkan untuk anak sapi dewasa 380C-39,50C. Suhu tubuh dipengaruhi oleh lingkungan, jenis kelamin dan kondisi ternak. Sugeng (1998) menjelaskan bahwa ternak mempunyai sistem pengaturan suhu tubuh untuk memelihara suhu tubuhnya dari pengaruh luar. Pearson (1985); Bell dan Hales (1985) menyatakan, bahwa secara fisiolgis kelelehan dapat diukur dari meningkatnya temperature suhu rectal. Temperatur rektaldigunakan sebagai ukuran suhu tubuh karena suhu rektum digunakan sebagai media ukur, merupakan suhu paling optimal. Dipengaruhi oleh temperatur lingkungan, aktivitas, pakan, minuman dan pencernaan produksi panas oleh tubuh secara tidak langsung (Dukes, 1995). Mangkoewodjojo (1988) menyatakan, bahwa pada keadaan normal temperatur rektal sapi 38.00C sampai 39,00C ; 00C – 38,50C sampai 40.50C (Huteima, 1986), Soerono et al (1978) menyatakan bahwa bahwa temperatur tubuh sapi 37,60C sampai 39,00C. Effendi dan Jazir (1982) menyatakan, bahwa pada pada keadaan normal istirahat denyut nadi sapi 64 kali/menit kemudian setelah dipekerjakan maka pemakaian oksigen dan denyut nadinya semakin meningkat. Tabel 5. Suhu Rektal Sapi FH Parameter Sumber Suhu rektal (0C) Suhu Lingkungan (0C) Netral Cekaman 1 38.7 40.0 2 38.8 39.8 . Sumber : 1) Kibler (1962). Sapi FH dengan suhu netral 21.6oC dan suhu cekaman 32.2oC. 2) Purwanto (1993). Sapi FH dengan suhu netral 15oC dan suhu cekaman 30oC. f. Peningkatan suhu tubuh. Meningkatnya aktivitas jantung meningkatkan pula produksi panas oleh aktivitas otot, sehingga pada keadaan ini ternak mendapat panas bukan hanya dari lingkungannya melainkan juga dari dalam tubuhnya sendiri. Suhu tubuh hewan homeoterm merupakan hasil keseimbangan dari panas yang diterima dan dikeluarkan oleh tubuh. Dalam keadaan normal suhu tubuh ternak sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis kelmin, iklim, panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan, aktivitas pencernaan dan jumlah air yang diminum (Anderson, 1970). Bartholomew (1977) menyatakan bahwa suhu normal adalah panas tubuh dalam zone thermoneutral pada aktivitas tubuh terendah. Selanjutnya oleh parker (1980) ditambahkan, variasi normal suhu tubuh akan berkurang bila mekanisme thermoregulasi telah bekerja sempurna dan hewan telah dewasa. Webster dan Wilson (1980) mengatakan bahwa variasi suhu tubuh 0,6 - 1,2 oC adalah normal. Webster dan Wilson (1980) mengatakan bahwa suhu tubuh (true body temperature) adalah suhu daerah yang meninggalkan jantung dan suhu rectal umumnya 0.1 – 0,3oC lebih rendah dari suhu tubuh. Walaupun demikian, menurut Anderson (1970), salah satu cara untuk memperoleh gambaran suhu tubuh adalah dengan melihat suhu rectal dengan pertimbangan bahwa rectal merupakan tempat pengukuran terbaik dan dapat mewakili suhu tubuh secara keseluruhan sehingga dapat disebut sebagai suhu tubuh. Tabel 6. Suhu tubuh dalam tipik berbagai ternak Macam Ternak Sapi Temperatur Tubuh Dalam (0C) (0F) 38,0 – 39, 3 ( 100, 4 – 10, 28 ) Sumber : Sudomo (1984). Sapi FH dengan suhu netral 21.6oC dan suhu cekaman 32.2oC

Judul: Ilmu Lingkungan Ternak "peternakan Unila"

Oleh: Tri Doni Saputra


Ikuti kami