Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana Mata Kulia : Ekonomi Makro Lanjutan

Oleh Richardo Bano

121,1 KB 3 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana Mata Kulia : Ekonomi Makro Lanjutan

KEBIJAKAN NAMA : RICHARDO BANO NIM : 1315151014 richardo990@yahoo.co.id FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS UDAYANA MATA KULIA : EKONOMI MAKRO LANJUTAN DOSEN PENGAMPU : DR. I GEDE SUDJANA BUDHIASA 2015 JEDA DARI PENGARUH SEBUAH KEBIJAKAN Anggap bahwa perekonomian berada pada full employment dan telah dipengaruhi oleh gejolak permintaan agregat yang akan menurunkan tingkat ekuilibrium pendapatan ke bawah kondisi full employment. Anggap pula bahwa tidak ada pemberitahuan sebelumnyanya peringatan tentang gangguan ini, dan bahwa, konsekuensinya, tidak ada kebijakan yang diambil guna mengantisipasi kejadian tersebut. Sekarang pembuat kebijakan harus memutuskan apakah harus merespon dan bagaimana meresponnya. Pertimbangan pertama ialah membedakan apakah gangguan bersifat permanen, atau paling tidak cukup lama, atau hanya bersifat sementara dan berjangka pendek. Anggap gangguan hanya bersifat sementara, sekitar pengurangan satu periode pengeluaran konsumsi. Jika gangguan hanya sementara, konsumsi dengan cepat akan kembali ke tingkat sebelumnya, kebijakan terbaik adalah dengan tidak melakukan apa-apa. Asalkan pemasok dan produsen tidak salah menginterprestasikan penurunan permintaan sementara sebagai permanen, mereka akan menyerapnya dengan mengubah produksi dan inventori bukan dengan penyesuaian kapasitas. Gangguan akan mempengaruhi pendapatan pada periode ini namun memiliki dampak permanen yang kecil. Karena kebijakan yang sekarang dilakukan membutuhkan waktu untuk terlihat dampaknya, maka kebijakan tersebut akan mempengaruhi perekonomian yang mungkin hampir mencapai tingkat full employmentnya, dan justru menjauhkan perekonomian dari tingkat full employment. Jadi jika gangguan bersifat sementara dan tidak memiliki dampak jangka panjang dan dampak kebijakan memiliki jeda waktu, maka hal terbaik yang dilakukan adalah tidak melakukan apa-apa. Sekarang kita bayangkan langkahlangkah yang dibutuhkan sebelum aksi dilakuakan setelah terjadi gangguan, dan kemudian kita jalankan proses dimana kebijakan tersebut mempengaruhi ekonomi. Terdapat kelambatan, atau jeda, tapi setiap tahap, dan ini dapat di bagi kedalam dua tahap: inside lag, yaitu periode waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan kebijakan – seperti pemotongan pajak atau peningkatan uang beredar – dan outside lag, yang menggambarkan saat kebijakan mulai berpengaruh terhadap perekonomian. Inside lag, kembali, dibagi menjadi jeda pengamatan, dan pelaksanaan. JEDA PENGAMATAN Jeda pengamatan (recognition lag) ialah periode antara terjadinya gangguan dan saat pembuat kebijakan mengamati keputusan apa yang dibutuhkan. Secara prinsip jeda ini bisa menjadi negatif apabila gangguan dapat diprediksi dan kebijakan yang diperlukan dapat di persiapkan sebelum gangguan terjadi. Misalnya, kita tahu bahwa faktor musiman dapat mempengaruhi pola. Misalnya kita tahu pada saat natal permintaan uang akan sangat tinggi. Dari pada menanggapinya dengan kebijakan uang yang ketat, the Fed akan mengakomodasi permintaan musiman ini dengan melakukan ekspansi uang beredar. Secara umum, walau bagaimanapun, jeda pengamatan bersifat positif, jadi waktu yang terpakai antara gangguan dan pengamatan dibutuhkan untuk pelaksanaan kebijakan. JEDA KEPUTUSAN DAN PELAKSANAAN Jeda pengambilan keputusan (decision lag) – tenggang waktu antara pengamatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan dan pengambilan keputusan kebijakan – berbeda antara kebijakan moneter dan fiskal. Komite pasar terbuka sistem Federal Reserve secara berkala bertemu untuk