Perspektif Global Dan Ilmu Pengetahuan

Oleh Ragil Sanawi

163 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Perspektif Global Dan Ilmu Pengetahuan

PERSPEKTIF GLOBAL DAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL A. Sejarah Munculnya Istilah Perspektif Global Dalam literatur perspektif global memiliki berbagai macam istilah, yaitu global education dan education for a global perspective international studies. Di Indonesia sendiri lebih sering disebut dengan perspektif global. Empat hal pokok dalam perspektif global menurut Retnaningsih (1999: 12) yaitu: 1. Kesadaran terhadap perspektif global 2. Sistem global 3. Sejarah global 4. Saling pengertian terhadap budaya lain. Perspektif global berdasar pada ilmu-ilmu antropologi, psikologi, sejarah, ekonomi, geografi dunia, dan politik.Disiplin ilmu tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga negara dunia untuk berpartisipasi secara aktif. Perspektif global masuk ke dalam kurikulum Indonesia pada tahun 1995 dengan mempertimbangkan kesiapan peserta didik agar dapat bersaing dalam proses globalisasi. Adanya peningkatan ekonomi saat ini mengakibatkan sangat dibutuhkannya pendidikan perspektif global.Secara sadar atau tidak sadar, adanya peningkatan ekonomi, sosial dan pendidikan dalam perkembangan globalisasi merupakan pengaruh dari adanya perspektif global.Pendidikan perspektif global merupakan pandangan terhadap isu-isu global yang terjadi dalam suatu negara.Isu-isu global yang terjadi di dunia juga memberikan dampak terhadap perkembangan pendidikan perspektif global di Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam aspek kehidupan sosial, penggunaan alat teknologi canggih seperti gadget memberikan kemudahan penggunanya dalam melakukan komunikasi antar kota, wilayah, daerah, maupun negara.Namun, hal ini memberikan dampak negatif bagi perkembangan sosial masyarakat Indonesia yang menerapkan nilai, norma, dan moral Pancasila. Dalam aspek ekonomi, Indonesia juga turut andil dalam kegiatan pasar bebas yang sering disebut dengan MEA (Masyarakat Ekonomi Asia).Indonesia mencoba mencari keuntungan dalam kegiatan pasar bebas ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Namun, dengan ikut sertanya Indonesia bisa saja memberikan kesempatan negara lain utuk menguras atau mengambil SDA yang terdapat di Indonesia. Hal ini bisa saja terjadi karena SDM Indonesia masih belum siap untuk ikut serta dalam kegiatan pasar bebas ini. Dalam aspek politik, Indonesia sudah melaksanakan hubungan bilateral dengan negara lain. Hal ini juga merupakan dampak dari adanya perspektif global secara tersirat. Dalam aspek kesehatan, penggunaan alat-alat kesehatan yang semakin canggih yang digunakan dalam bidang kesehatan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit misalnya, dunia kesehatan kita juga sudah mampu menggunakan alat kemotrapi yang digunakan untuk menyembuhkan kanker. Dalam aspek keamanan negara, Indonesia telah menjadi rujukan dunia dalam bidang militer. Dalam kegiatan militer, Indonesia telah mampu mengirim beberapa anggota untuk ikut serta dalam keamanan dunia dan tak sedikit dari negara lain yang meminta bantuan anggota militer Indonesia untuk memberikan pendidikan terhadap anggota militer negaranya. Dalam pendidikan di Indonesia, penerapan pendidikan perspektif global dipadukan dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial, PKn, dan Bahasa Inggris.Pada mata pelajaranIlmu Pengetahuan Sosial, perspektif global diselipkan dalam pembelajaran tentang globalisasi, pengenalan budaya negara, dan interaksi sosial. Dalam bidang PKn, perspektif global dipadukan dalam pembelajaran mengenai nilai, norma, dan moral Pancasila, sikap kecintaan terhadap negara, dan sikap saling toleransi terhadap orang lain. Dan yang terakhir dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.Adanya pelajaran Bahasa Inggris, merupakan salah satu cara pendidikan Indonesia mengenal bahasa asing yang akan berguna dikemudian hari. Dengan mengenal Bahasa Inggris ini siswa akan mampu melakukan interaksi sosial dengan budaya asing. Perspektif global merupakan suatu cara pandang manusia terhadap dunia. Perspektif global ini bisa di artikan sebagai manusia sebagai warga dunia yang bukan memikirkan kedaerahan lagi yang berimplikasi dengan kecanggihan teknologi dan informasi. Meskipun antar manusia berjauhan secara fisik namun komunikasi, perdagangan, politik, ekonomi, hubungan sosial akan tetap terjaga. Orang yang berada di Amerika dapat berkomunkasi dengan teman atau saudara yang berada di Indonesia tanpa perlu repot-repot ke Indonesia, cukup dengan layanan internet dan provider, juga beberapa aplikasi komunikasi seperti SNS, skype, aplikasi chating lainnya. Namun secara ilmiah, perspektif global adalah wawasan atau cara pandang mengenai fenomena secara keseluruhan, yakni fenomena adanya interaksi, interdependensi, dan kompetisi antar umat manusia di muka bumi (Sriartha, 2004: 5). Dengan adanya era globalisasi ini juga mendukung pendidikan bertaraf internasional namun mampu di pelajari di sudut desa, contohnya saja pembelajaran jarak jauh (pjj), kursus online,dan lain sebagainya. Globalisasi juga berdampak besar terhadap budaya kita, seperti masuknya budaya barat lewat siaran televise dan internet yang berdampak pada pola kehidupan kita seperti bergesernya tata cara berbusana, kebudayaan dalam menghormati orang tua, dan lain sebgaianya. Globalisasi bisa sangat menguntungkan dan sangat merugikan bagi kita sebagai pribadi maupun kelompok. Pasalnya fakta-fakta yang mencengangkan seperti adanya pasar bebas karena dampak globalisasi yang berdampak pada individu yang awalnya bisa bermalas-malasan menjadi harus aktif, kreatif, inovatif, dan dinamis dalam mengikuti perkembangan, jika tidak individu tersebut tidak akan bisa di bertahan di arus globalisasi ini. Contoh dari globalisasi pada bidang ekonomi yaitu pasar bebas ASEAN (MEA), yang dimaksudkan MEA ialah perdagangan dari negara-negara di ASEAN akan bebas keluar masuk, sementara di Indonesia memiliki sumber daya yang berlimpah namun manusianya tidak berkualitas. Akibat dari manusia yang tidak berkualitas itu adalah kemelaratan, kemisikinan, kriminalitas tinggi karena tidak mampu bertahan membuat inovasi. Satu-satunya cara yang tepat ialah bangkit membangun diri agar aktif, kreatif, produktif sehingga bisa memanfaatkan MEA dengan baik tanpa ada suatu masyarakat yang dirugikan. Dengan adanya beberapa fakta yang cukup memprihatinkan mengenai Indonesia yang