Teknik Perbendaharaan Penerimaan

Oleh Wulan Wulan

589,9 KB 7 tayangan 1 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Teknik Perbendaharaan Penerimaan

DIKLAT TEKNIS SUBTANTIF DASAR (DTSD) KEPABEANAN DAN CUKAI MODUL ( I – II) MATERI TEKNIS PERBENDAHARAAN PENERIMAAN BEA DAN CUKAI OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 MODUL I TUGAS POKOK DAN FUNGSI BENDAHARA PENERIMA DJBC MATERI ADMINISTRASI PERBENDAHARAAN DAN PENERIMAAN BEA DAN CUKAI OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 Kata Pengantar Syukur Alhamdulillah penulis telah menyelesaikan buku yang berjudul ”Administrasi Perbendaharaan dan Penerimaan Bea dan Cukai “ Buku ini ditulis berdasarkan ketentuan-ketentuan terkini pada saat ini mengenai Tehnis Perbendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai. Telah banyak buku yang ditulis mengenai Administrasi Perbendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai, oleh penulis di Pusat Pendidikan dan Latihan Bea dan Cukai yang merupakan salah satu bahan masukan dalam penulisan modul ini, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih, ucapan terima kasih juga ditujukan kepada semua fihak yang telah membantu penulisan ini hingga selesai. Modul ini disusun berdasarkan hasil pemikiran dan pengalaman Penulis selama bekerja pada DJBC, penulis mengharapkan modul ini dapat dipakai pada diklat DTSD I Bea dan Cukai. Disadari bahwa buku ini masih jauh dari tingkat sempurna, oleh karena itu diharapkan masukan dan kritik yang membangun guna penyempurnaannya. Jakarta, Oktober 2007 Penulis, Drs.Achmad Kadir Widyaiswara Utama Madya DAFTAR ISI Hal 1. Pendahuluan................................................................................................. 4 A. Tujuan Instruksional Umum .................................................................. 4 B. Tujuan Instrusksional Khusus................................................................ 4 2. Umum ......................................................................................................... 5 A. Pengertian................................................................................................ 5 B. Bendahara Penerima................................................................................ 7 C. Latihan dan Rangkuman.......................................................................... 12 3. Pembayaran................................................................................................. 14 A. Bidang Pabean dan Cukai ........................................................................ 14 B. Jenis – Jenis Pungutan Pabean Impor ...................................................... 17 C. Jenis – Jenis Pungutan Atas BKC ............................................................ 19 D. Pungutan Ekspor ...................................................................................... 21 E. Jaminan..................................................................................................... 22 F. Latihan dan Rangkuman …………………………………………… 25-26 4. Penyetoran Penerimaan Negara .................................................................... 28 A. Tata Laksana Pembayaran Dan Penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor Melalui Bank Devisa Persepsi .......................................... 28 B. Tata Laksana Pembayaran Dan Penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor Melalui KPBC................................................................... 33 C. Tata Laksana Pembayaran Dan Penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor Melalui Pos Persepsi ......................................................... 37 D. Tata Laksana Pembayaran Dan Penyetoran penerimaan negara Atas Barang Kena Cukai Buatan Dalam Negeri ................................................ 40 E. Tata Laksana Pembayaran Dan Penyetoran Pungutan Ekspor................... 46 F. Tata Laksana Pembayaran Dan Penyetoran Pungutan Negara Bukan pajak Oleh Bendahara Bea Dan Cukai ................................................................. 47 G. Pembukuan Bendahara Atas penerimaan Yang Pembayarannya dilakukan Di KPBC ...................................................................................................... 49 H. Latihan dan Rangkuman...........................................................................53 -54 5. Penagihan Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga Dan Pajak Dalam Rangka Impor Serta Penerimaan Negara Bukan Pajak ...................... 56 A. Penagihan Administratif .......................................................................... 56 B. Penagihan Aktif........................................................................................ 58 C. Penyelesaian Barang Tidak Dikuasai, Dikuasai Negara Dan Milik ........ Negara ....................................................................................................... 61 D. Latihan dan Rangkuman………………………………………………. 65-66 6. Pengembalian................................................................................................... 68 A. Pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi Dan Bunga.................... 68 B. Pengembalian cukai dan/ Atau Denda Administrasi................................. 71 C. Pembayaran Bunga.................................................................................... 73 D. Pengembalian PNBP ................................................................................. 74 E. Latihan dan Rangkuman........................................................................... 74 7. Tes Formatif........................................................................................................ 76 8. Kunci Jawaban.................................................................................................... 84 9. Umpan Balik....................................................................................................... 84 10. Daftar Pustaka.................................................................................................... 85 MODUL . I . TUGAS POKOK DAN FUNGSI BENDAHARA PENERIMA DIREKTORAT JENDRAL BEA DAN CUKAI. 1. PENDAHULUAN ; 1.1.Deskripsi Singkat ; Berdasarkan Undang-Undang nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan negara, Undang-undang nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, yang merupakan salah satu perubahan dari pengelolaan terhadap sumber-sumber penerimaan negara. Dengan latar belakang pengelolaan keuangan negara yang efesien dan efektif seperti itu, maka Bendahara khususnya Bendahara Penerima pada DJBC wajib mengikuti ketentuan-ketentuan yang dipersyaratkan menuju tertib administrasi pengelolaan penerimaan negara yang pemungutannya dilaksanakan oleh DJBC. 1.2. Tujuan Instruksional Umum ; Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu memahami tentang administrasi Perbendaharaan Penerima Bea dan Cukai yang meliputi pengertianpengertian dan contoh-contoh dokumen yang terkait dengan pembayaran, dan tata cara pembayaran atas pungutan negara dibidang pabean dan cukai serta pungutan-pungutan lainnya yang dititipkan pengelolaannya pada pada DJBC. Disamping itu ditetapkan pula suatu hal penting yaitu pertanggung jawaban atas keuangan negara yang dikelola oleh bendahara Bea dan Cukai. 1.3. Tujuan Instruksional Khusus ; Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu memahami dan menjelaskan administrasi perbendaharaan penerimaan Bea dan Cukai tentang berbagai pengertian yang terkait dengan Bendahara, tugas pokok, fungsi Bendahara, dokumen-dokumen yang dipakai dalam pembayaran baik yang tunai maupun yang dipertaruhkan jaminan terlebih dahulu, jenis-jenis pungutan, tata cara pembayaran pungutan pabean dan cukai, denda administrasi, bunga dan penerimaan negara lainnya yang pemungutannya dilakukan oleh DJBC, serta tanggung jawab atas keuangan negara yang dikelola oleh DJBC. 2. KEGIATAN BELAJAR 1. 2.1. URAIAN ; 2.1.1. PENGERTIAN, TUGAS POKOK DAN FUNGSI BENDAHARA BEA DAN CUKAI ; A. Pengertian-Pengertian; 1. Keuangan Negara ; adalah semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. 2. Penerimaan Negara ; adalah uang yang masuk ke kas Negara. 3. Pendapatan Negara ; adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. 4. Pengeluaran Negara ; adalah uang yang keluar dari kas Negara. 5. Perbendaharaan Negara ; adalah pengelolaan dan pertanggung jawaban Keuangan Negara, termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam APBN dan APBD. 6. Kas Negara; adalah tempat penyimpanan uang Negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) untuk menampung seluruh penerimaan Negara dan membayar seluruh pengeluaran Negara. 7. Rekening Kas Umum Negara ; adalah rekening tempat penyimpanan uang Negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan dan membayar seluruh pengeluaran Negara pada Bank Sentral. 8. Administrasi ; Menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah; Usaha dan Kegiatan meliputi penetapan penyelenggaraan pemerintahan. tujuan serta penetapan cara-cara 9. Bendahara adalah ; setiap orang atau badan yang diberi tugas untuk dan atas nama Negara/ daerah, menerima, menyimpan, dan membayar/menyerahkan uang atau surat berharga atau barang-barang Negara /Daerah. 10. Bendahara Umum Negara; adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi Bendahara Umum Negara ( Menteri Keuangan). 11. Bendahara Penerimaan; adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, menyetorkan, dan mempertanggung jawabkan uang pendapatan Negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN / APBD pada kantor / satuan kerja kementerian Negara / Lembaga / Pemerintah Daerah. 12. Bendahara pengeluaran; adalah orang yang ditunjuk menerima, menyimpan, membayarkan, menata usahakan, dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja Negara / daerah dalam rangka pelaksanaan APBN / APBD pada kantor / satuan kerja kementerian Negara / lembaga / daerah. 13. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran ; adalah pejabat Fungsional. 14. Tahun anggaran meliputi satu tahun mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember. 15. SSPCP ; adalah Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor. 16. SSCP ; adalah Surat Setoran Cukai dan pajak atas Barang Kena Cukai dan PPN Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri. 17. BPPCP ; adalah Bukti Pembayaran Pabean, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor. 18. STBS ; adalah Surat Tanda Bukti Setor untuk pungutan ekspor atas barangbarang tertentu yang dikenakan pungutan ekspor. 19. SPSA ; adalah Surat Penetapan Sanksi Administrasi dibidang pabean. 20. SPPSA ; Surat Pemberitahuan Pengenaan Sanksi Administrasi dibidang Cukai. 21. PNBP ; adalah Pungutan Negara Bukan Pajak. 22. SSBP ; adalah Surat Setoran Bukan Pajak yang dibayar pada Bank Devisa Persepsi, Bank Devisa atau PT.POS Indonesia. 23. BPBP ; adalah Bukti Pembayaran Bukan Pajak yang dibayar pada Bendahara Bea dan Cukai. 24. SPMKBM/CK ; adalah Surat Perintah Membayar Kembali Bea Masuk / Cukai. 25. PDRI; Penerimaan Dalam Rangka Impor. 26. PIB (BC.2.0); adalah Pemberitahuan Impor Barang. 27. PIBT (BC.2.1); adalah Pemberitahuan Impor Barang Tertentu. 28. PPKP; adalah Pencacahan dan Pembebanan Kiriman Pos. 29. CD (Customs Declaration): BC.2.2. Pemberitahuan Barang Bawaan Penumpang. 30. ST ; Surat Tagihan/ Surat Teguran. 31. PEB (BC.3.0) ; adalah Pemberitahuan Ekspor Barang. 32. PDRE ; Penerimaan Dalam Rangka Ekspor. 33. CK.1. ; adalah Dokumen Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau. 34. CK.1A ; adalah Dokumen Pemesanan Pita Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol. 35. CK.1B ; adalah Pemesanan Pita Cukai / label pengawasan. 36. CK.14. ; adalah Pemberitahuan pengeluaran barang kena cukai etil alkohol /minuman mengandung etil alkohol yang sudah dilunasi cukainya dari pabrik atau tempat penyimpanan. 37. PKPBM/CK ; Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran BM/Cukai. 38. B.C. 2.4 ; Pengeluaran Barang eks FasilSitas KITE ke Daerah Pabean. 39. KPPN ; adalah Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dahulu adalah KPKN. 40. SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana). 41. SPP-SKO (Surat Permintaan Penerbitan Surat Keputusan Otorisasi). B. Bendahara Penerima Bea dan Cukai; Dalam pengertian diatas telah didefinisikan bahwa Bendahara adalah orang atau badan yang diberi tugas untuk dan atas nama Negara, menerima, menyimpan, menyetorkan, menata usahakan, dan mempertanggung jawabkan uang pendapatan Negara/ daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor / satuan kerja kementerian Negara/ Lembaga/ Pemerintah Daerah. Menurut Undang-undang Perbendaharaan Negara, Bendahara adalah jabatan fungsional yang terdiri dari 2(dua) ; 1. Bendahara Penerima ; 2. Bendahara Pengeluaran. Dalam buku ini akan diuraikan tentang Bendahara Penerimaan pada Direktorat Jendral Bea dan Cukai, yaitu Orang yang ditunjuk untuk : menerima, menyimpan, menyetorkan dan mempertanggung jawabkan uang pendapatan Negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN / APBD pada kantor / satuan kerja kementerian Negara/lembaga/pemerintah daerah. 1. Tugas dan Fungsi Bendahara Penerima Bea dan Cukai; 1.1. Tugas Perbendaharaan; Bendaharawan Penerima Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diangkat oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan sebagai Kepala Seksi/Korlak Perbendaharaan pada Kantor di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Bendaharawan Bea dan Cukai bertugas untuk melakukan pengadministrasian penerimaan bea masuk dan pungutan negara lainnya yang pemungutannya dibebankan pada DJBC, penangguhan, penagihan, pengelolaan jaminan dan pengembalian bea masuk dan cukai. 1.2. Fungsi Perbendaharaan; a. Pengadministrasian penerimaan bea masuk, cukai, denda administrasi, bunga, sewa tempat penimbunan pabean dan pungutan Negara lainnya yang pemungutannya dibebankan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; b. Pelayanan fasilitas pembebasan, penangguhan bea masuk, penundaan pembayaran cukai cukai dan administrasi jaminan serta pemrosesan penyelesaian jaminan penangguhan bea masuk, jaminan Pengusaha Pengguna Jasa Kepabeanan dan jaminan dalam rangka keberatan, banding serta jaminan lainnya; c. Penagihan dan pengembalian bea masuk, cukai, denda administrasi, bunga, sewa tempat penimbunan pabean, serta pungutan negara lainnya yang pemungutannya dibebankan kepada DJBC. d. Penerimaan, penatausahaan, penyimpanan, pengurusan permintaan dan pengembalian pita cukai. e. Penerbitan dan pengadministrasian surat teguran atas kekurangan pembayaran bea masuk, denda administrasi, bunga, sewa tempat penimbunan pabean, dan pungutan pabean lainnya yang telah jatuh tempo; f. Penerbitan dan pengadministrasian surat paksa serta penyitaan dan administrasi pelelangan; g. Pengadministrasian dan penyelesaian surat keterangan impor kendaraan bermotor; h. Penyajian laporan realisasi penerimaan bea masuk, cukai dan pungutan negara lainnya; i. Pengadministrasian dan penyelesaian uang anggaran. 1.3. Seksi Perbendaharaan terdiri dari ; a. Subseksi penerimaan dan pengembalian; b. Subseksi administrasi jaminan; c. Subseksi administrasi penagihan. 2. Dalam Melaksanakan Tugasnya Bendahara Dilarang ; 2.1. Dirangkap oleh Pengguna anggaran/barang yaitu semua Menteri/pimpinan lembaga yang dalam melaksanakan haknya menunjuk kuasa pengguna anggaran. Demikian juga Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dalam menjalankan haknya yang menunjuk kuasa BUN. Kedua pejabat diatas tidak boleh merangkap sebagai Bendahara; 2.2. Melakukan kegiatan perdagangan, pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/ pekerjaan/ penjualan tersebut 3. Serah Terima Jabatan Bendahara : 3.1. Penggantian Sementara Bendahara Penerima; 1. Penggantian sementara jabatan Bendahara dilakukan dalam hal Bendaharawan Penerima tidak dapat menjalankan fungsinya karena sesuatu hal, Kepala Kantor selaku atasan langsung menunjuk Bendahara pengganti sementara untuk melaksanakan tugasnya dan Bendaharawan yang diganti wajib membuat surat kuasa/pernyataan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pengganti sementara. 2. Apabila Bendahara Penerima tidak dapat menjalankan tugasnya lebih dari 12 (dua belas ) hari atau tidak bersedia menyerahkan tugasnya dengan surat kuasa, maka tugas kewajibannya harus diserah terimakan kepada Bendahara pengganti yang ditunjuk oleh Kepala Kantor dan dibuatkan Berita Acara serah terima yang diketahui oleh Kepala Kantor. 3. Apabila Bendahara Penerima sudah dapat menjalankan tugasnya kembali, maka segera dibuatkan surat pencabutan atas surat kuasa atau penunjukannya. 4. Penggantian Bendahara Penerima; 4.1. Apabila terjadi penggantian Bendaharawan Penerima, maka buku penerimaan ditutup dan dibuatkan berita acara serta pertelaan penutupan kas yang ditanda tangani oleh Bendaharawan Penerima yang lama dan yang baru dengan diketahui oleh Kepala Kantor selaku atasan langsung. 4.2. Penggantian Bendaharawan Penerima karena melarikan diri, berada dibawah pengampuan atau meninggal dunia, maka Kepala Kantor segera membentuk Tim yang bertugas sebagai berikut; a. Menutup Buku Catatan Pabean untuk penerimaan harian; b. Menyimpan dalam lemari yang disegel semua buku-buku dan buktibukti lain yang berkaitan dengan penerimaan /penyetoran; c. Menyegel brankas. Apabila tugas diatas telah selesai dilaksanakan, selanjutnya dilakukan pengujian dengan membuka segel, melakukan pemeriksaan kas dan semua uang dan dokumen berharga lainnya dihitung dan dituangkan dalam berita acara. Penutupan buku catatan Pabean untuk penerimaan harian dan buku-buku lainnya, penyegelan dan pemerikasaan kas harus disaksikan oleh ahli waris/keluarga Bendaharawan yang bersangkutan dan 2 (dua) orang pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Kantor. Guna kelancaran tugas sehari-hari Kepala Kantor selaku atasan langsung segera menunjuk Bendahara Penerima Pengganti Semenatara, yang sebelum melaksanakan tugasnya dilaksanakan serah terima dari Tim kepada Bendaharawan Penerima Pengganti Sementara tersebut dan dibuatkan Berita Acara. 5. Tanggung jawab Bendahara Penerima. Bendahara Umum Negara adalah Menteri Keuangan yang dalam melaksanakan tugasnya menunjuk kuasa Bendahara Umum Negara/Daerah. Bendahara yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan tersebut diatas, secara fungsional bertanggung jawab kepada kuasa Bendahara Umum Negara dan selanjutnya kuasa Bendahara Umum Negara bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan dari segi hak dan ketaatan kepada peraturan atas pelaksanaan penerimaan yang dilakukannya. Selanjutnya Menteri Keuangan bertanggung jawab kepada Presiden dari segi hak dan ketaatan kepada peraturan atas pelaksanaan penerimaan Negara. 6. Tanggung jawab Bendahara Penerima atas kerugian Negara; Bendahara yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan yang secara langsung merugikan Negara, wajib mengganti kerugian tersebut . Kepala Kantor/satuan kerja segera melakukan tuntutan ganti rugi setelah mengetahui bahwa dalam Kantor/Satuan kerjanya terjadi kerugian akibat perbuatan Bendahara. Kerugian negara yang timbul wajib dilaporkan oleh kepala Kantor kepada Menteri Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak kerugian Negara itu diketahui dan kepada Bendaharawan segera diminta surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian Negara. Ahli waris dan Pengampu bertanggung jawab atas Bendahara yang melarikan diri atau meninggal dunia jika timbul kerugian Negara. 7. Kadaluarsa ganti rugi Bendahara; Kadularsa ganti rugi sebagai berikut; a. 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut atau, b. 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan. c. Apabila dalam melaksanakan tugasnya Bendahara melakukan suatu tindak pidana yang telah dijatuhi hukuman oleh hakim sebagai petindak pidana, maka putusan hakim atas tindak pidana yang dilakukan Bendahara tidak membebaskannya dari tuntutan ganti rugi. 3.1. RANGKUMAN ; Dalam Bab ini telah diuraikan tentang berbagai pengertian dan tugas, fungsi, serah terima, pengangkatan, larangan dan tanggung jawab serta kadaluarsa tuntutan ganti rugi Bendahara; 3.1.1 Dalam definisi Bendahara terdapat unsur-unsur; Orang atau badan; Yang oleh karena Negara ditunjuk; menerima, mengeluarkan, membukukan dan yang tepenting mempertanggung jawabkaan penerimaan Negara/Daerah. Tanggung jawab Bendahara sebagai pejabat fungsional adalah secara pribadi, artinya jika timbul kerugian Negara pada pengelolaannya, maka tanggung jawab melekat pada dirinya sampai kepada ahli waris atau pengampunya 3.1.2. Jenis-jenis Bendahara adalah; Bendahara Penerima dan Bendahara Pengeluaran. 3.1.3. Pengangkatan Bendahara oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan 3.1.4. Serah terima Bendahara; a. Sementara dan b. Tetap. 3.1.5. Seksi Perbendaharaan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Type A 1,2,3,4 a Subseksi administrasi dan pengembalian; b. Subseksi administrasi jaminan; c.Subseksi administrasi penagihan. 3.1.6. Jabatan fungsional Bendahara dan tanggung jawab secara pribadi jika terjadi kerugian Negara secara langsung didalam pelaksanaan tugasnya. Pada serah terima sementara pengantinya hanya meneruskan tugas Bendahara yang diganti sedangkan tanggung jawab tetap berada pada Bendahara yang diganti, kecuali kalau Bendahara yang tidak dapat melakukan tugasnya lebih dari 12 hari atau tidak ingin bertanggung jawab atas pengurusan sementara walaupun selama 12 hari atau kurang, maka harus dilaksanakan serah terima. Kepala Kantor/satuan kerja mengawasi Bendahara dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari yang mengetahui Bendahara melarikan diri atau meninggal dunia, maka segera membentuk tim untuk secara bersama- sama dengan Kepala Kantor dan ahli waris atau pengampu mengadakan pemeriksaan kas dan pembukuan. Bendahara yang telah dijatuhi hukuman oleh hakim sebagai petindak pidana, atas putusan tersebut tidak menghapuskan tuntutan ganti rugi. 4.1. LATIHAN ; 4.1.1. Sebutkan dasar hukum tentang Bendahara Penerima. 4.1.2. Sebutkan definisi Bendahara Penerima. 4.1.3. Sebutkan tugas,fungsi,tanggung jawab dan serah terima Bendahara Penerima. 3. KEGIATAN BELAJAR. 2. PEMBAYARAN PUNGUTAN NEGARA PADA DJBC. 3.1. URAIAN ; Pembayaran adalah semua pungutan yang diterima oleh Bendahara Bea dan Cukai yang telah ditetapkan dan dibebankan terhadap barang impor, ekspor dan Barang Kena Cukai serta pungutan-pungutan lain yang diwajibkan sehubungan dengan tugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pungutan yang diterima oleh Bendahara DJBC termasuk dalam lingkup Pajak Tidak Langsung yang mempunyai ciri-ciri yakni ; yang dituju, yang membayar dan yang memikul pajak tidak berada ditangan satu orang/badan. Pada dasarnya pungutan pajak mempunyai lingkaran pajak (Tax Circle) yang terlebih dahulu ditetapkan; a. Objek Pajak; b. Saat terutang (titik tangkap); c. Saat pelunasan; d. Fasilitas; e. Penagihan dan f. Pengembalian serta g. Kadaluarsa A. Bidang kepabeanan dan cukai; 1. Objek Pajak dibidang pabean impor; Objek pajak dibidang pabean adalah semua barang yang dimasukkan kedalam daerah pabean Indonesia untuk dipakai, dimiliki atau dikuasai oleh orang yang berdomosili di Indonesia. 2. Objek Cukai; Objek pajak dibidang cukai adalah ; 2.1. Etil Alkohol atau etanol dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dalam pembuatannya; 2.2. Minuman Mengandung Etil Alkohol dalam kadar berapapun dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya, termasuk konsentrat yang mengandung etil alkohol; 2.3. Hasil Tembakau meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan digunakan atau tidak bahan pembantu dalam pembuatannya. 3. Objek pungutan atas barang ekspor; Pada saat ini ada 5(lima) jenis barang yang dikenakan pungutan ekspor: a. Kayu (kecuali yang dilarang); b. Rotan (kecuali yang dilarang); c. Pasir (kecuali yang dilarang); d. CPO (Crude Palm Oil) dan turunannya. e. Kulit dalam keadaan wet blue atau bukan. 4. Saat terutang pungutan atas barang yang diimpor; Saat terutang pungutan impor adalah pada saat barang memasuki daerah pabean Indonesia dan pada saat yang bersamaan terutang pajak-pajak dalam rangka impor, oleh karena wajib dikenakan BM dan Pajak-pajak dalam rangka impor, maka merupakan dasar yuridis bagi pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pengawasan. 5. Saat terutang Barang Kena Cukai; Saat terutang Barang Kena Cukai dibagi dalam 2 (dua) ; 5.1. Untuk Barang Kena Cukai (BKC) buatan dalam negeri dikenakan pada saat selesai dibuat.; 5.2. Untuk Barang Kena Cukai yang diimpor dikenakan pada saat pemasukannya kedalam daerah pabean sesuai dengan ketentuan Undang-undang Kepabeanan. 6. Saat terutang pungutan ekspor ; Saat timbulnya pungutan atas barang ekspor adalah saat pengajuan PEB di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atas barang-barang tertentu yang dikenakan pungutan ekspor yang tersebut diatas. 7. Saat pelunasan/pembayaran BM dan PDRI; 7.1.Kewajiban membayar paling lambat sejak tanggal pendaftaran pemberitahuan pabean dan kecuali jika diberikan penundaan dalam hal pembayarannya dilakukan secara berkala atau menunggu pembebasan atau keringanan, 7.2. Kekurangan pembayaran bea masuk dan/atau denda administrasi yang terutang wajib dibayar paling lambat 60 (enam puluh ) hari sejak tanggal penetapan. 7.3.Atas permintaan yang berutang Direktur Jenderal Bea dan Cukai dapat memberikan penundaan atau pengangsuran kewajiban membayar bea masuk dan/atau denda administrasi paling lama 12 bulan dan atas penundaan ini dikenai bunga 2% perbulan , bagian dari bulan dihitung satu bulan. Catatan; a. tidak dikenai bunga sepanjang pembayarannya ditetapkan secara berkala; b. dikenai bunga jika permohonan pembebasan atau keringanan ditolak 8. Saat pelunasan Cukai ; 8.1. Untuk Barang Kena Cukai yang dibuat di Indonesia dilunasi pada saat pengeluaran BKC dari pabrik atau tempat penyimpanan; 8.2. Untuk BKC yang diimpor untuk dipakai. 8.3. Cara pelunasan ; a. Berkala untuk BKC yang pelunasannya secara berkala, diberikan paling lama 45 hari sejak tanggal pengeluaran BKC dan tidak dikenakan bunga. b.Penundaan pembayaran untuk BKC yang pelunasannya dengan pelekatan pita cukai paling lama 90 hari sejak tanggal pemesanan pita cukai. c. Penundaan untuk BKC yang pelunasannya dengan cara pembubuhan tanda pelunasan paling lama 45 hari sejak tanggal pengeluaran. d. Penundaan untuk BKC impor yang pelunasannya dengan pelekatan pita cukai 60 hari sejak tanggal pemesanan pita cukai. 9. Saat pelunasan pungutan ekspor ; Pelunasan pungutan ekspor secara tunai dilakukan dokumen PEB didaftarkan pemenuhan kewajiban pabean. paling lambat pada saat di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat 10. Fasilitas dibidang pabean ; Fasilitas dibidang pabean terdiri dari; 10.1. Tidak dipungut Bea Masuk; 10.2. Pembebasan dan; 10.3. Keringanan; 11. Fasilitas dibidang Cukai ; Fasilitas dibidang cukai terdiri dari; 11.1. Penundaan pembayaran ; 11.2. Tidak diungut Cukai dan; 11.3. Pembebasan cukai. B. Jenis-jenis pungutan pabean impor; 1. Jenis-jenis pungutan dalam rangka impor adalah ; 1.1. Bea Masuk. 1.2. Bea Masuk berasal dari SPM Hibah. 1.3. Sanksi administrasi berupa denda 1.4. Penerimaan pabean lainnya;bunga dan biaya surat paksa 1.5. Cukai atas barang kena cukai yang diimpor dan penerimaan cukai lainnya; biaya pengganti label pengawas dan pita cukai serta bunga dan biaya surat paksa. 1.6. Bunga. 1.7. PPN Impor. 1.8. PPn BM. 1.9. PPh pasal 22. 1.10. PNBP 1.11. Jasa Pekerjaan. 2. Subjek Pembayaran atas barang impor; Yang dimaksud subjek pembayaran terhadap barang impor adalah siapa saja atau fihak mana saja yang melakukan kegiatan atas barang yang pada waktu pemasukannya wajib dikenakan pungutan pabean impor dan/atau PDRI lainnya. Adapun fihak-fihak dimaksud adalah: 2.1. Importir. 2.2. Pengangkut. 2.3. Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara. 2.4. Pengusaha Tempat Penimbunan Berikat. 2.5. PPJK. 2.6. Perorangan. 3. Cara penghitungan pungutan-pungutan impor: Cara menghitung BM adalah sebagai berikut; ditetapkan terlebih dahulu CIF kemudian dikalikan dengan % tarif BM atas barang impor dan terhadap BKC yang diimpor juga dihitung terlebih dahulu Cukainya apakah dalam bentuk tarip Spesifik atau advalorum, untuk jelasnya diberikan contoh penghitungan sebagai berikut: Misalnya ; Importir Panca Niaga/PPI mengimpor barang berupa MMEA merk BRENDY, dengan kadar etil alcohol lebih dari; 26% , sebanyak 100.000,- botol @ 660. ml, Harga CIF seluruhnya USD.100.000,-, kurs yang berlaku pada saat impor adalah Rp.9.450,- tiap USD, tarip Cukai Rp. 50.000,-/liter,BM.170%, PPn. 10%, PPn.BM 75% dan PPh.Pasal 22. 2,5%. Penghitungannya sbb: BM= 170% X 100.000,-X Rp.9.450,- = Rp.1.606.500.000,- Cukai = 100.000 X 0,66 ltr X Rp. 50.000,- = Rp.3.300.000.000 CIF= USD 100.000,- X Rp.9.450,- = Rp. 945.000.000,--------------------------- Nilai Pabean PPN = 10% X Rp.5.851.500.000,- = Rp.5.851.500.000,- = Rp. 585.150.000,- PPn BM = 75% X Rp.5.851.500.000,- =Rp. 4.388.625.000,PPh Psl 22.= 2,5% X Rp.5.851.500.000,-=Rp. 146.287.500,- 4. Cara Penghitungan Bunga; Utang BM yang tidak atau kurang dibayar pada saat jatuh tempo disamping dibayar BM dan denda administrasi juga dikenakan bunga sebesar 2% setiap bulan bagian dari bulan dihitung sebulan penuh dan dihitung selama-lamanya 24 bulan penuh, khusus pungutan cukai tidak dkenakan bunga atas keterlambatan penbayarannya. Cara penghitungan Sanksi administrasi berupa denda yang dikenakan terhadap pelanggaran yang ditetapkan dalam Undang-undang kepabeanan: Dikenal ada 5 (lima ) cara dalam menghitung denda administrasi; Ditetapkan dalam rupiah tertentu. Ditetapkan dalam prosentase tertentu. Ditetapkan dalam jumlah minimum sampai dengan maksimum dalam rupiah. Ditetapkan secara minimum sampai dengan maksimum dalam prosentase. Ditetapkan atas pelanggaran yang terjadi terhadap lebih dari satu pelanggaran misalnya dalam satu PIB disamping salah nilai juga salah jumlah dan/atau jenis barang. 6. Cara penghitungan/pengenaan PNBP. PNBP umumnya mempunyai tarif spesifik. Misalnya pelayanan atas satu dokumen PEB ditetapkan Rp.60.000,- dan dokumen – dokumen pabean dan cukai lainnya. C. Jenis-jenis pungutan atas BKC; Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa cukai dikenakan atas barang-barang tertentu; 1. Jenis-jenis pungutan atas BKC; 1.1. Cukai dan 2.1. PPN Hasil Tembakau 3.1. Denda adminstrasi 4.1. Penerimaan cukai lainnya; bunga, biaya surat paksa, biaya pengganti pencetakan pita cukai, biaya penganti pembuatan label tanda pengawasan cukai. 2. Cara menghitung cukai; Cara menghitung adalah Prosentase cukai dikali Harga Jual Eceran(HJE) yaitu harga dimana didalamnya sudah termasuk cukai; Contoh: HJE yang tertera pada bungkus rokok Gudang Garam Rp.7.700,-, Cukai 40% dan PPN HT 8,4%. Besar cukai adalah = 40% X Rp.7.700,- = Rp.3.080,- PPN HT = 8,4% X Rp.7.700,- = Rp. 646,80 -------------------= Rp.3.726,80 Jadi ; Biaya + Keuntungan pengusaha adalah Rp.7700,- dikurangi Rp.3.726,80 = Rp 3.973,20 Cara menghitung Cukai atas BKC yang diimpor adalah sama yaitu ditetapkan HJE terlebih dahulu. Sedangkan BKC berupa MMEA baik buatan Dalam Negeri maupun Impor ditetapkan secara tarip specific seperti contoh perhitungan impor MMEA merek Brendy kadar 26% diatas yaitu Rp.50.000,- per liter Cukai atas BKC HT produksi dalam negeri pengenaannya disamping ditetapkan secara advalorum, juga dikenakan cukai spesifik yaitu; a. Untuk pengusaha pabrik golongan/strata .I. Rp.7,- perbatang b. Untuk pengusaha pabrik golongan/strata .II. Rp.5,- perbatang c. Untuk pengusaha pabrik golongan/strata .III.Rp.3,- perbatang Cara penghitungan denda dibidang Cukai; Pengenaan denda dibidang cukai dikenal ada 4(empat) cara : Denda ditetapkan dalam nilai cukai. Denda ditetapkan maksimumnya saja. Denda ditetapkan minimum sampai dengan maksimum dalam nilai cukai. Denda ditetapkan minimum sampai maksimum dalam rupiah. Jika denda dikenakan dalam nilai cukai(misalnya 1 X ) nilai cukai, maka dihitung terlebih dahulu nilai cukainya kemudian dikalikan 1 X nilai cukai. Denda ditetapkan atas pelanggaran yang terjadi dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir; Terhadap denda menghitungnya a. ditetapkan maksimumnya saja, maka cara adalah sebagai berkut: 1 X Melanggar denda = 20% X denda Maksimum; b. 2 X Melanggar denda = 40% X denda Maksimum; c. 3 X Melanggar denda = 60% X denda Maksimum; d. 4 X Melanggar denda = 80% X denda Maksimum; e. > 4 X Melanggar denda = 100% X denda Maksimum. Catatan; Jika dilihat ketentuan saat ini pada pasal 14 Undangundang nomor 39 Tahun 2007 tentang cukai, ketentuan denda yang ditetapkan maksimumnya saja telah diganti, namun Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 1996 mengenai tata cara pendendaan belum diperbaharui. Misalnya; suatu pabrik BKC yang tidak mempunyai izin akan memproduksi BKC, dan jika perbuatan tersebut belum terjadi kerugian Negara maka, Pejabat Bea dan Cukai mengenakan denda sbb; Contoh; Sanksi berupa denda ditetapkan maksimum Rp.100.000.000,-, dan pelanggaran baru pertama kalinya dilakukan dalam kurun waktu 5(lima) tahun terakhir, maka dendanya sebesar ; 20% X Rp.100.000.000,- = Rp.20.000.000,- 3.4.2. Denda yang dikenakan dalam minimum sampai dengan maksimum dalam rupiah ; Terhadap denda yang ditetapkan minimum sampai maksimum dalam rupiah, cara menghitungnya adalah sebagai berikut; a. 1 X Melanggar denda = 1 X denda Minimum; b. 2 X Melanggar denda = 2 X denda Minimum; c. 3 X Melanggar denda = 4 X denda Minimum; d. 4 X Melanggar denda = 6 X denda Minimum ; e. 5 X Melanggar denda = 8 X denda Minimum dan; f. > 5 X Melanggar denda = 1 X denda Maksimum. 