membahas dan memutuskan kebijakan. Jika kebutuhan untuk melakukan kebijakan diketahui, jeda pengambilan keputusan untuk kebijakan moneter cukup singkat. Lebih jauh, jeda pelaksanaan – jeda antara pengambilan keputusan mengenai kebijakan dengan implementasinya – bagi kebijakn moneter juga singkat. Pelaksanaan kebijakan moneter utama dapat dilakukan hampir seketika begitu dibuat keputusan dibuat. Sehingga dengan pengaturan Sistem Federal Reserve, jeda pengambilan keputusan bagi kebijakan moneter adalah singkat dan jeda pelaksanaan secara praktis tidak ada. Memang, pelaksanaan kebijakan fiskal lebih lambat. Walupun kebutuhan pelaksanaan kebijakan fiskal di ketahui, pemerintah harus mempersiapkan peraturan untuk pelaksanaan tersebut. Selanjutnya, peraturan tersebut dibahas dan di setujui kongres sebelum perubahan kebijakan di buat. STABILISATOR OTOMATIS Adanya inside lag dalam pembuatan kebijakan memberikan perhatian pada penggunaan stabilisator otomatis. Stabilisator otomatis adalah mekanisme dalam perekonomian yang secara otomatis – yaitu tanpa intervensi pemerintah kasus demi kasus – mengurangi sejumlah perubahan output yang merespon perubahan permintaan otonom. Salah satu keuntungan utama dari stabilisator otomatis ialah inside lag yaitu nol. Stabilisator otomatis yang paling penting ialah pajak pendapatan. Ia menstabilkan perekonomian dengan mengurangi dampak pengganda dari gangguan-gangguan terhadap permintaan agregat. Pengganda untuk dampak perubahan pengeluaran otonom PDB berhubungan terbalik dengan tingkat pajak pendapatan. Ketika para pekerja menganggur dan mengurangi konsumsi, pengurangan permintaan konsumsi cenderung memiliki dampak pengganda pada output. Dampak pengganda berkurang ketika penangguran menerima konpensasi menganggur karena pendapatan disposabel berkurang lebih sedikit dibanding kehilangan pendapatannya. OUTSIDE LAG Outside lag secara umum adalah jeda terdistribusi: sekali kebijakan dijalankan, pengaruhnya pada perekonomian tersebar sepanjang waktu. Mungkin terdapat dampak antara yang kecil dari pelaksanaan kebijakan, namun dampak yang lain akan terjadi belakangan. Apa implikasi kebijakan dari jeda distribusi yang dihadapkan dengan outside lag? Jika diperlukan kenaikan tingkat pengangguran untuk meredam gangguan pemerintah, kenaikan uang beredar yang besar akan menimbulkan dampak yang besar pada PDB, dan dampak-dampak tersebut kemungkinan besar justru menambah pengangguran, dan menciptakan tekanan inflasioner. Mengapa ada outside lag yang cukup lama? Bayangkan contoh kebijakan moneter berikut, yang mempunyai dampak awal pada tingkat suku bunga, bukan pada pendapatan. Suku bunga, pada gilirannya, akan mempengaruhi investasi dengan jeda waktu, dan juga mempengaruhi konsumsi dengan mempengaruhi nilai kesejahteraan. JEDA KEBIJAKAN MONETER VERSUS FISKAL Kebijakan fiskal dan tentunya, perubahan belanja pemerintah yang bekerja langsung di permintaan agregat mempengaruhi pendapatan lebih cepat ketimbang kebijakan moneter. Apapun, kebijakan fiskal memiliki outside lag yang lebih singkat, namun di perkirakan lebih lama pada inside lag. Inside lag yang lama membuat kebijakan fiskal kurang berguna bagi stabilitas dan berarti kebijakan fiskal cenderung relatif tidak sering di gunakan untuk menstabilkan perekonomian. Analisa kami tentang jeda dengan jelas mengindikasikan satu kesulitan dalam menjalankan kebijakan stabilisasi jangka pendek. Butuh waktuh untuk menentukan kebijakan dalam pelaksanaannya, dan kemudian kebijakan itu sendiri butuh waktu untuk dapat mempengaruhi ekonomi. Tapi itu bukan satu-satunya kesulitan yang ada. Kesulitan lebih jauh timbul karena pembuat kebijakan tidak mengetahui pasti ukuran dan waktu dari dampak sebuah kebijakan. KEBIJAKAN GRADUALIS VERSUS KEBIJAKAN SEKETIKA