Ekonomi Politik Bbm

Oleh Fahmi Afriandi

265,5 KB 7 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Ekonomi Politik Bbm

Ekonomi Politik BBM Makalah ini disusun untuk memenuhi syarat mata kuliah Ekonomi Politik Disusun oleh : Fahmi Riza Afriandi PROGRAM STUDI S-1 ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Tahun akademik 2014/2015 KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang “ Kebijakan Pemerintah Menaikan Harga Bahan Bakar Minyak Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila ” ini. Makalah ini memberi informasi tentang pengertian pancasila, kebijakan pemerintah menaikan harga BBM berdasarkan Pancasila, alasan pemerintah menaikan harga BBM, upaya pemerintah untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM bagi masyarakat miskin, dan dampak positif dan negatif dari kenaikan harga BBM. Disini saya masih belajar dan belajar. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi yang membacanya. Maaf jika masih ada banyak kesalahan dalam penulisan. Akhir kata, terima kasih kepada yang sudah membaca dan saya menerima saran dari para pembaca jika dalam makalah ini terdapat kesalahan. Yogyakarta, 07 Mei 2015 Fahmi Riza Afriandi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi, akan tetapi sebagian besar lumbung minyak di tanah air ini banyak dikelola oleh perusahaan asing dikarenakan keterbatasan SDM yang dimiliki Indonesia. Pertamina sebagai jargon BUMN dalam pengelolaan minyak bumi hanya sebagai pajangan dan Pemerintah lebih bernafsu memberikan izin pengelolaan kepada perusahaan asing. Jika kenaikan harga minyak dunia menjadi alasan pemerintah tidak sanggup membayar subsidi BBM yang telah dicanangkan APBN merupakan suatu pemikiran sesat. Apabila harga BBM tidak dinaikan sebenarnya dana subsidi yang ada di APBN tidak akan jebol karena pendapatan negara dari sektor minyak dan gas (migas), seperti pajak penghasilan (PPh) migas dan penerimaan negara dari sumber daya alam (SDA) minyak bumi masih mencukupi. Ditambah dengan penerimaan lain seperti pajak perdagangan internasional. Jika penerimaan negara benar-benar masuk ke kas negara tanpa “dibelokan” ke kas pejabat dan elit-elit politik, sudah lebih dari cukup untuk membiayai subsidi BBM sehingga kenaikan harga BBM tidak perlu terjadi.Kenaikan harga BBM di anggap mensengsarakan rakyat. Selain itu memandang kenaikan harga BBM justru berdampak pada peningkatan harga-harga sehingga mendorong laju inflasi pada level yang cukup tinggi yang dapat memicu gejolak sosial di masyarakat serta meningkatkan jumlah masyarakat miskin akibat daya beli masyarakat makin merosot. 1.2 RUMUSAN MASALAH Dari berbagai uraian diatas dapat ditarik beberapa pertanyaan yaitu: 1.2.1 Mengapa BBM bisa naik 1.2.2 Bagaimana dampak kenaikan BBM terhadap perekonomian Negara 1.2.3 Pro dan Kontra pembatasan subsidi BBM 1.2.4 Apa dibalik pencabutan BBM bersubsidi 1.2.5 Apa solusi pemerintah dalam menghadapi kenaikan BBM BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian BBM BBM adalah bahan bakar mineral cair yang di peroleh dari hasil tambang pengeboran sumur-sumur minyak, dan hasil kasar yang diperoleh disebut dengan minyak mentah atau crude oil. 2.2 Alasan BBM dinaikkan Ada beberapa alasan kenapa BBM harus dinaikkan diantaranya, sebagai berikut : 2.2.1 Indonesia merupakan Negara yang boros subsidi Indonesia merupakan Negara yang boros energy dikawasan Asia karena mengalokasikan anggaran subsidi sangat besar, 3,4% atau Rp 350 T dari total PDB Rp 10.062 T pada tahun 2014. Itu hanya dikalahkan oleh Pakistan dan Bangladesh. 2.2.2 Neraca Defisit Rupiah Terpukul Harga murah BBM menyebabkan lonjakan konsumsi dari Impor BBM, yang mengakibatkan neraca perdagangan deficit dan nilai rupiah terpukul 2.2.3 Subsidi BBM Dinikmati Mobil Pribadi dan Sepeda Motor Lebih dari 53% subsidi BBM dinikmati oleh mobil pribadi dan 40% dinikmati oleh pengguna sepeda motor 2.2.4 Indonesia Bukan Negara Kaya Minyak Cadangan minyak di Indonesia hanya tinggal 3,7 miliar barel, tetapi Indonesia merupakan Negara urutan ke-16 dengan harga BBM termurah dunia. Bahakan lebih murah dari Negara kaya minyak, seperti Irak dan Kazakhstan. 