masih belum cukup mampu dalam mengimbangi globalisasi ditinjau dari potensi sumber daya manusia, maka dibuatlah makalah ini yang bertujuan untuk mengetahui asal-usul adanya perspektif, mengetahui ilmu apa saja yang tertaut di dalamnya, dan mengetahui apa manfaat dari perspektif global dalam kehidupan bermasyarakat, ekonomi, politik dan sosial. Asal mula perspektif global yang sekarang ini masuk di Indonesia pada tahun 1995 berawal dari negeri paman Sam. Ide ini tercetus pertama kali dikarenakan kepentingan nasional negara tersebut pada sekitar tahun 1950. Pada sekitar tahun 1970 topik ini semakin sering dibicarakan meskipun masih banyak terjadi perdebatan antara memasukkan materi perspektif global ke dalam kurikulum ataukah tidak. Perspektif global di Indonesia mulai diterapkan pada kurikulum pendidikan dasar dan menengah tahun1995 dan secara jelas dan tegas sebagai pokok materi IPS sejak berlakunya kurikulum tahun 2004 (KBK) dan secara jelas menekankan perlunya perspektif global diajarkan di sekolah. B. Hakikat dan Konsep Perspektif Global Masyarakat di dunia ini memiliki kekayaan tradisi, budaya, nilai, sikap dan adat istiadat.Berdasarkan atas sejarahnya juga berbagai kekayaan tradisi, budaya, nilai, sikap dan adat istiadat masyarakat yang tadinya hanya dimiliki oleh sekelompok masyarakat kini dengan adanya globalisasi menjadikan kekayaan tersebut dimungkinkan menyebar atau bercampur dengan kebudayaan yang dimiliki oleh pihak kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya.Untuk itu diperlukan suatu pemikiran terhadap masalah yang timbul akibat penyebaran atau percampuran antar kebudayaan dan pemikiran masyarakat di seluruh dunia.Dalam rangka menghindari terjadinya permasalahan yang diakibatkan perbedaan pendapat antar individu ataupun kelompok maka diperlukannya perspektif global sebagai ilmu yang mengajarkan untuk berpikir luas dan tidak hanya memandang suatu kejadian dari satu sudut saja. Perspektif global sendiri berdasarkan pendapat dari Sumaatmadja (2009:1.4) memiliki definisi suatu cara pandang dan cara berpikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan dari sudut kepentingan global, yaitudari sisi kepentingan dunia atau internasional. Oleh karena itu, sikap dan perbuatan kitajuga diarahkan untuk kepentingan global.Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa perspektif global merupakan ilmu yang mempelajari tentang suatu pandangan yang timbul akibat suatu kesadaran bahwa hidup dan kehidupan ini untuk kepentingan global yang lebih luas. Dimana cara berpikir setiap individu harus secara global dan dalam bertindak dapat disesuaikan dengan kondisi lokal dimana mereka berada. Kondisi berpikir secara global dan menyesuaikan perbuatannya secara lokal tempat mereka berada harus ditanamkan pada setiap individu dimulai saat mereka masih kecil dan mengenal kehidupan sosial.Hal tersebut sangatlah penting mengingat kita adalah bagian dari kehidupan di dunia yang di dalamnya terdapat keterhubungan antar individu satu dengan yang lainnya dari berbagai macam aspek serta kita harus sadar bahwa kita tidak dapat berkembang tanpa adanya hubungan dan komunikasi dengan dunia luar dan saling ketergantungan antar sesama. Jika dipandang dari sudut pendidikan maka sebagai seorang guru harus dapat mempersiapkan diri sebagai penghubung dengan dunia luar untuk para muridnya. Menurut Sumaatmadja (2009:1.5) yang harus dilakukan oleh seorang guru adalah: 1. Tertarik namun juga memiliki sikap kepedulian terhadap kejadian dan kegiatan pada masyarakat lokal, nasional, dan global. 2. Selalu mencari dan menyimpan informasi yang terjadi di dunia. 3. Bersifat terbuka terhadap setiap pembaharuan. 4. Dapat menyeleksi secara cermat berbagai informasi dan kegiatan pembaharuan yang baru didapat dimana harus berdasar atas kebutuhan individu, kehidupan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakat dalam lingkup tempat tinggal atau lokal. Berdasarkan uraian diatas maka perspektif global juga dapat didefinisikan sebagai suatu pandangan, dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspektif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang berhubungan dengan isu global dalam aspek lingkungan, hak asasi manusia, keadilan, studi tentang dunia, dan pengembangan pendidikan dan isu tersebut harus diberikan kepada peserta didik dimana bukan hanya isu namun juga solusi atau cara yang harus diterapkan oleh siswa berdasar pendapat siswa yang didukung oleh pendapat siswa. Dari pandangan secara umum dan dari sudut pandang pendidikan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perspektif global merupakan ilmu yang mempelajari wawasan dan cara pandang terhadap dunia serta isinya. Bahwa semua agama, ras, kulit, budaya, dan sebagainya serta cara untuk menghindari diri dari cara berpikir sempit akibat isu global yang berkembang di dunia yang dipelajari sejak masih kecil dan mengetahui kehidupan sosial baik di lingkungan masyarakat tempat tinggal dan juga di sekolah. Di sekolah, guru berperan sebagai penghubung serta pihak penengah antara isu global yang sedang berkembang yang diketahui oleh siswa dengan cara menyikapi isu tersebut dengan memandang dari berbagai aspek. Untuk yang kontra terkesan masih ragu untuk memasukkan perspektif global ke kurikulum karena belum terlalu jelas apa saja subtansi yang akan diajarkan, tujuan inti, dan bagaimana cara pengajarannya. Secara umum seperti yang dikatakan Steven L. Lamy (dalam Umi Oktyari: 1) menyebutkan terdapat 4 alasan utama materi perspektif global harus diajarkan, yaitu : 1. Kelompok Merkantilis (menekankankan pada pencapaian kepentingan nasional negara) Pandangan ini beranggapan bahwa peserta didik Amerika harus dibekali pengetahuan tentang perspektif global agar mampu berkompetisi dalam sistem Internasional dan mewujudkan kepentingan nasional Amerika Serikat. Alasannya agar anak-anak muda Amerika memiliki persiapan dalam sistem Internasional yang sangat kompetitif, yaitu penuh dengan persaingan dan anarkis. Persaingan dalam hal ini bukanlah perang dalam merebut suatu daerah namun lebih kepada siapa yang mampu berinovasi dan memiliki keterampilan tinggi maka ia yang akan bertahan. Anarkis diartikan sebgai sistem yang tidak lagi mengutamakan otoritas untuk mengatur sesuatu, semua orang memiliki hak yang sama untuk mengatur sesuatu asalkan memiliki keterampilan, aktif, kreatif, dan sangat cepat membaca peluang yang ada. Dalam era global ini semua pihak akan berusaha menggunakan kekuatannya agar