Teori Ekonomi Mikro

Oleh Anis Cho

153,6 KB 8 tayangan 1 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Teori Ekonomi Mikro

EKONOMI MARITIM TEORI EKONOMI MIKRO Oleh : 1. M. RIZKY NPM : 05.2012.1.01025 2. ANIS CHOIRIYATUL JANNAH NPM : 05.2012.1.01026 3. CARAKA NPM : 05.2014.1. JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL DAN KELAUTAN INSTITUT TEKNOLOGI ADHI TAMA SURABAYA 2016 TEORI EKONOMI MIKRO Ilmu ekonomi mikro adalah suatu cabang ilmu ekonomi yang mempelajari kegiatankegiatan ekonomi secara individual (unit-unit) atau bagian-bagian kecil dari masalah-masalah ekonomi atau secara disagregat. Seperti misalnya kehidupan/kegiatan suatu perusahaan, tingkat harga dan upah, alokasi factor-faktor produksi, dan sebagainya. Jadi ilmu ekonomi mikro lebih mempelajari secara spesifik terhadap unit-unit dalam kegiatan ekonomi dan apa yang terjadi pada kehidupan ekonomi yang berlangsung. Pendekatan teori ekonomi mikro menggunakan model-model abstrak di dalam melihat bagaimana terbentuknya harga dari suatu benda dan bagaimana sumber daya yang tersedia dialokasikan kepada berbagai macam penggunaan produksi untuk masyarakat. Fungsi teori ekonomi mikro adalah hanya bersifat menerangkan dan dapat digunakan sebagai dasar untuk peramalan, dimana kita dimungkinkan untuk membut suatu peramalan yang bersifat kondisional atau ramalan yang besyarat, dimana syaratnya adalah adanya suatu asumsi. Teori ekonomi mikro dapat juga diterapkan pada kebijaksanaan perekonomian, yakni dengan menggunakan teori harga untuk menganalisa tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mempengaruhi perekonomian. 1.1. Peranan Matematika dalam Teori Ekonomi Mikro Dalam teori ekonomi mikro penggunaan matematika bukanlah merupakan tujuan, tetapi lebih berperan sebagai alat untuk membantu tercapainya tujuan menerangkan dan meramalkan. Melalui penggunaan matematika, maka masalah ekonomi yang banyak mengandung variabel dapat disederhanakan pemecahannya, serta penyajian teori dapat dilakukan lebih singkat, namun penggunaan variabel seringkali tetap diperlukan untuk mengisi kekurangan-kekurangan dalam hubungan matematis dan asumsi-asumsi dasar serta kesimpulan yang ingin dicapai. 1.2. Asumsi Teori Ekonomi Mikro Di atas telah disebutkan bahwa teori ekonomi, khususnya teori ekonomi mikro, bekerja dengan menggunakan asumsi-asumsi, asumsi-asumsi tersebut ada yang berlaku sangat umum dalam arti dipakai oleh teori ekonomi (baik teori ekonomi mikro maupun teori ekonomi makro) dan ada yang hanya dipakai oleh teori ekonomi mikro saja atau oleh teori ekonomi makro saja; dan akhirnya ada pula yang hanya dipakai untuk bagian-bagian tertentu ekonomi mikro maupun bagian-bagian tertentu ekonomi makro. 1.2.1. Asumsi Umum Asumsi-asumsi di bawah ini dipakai baik oleh teori ekonomi mikro maupun kebanyakan teori ekonomi lainnya, yaitu: a. Asumsi Rasionalitas Asumsi ini berlaku untuk semua teori ekonomi.Pelaku ekonomi yang diasumsikan bersikap rasional biasa disebut juga homo ekonomikus atau economic man. Penggunaan asumsi pada teori konsumen terwujud dalam bentuk asumsi bahwa rumah tangga keluarga senantiasa berusaha memaksimumkan kepuasan; yaitu yang dalam literatur terbiasa dengan sebutan utility maximization assumption. Sebaliknya dalam teori rumah tangga perusahaan, asumsi yang sama terjelma dalam bentuk asumsi bahwa rumah tangga perusahaan senantiasa berusaha inemperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Asumsi ini dalani literatur dikenal sebagai profit maximization assumption. b. Asumsi Ceteris Paribus Yang dikehendaki oleh asumsi ini adalah bahwa yang mengalami perubahan hanyalah variabel yang secara eksplisit dinyatakan berubah, sedangkan variabel-variabel lain yang tidak disebutkan berubah, sepanjang dalam model analisa tidak diasumsikan sebagai variabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain harus dianggap tidak berubah. c. Asumsi Penyederhanaan Meskipun abstraksi sudah banyak sekali mengurangi kompleksnya permasalahan, agar supaya permasalahannya lebih mudah dianalisa dan difahami, seringkali kita perlu menyederhanakan persoalan lebih lanjut. 