2.2.5 Indonesia Bukan Lagi Eksportir Minyak Pada masa Orde Baru Indonesia dikenal sebagai Negara net eksportir terkemukan dunia. Namun pada tahun 2003 bukan lagi menjadi net eksportir, melainkan kebalikannya net importer seiring dengan lonjakan konsumsi BBM nasional. 2.2.6 Rezim Subsidi BBM Kian Ditinggalkan Semakin banyak Negara meninggalkan Rezim subsidi BBM. Ketika sejumlah Negara net eksportir minyak tak lagi member subsidi, tetapi Indonesia sebagai net Importir masih mengucurkannya. Padahal banyak Negara net importir lainnya justru mengenakkan pajak dari BBM. 2.2.7 Negara Petrodollar pun Siap Pangkas Subsidi Pengurangan subsidi oleh Negara – negara kaya minyak juga mulai dilakukan. Bahkan Iran pun akan menaikkan harga BBM secara bertahap sesuai harga pasar. 2.2.8 Dana Migas Tekor Untuk Subsidi Energi Dimasa Orde Baru, dana migas anadalan pembiayaan pembangunan dan subsidi energy. Namun kemudian pendapatan migas terus merosot, sementara beban subsidi terus naik hingga 350 T pada tahun 2014. Bahkan sejak 2 tahun lalu tak bisa lagi menutup ongkos subsidi. 2.2.9 Ketimpangan Subsidi Energi Kecuali untuk pendidikan, anggaran yang dialokasikan untuk subsidi energy sangat timpang jika dibandingkan dengan anggaran Infrastruktur, Kesehatan dan Kemiskinan karena anggaran ini sanggatlah minim sehingga perlu ditingkatkan. 2.2.10 Menghambat Tumbuhnya Energi Alternatif Karena harga BBM yang terlalu murah sehingga menghambat pengembangan energy alternative, seperti gas alam. Jika harga BBM dinaikkan maka gas alam sangat potensial dikembangkan. 2.3. Dampak kenaikan BBM Kenaikan BBM mempunyai dampak positif dan negative, antara lain: 2.3.1 Dampak Positif  Munculnya bahan bakar dan kendaraan alternative Seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia, muncul berbagai bahan bakar alternatif baru. Yang sudah di kenal oleh masyarakat luas adalah BBG (Bahan Bakar Gas). Harga juga lebih murah dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi. Ada juga bahan bakar yang terbuat dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit untuk menciptakan bahan bakar alternatif mengingat Indonesia adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Selain itu, akan muncul juga berbagai kendaraan pengganti yang tidak menggunakan BBM, misalnya saja mobil listrik, mobil yang berbahan bakar gas, dan kendaraan lainnya.  Pembangunan Nasional akan lebih pesat Pembangunan nasional akan lebih pesat karena dana APBN yang awalnya digunakan untuk memberikan subsidi BBM, jika harga BBM naik, maka subsidi dicabut dan dialihkan untuk digunakan dalam pembangunan di berbagai wilayah hingga ke seluruh daerah.  Hematnya APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Jika harga BBM mengalami kenaikan, maka jumlah subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah akan berkurang. Sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dapat diminimalisasi. 2.3.2 Dampak Negatif  Harga barang-barang dan jasa-jasa menjadi lebih mahal. Harga barang dan jasa akan mengalami kenaikan disebabkan oleh naiknya biaya produksi sebagai imbas dari naiknya harga bahan bakar.  Meningkatnya biaya produksi Biaya produksi barang atau jasa menjadi naik karena factor transportasi, harga bahan produksi, dll.  Terjadi Peningkatan jumlah pengangguran. Dengan meningkatnya biaya operasi perusahaan, dengan asumsi pendapatan masyarakat tetap maka daya beli masyarakat pun turun. Dampak lebih lanjut adalah penjualan industri turun, omzet turun, pendapatan masyarakat turun. Akibat lebih lanjutnya adalah PHK dan naiknya angka pengangguran  Meningkatnya Inflasi Meningkatnya inflasi disebabkan oleh Pengeluaran pemerintah lebih banyak dari permintaan, adanya tuntutan upah yang tinggi, adanya kenaikan dalam biaya produksi.  Kondisi keuangan UMKM menjadi rapuh Maka rantai perekonomian akan terputus. 