menjadi yang terkuat dan tidak berada di dalam kekuasaan pihak lain. Meskipun terdapat organisasi PBB (Persatuan Bangsa Bangsa), namun organisasi tersebut tidak memiliki kedaulatan penuh untuk mengatur suatu negara, apalagi mengatur negara-negara yang tidak ikut organisasi PBB (sangat tidak diperbolehkan ikut campur). Ini menyebabkan negara-negara lain bersikap hanya melihat negaranya sendiri dan berlomba untuk menjadi yang terkuat di globalisasi yang identik dengan kebebasan ini. 2. Reformis (Pembaharu) Kelompok reformis (pembaharu) melihat bahwa kita semua merupakan masyarakat atau anggota Internasional. Kelompok reformis tidak hanya memandang kedaerahan seperti menganggap dirinya merupakan warga suatu desa, warga suatu kota, atau negara. Tapi kelompok ini menganggap mereka adalah warga bumi, mereka demikian? Karena mereka bertempat tinggal di bumi, mereka berpikir sebagai salah satu warga dunia perlulah menerapkan perspektif global dalam kurikulum untuk membekali peserta didik kedepannya agar warga dunia yang terpecah menjadi banyak bangsa dapat saling bekerjasama, menjalin hubungan baik, dan menanggung beban bersama. Salah satu orang yang mendukung pendapat ini ialah Robert Hanvey, Robert Hanvey menyatakan “program-program yang berkaitan dengan perspektif global harus mampu membekali murid untuk hidup lebih baik dengan pengetahuan,kemampuan memperkenalkan analistis, mereka pada dalam menilai kesempurnaan (obyektif), dan strategi-strategi untuk berpartisipasi dan terlibat dalam menyelesaikan masalah-masalah lokal, nasional, maupun internasional” 3. Utopian Kiri Umi O.R (3:1998) menyatakan bahwa kelompok Utopian Kiri berpendapat bahwa perspektif global harus ditujukan untuk menciptakan adanya sistem internasional yang lebih adil melalui sistem sosialis. 4. Ultrakonservatif atau Utopian Kanan Kelompok yang mendukung pendapat ini mengatakan bahwa orang-orang yang mengajarkan perspktif global harus mendidik para muridnyabahwa Amerika Serikat merupakan pusat dari moral, perekonomian, budaya, kehidupan social, dan kekuatan politik dunia. Perpektif global termasuk relative baru (terutama ditinjau dari segi penamaannya) masih banyak timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah perlu murid sekolah dasar belajar bisa saling berkomukan kota. Sama halnya kehidupan dunia dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan informasi, orang materi ini, apa sajakah isi/materinya, bagaimana relevansinya dengan kehidupan saat ini, terutama di dalam kehidupan sehari-hari, dan sebagainya. Pertanyaan lain yang tidak kalah pentingnya adalah: apakah merupakan suatu program, pandangan/wawasan, ataukah suatu pendekatan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas secara singkat dikatakan bahwa: semua murid termasuk juga umat manusia secara keseluruhan merupakan anggota masyarakat atau warga Negara dunia( kecuali nantinya diketemukan kehidupan lain di luar planet bumi yang dihuni manusia). Pada hakekatnya manusia adalah makhluk individual sekaligus social. Dalam kehidupan social terbukti kehidupannya yang membentuk suatu kelompok dan berinteraksi dengan orang lain, kecuali ada kelainan jiwa. Sedangkan relevansinya kehidupan ini adalah adanya kemajuan teknologi terutama teknologi informasi yang menyebabkan dunia ini mengecil cakupannya seperti sebuah desa dunia. Dalam kehidupan desa biasanya kita lebih mengenal satu sama lain dan interaksinya lebih intensif dibandingkan kota. Sama halnya dengan kehidupan dunia dengan adanya kemajuan teknologi transportasi dan informasi, orang bisa saling berkomunikasi kapanpun dan dimanapun melalui internet, telepon genggam,dan sebagainya. Perspektif global merupakan suatu program, pendekatan, atau pandangan/wawasan, alasan kenapa tidak termasuk dalam kategori program, karena perspektif global bukan merupakan serangkaian tindakan dan tahap-tahap dengan perkiraan hasil secara kuantitatif yang harus dilalui sesuai dengan yang direncanakan, bahwa ilmu social lebih tepat dievaluasi keberhasilan/kemajuannya secara kualitatif. Perspektif global akan tetap diperlukan sepanjang manusia masih tinggal di bumi, menjadi makhluk social, dan ada saling pengaruh antar umat manusia dengan lingkungan alamnya. Perspektif global merupakan pendekatan, karena apabila pendekatan yang diambil secara nasional atau bahkan lokal maka tujuan, esensi dan penerapannya akan berbeda. Pemakaian pendekatan nasional ataupun lokal akan membuat orang mempunyai sifat-sifat ultranasionalis (nasionalisme yangsangat berlebihan), chauvinis (merasa bahwa negaranyalah yang paling penting dan bermoral di dunia), xenophobia (tidak suka pada hal-hal yang berasal dari Negara lain), menjadi egosentris (merasa dirinya yang paling baik dan benar). Perspektif global merupakan pandangan/wawasan karena sesuai dengan istilah perspektif itu sendiri; perspektif global = wawasan yang global bukan nasional ataupun lokal. Sebagai pendekatan dan wawasan maka perspektif global berusaha mendidik murid agar berpikir global tapi bertindak secara lokal dan bukan sebaliknya berpikir lokal bertindak secara global. Charlotte C. Anderson menyatakan bahwa tujuan dari perspektif global untuk mendorong para murid agar mampu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dan informasi tersebt dapat digunakan sebagai pegangan yang menjadikan mereka warga Negara yang produktif dan menjadi insan yang punya rasa kepedulian sosial terhadap orang lain (Anderson, 1994, p.79) a. Perspektif global sebagai bagian dari IPS Ilmu pengetahuan sosial tidak dapat dipisahkan dari hakekat manusia itu sendiri, yaitu bahwa setiap manusia merupakan makhluk individual sekaligus sosial. Sebagai makhluk individual sesorang mempunyai kemampuan untuk memutuskan seuatu, mempunyai keinginan dan sebagainya tanpa campur tangan orang lain, namun demikian ketika dia akan melaksanakan keputusan ataupun mewujudkan keinginannya tersebut akan bersangkutan dengan orang lain. Keterlibatannya ataupun interaksinya dengan orang lain ini yang disebut sebagai kehidupan sosial. Didalam interkasi sosial tersebut akan selalu terjadi apa yang dinamakan kerjasama, saling ketergantungan, saling pengaruh mempengaruhi, persaingan dan bahkan mungkin konflik. Dalam kehidupan sosial yang merupakan kumpulan dari individu-individu akan terbentuk suatu komunitas dari yang terkecil ataupun terdekat hingga yang terbesar/terjauh. Setiap manusia akan menjadi anggota masyarakat dari yang terdekat yaitu keluarga, rukun