Peminatan Broadcasting And New Media Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Pol...

Oleh Ananda Alfathan

536,5 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Peminatan Broadcasting And New Media Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta

UJIAN AKHIR SEMESTER MATA KULIAH ETIKA REGULASI PERAN MEDIA SWASTA SEBAGAI PENYIAR PROGRAM ANIMASI ANAK LOKAL ANANDA ALFATHAN 0802515018 BC 16 A PEMINATAN BROADCASTING AND NEW MEDIA PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA JAKARTA PERAN MEDIA SWASTA SEBAGAI PENYIAR PROGRAM ANIMASI ANAK LOKAL Penyiaran adalah keseluruhan proses penyampaian siaran yang di mulai dari penyiapan materi produksi, produksi, penyiapan bahan siaran kemudian pemancaran sampai kepada penerimaan siaran tersebut oleh pendengar/pemirsa (audiens) di satu tempat.1 Penyiaran bersifat tersebar ke semua arah (board) yang dikenal sebagai omnidirectional. Dari definisi sifat penyiaran bisa diketahui bahwa semua sistem penyiaran yang alat penerima siarannya harus dilengkapi dengan satu unit decoder, adalah kurang sejalan dengan definisi broadcasting. Oleh karna itu, pada nama sistemnya harus ditambahkan kata “terbatas”, sehingga menjadi sistem penyiaran terbatas.2 Secara Yuridis, fungsi penyiaran sebagai kegiatan komunkasi massa memiliki fungsi sebagai media informasi, media pendidikan, media hiburan yang sehat, kontrol, dan perekat sosial. Fungsi diatas masih ditambah dengan fungsi ekonomi dan budaya.3 Media penyiaran sendiri terdiri dari beberapa jenis :4 a. Radio Digital Radio merupakan media audio yang dekat dengan masyarakat. Awalnya, teknologi yang digunakan adalah Analog. Kini, radio telah maenggunakan media digital juga digunakan oleh radio. Jika dibandingkan dengan radio analog, kini radio digital memiliki kualitas suara yang lebih jernih. b. Televisi Digital Televisi merupakan media yang akrab di Indonesia. Televisi telah hadir di Indonesia sejak tahun 1960-an yaitu dengan hadirnya Televisi Republik Indonesia (TVRI). Perkembangan selanjutnya, disusul dengan munculnya beberapa televisi swasta. Tercatat hingga 2011 lalu terdapat 10 televisi swasta nasional. c. Musik dan Film Digital Musik digital mulai berkembang sejak tahun 1990-an. Awalnya music dikemas dengan format piringan hitam yang diputar menggunakan phonograph pada tahun 1880-an. Dan format tersebut berkembang hingga akhirnya muncul layanan music online Internasional yang terdapat pada situs iTunes dan Amazon. Tidak hanya music, film juga mengalami perkembangan menuju digital. Pada tahun 2010 terdapat 100 film dalam setahun. Namun, perkembanganteknologi digital yang merevolusi teknologi pembuatan film yang akhirnya juga diAdopsi di Indonesia, meskipun masih terbatas. Tujuan penyiaran yaitu untuk memperkokoh Integrasi Nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, membangun masyarakat mandiri, demokratis, adil dan 1 Hidajanto Djamal, dan Andi Fachruddin. 2017. Dasar-dasar Penyiaran: Sejarah, Organisasi, Operasional, dan Regulasi. Edisi 2. Jakarta: Kencana. Hlm.237. 2 Ibid. hlm 43. 3 Redi Panuju. 2017. Sistem Penyiaran Indonesia: Sebuah Kajian Strukturalisme Fungsional. Edisi 1. Jakarta: Kencana. Hlm 184. 4 Hermin Indah Wahyuni. 2018. Kebijakan Media Baru Di Indonesia (Harapan, Dinamika dan Capaian Kebijakan Baru Di Indonesia). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hlm 104. sejahtera, serta menumbuhkan industry penyiaran Indonesia.5 Berikut merupakan 4 jenis lembaga penyiaran, yaitu :6 a. Lembaga Penyiaran Publik (LPP) adalah lembaga penyiaran yang dimiliki negara dalam pengartian publik, dan bukan dimiliki dan diatur pemerintah. LPP ini adalah RRI (Radio Republik Indonesia) dan TVRI ( Televisi Republik Indonesia) yang stasiun pusat penyiarannya berada di Jakarta. b. Lembaga Penyiaran Komunitas (LPK) adalah lembaga penyiaran yang ditujukan untuk komunitas tertentu dengandaya jangkau siaran terbatas. Lembaga penyiaran ini juga bersifat nonkomersial, sama sekali tidak boleh menerima pemasukan lewat iklan. c. Lembaga Penyiaran Berlangganan (LPB) Lembaga penyiaran ini memancarluaskan atau menyalurkan materi siarannyya secara