1.2.2. Asumsi Khusus Ekonomi Mikro Asumsi khusus teori ekonomi mikro hanyalah terbatas kepada asumsi-asumsi yang banyak dipakai oleh ekonomi mikro akan tetapi tidak selalu dipakai oleh teori-teori ekonomi yang lain. Dengan menggunakan batasan ini kita dapat menyebut beberapa contoh asumsi khusus teori ekonomi mikro, antara lain : a. Asumsi Ekuilibrium Parsial Asumsi ini mengasumsikan tidak adanya hubungan timbal-balik antara perbuatanperbuatan ekonomi yang dilakukan oleh pelaku-pelaku ekonomi dengan perekonomian di mana pelaku-pelaku ekonomi tersebut berada. Misalnya saja, sebagai akibat berubahnya cita rasa, para konsumen tiba-tiba mengurangi pengeluaran konsumsinya. Kalau tidak dipergunakan asumsi ekuilibrium parsial, maka dalam kita membuat analisa kita harus memperhitungkan pengaruh penurunan pengeluaran konsumsi tersebut terhadap pendapatan nasional, yang seterusnya juga terhadap pendapatan mereka, dan yang selanjutnya akan berpengaruh juga terhadap pola pengeluaran para konsumen tersebut. Dengan menggunakan asumsi ekuilibrium parsial unsur pemantulan semacam itu tidak kita perhatikan. b. Asumsi Tidak Adanya Hambatan Atas Proses Penyesuaian Dalam teori ekonomi mikro kita mengasumsikan bahwa hambatan hambatan terhadap penyesuaian tersebut tidak ada. Kelak kita akan menyaksikan misalnya, apabila harga suatu barang mengalami perubahan, maka berapapun kecilnya perubahan tersebut, selalu diasumsikan bahwa konsumen melaksanakan penyesuaian atau adjustment. Menurut kenyataan banyak hambatan-hambatan yang menyulitkan pelaksanaan penyesuaian tersebut. Faktor-faktor, seperti misalnya faktor psikologi, sosiologi, politik dan sebagainya, dapat merupakan penghambat terhadap penyesuaian tersebut. 1.3. Unit Kegiatan Ekonomi Mikro Kegiatan unit-unit ekonomi yang dikaji dalam ekonomi mikro salah satunya seperti berikut: a. Mendalami bagaimana tingkah laku seorang untuk customer, untuk yang memiliki sumber-sumber ekonomi serta untuk produsen. b. Mendalami bagaimana arus rotasi barang serta layanan dimulai dari produsen hingga pada customer. c. Mendalami bagaimana harga-harga barang serta layanan itu bisa terbentuk. d. Mendalami bagaimana produsen dalam memastikan tingkat produksi supaya terwujud keuntungan yang maksimum. e. Mendalami bagaimana customer atau mungkin rumah tangga membagikan pendapatannya yang sangatlah terbatas untuk barang serta layanan yang diperlukan hingga terwujud kenikmatan maksimum. 1.4. Kegagalan Pasar Dalam ekonomi mikro, istilah “kegagalan pasar” tidak berarti bahwa sebuah pasar tidak lagi berfungsi. Malahan, sebuah kegagalan pasar adalah situasi dimana sebuah pasar efisien dalam mengatur produksi atau alokasi barang dan jasa ke konsumen. Ekonom normalnya istilah ini pada situasi dimana inefisiensi sudah dramatis, atau ketika disugestikan bahwa institusi non-pasar akan memberi hasil yang diinginkan. Di sisi lain, pada konteksi politik, pemegang modal atau saham menggunakan istilah kegagalan pasar untuk situasi saat pasar dipaksa untuk tidak melayani “kepentingan publik”, sebuah pernyataan subyektif yang biasanya dibuat dari landasan moral atau sosial. Empat hal utama penyebab kegagalan pasar, adalah: a. Monopoli atau dalam kasus lain dari penyalahgunaan dari kekuasaan pasar dimana “sebuah” pembeli atau penjual bisa memberi pengaruh signifikan pada harga atau keluaran. Penyalahgunaan kekuasaan pasar bisa dikurangi dengan menggunakan undang-undang anti-trust. b. Eksternalitas, dimana terjadi kasus “pasar tidak dibawa ke dalam akun dari akibat aktivitas ekonomi di dalam orang luar/asing”. Eksternalitas positif terjadi dalam kasus seperti dimana program kesehatan keluarga di televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif terjadi ketika proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air. Eksternalitas negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak, atau subsidi, ataupun dengan menggunakan hak properti untuk memaksa perusahaan atau perorangan untuk menerima akibat dari usaha ekonomi mereka pada taraf yang seharusnya. c. Barang publik, seperti pertahanan nasional dan kegiatan dalam kesehatan publik seperti pembasmian sarang nyamuk. Untuk menyediakan penawaran yang baik dari barang publik, negara biasanya menggunakan pajak-pajak yang mengharuskan semua penduduk untuk membayar pada barang publik tersebut (berkaitan dengan pengetahuan kurang dari eksternalitas positif pada pihak ketiga/kesejahteraan sosial). d. Kasus dimana terdapat informasi asimetris atau ketidakpastian (informasi yang inefisien). Informasi asimetris terjadi ketika salah satu pihak dari transaksi memiliki informasi yang lebih banyak dan baik dari pihak yang lain. Biasanya para penjual yang lebih tahu tentang produk tersebut daripada pembeli, tapi ini tidak selalu terjadi dalam kasus ini. Situasi ini dijelaskan pertama kali oleh Kenneth J. Arrow di artikel seminar tentang kesehatan tahun 1963 berjudul “Ketidakpastian dan Kesejahteraan Ekonomi dari Kepedulian Kesehatan”, di dalam American Economic Review. George Akerlof kemudian menggunakan istilah informasi asimetris pada karyanya pada tahun 1970 yang berjudul “The Market for Lemons”. Menurut Arkelof dalam pasar seperti itu, nilai rata-rata dari komoditas cenderung menurun, bahkan untuk kualitas yang sangat sempurna kebaikannya, karena para pembelinya tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah produk yang mereka beli akan menjadi sebuah “lemon” (produk yang menyesatkan). 1.5. Permasalahan Ekonomi Mikro di Indonesia Menurut Rahman (2012) permasalahan ekonomi mikro di Indonesia itu ada 11, yaitu: a. Harga Dasar dan Harga Tertinggi Krisis ekonomi yang pernah melanda dunia terjadi cukup lama dan diyakini bahwa mekanisme pasar tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi tersebut. Artinya, keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar tidak tercapai. Pengaruh dari krisis tersebut adalah melambungnya harga berbagai jenis barang yang dibutuhkan oleh produsen dan konsumen. Salah satu campur tangan pemerintah dalam permasalahan ini ialah kebijakan pemerintah mengenai harga dasar (floor price) dan harga tertinggi (ceiling price). Tujuan penentuan harga dasar adalah untuk membantu produsen, sedangkan harga tertinggi untuk membantu konsumen. Misalnya, musim panen padi menyebabkan jumlah beras melimpah. Akibatnya, harga beras turun sehingga para petani mengalami kerugian. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menentukan harga dasar (floor price) beras untuk membantu para petani. b. Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Sehubung dengan naiknya harga BBM, para pengusaha angkutan umum bus kota, angkot, dan taksi mengalami penurunan pendapatan dan mengurangi laba bagi pengusaha dan para sopir. Untuk menyesuaikan kenaikan harga BBM tersebut, beberapa pengusaha angkutan umum menaikkan tarifnya secara sepihak. Tindakan ini tentu saja akan memberatkan para konsumen pengguna jasa angkutan. Untuk mengatasi masalah tersebut pemerintah bersama para asosiasi pengusaha angkutan melakukan penyesuaian tarif angkutan umum dengan menetapkan tarif resmi bagi para pengusaha bus kota, angkot, dan taksi. Besarnya tarif resmi ini tentu tidak akan memberatkan konsumen atau juga tidak merugikan pengusaha angkutan umum. c. Masalah Monopoli