tetangga, kelurahan, kecamatan, kabupaten/kotamadya, propinsi, negara, sampai yang terjauh masyarakat dunia. Setiap individu akan berpartisipasi secara langsung maupun tidak langsung dalam seluruh tingkatan masyarakat tersebut. Perspektif global akan menekankan keanggotaan setiap manusia sebagai warga negara dunia/global. Partispasi dan pengetahuan / knowledge merupakan 2 hal yang saling berkaitan satu sama lain seperti sekeping mata uang. Pada sisi yang satu berisi partisipasi dan pada sisi lainnya berisi pengetahuan. Orang tidak mungkin berpartispasi berpartisipasinya, tanpa demikian mengetahui juga bagaimana sebaliknya untuk cara apa berpengetahuan kalau tidak berpartisipasi. Partisipasi memerlukan adanya pengetahuan, sehingga di dalam partispasi tersebut akan tercipta tujuan secara harmonis. Pengetahuan akan menyebabkan interaksi sosial seperti kerjasama, saling ketergantungan dan saling pengaruh mempengaruhi berlangsung secara harmonis, sehingga kompetisi ataupun persaingan yang menagarah pada konflik/disharmoni dapat ditekan sampai ke tingkat yang paling rendah. b. Interaksi Global dilihat dari berbagai disiplin Ilmu Pengetahuan Sosial Dilihat dari berbagai macam disiplin yang tercakup dalam IPS, sepert: sejarah, ekonomi, politik, geografi, antroplogi,sosiologi, psikologi sosial, interaksi yang sifatnya global sudah terjadi sejak lama, meskipun intensitasnya tidak sekuat seperti yang terjadi sekarang ini. 1) Sejarah Sejarah mempelajari peristiwa masa lalu, konsep dasar sejarah; waktu, tempat dan peristiwa. Sejarah dilihat dari pengaruh peristiwanya sejarah dapat di bedakan menjadi sejarah lokal, sejarah nasional, sejarah dunia. Sejarah lokal memiliki lingkup dari sejarah desa, sejarah kecamatan, sejarah kabupaten, sampai sejarah propinsi. Sejarah lokal sering disebut sejarah mikro karena ruang lingkup sangat terbatas. Sejarah lokal termasuk materi yang dipelajari di sekolah dasar. Materi sejarah lokal tersebut mengutamakan daerah sekitar sekolah. Dengan sejarah lokal siswa menjadi mengerti mengenal perkembangan sejarah daerahnya sendiri. Sejarah lokal memiliki arti yang sangat penting untuk menghubungkan dengan dengan sejarah nasional. Siswa tidak asing dengan sejarah tempat tinggalnya sendiri. Menurut mendifinisikan Hugiono sejarah dan P.K sebagai Poerwantana berikut sejarah (1987:9) adalah gambaran tentang peristiwa-peristiwa masa lampau yang dialami manusia , disusun secara ilmiah , meliputi urutan waktu , diberi tafsiran dan analisis kritis sehingga mudah dimengerti dan dipahami. Menurut Sartono Krtodirdo (1992:59) secara singkat mengkonsepkan sejarah sebagai bentuk penggambaran pengalaman kolektif pada masa lampau Sejarah merupakan cabang ilmu pengetahuan yang menelaah asal usul , perkembangan serta peranan masyarakat di masa lampau berdasarkan metode dan metodologi tertentu. ada beberapa tujuan pembelajaran sejarah : a) Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat sebagai sebuah proses dari masa lampau, masa kini dan masa depan b) Melatih daya tanggap peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan. c) Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau. d) Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan dating. e) Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan, baik nasional maupun internasional. Dengan belajar sejarah kita akan mengetahui perubahanperubahan yang terjadi dan mampu belajar dari perubahan yang terjadi tersebut, sehingga kita mampu mengantisipasi , mengahadapi dan mengatasinya di masa mendatang. Contoh peristiwa searah : teradinya revolusi industry telah mengubah masyrakat feudal (berdasarkan pada tanah agraris) ke masyarakat industry, sedangkan pada abad sekarang ini yang terjadi revolusi informasi , sehingga Negara-negara ynag menguasai teknologi informasi yang akan berjaya . malaise ekonomi dunia dan sekarang ini juga terjadi krisis ekonomi di asia tenggara . bila keadaan ini tidak segera diatasi akan bisa berpengaruh pada perekonomian dunia. 2) Ekonomi Dilihat dari ekonomi, secara umum manusia ingin memenuhi kebutuhannya secara baik dan tercipta kemakmuran. Menurut ekonomi bahwa: individu sebagai konsumen dan produksen, individu tidak dapat memenuhi kebutuhannnya sendiri. Dalam kenyataan hidup secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga keadaan ekonomi dalam masyarakat; yaitu pertama ”pendapatan naik - kebutuhan turun” (keadaan ini yang paling diharapkan), ”pendapatan turun-kebutuhan tetap” dan ketiga turun dan kedua ”pendapatan kebutuhan naik” (keadaan ini sangat tidak diharapkan). Menurut Brown & Brown (1980:241) mengemukakan bahwa ekonomi dapat didefinisikan sebagai studi tentang cara bagaimana manusia melalui pranata-pranatanya memanfaatkan keterbatasan sumber daya modal, sumber daya alam, dan tenaga kerja. untuk memuaskan kebutuhan materinya. Menurut Earl E.Muntz (Firirchild, H.P dkk :1982:102) ekonomi adalah suatu studi tentang cara bagaimana manusia mengorganisasikan sumber daya alam, kemampuan budaya , dan tenaga kerja yang menopang dan meningkatkan kesejahteraan materialnya. Pada prinsipnya setiap manusia merupakan produsen sekaligus konsumen terhadap barang maupun asa. kebutuhan manusia bersifat tidak terbatas , sementara prasarana dan sarana untuk memenuhi kebutuhan tersebut terbatas. hukum ekonomi mengenal adanya kaitan antara konsumen dan produsen serta penawaran dan permintaan . bila penawaran turun(sedikit) sementara permintaan naik maka harga akan naik. fenomena yang nampak dari hukum ekonomi bahwa, bila permintaan naik sementara penawaran turun(sedikit) maka harga akan turun. Kebutuhan manusia, kebutuhan merupakan sesutau yang diperlukan oleh manusia dlam rangka menaga kelangsungan hidup untuk mencapai kesejahteraan hidup. macam-macam kebutuhan hidup manusia dibedakan sebagai berikut: a) Menurut intensitasnya kegunaan , kebutuhan terdiri atas kebutuhan primer , kebutuhan sekunder, kebutuhan tersier b) Menurut bentuk dan sifatnya, kebutuhan terdiri atas kebutuhan jasmani dan rohani. contoh : untuk memenuhi kebutuhan bahan mentah yang sangat dibutuhkan orang Eropa pada musim dingin, menyebabkan mereka berbondong-bondong berlayar ke Negara-negara lain seperti Indonesia untuk mencari rempah-rempah. untuk memenuhi kebutuhan nya, mereka menadikan wilayah-wilayah yang kaya akan bahan mentah sebagai wilayah aahannya, sehingga teradinya kolonialisme. 