3.4.3. Denda yang dikenakan dalam minimum sampai dengan maksimum dalam nilai cukai, contoh denda minimum denda 2 X nilai cukai, maksimum 10 X nilai cukai; Terhadap denda yang ditetapkan minimum sampai maksimum dalam rupiah, cara menghitungnya adalah sebagai berikut ; 1 X Melanggar denda = 2 X nilai cukai; 2 X Melanggar denda = 4 X nilai cukai; 3 X Melanggar denda = 6 X nilai cukai; 4 X Melanggar denda = 8 X nilai cukai dan; > 4 X Melanggar denda = 10 X nilai cukai. D. Pungutan eksor; Pungutan ekspor dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang dulunya dikenal dengan nama pajak ekspor, kemudian dirubah namanya dari pajak ekspor menjadi pungutan ekspor dan merupakan PNBP, penamaan ini juga menjadi kurang tepat karena arti pungutan lebih luas dari pajak, sesuai dengan perubahan undangundang kepabeanan selanjutnya akan disebut sebagai Bea Keluar. Sejarah terjadinya pemungutan pajak ekspor adalah pada saat terjadinya booming barang ekspor dimana keuntungan dari eksportir sangat besar, negara merasa perlu memungut pajak atas pendapatan eksportir. Tarip pungutan ekspor atas barang-barang tertentu saat ini taripnya ditetapkan secara advalorum; Rumus Pungutan Ekspor adalah : JSB X T.P.E. X H.P.E. X Kurs pajak. Misalnya eksportir Y mengekspor CPO (Crude Palm Oil) sebanyak 100,- MT, Tarip Pungutan Ekspor (TPE) adalah 6,5%, Harga Patokan Ekspor (HPE) = USD. 250,/MT Kurs Pajak Rp.9.500,-/USD. Pungutan Ekspornya adalah; 100 X 6,5% X 250. X Rp. 9.500,- = Rp.1.543.750.000,Dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2006 dan Undang-undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, ditetapkan Sanksi Administrasi yang dikenakan atas pemberitahuan yang salah jumlah dan/atau jenis barang ekspor, yang mengakibatkan tidak terpenuhinya pungutan negara dibidang ekspor dikenai sanksi administrasi berupa denda paling sedikit 100% dan paling banyak 1000% kali jumlah pungutan negara dibidang ekspor yang kurang dibayar,. Sedangkan penetapan sanksi administrasi dibidang ekspor menurut undang-undang nomor 10 tahun 1995 adalah ditetapkan dalam rupiah dari minimum sampai dengan maksimum; yaitu minimum Rp.1.000.000,- maksimum Rp.10.000.000,- Sebelum diterbitkannya Peraturan Pemerintah yang baru mengganti PP .nomor 22 Tahun 1995, pengenaan sanksi administrasi berupa denda masih dilakukan seperti contoh dibawah ini; Contoh ; Eksportir A salah memberitahukan jumlah barang ekspornya dan pelanggaran tersebut untuk pertama kalinya dalam 6(enam) bulan terakhir, maka dendanya adalah; 1 X Denda minimum = 1 X Rp.1.000.000,- = Rp.1.000.000,E. Jaminan; Yang dimaksud dengan jaminan dalam hubungannya dengan kepabeanan dan cukai ialah segala sesuatu yang yang diserahkan oleh satu pihak kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang sifatnya sementara yang merupakan tanggungan karena belum diselesaikannya suatu kewajiban terhadap Bea dan Cukai dibidang pungutan pabean, Cukai dan pungutan lainnya yang diwajibkan. Disamping dibidang kepabeanan saat ini juga dikenal adanya jaminan dibidang cukai yang disebut Excise Bond yang dijaminkan terhadap pembayaran cukai secara berkala untuk BKC berupa MMEA produk dalam negeri, pembayaran dilakukan pada tanggal 5 bulan berikutnya atas BKC yang dikeluarkan pada bulan yang lalu. 1. Sifat Penggunaan Jaminan Menurut sifat penggunaannya jaminan dibagi 2 (dua) yaitu : 1.1. Terus Menerus yaitu jaminan yang diserahkan sekali dan bersifat terus menerus atau berkali-kali; 1.2. Sekali yaitu jaminan yang hanya dapat digunakan sekali saja. 2. Bentuk Jaminan Terdiri dari ; 2.1. Uang Tunai; disebut demikian karena jaminannya berbentuk uang tunai langsung dari yang bersangkutan dan atas penerimaan uang tunai dimaksud wajib dibuatkan tanda terima. 2.2. Jaminan Bank; adalah jaminan dalam bentuk warkat yang diterbitkan oleh Bank yang apabila pihak yang dijamin ingkar janji (Wan prestasi), maka pihak penjamin yang berkewajiban membayarnya. 2.3. Jaminan perusahaan assuransi (Customs Bond/Excise Bond); adalah suatu perikatan dari tiga pihak Surety (Penjamin), Principal (terjamin) dan Obligee (penerima Jaminan). 2.4. Jaminan Lainnya; adalah jaminan selain dari yang tersebut diatas, jaminan ini biasanya berbentuk tertulis misalnya SSB (Surat Sanggup Bayar) atau personal guarantee. 3. Penggunaan Jaminan; Jaminan Tunai dapat dipakai atas pembayaran ; 3.1. Pengutan Negara untuk impor barang yang ada kaitannya dengan pemberian fasilitas di Tempat Penimbunan Berikat. 3.2. Pungutan untuk barang impor sementara; pembebasan atau keringanan. 3.3. Pungutan Negara untuk impor barang yang diberikan ijin pengeluaran terlebih dahulu dengan penangguhan BM dan PDRI. 3.4. Pungutan Negara yang kurang dibayar sebagai akibat penetapan oleh Pejabat Bea dan Cukai tarip/atau nilai pabean yang diajukan keberatan. 3.5. Sanksi administrasi berupa denda yang ditetapkan oleh pejabat Bea dan Cukai yang diajukan keberatan ( SPSA). 3.6. Barang diangkut lanjut (BC1.2.)yang dilakukan oleh importir. 3.7. Pengusaha jasa Titipan. 3.8. Ijin operasional PPJK 4.Jumlah jaminan yang dipertaruhkan; 4.1. Sebesar fasilitas di TPB. 4.2. Kawasan Berikat dan TBB tanpa Jaminan. 4.3. Gudang berikat ; jaminan sebesar BM dan PRI untuk importasi selama 3(tiga) bulan atau gudang dikunci bersama. 4.4. Entrepot tujuan pameran ditetapkan oleh Dirjen Bea dan Cukai. 4.5. Impor sementara yang dapat fasilitas pembebasan BM adalah sebesar BM + Pajak + SA 4.6. Impor sementara yang dapat fasilitas keringanan BM sebesar selisih antara BM dan Pajak yang terutang dengan BM dan Pajak sudah dibayar ditambah sanksi administrasi sebesar BM. 4.7. VOORUITSLAG sebesar BM + PDRI. 4.8. Barang diangkut lanjut yang dilakukan oleh importir jaminan sebesar BM,Cukai dan PDRI. 4.9. Pengusaha jasa Titipan ditetapkan oleh KKPBC. 4.10. Ijin Operasional PPJK ; a. Anggota Gafeksi dijamin oleh pengurus Gafeksi b. Bukan anggota Gafeksi; • KPPBC Tipe A.1. Rp.250.000.000,- • KPPBC Tipe A.2. R.150.000.000,- • KPPBC Tipe.A.3 Rp100.000.000,- • KPPBC Tipe A.4. Rp.50.000.000,- • KKPBC Tipe lainnya Rp.25.000.000,- 4.11. SPKPBM sebesar total BM, Cukai, Pajak dan denda yang tertera pada SPKPBM. 4.12. SPSA sebesar yang tertera pada SPSA 4.13. MMEA buatan dalam negeri sebesar rata-rata perbulan kewajiban cukai dan pungutan lain aas pengeluaran MMEA dalan negeri dalam 2 (dua) tahun terakhir. 4.14. Jaminan untuk fasilitas KITE sebesar jumlah pungutan impor yang dipertaruhkan pada Kepala KWBC. 5. Pencairan Jaminan; 5.1 Tunai adalah jangka waktu jaminan ditambah 30 (tiga puluh) hari. 5.2 Bank; 30 (tiga puluh) hari sebelum jaminan jatuh tempo, KKPBC mengirin surat permintaan pencairan jaminan , pencairan jaminan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah tanggal jatuh tempo. 5.3 Customs Bond/Excise Bond sebelum Customs Bond jatuh tempo KKPBC mengirim surat permintaan pencairan kepada surety, dan pencairan jaminan dilakukan selambat-lambatnya 14(empat belas) hari kerja sejak tanggal jatuh tempo. 5.4 Tertulis ; a. Instansi Pemerintah diberikan surat permintaan pembayaran dan apabila belum melunasi utangnya KKPBC melaporkan ke Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk dilaporkan ke Menteri Keuangan. b. Importir ;30 hari sejak berakhirnya jangka waktu jaminan tertulis berakhir KKPBC menyampaikan surat permintaan pembayaran ,apabila setelah 30 hari ditambah 7 hari belum dilunasi utangnya, maka diterbitkan surat teguran dan proses selanjutnya sesuai ketentuan penagihan dengan surat paksa. Jaminan untuk fasilitas KITE dicairkan jika dalam tempo 12(dua belas) bulan tidak ada realisasi ekspor atau pengiriman ke tempat penimbunan berikat. 3.1. LATIHAN ; 3.1.1. Sebutkan objek pajak dibidang kepabeanan, Cukai dan pungutan ekspor. 3.1.2. Sebutkan saat pelunasan atas pungtan-pungutan diatas. 3.1.3. Sebutkan Jenis-jenis pungutan pabean impor. 3.1.4. Sebutkan jenis-jenis pungutan Cukai. 3.1.5. Sebutkan apa yang saudara ketahui tentang jaminan dibidang pabean impor, cukai, jenis jaminan dan besarnya jaminan . 4.1. RANGKUMAN ; 4.1.1. Dalam Bab ini dijelaskan mengenai; a. Lingkaran pajak yaitu mulai dari objek pajak sampai dengan pelunasan dan kedaluarsa utang pajak. b.Jenis-jenis penerimaan Bea dan Cukai; BM, Cukai, denda administrasi,Bunga,Pungutan Ekspor dan PNBP. 4.1.2. Tata cara menghitung pungutan; Setiap pungutan yang dibebankan penerimaannya kepada DJBC mempunyai cara menghitung yang berbeda. Pungutan pabean terdiri dari; a. Bea Masuk b. Cukai c. Denda Administrasi, d. Pungutan ekspor, e. Bunga. f. PPN impor, PPN HT Produksi dalam negri, PPN BM. g. PPh. Pasal.22.dan h. PNBP. i. Penerimaan pabean dan penerimaan cukai lainnya. 4.1.3.Jenis-jenis Jaminan ; a. Jaminan Tunai, Bank,Customs Bond,Exice Bond dan Jaminan lainnya. b. Jangka waktu jatuh tempo jaminan. c. Besarnya jaminan, d. Pejabat yang menetapkan besarnya jaminan. 4.1.4. Cara pencairan jaminan; a. Diberitahukan kepada penjamin sebelum jatuh tempo; b. Khusus jaminan tertulis jika telah jatuh tempo diserahkan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk disampaikan kepada Menteri Keuangan. 4.1.5.Tata cara menghitung denda dibidang pabean dan cukai. a. Dibidang pabean dikenal ada 5 (lima) cara pengenaan denda, sedangkan b. Dibidang cukai dikenal ada 4 (empat) cara. 4.1.6. Pungutan ekspor dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang diekspor yaitu; a. C.P.O; b. Kayu (kecuali yang dilarang); c. Rotan (kecuali yang dilarang); d. Pasir (kecuali yang dilarang) dan; e. Kulit mentah ataupun wet blue. 5. PENUTUP. 5.1. TES FORMATIF ; 1. Keuangan Negara adalah ; a. Semua hak yang dapat dinilai uang serta barang milik negara b. Semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu baik berupa uang maupun barang milik negara c. Semua kewajiban yang berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan milik negara d. Semua hak dan kewajiban Pemerintah Pusat/Daerah berupa uang,barang dan surat-surat berharga yang dapat dinilai dengan uang 2. Menurut Undang-Undang nomor. 1. tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara antara lain mengatur jenis-jenis bendaharaan yaitu; a. bendahara penerima dan bendahara pengeluaran b. bendaharawan rutin dan bendaharawan penerima c. bendahara khusus dan bendahara pengeluaran d. bendahara umum dan bendahara khusus 3. Bendahara adalah ; a. Orang atau badan hukum yang diberi tugas untuk dan atas nama negara/daearah, menerima,menyimpan,dan membayar/menyerahkan uang atau surat berharga atau barang-barang negara/daerah. b. Orang atau badan hukum yang diberi tugas mengelola keuangan neagar dan daerah c. Orang atau badan hukum yang diberi tugas mengelola seluruh harta negara d. Orang ataubadan hukum yang diberi tugas mengelola uang, surat berharga, barang serta segala sesuatu yang menjadai harta negara 4. Menurut UU No. 1 Tahun 2004 tentang pebendaharaan Negara tangung jawab bendahara secara ; a. Jabatan b. Perorangan / pribadi c. Kelompok pengelola keuangan negara d. Bersama dengan atasan langsung bendahara 5. Orang atau pejabat yag ditunjuk menerima, menyimpan dan membayarkan, menata usahakan dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara yaitu : a. Bendaharawan Penerimaan b. Bendaharawan Pengeluaran c. Kepala Seksi Pembendaharaan d. Kepala Sub Bagian Umum 6. Yang dapat diangkat sebagai bendaharawan adalah : a. Orang b. Badan c. Pejabat senior dikantor pabean d. Orang atau badan hukum Dokumen dasar untuk pembayaran yang dipungut oleh DJBC seperti tersebut dibawah ini, kecuali... a. dokumen pelengkap pabean b. pemberitahuan ekspor barang c. pencacahan dan pabean kiriman pos d. customs declaration 7. 8. 9. Menurut Undang-undang nomor 20. tahun 1997 yang pelaksanaannya di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 44. tahun 2003, mengatur.... a. PNBP yang berlaku secara umum b. PNBP di Departemen Keuangan c. PNBP Direktorat Jendral Bea dan Cukai d. PNBP yang berlaku di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Dokumen dasar pembayaran dibidang cukai adalah ; a. CK 1, CK1 A, CK. 1 B, dan CK 14 b. CK. 1 dan CK 14 c. CK. 1, CK.1 A, Ck. 1 B d. CK. 1, CK.1 A dan CK 14 10. Dokumen dasar pembayaran dibidang pabean adalah ; a. BC.2.0,BC. 2.1,BC.2.2,BC.3.0. b. BC.2.0, BC.2.1,BC.2.2, BC.3.0,ST,SPSA c. BC.2.0,BC. 2.1,BC.2.2, BC.3.0,SPSA, ST danPPKP. d. BC.2.0,BC.2.1,BC.2.2,BC.3.0 dan PNBP. 11. Eksportir yang mengekspor barang tertentu yang dikenakan pungutan ekspor saat pelunasannya diberi bukti pembayaran berupa ; a. SSPE b. SSPCP c. STBS d. SSTB 12. Pada saat penggantian Bendahara tugas-tugas yang dilakukan antara lain; a. Diadakan penutupan Buku Penerimaan b. Dibuat berita acara pertelaan penutupan kas c. Berita Acara dan Buku Penerimaan ditanda tangani oleh Bendahara Penerima lama dan yang baru dengan diketahui oleh KKPBC d. Pernyataan a,b dan c adalah benar. 13. Jenis-jenis penerimaan yang dikelola oleh DJBC adalah…. a. hanya penerimaan pabean saja b. penerimaan pajak saja c. penerimaan pabean dan pajak d. penerimaan pabean, penerimaan pajak dan penerimaan lainnya/PNBP 14. Yang tersebut dibawah ini adalah jenis penerimaan Bea Cukai, kecuali… a. bea masuk b. cukai c. pajak ekspor d. bunga Untuk melakukan pembayaran atas pungutan ekspor dapat dilakukan di….. a. Bank Devisa Persepsi b. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai c. Bank Devisa d. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atau Bank Devisa 15. 16. 17. Pengenaan bunga sebesar 2% atas keterlambatan pembayaran utang bea masuk dan/atau denda administrasi untuk selama-lamanya….. a. 12 bulan b. 18 bulan c. 24 bulan d. 30 bulan Customs Bond yang dapat diterima sebagai jaminan pembayaran pungutan negara adalah yang berasal dari..… a. semua perusahaan asuransi b. hanya perusahaan asuransi yang terdaftar pada Departemen Keuangan c. hanya perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai d. hanya perusahaan asuransi yang di tunjuk oleh Bank Indonesia 18. Kewenangan untuk pengembalian pungutan pabean atau cukai adalah pada... a. Menteri Keuangan b. Direktur Jenderal Bea dan Cukai c. Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai d. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai 19. Pelaksanaan pencacahan kemungkinan hasilnya kedapatan : a. selalu sama / sesuai b. selalu selisih kurang c. sama, kurang atau lebih d. selalu kurang atau lebih 20. Tanggung jawab utama Bea Masuk dan pungutan impor lainnya berada pada.. a. Importir dan PPJK b. Importir c. PPJK dalam hal impor dikuasakan kepada PPJK dan importir tidak diketemukan d. Pengangkut 21. Pelunasan cukai ditetapkan dengan : a. Pelekatan Pita Cukai bagi hasil tembakau b. Pelekatan Pita Cukai bagi MMEA c. Pelekatan Pita Cukai bagi MMEA produksi dalam negri dan MMEA impor d. Pelekatan Pita Cukai bagi hasil tembakau dan MMEA asal impor 22. Tarif pajak dipungut di DJBC ditetapkan berdasarkan : a. Undang – undang b. Peraturan Pemerintah c. Keputusan Menteri Keuangan d. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai 23. Pungutan pabean yang berkaitan dengan impor dapat terdiri : a. Bea masuk, cukai dan denda administrasi b. Bea masuk, cukai, denda administrasi dan bunga serta pungutan pabean lainnya c. Bea masuk, cukai dan bunga d. Bea masuk, denda administrasi dan bunga 24. Pungutan negara dalam rangka ekspor saat ini dapat berupa : a. Pungutan ekspor dan sanksi administrasi berupa denda b. Bea keluar dan PPN c. Pajak ekspor dan PPN d. Pungutan ekspor, sanksi administrasi berupa denda dan bunga. 25. Menurut Undang-undang Kepabeanan jaminan yang dipersyaratkan untuk barang impor adalah ; a. Uang tunai dan jaminan bank b. Customs bond dan jaminan lainnya c. Uang tunai, jaminan bank dan jaminan lainnya d. Costoms bond, jaminan bank, uang tunai dan jaminan tertulis 6. KUNCI JAWABAN TES FORMATIF ; 1. b. 11. c. 21. d. 2. a. 12. d. 22. c. 3. a. 13. d. 23. b. 4. b. 14. c. 24. a. 5. a. 15. c. 25. d. 6. d 16. c. 7. a. 17. c. 8. b. 18. a. 9. d. 19. c. 10. c. 20. b. 7. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ; Setelah mempelajari kegiatan belajar diatas cobalah menjawab tes formatif diatas dan apabila anda telah selesai menjawabnya cocokkan dengan kunci jawaban yang ada pada akhir modul ini, apabila anda telah dapat menjawab minimal 80%, maka anda dipersilahkan mempelajari modul berikutnya akan tetapi apabila masih kurang dari 80%, maka cobalah ulangi lagi dan diskusikan dengan teman-teman anda. Hal yang perlu anda lakukan adalah jangan melihat kunci jawaban terlebih dahulu sebelum menjawab tes formatif diatas. Apabila jawaban anda telah mencapai minimal 80%, maka anda dipersilahkan mempelajari modul II. Untuk mempelajari modul II yang berjudul “Penyetoran Penerimaan Negara” adalah mudah hanya diperlukan ketekunan dari anda . Tingkat-tingkat penguasaan - 90% - 100% = Baik sekali - 80% - 89% = Baik - 70% - 79% = Cukup - 69% kebawah = Kurang 8. DAFTAR PUSTAKA ; 1. Undang-undang nomor 17 tahun 2006 dan10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan 2. Undang-undang nomor 39 tahun 2007 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai 3. Undang-undang nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara 4. Undang-undang nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara 5. Peraturan Pemerintah nomor 22 Tentang Penetapan Sanksi Admiistrasi dibidang Kepabeanan 6. Peraturan Pemerintah nomor 24 Tentang Penetapan Sanksi Administrasi dibidang Cukai 7. Peraturan Pemerintah nomor 35 Tentang Pungutan Ekspor atas barang-barang tertentu 8. Keputusan Menteri Keuangan nomor 209/ KMK05/1999 .jo.Keputusn Menteri Keuangan nomor 585/KMK. 05/1996 Tentang Penggunaan Jaminan Bank untuk pembayaran BM,Cukai, denda adaministrasi dan PDRI 9. Keputusan Menteri Keuangan nomor 208/KMK 05/1999. jo.Keputusan Menteri Keuangan nomor 461/KMK.05/1997 Tentang Penggunaan Customs Bond untuk pembayaran BM,Cukai denda administrasi dan PDRI. 10. Keputusan Menteri Keuangan nomor 457/KMK 05/1997 Tentang Penggunaan Jaminan tunai untuk pembayaran BM,Cukai,denda administrasi dan PDRI. 11.Keputusn Menteri Keuangan nomor 441/KMK 05/1999 Tentang Penggunaan Jaminan tertulis untuk pembayaran BM,Cukai,denda administrasi dan PDRI 12. Peraturan Menteri Keuangan nomor 133/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal DJBC ======= MODUL II PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PUNGUTAN PABEAN DAN CUKAI MATERI ADMINISTRASI PERBENDAHARAAN DAN PENERIMAAN BEA DAN CUKAI OLEH : TIM PENYUSUN MODUL PUSDIKLAT BEA DAN CUKAI PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN BEA DAN CUKAI BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA JAKARTA 2007 MODUL.II. PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA. 1. PENDAHULUAN; 1.1. Deskripsi singkat Modul II ini berjudul “Penyetoran Penerimaan Negara” yaitu akan dipelajari tentang penyetoran penerimaan Negara berupa Bea Masuk,Cukai untuk BKC produksi dalam negeri maupun impor, Penerimaan Pabean lainnya, Pungutan Ekspor, Denda Administrasi,Bunga PNBP,PPN Impor dan PPh Pasal 22. Penyetoran dilakukan di; Bank Devisa Persepsi, Bank Pesepsi, Pos Persepsi ataupun di Kantor Pelayanan Bea da Cukai. Fihak-fihak yang melakukan pembayaran/penyetoran adalah dibidang impor adalah; Importir,Pengangkut, Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara,Pengusaha Tmpat Penimbunan Beriakat,Pengusaha Pengurus Jasa Kepabeanan (PPJK) atau Perorangan, dibidang Cukai adalah; Pengusaha Pabrik BKC,Pengusaha Tempat Penyimpana BKC tertentu, importir, Pengusaha Tempat Penjualan Eceran BKC tertentu dan Perorangan, sedangkan dibidang Ekspor adalah; Eksportir, Kuasa Eksportir (PPJK) . Apabila Pembayar pungutan tersebut diatas dilakukan oleh yang bersangkutan, maka pembayar adalah juga sebagai penyetor, namun apabila pungutan-pungutan diatas dibayarkan terlebih dahulu ke Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang selanjutnya disetor ke KPPN melaui Bank-bank yang ditunjuk, maka dalam hal terakhir i ni penyetornya adalah Bendahara Bea dan Cukai. 1.2. Tujuan Instrusksional umum Setelah mempelajari modul Penyetoran Penerimaan Negara anda diharapkan mampu memahami tentang ; Tata cara penyetoran , Tempat-tempat penyetoran pungutan negara yang telah ditetapkan,waktu yang ditentukan untuk penyetoran dan pembukuan Bendahara atas penyetoran serta laporan yang wajib dibuat sebagai pertanggung jawaban Bendahara dalam pengelolaan penyetoran dimaksud. 1.3. Tujuan Instruksional khusus Setelah mempelajari modul ini anda diharapkan mampu menjelaskan tentang tata cara penyetoran,bank – bank yang ditunjuk, Kantor PT.Pos Persepsi dan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, waktu-waktu penyetoran serta anda diharapkan mampu mengerjakan semua kegiatan yang berkaitan dengan tata usaha penyetoran dan mengarsipkan dokumen-dokumen penyetoran. 2. KEGIATAN BELAJAR 1. TATALAKSANA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA DALAM RANGKA IMPOR MELALUI BANK DEVISA PERSEPSI; 2.1. URAIAN ; Sebelum mempelajari tata laksana pembayaran atau penyetoran sebaiknya perlu diketahui terlebih dahulu bahwa pembayaran dapat dilakukan oleh Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat penyimpanan dan importir atau kuasanya langsung ke Bank Devisa Persepsi, Bank Persepasi dan Kantor Pos Persepsi atau ke Kantor Pabean. Apabila wajib bayar menyetorkan langsung ke Bank atau Kantor Pos Persepsi, maka yang bersangkutan adalah pembayar sekaligus adalah penyetor, tetapi apabila dibayar terlebih dahulu ke Kantor Pabean, maka penyetornya adalah Bendahara Bea dan Cukai, namun menurut undang-undang tentang Perbendaharaan Negara ditegaskan bahwa penanggung jawab atas seluruh pajak-pajak, denda, pungutan pabean dan cukai lainnya, bunga atau PNBP yang wajib disetorkan ke DJBC berada ditangan Bendahara Bea dan Cukai walaupun penyetorannya langsung ke Bank atau kantor Pos Persepsi. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut; 2.1.1.Importir atau Wajib Bayar; 1. Mengisi dan menandatangani formulir Pemberitahuan Impor barang (PIB) atau Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT) dengan lengkap dan benar. 2. Menerima Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, Pajak DalamRangka Impor (PDRI) dan atau denda administrasi / Surat Teguran (ST) / Surat Paksa (SP)/Surat Penetapan Sanksi Administrasi (SPSA) dari KPPBC. 3. Mengisi dan mendatangani formulir SSPCP dalam rangkap 4 (empat) dengan lengkap dan benar, untuk pembayaran semua Mata Anggaran Penerimaan (MAP). 4. Melakukan pembayaran di Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi yang sekota / sewilayah kerja dengan KPBC tempat pemenuhan kewajiban pabean dengan menyerahkan : PIB, PIBT yang telah diisi dengan lengkap dan benar atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA; SSPC yang telah diisi dengan lengkap dan benar dan Uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP. 5. Menerima kembali PIB, PIBT, Surat Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP dari Bank Devisa Persepsi, untuk dilengkapi dan diperbaiki dalam hal dokumen tersebut belum diisi dengan lengkap dan benar. 6. Menyerahkan kembali PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana dimaksud pada butir 4 diatas. 7. Menerima kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda tangan dari Bank Devisa Persepsi berupa : PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan dokumen pelengkap pabean lainnya dan SSPCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1.untuk disampaikan ke KPBC dan SSPCP lembar ke.3. atau BPN lembar ke.3. untuk penyetor/wajib pajak. 8. Menyerahkan PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1.sebagaimana dimaksud dalam butir 7 ke KPBC yang bersangkutan untuk dilakukan, pemeriksaan dokumen dan atau pengurusan pengeluran barang. 2.1.2. Bank Devisa Persepsi 1. Menerima PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP dari Importir atau wajib Bayar. 2. Meneliti kebenaran penghitungan Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor dalam PIB, PIBT, dan SSPCP; a Penelitian SSPCP terutama mengenai : 1) Jumlah uang yang akan dibayar sesuai PIB, PIBT atau Surat penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA; 2) Nomor Pokok Wajib Pajak ( NPWP); 3) Jenis Penerimaan (Bea Masuk, Cukai Denda Administrasi, Bunga, Biaya Surat Paksa, Jasa Pelayanan, PPN, PPn BM, dan PPh Pasal 22); 4) Dokumen dasar (Nomor dan Tanggal PIB, PIBT atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA); 5). Kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP); 6). KPBC tempat pemenuhan kewajiban Pabean dan Kode Kantor dan b.. Untuk SSPCP dengan dokumen dasar pembayaran Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA meneliti : 1). Jumlah yang dibayar yang tercantum dalam SSPCP dengan jumlah nominal yang tercantum dalam Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA; dan 2). Apakah pembayaran yang dilakukan harus dikenakan bunga 2% (dua persen) tiap bulan atau tidak. 3. Menerima uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP yang bersangkutan, apabila PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP telah diisi dengan lengkap dan benar. 4. Mengembalikan PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP kepada Importir atau Wajib Bayar untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal dokumen tersebut belum diisi dengan lengkap dan benar. 5. Menerima kembali PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana dimaksud dalam butir 3. 6. Merekam data penerimaan pada system komputer untuk setiap Mata Anggaran Penerimaan (MAP) sesuai modul bank. 7. Membubuhkan tanda terima dalam SSPCP berupa : (1) NTPN; (2) NTB; (3) Nomor SSPCP dan Unit Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN); (4) Nama dan tanda tangan petugas penerima pembayaran ; (5) Cap Bank yang bersangkutan; dan 8. Membubuhkan Cap Tanggal pelunasan SSPCP dalam PIB, PIBT atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Culai, PDRI dan/atau denda administrasi/ST/SP/SPSA 9. Menyerahkan kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda terima kepada importir atau wajib bayar berupa; a. PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan/atau denda administrasi/ ST/SP/SPSA dan dokymen pelengkap lainnya dan b. SSPCP lembar ke.1 atau BPN lembar ke.1.untuk disampaikan ke KPBC, dan SSPCP lembar ke-3. untuk penyetor/wajib pajak. 10. Mendistribusikan SSPCP kepada : Lembar ke-1 untuk KPBC melalui Penyetor/Wajib Pajak; Lembar ke-1 untuk KPPN; Lembar ke-3. untuk penyetor/wajib pajak Lembar ke 4 untuk Bank Devisa Persepsi; 11. Menjawab permintaan konfirmasi mengenai suatu pembayaran atau penyetoran apabila ada permintaan dari KPBC. 2.1.3. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC); 1 Menerima PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP dari Importir atau Wajib Bayar. 2 Meneliti kelengkapan dan kebenaran pengisian PIB dan PIBT serta mencocokkan jumlah pembayaran yang tercantum dalam SSPCP atau BPN dengan jumlah Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor yang seharusnya dibayar. 3 Mencocokkan jumlah yang dibayar tercantum dalam SSPCP atau BPN dengan jumlah nominal yang tercantum dalam Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA, dalam hal pembayaran dilakukan dengan dokumen dasar Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA. 4 Meneliti SSPCP lembar ke-1 dan BPN lembar ke.1. yang diterima dari Bank Devisa Persepsi. 5 Menata usahakan dokumen-dokumen yang berkenaan dengan impor termasuk data SSPCP atau BPN setiap hari, sesuai dengan petunjuk yang ditetapkan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 6 Apabila diperlukan , KPBC dapat meminta konfirmasi mengenai suatu pembayaran atau penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor kepada Bank Devisa Persepsi/ Pos Persepsi tempat penyetoran. 3.1. RANGKUMAN ; Dalam hal penyetoran dilakukan di Bank Devisa Pesepsi ada 4(empat) fihak yang terlibat yaitu; 3.1.1. Importir atau kausanya yang disebut wajib bayar 3.1.2. Bank Devisa Persepsi 3.1.3.Kantor Pelayana Bea dan Cukai 3.1.4. Penyetor atau wajib pajak. Keempat fihak diatas masing-masing melaksanakan tugasnya yaitu; meneliti dokumen yang diajukan dan kemudian mengarsipkan setelah semua dokumen yang wajib disampaikan oleh importir/wajib bayar telah sesuai dengan ketentuan dan apabila ada sesuatu yang kurang sesuai mengenai pembayaran dan penyetoran penerimaan Negara, maka masing-masing fihak dapat meminta konfirmasi untuk kebenaran dari penyetoran tersebut. 4.1. LATIHAN; 4.1.1. Sebutkan kegiatan Importir/Wajib bayar saat penyetoran ke Bank Devisa Persepsi 4.1.2. Sebutkan tata laksana pembayaran BM dan PDRI melaui Bank Devisa Persepsi 4.1 3. Sebutkan kegiatan KPPN dalam menerima setoran dimaksud.. 3. KEGIATAN BELAJAR.2. TATALAKSANA PEMBAYARAN DAN PENYE TORAN PENERIMAAN NEGARA DALAM RANGKA IMPOR MELALUI KPBC. 3.1 URAIAN ; 3.1.1. Importir Atau Wajib Bayar 1 Mengisi dan menanda tangani formulir PIB atau PIBT dengan lengkap dan benar. 2 Menerima Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan /atau denda administrasi /ST/SP/SPSA dari KPBC. 3 Melakukan pembayaran di KPBC tempat pemenuhan kewajiban Pabean dengan menyerahkan : a. PIB, PIBT yang telah diisi dengan lengkap dan benar atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA; dan b. Uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam PIB, PIBT atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA yang bersangkutan. Menerima kembali PIB atau PIBT dari KPBC untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. Menyerahkan kembali PIB atau PIBT yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana dimaksud dalam butir 3. Menerima Bukti Pembayaran berupa BPPCP dari KPBC atas pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor. 3.1.2. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) KPBC berkewajiban memungut, menerima, menyimpan, menyetorkan, dan menatausahakan Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Menerima PIB, PIBT atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA yang diajukan oleh Importir atau Wajib Bayar. Meneliti kelengkapan dan kebenaran Pengisian PIB atau PIBT. Meneliti pembayaran yang menggunakan dokumen dasar Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA, apakah atas pembayaran tersebut harus dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan atau tidak. Menerima uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA, apabila dokumen tersebut telah diisi dengan lengkap dan benar. Mengembalikan PIB atau PIBT kepada Importir atau Wajib Bayar untuk dilengkapi dan diperbaiki dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. Menerima kembali PIB atau PIBT yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana dimaksud dalam butir 5. Memberikan bukti pembayaran berupa BPPCP kepada Importir atau Wajib Bayar atas pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor. Mendistribusikan BPPCP: a. Lembar ke-1 untuk pengeluaran barang b. Lembar ke-2 untuk KPBC c. Lembar ke-3 untuk Penyetor Menyetorkan selururuh Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor ke Kas Negara melalui : Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi dan Pos Persepsi; Penyetoran sebagaimana dimaksud dalam butir 10. dilakukan setiap hari dengan ketentuan : a. Seluruh penerimaan pada hari itu harus disetorkan selambat-lambatnya pada hari kerja berikutnya; b. Untuk penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor digunakan satu formulir SSPCP dalam rangkap 4 (empat), untuk semua Mata Anggaran Penerimaan (MAP); c. Pengisian formulir SSPCP dilakukan dengan lengkap dan benar sesuai petunjuk pengisiannya; d. Formulir sebagaimana dimaksud dalam butir.c.diserahkan ke Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi atau Kantor Pos Persepsi beserta uang setoran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tecantum dalam SSPCP. Menerima bukti penyetoran dan menerima kembali SSPCP lembar ke-1, atau BPN lembar ke1.yang telah dibubuhi tanda penerimaan oleh Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi atau Pos Persepsi. 3.1.3. Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi atau Pos Persepsi. 1. Menerima setoran pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor dari KPBC dengan menggunakan formulir SSPCP. 2. Mendistribusikan SSPCP atau BPN kepada : Lembar ke-1 untuk KPBC; Lembar ke-2 untuk KPPN; Lembar ke-3 untuk penyetor/wajib pajak; d. Lembar ke-4 untuk Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi atau Pos Persepsi. 4.1. RANGKUMAN; Dalam hal penyetoran penerimaan negara dilakukan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, maka selanjutnya selambat-lambatnya pada hari kerja berikutnya Bendahara menyetorkan penerimaan negara tersebut ke Rekening Kas Negara. Kegiatan yang didahului oleh Importir atau wajib bayar yang menyerahkan pemberitahuan kepada pejabat Bea dan Cukai dan menyetorkan jumlah-jumlah yang wajib dibayar, setelah diteliti dan semua dokumen yang diwajibkan telah sesuai,maka Bendahara KPBC menerima uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum pada dokuen dasar pembayaran atau surat penetapan kekurangan pembayaran, apabila ada kekurangan dalam hal dokumen, maka segera dikembalikan untuk diperbaiki. Penyetoran seluruh penerimaan dalam rangka impor ke KPPN melalui; a. Bank Devisa Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan KPBC b.Bank Persepsi dalam hal dikota/diwilayah kerja KPBC tidak terdapat Bank Devisa Persepsi c. Kantor Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja KPBC Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa penyetoran pungutan negara atas BKC menurut ketentuan hanya dilaksanankan di Bank Persepsi atau Kantor PT.Pos Indonesia. 5.1. LATIHAN ; 5.1.1. Sebutkan Kegiatan Importir atas penyetoran BM dan PDRI. 5.1.2. Sebutkan Kewajiban Bendahara pada KPBC. 5.1.3. Sebutkan kemana saja pungutan-pungutan tersebut disetorkan 5.1.4. Sebutkan kapan saat penyetoran harus dilaksanakan. 4. KEGIATAN BELAJAR 3; TATALAKSANA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA ATAS KIRIMAN POS PERSEPSI; , 4.1 URAIAN ; 4.1.1. Importir atau Penerima Kiriman Pabean 1 Menerima Penetapan Pencacahan dan Pembeaan Kiriman Pos (PPKP) yang dibuat/ditetapkan oleh KPBC yang di dalamnya ditetapkan besarnya Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor yang harus dibayar oleh Importir atau Penerima Kiriman Pabean. 2 Mengisi dan menandatangani formulir SSPCP dengan lengkap dan benar, berdasarkan PPKP untuk pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor. 3 Melakukan pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor di Kantor PT. Pos Persepsi dengan menyerahkan : PPKP dan SSPCP yang telah diisi denan lengkap dan benar; dan Uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP yang bersangkutan. 