Analisis Perbandingan Sistem Ekonomi Islam Dengan Sistem Ekonomi Sosialis Dan Kapitalis

Oleh Widya Novitasari

119,9 KB 4 tayangan 0 unduhan
 
Bagikan artikel

Transkrip Analisis Perbandingan Sistem Ekonomi Islam Dengan Sistem Ekonomi Sosialis Dan Kapitalis

Analisis Perbandingan Sistem Ekonomi Islam dengan Sistem Ekonomi Sosialis dan Kapitalis Widya Novitasari (0192000009) – Kelas 2 MP1 Managemen 1. Pendahuluan Sistem ekonomi adalah perpaduan dari aturan-aturan yang merupakan satu kesatuan dan digunakan dalam mencapai tujuan di bidang perekonomian. Terdapat berbagai jenis sistem ekonomi yang digunakan oleh negaranegara di seluruh dunia, salah satunya yaitu ekonomi islam. Sistem ekonomi islam adalah sistem ekonomi yang dijalankan berdasarkan syariat islam, dengan bersandarkan kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pedoman yang tujuan akhirnya adalah keridhaan Allah. Dalam segala kegiatan ekonomi yang dilakukan manusia harus sesuai dengan ketentuan Allah, baik dalam hal jual beli, pinjam meminjam maupun investasi. Selain sistem ekonomi islam, terdapat pula sistem ekonomi lainnya yang memiliki beberapa kontra dengan sistem ekonomi islam yaitu sistem ekonomi sosialis dan kapitalis. Kedua sistem tersebut dianggap sebagai sistem yang diciptakan oleh manusia atas dasar penyesuaian terhadap kebutuhan suatu negara, bukan sistem yang sesuai dengan ketentuan Allah Sang Pencipta. Hal tersebut menjadi topik studi yang menarik untuk dianalisis lebih lanjut mengenai perbandingan antara sistem ekonomi islam dengan kedua sistem lainnya (sistem ekonomi sosialis dan kapitalis) untuk mengetahui perbedaan dan batas dari masing-masing sistem. 2. Pembahasan 2.1. Sistem Ekonomi Menurut Gregory Grossman dan M. Manu, Sistem ekonomi didefinisikan sebagai kumpulan komponenkomponen yang terdiri dari unit-unit ekonomi serta lembaga-lembaga ekonomi yang saling berhubungan, berinteraksi, saling menopang dan memengaruhi. Ilmu ekonomi lahir dari adanya tujuan untuk mengalokasikan dan menggunakan sumber daya yang terbatas. Karena kelangkaan inilah kemudian setiap individu akan dihadapkan pada berbagai pilihan tentang apa yang harus diproduksi, bagaimana memproduksinya, untuk siapa, bagaimana membagi produksi dari waktu kewaktu serta bagaimana mempertahankan dan menjaga tingkat pertumbuhan produksi tersebut 2.2. Sistem Ekonomi Kapitalis Sistem ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi yang bertujuan untuk mencari keuntungan. sistem ini dibangun berdasarkan pemikiran bahwa “kemakmuran bersama” akan tercapai jika setiap individu telah mencapai kemakmuran. Prinsip dari sistem ini meliputi: 1) Kebebasan untuk memiliki harta perorangan. Dasar dari prinsip ini adalah individu menjadi pemilik satusatunya apa yang dihasilkannya, sedangkan orang lain tidak mendapatkan hasil apapun. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai monopoli dalam ekonomi, dimana seorang individu berhak atas semua alat produksi yang diperoleh dengan usahanya dan berhak untuk tidak mengeluarkannya kecuali pada sektor yang mendatangkan keuntungan pada dirinya. 2) Kebebasan ekonomi dan persaingan setiap individu berhak untuk mendirikan mengorganisir dan mengelola perusahaan yang diinginkan. Individu juga berhak terjun dalam semua bidang perniagaan dan memperoleh keuntungan sebanyak banyaknya tanpa ikut campur negara. 3) Motivasi untuk mendapatkan keuntungan merupakan tujuan yang terbaik, sebanding dalam tujuan yang terbaik. Sebanding dengan tujuan dalam memalksimalkan produksi. Kelebihan sistem ekonomi kapitalis:  Penganut mazhab kapitalis menyatakan bahwa kebebasan ekonomi dapat membuat masyarakat memiliki banyak peluang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.  