Dihadapkan dengan tujuan kebijakan yang di tentukan – misalnya, mengurangi inflasi – pembuat kebijakan harus memilih antara kebijakan perlahan-lahan dan kebijakan seketika. Kebijakan gradualis mengerakan ekonomi secara perlahan menuju sasaran, sementara kebijakan seketika adalah kebijakan yang mencoba mencapai sasaran secepat mungkin. Kebijakan seketika menghasilkan “dampak kejutan” yang dapat menjadi buruk jika gejolak bersifat menggangu tapi baik bila aksi dramatis itu memberikan tambahan kredibilitas pembuat kebijakan. Kebijakan gradualis, sebaliknya, memiliki kelebihan dapat mengumpulkan masukan sementara kebijakan berjalan. EKSPEKTASI DAN REAKSI Ketidakpastian tentang dampak kebijakan pada ekonomi timbul karena pembuat kebijakan tidak tahu dengan pasti nilai penggandanya. Pemerintah selalu tidak yakin seberapa besar perekonomian akan bereaksi pada perubahan kebijakan. Dalam prakteknya, pemerintah bekerja dengan menggunakan model ekonometri dalam mengestimasi dampak perubahan kebijakan. Model ekonometrika ialah gambaran perekonomian secara statistik atau beberapa bagian dari itu. Ketidakyakinan pemerintah mengenai dampak kebijakan disebabkan pemerintah tidak tahu model perekonomian sesunguhnya dan sebagian karena pemerintah tidak tahu ekspektasi apa yang dimiliki perusahaan atau konsumen. KETIDAKPASTIAN REAKSI Misalkan pada awal tahun 2020, karena kelesuan perekonomian, pemerintah memutuskan untuk memotong pajak. Pemotongan pajak ini direncanakan bersifat sementara – sedikit pengorbanan agar perekonomian bergerak, tak lebih. Untuk menggambarkan seberapa besar pemotongan pajak dibutuhkan, pemerintah harus mengira-ngira bagaimana masyarakat akan bereaksi terhadap pemotongan pajak bersifat temporer, maka ia tidak akan banyak mempengaruhi pendapatan jangka panjang dan karenanya kemudian hanya memicu kenaikan pengeluaran. Hal ini mengindikasikan bahwa agar berguna, pemotongan pajak haruslah besar. Alternatifnya, mungkin konsumen akan percaya banwa pemotongan pajak akan berlangsung lebih lama dari yang dikatakan pemerintah – memang, masyarakat tahu menaikan pajak itu sulit. Dalam kasus ini marginal propensity to spend dari pemotongan pajak yang di umumkan bersifat temporer akan lebih besar. Pemotongan pajak yang lebih kecil akan cukup untuk menaikan pengeluaran dengan banyak. Jika perkiraan pemerintah mengenai reaksi konsumen meleset, hal ini bisa menghasilkan destabilisasi alih-alih stabilisasi perekonomian. PERUBAHAN DALAM REZIM KEBIJAKAN Adalah penting skali mempertimbangkan dampak kebijakan itu sendiri terhadap ekspektasi, karena dimungkinkan kebijakan baru akan berdampak pada pembentukan ekspektasi. Anggap Federal Reserve system mengumumkan bahwa mulai sekarang kebijakan semata-mata hanya menjaga kestabilan harga dan sebagai respon dari setiap kenaikan harga itu mereka akan menurunkan jumlah uang beredar. Jika masyarakat percaya dengan pengumuman itu, mereka tidak akan mendasarkan ekspektasi pertumbuhan uang dan inflasi mereka pada pola inflasi lama. Pembuat kebijakan memiliki kredibilatas apabila pengumuman mereka dipercayai para pelaku pasar. KETIDAKPASTIAN DAN KEBIJAKAN EKONOMI Ketidakpastian ekspektasi perusahaan dan konsumen adalah salah satu alasan bahwa pembuat kebijakan bisa salah dalam menggunakan stabilitas aktif. Alasan lainya ialah sulitnya meramal gangguan-gangguan, seperti perubahan harga minyak, yang mungkin akan mempengaruhi perekonomian sebelum dampak kebijakan terasa. Alasan ketiga ialah para ekonom dan kemudian para pembuat kebijakan tidak cukup tahu tentang struktur perekonomian sesunguhnya. Kami bedakan antara ketidak pastian model perekonomian yang benar dengan ketidak pastian nilai-nilai para meter atau koefisien dalam model ekonomi, meski perbedaan itu dapat diperdebatkan. Pertama