4 Menerima kembali PPKP dan SSPCP dari Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. 5 Menyerahkan kembali PPKP dan SSPCP yangtelah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayarannsebagaimana dimaksud dalam butir .3. 6 Menerima barang kiriman dan SSPCP lembar ke.3 atau BPN lembar ke.3 dan PPKP lembar ke.3. setelah melaksanakan pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor. 4.1.2. Pos Persepsi; 1 Meneliti kebenaran pengisian SSPCP dengan data tercantum dalam PPKP 2 Menerima uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP apabila dokumen tersebut telah diisi dengan lengkap dan benar 3 Mengembalikan PPKP dan SSPCP kepada importir atau prenerima kiriman pabean apabila pengisianya belum lengkap dan benar. 4 Menerima kembali PPKP dan SSPCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayarannya sebagaimana dimaksud pada butir.2. 5 Menyerahkan barang kiriman pabean dan SSPCP lembar ke.3 atau BPN lembar ke 3 kepada importir atau penerima kiriman pabean 6. Mendistribusikan SSPCP kepada : Lembar ke 1. untuk KPBC dilampiri PPKP lembar ke.1. Lembar ke 2 untuk KPPN Lembar ke 3. untuk Penyetor Penerima kiriman pabean, dilampiri PPKP lembar ke.3. Lembar ke 4. untuk Pos Persepsi dilampiri PPKP lembar ke.4. 7. Menjawab permintaan konfirmasi mengenai suatu pembayaran atau penyetoran apabila ada permintaan dari KPBC. 4.1.3. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC); A. Membuat atau menetapkan PPKP dengan mencamtumkan besarnya penerimaan Negara dalam rangka impor yang harus dibayar oleh penerima kiriman pabean dalam rangkap 5 : a. Lembar ke 1, untuk KPBC pada kanor pos Lalu Bea (setelah penerimaan negara dalam rangka impor dibayar); b. Lembar ke 2. untuk loket Kantor Pos Persepsi; c. Lembar ke 3. untuk penerma kiriman pabean; d. Lembar ke 4. untuk Kantor Pusat Pos Persepsi; e. Lembar ke 5. untuk KPBC. B. Menyerahkan PPKP: Lembar ke 1 s/d lembar ke 4 ke Pos Persepsi menyertai barang kiriman pabean yang telah diperiksa/dicacah ;dan Lembar ke 5 ke KPBC sebagai arsip. C. Menerima PPKP lembar ke 1 dialmpiri SSPCP lembar ke 1 atau BPN lembar ke.1. dari kantor Pos Persepsi D. Melakukan penata usahaan dokumen-dokumen yang berkenaan dengan barang kiriman pabean termasuk SSPCP setiap hari sesuai petunjuk yang ditetapkan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. E. Melakukan rekonsiliasi dengan cara meneliti/mencocokan PPKP lembar ke 1 SSPCP lembar ke.1 atau BPN lembar ke.1 yang diterima dari kantor Pos Persepsi dengan PPKP lembar ke.5 yang ada di KPBC. F.Memberitahukan kepada Kantor Pos Persepsi setiap akhir bulan apabila PPKP lembar ke 1 beserta lampirannya belum diterima sebagaimana dimaksud pada butir C. 5.1. RANGKUMAN ; Penyetoran Penerimaan negara di bidang pabean dan cukai serta pungutan-pungutan lainnya yang pemungutannya dilaksanakan oleh DJBC dapat dilaksanakan di Kantor Pos Persepsi, dilaksanakan dalam hal; 5.1.1. Pungutan negara dalam rangka kiriman pos dengan menggunakan PPKP 5.1.2. Pungutan cukai dan 5.1.3. Pungutan BM dan PDRI yang dikota/diwilah kerja DJBC tidak tersapat Bank Devisa Persepsi atau Bank Persepsi. 6.1. LATIHAN ; 6.1.1. Sebutkan tata laksana pembayaran dan penyetoran yang dilakukan di Kantor Pos Persepsi 6.1.2. Sebutkan dokumen impor yang dipakai dalam penyetoran diatas. 6.1.3. Sebutkan fihak-fihak mana saja yang terlibat dalam penyetoran tersebut. 5. KEGIATAN BELAJAR 2.TATA LAKSANA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA ATAS BARANG KENA CUKAI BUATAN DALAM NEGRI,PUNGUTANEKSPOR,PNBP DAN PEMBUKUAN BENDAHARA. 5.1. URAIAN ; 5.1.1. Penyetoran Penerimaan BKC produksi dalam negeri; Pengusaha pabrik / tempat Penyimpanan atau pengusaha pabrik Hasil Tembakau. 1 Untuk Pembayaran dan Penyetoran Cukai etil alkohol dan Cukai Minuman Mengandung etil alkohol; a. Mengisi dan menandatangani formulir pemberitahuan pengeluaran (CK14) dengan lengkap dan benar. b. Khusus untuk pembayaran dan penyetoran cukai minuman mengandung etil alkohol, selain mengisi dan menanda tangani formulir CK-14, juga mengisi dan menanda tangani Daftar Perincian MMEA. c. pengusaha juga mengisi dan menanda tangani daftar perincian minuman mengandung etil alkohol dalam rangkap 3 (tiga). d. Mengisi dan menandatangani formulir SSCP dalam rangkap 4 (empat) dengan lengkap dan benar,untuk pembayaran semua mata anggaran penerimaan (MAP) berdasarkan CK-14 e. Melakukan pembayaran di Bank Persepsi atau Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan KPBC tempat pemenuhan kewajiban cukai dengan menyerahkan : 1) CK-14 dan SSCP yang telah diisi dengan lengkap dan benar 2) formulir Daftar Perincian Minuman Mengandung etil alkohol yang telah diisi dengan baik dan benar, dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai minuman mengandung etil alkohol; dan uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSCP f. Menerima kembali CK-14 formulir daftar perincian minuman mengandung etil alkohol dan SSCP dari bank Persepsi atau Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. g. Menyerahkan kembali CK-14 , formulir daftar minuman mengandung etil dan SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran yang telah dimaksud dalam huruf.e. h. Menerima kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda terima dari Bank Persepsi atau . Pos Persepsi berupa : CK-14 Daftar Perincian Minuman Mengandung Etil Alkohol , dalam hal penyetoran cukai minuman mengandung etil alkohol; dan SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1 untuk disampaikan ke KPBC lembar ke-3 atau BPN lembar ke.3. untuk penyetor. Menyerahkan dokumen ke KPBC/ Bendahara Penerimaan Bea dan Cukai berupa : 1) CK-14 2) daftar perincian minuman mengandung etil alkohol lembar ke-1 dan ke-2, dalam hal penyetoran dan pembayaran cukai minuman mengandung etil alkohol; dan 3) SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1. j. Menerima kembali dokumen dari KPBC/ bendaharawan penerima Bea dan Cukai : 1) CK-14 lembar yang telah isi dan ditandatangani oleh pejabat Bea dan Cukai; dan 2) Daftar perincian minuman mengandung etil alkohol lembar ke-1, dalam hal penyetoran dan pembayaran Cukai minuman mengandung etil alkohol. 2 Untuk Pembayaran dan Penyetoran Cukai Hasil Tembakau Atas Pemesanan Pita Cukai Secara Tunai; a. Mengisi dan menandatangani dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) dengan lengkap dan benar. b. Menyerahkan CK.1. ke KPBC untuk dilakukan penelitian dan penomoran c. Mengisi dan menandatangani formulir SSCP dalam rangkap 4 (empat) dengan lengkap dan benar, untuk pembayaran semua mata anggaran penerimaan (MAP) berdasarkan CK-1. d. Melakukan pembayaran di bank Persepsi atau Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan KPBC tempat pemenuhan kewajiban cukai dengan menyerahkan : CK-1 dan SSCP yang telah diisi dengan lengkap dan benar Uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSCP e. Menerima kembali CK-1 dan SSCP dari bank persepsi atau Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. f. Menyerahkan kembali CK-1 dan SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran. g. Menerima kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda terima bank persepsi atau Pos Persepsi berupa : 1) CK-1 ; dan 2) SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1 untuk disampaikan ke KPBC, SSCP ke-3 atau BPN lembar ke.3 untuk penyetor/wajib pajak . h. Menyerahkan dokumen ke KPBC/bendaharawan penerima Bea dan Cukai berupa : CK-1 ; dan SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1. 3. Untuk Pembayaran dan Penyetoran Cukai Hasil Tembakau Atas Pemesanan Pita Cukai dengan mendapatkan penundaan pembayaran cukai; a. Mengisi dan menandatangani formulir SSCP dalam rangkap 4 (empat) dengan lengkap dan benar, untuk pembayaran semua mata anggaran penerimaan (MAP) berdasarkan CK.1. b. Melakukan pembayaran di Bank Persepsi atau Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja KPBC tempat pemenuhan kewajiban cukai dengan menyerahkan : Foto copy CK-1 dan SSCP yang telah diisi dengan lengkap dan benar; dan uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSCP c. Menerima kembali fotocopy CK-1 dan SSCP dari bank Persepsi atau Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya yang belum lengkap dan benar. d. Menyerahkan kembali SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagai mana dimaksud huruf. b. e. Menerima SSCP yang telah dibubuhi tanda terima dari Bank Persepsi atau Pos Persepsi ; 1) Lembar ke-1 untuk disampaikan ke KPBC; 2) Lembar ke-1 untuk penyetor/wajib pajak; dan f. Menyerahkan SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke 1. ke KPBC/Bendaharawan penerima Bea dan Cukai. Untuk Pembayaran dan Penyetoran Denda Administrasi; a. Menerima Surat Pemberitahuan Pengenaan Sanksi Administrasi (SPPSA) / Surat Tagihan Cukai (STCK.1.) / Surat Tagihan (ST) / Surat Paksa (SP) dari KPBC. b. Mengisi dan menanda tangani formulir SSPCP dalam rangap (empat) dengan lengkap dan benar berdasarkan SPPSA/STCK/STCK.1/ST/SP yang diterbitkan KPBC. c. Melakukan pembayaran di Bank Persepsi atau Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan KPBC tempat pemenuhan cukai dengan menyerahkan; SSPSA/STCK.1/ST/SP dan SSCP dengan lengkap dan benar; dan Uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSCP. d. Menerima kembali SPPSA/STCK 1/ST/SP dan SSPCP dari Bank Persepsi atau Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. e. Menyerahkan kembali SPPSA/STCK 1/ST/SP dan SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana disebut pada huruf c. f. Menerima kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda terima dari Bank Persepsi atau Pos Persepsi berupa SPPSA/STCK 1/ST/SP dan SSCP lembar ke 1 atau BPN lembar ke.1 dan SSCP lembar ke.3 atau BPN lembar ke.3 g. Menyerahkan SSCP lembar ke 1 atau BPN lembar ke1. ke KPBC/Bendahara Penerima Bea dan Cukai. 5.1.2. Bank Persepsi atau Pos Persepsi ; Bank Persepsi atau Pos Persepsi ; a. Menerima dokumen yang telah diisi dan ditanda tangani oleh pengusaha berupa; CK 14 lembar , dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai etil alkohol dan cukai MMEA; Daftar perincian MMEA , dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai MMEA; CK 1 , dalam hal pembayaran dan penyetoran Cukai H.T secara tunai. Foto copy CK 1, dalam hal pembayaran pembayaran cukai HT.secara kredit; dan atau SPPSA/STCK 1/ST/SP untuk pembayaran dan penyetoran denda administrasi dan SSCP lembar ke 1 s/d 4. b. Meneliti kebenaran : 1) NPWP; 2) Jenis penerimaan yang disetor; 3) Peghitungan jumlah cukai; 4) Jumlah uang dibayar sesuai yang tercantum dalam CK 14, CK 1/ atau SPPSA/STCK 1/ST/SP ;dan 5) Mencocokan SSCP dengan CK 14,CK 1 atau SPPSA/STCK 1/ST/SP. c. Menerima uang pembayaran yang jumlahnya sesuai dengan nominal yang tercantum dalam SSCP yang bersangkutan apabila CK 14, CK 1 dan SSCP telah diisi lengkap dan benar. d. Mengembalikan CK 14, CK 1, SPPSA/STCK 1/ST/SP dan SSCP kepada pengusaha untuk dilengkapi/diperbaiki apabila tidak benar dan/atau tidak suai dengan yang tercantum dalam CK.14., CK.1. atau SPPSA/STCK.1/ST/SP. e. Menerima kembali dokumen CK.14, CK.1. atau SPPSA/STCK.1/ST/SP dan SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayarannya sebagaimana dimaksud pada huruf.c.. f. Membubuhkan dalam tanda terima berupa; 1). Tanggal dan waktu penerimaan pembayara, yaitu tanggal dan waktu penerimaan uang atau ta nggal dan waktu kliring jika pembayarannya dengan uang tunai; 2). Nama dan tanda tangan petugas penerima pembayaran; 3). Nomor SSCP dan unit KPPN: dan 4). Cap Bank/Pos Persepsi yang bersangkutan. g. Menyerahkan kembali dokumen kepada pengusaha berupa: 1) CK 14 dalam hal pembayaran dan penyetoran Cukai EA dan MMEA. 2) Daftar Perincian MMEA dalam hal pembayaran dan penyetoran MMEA. 3) CK 1 dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai HT atas pemesanan pita cukai tunai; dan atau. 4) SPPSA/STCK 1/ST/SP dalam hal pembayaran penyetoran denda administrasi. 5) SSCP lembar ke 1 dan ke 3. atau BPN lembar ke.1 dan lembar ke.3 h. Mendistribusikannya SSCP: 1) Lembar ke 1 untuk KPBC melalui penyetor/Wajib pajak. 2). Lembar ke 2 untuk KPPN. 3). Lembar ke 3 untuk penyetor/wajib pajak;dan. 4). Lembar ke 4 untuk untuk Bank Persepsi atau Kantor Pos Persepsi. i. Menjawab permintaan konfirmasi mengenai suatu pembayaran apabila ada permintaan dari KPBC. 5.1.3. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) ; a. Menerima dokumen dari pengusaha berupa; CK.14, dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai etil alkohol dan cukai MMEA;. Daftar Perincian MMEA , dalam hal pembayaran dan penyetoran MMEA dan atau; CK.1. dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai HT atas pemesanan pita cukai secara tunai; dan SSCP lembar ke.1 atau BPN lembar ke.1.. b. Meneliti kebenaran pengisian dokumen dan penghitungan jumlah Penerimaan Negara atas BKC dalam dokumen sebagaimana dimaksud pada butir.a. c. Mengembalikan dokumen sebagaimana dimaksud pada butir.a.kepada pengusaha untuk diperbaiki apabila pegisian dan penghitungannya belum lengkap dan benar, atau dalam hal terdapat kekurangan pembayaran penerimaan Negara atas BKC, memberitahukan kepada pengusaha untuk melunasinya. d. Menomori CK.14 dan CK.1 setelah memastikan kebenaran pengisiannya.. e. Mencatat nomor dan tanggal SSCP dalam; 1). CK.14. 2) CK.1. atau 3). Buku Rekening Kredit. f. Menyerahkan kembali CK.14. yang telah diisi dan ditanda tangani Bendahara Penerima Bea dan Cukai kepada pengusaha. g. Meneliti kebenaran jumlah denda administrasi yang tercantum dalam SSCP dan SPPSA/STCK.1/ST/SP, dalam hal pembayaran dan penyetoran denda administrasi. h. Menata usahakan dan membukukan penerimaan negara atas BKC. i. Meminta konfirmasi kepada Bank Persepsi/Pos Persepsi dalam hal ada keraguan atas kebenaran dokumen pembayaran 5.1.5. Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pungutan Ekspor; Pungutan ekspor yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu seperti yang telah disebutkan diatas, pembayaran atau penyetoran atas pungutan ekspor dilaksanakan di: 1. Bank Devisa Persepsi atau 2. Kantor Pabean : dalam hal ekpor dilakukan ditempat yang tidak terdapat Bank Devisa Persepsi atau diluar jam kerja atau pada hari-hari libur. Bukti pembayaran atas pungutan ini adalah STBS (Surat Tanda Bukti Setor) yang dikeluarkan oleh Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean atas pembayaran dan penyetoran pungutan ekspor. Pungutan ekspor wajib dibayar secara tunai selambat-lambatnya pada saat PEB didaftarkan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat pemenuhan kewajiban pabean, dalam hal pembayaran pungutan ekspor melampaui batas waktu diatas, maka dikenakan denda administrasi sebesar 2% sebulan utuk paling lama 24 bulan, bagian dari bulan dihitung sebulan penuh. Bendahara Penerima KPBC yang menerima pungutan ekspor, kekurangan pungutan ekspor dan atau denda administrasi dari eksportir/kuasanya wajib segaera menyetorkan penerimaan dimaksud ke BUN (Bendahara Umum Negara) nomor Reekening; 502.000.000 di Bank I ndonesia selambat-lambatnya pada hari kerja berikutnya. Atas setiap penyetoran diatas Bank Devisa Persepsi wajib membuat Daftar Penyetoran Pungutan Ekspor (DPPE) dan wajib menyampaikannya ke Direktorat Jenderal Anggaran . 5.1.6. Tata Laksana Pembayaran dan Penyetoran Pungutan Negara Bukan Pajak; Penerimaan Negara Bukan Pajak terdiri dari berbagai jenis yang pemungutannya dilakukan oleh Instansi Pemerintah, menurut rincian dalam APBN jenis PNBP adalah sebagai berikut : 1. Penerimaan sumber daya alam. 2. Bagian laba BUMN. 3. PNBP lainnya berupa : a. Penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana Pemerintah; b. Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah; c. Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan yang berasal dari denda administrasi; d. Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak Pemerintah; e. Penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang PNBP. Khusus dilingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagian penerimaan bersumber dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah antara lain pelayanan atas dokumen-dokumen yang dibidang impor , ekspor dan cukai. Pembayaran dan Penyetoran PNBP yang wajib dipungut oleh Bea dan Cukai disetorkan ke : 1. Bank Devisa Persepsi; 2. Bank Persepsi; 3. Pos Persepsi; dan 4. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Pembayaran dan penyetoran PNBP dilakukan secara : Tunai : yaitu pembayaran yang dilakukan secara tunai melalui Bank atau Kantor Pelayanan Bea dan Cukai; Berkala : yaitu pembayaran satu jenis PNBP yang dilakukan pada akhir periode tertentu yakni paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya dalam hal tanggal 5 jatuh pada hari libur penyetoran dilakukan pada hari kerja berikutnya dan wajib diserahkan SSBP paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah jatuh tempo; Kemudian : wajib menyerahkan SSBP atau membayar dengan tanda bukti BPBP paling lambat 3(tiga) hari kerja setelah timbulnya kewajiban membayar; Kompensasi : adalah kelebihan pembayaran yang diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka. 5.1.7.Penata Usahaan PNBP oleh Bendahara di KPBC ; 1. 1. Untuk Pembayaran di Bank Devisa Persepsi / Bank Persepsi / Pos Persepsi; a Menerima SSBP lembar ke 5 dari wajib bayar. b Dalam hal pembayaran berkala disamping SSBP juga menerima daftar rekapitulasi pembayaran PNBP. c Menutup dokumen dasar pada in house computer Bendahara. d Mencatat seluruh penerimaan pada buku catatan PNBP berdasarkan SSBP. e Mencatat seluruh penerimaan pada buku catatan PNBP berdasarkan SSPCP dan SSCP. f Membukukan penerimaan pada buku penerimaan harian . g Mendistribusikan SSBP. h Mengarsipkan SSBP. 2. Untuk Pembayaran melalui Bendahara Penerima PNBP Bea dan Cukai ; a. Menerima, menyimpan, membukukan dan menyetorkan PNBP pada hari kerja berikutnya. b. Mencocokkan Jumlah PNBP dengan MAP (Mata Anggaran Penerimaan) yang bersangkutan. c. Menerima pembayaran sesuai nominal yang tercantum pada PNBP. d. Memberikan bukti pembayaran berupa BPBP kepada wajib bayar . e. Mencatat seluruh penerimaan pada buku catatan PNBP berdasarkan BPBP lembar ke 2. f. Membukukan penerimaan kedalam buku harian PNBP. g. Mendistribusikan BPBP; 1). Lembar ke 1. dilampirkan untuk menutup dokumen ; 2). Lembar ke 2. Untuk Bendahara Penerima; 3). Lembar ke 3. untuk Penyetor. h. Menyetorkan seluruh PNBP Ke Rekening Kas Umum Negara dengan menggunakan SSBP sebagai berikut; 1). Bank Devisa Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan kantor DJBC; 2). Bank Persepsi dalam hal di kota/wilayah kerja kantor DJBC tempat penyetoran PNBP tidak terdapat Bank Devisa Persepsi; atau 3). Pos Persepsi dalam hal di kota/wilayah kerja kantor DJBC tempat Penyetoran PNBP tidak terdapat Bank Devisa Persepsi atau Bank Persepsi. 5.1.8. Pembukuan Bendahara atas Penerimaan yang Pembayarannya dilakukan di KPBC.; Penerimaan pabean, cukai, denda administrasi, bunga dan pajak yang disetorkan melalui Bendahara Penerima DJBC untuk kemudian disimpan dan disetorkan ke Rekening Kas Umum Negara. Untuk membukukan penerimaan-penerimaan diatas Bendaharawan membukukan kedalam buku – buku tersebut dibawah ini; 1. Buku Catatan Penerimaan dan; 2. Buku Penerimaan Harian. Buku Catatan Penerimaan; Buku ini digunakan untuk mencatat penerimaan dibidang pabean dan cukai selama 1(satu) hari/harian. Buku ini ditutup pada setiap akhir jam kantor setelah penutupan kas, seluruh penerimaan yang ada didalam buku catatan penerimaan harian dipindahkan ke buku Penerimaan Harian. 1.2. Cara pencatatan; Satu jalur untuk mencatat satu jenis dokumen pembayaran. Tiap jenis penerimaan dicatat pada kolom yang sesuai dengan jenis penerimaan yang bersangkutan. Apabila terjadi kesalahan pencatatan, segera dilakukan pembetulan dengan cara mencoret angka yang salah dengan garis tinta merah, namun angka yang salah masih terlihat/terbaca, kemudian diparaf dan selanjutnya ditulis dengan angka yang benar. Setelah kas ditutup, buku catatan penerimaan juga segera ditutup dengan cara membuat “dua garis lurus” dibawah penerimaan pada hari tersebut. Menjumlah angka penerimaan pada hari itu dibawah garis penutup sesuai jenis penerimaan pada masing-masing lajur. Menutup seluruh hasil penerimaan pada hari tersebut dengan menyebutkan jumlah penerimaan yang terbagi dalam 2(dua) jenis penerimaan yaitu; 1). pungutan pabean dan/atau cukai dan; 2). pungutan pajak. Dengan menyebutkan nomor-nomor bukti pembayaran yang digunakan. Dalam hal halaman tidak cukup untuk mencatat penerimaan dalam satu hari, maka dapat dilanjutkan dihalaman berikutnya dengan cara menjumlah terlebih dahulu selutuh penerimaan pada masing-masing lajur jenis penerimaan dan ditulis didepannya kata ” dipindahkan”, pada halaman berikutnya /lanjutan, angka-angka penjumlahan yang telah dicatat diulang dicatat kembali sesuai lajurnya masing-masing dan didepannya ditulis “ pindahan” Dalam hal frequensi penerimaan kecil/jarang, maka lembar/halaman yang tersisa dapat digunakan untuk mencatat penerimaan hari/tanggal berikutnya. Penandasyahan Buku Catatan Penerimaan dengan penanda tanganan oleh Penanggung jawab/kasir dengan diketahui oleh Bendahara (Kepala Seksi Bendahara). 2.1. Buku Penerimaan Harian; Kegunaan buku ini adalah untuk membukukan jumlah penerimaan dibidang pabean dan cukai yang sumber data untuk pencatatannya diambil dari buku catatan penerimaan. Buku Penerimaan Harian ini ditutup pada; a. Setiap akhir bulan; b. Setiap akhir tahun anggaran; c. Setiap saat apabila ada pemeriksaan kas; dan d. Setiap ada serah terima jabatan Bendahara. 2.2. Tata cara pencatatan pada buku Penerimaan Harian; Setiap hari sesudah penutupan Buku Catatan Penerimaan, jumlah-jumlah penerimaan pada hari itu dipindahkan ke Buku Penerimaan Harian, sesuai kolom penerimaan masing-masing. Jumlah penerimaan yang sudah dicatat tersebut kemudian ditambahkan dengan jumlah penerimaan hari-hari yang lalu pada bulan yang sedang berjalan. Hasil penjumlahan ini merupakan jumlah keseluruhan penerimaan sampai dengan hari/tanggal tersebut pada bulan yang sedang berjalan. Pada akhir bulan setelah tahap-tahap pencatatan diatas dilakukan, kemudian buku penerimaan harian ditutup. 2.3. Penutupan pada akhir bulan; Pada penutupan Buku Penerimaan Haarian Bendahara menuliskan : Penerimaan hari ini : Rp ………………………… Penerimaan hari-hari yang lalu : Rp ………………………… --------------------------------- + Penerimaan bulan…………….. : Rp ………………………… Penerimaan bulan-bulan yang lalu : Rp …………………………. --------------------------------- + Penerimaan sampai dengan bulan……… : Rp ………………………… ………… tanggal…………… Kepala Seksi Perbendaharaan Kantor………………………. ……………………………… NIP.0600………………… Penutupan pada akhir tahun anggaran. Bendahara Penerima DJBC menulis kata-kata : Penerimaan hari ini : Rp ……………………….. Penerimaan hari-hari yang lalu : Rp ………………………. + --------------------------------- Penerimaan bulan …………………… : Rp ………………………. Penerimaan bulan-bulan yang lalu : Rp ………………………. ---------------------------------- Penerimaan tahun…………………………… : Rp …..……………………. ……… tanggal …………... Kepala Seksi Perbendaharaan Kantor……………………… NIP.0600……………………. 2.4. Penutupan dalam hal ada pemeriksaan kas dan penggantian Bendahara : Bendahara DJBC menulis kata-kata ; Pada hari ini …………. tanggal …………. tahun ………telah dilakukan pemeriksaan kas dengan hasil penutupan kas sebagai berikut: Penerimaan sejak tanggal ……. s/d tanggal ………….. : Rp ………………. Penerimaan pada hari ini tanggal………….... : Rp ………………. ------------------------+ Penerimaan sampai dengan hari ini : Rp ……………… Penerimaan yang telah disetor ke Kas Negara : Rp …………….... ----------------------- - Saldo : Rp ..……………. ………….tanggal……… Mengetahui Kepala Seksi Perbendaharaan Kepala Kantor……… Ketua Pemeriksa Kas. Kantor………………………. 6. LATIHAN ; 1. Sebutkan kegiatan yang dilakukan oleh importir pada penyetoran penerimaan di Bank Devisa Persepsi 2. Sebutkan kegiatan yang dilakukan Bank Persepsi saat menerima penyetoran 3. Sebutkan kegiatan yang dilakukan KPPN sehubungan dengan penyetoran diatas 4 Sebutkan kegiatan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai sehubungan dengan penyetoran diatas. 7. RANGKUMAN ; Dalam bab ini dijelaskan tentang objek pajak dan PNBP, subjek pajak dan tata cara pembayaran dan/atau penyetorannya, tempat-tempat penyetoran dan dokumen-dokumen yang dipakai serta klarifikasi jika ada yang diragukan baik oleh DJBC maupun KPPN serta penggunaan Buku Catatan Penerimaan dan Buku Penerimaan Harian oleh DJBC. 1. Pajak-pajak dan Penerimaan non pajak yang diterima melalui Bendahara Penerima DJBC; 1.1. Bea Masuk; 1.2. Cukai; 1.3. Denda administrasi; 1.4. Pungutan ekspor; 1.5. Bunga; dan 1.6. PNBP. 2. Penerimaan lain yang pemungutannya dititpkan pada DJBC; 2.1. PPN impor; 2.2. PPN BM; 2.3. PPh.Psl.22. 2.4. PPN.HT. 3. Pembayar/penyetor pajak dan non pajak; 3.1. Importir; 3.2. Eksportir; 3.3. Pengusaha TPS; 3.4. Pengusaha TPB; 3.5. Penerima kiriman Pos; 3.6. PPJK; 3.7. Pengusaha Pabrik BKC. 3.8. Pengusaha Tempat Penyimpanan BKC TTT; 3.9. Perorangan/siapa saja. 4. Tempat-tempat Pembayaran atau Penyetoran; 4.1. Bank Devisa Persepsi; 4.2. Kantor Pabean; 4.3. Bank Devisa; 4.4. Kantor PT. Pos Indonesia; 4.5. Bank Persepsi 5. Tanda bukti pembayaran; 5.1. SSPCP; 5.2. SSCP; 5.3. STBS; 5.4. SSBP; 5.5. SPSA; 5.6. SPPSA; 5.7. BPPCP; 5.8. BPBP. 5.9. CK.14. 6. Penata usahaan atas penerimaan pabean yang diterima oleh Bendahara penerima; 6.1. dibuatkan buku; a. buku catatan penerimaan harian dan; b. buku penerimaan harian ; 6.2. buku pnerimaan harian ditutup pada; a. setiap akhir bulan ; b. setiap akhir tahun anggaran; c. setiap saat apabila ada pemeriksaan kas dan; d. setiap ada serah terima jabatan bendahara. 7. Tata cara penutupan pada buku penerimaan harian sesuai dengan langkahlangkah dan pada lajur-lajur yang ada. 8. PENUTUP; 8.1. TES FORMATIF; 1. Formulir yang digunakan untuk pelunasan bea masuk dan pajak impor adalah… a. SSPCP satu set b. SSBC satu set c. SSCP satu set d. BPBC satu set 2. Pelunasan cukai atas etil Alkohol atau MMEA buatan dalam negeri dilakukan di... a. Bank persepsi atau kantor PT.Pos Indonesia b. Bank devisa persepsi atau kantor PT. Pos Indonesia c. Bank devisa d. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai 3. Pelunasan cukai atas MMEA impor dilakukan dengan cara.. a. pelekatan pita cukai b. pembayaran c. pembayaran atau pelekatan pita cukai d. pembayaran dan pelekatan pita cukai 4. Subyek pembayaran dan penyetoran perorangan adalah… a. penerima paket pos dan penumpang b. penumpang dan awak sarana pengangkut c. penerima paket pos, penumpang, pelintas batas dan awak sarana pengangkut d. awak sarana pengangkut dan penerima paket pos 5. Penyetoran adalah menyerahkan uang yang menjadi hak negara atas rekening kas umum negara , rekening atas nama.... a. Bank Devisa b. Bank Devisa Persepsi c. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai d. Kantor Pelayanan dan Pembendaharaan Negara 6. Penyetoran bea masuk dan pungutan negara lainnya dalam rangka impor dapat dilakukan di ; a. Bank devisa persepsi, kantor pabean dan kantor PT. Pos Indonesia b. Bank devisa persepsi dan kantor PT. Pos Indonesia c. Kantor pabean, bank devisa dan kantor pos d. Kantor bea dan cukai dan bank devisa persepsi . Buku yang dikelola oleh Bendahara Penerima termasuk dibawah ini, kecuali ; a. Buku Daftar penerima dan buku Penerima Harian b. Buku rekening BKC dan buku rekening kredit c. Buku persediaan BKC d. Buku penerimaan jaminan 7. 8 . Menurut PP. 24 tahun 1996 sanksi administrasi berupa denda di bidang Cukai ditetapkan sesuai ketentuan jangka waktu pelanggaran yang dilakukan dalam ; a. satu tahun terakhir b. tiga tahun terakhir c. lima tahun terakhir d. tujuh tahun terakhir 9. CK.14. adalah bukti pembayaran cukai atas BKC; a. HT produksi dalam negeri b. EA produksi dalam negeri c. EA dan MMEA d. Seluruh BKC 10. Pembayaran PNBP secara berkala adalah pembayaran yang dilakukan pada; a. Setiap awal bulan berikutnya b. Setiap tanggal 10 bulan berikutnya c. Setiap tanggal 5 bulan berkutnya d. Setiap tanggal 1 bulan berikutnya 11. Apabila terjadi kesalahan pencatatan pada buku penerimaan harian, maka tindakan yang harus dilakukan Bendahara ; a. Mencoret angka yang salah hingga tidak dapat terbaca lagi, kemudian menuliskan angka yang benar. b.Menghapus angka yang salah kemudian menuliskan kembali angka yang benar dengan dibubuhi paraf c. Mencoret angka yang salah dengan tinta merah dan angka yang salah masih terbaca kemudian diparaf d. Mengganti seluruh halaman dari buku penerimaan harian 9. KUNCI JAWABAN ; 1. a 6. d. 2. a. 7. c. 3. a. 8. c. 4. c. 9. b. 5. d. 10. c. 11. c. 10. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT; Setelah anda mempelajari modul II ini, cobalah menjawab tes formatif diatas dan apabila anda telah dapat menjawab dengan benar sebanyak 80%, berarti anda telah belajar dengan baik, namun apabila belum dapat menjawab coba ulangi lagi mempelajari modul diatas atau diskusikan dengan kawan-kawan anda sekelas. Hal yang perlu anda perhatikan adalah sebelum menjawab tes jangan melihat kunci jawaban terlebih dahulu. Apabila anda telah dapat menjawab minimal 80% dari tes diatas, anda dapat melanjutkan pembelajaran pada modul III berikutnya. Selamat belajar. Tingkat-tingkat penguasaan; - 90% - 100% = Baik sekali. - 80% - 89% = Baik. - 70% - 79% = Cukup - 69% kebawah = Kurang. 11. DAFTAR PUSTAKA; 1. Undang-undang nomor 17 Taahun 2006 dan Undang-undang 1995 tentang Kepabeanan 2. Undang-undang nomor 39 tahun 2007 dan Undang-undang 11 Tahun 1995 tentang Cukai 3. Undang-undang nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 4. Undang-undang nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 5. Undang-undang nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP 6. Peraturan Menteri Keuangan noor 99/PMK.06/ 2006 dan Peraturan Mewnteri Keuangan nomor145/PMK.04/2006 sebagai prubahan terhadap Surat Keputusan Menteri Keuangan nomor 84/KMK 04/2003 tentang Tata Laksana Pembayaran dan Penyetoran BM dan PDRI serta Penerimaan Negara atas BKC Produksi Dalam Negeri 7. Surat Keputusan Menteri Keuangan nomor 514/KMK 04/2004 tentang Pembayaran Berkala Cukai MMEA Produksi Dalam Negeri. 8. Peraturan Menteri Keuangan no.93/PMK.02/2005 tentang tata cara pembayaran dan penyetoran pungutan ekspor. ========================= MODUL III. PENAGIHAN DAN PENGEMBALIAN; 1. PENDAHULUAN; 1.1.Deskripsai Singkat ; Penagihan adalah upaya dari Direktorat Jendral Bea dan Cukai terhadap semua utang yang terjadi atas BM,Cukai,Denda Administrasi,Bunga,Pungutan ekspor dan PNBP serta pungutan pabean dan pungutan cukai lainnya yang pemungutannya dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Bea dan Cukai.. Penagihan dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang selanjutnya mendelegasikan kewenangannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Penagihan atas Bea Masuk dan Cukai juga dibebani denda dan bunga . Penagihan utang Bea Masuk dan Cukai dan pungutan pabean dan cukai lainnya dilaksanakan sesuai ketentuan dalam undang-undangnya masing-masing dan apabila dalam jangka waktu yang ditetapkan belum juga dilunasi, maka penagihannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan penagihan pajak dengan surat paksa. 1.2. Tujuan Instruksional Umum ; Setelah anda selesai mempelajari modul III ini, anda diharapkan mampu memahami tentang ketentuan penagihan dan pengembalian semua pungutan karena; kelebihan bayar,salah penghitungan,pembebasan,putusan lembaga banding,barang direekspor,BKC yang diekspor,BKC yang dimasukkan kembali ke pabrik untuk dimusnahkan/diolah kembali,BKC yang pita cukainya rusak sebelum dilekatkan atau telah dilekatkan tetapi tidak jadi diimpor untuk BKC impor. 1.3. Tujuan Instruksional Khusus ; Setelah anda mempelajari modul III ini anda diharapkan mampu menjelaskan tentang tata cara penagihan administratif dan aktif, pengembalian pungutan kepabeanan dan cukai,alasan-alasan penagihan dan pengembalian pungutan pabean dan pungutan cukai lainnya,penyelesaian atas barang yang tidak duasai,dikuasai negara dan milik negara serta mengerjakan /mempersiapkan semua dokumen terkait dan mengarsipkan dokumendokumen yang telah selesai. 2.KEGIATAN BELAJAR. 1 ; PENAGIHAN BEA MASUK,CUKAI,DENDA ADMINISTRASI,BUNGA, PDRI DAN PNBP. 2.1. URAIAN ; Dalam bab ini dijelaskan tentang Tata Laksana Penagihan BM, Cukai, Denda Administrasi, Bunga, PDRI (Pungutan Dalam Rangka Impor dan PE (Pungutan Ekspor) serta PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Disamping penagihan yang telah ditetapkan dalam undang-undang yang merupakan dasar hukum bagi masing-masing penagihan tersebut diatas juga dikenal ketentuan penagihan pajak dengan Surat Paksa.. Sehingga pada dasarnya penagihan dibagi dalam 2 (dua) tahap; 1. Penagihan Administratif, dan 2. Penagihan Aktif. Penagihan administrasi dilakukan apabila jatuh tempo utang belum juga dilunasi sampai dengan satu bulan 30 (tiga puluh) hari ditambah 7 (tujuh) hari.Apabila setelah jangka waktu tersebut utang belum juga dilunasi, maka dilakukan penagihan secara aktif. Penagihan utang secara aktif ini adalah saat dimulainya penagihan pajak dengan surat paksa. A. Penagihan administratif ; Penagihan administratif dilakukan oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dengan menerbitkan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk/Cukai (SPKPBM/STCK),denda administrasi, bunga dan PDRI. 1. Penagihan utang Bea Masuk; Utang atau tagihan kepada Negara yang tidak atau kurang dibayar juga dikenakan bunga sebesar 2% setiap bulan untuk selama-lamnya 24 bulan, dihitung sejak jatuh tempo sampai hari pembayarannya ,bagian dari bulan dihitung satu bulan. Adapun tata laksanannya sebagai berikut ; 2. Penagihan utang cukai Dalam hal penagihan utang Cukai yang tidak dilunasi melampaui waktu (30 hari) sejak STCK.1. dikenakan bunga 2% setiap bulan untuk paing lama 24 bulan, ketentuan penagihan ini masih dalam penagihan adminitratif dan apabila belum juga dibayar, maka selanjutnya dilakukan penagihan aktif. 