Persaingan bebas di antara individu akan mewujudkan tahap “produksi“ dan tingkat “harga“ pada tingkat yang wajar dan akan membantu mempertahankan penyesuaian yang rasional di antara kedua variabel. Persaingan akan mempertahankan keuntungan dan upah pada tingkat yang sederhana.  Para ahli ekonomi kapitalis menyatakan bahwa motivasi untuk mendapatkan keuntungan merupakan tujuan yang terbaik, sebanding dengan tujuan untuk memaksimumkan hasil. Kelemahan sistem ekonomi kapitalis:  Persaingan bebas yang tidak terbatas, mengakibatkan banyak keburukan dalam masyarakat apabila ia mengganggu kapasitas kerja dan sistem ekonomi serta munculnya semangat persaingan diantara individu. Sebagai contoh hak individu yang tidak terbatas untuk memiliki harta mengakibatkan distribusi kekayaan yang tidak seimbang dalam masyarakat dan pada akhirnya akan merusak sistem perekonomian.  Adanya perbedaan yang radikal (jelas) antara hak-hak majikan dan pekerja, penerima upah tidak mempunyai kesempatan yang sama dengan saingannya, sehingga ketidakadilan ini memperdalam gap (jurang) antara yang kaya dan miskin.  Sistem ekonomi kapitalis, disatu pihak memberikan seluruh manfaat produksi dan distribusi di bawah penguasaan para ahli, yang mengesampingkan masalah kesejahteraan masyarakat banyak dan membatasi mengalirkan kekayaan di kalangan orang-orang tertentu saja. Di pihak lain menjamin kesejahteraan semua pekerja kepada beberapa orang yang hanya mementingkan diri sendiri 2.3. Sistem Ekonomi Sosialis Sistem ekonomi sosialis adalah sistem ekonomi yang memiliki kesetaraan dalam kepemilikan atas faktorfaktor produksinya (pekerja, pengusaha, modal, dan sumber daya alam). Pengelolaan sistem ekonomi sosialis ini diatur oleh negara secara penuh. Sistem ekonomi sosialis ini umumnya jarang diterapkan secara utuh pada suatu negara, namun terdapat beberapa negara yang menerapkan sistem ekonomi ini seperti negara Norwegia, Denmark, dan Swedia. Negara-negara tersebut menyediakan layanan bagi masyarakatnya mulai dari kesehatan, pendidikan, dan jaminan pensiun. Prinsip dari sistem ekonomi sosialis meliputi: 1) Kepemilikan harta oleh negara. Seluruh bentuk produksi dan pendapatan menjadi milik masyarakat secara keseluruhan, tidak menjadi hak individu pribadi. Prinsip sistem ekonomi sosialis ini bertolak belakang dengan prinsip “hak milik perorangan” yang ada pada sistem ekonomi kapitalis. 2). Kesamaan ekonomi. Untuk mencapai tujuan kesamaan ekonomi pada sistem ini, seluruh urusan Negara diletakkan dibawah peraturan kaum buruh yang mengambil alih semua aturan produksi dan distribusi. Sebaliknya, kebebasan ekonomi serta hak kepemilikan harta secara perorangan dihapuskan. 3). Disiplin politik Untuk mencapai tujuan diatas, keseluruhan Negara diletakkan dibawah peraturan kaum buruh, yang mengambil alih semua aturan produksi dan distribusi. Kebebasan ekonomi serta hak kepemilikan harta dihapus. Aturan yang diperlakukan sangat ketat untuk lebih menggefektifkan praktek sosialisme. Kelebihan dari sistem perekonomian ini adalah sebagai berikut:  Di bawah sistem ini, para pekerja tidak mengalami eksploitasi. Hal ini dapat terjadi karena mereka akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang mereka upayakan.  Sistem ini bisa menghilangkan penderitaan rakyat karena seluruh akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya telah diatur dan disediakan oleh negara. Ketersediaan tersebut memungkinkan masyarakat tidak perlu pusing lagi dan bisa fokus dengan apa yang ingin mereka raih.  