3) Sosiologi Manusia merupakan mahkluk sosial, manusia selalu ingin diterima dilingkungannya. Kemjauan iptek pada era globalisasi mengakibatkan hubungan manusia/hubungan sosial kemasyarakatan mengalami perubahan baik secara lambat maupun secara cepat, baik skala besar dalam arti antar negara/bangsa, maupun secara skala kecil dalam arti hubungan antar kelompok dengan kelompok lain atau hubungan individu dengan individu. Perubahan hubungan ini ada yang bersifat positif sesuai dengan harapan sehingga hubungan harmonis, misalnya hubungan antara anggota ASEAN, menjadi lebih baik dan ada perubahan yang negatif misalnya konflik di Maluku, di Timur Tengah dan sebagainya. Dilihat dari sosiologi era globalisasi banyak berpengaruh pada mobilitas sosial secara vertikal maupun mobilitas sosial secara horisontal. Mobilitas vertikal yaitu perpindahan status dari strata yang satu ke strata lainya. Perpindahan status bawah ke strata atas atau sebaliknya dari strata atas kestrata bawah. Sosiologi megajarkan kepada kita bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh kelompok tempat ia terlibat sebagai anggota dan oleh interaksi yang terjadi pada kelompok itu. Jadi kalau saja manusia hidup menyendiri, tidak saling berhubungan satu sama lain, maka tidak aka nada kegitan social yang menjadi sasaran sosiologi. Perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi telah menyebabkan interaksi manusia meluas ke tingkat global secara lebih intensif. Interaksi bisa terjadi secara fisik maupun non-fisik melalui internet. Teknologi computer melalui E-mail (electronic mail) menyebabkan dunia ini tanpa batas (borderless) secara nonfisik. Secara fisik batas-bata wilayah setiap Negara berdasarkan hukum internasional mawsih jelas. Setiap orang yang mampu mengakses teknologi ini bisa berkirim maupun menerima berita dari seluruh dunia membaca koran, majalah, terbitan ilmiah, informasi wisata, dan sebagainya dari seluruh penjuru dunia hanya dengan duduk di depan computer di rumah masing-masing. 4) Antropologi Antropologi adalah ilmu yang mempelajari orang (bentuk khas fisiknya), masyaraat, dan budayanya. Kumpulan orang yang membentuk suatu masyarakat memiliki udaya yang berkembang sejalan dengan invensi (penemuan) yang mereka punyai. Suatu invensi baru perlu diciptakan untuk menggantikan invensi lama, seperti: traktor menggantikan bajak atau mobil/kuda besi Jepang mengganti kuda dan keledai, makanan instan menggantikan nasi dan sebagainya. Salah satu invensi yang perlu dipelajari dalam perspektif global adalah perang, yang teah terjadi sejak lama dan teah meminta korban jiwa maupun materi yang tidak sedikit. Salah satu usaha yang ditempuh umat manusia di dunia ini dalam menghindarkan perang adalah melalui pembentukan kerja sama, apakah itu politik , ekonomi dan sebagainya. Salah satu kerjasama dunia yang akan menjadi topic adalah Persatuan Bangsa-Bangsa. Perang dianggap sebagai invensi, karena ada suku I dunia ini yang tidak mengenal perang, yaitu suku Lepchas dari Sikkim yang dlukiskan oleh Geoffrey Gover dalam Himalayan Village. Fakta ternyata menunjukkan bawa setiap orang dari suku apapun menginginkan adanya perdamaian (peace). Ini terbukti dari adanya konsep perdamaian dalam banyak bahasa. Hal ini mecerminkan kerinduan sebagian besar umat manusia akan keadaan damai. Istilah damai dalam bahasa Perancis paix, bahasa Jerman Friede, bahasa Spanyol adalah paz, bahasa Swedia adalah Fred, dan sebagainya (lihat lampiran 1). Setiap bahasa daerah yang ada di Nusantara pun mengenal istilah aman dan damai. 5) Geografi Dilihat dari aspek geografi banyak peristiwa alam yang terjadi pada era globalisasi, misalnya perubahan iklim, pemanasan global, gempa bumi, tsunami dan mobilitas penduduk. Pembangunan industri secara besar-besaran banyak mempengaruhi perubahan iklim. Menurut pembagaian iklim matahari, bulatan bumi kita dibagi menjadi iklim tropis, sub tropis, sedang dan dingin. Pembagaian iklim matahari didasarkan pada sinar matahari yang diterima di permukaan bumi kita. Berdasarkan pembagaian iklim matahari maka negara yang ada dipermukaan bumi kita dikelompokan menjadi negara yang beriklim tropis, negara yang beriklim sub tropis, negara beriklim sedang dan negara beriklim dingin. Sebelum era globalisasi dapat dikatakan keadaan iklim disetiap negara akan sama dari waktu kewaktu sesuai dengan ciri khas yang sama, artinya iklim tersebut dapat di perkirakan secara tepat, sedikit sekali terjadi perubahan iklim. Namun setelah banyak industri besar yang dibangun terjadilah pemanasan bumi yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. Keadaan yang langsung dapat dirasakan antara lain terjadi perubahan iklim secara besar-besaran. Contoh di Indonesia yang termasuk negara tropis, terjadi perubahan iklim yang sangat besar, pergantian musim kemarau dan musim penghujan tidak jelas. Bulan April sampai Oktober biasa disebut musim kemarau sekarang menjadi musim penghujan, sama dengan musim penghujan bulan Oktober-April. Perubahan iklim yang terjadi pada era globalisasi ditandai dengan adanya perubahan cuaca yang sangat ekstrim, sehingga menimbulkan masalah bagi industri pertanian pangan dan perkebunan, hujan terlalu deras sehingga menimbulkan bahaya banjir dan tanah longsor, adanya angin puting beliung yang berbahaya bagi kehidupan manusia, perubahan mengakibatkan gelombang laut yang besar dan nelayan mencari ikan serta mengganggu palayaran. iklim juga mengganggu C. Pokok-Pokok Pemikiran Perspektif Global Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang memiliki peran penting dalam membentuk dan mengembangkan kemampuan individu dalam bertingkah laku sesuai dengan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Adanya pendidikan perspektif global dalam lembaga pendidikan berperan sebagai: 1. Mempermudah siswa dalam melakukan hubungan interaksi dengan kebudayaan asing. Misalnya adanya kegiatan Olimpiade Internasional untuk tingkat SD. Kegiatan Olimpiade tersebut dilakukan oleh dua orang siswa SD sebagai perwakilan dari Indonesia. Mereka membuat dan mempresentasikan hasil percobaannya dalam membuat kulkas tanpa listrik yang dipresentasikan di salah satu negara kawasan Asia Timur. 2. Mengajarkan siswa agar mampu menjaga dan mengolah sumber daya alam yang terkandung di dalam negaranya. Misalnya, siswa yang bertempat tinggal di daerah perairan mampu menjaga dan mengolah hasil sumber daya alam bahan mentah menjadi bahan siap pakai dengan menggunakan alat teknologi modern. Siswa yang tinggal di daerah pegunungan mampu menjaga dan mengolah hasil sumber daya alam berupa sayuran maupun buah-buahan organik yang dapat diperdagangkan di kota dengan menggunakan alat transportasi modern. 