terdapat ketidaksepakatan pertimbangan, dan oleh karenanya terdapat ketidakpastian mengenai model ekonomi yang benar, yang dibuktikan dengan banyaknya model makroekonometrik. Para ekonom dapat berbeda pendapat mengenai teori dan bukti empiris apa yang menyatakan fungsi tingkah laku perekonomian yang benar. Kedua bahkan dalam model tertentu terdapat ketidak pastian nilai parameter dan pengganda. Bukti statistik memperkenankan kita menentukan kisaran parameter atau pengganda, sehingga paling tidak kita mendapat gambaran jenis kesalahan yang dapat muncul dari pelaksanaan suatu kebijakan. Ketidakpastian besarnya dampak yang akan timbul dari pelaksanaan kebijakan tertentu – apakah karena ketidakpastian ekspektasi ataupun struktur perekonomian – dikenal sebagai ketidakpastian pengganda (multiplier uncertainty). Misalnya, estimasi pengganda terbaik kita atas kenaikan belanja pemerintah sebesar 1,2. Jika PDB harus dinaikan sebesar $60 milyar, maka kita harus menaikan belanja pemerintah sebesar $50 milyar. Namun bukti statistik lebih baik di interprestasikan hanya dengan mengatakan bahwa kita lebih yakin bahwa pengganda ialah 0,9 dan 1,5. Jika demikian, ketika belanja pemerintah dinaikan $50 milyar, maka kta pasti perkirakan PDB akan naik sebesar antara $45 milyar dan $74 milyar. Bagaimana seharusnya pembuat kebijakan bereaksi menghadapi ketidakpastian ini? Semakin tepat pembuat kebijakan mengetahui parameter-parameter relevan, maka lebih aktiv kebijakannya. PORTOFOLIO KEBIJAKAN DI BAWAH KETIDAKPASTIAN Bayangkan pilihan antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal ketika penggandapengganda keduanya tidak pasti. Prosedur terbaik ialah dengan menggunakan portofolio instrumen kebijakan – penggunaan dosis yang lebih ringan baik pada kebijakan moneter maupun fiskal. Alasan melakukan diversifikasi dengan cara ini adalah paling tidak terdapat peluang bahwa kesalahan mengestimasi satu pengganda akan di tutup oleh kesalahan estimasi yang lain. Dengan keberuntungan, kesalahan menentukan kebijakan sebagian akan saling meniadakan. Bahkan bila kita tidak beruntungpun, tak lebih rugi di banding jika kita menerapkan penuh pada satu instrumen. SASARAN, INSTRUMEN, DAN INDIKATOR: SEBUAH TAKSONOMI Variabel-variabel ekonomi memainkan beragam peran dalam diskusi kebijakan. Kita membagi variabel-variabel tersebut kedalam “sasaran”, “instrumen”, dan “indikator”. Sasaran – sasaran ialah tujuan kebijakan yang di indentifikasi. Sementara sasaran akhirnya “masyarakat madani”, kita berfokus lebih spesifik pada output dan harga, pengangguran dan inflasi. Sasaran di bagi lagi menjadi “sasaran akhir” dan “sasaran antara”. Contoh sasaran akhir adalah “mencapai inflasi adalah nol. Sebagai bagian dari keseluruhan kebijakn ekonomi, unit pembuat kebijakan khusus dapat diberikan tugas mencapai target antara tertentu. Misalnya, bank sentral dapat diinstruksikan mencapai kenaikan stok uang 2 persen per tahun. Meskipun pertumbuhan uang sendiri bukan tujuan ekonomi akhir, menargetkan pertumbuhan uang merupakan tugas yang tepat untuk di serahkan pada bank sentral. Instrumen – instrumen ialah alat secara langsung dapat digunakan oleh pembuat kebijakan. Misalnya, bank sentral memiliki target nilai tukar. Instrumennya bisa dengan membeli atau menjual valuta asing. Indikator – indikator adalah variabel-variabel ekonomi yang memberikan kita sinyal apakah kita mendekati sasaran yang diinginkan. Sebagai contoh, kenaikan tingkat suku bunga kadangkala memberi sinyal bahwa pasar mengantisipasi kenaikan inflasi yang akan datang. Jadi indikator menyediakan tanggapan informasi yang memberi kesempatan pembuat kebijakan untuk menyesuaikan instrumen agar dapat melakukan tugas yang lebih baik dalam mencapai sasaran. Kebanyakan para ekonom sepakat bahwa cara