2.1. Penagihan administratif dilakukan dengan STCK.1. 2.2. Penagihan aktif dengan STCK.2. 3. Penagihan Kekurangan pungutan ekspor; Penagihan atas pungutan ekspor yang disebabkan karena kekurangan pembayaran, penagihannya dilakukan oleh; 3.1. Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dalam hal pembayaran/penyetoran 3.2. Kantor dilakukan di Bank Devisa. Pelayanan Bea dan Cukai dalam hal pembayaran/penyetoran di KPBC. 4. Kedaluarsa penagihan utang; Hak menagih utang kedaluarsa setelah sepuluh tahun sejak timbulnya kewajiban membayar. Masa kedaluarsa tidak dapat diperhitungkan dalam hal; Yang berutang tidak bertempat tinggal di Indonesia; Yang berutang memperoleh penundaan; Yang berutang melakukan pelanggaran undang-undang pajak dan; Dalam hal ada pengakuan utang. 5. Pelaksanaan Penagihan administratif; Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai melakukan penagihan atas utang BM, denda adminstrasi, bunga dan PDRI yang tidak atau kurang dibayar oleh; importir, pengangkut, pengusaha TPS/TPB atau Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK). Penagihan dilakukan dengan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk (SPKPBM) dan pungutan Negara lainnya, SPSA, ST dan SP. SPKPBM diterbitkan oleh Kepala Kantor dalam hal; Penagihan utang tambah bayar atas kekurangan pembayaran BM, Cukai dan/atau denda administrasi yang tersebut dalam nota Pembetulan (NOTUL) hasil temuan Verifikasi. Demikian pula denda administrasi yang tidak diakibatkan oleh kekurangan pebayaran BM, misalnya PPJK tidak membuat pembukuan dan tidak menyimpan dokumendokumen selama 10 (sepuluh) tahun, untuk hal semacam ini hanya dikenakan denda administrasi saja. Hasil audit dibidang kepabeanan dan cukai. Masa pengajuan keberatan telah jatuh tempo. Jaminan yang tidak dicairkan dan jaminan tertulis yang tidak ditepati/dibayar. 5.4. Dalam Dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak jatuh tempo ditambah 7 (tujuh) hari masih belum dilunasi, maka KKPBC menerbitkan Surat Teguran (ST) kepada yang bersangkutan yang menyatakan bahwa pembayaran utang harus selesai dalam waktu paling lambat 21 (Dua puluh satu) hari sejak dikeluarkannya ST tersebut. B. Penagihan aktif; 1. Penagihan aktif mulai dilakukan saat tertagih setelah diberi Surat Teguran dan belum juga melunasi utangnya; 1.1. Apabila Surat Teguran telah jatuh tempo dan belum juga dilunasi,KKPBC segera; a. Menerbitkan Surat Paksa (SP) untuk penagihan BM, Cukai, Sanksi administrasi dan Bunga. Surat Paksa ini merupakan perintah untuk membayar utang BM dan pungutan lainnya berikut biaya penagihan. b. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Utang Pajak dalam rangka Impor (PPN, PPn.BM dan PPh Pasal.22.) serta PPN HT dalam negeri dengan STCK 2 (kalau ada) kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat yang berutang berdomosili untuk diselesaikan sesuai ketentuan pajak yang berlaku. c. Apabila ditemukan PPh Pasal.22. yang tidak atau kurang dibayar lewat tahun takwim, Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menyampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak dimana wajib Pajak berdomisili. 1.2. Dalam waktu 2 X 24 jam sejak Surat Paksa diberitahukan tertagih masih diberi kesempatan untuk melunasi utangnya.Apbila dalam waktu tersebut dilampaui, Kepala KPBC menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP). Besarnya asset yang disita berupa barang bergerak ataupun tidak bergerak adalah sebesar utang yang wajib dilunasi, dalam hal tertentu dapat dibuatkan surat penyitaan tambahan. Dalam hal tertentu Kepala KPBC dapat melakukan Penagihan Seketika dan Sekaligus, yaitu suatu tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh juru sita Bea dan Cukai terhadap tertagih tanpa menunggu jatuh tempo. Hal-hal tertentu tersebut antara lain: a. Tertagih diperkirakan akan meninggalkan Indonesia selama-lamanya. b. Tertagih menghentikan secara nyata, mengecilkan usahanya atau memindah tangankan barang yang dimiliki atau dikuasai. c. Tertagih berniat atau ada tanda-tanda akan membubarkan usahanya. d. Badan usahanya akan dibubarkan oleh Negara, atau e. Terjadi penyitaan atas barang tertagih oleh fihak ketiga. 2. Pelaksanaan penyitaan; 2.1. Pelaksanaan Penyitaan oleh Juru Sita Bea dan Cukai; Pelaksanaan penyitaan dilakukan oleh Juru sita Bea dan Cukai dengan disaksikan oleh 2(dua) orang dewasa penduduk Indonesia yang dikenal dan dipercaya oleh Juru Sita. Dalam setiap melaksanakan penyitaan, Juru Sita wajib membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita yang ditanda tangani oleh Juru Sita dan saksisaksi, Berita Acara ini tetap mengikat walaupun saksi-saksi menolak menanda tanganinya. Pengajuan Keberatan dan Banding tidak mengakibatkan penundaan pelaksaan penyitaan. Pencabutan sita dapat dilaksanakan apabila tertagih telah melunasi utangnya atau berdasarkan putusan Pengadilan Pajak atau ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan. Pencegahan dapat dilakukan terhadap seseorang penangung pajak yang jumlahnya minimal Rp.100.000.000,- dan diragukan itikad baiknya. Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu atas kebebasan tertagih yang mempunyai utang pajak minimum Rp.100.000.000,karena diragukan itikad baiknya dalam melaksanakan kewajibannya. Penyanderaan berdasarkan ijin Menteri Keuangan atau Gubernur Kepala Daerah TK.I. dan dilakukan secara selektif, hati-hati dan merupakan upaya terakhir. 3. Pelaksanaan lelang; 3.1. Dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal penyitaan masih juga utang belum dilunasi, maka pejabat Bea dan Cukai segera melaksanakan pengumuman lelang. 3.2. Jika dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal pengumuman lelang masih juga belum dilunasi utang dimaksud, maka pejabat Bea dan Cukai dapat segera melakukan penjualan barang sitaan melalui kantor lelang. C. Penyelesaian Barang Tidak Dikuasai, Dikuasai Negara dan Milik Negara; 1. Bidang Pabean ; Dibidang pabean penetapan terhadap barang tidak dikuasai, dikuasai Negara dan milik Negara adalah yang: melampaui jangka waktu yang ditentukan, dilarang,dibatasi impor/ekspornya dan barang yang ditegah oleh pejabat Bea dan Cukai atau sarana pengangkut yang ditinggalkan dikawasan pabean oleh pemilik yang tidak dikenal serta barang dan/atau sarana pengangkut yang berdasarkan keputusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dinyatakan dirampas untuk Negara. Barang-barang tersebut diatas menurut ketentuan kepabeananan dibagi dalam ; 1.1.1. Barang tidak dikuasai; 1.1.2. Barang dikuasai Negara dan; 1.1.3. Milik Negara. Terhadap barang tidak dikuasai dan dikuasai negara diatas masih dapat dibayar BM dan PDRInya paling lambat 2(dua) hari sebelum pelelangan. Terhadap barang telah dilelang utang BM dan PDRI serta sewa gudang TPP (Tempat Penimbunan Pabean) serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan penanganan barang tidak dikuasai dan dikuasai Negara wajib dipungut.BM dan/atau PDRI diambil dari harga lelang barang – barang tersebut, sehingga harga lelang yang ditetapkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai adalah minimum harga lelang terendah yang meliputi BM dan PDRI serta biaya-biaya lain. Barangbarang tersebut diatas oleh Bendahara dicatat pada buku catatan pabean untuk barang dikuasai Negara dan buku catatan pabean barang yang tidak dikuasai. Khusus untuk barang yang menjadi milik Negara disimpan di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk oleh Direktur Jendral Bea dan Cukai dan dibukukan dalam buku catatan pabean barang menjadi milik Negara, penyelesaiannya selanjutnya atas barang ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai kepada Menteri Keuangan untuk ditentukan peruntukannya. Pelelangan ; Dalam pelelangan barang yang tidak dikuasai atau yang dikuasai Negara harus ditetapkan harga lelang terendah yang meliputi jumlah pungutan; Bea Masuk,Cukai,PPN Impor,PPn BM dan PPh Psl.22; Sewa gudang di Tempat Penimbunan Sementara untuk selamalamanya 2 (dua) bulan; Sewa gudang di Tempat Penimbunan Pabean; dan Biaya pencacahan dan penimbunan di Tempat Penimbunan Pabean. Untuk menghitung BM dan PDRI Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menetapkan nilai pabean dari barang yang akan dilelang berdasarkan data yang tersedia pada Kantor Pabean tersebut. Hasil pelelangan setelah dikurangi dengan BM, Cukai, PPN, PPnBM, PPh Psl.22., sewa gudang serta biaya-biaya lain jika masih ada sisa disediakan untuk diterimakan kepada pemiliknya. Sisa uang yang yang disediakan untuk diterima kepada pemiliknya oleh Kepala Kantor wajib disampaikan secara tertulis dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal pelelangan dan apabila dalam waktu 90 (sembilan puluh) hari setelah tanggal pemberitahuan oleh pemiliknya belum juga diambil, maka uang tersebut dipertanggung jawabkan oleh Bendahara menjadi milik negara. Semua pungutan-pungutan dan uang sisa yang tidak diambil disetorkan oleh Bendahara ke Rekening Umum Kas Umum Negara sesuai MAP (Mata Angaran Penerimaan) masing-masing. Apabila harga pada pelelangan pertama tidak mencapai harga terendah, maka selambat-lambatnya dalam jangka waktu 14 (empat belas ) hari dilakukan pelelangan kedua dan apabila pada pelelangan kedua harga belum juga mencapai harga terendah , maka Kepala Kantor Pabean mengusulkan kepada Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk mendapatkan persetujuan pemusnahan barang atau ditentukan peruntukannya. Atas BKC impor tidak dilakukan pelelangan , melainkan segera dimusnahkan dan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan, atas barang yang mudah busuk/rusak, berbahaya dan yang penyimpanannya memerlukan biaya tinggi dilelang terlebih dahulu dan atas pelelangan ini Kepala Kantor wajib memberitahukan secara tertulis kepada pemiliknya. 3. Bidang cukai; Dibidang cukai atas BKC dan barang lain dari pelanggar yang tidak dikenal dikuasai Negara dibawah pengawasan DJBC., terhadap barang ini dibagi kedalam; Barang dikuasai Negara dari pelanggar yang tidak dikenal ; Barang dikuasai Negara yang berasal dari pemiliknya tidak diketahui, Atas barang tersebut diatas jika melampaui waktu yang ditetapkan statusnya berubah menjadi barang milik Negara. Penyelesaian atas BKC dan barang lain dari pelanggar tidak dikenal adalah sebagai berikut; Barang dinyatakan dikuasai Negara ditempatkan Penimbunan Pabean atau tempat lain Kepala KPBC; di Tempat yang ditunjuk oleh Apabila dalam jangka waktu 14 hari sejak dikuasai negara pelanggarnya tetap tidak diketahui, dinyatakan menjadi milik Negara; Penyelesaian lebih lanjut; a. BKC dan barang lain yang mudah busuk/rusak dimusnahkan ; b. Barang lain selain tersebut pada a. peruntukannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Atas pemusnahan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan dengan BAP. Penyelesaian tasa BKC dan barang lain yang dikuasai Negara yang berasal dari pemilik yang tidak diketahui adalah sebagai berikut ; Barang dinyatakan dikuasai Negara ditempatkan di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk KKPBC ; Diumumkan secara resmi melalui media massa yang ditujukan kepada pemiliknya, apabila 30 hari sejak dikuasai Negara pemiliknya tidak menyelesaikan kewajibannya, barang tersebut dinyatakan menjadi milik Negara ; Penyelesaian lebih lanjut ; Barang BKC dan barang lain yang mudah busuk/rusak dimusnahkan; Barang lain selain tersebut pada a. peruntukannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan; 4. Barang yang dirampas untuk Negara; 4.1. BKC dan barang lainnya yang tersangkut tindak pidana berdasarkan undang- undang cukai, dan yang berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dinyatakan dirampas untuk Negara dan dibawah pengawasan Menteri Keuangan Selaku pengelola kekayaan Negara. 4.2. Kepala KPBC menerima dari Jaksa atas barang tersebut pada 4.1. 4.3. Kepala KPBC mengadministrasikan barang tersebut dengan baik dan benar serta ditimbun di Tempat Penimbunana Pabean atau tempat lain yang ditunjuk. 4.4. Penyelesaian lebih lanjut; a. BKC dimusnahkan ; b. Barang lain, peruntukkannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 4.5. Atas pemusnahan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan. 3. RANGKUMAN 1. Objek penagihan dibidang Pabean dan Cukai; a. Bea Masuk; b. Cukai; c. Denda Administrasi; d. Bunga; e. PNBP. 2. Dokumen Penagihan; SPKBPM; STCK.1; SPSA; SPPSA; ST; SP. 3. Penagihan administrasi dilakukan sampai dengan surat Tagihan, sedangkan dimulaiainya penagihan aktif adalah saat diberikan Surat Teguran. Penagihan dapat dilaksanakan sampai dengan penyitaan dan akhirnya dengan pelelangan. 4. Pencegahan dan penyanderaan ; Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu atas kebebasan penanggung pajak yang sampai pada saat jatuh tempo pelunasan belum juga membayar pajak yang ditetapkan, pencegahan dan penyanderaan dilakukan dengan syarat; Mempunyai hutang pajak sekurang-kurangnya Rp.100.000.000,-, Diragukan iktikad baiknya, Dilakukan oleh pejabat setelah mendapat ijin dari Menteri Keuangan Gubernur Kepala Daerah Tk.I dan Secara selektif,hati-hati dan merupakan upaya terakhir. 5. Penyelesaian atas barang tidak dikuasai,dikuasai Negara dan milik Negara ditetapkan sebagai berikut; 5. 1. Bidang pabean; a. Dilelang untuk barang-barang yang dapat diimpor dengan harga minimum sebesar pungutan-pungutan impor, dan apabila penawaran lelang tidak mencapai harga minimum, maka dalam waktu 14 hari diadakan lelang kedua dan apabila belum juga tidak mencapai plafond harga, maka diserahkan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan penyelesaian lebih lanjut. b. Atas BKC impor dimusnahkan. c. Atas barang dilarang diimpor wajib direekspor atau jika yang bersangkutan tidak merekspornya selanjutnya diserahkan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan penyelesaiannya. d. Barang tersebut diatas ditimbun di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk Kepala KPBC.. Bidang Cukai; Dibidang Cukai ditetapkan barang yang pelanggarnya tidak dikenal atau pemiliknya tidak diketahui dinyatakan menjadi barang dikuasai Negara dan diberi batasan waktu untuk menyelesaikannya dan apabila jangka waktu dilampaui, maka BKC dan barang lain dinyatakan menjadai milik Negara; 5.2.1. Penyelesaiannya sebagai berikut; BKC yang tidak diselesaikan oleh pemiliknya sesuai jangka waktu yang ditetapkan dimusnahkan dibawah pengawasan pejabat DJBC ; Barang lain yang tersangkut dengan barang tersebut diatas diserahkan kepada Menteri Keuangan untuk penyelesaian lebih lanjut. Barang yang dirampas oleh Negara yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, diserahkan oleh Jaksa ke Kepala KPBC untuk penyelesaian lebih lanjut yang akan ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan atas BKC dimusnahkan; BKC sebelum dimusnahakan disimpan di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk, setelah dilakukan pemusnahan oleh pejabat DJBC membuat Berita Acara Pemusnahan. 3. LATIHAN ; 1. Sebutkan apa yang dimaksud dengan penagihan administrasi dibidang pabean dan Cukai. 2. Sebutkan apa yang dimaksud dengan penagihan aktif. 3. Sebutkan tentang penyelesaian barang tidak dikuasai,dikuasai negar dan barang yang menjadi milik negara dibidang pabean dan cukai. 3.KEGIATAN BELAJAR. 2 ; PENGEMBALIAN PUNGUTAN PABEAN,CUKAI, DENDA ADMINSTRASI.PNBP DAN BUNGA. 3.1. URAIAN ; Pengembalian Bea Masuk,Cukai Denda Administrasi, Bunga dan PNBP pada dasarnya merupakan azas keadilan dalam pungutan pajak, yaitu pengembalian berupa uang yang telah dibayarkan kepada Negara melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai karena adanya kelebihan pembayaran yang diakibatkan berbagai hal yang jelas disebutkan dalam masing-masing Undang-undang yang terkait. Untuk mempermudah mempelajari tentang pengembalian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pengembalian dibagi dalam : 1. Pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga; 2. Pengembalian Cukai; 3. Pengembalian Pungutan Ekspor; dan 4. Pengembalian PNBP. A. Pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga ; 1. Pengembalian dapat diberikan terhadap seluruh atau sebagian Bea Masuk yang telah dibayar ; 1.1. Dasar-dasar pengembalian/restitusi Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga adalah ; a. Kelebihan pembayaran Bea Masuk karena penetapan tarip Bea Masuk dan/atau nilai pabean oleh pejabat Bea dan Cukai dan penetapan kembali oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. b. Karena kesalahan tata usaha; c. Impor barang yang mendapat pembebasan atau keringanan Bea Masuk; d. Impor barang yang harus direekspor atau dimusnahkan dibawah pengawasan pejabat Bea dan Cukai; e. Impor barang yang sebelum diberikan persetujuan impor untuk dipakai kedapatan jumlah lebih kecil daripada yang telah dibayar Bea Masuknya,cacat,bukan barang yang dipesan, atau berkualitas rendah; f. Impor barang dalam keadaan curah yang diberikan persetujuan impor tanpa pemeriksaan fisik, kedapatan jumlah fisik barang kurang sehingga menimbulkan kelebihan pembayaran Bea Masuk dalam hal ini harus ada rekomendasi hasil audit; g. Akibat putusan Banding di Pengadilan Pajak. 2. Pengembalian kepada pihak yang berhak dapat juga diberikan terhadap seluruh atau sebagian denda administrasi dan/atau bunga yang terlah dibayar sebagai akibat pelanggaran tehadap undang-undang kepabeanan dalam hal; 2.1. berkaitan langsung dengan BM yang dikembalikan diatas; atau 2.1. kelebihan denda administrasi sebagai akibat putusan lembaga banding. 3. Syarat -syarat pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga; 3.1. Importir mengajukan permohonan Kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dengan menyebutkan alasan-alasan pengembalian dengan melampirkan; a. Asli bukti pebayaran BM, denda administrasi dan/atau bunga yang diminta pengembalian oleh pihak yang berhak telah diterima dan dibukukan di Rekening Kas Umum Negara. b. Permohonan pengembalian diproses untuk disetujui atau ditolak dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar, tidak termasuk waktu yang dipergunakan untuk pelaksanaan audit. c. Kepala Kantor Pelayanan/Bendaharawan meneliti; 1). Kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan. 2). Kebenaran nama yang berhak atas pengembalian/restitusi. 3). Kebenaran dasar pemberian restitusi. 4). Meminta konfirmasi ke KPPN mengenai pembayaran tersebut dalam SSPCP/BPPCP. 5). Meneliti apakah pemohon masih memiliki tunggakan utang. PIB yang akan direstitusi adalah PIB yang telah diverifikasi. Hasil penelitian dan jumlah perhitungan Bea Masuk dan/atau denda administrasi dan/atau Bunga yang dikembalikan dituangkan dalam “Lembar penelitian Restitusi”. Lembar penelitan restitusi setelah dibuat oleh Beandahara diajukan ke Kepala Kantor Pelayanan untuk mendapatkan persetujuan. Setoran yang diminta pengembalian telah diterima KPPN setelah dikonfirmasi. Apabila ada keragu-raguan tanda tangan, maka KPPN dapat meminta konfirmasi ke KKPBC. Importir yang berhak mendapatkan pengembalian / restitusi tidak mempunyai tunggakan/utang pada KPBC penerbit SPMKBM. 4. Cara pengembalian; 4.1. Apabila Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai telah memberikan persetujuan pengembalian/restitusi, kemudian menanda tangani Surat keputusan Pengembalian Bea Masuk (SKPBM) yang ditanda tangani atas nama Menteri Keuangan dalam rangkap 4 (empat); 1). Lembar ke 1. untuk Importir/yang berhak mendapatkan pengembalian; 2). Lembar ke 2. untuk Direktur Jendral Bea dan Cukai. 3). Lembar ke 3. untuk Kepala KPPN mitra kerja KPBC; dan 4). Lembar ke 4 untuk KPBC. Berdasarkan SKPBM diatas kemudian dibuatkan SPMKBM yang ditanda tangani oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan. SPMKBM dibuat dalam rangkap 4 diperuntukkan; 1). Lembar ke 1. untuk importir Yang bersangkutan untuk ditunaikan di Bank yang Ditunjuk. 2). Lembar ke 1 dan 2. untuk KPPN. 3). Lembar ke 3.untuk pihak yang behak; dan 4). Lembar ke 4 untuk KPBC. 4.4. SPMKBM dibebankan pada mata anggaran pengembalian pendapatan setoran BM tahun anggaran berjalan yaitu pada mata anggaran yang sama atau sejenis dengan mata anggaran penerimaan setoran BM dan disampaikan ke KPPN paling lambat 2(dua) hari kerja sebelum berakhirnya jangka waktu pengembalian BM,denda administrasi dan/ atau bunga. 4.5. SPMKBM disampaikan secara langsung oleh petugas yang ditunjuk. 4.6. KPPN mengembalikan lembar SPMKBM disertai SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana) kepada penerbit SPMKBM setelah diberi cap “ Telah diterbitkan SP2D tgl………..no………....” B. Pengembalian Cukai dan/atau Denda Administrasi; 1. Pengembalian Cukai dan/atau dnda administrasi diberikan dalam hal; 1.1. Kelebihan karena salah hitung; 1.2. BKC yang telah dibayar cukainya kemudian diekspor; 1.3. BKC yang telah berada diperedaran bebas dimasukkan kembali untuk diolah/ dimusnahkan; 1.4. BKC telah dibayar cukainya kemudian mendapat pembebasan; 1.5. BKC yang telah dilekati pita cukai tetapi tidak jadi di impor; 1.6. Pita Cukai yang diterima rusak/tidak dipakai. 2. Syarat - syarat pengembalian cukai; 2.1. Pengusaha atau orang yang bersangkutan mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setempat dengan melampirkan bukti-bukti asli pembayaran cukai dan/atau denda administrasi; 2.2. Diberikan hanya untuk pelekatan pita cukai atau pembayaran cukai pada tahun anggaran berjalan dan/atau setahun sebelumnya; 2.3. Pengembalian cukai hanya diberikan kepada pengusaha pabrik/pengusaha tempat penyimpanan dan; 2.4. Cukainya telah dibukukan dalam rekening Kas Umum Negara. 3. Cara pengembalian ; 3.1. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai meneliti permohonan yang bersangkutan dan apabila telah sesuai, selanjutnya menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Cukai (SKPCK) yang ditanda taganinya atas nama Menteri Keuangan dalam rangkap 5 ; 1). Lembar ke 1. untuk yang mendapatkan pengembalian; 2). Lembar ke 2. untuk Direktur Jendral Bea dan Cukai; 3). Lembar ke 3. untuk Kepala KPPN; 4). Lembar ke 4. untuk Bank Penunai; 5). Lembar ke 5. untuk arsip KPBC. Berdasarkan SPMKC yang telah diterbitkan tersebut Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menerbitkan SPMKCK yang ditanda tanganinya atas nama Menteri Keuangan dalam rangkap.6. dengan peruntukan sebagai berikut ; 1). Lembar ke 1.untuk ditunaikan di Bank yang ditunjuk; 2). Lembar ke 2. untuk KPPN; 3). Lembar ke 3. untuk Bank penunai sebagai penguji lembar ke 1; 4). Lembar ke 4. untuk yang mendapatkan pengembalian; 5). Lembar ke 5. untuk Direktur Jendral Bea dan Cukai; 6). Lembar ke 6 untuk KPBC penerbit SPMKC. Terhadap pengusaha BKC yang dapat penundaan, maka pengembalian dikompensasikan dengan utang cukai yang paling tua setelah dikurangi biaya pengganti pita cukai dan bagi yang tidak mepunyai utang cukai dapat digunakan pada pengajuan CK.1. berikutnya. Biaya pengganti Pita Cukai Hasil Tembakau saat ini adalah; a. Seri . I. Rp. 18,- per keping. b. Seri II. Rp. 35,- per keping. c. Seri. III. Rp.18,- per keping. C. Pembayaran Bunga; Pembayaran Bunga atas pengembalian uang/jaminan tunai kepada pemilik/pengguna jasa yang melewati jangka waktu. 1. Pemberian pengembalian bunga diberikan dalam hal; 1.1. Pengembalian uang (restitusi) dalam bentuk penerbitan SPKPBM atau SPMKCK yang terlambat diterbitkan sehingga melebihi jangka waktu 30 (tiga puluh) hari dihitung sejak tanggal permohonan pengembalian diterima lengkap. 1.2. Pengembalian jaminan berupa uang tunai melebihi jang waktu 60 (enam puluh) hari sejak diputuskannya keberatan diterima, atau dianggap diterima oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 1.3. Pengembalian uang (restitusi) Bea Masuk atau Cukai sebagai akibat putusan banding oleh Pengadilan Pajak yang menetapkan pemberian bunga. 2. Besarnya Bunga ; Besarnya bunga ditetapkan 2% setiap bulan untuk selama-lamnya 24 bulan, dan bagian dari bulan dianggap satu bulan penuh. 3. Syarat-syarat pengembalian Bunga; 3.1. Yang bersangkutan mengajukan surat permintaan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 3.2. Direktur Jenderal Bea dan Cukai menertbitkan Nota Perhitungan penetapan besarnya Bunga. 3.3. Direktur Jenderal mengajukan Surat Permintaan Penerbitan SKO kepada Direktur Jenderal Anggaran. 3.4. Berdasarkan SPP SKO Direktur Jenderal Anggaran menerbitkan SKO sebagai dasar pembayaran. 4. Cara pengembalian ; 4.1. Pemilik/pengguna jasa yang bersangkutan akan menunaikan pengembalian bunga dengan SKO sesuai ketentuan pada Direktorat Jendral Anggaran. D. Pengembalian PNBP; Pengembalian PNBP dapat dilakukan jika dalam pemeriksaan terdapat kelebihan pembayaran jumlah PNBP yang seharusnya dibayar, jumlah kelebihan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah PNBP yang terutang Wajib Bayar yang bersangkutan pada periode berikutnya.- 4. LATIHAN; 1. Sebutkan dalam hal apa saja dilakukan pengembalian Bea Masuk dan Cukai. 2. Sebutkan dalam hal apa saja dilakukan pengembalian Denda Administrasi,Bunga dan PNBP serta PDRE. 3. Sebutkan Dokumen-dokumen pengembalian dibidang pabean dan cukai. 4. Sebutkan mitra kerja DJBC dalam hal terjadi pengembalian. 5. Sebutkan pengembalian berupa tunai, kompensasi dan pembayaran untuk kegiatan importir,pengusaha dibidang cukai selanjutnya. 5. RANGKUMAN; Pengembalian dapat diberikan kepada pembayar/penyetor setelah memenuhi syarat syarat yang ditetapkan, pengembalian diberikan terhadap; 1.1. Bea Masuk dan Cukai; 1.2. Denda Administrasi; 1.3. Bunga; 1.4. PNBP; 1.5. Pungutan Ekspor. 2. Cara pengembalian; Bea Masuk dan/atau denda administrasi; dengan dokumen SKPBM yang dilanjutkan dengan SPMKBM. 2.2..Cukai dan/atau denda administrasi; dengan dokumen SKPCK yang dilanjutkan dengan SPMKCK khusus untuk BKC yang pelunasannya dengan pelekatan pita cukai dikompensasi dengan utang cukai yang tertua atau pada pemesanan pita cukai yang akan datang dan terhadap pemusnahan/pengolahan kembali diwajibkan membayar uang pengganti pita cukai terlebih dahulu yang besarnya sesuai dengan ketentuan. Bunga ; Bea Masuk diberikan jika pengembalian BM yang telah ditetapkan terlambat dilaksanakan oleh pejabat Bea dan Cukai selama 30(tiga puluh) sejak permohonan diterima permohonan pengembalian diterima lengkap. Jaminan tunai yang terlambat dikembalikan melebihi 60 (enam puluh) hari sejak keputusan keberatan diterima oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Jika putusan banding diterima oleh pengadilan pajak. Besarnya bunga adalah 2% setiap bulan dan bagian dari bulan dianggap satu bulan serta pemgembalian hanya dapat dilakukan selama-lamanya 24 bulan. 2.4. PNBP; Jika terjadi kelebihan pungutan PNBP oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai dimintakan kepada Direktur Jenderal Anggaran untuk diterbitkan SKO dan dikompensasi dengan pembayaran PNBP berikutnya atau pengembalian secara tunai dengan menggunakan SP2D yang diterbitkan oleh KPPN kepada Instansi yang akan melakukan pengembalian. 4. LATIHAN; 1. Sebutkan dalam hal apa saja dilakukan pengembalian Bea Masuk dan Cukai. 2. Sebutkan dalam hal apa saja dilakukan pengembalian Denda Administrasi,Bunga dan PNBP serta PDRE. 3. Sebutkan Dokumen-dokumen pengembalian dibidang pabean dan cukai. 4. Sebutkan mitra kerja DJBC dalam hal terjadi pengembalian. 5. Sebutkan pengembalian berupa tunai, kompensasi dan pembayaran untuk kegiatan importir,pengusaha dibidang cukai selanjutnya. 6. PENUTUP; 6.1. TES FORMATIF; 1. Penagihan Bea Masuk dilakukan dengan menggunakan…. a. Formulir SPMBM b. SKPBM c. SPKPBM d. SPPSA 2. Pada dasarnya penagihan piutang bea masuk dan PDRI dilakukan dengan ; a. Penagihan administrasi b. Penagihan aktif c. Penagihan aministrasi dan aktif d. Penagihan fisik. 3. Kepala Kantor Pelayanan bea dan cukai segera melakukan penagihan aktif, jika tertagih belum melunasi utangnya setelah melewati jangka waktu; a. 30 hari ditambah 5 hari b. 30 hari ditambah 10 hari c. 30 hari ditambah 7 hari d. 30 hari ditambah 20 hari 4. Diantara alasan yang dapat diterima dalam hal permohonan pengembalian adalah… a. kelebihan pembayaran BM karena penetapan harga oleh pejabat BC b. kelebihan pembayaran BM karena penetapan harga oleh Dirjen BC c. kelebihan pembayaran BM karena penetapan Klasifikasi dan/atau tarif d. kelebihan pembayaran BM karena Penetapan Klasifikasi dan/atau tarif/atau nilai pabean oleh Pejabat BC serta penetapan kembali oleh Dirjen BC 5. Persetujuan pengembalian bea masuk diberikan oleh… a. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai b. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atas nama Mentri Keuangan c. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atas nama Dirjen Bea dan Cukai d. a, b, dan c benar 6. Apabila permohonan pengembalian disetuji oleh Kepala Kantor Pelayanan, maka pertama yang akan diterbitkan adalah.... a. SKPMBM b. SPMKBM c. SPKPBM d. a, b dan c tidak ada yang benar 7. Untuk keperluan penunaian pengembalian kepabeanan dan cukai, Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menerbitkan... a. SKPBM b. SPKKBM c. SPMKBM d. SPMKBM dan SPMKCK 8. Menurut Undang-undang nomor 20. tahun 1997 yang pelaksanaannya di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 44. tahun 2003, mengatur.... a. b. c. d. 9. PNBP yang berlaku secara umum PNBP di Departemen Keuangan PNBP Direktorat Jendral Bea dan Cukai PNBP yang berlaku di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Pengembalian jaminan yang melampaui waktu yang ditetapkan menurut UndangUndang, Pemerintah wajib membayar bunga jika jaminan dimaksud adalah ; a. Bank b. Pengusaha asuransi c. Tertulis d. Tunai 10 . Barang yang dikuasai negara disimpan di ; a. Tempat penimbunan pabean b. Tempat penimbunan sementara c. Kawasan berikat dibawah pengawasan DJBC d. Gudang berikat dibawah pengawasan DJBC 11. Pelaksanaan penyitaan dilakukan oleh juru sita Bea dan Cukai dengan cara; a. Disaksikan oleh 2(dua) orang dewasa pendudk Indonesia yang dikenal dan dapat dipercaya oleh juru sita b. Membuat Berita Acara pelaksanaan sita yang ditanda tangani oleh juru sita dan saksi-saksi serta tertagih. c. Pengajuan keberatan dan banding tidak mengakibatkan penundaan penyitaan. d. Semua jawaban diatas adalah benar 12 . Barang yang dikuasai negara karena pelanggaran dibidang cukai, pada penyelesaian akhirnya adalah ; a. Dimusnahkan b. Dilelang c. Dibayar cukai dan denda administrasi d. Dimasukkan kembali kedalam pabrik yang bersangkutan. 7. KUNCI JAWABAN; 1. c. 7. d. 2. c. 8. b. 3. c. 9. d. 4. d. 10. a. 5. b. 11. d. 6. a. 12. a. 8 UMPAN BALIK; Kerjakan sendiri tes tersebut diatas, kemudian diskusikan dengan kelompok Anda dan apabila jawaban telah mencapai 80% atau lebih , maka anda telah belajar dengan baik, namun jika masih kurang dari 80%, maka pelajari kembali kegiatan-kegiatan belajar diatas atau diskusikan dengan teman-teman anda sekelas. Untuk memeriksa apakah jawaban anda telah benar, cocokkan dengan kunci jawaban yang ada pada akhir modul ini, diingatkan jangan melihat kunci jawaban terlebih dahulu jika akan menjawab tes formatif diatas. Tingkat-tingkat penguasaan ; - 90% - 100% 80% - 89% 70% - 79% 69% kebawah = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang. ================================== 9. Daftar Pustaka 1. Undang – Undang No.17 tahun 2006 dan No.10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan. 2. Undang – Undang No.39 Tahun 2007 dan Undang-undang No. 11 Tahun1995 Tentang Cukai. 3. UU No. 19 Tahun 2000 Tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. 4. UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. 5. UU No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharan Negara. 6. UU No. 20 Tahun 1997 Tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. 7. UU No. 14 Tahun 2002 Tentang Pengadilan Pajak. 8. Peraturan Pemerintah No. 22. Tahun 1996 Tentang Penetapan Sanksi Administrasi dibidang Kepabeanan. 9. Peraturan Pemerintah. No. 24 Tahun 1996 Tentang Penetapan Sanksi Administrasi Dibidang Cukai. 10. Peraturan Pemerintah nomor 35 Tahun 2005 Pengenaan Pungutan Ekspor atas barang-barang tertentu. 11. Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 422/KMK.05/1996 tentang Pengembalian Cukai. 12. Keputusan Mnteri Keuangan No. 234/KMK.05/1996 tanggal 1 April 1996 tentang Tata Cara Penagihan Piutang Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga, dan Pajak dalam Rangka Impor jo.Kep.No 22/KMK 01/1999. 13. Keputusan Menteri Keuangan nomor.235/KMK.05/1996 tentang Barang yang dinyatakan dikuasai,barang dikuasai Negara dan barang yang menjadi milik Negara. 14. Keputusan Menteri Keuangan nomor 322/KMK.05/1996 tentang Tata cara penyelesaian Barang Kena Cukai dan barang lain yang dirampas untuk negara atau yang dikuasai negara. 15. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai No. KEP-06/BC/1999 tanggal 5 Pebruari 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penagihan Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga dan Pajak Dalam Rangka Impor Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.234/KMK.05/1996 dan Keputusan Menteri Keuangan No.147/KMK.04/1998 Jo No. 21/KMK.01/1999. 16. Keputusan Menteri Keuangan No.122/KMK.05/2000 tentang Pembayaran Bunga atas Pengembalian Jaminan yang melewati jangka Waktu. 17. Surat Keputusan Menteri Keuangan No.68/KMK.04/2004 tentang Tata Cara Pengembalian Bea Masuk dan/cukai Dalam Rangka Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). 18. Keputusan Menteri Keuangan No.118/KMK.04/2004 tentang PNBP. 19. Peraturan Menteri Keuangan nomor 38/PMK.04/2005 tanggal 26 Mei 2005 tentang tata cara pengembalian BM, denda administrasi dan/atau bunga. 20. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai No. KEP-09/BC/1999 tanggal 17 Pebruari 1999 tentang Penetapan Biaya Penagihan Piutang Bea / Cukai. 21. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai No.Kep. 13/BC/2005 tanggal 28 Januari 2005, tentang Besaran biaya pengganti pita cukai. 22. Surat Edaran 01/BC/2000 tentang Tata Cara Pengembalian Bea Masuk,Denda Administrasi dan Bunga. 