2.4. Pro Kontra Pembatasan Subsidi BBM 2.4.1 Pro Selama ini subsidi BBM yang telah membebani APBN telah salah sasaran, dimana 80% subsidi BBM justru dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. Sehingga diharapkan dengan adanya pembatasan subsidi BBM bisa lebih memperketat kebijakan pemerintah agar subsidi yang memang diperuntukkan bagi masyarakat benar-benar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan. Dengan pembatasan subsidi BBM hanya untuk sepeda motor dan angkutan umum (plat kuning), akan memaksa pemilik kendaraan pribadi (plat hitam) untuk berpindah menggunakan pertamax. Tentu saja kondisi tersebut dapat terwujud dan sesuai harapan jika dalam pelaksanaannya pun terdapat ketegasan sehingga penyelewengan seperti plat kuning yang memanfaatkan dengan mengisi tangki penuh kemudian dijual eceran segera ditertibkan. Tujuan pembatasan pemberian subsidi BBM ini sebenarnya bukan untuk menelantarkan masyarakat, melainkan agar pemerintah bisa memaksimalkan pelayanan di bidang lain dengan anggaran yang selama ini dihabiskan untuk menanggung beban subsidi BBM yang notabene salah sasaran. 2.4.2 Kontra Pembatasan subsidi BBM akan memunculkan adanya penjahat subsidi BBM. Seperti uraikan di atas, bahwa kebijakan ini memungkinkan adanya oknum pemilik mobil plat kuning menyalahgunakan subsidi dengan mengisi penuh tangkinya untuk kemudian dijual kembali secara eceran. 2.5. Dibalik pencabutan BBM bersubsidi Sebenarnya bukan hanya barang-barang tidak mudah untuk turun kembali, tetapi kebijakan penurun BBM yang dilakukan oleh rezim neoliberal ini juga diikuti dengan kebijakan yang sangat ditunggu-tunggu oleh para kapitalis lokal maupun asing, yaitu liberalisasi sektor hilir minyak dan gas untuk melengkapi liberalisasi sektor hulu migas yang sudah lama dilakukan. 2.5.1 Liberalisasi Sektor Energi  Walaupun harga premium diturunkan, sebenarnya Pemerintah secara resmi mencabut subsidi BBM jenis premium sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar. Adapun BBM diesel atau solar diberi subsidi tetap (fixed subsidy) Rp 1.000/liter. Pada saat yang hampir bersamaan, Pemerintah juga mencabut subsidi harga jual listrik PLN kecuali Rumah Tangga 450-900 va. Pemerintah bahkan telah mewacanakan untuk mengevaluasi harga gas elpiji tiga kilogram karena subsidinya terus membengkak hingga Rp 55 triliun.  Pencabutan subsidi ini, menurut Pemerintah, akan memberikan tambahan anggaran untuk membiayai belanja-belanja non-subsidi, terutama pembangunan infrastruktur yang dipandang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif.  Penetapan harga BBM berdasarkan mekanisme pasar saat harga minyak merosot tajam hingga di kisaran 50 dolar perbarel membuat biaya produksi dan pengadaan BBM juga semakin murah. Rakyat pun merasa diuntungkan. Namun demikian, jika harga minyak di pasar global kembali naik, harga BBM juga akan terkerek naik. Kembali melambungnya harga minyak di pasar global sangat berpotensi terjadi. Pasalnya faktor-faktor penentu harga komoditas tersebut bukan hanya didorong oleh faktor permintaan dan penawaran, namun juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti perubahan geopolitik, terutama di negara-negara produsen minyak, juga faktor spekulasi.  Merosotnya harga minyak mentah saat ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain meningkatnya suplay minyak global dan menurunnya permintaan akibat krisis yang terjadi negara-negara Eropa dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Meningkatnya produksi shale oil di Amerika Serikat juga mendorong peningkatan suplay minyak global. Shale oil sendiri adalah minyak yang diperoleh dari lapisan bebatuan di dasar laut melalui injeksi air dan bahan kimia tertentu. Di sisi lain, saat harga minyak mentah cenderung menurun, negara-negara organisasi negara-negara penghasil minyak (OPEC) terutama Arab Saudi tidak memangkas produksi mereka sebagaimana lazimnya, agar harga minyak tidak terus anjlok. Strategi tersebut sengaja ditempuh oleh OPEC dengan maksud agar harga minyak tetap rendah. Dengan demikian, daya tarik untuk memproduksi shale oil menjadi kurang menarik sebab harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan biaya produksi minyak konvensional.  