terbaik mencapai target akhir ialah pembuat kebijakan menggunakan indikator untuk memberikan informasi tambahan dalam penghitungan penyesuaian terbaik dengan instrumen yang ada. Kategorisasi variabel-variabel ke dalam target, instrumen, atau indikator kadangkala bersifat situasional. Misalkan, dalam beberapa tahun bank sentral telah menentukan suku bunga sebagai sasaran antara. Dalam tahuntahun yang lain bank sentral menggunakan suku bunga sebagai indikator keberhasilan uang beredar. APA TARGETNYA ? SEBUAH APLIKASI PRAKTEK Anggap tujuan utama dari kebijakan ialah menjaga PDB mendekati PDB potensial dan tujuan sekundernya ialah mencapai tingkat inflasi yang rendah. Pada bagian ini kami mempertimbangkan rangkaian pendekatan sasaran yang mungkin. Informasi, tentu, sungguh tidak sempurnah. Untuk setiap sasaran yang mungkin, kami mencari apa yang salah. PENARGETAN PDB RIIL Jika kita mencapai PDB potensial secara tepat, maka penargetan PDB riil adalah optimal. Kita mencapai tujuan utama dengan tepat. Karna kurva philips menyatakan bahwa tingkat pengangguran alamiah sama dengan pengangguran aktual ketika inflasi aktual sama dengan inflasi yang di antisipasi, mencapai PDB potensial konsisten dengan inflasi aktual dan inflasi yang diantisipasi yang rendah. Sekarang anggap kita menerka tingkat pertumbuhan PDB potensial terlalu tinggi. Misalnya, kita mengira PDB potensial dapat tumbuh 4 persen pertahun sementara faktanya hanya tumbuh 2 persen. Dalam jangka pendek kita akan mengenjot pertumbuhan PDB aktual, agar mencapai pertumbuhan 4 persen. Namun, mendorong PDB ke atas potensialnya menyebabkan inflasi berjalan cepat. Semakin lama kita melakukan itu, semakin cepat inflasi berlari. Kitapun tak dapat menjaga pertumbuhan 4 persen secara permanen. PENARGETAN PDB NOMINAL Kita dapat mengadopsi rencana pertumbuhan PDM nominal sebesar 4 persen. Jika kita mulai pada PDB potensial dan terjadi pertumbuhan PDB potensial sebesar 4 persen, maka kita mencapai target baik target primer maupun sekunder. Bagaimanapun, bila kita mulai dari bawah potensial, maka kita melewatkan peluang untuk menggerakan PDB riil dengan cepat. Anggap lagi bahwa PDB potensial benar-benar tumbuh sebesar 2 persen per tahun. Dalam jangka panjang, 4 persen pertumbuhan PDB nominal itu terbagi menjadi 2 persen kenaikan riil dan 2 persen inflasi, yang dapat terjadi dibawah target PDB riil. PENARGETAN INFLASI Akhir spektrum yang berlawanan dari sasaran PDB riil ialah penargetan inflasi. Sementara para pembuat kebijakan tidak dapat mencapai target inflasi dengan tepat, mereka dapat mendekatinya. Dengan melepaskan target pertama secara keseluruhan, para pembuat kebijakan berada dalam posisi mencapai target sekunder dengan penuh. Dalam spektrum mulai dari fokus seluruhnya pada output hingga seluruh harga, perhatikan bahwa sasaran PDB riil merupakan pilihan terbaik untuk mencapai tujuan utama kita namun juga menyimpan resiko besar melesetnya sasaran kedua. Tidaklah mengejutkan, para ekonom yang berpikir bahwa makroekonomi adalah sasaransasaran nominal yang dapat memperbaiki sendiri secara luas (terutama bagi mereka yang menganggap kurva philips berbentuk vertikal sepanjang horizon jangka pendek) lebih memilih target-target nominal. Mengapa mengambil resiko inflasi tinggi bila PDB riil akan secara luas merawat dirinya sendiri? Para ekonom yang percaya bahwa kurva philips yang datar berlanjut untuk beberapa waktu, berpikir bahwa manfaat dari mencapai tujuan output dan pengangguran lebih besar dibanding resiko inflasi. DAFTAR PUSTAKA Rudiger Dornbusch, Stanley Fischer, Richard Startz ; MAKROEKONOMI , EDISI KE 10, PT. Media Global Edukasi

Judul: Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Udayana Mata Kulia : Ekonomi Makro Lanjutan

Oleh: Richardo Bano

Ikuti kami