3. National Council for the Social Studies (NCSS) pada tahun 1982 menunjukkan arti pentingnya perspektif global diajarkan di sekolahsekolah: a. Sekarang kita hidup dalam masa terjadinya peningkatan globalisasi yang ditandai dengan fenomena hampir semua orang berinteraksi secara transnasional (tidak hanya terbatas dalam negaranya saja), multi cultural (dalam berbagai macam budaya) dan cross-cultural (berinteraksi dengan budaya lain selain yang dimilikinya). b. Aktor-aktor yang berinteraksi dalam tingkat dunia tidak hanya terbatas pada aktor-aktor negara saja, namun juga melibatkan perseorangan, kelompok-kelompok lokal, organisasi-organisasi yang bergerak dalam bidang teknologi dan ilmu, perdagangan, perusahaan multi nasional, serta organisasi regional. Mereka ini semakin aktif berinteraksi dan mampu mempengaruhi peristiwa-peristiwa lokal maupun global. c. Kehidupan umat manusia tergantung pada suatu lingkungan fisik dunia yang ditandai dengan terbatasnya sumber-sumber alam. Ekosistem dunia akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh umat manusia. d. Ada keterkaitan antara apa yang dilakukan manusia di bidang sosial, politik, ekonomi, teknologi, pada masa kini dengan masa depan umat manusia yang hidup di bumi ini beserta lingkungan fisiknya di masa yang akan datang. e. Terjadinya globalisasi yang melibatkan hampir seluruh umat manusia ini menyebabkan masing-masing individu dan seluruh masyarakat berkesempatan dan bertanggung jawab untuk berperan serta dalam meningkatkan lingkungan fisik maupun sosial dunia. D. Dimensi Perspektif Global Pendidikan merupakan salah satu cara untuk menghantarkan individu untuk mengenal isu-isu global. Mengajarkan individu agar mampu menghadapi dampak globalisasi tersebut.Di era yang serba modern ini, kita harus mampu hidup tanpa sekat pembatas antara satu individu dengan indvidu lain, namun kita harus mampu menyeleksi atau menyaring pengaruh buruk yang merugikan diri sendiri. Menurut Robert Hanvey dalam Retnaningsih (1999:16) menyebutkan lima dimensi dari perspektif global antara lain yaitu: 1. Perspective conciousness Kesadaran dan penghargaan terhadap adanya berbagai macam pendapat yang berbeda-beda di dunia. 2. State of planet awareness Adanya pengertian yang mendalam terhadap isu-isu dan peristiwaperistiwa global. 3. Cross-cultural awareness Adanya kesepakatan yang bisa diterima secara umum dalam membuat karakteristik budaya-budaya yang ada di dunia ini, yaitu bahwa sekalipun ada perbedaan-perbedaan dalam budaya, namun ada banyak kesamaan yang dimiliki. 4. Systemic awareness Tahu akan sistem-sistem yang ada berikut alam ini, sehingga mulai mengenal akan kompleksnya sistem internasional di mana aktor-aktor negara dan aktor-aktor non negara saling pengaruh mempengaruhi dalam berbagai macam isu yang terjadi di kawasan-kawasan yang ada di dunia ini. 5. Options for partipation Mengetahui strategi-strategi yang tepat sehingga mampu berpartisipasi dengan baik dalam menghadapi isu-isu yang terjadi dari tingkat lokal, nasional hingga internasional. Selain itu, Makagiansar dalam Sumaatmadja (2009: 1.19-1.20) mengajukan empat dimensi perspektif global yakni: 1. Afirmasi atau penegasan dari dimensi budaya dalam proses pembangunan bangsa dan masyarakat. Pembangunan akan hampa jika tidak diilhamii oleh kebudayaan bangsanya. Nilai budaya suatu bangsa menjadi landasan bagi pembangunan suatu negara serta merupakan alat seleksi bagi pengaruh luar yang sudah tidak terkendali lagi. 2. Mereafirmasi dan mengembangkan identitas budaya dan setiap kelompok manusia berhak diakui identitas budayanya. 3. Partisipasi, bahwa dalam pengembangan suatu bangsa dan negara partisipasi dari masyarakat sangat diperlukan. Partisipasi rakyat ini bukan hanya dari sekelompok atau beberapa kelompok masyarakat saja, akan tetapi dari seluruh masyarakat bangsa ini. 4. Memajukan kerja sama budaya antarbangsa. Ini dimaksudkan agar adanya saling mengisi, saling mengilhami sehingga adanya kemajuan dan peningkatan antar budaya bangsa. E. Tujuan Pendidikan Perspektif Global Perspektif global bertitik tolak dari masalah kehidupa sehari-hari yang memiliki dampak besar terhadap masalah global. Perkembangan ilmu pengetahuan tidak dapat dibatasi pada masalah lokal maupun nasional saja.Selain itu, teknologi informasi sudah berkembang pesat dan mampu mengakses segala permasalahan secara global.Oleh karena itu, kita harus mampu memahami dunia ini. Marryfield dalam Sumaatmadja (2009: 1.18) menyatakan tiga tujuan diberikannya pendidikan perspektif global: 1. Mendorong mahasiswa untuk mempelajari lebih banyak tentang materi dan masalah yang berkaitan dengan masalah global. 2. Mendorong para guru untuk mempelajari masalah yang berkaitan dengan masalah lintas budaya. 3. Mengembangkan dan memahami makna perspektif global baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pengembangan profesinya. Selain itu, menurut Lee Anderson dan Charlotte Anderson dalam Retnaningsih (1999: 19), ada 5 tujuan pokok dari perspektif global di sekolahsekolah yaitu: 1. Mengembangkan pengertian keberadaan mereka sebagai individu-individu yang membentuk masyarakat. 2. Mengembangkan pengertian bahwa mereka merupakan anggota dari masyarakat manusia. 3. Mengembangkan pengertian bahwa mereka adalah penghuni planet bumi ini dan kehidupannya tergantung pada planet bumi ini. 4. Murid harus diberi pengertian bahwa mereka adalah partisipan atau pelaku aktif dalam masyarakat global ini. 5. Mendidik murid agar mempunyai kemampuan untuk hidup secara bijaksana dan bertanggung jawab sebagai individu, sebagai umat manusia, sebagai insan penghuni planet bumi ini serta sebagai anggota masyarakat global. Berdasarkan tujuan tersebut, maka peran kita sebagai guru adalah: 1. Memberikan bekal pengetahuan kepada siswa tentang pentingnya pengetahuan global dalam memahami masalah-masalah dunia. 2. Meningkatkan kesadaran dan wawasan anak didik sebagai landasan dalam melakukan tindakan yang berdampak global. 3. Memberikan contoh dan teladan dalam aktivitas sehari-hari, yang mempunyai pengaruh terhadap masalah global. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut Merryfield dalam Umi (1999:18) dalam artikelnya yang berjudul “Institutuinalizing Cross-cultural Experiences and International Expertise in Teacher Educational: the Development and Potential of a Global Education PDS Network” (1995) menyimpulkan konsep-konsep dari perspektif global yaitu bahwa para guru perlu mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk mengajarkan kepada muridnya yaitu: 1. Penghargaan terhadap adanya perbedaan-perbedaan dan persamaan budaya, untuk itu para guru perlu mengajarkan berbagai macam perspektif yang dimiliki orang lain ataupun masyarakat lain dan mereka perlu juga mempunyai kesadaran untuk bertoleransi terhadap perspektif yang dimiliki orang lain. 2. Dunia ini merupakan sebuah sistem sehingga di dalamnya terjadi saling ketergantungan dan saling berkaitan. 3. Keputusan-keputusan dan tindakan yang diambil oleh seseorang akan dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh interaksi global. Lee Anderson dan Charlotte Anderson (1979) menyatakan bahwa untuk mempersiapkan murid agar menjadi warga negara yang baik harus dimulai dari berbagai macam kelompok yang melibatkannya, dari terdekat hingga yang terjauh, yaitu dari masyarakat lokal, bangsa, hingga global. Ada lima tujuan pokok dari perspektif global: a. Mengembangkan pengertian keberadaan mereka sebagi individu- individu yang membentuk masyarakat. b. Mengembangkan pengertian bahwa mereka merupakan anggota dari masyarakat manusia. c. Mengembangkan pengertian bahwa mereka adalah penghuni planet bumi ini dan kehidupannya tergantung pada planet bumi tersebut. d. Murid harus diberi pengertian bahwa mereka adalah partisipan pelaku aktif dalam masyarakat global ini. e. Mendidik murid agar mempunyai kemampuan untuk hidup secara bijaksana dan bertanggungjawab sebagai individu, sebagai umat manusia, sebagai insan penghuni planet bumi ini serta sebagai anggota masyarakat global. Dari beberapa tujuan yang telah dipaparkansebelumnya. Perspektif global juga memiliki beberapa manfaat untuk dipelajari oleh siswa, yaitu: 1. Meningkatkan wawasan dan kesadaran para guru dan bahkan peserta didik bahwa kita bukan hanya penghuni dari satu kampung, provinsi, negara, akan tetapi penduduk dari satu dunia yang mempunyai ketergantungan satu sama lain. Oleh karena itu, dalam bersikap dan bertindak harus mencerminkan sebagai warga negara. 2. Menambah dan memperluas pengetahuan kita tentang dunia, sehingga kita dapat mengikuti perkembangan dunia dalam berbagai aspek, terutama dalam perkembangan IPTEK. 3. Mengondisikan para peserta didik untuk berpikir secara keselurahan bukan hanya umumnya saja, sehingga suatu gejala atau masalah dapat ditanggulangi dari berbagai aspek. 4. Melatih kepekaan dan kepeduliaan peserta didik terhadap perkembangan dunia dengan segala aspeknya F. Pentingnya Kesadaran dalam Perspektif Global Fokus dari perspektif global adalah berkaitan dengan masalah-masalah global. Masalah-masalah global tersebut diperlukan pemahaman dari setiap individu dalam rangka pengakuan bahwa setiap individu bukan semata-mata warga dari suatu negara tapi juga warga dunia yang saling berketergantungan antara orang lain dan bangsa lain, serta terhadap alam sekitar baik secara lokal, nasional dan global. Kesadaran dalam diri itu muncul dari suatu pengakuan bahwa masalah global itu penting untuk dipelajari, dipahami dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Dalam kehidupan global yang pertama kali harus disadari bahwa manusia merupakan warga global, sebagai penduduk dunia yang memiliki hak dan kewajiban tertentu.Hak merupakan inti dari kehidupan warga dunia.Sedangkan kewajiban merupakan panggilan atau tanggung jawab atau tugas kita sebagai warga dunia. Selain itu perlu kita sadari bahwa di dunia ini tidak hanya ada kita, akan tetapi ada orang lain yang bermukim di seluruh belahan dunia. Oleh karena itu, kita harus banyak mempelajari tentang dunia dan seisinya. Kunci pokok dari perspektif global adalah menghormati orang lain. Oleh karena itu, informasi, komunikasi terbuka dan mau mendengar merupakan keterampilan dasar bagi warga negara untuk memahami dunia.Kesadaran tentang terjadinya globalisasi adalah sikap/menerima suatu kenyataan bahwa dunia ini semakin menyempit dengan adanya IPTEK. Suatu peristiwa yang terjadi di satu belahan dunia akan dengan cepat diketahui di belahan dunia lainnya. Sikap dalam menghadapi globalisasi ini adalah bukan melawan arus globalisasi akan tetapi kita harus dapat memilah dan memilih pengaruh globalisasi itu sendiri. Kita memerlukan kesadaran yang tinggi serta wawasan yang luas agar dapat memilih dan memilah informasi atau nilai mana yang diperlukan dan mana yang tidak, mana yang sesuai dengan nilai budaya kita dan mana yang tidak. Namun dalam pelaksanaan mempelajari perspektif global guru akan dihadapkan dengan berbagai masalah. Masalah tersebut antara lain: 1. Menurut kurikulum sekolah tahun 1994, dalam pelajaran IPS materinya belum sampai untuk membahas masalah dunia, akan tetapi masih terbatas kepada tingkat kecamatan, kabupaten dan provinsi. Untuk masalah negara Indonesia juga belum banyak dibahas. Ini tentu akan menyulitkan guru untuk membicarakan dunia dengan para siswa. Untuk mengatasinya para guru dapat memulainya dari hal yang ada di lingkungan siswa. 2. Masalah global adalah masalah integral, yaitu suatu permasalahan dapat dilihat dari berbagai bidang ilmu. Sementara itu, dalam mata pelajaran IPS di SD masih menitikberatkan pada materi bidang studi misalnya sejarah dan geografi 3. Mata kuliah perpsektif global masih sangat baru, oleh karena itu, para guru belum memiliki pengalaman yang cukup untuk mengajar materi yang berkaitan dengan masalah global di SD 4. Buku sumber untuk pelajaran yang bersifat global di SD masih sangat kurang. Oleh karena itu, diperlukan kreativitas yang tinggi dari guru untuk memunculkan masalah global dalam pengajaran IPS. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memperkaya diri dengan sumber lain di luar buku paket yang dianjurkan oleh Depdikbud. G. Urgensi Pendidikan Berperspektif Global Di Indonesia perubahan-perubahan berskala besar yang terjadi di negara lain dapat direspon secara cepat. Namun di negara Indonesia perubahan tersebut direspon secara lambat yang mengakibatkan banyaknya perubahan yang menumpuk dalam waktu yang terlalu singkat. Hal tersebut dikuatkan dengan pendapat dari Suyomukti (2008:41) dimana pendidikan di Indonesia tertinggal jauh dengan negara-negara besar namun juga negara yang sedang berkembang seperti Malaysia, Vietnam, dan India yang beberapa tahun lalu kualitasnya dibawah Indonesia. Tetapi sampai kapanpun pendidikan sebagai suatu upaya menghadapkan manusia pada realitas yang terus saja berubah saat ini sangat diharapkan perannya untuk mampu mengikuti arus zaman, bukan berarti mengurangi ruang gerak manusia dalam melakukan aktivitas kehidupan melainkan untuk menemukan kehidupan yang layak sesuai dengan pencapaian tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan merupakan cara untuk menciptakan manusia yang berkualitas. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang menggunakan potensi fisik dan pikiran untuk merespon lingkungan sosial dan pengetahuan yang didapatnya.Tujuan pendidikan perspektif global adalah untuk menyeimbangkan pengetahuan dengan perubahan yang terjadi dilingkungan sosialnya.Artinya, antara pendidikan perspektif global dengan perubahan lingkungan baik pada aspek sosial, ekonomi, politik dll tidak hanya bersifat satu arah namun saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya.Kondisi tersebut dapat menciptakan pembangunan kualitas manusia. Tugas pendidikan adalah membawa manusia untuk mengembangkan kemampuannya dalam menghadapi pertentangan arus zaman yang selalu berubah.Syarat yang dimiliki guru dalam mengembangkan pendidikan yang berperspektif global menurut Merry Field dalam Suyomukti (2008:53) adalah: 1. Kemampuan konseptual Dimana guru harus memiliki wawasan tentang isu, dinamika, sejarah dan nilai-nilai global agar guru memiliki keterampilan, mengapresiasi keberagaman budaya dan aspek lainnya dalam masyarakat dunia yang nantinya dapat disampaikan pada peserta didik dengan baik. Cara penyampaian kepada peserta didik dapat dengan cara mengaitkan isuisu apapun dengan matapelajaran yang sesuai dengan isu. 2. Pengalaman lintas budaya Seorang guru harus memiliki kesadaran multi budaya yang akan mudah terbentuk apabila orang secara langsung pernah mengalami berinteraksi dengan berbagai macam etnik, ras, agama dan adat istiadat yang berbeda-beda. Dimana ketidaktahuan akan menimbulkan prasangka, sedangkan jika mengalaminya secara langsung akan menimbulkan adaptasi dari interaksi yang telah berlangsung. 3. Keterampilan pedagogis Keterampilan pedagogis menyangkut metode mengajar yang diterapkan oleh guru agar peserta didik dapat memahami suatu masalah dalam konteks yang luas.Selain itu, materi dan konsep permasalahan harus disampaikan kepada peserta didik secara mudah dipahami untuk memunculkan pembelajaran. motivasi peserta didik untuk mendalami materi Dari tujuan pendidikan, tugas pendidikan dan syarat yang dimiliki guru di atas dapat disimpulkan pendidikan adalah aspek utama dan paling penting dalam membimbing peserta didik untuk menciptakan pembangunan kualitas manusia yang sanggup menghadapi isu-isu global dimana peran guru saat membantu dalam proses pembelajarannya. Sebagai penunjang kegiatan pembelajaran dapat menggunakan buku-buku pelajaran dan teks bacaan yang tidak hanya mengacu pada aspek pengetahuan namun juga harus memuat materi-materi yang berkaitan dengan isu global.Misalnya kasus atau peristiwa yang sedang terjadi di dunia. Contoh Proses Pembelajaran untuk Murid Sekolah Dasar Tema : Globalisasi Jenis Kegiatan : Diskusi dan Penugasan Proyek Tujuan Kegiatan : 1. Mengidentifikasi pengertian globalisasi. 2. Menjelaskan pengaruh globalisasi dalam berbagai aspek kehidupan. 3. Menunjukkan dampak negatif dan positif dari globalisasi. 4. Mempertentangkan dampak globalisasi bagi kehidupan. 5. Menciptakan perilaku yang sesuai dengan nilai, norma, dan moral dalam menghadapi perkembangan globalisasi. 6. Menyimpulkan manfaat dan dampak globalisasi. 7. Mendiskusikan masalah-masalah globalisasi. 8. Mendemonstrasikan salah satu penggunaan alat teknologi sebagai dampak dari proses globalisasi. Persiapan Kegiatan: 1. Bahan-bahan yang diperlukan: a. Gambar mengenai dampak globalisasi b. Gunting c. Lem d. Kertas HVS e. Kertas buffalo sebagai alas hasil potongan kertas f. Berita mengenai globalisasi Langkah Kegiatan: 1. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5 siswa 2. Siswa diberikan permasalahan dari berita mengenai dampak globalisasi. 3. Guru meminta siswa untuk melakukn diskusi tentang teks berita yang diberikan. 4. Siswa diminta untuk menyebutkan informasi yang terdapat dalam teks berita tersebut. 5. Siswa diminta untuk menuliskan dampak-dampak globalisasi baik dampak positif maupun negatif. 6. Siswa diminta untuk membuat solusi dari dampak globalisasi. 7. Siswa dapat menanamkan nilai, norma, dan moral dalam menyikapi adanya arus globalisasi 8. Siswa diminta untuk mendemontrasikan salah satu contoh penggunaan alat teknologi sebagai dampak globalisasi 9. Guru memberikan gambar dampak-dampak globalisasi kepada siswa untuk digunting dan ditempelkan berdasarkan aspek kehidupannya. 10. Siswa menunjukkan hasil karya yag telah dibuatnya. 11. Siswa menjelaskan hasil karyanya di depan kelas. Evaluasi 1. Guru menilai keaktifan siswa saat berdiskusi dengan kelompoknya 2. Guru menilai kerjasama siswa, apakah mereka dapat bekerja sama secara kompak dengan sesama anggota kelompoknya dan kelompok lain. 3. Guru dapat menilai kedisiplinan siswa dalam menaati peraturan yang telah disepakati bersama sebelum kegiatan diskusi berlangsung. 4. Guru dapat menilai hasil diskusinya dalam membuat solusi yang dapat digunakan dalam menghadapi dampak globalisasi. 5. Guru dapat menilai kejelasan kalimat tanpa ada penggalan kata saat manampilkan hasil diskusi di depan kelas 6. Guru dapat menilai sikap sempurna saat siswa membacakan hasil diskusi di depan kelas 7. Guru dapat menilai keterampilan siswa dalam mendemontrasikan salah satu contoh penggunaan teknologi sebagai dampak globalisasi. Daftar Rujukan Fakih Samlawi, Bunyamin Maftuh. 1998/1999. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Departemen pendidian dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Bagian Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Primary School Teacher Developmen Project) IBRD: Loan 3496-IND. Kniep, Willard M. (1986) Defining A Global Education By Its Content. Social Education. NCSS Retnaningsih, Umi Oktyari. 1999. Perspektif Global. Pekanbaru: Depdikbud Dirjen Dikti Soyomukti, Nurani. 2008. Pendidikan Berperspektf Globalisasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Sriartha, dkk. 2004. Perspektif Global. Tidak diterbitkan: Singaraja Sumaatmadja, Nursid dan Kuwaya Wirhadit. 2009. Perspektif Global. Jakarta: Universitas Terbuka Tri Widiarto, Suwarso. 2007.Perspektif Global. Sakatiga. Anonym, http://tiyaimoet.blog.friendster.com/2010/03/perspektif-global/. Diakses pada tanggal 24 November 2015

Judul: Perspektif Global Dan Ilmu Pengetahuan

Oleh: Ragil Sanawi

Ikuti kami