Namun demikian, Amerika Serikat tentu tidak akan tinggal diam untuk untuk terus mendorong produksi minyaknya agar tidak terlalu bergantung pada impor termasuk dari OPEC. Secara politik, AS dapat saja melakukan tekanan-tekanan politik baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memaksa Arab Saudi agar mengurangi produksinya sehingga dapat mengangkat kembali harga minyak.Dengan demikian, harga minyak berpotensi untuk kembali naik.  Di sisi lain, harga minyak global juga dipengaruhi oleh para spekulan di bursa komoditas berjangka. Spekulan sendiri adalah pihak yang bukan produsen dan juga bukan pengguna komoditas. Namun, mereka mengambil risiko atas modal mereka untuk memperdagangkan komoditas tertentu pada masa yang akan datang. Harapannya, mereka mendapatkan keuntungan dari perubahan harga. Para spekulan inilah yang ikut menentukan harga di bursa komoditas Nymex di New York dan Intercontinental Exchange Futures di London. Spekulan-spekulan tersebut didominasi oleh institusi keuangan raksasa seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, Citigroup dan JP Morgan Chase serta sejumlah hedge fund dan institusi pengelola danapensiun. Dalam beberapa kasus beberapa lembaga investasi terbukti bersalah di pengadilan karena terbukti melakukan kartel dan manipulasi harga. JPMorgan, UBS, dan Credit Suisse, misalnya, pernah didenda karena terbukti berkomplot merekayasa suku bunga acuan di London (LIBOR). JP Morgan juga terungkap menimbun aluminium dan minyak mentah untuk tujuan spekulasi.  Dengan demikian, penetapan harga minyak berdasarkan harga pasar akan membuat harganya berfluktuatif. Jika harga meroket tajam, bukan hanya harga BBM yang naik namun juga barang-barang komoditas lainnya. Dengan demikian, harga-harga menjadi tidak stabil. Masyarakat terutama kalangan menengah bawah paling dirugikan dengan kebijakan tersebut. Pasalnya, belanja BBM merupakan pengeluaran terbesar kedua masyarakat di Indonesia setelah perumahan. Setiap bulannya penduduk kota dan desa masing-masing menghabiskan rata-rata Rp 43.500 dan 24.000 hanya untuk membeli bensin (BPS, 2014). Kenaikan harga BBM sebesar Rp 2.000 pada pertengahan November lalu, misalnya, membuat inflasi tahun 2014 meroket hingga 8,36 persen saat kenaikan harga makanan mencapai 10,6 persen. 2.5.2 Liberalisasi Ekonomi  Pencabutan subsidi BBM, TDL dan harga elpiji sejatinya telah direncanakan sejak lama sebagaimana yang didesakkan oleh lembaga-lembaga donor seperti Bank Dunia, IMF, USAID dan ADB. Berbagai alasan dibuat untuk mendukung kebijakan tersebut. Subsidi, misalnya, dipandang mendistorsi pasar sehingga perusahaanperusahaan swasta termasuk asing tidak dapat berkompetisi secara sehat di negara ini. Subsidi juga dipandang sebagai beban fiskal yang tidak memberikan manfaat bagi perekonomian. Subsidi pun dianggap sebagai biang kerok tidak berkembangnya Pertamina dan PLN yang menjadi pelaksana subsidi sebagaimana halnya perusahaanperusahaan swasta.  Padahal di negara-negara yang saat ini masuk dalam kategori negara-negara maju seperti Inggris dan AS, mereka menjadi besar karena dulunya justru menerapkan proteksi dan subsidi serta berbagai rangkaian kebijakan yang besar untuk memperkuat fundamental ekonomi mereka agar mereka dapat bersaing. Ini paradoks dengan apa yang saat ini mereka serukan kepada negara-negara berkembang termasuk Indonesia.  Banyak dari negara-negara industri (terutama Jepang, Finlandia dan Korea Selatan) membatasi masuknya modal asing untuk melindungi industri domestik mereka. Pemerintah Korea, misalnya, pada tahun 1970-an memberikan bantuan keuangan besar-besaran untuk mengembangkan industri kapal, baja dan elektronik di negara tersebut.  Dengan demikian, apa yang dilakukan Pemerintah saat ini lebih menunjukkan kepatuhan mereka pada konsep-konsep kapitalisme yang oleh para penyerunya justru diabaikan. Semua ini tidak lain agar mereka dapat dengan mudah menjajah dan menjerumuskan Indonesia dalam kubangan kapitalisme. 