Dikarenakan kontrol negara yang kuat, pengelolaan sumber daya alam bisa dilakukan dengan lebih bijak. Kekurangan yang dimiliki oleh sistem ekonomi sosialis adalah seperti berikut ini:  Sistem ekonomi sosialis mempercayai bahwa pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan bekerjasama. Kepercayaan ini menihilkan fakta bahwa terdapat persaingan yang bisa timbul antar manusia. Keadaan yang seperti inilah yang mengakibatkan sistem ekonomi sosialis menjadi sulit untuk diterapkan secara penuh.  Tingkat inovasi yang cenderung lebih rendah jika dihadapkan kepada sistem kapitalis, karena setiap anggota masyarakat memiliki peran yang diatur oleh negara, keinginan untuk menjadi wirausaha pun berpotensi menurun.  Peran negara yang terlalu besar juga bisa berbahaya bagi masyarakat jika pemimpin yang terpilih ternyata menyalahgunakan kekuasaannya. 2.4. Sistem Ekonomi Islam Ekonomi secara islam dapat dikatakan sebagai ilmu ataupun sistem. Ekonomi Islam sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dengan alat pemenuhan kebutuhan yang terbatas di dalam kerangka Syariah. Ilmu ekonomi Islam dapat juga didefinisikan sebagai ilmu sosial yang tentu saja tidak bebas dari nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral merupakan aspek normatif yang harus dimasukkan dalam analisis fenomena ekonomi serta dalam pengambilan keputusan yang dibingkai syariah. Secara lengkap ekonomi islam adalah suatu pengetahuan dan aplikasi dari perintah dan peraturan dalam syariah yaitu untuk menghindari ketidakadilan dalam perolehan dan pembagian sumber daya material agar memberikan kepuasan manusia, sehingga memungkinkan manusia melaksanakan tanggungjawabnya terhadap Tuhan dan masyarakat. Hal penting dari definisi tersebut adalah istilah "perolehan" dan "pembagian" di mana aktivitas ekonomi ini harus dilaksanakan dengan menghindari ketidakadilan dalam perolehan dan pembagian sumber-sumber ekonomi. Sistem ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi tersendiri, bukan merupakan perpaduan dan atau campuran antara sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme, karena falsafah, nilai-nilai dasar, dan nilai-nilai instrumental dari sistem ekonomi Islam sangat berbeda dengan kedua sistem tersebut. Sistem ekonomi Islam menempatkan manusia bukan sebagai sentral tetapi sebagai hamba Tuhan yang harus mengabdi dan mengemban tugas yang dipercayakan-Nya sebagai khalifah. Oleh karen aitu, dalam kegiatan ekonomi yang dilakukannya harus menjunjung tinggi nilai-nilai kepemilikan, nilai-nilai keadilan, kebebasan, keseimbangan, persaudaraan, serta kebersamaan sesuai ajaran agama agar tercipta sebuah tatanan hidup pribadi dan bermasyarakat serta bernegara yang baik. Untuk itu, Islam telah meletakkan dasar-dasar kebijakannya berupa:  Perintah membayar zakat kepada orang-orang yang mampu untuk para mustahiq  Melarang praktik-praktik riba (eksploitasi)  Memberikan jaminan sosial kepada orang yang berhak menerimanya  Mendorong terciptanya kerjasama ekonomi tidak hanya antara individu dengan individu atau masyarakat dengan masyarakat lainnya tetapi juga kerjasama antar negara  Memfungsikan lembaga pemerintah untuk menjadi polisi sehingga sinergi para pelaku pasar akan dapat mewujudkan dan menciptakan kemakmuran, keamanan, dan keadilan di tengah-tengah masyarakat Prinsip-prinsip dari sistem ekonomi islam meliputi: 1. Nilai-nilai Universal  Tauhid (Keesaan Tuhan). Tauhid adalah fondasi ajaran Islam. Ini bermakna bahwa segala apa yang di alam semesta ini didesain dan dicipta dengan sengaja oleh Allah SWT, bukan kebetulan dan semuanya pasti memiliki tujuan. Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Karena kepada-Nya kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita, termasuk aktivitas ekonomi dan bisnis.  