23. Buku Administrasi Pebendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai oleh M.Rofii dan Sriyono S.E. 24. Buku Administrasi Perbendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai oleh Sriyono S.E dan M.Sadiatmo.S.S. ================= Kata Pengantar Syukur Alhamdulillah penulis telah menyelesaikan buku yang berjudul “ Tehnis Perbendaharaan dan Penerimaan Bea dan Cukai “ Buku ini ditulis berdasarkan ketentuan – ketentuan terkini pada saat ini mengenai Tehnis Perbendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai. Telah banyak buku yang ditulis mengenai Perbendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai, oleh penulis-penulis di Pusat Pendidikan dan Latihan Bea dan Cukai yang merupakan salah satu bahan masukan dalam penulisan modul ini, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih, ucapan terima kasih juga ditujukan kepada semua fihak yang telah membantu penulisan ini hingga selesai. Modul ini disusun berdasarkan hasil pemikiran dan pengalaman Penulis selama bekerja pada DJBC ,penulis mengharapkan modul ini dapat dipakai pada diklat DTSD / DTSS / Prodip Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai . Disadari bahwa buku ini masih jauh dari tingkat sempurna, oleh sebab itu diharapkan masukan dan kritik yang membangun guna penyempurnaannya. Jakarta, Oktober 2007 Penulis, Drs.Achmad Kadir Widyaiswara Utama Madya DAFTAR ISI Hal 1. Pendahuluan................................................................................................. A. Tujuan Instruksional Umum .................................................................. B. Tujuan Instrusksional Khusus................................................................ 2. Umum ......................................................................................................... A. Pengertian................................................................................................ B. Bendahara Bea dan Cukai ....................................................................... C. Latihan dan Rangkuman.......................................................................... 3. Pembayaran dan Penyetoran ....................................................................... A. Jenis-jenis Pungutan pabean dan cukai.................................................... B. Jaminan..................................................................................................... C. Tata Cara pembayaran dan penyetoran penerimaan pabean dan cukai… D. Rangkuman ...................…………………………………………… E. Latihan........................................................................................................... 4. Tes formatif..................................................................................................... 5. Kunci jawaban............................................................................................... 6. Umpan balik.................................................................................................. 7. Daftar Pustaka............................................................................................... MODUL . I . PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PUNGUTAN PABEAN DAN CUKAI ; 1. PENDAHULUAN ; 1.1.Deskripsi singkat ; Berdasarkan Undang-Undang nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan negara, Undang-undang nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, kedua undangundang diatas memuat perubahan dari penanganan terhadap sumber-sumber penerimaan negara, termasuk penata usahaan dan pertanggung jawaban penerimaan negara yang dibuat dalam suatu sistem penerimaan negara terpadu dengan menggunakan tehnologi informasi yang mencakup modul penerimaan negara dan disajikan secara real time melalui jaringan dengan menghubungkan secara online antara, Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi dan Pos Persepsi Dengan latar belakang seperti itu, maka Bendahara khususnya Bendahara Penerima pada DJBC wajib mengikuti ketentuan-ketentuan yang dipersyaratkan menuju tertib administrasi dan tanggung jawab adminstrasi dan penerimaan negara yang pemungutannya dilaksanakan oleh DJBC. 1.2. Tujuan Instruksional Umum ; Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu memahami tentang tehnis Perbendaharaan Penerima Bea dan Cukai yang meliputi pengertian-pengertian – pengertian dan contoh- contoh dokoumen yang terkait dengan pembayaran dan penyetoran , tata cara pembayaran dan penyetoran atas pungutan negara dibidang pabean dan cukai serta pungutan-pungutan lainnya terkait yang pengelolaannya dan pertanggung jawabannya dititipakan kepada pejabat Bendahara DJBC. 1.3. Tujuan Instruksional Khusus ; Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan mampu menjelaskan administrasi perbendaharaan penerimaan Bea dan Cukai tentang berbagai pengertian yang terkait dengan Bendahara, tugas pokok, fungsi Bendahara, dokumen-dokumen yang dipakai dalam pembayaran dan penyetoran pajak-pajak negara baik yang tunai maupun yang dipertaruhkan jaminan terlebih dahulu, jenis-jenis pungutan, tata cara pembayaran dan penyetoran pungutan pabean dan cukai, denda administrasi,bunga dan penerimaan negara lainnya yang pemungutannya dilakukan oleh DJBC. 2. KEGIATAN BELAJAR 1. KETENTUAN UMUM ; 2.1. PENGERTIAN, TUGAS POKOK DAN FUNGSI BENDAHARA BEA DAN CUKAI ; A. Pengertian-Pengertian; 1. Keuangan Negara ; adalah semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. 2. Penerimaan Negara ; adalah uang yang masuk kekas Negara. 3. Pendapatan Negara ; adalah hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. 4. Pengeluaran Negara ; adalah uang yang keluar dari kas Negara. 5. Perbendaharaan Negara ; adalah pengelolaan dan pertanggung jawaban Keuangan Negara, termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam APBN dan APBD. 6. Kas Negara; adalah tempat penyimpanan uang Negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) untuk menampung seluruh penerimaan Negara dan membayar seluruh pengeluaran Negara. 7. Rekening Kas Umum Negara ; adalah rekening tempat penyimpanan uang Negara yang ditentukan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara untuk menampung seluruh penerimaan dan membayar seluruh pengeluaran Negara pada Bank Sentral. 8. Administrasi ; Menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah; Usaha dan Kegiatan meliputi penetapan tujuan serta penetapan cara-cara penyelenggaraan pemerintahan. 9. Bendahara adalah; setiap orang atau badan yang diberi tugas untuk dan atas nama Negara/ daerah, menerima, menyimpan, dan membayar/ menyerahkan uang atau surat berharga atau barang-barang Negara /Daerah. 10. Bendahara Umum Negara; adalah pejabat yang diberi tugas untuk melaksanakan fungsi Bendahara Umum Negara ( Menteri Keuangan). 11. Bendahara Penerimaan; adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, menyetorkan, dan mempertanggung jawabkan uang pendapatan Negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN / APBD pada kantor / satuan kerja kementerian Negara / Lembaga / Pemerintah Daerah. 12. Bendahara pengeluaran; adalah orang yang ditunjuk menerima, menyimpan, membayarkan, menata usahakan, dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja Negara / daerah dalam rangka pelaksanaan APBN / APBD pada kantor / satuan kerja kementerian Negara / lembaga / daerah. 13. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran ; adalah pejabat Fungsional. 14. Tahun anggaran meliputi satu tahun mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember. 15. SSPCP ; adalah Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor. 16. SSCP ; adalah Surat Setoran Cukai dan pajak atas Barang Kena Cukai dan PPN Hasil Tembakau Buatan Dalam Negeri. 17. BPPCP ; adalah Bukti Pembayaran Pabean, Cukai dan Pajak Dalam Rangka Impor. 18. STBS ; adalah Surat Tanda Bukti Setor untuk pungutan ekspor atas barangbarang tertentu yang dikenakan pungutan ekspor. 19. SPSA ; adalah Surat Penetapan Sanksi Administrasi dibidang pabean. 20. SPPSA ; Surat Pemberitahuan Pengenaan Sanksi Administrasi dibidang Cukai. 21. PNBP ; adalah Pungutan Negara Bukan Pajak. 22. SSBP ; adalah Surat Setoran Bukan Pajak yang dibayar pada Bank Devisa Persepsi, Bank Devisa atau Pos Persepsi 23. BPBP ; adalah Bukti Pembayaran Bukan Pajak yang dibayar pada Bendahara Bea dan Cukai. 24. SPMKBM/CK ; adalah Surat Perintah Membayar Kembali Bea Masuk / Cukai. 25. PDRI; Penerimaan Dalam Rangka Impor. 26. PIB (BC.2.0); adalah Pemberitahuan Impor Barang. 27. PIBT (BC.2.1); adalah Pemberitahuan Impor Barang Tertentu. 28. PPKP; adalah Pencacahan dan Pembeaan Kiriman Pos. 29. CD (Customs Declaration): BC.2.2. Pemberitahuan Barang Bawaan Penumpang. 30. ST ; Surat Tagihan/ Surat Teguran. 31. PEB (BC.3.0) ; adalah Pemberitahuan Ekspor Barang. 32. PDRE ; Penerimaan Dalam Rangka Ekspor. 33. CK.1. ; adalah Dokumen Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau. 34. CK.1A ; adalah Dokumen Pemesanan Pita Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol. 35. CK.1B ; adalah Pemesanan Pita Cukai / label pengawasan. 36. CK.14. ; adalah Pemberitahuan pengeluaran barang kena cukai etil alkohol /minuman mengandung etil alkohol yang sudah dilunasi cukainya dari pabrik atau tempat penyimpanan. 37. CK.14.A. adalah dokumen yang dipakai atas pengeluaran MMEA yang diberi fasilitas pembayaran cukai secara berkala. 38. SPKPBM/CK ; Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran BM/Cukai. 39. B.C. 2.4 ; Pengeluaran Barang eks Fasilitas KITE ke Daerah Pabean. 39. KPPN ; adalah Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara dahulu adalah KPKN. 40. SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana). 41. SPP-SKO (Surat Permintaan Penerbitan Surat Keputusan Otorisasi). B. Bendahara Penerima Bea dan Cukai; Definisi Bendahara “adalah orang atau badan yang diberi tugas untuk dan atas nama Negara, menerima, menyimpan, menyetorkan, menata usahakan, dan mempertanggung jawabkan uang pendapatan Negara/ daerah dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD pada kantor/ satuan kerja kementerian Negara/ Lembaga/ Pemerintah Daerah.” Menurut Undang-undang Perbendaharaan Negara, Bendahara adalah jabatan fungsional yang terdiri dari 2(dua) ; 1. Bendahara Penerima ; 2. Bendahara Pengeluaran. Dalam buku ini akan diuraikan tentang Bendahara Penerima pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yaitu Orang yang ditunjuk untuk : menerima, menyimpan, menyetorkan dan mempertanggung jawabkan uang pendapatan Negara/daerah dalam rangka pelaksanaan APBN / APBD pada kantor / satuan kerja kementerian Negara/lembaga/pemerintah daerah. 1. Tugas dan Fungsi Bendahara Penerima Bea dan Cukai; 1.1. Tugas Perbendaharaan; Bendaharawan Penerima Direktorat Jenderal Bea dan Cukai adalah pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diangkat oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan sebagai Kepala Seksi/Subseksi Perbendaharaan pada Kantor-Kantor Pelayanan di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Bendaharawan Bea dan Cukai bertugas untuk melakukan pengadministrasian penerimaan bea masuk dan pungutan negara lainnya yang pemungutannya dibebankan pada DJBC, penangguhan, penagihan, pengelolaan jaminan dan pengembalian bea masuk dan cukai. 1.2. Fungsi Perbendaharaan; Pengadministrasian penerimaan bea masuk,cukai,denda administrasi,bunga,sewa tempat penimbunan pabean dan pungutan Negara lainnya yang pemungutannya dibebankan pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai; Pelayanan fasilitas pembebasan, penangguhan bea masuk, penundaan pembayaran cukai cukai dan administrasi jaminan serta pemrosesan penyelesaian jaminan penangguhan bea masuk, jaminan Pengusaha Pengguna Jasa Kepabeanan dan jamian dalam rangka keberatan , banding serta jamnan lainnya; Penagihan dan pegembalian bea masuk, cukai, denda administrasi, bunga, sewa tempat penimbuan pabean, serta pungutan negara lainnya yang pemungutannya dibebankan kepada DJBC. Penerimaan, penata usahaan, penyimpanan, pengurusan permintaan dan pengembalian pita cukai. Penerbitan dan pengadministrasian surat teguran atas kekurangan pembayaran bea masuk, denda administrasi, bunga, sewa tempat penimbunan pabean, dan pungutan pabean lainnya yang telah jatuh tempo; Penerbitan dan pengadministrasian surat paksa serta penyitaan dan administrasi pelelangan; g. Pengadministrasian dan penyelesaian surat keterangan impor kendaraan bermotor; h. Penyajian laporan realisasi penerimaan bea masuk, cukai dan pungutan negara lainnya; i. Pengadministrasian dan penyelesaian uang anggaran. Seksi Perbendaharaan terdiri dari ; Subseksi penerimaan dan pengembalian; Subseksi administrasi jaminan; Subseksi administrasi penagihan. 2. Larangan dalam Tugas Perbendaharaan ; 2.1. Tugas Perbendaharaan dilarang dirangkap oleh Pengguna anggaran/barang yaitu semua Menteri/pimpinan lembaga yang dalam melaksanakan haknya menunjuk kuasa pengguna anggaran. Demikian juga Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dalam menjalankan haknya yang menunjuk kuasa BUN. Kedua pejabat diatas tidak boleh merangkap sebagai Bendahara; 2.2. Dilarang melakukan kegiatan perdagangan, pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/ pekerjaan/ penjualan tersebut 3. Serah Terima Jabatan Bendahara : 3.1. Penggantian Sementara Bendahara Penerima; 3.1.1.Penggantian sementara jabatan Bendahara dilakukan dalam hal Bendaharawan Penerima tidak dapat menjalankan fungsinya karena sesuatu hal, Kepala Kantor selaku atasan langsung menunjuk Bendahara pengganti sementara untuk melaksanakan tugasnya dan Bendaharawan yang diganti wajib membuat surat kuasa/pernyataan bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas pengganti sementara. 3.1.2.Apabila Bendahara Penerima tidak dapat menjalankan tugasnya lebih dari 12(dua belas ) hari atau tidak bersedia menyerahkan tugasnya dengan surat kuasa, maka tugas kewajibannya harus diserah terimakan kepada Bendahara pengganti yang ditunjuk oleh Kepala Kantor dan dibuatkan Berita Acara serah terima yang diketahui oleh Kepala Kantor. 3.1.3. Apabila Bendahara Penerima sudah dapat menjalankan tugasnya kembali, maka segera dibuatkan surat pencabutan atas surat kuasa atau penunjukannya. 4. Penggantian Bendahara Penerima; 4.1. Apabila dilakukan penggantian Bendaharawan Penerima, maka buku penerimaan ditutup dan dibuatkan berita acara serta pertelaan penutupan kas yang ditanda tangani oleh Bendaharawan Penerima yang lama dan yang baru dengan diketahui oleh Kepala Kantor selaku atasan langsung. 4.2. Penggantian Bendaharawan Penerima karena melarikan diri, berada dibawah pengampuan atau meninggal dunia, maka Kepala Kantor segera membentuk Tim yang bertugas sebagai berikut; a. Menutup Buku Catatan Pabean untuk penerimaan harian; b. Menyimpan dalam lemari yang disegel semua buku-buku dan buktibukti lain yang berkaitan dengan penerimaan /penyetoran; c. Menyegel brankas. Apabila tugas diatas telah selesai dilaksanakan, selanjutnya dilakukan pengujian dengan membuka segel, melakukan pemeriksaan kas dan semua uang dan dokumen berharga lainnya dihitung dan dituangkan dalam berita acara. Penutupan buku catatan Pabean untuk penerimaan harian dan buku-buku lainnya, penyegelan dan pemerikasaan kas harus disaksikan oleh ahli waris/keluarga Bendaharawan yang bersangkutan dan 2 (dua) orang pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Kantor. Guna kelancaran tugas sehari-hari Kepala Kantor selaku atasan langsung segera menunjuk Bendahara Penerima Pengganti Semenatara, yang sebelum melaksanakan tugasnya dilaksanakan serah terima dari Tim kepada Bendaharawan Penerima Pengganti Sementara tersebut dan dibuatkan Berita Acara. 5. Tanggung jawab Bendahara Penerima. Bendahara Umum Negara adalah Menteri Keuangan yang dalam melaksanakan tugasnya menunjuk kuasa Bendahara Umum Negara/Daerah. Bendahara yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan tersebut diatas, secara fungsional bertanggung jawab kepada kuasa Bendahara Umum Negara dan selanjutnya kuasa Bendahara Umum Negara bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan dari segi hak dan ketaatan kepada peraturan atas pelaksanaan penerimaan yang dilakukannya. Selanjutnya Menteri Keuangan bertanggung jawab kepada Presiden dari segi hak dan ketaatan kepada peraturan atas pelaksanaan penerimaan Negara. 6. Tanggung jawab Bendahara Penerima atas kerugian Negara; Bendahara yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya dan yang secara langsung merugikan Negara, wajib mengganti kerugian tersebut . Kepala Kantor/satuan kerja segera melakukan tuntutan ganti rugi setelah mengetahui bahwa dalam Kantor/Satuan kerjanya terjadi kerugian akibat perbuatan Bendahara. Kerugian negara yang timbul wajib dilaporkan oleh Kepala Kantor kepada Menteri Keuangan dan Badan Pemeriksa Keuangan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak kerugian Negara itu diketahui dan kepada Bendaharawan segera diminta surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian Negara. Jika Bendahara melarikan diri atau dibawah pengampuan atau meninggal dunia,sedangkan dalam pengelolaan keuangan negara terjadi kerugian pada negara, maka yang bertanggung jawab adalah Ahli waris dan/atau Pengampu.. 7. Kadaluarsa ganti rugi Bendahara; Kadularsa ganti rugi sebagai berikut; a. 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut atau, b. 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan. c. Apabila dalam melaksanakan tugasnya Bendahara melakukan suatu tindak pidana yang telah dijatuhi hukuman oleh hakim sebagai petindak pidana, maka putusan hakim atas tindak pidana yang dilakukan Bendahara tidak membebaskannya dari tuntutan ganti rugi. 8. Rangkuman ; Dalam kegiatan belajar 1 ini diuraikan tentang pengertian bendahara, jenis-jenis bendahara, tugas, serah terima, pengangkatan, larangan dan tanggung jawab serta kadaluarsa tuntutan ganti rugi bendahara. a. Dalam definisi bendahara terdapat unsur-unsur; 1. Orang atau badan hukum; 2. Yang oleh karena negara ditunjuk, menerima, mengeluarkan, membukukan dan yang terpenting adalah mempertanggung jawabkan secara pribadi penerimaan negara/daerah. 3. Tanggung jawab bendahara sebagai pejabat fungsional adalah secara pribadi, artinya jika timbul kerugian negara pada pengelolaannya yang secara langsung merugikan negara, maka tanggung jawab melekat pada bendahara sampai ke ahli waris atau pengampunya. b. Jenis-jenis bendahara adalah; 1. Bendahara Penerima dan 2. Bendahara Pengeluaran. c. Pengangkatan Bendahara oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan. d. Serah terima jabatan bendahara; 1. sementara dan 2. tetap. e. Larangan bagi bendahara; 1. Bendahara dilarang dirangkap oleh pengguna/kuasa pengguna anggaran, yaitu para Menteri/pimpinan lembaga atau kuasanya. 2. Dilarang melakukan kegiatan pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/pekerjaan/penjualan tersebut. f. Jabatan fungsional bendahara dan tanggung jawab secara pribadi jika terjadi kerugian negara yang secara langsung merugikan negara didalam pelaksanaan tugasnya. Pada serah terima sementara jabatan, penggantinya hanya melanjutkan tugas bendahara yang diganti, sedangkan tanggung jawab berada pada bendahara yang diganti, kecuali jika bendahara tidak dapat melaksanakan tugasnya lebih dari 12 hari atau tidak menghendaki tanggung jawab yang dilakukan oleh pengganti sementaranya, maka harus dilqaksanakan serah terima. Kepala Kantor/satuan kerja yang mengawasi bendahara yang mengetahui adanya bendahara melarikan diri atau meninggal dunia, maka segera membentuk tim untuk secara bersama-sama Kepala Kantor dan ahli waris atau pengampu mengadakan pemeriksaan kas dan pembukuan . Bendahara yang telah dijatuhi hukuman oleh hakim sebagai petindak pidana, atas tuntutan ganti rugi tersebut bendahara tidak terbebas dari tuntutan ganti rugi atau pidana 9. Latihan ; 1.Jelaskan formulir-formulir yang merupakan bukti pembayaran pungutan ; pabean,cukai,denda admiinistrasi, ekspor, PNBP dan PDRI. 2. Jelaskan apa saudara ketahui tentang definisi Bendahara 3. Jelaskan tugas-tugas dan sanksi bagi bendahara penerima. 4. Jelaskan larangan bagi bendahara 5 Jelaskan serah terima bendahara penerima 3. KEGIATAN BELAJAR.2. PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PUNGUTAN NEGARA DIBIDANG PABEAN ; 3.1. PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PUNGUTAN NEGARA DIBIDANG PABEAN; 3.1.Uraian, contoh dan non contoh ; Pembayaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak atas semua pungutan yang diterima oleh Bendahara Bea dan Cukai yang telah ditetapkan dan dibebankan terhadap barang impor, ekspor dan Barang Kena Cukai serta pungutanpungutan lain yang menyertainya yang diwajibkan sehubungan dengan tugas Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Pungutan yang diterima oleh Bendahara DJBC pada umumnya termasuk dalam lingkup Pajak Tidak Langsung yang mempunyai ciri-ciri yakni ; yang dituju, yang membayar dan yang memikul pajak tidak berada ditangan satu orang/badan. Pada dasarnya pungutan pajak mempunyai lingkaran pajak (Tax Circle) yang terlebih dahulu ditetapkan; a. Objek Pajak; b. Saat terutang (titik tangkap); c. Saat pelunasan; d. Fasilitas; e. Penagihan dan f. Pengembalian serta g. Kadaluarsa A. Bidang kepabeanan dan cukai; 1. Objek Pajak dibidang pabean impor; Objek pajak dibidang pabean adalah semua barang yang dimasukkan kedalam daerah pabean Indonesia untuk dipakai, dimiliki atau dikuasai oleh orang yang berdomosili di Indonesia. 2. Objek Cukai; Objek pajak dibidang cukai adalah ; Etil Alkohol atau etanol dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dalam pembuatannya; Minuman Mengandung Etil Alkohol dalam kadar berapapun dengan tidak mengindahkan bahan yang digunakan dan proses pembuatannya, termasuk konsentrat yang mengandung etil alkohol; Hasil Tembakau meliputi sigaret, cerutu, rokok daun, tembakau iris, dan hasil pengolahan tembakau lainnya, dengan tidak mengindahkan digunakan atau tidak bahan pembantu dalam pembuatannya. Objek pungutan atas barang ekspor; Pada saat ini ada 5(lima) jenis barang yang dikenakan pungutan ekspor: a. Kayu (kecuali yang dilarang); b. Rotan (kecuali yang dilarang); c. Pasir (kecuali yang dilarang); d. CPO (Crude Palm Oil) dan turunannya. e. Kulit dalam keadaan wet blue atau bukan. 4. Saat terutang pungutan atas barang yang diimpor; Saat terutang pungutan impor adalah pada saat barang memasuki daerah pabean Indonesia dan pada saat yang bersamaan terutang pajak-pajak dalam rangka impor, oleh karena wajib dikenakan BM dan Pajak-pajak dalam rangka impor, maka merupakan dasar yuridis bagi pejabat Bea dan Cukai untuk melakukan pengawasan. 5. Saat terutang Barang Kena Cukai; Saat terutang Barang Kena Cukai dibagi dalam 2 (dua) ; 5.1. Untuk Barang Kena Cukai (BKC) buatan dalam negeri dikenakan pada saat selesai dibuat.; 5.2. Untuk Barang Kena Cukai yang diimpor dikenakan pada saat pemasukannya kedalam daerah pabean sesuai dengan ketentuan Undang-undang Kepabeanan. 6. Saat terutang pungutan ekspor ; Saat timbulnya pungutan atas barang ekspor adalah saat pendaftaran PEB di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atas barang-barang tertentu yang dikenakan pungutan ekspor yang tersebut diatas. Saat pelunasan/pembayaran BM dan PDRI; 7.1.Kewajiban membayar paling lambat sejak tanggal pendaftaran pemberitahuan pabean dan kecuali jika diberikan penundaan dalam hal pembayarannya dilakukan secara berkala atau menunggu pembebasan atau keringanan, 7.2. Kekurangan pembayaran bea masuk dan/atau denda administrasi yang terutang wajib dibayar paling lambat 60 (enam puluh ) hari sejak tanggal penetapan. 7.3.Atas permintaan yang berutang Direktur Jenderal Bea dan Cukai dapat memberikan penundaan atau pengangsuran kewajiban membayar bea masuk dan/atau denda administrasi paling lama 12 bulan dan atas penundaan ini dikenai bunga 2% perbulan , bagian dari bulan dihitung satu bulan. Catatan; a. tidak dikenai bunga sepanjang pembayarannya ditetapkan secara berkala; b. dikenai bunga jika permohonan pembebasan atau keringanan ditolak 8. Saat pelunasan Cukai ; 8.1. Untuk Barang Kena Cukai yang dibuat di Indonesia dilunasi pada saat pengeluaran BKC dari pabrik atau tempat penyimpanan; 8.2. Untuk BKC yang diimpor untuk dipakai. 8.3. Cara pelunasan ; 8.3.1.. Berkala untuk BKC yang pelunasannya secara berkala, diberikan paling lama 45 hari sejak tanggal pengeluaran BKC dan tidak dikenakan bunga. 8.3.2. Penundaan pembayaran untuk BKC yang pelunasannya dengan pelekatan pita cukai paling lama 90 hari sejak tanggal pemesanan pita cukai. 8.3.3. Penundaan untuk BKC yang pelunasannya dengan cara pembubuhan tanda pelunasan paling lama 45 hari sejak tanggal pengeluaran. 8.3.4.. Penundaan untuk BKC impor yang pelunasannya dengan pelekatan pita cukai 60 hari sejak tanggal pemesanan pita cukai. 9. Saat pelunasan pungutan ekspor ; Pelunasan/pembayaran pungutan ekspor secara tunai dilakukan pada saat paling lambat pada saat pendaftaran dokumen PEB di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat pemenuhan kewajiban pabean. 10. Fasilitas dibidang pabean ; Fasilitas dibidang pabean terdiri dari; 10.1. Tidak dipungut Bea Masuk; 10.2. Pembebasan dan; 10.3. Keringanan; 11. Fasilitas dibidang Cukai ; Fasilitas dibidang cukai terdiri dari; 11.1. Penundaan pembayaran ; 11.2. Tidak diungut Cukai dan; 11.3. Pembebasan cukai. B. Jenis-jenis pungutan pabean impor; Jenis-jenis pungutan dalam rangka impor adalah ; Bea Masuk. Bea Masuk berasal dari SPM Hibah. Sanksi administrasi berupa denda Penerimaan pabean lainnya;bunga dan biaya surat paksa Cukai atas barang kena cukai yang diimpor dan penerimaan cukai lainnya; biaya pengganti label pengawas dan pita cukai serta bunga dan biaya surat paksa. Bunga. PPN Impor. PPn BM. PPh pasal 22. PNBP Jasa Pekerjaan. Subjek Pembayaran atas barang impor; Yang dimaksud subjek pembayaran terhadap barang impor adalah siapa saja atau fihak mana saja yang melakukan kegiatan atas barang yang pada waktu pemasukannya wajib dikenakan pungutan pabean impor dan/atau PDRI lainnya. Adapun fihak-fihak dimaksud adalah: 2.1. Importir. 2.2. Pengangkut. 2.3. Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara. 2.4. Pengusaha Tempat Penimbunan Berikat. 2.5. PPJK. 2.6. Perorangan. 3. Cara penghitungan pungutan-pungutan impor: Cara menghitung BM adalah sebagai berikut; ditetapkan terlebih dahulu CIF kemudian dikalikan dengan % tarif BM atas barang impor dan terhadap BKC yang diimpor juga dihitung terlebih dahulu Cukainya apakah dalam bentuk tarip Spesifik atau advalorum, untuk jelasnya diberikan contoh penghitungan sebagai berikut: Misalnya ; Importir Panca Niaga/PPI mengimpor barang berupa MMEA merk BRENDY, dengan kadar etil alcohol lebih dari; 26% , sebanyak 100.000,- botol @ 660. ml, Harga CIF seluruhnya USD.100.000,-, kurs yang berlaku pada saat impor adalah Rp.9.450,- tiap USD, tarip Cukai Rp. 50.000,-/liter,BM.170%, PPn. 10%, PPn.BM 75% dan PPh.Pasal 22. 2,5%. Penghitungannya sbb: BM= 170% X 100.000,-X Rp.9.450,- = Rp.1.606.500.000,- Cukai = 100.000 X 0,66 ltr X Rp. 50.000,- = Rp.3.300.000.000 CIF= USD 100.000,- X Rp.9.450,- = Rp. 945.000.000,--------------------------- Nilai Pabean PPN = 10% X Rp.5.851.500.000,- = Rp.5.851.500.000,= Rp. 585.150.000,- PPn BM = 75% X Rp.5.851.500.000,- =Rp. 4.388.625.000,PPh Psl 22.= 2,5% X Rp.5.851.500.000,-=Rp. 146.287.500,- Cara Penghitungan Bunga; Utang BM yang tidak atau kurang dibayar pada saat jatuh tempo disamping dibayar BM dan denda administrasi juga dikenakan bunga sebesar 2% setiap bulan bagian dari bulan dihitung sebulan penuh dan dihitung selama-lamanya 24 bulan penuh, khusus pungutan cukai tidak dkenakan bunga atas keterlambatan penbayarannya. Cara penghitungan Sanksi administrasi berupa denda yang dikenakan terhadap pelanggaran yang ditetapkan dalam Undang-undang kepabeanan: Dikenal ada 5 (lima ) cara dalam menghitung denda administrasi; Ditetapkan dalam rupiah tertentu. Ditetapkan dalam prosentase tertentu. Ditetapkan dalam jumlah minimum sampai dengan maksimum dalam rupiah. Ditetapkan secara minimum sampai dengan maksimum dalam prosentase. Ditetapkan atas pelanggaran yang terjadi terhadap lebih dari satu pelanggaran misalnya dalam satu PIB disamping salah nilai juga salah jumlah dan/atau jenis barang. 6. Cara penghitungan/pengenaan PNBP. PNBP umumnya mempunyai tarif spesifik. Misalnya pelayanan atas satu dokumen PEB ditetapkan Rp.60.000,- dan dokumen – dokumen pabean dan cukai lainnya. C. Jenis-jenis pungutan atas BKC; Sebagaimana telah diterangkan diatas bahwa cukai dikenakan atas barang-barang tertentu; Jenis-jenis pungutan atas BKC; 1.1. Cukai dan 1.2. PPN Hasil Tembakau 1.3. Denda adminstrasi 1.4. Penerimaan cukai lainnya; bunga, biaya surat paksa, biaya pengganti pencetakan pita cukai, biaya penganti pembuatan label tanda pengawasan cukai. 2. Cara menghitung cukai; 2.1. Cara menghitung adalah Prosentase cukai dikali Harga Jual Eceran(HJE) yaitu harga dimana didalamnya sudah termasuk cukai; Contoh: HJE yang tertera pada bungkus rokok Gudang Garam Rp.7.700,-, Cukai 40% dan PPN HT 8,4%. Besar cukai adalah = 40% X Rp.7.700,- = Rp.3.080,PPN HT = 8,4% X Rp.7.700,- = Rp. 646,80 -------------------= Rp.3.726,80 Jadi ; Biaya + Keuntungan pengusaha adalah Rp.7700,- dikurangi Rp.3.726,80 = Rp 3.973,20 2.2. Cara menghitung Cukai atas BKC yang diimpor adalah sama yaitu ditetapkan HJE terlebih dahulu. 2.3. Sedangkan BKC berupa MMEA baik buatan Dalam Negeri maupun Impor ditetapkan secara tarip specific seperti contoh perhitungan impor MMEA merek Brendy kadar 26% diatas yaitu Rp.50.000,- per liter 2.4. Cukai atas BKC HT produksi dalam negeri pengenaannya disamping ditetapkan secara advalorum, juga dikenakan cukai spesifik yaitu; a. Untuk pengusaha pabrik golongan/strata .I. Rp.7,- perbatang b. Untuk pengusaha pabrik golongan/strata .II. Rp.5,- perbatang c. Untuk pengusaha pabrik golongan/strata .III.Rp.3,- perbatang 3. Cara penghitungan denda dibidang Cukai; Pengenaan denda dibidang cukai dikenal ada 4(empat) cara : 3.1. Denda ditetapkan dalam nilai cukai. 3.2. Denda ditetapkan maksimumnya saja. 3.3. Denda ditetapkan minimum sampai dengan maksimum dalam nilai cukai. 3.4. Denda ditetapkan minimum sampai maksimum dalam rupiah. 3.5. Jika denda dikenakan dalam nilai cukai(misalnya 1 X ) nilai cukai, maka dihitung terlebih dahulu nilai cukainya kemudian dikalikan 1 X nilai cukai. 3.6. Denda ditetapkan atas pelanggaran yang terjadi dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir. D. Pungutan ekspor; Pungutan ekspor dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang dulunya dikenal dengan nama pajak ekspor, kemudian dirubah namanya dari pajak ekspor menjadi pungutan ekspor dan merupakan PNBP, penamaan ini juga menjadi kurang tepat karena arti pungutan lebih luas dari pajak, sesuai dengan perubahan undangundang kepabeanan selanjutnya akan disebut sebagai Bea Keluar. Sejarah terjadinya pemungutan pajak ekspor adalah pada saat terjadinya booming barang ekspor dimana keuntungan dari eksportir sangat besar, negara merasa perlu memungut pajak atas pendapatan eksportir. Tarip pungutan ekspor atas barang-barang tertentu saat ini taripnya ditetapkan secara advalorum; Rumus Pungutan Ekspor adalah : JSB X T.P.E. X H.P.E. X Kurs pajak. Misalnya eksportir Y mengekspor CPO (Crude Palm Oil) sebanyak 100,- MT, Tarip Pungutan Ekspor (TPE) adalah 6,5%, Harga Patokan Ekspor (HPE) = USD. 250,/MT Kurs Pajak Rp.9.500,-/USD. Pungutan Ekspornya adalah; 100 X 6,5% X 250. X Rp. 9.500,- = Rp.1.543.750.000,Dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2006 dan Undang-undang nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan, ditetapkan Sanksi Administrasi yang dikenakan atas pemberitahuan yang salah jumlah dan/atau jenis barang ekspor, yang mengakibatkan tidak terpenuhinya pungutan negara dibidang ekspor dikenai sanksi administrasi berupa denda paling sedikit 100% dan paling banyak 1000% kali jumlah pungutan negara dibidang ekspor yang kurang dibayar,. Sedangkan penetapan sanksi administrasi dibidang ekspor menurut undang-undang nomor 10 tahun 1995 adalah ditetapkan dalam rupiah dari minimum sampai dengan maksimum; yaitu minimum Rp.1.000.000,- maksimum Rp.10.000.000,Sebelum diterbitkannya Peraturan Pemerintah yang baru mengganti PP .nomor 22 Tahun 1995, pengenaan sanksi administrasi berupa denda masih dilakukan seperti contoh dibawah ini; Contoh ; Eksportir A salah memberitahukan jumlah barang ekspornya dan pelanggaran tersebut untuk pertama kalinya dalam 6(enam) bulan terakhir, maka dendanya adalah; 1 X Denda minimum = 1 X Rp.1.000.000,- = Rp.1.000.000,E. Jaminan; Yang dimaksud dengan jaminan dalam hubungannya dengan kepabeanan dan cukai ialah segala sesuatu yang yang diserahkan oleh satu pihak kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai yang sifatnya sementara yang merupakan tanggungan karena belum diselesaikannya suatu kewajiban terhadap Bea dan Cukai dibidang pungutan pabean, Cukai dan pungutan lainnya yang diwajibkan. Disamping dibidang kepabeanan saat ini juga dikenal adanya jaminan dibidang cukai yang disebut Excise Bond yang dijaminkan terhadap pembayaran cukai secara berkala untuk BKC berupa MMEA produk dalam negeri, pembayaran dilakukan pada tanggal 5 bulan berikutnya atas BKC yang dikeluarkan pada bulan yang lalu. Sifat Penggunaan Jaminan; Menurut sifat penggunaannya jaminan dibagi 2 (dua) yaitu : 1.1. Terus Menerus yaitu jaminan yang diserahkan sekali dan bersifat terus menerus atau berkali-kali; 1.2. Sekali yaitu jaminan yang hanya dapat digunakan sekali saja. Bentuk Jaminan Terdiri dari ; Uang Tunai; disebut demikian karena jaminannya berbentuk uang tunai langsung dari yang bersangkutan dan atas penerimaan uang tunai dimaksud wajib dibuatkan tanda terima. Jaminan Bank; adalah jaminan dalam bentuk warkat yang diterbitkan oleh Bank yang apabila pihak yang dijamin ingkar janji (Wan prestasi), maka pihak penjamin yang berkewajiban membayarnya. 2.3. Jaminan perusahaan assuransi (Customs Bond/Excise Bond); adalah suatu perikatan dari tiga pihak Surety (Penjamin), Principal (terjamin) dan Obligee (penerima Jaminan). 