Praktik monopoli akan mengakibatkan penguasaan pasar terhadap barang atau jasa tertentu yang dihasilkan oleh satu perusahaan. Praktik monopoli seringkali merugikan masyarakat dan konsumen. Di samping itu, monopoli akan mempersempit peluang usaha bagi masyarakat lain sehingga kurang menumbuhkan semangat berwirausaha masyarakat. Perusahaan yang melakukan praktik monopoli seringkali mempermainkan dan menetapkan harga tanpa mempertimbangkan kelompok masyarakat yang memiliki usaha sejenis. Untuk menghindari kegiatan praktik monopoli, pemerintah membuat peraturan yang mengatur tentang kegiatan usaha agar menumbuhkan iklim usaha yang sehat bagi masyarakat, yaitu UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat. d. Masalah Distribusi Jalur distribusi barang dan jasa yang panjang akan mengakibatkan tingkat harga barang menjadi tinggi dan mahal ketika sampai ke tangan konsumen. Untuk itu, beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah atau swasta untuk memperpendek jalur distribusi sehingga harga barang ketika sampai ditangan konsumen tidak mahal. Misalnya, PT. Coca Cola Indonesia melakukan distribusi barang melalui lebih dari 120 pusat penjualan di seluruh Indonesia dan didistribusikan langsung melalui ke pedagang eceran (80% pengecer) dan grosir dan 90% masuk kategori usaha kecil. e. Masalah Birokasi Panjangnya jalur birokrasi di negara kita dalam rangka penyaluran bantuan dan penuntasan masalah perekonomian di Indonesia sering kali menimbulkan keengganan para pengusaha kecil untuk mengambil kesempatan tersebut. Pengajuan permohonan dana bantuan dengan membawa proposal dari satu meja birokrasi ke meja yang lain. Tidak jarang pula diantara meraka menjadi putus asa karena lamanya proses permohonan dan malasnya menghadapi permainan birokrasi. Proses birokrasi perijinan yang berbelit-belit dikatakan sebagai salah satu hambatan dalam menggalakan roda ekonomi di Indonesia. f. Masalah Pembangunan Infrastruktur Masalah pembangunan seperti jalan tol dan pelabuhan yang menjadi gerbang masuknya devisa asing tidak berjalan sesegera mungkin. Pembangunan juga dapat mempermudah dalam penyaluran distribusi sehingga mendapatkan keuntungan tersendiri bagi para pelaku usaha kecil atau mikro. Dengan begitu arus pendapatan akibat penjualan ini dapat membangkitkan kinerja produksi berkelanjutan. g. Belum Meratanya Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik Listrik merupakan motor penggerak roda perekonomian. Ketika suatu kegiatan usaha tidak mendapatkan pasokan listrik, hal ini menyebabkan proses produksi berhenti. Walaupun hanya sebatas usaha kecil dalam proses produksinya tetap harus menggunakan listrik. h. Masalah Pembebasan Lahan Masalah pembebasan lahan yang selama ini sering menjadi permasalahan besar antara pengembang dan warga. Investasi akan terhambat jika pembebasan lahan ini sulit diselesaikan. Di Indonesia masih banyak sosok makelar tanah yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, bukan kepentingan rakyat. Namun untuk mengatasinya, kini telah terciptanya Undang-undang No.2 tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Demikian juga dengan sudah finalnya Peraturan Presiden (Perpres) mengenai pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. i. Belum Terciptanya Transparansi Penggunaan Retribusi Pajak Masalah ini juga menjadi salah satu masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia, permasalahan ini hanya dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah. Karena biaya yang mengalir untuk pembangunan tanpa diketahui malah hanya dinikmati oleh segelintir elit. Sehingga yang sampai pada rakyat diberbagai daerah adalah sisa dari dana yang sudah dipangkas oleh para elite tersebut. Transparasi ini menjadi penting agar dana yang keluar dan masuk bisa diketahui dengan jelas. Perlu