Adl (Keadilan). Dalam banyak ayat, Allah memerintahkan manusia untuk berbuat adil. Dalam Islam adil didefinisikan sebagai tidak menzalimi dan tidak dizalimi.” Implikasinya ekonomi dari nilai ini adalah bahwa pelaku ekonomi tidak boleh untuk mengejar keuntungan pribadi bila hal itu merugikan orang lain atau merusak alam. Tanpa keadilan, manusia akan terkelompok-kelompok dalam berbagai golongan.  Nubuwwah (Kenabian). Fungsi Rasul adalah untuk menjadi model terbaik yang harus diteladani manusia agar mendapat keselamatan dunia dan akhirat. Sifat-sifat utama sang model yang harus diteladani oleh manusia pada umumnya dan pelaku ekonomi dan bisnis pada khususnya adalah Siddiq (benar, jujur), Amanah (tanggung jawab, kepercayaan, kredibilitas), Fathanah (kecerdikan, kebijaksanaan, intelektual), dan Tabligh (komunikasi, keterbukaan, pemasaran).  Khilafah (Pemerintah) Dalam Al-Qur‟an, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah dibumi. Artinya, untuk menjadi pemimpin dan pemakmur bumi. Oleh karena itu, pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin. Dalam islam, pemerintah memainkan peranan yang kecil, tetapi sangat penting dalam perekonomian. Peran utamanya adalah untuk menjamin perekonomian agar berjalan sesuai syariah, dan untuk memastikan supaya tidak terjadi pelanggaran terhadap hak-hak manusia  Ma‟ad (Hasil) Walaupun sering kali diterjemahkan sebagai “kebangkitan”, tetapi secara harfiah ma‟ad berarti “kembali”. Karena kita semua akan kembali kepada Allah. Hidup manusia bukan hanya didunia, tetapi harus berlanjut hingga alam akhirat. Ma‟ad diartikan juga sebagai imbalan/ganjaran. Implikasi nilai ini dalam kehidupan ekonomi dan bisnis misalnya, diformulasikan oleh Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa motivasi para pelaku bisnis adalah untuk mendapatkan laba dunia dan akhirat. Prinsip-prinsip Derivatif: Ciri-ciri Sistem Ekonomi Islam a) Multitype ownership (kepemilikan multijenis). Prinsip ini adalah terjemahan dari nilai tauhid: pemilik primer langit, bumi dan seisinya adalah Allah, sedangkan manusia diberi amanah untuk mengelolanya. Dengan demikian, konsep kepemilikan swasta diakui, dan kepemilikan Negara dan nasionalisasi juga diakui. Semua konsep ini berasal dari filosofi, norma dan nilai nilai islam. b) Freedom to act (kebebasan bertindak/berusaha). Dari keempat nilai-nilai Nubuwah diatas, bila digabungkan dengan nilai keadilan dan nilai Khalifah (good governance) akan melahirkan prinsip freedom to act pada setiap Muslim, khususnya pelaku bisnis dan ekonomi. Freedom to act bagi setiap individu akan menciptakan mekanisme pasar dalam perekonomian. Karena itu, mekanisme pasar adalah keharusan dalam Islam, dengan syarat tidak ada distorsi (proses penzaliman) seperti mafsadah (segala yang merusak), riba, gharar, tadlis dan maysir. c) Social Justice (Keadilan sosial) Dalam islam, keadilan diartikan dengan suka sama suka (antarraddiminkum) dan satu pihak tidak menzalimi pihak lain (latazlimuna wa la tuzlamun). Islam menganut sistem mekanisme pasar, namun tidak semuanya diserahkan pada mekanisme harga. Karena segala distorsi yang muncul dalam perekonomian tidak sepenuhnya dapat diselesaikan, maka Islam memperbolehkan adanya beberapa intervensi, baik berupa intervensi harga maupun pasar. Selain itu, islam juga melengkapi perangkat berupa instrumen kebijakan yang difungsikan untuk mengatasi segala distorsi yang muncul. d) Akhlak: Perilaku Islami dalam Perekonomian Sistem ekonomi Islami hanya memastikan bahwa tidak ada transaksi ekonomi yang bertentangan dengan syariah. Tetapi kinerja bisnis tergantung pada man behind the gun-nya. Karena itu pelaku ekonomi dalam kerangka ini dapat saja dipegang oleh umat non-Muslim. Perekonomian umat Islam baru