2.4. Jaminan Lainnya; adalah jaminan selain dari yang tersebut diatas, jaminan ini biasanya berbentuk tertulis misalnya SSB (Surat Sanggup Bayar) atau personal guarantee. Penggunaan Jaminan; Jaminan Tunai dapat dipakai atas pembayaran ; 3.1. Pengutan Negara untuk impor barang yang ada kaitannya dengan pemberian fasilitas di Tempat Penimbunan Berikat. 3.2. Pungutan untuk barang impor sementara; pembebasan atau keringanan. 3.3. Pungutan Negara untuk impor barang yang diberikan ijin pengeluaran terlebih dahulu dengan penangguhan BM dan PDRI. 3.4. Pungutan Negara yang kurang dibayar sebagai akibat penetapan oleh Pejabat Bea dan Cukai tarip/atau nilai pabean yang diajukan keberatan. 3.5. Sanksi administrasi berupa denda yang ditetapkan oleh pejabat Bea dan Cukai yang diajukan keberatan ( SPSA). 3.6. Barang diangkut lanjut (BC1.2.)yang dilakukan oleh importir. 3.7. Pengusaha jasa Titipan. 3.8. Ijin operasional PPJK 4. Jumlah jaminan yang dipertaruhkan; 4.1. Sebesar fasilitas di TPB. 4.2. Kawasan Berikat dan TBB tanpa Jaminan. 4.3. Gudang berikat ; jaminan sebesar BM dan PRI untuk importasi selama 3(tiga) bulan atau gudang dikunci bersama. 4.4. Entrepot tujuan pameran ditetapkan oleh Dirjen Bea dan Cukai. 4.5. Impor sementara yang dapat fasilitas pembebasan BM adalah sebesar BM + Pajak + SA 4.6. Impor sementara yang dapat fasilitas keringanan BM sebesar selisih antara BM dan Pajak yang terutang dengan BM dan Pajak sudah dibayar ditambah sanksi administrasi sebesar BM. 4.7. VOORUITSLAG sebesar BM + PDRI. 4.8. Barang diangkut lanjut yang dilakukan oleh importir jaminan sebesar BM,Cukai dan PDRI. 4.9. Pengusaha jasa Titipan ditetapkan oleh KKPBC. 4.10. Ijin Operasional PPJK ; a. Anggota Gafeksi dijamin oleh pengurus Gafeksi b. Bukan anggota Gafeksi; 1). KPPBC Tipe A.1. Rp .250.000.000,2). KPPBC Tipe A.2. Rp. 150.000.000,3). KPPBC Tipe.A.3 Rp 100.000.000,4). KPPBC Tipe A.4. Rp. 50.000.000,5). KKPBC Tipe lainnya Rp.25.000.000,SPKPBM sebesar total BM, Cukai, Pajak dan denda yang tertera pada SPKPBM. SPSA sebesar yang tertera pada SPSA MMEA buatan dalam negeri sebesar rata-rata perbulan kewajiban cukai dan pungutan lain aas pengeluaran MMEA dalan negeri dalam 2 (dua) tahun terakhir. Jaminan untuk fasilitas KITE sebesar jumlah pungutan impor yang dipertaruhkan pada Kepala KWBC. 5. Pencairan Jaminan; Tunai adalah jangka waktu jaminan ditambah 30 (tiga puluh) hari. Bank; 30 (tiga puluh) hari sebelum jaminan jatuh tempo, KKPBC mengirin surat permintaan pencairan jaminan , pencairan jaminan selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah tanggal jatuh tempo. Customs Bond/Excise Bond sebelum Customs Bond jatuh tempo KKPBC mengirim surat permintaan pencairan kepada surety, dan pencairan jaminan dilakukan selambat-lambatnya 14(empat belas) hari kerja sejak tanggal jatuh tempo. Tertulis ; Instansi Pemerintah diberikan surat permintaan pembayaran dan apabila belum melunasi utangnya KKPBC melaporkan ke Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk dilaporkan ke Menteri Keuangan. Importir ;30 hari sejak berakhirnya jangka waktu jaminan tertulis berakhir KKPBC menyampaikan surat permintaan pembayaran ,apabila setelah 30 hari ditambah 7 hari belum dilunasi utangnya, maka diterbitkan surat teguran dan proses selanjutnya sesuai ketentuan penagihan dengan surat paksa. Jaminan untuk fasilitas KITE dicairkan jika dalam tempo 12(dua belas) bulan tidak ada realisasi ekspor atau pengiriman ke tempat penimbunan berikat. 3.2. PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PENERIMAAN MELALUI BANK DEVISA PERSEPSI/POS PERSEPSI ; 3.2. Uraian contoh, non contoh; Sebelum mempelajari tata laksana pembayaran atau penyetoran sebaiknya perlu diketahui terlebih dahulu bahwa pembayaran dapat dilakukan oleh Pengusaha Pabrik, Pengusaha Tempat penyimpanan dan importir atau kuasanya langsung ke Bank Devisa Persepsi, Bank Persepasi dan Kantor Pos Persepsi atau ke Kantor Pabean. Apabila wajib bayar menyetorkan langsung ke Bank atau Kantor Pos Persepsi, maka yang bersangkutan adalah pembayar sekaligus adalah penyetor, tetapi apabila dibayar terlebih dahulu ke Kantor Pabean, maka penyetornya adalah Bendahara Bea dan Cukai, namun menurut undang-undang tentang Perbendaharaan Negara ditegaskan bahwa penanggung jawab atas seluruh pajak-pajak, denda, pungutan pabean dan cukai lainnya, bunga atau PNBP yang wajib disetorkan ke DJBC berada ditangan Bendahara Bea dan Cukai walaupun penyetorannya langsung ke Bank atau kantor Pos Persepsi. Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut; A. Tata laksana pembayaran dan penyetoran penerimaan negara dalam rangka impor melalui Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi; 1. Importir atau Wajib Bayar; 1.1. Mengisi dan menandatangani formulir Pemberitahuan Impoarang (PIB) atau Pemberitahuan Impor Barang Tertentu (PIBT) dengan lengkap dan benar. 1.2. Menerima Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, Pajak DalamRangka Impor (PDRI) dan atau denda administrasi / Surat Teguran (ST) / Surat Paksa (SP)/Surat Penetapan Sanksi Administrasi (SPSA) dari KPPBC. 1.3. Mengisi dan mendatangani formulir SSPCP dalam rangkap 4 (empat) dengan lengkap dan benar, untuk pembayaran semua Mata Anggaran Penerimaan (MAP). 1.4. Melakukan pembayaran di Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi yang sekota / sewilayah kerja dengan KPBC tempat pemenuhan kewajiban pabean dengan menyerahkan : PIB, PIBT yang telah diisi dengan lengkap dan benar atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA; SSPC yang telah diisi dengan lengkap dan benar dan Uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP. 1.5. Menerima kembali PIB, PIBT, Surat Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP dari Bank Devisa Persepsi, untuk dilengkapi dan diperbaiki dalam hal dokumen tersebut belum diisi dengan lengkap dan benar. 1.6. Menyerahkan kembali PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana dimaksud pada butir 1. 4 diatas. 1.7. Menerima kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda tangan dari Bank Devisa Persepsi berupa : PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan dokumen pelengkap pabean lainnya dan SSPCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1.untuk disampaikan ke KPBC dan SSPCP lembar ke.3. atau BPN lembar ke.3. untukpenyetor/wajib pajak. 1.8. Menyerahkan PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1.sebagaimana dimaksud dalam butir 7 ke KPBC yang bersangkutan untuk dilakukan, pemeriksaan dokumen dan atau pengurusan pengeluran barang. 2. Bank Devisa Persepsi; 2. 1. Menerima PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP dari Importir atau wajib Bayar. 2. 2. Meneliti kebenaran penghitungan Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor dalam PIB, PIBT, dan SSPCP; a. Penelitian SSPCP terutama mengenai : 1).Jumlah uang yang akan dibayar sesuai PIB, PIBT atau Surat penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA; 2).Nomor Pokok Wajib Pajak ( NPWP); 3).Jenis Penerimaan (Bea Masuk, Cukai Denda Administrasi, Bunga, Biaya Surat Paksa, Jasa Pelayanan, PPN, PPn BM, dan PPh Pasal 22); 4).Dokumen dasar (Nomor dan Tanggal PIB, PIBT atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA); 5). Kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP); 6). KPBC tempat pemenuhan kewajiban Pabean dan Kode Kantor dan b.. Untuk SSPCP dengan dokumen dasar pembayaran Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA meneliti : 1). Jumlah yang dibayar yang tercantum dalam SSPCP dengan jumlah nominal yang tercantum dalam Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA; dan 2). Apakah pembayaran yang dilakukan harus dikenakan bunga 2% (dua persen) tiap bulan atau tidak. 2.3. Menerima uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP yang bersangkutan, apabila PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP telah diisi dengan lengkap dan benar. 2.4.Mengembalikan PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP kepada Importir atau Wajib Bayar untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal dokumen tersebut belum diisi dengan lengkap dan benar. 2.5.Menerima kembali PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana dimaksud dalam butir 3. 2.6.Merekam data penerimaan pada system komputer untuk setiap Mata Anggaran Penerimaan (MAP) sesuai modul bank. 2.7.Membubuhkan tanda terima dalam SSPCP berupa : 1).NTPN; 2).NTB; 3).Nomor SSPCP dan Unit Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN); 4).Nama dan tanda tangan petugas penerima pembayaran ; 5).Cap Bank yang bersangkutan; dan 2.8. Membubuhkan Cap Tanggal pelunasan SSPCP dalam PIB, PIBT atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Culai, PDRI dan/atau denda administrasi/ST/SP/SPSA 2.9. Menyerahkan kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda terima kepada importir atau wajib bayar berupa; a. PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan/atau denda administrasi/ ST/SP/SPSA dan dokymen pelengkap lainnya dan b. SSPCP lembar ke.1 atau BPN lembar ke.1.untuk disampaikan ke KPBC, dan SSPCP lembar ke-3. untuk penyetor/wajib pajak. 2.10. Mendistribusikan SSPCP kepada : a.Lembar ke-1 untuk KPBC melalui Penyetor/Wajib Pajak; b.Lembar ke-1 untuk KPPN; c.Lembar ke-3. untuk penyetor/wajib pajak d.Lembar ke 4 untuk Bank Devisa Persepsi; 2.11.Menjawab permintaan konfirmasi mengenai suatu pembayaran atau penyetoran apabila ada permintaan dari KPBC. 3. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC); 3.1.Menerima PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA dan SSPCP dari Importir atau Wajib Bayar. 3.2.Meneliti kelengkapan dan kebenaran pengisian PIB dan PIBT serta mencocokkan jumlah pembayaran yang tercantum dalam SSPCP atau BPN dengan jumlah Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor yang seharusnya dibayar. 3.3.Mencocokkan jumlah yang dibayar tercantum dalam SSPCP atau BPN dengan jumlah nominal yang tercantum dalam Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA, dalam hal pembayaran dilakukan dengan dokumen dasar Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau denda administrasi / ST / SP / SPSA. 3.4.Meneliti SSPCP lembar ke-1 dan BPN lembar ke.1. yang diterima dari Bank Devisa Persepsi. 3.5.Menata usahakan dokumen-dokumen yang berkenaan dengan impor termasuk data SSPCP atau BPN setiap hari, sesuai dengan petunjuk yang ditetapkan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 3.6.Apabila diperlukan , KPBC dapat meminta konfirmasi mengenai suatu pembayaran atau penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor kepada Bank Devisa Persepsi/ Pos Persepsi tempat penyetoran. 3.3. TATA LAKSANAN PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA DALAM RANGKA IMPOR MELALUI KPBC; 3.3. Uraian contoh dan non contoh ; 1. Kegiatan Importir Atau Wajib Bayar; 1.1. Mengisi dan menanda tangani formulir PIB atau PIBT dengan lengkap dan benar. 1.2. Menerima Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan /atau denda administrasi /ST/SP/SPSA dari KPBC. 1.3. Melakukan pembayaran di KPBC tempat pemenuhan kewajiban Pabean dengan menyerahkan : 1.4. PIB, PIBT yang telah diisi dengan lengkap dan benar atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA; dan 1.5. Uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam PIB, PIBT atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA yang bersangkutan. 1.6. Menerima kembali PIB atau PIBT dari KPBC untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. 1.7. Menyerahkan kembali PIB atau PIBT yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana dimaksud dalam butir 3. 1.8. Menerima Bukti Pembayaran berupa BPPCP dari KPBC atas pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor. 2. Kegiatan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) 2.1. KPBC berkewajiban memungut, menerima, menyimpan, menyetorkan, dan menatausahakan Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 2.2..Menerima PIB, PIBT atau Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA yang diajukan oleh Importir atau Wajib Bayar. 2.3. Meneliti kelengkapan dan kebenaran Pengisian PIB atau PIBT. 2.4. Meneliti pembayaran yang menggunakan dokumen dasar Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA, apakah atas pembayaran tersebut harus dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) setiap bulan atau tidak. 2.5. Menerima uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum PIB, PIBT, Surat Penetapan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai, PDRI dan atau Denda Administrasi / ST / SP / SPSA, apabila dokumen tersebut telah diisi dengan lengkap dan benar. 2.6. Mengembalikan PIB atau PIBT kepada Importir atau Wajib Bayar untuk dilengkapi dan diperbaiki dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. 2.7. Menerima kembali PIB atau PIBT yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana dimaksud dalam butir 5. 2.8. Memberikan bukti pembayaran berupa BPPCP kepada Importir atau Wajib Bayar atas pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor. 2.9. Mendistribusikan BPPCP: 1).Lembar ke-1 untuk pengeluaran barang 2).Lembar ke-2 untuk KPBC 3).Lembar ke-3 untuk Penyetor 2.10. Menyetorkan selururuh Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor ke Kas Negara melalui : Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi dan Pos Persepsi; 2.11. Penyetoran sebagaimana dimaksud dalam butir 10. dilakukan setiap hari dengan ketentuan : 1). Seluruh penerimaan pada hari itu harus disetorkan selambat-lambatnya pada hari kerja berikutnya; 2). Untuk penyetoran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor digunakan satu formulir SSPCP dalam rangkap 4 (empat), untuk semua Mata Anggaran Penerimaan (MAP); 3). Pengisian formulir SSPCP dilakukan dengan lengkap dan benar sesuai petunjuk pengisiannya; 4). Formulir sebagaimana dimaksud dalam butir.c.diserahkan ke Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi atau Kantor Pos Persepsi beserta uang setoran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tecantum dalam SSPCP. 2.12. Menerima bukti penyetoran dan menerima kembali SSPCP lembar ke-1, atau BPN lembar ke1.yang telah dibubuhi tanda penerimaan oleh Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi atau Pos Persepsi. 3. Kegiatan Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi atau Pos Persepsi; 3.1. Menerima setoran pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor dari KPBC dengan menggunakan formulir SSPCP. 3.2. Mendistribusikan SSPCP atau BPN kepada : 1). Lembar ke-1 untuk KPBC; 2). Lembar ke-2 untuk KPPN; 3) Lembar ke-3 untuk penyetor/wajib pajak; 4).Lembar ke-4 untuk Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi atau Pos Persepsi. 3.4. TATA LAKSANA PEMBAYARAN DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA ATAS BARANG KIRIMAN POS ; 3.4. Uraian contoh dan non contoh ; 1. Kegiatan Importir atau Penerima Kiriman Pabean; 1.1.Menerima Penetapan Pencacahan dan Pembeaan Kiriman Pos (PPKP) yang dibuat/ditetapkan oleh KPBC yang di dalamnya ditetapkan besarnya Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor yang harus dibayar oleh Importir atau Penerima Kiriman Pabean. 1.2.Mengisi dan menandatangani formulir SSPCP dengan lengkap dan benar, berdasarkan PPKP untuk pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor. 1.3. Melakukan pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor di Pos Persepsi dengan menyerahkan : 1). PPKP dan SSPCP yang telah diisi denan lengkap dan benar; dan 2).Uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP yang bersangkutan. 1.4. Menerima kembali PPKP dan SSPCP dari Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. 1.5. Menyerahkan kembali PPKP dan SSPCP yangtelah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayarannsebagaimana dimaksud dalam butir .3. 1.6. Menerima barang kiriman dan SSPCP lembar ke.3 atau BPN lembar ke.3 dan PPKP lembar ke.3. setelah melaksanakan pembayaran Penerimaan Negara Dalam Rangka Impor. 2. Kegiatan Pos Persepsi; 2.1. Meneliti kebenaran pengisian SSPCP dengan data tercantum dalam PPKP 2.2. Menerima uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum dalam SSPCP apabila dokumen tersebut telah diisi dengan lengkap dan benar 2.3. Mengembalikan PPKP dan SSPCP kepada importir atau prenerima kiriman pabean apabila pengisianya belum lengkap dan benar. 2.4. Menerima kembali PPKP dan SSPCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayarannya sebagaimana dimaksud pada butir.2. 2.5. Menyerahkan barang kiriman pabean dan SSPCP lembar ke.3 atau BPN lembar ke 3 kepada importir atau penerima kiriman pabean 2.6. Mendistribusikan SSPCP kepada : 1).Lembar ke 1. untuk KPBC dilampiri PPKP lembar ke.1. 2).Lembar ke 2 untuk KPPN 3).Lembar ke 3. untuk Penyetor Penerima kiriman pabean, dilampiri PPKP lembar ke.3. 4).Lembar ke 4. untuk Pos Persepsi dilampiri PPKP lembar ke.4. 2.7. Menjawab permintaan konfirmasi mengenai suatu pembayaran atau penyetoran apabila ada permintaan dari KPBC. 3. Kegiatan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC); 3.1. Membuat atau menetapkan PPKP dengan mencamtumkan besarnya penerimaan Negara dalam rangka impor yang harus dibayar oleh penerima kiriman pabean dalam rangkap 5 : 1).Lembar ke 1, untuk KPBC pada kanor pos Lalu Bea (setelah penerimaan negara dalam rangka impor dibayar); 2).Lembar ke 2. untuk loket Kantor Pos Persepsi; 3).Lembar ke 3. untuk penerma kiriman pabean; 4).Lembar ke 4. untuk Kantor Pusat Pos Persepsi; 5).Lembar ke 5. untuk KPBC. 3.2. Menyerahkan PPKP: 1).Lembar ke 1 s/d lembar ke 4 ke Pos Persepsi menyertai barang kiriman pabean yang telah diperiksa/dicacah ;dan 2).Lembar ke 5 ke KPBC sebagai arsip. 3.3. Menerima PPKP lembar ke 1 dialmpiri SSPCP lembar ke 1 atau BPN lembar ke.1. dari kantor Pos Persepsi 3.4.. Melakukan penata usahaan dokumen-dokumen yang berkenaan dengan barang kiriman pabean termasuk SSPCP setiap hari sesuai petunjuk yang ditetapkan Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 3.5. Melakukan rekonsiliasi dengan cara meneliti/mencocokan PPKP lembar ke SSPCP lembar ke.1 atau BPN lembar ke.1 yang diterima dari kantor Pos Persepsi dengan PPKP lembar ke.5 yang ada di KPBC. 3.6. Memberitahukan kepada Kantor Pos Persepsi setiap akhir bulan apabila PPKP lembar ke 1 beserta lampirannya belum diterima sebagaimana dimaksud pada butir C. 3. Rangkuman ; 3.1. Dalam kegiatan belajar ini dijelaskan mengenai; 3.1.1. Lingkaran pajak yaitu mulai dari objek pajak sampai dengan pelunasan dan kedaluarsa utang pajak. 3.1.2. Jenis-jenis penerimaan Bea dan Cukai; BM, Cukai, denda administrasi,Bunga,Pungutan Ekspor dan PNBP. 3.2. Tata cara menghitung pungutan; 3.2.1. Setiap pungutan yang dibebankan penerimaannya kepada DJBC mempunyai cara menghitung yang berbeda. Pungutan pabean terdiri dari; a Bea Masuk b. Cukai c. Denda Administrasi, d. Pungutan ekspor, e. Bunga. f. PPN impor, PPN HT Produksi dalam negri, PPN BM. g. PPh. Pasal.22.dan h. PNBP. i. Penerimaan pabean dan penerimaan cukai lainnya. 3.3. Jenis-jenis Jaminan ; 3.3.1.Jaminan Tunai, Bank,Customs Bond,Exice Bond dan Jaminan lainnya. 3.3.2. Jangka waktu jatuh tempo jaminan. 3.4. Besarnya jaminan, 3.4.1.Pejabat yang menetapkan besarnya jaminan. 3.5.Cara pencairan jaminan; 3.6.Tata cara menghitung denda dibidang pabean dan cukai. 3.7. Dibidang pabean dikenal ada 5 (lima) cara pengenaan denda, sedangkan 3.8. Dibidang cukai dikenal ada 4 (empat) cara. 3.9. Pungutan ekspor dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang diekspor yaitu; 3.9.1. C.P.O; 3.9.2. Kayu (kecuali yang dilarang); 3.9.3. Rotan (kecuali yang dilarang); 3.9.4. Pasir (kecuali yang dilarang) dan; 3.9.5. Kulit mentah ataupun wet blue. 3.10. Dalam hal penyetoran dilakukan di Bank Devisa Pesepsi ada 4(empat) fihak yang terlibat yaitu; 3.10.1. Importir atau kuasanya yang disebut wajib bayar 3.10.2. Bank Devisa Persepsi 3.10.3. Kantor Pelayana Bea dan Cukai 3.10.4 . Penyetor atau wajib pajak. Keempat fihak diatas masing-masing melaksanakan tugasnya yaitu; meneliti dokumen yang diajukan dan kemudian mengarsipkan setelah semua dokumen yang wajib disampaikan oleh importir/wajib bayar telah sesuai dengan ketentuan dan apabila ada sesuatu yang kurang sesuai mengenai pembayaran dan penyetoran penerimaan Negara, maka masing-masing fihak dapat meminta konfirmasi untuk kebenaran dari penyetoran tersebut. 3.11. Dalam hal penyetoran penerimaan negara dilakukan di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai, maka selanjutnya selambat-lambatnya pada hari kerja berikutnya Bendahara menyetorkan penerimaan negara tersebut ke Rekening Kas Negara. Kegiatan yang didahului oleh Importir atau wajib bayar yang menyerahkan pemberitahuan kepada pejabat Bea dan Cukai dan menyetorkan jumlahjumlah yang wajib dibayar, setelah diteliti dan semua dokumen yang diwajibkan telah sesuai,maka Bendahara KPBC menerima uang pembayaran yang jumlahnya sama dengan jumlah nominal yang tercantum pada dokumen dasar pembayaran atau surat penetapan kekurangan pembayaran, apabila ada kekurangan/pengisisan dalam dokumen, maka segera dikembalikan untuk diperbaiki. 3.12. Penyetoran Penerimaan negara di bidang pabean dan cukai serta pungutanpungutan negara lainnya yang pemungutannya wajib dilaksanakan oleh DJBC disetorkan ke Bank Devisa Persepsi, Bank Persepsi dan Kantor Pos Persepsi,. Pungutan-pungutan tersebut baik berupa BM, cukai, sanksi adminitrasi berupa denda, bunga, sewa TPP, pungutan pabean lainnya, pungutan cukai lainnya, biaya pengganti pita cukai, dan PDRI serta pungutan lain yang menyertai pungutan BM dan Cukai. Bendahara wajib mengerjakan secara akurat mengenai penghitungan pungutan-pungutan negara tersebut sebelum menyetorkannya ke Kas Negara melalui Bank yang ditunjuk untuk operasional penerimaan negara, selain itu kewajiban lain adalah membukukan semua pungutan dan pada saatnya wajib melaporkan keatasan fungsional Bendahara sebagai wujud pertanggung jawabannya atas pengelolaan keuangan negara yang menjadi tanggung jawabnya. Bendahara juga diwajibkan mengarsipkan semua dokumen negara yang terkait dengan keuangan negara secara baik dan benar karena pada gilirannya akan diadakan pengujian berupa pemeriksaan oleh yang berwenang dan juga ssuai dengan ketentuan pengarsipan dokumen negara yang terkait dengan keuangan negara. 4. Latihan ; 1. Sebutkan objek pajak dibidang kepabeanan, Cukai dan pungutan ekspor. 2. Sebutkan Jenis-jenis pungutan pabean impor. 3. Sebutkan jenis-jenis pungutan Cukai. 4. Sebutkan apa yang saudara ketahui tentang jaminan dibidang pabean impor, cukai, jenis jaminan dan besarnya jaminan . 5. Sebutkan kegiatan Importir/Wajib bayar saat penyetoran ke Bank Devisa Persepsi 6. Sebutkan tata laksana pembayaran BM dan PDRI melaui Bank Devisa Persepsi 7. Sebutkan tata laksana pembayaran dan penyetoran yang dilakukan di Kantor Pos Persepsi 4. KEGIATAN BELAJAR 3. TATA LAKSANA PEMBAYARAN DAN PENYE – TORAN PENERIMAAN NEGARA ATAS BKC PRODUKSI DALAM NEGARI, PUNGUTAN EKSPOR DAN TATA CARA PEMBUKUAN BENDAHARA. 4.1. Penyetoran penerimaan cukai atas BKC produksi dalam negeri ; 1. Untuk Pembayaran dan Penyetoran Cukai etil alkohol dan Cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol; Kegiatan pengusaha pabrik/pengusaha tempat penyimpanan; a. Mengisi dan menandatangani formulir pemberitahuan pengeluaran (CK-14) dengan lengkap dan benar. b. Khusus untuk pembayaran dan penyetoran cukai minuman mengandung etil alkohol, selain mengisi dan menanda tangani formulir CK-14, juga mengisi dan menanda tangani Daftar Perincian MMEA. c. Pengusaha juga mengisi dan menanda tangani daftar perincian minuman mengandung etil alkohol dalam rangkap 3 (tiga). d. Mengisi dan menandatangani formulir SSCP dalam rangkap 4 (empat) dengan lengkap dan benar,untuk pembayaran semua mata anggaran penerimaan (MAP) berdasarkan CK-14 e. Melakukan pembayaran di Bank Persepsi atau Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan KPBC tempat pemenuhan kewajiban cukai dengan menyerahkan : 1).CK-14 dan SSCP yang telah diisi dengan lengkap dan benar 2).formulir Daftar Perincian Minuman Mengandung etil alkohol yang telah diisi dengan baik dan benar, dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai minuman mengandung etil alkohol; dan uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSCP f.Menerima mengandung kembali CK-14 formulir daftar perincian minuman etil alkohol dan SSCP dari bank Persepsi atau Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. g. Menyerahkan kembali CK-14 , formulir daftar minuman mengandung etil dan SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran yang telah dimaksud dalam huruf.e. h. Menerima kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda terima dari Bank Persepsi atau . Pos Persepsi berupa : 1).CK-14 2).Daftar Perincian Minuman Mengandung Etil Alkohol , dalam hal penyetoran cukai minuman mengandung etil alkohol; dan 3) SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1 untuk disampaikan ke KPBC lembar ke-3 atau BPN lembar ke.3. untuk penyetor. i. Menyerahkan dokumen ke KPBC/ Bendahara Penerimaan Bea dan Cukai berupa : 1).CK-14 2).Daftar perincian minuman mengandung etil alkohol lembar ke-1 dan ke-2, dalam hal penyetoran dan pembayaran cukai minuman mengandung etil alkohol; dan 3). SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1. j. Menerima kembali dokumen dari KPBC/ bendaharawan penerima Bea dan Cukai : 1).CK-14 lembar yang telah isi dan ditandatangani oleh pejabat Bea dan Cukai; dan 2).Daftar perincian minuman mengandung etil alkohol lembar ke-1, dalam hal penyetoran dan pembayaran Cukai minuman mengandung etil alkohol. 2. Untuk Pembayaran dan Penyetoran Cukai Hasil Tembakau Atas Pemesanan Pita Cukai Secara Tunai; Kegiatan Pengusaha Pabrik atau Pengusaha Tempat Penyimpanan; a.Mengisi dan menandatangani dokumen pemesanan pita cukai (CK-1) dengan lengkap dan benar. b. Menyerahkan CK.1. ke KPBC untuk dilakukan penelitian dan penomoran c. Mengisi dan menandatangani formulir SSCP dalam rangkap 4 (empat) dengan lengkap dan benar, untuk pembayaran semua mata anggaran penerimaan (MAP) berdasarkan CK-1. d. Melakukan pembayaran di bank Persepsi atau Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan KPBC tempat pemenuhan kewajiban cukai dengan menyerahkan : 1).CK-1 dan SSCP yang telah diisi dengan lengkap dan benar 2).Uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSCP e. Menerima kembali CK-1 dan SSCP dari bank persepsi atau Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. f. Menyerahkan kembali CK-1 dan SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran. g. Menerima kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda terima bank persepsi atau Pos Persepsi berupa : 1).CK-1 ; dan 2).SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1 untuk disampaikan ke KPBC, SSCP ke-3 atau BPN lembar ke.3 untuk penyetor/wajib pajak . h. Menyerahkan dokumen ke KPBC/bendaharawan penerima Bea dan Cukai berupa : 1).CK-1 ; dan 2). SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke.1. 3. Untuk Pembayaran dan Penyetoran Cukai Hasil Tembakau Atas Pemesanan Pita Cukai dengan mendapatkan penundaan pembayaran cukai; Kegiatan pengusaha pabrik; a.Mengisi dan menandatangani formulir SSCP dalam rangkap 4 (empat) dengan lengkap dan benar, untuk pembayaran semua mata anggaran penerimaan (MAP) berdasarkan CK.1. b.Melakukan pembayaran di Bank Persepsi atau Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja KPBC tempat pemenuhan kewajiban cukai dengan menyerahkan : c. Foto copy CK-1 dan SSCP yang telah diisi dengan lengkap dan benar; dan uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSCP d. Menerima kembali fotocopy CK-1 dan SSCP dari bank Persepsi atau Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya yang belum lengkap dan benar. e. Menyerahkan kembali SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagai mana dimaksud huruf. b. f.Menerima SSCP yang telah dibubuhi tanda terima dari Bank Persepsi atau Pos Persepsi ; 1).Lembar ke-1 untuk disampaikan ke KPBC; 2). Lembar ke-1 untuk penyetor/wajib pajak; dan g. Menyerahkan SSCP lembar ke-1 atau BPN lembar ke 1. ke KPBC/Bendaharawan penerima Bea dan Cukai. 4. Pembayaran dan Penyetoran Denda Administrasi; Kegiatan pengusaha pabrik/pengusaha tempat penyimpanan; a.Menerima Surat Pemberitahuan Pengenaan Sanksi Administrasi (SPPSA) / Surat Tagihan Cukai (STCK.1.) / Surat Tagihan (ST) / Surat Paksa (SP) dari KPBC. b.Mengisi dan menanda tangani formulir SSPCP dalam rangap (empat) dengan lengkap dan benar berdasarkan SPPSA/STCK/STCK.1/ST/SP yang diterbitkan KPBC. c.Melakukan pembayaran di Bank Persepsi atau Pos Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan KPBC tempat pemenuhan cukai dengan menyerahkan; 1).SSPSA/STCK.1/ST/SP dan SSCP dengan lengkap dan benar; dan 2).Uang pembayaran sejumlah nominal yang tercantum dalam SSCP. d. Menerima kembali SPPSA/STCK 1/ST/SP dan SSPCP dari Bank Persepsi atau Pos Persepsi untuk dilengkapi dan diperbaiki, dalam hal pengisiannya belum lengkap dan benar. e. Menyerahkan kembali SPPSA/STCK 1/ST/SP dan SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayaran sebagaimana disebut pada huruf c. f. Menerima kembali dokumen yang telah dibubuhi tanda terima dari Bank Persepsi atau Pos Persepsi berupa SPPSA/STCK 1/ST/SP dan SSCP lembar ke 1 atau BPN lembar ke.1 dan SSCP lembar ke.3 atau BPN lembar ke.3 g. Menyerahkan SSCP lembar ke 1 atau BPN lembar ke1. ke KPBC/Bendahara Penerima Bea dan Cukai. 5. Kegiatan Bank Persepsi atau Pos Persepsi ; a. Menerima dokumen yang telah diisi dan ditanda tangani oleh pengusaha berupa; 1). CK 14 lembar , dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai etil alkohol dan cukai MMEA; 2). Daftar perincian MMEA , dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai MMEA; 3).CK 1 , dalam hal pembayaran dan penyetoran Cukai H.T secara tunai. 4).Foto copy CK 1, dalam hal pembayaran pembayaran cukai HT.secara kredit; dan atau 5).SPPSA/STCK 1/ST/SP untuk pembayaran dan penyetoran denda administrasi dan 6).SSCP lembar ke 1 s/d 4. b. Meneliti kebenaran : 1).NPWP; 2).Jenis penerimaan yang disetor; 3).Peghitungan jumlah cukai; 4).Jumlah uang dibayar sesuai yang tercantum dalam CK 14, CK 1/ atau SPPSA/STCK 1/ST/SP ;dan 5).Mencocokan SSCP dengan CK 14,CK 1 atau SPPSA/STCK 1/ST/SP. c. Menerima uang pembayaran yang jumlahnya sesuai dengan nominal yang tercantum dalam SSCP yang bersangkutan apabila CK 14, CK 1 dan SSCP telah diisi lengkap dan benar. d. Mengembalikan CK 14, CK 1, SPPSA/STCK 1/ST/SP dan SSCP kepada pengusaha untuk dilengkapi/diperbaiki apabila tidak benar dan/atau tidak suai dengan yang tercantum dalam CK.14., CK.1. atau SPPSA/STCK.1/ST/SP. e. Menerima kembali dokumen CK.14, CK.1. atau SPPSA/STCK.1/ST/SP dan SSCP yang telah dilengkapi dan diperbaiki beserta uang pembayarannya sebagaimana dimaksud pada huruf.c.. f. Membubuhkan dalam tanda terima berupa; 1). Tanggal dan waktu penerimaan pembayara, yaitu tanggal dan waktu penerimaan uang atau ta nggal dan waktu kliring jika pembayarannya dengan uang tunai; 2). Nama dan tanda tangan petugas penerima pembayaran; 3). Nomor SSCP dan unit KPPN: dan 4). Cap Bank/Pos Persepsi yang bersangkutan. g. Menyerahkan kembali dokumen kepada pengusaha berupa: 1).CK 14 dalam hal pembayaran dan penyetoran Cukai EA dan MMEA. 2).Daftar Perincian MMEA dalam hal pembayaran dan penyetoran MMEA. 3).CK 1 dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai HT atas pemesanan pita cukai tunai; dan atau. 4).SPPSA/STCK 1/ST/SP dalam hal pembayaran penyetoran denda administrasi. 5).SSCP lembar ke 1 dan ke 3. atau BPN lembar ke.1 dan lembar ke.3 h. Mendistribusikannya SSCP: 1) Lembar ke 1 untuk KPBC melalui penyetor/Wajib pajak. 2). Lembar ke 2 untuk KPPN. 3). Lembar ke 3 untuk penyetor/wajib pajak;dan. 4). Lembar ke 4 untuk untuk Bank Persepsi atau Kantor Pos Persepsi. i. Menjawab permintaan konfirmasi mengenai suatu pembayaran apabila ada permintaan dari KPBC. 6. Kegiatan Kantor Pelayanan Bea dan Cukai (KPBC) ; a. Menerima dokumen dari pengusaha berupa; 1). CK.14, dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai etil alkohol dan cukai MMEA;. 2). Daftar Perincian MMEA , dalam hal pembayaran dan penyetoran MMEA dan atau; 3).CK.1. dalam hal pembayaran dan penyetoran cukai HT atas pemesanan pita cukai secara tunai; dan 4).SSCP lembar ke.1 atau BPN lembar ke.1. b. Meneliti kebenaran pengisian dokumen dan penghitungan jumlah Penerimaan Negara atas BKC dalam dokumen sebagaimana dimaksud pada butir.a. c. Mengembalikan dokumen sebagaimana dimaksud pada butir.a.kepada pengusaha untuk diperbaiki apabila pegisian dan penghitungannya belum lengkap dan benar, atau dalam hal terdapat kekurangan pembayaran penerimaan Negara atas BKC, memberitahukan kepada pengusaha untuk melunasinya. d. Menomori CK.14 dan CK.1 setelah memastikan kebenaran pengisiannya.. e. Mencatat nomor dan tanggal SSCP dalam; 1). CK.14. 2) CK.1. atau 3). Buku Rekening Kredit. f. Menyerahkan kembali CK.14. yang telah diisi dan ditanda tangani Bendahara Penerima Bea dan Cukai kepada pengusaha. g. Meneliti kebenaran jumlah denda administrasi yang tercantum dalam SSCP dan SPPSA/STCK.1/ST/SP, dalam hal pembayaran dan penyetoran denda administrasi. h. Menata usahakan dan membukukan penerimaan negara atas BKC. i. Meminta konfirmasi kepada Bank Persepsi/Pos Persepsi dalam hal ada keraguan atas kebenaran dokumen pembayaran 7. Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pungutan Ekspor; Pungutan ekspor yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu seperti yang telah disebutkan diatas, pembayaran atau penyetoran atas pungutan ekspor dilaksanakan di: 7.1.Bank Devisa Persepsi atau 7.2.Kantor Pabean : dalam hal ekpor dilakukan ditempat yang tidak terdapat Bank Devisa Persepsi atau diluar jam kerja atau pada hari-hari libur. Bukti pembayaran atas pungutan ini adalah STBS (Surat Tanda Bukti Setor) yang dikeluarkan oleh Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pabean atas pembayaran dan penyetoran pungutan ekspor. Pungutan ekspor wajib dibayar secara tunai selambat-lambatnya pada saat PEB didaftarkan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai tempat pemenuhan kewajiban pabean, dalam hal pembayaran pungutan ekspor melampaui batas waktu diatas, maka dikenakan denda administrasi sebesar 2% sebulan utuk paling lama 24 bulan, bagian dari bulan dihitung sebulan penuh. Bendahara Penerima KPBC yang menerima pungutan ekspor, kekurangan pungutan ekspor dan atau denda administrasi dari eksportir/kuasanya wajib segaera menyetorkan penerimaan dimaksud ke BUN (Bendahara Umum Negara) nomor Reekening; 502.000.000 di Bank I ndonesia selambat-lambatnya pada hari kerja berikutnya. Atas setiap penyetoran diatas Bank Devisa Persepsi wajib membuat Daftar Penyetoran Pungutan Ekspor (DPPE) dan wajib menyampaikannya ke Direktorat Jenderal Anggaran . 