penguatan fungsi kontrol publik agar masalah ini dapat terselesaikan. j. Pungutan Liar Berdasarkan penelitian LPEM UI Tahun 2003 bahwa pengeluaran perusahaan untuk biaya “tambahan atau pungutan liar” telah mencapai 11% dari biaya produksi. Hal ini tentunya akan bisa menjadi penghambat yang sangat besar dan bisa mengacaukan iklum investasi yang tengah dibangun di Indonesia. Thomas Dharmawan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) mengatakan bahwa potensi biaya produksi yang dapat dihemat mencapai 30% jika praktik pungli bisa dihilangkan. Hal ini berarti hampir sepertiga biaya produksi merupakan pungli dan harga jual ke konsumen bisa diturunkan mencapai 30% jika praktik pungli ini dihilangkan. Praktik pungli ini sarat akan nuansa korupsi (Susan Rose Ackerman). Dikatakan pula bahwa korupsi sering melekat dalam struktur hierarkis dari birokrasi, dimana para pegawai pemerintah mempunyai kewenangan penuh dalam mengambil keputusan sedangkan para pengusaha tidak mempunyai pilihan lain akan menjadi sarana yang mempersubur praktik korupsi ini. k. Pengenaan Perpajakan Berganda dan Berlapis-lapis Banyak pemerintah daerah yang sekarang menerapkan pajak berlapis terhadap para investor yang ingin menanamkan modal didaerahnya, polanya bermacam-macam, mulai dari pajak yang melekat pada jenis usaha tersebut sampai kepada retribusi ‘khusus’ untuk sang kepala daerah. Hal ini jelas makin menciptakan ketakutan tersendiri bagi para pengusaha atau pemilik modal. 1.6. Penerapan Ekonomi Mikro Ekonomi mikro yang diterapkan termasuk area besar belajar, banyak di antaranya menggambarkan metode dari yang lainnya. 1. Regulasi dan organisasi industri mempelajari topik seperti masuk dan keluar dari firma, inovasi, aturan merek dagang. 2. Hukum dan Ekonomi menerapkan prinsip ekonomi mikro ke pemilihan dan penguatan dari berkompetisi dengan rezim legal dan efisiensi relatifnya. 3. Ekonomi Perburuhan mempelajari upah, kepegawaian, dan dinamika pasar buruh. 4. Finansial publik (juga dikenal dengan ekonomi publik) mempelajari rancangan dari pajak pemerintah dan kebijakan pengeluaran dan efek ekonomi dari kebijakankebijakan tersebut (contohnya, program asuransi sosial). 5. Ekonomi kesehatan mempelajari organisasi dari sistem kesehatan, termasuk peran dari pegawai kesehatan dan program asuransi kesehatan. 6. Politik ekonomi mempelajari peran dari institusi politik dalam menentukan keluarnya sebuah kebijakan. 7. Ekonomi kependudukan, yang mempelajari tantangan yang dihadapi oleh kotakota, seperti gepeng, polusi air dan udara, kemacetan lalu-lintas, dan kemiskinan, digambarkan dalam geografi kependudukan dan sosiologi. 8. Finansial Ekonomi mempelajari topik seperti struktur dari portofolio yang optimal, rasio dari pengembalian ke modal, analisis ekonometri dari keamanan pengembalian, dan kebiasaan finansial korporat. 9. Bidang Sejarah ekonomi mempelajari evolusi dari ekonomi dan institusi ekonomi, menggunakan metode dan teknik dari bidang ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, psikologi dan ilmu politik. DAFTAR PUSTAKA https://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_mikro, [Diakses pada 29 April 2016]. Rahman, A. N., 2012, Permasalahan Ekonomi Mikro di Indonesia, https://angganurrahmanrockets.wordpress.com/2012/12/02/permasalahan-ekonomi-mikrodi-indonesia/, [Diakses pada 29 April 2016]. Team Sipendik, 2014, Teori Ekonomi Mikro dan Contoh dalam Kehidupan Nyata, https://www.sipendik.com/teori-ekonomi-mikro-dan-contoh-dalam-kehidupan-nyata/, [Diakses pada 29 April 2016]. Ubay, 2015, Pengertian Ekonomi Mikro dan Makro Beserta Contohnya, http://www.seputarpendidikan.com/2015/11/pengertian-ekonomi-mikro-dan-makro-besertacontohnya.html, [Diakses pada 29 April 2016].

Judul: Teori Ekonomi Mikro

Oleh: Anis Cho


Ikuti kami