khusus pada pelanggan, LPB ini terdiri dari LPB melalui satelit, melalui kabel dan melalui terrestrial. d. Lemabaga Penyiaran Swasta (LPS) Lembaga penyiaran ini adalah lembaga penyiaran yang banyak mendapat sorotan akhir-akhir ini, lembaga ini bersifat komersial dan menggantungkan hidupnya dari pemasukan iklan. Namun, sebagai institusi yang menggunakan ranah publik, ia terikat dengan ketentuanketentuan di dalam peraturan perundang-undangan di bidang penyiaran. Lembaga Penyiaran Swasta dalam undang-undang merupakan lebaga penyiaran yang bersifat komersial berbentuk badan hukum Indonesia, yang bidang usahanya hanya menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau televisi. Warga negara asing juga tidak diperbolehkan menjadi pengurus, kecuali untuk bidang keuangan dan teknik.7 Salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh TV Swasta adalah mematuhi P3SPS salah satunya yaitu mengenai tayangan untuk anak yang terdapat pada P3SPS Pasal 35 ayat 1 sampai 4 Bab 17 tentang penggolongan program siaran yang berbunyi :8 1. Program siaran klasifikasi P adalah program siaran yang khusus dibuat dan ditujukan untuk anak usia pra-sekolah yang mengandung muatan, gaya penceritaan, dan tampilan sesuai dengan perkembangan jiwa anak usia prasekolah. 2. Program siaran klasifikasi P berisikan hiburan dan pendidikan yang memiliki muatan dan nilai-nilai pendidikan, nilai-nilai sosial dan budaya, serta budi pekerti yang kuat. 3. Program siaran klasifikasi P ditayangkan antara pukul 07.00 hingga pukul 09.00 dan antara pukul 15.00 hingga pukul 18.00. 4. Program siaran klasifikasi P dilarang menampilkan: a. adegan kekerasan dan/atau berbahaya; b. adegan seksual sebagaimana dimaksudkan pada Pasal 18. 5 Abdullah Idi. 2015. Dinamika Sosiologis Indonesia: Agama dan Pendidikan DalamPerubahan Sosial. Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara. Hlm 244. 6 Diyah Hayu Rahmitasari. 2017. Manajemen Media Di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia 7 Undang-Undang No.32 Tahun 2005. Tentang Penyiaran. BAB III. Pasal 16. 8 P3SPS. 2012. Pasal 35, ayat 1-4. Bab 17. c. Adegan dan muatan yang terkait dengan kekuatan paranormal, klenik, praktek spiritual magis, horor, dan/atau mistik; d. muatan yang mendorong anak belajar tentang perilaku yang tidak pantas dan/atau membenarkan perilaku yang tidak pantas tersebut sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari; e. materi yang mengganggu perkembangan kesehatan fisik dan psikis anak usia pra-sekolah, seperti: perceraian, perselingkuhan, bunuh diri, pemerkosaan, rokok, minuman beralkohol, dan/atau penggunaan NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif); Berdasarkan Pasal diatas, stasiun Televisi Swasta berkewajiban untuk menayangkan Program Siaran bersegmentasi anak-anak. Program tersebut bisa berupa Talkshow, ataupun Animasi anak. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berpendapat Penyiaran Televisi di Indonesia, minim akan tayangan program berkualitas untuk anak, Seperti program anak lokal.9 Di Negara Malaysia terdapat program Upin Ipin yang di buat oleh LES’ COPAQUE yang telah ditayangkan di beberapa TV Malaysia, seperti TV9 dan Astro Ceria. LES’ COPAQUES berdiri pada Desember tahun 2005, dengan spesialisasi untuk memproduksi animasi 3D berkualitas tinggi, dengan gaya local yang memiliki daya Tarik global.10 Gambar 1 Gambar serial kartun Upin Ipin Sumber : Les’Copaques Production. 2017. Diakses dari: https://lescopaque.com/v11/about/ 9 Tirto.id. 2017. KPI nilai televise Indonesia minim acara anak-anak. Diakses dari: https://tirto.id/kpi-nilai-televisiindonesia-minim-acara-anak-anak-ctZW 10 Les’Copaques Production. 2017. Diakses dari: https://lescopaque.com/v11/about/ Gambar 2 Gambar Logo Les’ Copaque Les’Copaques Production. 