8. Tata Laksana Pembayaran dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak; 8.1.Penerimaan Negara Bukan Pajak terdiri dari berbagai jenis yang pemungutannya dilakukan oleh Instansi Pemerintah, menurut rincian dalam APBN jenis PNBP adalah sebagai berikut : a. Penerimaan sumber daya alam. b. Bagian laba BUMN. c. PNBP lainnya berupa : 1).Penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana Pemerintah; 2). Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah; 3).Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan yang berasal dari denda administrasi; 4).Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak Pemerintah; 5).Penerimaan lainnya yang diatur dalam undang-undang PNBP. Khusus dilingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagian penerimaan bersumber dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah antara lain pelayanan atas dokumen-dokumen yang dibidang impor , ekspor dan cukai. 8.2. Pembayaran dan Penyetoran PNBP yang wajib dipungut oleh Bea dan Cukai disetorkan ke : a. Bank Devisa Persepsi; b. Bank Persepsi; c. Pos Persepsi; dan d. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. 8.3. Pembayaran dan penyetoran PNBP dilakukan secara : a. Tunai : yaitu pembayaran yang dilakukan secara tunai melalui Bank atau Kantor Pelayanan Bea dan Cukai; b.Berkala : yaitu pembayaran satu jenis PNBP yang dilakukan pada akhir periode tertentu yakni paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya dalam hal tanggal 5 jatuh pada hari libur penyetoran dilakukan pada hari kerja berikutnya dan wajib diserahkan SSBP paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah jatuh tempo; c.Kemudian : wajib menyerahkan SSBP atau membayar dengan tanda bukti BPBP paling lambat 3(tiga) hari kerja setelah timbulnya kewajiban membayar; d. Kompensasi : adalah kelebihan pembayaran yang diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka. 9.Kegiatan Penata Usahaan PNBP ; 9.1. Untuk Pembayaran di Bank Devisa Persepsi / Bank Persepsi / Pos Persepsi; a.Menerima SSBP lembar ke 5 dari wajib bayar. b. Dalam hal pembayaran berkala disamping SSBP juga menerima daftar rekapitulasi pembayaran PNBP. c. Menutup dokumen dasar pada in house computer Bendahara. d. Mencatat seluruh penerimaan pada buku catatan PNBP berdasarkan SSBP. e. Mencatat seluruh penerimaan pada buku catatan PNBP berdasarkan SSPCP dan SSCP. f. Membukukan penerimaan pada buku penerimaan harian . g. Mendistribusikan SSBP. h. Mengarsipkan SSBP. 9. 2. Untuk Pembayaran melalui Bendahara Penerima PNBP Bea dan Cukai ; a. Menerima, menyimpan, membukukan dan menyetorkan PNBP pada hari kerja berikutnya. b. Mencocokkan Jumlah PNBP dengan MAP (Mata Anggaran Penerimaan) yang bersangkutan. c. Menerima pembayaran sesuai nominal yang tercantum pada PNBP. d. Memberikan bukti pembayaran berupa BPBP kepada wajib bayar . e. Mencatat seluruh penerimaan pada buku catatan PNBP berdasarkan BPBP lembar ke 2. f. Membukukan penerimaan kedalam buku harian PNBP. g. Mendistribusikan BPBP; 1). Lembar ke 1. dilampirkan untuk menutup dokumen ; 2). Lembar ke 2. Untuk Bendahara Penerima; 3). Lembar ke 3. untuk Penyetor. h. Menyetorkan seluruh PNBP Ke Rekening Kas Umum Negara dengan menggunakan SSBP sebagai berikut; 1).Bank Devisa Persepsi yang sekota/sewilayah kerja dengan kantor DJBC; 2) Bank Persepsi dalam hal di kota/wilayah kerja kantor DJBC tempat penyetoran PNBP tidak terdapat Bank Devisa Persepsi; atau 3).Pos Persepsi dalam hal di kota/wilayah kerja kantor DJBC tempat Penyetoran PNBP tidak terdapat Bank Devisa Persepsi atau Bank Persepsi. 10. Pembukuan Bendahara atas Penerimaan yang Pembayarannya dilakukan di KPBC.; Penerimaan pabean, cukai, denda administrasi, bunga dan pajak yang disetorkan melalui Bendahara Penerima DJBC untuk kemudian disimpan dan disetorkan ke Rekening Kas Umum Negara. Untuk membukukan penerimaan-penerimaan diatas Bendaharawan membukukan kedalam buku – buku tersebut dibawah ini; 10.1 .Buku Catatan Penerimaan dan; 10.2. Buku Penerimaan Harian. a. Buku Catatan Penerimaan; Buku ini digunakan untuk mencatat penerimaan dibidang pabean dan cukai selama 1(satu) hari/harian. Buku ini ditutup pada setiap akhir jam kantor setelah penutupan kas, seluruh penerimaan yang ada didalam buku catatan penerimaan harian dipindahkan ke buku Penerimaan Harian. b.. Cara pencatatan; 1). Satu jalur untuk mencatat satu jenis dokumen pembayaran. 2). Tiap jenis penerimaan dicatat pada kolom yang sesuai dengan jenis penerimaan yang bersangkutan. c. Apabila terjadi kesalahan pencatatan, segera dilakukan pembetulan dengan cara mencoret angka yang salah dengan garis tinta merah, namun angka yang salah masih terlihat/terbaca, kemudian diparaf dan selanjutnya ditulis dengan angka yang benar. d. Setelah kas ditutup, buku catatan penerimaan juga segera ditutup dengan cara membuat “dua garis lurus” dibawah penerimaan pada hari tersebut. e. Menjumlah angka penerimaan pada hari itu dibawah garis penutup sesuai jenis penerimaan pada masing-masing lajur. f. Menutup seluruh hasil penerimaan pada hari tersebut dengan menyebutkan jumlah penerimaan yang terbagi dalam 2(dua) jenis penerimaan yaitu; 1). pungutan pabean dan/atau cukai dan; 2). pungutan pajak. Dengan menyebutkan nomor-nomor bukti pembayaran yang digunakan. g. Dalam hal halaman tidak cukup untuk mencatat penerimaan dalam satu hari, maka dapat dilanjutkan dihalaman berikutnya dengan cara menjumlah terlebih dahulu selutuh penerimaan pada masing-masing lajur jenis penerimaan dan ditulis didepannya kata ” dipindahkan”, pada halaman berikutnya /lanjutan, angka-angka penjumlahan yang telah dicatat diulang dicatat kembali sesuai lajurnya masing-masing dan didepannya ditulis “ pindahan” h. Dalam hal frequensi penerimaan kecil/jarang, maka lembar/halaman yang tersisa dapat digunakan untuk mencatat penerimaan hari/tanggal berikutnya. i. Penandasyahan Buku Catatan Penerimaan dengan penanda tanganan oleh Penanggung jawab/kasir dengan diketahui oleh Bendahara (Kepala Seksi Bendahara). j. Buku Penerimaan Harian; Kegunaan buku ini adalah untuk membukukan jumlah penerimaan dibidang pabean dan cukai yang sumber data untuk pencatatannya diambil dari buku catatan penerimaan. k. Buku Penerimaan Harian ini ditutup pada; 1). Setiap akhir bulan; 2). Setiap akhir tahun anggaran; 3). Setiap saat apabila ada pemeriksaan kas; dan 4). Setiap ada serah terima jabatan Bendahara. l.. Tata cara pencatatan pada buku Penerimaan Harian; 1.1.Setiap hari sesudah penutupan Buku Catatan Penerimaan, jumlah- jumlah penerimaan pada hari itu dipindahkan ke Buku Penerimaan Harian, sesuai kolom penerimaan masing-masing. 1.2.Jumlah penerimaan yang sudah dicatat tersebut kemudian ditambahkan dengan jumlah penerimaan hari-hari yang lalu pada bulan yang sedang berjalan. Hasil penjumlahan ini merupakan jumlah keseluruhan penerimaan sampai dengan hari/tanggal tersebut pada bulan yang sedang berjalan. 1.3.Pada akhir bulan setelah tahap-tahap pencatatan diatas dilakukan, kemudian buku penerimaan harian ditutup. m. Penutupan pada akhir bulan; Pada penutupan Buku Penerimaan Haarian Bendahara menuliskan : Penerimaan hari ini : Rp ………………………… Penerimaan hari-hari yang lalu : Rp ………………………… --------------------------------- + Penerimaan bulan…………….. : Rp ……………………… Penerimaan bulan-bulan yang lalu : Rp ……………………… ------------------------------ + Penerimaan sampai dengan bulan……… : Rp ………………………… ………… tanggal…………… Kepala Seksi Perbendaharaan Kantor………………………. ……………………………… NIP.0600………………… n. Penutupan pada akhir tahun anggaran. Bendahara Penerima DJBC menulis kata-kata : Penerimaan hari ini : Rp ……………… Penerimaan hari-hari yang lalu : Rp ……………. + ------------------------------- Penerimaan bulan …………………… : Rp ……………… Penerimaan bulan-bulan yang lalu : Rp ……………… ---------------------------------- Penerimaan tahun…………………………… : Rp …..…………… ……… tanggal …………... Kepala Seksi Perbendaharaan Kantor……………………… NIP.0600……………………. o. Penutupan dalam hal ada pemeriksaan kas dan penggantian Bendahara : Bendahara DJBC menulis kata-kata ; Pada hari ini …………. tanggal …………. tahun ………telah dilakukan pemeriksaan kas dengan hasil penutupan kas sebagai berikut: Penerimaan sejak tanggal ……. s/d tanggal ………….. : Rp ……… Penerimaan pada hari ini tanggal………….... : Rp ……… ------------------------+ Penerimaan sampai dengan hari ini : Rp ……… Penerimaan yang telah disetor ke Kas Negara : Rp ……… ----------------------- - Saldo : Rp ..……... ………….tanggal……… Mengetahui Kepala Seksi Perbendaharaan Kepala Kantor……… Ketua Pemeriksa Kas. Kantor………………………. 7. Rangkuman ; Dalam kegiatan belajar ini dijelaskan tentang objek penyetoran penerimaan cukai atas BKC produksi dalam negeri, pungutan ekspor, PNBP, denda administrasi dan pembukuan bendahara atas pungutan-pungutan yang dibayar di KPBC. Demikian pula diuraikan tentang subjek pajak dan tata cara pembayaran dan/atau penyetorannya, tempat-tempat penyetoran dan dokumen-dokumen yang dipakai serta klarifikasi jika ada yang diragukan baik oleh DJBC maupun KPPN. 7.1. Pembayaran/penyetoran cukai dilakukan di; a. Bank Persepsi atau b. Pos Persepsi. Yang sekota/sewilayah dengan KPBC yang mengawasi pabrik/tempat Penyimpanan BKC. c. Dokumen dasar pembayaran adalah CK.1, CK.1A, CK.1B, SPPSA,ST. d. Bukti Pembayaran Cukai adalah SSCP/BPN, BPBP/SSBP. . 7.2 Penerimaan lain dibidang cukai yang pemungutannya dilaksanakan DJBC; a.PPN HT; b.PNBP; 7.3. Pembayar/penyetor Cukai dan pungutan lainnya yang menyertainya; a.Pengusaha Pabrik; b.Pengusaha Tempat Penyimpanan; c.Pengusaha TPS; d.Pengusaha TPB; e.Importir; f. PPJK; g.Eksportir/kuasanya untuk barang kena PE. h. Perorangan/siapa saja. 7.4. Tempat-tempat Pembayaran atau Penyetoran cukai, PE dan PNBP; a. Bank Devisa Persepsi; b. Kantor Pabean; c. Bank Persepsi; d. Kantor Pos Persepsi; 7.5. Penata usahaan atas penerimaan pabean yang diterima oleh Bendahara penerima; a. dibukukan dalam; 1). buku catatan penerimaan harian dan; 2). buku penerimaan harian ; b. buku penerimaan harian ditutup pada; 1). setiap akhir bulan ; 2). setiap akhir tahun anggaran; 3). setiap saat apabila ada pemeriksaan kas dan; 4). setiap ada serah terima jabatan bendahara. 7.6. Tata cara penutupan pada buku penerimaan harian sesuai dengan langkahlangkah dan pada lajur-lajur yang ada. 8.1. Latihan; 8. 1. Jelaskan tatalaksana penyetoran dibidang cukai. 8. 2. Jelaskan tatalaksana penyetoran pungutan ekspor 8. 3. Jelaskan tata laksana penyetoran PNBP. 8. 4. Jelaskan tatalaksana penyetoran denda administrasi 8. 5.Jelaskan tata cara penggunaan buku catatan penerimaan dan buku penerimaan harian 9. PENUTUP. 9.1.TES FORMATIF ; 1. Keuangan Negara adalah ; a. Semua hak yang dapat dinilai uang serta barang milik negara b. Semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu baik berupa uang maupun barang milik negara c. Semua hak dan kewajiban yang berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan milik negara, berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut d. Semua hak dan kewajiban Pemerintah Pusat/Daerah berupa uang,barang dan surat-surat berharga yang dapat dinilai dengan uang 2. Menurut Undang-Undang nomor. 1. tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara antara lain mengatur jenis-jenis bendaharaan yaitu; a. bendahara penerima dan bendahara pengeluaran b. bendaharawan rutin dan bendaharawan penerima c. bendahara khusus dan bendahara pengeluaran d. bendahara umum dan bendahara khusus 3. Bendahara adalah ; a. Orang atau badan hukum yang diberi tugas untuk dan atas nama b. c. d. negara/daearah, menerima,menyimpan,dan membayar/menyerahkan uang atau surat berharga atau barang-barang negara/daerah. Orang atau badan hukum yang diberi tugas mengelola keuangan neagar dan daerah Orang atau badan hukum yang diberi tugas mengelola seluruh harta negara Orang ataubadan hukum yang diberi tugas mengelola uang, surat berharga, barang serta segala sesuatu yang menjadai harta negara 4. Menurut UU No. 1 Tahun 2004 tentang pebendaharaan Negara tangung jawab bendahara secara ; a. Jabatan b. Perorangan / pribadi c. Kelompok pengelola keuangan negara d. Bersama dengan atasan langsung bendahara 5. Orang atau pejabat yang ditunjuk menerima, menyimpan, membayarkan, menata usahakan dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja negara disebut : a. Bendaharawan Penerimaan b. Bendaharawan Pengeluaran c. Kepala Seksi Pembendaharaan d. Kepala Sub Bagian Umum 6. Yang dapat diangkat sebagai bendaharawan adalah : a. Orang b. Badan c. Pejabat senior dikantor pabean d. Orang atau badan hukum 7. Dokumen dasar untuk pembayaran dibidang pabean yang dipungut oleh DJBC tersebut dibawah ini, kecuali... a. dokumen pelengkap pabean b. pemberitahuan ekspor barang c. pencacahan dan pabean kiriman pos d. customs declaration 8. Menurut Undang-undang nomor 20. tahun 1997 yang pelaksanaannya di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 44. tahun 2003, mengatur.... a. PNBP yang berlaku secara umum b. PNBP di Departemen Keuangan c. PNBP Direktorat Jendral Bea dan Cukai d. PNBP yang berlaku di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai 9. Dokumen dasar pembayaran dibidang cukai adalah ; a. CK 1, CK1 A, CK. 1 B, dan CK 14 b. CK. 1 dan CK 14 dan SPSA c. CK. 1, CK.1 A, Ck. 1 B dan SPPSA d. CK. 1, CK.1 A dan CK 14 10. Dokumen dasar pembayaran dibidang pabean adalah ; a. BC.2.0,BC. 2.1,BC.2.2,BC.3.0, ST, SPSA, PPKP dan BC.2.3. b. BC.2.0, BC.2.1,BC.2.2, BC.3.0,ST,SPSA c. BC.2.0,BC. 2.1,BC.2.2, BC.3.0,SPSA, ST/STdan PPKP. d. BC.2.0,BC.2.1,BC.2.2,BC.3.0 dan PNBP. 11. Eksportir yang mengekspor barang tertentu yang dikenakan pungutan ekspor pada saat pelunasannya diberi bukti pembayaran berupa ; a. SSPE b. SSPCP c. STBS d. SSTB 12. Pada saat penggantian Bendahara tugas-tugas yang dilakukan antara lain; a. Diadakan penutupan Buku Penerimaan b. Dibuat berita acara pertelaan penutupan kas c. Berita Acara dan Buku Penerimaan ditanda tangani oleh Bendahara Penerima lama dan yang baru dengan diketahui oleh KKPBC d. Pernyataan a,b dan c adalah benar. 13. Jenis-jenis penerimaan yang dikelola oleh DJBC adalah…. a. hanya penerimaan pabean saja b. penerimaan pajak saja c. penerimaan pabean dan pajak d. penerimaan pabean, penerimaan pajak dan penerimaan lainnya yang dititipkan pemungutannya pada DJBC. 14. Yang tersebut dibawah ini adalah jenis-jenis penerimaan Pabean dan Cukai, kecuali… a. bea masuk b. cukai c. PPN BM d. bunga 15. Untuk melakukan pembayaran atas pungutan ekspor dapat dilakukan di….. a. Bank Devisa Persepsi b. Kantor Wilayah Bea dan Cukai c. Bank Persepsi d. KPPN 16. Pengenaan bunga sebesar 2% atas keterlambatan pembayaran utang bea masuk dan/atau denda administrasi untuk selama-lamanya….. a. 12 bulan b. 18 bulan c. 24 bulan d. 30 bulan 17. Customs Bond yang dapat diterima sebagai jaminan pembayaran pungutan negara adalah yang berasal dari..… a. semua perusahaan asuransi b. hanya perusahaan asuransi yang terdaftar pada Departemen Perdagangan c. hanya perusahaan asuransi yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai d. hanya perusahaan asuransi yang di tunjuk oleh Bank Indonesia 18. Tanggung jawab atas Kerugian negara yang terjadi akibat Bendahara penerima melarikan diri adalah pada; a. Menteri Keuangan selaku BUN b. Direktur Jenderal Bea dan Cukai selaku kuasa BUN c. Ahli waris d. Kurator yang diwakili oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. 19. Pelaksanaan pencacahan BKC TTT kemungkinan hasilnya kedapatan : a. selalu sama / sesuai b. selalu selisih kurang c. sama, kurang atau lebih d. selalu kurang atau lebih 20. Jika kekurangan yang didapati saat pencacahan setelah dikurangi potongan dan masih lebih besar dari kelonggaran, maka pengusaha tempat penyimpanan; .... a. dikenakan sanksi adminstrasi berupa denda b. tidak dikenakan sanksi administrasi berupa denda c. dikenakan sanksi pidana karena telah merugikan negara d. sanksi administrasi berupa denda dikompensasi dengan pembayaran cukai berikutnya. 21. Tanggung jawab Bea Masuk dan pungutan impor lainnya berada pada;... a. Importir dan PPJK serta Pengangkut b. Importir c. PPJK dalam hal impor dikuasakan kepada PPJK dalam hal importir tidak diketemukan d. Pengangkut, pengusaha TPS, Importir, dan pengusaha TPB. 22. Pelaksanaan pelunasan cukai dilakukan dengan :........ a. Pelekatan Pita Cukai bagi hasil tembakau b. Pelekatan Pita Cukai bagi MMEA c. Pelekatan Pita Cukai bagi MMEA produksi dalam negeri dan MMEA impor d. Pelekatan Pita Cukai bagi hasil tembakau dan MMEA asal impor 23. Tarif effektif BM yang dipungut DJBC ditetapkan berdasarkan :...... a. Undang – undang b. Peraturan Pemerintah c. d. Peraturan Menteri Keuangan Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai 24. Pungutan pabean yang berkaitan dengan impor dapat terdiri : a. Bea masuk, cukai dan denda administrasi b. Bea masuk, cukai, denda administrasi dan bunga serta pungutan pabean lainnya c. Bea masuk, cukai dan bunga d. Bea masuk, denda administrasi dan bunga 25. Pungutan negara dalam rangka ekspor saat ini dapat berupa : a. Pungutan ekspor dan sanksi administrasi berupa denda b. Bea keluar dan PPN c. Pajak ekspor dan PPN d. Pungutan ekspor, sanksi administrasi berupa denda dan bunga. 26. Menurut Undang-undang Kepabeanan jaminan yang dipersyaratkan untuk barang impor adalah ; a. Uang tunai dan jaminan bank b. Customs bond dan jaminan lainnya c. Uang tunai, jaminan bank dan jaminan lainnya d. Costoms bond, jaminan bank, uang tunai dan jaminan lainnya 27 Formulir yang digunakan untuk pelunasan bea masuk dan pajak dalam rangka impor adalah… a. SSPCP satu set b. SSBC satu set c. SSCP satu set d. BPBC satu set 28. Pelunasan cukai atas etil Alkohol atau MMEA buatan dalam negeri dilakukan di... a. Bank persepsi atau kantor Pos Persepsi b. Bank devisa persepsi atau kantor PT. Pos Indonesia c. Bank devisa d. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai 29. Pelunasan cukai atas MMEA impor dilakukan dengan cara.. a. pelekatan pita cukai b. pembayaran c. pembayaran atau pelekatan pita cukai d. pembayaran dan pelekatan pita cukai 30. Subyek pembayaran dan penyetoran perorangan adalah… a. penerima paket pos dan penumpang b. penumpang dan awak sarana pengangkut c. penerima paket pos, penumpang, pelintas batas dan awak sarana pengangkut d. awak sarana pengangkut dan penerima paket pos 31. Penyetoran BM adalah menyerahkan uang yang menjadi hak negara atas rekening kas umum negara , ke;.... a. Bank Devisa b. Bank Devisa Persepsi c. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai d. Kantor Pelayanan dan Pembendaharaan Negara 32. Bendahara Penerima wajib menyetor penerimaan negara ;... a. pada akhir hari kerja dan paling lama pada hari kerja berikutnya; b. ke kas negara dan; c. wajib mengirim laporan realisasi penerimaan ke KPPN; d. pernyataan a,b dan c benar. . 33. Buku yang dikelola oleh Bendahara Penerima termasuk dibawah ini, kecuali ; a. Buku Daftar penerima dan buku Penerima Harian b. Buku rekening BKC dan buku rekening kredit c. Buku persediaan BKC d. Buku penerimaan jaminan 34. Menurut PP. 24 tahun 1996 sanksi administrasi berupa denda di bidang Cukai ditetapkan sesuai ketentuan jangka waktu pelanggaran yang dilakukan dalam ; a. satu tahun terakhir b. tiga tahun terakhir c. lima tahun terakhir d. tujuh tahun terakhir 35. SSCP. adalah bukti pembayaran cukai atas BKC;..... a. HT produksi dalam negeri b. EA produksi dalam negeri c. EA dan MMEA d. Seluruh BKC produksi dalam negeri 36. Pembayaran PNBP secara berkala adalah pembayaran yang dilakukan pada; a. Setiap awal bulan berikutnya b. Setiap tanggal 10 bulan berikutnya c. Setiap tanggal 5 bulan berkutnya d. Setiap tanggal 1 bulan berikutnya 37. Apabila terjadi kesalahan pencatatan pada buku penerimaan harian, maka tindakan yang harus dilakukan Bendahara ;…… a. Mencoret angka yang salah hingga tidak dapat terbaca lagi, kemudian menuliskan angka yang benar. b. Menghapus angka yang salah kemudian menuliskan kembali angka yang benar dengan dibubuhi paraf c. Mencoret angka yang salah dengan tinta merah dan angka yang salah masih terbaca kemudian diparaf d. Mengganti seluruh halaman dari buku penerimaan harian 38. Pembayaran bunga dalam rangka impor adalah termasuk pungutan ;….. a. pungutan pabean lainnya b. pungutan DJP yang dititipakan pada DJBC c. sanksi administrasi d. pajak dengan surat paksa 39. BPN (Bukti Penerimaan Negara) adalah dokumen yang diterbitkan oleh Bank Devisa Persepsi/Bank Persepsi/Pos Persepsi atas transaksi penerimaan negara dengan teraan ; a. NTPN ; b. NTB; c. NTP; d. NTPN dan NTB/NTP. 40. Penerimaan cukai lainnya meliputi ; a. bunga, biaya surat paksa, biaya pengganti pencetakan pita cukai; b. biaya surat paksa, biaya pengganti pencetakan pita cukai c. biaya surat paksa, biaya pengganti pencetakan pita cukai dan biaya pengganti pengganti pembuatan label tanda pengawasan pita cukai. d. bunga, biaya surat paksa, denda adminstrasi, biaya penganti pencetakan pita cukai dan biaya penganti pembuatan label tanda pengawasan cukai. 10. KUNCI JAWABAN ; 1. c 11. c. 21. d. 31. b. 2. a. 12. c. 22. d. 32. d. 3. a. 13. d. 23. c. 33. c. 4. b. 14. c. 24. b. 34. c. 5. b. 15. a. 25. a. 35. d. 6. d. 16. c. 26. d. 36. c. 7. a. 17. c. 27. a. 37. c. 8. b. 18. c. 28. a. 38. a. 9. c. 19. c. 29. a. 39. d. 10.c. 20. b. 30. c. 40. c. 11. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT; Setelah anda mempelajari modul ini, cobalah menjawab tes formatif diatas tanpa melihat kunci terlebih dahulu, dan apabila anda telah dapat menjawab dengan benar sebanyak 80%, berarti anda telah belajar dengan baik, namun apabila belum dapat menjawab coba ulangi lagi mempelajari modul diatas atau diskusikan dengan kawankawan anda sekelas. Dan apabila anda telah dapat menjawab minimal 80% dari tes diatas, anda dapat melanjutkan pembelajaran pada modul berikutnya. Selamat belajar. Tingkat-tingkat penguasaan; - 90% - 100% = Baik sekali. - 80% - 89% = Baik. - 70% - 79% = Cukup - 69% kebawah = Kurang. ================== 12. DAFTAR PUSTAKA; 1. Undang-undang nomor 17 Tahun 2006 dan Undang-undang 1995 tentang Kepabeanan 2. Undang-undang nomor 39 tahun 2007 dan Undang-undang 11 Tahun 1995 tentang Cukai 3. Undang-undang nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 4. Undang-undang nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 5. Undang-undang nomor 20 Tahun 1997 tentang PNBP 6. Peraturan Pemerintah nomor 22 Tahun 1996 Tentang Penetapan Sanksi Adminisrrasi dibidang Kepabeanan 7. Peraturan Pemerintah nomor 24 Tentang Penetapan Sanksi Administrasi dibidang Cukai 8. Peraturan Pemerintah nomor 35 Tahun 2005 Tentang Pungutan Ekspor atas Barangbarang tertentu. 9. Keputusan Menteri Keuangan nomor 209/KMK.05/ 1999 jo Keputusan Menteri Keuangan nomor 585/KMK.05/1996 tentang Penggunaan Jaminan Bank untuk Pembayaran BM,Cukai, denda administrasi dan PDRI 10. Keputusan Menteri Keuangan nomor 208/KMK.05/1999 jo Keputusan Menteri Keuangan nomor 461/KMK.05/1997 tentang Penggunaan Customs Bond untuk Pembayaran BM, Cukai, denda administrasi dan PDRI 11. Keputusan Menteri Keuangan nomor 457/KMK.05/1997 tentang penggunaan jaminan tunai untuk pembayaran BM, cukai, denda adminstrasi dan PDRI. 12. Keputusan Menteri Keuangan nomor 441/KMK.05/1999 tentang Penggunaan Jaminan tertulis untuk pembayaran BM, cukai, denda administrasi dan PDRI. 13. Peraturan Menteri Keuangan nomor 99/PMK.06/ 2006 dan Peraturan Menteri Keuangan nomor 145/PMK.04/2006 sebagai prubahan terhadap Surat Keputusan Menteri Keuangan nomor 84/KMK 04/2003 tentang Tata Laksana Pembayaran dan Penyetoran BM dan PDRI serta Penerimaan Negara atas BKC Produksi Dalam Negeri 14. Surat Keputusan Menteri Keuangan nomor 514/KMK 04/2004 tentang Pembayaran Berkala Cukai MMEA Produksi Dalam Negeri. 15. Peraturan Menteri Keuangan nomor 93/PMK.02/2005 tentang tata cara pembayaran dan penyetoran pungutan ekspor. 16. Peraturan Menteri Keuangan nomor 133/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata kerja Instansi Vertikal DJBC. ========================= Kata Pengantar Syukur Alhamdulillah penulis telah menyelesaikan buku yang berjudul “ Tehnis Perbendaharaan dan Penerimaan Bea dan Cukai “ Buku ini ditulis berdasarkan ketentuan – ketentuan terkini pada saat ini mengenai Tehnis Perbendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai. Telah banyak buku yang ditulis mengenai Perbendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai, oleh penulis-penulis di Pusat Pendidikan dan Latihan Bea dan Cukai yang merupakan salah satu bahan masukan dalam penulisan modul ini, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih, ucapan terima kasih juga ditujukan kepada semua fihak yang telah membantu penulisan ini hingga selesai. Modul ini disusun berdasarkan hasil pemikiran dan pengalaman Penulis selama bekerja pada DJBC ,penulis mengharapkan modul ini dapat dipakai pada diklat DTSD / DTSS / Prodip Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai . Disadari bahwa buku ini masih jauh dari tingkat sempurna, oleh sebab itu diharapkan masukan dan kritik yang membangun guna penyempurnaannya. Jakarta, Oktober 2007 Penulis, Drs.Achmad Kadir Widyaiswara Utama Madya DAFTAR ISI ; 1. Pendahuluan; A. Tujuan Instruksional Umum.................................................................... B. Tujuan Instruksional Khusus.................................................................... 2.. Penagihan A. Bidang Pabean dan Cukai………………………………………………. B. Pungutan lain yang menyertai pungutan pabean dan cukai..................... C. Penagihan Administratif........................................................................... D. Penagihan Aktif........................................................................................ E. Latihan dan Rangkuman……………………………………………… 3. Pengembalian................................................................................................... A. Pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi Dan Bunga.................... B. Pengembalian cukai dan/ Atau Denda Administrasi................................. C. Pembayaran Bunga.................................................................................... D. Pengembalian PNBP ................................................................................. E. Rangkuman................................................................................................ F. Latihan…………………………………………………………………… 4 . Tes Formatif........................................................................................................ 5. Kunci Jawaban.................................................................................................... 6 . Umpan Balik....................................................................................................... 7. Daftar Pustaka.................................................................................................... MODUL .II. PENAGIHAN DAN PENGEMBALIAN; 1. PENDAHULUAN; 1.1.Deskripsai Singkat ; Penagihan adalah upaya dari Direktorat Jendral Bea dan Cukai terhadap semua utang atas BM,Cukai,Denda Administrasi,Bunga,Pungutan ekspor dan PNBP serta pungutan pabean dan pungutan cukai lainnya yang pemungutannya dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Bea dan Cukai.. Penagihan dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai yang selanjutnya mendelegasikan kewenangannya kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai. Penagihan atas Bea Masuk dan Cukai juga dibebani denda dan bunga . Penagihan utang Bea Masuk dan Cukai dan pungutan pabean dan cukai lainnya dilaksanakan sesuai ketentuan dalam undang-undangnya masing-masing dan apabila dalam jangka waktu yang ditetapkan belum juga dilunasi, maka penagihannya dilaksanakan sesuai dengan ketentuan penagihan pajak dengan surat paksa. Disisi lain terhadap kelebihan pembayaran pungutan pabean dan cukai serta pungutan lain yang menyertainya dapat diberikan pengembalian yang pada dasarnya adalah merupakan azas keadilan bagi wajib pajak. Pengembalian dilaksanakan karena adanya kelebihan pembayaran yang dasarnya ditetapkan dalam undang-undang masing-masing. 1.2. Tujuan Instruksional Umum ; Setelah anda selesai mempelajari modul ini, anda diharapkan mampu memahami tentang ketentuan penagihan dan pengembalian semua pungutan karena; tidak dibayar sampai pada waktu jatuh tempo atau kekurangan pembayaran pungutan pabean dan cukai serta pungutan yang menyertainya. Disisi lain demi azas keadilan dapat diberikan pengembalian pungutan-pungutan negara kareana;salah penghitungan,pembebasan,putusan lembaga banding,barang direekspor, BKC yang telah dibayar cukainya kemudian diekspor, BKC yang dimasukkan kembali ke pabrik untuk dimusnahkan/diolah kembali, BKC yang pita cukainya rusak sebelum dilekatkan atau telah dilekatkan tetapi tidak jadi diimpor untuk BKC impor. 1.3. Tujuan Instruksional Khusus ; Setelah anda mempelajari modul ini anda diharapkan mampu menjelaskan tentang tata cara penagihan pabean dan cukai yang bersifat administratif dan aktif, pengembalian pungutan kepabeanan dan cukai,alasan-alasan penagihan dan pengembalian pungutan pabean dan pungutan cukai lainnya,penyelesaian atas barang yang tidak duasai,dikuasai negara dan milik negara serta mengerjakan /mempersiapkan semua dokumen terkait dan mengarsipkan dokumen-dokumen yang telah selesai. 2.KEGIATAN BELAJAR. 1 ; PENAGIHAN BEA MASUK,CUKAI,DENDA ADMINISTRASI,BUNGA, PDRI DAN PNBP. 2.1. Uraian cntoh dan non contoh ; Dalam bab ini dijelaskan tentang Tata Laksana Penagihan BM, Cukai, Denda Administrasi, Bunga, PDRI (Pungutan Dalam Rangka Impor dan PE (Pungutan Ekspor) serta PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Disamping penagihan yang telah ditetapkan dalam undang-undang yang merupakan dasar hukum bagi masing-masing penagihan tersebut diatas juga dikenal ketentuan undang-undang penagihan pajak dengan Surat Paksa.. Sehingga pada dasarnya penagihan dibagi dalam 2 (dua) tahap; 2.1.1. Penagihan Administratif, dan 2.1.2. Penagihan Aktif. Penagihan BM dan/atau denda adminstrasi yang terutang wajib dibayar 60 hari sejak tanggal penetapan dan apabila jatuh tempo utang belum juga dilunasi sampai ditambah 7 (tujuh) hari.Apabila setelah jangka waktu tersebut utang belum juga dilunasi, maka dilakukan penagihan secara aktif. Penagihan utang secara aktif ini adalah saat dimulainya penagihan pajak dengan surat paksa. A. Penagihan administratif ; Penagihan administratif dilakukan oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dengan menerbitkan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk/Cukai (SPKPBM/STCK),denda administrasi, bunga dan PDRI. 1. Penagihan utang Bea Masuk; Utang atau tagihan kepada Negara yang tidak atau kurang dibayar juga dikenakan bunga sebesar 2% setiap bulan untuk selama-lamnya 24 bulan, dihitung sejak jatuh tempo sampai hari pembayarannya ,bagian dari bulan dihitung satu bulan. 2. Penagihan utang cukai; Dalam hal penagihan utang Cukai yang tidak dilunasi melampaui waktu (30 hari) sejak STCK.1. dikenakan bunga 2% setiap bulan untuk paing lama 24 bulan, ketentuan penagihan ini masih dalam penagihan adminitratif dan apabila selama 7 hari belum juga dilunasi, maka selanjutnya dilakukan penagihan aktif. Jenis penagihan dilakukan sebagai berikut; 2.1. Penagihan administratif dilakukan dengan STCK.1. 2.2. Penagihan aktif dengan STCK.2. 3. Penagihan Kekurangan pungutan ekspor; Penagihan atas pungutan ekspor yang disebabkan karena kekurangan pembayaran, penagihannya dilakukan oleh; 3.1. Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan dalam hal pembayaran/penyetoran dilakukan di Bank Devisa. 3.2. Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dalam hal pembayaran/penyetoran di KPBC. 4. Kedaluarsa penagihan utang; Hak menagih utang kedaluarsa setelah sepuluh tahun sejak timbulnya kewajiban membayar. Masa kedaluarsa tidak dapat diperhitungkan dalam hal; 4.1. Yang berutang tidak bertempat tinggal di Indonesia; 4.2. Yang berutang memperoleh penundaan; 4.3. Yang berutang melakukan pelanggaran undang-undang pajak dan; 4.4. Dalam hal ada pengakuan utang. 5. Pelaksanaan Penagihan administratif; 5.1.Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai melakukan penagihan atas utang BM, denda adminstrasi, bunga dan PDRI yang tidak atau kurang dibayar oleh; importir, pengangkut, pengusaha TPS/TPB atau Pengusaha Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK). 5.2. Penagihan dilakukan dengan Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk (SPKPBM) dan pungutan Negara lainnya, SPSA, ST dan SP. 5.3. SPKPBM diterbitkan oleh Kepala Kantor dalam hal; a. Penagihan utang tambah bayar atas kekurangan pembayaran BM, Cukai dan/atau denda administrasi yang tersebut dalam nota Pembetulan (NOTUL) hasil temuan Verifikasi. Demikian pula denda administrasi yang tidak diakibatkan oleh kekurangan pebayaran BM, misalnya PPJK tidak membuat pembukuan dan tidak menyimpan dokumen-dokumen selama 10 (sepuluh) tahun, untuk hal semacam ini hanya dikenakan denda administrasi saja. b. Hasil audit dibidang kepabeanan dan cukai. c. Masa pengajuan keberatan telah jatuh tempo. d. Jaminan yang tidak dicairkan dan jaminan tertulis yang tidak ditepati/dibayar. 5.4. Dalam Dalam waktu 60 (enam puluh) hari sejak jatuh tempo ditambah 7 (tujuh) hari masih belum dilunasi, maka KKPBC menerbitkan Surat Teguran (ST) kepada yang bersangkutan yang menyatakan bahwa pembayaran utang harus selesai dalam waktu paling lambat 21 (Dua puluh satu) hari sejak dikeluarkannya ST tersebut. B.Penagihan aktif; 1. Penagihan aktif mulai dilakukan saat tertagih setelah diberi Surat Teguran dan belum juga melunasi utangnya; 1.2. Apabila Surat Teguran telah jatuh tempo dan belum juga dilunasi,KKPBC segera; a. Menerbitkan Surat Paksa (SP) untuk penagihan BM, Cukai, Sanksi administrasi dan Bunga. Surat Paksa ini merupakan perintah untuk membayar utang BM dan pungutan lainnya berikut biaya penagihan. b. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Utang Pajak dalam rangka Impor (PPN, PPn.BM dan PPh Pasal.22.) serta PPN HT dalam negeri dengan STCK 2 (kalau ada) kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat yang berutang berdomosili untuk diselesaikan sesuai ketentuan pajak yang berlaku. c. Apabila ditemukan PPh Pasal.22. yang tidak atau kurang dibayar lewat tahun takwim, Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menyampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak dimana wajib Pajak berdomisili. 1.3. Dalam waktu 2 X 24 jam sejak Surat Paksa diberitahukan tertagih masih diberi kesempatan untuk melunasi utangnya.Apbila dalam waktu tersebut dilampaui, Kepala KPBC menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP). Besarnya asset yang disita berupa barang bergerak ataupun tidak bergerak adalah sebesar utang yang wajib dilunasi, dalam hal tertentu dapat dibuatkan surat penyitaan tambahan. Dalam hal tertentu Kepala KPBC dapat melakukan Penagihan Seketika dan Sekaligus, yaitu suatu tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh juru sita Bea dan Cukai terhadap tertagih tanpa menunggu jatuh tempo. Hal-hal tertentu tersebut antara lain: a. Tertagih diperkirakan akan meninggalkan Indonesia selama-lamanya. b. Tertagih menghentikan secara nyata, mengecilkan usahanya atau memindah tangankan barang yang dimiliki atau dikuasai. c. Tertagih berniat atau ada tanda-tanda akan membubarkan usahanya. d. Badan usahanya akan dibubarkan oleh Negara, atau e. Terjadi penyitaan atas barang tertagih oleh fihak ketiga. 2. Pelaksanaan penyitaan; 2.1. Pelaksanaan Penyitaan oleh Juru Sita Bea dan Cukai; a. Pelaksanaan penyitaan dilakukan oleh Juru sita Bea dan Cukai dengan disaksikan oleh 2(dua) orang dewasa penduduk Indonesia yang dikenal dan dipercaya oleh Juru Sita. b. Dalam setiap melaksanakan penyitaan, Juru Sita wajib membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita yang ditanda tangani oleh Juru Sita dan saksisaksi, Berita Acara ini tetap mengikat walaupun saksi-saksi menolak menanda tanganinya. c. Pengajuan Keberatan dan Banding tidak mengakibatkan penundaan pelaksaan penyitaan. d. Pencabutan sita dapat dilaksanakan apabila tertagih telah melunasi utangnya atau berdasarkan putusan Pengadilan Pajak atau ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan. e. Pencegahan dapat dilakukan terhadap seseorang penangung pajak yang jumlahnya minimal Rp.100.000.000,- dan diragukan itikad baiknya. f. Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu atas kebebasan tertagih yang mempunyai utang pajak minimum Rp.100.000.000,karena diragukan itikad baiknya dalam melaksanakan kewajibannya. Penyanderaan berdasarkan ijin Menteri Keuangan atau Gubernur Kepala Daerah TK.I. dan dilakukan secara selektif, hati-hati dan merupakan upaya terakhir. 3. Pengumuman dan pelaksanaan lelang; 3.1. Dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal penyitaan masih juga utang belum dilunasi, maka pejabat Bea dan Cukai segera melaksanakan pengumuman lelang. 3.2. Jika dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal pengumuman lelang masih juga belum dilunasi utang dimaksud, maka pejabat Bea dan Cukai dapat segera melakukan penjualan barang sitaan melalui kantor lelang. D. Penyelesaian Barang Tidak Dikuasai, Dikuasai Negara dan Milik Negara; 1. Bidang Pabean ; 1.1. Dibidang pabean penetapan terhadap barang tidak dikuasai, dikuasai Negara dan milik Negara adalah yang: melampaui jangka waktu yang ditentukan, dilarang,dibatasi impor/ekspornya dan barang yang ditegah oleh pejabat Bea dan Cukai atau sarana pengangkut yang ditinggalkan dikawasan pabean oleh pemilik yang tidak dikenal serta barang dan/atau sarana pengangkut yang berdasarkan keputusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dinyatakan dirampas untuk Negara. Barang-barang tersebut diatas menurut ketentuan kepabeananan dibagi dalam ; 1.1.1. Barang tidak dikuasai; 1.1.2. Barang dikuasai Negara dan; 1.1.3. Milik Negara. Terhadap barang tidak dikuasai dan dikuasai negara diatas masih dapat dibayar BM dan PDRInya paling lambat 2(dua) hari sebelum pelelangan. Terhadap barang telah dilelang utang BM dan PDRI serta sewa gudang TPP (Tempat Penimbunan Pabean) serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan penanganan barang tidak dikuasai dan dikuasai Negara wajib dipungut.BM dan/atau PDRI diambil dari harga lelang barang – barang tersebut, sehingga harga lelang yang ditetapkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai adalah minimum harga lelang terendah yang meliputi BM dan PDRI serta biaya-biaya lain. Barang-barang tersebut diatas oleh Bendahara dicatat pada buku catatan pabean untuk barang dikuasai Negara dan buku catatan pabean barang yang tidak dikuasai. Khusus untuk barang yang menjadi milik Negara disimpan di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk oleh Direktur Jendral Bea dan Cukai dan dibukukan dalam buku catatan pabean barang menjadi milik Negara, penyelesaiannya selanjutnya atas barang ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai kepada Menteri Keuangan untuk ditentukan peruntukannya. 1.2. Tata cara Pelelangan ; 1.2.1.Dalam pelelangan barang yang tidak dikuasai atau yang dikuasai Negara harus ditetapkan harga lelang terendah yang meliputi jumlah pungutan; a. Bea Masuk,Cukai,PPN Impor,PPn BM dan PPh Psl.22; b. Sewa gudang di Tempat Penimbunan Sementara untuk selamalamanya 2 (dua) bulan; c. Sewa gudang di Tempat Penimbunan Pabean; dan d. Biaya pencacahan dan penimbunan di Tempat Penimbunan Pabean. 1.2.2. Untuk menghitung BM dan PDRI Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menetapkan nilai pabean dari barang yang akan dilelang berdasarkan data yang tersedia pada Kantor Pabean tersebut. 1.2.3. Hasil pelelangan setelah dikurangi dengan BM, Cukai, PPN, PPnBM, PPh Psl.22., sewa gudang serta biaya-biaya lain jika masih ada sisa disediakan untuk diterimakan kepada pemiliknya. 1.2.4. Sisa uang yang yang disediakan untuk diterima kepada pemiliknya oleh Kepala Kantor wajib disampaikan secara tertulis dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal pelelangan dan apabila dalam waktu 90 (sembilan puluh) hari setelah tanggal pemberitahuan oleh pemiliknya belum juga diambil, maka uang tersebut dipertanggung jawabkan oleh Bendahara menjadi milik negara. 1.2.5. Semua pungutan-pungutan dan uang sisa yang tidak diambil disetorkan oleh Bendahara ke Rekening Umum Kas Umum Negara sesuai MAP (Mata Angaran Penerimaan) masing-masing. 1.2.6.Apabila harga pada pelelangan pertama tidak mencapai harga terendah, maka selambat-lambatnya dalam jangka waktu 14 (empat belas ) hari dilakukan pelelangan kedua dan apabila pada pelelangan kedua harga belum juga mencapai harga terendah , maka Kepala Kantor Pabean mengusulkan kepada Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk mendapatkan persetujuan pemusnahan barang atau ditentukan peruntukannya. 1.2.7.Atas BKC impor tidak dilakukan pelelangan , melainkan segera dimusnahkan dan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan, atas barang yang mudah busuk/rusak, berbahaya dan yang penyimpanannya memerlukan biaya tinggi dilelang terlebih dahulu dan atas pelelangan ini Kepala Kantor wajib memberitahukan secara tertulis kepada pemiliknya. 2. Bidang cukai; 2.1. Dibidang cukai atas BKC dan barang lain dari pelanggar yang tidak dikenal dikuasai Negara dibawah pengawasan DJBC., terhadap barang ini dibagi kedalam; 2.1.1.Barang dikuasai Negara dari pelanggar yang tidak dikenal ; 2.1.2.Barang dikuasai Negara yang berasal dari pemiliknya tidak diketahui, 2.1.3.Atas barang tersebut diatas jika melampaui waktu yang ditetapkan statusnya berubah menjadi barang milik Negara. 2.1.4.Penyelesaian atas BKC dan barang lain dari pelanggar tidak dikenal adalah sebagai berikut; a. Barang dinyatakan dikuasai Negara ditempatkan di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala KPBC; b. Apabila dalam jangka waktu 14 hari sejak dikuasai negara pelanggarnya tetap tidak diketahui, dinyatakan menjadi milik Negara; 2.1.5. Penyelesaian lebih lanjut; a. BKC dan barang lain yang mudah busuk/rusak dimusnahkan ; b. Barang lain selain tersebut pada a. peruntukannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 2.1.6. Atas pemusnahan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan dengan BAP. 2.2. Penyelesaian tasa BKC dan barang lain yang dikuasai Negara yang berasal dari pemilik yang tidak diketahui adalah sebagai berikut ; 2.2.1 Barang dinyatakan dikuasai Negara ditempatkan di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk KKPBC ; 2.2.2. Diumumkan secara resmi melalui media massa yang ditujukan kepada pemiliknya, apabila 30 hari sejak dikuasai Negara pemiliknya tidak menyelesaikan kewajibannya, barang tersebut dinyatakan menjadi milik Negara ; 2.2.3. Penyelesaian lebih lanjut ; a. Barang BKC dan barang lain yang mudah busuk/rusak dimusnahkan; b. Barang lain selain tersebut pada a. peruntukannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan; 2.2.4. BKC dan barang lainnya yang tersangkut tindak pidana berdasarkan undang- undang cukai, dan yang berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap dinyatakan dirampas untuk Negara dan dibawah pengawasan Menteri Keuangan Selaku pengelola kekayaan Negara. 2.2.5. Kepala KPBC menerima dari Jaksa atas barang tersebut pada point. 2.2.4. 2.2.6. Kepala KPBC mengadministrasikan barang tersebut dengan baik dan benar serta ditimbun di Tempat Penimbunana Pabean atau tempat lain yang ditunjuk. 2.2.7. Penyelesaian lebih lanjut; a. BKC dimusnahkan ; b.Barang lain, peruntukkannya ditetapkan oleh Keuangan. 2.2.8. Atas pemusnahan dibuatkan Berita Acara Pemusnahan. 3. RANGKUMAN; 1. Objek penagihan dibidang Pabean dan Cukai; 1.1.Bea Masuk; 1.2. Cukai; 1.3.Denda Administrasi; 1.4.Bunga; 1.5.PNBP. 2. Dokumen Penagihan; 2.1.SPKBPM; 2.2.STCK.1; 2.3.SPSA; 2.4.SPPSA; 2.5. ST; 2.6.SP. Menteri 3. Penagihan administrasi dilakukan sampai dengan surat Tagihan, sedangkan dimulaiainya penagihan aktif adalah saat diberikan Surat Teguran. Penagihan dapat dilaksanakan sampai dengan penyitaan dan akhirnya dengan pelelangan. 4. Pencegahan dan penyanderaan ; Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu atas kebebasan penanggung pajak yang sampai pada saat jatuh tempo pelunasan belum juga membayar pajak yang ditetapkan, pencegahan dan penyanderaan dilakukan dengan syarat; 4.1. Mempunyai hutang pajak sekurang-kurangnya Rp.100.000.000,-, 4.2. Diragukan iktikad baiknya, 4.3. Dilakukan oleh pejabat setelah mendapat ijin dari Menteri Keuangan Gubernur Kepala Daerah Tk.I dan 4.4. Secara selektif,hati-hati dan merupakan upaya terakhir. 5. Penyelesaian atas barang tidak dikuasai,dikuasai Negara dan milik Negara ditetapkan sebagai berikut; 5.1. Bidang pabean; 5.1.1.Dilelang untuk barang-barang yang dapat diimpor dengan harga minimum sebesar pungutan-pungutan impor, dan apabila penawaran lelang tidak mencapai harga minimum, maka dalam waktu 14 hari diadakan lelang kedua dan apabila belum juga tidak mencapai plafond harga, maka diserahkan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan penyelesaian lebih lanjut. 5.1.2. Atas BKC impor dimusnahkan. 5.1.3 Atas barang dilarang diimpor wajib direekspor atau jika yang bersangkutan tidak merekspornya selanjutnya diserahkan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan penyelesaiannya. 5.1.4.Barang tersebut diatas ditimbun di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk Kepala KPBC.. 5.2.Bidang Cukai; Dibidang Cukai ditetapkan barang yang pelanggarnya tidak dikenal atau pemiliknya tidak diketahui dinyatakan menjadi barang dikuasai Negara dan diberi batasan waktu untuk menyelesaikannya dan apabila jangka waktu dilampaui, maka BKC dan barang lain dinyatakan menjadai milik Negara; 5.2.1.Penyelesaiannya sebagai berikut; a. BKC yang tidak diselesaikan oleh pemiliknya sesuai jangka waktu yang ditetapkan dimusnahkan dibawah pengawasan pejabat DJBC ; b. Barang lain yang tersangkut dengan barang tersebut diatas diserahkan kepada Menteri Keuangan untuk penyelesaian lebih lanjut. c. Barang yang dirampas oleh Negara yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, diserahkan oleh Jaksa ke Kepala KPBC untuk penyelesaian lebih lanjut yang akan ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan atas BKC dimusnahkan; d.BKC sebelum dimusnahakan disimpan di Tempat Penimbunan Pabean atau tempat lain yang ditunjuk, setelah dilakukan pemusnahan oleh pejabat DJBC membuat Berita Acara Pemusnahan. 4. LATIHAN ; 1. Sebutkan apa yang dimaksud dengan penagihan administrasi dibidang pabean dan Cukai. 2. Sebutkan apa yang dimaksud dengan penagihan aktif. 3. Sebutkan tentang penyelesaian barang tidak dikuasai,dikuasai negar dan barang yang menjadi milik negara dibidang pabean dan cukai. 3.KEGIATAN BELAJAR. 2 ; PENGEMBALIAN PUNGUTAN PABEAN,CUKAI, DENDA ADMINSTRASI , PUNGUTAN EKSPOR BUNGA DAN PNBP ; 3.1. Uraian contoh dan non contoh ; Pengembalian Bea Masuk,Cukai Denda Administrasi, Bunga dan PNBP pada dasarnya merupakan azas keadilan dalam pungutan pajak, yaitu pengembalian berupa uang yang telah dibayarkan kepada Negara melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai karena adanya kelebihan pembayaran yang diakibatkan berbagai hal yang jelas disebutkan dalam masing-masing Undang-undang yang terkait. Untuk mempermudah mempelajari tentang pengembalian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pengembalian dibagi dalam : 3.1.1. Pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga; 3.1.2. Pengembalian Cukai; 3.1.3. Pengembalian Pungutan Ekspor; dan 3.1.4. Pengembalian PNBP. A. Pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga ; 1. Pengembalian dapat diberikan terhadap seluruh atau sebagian Bea Masuk yang telah dibayar ; 1.2. Dasar-dasar pengembalian/restitusi Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga adalah ; a. Kelebihan pembayaran Bea Masuk karena penetapan tarip Bea Masuk dan/atau nilai pabean oleh pejabat Bea dan Cukai dan penetapan kembali oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. b. Karena kesalahan tata usaha; c. Impor barang yang mendapat pembebasan atau keringanan Bea Masuk; d. Impor barang yang harus direekspor atau dimusnahkan dibawah pengawasan pejabat Bea dan Cukai; e. Impor barang yang sebelum diberikan persetujuan impor untuk dipakai kedapatan jumlah lebih kecil daripada yang telah dibayar Bea Masuknya,cacat,bukan barang yang dipesan, atau berkualitas rendah; f. Impor barang dalam keadaan curah yang diberikan persetujuan impor tanpa pemeriksaan fisik, kedapatan jumlah fisik barang kurang sehingga menimbulkan kelebihan pembayaran Bea Masuk dalam hal ini harus ada rekomendasi hasil audit; g. Akibat putusan Banding di Pengadilan Pajak. 2. Pengembalian kepada pihak yang berhak dapat juga diberikan terhadap seluruh atau sebagian denda administrasi dan/atau bunga yang terlah dibayar sebagai akibat pelanggaran tehadap undang-undang kepabeanan dalam hal; 2.1. Berkaitan langsung dengan BM yang dikembalikan diatas; atau 2.2. Kelebihan denda administrasi sebagai akibat putusan lembaga banding. 3. Syarat -syarat pengembalian Bea Masuk, Denda Administrasi dan Bunga; 3.1.Importir mengajukan permohonan Kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dengan menyebutkan alasan-alasan pengembalian dengan melampirkan; 3.1.1.Asli bukti pebayaran BM, denda administrasi dan/atau bunga yang diminta pengembalian oleh pihak yang berhak telah diterima dan dibukukan di Rekening Kas Umum Negara. 3.1.2.Permohonan pengembalian diproses untuk disetujui atau ditolak dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar, tidak termasuk waktu yang dipergunakan untuk pelaksanaan audit. 3.1.3. Kepala Kantor Pelayanan/Bendaharawan meneliti; a. Kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan. b. Kebenaran nama yang berhak atas pengembalian/restitusi. c . Kebenaran dasar pemberian restitusi. d.. Meminta konfirmasi ke KPPN mengenai pembayaran tersebut dalam SSPCP/BPPCP. e.. Meneliti apakah pemohon masih memiliki tunggakan utang. 3.2. PIB yang akan direstitusi adalah PIB yang telah diverifikasi. 3.3. Hasil penelitian dan jumlah perhitungan Bea Masuk dan/atau denda administrasi dan/atau Bunga yang dikembalikan dituangkan dalam “Lembar penelitian Restitusi”. 3.4. Lembar penelitan restitusi setelah dibuat oleh Beandahara diajukan ke Kepala Kantor Pelayanan untuk mendapatkan persetujuan. 3.5. Setoran yang diminta pengembalian telah diterima KPPN setelah dikonfirmasi. 3.6. Apabila ada keragu-raguan tanda tangan, maka KPPN dapat meminta konfirmasi ke KKPBC. 3.7. Importir yang berhak mendapatkan pengembalian / restitusi tidak mempunyai tunggakan/utang pada KPBC penerbit SPMKBM. 4. Cara pengembalian; 4.1. Apabila Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai telah memberikan persetujuan pengembalian/restitusi, selanjutnya menanda tangani Surat keputusan Pengembalian Bea Masuk (SKPBM) yang ditanda tangani atas nama Menteri Keuangan dalam rangkap 4 (empat); 4.1.1.Lembar ke 1. untuk Importir/yang berhak mendapatkan pengembalian; 4.1.2. Lembar ke 2. untuk Direktur Jendral Bea dan Cukai. 4.1.3. Lembar ke 3. untuk Kepala KPPN mitra kerja KPBC; dan 4.1.4. Lembar ke 4 untuk KPBC. 4.2. Berdasarkan SKPBM diatas kemudian dibuatkan SPMKBM yang ditanda tangani oleh Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan. 4.3. SPMKBM dibuat dalam rangkap 4 diperuntukkan; 4.3.1. Lembar ke 1. untuk importir yang bersangkutan untuk ditunaikan di Bank yang Ditunjuk. 4.3.2. Lembar ke 1 dan 2. untuk KPPN. 4.3.3. Lembar ke 3.untuk pihak yang behak; dan 4.3.4. Lembar ke 4 untuk KPBC. 4.4. SPMKBM dibebankan pada mata anggaran pengembalian pendapatan setoran BM tahun anggaran berjalan yaitu pada mata anggaran yang sama atau sejenis dengan mata anggaran penerimaan setoran BM dan disampaikan ke KPPN paling lambat 2(dua) hari kerja sebelum berakhirnya jangka waktu pengembalian BM,denda administrasi dan/ atau bunga. 4.5. SPMKBM disampaikan secara langsung oleh petugas yang ditunjuk. 4.6. KPPN mengembalikan lembar SPMKBM disertai SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana) kepada penerbit SPMKBM setelah diberi cap “ Telah diterbitkan SP2D tgl………..no………....” B. Pengembalian Cukai dan/atau Denda Administrasi; 1. Pengembalian Cukai dan/atau dnda administrasi diberikan dalam hal; 1.1. Kelebihan karena salah hitung; 1.2. BKC yang telah dibayar cukainya kemudian diekspor; 1.3.BKC yang telah berada diperedaran bebas dimasukkan kembali untuk diolah/ dimusnahkan; 1.4.BKC telah dibayar cukainya kemudian mendapat pembebasan; BKC yang telah dilekati pita cukai tetapi tidak jadi di impor; 1.5.Pita Cukai yang diterima rusak/tidak dipakai. 2.Syarat - syarat pengembalian cukai; 2.1. Pengusaha atau orang yang bersangkutan mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai setempat dengan melampirkan bukti-bukti asli pembayaran cukai dan/atau denda administrasi; 2.2. Diberikan hanya untuk pelekatan pita cukai atau pembayaran cukai pada tahun anggaran berjalan dan/atau setahun sebelumnya; 2.3. Pengembalian cukai hanya diberikan kepada pengusaha pabrik/pengusaha tempat penyimpanan dan; 2.4. Cukainya telah dibukukan dalam rekening Kas Umum Negara. 3. Tata Cara pengembalian ; 3.1. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai meneliti permohonan yang bersangkutan dan apabila telah sesuai, selanjutnya menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Cukai (SKPCK) yang ditanda taganinya atas nama Menteri Keuangan dalam rangkap 5 ; 3.1.1. Lembar ke 1. untuk yang mendapatkan pengembalian; 3.1.2. Lembar ke 2. untuk Direktur Jendral Bea dan Cukai; 3.1.3. Lembar ke 3. untuk Kepala KPPN; 3.1.4. Lembar ke 4. untuk Bank Penunai; 3.1.5. Lembar ke 5. untuk arsip KPBC. 3.2. Berdasarkan SPMKC yang telah diterbitkan tersebut Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menerbitkan SPMKCK yang ditanda tanganinya atas nama Menteri Keuangan dalam rangkap.6. dengan peruntukan sebagai berikut ; 3.2.1. Lembar ke 1.untuk ditunaikan di Bank yang ditunjuk; 3.2.2. Lembar ke 2. untuk KPPN; 3.2.3. Lembar ke 3. untuk Bank penunai sebagai penguji lembar ke 1; 3.2.4. Lembar ke 4. untuk yang mendapatkan pengembalian; 3.2.5. Lembar ke 5. untuk Direktur Jendral Bea dan Cukai; 3.2.6. Lembar ke 6 untuk KPBC penerbit SPMKC. Terhadap pengusaha BKC yang dapat penundaan, maka pengembalian dikompensasikan dengan utang cukai yang paling tua setelah dikurangi biaya pengganti pita cukai dan bagi yang tidak mepunyai utang cukai dapat digunakan pada pengajuan CK.1. berikutnya. Biaya pengganti Pita Cukai Hasil Tembakau saat ini adalah; a. Seri . I. Rp. 18,- per keping. b. Seri II. Rp. 35,- per keping. c. Seri. III. Rp.18,- per keping. C. Pembayaran Bunga; Pembayaran Bunga atas pengembalian uang/jaminan tunai kepada pemilik/pengguna jasa yang melewati jangka waktu. 1. Pemberian pengembalian bunga diberikan dalam hal; 1.1. Pengembalian uang (restitusi) dalam bentuk penerbitan SPKPBM atau SPMKCK yang terlambat diterbitkan sehingga melebihi jangka waktu 30 (tiga puluh) hari dihitung sejak tanggal permohonan pengembalian diterima lengkap. 1.2. Pengembalian jaminan berupa uang tunai melebihi jang waktu 60 (enam puluh) hari sejak diputuskannya keberatan diterima, atau dianggap diterima oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 1.3. Pengembalian uang (restitusi) Bea Masuk atau Cukai sebagai akibat putusan banding oleh Pengadilan Pajak yang menetapkan pemberian bunga. 2. Besarnya Bunga ; Besarnya bunga ditetapkan 2% setiap bulan untuk selama-lamnya 24 bulan, dan bagian dari bulan dianggap satu bulan penuh. 3. Syarat-syarat pengembalian Bunga; 3.1. Yang bersangkutan mengajukan surat permintaan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 3.2. Direktur Jenderal Bea dan Cukai menertbitkan Nota Perhitungan penetapan besarnya Bunga. 3.3. Direktur Jenderal mengajukan Surat Permintaan Penerbitan SKO kepada Direktur Jenderal Anggaran. 3.4. Berdasarkan SPP SKO Direktur Jenderal Anggaran menerbitkan SKO sebagai dasar pembayaran. 4. Tata Cara pengembalian bunga; 4.1. Pemilik/pengguna jasa yang bersangkutan akan menunaikan pengembalian bunga dengan SKO sesuai ketentuan pada Direktorat Jendral Anggaran. D. Pengembalian PNBP; Pengembalian PNBP dapat dilakukan jika dalam pemeriksaan terdapat kelebihan pembayaran jumlah PNBP yang seharusnya dibayar, jumlah kelebihan tersebut diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah PNBP yang terutang Wajib Bayar yang bersangkutan pada periode berikutnya.- 4. RANGKUMAN; 1 Pengembalian dapat diberikan kepada pembayar/penyetor setelah memenuhi syarat syarat yang ditetapkan dalam undang-undang yang bersangkutan, pengembalian dapat diberikan terhadap; 1.1. Bea Masuk dan Cukai; 1.2. Denda Administrasi; 1.3. Bunga; 1.4. PNBP; 1.5. Pungutan Ekspor. 2. Cara pengembalian; 2.1. Bea Masuk dan/atau denda administrasi; dengan dokumen SKPBM yang dilanjutkan dengan SPMKBM. 2.2.Cukai dan/atau denda administrasi; dengan dokumen SKPCK yang dilanjutkan dengan SPMKCK khusus untuk BKC yang pelunasannya dengan pelekatan pita cukai dikompensasi dengan utang cukai yang tertua atau pada pemesanan pita cukai yang akan datang dan terhadap pemusnahan/pengolahan kembali diwajibkan membayar uang pengganti pita cukai terlebih dahulu yang besarnya sesuai dengan ketentuan. Bunga ; 2.3.1. Bea Masuk diberikan jika pengembalian BM yang telah ditetapkan terlambat dilaksanakan oleh pejabat Bea dan Cukai selama 30(tiga puluh) sejak permohonan diterima permohonan pengembalian diterima lengkap. 2.3.2. Jaminan tunai yang terlambat dikembalikan melebihi 60 (enam puluh) hari sejak keputusan keberatan diterima oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. 2.3.3. Jika putusan banding diterima oleh pengadilan pajak. 2.3.4. Besarnya bunga adalah 2% setiap bulan dan bagian dari bulan dianggap satu bulan serta pemgembalian hanya dapat dilakukan selama-lamanya 24 bulan. 2.4.PNBP; Jika terjadi kelebihan pungutan PNBP oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai dimintakan kepada Direktur Jenderal Anggaran untuk diterbitkan SKO dan dikompensasi dengan pembayaran PNBP berikutnya atau pengembalian secara tunai dengan menggunakan SP2D yang diterbitkan oleh KPPN kepada Instansi yang akan melakukan pengembalian. 5. LATIHAN; 1. Jelaskan dalam hal apa saja dilakukan pengembalian Bea Masuk dan Cukai. 2. Jelaskan dalam hal apa saja dilakukan pengembalian Denda Administrasi,Bunga dan PNBP serta PDRE. 3. Jelaskan Dokumen-dokumen pengembalian dibidang pabean dan cukai. 4. Jelaskan mitra kerja DJBC dalam hal terjadi pengembalian. 5. Jelaskan pengembalian berupa tunai, kompensasi dan pembayaran untuk kegiatan importir,pengusaha dibidang cukai selanjutnya. 6. PENUTUP; 6.1. TES FORMATIF; 1. Penagihan Bea Masuk dilakukan dengan menggunakan;…. a. Formulir SPMBM b. SKPBM c. SPKPBM d. SPPSA 2. Pada dasarnya penagihan piutang bea masuk dan PDRI dilakukan dengan ;........ a. b. c. d. Penagihan administrasi Penagihan aktif Penagihan aministrasi dan aktif Penagihan fisik. 3. Kepala Kantor Pelayanan bea dan cukai segera melakukan penagihan aktif terhadap utang atau kekurangan BM jika tertagih belum melunasi utangnya setelah melewati jangka waktu;........... a. 60 hari ditambah 5 hari b. 30 hari ditambah 10 hari c. 60 hari ditambah 7 hari d. 30 hari ditambah 7 hari 4. Diantara alasan yang dapat diterima dalam hal permohonan pengembalian adalah;… a. kelebihan pembayaran BM karena penetapan harga oleh pejabat BC b. kelebihan pembayaran BM karena penetapan harga oleh Dirjen BC c. kelebihan pembayaran BM karena penetapan Klasifikasi dan/atau tarif d. kelebihan pembayaran BM karena Penetapan Klasifikasi dan/atau tarif/atau nilai pabean oleh Pejabat BC serta penetapan kembali oleh Dirjen BC 5. Persetujuan pengembalian bea masuk diberikan oleh;….... a. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai b. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atas nama Menteri Keuangan c. Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai atas nama Dirjen Bea dan Cukai d. a, b, dan c salah 6. Apabila permohonan pengembalian disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan, maka pertama yang akan diterbitkan adalah;.... a. SKPMBM b. SPMKBM c. SPKPBM d. SP2D. 7. Untuk keperluan penunaian pengembalian kepabeanan dan cukai, Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai menerbitkan;... a. SKPBM b. SPKKBM c. SPMKBM d. SPMKBM dan SPMKCK 8. Menurut Undang-undang nomor 20. tahun 1997 yang pelaksanaannya di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 44. tahun 2003, mengatur;.... a. PNBP yang berlaku secara umum b. PNBP di Departemen Keuangan c. PNBP Direktorat Jendral Bea dan Cukai d. PNBP yang berlaku di Kantor Pelayanan Bea dan Cukai 9. Pengembalian jaminan yang melampaui waktu yang ditetapkan menurut UndangUndang, Pemerintah wajib membayar bunga jika jaminan dimaksud adalah ;...... a. Bank b. Pengusaha asuransi c. Tertulis d. Tunai 10 . Barang yang dikuasai negara disimpan di ;..... a. Tempat penimbunan pabean dan dibayar sewanya b. Tempat penimbunan sementara c. Kawasan berikat dibawah pengawasan DJBC d. Gudang berikat dibawah pengawasan DJBC 11. Pelaksanaan penyitaan dilakukan oleh juru sita Bea dan Cukai dengan cara;.... a. Disaksikan oleh 2(dua) orang dewasa penduduk Indonesia yang dikenal dan dapat dipercaya oleh juru sita b. Membuat Berita Acara pelaksanaan sita yang ditanda tangani oleh juru sita dan saksi-saksi serta tertagih. c. Pengajuan keberatan dan banding tidak mengakibatkan penundaan penyitaan. d. Pernyataan a,b dan c benar 12.. Penagihan kekurangan pungutan ekspor dilakukan oleh;..... a. Kepala KPBC tempat PEB didaftarkan b. Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan c. KPPN d. Bank Devisa Persepsi. 13. Setelah diterbitkan surat teguran oleh KKPBC dalam rangka penagihan BM, maka yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk membayar tagihan dimaksud selambat-lambatnya;..... a. 7 hari b. 30 hari c. 21 hari d. 60 hari 14. Penanggung jawab atas tahihan BM dan denda adminstrasi atas barang impor yang kedapatan kurang dari yang diberitahukan yang berada di TPS adalah;........ a. Importir b. Pengusaha TPS c. Pengangkut d. Agen Pelayaran atas barang yang diangkut melalui laut. 15.Pengembalian sanksi administrasi berupa denda menurut Undang-undang Kepabeanan diberikan dalam hal;........ a. Terkait langsung dengan tarif b. Terkait langsung dengan harga c. Terkait langsung dengan Bea Masuk d. Terkait langsung dengan harga atau tarif. 16. Syarat-syarat pengembalian Bea Masuk antara lain;..... a. Melampirkan SSCP b. Barang impor telah dikeluarkan dari kawasan pabean c. Melampirkan SSPCP d. 1. Pernyataan a dan b benar 2. Pernyataan b dan c benar. 17. Pengembalian PNBP dilaksanakan dengan cara ;....... a. Dikembalikan secara tunai b. Dikompensasi untuk pembayaran PNBP berikutnya c. Ditransfer kerekening yang bersangkutan d. Tidak dapat dikembalikan. 18.Proses pengembalian yang dilakukan oleh Kepala KPBC setelah semua syarat dipenuhi, disetujui atau ditolak dalam jangka waktu paling lama;.... a. 14 hari sejak permohonan diterima lengkap dan benar b. 30 hari sejak permohonan diterima lengkap dan benar c. 60 hari sejak permohonan diterima lengkap dan benar d. 90 hari sejak permohonan diterima lengkap dan benar. 19. SP2D adalah surat yang diterbitkan oleh ;....... a. KPBC kepada yang bersangkutan untuk ditunaikan pada Bank Operasional yang ditunjuk b. KPPN kepada yang bersangkutan untuk ditunaikan di bank yang ditunjuk c. KPP kepada yang bersangkutan untuk ditunaikan di Bank Devisa Persepsi d. KPPN kepada KPBC untuk ditunaikan di Bank Devisa Persepsi atau Pos Persepsi. 20. Pengembalian Cukai atas BKC yang telah dibayar kemudian diekspor diberikan kepada;...... a. Eksportir atau kuasanya b. Distributor BKC c. Pengusaha Pabrik BKC d. Pengusaha Tempat Penjualan Eceran BKC. 7. KUNCI JAWABAN; 1. c. 11. d. 2. c. 12. a. 3. c. 13. d. 4. d. 14. b. 5. b. 15. c. 6. b. 16. d.2 7. d. 17. b. 8. b. 18. b. 9. d. 19. b. 10. a. 20. c. 8. UMPAN BALIK; Kerjakan sendiri tes tersebut diatas, kemudian diskusikan dengan kelompok Anda dan apabila jawaban telah mencapai 80% atau lebih , maka anda telah belajar dengan baik, namun jika masih kurang dari 80%, maka pelajari kembali kegiatan-kegiatan belajar diatas atau diskusikan dengan teman-teman anda sekelas. Untuk memeriksa apakah jawaban anda telah benar, cocokkan dengan kunci jawaban yang ada pada akhir modul ini, diingatkan jangan melihat kunci jawaban terlebih dahulu jika akan menjawab tes formatif diatas. Tingkat-tingkat penguasaan ; - 90% - 100% 80% - 89% 70% - 79% 69% kebawah = Baik sekali = Baik = Cukup = Kurang. ================================== 9. Daftar Pustaka 1. Undang – Undang No.17 tahun 2006 dan No.10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan. 2. Undang – Undang No.39 Tahun 2007 dan Undang-undang No. 11 Tahun1995 Tentang Cukai. 3. UU No. 19 Tahun 2000 Tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. 4. UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. 5. UU No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharan Negara. 6. UU No. 20 Tahun 1997 Tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. 7. UU No. 14 Tahun 2002 Tentang Pengadilan Pajak. 8. Peraturan Pemerintah No. 22. Tahun 1996 Tentang Penetapan Sanksi Administrasi dibidang Kepabeanan. 9. Peraturan Pemerintah. No. 24 Tahun 1996 Tentang Penetapan Sanksi Administrasi Dibidang Cukai. 10. Peraturan Pemerintah nomor 35 Tahun 2005 Pengenaan Pungutan Ekspor atas barang-barang tertentu. 11. Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 422/KMK.05/1996 tentang Pengembalian Cukai. 12. Keputusan Menteri Keuangan No. 234/KMK.05/1996 tanggal 1 April 1996 tentang Tata Cara Penagihan Piutang Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga, dan Pajak dalam Rangka Impor jo.Kep.No 22/KMK 01/1999. 13. Keputusan Menteri Keuangan nomor.235/KMK.05/1996 tentang Barang yang dinyatakan dikuasai,barang dikuasai Negara dan barang yang menjadi milik Negara. 14. Keputusan Menteri Keuangan nomor 322/KMK.05/1996 tentang Tata cara penyelesaian Barang Kena Cukai dan barang lain yang dirampas untuk negara atau yang dikuasai negara. 15. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai No. KEP-06/BC/1999 tanggal 5 Pebruari 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penagihan Bea Masuk, Cukai, Denda Administrasi, Bunga dan Pajak Dalam Rangka Impor Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No.234/KMK.05/1996 dan Keputusan Menteri Keuangan No.147/KMK.04/1998 Jo No. 21/KMK.01/1999. 16. Keputusan Menteri Keuangan No.122/KMK.05/2000 tentang Pembayaran Bunga atas Pengembalian Jaminan yang melewati jangka Waktu. 17. Surat Keputusan Menteri Keuangan No.68/KMK.04/2004 tentang Tata Cara Pengembalian Bea Masuk dan/cukai Dalam Rangka Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). 18. Keputusan Menteri Keuangan No.118/KMK.04/2004 tentang PNBP. 19. Peraturan Menteri Keuangan nomor 38/PMK.04/2005 tanggal 26 Mei 2005 tentang tata cara pengembalian BM, denda administrasi dan/atau bunga. 20. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai No. KEP-09/BC/1999 tanggal 17 Pebruari 1999 tentang Penetapan Biaya Penagihan Piutang Bea / Cukai. 21. Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai No.Kep. 13/BC/2005 tanggal 28 Januari 2005, tentang Besaran biaya pengganti pita cukai. 22. Surat Edaran 01/BC/2000 tentang Tata Cara Pengembalian Bea Masuk,Denda Administrasi dan Bunga. 23. Buku Administrasi Pebendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai oleh M.Rofii dan Sriyono S.E. 24. Buku Administrasi Perbendaharaan Penerimaan Bea dan Cukai oleh Sriyono S.E dan M.Sadiatmo.S.S. =================

Judul: Teknik Perbendaharaan Penerimaan

Oleh: Wulan Wulan


Ikuti kami