2.6. Solusi Dalam menghadapi Kenaikan BBM Yaitu dengan mengeluarkan kebijakaan program Donasi Langsung Tunai (BLT) yang diberikan langsung kepada masyarakat miskin atau golongan tak mampu,selanjutnya adalah pemerintah harus belajar menghasilkan minyak jadi secara berdikari sehingga beban subsidi impor minyak bisa berkurang, pemberlakukan restriksi pembelian premium oleh kalangan masyarakat menengah ke atas, serta tak menjadikan harga BBM sebagai alat politik . Program Donasi Langsung Tunai ini berjalan efektif sejak harga BBM naik menjadi Rp 4500,- dan Rp 6000,- pada tahun 2008. Sistem yang digunakan dalam penyaluran dana BLT ialah melalui informasi pendataan masyarakat miskin. Setelah data diterima, melalui forum pemerintah terdekat dengan masyarakat, dana BLT disalurkan kepada masyarakat nan berhak menerimanya. Data nan digunakan pemerintah buat menyalurkan BLT ialah data yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) berupa data rumah tangga miskin. Belajar dari pemberian BLT tahun 2008 dan juga ditujukan buat menghadapi kenaikan BBM, permasalahan penyaluran BLT terletak pada data, sistem penyaluran, serta pertimbangan psikologi sosial. Mengenai data, permasalahan muncul kemudian memberikan tudingan kesalahan kepada penyedia data, yaitu BPS nan menggunakan data rumah tangga miskin pada tahun 2005. Kemudian berkaitan dengan penyaluran, BLT diberikan kepada keluarga miskin yang memiliki kartu BLT dengan sistem yang tak tertata rapi. Sehingga, masyarakat harus antre dan berebut untuk mendapatkannya. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa kejadian, di mana masyarakat pemilik kartu BLT tidak mendapatkan sejumlah uang yang harus diterimanya. Selanjutnya, ditinjau dari psikologi sosial, BLT dipandang tidak mendidik masyarakat untuk berdikari dan menimbulkan saling kecurigaan di antara mereka. Berdasarkan beberapa pandangan, terhadap permasalahan yang terjadi pada pemberian BLT tahun 2008, pemerintah dinilai tak mengambil pelajaran dari permasalahan nan timbul jika hendak memberlakukan kembali program ini buat dijadikan solusi menghadapi kenaikan harga BBM di tahun 2012. Namun, apabila pemerintah beranggapan BLT menjadi solusi buat membantu masyarakat miskin menghadapi kenaikan harga BBM, maka pelaksanaannya perlu dilakukan perbaikan, baik dalam hal data, penyaluran, dan pembangunan kemandirian masyarakat. Artinya masyarakat perlu didorong buat menjadi masyarakat yang berdikari tidak hanya menerima dan menunggu bantuan. Menerapkan hidup optimis. Dalam menerapkan hidup optimis akan muncul rasa semangat,kerjakeras,perencanaan matang,kesabaran , dan kreatifitas. Dan menerapkan hidup hemat dan tepat guna. Karena energi seperti minyak, gas, listrik merupakan sumber daya alam yang terbatas, artinya kita menggunakannya dengan cermat , tidak sembarangan dan boros dalam pemakaiannya. Kusus nya bagi yang masih berpenghasilan dari satu pekerjaan, saatnya untuk mencari peluang usaha tambahan, jika kita hanya mengharapkan satu penghasilan dari satu sumber saja, maka kemungkinan tidak cukup untuk menghadapiinflasi. Cobalah untuk merintis bisnis dengan modal kecil terlebih dahulu. BAB III Kesimpulan Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga BBM merupakan kebijakan yang positif, karena dapat meningkatkan infrastuktur, perekonomian rakyat, penjaminan kesehatan, pendidikan rakyat. Inilah yang menjadi PR penting bagi pemerintah dalam upaya peningkatan kesejah teraan rakyat Indonesia, melalui pengawasan-pengawasan yang ketat terhadap oknum-oknum yang dipilih rakyat untuk duduk dikursi pemerintahan. Akan tetapi hal ini bisa menjadi negatif, minimnya informasi masyarakat terkait tujuan pemerintah mengambil kebijakan tersebut, dan masih banyaknya pihak yang pro dan kontra terhadap pengambilan keputusan tersebut. Hal ini yang akan menjadikan kerusuhan dan kekacauan di lingkungan sosial, politik bahkan dari pendidikanpun juga akan berpengaruh. Dalam mengatasi kenaikan harga BBM pemerintah pasti memiliki tujuan yang akan meningkatkan kesejahteraan rakyat, maka sebagai masyarakat harus mendukung penuh terhadap rencana-rencana yang dilakukan oleh pemerintah. Dan pemerintah juga harus lebih tanggap dalam menghadapi masalah yang ada di dalam negeri khususnya, sehingga masyarakat aman, tentram, makmur dan berbhineka tunggal ika.

Judul: Ekonomi Politik Bbm

Oleh: Fahmi Afriandi


Ikuti kami