2017. Diakses dari: https://lescopaque.com/v11/about/ Ketika perusahaan pertama kali di dirikan, Direktur pelaksana Haji Burhanuddin dan istrinya Hajah Ainon menargetkan untuk membuat cerita sederhana yang akan berhubungan dengan siapapun tanpa memandang usia dan latar belakang mereka. Departemen animasi, di sisi lain sangat bersemangat untuk memamerkan keterampilan teknis mereka. Setelah melakukan diskusi selama berbulan bulan, mereka mencapai kesepakatan untuk menghasilkan kisah petualangan dengan latar belakang ‘kampong’ Malaysia. Di Indonesia terdapat juga beberapa animasi serupa layaknya animasi Upin & Ipin yang diciptakan oleh Les’Copaque Production yaitu, Adit dan Sopo Jarwo yang di ciptakan oleh MD Animation dan dirilis pada 27 Januari 2014 di Indonesia dan disiarkan di MNC TV. Sebenarnya di Indonesia mempunyai beberapa kreator animasi terkenal selain Animasi Adit dan Sopo Jarwo yaitu Nusa dan Rara kreasi dari The Little Giantz dan 4 Stripe. Gambar 3 Gambar Animasi Adit & Sopo Jarwo Sumber : https://www.antaranews.com/berita/511713/melongok-ke-dapur-adit-sopo-jarwo Gambar 4 Gambar Animasi Nussa dan Rara Sumber: Youtube.com / Nussa official The Litte Giantz (TLG) adalah suatu rumah produksi yang dibentuk di Jakarta oleh sekelompok International Industry CG Specialist. Seperti dilansir dalam website resmi milik TLG, mereka menyediakan fasilitas dan staf yang memenuhi strandar internasional mengenai permintaan dalam komunikasi, manajemen project, dan sebagainya.11 TLG tidak sendirian untuk memproduksi seri edukasi Nussa yaitu bekerjasama dengan 4 Stripe Production yang lalu keduanya menghasilkan karya luar biasa. Sebelum mengeluarkan karya animasi edukasi ini keduanya melakukan riset mendalam untuk mencapai keberhasilan. Tidak hanya seri animasi biasa melainkan keduanya berhasil memperoduksi suatu edukasi bermoral untuk anak anak. Kesimpulan : Menurut pandangan penulis, sejauh ini Televisi Swasta di Indonesia masih kurang memperhatikan tayangan tayangan hiburan dan edukasi yang layak ditonton untuk anak yang masih dibawah umur, tetapi perkembangan Industri kreatif untuk bidang animasi di Indonesia sudah semakin meluas. Menurut penulis terdapat satu kesalahan kondisi dimana belum terstrukturnya industri karna tidak ada dukungan dari para pemangku kepentingan pada film animasi nasional, juga murahnya harga beli film/serial Animasi oleh sebuah stasiun Televisi Indonesia. Berbeda dengan negara Jepang atau Malaysia yang para animatornya dihargai sangat mahal. Ya, menurut penulis masih sangat jauh rasanya Animator Indonesia agar bisa menyusul Animator-Animator di negara lain khususnya Jepang dalam bidang Industri Animasi. Kalau saja pemerintah bisa lebih menghargai pekerjaan di dalam bidang Industri Animasi dan bisa memberikan wadah berupa teknologi Design Animasi yang canggih dan terbaru, bukan suatu kemustahilan untuk jika nanti Animator Negara kita dapat menyaingi karya Animasi Animasi keren yang sudah beredar di dunia. 11 Idntimes. 2018. Diakses dari : https://www.idntimes.com/hype/entertainment/prila-sherly/serial-animasi-nussakarya-indonesia-c1c2/full. DAFTAR PUSTAKA BUKU Djamal,Hidajanto , dan Fachruddin, Andi. 2017. Dasar-dasar Penyiaran: Sejarah, Organisasi, Operasional, dan Regulasi. Edisi 2. Jakarta: Kencana. Idi, Abdullah. 2015. Dinamika Sosiologis Indonesia: Agama dan Pendidikan DalamPerubahan Sosial. Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara. Panuju,Redi. 2017. Sistem Penyiaran Indonesia: Sebuah Kajian Strukturalisme Fungsional. Edisi 1. Jakarta: Kencana. Rahmitasari, Diyah Hayu. 2017. Manajemen Media Di Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia Wahyuni, Hermin Indah. 2018. Kebijakan Media Baru Di Indonesia (Harapan, Dinamika dan Capaian Kebijakan Baru Di Indonesia). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. WEB Idntimes. 2018. Diakses dari : https://www.idntimes.com/hype/entertainment/prila-sherly/serial animasi-nussa-karya-indonesia-c1c2/full. Les’Copaques Production. 2017. Diakses dari: https://lescopaque.com/v11/about/ Tirto.id. 2017. KPI nilai televise Indonesia minim acara anak-anak. Diakses dari: https://tirto.id/kpi-nilai-televisi-indonesia-minim-acara-anak-anak-ctZW DLL Undang-Undang No.32 Tahun 2005. Tentang Penyiaran. BAB III. Pasal 16. P3SPS. 2012. Pasal 35, ayat 1-4. Bab 17.

Judul: Peminatan Broadcasting And New Media Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Al Azhar Indonesia Jakarta

Oleh: Ananda Alfathan

Ikuti kami