dapat maju bila pola piker dan pola tingkah laku Muslimin dan Muslimat sudah itqan (tekun) dan ihsan (profesional). Ini mungkin salah satu rahasia Nabi SAW: ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Karena akhlak (perilaku) menjadi indikator baik buruknya manusia. Baik buruknya perilaku bisnis para pengusaha menentukan sukses gagalnya bisnis yang dijalankannya. Kelebihan Sistem Ekonomi Islam:  Menjunjung kebebasan individu  Mengakui hak individu terhadap harta  Jaminan sosial  Distribusi kekayaan  Larangan menumpuk kekayaan  Kesejahteraan individu dan masyarakat Kelemahan Sistem ekonomi Islam:  Lambatnya perkembangan literatur ekonomi Islam  Praktek ekonmi konvensional lebih dahulu dikenal  Tidak ada representasi ideal negara yang menggunakan sistem ekonmi Islam  Pengetahuan sejarah pemikiran ekonomi Islam kurang  Pendidikan masyarakat yang materialisme 3. Kesimpulan  Sistem ekonomi islam, sosialis dan kapitalis memiliki perbedaan yang medasar, baik dalam segi tujuan, prinsip hingga kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem tersebut.  Sistem ekonomi kapitalis adalah sistem ekonomi yang aset-aset produktif dan atau faktor-faktor produksinya sebagian besar dimiliki oleh sektor individu/swasta. Dipelopori oleh Adam Smith dengan buku The Wealth of Nations –nya. Beberapa pemikirannya ialah, swasta dibebaskan dalam hak kepemilikan, adanya The Invisible Hand (mekanisme pasar). Peran pemerintah hampir ditiadakan (LasiezzFaire), dan pasar bebas (Free Market).  Sistem ekonomi sosialis merupakan bentuk resistensi dari sistem ekonomi kapitalis yang dituding sebagai penyebab tidak tercapainya kesejahteraan yang merata. Dalam sistem ini, pemerintah mempunyai andil besar dalam mengatur roda perekonomian di sebuah negara. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan terhadap rantai perekonomian masyarakat. Melalui tokoh terkemukanya, Karl Marx, sosialis bercirikan, mengedepankan kebersamaan dan peran pemerintah sangatlah kuat.  Secara umum, sistem ekonomi Islam didefinisikan sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, meneliti, dan akhirnya menyelesaikan permasaahan-permasalahan ekonomi dengan cara Islami yang bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah. ijma’ dan qiyas. Nilai-nilai ekonomi islam, telah ada sejak jaman Rasulullah. Kerangka bangunan ekonomi Islam terdiri dari lima nilai universal, yakni Tauhid, „Adl, „Nubuwwah, Khilafah dan Ma‟ad. Tiga nilai derivatif, yakni Multitype Ownership, Freedom to Act dan Social Justice. Lalu, kesemuanya dipayungi oleh Akhlak al-Karimah Referensi Abbas, A. 2011. Sistem Ekonomi Islam: Suatu Pendekatan Filsafat, Nilai-Nilai Dasar, Dan Instrumental. Al-Iqtishad 4(1): 111—124. Adiwarman Azwar Karim, 2014, Ekonomi Mikro Islam, Rajawali Pers, Jakarta. Agustiati, 2014, “Sistem Ekonomi Kapitalisme”. Jurnal Universitas Tadoluko, http:// http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/academica/article/view/2 326/1513, 6 Januari 2017. Aryani, D.S., Y. Rachmawati, & A.A. Seto. 2019. Ekonomi Syariah Dengan Pendekatan Hasil Penelitian. Nusa Litera Inspirasi: xii + 144 hlm. Itang & A. Daenuri. 2017. Sistem Ekonomi Kapitalis, Sosialis Dan Islam. Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan & Kebudayaan: 67—91. Prathama Rahardja dan Mandala Manurung, 2018, Pengantar llmu Ekonomi (Mikroekonomi & Makroekonomi) Ed3, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta. Rachbini, Didik J., Ekonomi Politik, Paradigma, dan Teori Pilihan Publik, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002.

Judul: Analisis Perbandingan Sistem Ekonomi Islam Dengan Sistem Ekonomi Sosialis Dan Kapitalis

Oleh: Widya Novitasari

Ikuti kami